|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 1 No. 4, Juni 2020 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
PERAN SUPERVISI� KEPALA SEKOLAH
DALAM PENINGKATAN KINERJA GURU� SMK SANTO
YUSUP BLITAR
Vincentius Prastowo
Prodi Manajemen Pendidikan, Pascasarjana
Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
Email:� [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Juni
2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Juni 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Juni 2020 |
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pengawasan kepala
sekolah dalam upaya meningkatkan kinerja guru di SMK St. Joseph-Blitar. Peneliti menggunakan
pendekatan kualitatif, dengan metode studi kasus (Yin, 2011)� dengan enam langkah penelitian yaitu: merencanakan, merancang, mempersiapkan,
mengumpulkan, menganalisis, dan berbagi. Tindakan menentukan sumber dalam
penelitian ini menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data
menggunakan tiga metode: wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa: pertama, pelaksanaan diagnosis masalah
pengajaran guru-guru SMK St. Yusup Kota Blitar dapat
dilihat dengan adanya proses: (a) mengumpulkan data dari kinerja guru, (b) pemetaan
masalah kinerja guru, (c) merumuskan masalah dan penyebab
masalah kinerja guru. Kedua, perbaikan permasalahan
mengajar
guru-guru SMK St. Yusup Blitar dapat dilihat
dari: (a) menyiapkan solusi alternatif untuk perbaikan masalah mengajar
guru, (b) mengevaluasi kekuatan dan kelemahan solusi alternative, (c) membuat rekomendasi. Ketiga, langkah pembinaan untuk menyelesaikan
masalah mengajar guru dapat dilihat dari: (a) menerapkan
keputusan program pembinaan, (b) pemantauan
program pembinaan, (c) evaluasi pelaksanaan program
pembinaan. |
|
Kata kunci: kepala sekolah, �supervise, �guru, kinerja. |
Pendahuluan
Semakin tinggi� kualitas�� pendidikan,�� semakin�� tinggi�� pula��
kualitas��
suatu�� bangsa (Artatie, 2018). Kemajuan sekolah
sangat terkait dengan kegiatan supervisi kepala sekolah terhadap guru. Hal ini disebabkan peran fundamental kepala sekolah sebagai penggerak utama pendidikan dalam mengelola dan mengembangkan
program-program pendidikan di sekolahnya.
Tidak hanya itu, kepala sekolah
juga memiliki tugas dalam menilai dan mengevaluasi segenap program dan
proses pendidikanya. Maka pengawasan atau supervisi kepala sekolah menjadi tugas sekaligus sarana penting bagi kepala sekolah
untuk memahami dan mengetahui situasi dan keadaan yang sesungguhnya di sekolah, dalam hal ini kinerja
para guru atau tenaga pendidik. Jika ditemukan kemerosotan dalam kinerja maka supervisi
menjadi sarana bagi peningkatan kinerja karena supervisi yang dipahami bukan lagi mencari
kesalahan tenaga pendidik untuk dihukum tetapi telah mengalami pergeseran paradigma, yaitu menjadi sebuah
bantuan atau pelayanan dalam pengarahan, bimbingan, dan pemberdayaan yang dilakukan oleh kepala sekolah kepada guru, staf, dan pegawai lainnya.
Tidak bisa dipungkiri
bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah memerlukan kerjasama dari semua pihak,
yaitu dari sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Namun demikian ujung tombak dalam
mencapai tujuan pendidikan di sekolah adalah para guru. Maka kepala sekolah sebagai penanggung jawab berlangsungnya proses pendidikan di sekolah harus selalu membantu
menjaga dan mengembangkan kinerja guru secara terencana dan terus menerus sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik.�
Kinerja guru atau teacher
performance dalam konteks
pendidikan di sekolah adalah hasil kerja
atau output dari empat kompetensi utama guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.� Seorang guru diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan teknis edukatif saja, tetapi juga harus menunjukan kepribadian yang dapat diandalkan sehingga menjadi sosok panutan bagi
peserta didik, keluarga maupun masyarakat. Guru sebagai pendidik berarti ia adalah penerus
dan pengembang nilai-nilai hidup; guru sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi; guru sebagai pelatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan
peserta didik. Guru juga harus mampu menunjukan
perannya sebagai orang tua kedua bagi
para peserta didik, mampu memotivasi peserta didik dalam
belajar. Guru juga memiliki
peran mengajar dan mendidik masyarakat agar menjadi warga negara Indonesia
yang bermoral dan mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Penurunan kinerja guru ditunjukan
dengan kurangnya krativitas guru dalam menerapkan metode pembelajaran di kelas, praktek pembelajaran yang tidak sesuai dengan
rencana pembelajaran di kelas, masih banyak
guru yang belum memiliki lesson
plan atau RPP.�
Sisi yang lain adalah masalah
karakter disiplin pada guru
yang lemah, misalnya masih ada guru yang suka keluar lingkungan
sekolah tanpa maksud dan tujuan, masih adanya guru yang terlambat masuk sekolah, masih adanya guru yang sibuk memakai gadget pada saat mengajar untuk kepentingan pribadi.
Dengan kondisi yang dipaparkan
mengenai penurunan kinerja guru maka ternyata masih banyak hal yang perlu dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan dan menjaga kinerja guru agar tetap baik. Dalam
upaya meningkatkan kinerja guru di sekolah, kepala sekolah harus sanggup memberikan
bantuan kepada guru-guru
agar para guru dapat mengerti
dan menyadari kelebihan dan
kekurangannya dalam keterampilam mengajar. Ia harus mampu
mendorong dan memotivasi
guru untuk berkembang dalam kreativitas mengajarnya. Seorang kepala sekolah harus juga mau mendengar para guru-guru, dengan kebesaran hati mau menerima usulan-usulan
dan masukan para guru, dengan
demikian tercipta suasana dialog yang demokratis
dan penuh kekeluargaan dalam upaya memajukan
secara bersama pendidikan di sekolah.
Berdasarkan uraian diatas
maka penelitian ini mengambil judul:
�Peran Supervisi-Kepala Sekolah
dalam Upaya Peningkatan Kinerja Guru di SMK Katolik
Santo Yusup � Blitar.�
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk
mengetahui bagaimana peran supervisi � kepala sekolah SMK Katolik Santo Yusup, Blitar, dalam upaya
meningkatkan kinerja gurunya. Pendekatan penelitian dengan studi kasus dirasa
cocok karena bermaksud mengungkap secara lebih mendalam
sebuah fenomena unik yang nyata dan sedang berlangsung. Pendekatan ini dilandasi oleh pemikiran Robert
K. Yin yang menuliskan bahwa
studi kasus adalah suatu inkuiri
empiris yang menyelidiki fenomena dalam konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan
tegas, dan dimana multi sumber bukti dimanfaatkan.
Studi kasus lebih banyak berkutat
pada atau berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan
�how� (bagaimana) dan �why� (mengapa),
serta pada tingkatan tertentu juga menjawab pertanyaan �what� (apa atau apakah), dalam
kegiatan penelitian.
A.
Peran Kepala Sekolah dalam Diagnosa
Mengajar Guru
Diagnosa adalah tindakan observasi dengan meneliti, mengamati, atau bertanya kepada para guru atau murid mengenai ada atau tidak
adanya masalah mengajar guru dalam rangka melakukan perbaikan.
Berdasarkan pengamatan
dan wawancara dengan kepala sekolah SMK Santo Yusup Blitar, dalam
rangka diagnosa kinerja guru, kepala sekolah mengadakan inspeksi sebagai usaha mensurvei seluruh sistem pendidikan yang ada. Survei ini berguna
untuk menghimpun data yang aktual, bukan informasi
yang kadaluwarsa, sehingga ditemukan masalah-masalah, kekurangan-kekurangan baik pada
guru maupun murid, perlengkapan,
kurikulum, tujuan
Pendidikan, metode pengajaran,
dan perangkat lain seputar proses
pembelajaran. Selain dengan melakukan inspeksi, kepala sekolah juga mengamati proses pembelajaran di kelas secara acak sambil
membuka dialog dengan guru melalui komunikasi yang membangun dan menyenangkan.
