Aktivitas Komunikasi Pelayanan Publik
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 8, Agustus 2022 1073
manusia (human humanization) (Mahadi,
2017).
Secara umum, Governance diartikan
sebagai kualitas hubungan antara pemerintah
dan masyarakat yang dilayani dan
dilindunginya, Governance mencakup 3 (tiga)
domain yaitu state (negara/pemerintahan),
private sectors (sektor swasta/dunia usaha),
dan society (masyarakat). (Susanto, 2017)
mengemukakan jika pelayanan publik tak
kunjung membaik maka good governance
yang merupakan reformasi dari birokrasi akan
sulit diwujudkan. Good governance di artikan
sebagai kesepakatan yang menyangkut
pengaturan negara yang diciptakan bersama
oleh pemerintah, masyarakat madani dan
sektor swasta demi terwujudnya kesejahteraan
sosial. Upaya tersebut diperlukan suatu
komunikasi yang efektif di mana komunikasi
dinilai efektif bila rangsangan yang
disampaikan dan dimaksudkan oleh
pengirimnya ataupun sumber sejalan dengan
rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh
penerima pesan itu sendiri.
Pelayanan publik oleh aparatur
pemerintah dewasa ini masih banyak dijumpai
kelemahan sehingga belum dapat memenuhi
kualitas yang diharapkan masyarakat (Rinaldi,
2012). Hal ini ditandai dengan masih adanya
berbagai keluhan masyarakat yang
disampaikan melalui media massa, sehingga
dapat menimbulkan citra yang kurang baik
terhadap aparatur pemerintah. Mengingat
fungsi utama pemerintah adalah melayani
masyarakat maka pemerintah perlu terus
berupaya menjalankan pelayanan (Adhythya,
2020).
Dan salah satu yang terdampak juga
oleh hal tersebut ialah Museum Negeri Sri
Baduga. Berdasarkan portal berita daerah
yang telah beredar secara online pada tanggal
28 Oktober 2021 Pukul 17:54 WIB di stasiun
TV melalui KOMPAS TV menjelaskan
bahwa “Namun sejak bulan maret 2020
museum sri baduga harus tutup karena
beberapa aturan di masa pandemi covid-19
hingga saat ini museum belum juga dibuka
untuk umum hanya untuk keperluan penelitian
yang harus disertakan dengan surat
pengantar..” Menurut portal berita online
diatas yang juga adalah kutipan kesimpulan
dari hasil wawancara dengan salah satu staf
Museum Negeri Sri Baduga di Bandung
bagian Kasubag Tata Usaha Museum Sri
Baduga yaitu BRM Puspo Wiryo Buwono.
Aktivitas komunikasi pelayanan publik
dalam masa pandemi di museum negeri sri
baduga mampu menjadi bagian dari wadah
ekosistem edukasi dalam komunikasi berbasis
pelayanan publik yang merupakan transisi
untuk menjembatani antara masyarakat dan
pemerintah maupun korporasi yang
menyelenggarakan komunikasi pelayanan
(Situmeang, 2020). Hal ini membutuhkan
pelayanan dengan etika yang baik untuk
melakukan seluruh aktivitas komunikasi
tersebut. Penelitian ini bertujuan adalah (1)
mendeskripsikan proses komunikasi Museum
Negeri Sri Baduga yang menjadi kasus dari
penelitian yang diamati, (2) menggambarkan
komunikasi berbasis layanan publik.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
deskriptif dengan menggunakan pendekatan
kualitatif yang mendeskripsikan dan
menganalisis fakta-fakta yang terjadi di
lapangan dengan teknik pengambilan data
dengan pengamatan, wawancara ataupun
penelaahan dokumen (Zellatifanny &
Mudjiyanto, 2018). Penelitian ini memahami
fenomena tentang apa tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian baik perilaku,
persepsi, motivasi, tindakan yang secara
alamiah tanpa rekayasa maupun intervensi.
Paradigma yang digunakan pada
penelitian ini adalah paradigma interpretif.
Paradigma interpretif berfokus pada
mempelajari terutama fenomena sosial, atau
yang telah disebabkan oleh manusia. Oleh
karena itu, ini adalah jenis penelitian yang