|
Jurnal Syntax
Transformation |
Vol. 3, No. 9, September 2022 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN
: 2721-2769 |
Sosial Sains |
ANALISIS
SEKTOR UNGGULAN DAERAH DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN
I Wayan Suparta, Sony Tian Dhora, Desi Wijayanti,
Crisnina Handayani
Universitas Lampung
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 12 September 2022 Direvisi
18
September 2022 Disetujui 21September
2022 |
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif dan
kompetitif di Provinsi Sumatera Selatan. Metode penelitian yang digunakan
adalah deskriptif kuantitatif dan data yang digunakan bersumber dari Badan
Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan. Data yang digunakan antara
lain PDRB atas harga konstan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2017-2021. Alat
analisis yang digunakan adalah Static Location Quetient (SLQ), Dynamic
Location Quetient (DLQ) dan Shift-Share. Hasil dari penelitian sektor
penggalian dan pertambangan; sektor pertanian, kehutanan dan perikanan;
sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang; sektor
konstruksi dan sektor real estat merupakan sektor unggulan yang memenuhi
ketiga kriteria analisis diatas yaitu menunjukkan angka positif yang memiliki
keunggulan komparatif dan kompetitif. ABSTRACT The purpose of this study is to identify leading sectors that have
comparative and competitive advantages in South Sumatra Province. The
research method used is descriptive quantitative and the data used are
sourced from the Central Statistics Agency (BPS) of South Sumatra Province.
The data used include GRDP at constant prices for South Sumatra Province in
2017-2021. The analytical tools used are Static Location Quetiont (SLQ),
Dynamic Location Quetiont (DLQ) and Shift-Share. The results of this research
can be found in the quarrying and mining sector; agriculture, forestry and
fishery sectors; water supply, waste treatment, waste and recycling sectors;
the construction sector and the real estate sector are the leading sectors
that meet the three analysis criteria above, which show positive numbers that
have comparative and competitive advantages. |
|
Kata Kunci: Sektor
Basis, Keunggulan Komparatif, Keunggulan Kompetitif, PDRB. Keywords: Base Sector, Comparative Advantage, Competitive Advantage, GRDP. |
Pendahuluan
Sumatera Selatan memiliki luas daratan 8.701.741
hektar dan memiliki banyak sungai, salah satunya adalah Sungai Musi, sungai
terpanjang di Sumatera dengan total panjang sekitar 750 kilometer (Oktavia
et al., 2015). Terdiri dari
11 kabupaten dan 4 kotamadya, sektor pertanian hampir merata di setiap wilayah.
Struktur perekonomian Sumatera Selatan masih didominasi oleh sektor pertambangan,
industri dan pertanian. Kontribusi ketiga sektor tersebut dapat dikatakan
sebagai penopang utama perekonomian Sumsel (Oktavia
et al., 2015).
Pembangunan daerah adalah proses dimana pemerintah
daerah dan berbagai komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada
dan membentuk model kemitraan untuk menciptakan lapangan kerja baru dan
merangsang perkembangan kegiatan ekonomi di daerah (Suryani,
2013). Tolok ukur keberhasilan
atau kegagalan pembangunan dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, struktur
ekonomi, dan menyempitnya kesenjangan pendapatan antara penduduk, wilayah, dan
industri (Rizani, 2017). Keberhasilan pembangunan
ekonomi daerah tergantung pada tujuan pembangunan yaitu mengupayakan
peningkatan pertumbuhan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja terbaik dari
segi kuantitas, produktivitas, dan efisiensi (Rasyid, 2016). Dalam tatanan wilayah,
pembangunan daerah menitikberatkan pada produk domestik bruto (PDRB) wilayah
provinsi, kabupaten/kota. Nilai PDRB daerah merepresentasikan pertumbuhan
ekonomi daerah (Sumardi,
2014). Berbagai metode dapat
digunakan untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan pembangunan suatu wilayah,
yang paling umum dan banyak digunakan adalah dengan menganalisis struktur dan
perkembangan PDRB (produk domestik bruto regional) tahunan suatu wilayah secara
time series (Sari
& Bangun, 2019). Analisis
keseluruhan akan mengidentifikasi sektor-sektor dasar ekonomi di masa lalu, dan
kemudian menjadi bahan atau dasar untuk perencanaan pembangunan makro yang
lebih baik di masa depan (Sjafrizal, 1997).
Dari perspektif pembangunan PDRB, untuk
mengembangkan pertumbuhan ekonomi diperlukan pembangunan ekonomi yang
didominasi oleh industri unggulan. Hal ini akan berimplikasi pada percepatan
pertumbuhan ekonomi dan perubahan mendasar pada struktur ekonomi daerah (Kristina, 2017). Memahami manfaat sektor
unggulan yang mampu memberikan indikator perekonomian nasional dan regional (Yulianti
et al., 2020). Industri
unggulan tentunya memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan
industri lain di suatu daerah, terutama faktor pendukung industri unggulan
tersebut yaitu akumulasi modal, pertumbuhan penyerapan tenaga kerja, dan
kemajuan teknologi (Miraza & Mahalli, 2009).

Gambar 1. PDRB
Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bangka Belitung Tahun 2017-2021
Gambar 1 menunjukkan komponen
penyusun PDRB Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan grafik tersebut, sektor
pertanian, kehutanan dan perikanan; pertambangan dan pertambangan; dan industri
merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB. Sementara itu, sektor pengadaan
listrik dan gas, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah, limbah dan daur
ulang, serta jasa perusahaan merupakan penyumbang terkecil terhadap PDRB.
Pada dasarnya pengembangan suatu
daerah dapat dilakukan dengan mengembangkan potensi yang ada. Salah satunya
dengan mengembangkan produk yang ada di daerah tersebut. Pengembangan produk
unggulan akan memacu para pelaku ekonomi di suatu daerah untuk lebih giat lagi memproduksi.
Berkaitan dengan pengembangan produk tersebut terlebih dahulu harus diketahui
produk-produk unggulan suatu daerah (Setiajatnika & Astuti,
2022). Dengan
mengetahui produk unggulan suatu daerah, Selain menjadi industri yang dominan
di industri lain, akan berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi dan
perubahan mendasar pada struktur ekonomi daerah (Arifah & Sunarjo, 2021).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kuantitatif dengan data sekunder pada tahun 2017-2021 untuk
mengidentifikasi sektor unggulan di Provinsi Sumatera Selatan. Alat analisis
yang digunakan adalah analisis location quotient dan shift-share.
1.
Analisis Location Quotient
Analisis
Location Quotient (LQ) adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui derajat
spesialisasi sektor ekonomi dalam suatu wilayah yang memanfaatkan sektor-sektor
dasar atau dominan (Jumiyanti, 2018). Adapun teknik LQ dibagi menjadi dua yaitu
Static Location Quotient (SLQ) dan Dynamic Location Quotient (DLQ). Perhitungan
SLQ dan DLQ adalah sebagai berikut:
|
|
|
Keterangan
:
Vik = PDRB atas dasar harga konstan 2010 sektor di
Provinsi Sumatera Selatan
Vk = Total PDRB atas dasar harga konstan 2010
sektor di Provinsi Sumatera� Selatan
Vip = PDB atas dasar harga konstan 2010 sektor di
Nasional
VP = Total PDB atas dasar harga konstan 2010
sektor di Nasional
gij�� = Laju
pertumbuhan sektor di Provinsi Sumatera Selatan
Gi� =
Rata-rata laju pertumbuhan dari semua sektor di Provinsi Sumatera Selatan
gj�� =Laju
pertumbuhan sektor di Nasional
G �� = Rata-rata laju pertumbuhan dari semua
subsektor di Nasional
t���� =
Periode waktu penelitian
Apabila
rata-rata tahun 2017-2021 nilai SLQ dan DLQ melebihi 1 (SLQ dan DLQ >1) maka
sektor tersebut merupakan sektor basis dan memiliki potensi di masa yang akan
datang. Jika nilai SLQ dan DLQ sama dengan 1 (SLQ dan DLQ = 1) maka sektor
tersebut memiliki tingkat spesialisasi Provinsi Sumatera Selatan sama dengan
tingkat Nasional, dan apabila nilai SLQ dan DLQ kurang dari 1 (SLQ dan DLQ <
1) maka sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor non basis dan tidak
memiliki potensi di masa yang akan datang.
2.
Analisis Shift-Share
Analisis
Shift Share digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi suatu
wilayah dengan menjelaskan pertumbuhan sektoral. Melalui analisis ini dapat
diketahui apakah pertumbuhan sektor/subsektor wilayah (kabupaten) lebih rendah atau
lebih tinggi dari wilayah acuan (provinsi) (Oktavia, dkk. 2015).
Dij = Nij + Mij + Cij
Keterangan:
i ���� = Sektor-sektor ekonomi yang diteliti
j ���� = Variabel provinsi Sumatera Selatan
N �� = Variabel Nasional
Dij = Perubahan sektor i di Provinsi Sumatera
Selatan
Nij = Pertumbuhan nasional sektor i di Provinsi
Sumatera Selatan
Mij = Bauran industri sektor i di Provinsi Sumatera
Selatan
Cij = Keunggulan kompetitif sektor i di Provinsi
Sumatera Selatan
Hasil dan
Pembahasan
1.
Static Location Quotient
(SLQ) Provinsi Sumatera Selatan
Tabel 1 merupakan tabel
hasil perhitungan SLQ Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2017-2021 dengan
menggunakan data PDRB Provinsi Sumatera Selatan dan PDB Indonesia. Berdasarkan
hasil perhitungan, diketahui bahwa dari 17 sektor penyusun perekonomian
Provinsi Sumatera Selatan, terdapat 5 sektor yang masuk dalam kategori basis
dan sisanya 12 sektor masuk ke dalam kategori non basis.
Tabel 1.
Hasil Perhitungan Static Location Quetient (SLQ) Provinsi Sumatera Selatan
|
Sektor
Perekonomian |
2017 |
2018 |
2019 |
2020 |
2021 |
Rata-Rata |
Keterangan |
|
A.
Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan |
1.197 |
1.135 |
1.123 |
1.141 |
1.149 |
1.149 |
Basis |
|
B.
Pertambangan
dan Penggalian |
2.352 |
2.533 |
2.647 |
2.398 |
2.586 |
2.503 |
Basis |
|
C. Industri Pengolahan |
0.886 |
0.890 |
0.893 |
0.926 |
0.909 |
0.901 |
Non Basis |
|
D. Pengadaan Listrik dan Gas |
0.121 |
0.120 |
0.119 |
0.140 |
0.138 |
0.127 |
Non Basis |
|
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan
Daur Ulang |
1.387 |
1.420 |
1.435 |
1.451 |
1.302 |
1.399 |
Basis |
|
F. Konstruksi |
1.277 |
1.240 |
1.189 |
1.205 |
1.161 |
1.214 |
Basis |
|
G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan
Sepeda Motor |
0.903 |
0.941 |
0.987 |
1.018 |
0.995 |
0.969 |
Non Basis |
|
H. Transportasi dan Pergudangan |
0.542 |
0.545 |
0.561 |
0.613 |
0.562 |
0.565 |
Non Basis |
|
I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum |
0.523 |
0.560 |
0.621 |
0.650 |
0.629 |
0.597 |
Non Basis |
|
J. Informasi dan Komunikasi |
0.526 |
0.529 |
0.518 |
0.518 |
0.494 |
0.517 |
Non Basis |
|
K. Jasa Keuangan dan Asuransi |
0.629 |
0.611 |
0.560 |
0.538 |
0.548 |
0.577 |
Non Basis |
|
L.
Real Estat |
0.997 |
1.027 |
1.057 |
1.061 |
1.061 |
1.040 |
Basis |
|
� M. Jasa
Perusahaan |
0.066 |
0.067 |
0.069 |
0.071 |
0.069 |
0.068 |
Non Basis |
|
N. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan
Sosial Wajib |
0.922 |
0.817 |
0.767 |
0.817 |
0.818 |
0.828 |
Non Basis |
|
O. Jasa Pendidikan |
0.773 |
0.735 |
0.722 |
0.707 |
0.726 |
0.733 |
Non Basis |
|
P.
Jasa
Kesehatan dan Kegiatan Sosial |
0.538 |
0.504 |
0.512 |
0.518 |
0.480 |
0.510 |
Non Basis |
|
Q.
Jasa lainnya |
0.409 |
0.409 |
0.406 |
0.448 |
0.427 |
0.420 |
Non Basis |
Dari tabel di atas, sektor pertambangan dan penggalian merupakan
sektor basis dengan nilai rata-rata SLQ tertinggi sebesar 2,503. Kemudian
dilanjutkan oleh sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur
ulang; sektor konstruksi; sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; serta
sektor real estate rata-rata SLQ nya masing-masing sebesar 1,399; 1,214; 1,149
dan 1,040. Sedangkan untuk sektor non basis dengan rata-rata nilai SLQ yang
paling tinggi adalah sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan
sepeda motor yaitu sebesar 0,969. Kemudian dilanjutkan oleh sektor industri pengolahan
sebesar 0,90; sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial
wajib sebesar 0,828; sektor jasa pendidikan sebesar 0,733; sektor penyediaan
akomodasi, makan dan minum sebesar 0,597; sektor jasa keuangan dan asuransi
sebesar 0,577; sektor transportasi dan pergudangan sebesar 0,565; sektor
informasi dan komunikasi sebesar 0,517; sektor jasa kesehatan dan kegiatan
sosial sebesar 0,510; sektor jasa lainnya sebesar 0,420; sektor pengadaan
listrik dan gas sebesar 0,127; serta sektor jasa perusahaan 0,068.
2.
Dynamic Location Quotient
(DLQ)
Tabel 2. menunjukkan
tabel perhitungan Dynamic Location Quotient (DLQ) Provinsi Sumatera Selatan.
Perhitungan ini bertujuan untuk mengetahui apakah sektor-sektor perekonomian
memiliki potensi atau tidak di masa yang akan datang. Berdasarkan perhitungan
pada Tabel 2, diketahui bahwa dari 17 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera
Selatan, semua sektor memiliki rata-rata nilai DLQ lebih dari satu (DLQ >
1), hal ini berarti semua sektor di Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi
untuk terus dikembangkan di masa yang akan datang.
Tabel 2.
Hasil Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) Provinsi Sumatera Selatan
|
Sektor Perekonomian |
2017 |
2018 |
2019 |
2020 |
2021 |
Rata-rata |
Keterangan |
|
|
A. Pertanian,
Kehutanan, dan Perikanan |
0.856 |
0.876 |
1.009 |
1.121 |
1.175 |
1.008 |
Potensial |
|
|
B.
Pertambangan dan Penggalian |
0.944 |
1.332 |
1.072 |
0.509 |
1.330 |
1.037 |
Potensial |
|
|
C.
Industri Pengolahan |
1.121 |
1.002 |
0.939 |
1.068 |
0.887 |
1.004 |
Potensial |
|
|
D.
Pengadaan Listrik dan Gas |
1.289 |
0.786 |
0.777 |
1.662 |
0.758 |
1.055 |
Potensial |
|
|
E.
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan
Daur Ulang |
1.161 |
1.217 |
1.064 |
1.036 |
0.624 |
1.020 |
Potensial |
|
|
F.
Konstruksi |
1.054 |
1.003 |
0.880 |
1.125 |
0.961 |
1.004 |
Potensial |
|
|
G.
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan
Sepeda Motor |
1.164 |
1.090 |
1.056 |
0.934 |
0.787 |
1.006 |
Potensial |
|
|
H.
Transportasi dan Pergudangan |
1.008 |
1.031 |
1.086 |
1.417 |
0.643 |
1.037 |
Potensial |
|
|
I.
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum |
0.960 |
1.166 |
1.301 |
0.945 |
0.699 |
1.015 |
Potensial |
|
|
J.
Informasi dan Komunikasi |
1.041 |
1.149 |
0.938 |
1.017 |
0.872 |
1.003 |
Potensial |
|
|
K.
Jasa Keuangan dan Asuransi |
1.058 |
1.053 |
0.741 |
0.906 |
1.329 |
1.017 |
Potensial |
|
|
L.
Real Estate |
1.025 |
1.111 |
1.035 |
0.885 |
0.954 |
1.002 |
Potensial |
|
|
M. Jasa
Perusahaan |
0.956 |
1.091 |
1.055 |
1.089 |
0.827 |
1.004 |
Potensial |
|
|
N.
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan
Sosial Wajib |
0.864 |
0.683 |
0.857 |
1.567 |
1.252 |
1.045 |
Potensial |
|
|
O.
Jasa Pendidikan |
0.867 |
0.910 |
0.996 |
0.955 |
1.331 |
1.012 |
Potensial |
|
|
P.
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial |
1.061 |
0.854 |
1.200 |
1.130 |
0.803 |
1.010 |
Potensial |
|
|
Q.
Jasa lainnya |
0.784 |
1.055 |
0.958 |
1.549 |
0.826 |
1.034 |
Potensial |
|
Dari Tabel 2 didapat
hasil perhitungan DLQ Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2017 hingga tahun
2021, diketahui bahwa sektor yang memiliki rata-rata nilai DLQ tertinggi adalah
sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 1,055, sedangkan sektor real estat memiliki
rata-rata nilai DLQ terendah sebesar 1,002.
Menurut Kuncoro dalam (Irmawati, 2015), Menggabungkan hasil analisis SLQ dan DLQ dapat
mengelompokkan jenis-jenis sektor ekonomi yang memiliki keunggulan komparatif.
Mulai dari penggabungan, mereka dibagi menjadi empat kategori yaitu industri
unggulan, industri unggulan, industri potensial dan industri kurang berkembang.
Tabel 3. Matriks Analisis
Gabungan SLQ dan DLQ Provinsi Sumatera Selatan
|
|
SLQ |
SLQ > 1 |
SLQ < 1 |
|
DLQ |
|
Sektor Unggulan |
Sektor Andalan |
|
DLQ > 1 |
� Pertambangan
dan penggalian � Pengadaan
air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang � Konstruksi � Pertanian,
kehutanan dan perikanan � Real estate |
� Perdagangan
besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor |
|
|
� Industri
pengolahan |
|||
|
� Administrasi
pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib |
|||
|
� Jasa
pendidikan |
|||
|
� Penyediaan
akomodasi, makan dan minum |
|||
|
� Jasa
keuangan dan asuransi |
|||
|
� Transportasi
dan pergudangan |
|||
|
� Informasi
dan komunikasi |
|||
|
� Jasa
kesehatan dan kegiatan sosial |
|||
|
� Jasa
lainnya |
|||
|
� Pengadaan
listrik dan gas |
|||
|
� Jasa
perusahaan |
|||
|
DLQ < 1 |
Sektor
Prospektif |
Sektor Terbelakang |
|
|
- |
- |
||
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan dan Indonesia 2017-2022
(Data diolah)
Berdasarkan matriks analisis gabungan SLQ dan DLQ, Sumatera
Selatan memiliki dua jenis sektor ekonomi yaitu sektor penggalian dan
pertambangan, sektor penyediaan air, pengelolaan limbah, limbah dan daur ulang,
sektor konstruksi, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dan sektor real
estate yang terdiri dari 5 sektor utama dan 12 pilar industri, Termasuk grosir
dan perdagangan eceran, reparasi mobil dan motor; manufaktur; administrasi
pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib; jasa pendidikan; sektor
penyediaan akomodasi, makanan dan minuman; jasa keuangan dan asuransi;
pengangkutan dan pergudangan; Sektor Informasi dan Komunikasi; Sektor Jasa
Kesehatan dan Sosial Kegiatan; Bidang Jasa Lainnya; Bidang Pengadaan Listrik
dan Gas; dan Bidang Jasa Usaha.
3.
Analisis Shift-Share
a.
Kinerja Sektor-Sektor Perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan
Tabel 4. menunjukkan hasil analisis shift share Provinsi
Sumatera Selatan. Tabel tersebut disusun berdasarkan klasifikasi komponen
pertumbuhan wilayah di Provinsi Sumatera Selatan.
Tabel 4. Klasifikasi
Komponen Pertumbuhan Wilayah Provinsi Sumatera Selatan
|
Sektor Perekonomian |
KPW |
KPP |
KPPW |
Dij |
|
A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan |
17,174,881 |
-10,186,637 |
6,815,420 |
13,803,664 |
|
B.
Pertambangan dan Penggalian |
20,911,878 |
-16,903,432 |
20,251,911 |
24,260,356 |
|
C.
Industri Pengolahan |
21,260,180 |
-14,802,464 |
14,281,573 |
20,739,289 |
|
D.
Pengadaan Listrik dan Gas |
140,028 |
-75,371 |
169,701 |
234,358 |
|
E.
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang |
126,273 |
-18,535 |
42,358 |
150,096 |
|
F.
Konstruksi |
14,386,079 |
-8,507,229 |
2,421,172 |
8,300,022 |
|
G.
Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor |
13,504,626 |
-8,481,945 |
13,880,945 |
18,903,626 |
|
H.
Transportasi dan Pergudangan |
2,513,358 |
-2,524,066 |
1,668,681 |
1,657,973 |
|
I.
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum |
1,777,849 |
-1,512,610 |
2,479,434 |
2,744,673 |
|
J.
Informasi dan Komunikasi |
3,016,668 |
1,058,632 |
1,149,175 |
5,224,476 |
|
K.
Jasa Keuangan dan Asuransi |
2,861,651 |
-1,202,294 |
-12,818 |
1,646,540 |
|
L.
Real Estate |
3,291,666 |
-1,540,991 |
2,946,692 |
4,697,367 |
|
M,N. Jasa Perusahaan |
130,555 |
-65,747 |
98,308 |
163,116 |
|
O.
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan
dan Jaminan Sosial Wajib |
3,434,070 |
-2,036,464 |
226,218 |
1,623,824 |
|
P.
Jasa Pendidikan |
2,686,143 |
-1,262,823 |
847,903 |
2,271,223 |
|
Q.
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial |
671,507 |
357,067 |
79,160 |
1,107,733 |
|
R,S,T,U. Jasa lainnya |
793,338 |
-290,794 |
649,870 |
1,152,415 |
Berdasarkan perhitungan analisis shift share pada Tabel 4 diperoleh
hasil bahwa Komponen Pertumbuhan Wilayah/KPW (Regional Share) di Provinsi
Sumatera Selatan pada semua sektor perekonomian memiliki nilai positif, artinya
semua sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan dapat berkembang di
perekonomian Nasional.� Sektor
perekonomian yang memiliki nilai KPW relatif besar adalah sektor industri
pengolahan; sektor penggalian dan pertambangan; serta sektor pertanian,
kehutanan dan perikanan. Dari perhitungan Komponen Pertumbuhan Proporsional/KPP
(Proportional Shift) diperoleh hasil bahwa dari 17 sektor perekonomian di
Provinsi Sumatera Selatan, hampir semua sektor bernilai negatif kecuali sektor
jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Artinya hanya sektor jasa kesehatan dan
kegiatan sosial yang dapat berkembang dalam perekonomian di Provinsi Sumatera
Selatan. Kemudian hasil perhitungan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah/KPPW
(Differential Shift), diketahui bahwa hanya sektor jasa keuangan dan asuransi
yang memiliki nilai negatif dari 17 sektor perekonomian selain dari sektor
tersebut bernilai positif. Hal ini berarti 16 sektor perekonomian di Provinsi
Sumatera Selatan memiliki daya saing terhadap sektor yang sama di Nasional
sedangkan sektor jasa keuangan dan asuransi tidak memiliki daya saing jika
dibandingkan dengan sektor yang sama secara Nasional. Kemudian berdasarkan
perhitungan pergeseran variabel regional, diketahui bahwa 17 sektor
perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan memiliki nilai positif secara
keseluruhan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi pergeseran struktur
perekonomian wilayah di Provinsi Sumatera Selatan dalam kurun waktu 5 tahun
yaitu mulai tahun 2017 hingga tahun 2021.
b.
Penentuan Sektor Unggulan berdasarkan keunggulan komparatif (SLQ,
DLQ) dan Keunggulan Kompetitif (KPPW Shift Share)
Berdasarkan analisis SLQ dan DLQ, diperoleh beberapa sektor
unggulan di Provinsi Sumatera Selatan, namun sektor tersebut hanya memiliki
keunggulan komparatif. Sedangkan sektor yang memiliki keunggulan kompetitif
dapat dilihat pada hasil analisis shift-share pada KPPW. Berdasarkan hal
tersebut, perlu dibuat tabel penggabungan ketiga alat analisis tersebut guna
mengetahui sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif
sebagai berikut.
Tabel 5 Penggabungan Analisis SLQ, DLQ dan Shift-Share Sektor
Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017-2021
|
Sektor Perekonomian |
SLQ |
DLQ |
KPPW |
Kriteria |
|
A. Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan |
1.149 |
1.008 |
6,815,420 |
Unggul |
|
B. Pertambangan dan Penggalian |
2.503 |
1.037 |
20,251,911 |
Unggul |
|
C. Industri Pengolahan |
0.901 |
1.004 |
14,281,573 |
Tidak Unggul |
|
D. Pengadaan Listrik dan Gas |
0.127 |
1.055 |
169,701 |
Tidak Unggul |
|
E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,
Limbah dan Daur Ulang |
1.399 |
1.020 |
42,358 |
Unggul |
|
F. Konstruksi |
1.214 |
1.004 |
2,421,172 |
Unggul |
|
G. Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor |
0.969 |
1.006 |
13,880,945 |
Tidak Unggul |
|
H. Transportasi dan Pergudangan |
0.565 |
1.037 |
1,668,681 |
Tidak Unggul |
|
I. Penyediaan Akomodasi dan Makan
Minum |
0.597 |
1.015 |
2,479,434 |
Tidak Unggul |
|
J. Informasi dan Komunikasi |
0.517 |
1.003 |
1,149,175 |
Tidak Unggul |
|
K. Jasa Keuangan dan Asuransi |
0.577 |
1.017 |
-12,818 |
Tidak Unggul |
|
L. Real Estate |
1.040 |
1.002 |
2,946,692 |
Unggul |
|
M,N Jasa Perusahaan |
0.068 |
1.004 |
98,308 |
Tidak Unggul |
|
O. Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib |
0.828 |
1.045 |
226,218 |
Tidak Unggul |
|
P. Jasa Pendidikan |
0.733 |
1.012 |
847,903 |
Tidak Unggul |
|
Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial |
0.510 |
1.010 |
79,160 |
Tidak Unggul |
|
R,S,T,U Jasa lainnya |
0.420 |
1.034 |
649,870 |
Tidak Unggul |
Berdasarkan Tabel 5. bahwa berdasarkan perhitungan SLQ dan
DLQ yang telah diklasifikasikan sebelumnya, Industri yang memenuhi perhitungan analisis
transfer share dan memiliki nilai positif adalah industri unggulan di Sumatera
Selatan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif, yaitu sektor pertanian,
kehutanan dan perikanan; pertambangan dan penggalian; penyediaan air bersih,
pengelolaan limbah, limbah dan sektor daur ulang; Konstruksi dan real estate.
Sementara sektor andalan berdasarkan perhitungan SLQ dan DLQ juga memiliki
nilai KPPW yang positif, Artinya industri tersebut berpotensi menjadi industri
unggulan di masa depan dan mampu bersaing dengan industri yang sama di daerah
lain. Dibandingkan dengan industri jasa keuangan dan asuransi yang berpotensi
menjadi industri unggulan di masa depan, industri tersebut tidak dapat bersaing
dengan industri sejenis di bidang lain karena KPPW-nya negatif.
a.
Analisis Spesialisasi Wilayah dan Sektor Unggulan Daerah serta
Kebijakan Rencana Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Selatan
Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Static Location
Quotient (SLQ) untuk melihat sektor basis dan non basis, dari 17 sektor
perekonomian penyusun PDRB Provinsi Sumatera Selatan, terdapat 5 sektor
perekonomian yang menjadi sektor basis dimana sektor pertambangan dan
penggalian menjadi sektor basis dengan nilai rata-rata SLQ tertinggi sebesar
2,503, kemudian diikuti dengan sektor sektor pengadaan air, pengelolaan sampah,
limbah dan daur ulang, sektor konstruksi, sektor pertanian, kehutanan dan
perikanan, serta sektor real estat dimana masing-masing nilai SLQ secara
berurutan adalah 1,399; 1,214; 1,149 dan 1,040. Selain 5 sektor yang telah
disebutkan menjadi sektor non basis pada perekonomian Provinsi Sumatera
Selatan. Berdasarkan metode Dynamic Location Quotient (DLQ), diketahui bahwa
dari 17 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan, semua sektor memiliki
rata-rata nilai (DLQ > 1), hal ini berarti semua sektor di Provinsi Sumatera
Selatan memiliki potensi untuk terus dikembangkan di masa yang akan datang.
Matriks analisis gabungan SLQ dan DLQ, Provinsi Sumatera Selatan memiliki 2
kategori sektor perekonomian di yaitu 5 Sektor unggulan yang terdiri dari
sektor penggalian dan pertambangan, sektor pengadaan air, pengelolaan sampah,
limbah dan daur ulang, sektor konstruksi, sektor pertanian, kehutanan dan
perikanan serta sektor real estat, 12 sektor lainnya masuk dalam sektor
andalan.
Untuk mengetahui daya saing sektor ekonomi di Provinsi
Sumatera Selatan, dianalisis menggunakan metode analisis shift share.
perhitungan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah/KPPW (Differential Shift),
diketahui bahwa hanya sektor jasa keuangan dan asuransi yang memiliki nilai
negatif dari 17 sektor perekonomian, selain dari sektor tersebut bernilai
positif. Artinya 16 sektor ekonomi di Sumatera Selatan secara nasional bersaing
dengan sektor yang sama, sedangkan sektor jasa keuangan dan asuransi tidak
kompetitif dengan sektor yang sama di seluruh tanah air. Berdasarkan analisis
ini, industri unggulan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif di Sumatera
Selatan adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor pertambangan
dan penggalian, sektor penyediaan air, pengelolaan limbah, limbah dan daur
ulang, sektor konstruksi dan sektor real estate.
Kebijakan rencana pembangunan daerah di Provinsi Sumatera
Selatan harus dilaksanakan sesuai dengan Dokumen RPJPD dan RPJMD Provinsi
Sumatera Selatan yang telah disusun dan dengan mempertimbangankan sektor-sektor
unggulan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sesuai dengan
analisis yang telah dilakukan. Tema Pembangunan Provinsi Sumatera Selatan
adalah �Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dan Pengurangan Kemiskinan melalui
Peningkatan Ekonomi Kerakyatan, Kualitas Infrastruktur dan Sumber Daya
Manusia�. Untuk mencapai hal tersebut, Pemprov Sumsel menghadapi beberapa
tantangan seperti angka harapan hidup, angka kemiskinan yang tinggi,
ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Covid-19, permintaan produksi
pertambangan yang menurun dan pandemi Covid-19, seperti pemutusan hubungan
kerja, pendapatan orang di berbagai sektor sektor bisnis telah jatuh. Salah
satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan
memaksimalkan sektor ekonomi utama Sumatera Selatan.
Berdasarkan analisis, industri utama di mana Sumatera Selatan
memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif adalah pertanian, kehutanan dan
perikanan, pertambangan dan penggalian, pasokan air, pengelolaan limbah, limbah
dan daur ulang, konstruksi dan real estate. Kebijakan rencana pembangunan yang
dapat diupayakan sesuai dengan analisis tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1)
Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan
Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan sektor
unggulan daerah yang memiliki kontribusi 16,79% terhadap PDRB Provinsi Sumatera
Selatan dengan nominal output Rp.54.834,53 miliar atas dasar harga konstan. Komoditas
tanaman pangan yang paling penting bagi sektor pertanian, kehutanan dan
perikanan adalah beras. Sumatera Selatan sendiri merupakan salah satu lumbung
padi nasional. Daerah penghasil beras terbesar di Sumatera Selatan adalah
Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dan Kabupaten Ogan
Komering Ilir. Luas lahan sawah di Sumatera Selatan adalah 790.395 hektar,
dimana 71% diantaranya merupakan lahan sawah rawa. Sumsel sendiri menjadi pilot
project program Save Rawa Petani Sejahtera (Serasi) Kementerian Pertanian untuk
mengoptimalkan lahan rawa. Manfaat dari program ini adalah peningkatan indeks
tanam, yaitu peningkatan frekuensi tanam dan panen, serta peningkatan
produktivitas per hektar. Berdasarkan analisis, sektor pertanian, kehutanan,
dan perikanan merupakan sektor unggulan dengan keunggulan komparatif dan
kompetitif, dan pemerintah daerah dapat terus memberikan dukungan dalam program
tersebut. Kebijakan lain yang dapat dilakukan adalah dengan menjamin
ketersediaan pupuk, meningkatkan ekspor hasil perkebunan seperti karet, kelapa,
kelapa sawit, kopi, lada dan cokelat serta menjamin kestabilan Nilai Tukar
Petani (NTP).
2)
Sektor Pertambangan dan Penggalian
Sektor pertambangan dan penggalian merupakan penyumbang
terbesar PDRB Sumsel. Sektor pertambangan dan penggalian berasal dari beberapa
bahan tambang yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Selatan.
Bahan tambang utama yang diekstraksi dari kerak di wilayah Sumatera Selatan
adalah minyak bumi (Prabumulih, Muara Enim dan Musi Banyuasin), gas alam (Lahat
dan Ogan Komering Ulu) dan batubara (Muara Enim dan Lahat). Sumatera Selatan
juga menghasilkan mineral C seperti andesit, lempung, batugamping, pasir
konstruksi, urugan, batuan sungai, pasir urugan, pasir, koral, kerikil, pasir
kuarsa dan batu pecah. Kebijakan yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan
sektor pertambangan dan penggalian adalah meningkatkan ekspor (demand) akan
komoditas pertambangan dan penggalian. Pasalnya, di saat harga komoditas
minyak, gas, dan batu bara naik, permintaan industri pertambangan dan
penggalian turun akibat pandemi Covid-19, yang otomatis akan menurunkan
produksi minyak, gas, dan batu bara. Demikian pula, produksi penambangan pasir
menurun dengan berkurangnya penerimaan pajak dari penambangan C. Selain itu,
Pemerintah Daerah juga perlu memaksimalkan regulasi terkait dengan keselamatan
dan kesehatan kerja, lingkungan, reklamasi, pasca-tambang, dan tanggung jawab
sosial. Regulasi ini perlu dimaksimalkan sebagai salah satu upaya untuk
meminimalisir dampak negatif dari kegiatan pertambangan.
3)
Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang
Sektor penyediaan air, pengelolaan limbah, limbah dan daur
ulang terus memberikan kontribusi 10,73% terhadap PDRB Sumatera Selatan. Hal
ini menunjukkan bahwa kegiatan di sektor penyediaan air bersih, pengelolaan
sampah, sampah dan daur ulang memiliki nilai ekonomi yang sangat besar dalam
perekonomian Sumatera Selatan. Industri ini mampu tumbuh agresif meski di
tengah wabah Covid-19 yang masih melanda. Kebijakan rencana pembangunan yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan kontribusi sektor ini adalah:
a) Memperluas bank sampah. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 13 Tahun 2012, bank sampah adalah tempat untuk memilah dan mengumpulkan sampah yang bernilai ekonomis yang dapat didaur ulang dan/atau digunakan kembali. Bank sampah terdiri dari bank sampah unit (BSU) dan bank sampah utama (BSI). Provinsi Sumatera Selatan sudah memiliki beberapa bank sampah yang memilah sampah untuk di daur ulang seperti Bank Sampah KGS, Bank Sampah Sakura Talang Kelapa, Bank Sampah Gemilang Sejahtera, Bank Sampah Kamboja, dan Bank Sampah Kartini. Namun, keberadaan bank sampah ini hanya ada di Kota Palembang, bank sampah belum ada di Kabupaten/Kota lain selain di Kota Palembang. Oleh karena itu, pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dapat meningkatkan jumlah bank sampah dan mendistribusikannya secara merata ke seluruh daerah di Provinsi Sumatera Selatan guna meningkatkan kontribusi sektor ini.
b) Membangun proyek Instalasi Pengolahan air Limbah (IPAL).
c) Menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat dengan melakukan pengawasan terhadap Perusahaan Daerah air Minum (PDAM).
4) Sektor Konstruksi
Dengan harga konstan, sektor konstruksi memberikan kontribusi sebesar Rp 36.671,66 miliar atau 11,23% terhadap PDRB Sumsel. Konstruksi adalah kegiatan yang menghasilkan struktur seperti gedung, jalan, jembatan, rel kereta api, terowongan, drainase, jaringan listrik dan telekomunikasi, dan lain-lain. Pekerjaan konstruksi di Sumatera Selatan meliputi pembangunan jalan tol Palembang-Betung di Kabupaten Banyuasin. Proyek pembangunan jalan tol Palembang-Betung sendiri dirancang sepanjang 69,19 kilometer dengan perkiraan biaya Rp. 7 triliun. Namun karena adanya pandemi Covid-19, PT. Waskita Karya (Persero) juga menghadapi kesulitan pembiayaan sebagai badan usaha jalan tol (BUJT) karena bank tidak mampu mencairkan dana yang dibutuhkan. Maka kebijakan rencana pembangunan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kontribusi sektor ini adalah Pemerintah Provinsi bersama-sama dengan PT. Waskita Karya (Persero) melakukan percepatan pembangunan proyek pembangunan tol Palembang-Betung. Selain itu Pemerintah Provinsi harus memperhatikan indikator nilai konstruksi, Diantaranya, nilai proyek adalah pekerjaan yang benar-benar diselesaikan oleh kontraktor dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan atau perintah kerja antara pemilik dan kontraktor. Dalam hal ini pemerintah daerah harus memastikan pekerjaan konstruksi yang dikerjakan oleh pihak pemborong dapat selesai tepat waktu.
5) Sektor Real Estate
Sektor real estate memberikan kontribusi 8,33% terhadap PDRB Sumatera Selatan atas dasar harga konstan. Maraknya industri real estate sebagai industri unggulan di Sumatera Selatan tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan jaringan light rail sepanjang 23 kilometer yang menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmoud Badaluddin, Masjid Agung Palembang dan Jaka Baring Sports City. . Kereta ringan melintasi Sungai Musi, dan Jembatan Amberra menghubungkan 13 stasiun dan 9 gardu induk dari bandara ke hulu Palembang. Selain itu, Sumsel telah sukses menjadi tuan rumah sejumlah event olahraga lokal dan internasional. Pembangunan pusat perbelanjaan, rumah, sekolah, tempat wisata dan pusat konvensi juga meningkat di Sumatera Selatan. Kebijakan rencana pembangunan yang dapat dilakukan pemerintah Provinsi Sumatera Selatan adalah salah satunya dengan meningkatkan iklim investasi.�
Dengan mempermudah investasi dapat meningkatkan keamanan wilayah dan terus melaksanakan pembangunan infrastruktur publik, seperti kereta dan LRT agar nantinya dapat memudahkan mobilitas masyarakat. Selain itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Sumatera Selatan juga melaksanakan terobosan di era pandemi Covid-19, guna mengatasi deadlock penjualan perumahan di Sumsel. Efek pandemi Covid-19 sangat mengganggu target penjualan perumahan. Bahkan penjualan perumahan mengalami penurunan cukup signifikan. Namun hal ini dapat diatasi dengan mengerahkan semua elemen, baik dibidang pemerintahan, perbankan, ataupun jasa keuangan untuk meningkatkan penjualan perumahan. Di tahun 2021, REI Sumatera Selatan� mematok target penjualan sebanyak 15.000 unit atau meningkat dibanding realisasi tahun 2020 sebanyak 10.000 unit. Sektor real estate sangat berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 karena sektor tersebut memiliki 174 industri turunan sehingga sangat berdampak dan perlu untuk difokuskan perkembangannya.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka bisa diambil kesimpulan
bahwa terdapat 5 sektor ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan yang dikategorikan
ke dalam sektor basis yaitu sektor pertambangan dan penggalian; sektor
pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; sektor konstruksi;
sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; serta sektor real estate. Dan semua
sektor termasuk sektor potensial dalam perkembangan pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan menggunakan matriks gabungan di dapat dua kategori yaitu 5 sektor
unggulan (basis dan potensial) dan 12 sektor andalan (non basis dan potensial).
Berdasarkan perhitungan menggunakan analisis shift
share, diketahui bahwa 17 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan
memiliki nilai positif secara keseluruhan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
tidak terjadi pergeseran struktur perekonomian wilayah di Provinsi Sumatera
Selatan dalam kurun waktu 5 tahun yaitu mulai tahun 2017 hingga tahun 2021.
Gabungan SLQ dan DLQ, dan Shift Share (KPPW)
menunjukan bahwa dari semua sektor pembentuk PDRB provinsi Sumatera Selatan
ternyata sektor penggalian dan pertambangan; sektor pertanian, kehutanan dan
perikanan; sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang;
sektor konstruksi dan sektor real estat merupakan sektor unggulan yang memenuhi
ketiga kriteria analisis diatas yaitu menunjukkan angka positif yang memiliki
keunggulan komparatif dan kompetitif.
Arifah, L.
F., & Sunarjo, D. A. (2021). Analisis Keterkaitan Antar Industri di
Sumatera Utara dan Pengaruhnya terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2016 (Analisis
IO dan IRIO). Jurnal Ekonomi Dan Statistik Indonesia, 1(3),
213�226. https://doi.org/10.11594/jesi.01.03.08. Google Scholar
Irmawati, S. (2015). Analisis Industri Unggulan di
Provinsi Jawa Tengah. JEJAK Journal of Economics and Policy, 8(2),
224�237. Google Scholar
Kristina, S. (2017). Analisis Produk Unggulan Di
Kabupaten Serdang Bedagai. Universitas Sumatera Utara. Medan. Google Scholar
Miraza, B. H., & Mahalli, K. (2009). Analisis
Penentuan Sektor Unggulan Perekonomian Wilayah Kabupaten Aceh Utara dengan
Pendekatan Sektor Pembentuk PDRB. Universitas Sumatera Utara. Google Scholar
Oktavia, Z., Darwanto, D. H., & Hartono, S.
(2015). Sektor Pertanian Unggulan di Sumatera Selatan. AGRARIS: Journal of
Agribusiness and Rural Development Research, 1(2), 61�69.
https://doi.org/10.18196/agr.129. Google Scholar
Rasyid, A. (2016). Analisis potensi sektor potensi
pertanian di Kabupaten Kediri Tahun 2010-2014. Jurnal Ekonomi Pembangunan,
14(1), 99�111. https://doi.org/10.22219/jep.v14i1.3889. Google Scholar
Rizani, A. (2017). Analisis potensi ekonomi di sektor
dan subsektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Jember. Jurnal
Ekonomi Pembangunan, 15(2), 137�156.
https://doi.org/10.22219/jep.v15i2.5361. Google Scholar
Sari, F. W. A. W., & Bangun, R. H. B. (2019).
Analisis Peranan Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan pada Perekonomian
Kabupaten Deli Serdang. Agroland: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 26(3),
198�211. https://doi.org/10.22487/agrolandnasi... Google Scholar
Setiajatnika, E., & Astuti, Y. D. (2022). Potensi
Produk Unggulan Daerah dan Strategi Pengembangannya di Kabupaten Kepulauan Aru.
Coopetition: Jurnal Ilmiah Manajemen, 13(1), 97�114.
https://doi.org/10.32670/coopetition.v13i1.1243. Google Scholar
Sjafrizal, S. (1997). Pertumbuhan ekonomi dan
ketimpangan regional wilayah Indonesia Bagian Barat. Jurnal Buletin Prisma,
3(3), 27�38. Google Scholar
Sumardi, S. (2014). Determinan Efektivitas Pengaruh
Kebijakan Desentralisasi Fiskal Terhadap Kemampuan Keuangan Daerah Serta
Dampaknya Pada Pertumbuhan Ekonomi Daerah (Studi Kasus: Kabupaten/Kota di Jawa
Tengah). Journal of Rural and Development, 5(2), 147�166. Google Scholar
Suryani, T. (2013). Analisis peran sektor ekonomi
terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pemalang (Analisis tabel input output
Kabupaten Pemalang tahun 2010). Economics Development Analysis Journal, 2(1),
1�9. https://doi.org/10.15294/edaj.v2i1.1005. Google Scholar
Yulianti, N., Firmansyah, R., & Sundari, S.
(2020). Analisis Potensi Sektor Unggulan Kota Balikpapan Dalam Mempersiapkan
Ibu Kota Baru Dari Perspektif Ekonomi Pertahanan. Moneter: Jurnal Keuangan
Dan Perbankan, 8(1), 1�13. Google Scholar
|
Copyright holder : I Wayan Suparta, Sony Tian Dhora, Desi Wijayanti, Crisnina Handayani
(2022) |
|
First publication right : This article is licensed under: |