|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 3, No. 2, Februari 2022 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
Najla Tiara Umah, Rudi Cahyono
Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia ����������
Email: [email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 3 Februari �2022 Direvisi 12 Februari� 2022 Disetujui 21 Februari� 2022 |
Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bagi siswa pendidikan dasar memiliki tantangan tersendiri dalam pelaksanaannya, terlebih kasus penyebaran virus COVID-19 di jenjang pendidikan dasar yang cukup tinggi. Keterlibatan orang tua sangat berperan dalam mempersiapkan adaptasi anak sekolah dasar menghadapi PTM. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran keterlibatan orang tua penyintas COVID-19 dalam mempersiapkan adaptasi anak sekolah dasar pada pembelajaran tatap muka dengan melihat bagaimana bentuk keterlibatan serta faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan tiga subjek penelitian menunjukkan keterlibatan di rumah dengan memberi edukasi mengenai bahaya virus COVID-19 dengan cara mengaitkan pengalaman sebelumnya, memperhatikan aspek kesehatan keluarga, dan berkomunikasi lebih intens kepada anak. Keterlibatan di sekolah ditunjukkan dengan menghadiri pertemuan wali murid, memberikan saran kepada sekolah terkait persiapan PTM di sekolah, memastikan kesiapan sekolah dengan mendatangi sekolah secara langsung, dan berkomunikasi dengan pihak sekolah. Faktor yang mempengaruhi ialah keyakinan orang tua yang didasarkan pada pengalaman terjangkit COVID-19 seperti rasa khawatir berlebih, pemahaman peran sebagai orang tua, dan keyakinan dapat membantu anak. Faktor lain yaitu persepsi orang tua dari lingkungan sekitarnya seperti dari sekolah berupa adanya regulasi khusus pelaksanaan PTM, sarana prasarana penunjang protokol kesehatan, pemberian sosialisasi vaksinasi, dan dukungan guru maupun orang tua sesama penyintas.
ABSTRACT Face-to-face Learning (PTM) for basic education students has its challenges in its implementation, especially the case of the spread of the COVID-19 virus at the level of basic education, which is quite high. The involvement of parents plays a very important role in preparing elementary school children's adaptation to face PTM. This study aims to describe the involvement of parents of COVID-19 survivors in preparing for the adaptation of elementary school children to face-to-face learning by looking at the form of involvement and the factors that influence it. This research uses a qualitative approach with a case study method. The results showed that three research subjects showed involvement at home by providing education about the dangers of the COVID-19 virus by linking previous experiences, paying attention to aspects of family health, and communicating more intensely with children. Involvement in schools is demonstrated by attending parent meetings, providing advice to schools regarding PTM preparation, ensuring school readiness by visiting schools directly, and communicating with schools. The influencing factor is the belief of parents based on the experience of contracting COVID-19, such as excessive worry, understanding of the role of parents, and the belief that they can help children. Another factor is the perception of parents from the surrounding environment, such as from schools in the form of special regulations for the implementation of PTM, the infrastructure supporting health protocols, providing vaccination socialization, and support from teachers and parents of fellow survivors. |
|
Kata Kunci: Keterlibatan orang tua; penyintas COVID-19, adaptasi; pembelajaran tatap muka
Keywords: Parental iInvolvement; COVID-19 survivor; adaptation; face to face learning |
Pendahuluan
Pada akhir tahun 2019, wabah virus atau coronavirus disease 2019 atau yang biasa disebut dengan Covid-19 telah mengubah tatanan berbagai aspek kehidupan termasuk bidang pendidikan. Covid-19 menimbulkan dampak bagi bidang pendidikan ditunjukkan dengan penutupan sekolah untuk sementara waktu sebagai upaya pencegahan penyebaran virus yang lebih luas. Menurut Godin (2020) akibat dari pandemi virus corona di bidang pendidikan ialah adanya penutupan sekolah di 186 negara sebanyak 60% serta sejumlah siswa harus tetap berada di rumah. Penutupan sekolah sebagai respon pencegahan penyebaran virus justru menimbulkan permasalahan baru terutama bagi anak sekolah. Penelitian yang dilakukan oleh (Marchant et al., 2021) menyatakan bahwa dampak dari adanya penutupan sekolah menimbulkan kesenjangan bagi siswa, berdampak pada kesehatan fisik maupun mental siswa, perkembangan siswa, hingga sosial ekonomi.
Dampak penutupan sekolah juga disampaikan oleh UNESCO (dalam Kemendikbud, 2020) yang menyatakan bahwa diberlakukannya penutupan sekolah di masa pandemi memunculkan �pembelajaran yang terputus� pada anak. Pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh memungkinkan pelajar mendapatkan keterampilan dan pengetahuan yang berperan penting pada perkembangan dan pertumbuhan anak, namun adanya gangguan situasi pandemi yang saat ini terjadi membuat proses pembelajaran berjalan tidak semestinya. Akibatnya capaian belajar siswa dapat terganggu terutama bagi siswa yang tidak bisa mengakses sumber daya pendidikan secara leluasa karena keterbatasan yang dimiliki. Pernyataan tersebut senada dengan (Anggiasih, 2021) yang menyatakan bahwa anak berpotensi memperoleh kesenjangan dalam prestasi, mengalami ketertinggalan pelajaran, adanya kesenjangan akses pembelajaran dan kesenjangan fasilitas maupun kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut didapat dari hasil survei mengenai kajian cepat penutupan sekolah saat pandemi COVID-19 dan dampaknya bagi pendidikan anak di Indonesia. Berbagai dampak negatif yang muncul selama pembelajaran dilakukan di rumah membuat pemerintah mempertimbangkan berbagai kajian sebagai solusi atas permasalahan saat ini. Pada bidang pendidikan keputusan untuk sistem pembelajaran berubah dari pembelajaran jarak jauh menjadi pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi solusi yang dirasa paling baik. Kebijakan tersebut tercatut dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pendemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) (Kebudayaan, M. P. dan, Agama, M., Kesehatan, M., & Negeri, 2021). Pelaksanaan PTM berfokus pada aspek kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah. dari ketetapan kebijakan PTM tetap menitik beratkan kepada kesehatan dan keselamatan seluruh warga sekolah.
Pelaksanaan PTM yang terjadi pada semua jenjang pendidikan� tercatat bahwa penyebaran virus COVID-19 paling banyak terjadi di jenjang pendidikan dasar. Sebanyak 1.270 klaster COVID-19 baru dari sekolah yang telah melaksanakan PTM dan tingkat pendidikan dasar menempati urutan pertama yaitu sebanyak 583 sekolah atau secara presentase 46% (data survei Kemendikbudristek dalam Javier, 2021). Pelaksanaan PTM pada tingkat pendidikan dasar sudah mulai dilaksanakan oleh banyak sekolah. Namun masih terdapat sekolah yang belum dapat melaksanakan PTM. Pernyataan yang disampaikan oleh Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus dalam (Raka, 2021) menyatakan bahwa PTM di sembilan SD negeri tidak jadi dilaksanakan dengan pertimbangan sulitnya mengatur perilaku anak SD. Menurutnya karakteristik yang dimiliki siswa SD berbeda dengan siswa SMP maupun SMA sehingga dikhawatirkan akan memunculkan lebih banyak penyebaran virus di kalangan siswa. Hal tersebut senada dengan pernyataan Hardinsyah dan Supariasa dalam (Nissa & Hidayati, 2018) bahwa karakteristik anak SD ialah senang melakukan aktivitas yang berada di luar rumah, senang berkegiatan yang melibatkan fisik, serta berpotensi terjangkit penyakit dan perilaku hidup yang tidak sehat dari lingkungannya.
Berkaitan dengan akan diterapkannya pembelajaran tatap muka, orang tua perlu mempersiapkan anaknya untuk dapat beradaptasi dengan kondisi baru di sekolah. Hal tersebut dikarenakan kondisi sekolah dan proses dalam pembelajaran tatap muka akan berjalan berbeda dari sekolah biasanya. Berperilaku menerapkan protokol kesehatan saat berada di sekolah merupakan perilaku yang perlu dibiasakan. Peran orang tua dalam situasi pandemi Covid-19 ini memiliki kedudukan yang fundamental. Orang tua memiliki kewajiban dalam mendidik anak-anaknya karena pondasi pendidikan pertama bagi anak adalah keluarga itu sendiri. Menurut Maimunah dalam (Nurlaeni & Juniarti, 2017) menyatakan bahwa orang tua peran di masa awal anak sangat penting dalam membimbing sikap serta keterampilan yang mendasar, seperti menanamkan kebiasaan baik dan pemberian pendidikan agama untuk patuh terhadap aturan. Penelitian mengenai peranan orang tua mendidik anak telah dibuktikan pada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa orang tua memiliki peranan vital pada kemampuan anak dalam lingkup pendidikan. Mengajar anak-anak untuk bertanggung jawab atas keselamatan mereka sendiri adalah cara paling penting orang tua dapat mempersiapkan anak-anak mereka untuk kembali ke kelas. Anak-anak membutuhkan bantuan untuk memahami bagaimana menghadapi situasi di sekolah yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan dan keselamatan terkait dengan adaptasi persiapan kembali ke sekolah. Salah satu penelitian yang dilakukan (Pelaez & Novak, 2020) membahas masalah kecemasan yang mungkin dialami beberapa orang tua dan anak-anak mereka ketika sekolah dibuka kembali setelah masa lock down Covid-19. Penelitian tersebut memberikan saran tentang bagaimana menangani masalah keberangkatan dan perpisahan yang mungkin muncul saat orang tua mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Peranan orang tua yang sangat penting dalam mendidik anak, telah dibuktikan pada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa orang tua memiliki peranan vital pada kemampuan anak dalam bidang pendidikan. Pada penelitian yang dilakukan (Valeza, 2017) menunjukkan keterlibatan orang tua sangat besar dalam menentukan prestasi belajar siswa. Orang tua yang dapat memberikan perhatian kepada anaknya dalam proses belajar di rumah akan memberikan dampak positif pada anak seperti anak menjadi lebih bersemangat karena anak mengerti bahwa orang tuanya juga menginginkan dirinya berkembang. Hal tersebut mempengaruhi capaian belajar dan prestasi yang diraih anak menjadi lebih baik.
Terkait dengan penelitian mengenai peran orang tua dalam mendampingi anak di masa pandemi yang ditulis oleh (Kurniati et al., 2020) menunjukkan bahwa secara umum peran orang tua yang muncul selama pandemi covid-19 adalah sebagai pembimbing, pendidik, penjaga, pengembang dan pengawas dan secara spesifik menunjukkan bahwa peran orang tua adalah melakukan kegiatan bersama selama di rumah, menjaga dan memastikan anak untuk menerapkan hidup bersih dan sehat, menciptakan lingkungan yang nyaman untuk anak, menjalin komunikasi yang intens dengan anak, mendampingi anak dalam mengerjakan tugas sekolah, menafkahi dan memenuhi kebutuhan keluarga, bermain bersama anak, menjadi role model bagi anak, memberikan pengawasan pada anggota keluarga, membimbing dan memotivasi anak, memberikan edukasi, memelihara nilai keagamaan, serta melakukan variasi dan inovasi kegiatan di rumah. Terdapat peneltian yang menjelaskan mengenai kecemasan yang mungkin dialami anak sekolah dan orang tua ketika sekolah dibuka kembali. Penelitian dilakukan oleh (Pelaez & Novak, 2020) menunjukkan bahwa banyak orang tua tidak yakin tentang bagaimana menangani kecemasan atau ketakutan saat anak-anak mereka kembali ke sekolah atau harus mengunjungi lingkungan lain di luar rumah mereka. Keluarga banyak menghabiskan waktu di rumah yang akhirnya menciptakan rutinitas baru yang berbeda dengan sebelum pandemi berlangsung. Hal tersebut membuat banyak keluarga yang mulai menyesuaikan diri dengan pola kebiasaan baru.
Situasi pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini dan berbagai kebijakan pemerintah yang terus dilakukan membuat orang tua harus terus melakukan upaya-upaya pendampingan bagi anak. Pada orang tua penyintas COVID-19 terdapat tantangan tersendiri dalam proses pendampingan belajar anak. Orang tua penyintas COVID-19 berpotensi untuk memiliki gejala long-covid yang dapat berlangsung dalam jangka waktu cukup lama. Menurut penelitian Lahav (2020) saat seseorang harus hidup di bawah kondisi paparan yang berkelanjutan terhadap peristiwa traumatis akan menimbulkan rasa ketidakpastian yang konstan, serta kewaspadaan dan kesiapsiagaan yang konstan. Kondisi long-covid, perasaan khawatir berlebih, maupun paparan informasi-informasi terkait varian virus baru maupun penyebaran virus yang saat ini terjadi harus dihadapi oleh para orang tua penyintas COVID-19 dimana hal tersebut bisa saja menimbulkan rasa tidak nyaman atau kondisi tertekan bagi orang tua.
Penelitian yang dilakukan di China menunjukkan bahwa para penyintas COVID-19 kerap memiliki gangguan mental yang menyertai seperti depresi, ansietas, insomnia, dan PTSD (Ma et al., 2020).
Stres traumatis yang terus menghampiri secara berulang dapat merusak kemampuan seseorang untuk mempertahankan rutinitas yang stabil dan dapat menciptakan rasa terancam, kerentanan, kecemasan, kebingungan, ketidakpastian, dan ketidakberdayaan Zimbardo dalam (Lahav, 2020). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dampak yang dialami individu yang sebelumnya pernah terpapar peristiwa traumatis akan memiliki tingkat kecemasan, depresi, dan gejala stres peritraumatik yang lebih tinggi terkait dengan COVID-19, dibandingkan dengan individu yang sebelumnya tidak pernah terpapar peristiwa traumatis (Lahav, 2020). Masalah yang terjadi selama situasi darurat yang dapat menyebabkan ketakutan, kecemasan dan stres (Susilowati et al., 2021). Semua orang akan mengalami kecemasan, kekhawatiran, dan pikiran tertekan dari waktu ke waktu, tetapi mereka berbeda dalam seberapa baik mereka mampu menangani pikiran-pikiran ini. Sementara beberapa orang berhasil mengatasi pemikiran negatif, yang lain mungkin menggunakan strategi yang tidak efektif yang bahkan memicu rangkaian pemikiran negatif lebih lanjut (Muris, 2002).
Xu dan Fille (2008) menyatakan bahwa keterlibatan orang tua akan berjalan terus menerus secara dinamis dan selalu berubah tergantung pada interaksi, disiplin, sumber daya yang digunakan orang tua dan kebutuhan anak serta keluarga. Oleh karena itu keterlibatan orangtua dalam mempersiapkan anak kembali ke sekolah harus benar-benar sudah disiapkan secara matang agar anak mampu menghadapi masa sekolah di masa pandemi dengan baik. Terlebih bagi orang tua penyintas COVID-19 dimana orang penyintas COVID-19 memiliki dinamika psikologis yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu. Sementara itu penelitian yang terkait dengan keterlibatan orang tua yang spesifik pada penyintas COVID-19 dalam konteks mempersiapkan adaptasi anak sekolah dasar pada pembelajaran tatap muka masih terbatas. Penelitian ini penting dilakukan melihat orang tua merupakan figur yang memiliki peran penting dalam kehidupan anak. Orang tua mampu membantu anak menjadi lebih baik dalam beberapa kondisi yang mendukung aspek perkembangan dan pendidikan anak. Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian dalam penelitian dilakukan untuk mengetahui bagaimana keterlibatan orang tua penyintas COVID-19 dalam mempersiapkan adaptasi anak sekolah dasar pada pembelajaran tatap muka dengan melihat faktor apa saja yang mempengaruhi dan bagaimana bentuk keterlibatannya.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian studi kasus (Sugiyono, 2019). Penggalian data dilakukan dengan metode wawancara. Pada penelitian ini menggunakan metode wawancara informal dan wawancara dengan pedoman umum. Partisipan dalam penelitian ini ialah orang tua penyintas COVID-19 yang memiliki anak di tingkat pendidikan dasar yang sebelumnya melakukan pembelajaran daring menjadi pembelajaran tatap muka. Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah tiga orang yaitu dua orang ayah dan satu orang ibu. Rata-rata usia partisipan berkisar antara 35-50 tahun dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Hasil dan Pembahasan
Keterlibatan orang tua dalam penelitian ini dianalisis menggunakan teori proses keterlibatan orang tua milik (Hoover-Dempsey & Sandler, 1997) dimana terdapat lima level dalam prosesnya. Level pertama mengungkap mengenai alasan orang tua untuk memutuskan terlibat dalam proses pendidikan anak, level kedua membahas mengenai bentuk keterlibatan orang tua, level ketiga dan keempat membahas mengenai mekanisme dan persepsi anak tentang keterlibatan orang tua, serta level kelima menguji keseluruhan tingkatan. Penelitian ini menghasilkan temuan mengenai faktor yang mempengaruhi serta bentuk keterlibatan orang tua penyintas COVID-19 dalam mempersiapkan adaptasi anak sekolah dasar pada pembelajaran tatap muka. Motivasi orang tua penyintas COVID-19 untuk terlibat dalam persiapan adaptasi anak berasal dari motivasi keyakinan orang tua, persepsi ajakan keterlibatan dari orang lain, serta konteks kehidupan orang tua. Motivasi keyakinan orang tua meliputi pemahaman peran sebagai orang tua salah satunya pada subjek pertama yang kehilangan pasangannya sehingga harus berperan ganda sebagai ayah dan ibu. Pemahaman peran lainnya juga ditunjukkan oleh subjek ketiga sebagai ibu rumah tangga yang memanfaatkan banyak waktu luangnya untuk mendampingi proses pendidikan anak. Selain itu faktor keyakinan juga berasal dari self-efficacy yang dimiliki orang tua. Ketiga subjek yang merupakan orang tua penyintas COVID-19 memiliki hambatan dalam mempersiapkan adaptasi yang disebabkan oleh rasa khawatir berlebih, kesedihan mendalam karena kehilangan anggota keluarga, maupun rasa tidak berdaya kerena anggota keluarga terjangkit virus COVID-19. Namun subjek penelitian menunjukkan self-efficacy yang baik ditunjukkan dengan kemampuan mengatasi hambatan dengan cara mendekatkan diri kepada tuhan, sharing kepada orang terdekat maupun orang tua sesama penyintas, serta meyakini kemampuan dirinya mampu membantu anak. Subjek kedua dan ketiga memiliki self-efficacy� yang baik dalam mengatasi berbagai hambatan dan tantangan dalam proses keterlibatannya pada anak. Gejolak psikologis yang dialami subjek orang tua penyintas COVID-19 seperti perasaan khawatir saat mengizinkan anak sekolah tatap muka diatasi dengan melakukan berbagai upaya persiapan untuk meyakinkan diri bahwa anak akan beradaptasi dengan baik di sekolah. Perasaan khawatir bahwa anak akan tertular virus diatasi ketiga subjek dengan menyiapkan kemandirian anak dalam berperilaku menerapkan protokol kesehatan. Subjek meyakinka dirinya dengan melakukan upaya-upaya persiapan seperti mengedukasi anak, mengajarkan kebiasaan baru, memperhatikan kesehatan anggota keluarga di rumah, memperbarui informasi, melibatkan diri dalam kegiatan sekolah anak, serta berkoordinasi dengan sekolah terkait regulasi yang dilakukan saat PTM.
Faktor lain dalam keterlibatan orang tua penyintas COVID-19 ialah persepsi ajakan keterlibatan dari orang lain. Persepsi ini berarti bahwa keterlibatan mereka dihargai dan dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya. Pihak-pihak di lingkungan orang tua memiliki pengaruh dalam proses keterlibatan. Ketiga subjek mendapatkan dukungan dari pihak-pihak yang berada di sekitar mereka. Contohnya pihak sekolah rutin mengadakan pertemuan di sekolah pada setiap subjek. Pada subjek kedua dan ketiga, pihak sekolah memberikan pedoman khusus bagi sekolah maupun orang tua saat PTM berlangsung. Pedoman tersebut membantu subjek untuk meyakinkan dirinya mengizinkan anaknya mengikuti PTM. Peran dari guru juga dirasakan oleh subjek kedua dan ketiga dengan rutin berkomunikasi, memberikan pengingat kepada orang tua, berbagi informasi terkait perilaku anak di sekolah saat PTM, maupun memberi dukungan dan saran dalam pendampingan anak di rumah. Selain itu ajakan keterlibatan yang membangun persepsi orang tua penyintas COVID-19 dapat berasal dari anak. Permintaan anak untuk memenuhi kebutuhan terutama yang berkaitan dengan adaptasi membuat orang tua termotivasi untuk memenuhinya. Pada subjek pertama, anak meminta dibelikan vitamin dan madu kesukannya. Pada subjek kedua, anak meminta untuk dibelikan peralatan makan sendiri untuk dibawa ke sekolah. Permintaan anak tersebut membuat subjek merasa bahwa anaknya mulai menyadari perntingnya menjaga kesehatan di masa pandemi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan bahwa ajakan dari anak dapat menjadi alasan kuat dalam mendorong keterlibatan orang tua, karena orang tua umumnya ingin anak-anak mereka berhasil dan termotivasi untuk menanggapi kebutuhan anak-anak mereka (Hoover-Dempsey & Sandler, 1997). Peran orang-orang di sekitar subjek dirasa sangat membantu sehingga mempengaruhi dan memotivasi keterlibatan orang tua.
Faktor terakhir yang mempengaruhi orang tua penyintas COVID-19 untuk terlibat dalam mempersiapkan adaptasi anak ialah keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki orang tua. Subjek ketiga memiliki keterampilan berkomunikasi yang baik kepada anak dilihat dari upayanya dalam memberikan edukasi pandemi dan PTM. Subjek kedua menggunakan cara yang disukai anak seperti bermain peran menggunakan benda di sekitar. Selain itu pengetahuan yang dimiliki subjek didapat dengan cara rutin memperbarui informasi mengenai perkembangan virus maupun penyebarannya hingga informasi mengenai kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Persepsi orang tua tentang keterampilan dan pengetahuan pribadi dapat membentuk ide-ide mereka tentang jenis kegiatan keterlibatan yang mungkin mereka lakukan (Hoover-Dempsey & Sandler, 1997).
Analisa mengenai faktor yang mempengaruhi orang tua penyintas COVID-19 dapat digunakan sebagai prediktor bagaimana bentuk keterlibatan orang tua dimana pada teori (Hoover-Dempsey & Sandler, 1997) masuk ke dalam level 2. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk keterlibatan orang tua penyintas COVID-19 terbagi menjadi keterlibatan di rumah dan keterlibatan di sekolah. Ketiga subjek menunjukkan keterlibatannya di rumah dengan memberikan edukasi mengenai situasi pandemic, bahaya virus, serta mengajarkan kebiasaan-kebiasaan baru yang sesuai dengan protokol kesehatan. Persamaan dari ketiga subjek ialah menggunakan pengalaman masa lalu saat terjangkit virus COVID-19 dalam memberikan edukasi kepada anak dengan harapan anak lebih mudah memahami karena situasi nyata yang terjadi dan dekat dengan kehidupan anak. Subjek pertama mengedukasi anak mengenai bahaya virus yang tidak berakhir saat dinyatakan sembuh seperti yang ia rasakan dimana subjek saat ini mengalami gejala long-covid. Subjek kedua mengaitkan kepergian istrinya akibat virus sehingga anak merasa bahwa ia tidak ingin bernasib sama dengan ibunya. Hal tersebut membuat anak menjadi lebih mudah saat menerapkan perilaku baru seperti rutin mencuci tangan, mengonsumsi suplemen kesehatan, menjaga kesehatan, maupun menggunakan masker. Pada subjek ketiga mengedukasi anak dengan selalu mengingatkan bagaimana rasanya ketika anaknya terjangkit virus. Rasa sesak, demam, dan tidak bisa merasakan membuat anak tidak ingin kembali mengulang hal yang sama sehingga anak lebih menjaga diri agar tidak terjangkit virus kembali. Bentuk keterlibatan orang tua di rumah lainnya yaitu memperhatikan aspek kesehatan seperti menyediakan perlengkapan prokes di rumah dan menyediakan obat-obatan maupun suplemen kesehatan. Alasan subjek ketiga rutin menyiapkan perlengkapan kesehatan di rumah dikarenakan subjek khawatir akan terjadi kelangkaan seperti yang dialami saat subjek dan keluarganya terjangkit virus. Aktivitas lain yang ketiga subjek lakukan ialah rutin berkomunikasi dengan anak. Hal tersebut dikarenakan waktu pendampingan anak menjadi lebih berharga setelah peristiwa terjangkit virus sebelumnya.
Bentuk keterlibatan orang tua penyintas COVID-19 di sekolah ditunjukkan dengan menghadiri pertemuan yang diadakan sekolah, menawarkan bantuan kepada sekolah terkait kebutuhan protokol kesehatan, menjalin komunikasi dengan guru, serta memberi saran kepada pihak sekolah terkait persiapan PTM. Pada subjek pertama tidak menunjukkan keterlibatannya pada sekolah karena kesibukan yang dimiliki.
Kesimpulan
Gambaran keterlibatan orang tua penyintas COVID-19 dapat dilihat dari faktor yang mempengaruhi serta bentuk keterlibatan orang tua penyintas COVID-19 untuk terlibat dalam mempersiapkan adaptasi anak sekolah dasar pada pembelajaran tatap muka. Orang tua memutuskan untuk dapat terlibat dikarenakan oleh beberapa faktor seperti faktor motivasi keyakinan orang tua seperti pemahaman peran sebagai orang tua dan self efficacy berupa kemampuan orang tua mengatasi kesedihan mendalam, rasa khawatir berlebih, dan rasa tidak berdaya. Faktor kedua yaitu persepsi orang tua terhadap ajakan keterlibatan dari orang lain berupa adanya peran sekolah seperti mengadakan pertemuan rutin orang tua, sosialisasi dan bantuan mengenai vaksin, memberikan pedoman khusus pelaksanaan PTM bagi orang tua dan sekolah, serta penyediaan sarana penunjang dalam menerapkan protokol kesehatan di sekolah. Peran lain juga ditunjukkan oleh guru dan orang tua sesama penyintas dengan memberikan dukungan serta rutin berkomunikasi membahas perkembangan adaptasi anak saat PTM. Anak juga berperan dalam membangun persepsi orang tua yang ditunjukkan dengan permintaan anak membeli peralatan makan dan suplemen kesehatan. Sikap yang ditunjukkan oleh orang di sekitar subjek memunculkan persepsi bahwa keterlibatan mereka dihargai dan dibutuhkan. Faktor terakhir ialah faktor konteks kehidupan orang tua penyintas COVID-19 berupa keterampilan dan pengetahuan yang didapat dengan selalu memperbarui informasi mengenai penyebaran virus varian baru hingga kebijakan pemerintah di bidang pendidiakn. Hal tersebut membantu orang tua untuk memutuskan langkah apa yang selanjutnya diambil.
Bentuk keterlibatan orang tua di sekolah ditunjukkan dengan menghadiri pertemuan sekolah, memberikan saran kepada sekolah terkait persiapan PTM, mendatangi sekolah secara langsung untuk memastikan persiapan yang dilakukan sekolah, serta rutin berkomunikasi dengan pihak sekolah. Bentuk keterlibatan orang tua di rumah ditunjukkan dengan memberikan edukasi dan pengajaran kebiasaan baru dengan mengaitkan pengalaman terjangkit COVID-19 untuk memudahkan anak dalam memahami sesuatu yang abstrak, memantau perilaku penerapan prokes anak, memperhatikan kesehatan anggota keluarga dengan menyediakan stok perlengkapan protokol kesehatan di rumah. Saran untuk penelitian selanjutnya dapat membahas mengenai persepsi anak terhadap keterlibatan yang dilakukan orang tua dan hasil pencapaian pada anak dari proses keterlibatan tersebut.
Anggiasih, L. (2021). Pastikan Sekolah Memenuhi Syarat untuk Laksanakan Pembelajaran Tatap Muka.
Godin, M. (2020). What the U.S. Can Learn From Other Countries About Reopening Schools in a Coronavirus Pandemic.
Hoover-Dempsey, K. V, & Sandler, H. M. (1997). Why do parents become involved in their children�s education? Review of Educational Research, 67(1), 3�42. Google Scholar
Kebudayaan, M. P. dan, Agama, M., Kesehatan, M., & Negeri, M. dalam. (2021). Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri dalam Negeri Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
Kurniati, E., Alfaeni, D. K. N., & Andriani, F. (2020). Analisis peran orang tua dalam mendampingi anak di masa pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 241�256. Google Scholar
Lahav, Y. (2020). Psychological distress related to COVID-19�the contribution of continuous traumatic stress. Journal of Affective Disorders, 277, 129�137. Google Scholar
Ma, K., Wang, X., Feng, S., Xia, X., Zhang, H., Rahaman, A., Dong, Z., Lu, Y., Li, X., & Zhou, X. (2020). From the perspective of Traditional Chinese Medicine: Treatment of mental disorders in COVID-19 survivors. Biomedicine & Pharmacotherapy, 132, 110810. Google Scholar
Marchant, E., Todd, C., James, M., Crick, T., Dwyer, R., & Brophy, S. (2021). Primary school staff perspectives of school closures due to COVID-19, experiences of schools reopening and recommendations for the future: A qualitative survey in Wales. PloS One, 16(12), e0260396. Google Scholar
Muris, P. (2002). Relationships between self-efficacy and symptoms of anxiety disorders and depression in a normal adolescent sample. Personality and Individual Differences, 32(2), 337�348. Google Scholar
Nurlaeni, N., & Juniarti, Y. (2017). Peran orang tua dalam mengembangkan kemampuan bahasa pada anak usia 4-6 tahun. Jurnal Pelita PAUD, 2(1), 51�62. Google Scholar
Pelaez, M., & Novak, G. (2020). Returning to school: separation problems and anxiety in the age of pandemics. Behavior Analysis in Practice, 13(3), 521�526. Google Scholar
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D. Alfabeta. Google Scholar
Susilowati, E., Subardhini, M., & Herlina, E. (2021). Inovasi Praktik Pekerjaan Sosial Dalam Pelayanan Sosial Anak Pada Masa Covid-19: Inovasi Praktik Pekerja Sosial Dalam Pelayanan Sosial Anak Pada Masa Covid-19. Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial, 20(1), 37�52. Google Scholar
Valeza, A. R. (2017). Peran orang tua dalam meningkatkan Prestasi anak di perum tanjung raya permai kelurahan pematang wangi kecamatan tanjung senang bandar lampung. UIN Raden Intan Lampung. Google Scholar
Xu, Y., & Filler, J. (2008). Facilitating family involvement and support for inclusive education. School Community Journal, 18(2), 53. Google Scholar
|
Copyright holder : Nurin Dyasti Pratiwi, Dominikus Rato,� Moh. Ali (2022)
|
|
First publication right :
This article is licensed under: |