Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3, No. 2, Februari 2022

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

TAFSIR AYAT AHKAM DALAM PERSPEKTIF DILALAH MANTHUQ DAN MAFHUM

 

Alex Kusmardani, Mohamad Athoilah, Mohamad Sar'an

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Jawa Barat, Indonesia     

Email:  alexkusmardani@gmail.com, atho63hm@gmail.com, saranmohamad@gmail.com

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

3 Februari  2022

Direvisi

11 Februari  2021

Disetujui

19 Februari  2022

Dilalah Manthuq dan Mafhum mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pemahaman al-Qur'an. Maka seorang Mufassir harus menguasinya, pengaruhnya dapat membuat penafsiran berbeda. Tanpa menguasai dilalah manthuq dan mafhum akan menjadikan penafsiran tidak kredibel, tidak akan mengerti dengan teks dan tekstual. Memahami dilalah manthuq, dan mafhum bisa menjadi hujjah. Dalam kajian dilalah mafhum dan manthuq akan berpengaruh dalam pemahaman ayat-ayat Al-Qur'an.  Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian dengan mengacu pada kitab tafsir, ulumul qur'an, ushul fiqh  sebagai sumber primer dan buku-buku lain yang ada kaitannya penelitian ini sebagai sumber sekunder. Dalam mengolah data yang diperoleh dari kepustakaan, penulis menggunakan metode kualitatif, dengan bentuk analisis induktif dan deduktif. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Penafsiaran ayat al-Ahkam ditinjau dari dilalah manthuq dan mafhum. Dari  hasil penelitian bahwa Dilalah adalah sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk atau alasan. Sedangkan secara terminologi berarti penunjukan suatu lafal kepada maknanya dilālah terbagi menjadi manthuq dan mafhum. Manthuq terbagi menjadi nash, zhahir, muawwal sedangkan mafhum terbagi menjadi mafhum muwafaqah dan mafhum  mukhalafah. Mafhum muwafaqah terdiri atas dua yaitu lahn al-Khitab dan fahwa al-Khitab. Sedangkan Mafhum Mukhalafah terdiri atas mafhum al-Shifah, mafhum al-ghayah, mafhum syarat, mafhum al-'adad, mafhum al-laqab dan mafhum illat.

 

ABSTRACT

Dilalah Manthuq and Mafhum have a very big influence in understanding the Qur'an. So a Mufassir must master it, its influence can make different interpretations. Without mastering dilalah manthuq and understanding, the interpretation will not be credible, it will not understand the text and textual. Understanding dilalah manthuq, and understanding can be evidence. In the study of Dilalah understanding and manthuq will affect the understanding of the verses of Al-Qur'an This study uses library research methods, namely research with reference to the book of interpretation, ulumul qur'an, ushul fiqh as primary sources and other books related to this research as secondary sources. In processing the data obtained from the literature, the authors use qualitative methods, in the form of inductive and deductive analysis. The purpose of this study is to find out the interpretation of the verse of al-Ahkam in terms of dilalah manthuq and mafhum. From the results of the study that Dilalah is something that can be used as a guide or an excuse. While the terminology means the appointment of a pronunciation to its meaning dilālah divided into manthuq and mafhum. Manthuq is divided into texts, zhahir, muawwal while mafhum is divided into mafhum muwafaqah and mafhum mukhalafah. Mafhum muwafaqah consists of two, namely lahn al-Khitab and fahwa al-Khitab. Meanwhile, the understanding of Mukhalafah consists of the understanding of al-Shifah, the understanding of al-ghayah, the understanding of conditions, the understanding of al-'adad, the understanding of al-laqab and the understanding of illat.

Kata Kunci:

Dilalah; Mantuq; Mafhum; penafsiran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Dilalah, manthuq, mafhum, interpretation

 


Pendahuluan

Al-Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan lafadz arab, yang juga merupakan wahyu dan mu'jizat yang penting untuk dipelajari bagi setiap muslim. Dan Al-Qur'an adalah sumber dari semua sumber yang menjadi solusi dalam memecahkan permasalahan yang ada pada diri manusia, sedangkan hadist adalah sumber kedua setelah al-Qur'an yang menjadi penjelasan bagi Al-Qur'an.

Al-Qur'an selain berbentuk teks (tersurat), dalam perjalanannya juga memiliki konteks (tersirat).

Hukum-hukum yang dikandung dalam al-Qur'an terbagi menjadi tiga jenis yaitu; hukum-hukum tentang keimanan (i'tiqadiyyah), tentang keislaman ('amaliyyah) dan tentang ke ihsanan (khuluqiyah), ketiga hal tersebut bisa disebutkan dengan tauhid (Alawi, 2011), fiqh dan tasawwuf dan hampir sejajar dengan: iman, islam dan ihsan.

Dilihat dari sumber penafsiran, tafsir terbagi pada tafsir bi al-Ma'tsur yang juga dikenal dengan tafsir riwayat atau manqul bila sumber penafsirannya adalah riwayat dan tafsir bi al-ra'yi yang juga dikenal dengan tafsir dirayah atau ma'qul bila sumber penafsirannya adalah ijtihad.

Adapun beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh mufassir.

Persyaratan mufassir: 1.Akidah yang benar; 2. Bersih dari hawa nafsu; 3. Menafsirkan lebih dulu al-Qur'an dengan al-Qur'an; 4. Mencari penafsiran dari al-Sunah; 5. Apabila tidak menemukan tafsiran dari sunnah, hendaklah mencari penafsiran dari shahabat; 6. Bila tidak ditemukan tafsiran baik dalam Al-Qur'an, Sunnah maupun pendapat Shahabat, periksa pendapat tabi'in; 7. Musafir harus tahu pengetahuan bahasa arab dengan segala cabangnya (Nizhan, 2008); 8. Pengetahuan tentang pokok-pokok ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur'an (Nizhan, 2008). 9. Pemahaman yang cermat sehingga mufassir dapat mengukuhkan sesuatu makna, atau menyimpulkan makna yang sejalan dengan nash-nash syariat.

Namun fakta dan realita yang terjadi di masyarakat negara kita, justru tidak banyak yang memperhatikan fungsi dari disiplin ilmu tafsir sehingga para dai lebih cenderung mengambil jalan yang paling mudah. Seakan penafsiran-penafsiran Qur'an yang disusun oleh para ulama tidak relevan. Maka dari itu,mengkaji ulumul qur'an, tafsir dan ushul fiqh adalah kajian yang sangat urgen bagi para pengkaji al-Qur'an. Bagaimana umat islam bisa memahami firman-firman Allah secara makna bahasa, hukum, penjelasan tafsiran ayat-ayat didalam kandungannya tanpa ilmu-ilmu tersebut. Maka dari itu, Berdasarkan uraian diatas maka perlu kiranya penulis untuk mengkaji tafsir ayat ahkam didalam perspektif dilalah manthuq dan mafhum.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian dengan mengacu pada kitab tafsir, ulumul qur'an, ushul fiqh  sebagai sumber primer dan buku-buku lain yang ada kaitannya penelitian ini sebagai sumber sekunder. Dalam mengolah data yang diperoleh dari kepustakaan, penulis menggunakan metode kualitatif, dengan bentuk analisis induktif dan deduktif.

 

Hasil dan Pembahasan

A. Pengertian Dilalah

Dilalah دلالة secara etimologi adalah mempunyai pengertian:

الدلالة ما يقوم إلا رشادا والبرهان

Dilalah adalah sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk atau alasan. Sedangkan secara terminologi :

كيفية الدلالة اللفظ علي المعني

Secara terminologi berarti penunjukan suatu lafal kepada maknanya.

Kedua pengertian diatas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan dilâlah, adalah petunjuk yang menunjukan kepada yang dimaksudkan atau memahami sesuatu atas sesuatu, kata sesuatu yang disebutkan atau memahami sesuatu atas sesuatu. Kata sesuatu yang disebutkan pertama disebut madlul  yang ditunjuk. Dalam hubungannya dengan hukum, yang disebut madlul adalah hukum itu sendiri. Kata sesuatu yang disebutkan kedua kalinya disebut dalil yang menjadi petunjuk. Dalam hubungannya dengan hukum dalil itu disebut dalil hukum hubungannya dengan upaya pemahaman nash (teks) itu sendiri. Oleh karena itu, dalam melakukan istinbath hukum, tidak mungkin dapat dilakukan kecuali setelah memahami lafal nash dan dalalahnya,. Sehingga kalangan ulama ushul dalam upaya pemahaman hukum dalam nash, menjadi perhatian utama untuk melihat bagaimana petunjuk sesuatu lafal nash tersebut.

Berikut ada empat cara peninjauan dilalah, yaitu:

1)    Dilalah 'Ibarah, دلالة عبارة

Yaitu makna yang dipahami dari lafal (baik lafal tersebut berupa zhahir maupun nash, mafhum maupun tidak). Oleh karena itu, setiap pengertian yang dipahami dari keadaan lafal yang jelas, disebut dalalah 'ibarah. Pengertian lain dari dilalah Ibarah atau bisa dinamakan Ibarah nash yang didefinisikan oleh Al-Sarakhsi dengan:

ما كان السياق لأجله ويعلم قبل التأويل أن ظاهر التص متناول له

"Penunjukan terhadap suatu makna berdasarkan susunan kalimatnya dan makna atau pengertian itu dapat diketahui tanpa melalui penelitian. Mencangkup di dalamnya Zhahir nash."

definisi diatas menjelaskan arti bahwa hukum yang dimaksud dapat langsung dipahami dari lafadz yang disebutkan. Pengertian yang ditunjukan oleh lafadz secara langsung dari susunan kalimat dan makna tersebut merupakan maksud dari lafaz itu. Makna yang dimaksud itu adalah makna asli (nash) dan adakalanya merupakan makna yang tidak asli (zhahir).

Contoh firman Allah dalam QS al-Hajj (22): 30 yang berbunyi:

فاجتنبوا الرجس من الأوثان واجتنبوا قول الزور

"Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta".

Kekuatan Ibarah al-Nash bertingkat-tingkat sesuai dengan kejelasan arti lafadznya. Penunjukan ibarat dalam bentuk zhahir. Alasannya karena penunjukan lafaz secara zhahir meski jelas tetapi tidak langsung dan tidak untuk maksud yang sebenarnya dari lafaz tersebut.

2)    Isyarah nash إشارة النص,

Yaitu suatu pengertian yang dipahami dari suatu lafal, sebagai kesimpulan dari pemahaman terhadap suatu lingkup  ('ibarah) dan bukan dari ungkapan itu sendiri. Sedangkan al-Sarakhsi mendefinisikan Isyarah al-Nash dengan:

 ما لم يكن السياق لأجله لكنه يعلم بالتأمل في معني اللفظ من غير زيادة فيه ولا تقصان

"Apa yang terungkap memang bukan ditunjukan untuk itu, namun dari penelitian yang mendalam ditemukan suatu makna dari lafadz itu tidak lebih dan tidak kurang"

Dari definisi yang yang dikemukakan diatas terlihat bahwa al-Sarakhsi lebih merinci pengertian isyarah al-nash dari apa yang dikemukakan oleh Amir Bad Syah. Tetapi kedua definisi diatas mempunyai pengertian yang sama bahwa apa yang ditunjukan oleh lafaz bukan itu yang dimaksudnya sebenarnya. Untuk mengetahui sebenarnya diperlakukan kecermatan analisis dan penalaran yang mendalam. Misalnya firman Allah dalam QS An-Nisa' (4):3 dalam kenteks diperkenankannya poligami bagi laki-laki;

فإن خفتم أن لا تعدلوا فواحدة

"Apabila kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja".

Ayat tersebut menunjukan bahwa seorang laki-laki yang yakin tidak akan mampu berbuat adil bila poligami, maka tidak halal baginya. Sebagai implisit, dapat dipahami bahwa berbuat adil terhadap istri adalah haram.

3)    Dilalah Nash دلالة النص))

Disebut juga mafhum mukhalafah disamping disebut pula dilalah aulā. Sebagian ulama menyebutnya dengan qiyas jaliy. Dengan demikian, yang dimaksud adalah sesuatu yang dipahami dari makna nash secara eksplisit, karena adanya faktor penyebab yang sama.

" Para ulama memberi contoh firman Allah dalam      QS al-Isra' (17): 23 yang berbunyi:

فلا تقل لهما اف

"Jangan kamu sekali-kali mengatakan kepada keduanya perkataan "ah").

Secara eksplisit ayat tersebut menjelaskan tentang haramnya mengucapkan "ah" kepada kedua orang tua. Jika ucapan "ah" kepada orang tua saja diharamkan, maka memukul dan mencerca dan selainnya akan lebih haram. Contoh lain pada surat al-Baqarah: 228

والمطلقات يترصنا بأنفسهن ثلاثة قروء

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru', dalam ayat ini menunjukan maka sesungguhnya yang disebut quru' itu mujmal antara tiga kali menstruasi (haid) dan Suci.

     Ayat ini merupakan perintah Allah ta'ala bahwasanya yang tertalak harus menunggu masa iddahnya antara tiga kali suci dan tiga kali haidh. Adapun pendapat yang mengatakan tiga kali haid adalah, Jayyid bin Tsabit, Ibnu Umar, Sayyidah Aisyah dan para imam mujtahid, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan pendapat yang mengatakan tiga kali haid adalah Khulafau Rasidin, Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud Muadz bin Jabal, Ibnu Abbas dan Imam Abu Hanifah (Abdurahman, 2019).

Ketentuan hukum tiga kali quru' terkadang sering di pahami oleh masyarakat kita ini dengan waktu tiga bulan, namun jika kita merujuk pada hasil ijtihad para ulama yang mengenai paling dikit dan banyak haid adalah tiga pendapat. Pertama Imam Abu Hanifah berpendepat bahwa wanita yang sedang haid paling dikit adalah tiga hari tiga malam, dan kalau lebih maka dinamakan istahadhah. Kedua Imam Syaf'i memandang bahwa paling sedikitnya haid adalah sehari semalam, dan paling banyak lima belas hari lima belas malam. Ketiga Imam Malik bin Anas bahwasanya beliau berpendapat tidak ada batasan mengenai berapa hari lamanya haid perempuan, dan terkadang sekali haid namun paling banyak lima belas hari (Abdurahman, 2019).

4)    Dilalah al-Iqtidha(دلالة الإقتضاء)

Yaitu penunjukan lafal terhadap sesuatu, dimana makna lafal tersebut tidak logis dengan adanya sesuatu tersebut. Al-Sarakhshi mendefinisikan dilalah iqthida'

عبارة عن الزيادة علي المنصوص عليه يشترط تقديمه لصير المنظوم
مفيدا أو موجبا للحكم وبدونه لا يمكن إعمال المنظوم.

"Ungkapan tambahan (sisipan) terhadap nash disyaratkan mendahului- nya supaya ada faidahnya terhadap hukum, tanpa sisipan itu tidak mungkin mengamalkan ayat".

الدلالة علي المسكوت المتواقف عليه صدق المنطوق أو صحته إقتضاء

"Lafaz yang menunjukan kepada sesuatu yang tidak disebutkan. Makna kebenaran dan kesahihan tergantung kepada makna yang tidak disebutkan itu"

Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa dilalah iqhtidha adalah penunjukan suatu lafadz terhadap sesuatu yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash, namun keabsahan dan kebenaran lafaz itu mau tidak mau harus memperkirakan keberadaanya. Dengan kata lain pengertian lain pengertian kata yang disipakan secara tersirat dalam pemahaman pada redaksi tertentu yang tidak dapat dipahami secara lurus kecuali dengan adanya penyisipan itu. Contohnya adalah firman Allah dalam QS al-Baqarah (2): 178:

فمن عفي له من أخيه شيء فاتباع بالمعروف

"Barangsiapa yang mendapat sesuatu pemaafan dari saudara-saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) pada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula."

حدثنا محمد لمصطفي الحمصي ثنا الوليد من مسلم ثنا الأوزاعي عن عطاء عن إبن عباس عن النبي صلي الله عليه وسلم قال: إن الله وضع علي أمتي الخطاء والنسيان وما إستكرهوا عليه (رواه إبن ماجه)

"Menyampaikan kepada kami Muhammad bin al-Mushaffa al-Himshi, menyampaikan kepada kami Walid bin Muslim menyampaikan ke-pada kami al-Auza'I dari Ibn Abbas dari Nabi saw, beliau telah bersabda Diangkatkan dari umatku kekeliruan, lupa, keterpaksaan."

Hadist ini secara harfiah menunjukan bahwa kekeliruan, lupa, dan ketetapan telah diangkat dari Nabi Muhmmad. Pengertian ini bertentangan dengan kenyataan karena perbuatan-perbuatan tersebut ada dalam realitas kehidupan manusia. Oleh karena itu dalam nash tersebut harus ada sesuatu yang diperkirakan keberadaanya, yaitu dosa atau hukuman, agar sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian, yang diangkat bukan perbuatannya kerena perbuatan itu telah ada, melainkan yang diangkat adalah dosa yang ditimbulkan oleh perbuatan itu. Kata "dosa" tidak disebut-kan dalam hadist, tetapi harus diperkirakan adanya, supaya dapat diapahami secara benar.

B. Ulama al-Mutakallimin

       Al-Mutakallimin membagi petunjuk lafaz terhadap hukum kepada dua: manthuq dan mafhum.

1.    Pengertian Manthuq

Manthuq adalah isim maf'ul yang secara bahasa berasal dari kata nathaqanutqhan yang berarti pembicaraan.
Sedangkan pengertian secara istilah adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Amidi

ما فهم من دلالة اللفظ قطعا في محل النطق

"Makna yang dipahami dari petunjuk lafadz secara qath'i terhadap pembicaraan."

Dari semua definisi di atas ini dapat disimpulkan bahwa manthuq ialah memahami dari apa yang langsung tersurat dalam lafaz. Misal, surat al-Nisa' ayat 23 yang melarang seorang suami mengawini anak tiri yang berada dalam asuhannya. Ayat ini menurut manthuqnya menunjukan keharaman menikahi anak tiri yang berada dibawah asuhan suami dari istri yang telah digauli.

Kemudian manthuq ini dibagi menjadi dua: sharih dan ghair sharih. Manthuq sharih adalah petunjuk lafaz kepada seluruh pengertian yang dikehendaki atau sebagiannya saja.

Manthuq sharih adalah petunjuk lafaz atas suatu ketentuan hukum yang diperoleh dengan melihat keterikatan yang tidak bisa dipisahkan dari manthuq. Amir Syarifuddin menyatakan bahwa manthuq ghair sharih terbagi menjadi menjadi dua macam: 1. Penunjukan-nya itu dimaksud oleh pembicara, 2. Penunjukannya itu tidak dimaksud oleh pembicara.

Dilalah manthuq ghair sharih yang penunjukannya dimaksud oleh pembicara ada dua macam yaitu dilalah iqthida' dan dilalah ima'. Dilalah iqtidha' ini dikalangan Hanafiyah juga disebut dengan dilalah iqtidha' atau iqtidha' al-Nash.

Dilalah manthuq ghairu sharih yang penunjukannya tidak dimaksudkan oleh pembicara hanya terbatas pada suatu bentuk yang disebut dengan dilalah isyarah yang dikalangan Hanafi juga disebut dilalah isyarah atau isyarah al-nash.

2. Pengertian Mafhum

Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan mengenai arti dalalah berikut dikemukakan pula pengertian mafhum. Mafhum secara etimologi adalah isim maf'ul dari al-Fahm, yaitu dari asl     isim setiap apa yang dipahami dari yang lainnya. Pemahaman adalah ilmu akan sesuatu, Ibnu Faris berkata al-Fâ dan Hâ, dan Mim ilmu sesuatu. Sedangkan menurut Kamus al-Muhith sesungguhnya pemahamannya diartikan mengajarkannya (allamahu) dan mengetahuinya dengan hati. Secara terminologi mafhum adalah:

 ما دل عليه اللفظ لا في محل النطق

Mafhum adalah apa yang menunjukan kepadanya suatu         lafadz tidak pada pengucapan. Definisi lain apa yang dipahami dengan lafadz figair mahalli nutqi. Dan menurut al-Amidi (Abd Al-Salam, 2014).

وفي تعريف اللآمدي. في تعريفه, أنه ما فهم من اللفظ في غير محل النطق

al-Amidi mendefinisinikan mafhum adalah apa yang di fahami dari lafadz yang tidak ditempatkan dalam pengucapan. limadlul fi mahalli al-Nutqi atau dengan arti lain bahwa mafhum adalah makna yang dipahami dari lafadz bukan menurut yang dibicarakan.

ما  يستفاد من اللفظ وهو مسكوت عنه لا ذكر له علي قضية التصريح

"Pengertian yang diperoleh dari arti yang tidak disebutkan secara jelas."

Berdasarkan definisi disini dapat diketahui bahwa mafhum adalah setiap makna yang dipahami dari suatu lafadz yang makna tersebut berada di luar ruang lingkup yang tersurat.

3      Macam-Macam Mafhum

Kalangan Madzhab Syafi'i dan disepakati oleh Madzhab Maliki dan Hanbali  bahwa mafhum terbagi menjadi dua bagian: Mafhum Muwafaqah dan  Mafhum Mukhlafah  Adapun mafhum muwâfaqah menurut kalangan madzhab   hanafi  didefinisikan dalil teks (Dilâlah al-Nash) yaitu dalil suatu lafadz akan penetapan hukum pengucapan untuk diam dan disepakati dalam meniadakan dan penetapan. Dan dinamakan mafhum muwafaqah karna tertunjuknya lafadz di tempatkan dalam diam (al-Sukūt) limadlul fi mahalli al-Nutqi.

4.    Definisi Mafhum Muwafaqah

Mafhum Muwafaqah di definsisikan suatu lafadz yang disepakati akan hukum  mathuq,  ما يوافق حكم المنطوقatau dalam pengertian lain mafhum muwafaqah adalah  petunjuk lafal nash atas penetapan sebuah hukum atas perkara, tempat dan waktu berlaku tidak disebutkan, adanya kesesuaian baik nafiy ataupun isbat karena persamaan illat. Apabila illat yang dijadikan dasar hukum untuk penyamaan masalah yang tidak disebut dalam nash yang lebih kuat disebut dengan fahwal khib. Muhammad Quraish Shibab mendefinisikan mafhum muwâfaqah adalah makna yang sejalan dengan makna manthuq. Dengan kata lain, makna yang tidak terucapkan sejalan dengan makna yang terucapkan: kesejalanan yang bisa jadi karena yang tidak terucapkan (mafhum) sama atau justru lebih utama dari pada yang terucapkan (Shihab, 2019).

Dari beberapa definisi diatas bahwa bisa kita pahami bahwa mafhum muwafaqah adalah suatu pemahaman yang disepakti dan pemahamannya secara dilalah serupa dengan mantuqh. Dan penulis memandang bahwa dâlil-dâlil antara mantuq dan mafhum tidak begitu banyak perbedaan, namun yang membedakan hanya dari segi pengertian secara teminologi.

5. Macam-Macam Mafhum Muwâfaqah

Mafhum Muwâfaqah dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:   Fahwa al-Lhitab dan lahn al-Khitab yang akan penulis rincikan sebagai berikut.

a.       Fahwa  al-Khitâb (Shihab, 2019)

Fahwa al-Khitâb merupakan pemahaman yang diberikan kepada lafal       mafhum lebih kuat daripada yang dimiliki oleh lafaz mantuq, yaitu apabila hukum yang dipahami dari lafal lebih utama dari hukum yang ditangkap langsung dari lafal itu.  Firman Allah SWT dalam surah al-Isra ' (17) ayat 23, misalnya memukul, menghardik, dan meludahi orang tua yang dipahami dari  firman Allah SWT dalam surah al-Isra ' (17) ayat 23 diatas, berbeda kualitasnya dengan sekedar mengatakan " ah" atau "cis" kepada orang tua. Dari segi akibat, memukul, menghardik dan meludahi orang tua, lebih berat dibanding hanya sekedar mengatakan "ah" atau "cis". Oleh sebab itu hukum makna yang dipahami diluar lafal itu bisa lebih utama (lebih tinggi kualitasnya) dari hukum yang dipahami dari lafal itu sendiri. Dan makna diatas adalah mengucapkan "ah" kepada kedua orang tua tidak boleh atau haram hukumnya. Apalagi sampai memukul keduanya berlaku hukum yang sama. Sebab kata-kata "ah" dan memukul memiliki persamaan yakni menyakiti kedua orangtua, walaupun nash tidak ada kata " memukul" (Shihab, 2019).

Muhammad Quraish Shihab memandang bahwa ayat diatas adalah larangan mengucapkan "cis" kepada kedua orang tua. Jika demikian, menyakiti juga terlarang, apalagi memukulnya. Menyakiti hatinya atau memukulnya adalah mafhum muwafaqah dari ayat diatas.

1.       b. Lahn  al-Khitâb

      Lahn al-Khitab merupakan pemahaman yang diberikan kepada lafaz mafhum  itu sama tingkatannya dengan yang dimiliki oleh lafaz manthūq. Misalnya   firman  Allah swt dalam QS. An-Nisa ayat 10:                  

إن الذين يأكلون أموال اليتامي ظلما إنما يأكلون في بطونهم نار.

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara  dzalim"

Mafhum-nya, memakan harta anak yatim sama saja dengan hukum melenyapkannya, membuang atau membakarnya. Karena pada hakikatnya, makna-makna ini mengacu pada satu hal yaitu menghabiskan harta anak yatim secara dzalim.

Redaksi ayat di atas dapat dipahami bahwa keharaman memakan harta anak  yatim  secara  aniaya  atau  dzhalim.  Terdapat  maknyang  tersirat  di dalamnya, yakni membakar harta anak yatim, sebab meniadakan harta sama dengan  kegiatan  membakar,  hukumnya  sama  dengan  memakan  harta  anak yatim. Oleh sebab itu hukum yang tersurat sama dengan hukum yang tersirat.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas bahwa mereka yang memakan harta anak yatim tanpa sebab, maka sesungguhnya mereka memakan diperunya api neraka pada hari kiamat (Katsir, 1999). Penafsiran ini diperjelas dengan hadist Rasulullah saw: " Jauhilah tujuh mubiqat: lalu ada yang bertanya apa itu wahai rasulullah? Rasulullah bersabda Syirik kepada Allah, dan sihir, dan membunuh orang yang bukan hak, memakan riba, dan memakan harta anak yatim.

Serupa dengan Muhammad Sayyid al-Tantawi (Al-Tantawi, 2016) menafsirkan ayat diatas bahwa kata dhzalim diinterpretasikan  mereka memakan harta (amwâl) secara dzalim sama halnya memakan dari harta pusaka (al-Warist) milik anak yatim atau para walu suu dan yang lainnya namun dalam ayat selanjutnya Al-Thantawi menjelaskan bara para mufassir menafsirkan ayat Innamâ ya'kulūna fi buthunihim nâra dengan dua sudut pandang pertama, bahwa ayat ini secara dzâhir, dan mereka yang memakan harta anak yatim seacara dzalim (Dzulman)  mereka akan memakan api neraka pada hari kiamat secara hakiki. Namun pandangan yang kedua memandang bahwa perkataan ini adalah sebagai majaz (metafora) bukanlah suatu hakikat, dan bahwa sesungguhnya mereka di dalam perut mereka  harta yang haram yang membawa jasad mereka ke neraka. Kalimat al-Nâr adalah majaz mursal yang disebutkan penyebab dan menginginkan sebab (Al-Tantawi, 2016).

Dalam penafsiran (interpretasi) al-Thantawi penulis memahami dalam pandangan kedua yang dikemukakan oleh al-Thantawi, bahwa bisa diartikan mereka yang memakan harta anak yatim, tentu mereka memakan harta yatim, karena mereka memakan harta haram adalah sebab yang menyebabkan mereka masuk neraka.

6. Kehujjahan Mafhum Muwafaqah

Tentang kehujjahan mafhum muwafaqah, jumhur ulama sepakat bahwa mafhum muwafaqah bisa dijadikan sebagai hujjahal. Tapi ulama Zhahiriyyah menolak  kehujjahannya,  sebagaimana mereka juga  menolak  kehujjahaqiyas. Alasan mereka adalah karena keduanya (mafhum muwafaqah dan qiyas) adalah sama. Sedangkan ulama yang mengakui kehujjahan mafhum muwafaqah beralasan bahwa sudah menjadi kebiasaan dalam pemahaman ('urf bahasa Arab) kalau dikatakan kepadanya "Siapa yang mencuri tongkat seorang muslim, harus mengembalikannya", maka keharusan itu tidak dipahami terhadap tongkat saja, tetapi juga mencakup barang lain  yang seharga dengan tongkat itu atau yang nilainya lebih tinggi. Ulama  yang  mengakui  kehujjahan  mafhum  muwafaqainipun  berbeda dalam hal sandaran pemberlakuan hukumnya menjadi dua golongan:

Pertama,  ulama  yang  mengatakan  bahwa  sandarannya  adalah  semata- mata dilalah lafazh saja. Menurut mereka pada qiyas disyaratkan harus ada 'illah yang betul-betul serasi antara ashl dan furu', sedang pada dilalah lafazh tidak diperlukan syarat itu sama sekali. Kedua, mengatakan bahwa sandarannya adalah qiyas. Alasan mereka adalah bahwa keabsahan pemberlakukan hukum terhadap sesuatu yang tidak disebutkan (furu') nash adalah adanya kesamaan 'illah dengan yang disebutkan nash (ashl). Dan cara seperti itulah yang disebut dengan qiyas. Sedang kalau 'illah pada furu' lebih kuat dari yang ada pada ashl, disebut dengan qiyas jaliy. Adapun alasan Zhahiriyyah, mafhum muwafaqah hanyalah merupakan kemungkinan saja, dan tidak boleh dijadikan dalil, karena menggugurkan amal.

Para ulama sependapat tentang sahnya berhujjah dengan mafhum muwafaqah. Hanya saja kalangan ulama Zhahiri yang menolak menetapkan hukum dengan mafhum, sebagaimana juga menolak menggunakan qiyas, karena menurut mereka mafhum muwafaqah dalam hal ini sama dengan qiyas, meskipun ulama ushul fiqh sepakat dengan kehujahan mafhum muwafaqah, tetapi mereka berbeda pendapat mengenai cara menetapkan hukum melalui mafhum muwafaqah.

Madzhab Mutakallimin, al-Asy'ariyah dan Mu'tazilah, berpendapat bahwa penemuan hukum itu dilakukan melalui dilalah lafaz. Al-Syafi'I, al-Juwaini dan al-Razi berpendapat bahwa penemuan hukum dilakukan melalui qiyas jali.

Pendapat pertama menyatakan bahwa pemahaman terhadap makna-makna dilakukan melalui dilalah lafaz, bukan melalui qiyas. Oleh karena itu adanya larangan mengucapkan "ah" pada orang tua tidak berarti haram memukul dan memaki orang tua haram bukan berdasarkan ayat tersebut, melainkan berdasarkan ayat lain yang menyuruh berbuat baik kepada orang tua. Begitu pula halnya dengan larangan membakar harta anak yatim.

          Sedangkan bagi pendapat yang kedua yang berpendapat bahwa penunjukan lafaz terhadap mafhum muwafaqah dilakukan melalui qiyas, maka larangan memukul qiyas, maka larangan memukul dan memaki orang tua diqiyaskan kepada larangan membakar, merusak harta anak yatim merupakan pengqiyaskan terhadap larangan memakan yang terdapat dalam ayat karena adanya kesamaan illat, yaitu menghabisi harta anak yatim.

Atsar Ikhtilaf untuk melihat pengaruh pendapat ulama ushul dalam mafhum muwafaqah terhadap fikih, maka disini akan dikemukakan sebuah persoalan tentang korupsi. Apakah korupsi termasuk ke dalam pengertian sirqah atau tidak, sehingga kepada pelaku akan di berlakukan ketentuan yang terdapat dalam surat al-Maidah ayat 38 yang menjelaskan bahwa orang yang mencuri baik laki-laki maupun perempuan akan dikenakan had potong tangan. Oleh karena itu untuk menetapkan hukuman yang akan diberikan kepada pelaku korupsi, akan dilihat terlebih dahulu apakah korupsi itu termasuk dalam pengertian sirqah atau tidak (Wilya, 2016).

Sirqah secara bahasa adalah mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi. Sedangkan pengertian secara istilah adalah seorang mukallaf mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi dalam jumlah tertentu pada tempat penyimpanannya atau tempat pemeliharaannya.

Berdasarkan dilalah lafaz korupsi tidak termasuk ke dalam pengertian sirqah, korupsi berbeda dengan sirqah. Sirqah mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi, sedangkan korupsi mengambil harta orang lain yang sudah diamanatkan kepadanya, itu sebabnya siapa pun yang mengambil sesuatu yang bukan miliknya namun diamanatkan kepadanya. Itu sebabnya siapa pun yang mengambil sesuatu yang bukan miliknya namun diamanatkan kepadanya tidak termasuk dalam pengertian mencuri oleh ayat ini. Sehingga had sirqah tidak dapat diberikan kepada pelaku korupsi.

Sementara itu kalau berdasarkan kepada mafhum muwafaqah atau qiyas maka korupsi termasuk dalam pengertian sirqah karena adanya kesamaan illat antara keduanya, yaitu sama-sama mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak dibenarkan syara', sehingga had sirqah dapat diberlakukan kepada pelaku korupsi.

7. Definisi Mafhum Mukhalafah

Mafhum mukhalafah adalah hukum tempat yang tidak ada batasannya, maka ia adalah mempunyai pengertiannya yang berbeda (Subagiyo, 2019). Para ahli ushul fiqih mengatakan mafhum mukhalafah dibangun sesuai dengan pertentangan dua hal yaitu al-jumlah dhahir (kalimat jelas) berupa al-mantuq al musbad dan kalimat yang tidak  jelas yang  berupa  al-maskuut anhu  al manfii.  Atau  bisjuga  diartikan sebagai   penetapa huku bag yan tida disebutka oleh   nash   yang berlawanan  dengan yang  disebutkan dengan kata  lain,  Mafhum Mukhalafah merupakan kebalikan dari hukum yang disebut, karena tidak adanya batasan.Al-Suyuti mendefiniskan mafhum mukhalafah ما يخالف حكم المنطوقSesuatu yang berbeda dari hukum manthuq. Adapun  Abd al-Salam Abd-al-Ghani Tuhami mendefinisikan mafhum al-Mukhalafah adalah (Abd Al-Salam, 2014):

دلالة اللفظ علي ثبوت علي ثبوت حكم للمسكوت عنه, مخالف لما دل عليه المنطوق

 Penunjukan suatu lafadz kepada ketetapan hukum yang diam pada suatu lafal tersebut. Yang berbeda dengan hukum manthuq. Dapat dipahami dan disimpulkan

bahwa mafhum merupakan lafadz yang menunjukan terhadap sesuatu diluar pembicaraan dan menjadi sebuah hukum terhadap yang telah ditetapkan. Contoh dalam ayat Firman Allah dalam QS An-Nisa' ayat 16:

والذان ياتيانها منكم فئا ذوهما فإن تابا وأصلحا فاعرضوا عنهما إن الله كان توابا رحيما

"Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji  diantara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, Kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, Maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".

              Kandungan hukum pada ayat ini adalah adanya hukuman penghinaan dan cacimaki bagi pezina lelaki atau perempuan yang belum menikah sampai mereka bertaubat dan memperbaiki prilakunya. Jika mereka sudah bertaubat dan berprilaku baik, maka dilarang menghina maupun mencacinya.

Kalimat yang menunjukan mafhum syarth dalam syarat dalam surat al-Nisa' ayat 16 adalah فإن تابا وأصلحا فاعرضوا عنهما yang secara manthuq menunjukan: jika pezina belum menikah itu sudah bertaubat dan beprilaku baik, maka haram hukumnya menghina. Sedangkan secara mafhum mukhalafah menunjukan: jika pezina yang belum menikah itu belum bertaubat dan belum berprilaku baik, maka wajib hukumnya terus menerus menghinanya.

                   Penulis memandang bahwa mafhum mukhalafah ini secara jelas dapat digunakan dan diambil hukumnya dengan syarat adanya pertaubatan dan prilaku yang baik. Kedua syarat ini tidak boleh diabaikan salah satunya. Karena andaikata salah satunya dapat diabaikan maka tentunya akan disebutkan secara tegas dalam ayat-ayat. Dan riwayat tersebut akan sampai kepada kita secara mutawatir.

            Kalimat diatas dimulai dari huruf " إن" dengan demikian pertaubatan dan prilaku baik ini diragukan terjadinya, kadang terjadi dan kadang tidak. Umpamanya dia dilingkungannya terlihat tidak berzina lagi dan berprilaku tidak baik, maka kita tetap menganggap dia sudah bertaubat dan berprilaku baik. Dalam syarah al-Nawawi menyebutkan bahwa manusia itu hanya dapat menghukumi sesuatu berdasarkan bukti atau melalui sumpah, dan Allah SWT. Menangani yang tersembunyi. Contoh lain dalam surat al-Nisa' ayat 20:

وإن أردتم استبدال زوج مكان وزوج وءا تيتم إحدنهن قنطارا فلا تأخذوا

منه شيئا أتأخذونه وبهتانا وإثما مبينا

"Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun, apakah kamu telah memberikan kepada seseorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali padanya barang sedikitpun, apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?"

Kandungan hukum pada ayat ini adalah diperbolehkan bagi seorang suami untuk menceraikan istrinya (yang tidak nusyuz) dan dia ingin mengganti dengan istri yang lain. Akan tetapi, dia tidak boleh mengambil mahar yang telah dia berikan kepada istrinya meskipun maharnya dulu banyak sekali.

Kalimat yang menunjukan mafhum syarath dalam surat al-Nisa' ayat 20 adalah وإن أردتم استبدال زوج مكان وزوج وءا تيتم إحدنهن قنطارا فلا تأخذوا منه شيئا yang secara manthuq menunjukan: jika seorang suami yang ingin menceraikan istrinya (yang tidak nusyuz) dan dia ingin mengganti dengan istri yang lain, maka suami di larang mengambil mahar yang telah dia berikan kepada istri yang lain, maka suami dilarang mengambil mahar yang telah dia berikan kepada istrinya sebagai tebusan, sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 229: فلا جناح عليهما فيما افتدت به maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menembus dirinya.

            Penulis memandang bahwa mafhum mukhalafah seperti diatas tidak dapat digunakan dan tidak dapat diambil hukumnya karena bertentangan dengan dalil al-Qur'an yang sudah jelas, yaitu: suami yang ingin mengambil mahar istrinya itu dilihat terlebih dahulu kronologi pertama, jika istri ikhlas memberi dia boleh mengambilnya. Kedua, jika istri minta cerai dengan membayar tebusan, maka suami boleh mengambilnya (dalam surat al-Baqarah ayat 229). Contoh lain dalam Firman Allah QS An-Nisa Ayat 3.

وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامي فانكوا ما طاب لكم من النساء مثتي وثلاثي ورباع فإن خفتم الا تعدلوا فواحدة أو ما ملكت أيما نكم ذلك ألا تعدلوا.

" Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap hak-hak perempuan yatim (bilamana kamu mengawini-nya), maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senengi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinlah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki . Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya".

Muhammad Sayyid Tanthawi menafsirkan ayat ini kata "وإن خفتم" Dan jika kamu takut adalah syarat dan jawabannya kata firman Allah فانكوا maka nikahilah, maka yang dimaksud dengan kata "الخوف"takut adalah ilmu yang pengibaratan dari itu adalah rasa dengan suatu kaun yang diketahui المعلوم  dengan ketakutan yang membahayakan, maka jadilah praduga (dzhan) sebagai mana kebanyakannya kedudukan ilmu. Adapun kata firman Allah "تقسطوا" yaitu berakar dari kata الإقساط  adalah keadilan yang disebutkan قسط الرجل إذا جار وظلم صاحبه  yang artinya keadilan seorang laki-laki apabila jika tidak berlaku adil dan mendhzalimi temannya sebagaimana firman Allah ta'ala وأما القاسطون فكانوا لجهنم حطبا  "Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam". Atau sebagai bahan bakarnya. Dhamir anna dan annahum serta annahu yang terdapat pada dua belas tempat kembali pada jin. Dan firman –Nya, "wa inna minal muslimuuna wa minal qassithuna wa minal qaasithuna, " dibaca kasrah huruf hamzahnya, yaitu inna berarti merupakan jumlah isti'naf atau kalimat baru. Jika dibaca fathah yaitu menjadi anna berarti kedudukannya disamakan dengan kalimat-kalimat sebelumnya. "

            Adapun ma'na باليتامي"" yang dimaksud dengan yata'maa adalah anak-anak perempuan yatim. Dan ma'na  لكم"  "ما طاب

Penafsiran secara umum (dan jika kamu tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim) sehingga sulit bagi kamu untuk menghadapi mereka lalu kamu takut pula tidak akan dapat berlaku adil diantara wanita-wanita yang kamu kawini (maka kawinlah) (apa) dengan arti siapa (yang baik diantara wanita-wanita itu bagi kamu, dua, tiga atau empat orang) boleh dua, tiga, atau empat tetapi tidak boleh lebih dari itu. (kemudian jika kamu tidak akan dapat berlaku adil) diantara mereka dalam giliran dan pembagian nafkah (maka hendaklah seorang saja) yang kamu kawini (atau) hendaklah kamu batasi pada (hamba sahaya yang menjadi milikmu) karena mereka tidak mempunyai hak-hak sebagaimana istri-istri lainnya. (yang demikian itu)  maksudnya mengawini empat orang istri atau seorang istri saja, atau mengambil hamba sahaya (lebih dekat) kepada (tidak berbuat aniaya) atau berlaku lalim.

            Muhammad Sayyid Thantawi menafsirkan dan menjelaskan kata al-Amr dalam firman Allah فانكحوا yang berarti maka nikahilah atau kawinilah secara tafsiran ulama yang menafsirkan kata fan' kihu dengan amar bi ma'na mubah (boleh) seperti firman Allah كلوا واشربوا"" dan makanlah dan minulah, namun berbeda dengan kalangan zhahiriyah yang memandang amar disni mempunyai arti yang wajib. Dan kata ما"" dalam firman Allah ta'ala ما طاب لكم  menjadi penyambung dan sifat yang menyipati setelahnya, dan mewarisi kata من  karena menginginkannya suatu sifat yaitu kebiakan dari wanita atau diartikan sebagai wanita yang baik dengan tanpa batasan yang ditentukan secara dzat, walaupun berkata    فانكوامن طاب لكم  untuk tabadar kepada rasio bahwa sesungguhnya yang dimaksaud wanita yang baik yang diketahui antara mereka. Dan firman Allah : مثني وثلاثي ورباع yang artinya dua, tiga dan empat yaitu secara ilmu Syntax dan morfologi merupakan keadaan (hal) dari pelaku (fail) sedangkan kata طاب  yaitu dhamir mustatir yang kembali pada dhamir kepada kata ma' atau ,menjadi pengganti dari itu.

Kandungan ayat diatas Abdul Fatah Abdul Ghani Muhammad Ibrahim al-Awâri dalam kitabnya jalâ al-Afhâm Fi Tafsir ayat al-Ahkâm (Al-Awa’ri, 2015) menafsir kan kata فانكوا yang sebagaimana Allah perintahkan kita menikahi perempuan-perempuan yang kita sukai, lalu para fuqahā dari ayat ini memahami dari beberapa pendapat, Pendapat pertama dari mayoritas ulama ahli ilmu yang mengatakan bahwa amar disini menjukan kepada sesuatu yang sunnah (istihbab), Pendapat yang kedua dari kalangan pengikut zhahiriyah mengatakan bahwa Amar disini menunjukan kepada suatu kewajiban, dengan berlandasan pada kaidah الأصل في الأمر للوجوب hukum asal suatu perintah untuk dijalani akan keharusannya. Adapun pendapat yang ketiga yang bersumber dari kalangan Madzhab Maliki telah membagi menjadi tiga, kata فانكوا bisa diartikan menjadi wajib, bisa juga menjadi sunnah, dan bisa juga menjadi mubah yang diartikan takut tidak bisa menafkahi wanita yang dinikahinya. Imam Fakhru al-Din menggapi pendapat kalangan zhahiriyah bahwa al-amr fi al-Nikah, wajib lalu Imam Syafi'i berpendapat akan ayat ini dalam penjelasannya bahwa sanya al-amr disini bukanlah suatu kewajiban sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisa 27

ومن لم يستطيع منكم طولا أن ينكح المحصنات المؤمنات

            " Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita yang beriman"

Sampai kepada ayat:

ذلك لمن خشي العنت منكم أن تصبروا خير لكم

            " itu adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan  menjaga diri (dari perbuatan zina) diantaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu".

            Maka Allah menghukumi dari ayat diatas bagi orang yang meninggalkan nikah dalam keadaan ini lebih baik dari pekerjaannya, dan khitab itu menunjukan bukanlah suatu kesunahan dari suatu perkataan yang mengatakan wajib.

            Berdasarkan dari penjelasan diatas jika ditinjau dengan manthuq dan mafhum mukhalafah akan QS An-Nisa ayat 3, bahwa secara manthuq di syariatkannya menikahi wanita-wanita lain yang di senengi: dua, tiga atau empat (Al-Awa’ri, 2015). Adapun secara mafhum mukalafahnya adalah Apabila seseorang berpologami dengan empat istri lalu tidak kuat, maka beristrilah tiga, kalau tidak kuat dengan beristri tiga, maka beristri dua, dan jika empat, tiga dan dua tidak kuat maka beristri satu saja.

8. Pembagian Mafhum Mukhalafah

Mafhum Mukhalafah adalah makna yang tidak terucapkan dan yang ditarik dari manthūq, namun berbeda dengan makna yang dikandung oleh mantuq. Banyak ragam mafhum, sementara ulama menyajikan sepuluh macam atau dibagi sepuluh macam, seperti:

 Mafhûm asy-syarath/ Syarat, Mafhûm al-Washf/ Sifat, Mafhûm hal/keadaan, Mafhum al-Makan/ Tempat. Mafhum az-Zaman/ mafhum al-Ghayah/ batas, mafhum al-'adad/ bilangan, mafhum al-Hasr/ pembatasan/ pengkhususan, dan lain-lain (Shihab, 2019).

Berbeda dengan M. Quraish Shihab Abd Al-Salam Abd-Al-Ghani Tuhami membagi mafhum mukhalafah menjadi lima macam. Namun penulis lebih cenderung dengan dalam penyusunan dengan sepuluh yang telah M. Qurais Shihab jelaskan dan akan penulis rincikan sebagai berikut:

a.    Mafhum al-Washfi  مفهوم الوصف

Mafhum al-Washfi (pemahaman dengan sifat) adalah petunjuk yang dibatasi oleh sifat, menghubungkan hukum sesuatu kepada salah satu sifatnya. Abd Al-Salam Abd-Al-Ghani mendefiniskan mafhum al-Washfi adalah (Abd Al-Salam, 2014)

دلالة اللفظ الدال علي حكم مقيد بوصف, علي ثبوت نقيض هذا الحكم للمسكوت الذي إنتفي عنه ذلك الوصف

Penunjukan suatu lafadz kepada hukum yang diikat atau terikat dengan sifat, kepada ketetapan hukum yang diam.

Dalam mafhum sifat terdapat dibagian, yaitu mushtaq, hal (keterangan keadaan) dan 'adad (bilangan).

(1) Mustaq dalam ayat contoh dalam QS Al-Hujrat ayat 6:

يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنباء فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة

 فتصبحوا علي ما فعلتم

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang-orang    fasiq  membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui     keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu, "

Surat diatas pada kalimat, "in jaakum faasiqun binaain  fatabayyanuu", berarti ketika memberi kabar orang munafik, maka perlu   ditabayun. Mafhum mukhalafanya dalam hal ini adalah ketika yang  datang orang yang adil maka tidak perlu di tabayyun. Atau dalam arti lain        mafhum mukhalafahnya adalah, bahwa berita yang disampaikan oleh  seseorang yang adil wajib diterima. Secara garis besar kaidah pengertian ini adalah bahwasanya nash  syar'i tidak memiliki dilalah (pengertian) atas suatu hukum bagi suatu  hal yang dipahami berlainan dengan manthuqnya (yang tertulis dalam nashnya), sebab ia bukan bagian dalam pengertian-pengertiannya melalui  salah satu tehnik dilalah tersebut.Secara pandangan argumentatif dalam ayat diatas Allah telah  memerintahkan kita agar selalu   Mengklarifikasi kabar dan perkataan orang  fasik.  Termasuk seorang  yang menjadi hakim di pengadilan entah  pengadilann agama dan pengadilan negri. Karena seorang hakim tidak akan  diterima putusannya bagi seorang yang fasik.

1. Hal (Keterangan Keadaan) contoh firman dalam QS: Ayat 95.

يا أيها الذين آمنوا لا تقتلوا الصيد وأنتم حرم ومن قتله منكم متعمدا فجزاء مثل ما قتل من النعم يحكم  به ذوا عدل منكم هديا بالغ الكعبة أو كفارة طعام مساكن أو عدل ذلك صياما ليدوق وبال أمره عفا الله عما سلف ومن عاد فينتقم الله منه والله عزيز دو انتقام.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh Binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya"

Mafhumnya mukhalafahnya adalah, bagi orang yang sedang  ihram jika membunuh bintang tanpa sengaja maka tidak dikenakan dendanya  membayar kafarat dengan memberi makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya, niscaya Allah  akan menyiksanya, Allah maha kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa."

Ayat ini menunjukan tiadanya hukum bagi orang yang membunuhnya karena tak sengaja. Sebab penetuan " sengaja" dengan kewajiban membayar denda dalam pembunuhan binatang buruan tidak sengaja.

(2)    Adad (Bilangan) مفهوم العدد

Mafhum 'Adad adalah penetapan kebalikan dari hukum apabila bilangan yang dibatasi, apabila bilangan tersebut tidak terpenuhi. Seperti Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 197:   

الحج أشهر معلومات فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوقولا جدال في الحج وما تفعلوا من خمير يعلمه الله وتزودوا فإن خمير الزاد التقوي واتقون يا أولي الألباب.

 "Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasikh dan berbantah-bantahan didalam masa mengerjakan haji dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikann, niscaya Allah mengetahuinya, berbekalah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaku, hai orang-orang yang beriman.

Mafhum mukhalafahnya ialah melakukan ihram diluar bulan-bulan itu  tidak syah. Contoh lain firman Allah swt: QS An-Nur ayat 4.

والذين يرمون المحصنات ثم لم يأتوا بأربعة شهداء فاجلدواهم ثمانين جلدة ولا تقبلوا لهم شهادة أبدا

"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik  (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh) delapan puluh kali dera, dan jangan lah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya (Abd Al-Salam, 2014)"

Secara manthuq ayat ini menunjukan: adanya had hukuman cambuk sebanyak 80 kali bagi orang yang menuduh berzina tanpa mendatangkan sempat orang saksi, sedangkan secara mafhum mukhalafah menunjukan: ketidak bolehan mengurangi ataupun menambahi hukuman cambuk 80 kali bagi orang yang menuduh berzina tanpa mendatangkan empat orang saksi. Ayat diatas bisa dipahami bahwa hukuman bagi orang-orang  yang menuduh orang-orang baik telah berbuat baik, namun tidak bisa mendatangkan empat saksi telah ditetapkan

b.      Mafhum Laqaab مفهوم اللقب

Mafhum Laqâb (pemahaman dengan julukan) adalah menggantungkan hukum kepada isim alam atau isim fail. Dalam arti lain dari Mafhum laqab merupakan penetapan hukum yang hanya penyebutannya dikhususkan (takhsis) penyebutan dalam nash dengan jenis dan hukumnya, sehingga hukum itu hanya berlaku yang hanya disebutkan dan tidak berlaku pada objek yang tidak disebutkan. Seperti firman Allah SWT:

حرمت عليكم أمهاتكم وبناتكم

"Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan"

Mafhum mukhalafahnya adalah selain para ibu.Para ulama' ushul fiqh memberi batasan terkait mafhum mukalafah antara lain sebagai berikut: Mafhum Mukhalafah harus mendukung atau selaras dengan nash yang rajih (benar) dari manthuq mafhum muwafawah (yang disepakati); Mafhum mukhalafahnya tidak boleh untuk tujuan imtinan (anugrah); Ayat diatas Mafhum mukhalafah adalah istri-istri anak yang tidak sekandung seperti anaknya anak sepenyesuan. Sebagaimana sabda Nabi SAW,
في الغنائم زكاة artinya: pada binatang ternak yang digembalakan ada zakat. Mafhum Mukhalafahnya adalah binatang ternak yang maknanya dicarikan dan tidak digembalakan maka tidak wajib bayar zakat. Contoh lain dari sabda Nabi SAW.

الذهب بالذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالنلح مثلا بمثل سواء بسواء يدا بيد فإذا إختلفت هذه الأصناف فيبعوا كيف شئتم إذا كان يدا بيد

     Jika emas dijual emas, perak dengan perak dijual dengan perak, gandum dengan gandum dijual dengan gandum, syair dengan syair, kuram dengan kurma, dan garam dijual garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Jika kenis barang tadi berbeda, maka silahkan engkau membarterkannya sesukamu, namun harus dilakukan secara kolntan (tunai).

Secara manthuq hadist ini menunjukan: enam barang yakni emas, perak, gandum, sya'ir dan garam yang disebutkan dalam hadist ini termasuk riba fadl . sedangkan secara mafhum mukhalafah menunjukan: selain keenam barang yang disebutkan dalam hadist ini bukan termasuk riba fadhl.

c.       Mafhum Hasr مفهوم الحصر     

Mafhum Hasr adalah pembatasan. Adapun pengertian mafhum hasr menurut para usuliyun (ulama ushul) adalah:

مفهوم الحصر: هو إنتفاء المحصور عن غير ما حصر فيه وثبوت نقيضه له.

Mafhum Hasr adalah ketiadaan batas kepada selain apa yang dibatasi didalamnya dan mentapkan kebalikannya. Secara umum mafhum ini terbagi menjadi dua pokok, yaitu: a. membatasi sosok dengan sifat tertentu dan, b. Membatasi sesuatu pada sosok tertentu.Seperti dalam firman Allah swt:

إياك نعبد إياك نستعين

"Hanya engkau yang kami sembah, dan hanya engkaulah yang kami meminta pertolongan."

Mafhum Mukhalafahnya adalah bahwa selain Allah tidak disembah dan tidak dimintaai pertolongan. Oleh karena itu, ayat tersebut menunjukan bahwa Dia lah yang berhak disembah dan dimintai pertolongan. Ayat diatas membatasi hanya Allah swt. Yang patut disembah dan dimintai pertolongan. Maka mafhum mukhalafah-nya adalah tidak ada yang patut disembah dan dimintai pertolongan kecuali Allah swt. Menurut Mumamad Abu Zahrah, harus ada dua syarat yang terpenuhi untuk menggunakan mafhum mukhalafah; pertama, Batasan dalam nash itu tidak mempunyai tujuan lain, kecuali untuk membatasi hukum. Kedua, tidak ada dalil khusus dalam obyek hukum yang dipahami dengan mafhum mukhalafah. Jika ada dalil khusus maka mafhum mukhalafah tersebut tidak dapat dipergunakan. Contoh lain dalam QS Ali Imran (3) : 114 firman Allah:

وما محمد إلا رسول

"Nabi Muhammad tidak lain kecuali rasul"

Menjadikan sosok Nabi Muhammad saw. Terbatas dan semata-mata hanya sebagai rasul, tidak selainnya. Semua aktivitas dan tindakan beliau adalah cerminan kerasulan (Shihab, 2019). Contoh lain dari hadist nabi:

لا يقبل الله صلاة إلا بطهور

"Allah tidak menerima shalat seseorang kecuali dengan bersuci"

Secara mantuq hadist ini menunjukan: salah satu syarat sah shalat adalah suci dari hadast kecil dan besar. Sedangkan mafhum mukhalafahnya: salah satu yang membatalkan shalat adalah hadast kecil danbesar.

d.      Mafhum Ghayah مفهوم الغاية

Mafhum Ghayah (pemahaman dengan batas akhir) adalah lafal yang menunjukan hukum sampai pada ghayah (batasan, hinggan), lafal ghayah ini ada kalanya dengan "ila" dan dengan "hatta'. Atau dalam pengertian lain Mafhum yang menetapkan hukum yang berada diluar tujuan nash, bila hukum tersebut dibatasi dengan tujuan. Pengertian lain Mafhum al-ghayah, yaitu menetapkan hukum yang berada di luar tujuan nash (ghayah), bila hukum tersebut dibatasi dengan tujuan (ghayah). Hal ini memunculkan pertanyaan apakah batas yang ditetapkan ayat termasuk dalam tuntutan ayat atau tidak (Shihab, 2013: 176).  Sedangkan Abdusslam Abdul Ghani Tuhami mendefinisikan mafhum ghayah adalah (Safrilsyah & Fitriani, 2014):

مفهوم الغاية غاية الشيء وهي نهاية الشيء المقتضة لثبوت الحكم قبلها وانتفائه بعدها وقيل هو دلالة اللفظ قيد الحكم فيه بغاية علي ثبوت نقيض ذلك الحكم بغاية.

Mafhum Ghayah adalah tujuan sesuatu dan itu dalah akhir sesuatu  yang menunjukan ketetapan hukum sebelumnya, dan manfaat setelanya. Dan pendapat lain berkata bahwasanya penunjukan lafadz yang terikat hukum didalam dalalahnya dengan tujuan kepada penetapan huku itu dengan tujuannya. Seperti dalam firman Allah SWT dalam QS al-Maidah ayat 6:

يا أيها الذين أمنوا إذا قمتم إلي الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلي المرافق  وامسحوا برءوسكم وأرجلكم إلي الكعبين.

"Wahai orang-orang yang beriman bila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai kepadamu siku, dan sapulah kepalamu dan basuh kakimu sampai kedua mata kaki".

Mafhum Mukhalafahnya adalah membasuh tangan tidak samapai siku itu tidak sah. Kata “ila” pada ayat di atas dipahami dalam arti sampai, sehingga siku tidak termasuk yang diperintahkan untuk dibasuh, ada juga yang memahami sampai dengan, sehingga siku termasuk yang dibasuh. Para ulama’ berselisih paham, ada sebagian yang memberi perincian dengan menyatakan jika apa yang disebut sebelum lafadh yang digunakan menggambarkan ghayah (batas akhir) pada susunan kalimat yang ditafsirkan itu adalah dari jenis apa yang disebut sebelumnya, maka ia termasuk dalam apa yang diperintahkan (dalam arti sampai dengan). lafal ghayah ini ada kalanya dengan "ila" dan dengan "hatta'. Atau dalam pengertian lain mafhum yang menetapkan hukum yang berada diluar tujuan nash, bila hukum tersebut dibatasi dengan tujuan. Pengertian lain Mafhum al-ghayah, yaitu menetapkan hukum yang berada di luar tujuan nash (ghayah), bila hukum tersebut dibatasi dengan tujuan (ghayah). Hal ini memunculkan pertanyaan apakah batas yang ditetapkan ayat termasuk dalam tuntutan ayat atau tidak (Shihab, 2013: 176).

Muhammad Sayyid Tantawi menjelasakan bahwa yang dimaksud إذا قمتم إلي الصلاة   adalah الصلاة إلي بالقيام Yang mempunyai arti dan makna kaum mu'minin yang ingin melaksanakan shalat. Sedangkan kata فاغسلوا وجوهكم yaitu membasuh kepada tempat yang ditetapkan nash yaitu wajah kaum mu'minin yang sedang berwudhu swdangkan kata al-Marafiq merupakan jamak dari mirfak yang berarti siku (Al-Tantawi, 2016). Penulis memahami dari QS al-Maidah ayat 6 diatas secara penafsiran pada umumnya adalah wahai orang-orang yang beriman apabila kalian ingin atau hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai siku, dan basuhlah rambut kalian dan kaki kalian sampai dua mata kaki, dan dari sini para Fuqahâ dan mufassirin menyebutkan masalah yang b erkaitan dengan ayat ini adalah suatu kewajiban bagi yang ingin melaksanakan shalat, Yang pertama mayoritas Ulama (Jumhur ulama) dari firman Allah ta'ala إذا قمتم إلي الصلاة فاغسلوا sesungguhnya jika sesorang yang ingin menjalani wudhu maka dia harus niat untuk mendirikan shalat atau melaksanakan aktivitas lain seperti bersuci dan lain sebagainya, karena wudhu merupakan amalan-amalan yang menjadikan kaum muslimin menjadi taat kepada Allah ta'ala. Contoh lain dalam ayat lain Firman Allah QS al-Baqarah: 222.

ويسئلونك عن المحيض قل هو أذي فاعتبزلوا النساء في المحيض

ولا تقربوهن حتي يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله

 إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين.

"Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah " haidh itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka , sebelum mereka suci apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesunggunya Allah menyukai orang-orang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Ayat diatas menunjukan bahwa boleh seorang suami untuk menggauli istrinya setelah selsai mainstruasi dan suci darinya. (Abd Al-Salam, 2014)" Mereka bertanya kepadamu tentang menstruasi (haidh). Katakanlah haidh adalah kotoran oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS al-Baqarah 2:222). Ayat diatas diatas menunjukan bahwa boleh seorang suami untuk menggauli istrinya setelah selsai menstruasi dan suci darinya.

Muhammad Ali Al-Sayis menafsirkan ayat diatas dengan redaksi fa’tazilun-nisā`a fil-maḥīḍi disini para ulama berbeda pendapat mengenai wajibnya seorang laki-laki I'tizal kepada perempuan saat menstruasi dengan beberapa pendapat (qaul) yang pertama sesungguhnya seorang suami yang wajib menjauhi seluruh badan perempuan (istri), dan hujjahnya dari itu sesungguhnya Allah memerintahkan menjauhi perempuan yang sedang haid dan belum dikhususkan dari itu sesuatu tanpa sesuatu. Yang kedua wajib menjauhi istri yang sedang haid yaitu tempat yang kotor (najis) (Al-Syais, 2001).

"Aisyah ditanya apa yang membolehkan seorang suami dari sitrinya apabila dalam keadaan haid? Aisyah menjawab setiap sesuatu kecuali hubungan senggama (jima), Hujjahnya adalah apa yang ditetapkan dalam akhbar: " Sesungguhnya Rasulullah saw menjauhi istri-istrinya saat haid". Dan para ulama bersepakat bahwa haram hukumnya bersenggama saat istri sedang haid.

Sedangkan arti redaksi wa lā taqrabụhunna ḥattā yaṭ-hurn dalam permasalahan ini ada tiga pendapat ulama, yang pertama Abu Hanifah berkata wajib hukumnya seorang suami mendakati, mendatangi bahkan menggauli istrinya apabila telah suci atau terputusnya darah haidh walaupun sang istri belum mandi suci, kecuali apabila terputus darah haidnya masi banyak dan apabila terputus darah hadinya sedikit tidak boleh sampai waktu shalat yang sempurna.

Sedangkan Ibnu Katsir menfasirkan ayat diatas bahwa tidak boleh seorang suami mendekati istrinya yang sedang haid (menstruasi) namun saat sang istri telah melewati masa haidhnya, maka boleh didekati (al-Thuhru'yadullu ala qurbahinna) adapun redaksi dari ayat fa iżā taṭahharna fa`tụhunna min ḥaiṡu amarakumullāh Ibnu Katsir menjelaskan kaitan hukum dari redaksi tersebut. Ibnu Hajm mengatakan bahwa  wajib seorang suami menggauli istrinya (melakukan senggama) setelah sang istri selesai haidh, karena ini perintah setelah larangan namun berbeda dengan ulama usul (Usuliyun) yang berbeda pendapat yang mengatakan wajib dan dari mereka ada yang mengatakan boleh (Katsir, 1999). Contoh Lain QS al-Baqarah ayat 230.

فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتي تنكح زوجا غيره

Mafhum mukhalafah-nya adalah adalah nakahat ghoiruhu, yakni menikah dengan orang lain sehingga menjadi halal. Maksudnya jika wanita yang telah diceraikan tiga kali dengan laki-laki selain yang telah menceraikan. Secara faktual dijumpai di masyarakat adanya rujuk pasca talak tiga yang dilakukan dengan menikah yang bertujuan untuk siasat belaka. Artinya menikauntuk yang kedua kali dilakukan,  bercerai dan  kembali  rujuk dengan mantan suaminya. Berdasarkan kompilasi hukum Islam, maka syarat dan rukun pernikahan dilewati. Dan memenuhi syarat iddah setelah perceraian kedua.Kalimat tersebut dimaknai sebagi mafhum ghayah, sedangkan mafhum mukhalafahny adalah   nakaha ghoiruhu,   menikah   dengan   oran lain sehingga menjadi halal. Artinya apabila wanita yang telah diceraikan tiga kali menikah dengan laki-laki selain yang menceraikan. Realitas menunjukkan adanya rujuk setelah talak tiga yang dilakukan dengan menikah dengan siasat. Artinya menikah kedua dilakukan, cerai, dan mantan suami menikahi kembali (rujuk). Sesuai kompilasi Hukum Islam, maka harus dilalui dengan syarat dan rukun pernikahan. Selain itu memenuhi syarat iddah pasca perceraian kedua.

e.  Mafhum Syarat مفهوم الشرط

 Mafhum Syarat adalah petunjuk lafadz yang memberi faedah adanya hukum yang dihubungkan dengan syarat upaya dapat berlaku hukum yang sebaliknya. Pengertian lain mafhum syarat adalah memahami syarat adalah memahami nash dengan menetapkan sebuah hukum yang merupakan kebalikan yang bergantung pada syarat atau bersamaan, apabila syarat tersebut tidak terpenuhi.  Abd Al-Salam Abd-Al-Ghani Tuhami mendefinisikan mafhum syarat adalah (Abd Al-Salam, 2014):

مفهوم الشرط هو تعليق الحكم على ادوات الشرط

Mafhum Syarat adalah ikatan hukum dengan alat-alat syarat. Dapat kita pahami bahwa dari beberapa definsi yang tertulis dengan redaksi yang berbeda namun substansinya sama.

Seperti dalam surat QS al-Thalaq ayat 6

وإن كن أولات حمل فانفقوا عليهن حتي يضعن حملهن

 

"Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya."

Mafhum mukhalafahnya adalah jika istri-istri yang tertalak itu tidak sedang hamil, maka tidak wajib diberi nafkah. Ayat di atas mafhumnya adalah, istri tersebut halal bagi suami pertama sesudah ia nikah dengan suami yang lain, dengan memenuhi syarat pernikahan (al-Qatthan, 2002: 365). Ini karena ada kata hatta sebagai batasan akhir (ghayah) diperbolehkannya menikah lagi dengan mantan suami setelah si istri sudah menikah dengan suami lain yang menceraikannya. Dalam arti lain mafhum mukhalafahnya adalah istri yang ditalak dan tidak hamil tidak wajib dinafkahi. Sebab sedang hamil merupakan syarat untuk menafkahi istri yang telah ditalak, maka apabila syarat tersebut maka berlaku hukum sebaliknya.

f.        Mafhum Ilat مفهوم العلة

Mafhum Ilat adalah menghubungkan hukum sesuatu karena ilatnya.  Contoh dalam QS Al-Baqarah ayat 220:

يسألونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما.

"Mereka bertanya kepadamu wahai Muhammad tentang khamr dan maisir katakanlah didalamnya terdapat dosa yang besar, dan tidak ada manfaatnya, dan dosanya lebih besar dari manfaatnya".

Sayyid Tantawi menfasirkan ayat ini dengan ma'na Mereka orang-orang yang beriman (Mu'minun) bertanya kepada muhammad suatu pertanyaan tentang hukum khamr mengenai halal haramnya secara syar'i . Namun mereka mengetahui khamr dan maisir secara hakikat dan dzatnya.Para ulama memandang bahwa ayat ini adalah ayat pertama turunnya khamr, kemudian turun ayat dalam QS An-Nisa (Al-Tantawi, 2016)

يا أيها الذين آمنوا ولا تقربو الصلاة وأنتم سكاري حتي تعملوان ما تقولون

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu melaksanakan shalat dan kalian dalam keadaan mabok sehingga kalian mengetahui apa yang kalian katakan".

Lalu turun dalam QS Al-Ma'idah ayat 91:

يا ايها الذين آمنوا إنما الخمر والميسر والميسر والأنصاب والأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبواه لعلكم تفلحون.

Dan dalil akan hal itu sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud dan lainnya dari Umar ibn Khatab dia berkata:

اللهم بين لنا في الخمر بيانا شاقيا

“Ya Allah jelaskan kepada kita dalam anggur penjelasan yang sulit”

Maka turunlah ayat yang ada di QS al-Maidah ayat 91. Jika kita menggunakan metodologi qiyas dalam ilmu ushul fiqh dengan contoh sebagai berikut, hukum asal الأصل)) yaitu khamr dan cabannya (الفرع) heroin, hukum asal haram sedangkan illatnya yang memabukan. Jika memang diantara kita bertanya apa yang menyebabkan khamr itu di haramkan? Bagaimana jika meminum wiski, whine dan bir bintang? Maka jawabanya terdapat pada illatnya karena setiap yang memabukan itu khamr dan setiap khamr adalah haram.

g.       Kehujjahan Mafhum Mukhalafah

Para ulama ushul fiqh sepakat, mafhum mukhalafah dapat dijadikan dalil dalam mengistinbathkan sebuah hukum.

Tetapi para ulama ushul fiqh berbeda pendapat dalam kehujjahan mafhum mukhalafah dapat dijadikan dalil atau tidak. Ada dua pendapat sebagai berikut:

1.       Madzhab Syafi'iyah, Malikiyah, Hanabilah berpendapat bahwa semua dapat dijadikan mafhum kecuali mafhum al-Laqab dapat dijadikan dalil dalam mengistinbath sebuah hokum (Al-Zuhaili, 2010).

2.       Madzhab Hanafiyyah berpendapat mafhum mukhalafah tidak dapat dijadikan dalil dalam mengistinbathkan sebuah hukum. Tetapi menurut sebagian ulama Hanafiyyah menyatakan bahwa mafhum mukhalafah itu bisa dijadikan sebagai hujjah selama tidak me-mafhum mukhalafah-kan nash al-Qur'an dan al-Sunnah. Hujjah selama tidak me-mafhum mukhalafahkan nash al-Qur'an dan al-Sunnah.

Agar mafhum mukhalafah dapat dijadikan hujjah maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1.       Mafhum mukhalafah tidak boleh berlawanan dengan dalil yang lebih kuat, baik dari dalil al-Qur'an maupun hadist Nabi SAW, dan juga tidak boleh berlawanan dengan manthuqnya lafadz maupun mafhum muwafaqah (Al-Zuhaili, 2010).

2.       Yang disebutkan (manthuq bukan suatu hal yang biasanya terjadi (Al-Zuhaili, 2010).

3.       Manthuq tidak dimaksudkan menguatkan suatu keadaan.

4.       Manthuq harus berdiri sendiri, tidak mengikuti kepada yang lain.

5.       Manthuq tidak untuk menjelaskan suatu realita.

6.       Manthuq tidak menerangkan suatu kejadian yang khusus.

7.       Jika ada suatu batasan menunjukan jumlah yang tidak terbatas, maka tidak boleh dipahami melalui mafhum mukhalafahnya. Manthuq, tidak menguatkan sebutkan nikmat, maka secara mafhum mukhalafahnya tidak boleh diambil hukumnya (Katsir, 1999).

 

Kesimpulan

Dilalah lafal dalam hubungannya dengan    upaya pemahaman nash adalah suatu petunjuk kepada pengertian yang bisa dipahami dari nash itu sendiri. Sedangkan mafhum adalah pemahaman yang ditunjukan oleh lafal tidak di tempat pembicaraan, tetapi dari pemahaman terhadap ucapan tersebut. Cara peninjauan dalalah lafal menjadi empat bagian: Dilalah 'Ibarah; Dilalah isyarah; Dilalah nash, dilalah iqthidha. Dilalah mafhum terbagi menjadi dua bagian, yaitu mafhum muwafaqah dan mafhum mukhalafah. Mafhum muwafaqah adalah petunjuk lafadz nash atau penetapan suatu hukum bagi perkara yang disebutkan di amana antara keduanya terdapat kesesuaian karena ada persamaan illat. Sedangkan mafhum mukhalafah adalah penetapan hukum bagi yang tidak disebutkan disebutkan oleh nash berlawanan oleh yang disebutkan. Atau dengan kata lain, sesuatu yang tidak disebutkan oleh nash berlawanan dengan yang disebutkan dalam penetapan hukumnya. Mafhum muwafaqah terdiri atas mafhum al-Shifah, mafhum al-ghayah, mafhum al-Syarth, mafhum al-'adad, dan mafhum al-laqab. Yang perlu dipahami adalah mafhum yang terbagi atas dua bagian, mafhum muwafaqah dan mafhum mukhalafah. Mafhum muwafaqah adalah petunjuk lafal nash atau penetapan suatu hukum bagi perkara yang disebutkan, di mana antara keduanya terdapat kesesuaian karena ada persamaan ilat. Sedangkan mafhum mukhalafah adalah penetapan hukum bagi yang tidak disebutkan atau sesuatu yang tidak disebutkan oleh nash berlawanan dengan yang disebutkan dalam penetapan hukumnya.

 

 

BIBLIOGRAFI

Abd Al-Salam, A.-A.-G. T. (2014). Ushul Fiqh.

 

Abdurahman, I. M. A. (2019). Usul Fiqh ghair Hanafi. Al-Iman.

 

Adz-Dzahabi, M. H. (1991). Penyimpangan-penyimpangan dalam Penafsiran al-Qur’an. Terj. Hamim Ilyas Dan Machnun Husein. Al-Ittija> h A> t Al-Munh} a Rifah Fi Tafsi@ r Al-Qur’a> n Al-Karim. Jakarta: Rajawali. Google Scholar

 

Ajahari, A. (2018). Ulumul Qur’an:(Ilmu-ilmu Al-Qur’an). Aswaja Pressindo. Google Scholar

 

Al-Awa’ri, A. F. A. G. M. I. (2015). Jalâ al-Afhâm fi Tafsir ayat al-Ahkam Juz 2. Maktabah al-Iman.

 

Al-Munawar, A. H. (1994). Masykur Hakim, I’jaz al-Qur’an dan Metodologi Tafsir. Dina Utama.

 

Al-suyuti, J. al-D. A. al-R. (2006). Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an. Darul Hadist.

 

Al-Syais, M. A. (2001). Tafsir Ayat al-Ahkam. Al-Shafa.

 

Al-Tantawi, M. S. (2016). Tafsir al-Wasith.

 

Al-Zuhaili, W. (2010). al-Wajiz fi Usul al-Fiqh. Beirut: Dâr Al-Fikr. Google Scholar

 

Alawi, A. bin A. al-S. (2011). Fawa’id al-Makiyah fima yahtaaj thalabah al-Syafi’iyah min al-Masa’il wa al-Dhawabith wa la-Qawa’id al-Kulliyah.

 

Arikunto, S. (2010). Metode peneltian. Jakarta: Rineka Cipta. Google Scholar

 

Cholid, N., & Achmadi, H. A. (2003). Metodologi Penelitian, PT. Bumi Aksara, Jakarta. Google Scholar

 

Chudlori, M. S. (2017). Tafsir Ahkam dan Kontekstualisasi Hukum Islam. Al-Mashlahah Jurnal Hukum Islam Dan Pranata Sosial, 1(02).

 

Ismardi, I. (2014). Kaidah-Kaidah Tafsir Berkaitan Dengan Kaidah Ushul Menurut Khalid Utsman Al-Sabt. An-Nida’, 39(1), 59–75. Google Scholar

 

Katsir, I. (1999). Tafsir al-Qur’an al-Adzim. Jilid. I, Cet. I. Google Scholar

 

Nizhan, A. (2008). buku pintar Al-Quran. QultumMedia.

 

Safrilsyah, S., & Fitriani, F. (2014). Agama dan Kesadaran Menjaga Lingkungan Hidup. Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 16(1), 61–78. Google Scholar

 

Shihab, M. Q. (2019). Kaidah tafsir. Lentera Hati Group.

 

Subagiyo, R. (2019). Implementasi Al-Dalalah Mafhum Al-Mukhalafah Al-Syafi’iyah Dalam Ilmu Ekonomi Islam. docx. Nizham Journal of Islamic Studies, 6(02), 83–98. Google Scholar

 

Wahab, A. (1975). Ilmu Ushul Fiqh. Majlis al-A’la al-Indonesiy lil al-da wa al-Islamy.

 

Wilya, E. (2016). Mafhum Muwafaqah dan Implikasinya dalam Istinbath Hukum. Jurnal Ilmiah Al-Syir’ah, 8(2). Google Scholar

 


Copyright holder :

Alex Kusmardani, Mohamad Athoilah, Mohamad Sar'an (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: