|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 1 No. 6, Agustus 2020 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
KOMPARASI IMPRESI PANDEMI COVID-19 TERHADAP KEHIDUPAN
SOSIAL PELAKU USAHA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT RAYKAT DAN SWASTA
Koko Setiawan
Akademi Komunitas Perkebunan
Yogyakarta, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2020 |
Tujuannya adalah, untuk mengetahui perbedaan perspektif masyarakat, stigma,
dan perilaku yang dilakukan
masyarakat dimasa pandemi Covid-19. Dengan pertimbangan 10 besar provinsi dengan kelapa sawit terluas. Masing-masing provinsi diambil sampel masyarakat dari lingkungan perkebunan kelapa sawit rakyat dan swasta. Penelitian merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan total responden sebanyak 40 responden (20 dari perkebunan rakyat dan 20 dari perkebunan swasta) dan semuanya merupakan pelaku usahatani kelapa sawit. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi disertai wawancara, dengan teknik pengolahan data yang meliputi
editing, koding, dan tabulasi
data. Data yang terkumpul selanjutnya
disajikan dalam bentuk tabel. Komparasi impresi Pandemi Covid-19 Terhadap Kehidupan Sosial Pelaku Usaha Perkebunan Kelapa Sawit Raykat dan Swasta dapat diamati dari perspektif dimulai dari cara pandang,
pola prilaku/sosial, dan respon emosi akibat adanya pandemi. Selain itu stigma juga mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat, olehnya pendalaman sosial menjadi penting untuk di gali dengan metode
wawancara dengan pendekatan emosional. Impresi terakhir yaitu dengan mengetahui perubahan perilaku mulai dari aspek pendidikan,
sosial ekonomi, agama/adat, dan aspek politik. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kehidupan sosial pelaku usaha perkebunan kelapa sawit rakyat dan swasta telah mengalami perubahan >70%, baik dari sisi cara
pandang, perilaku sosial, dan respon emosi terhadap adanya pandemi. Hanya saja respon
emosi masyarakat di perkebunan rakyat lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat di perkebunan swasta. Sedangkan terhadap stigma negatif kedua kelompok masyarakat diketahui tidak terpengaruh. Namun impresi terhadap perilaku masyarakat terhadap perubahan perilaku pendidikan, agama/adat dan politik kedua kelompok masyarakat menyatakan telah terjadi perubahan yang drastis/nyata, namun pada aspek sosial&ekonomi sebesar 62.5% menyatakan tidak terjadi perubahan. |
|
Kata kunci: Komparas; Impresi;
covid-19; Masyarakat dan Perkebunan Kelapa
Sawit. |
Pendahuluan
Adanya pandemi Covid-19 telah
merubah perilaku hidup masyarakat dunia, dan tidak terkecuali masyarakat di Indonesia. Sejak diumumkan pertama kali di kota wuhan, China pada akhir Desember 2019 yang lalu saat ini
Corona virus disease 2019 (Covid-19) telah menyebar ke lebih
dari seratus negara di
dunia (Sarip et
al., 2020). Hasil kajian yang dilakukan oleh Pusat Pemodelan Matematika memperkirakan pandemi ini akan mencapai
puncaknya pada Maret-April
2020 dan baru akan berakhir pada akhir tahun 2020 atau awal tahun 2021 (Nasution,
2020).
Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam merespon penanggulangan penyebaran infeksi Covid-19, mulai dari pembentukan tim gugus tugas
percepatan penaggulangan, merealokasi berbagai anggaran, hingga pembatasan sosial bersekala besar untuk daerah dengan
zona merah. Hal tersebut berakibat pada timbulnya kepanikan mulai dari masyarakat perkotaan hingga pedesaan, dan tidak terkecuali masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit.
Secara umum masyarakat
dilingkungan perkebunan kelapa sawit rakyat
merupakan masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural
adalah masyarakat yang tersusun atas kebergaman
dan berbagai macam budaya termasuk kepentingan dan kebiasaan yang berbeda (Nurhayati
& Agustina, 2020). Hal tersebut
terbentuk umumnya dikarenakan daerah-daerah dengan pembangunan kelapa sawit di Indonesia merupakan program kemitraan
Perkebunan Inti Rakyat (PIR) maupun transmigrasi sejak era orde baru, sehingga
masyarakat yang terbentukpun
menjadi heterogen.
(Saputra,
2020) Menyampaikan
dalam tulisannya tingginya laju infeksi dan adanya korban meninggal dunia akibat virus
corona yang marak diliput
media masa (Cetak, elektronik,
dan media sosial/online) baik
dari berita terverifikasi maupun berita hoax menyebabkan kepanikan yang semakin tinggi sehingga antusiasme masyarakat untuk menggali informasi mengenai Covid-19 meningkat. Namun masyarakat di �pedesaan� /lingkungan perkebunan kelapa sawit umumnya
memiliki keterbatasan informasi jika dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan ataupun daerah dengan infrastruktur akses internet yang baik (Sofiyudin
& Nugroho, 2017).
Lingkungan perkebunan
kelapa sawit rakyat yang multikultural dan berkembang dengan regulasi atau manajemen
yang berbeda tentu akan berdampak pada pola fikir dan daya tangkap yang berbeda pula dalam menyikapi pandemi yang mana pandemi Covid-19 termasuk hal baru bagi
masyarakat.
Oleh sebab itu, dengan permasalahan tersebut diatas, penulis ingin membandingkan
adanya dampak pandemi Covid-19 terhadap kehidupan sosial masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit raykat dan swasta dengan batasan
hanya pada pelaku usaha perkebunan kelapa sawit saja.
Tujuannya adalah, untuk mengetahui perbedaan perspektif masyarakat, stigma, dan perilaku
yang dilakukan masyarakat dimasa pandemi Covid-19.
Metode Penelitian
Dengan pertimbangan 10 besar provinsi dengan kelapa sawit
terluas maka dipilih sampel dari 10 provinsi di indonesia yaitu Riau, Kalimantan
Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan,
Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Timur dan Aceh. Masing-masing
provinsi diambil sampel masyarakat dari lingkungan perkebunan kelapa sawit rakyat dan swasta.
Penelitian ini dilakukan
pada tanggal 01juni-02 juli
2020 dan dilakukan dengan mempertimbangkan protokol pencegahan Covid-19 sesuai anjuran pemerintah. Penelitian merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan total responden sebanyak 40 responden dan semuanya merupakan pelaku usahatani kelapa sawit. Metode pengumpulan
data yang digunakan adalah metode observasi disertai wawancara, dengan teknik pengolahan
data yang meliputi editing, koding,
dan tabulasi data. Data yang terkumpul
selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel.
Hasil dan Pembahasan
1.
Komparasi Terhadap
Perspektif
Perspektif atau
persepsi merupakan pengalaman tentang objek maupun peristiwa
yang dapat terhubung dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Putri, 2020). Perspektif merupakan
proses penjelasan rangsangan
yang diterima seseorang berdasarkan anggapan baik/buruk, puas
dan tidak puas, manfaat dan tidak bermanfaat dan seterusnya.
Dalam hal
ini peneliti menggali perspektif dua kelompok masyarakat
yang berbeda berdasarkan munculnya perasaan akibat dari keinginan,
harapan, termasuk kepuasan yang dirasakan selama menghadapi pandemi Covid-19 dengan merespon emosi dan mendalami setiap respon yang dikemukakan responden.

Dalam tabel
1 dapat diketahui bahwa adanya pandemi
Covid-19 tidak merubah cara pandang masyarakat
pelaku usaha perkebunan kelapa sawit rakyat dan swasta sebanyak 20-23%, hal tersebut secara
umum diungkapkan bahwa kehidupan akan senantiasa memiliki permasalahan dan akan berakhir pada kematian atau dalam
kata yang lebih sederhana
20-23% masyarakat tersebut pasrah terhadap takdir yang membentuk perspektif biasa saja terhadap adanya
wabah penyakit. Perbedaan signifikan terjadi pada pola berprilaku/berinteraksi pada masyarakat di perkebunan rakyat yang masih sama seperti sebelum
adanya pandemi sebanyak 22.5%. Sedangkan masyarakat di lingkungan perkebunan swasta sepenuhnya telah melakukan perubahan perilaku dan berinteraksi sosial.
Adanya respon
yang beragam oleh masyarakat
dalam mempersepsi dan mengolah informasi yang ada, umumnya berawal
dari sebuah proses keyakinan yang ketika memperoleh informasi baru, maka otak
akan merangsang dengan beragam pertanyaan? Apa dampaknya, bagaimana cirinya, kenapa dapat terjadi dan sebagainya. Semua informasi� baik positif maupun
negatif� akan d proses dan dikelola dalam otak sehingga
muncul respon kognitif berupa simpulan yang digunakan untuk memahami dunia sosial (Agung, 2020). Dimungkinkan adanya
perbedaan berprilaku terjadi karena adanya perbedaan akumulasi informasi mengenai Covid-19 yang mana di lingkungan
perkebunan rakyat diketahui masih minim dalam hal insfrastruktur
jaringan internet dan sekalipun
ada pelaku usaha yang rata-rata usia >50 tahun masih lemah
dalam mengoprasikan gadget.
Pada kenyataannya terdapat korelasi yang positif antara kelompok masyarakat dengan akses internet yang baik dengan yang tidak. Hal tersebut diungkapkan (Saputra,
2020) dalam
tulisanya bahwa pengguna internet cenderung lebih mudah terpapar
informasi hoax yang sengaja
di manfaatkan oleh pihak/individu tertentu untuk dapat mengubah
atau mempengaruhi opini/perspektif publik. Pihak tertentu
sengaja merekayasa kebohongan guna menimbulkan kecemasan, kegelisahan, mengadu domba, bahkan untuk
mencari keuntungan termasuk hanya sekedar mencari sensasi
Tabel 1 juga menjawab bagaimana respon emosi masyarakat
pelaku usaha perkebunan kelapa sawit rakyat dan swasta, yang mana 27.5% masyarakat
di perkebunan rakyat justru tidak menunjukan
respon emosional yang berlebih, sedangkan di lingkungan perkebunan swasta persentasenya lebih kecil yakni
17.5%. Hal tersebut dimungkinkan
karena adanya manajemen kebun di perkebunan swasta dalam penanganan dan edukasi terhadap masyarakatnya membentuk kesiapan akan segala
kemungkinan yang terjadi, sehingga tingkat kepercaaan diri masyarakat masih sangat tinggi. Meski demikian, sebagian besar masyarakat di kedua kelompok mengalami perubahan emosional yakni sebesar 72.5-82.5% dengan mengatakan telah mengalami gejala kecemasan, mempengaruhi kualitas tidur dan gejala depresi dengan tidak mau lagi
melihat berita/membicarakan terkait Covid-19.
Menurut (Wheaton et al., 2012) perubahan emosi
merupakan respon yang wajar dan biasa ketika menghadapi situasi yang genting seperti adanya pandemi ini. Sementara
menurut (Huang et al., 2020) hal tersebut
merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri atau tanda
bahwa ada ancaman yang akan dihadapi. Namun jika kondisi ini
berlebih atau berlangsung lama, maka akan dapat mempengaruhi
kondisi psikologis individu, seperti mengalami depresi/gangguan jiwa (Asih &
Pratiwi, 2010).
2. Komparasi
Impresi� Terhadap
Stigma
Menurut (Arboleda-Florez,
2002), stigma merupakan gambaran dari keadaan ataupun
kondisi yang berkaitan dengan sudut pandang
atas sesuatu yang dianggap bernilai kurang baik atau
negatif.
Stigma juga dipahami sebagai konstruksi sosial dengan memberikan ciri yang membedakan aib sosial melekat
pada orang lain sehingga dapat
mengidentifikasi dan dan mengengevaluasi termasuk mengingat orang lain dengan lebih cepat. Stigma dalam penelitian ini penulis mencoba
mendalami responden dengan istilah yang resmi digunakan pemerintah dalam menganalisis pasien terkait dengan Covid-19, yaitu:
� Orang Dalam
Pantauan (ODP)
� Pasien Dalam
Pengawasan (PDP) atau suspek
� Orang Tanpa
Gejala (OTG)
� Positif Covid-19

Berdasarkan hasil
penelitian diketahui bahwa masyarakat dilingkungan perkebunan kelapa sawit rakyat
tidak sepenuhnya tahu dan memahami istilah-istilah yang terkait dengan Covid-19. Sebaliknya pada masyarakat di perkebunan swasta sepenuhnya tahu dan memahami istilah pada Covid-19. Hal tersebut
dikarenaan adanya upaya-upaya oleh manajemen perkebunan didalam menyampaikan pesan-pesan kesehatan kunci dalam menghadapi pandemi dan adanya poster-poster
dan himbauan yang dipasang hampir disetiap tempat umum dan perumahan. Hal yang sama sebenarnya juga dilakukan pada kelompok masyarakat di perkebunan rakyat, namun tingkat kemasifanya
masih kurang tinggi.
Dari 40 responden yang tersebar di 10 provinsi dan 20 kelompok masyarakat (10 kelompok masyarakat di lingkungan perkebunan rakyat & 10 kelompok masyarakat di lingkungan perkebunan swasta) diketahui terdapat 7 lingkungan yang warganya tersemat istilah Covid-19. 5 di lingkungan
perkebunan rakyat dan 2 di lingkungan perkebunan swasta yang seluruhnya dinyatakan Orang Dalam Pantauan (ODP). �Diketahui bahwa meskipun terdapat perbedaan pemahaman mengenai istilah pada Covid-19, ternyata kedua kelompok masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit tidak
satupun yang memiliki pemikiran/ keinginan untuk mengusir, mengucilkan maupun menolak warganya yang tersemat salah satu istilah tersebut.
Disampaikan bahwa
rasa khawatir dan takut tertular itu ada,
namun masih pada taraf yang wajar dan tidak berlebihan. Keyakinan masyarakat adalah bahwa selama
proses karantina mandiri dilakukan maka penularan dapat dihindari. Perbedaan yang mencolok adalah, Tokoh agama dan aparatur desa (Rt/Rw/Kepala
Desa) memegang peran penting didalam
kelompok masyarakat di perkebunan rakyat. Sedangkan di perkebunan swasta manager/administratif dan
staff/asisten menjadi kunci dalam mengendalikan
stigma yang beredar di masyarakat.
3.
Komparasi Impresi� Terhadap Perilaku
Pandemi Covid-19 secara signifikan telah mengubah kehidupan masyarakat dunia hanya dalam waktu
bulan, termasuk perilaku masyarakat di perkebunan kelapa sawit rakyat dan swasta yang berubah drastis sebagai akibat dari penyesuaian
terhadap pandemi. Perubahan ini terjadi
pada level kelompok untuk lingkungan perkebunan rakyat dan level organisasi atau perusahaan untuk lingkungan perkebunan swasta. Aspek yang terkena imbas diantaranya; sosial & ekonomi, agama, pendidikan, dan politik.

Perubahan tersebut
menyebabkan ketidaknyamanan
dan timbulnya gejolak pada masyarakat. Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa
adanya Covid-19 telah �mengacaukan� atau dalam bahasa umum
telah mengubah perilaku pada aspek pendidikan. Nadiem makarim selaku Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan (Mendikbud) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa
Darurat Covid-19, yang terdapat
6 (enam) point penting yakni; 1) Pelaksanaan ujian nasional, 2) Proses belajar di rumah, 3) Ujian sekolah, 4) kenaikan kelas, 5) penerimaan peserta didik baru, 6) Dana BOS. Kebijakan baru terkait pendidikan sebagai implikasi adanya pandemi telah menghasilkan era baru sistem pembelajaran
bagi masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit rakyat
dan swasta. Anak-anak pelaku usaha perkebunan
kelapa sawit yang semula dominan belajar diruang kelas telah berubah
menjadi belajar dirumah masing-masing secara online (daring). Pembelajaran
online yang menuntut dukungan
perangkat Mobile seperti gadget,tablet/laptop untuk mengakses internet dianggap masyarakat telah membebani karena kurangnya sarana dan prasarana di kelompok masyarakat khususnya perkebunan rakyat selain juga secara tidak langsung
mengajarkan anak-anak untuk semakin sering
menggunakan gawai.
Pada masyarakat
dilingkungan perkebunan swasta yang sebagian besar lebih baik
infrastruktur jaringan internetnya justru juga merasa terkendala dalam hal penambahan
biaya kebutuhan rumah tangga akibat
kebutuhan pulsa/paket internet. Jika ini terjadi berkepanjangan maka akan semakin
menambah beban hidup rumah tangga
(Sarip et
al., 2020). Dalam
tulisan (Putri, 2020) juga mengatakan bahwa, kendala umum dalam pembelajaran
daring di Indonesia yaitu adanya
keterbatasan kuota, tugas rumah yang menumpuk, kurangnya penguasaan teknologi, dan tidak stabilnya jaringan.
Aspek prilaku
sosial&ekonomi dapat dilihat pada tabel 3, bahwa 62.5% kelompok masyarakat di lingkungan perkebunan kelapa sawit swasta tidak
mengalami perubahan yang signifikan. Hal tersebut dimungkinkan karena secara umum masyarakatnya
merupakan kariawan perusahaan baik tetap maupun borong
yang tidak terdampak akan gaji bulanan
yang diterima. Hanya disampaikan bahwa kegiatan dalam pekerjaan mulai dari apel pagi
sampai dengan apel sore diberlakukan penggunaan masker, cuci tangan dan jaga jarak saja. Sedangkan
pada masyarakat di perkebunan
rakyat diketahui persentasenya lebih kecil, yaitu 35%. Dimungkinkan karena perekonomian masyarakat di perkebunan rakyat tidak sepenuhnya bergantung pada penghasilan dalam bidang kelapa
sawit saja, sehingga secara perekonomian dirasakan terjadi perbedaan. Selain itu fluktuasi
harga TBS di tinggkat petani yang tinggi juga menyebabkan pendapatan masyarakat menurun (Sitorus,
2012). Selain
itu, lingkungan perkebunan rakyat adalah lingkungan desa yang mana secara organisasi kekuasaan tingkat lokal memiliki
wewenang tertentu yang sering dilibatkan dalam banyak kegiatan
kemasyarakatan yang sumberdanyanya
adalah dari iuran warganya, seperti; penyemprotan disinfektan, pembuatan gardu satu pintu
disetiap Rt/Rw dan lain sebagainya sehingga hal tersebut dianggap
semakin membebani (Sarip et
al., 2020).
Terhadap agama, adat istiadat dan politik, kedua kelompok masyarakat menyatakan telah terjadi perubahan secara drastis. Kegiatan keagamaan yang dihentikan dilakukan secara berjamaah/dengan berkumpul, beberapa wilayah masih dilakukan namun dengan adanya pemeliharaan
insfrastruktur yang ketat, seperti tidak lagi
menggunakan ambal, dengan penyemprotan disinfektan secara berkala dan dibuatnya bilik disinfektan hingga keran khusus
untuk cuci tangan. Kegiatan sakral yang d awasi dengan ketat seperti
pernikahan, kenduri/yasinan/tahlil dan sejenisnya yang hanya boleh dihadiri dengan jumlah terbatas.
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan (Shodiqin
et al., 2020) dikatakan
bahwa pembatasan sisial masyarakat yang menyangkut kegiatan keagamaan dan adat istiadat secara umum hanya dapat
berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, hal tersebut
dikarenakan kultur masyarakat
di Indonesia yang religius.
Kesimpulan
Covid-19 telah merubah kehidupan
sosial pelaku usaha/masyarakat dilingkungan perkebunan kelapa sawit rakyat
dan swasta. Rata-rata >70% masyarakat
dikedua kelompok mengalami perubahan perspektif berupa ditandai dengan berubahnya cara pikir/cara pandang,
perilaku sosial dan dan adanya respon
emosi. Perbedaanya adalah rendahnya insfrastruktur jaringan internet menyebabkan respon emosi masyarakat di perkebunan rakyat lebih tinggi jika
dibandingkan dengan masyarakat di perkebunan swasta.� Meskipun demikian ternyata respon masyarakat dikedua kelompok terhadap stigma negatif dari istilah-istilah
yang digunakan dalam menganalisis pasien Covid-19 sama-sama tidak mengemuka atau dengan kata lain masyarakat telah teredukasi dengan baik. Sedangkan
impresi terhadap perilaku masyarakat terhadap perubahan perilaku pendidikan, agama/adat dan politik kedua kelompok masyarakat menyatakan telah terjadi perubahan
yang drastis/nyata, namun pada aspek sosial&ekonomi sebesar 62.5% masyarakat di lingkungan perkebunan swasta menyatakan tidak terjadi perbedaan.
Bibliografi
Agung, I. M. (2020).
Memahami Pandemi Covid-19 Dalam Perspektif Psikologi Sosial. Psikobuletin:Buletin
Ilmiah Psikologi, 1(2), 68�84.
Huang, L., Xu, F. M.,
& Liu, H. R. (2020). Emotional responses and coping strategies of nurses
and nursing college students during COVID-19 outbreak. MedRxiv,
2020.03.05.20031898.
Nasution, L. (2020). Hak
Kesehatan Masyarakat dan Hak Permintaan Pertanggungjawaban Terhadap Lambannya
Penanganan Pandemi Global. Jurnal Adalah : Buletin Hukum Dan Keadilan,
4, 19�28.
Nurhayati, I., &
Agustina, L. (2020). Masyarakat Multikultural: Konsepsi, Ciri dan Faktor
Pembentuknya. 14(1), 17�26.
Putri, E.-M. (2020). Learning
From Home dalam Perspektif Persepsi Mahasiswa Era Pandemi Covid-19. 17�24.
Saputra, D. (2020). Fenomena
Informasi Palsu ( Hoax ) Pada Media Sosial di Tengah Pandemi Covid-19 dalam
Perspektif Islam Devid Saputra. 2(1), 1�10.
Sarip, Syarifudin, A.,
& Muaz, A. (2020). Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian Masyarakat Dan
Pembangunan Desa. 21(1), 1�9.
Shodiqin, A., Aziz, R.,
Dewi, R., & Fitriani, P. D. (2020). Model Pemberdayaan Jamaah Masjid
Menghadapi Dampak Coronavirus Disease 2019 (Covid 19). 2019(Covid
19), 882�887.
Sitorus, R. R. (2012). Analisis
Integrasi Harga Tbs Dinas Perkebunan Dan Harga Pembelian Tbs Petani. 20(1),
1�58.
Sofiyudin, A., &
Nugroho, R. A. (2017). Cyber Village Implementation in Realizing Internet-Based
Information and Communication Technology Literacy Communities in Mountainous
Areas (Case Study in Campurejo Village, Tretep District, Temanggung Regency,
Central Java). Journal of Chemical Information and Modeling, 1(3),
1�5.
Wheaton, M. G.,
Abramowitz, J. S., Berman, N. C., Fabricant, L. E., & Olatunji, B. O.
(2012). Psychological predictors of anxiety in response to the H1N1 (swine flu)
pandemic. Cognitive Therapy and Research, 36(3), 210�218.