Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3, No. 2, Februari 2022

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

ANALISIS DETERMINAN KUALITAS AUDIT: STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

 

Arum Puji Lestari, Theresia Hesti Bwarleling

Universitas Bunda Mulia, Jakarta, Indonesia     

Email:  s11170136@student.ubm.ac.id, tbwarleling@bundamulia.ac.id

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

2 Februari  2022

Direvisi

11 Februari  2022

Disetujui

19 Februari  2022

Kualitas audit adalah baik tidaknya proses pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor, dalam artian setiap proses audit dilakukan menurut Standar Akuntan Publik (SAP) atau tidak. Seorang auditor harus bisa memeriksa perusahaan dan memberikan bukti obyektif yang menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh dari biaya audit, kepemilikan asing, rotasi KAP, dan ukuran perusahaan terhadap kualitas audit. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan sub ssektor semen, keramik & porselen, logam dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017-2019, yang terdiri dari 45 perusahaan. Teknik pengambilan data dengan menggunakan purposive sampling dan menghasilkan 72 sampel. Data yang digunakan merupakan data sekunder. Metode yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis regresi logistik dengan menggunakan program bantuan yaitu IBM SPSS versi 25. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa biaya audit memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit, di mana ini merupakan sebuah indikasi bahwa dengan biaya audit yang rendah maka akan berpotensi pada pelanggaran kode etik auditor. Saran untuk penelitian selanjutnya peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah sampel penelitian dan juga estimasi tahun yang lebih banyak dan yang terbaru sehingga penelitian dapat dihasilkan lebih baik, dan juga diharapkan bisa menambah menggunakan industri lain sehingga dapat membandingkan kualitas audit dari setiap industri yang ada di perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

 

ABSTRACT

Audit quality is whether or not the audit process is carried out by the auditor, in the sense that each audit process is carried out according to the Public Accounting Standards (SAP) or not. An auditor must be able to examine the company and provide objective evidence that describes the actual condition of the company. The purpose of this study was to analyze the effect of audit fees, foreign ownership, KAP rotation, and firm size on audit quality. The population used in this study is the cement, ceramic & porcelain, metal and chemical sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2017-2019, which consists of 45 companies. The dataused collection techniquepurposive sampling and produced 72 samples. The data used is secondary data. The method used is descriptive statistical analysis and logistic regression analysis using the assistance program, namely IBM SPSS version 25. The results of this study indicate that audit fees have a significant effect on audit quality, where this is an indication that a low audit fee will potentially lead to a violation of the auditor’s code of ethics. Suggestions for further research, further researchers are expected to be able to increase the number of research samples and also estimate more and more recent years so that research can be produced better, and it is also expected to be able to increase the use of other industries so that they can compare the audit quality of each industry in the manufacturing company. listed on the Indonesia Stock Exchange

Kata Kunci:

Biaya audit; Kepemilikan asing; Rotasi KAP; Ukuran perusahaan; Kualitas audit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Audit fees; Foreign ownership; KAP rotation; Company size; Audit quality

 


Pendahuluan

Di era globalisasi, perkembangan perusahaan didasarkan dari keadaan keuangan perusahaan dan juga manajemen kontrol perusahaan. Keadaan keuangan perusahaan menjadi tolak ukur di mata masyarakat tentang betapa baik kondisi perusahaan tersebut, terutama perusahaan terbuka yang mencari dana dari saham yang beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Oleh karenanya, jasa audit eksternal perlu digunakan dalam memvalidasi penyajian laporan keuangan perusahaan. Di lain pihak, auditor telah menyadari adanya risiko dalam proses pengauditan yang akan mereka jalani, di antaranya ketidakpastian akan kompetensi data, daya guna struktur pengendalian internal klien, dan juga ketidakpastian apakah laporan keuangan yang telah disajikan sudah wajar sesudah audit berakhir.

Di antara sekian banyak variabel eksternal yang sekiranya akan dapat mempengaruhi kualitas audit, terdapat beberapa penelitian seperti penelitian (Onaolapo et al., 2017) dan (Alhadab, 2018) yang menunjukan bahwa biaya audit dapat membawa pengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Tidak hanya biaya audit, faktor kepemilikan perusahaan juga menjadi salah satu isu yang dapat mempengaruhi tingkat kualitas audit eksternal. Struktur dari kepemilikan dapat terdiri dari kepemilikan instusional, kepemilikan managerial, kepemilikan keluarga, kepemilikan negara, kepemilikan publik dan juga kepemilikan asing (Hermiyetti & Katlanis, 2017); (Khasharmeh & Joseph, 2017); (Jannet Jannati Saepudin, Pupung Purnamasari, 2017).

Jika menujuk pada penelitian terkini, juga dinyatakan bahwa agar hasil kualitas audit baik dan benar maka auditor harus memiliki sifat independensi dan profesionalisme yang tinggi, supaya tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang dapat membuat auditor melakukan  pelanggaran, karena kualitas audit yang baik dapat menambah fungsional laporan keuangan sebagai pengurang risiko serta menunjukan kepada para gambaran investor tentang masa depan perusahaan yang sebenarnya. Selain itu kualitas audit juga dapat didefinisikan sebagai seberapa banyak salah saji material yang ditemukan oleh auditor, dan menurut Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) kualitas audit yang baik adalah pelaksanaan audit yang sesuai dengan ketentuan standar audit. Sebagai tambahan SPAP menjadi acuan yang ditetapkan untuk dipatuhi oleh akuntan public (Darmaningtyas, 2018).

Laporan keuangan bukan hanya suatu catatan yang dapat digunakan dengan sembarangan karena hasil yang terlampir di dalam laporan keuangan tersebut harus digunakan kembali dalam proses pengambilan keputusan, Oleh sebab itu laporan keuangan harus disajikan sesuai dengan fakta yang terjadi. Kepercayaan yang besar dari laporan keuangan didapatkan dari jasa KAP, sehingga KAP wajib memperhatikan kualitas audit dan opini yang diberikan oleh auditornya. Auditor dalam kasus pemeriksaan laporan keuangan sebaiknya juga perlu memahami dan melaksanakan etika profesi akuntan sebagai salah satu kriteria dalam kualitas audit. Salah satunya dapat diwujudkan melalui rotasi. Di Amerika kewajiban rotasi akuntan publik yang diatur dalam Sarbanes-Oxley Act. Peraturan ini mewajibkan seluruh akuntan publik supaya mengaudit semua perusahaan publik dirotasi setiap 7 (tujuh) tahun sekali. Di Indonesia juga telah  diberlakukan Peraturan Menteri Keuangan mengatur mengenai pembatasan masa pemberian jasa bagi akuntan publik maupun KAP. Pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling lama 4 (empat) tahun buku berturut-turut.

Kantor Akuntan Publik (KAP) dapat menerima lagi penugasan dalam audit umum teruntuk klien setelah satu tahun buku tidak memberi jasa audit umum atas laporan keuangan perusahaan klien, peraturan yang diberlakukan mengenai suatu rotasi KAP pertama kali disahkan sejak tahun 2002 melalui keputusan dari Menteri Keuangan dalam nomor 423/KMK.06/2002 yang kemudian dirubah menjadi Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 359/KMK/06/2004 tentang Jasa Akuntan Publik yang merupakan keputusan yang mengundang suatu pro dan kontra dari para akuntan dan praktisi. Namun, dalam prakteknya, peraturan yang ditulis mengenai rotasi Kantor Akuntan Publik menjadi tidak efektif dan merupakan peraturan belaka atau rotasi semu. Hal ini dapat terjadi karena disebabkan oleh adanya Peraturan Menteri keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik.

Berdasarkan latar belakang yang tertera di atas, serta dengan adanya perbedaan hasil setiap penelitian, maka penelitian ini ditujukan untuk menganalisa pengaruh biaya audit, rotasi KAP, ukuran perusahaan dan kepemilikan asing terhadap kualitas audit di perusahaan manufaktur selama tahun 2017-2019. Oleh karena itu, melalui penelitian ini diharapkan nantinya dapat memperkarya wawasan tentang audit, khususnya wawasan tentang faktor-faktor yang kemungkinan dapat mempengaruhi kualitas audit.

Merujuk pada tujuan penelitian tersebut di atas, maka diangkat beberapa hipotesa yang terkait di antaranya; hipotesa pertama biaya audit (audit fee) berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Biaya audit adalah biaya yang dikenakan oleh KAP dalam layanan proses pemeriksaan (Ramadhan & Laksito, 2018), setelah melakukan proses audit KAP berhak mendapatkan imbalan jasa yang sesuai ketentuan yang berlaku. Pernyataan ini sejalan dengan konsep pada teori keagenan yang menjelaskan mengenai hubungan antara pemegang saham dengan pihak manajemen, di mana kedua pihak tersebut memiliki kepentingannya masing-masing. Namun dalam menjalankan tugasnya, terkadang terdapat asymmetry information. Hal ini merupakan ketidakseimbangan perolehan informasi antara pihak manajemen sebagai penyedia informasi dengan pihak pemegang saham dan stakeholders sebagai pengguna informasi. Di mana, terdapat dua macam asimetri informasi yaitu adverse selection dan moral hazard. Adverse selection merupakan suatu kondisi di mana para manajer serta orang-orang dalam perusahaan mengetahui lebih banyak tentang keadaan dan prospek perusahaan dibandingkan pihak luar dan kemungkinan adanya fakta-fakta yang tidak disampaikan kepada prinsipal. Sedangkan moral hazard merupakan suatu keadaaan di mana prinsipal tidak sepenuhnya mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh manajer sehingga manajer dapat melakukan tindakan di luar pengetahuan prinsipal yang melanggar kontrak dan secara etika atau norma tidak layak dilakukan. Oleha karena itu, dengan adanya auditor eksternal diharapkan dapat memeriksa laporan keuangan secara seksama sehingga laporan yang dihasilkan sesuai dengan keadaan perusahaan yang sebenarnya. Dalam menjalankan tugas dan jasanya, auditor akan mendapatkan imbalan berupa biaya audit yang diperhitungkan dari berbagai aspek yaitu risiko audit. Semakin tinggi biaya audit, maka kualitas audit yang dihasilkan akan semakin baik juga, karena jika biaya audit yang dihasilkan cukup tinggi, maka auditor akan dapat memperluas prosedur audit yang dilakukan ke perusahaan. Pencerminan kecurangan akan dapat dideteksi dari prosedur audit yang baik.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Hai & Quy, 2019) biaya audit memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit. Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Ganesan et al., 2019) dan juga penelitian yang dilakukan oleh (Andriani & Nursiam, 2018) yang menunjukan biaya audit berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit, semakin tinggi biaya audit maka, semakin juga kualitas audit yang dihasilkan. Hal ini terjadi karena bisa saja dengan biaya audit yang tinggi maka KAP akan melaporkan prosedur audit dengan lebih rinci dan juga lebih mendalam, sehingga dapat disajikan dengan lebih jelas.

Selanjutnya hipotesa kedua, di mana kepemilikan asing berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Kepemilikan asing adalah jumlah saham yang dimiliki oleh pihak asing, baik individu maupun institusi terhadap perusahaan yang ada di Indonesia. Kepemilikan asing dikabarkan dapat mengurangi masalah keagenan karena dorongan yang mengharmonisasikan antara kepentingan para manajer dan pemegang saham. Hal ini dapat terjadi karena pemegang saham asing menuntut adanya transparasi operasi perusahaan supaya mengurangi informasi asimetri (Jannet Jannati Saepudin, Pupung Purnamasari, 2017). Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, kepemilikan asing memiliki pengaruh yang baik terhadap sisi eksternal dan internal perusahaan. Kepemilikan asing memiliki hubungan terhadap tingginya transparansi perusahaan dan kondisi asimetri informasi yang lebih rendah. Hal ini disebabkan karena investor asing cenderung untuk menuntut kualitas pelaporan yang lebih tinggi dari manajemen perusahaan, sehingga akan berefek terhadap transparansi dari laporan keuangan yang kemudian akan berdampak terhadap semakin minimnya asimetri informasi yang terjadi. Dengan adanya asimetri informasi yang lebih rendah, maka prosedur audit yang dilakukan tidak perlu terlalu tinggi, sehingga auditor tetap bisa menghasilkan audit yang berkualitas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Jannet Jannati Saepudin, Pupung Purnamasari, 2017) menyatakan bahwa kepemilikan asing berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit. Hasil ini juga didukung oleh penelitian (Khasharmeh & Joseph, 2017) yang menyatakan bahwa kepemilikan asing berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit.

Berikutnya, hipotesa ketiga, dengan pernyataan bahwa rotasi KAP berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Rotasi KAP adalah perpindahan yang dilakukan KAP dalam menjalankan tugas pemeriksaan dengan klien, hal tersebut terjadi supaya tidak ada hubungan spesial dan tindak kecurangan antara KAP dan perusahaan klien yang diaudit. Rotasi KAP harus terjadi karena adanya regulasi, dalam hubungannya dengan pihak managemen, maka disinyalir hubungan yang berlangsung lama dengan Kantor Akuntan Publik dikhawatirkan akan dapat menghilangkan sikap independensi dari KAP yang melakukan pemeriksaan, karena auditor sudah sangat percaya pada laporan yang dihasilkan oleh managemen perusahaan sehingga auditor tidak lagi mengembangkan prosedur auditnya. Oleh karena itu dapat diasumsikan bahwa Rotasi KAP diduga menjadi salah satu pengaruh Kualitas  Audit. Hal ini turut dibuktikan lewat hasil penelitian (Hai & Quy, 2019) yang menunjukan bahwa Rotasi KAP memiliki pengaruh signifikan terhadap Kualitas Audit.

Terakhir hipotesa keempat dengan dugaan bahwa ukuran perusahaan dapat berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Ukuran perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan yang didapatkan melalui nilai total aset perusahaan. Ukuran perusahaan diproksikan dengan log natural total asset milik perusahaan, di mana angka ini menampilkan kemampuan perusahaan dalam menjaga kelangsungan bisnisnya. Semakin tinggi total aset yang dimiliki, maka perusahaan dianggap memiliki ukuran yang besar sehingga mampu mempertahankan kelangsungan usahanya. Perusahaan kecil dianggap memiliki informasi yang lebih sedikit, sedangkan perusahaan besar memiliki analisis yang lebih tinggi, di sisi lain perusahaan besar akan banyak dilirik oleh masyarakat dan media, sehingga pemaparan informasi perlu sangat diperjelas, Oleh karena itu, jika Kantor Akuntan Publik keliru dalam memberikan opini sedangkan pihak luar yang mengetahui adanya kecurangan yang terjadi, maka pihak KAP akan menjadi sorotan utama. Sehingga ukuran perusahaan diduga dapat mempengaruhi kualitas audit yang dijalankan. Hal ini juga didukung oleh penelitian (Berikang et al., 2018) yang menunjukan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit, dengan kesimpulan bahwa semakin besar perusahaan klien maka semakin baik juga kualitas audit.

 

Metode Penelitian

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah termasuk ke dalam penelitian kuantitatif yang akan menggunakan data berupa angka dengan metode dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan laporan tahunan (annual report) dan laporan keuangan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia, khususnya adalah data yang telah diaudit oleh auditor.

Selain itu, dalam penelitian ini juga digunakan populasi dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sektor industri dasar dan kimia, lebih khususnya diarahkan ke sub-sektor semen, porselin & kaca, logam & sejenisnya dan juga kimia selama tahun 2017 – 2019.

Sampel Penelitian

Dalam hal pemilihan sampel, terdapat beberapa kriteria yang digunakan di antaranya adalah sebagai berikut:

1.    Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017-2019

2.    Perusahaan manufaktur yang telah menerbitkan laporan tahunan (annual report) dan laporan keuangan yang telah diaudit oleh auditor selama tahun 2017-2019 yang dapat diakses melalui website BEI (www.idx.co.id).

3.    Perusahaan mencantumkan akun professional fees atau biaya kantor akuntan publik dalam laporan keuangan tahunan (tahun 2017-2019)

4.    Perusahaan yang menyediakan informasi biaya audit dalam mata uang rupiah.

5.    Perusahaan yang menampilkan data tentang komposisi pemegang saham secara spesifik.

6.    Selama periode penelitian, perusahaan (auditee) tidak mengalami delisting dari BEI.

Terdapat 45 perusahaan dengan subsektor semen, porselin dan keramik, logam dan sejenisnya dan kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), namun terdapat 2 perusahaan yang mengalami delisting, 6 perusahaan yang tidak memberikan informasi terkait dengan biaya audit atau professional fee, dan juga 13 perusahaan yang tidak memberikan informasi terkait data yang diperlukan, sehingga jumlah perusahaan yang dijadikan sampel adalah 24 perusahaan, tetapi karena ada sampel yang ekstrem maka 5 sampel yang dioutlier, sehingga menggunakan 67 sampel yang diolah datanya di IBM SPSS versi 25. Berikut ini (Tabel 1) yang merupakan rincian dari hasil pemilihan sampel berdasarkan kriteria di atas:


Tabel 1

Rincian Jumlah Sampel

No

Keterangan

Jumlah Data 

1

Jumlah perusahaan sub sektor industri semen, keramik, logam dan kimia  yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2017-2019

45

2

Jumlah tahun pengamatan

3

3

Jumlah pengamatan selama 2017-2019

135

4

Perusahaan yang mengalami delisting (2x3)

(6)

5

Perusahaan manufaktur yang tidak menyajikan laporan tahunan dalam mata uang rupiah (6x3)

(18)

6

Data yang dibutuhkan tidak dijelaskan secara lengkap di laporan tahunan (13x3)

(39)

7

Jumlah data yang dijadikan sampel

72

Sumber: hasil olahan peneliti tahun 2021

 


Berdasarkan Tabel 1 di atas, maka dapat dilihat bahwa jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini sebanyak 72 data tanpa adanya outlier.

1.    Definisi Operasional

a.    Variabel Terikat – Kualitas Audit

Kantor akuntan publik yang sudah memiliki nama (Big 4) dipandang sebagai pihak auditor yang dapat menghasilkan kualitas audit lebih baik, dengan tingkat keprofessionalan yang tinggi maka dapat dianggap mampu melebihi kualitas dari kantor akuntan publik yang tidak memiliki nama besar atau di luar dari (Big 4).

Kantor Akuntan Publik  yang termasuk ke dalam (Big 4) adalah sebagai berikut :

1)    KAP Purwantono, Sarwoko dan Sandjaja, yang berafiliasi dengan Ernst and Young (E&Y)

2)    KAP Haryanto Sahari dan Co, yang berafiliasi dengan Pricewater house Cooper (PWC)

3)    KAP Osman Bing Satrio dan Co, yang berafiliasi dengan Deloitte Touche Thomatsu (DTT)

4)    KAP Siddharta dan Widjaja, yang berafiliasi dengan Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG)

Sehingga dalam data penelitian ini didapatkan dari Kantor Akuntan Publik yang memeriksa laporan keuangan:


Jika perusahaan diaudit oleh KAP yang termasuk ke dalam (Big 4) maka akan diberi angka 1, jika tidak maka akan diberi angka 0

 

 
 

 

 

 



b.    Variabel Bebas

                    i.  Biaya Audit

Biaya audit adalah besaran jumlah jasa yang diberikan kepada auditor, di mana nilainya bervariasi tergantung pada kondisi keuangan dan ukuran perusahaan klien, kompleksitas jasa audit, risiko audit, tingkat keahlian auditor, efisiensi yang dimiliki auditor dan nama besar KAP yang melakukan jasa audit.

Data biaya audit pada penelitian ini akan diwakilkan melalui nilai professional fee ataupun biaya akuntan publik yang disajikan di laporan tahunan perusahaan sub sektor semen, porselin & keramik, logam & sejenisnya dan juga kimia.

Pada penelitian ini data biaya audit masih berupa voluntary disclosure, karena beberapa perusahaan ada yang tidak memberikan informasi tentang biaya audit secara mendetail. Dalam penelitian ini biaya audit disimbolkan menjadi LNFee.

Rumus diaplikasikan menggunakan excel :


Biaya Audit = Log Natural (Audit Fee)

 
 

 

 


 


                       ii.     Kepemilikan Asing

Kepemilikan asing adalah investasi yang dilakukan oleh perusahaan dan saham perusahaan dimiliki oleh pihak asing, baik individu maupun institusi asing. Atau dengan kata lain kepemilikan ini terjadi bukan oleh Warga Negara Indonesia (WNI).

Data penelitian yang terkait dengan kepemilikan asing ini didapatkan dari komposisi pemegang saham dalam laporan tahunan, yang disajikan secara lengkap untuk mengetahui komposisi kepemilikan dari masing-masing pihak seperti institutional asing, individu, serta manajemen.

Data penelitian ini diambil dengan cara mencatatnya dulu di microsoft excel, kemudian dicatat total keseluruhan saham beredar, dan saham beredar kepemilikan asing. Jika dikonsepkan dalam sebuah rumus akan terlihat sebagai berikut:


Kepemilikan Asing = Σ (KA/TS)*100%

 
 

 

 



Keterangan :

Σ = Sum

KA = Saham Kepemilikan Asing

TS = Total Saham Keseluruhan

100% = Persentase untuk mendapatkan hasil persentase dari data

           iii.     Rotasi KAP

Rotasi KAP adalah pergantian audit yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publlik, besarannya sangatlah bervariasi tergantung dari kapasitas keuangan dan ukuran perusahaan klien, kompleksitas jasa audit, risiko audit, tingkat keahlian auditor, efisiensi yang dimiliki auditor dan nama besar KAP yang melakukan jasa audit. Di sisi lain rotasi audit juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan auditor yang terjadi baik karena adanya regulasi yang mewajibkan (mandatory) ataupun terjadi secara sukarela (voluntary) dari auditor dan berdasarkan keputusan manajemen.

Variabel rotasi audit diukur dengan menggunakan variabel dummy yaitu nilai 1 jika terjadi rotasi auditor, sedangkan nilai 0 jika tidak terjadi rotasi auditor.

  iv.          Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan klien adalah besarnya ukuran yang didapatkan dari total aset, variabel ukuran perusahaan biasanya dihitung dengan melakukan logaritma natural atas total aset perusahaan.

Ukuran perusahaan terbagi menjadi tiga bagian yaitu perusahaan besar (large firms), perusahaan menengah (medium firms), dan perusahaan kecil (small firms). Besar kecilnya perusahaan dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti dari segi jumlah karyawan, jumlah pendapatan, ataupun total aset yang dimiliki perusahaan tersebut.

Pada penelitian ini total aset perusahaan dicatat dalam excel kemudian diterapkan logaritma natural dengan rumus sebagai berikut :


Size = Ln(Total Asset)

 
 

 

 


 


2.       Metode Analisis

a.    Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data

yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.

Analisis deskriptif statistik adalah analisis yang paling sederhana dalam statistik, statistik deskriptif adalah untuk memberi deskripsi dari sebuat data rata-rata (mean), minimum, maximum, standar

deviasi, varian, sum, range, kurtosis dan skewness.

b.    Analisis Regresi Logistik

Regresi logistik (logistic regression) merupakan regresi yang digunakan untuk menguji sampai sejauh mana probabilitas terjadinya variabel dependen dapat diprediksi oleh variabel independen.

Regresi logistik diterapkan karena variabel dependennya berskala dikotomi di mana variabel independen dalam penelitian ini yaitu kualitas audit yang merupakan gabungan antara variabel metric dan non-metric sehingga tidak akan dicapai normalitas data. Sedangkan, dengan menggunakan analisis regresi logistik tidak memerlukan asumsi normalitas data pada variabel bebasnya.

Tujuan menggunakan regresi logistik adalah untuk melihat karakteristik dari sebuah variabel, Tujuan melihat karakteristik ini biasanya membahas nilai odds ratio di masing masing variabel penelitian. Nilai odds ratio tersebut menjelaskan peluang responden untuk beralih. Penjelasan nilai odds ratio berbeda dari nilai koefisien regresi pada umumnya. Seperti pada penelitian ini yang menggunakan variabel dummy yang di antaranya adalah rotasi KAP dan Kualitas Audit, kedua variabel ini memiliki data non metric yang diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pada rotasi KAP, jika terjadi rotasi KAP maka 1 dan jika tidak terjadi rotasi KAP maka 0, demikian pula dengan kualitas audit yang menghasilkan data non metric, jika diaudit oleh KAP Big 4 maka akan diberikan angka 1, jika tidak diaudit oleh KAP Big 4 maka akan dinilai 0.

c.       Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit)

Langkah pertama yang dilakukan adalah menilai overall model fit terhadap data. Hipotesis yang digunakan untuk menilai overall model fit adalah:

H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data

H1 : Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data

Dari hipotesis di atas diketahui bahwa kita tidak akan menolak hipotesis nol agar model fit dengan data.

Statistik yang digunakan berdasarkan pada fungsi likelihood. Likelihood dari model adalah probabilitas bahwa model yang dihipotesiskan menggambarkan data input. Untuk menguji hipotesis nol dan alternatrif, Likelihood  (L) ditransformasikan menjadi -2LL. Penurunan likelihood (-2LL) menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.

d.      Koefisien Determinasi (Nagelkerke’s R Square)

Besarnya koefisien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan dengan nilai Nagelkerke’s R Square. Nagelkerke’s R Square merupakan pengujian yang dilakukan untuk melihat seberapa besar variabel independen mampu menjelaskan dan mempengaruhi variabel dependen. Nilai Nagelkerke’s R Square bervariasi antara 1 (satu) dan 0 (nol). Nilai yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi-variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.

e.       Menguji Kelayakan Model Regresi (Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit)

Hosmer and Lemeshow’s      Goodness of Fit digunakan untuk menilai kelayakan model regresi. Dalam menilai hasil pengujian Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit dilihat dari beberapa hal sebagai berikut:

1)    Jika nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit sama dengan atau kurang dari 0,05, maka hipotesis nol ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan antara model dengan nilai observasinya, maka Goodness Fit model menjadi tidak baik karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya.

2)    Jika nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit lebih besar dari 0,05, maka hipotesis nol tidak dapat ditolak, yang berarti model dapat menjelaskan nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena cocok dengan data observasinya.

f.     Uji Hipotesis

Uji hipotesis ini dilakukan untuk mendapatkan hasil analisis data yang valid dan mendukung hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini. Uji hipotesis pada penelitian ini merupakan pengujian dua sisi yang dilakukan dengan cara membandingkan tingkat signifikansi (sig) dengan tingkat kesalahan (α) = 5%. Apabila sig < α maka dapat dikatakan variabel bebas berpengaruh signifikan pada variabel dependen.

Pada penelitian ini digunakan Software IBM SPSS versi 25 untuk memprediksi antara pengaruh hubungan pada masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.

 

Hasil dan Pembahasan

Kewenangan Notaris dan Majelis Pengawas Daerah Notaris terbatas sebagaimana peraturan perundang-undangan yang mengatur jabatan Pejabat yang bersangkutan. Sebagaimana wewenang yang

1. Analisis Statistik Deskriptif

Pada tahap ini, peneliti akan mengawali dengan menganalisa data sebagaimana adanya tanpa bermaksud menarik kesimpulan; dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan maka diperoleh hasil perhitungan rata-rata, median, standar deviasi, nilai maksimum dan nilai minimum yang dapat terlihat dalam Tabel 2 berikut ini:


 

 

 

 

Tabel 2

Deskriptif Statistik

 

N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

X1_BiayaAudit

72

18.40305

22.69943

20.01660

1.23068

X2_KepemilikanAsing

72

0.00052

0.96387

0.23321

0.26565

X3_RotasiKAP

72

0

1

0.45833

0.50176

X4_LnUkuranPerusahaan

72

25.56052

32.01063

28.17096

1.63998

Y1_KualitasAudit

72

0

1

0.22222

0.41866

Valid N (listwise)

72

 

 

 

 

Sumber : Output SPSS V.25, data diolah peneliti tahun 2021


 


Selanjutnya, di bawah ini merupakan tabel klasifikasi dari persentase perusahaan yang diaudit oleh KAP Big 4 dan juga perusahaan yang tidak diaudit oleh KAP Big4


 

Tabel 3

Tabel Klasifikasia,b

Observed

Predicted

Kualitas Audit

Percentage Correct

Tidak diaudit oleh KAP Big 4

Diaudit oleh KAP Big 4

Step 0

Kualitas Audit

Tidak diaudit oleh KAP Big 4

56

0

100.0

Diaudit oleh KAP Big 4

16

0

0.0

Overall Percentage

 

 

77.8

Sumber : Output SPSS V.25, data diolah peneliti tahun 2021

 


Pada tabel di atas dapat terlihat bahwa variabel dependen yaitu kualitas audit memiliki nilai yang valid sehingga dapat diproses. Jumlah dari sampel yang diaudit oleh KAP Big 4 adalah sebanyak 16 sampel, sedangkan yang tidak diaudit oleh KAP Big 4 adalah sebanyak 56 sampel.

2.  Uji Regresi Logistik

a.    Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit)

Pengujian kelayakan model regresi logistik dilakukan dengan menggunakan Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test yang diukur dengan nilai chi-square. Jika nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test lebih besar dari 0,05 maka hipotesis nol diterima dan berarti model mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena sesuai dengan data observasinya.


Tabel 4

Hosmer and Lemeshow Test

Step

Chi-square

df

Sig.

1

2.710

8

.951

Sumber : Output SPSS, data diolah peneliti tahun 2021

 


 

      Menurut tabel Hosmer and Lemesshow Test dapat dilihat bahwa nilai chi squarenya adalah 2.710, dan  nilai sig-nya yang adalah 0.951,  sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai tersebut lebih dari 0.05. Hal ini menunjukkan bahwa data yang terdapat dalam penelitian ini layak untuk digunakan dan dapat digunakan proses pengujian berikutnya.

 

b.      Koefisien Determinasi (Nagelkerke’s R Square)

Uji ini bertujuan untuk melihat apakah model yang dihipotesiskan fit dengan data atau tidak. Pengujian dilakukan dengan melihat dari nilai -2LL pada awal (block number = 0) dan nilai -2LL pada akhir (block number = 1) yang menunjukkan apakah regresi semakin baik.

Di bawah ini adalah tabel kesimpulan dari hasil penilaian atas keseluruhan model.


 

Tabel 5

Hasil Uji Menilai Keseluruhan Model

Block Number

-2 Log Likelihood

Keterangan

0

76.278

Baik

1

20.215

Sumber : Output SPSS V.25, data diolah peneliti tahun 2021

 


Dalam Tabel 5 step 0 menunjukan bahwa nilai dari -2Log likelihood adalah 76.278. Kemudian dilanjutkan pada step 1 di dapatkan nilai dari -2Loglikelihood adalah sebesar 20.612, sehingga dapat dikesimpulkan pada tingkat keseluruhan model bahwa model regresi logistik menunjukkan model regresi yang baik atau model fit dengan data.

 

c.       Menguji Kelayakan Model Regresi (Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit)

Kelayakan model regresi dapat terlihat melalui nilai koefisien determinan Nagelkerke’s R-Square yang menunjukan seberapa besar variabel dependen yang dapat dijelaskan melalui variabel independen yang ada dalam penelitian ini.

Di bawah ini adalah hasil output yang didapatkan dari pengujian Nagelkerte R. Square.


 

Tabel 6

Nagelkerke R. Square

Step

-2 Log likelihood

Cox & Snell R Square

Nagelkerke R Square

1

20.215a

.541

.828

a. Estimation terminated at iteration number 9 because parameter estimates changed by less than .001.

Sumber : Output SPSS V.25, data diolah peneliti tahun 2021

 

 


Pada tabel 6 di atas dapat terlihat bahwa nilai Nagelkerke R Square adalah 0.828, Ini berarti memperlihatkan bahwa variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar 82.8

 

d.  Uji Hipotesis

Pembuktian hasil hipotesis dengan uji wald untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Hasil pengolahan data penelitian adalah sebagai berikut.


Tabel 7

Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik

Variables in the Equation

 

B

S.E.

Wald

df

Sig.

Exp(B)

Step 1a

X1_BiayaAudit

3.381

1.287

6.900

1

0.009

29.409

X2_Kepemilikan Asing

2.910

2.651

1.205

1

0.272

18.359

X3_RotasiKAP

-0.846

1.293

0.428

1

0.513

0.429

X4_LnUkuranPerusahaan

-0.067

0.488

0.019

1

0.891

0.935

Constant

-70.129

28.085

6.235

1

0.013

0.000

a. Variable(s) entered on step 1: Biaya Audit, Kepemilikan Asing, Rotasi KAP, Ukuran Perusahaan.

Sumber : Output SPSS V.25, data diolah peneliti, 2021

 


Pada tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa terdapat tingkat signifikansi dan dengan disertai penjelasan interpretasi sebagai berikut:

 i.     Hasil penelitian dengan menggunakan regresi logistik menunjukkan bahwa koefisien regresi untuk variabel biaya audit adalah sebesar 3.381  dan sig. senilai 0.009 di mana dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel biaya audit berpengaruh terhadap kualitas audit. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan menurut (Hai & Quy, 2019) di mana dengan biaya audit yang terlalu kecil yang dibebankan kepada Kantor Akuntan Publik akan berpotensi buruk pada pelanggaran terhadap kode etik auditor, sehingga laporan keuangan yang disajikan berdampak kurang baik.

Di lain pihak, Teori Keagenan bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang melakukan hubungan kontrak dapat meminimalisir biaya karena adanya informasi yang tidak simetris, munculnya kemungkinan resiko keuangan yang terjadi serta ketidakpastian. Biaya tersebut digunakan sebuah organisasi atau bisnis untuk memastikan adanya informasi yang transparan akibat adanya perbedaan  tujuan  antara manajemen dan pemegang saham.  Maka dari itu, teori ini dapat digunakan untuk menggambarkan permasalahan keagenan yang terjadi karena antar pihak-pihak yang terkait saling memiliki tujuan yang berbeda-beda. Dari hasil pengujian ini dapat dinyatakan bahwa biaya audit yang tinggi akan semakin memperkecil resiko informasi yang tidak simetris antara manajemen dengan pemegang saham. Jasa keahlian para auditor yang dinilai dengan biaya audit yang tinggi akan memperluas prosedur audit yang dilakukan terhadap perusahaan klien. Oleh sebab itu, kemungkinan resiko kecurangan serta ketidakpastian yang ada pada pelaporan keuangan perusahaan klien dapat terdeteksi. Pendeteksian kecurangan ini yang kemudian tercermin dalam kualitas audit dilahirkan dari proses audit yang baik.

ii.     Hasil penelitian dengan menggunakan regresi logistik menunjukkan bahwa koefisien regresi untuk variabel kepemilikan asing adalah sebesar 2.910 dengan sig. senilai 0.272. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel kepemilikan asing di dalam sub-sektor semen, keramik dan porselen, logam dan kimia tidak berpengaruh terhadap kualitas audit, dikarenakan nilai sig yang lebih besar dari 0.05. Hasil ini tentunya sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Sumantaningrum & Kiswara, 2017) yang juga menemukan bahwa kepemilikan asing tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.

Melalui adanya kepemilikan asing dalam suatu perusahaan belum tentu mampu mendorong perusahaan untuk meningkatkan transaparansi di dalam proses pelaporan keuangan. Kesimpulan ini dapat menggiring sebuah argumen bahwa dengan ketidakmampuan pihak asing dalam menekan manajemen perusahaan dalam penyusunan laporan keuangan, maka keputusan manajerial diduga masih akan bersifat oportunistis.

iii.     Hasil penelitian dengan menggunakan regresi logistik menunjukkan bahwa koefisien regresi untuk variabel rotasi KAP adalah sebesar -0.846 dan perolehan sig. senilai 0.513. Berdasarkan perolehan ini maka dapat disimpulkan bahwa variabel rotasi KAP tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit, karena nilai sig yang lebih besar dari 0.05. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Andriani & Nursiam, 2018) dan (Berikang et al., 2018) yang menunjukan bahwa rotasi KAP juga tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.

Hal ini menunjukan bahwa sekalipun perusahaan telah melakukan rotasi KAP namun tidak akan mempengaruhi kualitas audit perusahaan.  Adanya penolakan atas hipotesis ini karena masa perikatan audit bukan menjadi patokan utama atas hasil audit yang berkualitas. Walaupun memang lamanya masa perikatan audit, terkadang akan membuat tingkat independensi auditor berkurang. Di mana hal tersebut diduga akan berpengaruh terhadap kualitas audit. Padahal, di dalam Teori Keagenan, pihak KAP dianggap sebagai pihak ketiga yang seharusnya bertugas sebagai pihak penengah untuk memahami masalah yang sebenarnya terjadi, di antara manajemen perusahaan dan pemegang saham.

Namun sekali lagi, melalui hasil pengujian logistik ini atas sebaran data di sampel perusahaan manufaktur sub-sektor semen, keramik dan porselen, logam dan kimia, ternyata tidak mempengaruhi kualitas audit, di mana jika kedua aspek yang juga melekat pada seorang auditor yakni independensi dan kompetensi sama-sama kuat maka tidak akan berpengaruh terhadap kualitas audit yang dihasilkan, walaupun perusahaan belum menerapkan kebijakan rotasi KAP. Perlu ditambahkan bahwa melalui keputusan dari Menteri Keuangan dalam Nomor 57/PMK.01/2006 tentang Jasa Akuntan Publik meminta agar pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling lama 4 (empat) tahun buku berturut-turut.

iv.     Untuk variabel penelitian yang ke-empat yakni ukuran perusahaan memiliki tingkat signifikan 0.891 yang di mana nilainya lebih dari 0.05 sehingga ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas audit. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Darsonno Yavina Nugrahanti, 2014; Hasanah & Putri, 2018) yang juga menjelaskan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit.

Menurut Teori Keagenan, perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan semua pekerjaan dan keputusan yang dibuat untuk menjalani manajemen perusahaan dengan baik. Dengan memiliki total asset yang tinggi maka dapat menunjukan bahwa perusahaan tersebut memiliki manajemen yang lebih baik dalam mengelola dan menjalankan pengendalian internal mereka.

 

Kesimpulan

Dapat disimpulkan melalui hasil pengujian data yang sudah diteliti bahwa:

Biaya audit memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas audit, di mana biaya audit yang terlalu kecil diemban oleh Kantor Akuntan Publik maka akan berpotensi buruk dengan memicu pelanggaran terhadap kode etik auditor, sehingga akan berdampak kurang baik terhadap laporan keuangan yang disajikan, sekaligus juga kualitas dari proses audit yang dijalankan.

Kepemilikan asing tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit yang menunjukan bahwa ada atau tidak adanya saham yang dipegang oleh pihak asing, belum mampu mendorong perusahaan untuk meningkatkan akuntabilitas dalam penyusunan laporan keuangan serta penerapan standar operasional prosedur pada perusahaan.

Rotasi KAP dinilai juga tidak memiliki pengaruh terhadap kualitas audit, sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya pergantian KAP yang diduga akan dapat menghindari permasalahan terkait independensi auditor; tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas audit.

Terakhir, ukuran perusahaan yang juga tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Hasil ini menunjukan bahwa total dari aset perusahaan tidak memberikan gambaran atas kualitas dari sebuah proses audit yang sedang dijalankan. Baik atau buruknya pihak internal perusahaan dalam mengelola aset perusahaan tidak memiliki hubungan dengan kualitas audit yang dihasilkan.

 

BIBLIOGRAFI

Alhadab, M. (2018). Abnormal audit fees and accrual and real earnings management: evidence from UK. Journal of Financial Reporting and Accounting. Google Scholar

 

Andriani, N., & Nursiam, N. (2018). Pengaruh Fee Audit, Audit Tenure, Rotasi Audit dan Reputasi Auditor Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2015). Riset Akuntansi Dan Keuangan Indonesia, 3(1), 29–39. Google Scholar

 

Berikang, A., Kalangi, L., & Wokas, H. (2018). Pengaruh Ukuran Perusahaan Klien Dan Rotasi Audit Terhadap Kualitas Audit Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2015. Going Concern: Jurnal Riset Akuntansi, 13(03). Google Scholar

 

Darmaningtyas, S. (2018). Pengaruh Fee Audit, Audit Tenure, Rotasi KAP dan Ukuran Perusahaan Klien Terhadap Kualitas Audit (Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2016).

 

Ganesan, Y., Narayanan, R., Haron, H., & Pitchay, A. A. (2019). Does Audit Fees and Non-Audit Fees Matters in Audit Quality? KnE Social Sciences, 1074–1083. Google Scholar

 

Hai, P. T., & Quy, N. L. D. (2019). Effect of audit rotation, audit fee and auditor competence to motivation auditor and audit quality: Empirical evidence in Vietnam. Academy of Accounting and Financial Studies Journal, 23(2), 1–14. Google Scholar

 

Hasanah, A. N., & Putri, M. S. (2018). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Audit Tenure Terhadap Kualitas Audit. JAK (Jurnal Akuntansi) Kajian Ilmiah Akuntansi, 5(1), 11–21. Google Scholar

 

Hermiyetti, H., & Katlanis, E. (2017). Analisis Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Asing, dan Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Media Riset Akuntansi, 4(2), Hal-93. Google Scholar

 

Jannet Jannati Saepudin, Pupung Purnamasari, M. M. (2017). Pengaruh Karakteristik Komite Audit Terhadap Kualitas Audit (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia). Jurnal Akuntansi Universitas Pamulang, 2, 113–145.

 

Khasharmeh, H., & Joseph, N. (2017). Does ownership structure affects audit quality: Evidence from Bahrain. Global Journal of Accounting, Economics and Finance, 4(3), 92–100. Google Scholar

 

Onaolapo, A. R., Ajulo, O. B., & Onifade, H. O. (2017). Impact of Audit Fees on Audit Quality: Evidence from Cement Manufacturing Companies in Nigeria. Journal of Financial Economics, 5(1), 157–185. Google Scholar

 

Pemerintah Indonesia. (2006). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57/PMK.01/2006 Tentang Perubahan Penyebutan Direktur Jenderal Keuangan, Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan, Direktur Pembinaan Akuntam dan Jasa Penilai, dan Direktorat Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai dalam Keputusan Menteri Keuangan yang mengatur Jasa Akuntan Publik dan Penilai. Menteri Keuangan Republik Indonesia. Jakarta

 

Ramadhan, I. N. & Laksito, H. (2018). Pengaruh Reputasi Kantor Akuntan Publik, Audit Tenure, dan Biaya Audit terhadap Kualitas Audit. Diponegoro Journal of Accounting, 7, 1–13 Google Scholar

 

Sumantaningrum, Y. L., & Kiswara, E. (2017). Pengaruh struktur kepemilikan terhadap kualitas audit dengan variabel moderasi imbalan audit. Diponegoro Journal of Accounting, 6(3), 111–123. Google Scholar

 

Yavina Nugrahanti, Darsono. (2014). Pengaruh Audit Tenure, Spesialisasi Kantor Akuntan Publik dan Ukuran Perusahaan terhadap Kualitas Audit. Diponegoro Journal of Accounting, 3, 1–9 Google Scholar

 


 




Copyright holder :

Arum Puji Lestari, Theresia Hesti Bwarleling (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: