|
�Jurnal Syntax
Transformation |
Vol. 3,
No. 7, Juli 2022 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP
SATU LEMBAR MELALUI METODE THROUGH SMALL GROUP
SD Negeri 1 Sangge
Kecamatan Klego, Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia
Email : [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
17 Juni 2022 Direvisi 12 Juli 2022 Disetujui 23 Juli 2022 |
Menjalani profesi sebagai pendidik, tentunya sangat
diharuskan dalam setiap kegiatan proses belajar mengajar seorang pendidik
memiliki sebuah pedoman yang dinamakan Rencana pelaksanaan Pembelajaran
(RPP). Memang setiap metode pembelajaran bisa diciptakan sekreatif mungkin
oleh pendidik, namun dengan adanya RPP, kreatifitas tersebut bisa diharmonisasikan
dengan panduan metode pembelajaran yang terdapat dalam RPP, sehingga kegiatan
pengajaran dapat dilaksanakan dengan baik demi efektivitas tujuan
pembelajaran. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini bagaimana
pelaksanaan bimbingan melalui metode Through Small Group dalam rangka
meningkatkan keaktifan dan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) satu lembar di SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego,
selanjutnya membahas apakah melalui metode Through Small mampu meningkatkan
keaktifan dan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) satu lembar di SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego Kabupaten Boyolali.
Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Subjek penelitian
adalah guru SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego yang berjumlah 8 orang. Teknik
pengumpulan data yaitu: koesioner, observasi, penugasan, dan dokumentasi.
Validitas data menggunakan trianggulasi sumber dan metode. Analisis data
menggunakan analisis�
model interaktif dan statistik deskriptif. Hasil penelitian
menyimpulkan: (1) Melalui metode Through Small Group mampu
meningkatkan partisipasi secara aktif peserta diskusi (guru) untuk saling
bertukar pangalaman dan pikiran dalam memecahkan permasalahan yang berkaitan
dengan penyusunan RPP satu lembar; (2) Melalui metode Through Small Group
mampu menciptakan suasana pelatihan atau bimbingan yang menyenangkan dan
kondusif untuk melakukan transfer ilmu, karena masing-masing peserta diskusi
(guru) dapat saling memberi dan menerima pemahaman yang dibahas; (3) Melalui
metode Through Small Group efektif untuk meningkatkan kemampuan
peserta diskusi (guru) dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
satu lembar. ABSTRACT Undergoing a profession
as an educator, of course, is very required in every activity of the teaching
and learning process an educator has a guideline called the Learning
Implementation Plan (RPP). Indeed, every learning method can be created as
creatively as possible by educators, but with the rpp, this creativity can be
harmonized with the guidance of learning methods contained in the rpp, so
that teaching activities can be carried out properly for the effectiveness of
learning objectives. The problem studied in this study is how to implement
guidance through the Through Small Group method in order to increase the
activeness and ability of teachers in preparing a one-sheet learning
implementation plan (RPP) at SD Negeri 1 Sangge, Klego District, then discuss
whether through the Through Small method it is able to increase the
activeness and ability of teachers in preparing a one-sheet learning
implementation plan (RPP) at SD Negeri 1 Sangge, Klego District, Regency� Boyolali.
This research is School Action Research (PTS). The subjects of the study were
teachers of SD Negeri 1 Sangge, Klego District, totaling 8 people. Data
collection techniques are: coesioner, observation, assignment, and
documentation. Data validity using source and method trianggulation. Data
analysis uses interactive model analysis and descriptive statistics. The
results of the study concluded: (1) Through the Through Small Group method,
it is able to increase the active participation of discussion participants
(teachers) to exchange experiences and thoughts in solving problems related
to the preparation of one-sheet rpp; (2) Through the Through Small Group
method, it is able to create a pleasant and conducive training or guidance
atmosphere to transfer knowledge, because each discussion participant
(teacher) can give and receive each other's understanding discussed; (3)
Through The Through Small Group method is effective in improving the ability
of discussion participants (teachers) in preparing a one-sheet learning
implementation plan (RPP). |
|
Kata Kunci: Metode Through Small
Group, Kemampuan Menyusun Rencana Pelaksaanaan Pembelajaran (RPP) satu
lembar Keywords: Through Small Group
Method, Ability to Develop a one-sheet Learning Implementation Plan (RPP) |
Pendahuluan
Kemendikbud telah mengeluarkan RPP 1 Lembar halaman
untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di semester 2 melalui surat edaran no 14 tahun
2019 yang disampaikan oleh Mendikbud (Kadis, 2020).
Adapun tujuan dari pembaharuan RPP tersebut adalah mengefisiensikan kinerja
guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang terdapat dalam RPP, sehingga
implementasi yang dilakukan guru tidak terbebani oleh teori-teori yang ada (Lubis, 2019).
Dalam menjalani profesi sebagai pendidik, tentunya
sangat diharuskan dalam setiap kegiatan proses belajar mengajar seorang
pendidik memiliki sebuah pedoman yang dinamakan Rencana pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) (Nofriyanti & Nurhafizah, 2019).
Memang setiap metode pembelajaran bisa diciptakan sekreatif mungkin oleh
pendidik, namun dengan adanya RPP, kreatifitas tersebut bisa diharmonisasikan
dengan panduan metode pembelajaran yang terdapat dalam RPP, sehingga kegiatan
pengajaran dapat dilaksanakan dengan baik demi efektivitas tujuan pembelajaran.
Karena begitu penting dan krusialnya bagi para
pendidik dalam menerapkan metode yang tepat kepada seluruh peserta didik, penyederhanaan RPP tentunya sangat membantu dalam
meningkatkan efisiensi dan efektivitas guru dalam pengimplementasiannya. Sebagaimana
yang telah kita ketahui, RPP pada umumnya berisikan komponen-komponen yang
jumlahnya tidak sedikit yakni berjumlah 13 komponen, hal tersebut dinilai terlalu
banyak menyita waktu dan tenaga karena guru dituntut untuk memahami secara
keseluruhan selembar demi selembar (Prastowo, 2017).
Atas dasar tersebut, akhirnya Mendikbud memutuskan
untuk menyederhanakan bentuk RPP yang terdiri dari beberapa komponen menjadi
hanya 1 lembar saja. Hal tersebut dinilai dapat membuat pendidik memiliki
banyak waktu yang sangat efisien untuk digunakan dalam penyusunan Lesson
Plan, dengan begitu Guru bisa memiliki waktu lebih banyak untuk mempersiapkan
segala hal yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran diantaranya seperti
persiapan materi dan melakukan evaluasi (Aguss et al., 2021). �
Tenaga kependidikan sangat menentukan kualitas
pendidikan. Oleh karena itu, tenaga kependidikan perlu diberdayakan secara
efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam
kondisi yang menyenangkan. Salah satunya melalui kegiatan Dengan dibuatnya RPP
1 lembar ini, diharapkan akan menjadi salah satu pedoman baru yang bisa
dijadikan referensi dalam pembuatan Rencana pelaksanaan pembelajaran
menggunakan format versi surat edaran no 14 tahun 2019. Oleh karena itu,
tentunya tidak lagi terbebani dalam mencari model rpp, sebab rpp tersebut
secara keseluruhan kelas sudah tersedia secara lengkap.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka manajemen tenaga
kependidikan atau manajemen personalia pendidikan perlu terus ditingkatkan,
karena Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) (Alfiani & Fauziyah, 2020).
Perubahan sistem pendidikan yang dilakukan berdasarkan
hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) akan memberikan kemudahan kepada
seluruh warga sekolah untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Kemudahan
ini terutama akan dirasakan oleh para kepala sekolah sebagai peneliti, karena
dalam PTS kepala sekolah merupakan peneliti utama yang mencari dan melakukan
berbagai perubahan di sekolah menuju sekolah yang lebih efektif. Kepala sekolah
sebagai peneliti erat kaitannya dengan tugas dan fungsi mereka dalam
pengembangan sistem pendidikan dan manajemen sekolah. Oleh karena itu, sebagai
kepala sekolah dituntut untuk memiliki kompetensi yang standar (Purwanti, 2019).
Oleh karena itu, dibutuhkan model yang efektif untuk
merangsang keterampilan. Dalam penelitian ini digunakan model kooperatif tipe
keliling kelompok. Metode kooperatif tipe keliling kelompok adalah metode yang
digunakan untuk memberi kesempatan kepada masing-masing anggota kelompok untuk
memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota
lain (Sabeth, 2013).
Metode ini diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan dalam meningkatkan
keterampilan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu
lembar.
Mengingat begitu pentingnya metode mengajar dalam
pembelajaran kondusif, maka penulis tergugah untuk meneliti dengan mengambil
judul "Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun RPP Satu Lembar Melalui Metode Through
Small Group di SD Negeri 1 Sangge Kecamatan Klego Semester 2 Tahun
Pelajaran 2019/2020.
Tujuan penelitian ini adalah� mengetahui pelaksanaan bimbingan
kepada guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar
melalui metode Through Small Group. meningkatkan kemampuan guru dalam
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar melalui metode Through
Small Group.
Metode
Penelitian
Jenis penelitian ini adalah
penelitian tindakan sekolah (PTS) (Sanjaya, 2016).
PTS merupakan suatu cara memperbaiki manajemen sekolah melalui peningkatan
profesionalisme kepala sekolah karena kepala sekolah merupakan orang yang
paling tahu segala sesuatu yang terjadi di sekolah.
Metode pengumpulan data yang
digunakan yakni� Kuesioner.
Kuesioner tersebut disebarkan kepada guru untuk mengetahui respon guru terhadap
pelaksanaan metode Through Small Group dalam rangka meningkatkan
kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu
lembar.� Selanjutnya Observasi dilakukan
dengan cara mengamati secara langsung terhadap aktivitas guru selama mengikuti diskusi
dengan metode Through Small Group (Fajar, 2021). Penugasan ini dilakukan dengan cara memberikan tugas
kepada setiap guru untuk menyusun RPP satu lembar setelah diberikan pelatihan
atau bimbingan dengan metode Through Small Group�� dan Teknik dokumentasi�� Kelengkapan data diperoleh dari profil
sekolah, catatan, laporan, informasi yang berasal dari buku, surat kabar,
internet dan sejenisnya yang berhubungan dengan kajian penelitian ini (Anufia & Alhamid, 2019).
Untuk menganalisis hasil observaasi
dan dokumentasi digunakan analisis kualitatif. Langkah yang dilakukan dalam
metode analisis kualitatif adalah model interaktif (Setyosari, 2010).
Hasil dan
Pembahasan
A.
Hasil Penelitian
1. Aktivitas Guru dalam Diskusi
Selama proses diskusi berlangsung pada siklus I,
guru terlihat aktif dan�
antusias dalam mengikuti diskusi. Guru satu dengan yang lain,
saling berinteraksi dan saling bekerjasama untuk berbagi pengalaman dan
bertukar pikiran untuk memecahkan permasalahan dalam penyusunan RPP satu
lembar. Diskusi dengan metode Through Small Group memberi kesempatan
kepada setiap guru untuk menunjukkan partisipasi aktif.
Pada siklus II keaktifan guru dalam diskusi
mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini membuktikan bahwa diskusi� bermanfaat
dan membantu guru dalam menyusun RPP satu lembar.
Untuk mengetahui ada-tidaknya peningkatan aktivitas
guru dalam diskusi pada siklus II dibanding dengan siklus I, maka antara hasil
observasi siklus I dan siklus II perlu dibandingkan, dan perbandingan ini dapat
dilihat seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel
1
Analisis
Peningkatan Aktivitas Guru dalam Diskusi dari Siklus I ke Siklus II
|
Kode Guru |
Siklus I |
Siklus II |
Naik |
% |
|
A |
25 |
30 |
5 |
20.00 |
|
B |
27 |
28 |
1 |
3.70 |
|
C |
24 |
27 |
3 |
12.50 |
|
D |
21 |
24 |
3 |
14.29 |
|
E |
24 |
27 |
3 |
12.50 |
|
F |
21 |
24 |
3 |
14.29 |
|
G |
21 |
25 |
4 |
19.05 |
|
H |
25 |
30 |
5 |
20.00 |
|
Rata-rata |
23.50 |
26.88 |
3.38 |
14.54 |
|
Minimal |
21.00 |
24.00 |
1.00 |
3.70 |
|
Maksimal |
27.00 |
30.00 |
5.00 |
20.00 |
Pada tabel
1 diketahui bahwa aktivitas guru dalam mengikuti diskusi pada siklus II
mangalami kenaikkan dibandingkan dengan siklus I. Rata-rata aktifitas guru naik
sebesar 3.38 (14.45%). Kenaikan terendah adalah 1 (3,70%) dan tertinggi
mencapai 5 (20,00%). Dengan demikian, dilihat dari aspek: aktivitas dalam
diskusi, kemampuan mengemukakan pendapat, urutan pikiran atau gagasan,
kemampuan membantah pendapat orang lain, kemampuan menarik kesimpulan dan sikap
terhadap orang lain pada siklus II lebih baik dibanding pada siklus I.
2. Respon Guru terhadap Pelaksanaan
Diskusi
Berdasarkan
hasil angket yang dibagikan kepada guru pada akhir siklus I dan II, diketahui
bahwa respon guru terhadap pelaksanaan diskusi dengan menggunakan metode Through
Small Group pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus
I. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel
2
Analisis
Peningkatan Respon Guru terhadap Pelaksanaan Diskusi
dari
Siklus I ke Siklus II
|
Kode Guru |
Siklus I |
Siklus II |
Peningkatan |
% |
|
A |
19 |
22 |
3 |
15.79 |
|
B |
19 |
21 |
2 |
10.53 |
|
C |
15 |
22 |
7 |
46.67 |
|
D |
20 |
23 |
3 |
15.00 |
|
E |
15 |
22 |
7 |
46.67 |
|
F |
20 |
23 |
3 |
15.00 |
|
G |
16 |
21 |
5 |
31.25 |
|
H |
20 |
22 |
2 |
10.00 |
|
Rata-rata |
18.00 |
22.00 |
4.00 |
23.86 |
|
Minimal |
15.00 |
21.00 |
2.00 |
10.00 |
|
Maksimal |
20.00 |
23.00 |
7.00 |
46.67 |
Pada tabel 2
diketahui bahwa respon guru dalam mengikuti diskusi pada siklus II mengalami
kenaikkan dibandingkan dengan siklus I. Rata-rata naik sebesar 4.00 (23.86%).
Kenaikan terendah adalah 2 (10%) dan tertinggi mencapai 7 (46,67%). Dengan demikian,
dilihat dari aspek: sikap terhadap materi diskusi, sikap terhadap guru, sikap
terhadap proses diskusi, sikap yang berkaitan dengan nilai/ norma, sikap yang
berkaitan dengan kompetensi terlihat bahwa respon guru pada siklus II lebih
baik dibanding pada siklus I.
3. Kemampuan Guru Menyusun RPP
Dari
hasil penilaian terhadap kemampuan guru menyusun RPP satu lembar pada siklus I
dan siklus II, terlihat bahwa kemmapuan guru pada siklus II mengalami kenaikan
dibandingkan dengan nilai siklus I. Hal ini dapat dilihat pada� tabel di bawah ini
Diskusi dengan metode Through
Small.
Tabel
3
�Analisis Peningkatan Kemampuan Guru Menyusun
RPP
dari
Siklus I ke Siklus II
|
Kode Guru |
Siklus I |
Siklus II |
Peningkatan |
% |
|
A |
77.33 |
96.00 |
18.67 |
24.14 |
|
B |
84.00 |
90.67 |
6.67 |
7.94 |
|
C |
84.00 |
88.00 |
4.00 |
4.76 |
|
D |
73.33 |
92.00 |
18.67 |
25.45 |
|
E |
74.67 |
93.33 |
18.67 |
25.00 |
|
F |
86.67 |
92.00 |
5.33 |
6.15 |
|
G |
72.00 |
88.00 |
16.00 |
22.22 |
|
H |
74.67 |
90.67 |
16.00 |
21.43 |
|
Rata-rata |
78.33 |
91.33 |
13.00 |
17.14 |
|
Minimal |
72.00 |
88.00 |
4.00 |
4.76 |
|
Maksimal |
86.67 |
96.00 |
18.67 |
25.45 |
Pada tabel� 3 diketahui
bahwa setelah melakukan diskusi dengan metode Through Small Group hingga
siklus II, kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
satu lembar mengalami kenaikan. Dibandingkan nilai siklus I, kenaikan kemampuan
guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar pembelajaran
rata-rata naik sebesar 13.00 (17.14%). Kenaikan terendah adalah 4 (4,48%) dan
tertinggi mencapai 18,67 (25,45%). Dengan demikian, tindakan siklus II telah
efektif dan berhasil meningkatkan kemampuan guru menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) satu lembar, karena jumlah guru yang mendapat nilai lebih
dari 70 telah mencapai 100%. Dengan demikian, diskusi dengan metode Through
Small Group telah memberikan manfaat atau kemudahan bagi guru untuk
menyusun RPPsatu lembar. Seperti penelitian yang dilakukan oleh (Khaerani, 2016)
mengungkapkan bahwa dalam menyusun Rencana Pelaksanaa Pembelajaran (RPP),
yaitu: (a) menyampaikan pengumuman kepada guru tentang akan dilaksanakannya
kegiatan IHT mengenai penyusunan RPP; (b) mempersiapkan materi bimbingan berupa
pelaksanaan pembelajaran disertai simulasinya; (c) Mempersiapkan instrumen; (d)
melaksanakan kegiatan IHT dengan tidak mengganggu kegiatan pembelajaran; dan e)
melaksanakan pengamatan di kelas saat dilaksanakan kegiatan pembelajaran oleh
guru
B.
Pembahasan
Diskusi
dengan metode Through Small Group merupakan suatu teknik bertukar
pengalaman dan pikiran, yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap
peserta diskusi untuk memberikan masukan dan tanggapan kepada setiap peserta
diskusi (Koton, 2015).
Dengan cara demikian, masing-masing peserta diskusi (guru) akan mendapatkan
manfaat yang besar untuk meningkatkan kemampuannya dalam membuat RPP satu
lembar. Hal ini terbukti kemampuan guru dalam menyusun RPP satu lembar
mengalami peningkatan setelah dilakukan diskusi dengan metode Through Small
Group dari siklus satu ke siklus selanjutnya.
Diskusi ini
cukup efektif, karena peserta diskusi memiliki kepentingan yang sama dan
menghadapi permasalahan yang bisa dikatakan sama sebagai seorang guru, yang
harus membuat RPP satu lembar dengan baik dan benar dalam rangka meningkatkan
kualitas pendidikan. Hal ini mengingat RPP satu lembar merupakan acuan bagi
setiap guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya, dalam rangka memudahkan bagi
peserta didik untuk menguasai materi yang diajarkan.
Sebagai
salah satu bentuk belajar bersama atau gotong royong (cooperative learning),
bentuk pembelajaran ini juga dapat diterapkan pada upaya peningkatan kemmapuan
guru dalam menyusun RPP satu lembar, karena pada dasarnya guru dalam proses
diskusi ini juga melakukan belajar bersama untuk dapat membuat RPP satu lembar
yang baik dan benar (Musthofa, 2012).
Jadi, bentuk pembelajaran ini dapat diadopsi atau dilakukan pendekatan pada
proses pelatihan atau bimbingan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan
menyusun RPP satu lembar.
Setelah
mencermati hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis dapat mengemukakan
bahwa metode Through Small Group memiliki keunggulan sebagai berikut:
(1) metode Through Small Group memberikan kesempatan yang sama kepada
setiap peserta diskusi (guru) untuk terlibat aktif dalam diskusi dan� meningkatkan antusias guru untuk mengikuti
diskusi; (2) metode Through Small Group mendorong peserta diskusi (guru)
untuk saling bertukar pengalaman dan pikiran, melakukan kerjasama yang bersifat
konstruktif, saling menghargai, dan menghindari egoisme yang cenderung menonjolkan
diri; (3) metode Through Small Group mampu meningkatkan kemampuan
peserta diskusi (guru) dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
satu lembar.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Pelaksanaan bimbingan dengan
metode Through Small Group mampu menciptakan suasana pelatihan atau
bimbingan yang menyenangkan dan kondusif untuk melakukan transfer ilmu, karena
masing-masing peserta diskusi (guru) dapat saling memberi dan menerima
pemahaman yang dibahas.
Metode Through Small Group pmampu
meningkatkan partisipasi secara aktif peserta diskusi (guru) untuk saling
bertukar pangalaman dan pikiran dalam memecahkan permasalahan yang berkaitan
dengan penyusunan RPP satu lembar.
Metode Through Small Group
efektif untuk meningkatkan kemampuan peserta diskusi (guru) dalam menyusun
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) satu lembar.
BIBLIOGRAFI
Aguss,
R. M., Amelia, D., & Permata, P. (2021). Pelatihan Pembuatan Perangkat Ajar
Silabus Dan Rpp Smk Pgri 1 Limau. Journal Of Social Sciences And Technology For
Community Service (JSSTCS), 2(2), 48�53.Google Scholar
Alfiani,
M. M., & Fauziyah, Y. (2020). Manajemen Kepemimpinan Transformasional Dalam
Meningkatkan Kinerja Tenaga Pendidik Dan Kependidikan. Islamika, 2(1),
1�19. Google Scholar
Anufia,
B., & Alhamid, T. (2019). Instrumen Pengumpulan Data. Google Scholar
Fajar,
S. (2021). The Effect Of Using Small Group Discussion In Teaching Reading
Comprehension. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Universitas Subang (SENDINUSA),
3(1), 292�296. Google Scholar
Kadis,
K. (2020). Seminar Kolegial PPPPTK Pkn Dan IPS: RPP Satu Halaman. Google Scholar
Khaerani,
N. C. (2016). Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Menyusun RPP Melalui Kegiatan
IHT (In House Training). Didaktikum, 17(1). Google Scholar
Koton,
Y. P. (2015). Metode Pembelajaan Diskusi Dalam Peningkatan Kompetensi Peserta
Diklat. Publik (Jurnal Ilmu Administrasi), 4(2), 91�98. Google Scholar
Lubis,
R. (2019). Rpp. Google Scholar
Musthofa,
K. (2012). Pembelajaran Fisika Dengan Cooperative Learning Tipe Jigsaw Untuk
Mengoptimalkan Aktivitas Dan Kemampuan Kognitif Siswa Kelas X-6 SMA MTA Surakarta.
Google Scholar
Nofriyanti,
Y., & Nurhafizah, N. (2019). Etika Profesi Guru Paud Profesional Dalam
Mewujudkan Pembelajaran Bermutu. Jurnal Pendidikan Tambusai, 3(1),
676�684. Google Scholar
Prastowo,
A. (2017). Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu: Implementasi
Kurikulum 2018 Untuk SD/MI. Kencana. Google Scholar
Purwanti,
E. S. (2019). Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Mengembangkan Sumber Dan Media
Belajar Dengan Diskusi Model Think Pair And Share Di SD Negeri 3 Glagahwangi
Polanharjo Klaten Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018. JPI (Jurnal
Pendidikan Indonesia): Jurnal Ilmiah Pendidikan, 5(4), 213�227. Google Scholar
Sabeth,
N. (2013). Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Keliling
Kelompok Terhadap Hasil Dan Minat Belajar Matematika Siswa Sekolah Menengah
Pertama Negeri 4 Minas Kecamatan Minas Kabupaten Siak. Universitas Islam
Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Google Scholar
Sanjaya,
D. R. H. W. (2016). Penelitian Tindakan Kelas. Prenada Media. Google Scholar
Setyosari,
P. (2010). Metode Penelitian Dan Pengembangan. Jakarta: Kencana. Google Scholar
|
Copyright holder : Titin Retna Winarti (2022) |
|
First publication right
: This article is licensed under: |