Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3, No. 7, Juli 2022

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP SATU LEMBAR MELALUI METODE THROUGH SMALL GROUP

 

Titin Retna Winarti

SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego, Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia

Email :  [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

17 Juni 2022

Direvisi

12 Juli 2022

Disetujui

23 Juli 2022

Menjalani profesi sebagai pendidik, tentunya sangat diharuskan dalam setiap kegiatan proses belajar mengajar seorang pendidik memiliki sebuah pedoman yang dinamakan Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Memang setiap metode pembelajaran bisa diciptakan sekreatif mungkin oleh pendidik, namun dengan adanya RPP, kreatifitas tersebut bisa diharmonisasikan dengan panduan metode pembelajaran yang terdapat dalam RPP, sehingga kegiatan pengajaran dapat dilaksanakan dengan baik demi efektivitas tujuan pembelajaran. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini bagaimana pelaksanaan bimbingan melalui metode Through Small Group dalam rangka meningkatkan keaktifan dan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar di SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego, selanjutnya membahas apakah melalui metode Through Small mampu meningkatkan keaktifan dan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar di SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego Kabupaten Boyolali. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Subjek penelitian adalah guru SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego yang berjumlah 8 orang. Teknik pengumpulan data yaitu: koesioner, observasi, penugasan, dan dokumentasi. Validitas data menggunakan trianggulasi sumber dan metode. Analisis data menggunakan analisismodel interaktif dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan: (1) Melalui metode Through Small Group mampu meningkatkan partisipasi secara aktif peserta diskusi (guru) untuk saling bertukar pangalaman dan pikiran dalam memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penyusunan RPP satu lembar; (2) Melalui metode Through Small Group mampu menciptakan suasana pelatihan atau bimbingan yang menyenangkan dan kondusif untuk melakukan transfer ilmu, karena masing-masing peserta diskusi (guru) dapat saling memberi dan menerima pemahaman yang dibahas; (3) Melalui metode Through Small Group efektif untuk meningkatkan kemampuan peserta diskusi (guru) dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar.

 

ABSTRACT

Undergoing a profession as an educator, of course, is very required in every activity of the teaching and learning process an educator has a guideline called the Learning Implementation Plan (RPP). Indeed, every learning method can be created as creatively as possible by educators, but with the rpp, this creativity can be harmonized with the guidance of learning methods contained in the rpp, so that teaching activities can be carried out properly for the effectiveness of learning objectives. The problem studied in this study is how to implement guidance through the Through Small Group method in order to increase the activeness and ability of teachers in preparing a one-sheet learning implementation plan (RPP) at SD Negeri 1 Sangge, Klego District, then discuss whether through the Through Small method it is able to increase the activeness and ability of teachers in preparing a one-sheet learning implementation plan (RPP) at SD Negeri 1 Sangge, Klego District, RegencyBoyolali. This research is School Action Research (PTS). The subjects of the study were teachers of SD Negeri 1 Sangge, Klego District, totaling 8 people. Data collection techniques are: coesioner, observation, assignment, and documentation. Data validity using source and method trianggulation. Data analysis uses interactive model analysis and descriptive statistics. The results of the study concluded: (1) Through the Through Small Group method, it is able to increase the active participation of discussion participants (teachers) to exchange experiences and thoughts in solving problems related to the preparation of one-sheet rpp; (2) Through the Through Small Group method, it is able to create a pleasant and conducive training or guidance atmosphere to transfer knowledge, because each discussion participant (teacher) can give and receive each other's understanding discussed; (3) Through The Through Small Group method is effective in improving the ability of discussion participants (teachers) in preparing a one-sheet learning implementation plan (RPP).

 

Kata Kunci:

Metode Through Small Group, Kemampuan Menyusun Rencana Pelaksaanaan Pembelajaran (RPP) satu lembar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Through Small Group Method, Ability to Develop a one-sheet Learning Implementation Plan (RPP)

 

 


Pendahuluan

Kemendikbud telah mengeluarkan RPP 1 Lembar halaman untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di semester 2 melalui surat edaran no 14 tahun 2019 yang disampaikan oleh Mendikbud (Kadis, 2020). Adapun tujuan dari pembaharuan RPP tersebut adalah mengefisiensikan kinerja guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang terdapat dalam RPP, sehingga implementasi yang dilakukan guru tidak terbebani oleh teori-teori yang ada (Lubis, 2019).

Dalam menjalani profesi sebagai pendidik, tentunya sangat diharuskan dalam setiap kegiatan proses belajar mengajar seorang pendidik memiliki sebuah pedoman yang dinamakan Rencana pelaksanaan Pembelajaran (RPP) (Nofriyanti & Nurhafizah, 2019). Memang setiap metode pembelajaran bisa diciptakan sekreatif mungkin oleh pendidik, namun dengan adanya RPP, kreatifitas tersebut bisa diharmonisasikan dengan panduan metode pembelajaran yang terdapat dalam RPP, sehingga kegiatan pengajaran dapat dilaksanakan dengan baik demi efektivitas tujuan pembelajaran.

Karena begitu penting dan krusialnya bagi para pendidik dalam menerapkan metode yang tepat kepada seluruh peserta didik, penyederhanaan RPP tentunya sangat membantu dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas guru dalam pengimplementasiannya. Sebagaimana yang telah kita ketahui, RPP pada umumnya berisikan komponen-komponen yang jumlahnya tidak sedikit yakni berjumlah 13 komponen, hal tersebut dinilai terlalu banyak menyita waktu dan tenaga karena guru dituntut untuk memahami secara keseluruhan selembar demi selembar (Prastowo, 2017).

Atas dasar tersebut, akhirnya Mendikbud memutuskan untuk menyederhanakan bentuk RPP yang terdiri dari beberapa komponen menjadi hanya 1 lembar saja. Hal tersebut dinilai dapat membuat pendidik memiliki banyak waktu yang sangat efisien untuk digunakan dalam penyusunan Lesson Plan, dengan begitu Guru bisa memiliki waktu lebih banyak untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran diantaranya seperti persiapan materi dan melakukan evaluasi (Aguss et al., 2021).

Tenaga kependidikan sangat menentukan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, tenaga kependidikan perlu diberdayakan secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan. Salah satunya melalui kegiatan Dengan dibuatnya RPP 1 lembar ini, diharapkan akan menjadi salah satu pedoman baru yang bisa dijadikan referensi dalam pembuatan Rencana pelaksanaan pembelajaran menggunakan format versi surat edaran no 14 tahun 2019. Oleh karena itu, tentunya tidak lagi terbebani dalam mencari model rpp, sebab rpp tersebut secara keseluruhan kelas sudah tersedia secara lengkap.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka manajemen tenaga kependidikan atau manajemen personalia pendidikan perlu terus ditingkatkan, karena Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) (Alfiani & Fauziyah, 2020).

Perubahan sistem pendidikan yang dilakukan berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) akan memberikan kemudahan kepada seluruh warga sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Kemudahan ini terutama akan dirasakan oleh para kepala sekolah sebagai peneliti, karena dalam PTS kepala sekolah merupakan peneliti utama yang mencari dan melakukan berbagai perubahan di sekolah menuju sekolah yang lebih efektif. Kepala sekolah sebagai peneliti erat kaitannya dengan tugas dan fungsi mereka dalam pengembangan sistem pendidikan dan manajemen sekolah. Oleh karena itu, sebagai kepala sekolah dituntut untuk memiliki kompetensi yang standar (Purwanti, 2019).

Oleh karena itu, dibutuhkan model yang efektif untuk merangsang keterampilan. Dalam penelitian ini digunakan model kooperatif tipe keliling kelompok. Metode kooperatif tipe keliling kelompok adalah metode yang digunakan untuk memberi kesempatan kepada masing-masing anggota kelompok untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lain (Sabeth, 2013). Metode ini diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan dalam meningkatkan keterampilan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar.

Mengingat begitu pentingnya metode mengajar dalam pembelajaran kondusif, maka penulis tergugah untuk meneliti dengan mengambil judul "Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun RPP Satu Lembar Melalui Metode Through Small Group di SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020.

Tujuan penelitian ini adalahmengetahui pelaksanaan bimbingan kepada guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar melalui metode Through Small Group. meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar melalui metode Through Small Group.

 

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah (PTS) (Sanjaya, 2016). PTS merupakan suatu cara memperbaiki manajemen sekolah melalui peningkatan profesionalisme kepala sekolah karena kepala sekolah merupakan orang yang paling tahu segala sesuatu yang terjadi di sekolah.

Metode pengumpulan data yang digunakan yakniKuesioner. Kuesioner tersebut disebarkan kepada guru untuk mengetahui respon guru terhadap pelaksanaan metode Through Small Group dalam rangka meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar.Selanjutnya Observasi dilakukan dengan cara mengamati secara langsung terhadap aktivitas guru selama mengikuti diskusi dengan metode Through Small Group (Fajar, 2021). Penugasan ini dilakukan dengan cara memberikan tugas kepada setiap guru untuk menyusun RPP satu lembar setelah diberikan pelatihan atau bimbingan dengan metode Through Small Group�� dan Teknik dokumentasi�� Kelengkapan data diperoleh dari profil sekolah, catatan, laporan, informasi yang berasal dari buku, surat kabar, internet dan sejenisnya yang berhubungan dengan kajian penelitian ini (Anufia & Alhamid, 2019).

Untuk menganalisis hasil observaasi dan dokumentasi digunakan analisis kualitatif. Langkah yang dilakukan dalam metode analisis kualitatif adalah model interaktif (Setyosari, 2010).

 

Hasil dan Pembahasan

A.   Hasil Penelitian

1.    Aktivitas Guru dalam Diskusi

Selama proses diskusi berlangsung pada siklus I, guru terlihat aktif danantusias dalam mengikuti diskusi. Guru satu dengan yang lain, saling berinteraksi dan saling bekerjasama untuk berbagi pengalaman dan bertukar pikiran untuk memecahkan permasalahan dalam penyusunan RPP satu lembar. Diskusi dengan metode Through Small Group memberi kesempatan kepada setiap guru untuk menunjukkan partisipasi aktif.

Pada siklus II keaktifan guru dalam diskusi mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini membuktikan bahwa diskusibermanfaat dan membantu guru dalam menyusun RPP satu lembar.

Untuk mengetahui ada-tidaknya peningkatan aktivitas guru dalam diskusi pada siklus II dibanding dengan siklus I, maka antara hasil observasi siklus I dan siklus II perlu dibandingkan, dan perbandingan ini dapat dilihat seperti pada tabel di bawah ini.


 

Tabel 1

Analisis Peningkatan Aktivitas Guru dalam Diskusi dari Siklus I ke Siklus II

Kode Guru

Siklus I

Siklus II

Naik

%

A

25

30

5

20.00

B

27

28

1

3.70

C

24

27

3

12.50

D

21

24

3

14.29

E

24

27

3

12.50

F

21

24

3

14.29

G

21

25

4

19.05

H

25

30

5

20.00

Rata-rata

23.50

26.88

3.38

14.54

Minimal

21.00

24.00

1.00

3.70

Maksimal

27.00

30.00

5.00

20.00


 

Pada tabel 1 diketahui bahwa aktivitas guru dalam mengikuti diskusi pada siklus II mangalami kenaikkan dibandingkan dengan siklus I. Rata-rata aktifitas guru naik sebesar 3.38 (14.45%). Kenaikan terendah adalah 1 (3,70%) dan tertinggi mencapai 5 (20,00%). Dengan demikian, dilihat dari aspek: aktivitas dalam diskusi, kemampuan mengemukakan pendapat, urutan pikiran atau gagasan, kemampuan membantah pendapat orang lain, kemampuan menarik kesimpulan dan sikap terhadap orang lain pada siklus II lebih baik dibanding pada siklus I.

2.    Respon Guru terhadap Pelaksanaan Diskusi

Berdasarkan hasil angket yang dibagikan kepada guru pada akhir siklus I dan II, diketahui bahwa respon guru terhadap pelaksanaan diskusi dengan menggunakan metode Through Small Group pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini :


 

Tabel 2

Analisis Peningkatan Respon Guru terhadap Pelaksanaan Diskusi

dari Siklus I ke Siklus II

Kode Guru

Siklus I

Siklus II

Peningkatan

%

A

19

22

3

15.79

B

19

21

2

10.53

C

15

22

7

46.67

D

20

23

3

15.00

E

15

22

7

46.67

F

20

23

3

15.00

G

16

21

5

31.25

H

20

22

2

10.00

Rata-rata

18.00

22.00

4.00

23.86

Minimal

15.00

21.00

2.00

10.00

Maksimal

20.00

23.00

7.00

46.67


 

Pada tabel 2 diketahui bahwa respon guru dalam mengikuti diskusi pada siklus II mengalami kenaikkan dibandingkan dengan siklus I. Rata-rata naik sebesar 4.00 (23.86%). Kenaikan terendah adalah 2 (10%) dan tertinggi mencapai 7 (46,67%). Dengan demikian, dilihat dari aspek: sikap terhadap materi diskusi, sikap terhadap guru, sikap terhadap proses diskusi, sikap yang berkaitan dengan nilai/ norma, sikap yang berkaitan dengan kompetensi terlihat bahwa respon guru pada siklus II lebih baik dibanding pada siklus I.

3.    Kemampuan Guru Menyusun RPP

Dari hasil penilaian terhadap kemampuan guru menyusun RPP satu lembar pada siklus I dan siklus II, terlihat bahwa kemmapuan guru pada siklus II mengalami kenaikan dibandingkan dengan nilai siklus I. Hal ini dapat dilihat padatabel di bawah ini

Diskusi dengan metode Through Small.


 

Tabel 3

Analisis Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun RPP

dari Siklus I ke Siklus II

Kode Guru

Siklus I

Siklus II

Peningkatan

%

A

77.33

96.00

18.67

24.14

B

84.00

90.67

6.67

7.94

C

84.00

88.00

4.00

4.76

D

73.33

92.00

18.67

25.45

E

74.67

93.33

18.67

25.00

F

86.67

92.00

5.33

6.15

G

72.00

88.00

16.00

22.22

H

74.67

90.67

16.00

21.43

Rata-rata

78.33

91.33

13.00

17.14

Minimal

72.00

88.00

4.00

4.76

Maksimal

86.67

96.00

18.67

25.45


 

Pada tabel3 diketahui bahwa setelah melakukan diskusi dengan metode Through Small Group hingga siklus II, kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar mengalami kenaikan. Dibandingkan nilai siklus I, kenaikan kemampuan guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar pembelajaran rata-rata naik sebesar 13.00 (17.14%). Kenaikan terendah adalah 4 (4,48%) dan tertinggi mencapai 18,67 (25,45%). Dengan demikian, tindakan siklus II telah efektif dan berhasil meningkatkan kemampuan guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar, karena jumlah guru yang mendapat nilai lebih dari 70 telah mencapai 100%. Dengan demikian, diskusi dengan metode Through Small Group telah memberikan manfaat atau kemudahan bagi guru untuk menyusun RPPsatu lembar. Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Khaerani, 2016) mengungkapkan bahwa dalam menyusun Rencana Pelaksanaa Pembelajaran (RPP), yaitu: (a) menyampaikan pengumuman kepada guru tentang akan dilaksanakannya kegiatan IHT mengenai penyusunan RPP; (b) mempersiapkan materi bimbingan berupa pelaksanaan pembelajaran disertai simulasinya; (c) Mempersiapkan instrumen; (d) melaksanakan kegiatan IHT dengan tidak mengganggu kegiatan pembelajaran; dan e) melaksanakan pengamatan di kelas saat dilaksanakan kegiatan pembelajaran oleh guru

 

B.   Pembahasan

Diskusi dengan metode Through Small Group merupakan suatu teknik bertukar pengalaman dan pikiran, yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi untuk memberikan masukan dan tanggapan kepada setiap peserta diskusi (Koton, 2015). Dengan cara demikian, masing-masing peserta diskusi (guru) akan mendapatkan manfaat yang besar untuk meningkatkan kemampuannya dalam membuat RPP satu lembar. Hal ini terbukti kemampuan guru dalam menyusun RPP satu lembar mengalami peningkatan setelah dilakukan diskusi dengan metode Through Small Group dari siklus satu ke siklus selanjutnya.

Diskusi ini cukup efektif, karena peserta diskusi memiliki kepentingan yang sama dan menghadapi permasalahan yang bisa dikatakan sama sebagai seorang guru, yang harus membuat RPP satu lembar dengan baik dan benar dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini mengingat RPP satu lembar merupakan acuan bagi setiap guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya, dalam rangka memudahkan bagi peserta didik untuk menguasai materi yang diajarkan.

Sebagai salah satu bentuk belajar bersama atau gotong royong (cooperative learning), bentuk pembelajaran ini juga dapat diterapkan pada upaya peningkatan kemmapuan guru dalam menyusun RPP satu lembar, karena pada dasarnya guru dalam proses diskusi ini juga melakukan belajar bersama untuk dapat membuat RPP satu lembar yang baik dan benar (Musthofa, 2012). Jadi, bentuk pembelajaran ini dapat diadopsi atau dilakukan pendekatan pada proses pelatihan atau bimbingan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan menyusun RPP satu lembar.

Setelah mencermati hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis dapat mengemukakan bahwa metode Through Small Group memiliki keunggulan sebagai berikut: (1) metode Through Small Group memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta diskusi (guru) untuk terlibat aktif dalam diskusi danmeningkatkan antusias guru untuk mengikuti diskusi; (2) metode Through Small Group mendorong peserta diskusi (guru) untuk saling bertukar pengalaman dan pikiran, melakukan kerjasama yang bersifat konstruktif, saling menghargai, dan menghindari egoisme yang cenderung menonjolkan diri; (3) metode Through Small Group mampu meningkatkan kemampuan peserta diskusi (guru) dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pelaksanaan bimbingan dengan metode Through Small Group mampu menciptakan suasana pelatihan atau bimbingan yang menyenangkan dan kondusif untuk melakukan transfer ilmu, karena masing-masing peserta diskusi (guru) dapat saling memberi dan menerima pemahaman yang dibahas.

Metode Through Small Group pmampu meningkatkan partisipasi secara aktif peserta diskusi (guru) untuk saling bertukar pangalaman dan pikiran dalam memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan penyusunan RPP satu lembar.

Metode Through Small Group efektif untuk meningkatkan kemampuan peserta diskusi (guru) dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar.

 

BIBLIOGRAFI

Aguss, R. M., Amelia, D., & Permata, P. (2021). Pelatihan Pembuatan Perangkat Ajar Silabus Dan Rpp Smk Pgri 1 Limau. Journal Of Social Sciences And Technology For Community Service (JSSTCS), 2(2), 48�53.Google Scholar

 

Alfiani, M. M., & Fauziyah, Y. (2020). Manajemen Kepemimpinan Transformasional Dalam Meningkatkan Kinerja Tenaga Pendidik Dan Kependidikan. Islamika, 2(1), 1�19. Google Scholar

 

Anufia, B., & Alhamid, T. (2019). Instrumen Pengumpulan Data. Google Scholar

 

Fajar, S. (2021). The Effect Of Using Small Group Discussion In Teaching Reading Comprehension. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Universitas Subang (SENDINUSA), 3(1), 292�296. Google Scholar

 

Kadis, K. (2020). Seminar Kolegial PPPPTK Pkn Dan IPS: RPP Satu Halaman. Google Scholar

 

Khaerani, N. C. (2016). Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Menyusun RPP Melalui Kegiatan IHT (In House Training). Didaktikum, 17(1). Google Scholar

 

Koton, Y. P. (2015). Metode Pembelajaan Diskusi Dalam Peningkatan Kompetensi Peserta Diklat. Publik (Jurnal Ilmu Administrasi), 4(2), 91�98. Google Scholar

 

Lubis, R. (2019). Rpp. Google Scholar

 

Musthofa, K. (2012). Pembelajaran Fisika Dengan Cooperative Learning Tipe Jigsaw Untuk Mengoptimalkan Aktivitas Dan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas X-6 SMA MTA Surakarta. Google Scholar

 

Nofriyanti, Y., & Nurhafizah, N. (2019). Etika Profesi Guru Paud Profesional Dalam Mewujudkan Pembelajaran Bermutu. Jurnal Pendidikan Tambusai, 3(1), 676�684. Google Scholar

 

Prastowo, A. (2017). Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu: Implementasi Kurikulum 2018 Untuk SD/MI. Kencana. Google Scholar

 

Purwanti, E. S. (2019). Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Mengembangkan Sumber Dan Media Belajar Dengan Diskusi Model Think Pair And Share Di SD Negeri 3 Glagahwangi Polanharjo Klaten Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018. JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia): Jurnal Ilmiah Pendidikan, 5(4), 213�227. Google Scholar

 

Sabeth, N. (2013). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Keliling Kelompok Terhadap Hasil Dan Minat Belajar Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Minas Kecamatan Minas Kabupaten Siak. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Google Scholar

 

Sanjaya, D. R. H. W. (2016). Penelitian Tindakan Kelas. Prenada Media. Google Scholar

 

Setyosari, P. (2010). Metode Penelitian Dan Pengembangan. Jakarta: Kencana. Google Scholar

 

 

 


 

 

 

Copyright holder :

Titin Retna Winarti (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: