Jurnal Syntax Transformation

Vol. 2 No. 12, Desember 2021

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PKN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH PADA MATERI NORMA MASYARAKAT

 

Ustadzah��������

MI Ma�arif Pulutan Sidorejo, Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia.

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

12 November 2021

Direvisi

10 Desember 2021

Disetujui

21 Desember 2021

Ruang lingkup pembahasan pada penelitian ini diperlakukan pada kelas VII D SMP Negeri 17 Surakarta. Dengan fokus permasalahan �Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran PKn Melalui Model Pembelajaran Make a Match Pada Materi Norma Masyarakat Kelas IV MI Ma�arif Pulutan Sidorejo�. Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam PTK tahap penelitian terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match �dapat meningkatkan hasil belajar PKn. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata hasil tes awal 65, pada siklus I menjadi 81,86 dan pada siklus II naik menjadi 91,30. Tingkat ketuntasan belajar juga meningkat dari tes awal yaitu 25,96%,� pada siklus I menjadi 66,66% dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 93,33%. Kesimpulan penelitian ini adalah dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan hasil belajar PKN siswa kelas IV MI Ma�arif Pulutan Sidorejo.

 

ABSTRACT

The scope of the discussion in this study was treated in class VII D of SMP Negeri 17 Surakarta. With a focus on the problem "Efforts to Improve Learning Achievement in Civics Subjects through the Make a Match Learning Model in Class IV Community Norms Materials at MI Ma'arif Pulutan Sidorejo". The goal to be achieved in this research is to improve student learning outcomes in Civics subjects. This research uses classroom action research (CAR). In CAR, the research phase consists of four stages, namely planning, implementing actions, observing and reflecting. The results showed that the application of the make a match type of cooperative learning model could improve Civics learning outcomes. This is indicated by the average initial test results of 65, in the first cycle it was 81.86 and in the second cycle it rose to 91.30. The level of mastery learning also increased from the initial test, namely 25.96%, in the first cycle to 66.66% and in the second cycle it increased again to 93.33%. The conclusion of this study is that the application of the make a match type of cooperative learning model can improve PKN learning outcomes for fourth grade students of MI Ma'arif Pulutan Sidorejo

Kata Kunci:

Prestasi Belajar, Model Pembelajaran, Make A Match

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Learning Achievement, Learning Model, Make A Match


 


Pendahuluan

Masalah pendidikan pada hakikatnya adalah masalah belajar, yaitu bagaimana menciptakan kondisi sehingga anak dapat mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan potensinya, serta mampu meningkatkan taraf hidupnya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan (Yuhana & Aminy, 2019).

Didalam kegiatan belajar mengajar guru dihadapkan pada siswa. Siswa yang dihadapi oleh guru rata-rata satu kelas yang terdirin dari empat puluh orang (Widodo & Priyani, 2009). Kemungkinan dapat terjadi seorang guru menghadapi sejumlah ratusan siswa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keterampilan mengorganisasi siswa agar belajar. Guru juga menghadapi bahan pengetahuan yang berasal dari buku teks, dari kehidupan, sumber informasi lain, atau kenyataan di sekitar sekolah. Dengan menghadapi sejumlah pebelajar atau siswa, berbagai pesan yang terkandung dalam bahan ajar, peningkatan kemampuan siswa, dan proses mendapatkan pengalaman belajar, maka setiap guru memerlukan pengetahuan tentang pendekatan pembelajaran terhadap siswa.

Peran guru yang sangat penting adalah menjadi fasilitator belajar (Rahmawati & Suryadi, 2019). Tujuannya adalah mempermudah proses belajar. Cara yang dilakukan guru antara lain adalah dengan cara membimbing siswa belajar, menyediakan media dan sumber belajar, memberikan penguatan belajar, menjadi teman dalam mengevaluasi pelaksanaan, cara dan hasil belajar, serta memberi kesempatan siswa untuk memperbaiki diri (Naibaho, 2018).

Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lingkungan, keluarga dan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan memengaruhi perilaku siswa. Oleh karena itu disiplin disekolah wajib untuk merencanakan secara maksimal dan dilaksanakan oleh seluruh anggota sekolah secara konsekuen dan konsisten. Kepala sekolah, guru dan para pegawai sekolah lainnya yang ada dalam komponen sekolah harus ikut berpartisipasi dalam memberikan keteladanan dan menerapkan disiplin sekolah. Sehingga siswa akan menumbuhkembangkan nilai-nilai ketaatan dan sendirinya akan berperilaku teratur (Arianto, 2015).

Setiap manusia, baik sebagai individu atau anggota masyarakat selalu membutuhkan bantuan orang lain. Dalam interaksi sosial tersebut, setiap individu bertindak sesuai dengan kedudukan, status sosial dan peran mereka masing-masing. Tindakan manusia dalam interaksi sosial itu senantiasa disadari oleh nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, serta menerapkan norma-norma, kebiasaan, adat istiadat, dan peraturan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Sudariyanto, 2020).

Setiap individu dalam kehidupan sehari-hari melakukan interaksi dengan individu atau kelompok lainnya. Interaksi sosial juga senantiasa didasari oleh dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Misalnya interaksi sosial di dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lain sebagainya. Masyarakat yang menginginkan hidup aman, tentram dan damai tanpa gangguan, maka setiap manusia perlu menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup, sehingga kepentingan masing-masing dapat terpelihara dan terjamin. Setiap anggota masyarkat mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Pada dasarnya orang yang melakukan kebijakan berarti orang yang menjalankan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum. Demikian sebaliknya, apabila orang itu melakukan kejahatan atau berbuat keji, maka pada hakekatnya orang tersebut telah melakukan pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Norma-norma yang berlaku dalam masyarakat adalah semua kaidah atau peraturan yang mengatur pergaulan hidup manusia di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dengan peraturan itu kehidupan manusia akan tertib, rukun dan damai, serta menghargai hak-hak asasi manusia. Dalam suasana tertib, rukun dan damai, manusia dapat menunaikan tugas kewajibannya secara baik sehingga hasilnya dapat maksimal dan pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan. Lingkungan akan memberikan warna dan corak kepada perilaku seseorang dalam komunitas tertentu, sehingga perilaku manusia dapat dibentuk oleh lingkungan. Apabila lingkungan kehidupan seseorang baik, maka kemungkinan besar perilaku seseorang tersebut akan baik dan sebaliknya. Lingkungan terdiri atas lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Di lingkungan keluarga akan memberikan contoh nilai-nilai ketaatan dan berperilaku yang teratur serta membentuk pribadi yang mengacu pada kedisiplinan dan segala aktivitasnya, baik itu di rumah, di sekolah, di jalan raya maupun kehidupan bermasyarakat yang selalu mentaati peraturan dan norma-norma yang berlaku. Tanggung jawab merupakan keberanian untuk menentukan bahwa suatu perbuatan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia, dan bahwa hanya karena itu perbuatan tersebut sesuai dengan tuntutan sehingga sanksi apapun yang ditentukan (oleh kata hati, oleh masyarakat, oleh norma-norma agama), diterima dengan penuh kesadaran dan kerelaan.

Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, melindungi anak, menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya, dan mencegah terjadi perkawinan pada usia anak-anak. Kemudian tanggung jawab yaitu bisa menyelesaikan tugas tepat waktu, menghindari sikap ingkar janji dan biasa mengerjakan tugas sampai selesai.

Ada beberapa faktor-faktor kesulitan pada diri siswa, diantaranya: kurang berusaha untuk berkonsentrasi diri terhadap pelajaran-pelajaran yang dihadapi, kurang melatih diri dalam menjawab atau menyelesaikan soal-soal, kurang menghafal bahan pelajaran, terlalu banyak kegiatan lain yang mendesak kegiatan belajar, kurang dapat mengerti penjelasan yang diberikan guru, kurang cermat dan menangkap apa yang diterangkan guru, kurang tinggi kemampuan inteleknya sehingga terlambat dalam belajar, serta kurang dapat membagi waktu belajar.

Mata pelajaran pendidikan Kewarganegaraan yang berkenaan dengan masalah norma hukum yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat terdapat pada Standar Kompetensi, yaitu menunjukkan sikap positif terhadap norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Adapun Kompetensi Dasarnya yaitu yang pertama menjelaskan hakekat dan arti penting hukum bagi warga negara, yang kedua mendeskripsikan hakekat norma-norma, kebiasaan, adat istiadat, peraturan, yang berlaku dalam masyarakat, dan yang ketiga adalah menerapkan norma-norma, kebiasaan, adat istiadat, peraturan, yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Berdasarkan teori belajar tuntas, peserta didik dipandang tuntas belajar jika peserta didik mampu menguasai minimal 75% dari seluruh tujuan pembelajaran. Sedangkan keberhasilan kelas dilihat dari jumlah siswa yang mampu mencapai minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa yang ada di kelas tersebut (Hazmiwati, 2018).

Pembelajaran guru tidak menggunakan alat bantu pembelajaran. Hal inilah yang diduga menyebabkan lemahnya siswa dalam memahami konsep-konsep dasar PKN, hal ini bisa dilihat dari hasil belajar yang rendah. Pengalaman peneliti sebagai guru PKN di MI Ma�arif Pulutan Sidorejo belum melaksanakan pembelajaran sudah berusaha maksimal, mulai dari persiapan RPP, media hingga strategi pembelajaran dan pengelolaan kelas. Namun disisi lain peneliti sebagai guru memang masih cenderung menggunakan metode mengajar yang monoton yaitu metode ceramah, kondisi ini ternyata membuat siswa menjadi bosan, jemu dan tidak tertarik untuk belajar. Guru kurang mampu mengelola kelas dengan baik, sehingga banyak diantara siswa yang acuh tak acuh terhadap pembelajaran yang sedang dilakukan oleh guru bahkan sebagian diantaranya lebih sering mengerjakan tugas lain.

Mengatasi hal tersebut perlu diupayakan langkah-langkah yang dapat dilaksanakan baik oleh siswa maupun guru. Guru hendaknya mengemas proses belajar mengajar dengan metode yang tepat dan menarik dalam penyajiannya. Salah satu langkahnya adalah menggunakan metode variasi dan bantuan alat peraga.

Pembelajaran berasal dari kata belajar, menurut (Suardi, 2018) belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya. Sedangkan menurut (Hamalik, 2006), (1990: 21) mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara cara bertingkah laku yang baru berkat penglaman dan latihan.� Dengan demikian belajar pada dasarnya dapat dipandang sebagai suatu proses perubahan positif-kualitatif yang terjadi pada tingkah laku peserta didik sebagai subyek didik akibat adanya peningkatan pengetahuan, ketrampilan, nilai, sikap, minat, dan kreatifitas yang telah dicapainya. Belajar dalam hal ini adalah memusatkan diri bagaimana mengaplikasikan pembelajaran yang sebenarnya sehingga dapat membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran� yang telah ditetapkan.

Ada beberapa definisi tentang pembelajaran dari para ahli sebagai berikut.� Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut UU RI No 20 Bab I, Pasal I, tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Kesimpulan dari beberapa definisi dari pembelajaran adalah suatu usaha dalam menyajikan bahan pelajaran oleh guru dengan tujuan yang sistematis menuju perubahan tingkah laku peserta didik, yaitu dapat memahami maupun mengembangkan bahan pelajaran yang akan disampaikan pada saat mengajar.

�Proses pembelajaran selain diawali dengan perencanaan yang bijak serta didukung dengan komunikasi yang baik juga harus didukung dengan pengembangan strategi yang mampu membelajarkan siswa (Abdul, 2008). Sedangkan menurut (Sanjaya, 2016) juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media, seperti bahan bahan cetak, program televisi, gambar, audio dan lain sebagainya sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan guru dalam mengelola proses belajar mengajar, dari guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator dalam belajar mengajar. Pembelajaran� lebih menekankan� kepada cara atau metode dalam membantu� peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran adalah terwujudnya efisiensi dan efektifitas kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik. (Faizah, 2017). Pembelajaran pada dasarnya rekayasa untuk membantu murid agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan maksud penciptaannya.

Model pembelajaran make a match merupakan salah satu pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam berbagai kegiatan pembelajaran baik secara individu maupun kelompok, sehingga dapat mengembangkan pemahaman dan kemampuan belajar melalui berbuat atau melakukan (Aliputri, 2018).

 

Metode Penelitian

Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan menurut metode ilmiah yang sistematis untuk menemukan informasi ilmiah atau teknologi baru, membuktikan kebenaran atau ketidak benaran hipotesis sehingga dapat dirumuskan teori atau proses gelaja social (KUNANDAR, 2011).

Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah Penelitian Tindakan Kelas atau sering disebut Clasroom Action Research (CAR) dalam bahasa Inggris. Susilo (2007:16). Jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dipilih karena penelitian ini diadakan di dalam kelas dan lebih difokuskan pada masalah-masalah yang terjadi di dalam kelas atau pada proses belajar mengajar.

Adapun tahapan penelitian menurut (Arikunto, 2019) ini digunakan sebagai berikut:


Perencanaan

 
������

 

Pelaksanaan

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 1

Model Penelitian Tindakan Kelas



 

 

 

 

Hasil dan Pembahasan

A.   Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKN melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match. Menerapkan model tersebut dalam pembelajaran PKN siswa akan lebih aktif dan dapat lebih memahami materi secara mendalam. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus. Setiap pertemuan terdapat satu siklus. Dengan demikian terdapat dua kali pertemuan dalam penelitian yang dilakukan. Sebelum melakukan tindakan, peneliti melakukan tes awal untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman mereka tentang materi yang akan disampaikan saat penelitian siklus I. Dan dari analisa hasil tes awal memang diperlukan tindakan untuk meningkatkan hasil belajar mereka dalam mata pelajaran PKN dan fokus penelitian ini pada materi norma masyarakat kelas IV MI Ma�arif Pulutan Sidorejo.

Secara garis besar, dalam kegiatan penelitian proses pembelajaran make a match ini dibagi menjadi 3 kegiatan utama, yaitu kegiatan awal, inti, dan akhir. Dalam kegiatan awal peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, melakukan apresepsi, serta memberikan motivasi dan mengajak siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

Kegiatan inti ini peneliti menjelaskan materi dengan ceramah dan tanya jawab, siswa bibagi menjadi dua kelompok, setengah siswa diberi pertanyaan dan setengah siswa diberi jawaban setelah itu siswa mencari pasangan dan maju didepan kelas untuk membacakan hasilnya kemudian menempelkanya dipapan tulis.

Peneliti membagikan lembar kerja, lembar kerja tersebut harus dikerjakan dan diselesaikan secara berkelompok dengan maksud mengajak siswa untuk berfikir kritis. Setelah diskusi selesai peneliti memanggil siswa yang sudah mendapatkan pasangan, peneliti meminta semua siswa untuk duduk berpasangan sesuai pasangan masing-masing. Kemudian peneliti membimbing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan memanggil kelompok untuk maju ke depan menempelkan hasil diskusi dan meminta kelompok lain mengomentari hasil presentasi. Setelah kegiatan selesai peneliti dan siswa bersama-sama menanggapi hasil pekerjaan yang ditempelkan dipapan tulis. Selanjutnya peneliti memberikan penguatan terhadap materi yang telah dipresentasikan dan memberikan kesempatan siswa untuk bertanya materi yang belum jelas.

Kegiatan akhir, peneliti bersama siswa membuat kesimpulan hasil pembelajaran. Kemudian memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih rajin dan giat lagi belajar, dan yang paling terakhir, Pemberian soal tes evaluasi secara individu pada setiap akhir siklus. Tes tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan. Implementasi model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada siklus I dan siklus II sesuai tahap-tahap tersebut dan telah dilaksanakan� dengan baik, serta memberikan perbaikan yang positif dalam diri siswa. Hal ini dapat dibuktikan yang didasarkan temuan penelitian dengan implementasi yang telah dilakukan. Siswa tersebut mengalami peningkatan dalam memahami materi yang diajarkan dan� juga dapat meningkatkan keaktifan, kretivitas, dan perhatian siswa dalam belajar.

 

B.   Pembahasan

Selama pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a macth terjadi peningkatan hasil belajar. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari nilai hasil tes mulai dari tes awal, tes akhir. Siklus I sampai dengan Siklus II. Peningkatan hasil tes akhir mulai dari tes awal, tes siklus I sampai dengan tes akhir siklus

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan mulai tes awal, tes siklus I, sampai tes akhir siklus II. Hal ini dapat diketahui dari rata-rata nilai siswa 65 tes awal meningkat menjadi 81,86 (tes siklus I), dan meningkat lagi menjadi 91,30 (tes akhir siklus II).


 

Peningkatan hasil belajar siswa dapat digambarkan pada diagram di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Diagram Peningkatan Nilai Rata-rata Siswa

 


Selain dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa. Peningkatan hasil� belajar siswa juga dapat dilihat dari ketuntasan belajar dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 75. Terbukti pada hasil tes awal, dari 30 siswa, 28 siswa yang mengikuti tes 2 siswa sakit, hanya ada 8 siswa yang tuntas belajar dan 20 siswa tidak tuntas belajar. Dengan persentase ketuntasan belajar 25,96%. Meningkat pada hasil tes siklus I, dari 30 siswa yang mengikuti tes, ada 20 siswa yang tuntas belajar dan 10 siswa yang tidak tuntas belajar. Dengan persentase ketuntasan belajar 66,66%. Meningkat lagi pada hasil tes akhir siklus II, dari 30 siswa yang mengikuti tes, 28 siswa tuntas belajar.

Persentase ketuntasan belajar 93,33%. Peningkatan ketuntasan belajar siswa dapat digambarkan pada diagram di bawah ini :

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa



Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sesuai dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Dari hasil wawancara dan melihat dokumentasi menunjukkan bahwa siswa merasa senang dengan model pembelajaran kooperatif tipe� make a match ini, karena siswa bisa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu untuk memahami materi juga lebih mudah. Sebagaimana penelitian yang dilakukan, bahwa dengan mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa lebih mudah memahami dari pada materi secara langsung atau hanya membaca dari buku.


 

 


Tabel 1

Perdedaan Tiap Siklus Kelas IV MI Ma�arif Pulutan Sidorejo

No

Tahapan

Siklus I

Siklus II

1.

Perencanaan

Peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) lengkap dengan soal-soal, soal tes awal dan tes akhir. Menyiapkan materi yang akan disajikan. Menyiapkan media pembelajaran, menyususn instrument pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan catatan lapangan, memberikan pengarahan kepada siswa bagaimana cara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe make a match

Peneliti menyampaikan rencana pembelajaran terkait dengan tujuan yang hendak dicapai, menyiapkan materi pembelajaran yang akan diajarkan kepada siswa, menyiapkan lembar kerja kelompok dan tes siklus II

2.

Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti pada siklus I� dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 9 Oktober 2021 dalam satu pertemuan yang terdiri dari 2 x 40 menit (dua jam pelajaran). Pada siklus I ini siswa belum memahami model pembelajaran yang diberikan.

Kegiatan siklus II ini dilaksanakan hanya satu kali pertemuan, yaitu dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 16 Oktober 2021 jam pelajaran ke 3-4. pada� siklus II ini peneliti menjelaskan kembali materi yang diajarkan minggu kemarin dengan menggunakan media yang menarik dan menyenangkan bagi siswa.

3.

pengamatan

Masih banyak siswa yang malu untuk bertanya maupun mengemukakan pendapatnya, baik guru maupun pada teman. Siswa belum berani memberikan pendapat atas kerja temanya. Hasil pengamatan aktivitas siswa siklus I dan aktivitas siswa siklus II yaitu� 75%meningkat menjadi 95,55% dengan kategori baik.

Banyak siswa yang sudah bisa beradaptasi dan berani memberikan pendapatnya. hasil pengamatan aktivitas peneliti pada siklus I dan� dan pengamatan aktivitas peneliti siklus II yaitu 94,28 %� meningkat menjadi 97,14% dengan kategori sangat baik.

4.

Refleksi

Hasil evaluasi siswa berdasarkan pelaksanaan terakhir siklus I ini sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan tes awal yang dilaksanakan pada siklus I. hasil tes awal yang semula pencapaian ketuntasan 25,96% menjadi 66,66%. Ditinjau dari hasil refleksi, maka sangat perlu ddilakukan tindakan-tindakan lanjut pada siklus selanjutnya.

Hasil evaluasi siswa berdasarkan pelaksanaan terakhir siklus II mengalami peningkatan di bandingkan tes akhir siklus I . hasil tes siklus I� yang semula pencapaian ketuntasan 66,66% pada siklus II meningkat menjadi 93,33%. Berdasrkan hasil refleksi dapat disimpulkan bahwa setelah pelaksanaan tindakan pada siklus II tidak diperlukan pengulangan siklus, karena pembelajaran sudah berjalansesuai dengan rencana.

 

 

Kesimpulan


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa: terjadi peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada mata pelajaran PKn materi norma masyarakat kelas IV MI Ma�arif Pulutan Sidorejo.

Penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan aktivitas siswa ada peningkatan dari siklus I sampai siklus II yaitu dari 75% meningkat menjadi 95,55% dengan kategori baik. Dan aktivitas pendidik atau peneliti pada siklus I sampai siklus II yaitu dari 94,28% meningkat menjadi 97,14%. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas pendidik dan siswa menunjukkan pada kriteria yang sangat baik. Untuk� hasil tes juga mengalami peningkatan pada tes akhir siklus I nilai rata-rata siswa 81,86% dan pada siklus II nilai rata-ratanya 91,30%. Demikian juga dalam hal ketuntasan juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II yaitu 66,66% naik menjadi 93,33%. Nilai hasil belajar ini berada pada tingkat keberhasilannya yaitu kriteria yang sangat baik, hal ini menunjukkan siswa telah mampu menguasai materi PKn dengan baik.

 

Bibliografi

 

Abdul, M. (2008). Perencanaan pembelajaran mengembangkan standar kompetensi guru. Jakarta: PT. Rosda Karya.Google Scholar

 

Aliputri, D. H. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Berbantuan Kartu Bergambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Bidang Pendidikan Dasar, 2(1A), 70�77. Google Scholar

 

Arianto, M. R. (2015). Pengaruh Lingkungan Keluarga, Lingkungan Sekolah, Dan Motivasi Belajar Terhadap Perilaku Belajar Siswa Jurusan Administrasi Perkantoran Di SMK Masehi PSAK Ambarawa. UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG. Google Scholar

 

Arikunto, S. (2019). Prosedur penelitian. Google Scholar

 

Faizah, S. N. (2017). Hakikat Belajar dan Pembelajaran. At-Thullab: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 1(2), 175�185. Google Scholar

 

Hamalik, O. (2006). Manajemen pengembangan kurikulum. Google Scholar

 

Hazmiwati, H. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas II Sekolah Dasar. Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 7(1), 178�184. Google Scholar

 

Kunandar, K. (2011). Evaluasi Program Pengembangan Dan Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Ktsp). Jurnal Evaluasi Pendidikan, 2(2), 171�181. Google Scholar

 

Naibaho, D. (2018). Peranan guru sebagai fasilitator dalam perkembangan peserta didik. Jurnal Christian Humaniora, 2(1), 77�86. Google Scholar

 

Rahmawati, M., & Suryadi, E. (2019). Guru sebagai fasilitator dan efektivitas belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPManper), 4(1), 49�54. Google Scholar

 

Sanjaya, D. R. H. W. (2016). Penelitian tindakan kelas. Prenada Media. Google Scholar

 

Suardi, M. (2018). Belajar & pembelajaran. Deepublish. Google Scholar

 

Sudariyanto, S. P. (2020). Interaksi Sosial. Alprin. Google Scholar

 

Widodo, A. T., & Priyani, N. E. (2009). Peningkatan hasil belajar siswa melalui pendekatan keterampilan proses sains berorientasi problem-based instruction. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 3(1). Google Scholar

 

Yuhana, A. N., & Aminy, F. A. (2019). Optimalisasi peran guru pendidikan agama Islam sebagai konselor dalam mengatasi masalah belajar siswa. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam,[SL], 7(1), 79�96. Google Scholar




 

 


Copyright holder :

Ustadzah (2021).

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: