|
�Jurnal Syntax
Transformation |
Vol. 3,
No. 6, Juni 2022 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PERBEDAAN
KREATIVITAS GURU DITINJAU DARI TINGKAT ADVERSITY QUOTIENT DAN STATUS GURU
PENGGERAK
Lidya Ardiyan, Saut Purba,
Paningkat Siburian, Osberth Sinaga
Pascasarjana, Universitas Negeri
Medan, Sumatera Utara, Indonesia
Email : [email protected],
[email protected], [email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
2 Juni 2022 Direvisi 7 Juni
2022 Disetujui 23 Juni
2022 |
Guru penggerak menjadi prestasi tersendiri bagi guru saat ini. Dalam
menjalani program pendidikan
guru penggerak para guru harus
memiliki kreativitas.
Adversity Quotient yang baik juga mempengaruhi kreativitas yang dimiliki seseorang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kuantitatif, melibatkan 40 orang sampel yang
terdiri dari� 14 orang berstatus guru penggerak, 19
guru berprestasi, dengan prestasi sebagai guru berprestasi, guru inti, mentor nasional
dan Duta Rumah belajar
Nasional, dan yang berstatus guru penggerak berprestasi sebanyak 7 orang. Analisa data statistik
menggunakan bantuan SPSS versi 26. Uji Normalitas dengan Kolmogorov Smirnov diperoleh
nilai signifikansi setiap variabel 0,000, < 0.05,
disimpulkan bahwa data terdistrubusi normal.�
Uji Homogenitas dengan
Uji Levene diperoleh nilai signifikansi 0,120 > dari 0,05, disimpulkan bahwa sampel bersifat homogen. Guru penggerak, Guru berprestasi dan
guru penggerak berprestasi
yang terlibat dalam penelitian ini memiliki kreativitas mayoritas tinggi, 10 orang atau 25% kreativitas sedang, dan 30 orang atau 75% kreativitas tinggi. Adversity
yang dimiliki oleh kelompok
sampel juga masuk dalam kategori Sedang (Campers)
sebanyak 25 orang atau
37.5% dan Climbers sebanyak 15 orang atau 62,5%. Dalam penelitian ini mendapatkan beberapa temuan diantaranya Guru dengan adversity quotient Climbers memiliki
kreativitas lebih tinggi. Guru penggerak berprestasi memiliki Kreativitas lebih tinggi. Guru dengan Adversity
Climbers tidak memiliki kreativitas yang lebih tinggi. Kedepannya diharapkan agar guru penggerak
dan guru berprestasi tetap
mengasah ketangguhan diri dan kreativitasnya untuk mendukung tranformasi pendidikan
Indonesia. ABSTRACT The driving teacher
is an achievement in itself for today's teachers. In undergoing a teacher
education program, teachers must have creativity. A good Adversity Quotient
also affects the creativity that a person has. This Quantitative Research
involved a sample of 40 people consisting of 14 people with the status of
mobilizing teachers, 19 outstanding teachers, with achievements as
outstanding teachers, core teachers, national mentors and National Learning
House Ambassadors, and 7 people with the status of outstanding mobilizing
teachers. Statistical data analysis using the help of SPSS version 26. The
Normality Test with Kolmogorov Smirnov obtained the significance value of
each variable 0.000, < 0.05, it was concluded that the data were normally distrubused. Homogeneity Test with Levene
Test obtained a significance value of 0.120 > from 0.05, it was concluded
that the sample was homogeneous. The mobilizing teachers, outstanding
teachers and outstanding mobilizing teachers involved in this study have high
majority creativity, 10 people or 25% medium creativity, and 30 people or 75%
high creativity. The adversity owned by the sample group was also included in
the Medium category (Campers) as many as 25 people
or 37.5% and Climbers as many as 15 people or 62.5%. In this study, several
findings were obtained including Teachers with adversity quotient Climbers
have higher creativity. Outstanding driving teachers have higher Creativity.
Teachers with Adversity Climbers do not have higher creativity. In the future,
it is hoped that mobilizing teachers and outstanding teachers will continue
to hone their resilience and creativity to support the transformation of
Indonesian education.. |
|
Kata Kunci: Adversity Quotient, Guru Berprestasi, Guru Penggerak, Kreativitas, Keywords: Creativity, Adversity Quotient, Mobilizing Teacher, Outstanding
Teacher. |
Pendahuluan
Pendidikan menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, untuk
itu penyelenggaraan pendidikan perlu ditingkatkan efektivitasnya. Kriteria kualitas prima sumber daya manusia,
diantaranyaadalah memiliki
stamina tinggi, tangguh, cerdas, terampil, mandiri, bertanggungjawab, setia kawan, produktif,
kreatif, inovatif, disiplin, berorientasi masa depan dan berbudi luhur. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dilakukan
dengan beragam cara, satunya dengan
pendidikan dan pelatihan (Lubis et al., 2019).
Saat ini pelatihan dan pendidikan guru hadir dalam bentuk program pendidikan guru penggerak.
Pendidikan guru penggerak ini
menjadi salah satu ajang bergengsi bagi para guru untuk tampil dan lulusannya akan difasilitasi menjadi pemimpin pembelajaran di masa datang.
Peran sebagai pemimpin pembelajaran ini adalah sebagai Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan juga Instruktur pelatihan (Yusup,
2015). Proses seleksinya sendiri
menjadi tantangan istimewa bagi para guru pilihan, kreativitas dalam mengajar diuji, dan jangka waktu pendidikan 9 bulan secara daring dan luring menjadi bukti kegigihan
yang dimiliki para guru ini.
Istilah kreativitas didefinisikan
sebagai implementasi
ide-ide baru untuk mencapai pengajaran yang efektif (Khodabakhshzadeh
et al., 2018). Secara historis, istilah kreativitas identik dengan dua jenis tes
kreativitas yang dikembangkan
pada awal 1965 dan 1974 di mana (Wallach
& Kogan, 1965) mengembangkan Torrance Tests of Creative
Thinking (TTCT) dan Wallach-Kogan Creativity Test (WKCT) (Arifani
& Suryanti, 2019).� Kedua jenis tes tersebut� sebagian besar dilaksanakan oleh peneliti yang menganalisis kreativitas mengajar. Davis dan Rimm (Simarmata
et al., 2020) telah mengidentifikasi
19 keterampilan atau kemampuan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk program pengakses kreativitas: kelancaran, fleksibilitas, orisinalitas, elaborasi, kepekaan terhadap masalah, pencarian masalah, visualisasi, kemampuan untuk mundur, pemikiran metaforis, logis berpikir, evaluasi, analisis, sintesis, transformasi, perluasan batas, intuisi, memprediksi hasil, konsentrasi, dan ketahanan terhadap penutupan. Dacey (Simarmata
et al., 2020) juga telah mengidentifikasi
sembilan kepribadian faktor dalam kreativitas:
toleransi ambiguitas, kebebasan stimulus, kebebasan fungsional, fleksibilitas, pengambilan risiko, preferensi untuk kompleksitas dan gangguan, sikap positif terhadap
pekerjaan, androgini, dan penerimaan menjadi berbeda. Deskripsi Dacey tentang faktor kreatif dibangun dalam istilah perilaku,
sehingga membawa kita pada gagasan bahwa kreativitas dapat dimodifikasi, diajarkan, dikembangkan, dan ditingkatkan.
Barker (Novi,
2015) menyatakan bahwa kreativitas dapat muncul dari keputusasaan.
Kreativitas mengharuskan seseorang mengatasi kesulitas yang dihadapinya, dan
orang yang tidak mampu menghadapi kesulitan akan menjadi orang yang tidak mampu bertindak
kreatif. Stolz menyatakan bahwa dalam menghadapi
kesulitan hidup, manusia membutuhkan kemampuan dan keahlian khusus yang dikenal dengan adversity quotient (AQ) (Novi,
2015). AQ merupakan kerangka
konseptual yang menggambarkan
respon individu terhadap kesulitan yang digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki
respon saat mereka menghadapi kesulitan. AQ sendiri dapat meramalkan beberapa hal diantaranya
kinerja, motivasi, pemberdayaan, kreativitas, produktivitas, pengetahuan, energi, pengharapan, kebahagiaan, kesehatan emosional dan jasmani, ketekunan, daya tahan, perbaikan tingkah laku, usia
panjang, serta respon terhadap perubahan (Novi,
2015).
AQ menurut
(Novi,
2015) dibagi menjadi tiga kelompok. Quitters, individu yang memeiliki AQ rendah, Campers (individu yang memiliki AQ sedang, dan Climbers,
Individu yang memiliki AQ tinggi. semakin tinggi AQ seseorang maka semakin besar
pula orang tersebut akan segera pulih setelah
menghadapi kesulitan, akan menjadi orang dengan kinerja tinggi, optimis, mengambil resiko dengan tepat, berkembang
seiring perubahan, sehat energik dan bitalitas baik, berani menghadapi tantangan yang kompleks, gigih, inovatif, problem solver, pembelajar dan tumbuh semakin baik.
Paparan tersebut memperkuat bahwa seorang guru yang menjalani program pendidikan guru
penggerak merupakan orang dengan ketangguhan dan kreativitas tinggi. Hal-hal ini mendorong
peneliti tertarik untuk mengetahui perbedaan kreativitas guru ditinjau dari tingkat
adversity Quotient dan status guru penggeraknya (Sholikhah
& Faraz, 2021).
Metode Penelitian
Pendekatan
kuantitatif dilakukan dalam penelitian ini, untuk membandingkan
variabel-variabel penelitian.
alat ukur yang digunakan adalah skala kreativitas (Elisondo, 2021)
dan skala adversity question . Sampel
diambil dengan non-probabilitas, yaitu purposive
sampling dengan mengambil kriteria keterlibatan atau status mengikuti program pendidikan guru penggerak atau tidak, lama mengajar diatas 5 tahun, dan berusia dibawah 50 tahun. Jumlah sampel sebanyak
40 orang, 20 orang guru penggerak, dan 20 orang non
guru penggerak. penelitian dilakukan dari Mei-Juni 2022 dengan penyebaran skala secara daring, dengan bantuan Google form �(Elisondo, 2021).
Untuk
mengolahan data menggunakan
bantuan SPSS versi 26 for
windows, dengan melakukan
uji normalitas sebaran sampel dengan uji kolmogorov smirnov, uji homogenitas dengan menggunakan ANOVA 2 jalur melalui Uji Levene, dan Uji hipotesa dilakukan dengan menggunakan analisa statistik ANOVA 2 jalur (Janna & Herianto,
2021).
Hasil
dan Pembahasan
Subjek penelitian berjumlah 40 orang, Berpendidikan
Sarjana/S-1 sejumlah 24
orang atau 60% dari sampel, dan Magister/S-2 16 orang atau� 40% dari sampel. Sampel dengan Jenis Kelamin
laki-laki 22 orang atau
55%, dan berjenis kelamin perempuan 18 orang atau 45%. Sampel dengan Masa Kerja kurang dari
5 tahun sebanyak 2 orang atau 5 %, masa kerja 5-10 tahun sebanyak 11 orang atau 27,5%, lebih dari 10 % sebanyak 27 orang atau 67,5%. Sampel dengan kelompok usia kurang dari
30 tahun sejumlah 4 orang atau 10%, kelompok usia 30-35 tahun sejumlah 18 orang atau 45%, kelompok usia 35-40 tahun sejumlah 11 orang atau 27.5%, dan kelompok usia diatas 4 tahun
sejumlah 7 orang atau
17.5%.
Tabel 1.� Karakteristik Responden
|
|
Kelompok |
Jumlah (orang) |
Persentase (%) |
|
Pendidikan
terakhir |
Sarjana
/ S-1 |
24 |
60 |
|
S-2 |
16 |
40 |
|
|
Jenis
Kelamin |
Laki-laki |
22 |
55 |
|
perempuan |
18 |
45 |
|
|
Masa kerja |
<5 tahun |
2 |
5 |
|
5-10 tahun |
11 |
27,5 |
|
|
> 10 tahun |
27 |
67,5 |
|
|
Usia |
<30 tahun |
4 |
10 |
|
30-35 tahun |
18 |
45 |
|
|
36-40 tahun |
11 |
27,5 |
|
|
>40 tahun |
7 |
17.5 |
|
|
Status
Guru |
Guru Penggerak |
14 |
35 |
|
Guru Berprestasi |
19 |
47,5 |
|
|
Guru Penggerak Berprestasi |
7 |
17,5 |
Sampel yang berstatus guru penggerak sebanyak 14 orang atau 35%, mengikuti program guru penggerak angkatan 1 dan 2. Sampel berstatus guru berprestasi sebanyak 19 orang atau 47.5 %, prestasinya antara lain guru berprestasi,
guru inti, mentor nasional dan Duta Rumah belajar Nasional. Dan yang berstatus guru penggerak sekaligus guru berprestasi sebanyak 7 orang atau 17.5%.
Tabel 2
Descriptive
Statistics
|
Dependent
Variable:�� Kreativitas
guru |
||||
|
Status Guru |
Kategori Adversity
Quotient |
Mean |
Std. Deviation |
N |
|
Guru Penggerak |
Campers |
94.3333 |
19.72942 |
9 |
|
Climbers |
92.0000 |
13.78405 |
5 |
|
|
Total |
93.5000 |
17.30162 |
14 |
|
|
Guru Berprestasi |
Campers |
103.8462 |
45.26744 |
13 |
|
Climbers |
152.0000 |
44.40721 |
6 |
|
|
Total |
119.0526 |
49.42387 |
19 |
|
|
Guru Penggerak Berprestasi |
Campers |
74.3333 |
16.01041 |
3 |
|
Climbers |
89.7500 |
13.52467 |
4 |
|
|
Total |
83.1429 |
15.64639 |
7 |
|
|
Total |
Campers |
96.8800 |
35.60819 |
25 |
|
Climbers |
115.4000 |
41.89749 |
15 |
|
|
Total |
103.8250 |
38.63762 |
40 |
|
Kreativitas Guru di Ukur
dengan menggunakan Skala kreativitas yang dikembangkan
oleh Carson, Peterson, & Higgins (dalam� terdiri
dari 7 aspek Kreativitas, yaitu kreativitas keseharian, musik, kesenian dan kerajinan tangan, penampilan seni, partisipasi sosial, literasi, serta ilmu dan teknologi.� Sesuai dengan Skala Kreativitas yang digunakan dalam penelitian ini dimana skor kreativitas
dikategorikan rendah jika <54, kreativitas sedang jika skor
diantara 54-79 dan kreativitas
tinggi jika skor skala kreativitas
>79. data penelitian ini
menunjukkan bahwa dari 40 sampel tidak ada yang di kategori kreativitas rendah, 10 orang (25%) dalam kategori kreativitas sedang dan 30 orang (75%)� memiliki kreativitas tinggi.
Tabel 3 �
Statistik Deskriptif
|
� |
Pendidikan terakhir |
Jenis Kelamin |
Masa kerja |
Usia |
Status Guru |
Kreativitas guru |
Kategori Adversity Quotient |
|
|
N |
Valid |
40 |
40 |
40 |
40 |
40 |
40 |
40 |
|
Missing |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
|
Mean |
1.4000 |
1.4500 |
2.6250 |
2.5250 |
1.8250 |
103.8250 |
2.3750 |
|
|
Std. Deviation |
.49614 |
.50383 |
.58562 |
.90547 |
.71208 |
38.63762 |
.49029 |
|
|
Variance |
.246 |
.254 |
.343 |
.820 |
.507 |
1492.866 |
.240 |
|
|
Minimum |
1.00 |
1.00 |
1.00 |
1.00 |
1.00 |
55.00 |
2.00 |
|
|
Maximum |
2.00 |
2.00 |
3.00 |
4.00 |
3.00 |
210.00 |
3.00 |
|
Untuk Adversity Quotient, diukur dengan menggunakan Skala
Adversity Quotient dari Stoltz (2015), setelah diolah dan diskoring dikelompokkan ke dalam 3 kategori,
dengan acuan berikut:� Quitter
Skor <117,� Campers
118-177, dan Climbers >178. Dalam penelitian ini tidak ditemukan sampel dalam kategori
Quitters, menunjukkan simpulan
awal bahwa seluruh sampel memiliki Adversity Quotient yang baik
dengan kategori sedang (Campers) dan tinggi
(Climbers)
Tabel 4
Kategori Adversity Quotient
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative
Percent |
|
|
Valid |
Campers |
25 |
62.5 |
62.5 |
62.5 |
|
Climbers |
15 |
37.5 |
37.5 |
100.0 |
|
|
Total |
40 |
100.0 |
100.0 |
|
|
Selanjutnya setelah deskripsi data dilakukan uji asumsi untuk uji Anava dua jalur,
untuk melihat perbandingan Kreativitas ditinjau dari kategori/Type
Adversity Quotient dan Status Guru penggerak. Uji asumsi pertama adalah uji normalitas sebaran dengan menggunakan tes
Kolmogorov-Smirnov, dengan Bantuan
SPS Versi 26. Melalui Uji Normalitas dengan Kolmogorov
Smirnov ini diperoleh bahwa nilai signifikansi
setiap variabel 0,000, <
0.05, dan disimpulkan bahwa
data terdistrubusi normal dan bisa
dilakukan uji hipotesa Anava dua jalur.
Tabel 5
One-Sample Kolmogorov-Smirnov
Test
|
� |
Kreativitas guru |
AQ |
Status
Guru |
Pendidikan
terakhir |
Jenis Kelamin |
Masa
kerja |
Usia |
|
|
N |
40 |
40 |
40 |
40 |
40 |
40 |
40 |
|
|
Normal
Parametersa,b |
Mean |
103.8250 |
2.3750 |
1.8250 |
1.4000 |
1.4500 |
2.6250 |
2.5250 |
|
Std.
Deviation |
38.63762 |
.49029 |
.71208 |
.49614 |
.50383 |
.58562 |
.90547 |
|
|
Most
Extreme Differences |
Absolute |
.228 |
.403 |
.247 |
.390 |
.364 |
.414 |
.269 |
|
Positive |
.228 |
.403 |
.228 |
.390 |
.364 |
.261 |
.269 |
|
|
Negative |
-.116 |
-.274 |
-.247 |
-.287 |
-.313 |
-.414 |
-.181 |
|
|
Test
Statistic |
.228 |
.403 |
.247 |
.390 |
.364 |
.414 |
.269 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
.000c |
.000c |
.000c |
.000c |
.000c |
.000c |
.000c |
|
|
a.
Test distribution is Normal. |
||||||||
|
b.
Calculated from data. |
||||||||
|
c.
Lilliefors Significance Correction. |
||||||||
�
Selain Uji Normalitas dilakukan juga uji Asumsi berupa Uji Homogenitas, dengan menggunakan Uji Levene dengan bantuan
SPSS versi 26. Melalui pengolahan data statistik yang dilakukan diperoleh nilai signifikansi 0,120 > dari 0,05, disimpulkan bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki error variansi yang setara, dengan kata lain bersifat homogen. Data bisa dilihat sebagai
berikut :
Tabel 6
�Levene's
Test of Equality of Error Variancesa,b
|
|
Levene Statistic |
df1 |
df2 |
Sig. |
|
|
Kreativitas guru |
Based on Mean |
1.901 |
5 |
34 |
.120 |
|
Based on Median |
.928 |
5 |
34 |
.475 |
|
|
Based on Median
and with adjusted df |
.928 |
5 |
18.390 |
.485 |
|
|
Based on trimmed
mean |
1.528 |
5 |
34 |
.207 |
|
|
Tests the null
hypothesis that the error variance of the dependent variable is equal across
groups. |
|||||
|
a. Dependent
variable: Kreativitas guru |
|||||
|
b. Design:
Intercept + StatusGuru + AdversityQuotient
+ StatusGuru * AdversityQuotient |
|||||
Selanjutnya dilakukan
Uji hipotesa, dengan 3 hipotesa berikut: Guru dengan adversity quotient kategori
Climbers memiliki Kreativitas
lebih tinggi; Guru penggerak berprestasi memiliki Kreativitas lebih tinggi; Guru penggerak berprestasi dengan adversity quotient Climbers memiliki
kreativitas lebih tinggi.
Dilakukan Uji Hipotesa
dengan menggunakan Analisis Univariate atau Anava dua jalur
dan diperoleh hasil yang tertampil pada tabel berikut ini :
Tabel 7
Tests of Between-Subjects Effects
|
Dependent
Variable:�� Kreativitas
guru |
|||||
|
Source |
Type III Sum of
Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
Corrected Model |
18836.666a |
5 |
3767.333 |
3.252 |
.017 |
|
Intercept |
322973.256 |
1 |
322973.256 |
278.813 |
.000 |
|
StatusGuru |
13919.713 |
2 |
6959.857 |
6.008 |
.006 |
|
AdversityQuotient |
3295.149 |
1 |
3295.149 |
2.845 |
.101 |
|
StatusGuru * AdversityQuotient |
4750.266 |
2 |
2375.133 |
2.050 |
.144 |
|
Error |
39385.109 |
34 |
1158.386 |
� |
� |
|
Total |
489407.000 |
40 |
� |
� |
� |
|
Corrected Total |
58221.775 |
39 |
� |
� |
� |
|
a. R Squared =
.324 (Adjusted R Squared = .224) |
|||||
Adversity quotient, Status guru dan interaksi
Adversity Quotient dengan Status guru� secara bersama-sama terhadap Kreativitas, memiliki nilai signifikansi 0,017, < dari 0,05. berarti hipotesa penelitian diterima Guru penggerak berprestasi dengan adversity
quotient Climbers memiliki kreativitas
lebih tinggi. Status Guru Penggerak secara mandiri memiliki nilai signifikansi 0.006, < dari 0,05 terhadap Kreativitas, berarti hipotesa penelitian diterima, Guru penggerak berprestasi memiliki Kreativitas lebih tinggi. Adversity Quotient secara
mandiri memiliki nilai signifikansi 0,101 >
0,05 terhadap kreativitas, berarti hipotesa penelitian ditolak, Guru dengan Adversity Climbers tidak memiliki kreativitas yang lebih tinggi. Nilai R Squared
0,324, berarti variabel
Adversity Quotient dan Status guru memberikan determinasi sebesar 32,4% terhadap kreativitas.
Guru Penggerak bukan sembarang guru biasa, pada umumnya para guru penggerak memiliki prestasi, sehingga tidak mengherankan bahwa dalam penelitian ini berbandingan sampel penelitian antara guru penggerak, guru berprestasi dan guru penggerak berprestasi tidak timpang dan memiliki Sebaran data normal dan homogen.
Para Guru penggerak dan guru berprestasi tentunya memiliki kreativitas yang baik sehingga bisa
mencapai prestasinya tersebut. (Ma, 2022) menunjukkan
hasil penelitian bagaimana dampak dari efikasi diri
guru dan kreativitas dalam mempengaruhi prestasi akademik di bidang penguasaan bahasa. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa selain mempengaruhi prestasi diri guru, kreativitas seorang guru juga akan mempengaruhi prestasi siswanya. (Du et al., 2020) juga menunjukkan
hasil penelitian yang mendukung hal ini,
pencapaian prestasi berhubungan, dan efikasi diri kreatif memediasi
hubungan antara pencapaian prestasi dan kreativitas. Penelitian Hamid
& (Ikhwani et al., 2022) juga menggungkap
kaitan prestasi dan kreatifitas, dimana prestasi matematika siswa akan didukung
dengan kreativitas dalam belajar matematika.
Kategori Adversity Quotient Climbers, yang memiliki skor AQ tertinggi, dengan kata lain memiliki ketangguhan paling baik. Namun dalam
penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan antara Climbers dan
Campers dalam kreativitas, kedua kelompok tersebut sudah menunjukkan ketangguhan yang baik dan kreativitas juga berada dalam tingkatan
sedang sebanyak 25%� dan tinggi sebanyak 75% dari keseluruhan sampel. (Hidayat et al., 2018) meneliti
kaitan antara Adversity
Quotient dengan penalaran kreatif matematis mahasiswa calon guru dan menemukan bahwa AQ berpengaruh positif terhadap perkembangan kemampuan penalaran kreatif matematis guru matematika prajabatan dengan pengaruh sebesar 60,9%, sedangkan sisanya (39,1%) dipengaruhi oleh faktor lain di luar AQ; dan Kemampuan penalaran kreatif matematis siswa calon guru lebih berkembang pada tipe AQ Climber. Sementara itu penelitian (Nugroho et al., 2019) menunjukkan
perbedaan kemampuan berpikir kreatif saat pembelajaran TPACK ditinjau dari Adversity Quotient
pada guru. (Phoolka & Kaur, 2012) meneliti
bagaimana Adversity Quotient berperan
dalam melatih keterampilan berpikir kreatif dalam materi
Geometri pada mahasiswa calon Guru, hasilnya menunjukkan bahwa AQ Campers dan
Quitters harus lebih melatih diri memecahkan
masalah untuk melatih berpikir kreatif.
Kesimpulan
Guru penggerak, Guru berprestasi dan
guru pengegrak berprestasi
yang terlibat dalam penelitian ini memiliki kreativitas mayoritas tinggi, 10 orang atau 25% kreativitas sedang, dan 30 orang atau 75% kreativitas tinggi. Adversity
yang dimiliki oleh kelompok
sampel juga masuk dalam kategori Sedang (Campers)
sebanyak 25 orang atau
37.5% dan Climbers sebanyak 15 orang atau 62,5%. Dalam penelitian ini mendapatkan beberapa temuan diantaranya Guru dengan adversity quotient Climbers memiliki
kreativitas lebih tinggi. Guru penggerak berprestasi memiliki Kreativitas lebih tinggi. Guru dengan Adversity
Climbers tidak memiliki kreativitas yang lebih tinggi. Adversity Quotient dan Status guru sebagai guru berprestasi maupun guru penggerak memberikan determinasi sebesar 32,4% terhadap kreativitas.
Kedepannya diharapkan agar guru penggerak dan guru berprestasi tetap mengasah ketangguhan diri dan kreativitasnya untuk mendukung tranformasi pendidikan Indonesia. Diharapkan
juga guru pengegrak ini terus mengukir prestasi dalam bidang pendidikan, dan para guru berprestasi juga ikut aktif dalam kegiatan
guru penggerak ini. para
guru juga harus dibekali
dan memiliki adversity quotient yang baik sehingga bisa
mendorong dirinya menghasilkan kreativitas baik dalam melakukan
perannya sebagai guru, baik itu kreativitas
dalam keseharian, musik, seni dan kerajinan tangan, partisipasi sosial, pertunjukkan seni, literasi, maupun ilmu dan teknologi.
BIBLIOGRAFI
Arifani,
Y., & Suryanti, S. (2019). The Influence of Male and Female ESP Teachers�
Creativity toward Learners� Involvement. International Journal of Instruction,
12(1), 237�250.Google Scholar
Du,
K., Wang, Y., Ma, X., Luo, Z., Wang, L., & Shi, B. (2020). Achievement
goals and creativity: the mediating role of creative self-efficacy. Educational
Psychology, 40(10), 1249�1269. Google Scholar
Elisondo,
R. C. (2021). Creative Actions Scale: A Spanish scale of creativity in
different domains. The Journal of Creative Behavior, 55(1), 215�227. Google Scholar
Hidayat,
W., Herdiman, I., Aripin, U., Yuliani, A., & Maya, R. (2018). Adversity
quotient (aq) dan penalaran kreatif matematis mahasiswa calon guru. Jurnal
Elemen, 4(2), 230�242. Google Scholar
Ikhwani,
R., Witono, A. H., & Jaelani, A. K. (2022). Motivasi Berprestasi
(Achievementmotivation) Guru Dalam Melaksanakan Pembelajaran Pada Masa Pandemi
Covid-19. Journal of Classroom Action Research, 4(1), 18�28. Google Scholar
Janna,
N. M., & Herianto, H. (2021). Konsep Uji Validitas Dan Reliabilitas Dengan
Menggunakan SPSS. Google Scholar
Khodabakhshzadeh,
H., Hosseinnia, M., Moghadam, H. A., & Ahmadi, F. (2018). EFL Teachers�
Creativity and Their Teaching�s Effectiveness: A Structural Equation Modelling
Approach. International Journal of Instruction, 11(1), 227�238. Google Scholar
Lubis,
H. M. J., MM, M. P., & Haidir, M. P. (2019). Administrasi dan Perencanaan
Pengembangan Sumber Daya Manusia. Prenada Media. Google Scholar
Ma,
Y. (2022). The Effect of Teachers� Self-Efficacy and Creativity on English as a
Foreign Language Learners� Academic Achievement. Frontiers in Psychology,
13, 872147. Google Scholar
Novi,
K. S. (2015). Korelasi adversity quotient (AQ) dengan kreativitas siswa kelas
VII pada mata pelajaran Kaligrafi di MTs al-Islam Joresan tahun pelajaran
2014/2015. STAIN Ponorogo. Google Scholar
Nugroho,
A. M., Wardono, W., Waluyo, S. B., & Cahyono, A. N. (2019). Kemampuan
Berpikir Kreatif Ditinjau Dari Adversity Quotient Pada Pembelajaran TPACK. PRISMA,
Prosiding Seminar Nasional Matematika, 2, 40�45. Google Scholar
Phoolka,
E. S., & Kaur, N. (2012). Adversity Quotient: A new paradigm to explore.
Contemporary Business Studies, 3(4), 67�78. Google Scholar
Sholikhah,
M., & Faraz, F. (2021). The Urgency of Adversity Quotient for Women Running
the Small Businesses. Psikologika: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Psikologi,
26(2), 353�364. Google Scholar
Simarmata,
J., Abi Hamid, M., Ramadhani, R., Chamidah, D., Simanihuruk, L., Safitri, M.,
Napitupulu, D., Iqbal, M., & Salim, N. A. (2020). Pendidikan Di Era
Revolusi 4.0: Tuntutan, Kompetensi & Tantangan. Yayasan Kita Menulis. Google Scholar
Wallach,
M. A., & Kogan, N. (1965). Modes of thinking in young children. Google Scholar
Yusup,
M. Y. M. (2015). Peran Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pemelajaran. Manajer
Pendidikan, 9(1). Google Scholar
|
Copyright holder : Lidya Ardiyan, Saut Purba, Paningkat Siburian, Osberth Sinaga (2022) |
|
First publication right
: This article is licensed under: |