Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3, No. 2, Februari 2022

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

UJI KEMAHIRAN BERBAHASA INDONESIA (UKBI) ADAPTIF BAGI SISWA KELAS XI DI SMA MTA SURAKARTA: ANALISIS ISI

 

Abdul Wahid, Kasno Atmo Sukarta, Tadjuddin Nur

Universitas Nasional, Jakarta, Indonesia

Email: [email protected], [email protected], [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

1 Februari 2022

Direvisi

12 Februari 2022

Disetujui

21 Februari 2022

Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia adalah sarana untuk mengukur kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia lisan dan tulis. UKBI terdiri atas lima seksi, yaitu Seksi I (Mendengarkan), Seksi II (Merespons Kaidah), dan Seksi III (Membaca) dalam bentuk pilihan ganda, serta Seksi IV (Menulis) dalam bentuk presentasi tulis dan Seksi V (Berbicara) dalam bentuk presentasi lisan. Di masa pandemi Covid-19 saat ini, pelaksanaan UKBI tidak bisa digelar secara luring dan massal dalam satu tempat. UKBI Adaptif merupakan tes untuk mengukur kemahiran berbahasa penutur bahasa Indonesia yang merupakan hal yang baru bagi peserta didik di SMA MTA Surakarta sehingga perlu untuk disosialisasikan dan diujikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penguasaan bahasa Indonesia siswa kelas XI di SMA MTA Surakarta. Metode deskriptif dan kuantitatif digunakan dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar peserta memperoleh nilai antara 500-700 yang berarti kemampuan mereka berada di kategori unggul dan sangat unggul. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UKBI merupakan alat uji yang dapat digunakan untuk mengukur penguasaan bahasa Indonesia serta penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh siswa.

 

ABSTRACT

Indonesian Language Proficiency Test is a means to measure a person's proficiency in spoken and written Indonesian. UKBI consists of five sections, namely Section I (Listening), Section II (Responding to Rules), and Section III (Reading) in the form of multiple-choice, as well as Section IV (Writing) in the form of written presentations and Section V (Speaking) in the form of oral presentations. During the current Covid-19 pandemic, UKBI cannot be held offline and in bulk in one place. UKBI Adaptive is a test to measure the language proficiency of Indonesian speakers, which is a new thing for students at SMA MTA Surakarta. Thus it needs to be socialized and tested. This study aimed to determine the mastery of the Indonesian language of class XI students at SMA MTA Surakarta. Descriptive and quantitative methods were used in the research. The results showed that most of the participants scored between 500-700, which means their abilities were in the special and very superior categories. Thus, it can be said that UKBI is a test tool that can be used to measure the mastery of the Indonesian language and the use of good and correct Indonesian by students.

Kata Kunci:

Uji kemahiran berbahasa Indonesia; UKBI; UKBI adaptif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Indonesian language proficiency test; UKBI; Adaptive UKBI

 


Pendahuluan

Secara umum, bahasa adalah alat komunikasi yang dimiliki oleh manusia. Baik berupa sistem lambang bunyi yang berasal dari alat ucap atau mulut manusia. Maupun sistem lambang ditulis yang dibuat oleh manusia. Pendapat mengenai pengertian bahasa ini diperkuat oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang mengartikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbriter, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Sedangkan menurut (Kridalaksana, 2001) Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi antar manusia. Bahasa sebagai alat perantara antar anggota masyarakat dalam satu kelompok dan alat interaksi secara individu maupun kelompok. Singkat kata bahasa adalah alat komunikasi (Tarigan & Tarigan, 1987).

Tiap individu memiliki keterampilan yang berbeda-beda dalam berbahasa (Abdul & Leonie, 2010). Oleh karena itu, perlu adanya alat ukur untuk mengetahui kemahiran seseorang dalam berbahasa. Sebagai alat untuk mengetahui kemahiran seseorang dalam berbahasa, beberapa negara telah membuat ujian khusus kebahasaan. Tolok ukur tersebut antara lain TOEFL (Test of English as a Foreign Language) digunakan untuk menguji kemampuan berbahasa Inggris (Fitria & Prastiwi, 2020). HSK (Hanyu Shuiping Kaoshi) digunakan untuk menguji kemampuan berbahasa Mandarin, JLPT (Japanese Language Proficiency Test) digunakan untuk menguji kemampuan berbahasa Jepang, TOPIK (Test of Proficiency in Korean) digunakan untuk menguji kemampuan berbahasa Korea, DELF (Dipl�me d'�tudes en langue fran�aise) digunakan untuk menguji kemampuan bahasa Perancis, dan TestDaf (Test Deutsch als Fremdsprache) digunakan untuk menguji kemampuan berbahasa Jerman (Gajewski, 2018). Hasil dari uji kemahiran berbahasa ini bahkan ada yang digunakan sebagai syarat mendaftar di perguruan tinggi hingga melamar pekerjaan.

Serupa dengan beberapa tes kemahiran berbahasa di atas, pemerintah Republik Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memiliki tes khusus untuk menguji kemampuan seseorang dalam berbahasa Indonesia (Alwi et al., 2013). Tes itu bernama Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). Tes UKBI ini diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan baik di tingkat pusat (Jakarta) maupun di daerah yang diselenggarakan oleh balai bahasa atau kantor bahasa yang berada tingkat provinsi (Maryanto, 2007). Pelaksanaan UKBI telah diatur dalam Keputusan Mendiknas No. 152/U/2003, kemudian dikuatkan dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 70 Tahun 2016 tentang Standar Kemahiran Berbahasa Indonesia.

Di masa pandemi Covid-19, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyempurkan tes UKBI yang biasa dilaksanakan secara konvensional, yakni dikerjakan secara luar jaringan (luring), menjadi UKBI Adaptif yang dapat dikerjakan secara dalam jaringan (daring). Tes UKBI Adaptif merupakan hal yang baru bagi kalangan peserta didik di tingkat SMA. Utamanya di SMA MTA Surakarta, sehingga perlu untuk disosialisasikan dan diujikan bagi siswa kelas XI di SMA MTA Surakarta sebagai tolok ukur kemahiran berbahasa Indonesia.

Penelitian terkait UKBI menunjukan bahwa UKBI belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Penutur jati maupun penutur asing sebagai sertifikat pendamping kelulusan, sebagai prasyarat sertifikasi profesi, sebagai syarat warga negara asing yang belajar, sedang, atau akan bekerja di Indonesia (Rachman & Damaianti, 2019). Selain itu, mayoritas� dosen� dan� karyawan� pada� awalnya� belum� tahu� bahwa� bahasa Indonesia� memiliki� tes� standar� yang� dapat� mengukur� kemahiran� berbahasa� Indonesia. Setelah melaksanakan sosialisasi� dan� pelatihan,� didapatkan� data� bahwa� 92%� peserta� yang� mengisi� survei berminat mengikuti tes UKBI adaptif (Pratama, 2021). Padahal tes kemahiran berbahasa Indonesia diperlukan oleh para pemelajar asing yang bertujuan akademik (Kusmiatun, 2019).

 

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif (Nazir, 2014). (F.L, 1960), metode deskripsi adalah upaya menemukan fakta-fakta dengan interpretasi yang benar. Tujuan dari metode deskriptif adalah untuk membuat gambaran tentang fakta, ciri-ciri, dan hubungan antara fenomena yang diteliti, suatu gambaran yang sistematis, faktual dan akurat. Selain itu, peneliti juga menggunakan metode kuantitatif dalam penelitian ini.

Dalam penelitian kuantitatif, masalah yang dibawa peneliti harus sudah jelas, diidentifikasi, dibatasi, kemudian dirumuskan (Gani & Amalia, 2015). Rumusan masalah biasanya berisi pertanyaan. Dengan adanya pertanyaan ini, maka peneliti akan terpandu untuk melakukan kegiatan penelitian. Kemudian jawaban sementara terhadap rumusan masalah tersebut dinamakan sebagai hipotesis.

Hipotesis akan dibuktikan kebenarannya secara empiris berdasarkan data dari lapangan yang telah dianalisis. Di bagian analisis, pembahasan diarahkan untuk menjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan. Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat menggunakan tabel, tabel distribusi frekuensi, grafik garis, grafik batang, piechart (diagram lingkaran), dan pictogram. Pembahasan terhadap hasil penelitian merupakan penjelasan yang mendalam dan interpretasi terhadap data-data yang telah disajikan (Endra, 2017).

Setelah hasil penelitian diberikan pembahasan, selanjutnya dapat disimpulkan. Kesimpulan berisi jawaban singkat dari rumusan masalah berdasarkan data yang ada. Jadi kalau rumusan masalah ada lima, maka kesimpulannya juga ada lima. Karena peneliti melakukan penelitian bertujuan untuk memecahkan masalah, maka peneliti berkewajiban untuk memeberikan saran. Melalui saran-saran tersebut diharapkan masalah dapat dipecahkan berdasarkan kesimpulan hasil penelitian.

 

Hasil dan Pembahasan

A.     Hasil Penelitian

Penguasaan kemahiran berbahasa merupakan hal yang penting di era modern. Terlebih bagi kalangan pelajar. Merespon hal ini, pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah mengembangkan suatu metode pengukuran kemahiran berbahasa yang disebut dengan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).

Di masa pandemi Covid-19, tes UKBI yang biasa dilaksanakan secara konvensional, yakni dikerjakan secara luar jaringan (luring). Kemudian disempurnakan menjadi UKBI Adaptif yang dapat dikerjakan secara dalam jaringan (daring). Hal ini memudahkan peserta tes UKBI Adaptif untuk mengerjakan tes ini dari mana saja. Tidak terbatas tempat.

Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dikalangan pelajar masih kurang, khususnya pada saat pembelajaran bahasa Indonesia, hal ini disebabkan karena kurangnya kosakata Bahasa Indonesia yang dimiliki anak, kebiasaan siswa menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari masih terbawa ke dalam proses pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut, siswa perlu dibiasakan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar saat pembelajaran. Siswa harus lebih banyak membuka kamus Bahasa Indonesia untuk mempelajari kosakata Bahasa Indonesia agar dapat menggunakan pilihan kata yang tepat. Selain itu untuk melatih kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia, alangkah baiknya bila siswa banyak mendengarkan berita-berita dan pidato-pidato berbahasa Indonesia sehingga telinga anak terbiasa mendengar lafal-lafal yang tepat dalam Bahasa Indonesia.

Dalam bahasa tulis, masih banyak siswa yang tidak memahami tentang ejaan, misalnya penggunaan paragraf dan lain-lain. Belum lagi masalah bahasa tulis yang masih terbawa bahasa lisan yang merupakan bahasa daerah. Kesalahan dalam bahasa tulis seperti penggunaan tanda baca, huruf besar, paragraf, dan lain-lain disebabkan karena siswa kurang mengetahui kaidah-kaidah yang benar. Oleh karena itu, penggunaan bahasa tulis yang benar perlu diajarkan pada siswa sejak dini, selagi siswa masih kecil dan ingatannya masih bagus sehingga tertanam kemampuan menulis yang sesuai dengan pedoman ejaan bahasa Indonesia pada diri anak, dan menjadi kebiasaan yang baik hingga anak dewasa, jangan sekali-kali guru membiarkan saja siswa yang melakukan kesalahan dalam bahasa tulis, guru perlu mengingatkan siswa dan menyuruh siswa memperbaikinya.

B.      Pembahasan

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai hasil siswa kelas XI di SMA MTA Surakarta yang mengerjakan UKBI Adaptif pada Senin, 1 November 2021. Nilai hasil UKBI Adaptif diperoleh dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Pencapaian hasil tes peserta uji diklasifikasikan dan dijelaskan ke dalam tujuh peringkat serta predikat. Ketujuh peringkat dan predikat tersebut ditentukan berdasarkan rentang skor yang ditetapkan dalam tes UKBI Adaptif. Nilai yang didapat lima seksi, yaitu Seksi I (Mendengarkan), Seksi II (Merespons Kaidah), dan Seksi III (Membaca) dalam bentuk pilihan ganda, serta Seksi IV (Menulis) (Hemdi, 2017). Pemeringkatan hasil UKBI Adaptif ditunjukkan dalam penjelasan berikut ini:

Peringkat I (Istimewa): Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang sempurna dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Bahkan, dalam berkomunikasi untuk keperluan keilmuan yang kompleks pun, yang bersangkutan tidak mengalami kendala.

Peringkat II (Sangat Unggul): Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang sangat tinggi dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan keilmuan yang kompleks, yang bersangkutan masih mengalami kendala, tetapi tidak untuk keperluan yang lain.

Peringkat III (Unggul): Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang tinggi dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan keilmuan dan keprofesian yang kompleks, yang bersangkutan masih mengalami kendala.

Peringkat IV (Madya): Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan keprofesian yang kompleks, yang bersangkutan masih mengalami kendala. Kendala tersebut semakin besar jika untuk keperluan keilmuan.

Peringkat V (Semenjana): Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan keilmuan, yang bersangkutan sangat terkendala. Untuk keperluan keprofesian dan kemasyarakatan yang kompleks, yang bersangkutan masih mengalami kendala, tetapi tidak terkendala untuk keprofesian dan kemasyarakatan yang tidak kompleks.

Peringkat VI (Marginal): Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang tidak memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan kemasyarakatan yang tidak kompleks, termasuk keperluan kesintasan, yang bersangkutan tidak mengalami kendala. Akan tetapi, untuk keperluan kemasyarakatan yang kompleks, yang bersangkutan masih mengalami kendala. Hal ini berarti yang bersangkutan belum siap berkomunikasi untuk keperluan keprofesian, apalagi untuk keperluan keilmuan.

Peringkat VII (Terbatas): Predikat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang sangat tidak memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dengan kemahiran ini, yang bersangkutan hanya siap berkomunikasi untuk keperluan kesintasan. Pada saat yang sama, predikat ini menggambarkan potensi yang bersangkutan dalam berkomunikasi masih sangat besar kemungkinannya untuk ditingkatkan.

Dari tiga puluh enam orang siswa kelas XI SMA MTA Surakarta yang mengikuti pengujian UKBI pada Senin, 1 November 2021pukul: 13.00 � 15.00 WIB ini, diperoleh data sebagai berikut:

a.   Tidak seorang pun (0%) yang memperoleh predikat Istimewa.

b.  Enam siswa (17%) memperoleh predikat Sangat Unggul kisaran nilai 641-724.

c.   15 siswa (41%) memperoleh predikat Unggul dengan kisaran nilai 578-640.

d.  10 siswa (28%) memperoleh predikat Madya dengan kisaran nilai 482-577.

e.   Lima siswa (14%) memperoleh predikat Semenjana kisaran nilai 405-481.

f.   Tidak seorang pun (0%) siswa memperoleh predikat Marginal dan Terbatas.

Berdasarkan hasil tes UKBI Adaptif yang diikuti oleh siswa kelas XI SMA MTA Surakarta di atas, kita bisa melihat data bila tidak ada siswa yang mendapatkan peredikat Istimewa, Marginal, dan Terbatas. Predikat yang banyak diperoleh siswa adalah predikat Unggul dengan 15 siswa yang mendapatkannya. Hampir setengah dari populasi siswa yang mengikuti tes UKBI Adaptif. Hal ini menunjukkan bila siswa kelas XI di SMA MTA Surakarta telah memiliki kemahiran dalam kategori bagus. Selain itu, ada pula enam siswa yang mendapatkan predikat Sangat Unggul.

Kemudian ada 10 siswa yang memperoleh predikat Madya dan lima siswa yang memperoleh predikat Semenjana. Bagi siswa yang memperoleh peringkat ini perlu dibimbing oleh guru, terutama guru mata pelajaran Bahasa Indonesia agar mereka mampu memiliki kemahiran berbahasa Indonesia yang lebih baik lagi. Salah satu langkahnya adalah dengan mengiatkan aktivitas membaca buku bagi mereka.

 

Kesimpulan

Banyaknya kalangan pelajar menggunakan bahasa Indonesia yang menyimpang adalah akibat buruk dari kemajuan teknologi tanpa diimbangi dengan budaya literasi yang tinggi. Pelajar sebagai generasi penerus bangsa dituntut untuk mampu menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia.

Peran pendidik terutama guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sangatlah besar dalam penggunaan bahasa Indonesia dikalangan pelajar. Dengan adanya pengajaran dan contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar oleh guru akan meningkatkan kesadaran siswa untuk mencintai dan menggunakan bahasa Indonesia. Terutama pada siswa di jenjang pendidikan SMA.

Hasil tes UKBI Adaptif bagi siswa kelas XI di SMA MTA Surakarta menunjukkan data bila rata-rata predikat yang mereka peroleh adalah Unggul dengan 15 siswa yang mendapatkannya. Kemudian masih ada 10 siswa yang memperoleh predikat Madya dan lima siswa yang memperoleh predikat Semenjana. Kelima belas siswa ini memerlukan pendampingan dari guru tertutama guru mata pelajaran bahasa Indonesia agar mereka memiliki kemahiran berbahasa Indonesia yang lebih baik lagi.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kemahiran berbahasa Indonesia pada siswa kelas XI di SMA MTA Surakarta antara lain:

Mengiatkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Langkah harus segera dilakukan agar lingkungan sekolah terkondisikan dengan sebuah budaya. Utamanya budaya untuk gemar membaca, berdiskusi, dan menulis.

Mengenalkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran yang sangat penting untuk membangun pribadi calon penerus bangsa. Pengenalan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di sekolah mempunyai peran yang sangat penting guna mempertahankan eksistensi dari bahasa Indonesia.

Pengembangan kemahiran berbahasa Indonesia khususnya bagi guru bahasa Indonesia. Guru sebagai pendidik perlu diberikan pelatihan untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang baik kepada peserta didik sesuai dengan minat dan bakat. Selain itu, pendidik juga harus mampu membangkitkan semangat peserta didik untuk mencintai bahasa Indonesia. Salah satunya dengan membuatkan siswa tugas, baik lisan (berbicara) maupun tertulis (menulis), yang sesuai dengan kaidah kebahasaan.

 

BIBLIOGRAFI

Abdul, C., & Leonie, A. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta. Google Scholar

 

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2013). Tata bahasa baku bahasa Indonesia. Google Scholar

 

Endra, F. (2017). Pengantar Metodologi Penelitian (Statistika Praktis)(Pertama). Zifatama Jawara. Google Scholar

 

F. L. W. (1960). The Elements of Research. Overseas Book Co.

 

Fitria, T. N., & Prastiwi, I. E. (2020). Pelatihan tes Toefl (Test of English Foreign Language) untuk siswa SMK/SMA, mahasiswa, dosen dan umum. Budimas: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(2). Google Scholar

 

Gajewski, D. M. (2018). Evaluasi Program Pengajaran Bipa− Suatu Perspektif Pelajar Asing. Seminar Nasional SAGA# 3 (Sastra, Pedagogik, Dan Bahasa), 1(1), 327�334. Google Scholar

 

Gani, I., & Amalia, S. (2015). Alat Analisis Data: Aplikasi Statistik untuk Penelituan Bidang Ekonomi dan Sosial. Penerbit Andi. Google Scholar

 

Hemdi, Y. (2017). Keunggulan Ukbi Dibandingkan Dengan Tes Berbahasa Lainnya. Kemahiran Berbahasa Indonesia, 299. Google Scholar

 

Kridalaksana, H. (2001). Kamus Linguistik edisi ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Google Scholar

 

Kusmiatun, A. (2019). Pentingnya Tes Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi Pemelajar BIPA Bertujuan Akademik. Diksi, 27(1), 8�13. Google Scholar

 

Maryanto. (2007). Tes UKBI dan Pengajaran BIPA. Pusat Bahasa.

 

Nazir, M. (2014). Metode Penelitian Cet. 9. Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor.

 

Pratama, P. M. (2021). Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia melalui Program Klinik Bahasa UKBI Adaptif. Biormatika: Jurnal Ilmiah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, 7(2), 160�167. Google Scholar

 

Rachman, R. S., & Damaianti, V. S. (2019). Evaluasi Implementasi Kebijakan Uji Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI). Seminar Internasional Riksa Bahasa. Google Scholar

 

Tarigan, H. G., & Tarigan, J. (1987). Teknik pengajaran keterampilan berbahasa. Angkasa, Bandung. Google Scholar

 



Copyright holder:

Abdul Wahid, Kasno Atmo Sukarta, Tadjuddin Nur (2022)

 

First publication right:

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: