|
�Jurnal Syntax
Transformation |
Vol. 3,
No. 6, Juni 2022 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
RANCANGAN IMPLEMENTASI PERMA+ DALAM LAYANAN BIMBINGAN
DAN KONSELING UNTUK PENCEGAHAN BULLYING �DAN
PENINGKATAN WELLBEING SISWA
Raden
Roy Miftahul Huda, Lidya Ardiyan
Widyaiswara PPPPTK Penjas,
Indonesia, SMPN 3 Lubuk Pakam, Sumatera Utara,
Indonesia
Email : [email protected],
[email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
3 Juni 2022 Direvisi 10 Juni
2022 Disetujui 23 Juni
2022 |
Bullying �menjadi salah satu dari tiga dosa besar
Pendidikan yang harus ditanggulangi
dan dicegah. Tujuan
Pendidikan agar siswa mencapai
kemandirian dan kebahagiaan
hidup tentunya akan tercapai jika Bullying �bisa dicegah. Kajian literatur digunakan karena keterbatasan peneliti melakukan penelitian langsung pada lingkungan nyata. PERMA+ menjadi salah satu pendekatan psikologi positif yang dapat dikembangkan dalam rancangan implementasi dalam layanan bimbingan dan konsleing di skeolah dalam mencegah Bullying �dan
meningkatkan kesejahteraan-wellbeing.� PERMA+ Positive Emotion, Engagement,
Relationship, Meaning, Accomplishment.+kesehatan
fisik dan Nutrisi, menjadi elemen-elemen yang dikembangkan melalui layanan bimbingan dan konseling. Setiap elemen memberikan kontribusi tersendiri melalui tema dan materi yang disampaikan menjadi strategi implementasi
yang dirancang dan dapat dikembangkan dan dicobakan lebih lanjut di sekolah-sekolah. ABSTRACT Bullying is one of
the three great sins of Education that must be addressed and prevented.
Educational goals so that students achieve independence and happiness in life
will certainly be achieved if bullying can be prevented. Literature review is
used because of the limitations of researchers conducting direct research on
the real environment. PERMA+ is one of the positive psychological approaches
that can be developed in the design of implementation in guidance and consleing services in skeolah
in preventing bullying and improving wellbeing-wellbeing.� PERMA+ Positive Emotion, Engagement,
Relationship, Meaning, Accomplishment.+physical
health and Nutrition, are elements developed through guidance and counseling
services. Each element contributes its own through the theme and material
presented into an implementation strategy that is designed and can be further
developed and tried in schools. |
|
Kata Kunci: PERMA+ model, Wellbeing, Bullying , Guidance and Counseling Keywords: PERMA+ models, Wellbeing, Bullying, Guidance and Counseling |
Pendahuluan
Tiga dosa besar pendidikan saat ini adalah perundungan,
kekerasan seksual dan intoleransi Ketiganya berdampaik pada terhambatnya perwujudan lingkungan belajar yang baik, juga memberikan trauma yang bahkan dapat bertahan seumur hidup seorang
anak (Romanti, 2021).
Padahal lembaga Pendidikan seharusnya menjadi tempat yang harusnya memberikan rasa aman pada anak. Ki Hajar Dewantara. Pendidikan
adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat (Rohman & Hairudin, 2018).
Ki Hajar Dewantara memiliki
keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk
mencapainya. Pendidikan dapat
menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan pendidikan
yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya baik
sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dan Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai bagian integral dari sistem pendidikan
memiliki tujuan yang mendukung tujuan pendidikan. Tujuan dari layanan bimbingan
dan konseling pada akhirnya
adalah untuk memandirikan siswa agar menjadi individu yang optimal dan
bahagia, sehingga mencapai wellbeing (Purwaningrum, 2016).
Dalam konteks rumah dan keluarga, sekolah merupakan lingkungan di mana anak dan remaja menghabiskan hampir sebagian waktunya. Sekolah menjadi tempat/lingkungan yang menjadi sumber daya potensial yang signifikan untuk mendukung kesehatan siswa. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang menikmati kehidupan di sekolah terbukti memiliki harga diri yang positif, tingkat pengambilan risiko yang lebih rendah, merasa
dirinya memiliki perilaku dan tingkat kesehatan yang lebih baik (Aulia, 2015).
Sementara siswa yang tidak suka sekolah
merasakan hal yang sebaliknya (Aggleton et al., 2010).
Tidak setiap sekolah bisa mendorong wellbeing siswa. Sekolah sering menjadi salah satu stressor pada anak. (Aulia, 2015)
memaparkan penelitian dimana siswa Sekolah
Menengah Pertama (SMP) merasa bahwa sekolah
bukan tempat yang menyenangkan, disebabkan karena banyak tugas
serta beban untuk dapat lulus ujian nasional (UN) yang harus mereka lewati.
Hal ini menyebabkan mereka tidak lagi
punya waktu untuk bermain dan bersenang-senang. Saat ditanya apakah
mereka merasa bahagia pada skala 1-10, sebagian besar siswa menjawan pada skala 3, yang lebih mendekati tidak bahagia. Menurut Noble dan Toft (Aggleton et al., 2010)
salah satu ciri siswa dengan kesejahteraan
psikologis yang baik adalah keterlibatan siswa pada aktivitas yang ada di sekolah.
Menurut (Ryff, 1989)
mendefinisikan psychological wellbeing sebagai sebuah kondisi di mana individu memiliki sikap yang positif terhadap dirinya sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan
sendiri dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat menciptakan dan mengatur lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup, dan membuat hidupnya lebih bermakna serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan diri. Sementara Wellbeing menurut
(Seligman, 2011)
adalah sebuah konstruk yang menjadi inti dari psikologi positif, terdiri dari 5 (lima) elemen PERMA yaitu: P= Positive Emotion (emosi
positif); E= Engagement� (keterlibatan);� R=�
Relationship� (hubungan� positif); M= �Meaning (kebermaknaan);
dan A= Accomplishment (pencapaian). Pendekatan Psikologi positif untuk wellbeing ini diterapkan dalam pendidikan melalui pendidikan positif, salah satunya dengan Implementasi PERMA+ dalam layanan bimbingan
dan konseling.
Metode Penelitian
Kajian literatur
digunakan karena keterbatasan peneliti melakukan penelitian langsung pada lingkungan nyata (Yusuf & Khasanah, 2019).
Berawal dari ide dan gagasan untuk mengatasi
permasalahan yang ada, kemudian peneliti mengumpulkan bahan literatur berupa jurnal dan buku, kemudian merancang sebuah stategi impleementasi yang dapat mengentaskan salah satu dosa besar Pendidikan, yaitu bullying dan diharapkan selanjutnya dapat meningkatkan wellbeing yang dirasakan
pada siswa. Rancangan implementasi ini selanjutnya diharapkan untuk divalidasi lebih lanjut dan diterapkan dalam satuan Pendidikan agar bisa terukur keberhasilan dari strategi implementasi PERMA+
ini dalam mencegah terjadinya bullying dan meningkatkan wellbeing siswa.
Hasil
dan Pembahasan
A.
Bullying/perundungan
Kata
Bullying berasal dari kata bully,
yang dalam kamus online
Oxford (Ciupe, 2020)
�diartikan sebagai seseorang yang terbiasa berusaha untuk menyakiti atau mengintimidasi orang lain
yang dianggap rentan�, atau dengan kata lain dapat diartikan juga sebagai perilaku intimidasi. Bullying terdiri dari tindakan fisik,
verbal dan perilaku psikologis
seperti memukul, mengejek, menghina, dan memanipulasi hubungan sosial. Dari definisi tersebut jika disimpulkan,
maka bullying dapat kita artikan sebagai
perilaku intimidasi yang dilakukan berulang untuk melukai individu
baik emosional maupun fisik. Bullying melibatkan ketidakseimbangan kekuatan di mana pelaku mendominasi dan korban menjadi pihak yang lemah, bahkan sampai memunculkan
perilaku bunuh diri (Cornell & Cole, 2012).
Menurut data Komisi Perlindungan
Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2018, kasus bullying dan kekerasan fisik masih menjadi
kasus yang mendominasi pada
bidang Pendidikan (Lestari et al., 2021).
Perilaku bullying juga tidak
lepas dari masalah yang terjadi di sekolah yang mengancam wellbeing siswa, bahkan sampai
memunculkan perilaku bunuh diri di kalangan
siswa dikarenakan stress
dan depresi. Bullying adalah
perilaku agresif yang tidak diinginkan di antara anak-anak usia sekolah. Perbuatan
ini melibatkan ketidakseimbangan kekuatan yang nyata atau yang dirasakan (oleh korban maupun pelaku). Perilaku bully berpotensi diulangi seiring berjalannya waktu dan berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang baik untuk korban maupun pelaku. Perilaku ini dapat
terjadi pada siapa saja dan kapan saja, namun memang
paling sering terjadi pada anak-anak.
Peningkatan bullying merupakan masalah yang dapat mengganggu wellbeing siswa (Planty et al., 2005).
Salah satu bentuk dari perilaku bullying adalah penindasan. Penindasan merupakan Tindakan
negative oleh satu atau lebih siswa yang diekspos, berulang kali (Planty et al., 2005).
Intimidasi dapat dicirikan oleh dua bentuk tindakan negatif yang berbeda yaitu perilaku intimidasi langsung dan tidak langsung. Penindasan langsung mengambil bentuk kontak fisik yang terbuka di mana korban secara terbuka diserang. Intimidasi tidak langsung dapat berbentuk isolasi sosial dan pengucilan yang disengaja dari kegiatan. Kedua bentuk intimidasi tersebut terjadi secara terpisah atau bersama-sama, dapat membahayakan kesejahteraan dan perkembangan siswa (Planty et al., 2005).
Bagaimana sekolah dapat
membuat siswa menikmati dan mencapai wellbeing?
Inilah yang menjadi salah satu bahasan ketika
bicara tentang pendekatan psikologi positif di sekolah. Pendekatan psikologi positif bertujuan untuk mengubah perspektif tentang pendidikan yang berfokus pada masalah dan gangguan dalam belajar, menjadi lebih memperhatikan
bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa (Aulia, 2015).
Prinsip yang kemudian harus digunakan dalam pendidikan bukan lagi bicara
tentang �memperbaiki
(fix-it)� namun lebih memfokuskan diri untuk menggali potensi dan bakat individu dalam lingkungan sekolah. Area psikologi positif ada di sini, yaitu
bagaimana mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri individu agar ia dapat menjadi
orang yang berhasil di masyarakat.
Akhtar (Prabowo, 2016)
menyatakan bahwa wellbeing dapat membantu remaja untuk menumbuhkan
emosi positif, merasakan kepuasan hidup, kebahagiaan, mengurangi depresi, dan perilaku negatif remaja.
Ciri-ciri�� pelaku�� perundungan�� yakni,�� seperti:�� merasa�� dirinya�� berkuasa� dibandingkan� orang�
lain,� kondisi� emosional� yang� labil� seperti� depresi,�
stress,� dan� kurangnya kasih� sayang,� dan� ingin� populer� dikalangan� teman-temannya,� balas� dendam,� karena� takut dirundung� oleh� orang� lian,� sehingga� pelaku� lain� pun� ikut� merundung� temannya� yang� lebih lemah.� Sedangkan� untuk� korban �perundungan� biasanya� memiliki� ciri-ciri� seperti,� peranggapan atau pandangan yang berbeda dari sekelilingnya
seeprti fisik yang berbeda tidak pada umumnya, lemah atau tidak berdaya
sehingga tidak dapat membela diri,
rata-rata memiliki sifat pemalu dan� sifat�
introvert,� rasa� percaya� diri� yang� renda,� kurang� popularitas� sehingga� memiliki teman� yang sedikit atau tidak memiliki
teman sama sekali (Rahmawati & Illa, 2020).
Baik Pelaku maupun Korban Bullying melalui penjabaran ciri tersebut bisa terlihat
dikarenakan tidak memiliki wellbeing yang baik
juga. Penyebab siswa melakukan bullying yaitu ada dua faktor
yang paling berpengaruh yaitu
faktor keluarga karena perceraian orang tua menyebabkan siswa berperilaku kurang baik, dan faktor dari diri
siswa yaitu tidak ada kemauan
dan usaha untuk merubah diri agar tidak berperilaku negative (Afiyani et al., 2019).
B.
Wellbeing, Definisi dan Elemen
Beddington menyatakan bahwa Wellbeing merupakan suatu kondisi saat
individu bisa mengetahui dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, menjalin hubungan baik dengan orang lain, dan dengan aktif menyalurkan
potensi yang dimiliki melalui kontribusinya dalam komunitas (Giovanni, 2017).
Wellbeing dapat ditinjau dari 2 pendekatan yaitu Subjective Wellbeing sesuai
dengan pendekatan Hedonic
dan Psychological Wellbeing atau Eudaemonic
(Seligman, 2011).
Berdasarkan pendekatan
Hedonic, seseorang dikatakan
mengalami wellbeing apabila
individu dapat memaksimalkan kenikmatan dan menghindari atau meminimalkan sakit, sehingga individu dapat menikmati hal-hal yang meskipun kecil yang hadir atau ada dalam
kehidupannya (Seligman, 2011).
Sebaliknya, apabila individu tidak dapat memaksimalkan kenikmatan dan tidak dapat menghindari atau meminimalkan rasa sakit maka individu
akan merasa bahwa hidupnya hanyalah dipenuhi oleh permasalahan, konflik, dan kesedihan. Wellbeing ditinjau dari pendekatan kedua adalah pendekatan
Psychological Wellbeing atau Eudaemonic. Pendekatan ini berfokus pada makna dan realisasi diri yang didefinisikan sebagai wellbeing dalam bentuk tingkatan
fungsi penuh sebagai manusia. Individu dikatakan mengalami wellbeing apabila individu dapat menerima dirinya apa adanya secara
positif, individu memiliki kepuasan hidup yang baik, menganggap bahwa sesuatu yang terjadi dalam hidupnya dapat membuatnya menjadi lebih berkembang
ke arah positif
(Seligman, 2011).
(Seligman, 2011)
menyatakan bahwa wellbeing berkembang awalnya kebahagiaan (authentic happiness), yang memiliki 3 (tiga) elemen utama yaitu
emosi positif, engagement (keterlibatan), dan memiliki kebermaknaan dalam hidup. Lebih lanjut
(Seligman, 2011)
mengungkap bahwa emosi positif, keterlibatan, dan makna hidup tidak cukup
menggambarkan apa yang
orang hargai demi diri mereka sendiri.

Gambar 1. Elemen-elemen Wellbeing
(Seligman, 2011)
menjabarkan elemen
wellbeing yang terdiri dari
5 elemen yang disingkat
PERMA (Positive Emotion, Engagement, Relationship, Meaning, Accomplishment).
Elemen pertama adalah emosi positif,
yang dapat dicapai dengan cara: mencapai
kesenangan dalam hidup, emosi yang bersifat sementara, mengembangkan toleransi, dan dapat melakukan pembiasaan dengan cepat. Elemen kedua
adalah Engagement (keterlibatan),
yaitu dengan menggunakan potensi dalam kegiatan yang menantang dan bermanfaat serta dengan melibatkan
diri dalam pekerjaan yang menarik. Inti dari elemen kedua
ini adalah membangun karakter positif. Elemen ketiga adalah Relationship (hubungan), yaitu terdapat keterlibatan dan keterikatan sosial, serta terdapat rasa memiliki dan dimiliki. Elemen keempat adalah Meaning (kebermaknaan) dalam hidup, dapat
menggunakan potensi dalam diri untuk
mempersiapkan hal-hal yang akan datang dalam
kehidupannya. Elemen kelima adalah Accomplishment (pencapaian) atau prestasi, yaitu perasaan berprestasi melalui pencapaian tujuan pribadi dan professional. Seiring dengan waktu dan penelitian yang dilakukan, elemen PERMA berkembang menjadi PERMA+, elemen tambahannya adalah kesehatan fisik dan Nutrisi (Burger, 2014).
(Pascha, 2020)
menjelaskan masing-masing elemen
dalam wellbeing. Positive Emotion-Emosi
Positif; merasa baik, emosi positif,
optimis, kesenangan dan kepuasan. Elemen ini, memiliki hubungan
yang sangat jelas dengan kebahagiaan. Fokus dari emosi positif
lebih dari sekedar tersenyum, tapi merupakan kemampuan untuk tetap optimis dan memandang masa lalu, masa kini dan masa depan dengan pandangan yang konstruktif. Engagement-Keterlibatan;
Menuntaskan tugas atau pekerjaan, melakukan hobi yang menarik dan menyenangkan, �aliran-flow�. Kita semua membutuhkan sesuatu dalam hidup kita
yang menyerap kita ke dalam momen
yang berlangsung, menciptakan
�aliran-flow� yang mengasyikkan
pada tugas atau aktivitas. Tipe aliran dari keterlibatan
ini memperluas kecerdasan, keterampilan dan kemampuan emosional kita. Relationships-Hubungan; hubungan sosial, cinta, kedekatan, interaksi emosional dan fisik. Hubungan dan koneksi sosial merupakan hal penting
dalam kehidupan yang penuh makna. Meaning-Kebermaknaan; memiliki tujuan, menemukan makna hidup. Accomplishment-Pencapaian atau Prestasi; ambisi, tujuan realistis, prestasi, dan kehangatan pada diri sendiri. Memiliki
pencapaian dalam hidup merupakan hal penting untuk
mendorong diri kita tumbuh dan berkembang dengan baik. +Physical Health and nutrition; +kesehatan
fisik dan nutrisi; olahraga, kegiatan fisik dan pola makan yang sehat. Kesehatan fisik akan mendukung
individu untuk memiliki psychological wellbeing yang baik.
Riset menunjukkan bahwa ada hubungan
antara wellbeing dan kesehatan
fisik. Sementara nutrisi adalah asupan makanan sehat sesuai kebutuhan
tubuh dan menjaga kesehatan.
Individu yang memiliki Wellbeing yang tinggi menjaga Kesehatan mental
dan Fisik agar mampu mengatasi tantangan, mencapai kebahagiaan dan kepuasan dalam hidupnya. Wellbeing merupakan kombinasi dari enam elemen penting
yang setara dan saling melengkapi keadaan �wellbeing� seseorang, semakin elemen-elemen ini dikembangkan akan semakin �bahagia� pula.
Rancangan implementasi perma+ dalam layanan
bimbingan dan konseling. Dalam Pandangan tradisional tentang anak dalam konteks
sekolah lebih cenderung berfokus pada masalah dan gangguan, hal ini menyebabkan
gagalnya identifikasi dan memaksimalkan potensi yang dimiliki anak. Berlawanan dengan hal tersebut pendekatan
psikologi positif mencoba untuk mengubah
pandangan tersebut dan lebih fokus pada karakteristik unik dari setiap siswa
dan usaha untuk memaksimalkan potensi yang dimilikinya (Aulia, 2015).
Penekanan dari psikologi positif adalah pada kekuatan individu dan kolektif, yang lebih menekankan pada pengalaman positif dari pada masalah/ gangguan dan lebih mengarahkan pada membangun kompetensi.
Situasi sekolah yang sehat
membantu terbentuknya perilaku positif siswa yang berkaitan dengan sekolah. Sekolah yang sehat dapat menimbulkan perasaan senang dan membentuk sikap serta belief (keyakinan)
yang positif, sehingga secara tidak langsung
mempengaruhi siswa secara maksimal ketika dirinya berinteraksi dengan sekolah. Hal tersebut akhirnya mempengaruhi perilaku-perilaku siswa yang berkaitan dengan sekolah (Ratna, 2016).
Dengan rancangan implementasi perma+ dalam layanan bimbingan
dan konseling diharapkan dapat membantu siswa mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya.
Berfokus pada kekuatan dan potensi yang ada dalam diri setiap
orang dan memaksimalkannya untuk
mencapai wellbeing. Layanan
bimbingan dan konseling harus memfasilitasi siswa dalam membangun
elemen wellbeing dalam dirinya. Layanan bimbingan klasikal atau bimbingan kelompok misalnya, setidaknya harus bisa membantu siswa
membangun elemen wellbeing tersebut dengan cara memberikan informasi, pemahaman, dan keterampilan analisis yang dibutuhkan sehingga siswa dapat mengembangkan
potensi yang dimilikinya atau terampil memilih
cara-cara menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Begitu juga layanan konseling kelompok dan konseling individu harus dapat responsif
membantu siswa mengentaskan masalah.�

Gambar 2 penerapan PERMA+ pada kasus Bullying
Salah
satu masalah yang umum terjadi di sekolah akhir-akhir adalah masalah Bullying. Perilaku Bullying dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja, hingga Menteri Pendidikan menyatakannya sebagai salah satu dosa besar
Pendidikan. Penerapan pendidikan
positif di lingkungan sekolah melalui layanan BK diharapkan bisa mencegah bullying. Penerapan PERMA+ melalui 6 (enam) elemen wellbeing pada siswa melalui layanan
bimbingan dan konseling
(BK) di sekolah. Salah satu
strategi implementasinya kami tawarkan
sebagai berikut :
Tabel 2.
Alternatif Topik Layanan
BK dalam upaya mengatasi Masalah Bullying dengan Membangun 6 (enam) Elemen Wellbeing di Sekolah
|
|
Elemen |
Topik Layanan |
Penjabaran materi |
|
P |
Positive Emotion |
Kekuatan diri dan Bully, Self respect, Unconditional Love |
Dapat diberikan melalui layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok maupun konseling kelompok. Tujuannya adalah meningkatkan kekuatan diri dan emosi dengan meningkatkan ketahanan diri tehadap bullying. |
|
E |
Engagement |
Strategi
penanganan stress (coping
strategies), Penyaluran Hobi, Bakat dan Minat |
Dapat diberikan melalui layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok maupun konseling kelompok. Tujuannya: memperkuat �keterlibatan positif� dengan menggunakan strategi penanganan stress proaktif. |
|
R |
Relationship |
Membangun empati dan kepedulian, Student �Voice� |
Dapat diberikan melalui layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok maupun konseling kelompok, konseling individu. Tujuannya: membangun hubungan dan optimisme dengan menunjukkan empati kepada orang lain. |
|
M |
Meaning |
Hidup beretika, Makna dan Tujuan Hidup |
Dapat diberikan melalui layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok maupun konseling kelompok. Tujuan: untuk membangun kebermaknaan dengan memahami bagaimana menjalani hidup beretika. |
|
A |
Accomplishment |
Berfikir dan menyelesaikan masalah, Motivasi, Prestasi, cita-cita |
Dapat diberikan melalui layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok maupun konseling kelompok, konseling individu. Tujuan: mengembangkan keterampilan dan prestasi dengan mencoba pendekatan berfikir yang baru. |
|
+ |
Pshysical Health |
Relaksasi; Mindfullness Breathing; olahraga Tim |
Dapat diberikan melalui layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok maupun konseling kelompok. Tujuan: untuk mengembangkan kesehatan fisik dengan secara teratur mempraktekkan teknik pernafasan menenangkan diri dengan relaksasi , melatih Kerjasama dan kepedulian melalui olahraga kelompok/Tim |
|
+ |
Nutrition |
�mood booster food�, mengelola diet seimbang dan sehat |
Dapat diberikan melalui layanan bimbingan klasikal, bimbingan kelompok maupun konseling kelompok. Tujuan layanan: untuk mengenali dan memilah makanan-makanan dengan tekstur dan aroma tertentu yang dapat meningkatkan mood dan menjaga Kesehatan tentunya tetap dengan gizi dan nutrisi yang cukup dimasa tumbuh kembang. |
Masing-masing elemen PERMA+ saling
terkait dan melengkapi dalam implementasinya. Contoh materi yang ditawarkan dalam rancangan implementasi ini sinergitas tersebut dapat dilihat melalui keterkaitan antara penguasaan satu materi yang mewakili salah satu elemen dengan
penguasaan materi lain yang
mewakili elemen lainnya. Keseluruhan rangkaian materi tersebut dapat dikuasai ketika siswa mengikuti layanan BK dengan melalui proses-proses: belajar
(learning) yaitu menguasai informasi terkait pada fokus masalah, kemudian melakukan aktivitas sebagaimana yang sudah dipelajari sebelumnya (doing) di mana hal ini akan berlanjut
menjadi suatu kebiasaan (growing) dan kemudian mengembangkannya untuk diterapkan pada masalah yang lain
(developing) (sumber/referensi).
Proses sinergitas antar topik/ materi layanan
BK tersebut penulis gambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.� Proses Sinergitas Antar
Topik/Materi Layanan BK
Pada masalah
bullying ini proses belajar dalam arti menguasai informasi terkait masalah
bully diperoleh melalui pemahaman tentang bully, mengenali ciri-ciri stres,
pemahaman akan empati, pemahaman akan etika, dan pemahaman akan langkah-langkah
penyelesaian masalah, dan mengetahui langkah-langkah teknik pernafasan untuk
relaksasi dan pemilihan menu sehat. Kemudian pada tahapan selanjutnya adalah:
praktik menganalisis ciri-ciri pelaku bully dan korban bully, menganalisis
bagaimana caranya agar dapat membuat orang terdekat kita seperti sahabat
ataupun saudara untuk melewati hari dengan bahagia, menganalisis situasi dan
kondisi orang di sekitar dengan memberikan empati yang tepat, menelaah etika
dan etiket yang berbeda di masing-masing lingkungan maupun situasi yang ada
sekaligus mencoba menerapkannya, melakukan analisis masalah guna
penyelesaiannya, dan mempraktekkan teknik pernafasan relaksasi yang sesuai dengan
diri, serta memilih makanan yang tepat sesuai kebutuhan tubuhnya. Setiap hal
yang dilakukan pada tahap pelaksanaan (doing) di atas harus diusahakan
dilakukan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan, yang selanjutnya diharapkan
dapat dikembangkan dan bisa diterapkan terhadap penanganan masalah lain yang
dihadapinya.
Sinergitas antar
topik/materi dari masing-masing elemen juga dapat ditelaah. Materi pada elemen
positive emotion tentang kekuatan diri dan bully, jika dikuasai maka siswa akan
mempunyai kepercayaan diri yang baik dan bisa menghindari diri dari perilaku
bully, yang notabene pelaku bully biasanya hanya akan membully orang-orang yang
terlihat lemah dan tidak percaya diri. Kemudian materi pada elemen engagement
tentang penanganan stress, jika dikuasai maka siswa diharapkan bisa mengelola
stres nya dengan baik dan terhindar dari tekanan lingkungan termasuk perilaku
bully, dan tidak melampiaskan stresnya dalam bentuk perilaku bully pada orang
yang dianggapnya lemah dan tentunya menumbuhkan empati terhadap orang lain.
Materi pada Relationship tentang membangun empati dan kepedulian terhadap
sesama, mendorong siswa mempunyai hubungan sosial yang sehat dengan
lingkungannya.
Materi pada
rancangan implementasi PERMA+, elemen Meaning (kebermaknaan) dengan topik hidup
beretika, memiliki harapan agar siswa dapat membentuk dan mempraktikkan
perilaku beretika dalam kehidupannya sehari-hari, kemudian akan tumbuh
kesadaran dan empati bahwa orang yang beretika baik tidak akan melakukan bully
pada orang lain, serta menyadari bahwa akan ada sanksi dan norma jika melakukan
perbuatan tersebut. Pada materi elemen Accomplishment, keberhasilan
menyelesaikan masalah membuatnya lebih percaya diri, dan memiliki andil
mendukung penguasaan materi pada elemen lainnya. Selanjutnya pada elemen +
physical health dan nutrition, dengan topik tentang teknik relaksasi untuk
mengelola stres dan pemilihan asupan makanan yang dapat meningkatkan mood, pada
akhirnya akhirnya akan mengajak siswa dapat mempraktikkan teknik relaksasi dan
pemilihan asupan makanan yang tepat sesuai kebutuhan dirinya, sehingga dirinya
akan lebih sehat, emosi/mood lebih terjaga dan terkelola dengan baik dan akan
terlihat lebih bahagia, sehingga akan terhindar dari bully, karena mengingat
salah satu penyebab orang menjadi pelaku bully atau korban bully adalah karena
ketidakbahagiaan.
Kesimpulan
Wellbeing
bukan ide satu dimensi, tapi konstruk yang terdiri dari berbagai elemen yang
berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental, juga menjadi determinasi sosial
bagi kesehatan. Rancangan implementasi PERMA+ dapat membangun wellbeing secara
individu maupun social dalam lingkungan sekolah dan komunitas. Dengan rancangan
implementasi PERMA+ guru BK membantu siswa membangun elemen-elemen wellbeing
mulai dari dirinya sendiri, melalui penetapan topik-topik layanan bimbingan dan
konseling sebagai suatu sinergitas dapat mengatasi masalah bullying di sekolah.
Saran
lanjutan adalah untuk menerapkan rancangan implementasi ini di sekolah, untuk
melihat apakah strategi implementasi ini bisa�
berhasil. PERMA+ dengan elemen2 wellbeing yang dibangun melalui penetapan
topik-topik layanan BK dalam kajian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
salah satu strategi dalam layanan BK.�
BIBLIOGRAFI
Afiyani, I. A., Wiarsih, C., &
Bramasta, D. (2019). Identifikasi Ciri-ciri Perilaku Bullying dan Solusi Untuk
Mengatasinya di Sekolah. Jurnal Mahasiswa BK An-Nur: Berbeda, Bermakna,
Mulia, 5(3), 21�25.Google Scholar
Aggleton, P., Dennison, C., & Warwick,
I. (2010). Promoting health and well-being through schools. Routledge
New York. Google Scholar
Aulia, F. (2015). Aplikasi Psikologi
Positif dalam Konteks Sekolah. Seminar Psikologi & Kemanusiaan, 121. Google Scholar
Burger, S. (2014). South Australian Health
and Medical Research Institute (Sahmri). Google Scholar
Ciupe, A. (2020). Oxford University Press,
Oxford Advanced Learner�s Dictionary 10th edition (Android App). Lingua.
Language and Culture, 19(1), 139�142. Google Scholar
Cornell, D., & Cole, J. C. M. (2012).
Assessment of bullying. Handbook of School Violence and School Safety,
298�312. Google Scholar
Giovanni, J. (2017). Hubungan antara
strength-based parenting dengan wellbeing pada remaja di SMA X Surabaya.
Skripsi. Google Scholar
Lestari, F., Anwar, K., & Muhammad, H.
(2021). Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Meningkatkan Kualitas Membaca
Alquran Di Sma Negeri 1 Kota Jambi. UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Google Scholar
Pascha, M. (2020). The PERMA model: Your
scientific theory of happiness. PositivePsychology. Com,
Https://Positivepsychology. Com/Perma-Model/(Consultado: 13 de Enero, 2020). Google Scholar
Planty, M., DeVoe, J. F., Owings, J. A.,
& Chandler, K. (2005). An Examination of the Conditions of School
Facilities Attended by 10th-Grade Students in 2002. ED TAB. NCES 2006-302. National
Center for Education Statistics. Google Scholar
Prabowo, A. (2016). Kesejahteraan psikologis
remaja di sekolah. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 4(2), 246�260.
Google Scholar
Purwaningrum, R. (2016). Urgensi
Psychological Well-Being Bagi Konselor Sekolah. Prosiding Seminar ASEAN
Psikologi Dan Kemanusiaan Kedua. Google Scholar
Rahmawati, I. S., & Illa, A. (2020).
Pencegahan Bullying Dalam Pendidikan Karakter Melalui Peran Guru di Sekolah. Prosiding
Seminar Nasional Pendidikan, 2, 633�640. Google Scholar
Ratna, C. T. (2016). Strategi School
Well-Being di Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai Alat Evaluasi Sekolah. Seminar
ASEAN 2nd Psychology & Humanity� Psychology Forum UMM, 19�20. Google Scholar
Rohman, M., & Hairudin, H. (2018).
Konsep tujuan pendidikan islam perspektif nilai-nilai sosial-kultural. Al-Tadzkiyyah:
Jurnal Pendidikan Islam, 9(1), 21�35. Google Scholar
Romanti. (2021). Pokja Pencegahan dan
Penanganan Kekerasan Hadir Untuk Atasi 3 Dosa Besar Pendidikan.
https://itjen.kemdikbud.go.id/webnew/2021/12/21/pokja-pencegahan-dan-penanganan-kekerasan-hadir-untuk-atasi-3-dosa-besar-pendidikan/
Google Scholar
Ryff, C. D. (1989). Happiness is
everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal
of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069. Google Scholar
Seligman, M. E. P. (2011). Flourish: a
visionary new a understanding of happiness and well-beingr. Policy, 27(3),
60�61. Google Scholar
Yusuf, S. A., & Khasanah, U. (2019).
Kajian Literatur Dan Teori Sosial Dalam Penelitian. Metode Penelitian Ekonomi
Syariah, 80. Google Scholar
|
Copyright holder : Raden Roy Miftahul Huda, Lidya Ardiyan (2022) |
|
First publication right
: This article is licensed under:
|