Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3, No. 9, September 2022

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

FOREST SCHOOL MOVEMENT FOR DEVELOPING SOCIAL SKILL, GROSS MOTOR SKILL, AND FINE MOTOR SKILL IN TK XYZ BINTARO

 

Yuliana1, Agus Santoso2

British School Jakarta1

Universitas Pelita Harapan2

Email: [email protected], [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

13 Juli 2022

Direvisi

11 Agustus 2022

Disetujui

23 Agustus 2022

Pandemi Covid-19 memaksa adanya perubahan cara belajar anak disekolah. Sudah kurang lebih hampir dua tahun, anak-anak terpaksa melakukan pembelajaran dari rumah dengan menggunakan media seperti zoom, google meets dan sebagainya. Namun dengan berkembangkan vaksin, maka beberapa sekolah diperbolehkan melaksanakan pertemuan tatap muka. TK XYZ telah mendapat izin pembukaan sekolah sejak September 2021. Semenjak pembukaan sekolah, hasil dari refleksi beberapa guru mengungkapkan bahwa adanya kemunduran dalam keterampilan sosial, keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus anak. Salah satu pendekatan yang sesuai dengan lingkungan sekolah serta kurikulum yang ada di TK XYZ adalah Forest School Movement. Forest School Movement adalah sebuah pendekatan belajar mengajar dengan melakukan kegiatan di alam yang menstimulasi anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peningkatan keterampilan sosial, keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus anak selama penerapan Forest School Movement. Metode penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus yang melibatkan subyek 20 anak usia 3-4 tahun dan menggunakan rubrik untuk kriteria penilaian dengan teknik observasi serta didukung dengan hasil wawancara guru yang terlibat selama intervensi berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa melalui 2 siklus terdapat peningkatan sebanyak 24,64% untuk keterampilan sosial, 33,75% peningkatan keterampilan motorik kasar dan 31,67% peningkatan keterampilan motorik halus.

 

ABSTRACT

The Covid-19 pandemic has forced a change in the way children learn at school. It has been almost two years since they were forced to do learning from home by using some media, such as: Zoom, and Google Meets. However, after the children were vaccinated, some schools have been allowed to hold face-to-face meetings. Since then, the results of the reflections of several teachers have revealed that there is a decline in the children's social skills, gross motor skills, and fine motor skills. One approach that fits the school environment and curriculum at the XYZ Kindergarten is the Forest School Movement, which is an approach to teaching and learning by doing some natural activities that stimulate the children. The research design used was the Classroom Action Research (CAR) consisting of two cycles, with 20 children aged 3-4 years as the subjects and using a rubric for the assessment, together with the observation techniques to triangulate the data. The data were also supported by the interviews from the four teachers. The results have indicated that after the two circles of the interventions given, there is a 24,64% increase of the social skills, a 33,75% increase of the gross motor skills and a 31,67% increase of the fine motor skills.

Kata Kunci:

Forest School Movement, Keterampilan Sosial, Keterampilan Motorik Kasar, Keterampilan Motorik Halus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Forest School Movement, Social Skills, Gross Motor Skills, Fine Motor Skills.

 


Pendahuluan

Pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia berdampak pula terhadap dunia pendidikan secara langsung. Dampaknya berhasil memprovokasi beberapa perubahan di dalam penyusunan dan implementasi kebijakan-kebijakan terkait pendidikan di sekolah. Perubahan yang paling besar terjadi dalam proses belajar mengajar berubah dari metode tatap muka (luring) menjadi metode online learning (daring) yang mengharuskan proses belajar dengan menggunakan platform media seperti Zoom Meeting dan Google Meet. Namun, seiring dengan ditemukannya vaksin, secara langsung membawa kabar baik bagi dunia pendidikan dengan diterbitkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang berisikan mengijinkan sekolah untuk kembali membuka sesi tatap muka setiap hari berdasarkan vaksinasi guru dan level PPKM daerah.

TK XYZ sudah membuka kembali sesi tatap muka dengan jadwal normal sejak September 2021. Berdasarkan hasil interview yang dilaksanakan bulan Februari dengan dua guru di kelas Javan Magpie TK XYZ Bintaro, hasilnya adalah mereka setuju bahwa hampir semua siswa di kelas KG1 Javan Magpie yang berjumlah 20 anak mengalami kendala untuk untuk dapat beradaptasi kembali setelah hampir dua tahun menjalani pembelajaran secara online (daring). Adapun beberapa masalah lainnya yang muncul ketika pembelajaran tatap muka adalah kurangnya keterampilan sosial anak serta adanya penurunan pencapaian keterampilan motor kasar dan keterampilan motor halus pada peserta didik. Hal ini turut didukung oleh hasil observasi pra tindakan yang menganalisa kemampuan sosial dan motorik anak yakni keterampilan motorik kasar 56%, keterampilan motorik halus 58% dan keterampilan sosialnya 42%.

Berdasarkan observasi pra-tindakan diperoleh informasi bahwa selama satu bulan pertama pada proses pembelajaran tatap muka, peserta didik masih mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan teman sekelas dan lingkungan sekitarnya. Kesulitan untuk bersosialisasi ini diakibatkan adanya dampak dari keseharian mereka selama pandemi yang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah dan mereka tidak dianjurkan untuk keluar rumah dan bertemu dengan orang dewasa lain atau pun teman sebaya mereka. Selain itu, kondisi ini juga secara tidak langsung berpengaruh pada perkembangan tingkat keterampilan motorik kasar maupun keterampilan motorik halus peserta didik. Adanya keterbatasan ruang gerak dan juga sulitnya memonitor perkembangan keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus para peserta didik selama pembelajaran online juga diyakini oleh para guru sebagai salah satu faktor penyebabnya.

Kemampuan fisik motorik pada peserta didik dapat mempengaruhi pertumbuhan fisiknya, peserta didik yang mempunyai kemampuan motorik kasar yang baik dapat meningkatkan perkembangan mentalnya, lebih bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya dan lebih percaya diri. Kemampuan motorik kasar erat kaitannya dengan perkembangan pengendalian gerakan badan yang terkoordinir antara lapisan saraf, otot, otak dan urat saraf tulang balik (spinal cord). Pada dasarnya, kemampuan ini memberikan peluang luas buat bergerak, pengalaman belajar untuk menciptakan, kegiatan sensori motor yang meliputi otot-otot besar dan kecil (Fikriyati, 2013); (Sujiono, 2013). Aktivitas gerakan berlari, merangkak, menendang, naik turun tangga, melompat, memanjat dapat meningkatkan kemampuan motorik kasar bagi peserta didik (Saputra, 2005); (Kusuma et al., 2021).

Selain peningkatan kemampuan motorik kasar di dalam proses belajar mengajar, kemampuan motorik halus pada peserta didik juga harus dilatih. Kemampuan ini menggunakan otot-otot kecil di tangannya, seperti: kemampuan dalam menggenggam pensil, makan menggunakan sendok, mengancingkan baju dan sebagainya (Fanani et al., 2020). Kemampuan ini sangat penting karena dibutuhkan oleh peserta didik dalam menyelesaikan aktivitas sehari-hari serta dapat mempengaruhi prestasi akademik para peserta didik dan kepercayaan dirinya (Grissmer et al., 2010). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kemampuan ini sangat penting sebagai salah satu indikator kesiapan sekolah dimana kondisi seorang anak siap untuk terlibat dalam proses belajar mengajar secara luring (Supartini, 2006).

Elvi (2018, 40) mengatakan bahwa keterampilan sosial juga penting untuk dimiliki siswa selama menjalani pembelajaran di kelas. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa siswa yang memiliki keterampilan sosial yang baik meliputi kemampuan bertanya, memperoleh, analisis dan menyampaikan informasi akan berdampak baik bagi proses belajarnya. Pada dasarnya, kemampuan sosial pada peserta didik merupakan kemampuan berinteraksi dengan orang lain melalui cara-cara yang dapat diterima oleh lingkungannya serta pada waktu yang bersamaan dapat menguntungkan bagi individu dan bersifat saling menguntungkan. Kemampuan ini membantu peserta didik agar dapat bersosialisasi dengan baik (Cartledge & Milburn, 1995).

Mengingat pentingnya perkembangan sosial dan keterampilan motorik kasar maupun halus bagi anak usia dini yang tidak berbanding lurus dengan persentase rata rata kemampuan siswa selama pra tindakan� maka timbul kerisauan guru. Guru menilai perlu mencari solusi untuk menindaklanjuti permasalahan yang dihadapi di kelas saat ini. Guru memilih untuk mengangkat implementasi Forest School Movement sebagai pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini karena sekolah memiliki fasilitas proses belajar mengajar yang sangat memungkinkan untuk menerapkan pendekatan ini guna meningkatkan keterampilan sosial, keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus pada para siswa di TK XYZ di Bintaro. Selain itu, keterampilan sosial, keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus juga merupakan tiga aspek penting dalam kurikulum yang digunakan oleh TK XYZ Bintaro. Ketiga aspek ini menjadi tolak ukur utama keberhasilan anak didik untuk ke jenjang selanjutnya, sehingga penting bagi guru untuk mengangkat topik mengenai ketiga aspek ini yang juga sejalan dengan ekspektasi di dalam kurikulum yang digunakan sekolah.

(Cree & Robb, 2021), mengatakan bahwa salah satu prinsip dari implementasi Forest School Movement dalam proses belajar mengajar pada peserta didik adalah untuk mengembangkan kemampuan anak dalam proses kognitif, kreativitas, resiliensi dan kemampuan fisikal, meliputi keterampilan motorik kasar maupun kemampuan motorik halus pada anak didik. Di dalam hasil penelitiannya, mereka juga menyebutkan bahwa pada dasarnya pemerintah United Kingdom bersedia untuk merekomendasikan pendekatan Forest School Movement sebagai salah satu pendekatan pedagogi yang dinyatakan memiliki peranan yang sangat penting untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bangsa.

 

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan desain penelitian tindakan karena bertujuan untuk menghasilkan perubahan (changes) dan peningkatan (improvement) setelah adanya suatu tindakan terhadap kelompok sasaran�� (Pardjono et al., 2007). Model penelitian tindakan yang digunakan, yakni: model Kemmis dan McTaggart (Kemmis et al., 2014) yang membagi penelitian dalam empat langkah, yakni: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.


 

 

Gambar 1. Model Kemmis, McTaggart dan Nixon (2014, 19)

 


Desain penelitian tindakan dirancang dengan mengacu model di atas. Penelitian terbagi dalam dua siklus di mana setiap siklus merupakan rangkaian tahapan mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, serta refleksi. Penelitian bertempat di TK XYZ di Bintaro. Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan pada bulan Maret � Mei 2022, mulai dari penyusunan instrumen, persiapan di lokasi, persiapan anak didik, kolaborator hingga penerapan Forest School Movement dan penyusunan laporan hasil penelitian. Subjek penelitian adalah �sumber utama data penelitian, yakni: sesuatu data yang dapat dijadikan sebagai Tindakan yang akan diteliti� (Azwar, 2007). Subjek dalam penelitian ini adalah 4 orang guru yang merupakan 1 guru kelas 1 asisten guru, 1 guru subjek, 1 koordinator TK XYZ Bintaro sekaligus praktisi Forest School dan peserta didik TK� XYZ Bintaro� yang berjumlah 20 anak di kelas KG 1 Javan Magpie dengan 10 orang siswa laki � laki dan 10 orang siswa perempuan yang berusia 3-4 tahun.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan disesuaikan dengan sifat dan kondisi penelitian yang dilakukan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini sebagai berikut:

1.    Observasi

Observasi dalam penelitian ini dilakukan dengan bentuk rubrik yang akan diisi oleh observer dengan skor. Observasi berlangsung pada saat pembelajaran sekaligus sebagai kegiatan evaluasi guna menilai proses dan hasil belajar siswa sebagaimana dijelaskan (Sanjaya, 2014). Dalam hal in, observasi dilakukan oleh 2 (dua) pengamat, yakni: 1 (satu) orang peneliti sebagai guru kelas dan 1(satu) orang guru subjek yang mengajar di kelas. Observasi menggunakan instrumen berupa rubrik observasi.

2.    Wawancara

Peneliti melakukan wawancara dengan empat orang guru di TK XYZ Bintaro .Wawancara dilakukan untuk mengetahui perkembangan� sebelum dan setelah dilakukan Tindakan kelas selama dua Siklus . Hasil wawancara digunakan sebagai penopang hasil data observasi sebelumnya. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara semi-terstruktur dimana pertanyaan pertanyaan sudah dibuat sedemikian rupa tetapi peneliti sebagai pewawancara dapat mengurangi atau menambahkan pertanyaan yang berhubungan dengan aspek keterampilan yang ingin diketahui. Instrumen yang digunakan, yakni: pedoman wawancara

Teknik analisis data menggunakan teknik the explanatory sequential mixed method, yakni: gabungan dari teknik kuantitatif dan kualitatif �(Creswell & Creswell, 2017).� Peneliti pertama-tama memulai dengan fase penelitian kuantitatif dan kemudian melakukan fase penelitian kualitatif. Data kuantitatif dalam bentuk skor atau angka kemudian dianalisis. Praktik analisis dalam penelitian ini, yakni: pertama, data kualitatif berupa gambaran pelaksanaan Forest School Movement,� keterampilan sosial, keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus dianalisis secara kualitatif. Kedua, data awal berupa data kualitatif kemudian diberi skor agar kuantitas peningkatan dapat diukur lebih jelas, yakni: untuk menggambarkan peningkatan keterampilan sosial, peningkatan keterampilan motorik kasar, dan peningkatan keterampilan motorik halus.

 

Hasil dan Pembahasan

Upaya meningkatkan keterampilan motorik kasar, keterampilan motorik halus, dan keterampilan sosial melalui Forest School Movement dikemas dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) telah menghasilkan peningkatan sesuai dengan harapan.� Peningkatan ini tercapai melalui 2 (dua) siklus. Perbandingan antar siklus memperlihatkan adanya peningkatan tersebut.

1.    Peningkatan keterampilan motorik kasar

Keterampilan motorik kasar mengalami peningkatan dilihat dari jumlah siswa yang mencapai skor peningkatan yang semakin baik. Perbandingan antar siklus menunjukkan peningkatan keterampilan motorik kasar pada akhir Siklus 2. Peningkatan keterampilan motorik kasar dari pratindakan hingga Siklus 2 dapat dilihat pada Tabel 1. berikut ini.


 

 

 

 

Tabel 1. Peningkatan Keterampilan Motorik Kasar Indikator

Pratindakan Siklus 1 Siklus 2

Indikator

Pratindakan

Siklus 1

Siklus 2

Baik

%

Baik

%

Baik

%

Berlari

10

50

14

70

17

85

Melompat

20

100

20

100

20

100

Berjalan di atas papan

10

50

14

70

18

90

Merangkak

5

25

9

45

17

85

Rata rata persentase

 

56,25%

 

71,25%

 

90%

 


Tabel 1 menunjukan pendekatan Forest School Movement berhasil meningkatkan keterampilan motorik kasar. Tindakan dalam bentuk Forest School Movement dinyatakan berhasil ketika terjadi peningkatan sebesar minimal 30% dari keterampilan awal atau sejak awal telah mencapai kemampuan maksimal. Perbandingan antar siklus dan keadaan sebelum tindakan (pratindakan) menunjukkan peningkatan lebih dari 30%. Aktivitas berlari naik dari� 50% menjadi 85%, Aktivitas melompat tidak menunjukkan peningkatan karena dari awal seluruh anak sudah menunjukkan kemampuan yang baik. Aktivitas berjalan di atas papan naik dari awal 50% menjadi 90%, dan merangkak dari semula 25% menjadi 85% pada akhir tindakan Siklus 2. Peningkatan motorik kasar disajikan dalam bentuk Gambar 2. berikut.


 

 

Gambar 2. Peningkatan Keterampilan Motorik Kasar

 


Gambar 2. memperlihatkan keterampilan motorik kasar meningkat dari semula 56,25% menjadi 71,25% pada Siklus 1 lalu meningkat menjadi 90% pada Siklus 2.� Motorik kasar merupakan gerakan yang menggunakan otot-otot besar pada tubuh seperti gerakan berjalan, berlari, melompat, meloncat, mendaki dan juga penggunaan sebagian besar atau seluruh gerakan otot besar lainya (Triyanti, 2021).� Keterampilan motorik dapat dipelajari dari pengalaman belajar selama menjalani aktivitas gerak baik menggunakan otot besar maupun otot kecil serta sensomotorik kognitifnya sehingga seiring bertambahnya pengalaman belajar motorik maka perkembangan konseptual motoriknya juga semakin baik sebagaimana dijelaskan Catron dan Allen (1999, 54).

Pada penelitian ini, motorik kasar lebih banyak berkembang sebesar 33,75 % (selisih antara keterampilan motorik sebelum tindakan dan akhir tindakan Siklus 2 daripada keterampilan motorik halus (31,67%) dan keterampilan sosial (24.64%). Keterampilan motorik memang lebih mudah berkembang melalui aktivitas di alam terbuka daripada di dalam ruangan.

2.    Peningkatan Keterampilan Motorik Halus

Keterampilan motorik halus terus mengalami peningkatan semakin baik daripada sebelum tindakan sehingga meningkat rata-rata� menjadi 90% pada Siklus 2. Sebelum tindakan keterampilan motorik berada pada 58,33% meningkat menjadi 90%. Tabel 2. menjelaskan tahapan peningkatan keterampilan motorik halus.


 

Tabel 2. Peningkatan Keterampilan Motorik Halus

Indikator

Pratindakan

Siklus 1

Siklus 2

Baik

%

Baik

%

Baik

%

Menggambar di tanah

15

75

17

85

19

95

Menyusun batu-batu bertingkat

15

75

17

86

18

90

Merangkai daun-daun di tanah

5

25

10

50

17

85

Rata rata persentase

 

58,33%

 

73,67%

 

90%

 


Peningkatan Keterampilan motorik halus dapat juga dilihat pada Gambar 3. di bawah ini.


 

 

Gambar 3. Peningkatan Keterampilan Motorik Halus

 


Gambar 3. menunjukkan keterampilan motorik halus semula 58,33% meningkat menjadi 73,67% pada Siklus 1 kemudian meningkat lagi menjadi 90% pada Siklus 2. Keterampilan motorik halus merupakan kemampuan mengkoordinasi gerakan otot-otot kecil dan biasanya dengan koordinasi mata seperti: memegang, menulis, dan menggunting. Gerakan otot-otot kecil yang dimaksud diantaranya gerakan jari dan pergelangan tangan (Gracinia & Mulyani, 2013). Kegiatan menggambar, menyusun batu-batu, dan merangkai daun dapat merangsang motorik halus anak karena anak terangsang melakukan gerakan otot halus dan koordinasi dengan mata. Aktivitas menggambar dan menyusun batu-batu seperti menyusun puzzle sesuai dengan tema sehari-hari anak. Tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak dapat menarik minat dan rasa ingin tahu anak untuk melakukan aktivitas (Sumantri, 2005).

Peningkatan keterampilan motorik kasar dan motorik halus memiliki dampak positif terhadap kepercayaan diri anak dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Akan tetapi, kepercayaan diri tidak berarti meningkatkan keterampilan sosial anak. Percaya diri yang tinggi pada anak berbeda dengan kemampuan anak untuk berempati atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Anak lebih membutuhkan kemampuan berempati dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, meskipun kepercayaan diri juga penting bagi anak saat menjalin hubungan sosial.

3.    Peningkatan Keterampilan Sosial

Keterampilan sosial terus meningkat dibandingkan sebelum tindakan sekolah. Keterampilan sosial pada Siklus 1 yang baik mencapai 60%, sedangkan sebelum tindakan hanya mencapai 43,3%. Peningkatan kembali terjadi pada Siklus 2 sehingga kualitas pembelajaran mencapai 67.5% sebagaimana tampak pada Tabel 3 di bawah ini.


 

Tabel 3 Keterampilan Sosial

Indikator

Pratindakan

Siklus 1

Siklus 2

Baik

%

Baik

%

Baik

%

Sikap anak terhadap kebutuhan teman saat intervensi berlangsung

5

25

8

40

14

70

Memahami pendapat temannya

5

25

8

40

13

65

Memahami� teman yang membutuhkan bantuan

5

25

9

45

11

55

Ikut bergembira melihat keberhasilan temannya

5

25

9

45

12

60

Anak bisa beradaptasi dengan� teman-teman lainnya

10

50

12

60

15

75

Anak cepat berbaur dengan kelompok baru

-

-

5

25

11

55

Anak cepat menyesuaikan diri terhadap arahan guru

10

50

12

60

12

60

Anak tetap� menikmati meskipun ada pergantian kegiatan

20

100

20

100

20

100

Rata rata persentase

 

42,86%

 

51,87%

 

67,5%

 


Peningkatan keterampilan sosial dapat juga dilihat pada Gambar 4. di bawah ini.


 

 

Gambar 4. Peningkatan Keterampilan Sosial

 


Gambar 4. memperlihatkan peningkatan keterampilan sosial dari semula sebelum tindakan hanya 42,86% meningkat menjadi 51,87% kemudian meningkat lagi menjadi 67,5%. Keterampilan sosial seperti berempati dan beradaptasi pada dasarnya tumbuh alamiah dalam pergaulan sehari-hari sejak anak-anak di TK. Namun demikian, perkembangan keterampilan sosial anak-anak TK lebih baik di dalam aktivitas yang terprogram daripada aktivitas bebas pada jam istirahat sekolah (Fitri, 2020).�

Aktivitas terprogram seperti permainan tradisional lebih tepat untuk meningkatkan keterampilan sosial anak didik. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian (Adhani & Hidayah, 2014) dan penelitian (Margiyati et al., 2019) yang sama-sama mengungkapkan bahwa peningkatan keterampilan sosial anak melalui permainan tradisional telah berhasil meningkatkan keterampilan sosial anak. Kedua penelitian ini menjelaskan mengapa peningkatan aspek keterampilan sosial dalam Forest School Movement relatif lebih rendah daripada aspek yang lain.� Aktivitas bebas sebagaimana muncul dalam kegiatan Forest School Movement belum memiliki suatu pola hubungan yang jelas, berbeda dengan permainan tradisional.

Permainan tradisional yang dimainkan secara bersama-sama telah menyediakan suatu model atau hubungan yang terpola sehingga anak didik lebih mudah mengikuti dan mengamati bagaimana suatu peran harus dimainkan. Berkaitan dengan pola dan peran, maka keterampilan sosial lebih efektif dikembangkan melalui pemodelan atau keteladanan, pengujian dan menerima umpan balik dalam hubungan sosial di dalam keluarga sehingga peran orang tua�� sangat penting. (Kusuma et al., 2021) menjelaskan bahwa keterampilan sosial dikembangkan melalui pemberian kasih sayang, pengawasan, pemberian keteladanan dan mengajarkan berbuat baik kepada sesama. Dengan demikian, aktivitas bebas sebagaimana dalam Forest School Movement kurang efektif untuk meningkatkan keterampilan sosial.

Pembelajaran model Forest School Movement sejalan dengan teori Frobelian sebagaimana dijelaskan Basrawi (2019, 58) yang mengatakan bahwa Frobel berpandangan pendidikan anak usia dini disajikan dalam bentuk permainan, bernyanyi dan bermacam-macam pekerjaan ringan yang sesuai dengan usia anak guna memberi pengalaman langsung kepada anak. Aktivitas pembelajaran menurut Froebel sebagaimana dijelaskan Yus (2011, 6) harus mengutamakan pengembangan otoaktivitas. Otoaktivitas berarti adanya suasana bebas. Kebebasan bergerak, kebebasan memilih, dan aktivitas merdeka menjadi penting. Pengalaman sehari-hari di luar ruangan menjadi luar biasa penting bagi anak-anak untuk memahami hubungan semua makhluk hidup.

Kebebasan yang dirasakan anak didik selama kegiatan pembelajaran akan memunculkan aktivitas spontan serta pengalaman-pengalaman baru yang menstimulasi motorik kasar, motorik halus maupun keterampilan sosial. Namun� selama tindakan kelas berlangsung, aktivitas anak masih belum bebas dari intervensi orang dewasa. Idealnya, guru sebatas membantu agar aktivitas anak tidak terhalang. Dalam hal ini, peran pendidik hanyalah membantu anak dan bukan membimbing anak untuk melakukan suatu aktivitas (Cree & Robb, 2021). Namun demikian, aktivitas bermain di luar ruangan sebagaimana tetap banyak memberikan stimulasi kepada anak didik untuk melakukan berbagai aktivitas. Selain aktivitas yang diarahkan agar bisa diukur dalam� penelitian ini, anak didik juga melakukan aktivitas lain dengan bebas.

 

Kesimpulan

Pelaksanaan Forest School Movement di lingkungan sekitar sekolah� dengan menggunakan peralatan di sekolah memang masih menunjukkan adanya suasana lingkungan sekolah yang aman dan nyaman sehingga tantangan alam menjadi minimal dirasakan oleh anak didik. Ketiadaan tantangan alam menjadikan anak didik satu dengan yang lain tidak merasa terikat secara sosial untuk bekerjasama saling bergantung memenuhi kebutuhan mendapatkan rasa aman. Pelaksanaan Forest School Movement dibagi dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus 2 ada tambahan berupa bimbingan oleh guru kepada anak didik dalam kegiatan bermain karena capaian keterampilan sosial anak masih rendah. Siklus 2 berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan.

 

BIBLIOGRAFI

 

Adhani, D. N., & Hidayah, I. T. (2014). Peningkatan Keterampilan Sosial Anak Melalui Permainan Tradisional Ular-Ularan. Jurnal PG-PAUD Trunojoyo: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Anak Usia Dini, 1(2), 137�146. https://doi.org/10.21107/pgpaudtrunojoyo.v1i2.3561. Google Scholar

 

Azwar, S. (2007). Metode penelitian, edisi I. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Google Scholar

 

Cartledge, G., & Milburn, J. F. (1995). Teaching social skills to children and youth: Innovative approaches. Allyn & Bacon. Google Scholar

 

Cree, J., & Robb, M. (2021). The essential guide to forest school and nature pedagogy. Routledge. Google Scholar

 

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2017). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage publications. Google Scholar

 

Fanani, N. Z., Sooai, A. G., Sumpeno, S., & Purnomo, M. H. (2020). Penentuan Kemampuan Motorik Halus Anak dari Proses Menulis Hanacaraka Menggunakan Random Forest. Jurnal Nasional Teknik Elektro Dan Teknologi Informasi, 9(2), 148�154. Google Scholar

 

Fikriyati, M. (2013). Perkembangan anak usia emas (golden age). Yogyakarta: Laras Media Prima. Google Scholar

 

Fitri, M. (2020). Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral Pada Anak Usia Dini. Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini, 3(1), 1�15. https://doi.org/10.24042/ajipaud.v3i1.6500. Google Scholar

 

Gracinia, J., & Mulyani, Y. (2013). Kemampuan Fisik, Seni, dan Manajemen Diri. Jakarta: Elex Media Komputindo. Google Scholar

 

Grissmer, D., Grimm, K. J., Aiyer, S. M., Murrah, W. M., & Steele, J. S. (2010). Fine motor skills and early comprehension of the world: two new school readiness indicators. Developmental Psychology, 46(5), 1008. https://doi.org/10.1037/a0020104. Google Scholar

 

Kemmis, S., McTaggart, R., & Nixon, R. (2014). The action research planner: Doing critical participatory action research. Springer. Google Scholar

 

Kusuma, L., Dimyati, D., & Harun, H. (2021). Perhatian Orang tua dalam Mendukung Keterampilan Sosial Anak selama Pandemi Covid-19. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(1), 373�491. https://doi.org/10.31004/obsesi.v6i1.959. Google Scholar

 

Margiyati, M., Sari, N. W., Arifirohwati, L., Pattola, R. H., Dwiyanti, R., Widiyanti, V. Y., & Rahmawati, V. (2019). Pelatihan Konselor Sebaya sebagai upaya meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Remaja di SMP Islam Nurul Huda. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana, 1(2), 60�66. Google Scholar

 

Pardjono, P., Sukardi, S., Samsi, K., Paidi, P., Prayitno, E., & Sukamti, S. (2007). Panduan penelitian tindakan kelas. Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta. Google Scholar

 

Sanjaya, W. (2014). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana. Google Scholar

 

Saputra, Y. M. (2005). Pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan keterampilan anak TK. Jakarta: depdiknas. Google Scholar

 

Sujiono, Y. N. (2013). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks. Google Scholar

 

Sumantri, M. S. (2005). Model Pengembangan Keterampilan Motorik Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan ï¿½. Google Scholar

 

Supartini. (2006). Pengukuran Kesiapan Sekolah. JPK (Jurnal Pendidikan. Khusus), 2(2), 61�71. Google Scholar

 

Triyanti, T. (2021). Meningkatkan Kemampuan Motorik Kasar Melalui Gerak Lokomotor Pada Anak Kelompok B Taman Kanak-Kanak Negeri Sari Mulya Kecamatan Rimbo Ilir Kabupaten Tebo. ALAYYA: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 1(2), 33�56. Google Scholar


 

 

 

���������




Copyright holder :

Yuliana, Agus Santoso �(2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: