|
�Jurnal Syntax
Transformation |
Vol. 3,
No. 7, Juli 2022 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
LANDASAN ANTROPOLOGIS PEDAGOGIK SPIRITUAL
Goldy
Septa Prawira, Syahidin, Elan Sumarna
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Jawa Barat,
Indonesia
Email : [email protected], [email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
22 Juni 2022 Direvisi 8 Juli
2022 Disetujui 23 Juli
2022 |
�Untuk membahas permasalahan antara agama dan pranata sosial masyarakat dapat diselesaikan dengan pendekatan antropologi dalam Studi Islam. Dasar dalam mengkaji dan menganalisis fenomena perilaku manusia adalah menjelaskan peran pendekatan antropologi dalam masyarakat agama islam. Peneliti memakai pendekatan deskriptif untuk mengumpulkan informasi terkait pemikiran Syaikh Nawawi. Penelitian Al-Bantani ini termasuk dalam kategori penelitian deskriptif karena menggunakan metode kualitatif. Tentu saja, membahas orang dan, lebih khusus lagi, sifat manusia, tidak dapat dipisahkan dari percakapan ketika menyangkut pendidik dan murid. Dua peran manusia dalam pendidikan dimainkan oleh guru dan siswa. Dalam hal interaksi langsung atau tidak langsung dengan komponen lain di sini, ini adalah yang paling penting. Akibatnya, pengajar dan siswa terus-menerus terlibat dalam kegiatan budaya, khususnya budaya pendidikan. Dalam pendidikan Islam, pendidik adalah orang yang bekerja membantu anak didik mencapai potensinya secara maksimal, meliputi potensi afektif (rasa), kognitif (kecerdasan), dan potensi psikomotor (niat). ABSTRACT To discuss the problems
between religion and social institutions of society, it can be solved using
an anthropological approach in Islamic Studies. The basis for studying and
analyzing the phenomenon of human behavior is to explain the role of the
anthropological approach in Islamic religious society. The researcher used a
descriptive approach to collect information related to Shaykh Nawawi's
thoughts. Al-Bantani's research is included in the
category of descriptive research because it uses qualitative methods. Of
course, discussing people and, more specifically, human nature, cannot be
separated from conversation when it comes to educators and students. Two
human roles in education are played by teachers and students. In terms of
direct or indirect interaction with other components here, this is the most
important. As a result, teachers and students are constantly involved in
cultural activities, especially educational culture. In Islamic education,
educators are people who work to help students reach their maximum potential,
including affective potential (taste), cognitive (intelligence), and
psychomotor potential (intentions). |
|
Kata Kunci: Antorpologi, Pendidikan
Islam, Pendidik dan Peserta
Didik Keywords: Antorpology, Islamic
Education, Educators and Learners |
Pendahuluan
Beberapa tahun
terakhir telah terlihat munculnya studi agama yang mendasarkan metodologi mereka pada antropologi. Perspektif antropologi dipandang perlu untuk melengkapi
berbagai teori agama yang selama ini digunakan.
Perspektif teologis, normatif, filosofis, dan historis semuanya telah digunakan untuk mempelajari agama di masa lalu. Namun, pendekatan
antropologi terhadap studi Islam akan menjadi satu-satunya yang dibahas dalam esai
ini. Otoritas agama yang beroperasi di dunia nyata akan dapat melihat
akar dan sejarah agama melalui kacamata antropologis. Antropologi berupaya memahami bagaimana agama dan berbagai organisasi sosial yang ada dalam masyarakat
saling terkait (Hakim & Mubarok, 2017).
Tujuan dalam
penelitian ini adalah untuk membantu
memahami diri kita sendiri dan budaya kita sendiri
dengan mempelajari budaya lain termasuk menjelaskan corak dalam pendekatan antropologi sebagai usaha mengkaji agama Islam. Studi antropologi mengajarkan kita untuk melihat diri
kita sendiri sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar, dan karenanya memperlakukan satu sama lain dengan hormat. Memahami agama melalui lensa antropologi berarti melihat bagaimana praktik keagamaan berkembang dan berubah dari waktu
ke waktu dalam masyarakat tertentu. Ketika agama didekati dari perspektif ini, agama dibuat agar tampak mudah didekati
dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Terakhir, penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan metodologi antropologi studi Islam.
Ada berbagai tahapan dalam evolusi
antropologi (Bernard,
2017). Dimulai
pada abad ke-16 dan berlangsung
sampai sekitar tahun 1850, ada fase pertama. Pada saat itulah benua
Afrika, Asia, dan Amerika ditemukan, yang memicu minat negara-negara Eropa Barat, terutama pelaut, pedagang, dan penyiar agama, untuk mempelajari lebih lanjut tentang masyarakat adat yang mereka anggap asing.
Tipe tubuh, warna kulit, bahasa,
dan artefak budaya lainnya membuat mereka tampak tidak
pada tempatnya.
Setelah Anda menyelesaikan
tahap pertama. Kedua, dari akhir
1800-an hingga awal
1900-an, sejumlah teks tentang budaya manusia dikumpulkan dan diasimilasi dari seluruh dunia. Fase ketiga, di sisi lain, dimulai pada abad kedua puluh dan berlangsung hingga abad ketiga puluh.
Perhatikan negara-negara Asia dan Afrika selama ini. Ini
adalah fase terakhir setelah tahun 1930-an. Dalam perkembangannya, antropologi telah menunjukkan beberapa terobosan dan menawarkan banyak metode dan konsep untuk digunakan di dunia nyata, berkat teknik
analisis dan studi lapangan yang terus berkembang.
Metode Penelitian
Peneliti memakai pendekatan deskriptif untuk mengumpulkan informasi terkait pemikiran Syaikh Nawawi. Penelitian Al-Bantani ini termasuk dalam
kategori penelitian deskriptif karena menggunakan metode kualitatif.
Menurut
(Arikunto, 2010),
Untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang faktor-faktor yang mendukung penelitian, digunakan penelitian deskriptif. Hal tersebut selaras dengan Sukardi (Widodo, 2021)
Untuk dapat memahami dan mengantisipasi suatu fenomena berdasarkan fakta yang terkumpul di lapangan, peneliti melakukan penelitian untuk mengeksplorasi, mendeskripsikan,
dan menjelaskannya.
Hasil
dan Pembahasan
A.
Pendidikan Islam dan Antropologi
1.
Pendidikan Islam
Ketika membahas pendidikan, tidak mungkin untuk menghindari mengangkat subjek orang. Sistem dan model pendidikan seperti pendidikan Islam memiliki arah yang ditentukan oleh manusia sebagai agen dalam proses pendidikan. Menurut para ahli pendidikan Islam, semua aspek pendidikan Islam harus didasarkan pada keyakinan bahwa manusia pada dasarnya baik. Sangat penting bagi siswa untuk mengadakan diskusi ini di sekolah (Hanafi, 2018). Ali Ashraf, sebagaimana dikutip oleh Bukhari (Hanafi, 2018) Perspektif Islam tentang pertumbuhan manusia sangat penting untuk memahami pendidikan, menurut argumen ini.
Dua istilah yang membentuk frasa "pendidikan Islam" adalah "pendidikan" dan "Islam". Ada banyak cara berbeda untuk berpikir tentang pengajaran bahasa (Kbbi, 2016). Islam, di sisi lain, dipahami sebagai agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW (Kbbi, 2016). Dengan kata lain, jika istilah �pendidikan Islam� secara harfiah diartikan sebagai tindakan, metode, dan sebagainya yang menganut ajaran Nabi Muhammad. Istilah �pendidikan Islam� memiliki pengertian yang luas.
Upaya pendidikan untuk
mengantisipasi perubahan masyarakat dan membantu siswa dan kelompok orang berkembang dengan cara yang bermanfaat dan bermanfaat dapat dilihat sebagai contoh pendidikan (Huda, 2015).
Muhadjir berfokus pada perubahan sosial dalam bagian ini.
Dengan kata lain, pendidikan
harus mampu mempersiapkan siswa untuk pergeseran sosial yang tak terelakkan yang pasti akan terjadi. Suatu
kegiatan, menurut Muhadjir, terdiri dari 5 (lima) komponen utama sebagai berikut:
�yang memberi (pendidik),
yang menerima (peserta didik), tujuan, dan cara (metode), serta konteks yang positif.�
Mustafa sebagaimana dikutip oleh (Kodir, 2015) Pendidikan Islam digambarkan sebagai proses di mana pendidik membimbing siswa dalam pertumbuhan fisik, spiritual, dan intelektual mereka untuk membantu mereka berkembang menjadi warga negara Muslim yang layak. Zakiyah Drajat, di sisi lain, mencirikan pendidikan Islam sebagai bentuk pengajaran yang menekankan pengembangan sikap mental teoritis dan praktis yang akan mengarah pada perbuatan yang melayani kebutuhan sendiri dan orang lain (Kodir, 2015). Ringkasnya, pendidikan Islam mengajarkan peserta didik untuk menjadi manusia unggul yang peduli terhadap orang lain dan juga dirinya sendiri.
Dalam pandangan Rahman, pendidikan Islam adalah metode untuk menciptakan manusia integrator (ilmuwan) yang memiliki berbagai macam sifat yang diinginkan, seperti berpikir kritis, kreativitas, dinamisme, inovasi, kemajuan, dan sebagainya (Chasanah, 2017). Di sini, Rahman menyoroti bahwa pendidikan Islam tidak hanya tentang pengetahuan agama, tetapi juga tentang ilmu-ilmu lain, seperti �ilmu sosial dan sains.� Akibatnya, adalah paradoks bahwa sistem pendidikan Islam hanya berfokus pada satu mata pelajaran (agama) tanpa mengintegrasikan disiplin ilmu lainnya.
Soal konsep pendidikan Islam, Endang Saifuddin Ansari, seperti dikutip (Azra, 2019) menjelaskan pengertian pendidikan Islam merupakan �proses bimbingan (pimpinan, tuntutan, dan usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, dan intuisi), dan raga obyek didik dengan bahan materi tertentu, pada jangka waktu tertentu, dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai ajaran Islam.� Sementara itu, (Roqib, 2009) Telah ditemukan bahwa pendidikan Islam difokuskan pada tiga hal: �1) suatu upaya pendidikan menggunakan metode-metode tertentu khususnya metode latihan untuk mencapai kedisiplinan mental peserta didik; 2) bahan pendidikan yang diberikan kepada anak didik berupa bahan materiil, yakni berbagai jenis ilmu pengetahuan dan spiritual, yakni sikap hidup dan pandangan hidup yang dilandasi nilai etis Islam; 3) tujuan pendidikan yang ingin dicapai adalah mengembangkan manusia yang rasional dan berbudi luhur, serta mencapai kesejahteraan masyarakat yang adil dan makmur dalam rengkuhan ridla Allah SWT.�
Ringkasnya, pendidikan Islam tidak hanya tentang komponen mental, tetapi juga tentang aspek fisik. Artinya, proses pendidikan Islam harus utuh dan menyeluruh.
a.
Antropologi
1)
Sejarah Antropologi
Antropologi didirikan pada akhir 1800-an untuk menyelidiki sejarah umat manusia. Studi tentang primata, kerabat terdekat manusia yang masih hidup, dan penyelidikan masyarakat manusia tertua dan paling gigih, yang dikenal sebagai masyarakat primitif, merupakan bagian penting dari penelitian antropologis (Dahlan, 2015).
Fase-fase evolusi antropologi secara lebih mendalam, (Zulaihah, 2021) membagi proses ini menjadi empat tahap yang berbeda, seperti yang diilustrasikan pada tabel di bawah ini.
Tabel 1
Sejarah Antropologi
|
Fase pertama |
Fase kedua |
|
�Suku-suku bangsa penduduk Afrika, |
�Pada
fase ini, ilmu aantropologi |
|
Fase ketiga |
Fase keempat |
|
�Pada
fase ini, ilmu antropologi |
�Mengenai tujuannya, ilmu |
2)
�Definisi Antropologi
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Antroplogi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang manusia, khususnya asal-usul, perkembangan, praktik, dan kepercayaannya di
masa lalu (Kemendikbud, 2016).
Antropologi berasal dari bahasa Inggris
�anthropology�, berarti �ilmu
tentang manusia�. Ungkapan ini memiliki
arti yang berbeda di masa lalu,
yaitu �ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia� atau disebut sebagai
�ilmu anatomi�. Menurut Koentjaraningrat di atas, Kemudian seseorang atau bahkan tubuh manusia
menjadi subjek antropologi. Sebaliknya, Clifford
Geertz percaya bahwa fokus antropologi adalah pada budaya. Antropologi, menurut Geertz, adalah studi tentang
budaya. Menganalisis signifikansi suatu gerakan atau simbol
merupakan bagian penting dari antropologi
(Lubis, 2017).
3)
�Pembagian Antropologi
Antropologi fisik/biologis dan antropologi budaya adalah dua cabang utama antropologi (Wicaksono, 2016). Antropologi fisik adalah subbidang antropologi yang mempelajari sejarah penampilan berbagai warna dan bentuk kulit dan rambut, serta bentuk dan ukuran wajah, mata, hidung, dan tubuh. Ciri-ciri tubuh seperti �warna kulit, warna dan bentuk rambut, indeks tengkorak, fitur wajah, warna dan bentuk mata, bentuk hidung dan tinggi badan� semuanya digunakan dalam penelitian ini karena keduanya diturunkan (fenotip) dan dilahirkan (Koentjaraningrat., 1994). Akibatnya, antropologi fisik lebih menekankan pada anatomi dan fisiologi manusia daripada peran sosial dan budaya manusia.
Penting untuk dicatat bahwa jenis etnografi kedua adalah etnografi budaya. Salah satu cabang utama antropologi dikenal sebagai antropologi budaya karena mempelajari budaya secara umum, serta peradaban yang berbeda di seluruh dunia. Antropologi mempelajari cara manusia mampu mengolah budaya mereka dari waktu ke waktu (Subchi, 2016). Di antara banyak sub-bidang antropologi budaya adalah antropologi pendidikan dan beberapa sub-bidang terkait. Perilaku dan budaya manusia dipelajari dalam antropologi pendidikan sebagaimana halnya dalam antropologi umum untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang keanekaragaman manusia, terutama di lingkungan pendidikan. Bidang pedagogi antropologis adalah bidang yang relatif baru, yang baru didirikan dalam dekade terakhir. Karena antropologi pendidikan membutuhkan begitu banyak keterampilan antropologi tambahan setelah tahun 1960-an di Amerika Serikat, itu diakui sebagai bidang antropologi yang berbeda dalam dirinya sendiri setelah jangka waktu itu (Subchi, 2016).
Menurut penjelasan Shomad, antropologi menekankan manusia dalam konteks pendidikan di seluruh dunia. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam, yang dalam berbagai kitab selalu mengawali pembicaraan dengan manusia. Subjek pertama dan terpenting dari diskusi ini adalah, tidak mengejutkan, studi tentang sifat manusia.
b.
Konsep Manusia dalam
Pendidikan Islam dan Antropologi
Jika melihat uraian sebelumnya tentang pendidikan Islam dan konsep dasar antropologi, tampak adanya konvergensi mengenai manusia di antara keduanya. Konsep manusia banyak ditekankan dalam pendidikan Islam dan dalam berbagai publikasi antropologi, yang ditulis oleh Koentjaraningrat, berikut pembahasannya tentang dasar-dasar antropologi dan bidang kajiannya.
Al-Syaibani seperti yang dikutip Ahmad Tafsir menyebutkan bahwa manusia (Hamzah, 2017). terbagi dari tiga komponen penting: fisik, rasional, dan spiritual. Setiap manusia dibangun dari segitiga segitiga yang terdiri dari tiga komponen di atas: tubuh fisik, pikiran kognitif, dan jiwa spiritual. Berbicara tentang pendidikan, tidak mungkin untuk memisahkan ketiga komponen ini. Hal ini disebabkan karena tidak satupun dari ketiga unsur tersebut di atas dapat terlepas dari setiap manusia dalam kegiatan apapun, termasuk sekolah.
Orang disebut sebagai al-insn, al-nis, al-basyr, dan anak-anak Adam dalam ajaran Islam karena berbagai alasan. Setiap frasa memiliki konotasi yang berbeda. Alquran adalah sumber dari semua istilah ini.
Al-Insn berasal dari istilah uns, yang dalam bahasa Arab berarti "tunduk, rukun". Menurut definisi ini, lawan dari "binatang liar" adalah seseorang. Penggunaan istilah "manusia" dalam Al-Qur'an mengacu pada semua aspek keberadaan seseorang, termasuk jiwa dan fisiknya (Makbuloh, 2011). Bersamaan dengan istilah �al-insan�, al-Qur�an menggunakan istilah �al-nas� yang mengacu pada interaksi kehidupan manusia secara kolektif, seperti kepemimpinan, transformasi sosial, dan transformasi alam (Makbuloh, 2011), al-Basyar, yang menggambarkan aktivitas manusia seperti makan, minum, berjalan, dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis dasar mereka. Sedangkan keturunan anak Adam, yaitu mereka yang merupakan keturunan Nabi Adam a.s., memberikan gambaran sekilas tentang kemanusiaan dari sudut pandang mereka.
Manusia memainkan peran penting dalam pendidikan Islam. Abd. Rahman Assegaf, seperti dikutip (Amir, 2012). orang mampu mengenyam pendidikan, sedangkan non-manusia tidak. Manusia memiliki potensi untuk menjadi subjek sekaligus objek perbaikan diri. Agar potensi manusia dapat berkembang, pendidikan juga harus berpijak pada potensi tersebut.
Antropolog percaya bahwa �manusia adalah makhluk sosial (hayawān ijtimā‟ī),� Untuk bertahan hidup, orang-orang dalam kelompok atau masyarakat harus bergantung satu sama lain. Semua makhluk tidak dapat dibandingkan dengan manusia karena kita adalah makhluk budaya (hayawan tsaqf). Dalam proses menciptakan dan mentransmisikan informasi, manusia juga melestarikan dan melanggengkan tradisi pemikiran dan perilakunya sendiri. Spesies lain tidak mampu menciptakan mesin yang rumit atau sistem moneter atau menunjuk atau memilih pemimpin politik atau melaksanakan ritual keagamaan. Mereka juga tidak boleh meminjamkan hartanya atau menagih hutang atau menempelkan nilai pada simbol-simbol tertentu (Rasimin, 2018).
Oleh karena itu, tidak heran jika Allah SWT telah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: �Sesungguhnya aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi.� mereka berkata: �Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji
Engkau dan mensucikan Engkau?� Tuhan berfirman: �Sesungguhnya aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. dan Dia mengajarkan kepada Adam
Nama-nama (benda-benda) seluruhnya,� kemudian mengemukakannya
kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama
benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!. (Q.S.
al-Baqarah: 30-31)�
Perikop ini mengisyaratkan bahwa manusia memiliki kekuatan untuk mengolah potensi dirinya, yang juga mengisyaratkan bahwa manusia adalah makhluk budaya. �Ketika Allah SWT menyangkal malaikat tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di Bumi,� inilah yang dia maksud. Untuk menunjukkan kapasitas manusia (Adam), �Allah SWT mengajarinya nama-nama benda yang terdapat di alam, dan Adam mampu menerima apa yang Allah SWT ajarkan, sedangkan para malaikat tidak mampu melakukan apa yang Adam lakukan.�
Berkaitan dengan kebudayaan, E.B. Tylor (Tumanggor et al., 2017) memberikan penjelasan tentang bagaimana budaya merupakan suatu totalitas yang saling berhubungan �pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.� Dengan demikian, argumen ini menyiratkan bahwa manusia adalah makhluk dinamis yang sanggup mempelajari semua peristiwa di alam semesta ini sehingga mereka dapat menciptakan manusia sebagai makhluk terbaik di antara semua spesies lainnya. Bagi umat Islam, kebudayaan merupakan ekspresi atau perwujudan dari segala upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (Priyanto, 2019). Kita semua adalah bagian dari budaya, dan kita semua adalah pendukungnya. Karena orang meninggal, mereka meninggalkan warisan budaya yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya dan seterusnya (Wicaksono, 2016).
B.
Pendidik dan Peserta didik dalam Pendidikan Islam
Tidak mungkin berbicara tentang pendidik dan siswa tanpa berbicara tentang manusia, dan khususnya, sifat manusia. Guru dan siswa sama-sama merupakan aktor manusia dalam proses pendidikan. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah �Tiada dari seorangpun yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), lalu kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (al-Bukhārī, 1976:456).�
Dengan kata lain, hadits yang dikutip di atas menyiratkan bahwa setiap orang, bahkan yang lahir hari ini, memiliki potensi bawaan, termasuk kemampuan untuk belajar. Terserah orang yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan potensinya sendiri untuk menentukan apakah akan disalurkan ke arah yang positif atau negatif. Ungkapan "kedua orang tua akan menjadikannya seorang Yahudi, Kristen, atau Majusi" menyiratkan bahwa pendidik memiliki peran penting dalam membantu siswa mencapai potensi penuh mereka. Meskipun kedua orang tua (yaitu, orang tua kandung) disebutkan dalam hadits, dalam konteksnya, ini mengacu pada siapa saja yang berperan sebagai orang tua bagi seorang murid baik secara fisik maupun mental. formal, informal, dan nonformal.
Definisi pendidik ini, diberikan oleh Mahmud, menggambarkan seseorang yang bekerja untuk membantu murid tumbuh secara spiritual dan fisik sehingga mereka dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai khalifah dan abd sesuai dengan ajaran Islam tentang pekerjaan kemanusiaan dan moral (Mahmud & Suntana, 2012). Adapun peserta didik mernurut Undang-Undang Sisdiknas Pasal 1 ayat 4 adalah �anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu� (UU Sisdiknas:2). Sebagai orang dewasa, peserta didik dalam pendidikan Islam masih tumbuh secara fisik dan psikologis. Hal ini sesuai dengan keyakinan Islam bahwa pendidikan dalam Islam berhenti dengan kematian seseorang.
Guru di sekolah Islam bertugas membantu siswa mencapai potensi penuh mereka dengan membantu mereka tumbuh sebagai individu dan sebagai Muslim, termasuk kemampuan emotif, kognitif, dan psikomotorik (niat). Akibatnya, anak-anak seharusnya berkembang menjadi individu unik yang dapat merasakan, mencipta, dan memiliki tujuan. Artinya, seorang guru harus mampu menumbuhkan dalam diri siswanya kualitas rasa, kreativitas, dan karsa dari sudut pandang antropologis. Budaya adalah kumpulan dari semua hal yang dibuat, dicicipi, dan diciptakan orang. Inilah yang dimaksud Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (Setiadi, 2017).
Kesimpulan
Pandangan Islam dan antropologi
tentang pendidikan Islam sejalan. Konsepsi umum tentang gagasan
manusia menunjukkan kesamaan ini. Antropologi
dan Islam sama-sama memandang
manusia sebagai makhluk yang diberkahi dengan nilai dan martabat yang melekat. Islam dan antropologi memiliki beberapa kesamaan dalam praktik pendidikan,
yang tentu saja serupa dalam hal
substansi.
Guru, siswa, tujuan
dan praktik pendidikan, serta konteks/lingkungan
pendidikan adalah semua elemen pendidikan.
Sangat penting bahwa pendidikan disesuaikan dengan tuntutan khusus dari setiap
komunitas individu. Menurut antropologi, Islam juga menghargai orang-orang yang menghormati
budayanya, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
Jika dicermati, kajian pendidikan Islam dipandang sebagai upaya untuk
tetap menghidupkan budaya pendidikan yang berjiwa Islami.
BIBLIOGRAFI
Amir, D. (2012). Konsep
Manusia Dalam Sistem Pendidikan Islam. Al-Ta Lim Journal, 19(3),
188�200.Google
Scholar
Arikunto, S. (2010).
Prosedur Penelitian Ilmiah. In Rineka cipta, Jakarta. Google
Scholar
Azra, A. (2019).
Pendidikan Islam: tradisi dan modernisasi di tengah tantangan milenium III.
Prenada Media. Google
Scholar
Bernard, H. R. (2017). Research
methods in anthropology: Qualitative and quantitative approaches. Rowman
& Littlefield. Google
Scholar
Chasanah, U. (2017).
Ontologi, epistemologi dan aksiologi pendidikan. Tasyri�: Jurnal
Tarbiyah-Syari�ah Islamiyah, 24(01), 77�92. Google
Scholar
Dahlan, M. (2015).
Pendekatan Antropologis Dalam Paradigma Usul Fikih. Madania: Jurnal Kajian
Keislaman, 19(1). Google
Scholar
Hakim, A. A., &
Mubarok, J. (2017). Metodologi studi islam. Rosda. Google
Scholar
Hamzah, A. R. (2017).
Konsep Pendidikan Dalam Islam Perspektif Ahmad Tafsir. At-Tajdid: Jurnal
Pendidikan Dan Pemikiran Islam, 1(01). Google
Scholar
Hanafi, H. (2018). Ilmu
Pendidikan Islam. Deepublish. Google
Scholar
Huda, M. (2015). Peran
Pendidikan Islam Terhadap Perubahan Sosial. Edukasia: Jurnal Penelitian
Pendidikan Islam, 10(1). Google
Scholar
Kbbi, K. (2016). Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kementerian Pendidikan Dan Budaya. Google
Scholar
Kemendikbud. (2016). Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Badan Pengembangan Dan Pembinaan
Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik
Indonesia. Google
Scholar
Kodir, A. (2015). Sejarah
Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia. Google
Scholar
Koentjaraningrat. (1994). Metode
- Metode Penelitian Masyarakat Edisi Ketiga. (3rd ed.). Gramedia Pustaka
Utama. Google
Scholar
Lubis, H. M. R. (2017).
Sosiologi Agama: Memahami Perkembangan Agama dalam Interaksi Islam. Kencana. Google
Scholar
Mahmud, H., & Suntana,
I. (2012). Antropologi Pendidikan. CV Pustaka Setia, Bandung. Google
Scholar
Makbuloh, D. (2011).
Pendidikan Agama Islam: arah baru pengembangan ilmu dan kepribadian di
perguruan. PT RajaGrafindo Persada. Google
Scholar
Priyanto, D. (2019).
Relevansi Konsepsi Pendidikan di Hadjar Dewantara Terhadap Pendidikan Islam. Educreative:
Jurnal Pendidikan Kreativitas Anak, 4(2), 251�270. Google
Scholar
Rasimin, R. (2018).
Antropologi Pendidikan: Pendekatan Sosial Budaya. Google
Scholar
Roqib, M. (2009). Ilmu
Pendidikan Islam; Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan
Masyarakat. LKIS Pelangi Aksara. Google
Scholar
Setiadi, E. M. (2017).
Ilmu sosial & budaya dasar. Kencana. Google
Scholar
Subchi, I. (2016).
Pengantar antropologi. LP2M UIN Jakarta Press. Google
Scholar
Tumanggor, R., Ridlo, K.,
& H Nurochim, M. M. (2017). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Kencana. Google
Scholar
Wicaksono, H. (2016).
Pendidikan Islam dalam Perspektif Antropologi. MUDARRISA: Jurnal Kajian
Pendidikan Islam, 8(2), 201�228. Google
Scholar
Widodo, H. (2021). Evaluasi
Pendidikan. UAD PRESS. Google
Scholar
Zulaihah, S. (2021). Buku
Ajar Pengantar Ilmu Antropologi. Google
Scholar
|
Copyright holder : Goldy Septa Prawira, Syahidin,
Elan Sumarna (2022) |
|
First publication right
: This article is licensed under: |