Saidah, Muslimah
1118 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 8, Agustus 2022
itu, globalisasi sering dicap sebagai salah satu
penyebab kemerosotan akhlak umat manusia.
Sikap kejujuran, keadilan, kebenaran,
keberanian telah terkalahkan oleh banyaknya
penyelewengan-penyelewengan yang
dilakukan. Banyak terjadi perkelahian,
tawuran pelajar (sebagai contoh tawuran
pelajar dari tahun ke tahun) (Bukhori, 2008)
dan masih banyak perbuatan-perbuatan tidak
terpuji lainnya.
Pembangunan di bidang pendidikan
merupakan upaya untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa dalam meningkatkan
kualitas kehidupan manusia Indonesia dalam
rangka menciptakan manusia yang berpotensi
dan berakhlak mulia. Karena pendidikan
mempunyai peran yang sangat urgen untuk
menjamin perkembangan dan kelangsungan
kehidupan suatu bangsa, dan menjadi cermin
kepribadian masyarakat, apalagi
pembangunan atau pambaharuan pendidikan
Agama Islam yang mana tujuannya sudah
jelas yaitu untuk pembentukan akhlak dan
pemberian pedoman hidup yang baik pada
seluruh anak panti asuhan. Dan melalui
lembaga pendidikan seperti panti asuhanlah
pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam
ini dapat diwujudkan.
Panti asuhan sebagai suatu organisasi
sudah barang tentu memiliki sistem
manajemen tersendiri yang dilakukan oleh
pengasuh beserta stafnya dalam melakukan
pengawasan akhlak anak. Sebagai salah satu
fungsi manajemen adalah controlling yang
merupakan unsur penting dalam sebuah
organisasi, controlling berupaya agar rencana
yang sudah ditetapkan dapat tercapai
sebagaimana mestinya. Pengawasan sebagai
upaya agar setiap kegiatan berjalan sesuai
dengan yang diharapkan dan yang lebih
penting lagi adalah pengawasan terhadap
akhlak anak, agar tidak terjadi kemerosotan
akhlak di zaman sekarang ini.
Dalam banyak kasus pada beberapa
lembaga pendidikan seringkali berhadapan
dengan masalah dalam pencapaian tujuan
dimana implementasi dari setiap pngawasan
tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kasus-
kasus yang banyak terjadi dalam suatu
organisasi itu adalah akibat masih lemahnya
pengawasan dan pengendalian sehingga
terjadi berbagai penyimpangan antara yang
direncanakan dengan yang dilaksanakan.
Adapun integritas moral dan
penanaman nilai-nilai kemanusiaan (akhlak)
terhadap anak panti asuhan seringkali
diabaikan. Implikasinya, para anak panti
asuhan berlomba-lombamencari cara
bagaimana supaya mendapat hasil ataupun
nilai maksimal, tanpa memedulikan apakah
cara yang ditempuh melanggar norma atau
bahkan menginjak-injak moralitas. Pendidikan
diposisikan sebagai institusi yang dianggap
gagal mewujudkan anak didik yang berakhlak
mulia. Padahal tujuan pendidikan diantaranya
adalah membentuk pribadi berwatak,
bermartabat, beriman dan bertakwa serta
berakhlak.
Penulisan ini memfokuskan kepada
probelmatika dan solusi pengawasan anak
panti asuhan. Karena berakhlak mulia
merupakan bagian dari agenda besar tujuan
pendidikan di Indonesia, tujuan tersebut
membutuhkan perhatian dan juga pengawasan
serius berbagai pihak dalam rangka
mewujudkan manusia berskill, kreatif, sehat
jasmani dan rohani sekaligus berakhlak mulia.
Sehingga pembentukan akhlak mulia,
diperlukan pengawasan yang serius, sebab
tidak ada nilainya otak dan skill hebat jika
tidak berakhlak mulia. Tidak ada artinya
mempunyai generasi hebat, cerdas, kreatif
tetapi kering dari akhlak mulia. Oleh sebab
itu, eksistensi lembaga pendidikan formal dan
non formal sebagai sarana internalisasi nilai-
nilai Islam perlu dan harus diwujudkan dan
mendapat perhatian yang serius dari berbagai
pihak. Mendidik akhlak anak didik agar
menjadi manusia yang berkualitas dan
berakhlak mulia pada era globalisasi ini
menjadi sebuah tantangan dan keunikan