|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 2 No. 12, Desember 2021 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
IMPLEMENTASI MULTIPLE INTELEGENCES DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
�������������������������������������������������������������������������������������������������
Sri Widiyati����
Fakultas Teknologi Pendidikan, Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 23 November 2021 Direvisi 2 Desember 2021 Disetujui 21 Desember 2021 |
Kecerdasan merupakan kemampuan memecahkan masalah dan menciptakan kreativitas. Potensi kecerdasan anak dan karakter dasar seorang anak dibentuk pada masa ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi Teori Multiple Intelligence (Teori Kecerdasan Majemuk). Dengan menggunakan metode penelitian penelitian teoritik (theoritical research) atau sering disebut sebagai penelitian kepustakaan atau studi pustaka (library research), bukan suatu penelitian empirik. Semua data diperoleh melalui berbagai artikel dalam berbagai jurnal, buku, dan media cetak lainnya sehingga kajian teoritis lebih mendalam. Sehingga diperoleh hasil bahwasanya kecerdasan merupakan suatu kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dalam kehidupannya, kemampuan untuk mengembangkan masalah baru untuk dipecahkan dan kemampuan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat di dalam kehidupannya, kemudian Kesembilan kecerdasan tersebut yaitu kecerdasan verbal liguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan spasial visual, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan eksistensial. ������������������������������������������ ABSTRACT Intelligence is the ability to solve problems and create creativity. The potential intelligence of a child and the basic character of a child are formed at this time.� This research aims to explore the Theory of Multiple Intelligence (Theory of Compound Intelligence). Using theoritical research methods or often referred to as literature research or library research, not an empirical research. All data is obtained through various articles in various journals, books, and other print media so that theoretical studies are more in-depth. . According to Gardner, intelligence is an ability to solve problems faced, in his life, the ability to develop new problems to be solved, and the ability to make something or do something useful in his life, then The nine intelligences are liguistic verbal intelligence, mathematical logic intelligence, visual spatial intelligence, kinesthetic-physical intelligence, musical intelligence, interpersonal intelligence, intrapersonal intelligence, naturalist intelligence, and existential intelligence. |
|
Kata Kunci: Multiple Intelligence, Pendidikan, Anak Usia� Dini.
Keyword: Multiple Intelligence, Education, Early Childhood. |
Pendahuluan
Berdasarkan.Undang-Undang Republik. Indonesia Nomor 20 Tahun�2003�tentang Sistem.Pendidikan.Nasional, anak baru lahir sampai usia 6 tahun dikategorikan sebagai masa usia dini. Masa ini disebut juga sebagai. Masa keemasan yang mana pada masa ini anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Anak menjadi sangat peka dan potensial dalam mempelajari sesuatu. Di masa ini anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung proses tumbuh dan kembang seorang anak. Proses tumbuh dan kembang anak pada masa ini menjadi perhatian penting bagi para guru dan orangtua.
Menurut (Trianto, 2010) potensi kecerdasan anak dan karakter dasar seorang anak dibentuk pada masa ini. Pendidikan pun merupakan sesuatu yang utama pada masa ini. Berdasarkan Pasal 1 butir 14 dari Undang-Undang No.20/2003 menyatakan bahwa suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun merupakan pendidikan anak usia dini. Pembinaan ini dilakukan dengan memberikan rangsangan yang bisa membantu proses tumbuh dan kembang anak. Dengan demikian sebelum anak memasuki pendidikan lebih lanjut, anak sudah dipersiapkan baik itu jasmani maupun rohaninya
Kecerdasan merupakan kemampuan memecahkan masalah dan menciptakan kreativitas. Kemampuan ini muncul dari pembiasaan dari perilaku fisik yaitu dari gerakan kinetik tubuh, seperti menentukan gradasi warna, memainkan alat musik, membentuk pola, dan sebagainya, serta pembiasaan non-fisik, seperti pemikiran yang terpola dalam bentuk kebiasaan dalam kemampuan mengolah kata, memahami perhitungan bilangan dalam matematika, merasa nyaman dan bahagia dalam interaksi personal, serta merefleksikan lingkungan (Chatib, 2012).
Menurut (Gardner, 2011) mengatakan bahwa kecerdasan merupakan seperangkat keterampilan pemecahan masalah yang melibatkan potensi untuk menemukan atau menciptakan masalah. Gardner lebih lanjut menjelaskan bahwa kecerdasan ini berasal dari proses pembelajaran, perilaku, pola kehidupan antar manusia, dan alam atau lingkungan yang terkristalisasi dalam habit (kebiasaan) yang membentuk suatu kebudayaan.
Pada penelitian awal, (Gardner, 2011) menyimpulkan bahwa terdapat tujuh kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yaitu kecerdasan verbal linguistik, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal. Kemudian dalam bukunya Intelligences Reframed yang diterbitkan 1995, Gardner menambahkan satu kecerdasan baru yaitu kecerdasan naturalis. Kecerdasan eksistensial kemudian menjadi kecerdasan yang kesembilan yang ditambahkan oleh Gardner pada tahun 1999. Ini menjadi kecerdasan yang terakhir sampai saat ini.
Semua anak adalah cerdas. Masing-masing anak memiliki kelebihannya masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Padangan Gardner ini memunculkan pandangan baru di dunia Pendidikan saat itu bahwa setiap anak merupakan seorng individu yang unik. Pendidik harus melihat berbagai macam cara dalam belajar karena tidak ada satu carapun yang efektif untuk semua kecerdasan (Gardner, 2011).
Jika diimplikasikan ke dunia pendidikan, maka Multiple Intelligences ini bisa menjadi sebuah strategi pembelajaran dalam semua bidang pelajaran. Guru perlu menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa. Berdasarkan teori intelegensi ganda, siswa dapat mempelajari semua materi jika materi yang disampaikan sesuai dengan kecerdasan yang menonjol pada anak. Dengan demikian dengan cara mengajar yang beragam, anak akan bisa berkembang secara optimal sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya (Dharin, 2019).
Tidak heran jika guru berperan sangat penting dalam kegiatan belajar di dalam kelas. Guru bertugas untuk merancang dan melakukan proses pembelajaran yang efektif sehingga siswa mendapatkan pengalaman yang bermakna yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, bukan hanya berfokus kepada hasil evaluasi yang dicapai oleh siswa.
Menurut (Masdudi, 2017) mengungkapkan bahwa dalam mengajar, proses perancangan pembelajaran lebih ditekankan. Guru harus bisa memanfaatkan sumber dan fasilitas yang tersedia untuk menstimulasi semua potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga tercapai kompetensi yang diharapkan. (Masdudi, 2017) menjelaskan bahwa iklim pembelajaran dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan semangat belajar siswa. Dengan demikian seorang guru harus memiliki keterampilan dan kemampuan untuk memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian teoritik (theoritical research) atau sering disebut sebagai penelitian kepustakaan atau studi pustaka (library research), bukan suatu penelitian empirik. Semua data diperoleh melalui berbagai artikel dalam berbagai jurnal, buku, dan media cetak lainnya sehingga kajian teoritis lebih mendalam (Darmalaksana, 2020).
Hasil dan Pembahasan
Teori Multiple Intelligences atau teori kecerdasan majemuk menjadi salah satu teori kecerdasan yang banyak diakui dan digunakan sekarang ini. Dunia pendidikan, teori kecerdasan majemuk ini lebih melayani semua kecerdasan yang dimiliki anak (Musfiroh & Teoretis, 2014). Anak merupakan satu individu yang unik yang berbeda satu sama lain. Konsep kecerdasan majemuk ini menjadikan para guru lebih bijaksana dalam melihat perbedaan setiap siswanya. Hal ini membuat siswa merasa nyaman karena merasa lebih diterima dan dilayani. Konsep ini juga menghapus mitos tentang anak cerdas dan tidak cerdas, karena menurut konsep ini, semua anak pada dasarnya cerdas (Hanafi, 2019).
Dengan berkembangnya konsep kecerdasan majemuk ini dalam dunia pendidikan, para guru menyadari bahwa mereka harus membantu pertumbuhan dan perkembangan anak melalui bermacam-macam kegiatan, proses pembelajaran, dan evaluasi kegiatan yang memberikan stimulus bagi perkembangan berbagai kecerdasan yang dimiliki oleh para siswa. Hal ini menjadi merupakan sesuatu hal yang terpenting karena semua jenis kecerdasan yang dimiliki oleh seorang anak merupakan hal yang pernting dalam mengatasi permasalahan dalam kehidupan.
Berdasarkan teori perkembangan majemuk, perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing siswa harus diterima dan dilayani dengan suatu keyakinan bahwa setiap orang berbeda karena setiap orang memiliki kombinasi kecerdasani yang berbeda-beda.
1. Implikasi Teori Kecerdasan Majemuk pada Kurikulum Anak Usia Dini
Masa usia dini merupakan masa yang sangat penting dalam perkembangan manusia, Pada masa usia dini ini akan bertumbuh dan berkembang dengan pesat. Semua potensi yang ada di dalam diri anak akan berkembang. Menurut ahli neurologi, kapasitas kecerdasan manusia mencapai 50% ketika berusia 4 tahun, dan ketika berusia 8 tahun maka kapasitas kecerdasan meningkat menjadi 80% (Ali, 2015).
Dengan demikian orang tua harus bijak dalam memilih sekolah yang dapat membantu perkembangan kecerdasan anak terutama pada usia dini. Menurut Gardner, kecerdasan majemuk masih dapat dikembangkan dan bukan sesuatu yang tidak dapat berubah. Sekolah sebagai salah satu tempat yang dapat mengembangkan kecerdasan majemuk yang telah dimiliki oleh anak secara optimal, termasuk kecerdasan majemuk lainnya yang belum dimiliki oleh anak tersebut sehingga bisa diperkenalkan dan dilatih.
Teori kecerdasan majemuk dari Gardner ini sangat bagus dan sesuai untuk diaplikasikan pada pendidikan anak usia dini. Dengan konsep bahwa semua anak cerdas, maka guru bisa mendeteksi kecerdasan masing-masing anak lebih awal dan memberikan stimulus yang tepat untuk mengasah kecerdasan tersebut.
Dalam mengimplementasikan teori kecerdasan majemuk pada kegiatan pembelajaran anak usia dini, seorang guru melihat bahwa setiap anak mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Pendidik dituntut untuk jeli dalam menggali dan memahami berbagai gaya belajar yang dimiliki peserta didik (Kamilah, 2019).
Teori kecerdasan majemuk ini memengaruhi penyusunan kurikulum di berbagai sekolah, terutama pengaruh pada pemilihan materi pelajaran. Materi pelajaran mencakup topik tematik, bukan model kurikulum klasik. Di setiap awal tahun ajaran, seluruh sekolah menentukan materi yang akan dipelajari oleh siswa. Materi ini bisa gabungan dari materi pemerintah lokal dengan materi yang dipilih oleh siswa. Ini mengakibatkan siswa merasa senang dan bersemangat untuk belajar karena siswa bisa menentukan materi yang akan dipelajarinya (Lalujan et al., 2019).
Model pemilihan materi pembelajaran ini juga memungkinkan pendekatan secara indisipliner dilihat dari berbagai sudut. Sebagai contoh, topik tentang angka: dapat didekati lewat pendekatan fisis, kimia, biologis, ekonomis, matematis, dan lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, jelas konsep multiple intelligences diperlukan dalam pendekatannya, bukan hanya pendekatan matematis dan lingusitik.
Teori kecerdasan majemuk juga mempengaruhi bagaimana materi disajikan dan dipelajari. Pembelajaran berbeda dengan model klasik yang hanya ceramah dan hitungan, tetapi lebih dengan intelegensi yang bervariasi, sehingga lebih menyenangkan bagi siswa yang sedang belajar. Pendekatan ini juga menekankan pendekatan yang lebih personal dalam pendidikan karena situasi dan keunikan siswa diperhatikan. Oleh karena proses pembelajaran bervariasi, maka evaluasipun berubah. Penyusunan materi pembelajaran pun bervariasi dengan memasukan gambar, hitungan, musik, tugas kerja sama, dan penggunaan peralatan elektronik untuk membantu proses pembelajaran yang menggunakan multiple intelligences (Suparno, 2012).
Namun, tidak dapat dpungkiri bahwa masih ada sekolah yang masih tetap menggunakan susunan kurikulum klasik, tetapi dilengkapi dengan program dan kegiatan tambahan yang mengembangkan kecerdasan majemuk. Hal ini disebabkan oleh alasan untuk tidak terlalu mengubah kurikulum yang ada secara drastis, tetapi ada pembaruan dan dilengkapi denagn unsur kecerdasan majemuk.
2. Implikasi pada pembelajaran
Menurut penelitian Gardner, konsep kecerdasan majemuk ini� banyak membantu proses pembelajaran. Banyak siswa yang tadinya diperkirakan tidak dapat berhasil dalam studi mereka tenyata dapat dibantu, dan berhasil dengan baik berkat pengajaran dengan konsep kecerdasan majemuk. Banyak guru yang tadinya merasa tidak dapat membantu anak didik karena mengajar dengan model yang sama terus-menerus ternyata dapat membantu anak didik untuk berhasil karena mereka dapat mengembangkan pengajaran yang bervariasi (Gardner, 2011).
Gardner lebih lanjut menemukan bahwa ada banyak guru yang mengajar dengan satu model yang sesuai dengan kecerdasan dari guru itu sendiri dan Padahal cara itu tidak sesuai dengan beberapa siswa yang memiliki kecerdasan berbeda. Ini menyebabkan banyak siswa yang meskipun masuk sekolah, tetapi masih merasa tidak pernah belajar. Gardner mencoba membantu guru-guru tersebut untuk mengubah cara mengajar mereka, yaitu menggunakan konsep kecerdasan majemuk yang lebih bervariasi dan disesuaikan dengan kecerdasan siswa.
Sebagai contoh, seorang guru yang mempunyai kecerdasan logika matematika yang tinggi lebih senang mengajar dengan menekankan pada pendekatan matematis-logis yakni secara sistematis, dengan skema, bagan, rumus, dan sebagainya. Begitu juga dnegan guru yang menonjol dalam kecerdasan verbal linguistik akan senang mengajar dengan menggunakan model ceramah, bercerita panjang lebar, dengan puisi, membaca dan sebagainya. Guru tersebut jarang menggunakan pengajaran dengan kecerdasan kinestetik-jasmanii, interpersonal, visual-spasial, intrapersonal, naturalis atau eksistensial. Hal ini menyebabkan siswa yang tidak memiliki kecerdasan yang sama dengan yang digunakan guru, tidak akan terbantu secara baik. Bahkan, bisa jadi siswa tersebut merasa tidak belajar apa pun, karena guru mengajar untuk siswa lain yang memiliki kecerdasan yang sesuai dengan cara guru mengajar.
Menurut (Hamzah, 2009) multiple intelligences, setiap siswa mempunyai intelegensi yang berbeda dan siswa akan lebih mudah belajar dan dibantu belajar bila materi diajarkan dengan intelegensi mereka yang menonjol. Misalnya, bila siswa menonjol dalam intelegensi musik, ia akan mudah belajar mata pelajaran matematika, bila materinya disampaikan oleh guru dengan memasukkan unsur musik di dalamnya. Dengan kecerdasan siswa di satu kelas berberda-beda, maka guru perlu memasukkan dan mengolah materi yang akan diajarkan dengan model kecerdasan majemuk sesuai dengan kecerdasan siswa di dalam kelas tersebut (Wati, 2016). Guru diajurkan untuk mencoba mengenali intelegesi apa saja yang dimiliki siswanya sebelum Menyusun materi pembelajaran.
Menurut Gardner dalam (Amir, 2013) menambahkan bahwa seorang guru bisa mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan kecerdasan lain yang tidak dimiliknya. Guru bisa melatih dirinya dengan metode tertentu yang sesuai dengan kecerdasan yang akan diajarkan. Misalnya, guru yang memiliki kecerdasan musikalnya kurang baik dapat mengajar materi pelajaran dengan menggunakan lagu atau musik dengan berlatih terus-menerus. Kualitasnya tentu tidak sebaik dengan guru yang memiliki kecerdasan musikal yang baik, namun cukup untuk mengajar siswa. Dengan demikian, guru tidak boleh merasa tidak dapat berkembang lagi, tetapi harus lebih yakin bahwa selalu dapat mengembangkan cara mengajar mereka. Bila siswa dapat dibantu mengembangkan kecerdasan mereka, maka kecerdasan guru juga dapat dikembangkan.
Kesimpulan
Pembelajaran multiple intelligences berorientasi pada pengembangan potensi anak bukan berorientasi pada idealisme guru atau orang tua. Anak berkembang agar mampu membuat penilaian atau keputusan sendiri secara tepat, bertanggung jawab, percaya diri dan mandiri tidak bergantung pada orang lain, kreatif, mampu berkolaborasi, serta dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik. Dengan menggunakan pendekatan pembelajaran multiple intelligences dalam proses pembelajaran dapat tercipta pembelajaran yang sesuai dengan esensi dan substansi pendidikan dengan memperhatikan multiple intelligences peserta didik.
Menurut Howard Gardner Ada Dengan memahami multiple intelligences para peserta didik, pendidik dapat menerapkannya dalam proses pembelajaran. Sehingga dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas tercipta pembelajaran yang sesuai dengan esensi dan substansi pendidikan dengan memperhatikan multiple intelligences peserta didik.
Dengan pemahaman tentang konsep multiple intelligences, maka para peserta didik, pendidik dapat menerapkannya dalam proses pembelajaran. Sehingga dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas tercipta pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai dengan memperhatikan multiple intelligences peserta didik.
Bibliografi
Ali, N. R. (2015). Analisis konsep Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk (multiple intelligences) dan implikasinya terhadap pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak di TK Alam Alfa Kids Pati tahun ajaran 2014/2015. UIN Walisongo.Google Scholar
Amir, A. (2013). Pembelajaran matematika dengan menggunakan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Logaritma: Jurnal Ilmu-Ilmu Pendidikan Dan Sains, 1(01). Google Scholar
Chatib, M. (2012). Orangtuanya manusia: melejitkan potensi dan kecerdasan dengan menghargai fitrah setiap anak. Kaifa. Google Scholar
Darmalaksana, W. (2020). Metode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka dan Studi Lapangan. Pre-Print Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Google Scholar
Dharin, A. (2019). Model Pendidikan Islam Berbasis Kecerdasan Ganda. Didaktika Islamika: Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammdiyah Kendal, 10(Nomor 1), 1�32. Google Scholar
Gardner, H. E. (2011). Frames of mind: The theory of multiple intelligences. Hachette Uk, 2011. Hachette Uk. Google Scholar
Hamzah, A. (2009). Teori multiple intelligences dan implikasinya terhadap pengelolaan pembelajaran. TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam, 4(2). Google Scholar
Hanafi, M. Z. (2019). Implementasi Metode Sentra Dalam Pengembangan Kecerdasan Majemuk Anak Usia Dini. Deepublish. Google Scholar
Kamilah, S. (2019). Implementasi Pendekatan Multiple Intelligence dalam Pembelajaran Anak Usia Dini di Playgroup & Kindergarten Ananda Mentari Yogyakarta. Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender Dan Anak, 14(2), 291�310. Google Scholar
Lalujan, K. V., Krismayani, O., & Manajang, T. Y. (2019). Kecerdasan anak usia dini ditinjau dari prespektif teori kecerdasan Howard Gardner. Google Scholar
Masdudi, M. (2017). Konsep Pembelajaran Multiple Intelligences Bagi Anak Usia Dini. AWLADY: Jurnal Pendidikan Anak, 3(2), 1�27. Google Scholar
Musfiroh, T., & Teoretis, A. L. (2014). MULTIPLE INTELLIGENCES dan Implikasinya dalam Pendidikan. Pusdi PAUD. Lemlit UNY, Http//Multiple-Intelegence. Com Diakses Tanggal, 15.
Suparno, P. (2012). Peran Pendidikan dan Penelitian Terhadap Pembangunan Karakter Bangsa. Dalam Prosiding Seminar Nasional Dies Natalis Ke, 48, 1�8. Google Scholar
Trianto, M. P. (2010). Model pembelajaran terpadu: Konsep, strategi, dan implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kuala Lumpur: Kemetrian Pengajaran Malaysia. Google Scholar
Wati, U. A. (2016). Model Pembelajaran Terpadu Berbasis Kecerdasan Majemuk di Sekolah Dasar. Google Scholar
|
Sri Widiyati (2021).
|
|
First publication right :
This article is licensed under: |