Proses tersebut sebagaimana
dipaparkan dalam (Nasional
et al., 2010) bahwa penilaian kinerja guru dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas. Kegiatan yang tidak dapat diamati
di dalam kelas misalnya penyusunan silabus, RPP, pengembangan kurikulum, tingkat kehadiran guru di kelas, praktik pembelajaran di luar kelas atau
sekolah dan sebagainya, kesemuanya itu wajib melampirkan bukti-bukti yang berupa dokumen.
Dari
hasil pengamatan, kepala sekolah mendapatkan beberapa permasalahan yang perlu diperbaiki, diantaranya adalah karakter disiplin guru yang masih lemah dengan ditemukannya
guru yang terlambat dan suka
berada di luar lingkungan sekolah tanpa maksud dan tujuan yang jelas. Dari sudut keterampilan mengajar guru, ditemukanlah beberapa guru yang masih kesulitan dan kurang kreatif dalam menggunakan
metode pembelajaran yang menyenangkan, hal ini ditunjukan dengan ditemukannya murid yang tidak betah di kelas dan berlama-lama di luar ruangan kelas.
Situasi kelas yang ramai dan tak terkendali
menunjukan lemahnya guru dalam menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan siswa. Temuan yang lain adalah bahwa banyak
guru yang masih lemah dalam melengkapi administrasi guru yang menjadi pegangan atau sumber
data pribadi untuk menilai dan mengevaluasi anak didiknya. Dari hasil temuan proses diagnosa langkah selanjutnya adalah mengolah dan menganalisa hasil informasi lapangan bersama-sama dengan tim supervisor menjadi sebuah data yang komprehensif dalam bentuk gambar, matrik, atau deskripsi
situasi.
Pentingnya proses dignosa
kepala sekolah SMK Katolik Santo Yusup Blitar ini senada
dengan pemikiran beberapa ahli tentang
pengawasan, diantaranya adalah Hess seperti yang dikutip oleh Peter (Hawkins
& Shohet, 2012) yang berpendapat
bahwa: A quintessential interpersonal interaction
with the general goal that one person, the supervisor, meets with another, the
supervise, in an effort to make the later more effective in helping people.
Dapat dijelaskan bahwa proses diagnosa dalam rangka peningkatan
kinerja (performance) diwujudkan
dalam bentuk sebuah interaksi interpersonal klasik antara supervisor dengan si penerima
supervisi sehingga kedua belah pihak
menjadi lebih efektif dalam tugasnya.
Hess
dan Orthmann (2003:5) berpendapat
sebagai berikut: Supervision
is making sure the activities are effectively implemented by those responsible
for doing so. Dapat dikatakan
bahwa substansi dari diagnosa yang dilakukan oleh pimpinan atau kepala sekolah
adalah sebuah tindakan untuk mengetahui dan memastikan guru atau karyawan mengerjakan
tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Jika ditemukan hal-hal yang tidak berjalan dengan semestinya, hal itu menjadi masukan
atau catatan untuk perbaikan.
Uraian di atas mengungkapkan bahwa peran kepala sekolah
SMK Santo Yusup, Blitar dalam diagnosa adalah melakukan observasi lapangan dengan menerapkan semua jenis pendekatan
yaitu pendekatan langsung, dimana yang berperan aktif adalah supervisor, pendekatan tidak langsung, dimana yang berperan aktif adalah guru dan pendekatan kolaboratif, dimana yang berperan aktif adalah supervisor dan guru.
Adanya penerapan beragam metode pendekatan observasi oleh kepala sekolah menggambarkan paradigma supervisi yang sudah berubah dan hal itu sangat mengakomodasi
kebutuhan masing-masing
guru sehingga proses supervisi
menjadi sangat efektif dan efisien. Dalam hal ini
Glickman (2010:7) mengatakan bahwa:
�A paradigm shift toward the collegial model, if it is to succeed, must
include shift away from conventional or congenial supervision toward collegial
supervision�. Dari uraian di atas
dapat dijelaskan bahwa pengawasan hendaknya ditandai dengan adanya relasi
yang setara antara para
guru dengan pengawas, pengawasan yang menitikberatkan kepada pengembangan keterampilan dan pengetahuan guru
dalam pembelajaran, pengawas yang siap memberikan bantuan dalam menghadapi masalah serta memberikan
alternatif jalan keluarnya.
B.
Peranan Kepala Sekolah
dalam Strategi Perbaikan Mengajar Guru
Langkah
perbaikan yang tepat tidak bisa dilakukan
tanpa adanya kegiatan penilaian terhadap temuan permasalahan yang didapat dari hasil proses diagnosa. Kegiatan penilaian ini dimaksudkan
untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi situasi dan kondisi pendidikan serta pengajaran yang telah diteliti sebelumnya, kemudian dievaluasi untuk melihat bagaimana
tingkat kualitas pendidikan di sekolah itu, apakah menggembirakan
atau memprihatinkan, mengalami kemajuan, kemunduran, atau kemandegan. Penilaian tidak melulu kepada
aspek negative saja tetapi juga aspek-aspek positif yang ditemukan.
Berdasarkan penelitian
peran Kepala Sekolah SMK Katolik Santo Yusup Blitar dalam
strategi perbaikan kinerja guru adalah dengan melakukan diskusi bersama atas temuan masalah
yang berasal dari hasil observasi atau diagnosis lapangan. Kepala sekolah bersama-sama dengan tim supervisi yang dibentuk pada akhirnya memetakan masalah penyebab menurunnya kualitas kinerja guru menjadi dua hal,
yaitu soal kurangnya penguatan karakter disiplin dan tanggung jawab dari guru di sekolah dan kurangnya skill atau keterampilan mengajar guru dalam menerapkan metode pembelajaran di kelas.
Berdasarkan diskusi bersama dengan tim supervisi maka
rekomendasi-rekomendasi yang diusulkan
antara lain, untuk menguatkan karakter disiplin dan tanggung jawab guru di sekolah diusulkan supaya diselenggarakan latihan kepemimpinan dasar, lokakarya, seminar, dan retret tahunan. Selain itu diusulkan untuk
menerapkan system reward dan punishment kepada semua guru dan karyawan dalam kaitannya dengan penegakan disiplin. Berkaitan dengan aspek pengajaran yang masih kurang, rekomendasi
yang muncul antara lain, pelatihan dalam bentuk on the job training, in house training,
lokakarya, seminar, demonstrasi
mengajar, simulasi, observasi, saling mengunjungi kelas. Sedangkan kriteria pemilihan program dipertimbangkan
berdasarkan tiga acuan, yaitu mengacu
kepada asas kemendesakan, yang kedua mengacu kepada asas kebermanfaatan dan yang ketiga adalah menyangkut
efisiensi pembiayaan.
Kepala sekolah bersama-sama dengan guru akhirnya memutuskan bahwa bentuk pembinaan
yang diterapkan bagi perbaikan mengajar guru di SMK
Santo Yusup, Blitar adalah: (1) Pembinaan Internal sekolah yang terdiri dari program In House Training, rapat
kerja, pengarahan (directing)
dari wakasek kurikulum atau kepala sekolah, mentoring,
seminar; (2) Pembinaan Eksternal
Sekolah yang terdiri dari program pelatihan tingkat kabupaten dan provinsi seperti ke VEDC Malang atau BLK Singosari, pendampingan IN on
IN tentang kurikulum
2013 yang merupakan bagian dari In House Training dan On Job Training di
Politeknik Astra Jakarta.
Tindakan
kepala sekolah dengan mengutamakan pelibatkan guru atau tim yang berasal dari intern sekolah dalam mencari solusi
sejalan dengan pemikiran dari (Sullivan
& Glanz, 2005) bahwa, �Bureau
inspectional supervision should have no place in schools in the 21 st century. We must prepare supervisor who truly
espouse participatory democratic values.� Dari uraian
ini dapat dijelaskan bahwa sekolah pada abad kekinian memerlukan supervisi yang demokratis dan partisipatif dan bukan sebuah biro inspeksi, sehingga memungkinkan terjadinya supervisi yang efektif dan efisien. Hal senada juga tercermin pada pendapat (Glickman
et al., 2001) bahwa, �Leadership
is share with teacher, and it is cast in coaching, reflection, collegial
investigation, study teams, exploration in to the uncertain, and problem
solving�. Hal ini menunjukkan
bahwa kepemimpinan modern, dalam hal ini
kepala sekolah meminta kemampuan untuk berbagi dengan
guru dalam pelatihan, refleksi, penyelidikan bersama, tim kerja,
penjelajahan kepada hal yang belum tentu sampai pada penyelesaian masalah.
Dari
uraian di atas dapat dikatakan bahwa peran kepala
sekolah dalam strategi perbaikan mengajar guru adalah dengan mencanangkan diskusi bersama dengan tim supervisi
dan para guru atas temuan masalah dan mencari solusi yang tepat untuk menetapkan program-program pembinaan sekolah yang dapat dilaksanakan dalam rangka upaya
meningkatkan kinerja guru. Dengan demikian kepala sekolah bukan pengawas yang otoriter tetapi pengawas yang bersama-sama dengan pihak yang diawasi bersinergi untuk kemajuan sekolah.
C.
Peran Kepala Sekolah
dalam Pembinaan Mengajar Guru
Strategi pembinaan mengajar guru yang dimaksudkan adalah upaya kepala
sekolah dalam menstimulasi, mengarahkan, memberi semangat agar guru-guru bersedia menerapkan cara-cara baru terkait teknik-teknik pembelajaran. Oleh karena itu proses pembinaan juga perlu diiringi dengan monitoring oleh kepala sekolah sendiri beserta tim supervisi
untuk memastikan terjadinya perbaikan pada guru binaan sehingga peningkatan kinerja menjadi terlihat.
Berdasarkan penelitian
peranan kepala sekolah dalam strategi
pembinaan guru adalah dengan menerapkan secara konsekwen langkah-langkah perbaikan yang telah di sepakati dan direncanakan bersama. Pada saat yang bersamaan kepala sekolah bersama tim selalu
siap (available) mendampingi
guru yang masih kesulitan dalam menerapkan metode pembelajarannya, kepala sekolah juga menginisiasi� kegiatan evaluasi program pembinaan dan sharing setiap
semester secara berkelompok;
pendampingan perseorangan
oleh kepala sekolah dan selalu memberikan motivasi dan dukungan positif kepada guru binaan; memberikan penghargaan kepada guru yang memiliki prestasi dan kemajuan dalam disiplin dan keterampilan pembelajaran.
Upaya pembinaan guru sejalan dengan� Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Bab IV
Bagian kelima pasal 32 tentang pembinaan dan pengembangan guru yang menyatakan
bahwa pembinaan dan pengembangan guru meliputi pembinaan dan pengembangan profesi dan karir yang secara konkret mencakup: (1) proses menyusun
program pembelajaran, yaitu:
kurikulum, silabus, lesson
plan atau RPP, program tahunan,
program semester, rincian minggu
efektif; (2) pembinaan pelaksanaan pembelajaran, yaitu: kegiatan membuka pelajaran, menjelaskan materi, media pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM); (3) pembinaan
peningkatan kompetensi
professional guru, yaitu: supervisi,
penataran, seminar, dan Musyawarah
Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Dari
uraian di atas dapat dikatakan bahwa langkah-langkah strategi pembinaan guru dalam upaya meningkatkan
kemampuan mengajar guru sejalan dengan pemikiran (Marzano
et al., 2011) yang menuliskan
bahwa:�the purpose of supervision should be the
enhancement of teacher�s pedagogical skill, with the ultimate goal of enhancing
student achievement.� Dapat dijelaskan
bahwa tujuan dari supervisi seharusnya adalah peningkatan kualitas kemampuan pedagogis para guru (teacher
performance) dengan pencapaian
terakhir peningkatan kualitas pencapaian belajar murid.
Dengan adanya bentuk penguatan seperti pendampingan, dukungan, dan reward dari kepala sekolah diharapkan memberikan dampak kepada peningkatan
kinerja guru (teacher performance) dan hal ini juga sesuai
dengan pendapat dari (Luthans,
2011) yang berpendapat
bahwa: �On the basis of the classic law of effect,
or �Low of Behavior,� reinforcement can be operationally defined as anything
that increases the strength of a behavior and that tends to induce repetitions
of the behavior that preceded the reinforcement.� Dapat
dikatakan bahwa penguatan menjadi salah satu kunci dalam
mempertahankan serta meningkatkan kinerja yang diharapkan oleh kepala sekolah dari guru.
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peran kepala
sekolah dalam strategi pembinaan kinerja guru adalah dengan menetapkan dan menjalankan program pembinaan secara konsekuen sesuai dengan kesepakatan
dan perencanaan bersama, melakukan monitoring dan evaluasi
terhadap berjalannya
program pembinaan, dan memberikan
penguatan yang menjamin peningkatan kinerja guru.
Kesimpulan
Supervisi�Kepala Sekolah SMK Santo Yusup, Blitar dalam
upaya meningkatkan kinerja guru memerlukan perencanaan yang matang agar mendapatkan dampak atau hasil yang berguna bagi peningkatan
kinerja guru. Dalam penelitian ini penulis menyimpulkan tiga peran fundamental supervisi - kepala sekolah dalam upaya
meningkatkan kinerja guru
di SMK Santo Yusup, Blitar,
yaitu: (1) Diagnosis atau identifikasi masalah kinerja guru.� Dalam tahap ini
kepala sekolah melakukan tindakan pengenalan masalah. Untuk mengetahui masalah yang ada pada kinerja guru maka perlu dilakukan penelitian dengan instrumen penelitian seperti angket, wawancara, kunjungan kelas, dan sebagainya. Setelah mendapatkan informasi yang memadai kepala sekolah kemudian mengolah dan memetakan permasalahan berdasarkan informasi yang telah diperoleh; (2) Peranan kepala
sekolah dalam upaya perbaikan masalah mengajar guru.� Pada tahap ini kepala
sekolah menyelesaikan masalah yang ditemukan dengan diskusi dengan tim supervisi dan para guru agar memberikan
pandangan, masukan atau input�
sehingga dapat dijadikan acuan dalam menyusun rekomendasi-rekomendasi sebelum menentukan rekomendasi yang paling cocok bagi penyelesaian masalah. (3)
Melaksanakan langkah pembinaan dalam upaya meningkatkan kinerja guru. Pada tahap ini kepala sekolah
menerapkan keputusan yang sudah diambil yang dirasa sangat perlu
untuk segera dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah mengajar guru. Upaya untuk memastikan bahwa implementasi dari penerapan pembinaan berjalan dengan baik dilakukan
melalui proses monitoring dan dilanjutkan
dengan evaluasi program pembinaan. Hasil evaluasi kemudian menjadi masukan kembali bagi kepala sekolah
untuk mengevaluasi kembali efektivitas pilihan solusi bagi penyelesaian masalah.
Bibliografi
Artatie, S. (2018).
Pengaruh Sarana Pendidikan, Kompensasi Dan Motivasi Terhadap Kinerja Dosen. Syntax
Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 3(8), 82�95.
Glickman, C. D., Gordon,
S. P., & Ross-Gordon, J. M. (2001). Supervision and instructional
leadership: A developmental approach. ERIC.
Hawkins, P., & Shohet,
R. (2012). Supervision in the helping professions. McGraw-Hill Education
(UK).
Luthans, F. (2011).
Organizational Behavior: An Evidence Based Approach McGraw-Hill. Inc., New
York.
Marzano, R. J., Frontier,
T., & Livingston, D. (2011). Effective supervision: Supporting the art
and science of teaching. Ascd.
Nasional, K. P., Mutu, D.
J. P., & Kependidikan, P. D. T. (2010). Pedoman Pelaksanaan Penilaian
Kinerja Guru (PK Guru). Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu
Pendidik Dan Tenaga Kependidikan.
Sullivan, S., & Glanz,
J. (2005). Supervision that improves teaching: Strategies and techniques.
Corwin Press.
Yin, R. K. (2011). Qualitative
research from start to finish. 2010. New York: Guilford Press.