|
�Jurnal Syntax
Transformation |
Vol. 3,
No. 6, Juni 2022 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PENGEMBANGAN
PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT DAN KEARIFAN LOKAL DI DESA JUNREJO KECAMATAN
JUNREJO KOTA BATU
Mochammad Arfani, Victor Marulitua Lumbantobing, Priyanto
Universitas Dr. Soetomo Surabaya,
Jawa Timur, Indonesia
Email : [email protected],
[email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
3 Juni 2022 Direvisi 17 Juni
2022 Disetujui 23 Juni
2022 |
Pemerintah Kota Batu berusaha terus memberikan dorongan kepada masyarakat dan pihak ketiga untuk mengembangkan destinasi pariwisata, sehingga diharapkan muncul banyak investor baru yang akan menyelenggarakan kegiatan pariwisata dari mulai pengelolaan
destinasi pariwisata, pengelolaan tempat penginapan/hotel, pengelolaan angkutan, usaha rumah makan dan usaha wisata lain yang dapat berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat sekitar objek wisata. Pemerintah daerah juga berkomitmen memberikanlayanan pariwisata yang murah dan bersahabat bagi masyarakat. Pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat tersebut diharapkan tidak membebani anggaran Pemerintah daerah dan meningkatkan investasi pada berbagai sektor pendukung wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangakan pariwisata berbasis masyarakat dan kearifan lokal di Desa Junrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu tersebut dilakukan oleh masyarakat yang tergabung dalam kelompok Katadarwis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Darwsis adalah kelompok tani sadar wisata,
merupakan sekelompok masyarakat desa Junrejo, yang sebagian besar bermata pencaharian petani. Dalam perkembangan pariwisata di Kota Batu dengan semua manfaat maupun dampaknya selama ini, memutuskan
untuk menawarkan sebuah sajian wisata yang berbeda, berangkat dari potensi alam, sosial dan budaya di sekitar mereka. Katadarwis mengembang pariwisata di sektor pertanian dan kelestarian alam dengan membangun
omah wisata, omah wisata tersebut
memberikan nuansa alami pegunungan dan pertanian dengan mengusung kearifan lokal budaya setempat yaitu dengan truly Batu, dayoh, tamu dolan, tamu
sambang, lungguh, suguh dan gupuh. Fasilitas yang diberikan omah wisata seperti
pendopo omah wisata, village trip omah wisata, learnscape omah wisata, homestay omah wisata, social
innovation labs omah wisata,
nursery omah wisata, dan
e-commerce, serta dibantu
oleh relawan wisata yang berasal dari masyarakat. Pariwisata tersebut merupakan desa wisata kolaboratif,
berbasis pelestarian lingkungan, mitigasi bencana, dan keterlibatan masyarakat serta kearifan lokal. Hal ini didukung oleh pentahelix pariwisata dalam kelangsungan yang berkelnajutannya. Unsur pentahelix pariwisata tersebut adalah pemerintah, dunia usaha, masyarakat, media massa dan akademisi. ABSTRACT The Batu City
Government is trying to continue to provide encouragement to the community and
third parties to develop tourism destinations, so it is hoped that many new
investors will emerge who will organize tourism activities ranging from the
management of tourism destinations, management of lodging/hotels,
transportation management, restaurant businesses and other tourism businesses
that can have a direct impact on the welfare of the community around the tourist
attraction. The local government is also committed to providing cheap and
friendly tourism services for the community. The community-based tourism
management is expected not to burden the local government's budget and
increase investment in various tourism support sectors. This study aims to
develop community-based tourism and local wisdom in Junrejo
Village, Junrejo District, Batu City, which is
carried out by people who are members of the Katadarwis
group. The research method used in this study uses descriptive qualitative
methods. Darwsis is a tourism conscious farmer
group, a group of People from Junrejo Village, most
of whom have a livelihood for farmers. In the development of tourism in Batu
City with all its benefits and impacts so far, decided to offer a different
tourist dish, departing from the natural, social and cultural potential
around them. Katadarwis expands tourism in the
agricultural sector and natural sustainability by building tourist omah, the tourism omah provides
a natural feel of mountains and agriculture by carrying out local wisdom of
local culture, namely with truly Batu, dayoh, dolan guests, sambang guests, lungguh, suguh and gupuh. The facilities provided by omah
wisata such as pendopo omah wisata, village trip omah wisata, learnscape omah wisata, homestay omah wisata, social innovation labs omah
wisata, nursery omah wisata, and e-commerce, as well as assisted by tourism
volunteers from the community. The tourism is a collaborative tourism
village, based on environmental conservation, disaster mitigation, and
community involvement and local wisdom. This is supported by pentahelix tourism in its continued continuity. The pentahelix elements of tourism are the government, the
business world, the public, the mass media and academia.. |
|
Kata Kunci: Pariwisata, masyarakat, kearifan Keywords: Tourism, society, wisdom |
Pendahuluan
Pariwisata
adalah berbagai macam kegiatan wisata yang memiliki keunikan, keindahan alam, dan nilai yang berupa kenekaragaman kekayaan alam, budaya serta hasil
buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan yang didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah (Winarto et al., 2015)
(Rahmi, 2016).
Kepariwisataan
adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha (Nugroho, 2018).
Pengembangan
Pariwisata berbasis masyarakat menggunakan pendekatan kerjasama antar para pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, usaha pariwisata, lembaga swadaya masyarakat serta perguruan tinggi dan lembaga penelitian pada semua tahap (Hayati, 2014).
Untuk mengembangkan Pariwisata berbasis masyarakat, terutama pada tahap awal, pendampingan
masyarakat dibutuhkan agar masyarakat terlibat dalam seluruh proses pengembangan mulai dari tahap perencanaan.
Masyarakat merupakan pemain
kunci dalam proses perencanaan dan pelaksanaan.
Salah satu
prinsip kepariwisataan yang
terkandung dalam undang-undang No 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan ialah adanya pemberdayaan
masyarakat setempat ataupun lokal. Hal ini tertuang pada pasal 5 yang berbunyi: Menjunjung tinggi hak asasi manusia,
keragaman budaya, dan kearifan lokal dan memberdayakan masyarakat setempat (Rudy & Mayasari, 2019).
Selain
itu, di dalam undang-undang tersebut disebutkan pembangunan kepariwisataan mengandung asas yakni: �Asas
manfaat, kekeluargaan, adil dan merata, keseimbangan, kemandirian, kelestarian, partisipatif, berkelanjutan, demokratis, kesetaraan, dan kesatuan. Semua hal tersebut
diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperlihatkan keanekaragaman, keunikan, dan ke-khasan budaya dan alam, kebutuhan manusia untuk wisata.�
(Ethika, 2016).
Jika dilihat
dari sudut pandang prinsip dan asas yang terkandung dalam undang- undang
kepariwisataan di atas, selain potensi alam, maka potensi
budaya dan kearifan lokal menjadi perhatian
penting yang harus di manfaatkan pemerintah untuk mempercepat perkembangan pariwisata (Rahayu, 2016). Untuk itu, menjadi
penting bagi pemerintah maupun pemerintah daerah agar lebih fokus dalam
mengembangkan pariwisata berbasis kearifan lokal di pedesaan. Hal ini disebabkan karena desa merupakan
tempat budaya, kearifan lokal dan potensi� alam terpelihara dengan keasliannya.
Dengan
adanya kearifan lokal merupakan pandangan dan pengetahuan tradisional yang menjadi acuan dalam berperilaku
dan telah diaplikasikan secara turun-temurun untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab permasalahan dalam kehidupan suatu masyarakat. Kearifan lokal memberikan identitas, fungsi dan makna dalam masyarakat
menyesuaikan keberadaan penduduk setempat, menjawab problema yang terjadi serta memberikan
pengetahuan dan cara bertahan hidup untuk menanggapi lingkungan yang berkembang.
Dalam
pelaksanaan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, pemerintah dan masyarakat memiliki perannya masing-masing. Pemerintah
berperan dalam menghasilkan kebijakan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Sedangkan masyarakat terlibat dalam pengelolaan potensi pariwisata yang ada di sekitarnya (Rusyidi & Fedryansah, 2018).
Pariwisata
memang sangat berpotensi bagi lingkungannya terutama perekonomian masyarakat sekitar kawasan wisata (Abdillah et al., 2016).
Dalam pembangunan wisata juga memerlukan Sumber Daya Manusia
yang professional sehingga wisata
tersebut dapat berkembang dan menjadi wisata yang dikenal oleh kalangan luar daerah.
Pembangunan wisata perlu
strategi yang efektif dan efisien,
dengan strategi yang efiktif
dan efisien maka dapat dipastikan wisata tersebut dapat serta meningkatkan
kualitas yang baik untuk wisata dan pastinya untuk lingkungan daerah dan juga masyarakat sekitar.
Pemerintah
Kota Batu berusaha terus memberikan dorongan kepada masyarakat dan pihak ketiga untuk
mengembangkan destinasi pariwisata, sehingga diharapkan muncul banyak investor baru yang akan menyelenggarakan kegiatan pariwisata dari mulai pengelolaan
destinasi pariwisata, pengelolaan tempat penginapan/hotel, pengelolaan angkutan, usaha rumah makan dan usaha wisata lain yang dapat berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat sekitar objek wisata. Pemerintah
daerah juga berkomitmen memberikanlayanan pariwisata yang
murah dan bersahabat bagi masyarakat.
Pengelolaan pariwisata
berbasis masyarakat tersebut diharapkan tidak membebani anggaran Pemerintah daerah dan meningkatkan investasi pada berbagai sektor pendukung wisata (Prabaningsiwi, 2018).
Salah� satu
desa� di Kota
Batu� adalah Desa Junrejo, Kecamatan� Junrejo,��� Desa� Junrejo menjadi salah satu desa yang memiliki potensi wisata menarik. Desa ini
memiliki tiga dusun didalam, yaitu dusun rejoso,
jeding dan junwatu. Ketiga dusun ini
saling berkaitan satu sama lain namun setiap dusun
memiliki potensi wisata yang berbeda-beda.
Dengan
hadirnya usaha atau pekerjaan baru tidak hanya
kearifan lokal yang berubah dari segi
ekonomi tetapi juga merubah lingkungannya dan menjadikan identitas warga setempat. Desa Junrejo Kota Batu merupakan salah satu dusun yang warganya bekerja sebagai petani dan sebagian beralih menjadi pekerja home industri peralatan tumah tangga kerajinan cobek dan kayu, dan ini menjadikan Desa Junrejo Kecamatan
Junrejo Kota Batu sebagai
salah satu tujuan destinasi wisata.
Wisata
yang dikembangkan adalah pariwisata yang berbasis masyarakat dan kearifan lokal, wisata tersebut
diberi nama omah wisata. Omah
Wisata merupakan desa wisata kolaboratif,
berbasis pelestarian lingkungan, mitigasi bencana, dan keterlibatan masyarakat. Hal ini didukung oleh katadarwis, yaitu� kelompok tani sadar wisata,
merupakan sekelompok masyarakat desa Junrejo, yang sebagian besar bermata pencaharian
petani.
Dalam
derap perkembangan pariwisata di Kota Batu dengan semua manfaat maupun
dampaknya selama ini, memutuskan untuk menawarkan sebuah sajian wisata
yang berbeda, berangkat dari potensi alam,
sosial dan budaya di sekitar mereka.
Omah
Wisata� menyajikan eksotisme lokalitas masyarakat agraris yang ramah� berkepemurahan sebagai identitas karakter original mereka, dan menjaganya agar tetap hidup dan tumbuh berkelanjutan di masa mendatang dengan mengimplementasikan inovasi inovasi keilmuan terbaru dalam rangkaian
program aktifitas dan fasilitas
di desa wisata ini.
Pengembangan
Desa Wisata dilatar belakangi oleh beberapa tujuan. Tujuan pertama ialah kebutuhan akan konsep destinasi
wisata yang berbeda antara desa satu
dengan desa lainnya, yakni setiap desaharus memiliki produk unggulan, dan tujuan kedua melalui produk
unggulan dari tiap Desa tersebut
dapat dijadikan sebagai usaha peningkatan
perekomian untuk kesejahteraan masyarakat.
Metode Penelitian
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif (Sholikhah, 2016).
Kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada suatu objek yang alamiah. �Objek dalam penelitian kualitatif adalah objek yang alamiah, apa adanya, dalam
situasi norman yang tidak dimanipulasi baik keadaan ataupun
kondisinya, sehingga metode ini disebut
deskriptif merupakan metode yang bertujuan untuk mendeskripsikan masalah sebagaimana adanya.
Penelitian
deskriptif berusaha mendeskripsikan suatu peristiwa atau kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikanperlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut. Alasan penyusun memilih metode ini adalah karena
metode ini berguna untuk mendapatkan
data yang nyata terjadi dilapangan pada saat melakukan penelitian sehingga setelah mendapatkan data kemudian dianalisis. Selain itu juga penelitian deskriptif digunakan dalam penelitian ini karena dipandang
sangat tepat sehingga penulis dapat mendeskripsikan
berbagai sumber data dan informasi baik itu dari berbagai
pendapat ahli dan berdasarkan observasi hasil wawancara yang dapat dijadikan sebagai suatu data yang dapat membantu dalam penelitian ini. Dalam penelitian
desriptif juga tidak hanya terbatas pada pengumpulan data atau informasi dari berbagai sumber saja akan tetapi
data yang didapatkan juga dapat
dianalisis dengan demikian pembahasan masalah dan analisis data akan menjadi mudah
untuk dipahami (Soendari, 2012).
Hasil dan Pembahasan
Pariwisata
merupakan sektor unggulan yang terus dikembangkan dan dijadikan gagasan utama sebagai
arah pembangunan di Kota
Batu. Hal tersebut dapat diketahui dari visi Kota Batu dan julukan
"KWB" (Kota Wisata Batu). Sebagai sebuah sektor unggulan, pariwisata telah menjadi sektor yang turut berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakatsesuai dengan tujuan kepariwisataan
di Kota Batu.
Desa
Wisata Junrejo merupakan salah satu Desa yang berada di Kecamatan Junrejo dan memiliki potensi yang berbeda,� bentuk atraksi wisata yang disesuaikan dengan potensi Desa Junrejo
ialah Desa Wisata berbasis masyarakat dan kearifan lokal. Berbasis masyarakat dan kearifan lokal� diartikan sebagai pemanfaatan cadangan sumber daya yang bukan hanya terbarukan, bahkan tak terbatas,
yaitu ide, gagasan, bakat atau talenta
dan kreativitas warga masyarakat dan budaya yang berkembang secara arif dan bijaksana yang berlaku di masyarakat.
Bentuk
dari kegiatan pariwisata berbasis masyarakat dan kearifan lokal tersebut ialah pengembangan wisata desa Omah
Wisata yang didukung berbagai faktor seperti alam pegunungan,
pertanian, hime industri kerajinan peralatan rumah tangga berupa cobek
dan kerajinan kayu yang kemudian menjadi sebuah daya tarik
wisata bagi Desa Junrejo. Daya
tarik wisata ialah segala sesuatu
yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan
wisatawan (Yusof et al., 2012).
Omah
Wisata merupakan desa wisata kolaboratif,
berbasis pelestarian lingkungan, mitigasi bencana, dan keterlibatan masyarakat. Hal ini didukung oleh katadarwis, yaitu� kelompok tani sadar wisata,
merupakan sekelompok masyarakat desa Junrejo, yang sebagian besar bermata pencaharian
petani.
Dalam
derap perkembangan pariwisata di Kota Batu dengan semua manfaat maupun
dampaknya selama ini, memutuskan untuk menawarkan sebuah sajian wisata
yang berbeda, berangkat dari potensi alam,
sosial dan budaya di sekitar mereka. Omah Wisata� menyajikan
eksotisme lokalitas masyarakat agraris yang ramah� berkepemurahan sebagai identitas karakter original mereka, dan menjaganya agar tetap hidup dan tumbuh berkelanjutan di masa mendatang dengan mengimplementasikan inovasi inovasi keilmuan terbaru dalam rangkaian
program aktifitas dan fasilitas
di desa wisata ini.
Generasi
milenial, digitalisasi,
dan pandemi, memicu fenomena tripple distruption, yang merubah secara mendasar peta industri pariwisata.
Dari wisata buatan kembali ke alam,
dari International menjadi
domestik, dari mass
menjadi less, dari
leisure needs menjadi survival needs.
Lokasi omah
wisata di Desa Junrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu lokasinya
sangat strategis dan mudah dijangkau para wisatawan, yaitu terletak di pinggir jalan kabupaten
dan banyak dilalui kendaraan yang mau ke Kota Batu. Disamping itu juga terdapat Kantor DPRD
Kota Batu dan Kantor Polresata Kota Batu yang berada di samping omah wisata Junrejo.
Hal ini merupakan lokasi yang sangat menguntungkan dari segi banyaknya orang yang lalu lalang baik
untuk keperluan masyarakat sendiri dalam hal mengurus
sesuatu ke kepolisian atau juga kunjungan masyarakat ke gedung DPRD Kota batu yang lewat jalan menuju
omah wisata Junrejo.
Masyarakat sekitar
atau para wisatawan bisa menikmati omah wisata dengan
melakukan petik buah jeruk, menikmati
keindahan gunung Arjuno, Gunung Panderman, Gunung Kawi yang indah, menikmati matahari tenggelam di sela-sela pegunungan yang bisa memberi nuasa keasrian
alam wisata omah wisata tersebut
(Aulia, 2012).
Pariwisata
model omah wisata di Desa Junrejo Kecamatan
Junreko Kota Batu adalah sebagai berikut :
1.
Truly Batu
Dalam
arti omah wisata Junrejo Kota Batu yaitu wisata dengan keaslian
Kota Batu yang tidak hanya bisa dilihat, tetapi
bisa dirasakan budayanya seperti budaya masyarakat dan kampung wisata yang ada yang dikelola dengan bersama masyarakat, disamping itu masyarakat
juga bisa menikmati kesenian yang ada dan adanya wisata relegi
dengan adanya kampung solidaritas beragama.
2.
Dayoh
Pengembangan
omah wisata Junrejo yang berbasis masyarakat dan kearifan lokal menerapkan suguh dayoh atau
menghormati wisatawan sebagai tamu, menyajikan
sosial budaya yang arif yang dikelola dengan masyarakat dalam menghormati wisatawan sebagai dayoh dalam istilah
jawa atau tamu.
Tamu
yang datang bisa menginap di rumah penduduk tanpa diminta untuk membayar
dan diberi layanan fasilitas untuk berkunjung di wisata yang ada di kota batu lainnya, seperti di wisata Jatim Park, Batu Night
Spectacular, wisata petik bunga dan lain lain tempat wisata. Masyarakat membatu tamu mengantar
kemana para wisatawan akan berkunjung selanjutnya dan ini masyarakat Junrejo sendiri sebagai relawan wisata.
Relawan
wisata Junrejo Kota Batu memberi pelayanan ke para wisatawan tanpa bayaran atau
gratis, dan kalau berkunjung
ke tempat wisata kalau diantar
oleh relawan wisata Junrejo, para wisatawan dapat diskon kalau
berkunjung ke tempat temapt wisata
disekitar Junrejo seperti wisata Tlekung, Wisata jatim Park dan tujuan wisata lainnya.
Dengan
pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dan kearifan lokal wisata Junrejo dapat memberi kenyamanan
dan fasilitas lainnya yang bisa dirasakan oleh para wisatawan, bisa melihat keseharian bidang pertanian, petik buah jeruk,
petik bunga, berkunjung ke tujuan
home industri dimana wisatawan bisa� melihat
home industri yang menghasilkan
peralatan rumah tangga terbuat dari kayu dan batu yang ada di Desa Junrejo
Kota Batu.
3.
Tamu
Dolan.
Untuk
pertama kalinya kalau wisatawan berkunjung ke omah
wisata Junrejo, maka para wisatawan bisa dikatakan sebagai Tamu Dolan, dimana wisatawan masih dikatakan sebagai tamu yang mulai bermain atau
dolan. Dolan atau bermain di tempat wisata yang disajikan oleh masyarakat, bermain dengan masyarakat Junrejo di segala bidang.
4.
Tamu
Sambang
Sedangkan
kalau wisatawan datang yang kedua kalinya maka para wisatawan bisa dikatakan sebagai Tamu Sambang, tamu
sambang artinya para wisatawan yang datang kedua kalinya berarti
nyambangi atau berkujung lagi ke tempat wisata
omah wisata yang asri sejuk dan fasilitas yang berbasis masyarakat dan kearifan lokal. Para wisatawan sambang atau berkunjung
lagi karena sangat tertarik, merasakan keasrian, kenyamanan dan keramahtamaan masyarakat serta menikmati produk yang dihasilkan masyarakat. Demikian kalau wisatawan berkunjung terus bisa dikatakan wisatawan sebagai tamu yang sambang, nyambangi obyek wisata di Junrejo.
5.
Lungguh
Para wisatawan dipersilahkan duduk atau lungguh, duduk di lokasi wisata dengan
menikmati keindahan alam pegunungan yang sejuk, petik jeruk,
edukasi pertanian, melihat kesenian yang ada, istirahah di perkebunan jeruk, sampai bermalam di rumah penduduk sebagai fasilitas untuk wisatawan.
6.
Suguh
Wisatawan
sebagai tamu, oleh masyarakat Junrejo sangat dihomati dan di suguhi atau diberi layanan
yang terhormat. Artinya suguh itu kalau
ada tamu paling tidak masyarakat sudah memberi suguhan
atau pelayanan yang baik dan menyenangkan bagi para wisatawan, suguhan tidak hanya
menginap atau bermalam di rumah penduduk, tetapi juga banyak disuguhi fasilitas wisata seperti home stay, parkir yang aman, pusat pusat
informasi wisata yang ada di Kota Batu dan sebagainya.
7.
Gupuh
Kita sebagai masyarakat yang beradap dan menjunjung tinggi adat budaya
sangat tanggap kalau menerima tamu, disini masyarakat bisa dikatakan gupuh, atau tergerak
untuk bertindak menghormati tamu yang dating. Gupuhnya masyarakat bisa melayani kira
kira apa yang perlu disajikan kepada tamu yang dating, keramahan dalam melayani tamu, memberikan informasi apa yang diperlukan oleh wisatawan, jaringan wisata apa yang akan dituju selanjutnya
oleh wisatawan dan pelayanan
lainnya.
Untuk
itu kalau ada tamu yang datang,
maka masyarakat harus memberi suguh,
atau sesuatu yang bisa memberi suguhan
yang menyenangkan kepada wisatawan. Suguhan tersebut bisa berupa
sajian alam yaitu keindahan alam pegunungan, sajian budaya seperti
jaranan tari topeng seribu wajah� dan sajian kuliner seperti makanan khas yang bisa menyenangkan para wisatawan.
Suguhan
yang bisa dilakukan oleh masyarakat Junrejo kepada para wisatawan adalah suguhan wisata petik jeruk
dan sayur, wisata kebun bunga, wisata
edukasi tentang pertanian, edukasi tentang tanaman jeruk, edukasi tentang pengolahan limbah buah, wisata
bentang alam pegunungan arjuna dan pegunungan putri tidur, wisata
cara pengolahan awal tanam padi.
Suguhan budaya masyarakat Junrejo kepada wisatawan yaitu tari topeng seribu wajah, kesenian jaranan, dan budaya lokal lainnya.
Suguhan
wisata lainnya yaitu omah wisata
junrejo bekerja sama dengan wisata
yang ada di sekitar Junrejo seperti Jatim Park, Batu Night Spectacular, Wisata
petik Apel, Wisata Arum jeram dan wisata lainnya, masyarakat Junrejo sebagai relawan wisata bisa memberi
layanan kalau akan berkunjung ke tempat wisata
lainnya sebagai guide untuk member kemudahan dan kenyamanan kunjungan wisatawan sebagai wisatawan tamu dayoh dan wisatawan tamu sambang.
Penataan
Omah wisata dibuat sedemikian asri dan mengandung unsur kearifan lokal, dalam aspek
penataan ruang, tujuan utamanya adalah untuk memunculkan
kembali rajutan keseimbangan antara kawasan hunian, kawasan pertanian, serta kawasan aliran
sungai, dengan menghadirkan kawasan aktifitas bersama sebagai perekatnya, dan kemudian mengkoneksikannya dengan jalur sirkulasi
primer dan memperkuat jalur
sirkulasi sekunder.
Kawasan hunian dengan akses
jalan poros yang sangat strategis, secara natural menjadi wajah depan
dan area penyambutan awal bagi tamu omahwisata.
Selain difungsikan sebagai sarana akomodasi berupa homestay dengan konsep live-in, kawasan ini juga menjadi area beraktifitas bagi program village trip, learnscape,
social innovation labs dan e-commerce omahwisata.
Kawasan hunian anggota omah wisata yang dijadikan sarana akomodasi akan mendapatkan pendampingan dan hospitality
upgrading skill dalam pengelolaan
homestay, gerbang masuk dan
jalur sirkulasi sekunder akan dihadirkan
sebagai penghubung antar kawasan hunian
ke kawasan aliran sungai dan kawasan pertanian.
Gerbang
masuk menuju sirkulasi sekunder, diberikan penanda gerbang dari bambu
yang ditata secara unik, sebagai penyambut
bagi tamu, lorong kampung menuju kawasan sungai ditata agar bersih, rapi, teduh dan berkesan.
Kawasan aliran sungai yg
berada tepat di tengah antara kawasan
hunian dan kawasan pertanian, yang selama ini diperlakukan sebagai area belakang berusaha dihidupkan kembali dengan menghadirkan fasilitas dan aktifitas yang berorientasi ke badan sungai beserta bantarannya.
Diharapkan
dengan begitu sungai beserta daerah pendukung di sekitarnya dapat terkelola dengan lebih optimal dan terjaga kelestarian lingkungannya fasilitas social innovation laboratorium� omahwisata akan menjadkan kawasan ini akan
menjadi salah satu laboratorium� praktek lapang untuk aspek mitigasi
vegetasi, water management, dan bamboo exploration, sekaligus menjadi area aktifitas bagi program village
trip, learnscape dan ecommerce omah wisata.
Jembatan
bambu yang sudah ada akan diperkuat,
diperbaiki dan dipercantik sehingga bisa menjadi
salah satu icon kawasan plengsengan tebing sungai akan diberikan
plensengan yang unik karena memanfaatkan ban bekas yang dijadikan media tanam bagi beraneka
vegetasi penahan erosi dan pengusir nyamuk jalan setapak
jalan setapak sepanjang sisi sisi sungai juga akan diperkuat, diperbaiki dan dipercantik agar lebih fungsional dan dapat menjadi sarana
aktifitas susur sungai.
Kawasan pertanian milik anggota ini akan
tetap dipertahankan peruntukannya seperti semula sebagai lahan pangan produktif,
dengan menambahkan fasilitas dan aktfitas baru yang yang mendukung secara langsung produktifitasnya, sekaligus dapat menjadi fasilitas untuk edukasi, life experience, riset dan inovasi bagi program village trip, learnscape,
social innovation lab dan e-commerce omahwisata.
Kawasan aktifitas bersama omahwisata direncanakan untuk mampu menjadi
perekat antara 3 kawasan rencana, sekaligus mampu mewadahi dan memfasilitasi aktifitas dan program program omahwisata, baik untuk aktifitas internal anggota, maupun aktifitas interaksi dengan masyarakat secara lebih luas.
Area ini akan dilengkapi
dengan fasilitas joglo utama, joglo
kebun, kolam ikan, mushola, gubug gubug tematik, panggung terbuka,rumah
inap, area kebun bibit / nursery dan laboratorium inovasi sosial.
Pariwisata
yang berupa� omah
wisata di Desa Junrejo kecamatan Junrejo Kota Batu terdapat 7
program aktifitas beserta
fasilitasnya yang bisa dinikmati oleh para wisatawan, fasilitas tersebut adalah :
1.
Pendopo
Omah Wisata
Pendopo
omah wisata memanfaatkan bangunan joglo lawasan yang khas akan nuansa
perdesaan tempo doeleo. Secara fungsional tipologis bangunan ini telah terbukti
mampu menjadi ruang bersama yang mewadahi dan merepresentasikan karakter aktifitas bersama dalam atmosfer
yang akrab, terbuka, dan partisipatif.
Pendopo
omah wisata nantinya akan menjadi
sebuah ruang dialog yang mempertemukan berbagai elemen, gagasan, pemikiran dan ikhtiar kolaboratif menuju kebaikan bersama, sembari menikmati suguhan kopi, minuman herbal, dan
kuliner khas pedesaan yang diolah dari kebun sekitar
dengan konsep donasi non komersial.
2.
Village Trip
omah wisata
Adalah
aktifitas experential
learning dengan tema kehidupan pertanian dan pedesaan. Disini pengunjung dapat merasakan dan melakukan langsung semua aktivitas warga desa mulai bertani,
mngolah hasil panen, hingga aktivitas
keseharian warga desa lainnya bersama
sama masyarakat desa.
3.
Learnscape
Omah Wisata
Learnscape
adalah ruang pembelajaran yang dilakukan baik dilapangan maupun di ruang tertutup seperti di ruangan yang telah disediakan, sedankan di lapangan dilakkan dengan pembelajaran secara langsung di lokasi sawah atau nursey omah wisata dengan
mempelajarai praktek praktek penyuluhan dan pengembangan produk baru untuk pengembangan
wisata. Pembelajaran ini untuk saling
tukar informasi dan pengetahuan baik sesama anggota kata darwis atau dengan
para wisatawan yang berkunjung
ke lokasi omah wisata
4.
Homestay Omah
Wisata
Kawasan hunian anggota omah wisata yang dijadikan sarana akomodasi akan mendapatkan pendampingan dan hospitaly upgrading skill dalam pengelolaan homestay. Gerbang masuk dan jalur sirkulasi sekunder akan dihadirkan sebagai penghubung antar kawasan hunia
ke kawasan aliran sungai dan kawasan pertanian, gerbang masuk menuju
sirkulasi sekunder, diberikan penanda gerbang dari bambu
yang ditata secara unik, sebagai penyambut
bagi tamu lorong kampung menuju kawasan sungai ditata agar bersih, rapi, teduh dan berkesan.
5.
Social innovation labs Omah Wisata
Kawasan Aktivitas Bersama, kawasan aktifitas bersama omahwisata direncanakan untuk mampu menjadi
perekat antara 3 kawasan rencana, sekaligus mampu mewadahi dan memfasilitasi aktifitas dan program program
omahwisata, baik untuk aktifitas internal anggota, maupun aktifitas interaksi dengan masyarakat secara lebih luas.
Area ini akan dilengkapi
dengan fasilitas joglo utama, joglo
kebun, kolam ikan, mushola, gubug gubug tematik, panggung terbuka,rumah
inap, area kebun bibit/nursery dan laboratorium inovasi sosial.
Social
innovation labs omah
wisata adalah sebuah fasilitas yang mewadahi penerapan berbagai aktifitas inovasi dan ekperimentasi berbasis sosial yang bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari berbagai
proses yang telah ada sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem. Diantara aktifitasnya adalah:
a.
Pemanfaatan
listrik tenaga surya untuk pertanian
b.
Pemanfaatan
air hujan untuk kebutuhan pertanian dan keseharian
c.
Pemanfaatan
sampah domestik dan pertanian sebagai pupuk dan material bangunan
6.
Nursery Omah Wisata.
Nuresy
omah wisata bergungsi sebagai fungsi kebun bibit,
untuk anggota keluarga dan pengunjung. Disini pengunjung dapat melakukan aktivitas edukasi wisata, berbelanja berbagai aspek seputar pemeliharaan dan perawatan aneka tanaman buah, sayur
dan bunga.
7.
E-commerce Omah Wisata
E-commerce omah wisata dilakukan
dengan berbagai kegiatan akatu aktivitas seperti digital
marketing, pemasaran melalui
network community , instagram,
jaringan pemasaran dengan agen wisata
yang ada. Dengan melakukan e-commerce wisata omah wisata tersebut
dengan mudah dikenal dan tidak memerlukan biaya yang besar untuk promosi
wisata, sehingga sesama wisatawan dapat memberikan informasi kepada grup atau keluraga
yang ingin berkunjung ke omah wisata.
Agen
agen perjalanan wisata juga dapat mempromosikan tujuan wisata dan membuat paket wisata ke
omah wisata, dengan demikian omah wisata akan
mendapat banyak kunjungan wisatawan melalui paket wisata.
Pengembangan
omah wisata Junrejo Kota Batu juga menerapkan
pentahelix dalam memajukan pariwisata, desa wisata merupakan
salah satu garapan Kemenparekraf dengan menggunakan konsep pentahelix (Arfani, 2022).
Konsep pentahelix merupakan salah satu tawaran dari Kementerian Pariwisata terkait dengan pengembangan pariwisata di Indonesia, tertuang
dalam Peraturan Menteri (Permen) Pariwisata Republik Indonesia No. 14 tahun
2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata yang Berkelanjutan.
Pihak-pihak
yang dimaksud dalam pentahelix adalah bisnis, pemerintah, masyarakat, akademisi, dan media.
Adapun masyarakat yang dimaksud
adalah pihak ketiga atau swasta
yang mempunyai tujuan membangun pariwisata Indonesia.
Dengan
kata lain, konsep pentahelix
atau multipihak adalah suatu konsep
dengan unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha,
masyarakat atau komunitas, dan media, bersatu-padu,
berkoordinasi serta berkomitmen untuk mengembangkan potensi lokal desa dan kawasan perdesaan. Potensi yang dimaksud, tetap mengedepankan kearifan lokal dan bersumber daya lokal dalam usaha
pariwisata.
Peran dari masing masing unsur pentahelix untuk kolaborasi pariwisata adalah sebagai berikut :
a.
Peran Pemerintah
Kota Batu sebagai unsur pentahelix bahwa� pemerintah
memiliki otoritas dalam pengaturan, penyediaan dan peruntukan bagi infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan pariwisata. Selain itu, bertanggungjawab
dalam menentukan arah yang dituju dalam perjalanan pariwisata, kebijakan makro yang di tempuh pemerintah merupakan panduan bagi stakeholder yang
lain dalam memainkan peran masing-masing. Dalam hal ini pemerintahan
yang menjadi kewenangan daerah di bidang pariwisata dan kebudayaan adalah Dinas Pariwisata,� Dinas Pariwisata dalam melaksanakan tugas menyelenggarakan fungsi seperti perumusan kebijakan teknis dan rencana strategis di bidang pariwisata dan kebudayaan, penetapan rencana kerja dan anggaran di bidang pariwisata dan kebudayaan, pelaksanaan kebijakan di bidang pariwisata dan kebudayaan, penyelenggaraan peningkatan kualitas sumber daya manusia aparatur
di bidang pariwisata dan kebudayaan, pelaksanaan administrasi dinas di bidang pariwisata dan kebudayaan.
b.
Peran media masaa
baik itu elektronik maupun cetak memiliki peran penting untuk
menyebarkan berbagai informasi, salah satunya mengenai pariwisata baik tingkat nasional
maupun daerah yang destinasi wisatanya belum terjamah dan memerlukan sentuhan peran media. Karena peran sebuah media melalui pemberitaan yang positif� dan berimbang dapat membangun kesan dan mempengaruhi serta mampu memperbaika citra suatau daerah
dengan berbagai kebijakan, terlebih Kota
Batu� yang sedang
gencar-gencarnya mempromosikan
berbagai destinasi wisata yang ada. Wartawan dan para awak media lainya, untuk ikut
memberikan informasi pariwisata di Kota Batu kepada masyarakat luas. Pemberitaan di media merupakan sebagai sarana sosialisasi sekaligus promosi bagi kami untuk terus berbenah
dan mempercatik berbagai destinasi wisata yang ada.
Dengan
semakin bergairahnya sektor pariwisata di Kota Batu,� peran
media� sangat strategis
dalam ikut mengangkat serta memberikan informasi tentang adanya objek kunjungan wisata yang ada, serta diharapakan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Tapi apabila media sudah memberitakan negative, yang akan terjadi sebaliknya. Para wisatawan akan enggan mengunjungi Kota Batu, karena terpengaruh hal-hal negatif dari� pemberitaan
media.
c.
Dunia usaha
atau investor dapat berkiprah dalam pariwisata di Kota Batu, mengingat
peluang yang besar untuk investasi di kota yang sejuk dan diharapkan perusahaan berkomitmen terus berinvestasi, membuka lapangan kerja, meningkatkan ketrampilan dari pelaku wisata
dan ekonomi kreatif mulai aspek digital sampai landscapenya, seperti peusahaan grup Jawa Timur Park sampai membuka lokasi wisata di beberapa tempat di Kota Batu.
Perusahaan atau dunia usaha dapat berperan sebagai investor atau berperan sebagai konsultan bagi masyarakat untuk membangun pariwisata yang berbasis masyarakat dan kearifan lokal, seperti misalnya Mawindo, sebuah lembaga manajemen wisata Indonesia yang berkiprah sebagai perencana pariwisata yang memberikan desain perencanaan pariwisata.� Mawindo atau management wisata indonesia, adalah sebuah lembaga
professional yang bergerak di bidang
perencanaan, pendampingan, pengembangan dan pengelolaan wisata.
d.
Pariwisata
merupakan salah satu sektor penggerak perekonomian desa sehingga perlu diberi perhatian lebih agar dapat berkembang dengan baik. Guna mendorong sektor pariwisata, diperlukan berbagai upaya pengembangan pariwisata di mana salah satunya ialah gerakan Sadar
Wisata. Gerakan Sadar Wisata merupakan konsep yang melibatkan partisipasi berbagai pihak dalam mendorong
iklim yang kondusif bagi perkembangan pariwisata. Gerakan Sadar Wisata tersebut diwujudkan melalui adanya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)
yang menjadi aktor penggerak kepariwisataan desa.
Keberadaan
Pokdarwis sebagai suatu institusi lokal terdiri atas
para pelaku kepariwisataan
yang memiliki kepedulian
dan tanggung jawab untuk menjamin pelaksanaan desa wisata. Menjadi kelompok yang bergerak secara swadaya, Pokdarwis melakukan pengembangan kepariwisataan berdasarkan potensi lokal dan kreativitas yang dimiliki oleh masing-masing desa.
Di berbagai desa, Pokdarwis terbukti berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kualitas program atraksi desa dan memunculkan sense of
belonging masyarakat lokal terhadap kemajuan pariwisata di desanya.
e.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasi kebijakan Kampus Merdeka, kebijakan ini memberikan
hak kepada mahasiswa untuk berkreasi yaitu dengan mengambil mata kuliah 1 semester di luar prodi dan 2 semester di luar perguruan tinggi. Kebijakan memberikan hak belajar 3 semester ini merupakan upaya pemerintah memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk membekali diri dan menyalurkan minat dan bakatnya.
Selain
itu kebijakan ini juga mendorong perguruan tinggi untuk selalu adaptif
terhadap perkembangan dunia
nyata salah satu upayanya dengan mengintensifkan interaksi antara perguruan tinggi dengan industri.
Industri merupakan partner perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang profesional dan lebih tanggap dengan
permasalahan di lapangan. Program
atau mekanisme yang dapat dilaksanakan oleh perguruan tinggi dalam mengimplementasikan program
Kampus Merdeka antara lain magang atau praktik
kerja, proyek di desa, mengajar di sekolah, pertukaran pelajar, penelitian atau riset, proyek
independen, dan proyek kemanusiaan.
Terkait
magang/praktik kerja, Nizam menekankan bahwa magang dirancang
sebagai bagian untuk mencapai kompetensi lulusan. Selama pelaksanaan magang, mahasiswa dibimbing dan didampingi dosen sebagai fasilitator.
Dosen bertanggung jawab melaksanakan asesment untuk memastikan kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa tercapai.
Misalnya
mahasiswa pariwisata mengambil magang 1 semester di perhotelan. Dalam 1 semester itu mahasiswa akan
mempelajari manajemen perhotelannya. Itu kan mata kuliahnya
ada. Mata kuliah ini langsung diekuivalenkan
dengan kompetensi yang diperoleh mahasiswa selama magang.
Kedua,
mahasiswa dapat berpartisipasi dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat desa. Program ini bertujuan untuk
membantu masyarakat di pedesaan atau daerah
terpencil untuk mengembangkan perekonomiannya atau pengembangan infrastruktur di wilayah tersebut.
Perguruan tinggi pariwisata bisa masuk dengan menggali
potensi wisata suatu desa dan dengan ide kreatif mahasiswanya menciptakan destinasi/desa wisata baru, ini
akan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Kesimpulan
Berdasarkan
analisa pembahasan secara diskriptif� tersebut
dapat disimpulkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di desa Junrejo Kotabatu dilakukan oleh masyarakat dengan kelompok masyarakat sendiri yang tergabung dalam katadarwis. Katadarwsis adalah singkatan dari kelompok tani
sadar wisata, merupakan sekelompok masyarakat desa Junrejo, yang sebagian besar bermata pencaharian
petani. Dalam derap perkembangan pariwisata di Kota Batu dengan semua manfaat maupun
dampaknya selama ini, memutuskan untuk menawarkan sebuah sajian wisata
yang berbeda, berangkat dari potensi alam,
sosial dan budaya di sekitar mereka.
Katadarwis
membuka usaha pariwisata di sector pertanian
dan kelestarian alam dengan membangun omah wisata, omah
wisata tersebut memberikan nuansa alami pegunungan dan pertanian dengan mengusung kearifan lokal budaya setempat
yaitu dengan truly Batu, dayoh, tamu dolan,
tamu sambang, lungguh, suguh dan gupuh.
Para wisatawan
bisa memetik buah jeruk, sayur
dan bunga serta beberapa wisata lainnya yang ada di Junrejo atau di sekitar wilayah Kota Batu. Untuk itu masyarakat sebagai relawan wisata yang akan memberikan layanan kepada wisatawan yang berkunjung di omah wisata Junrejo Kota Batu.
Fasilitas
yang diberikan omah wisata seperti pendopo omah wisata,
village trip omah wisata, learnscape omah wisata, homestay omah wisata, social innovation labs omah
wisata, nursery omah wisata, dan e-commerce.
BIBLIOGRAFI
Abdillah,
A. B. Y., Hamid, D., & Topowijono, T. (2016). Dampak Pengembangan
Pariwisata Teradap Kehidupan Masyarakat Lokal Di Kawasan Wisata (Studi Pada
Masyarakat Sekitar Wisata Wendit, Kabupaten Malang). Brawijaya University.Google Scholar
Arfani,
M. (2022). Kolaborasi Pentahelix dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana pada Destinasi
Wisata Di Desa Kalanganyar Sidoarjo. Jurnal Syntax Transformation, 3(1), 104�120.
Google Scholar
Aulia,
T. O. S. (2012). Lokal Dalam Pengelolaan Sumberdaya Air Di Kampung Kuta. Desa
Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Skripsi,
9(1). Google Scholar
Ethika,
T. D. (2016). Pengembangan Pariwisata Berbasis Budaya Berdasarkan Undang-Undang
No. 10 Tahun 2009 Di Kabupaten Sleman. Jurnal Kajian Hukum, 1(2), 133�158. Google Scholar
Hayati,
N. (2014). Wisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) di Desa Tompobulu
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Buletin Eboni, 11(1), 45�52. Google Scholar
Nugroho,
I. (2018). Perencanaan Pembangunan Ekowisata dan Desa Wisata. Bappenas Working
Papers, 1(1), 98�103. Google Scholar
Prabaningsiwi,
D. (2018). Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah Di Sektor Pariwisata Untuk
Meningkatkan Pembangunan Di Kabupaten Madiun Berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Madiun Nomor 17 Tahun 2017 Tentang Rencana Induk Pembangunan
Kepariwisataan Kabupaten Madiun Tahun 2018-2025. Google Scholar
Rahayu,
D. P. (2016). Kearifan Lokal Tambang Rakyat sebagai Wujud Ecoliteracy di
Kabupaten Bangka. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 23(2), 320�342. Google Scholar
Rahmi,
S. A. (2016). Pembangunan Pariwisata Dalam Perspektif Kearifan Lokal. Reformasi,
6(1). Google Scholar
Rudy,
D. G., & Mayasari, I. D. A. D. (2019). Prinsip-Prinsip Kepariwisataan dan
Hak Prioritas Masyarakat dalam Pengelolaan Pariwisata berdasarkan Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Kertha Wicaksana, 13(2), 73�84. Google Scholar
Rusyidi,
B., & Fedryansah, M. (2018). Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Focus:
Jurnal Pekerjaan Sosial, 1(3), 155�165. Google Scholar
Sholikhah,
A. (2016). Statistik deskriptif dalam penelitian kualitatif. Komunika: Jurnal
Dakwah Dan Komunikasi, 10(2), 342�362. Google Scholar
Soendari,
T. (2012). Metode Penelitian Deskriptif. Bandung, UPI. Stuss, Magdalena &
Herdan, Agnieszka, 17. Google Scholar
Winarto,
S., Niswaty, R., & Jamaluddin, J. (2015). Strategi Pengembangan Daya Tarik
Wisata Balla Lompoa Di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawasi Selatan. Ad�ministrare,
2(2), 94�100. Google Scholar
Yusof,
Y., Ibrahim, Y., Muda, M. S., & Amin, W. A. A. W. M. (2012). Community
based tourism and quality of life. Review of Integrative Business and Economics
Research, 1(1), 336. Google Scholar
|
Copyright holder : Mochammad Arfani, Victor Marulitua Lumbantobing, Priyanto (2022) |
|
First publication right
: This article is licensed under: |
![]()