Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3, No. 9, September 2022

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAERAH DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA SELATAN

 

I Wayan Suparta, Sony Tian Dhora, Desi Wijayanti, Crisnina Handayani

Universitas Lampung

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

12 September 2022

Direvisi

18 September 2022

Disetujui

21September 2022

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di Provinsi Sumatera Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan data yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan. Data yang digunakan antara lain PDRB atas harga konstan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2017-2021. Alat analisis yang digunakan adalah Static Location Quetient (SLQ), Dynamic Location Quetient (DLQ) dan Shift-Share. Hasil dari penelitian sektor penggalian dan pertambangan; sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang; sektor konstruksi dan sektor real estat merupakan sektor unggulan yang memenuhi ketiga kriteria analisis diatas yaitu menunjukkan angka positif yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.

 

ABSTRACT

The purpose of this study is to identify leading sectors that have comparative and competitive advantages in South Sumatra Province. The research method used is descriptive quantitative and the data used are sourced from the Central Statistics Agency (BPS) of South Sumatra Province. The data used include GRDP at constant prices for South Sumatra Province in 2017-2021. The analytical tools used are Static Location Quetiont (SLQ), Dynamic Location Quetiont (DLQ) and Shift-Share. The results of this research can be found in the quarrying and mining sector; agriculture, forestry and fishery sectors; water supply, waste treatment, waste and recycling sectors; the construction sector and the real estate sector are the leading sectors that meet the three analysis criteria above, which show positive numbers that have comparative and competitive advantages.

Kata Kunci:

Sektor Basis, Keunggulan Komparatif, Keunggulan Kompetitif, PDRB.

 

 

 

Keywords:

Base Sector, Comparative Advantage, Competitive Advantage, GRDP.

 


Pendahuluan

Sumatera Selatan memiliki luas daratan 8.701.741 hektar dan memiliki banyak sungai, salah satunya adalah Sungai Musi, sungai terpanjang di Sumatera dengan total panjang sekitar 750 kilometer (Oktavia et al., 2015). Terdiri dari 11 kabupaten dan 4 kotamadya, sektor pertanian hampir merata di setiap wilayah. Struktur perekonomian Sumatera Selatan masih didominasi oleh sektor pertambangan, industri dan pertanian. Kontribusi ketiga sektor tersebut dapat dikatakan sebagai penopang utama perekonomian Sumsel (Oktavia et al., 2015).

Pembangunan daerah adalah proses dimana pemerintah daerah dan berbagai komponen masyarakat mengelola berbagai sumber daya yang ada dan membentuk model kemitraan untuk menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi di daerah (Suryani, 2013). Tolok ukur keberhasilan atau kegagalan pembangunan dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi, dan menyempitnya kesenjangan pendapatan antara penduduk, wilayah, dan industri (Rizani, 2017). Keberhasilan pembangunan ekonomi daerah tergantung pada tujuan pembangunan yaitu mengupayakan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang menciptakan lapangan kerja terbaik dari segi kuantitas, produktivitas, dan efisiensi (Rasyid, 2016). Dalam tatanan wilayah, pembangunan daerah menitikberatkan pada produk domestik bruto (PDRB) wilayah provinsi, kabupaten/kota. Nilai PDRB daerah merepresentasikan pertumbuhan ekonomi daerah (Sumardi, 2014). Berbagai metode dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan atau kegagalan pembangunan suatu wilayah, yang paling umum dan banyak digunakan adalah dengan menganalisis struktur dan perkembangan PDRB (produk domestik bruto regional) tahunan suatu wilayah secara time series (Sari & Bangun, 2019). Analisis keseluruhan akan mengidentifikasi sektor-sektor dasar ekonomi di masa lalu, dan kemudian menjadi bahan atau dasar untuk perencanaan pembangunan makro yang lebih baik di masa depan (Sjafrizal, 1997).

Dari perspektif pembangunan PDRB, untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi diperlukan pembangunan ekonomi yang didominasi oleh industri unggulan. Hal ini akan berimplikasi pada percepatan pertumbuhan ekonomi dan perubahan mendasar pada struktur ekonomi daerah (Kristina, 2017). Memahami manfaat sektor unggulan yang mampu memberikan indikator perekonomian nasional dan regional (Yulianti et al., 2020). Industri unggulan tentunya memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan industri lain di suatu daerah, terutama faktor pendukung industri unggulan tersebut yaitu akumulasi modal, pertumbuhan penyerapan tenaga kerja, dan kemajuan teknologi (Miraza & Mahalli, 2009).


 

 

Gambar 1. PDRB Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bangka Belitung Tahun 2017-2021

 


Gambar 1 menunjukkan komponen penyusun PDRB Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan grafik tersebut, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; pertambangan dan pertambangan; dan industri merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB. Sementara itu, sektor pengadaan listrik dan gas, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah, limbah dan daur ulang, serta jasa perusahaan merupakan penyumbang terkecil terhadap PDRB.

Pada dasarnya pengembangan suatu daerah dapat dilakukan dengan mengembangkan potensi yang ada. Salah satunya dengan mengembangkan produk yang ada di daerah tersebut. Pengembangan produk unggulan akan memacu para pelaku ekonomi di suatu daerah untuk lebih giat lagi memproduksi. Berkaitan dengan pengembangan produk tersebut terlebih dahulu harus diketahui produk-produk unggulan suatu daerah (Setiajatnika & Astuti, 2022). Dengan mengetahui produk unggulan suatu daerah, Selain menjadi industri yang dominan di industri lain, akan berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi dan perubahan mendasar pada struktur ekonomi daerah (Arifah & Sunarjo, 2021).

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder pada tahun 2017-2021 untuk mengidentifikasi sektor unggulan di Provinsi Sumatera Selatan. Alat analisis yang digunakan adalah analisis location quotient dan shift-share.

1.    Analisis Location Quotient

Analisis Location Quotient (LQ) adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui derajat spesialisasi sektor ekonomi dalam suatu wilayah yang memanfaatkan sektor-sektor dasar atau dominan (Jumiyanti, 2018). Adapun teknik LQ dibagi menjadi dua yaitu Static Location Quotient (SLQ) dan Dynamic Location Quotient (DLQ). Perhitungan SLQ dan DLQ adalah sebagai berikut:


 

)t

 


Keterangan :

Vik = PDRB atas dasar harga konstan 2010 sektor di Provinsi Sumatera Selatan

Vk = Total PDRB atas dasar harga konstan 2010 sektor di Provinsi SumateraSelatan

Vip = PDB atas dasar harga konstan 2010 sektor di Nasional

VP = Total PDB atas dasar harga konstan 2010 sektor di Nasional

gij�� = Laju pertumbuhan sektor di Provinsi Sumatera Selatan

Gi = Rata-rata laju pertumbuhan dari semua sektor di Provinsi Sumatera Selatan

gj�� =Laju pertumbuhan sektor di Nasional

G �� = Rata-rata laju pertumbuhan dari semua subsektor di Nasional

t���� = Periode waktu penelitian

Apabila rata-rata tahun 2017-2021 nilai SLQ dan DLQ melebihi 1 (SLQ dan DLQ >1) maka sektor tersebut merupakan sektor basis dan memiliki potensi di masa yang akan datang. Jika nilai SLQ dan DLQ sama dengan 1 (SLQ dan DLQ = 1) maka sektor tersebut memiliki tingkat spesialisasi Provinsi Sumatera Selatan sama dengan tingkat Nasional, dan apabila nilai SLQ dan DLQ kurang dari 1 (SLQ dan DLQ < 1) maka sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor non basis dan tidak memiliki potensi di masa yang akan datang.

 

2.    Analisis Shift-Share

Analisis Shift Share digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi suatu wilayah dengan menjelaskan pertumbuhan sektoral. Melalui analisis ini dapat diketahui apakah pertumbuhan sektor/subsektor wilayah (kabupaten) lebih rendah atau lebih tinggi dari wilayah acuan (provinsi) (Oktavia, dkk. 2015).

 

Dij = Nij + Mij + Cij

Keterangan:

i ���� = Sektor-sektor ekonomi yang diteliti

j ���� = Variabel provinsi Sumatera Selatan

N �� = Variabel Nasional

Dij = Perubahan sektor i di Provinsi Sumatera Selatan

Nij = Pertumbuhan nasional sektor i di Provinsi Sumatera Selatan

Mij = Bauran industri sektor i di Provinsi Sumatera Selatan

Cij = Keunggulan kompetitif sektor i di Provinsi Sumatera Selatan

 

Hasil dan Pembahasan

1.    Static Location Quotient (SLQ) Provinsi Sumatera Selatan

Tabel 1 merupakan tabel hasil perhitungan SLQ Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2017-2021 dengan menggunakan data PDRB Provinsi Sumatera Selatan dan PDB Indonesia. Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa dari 17 sektor penyusun perekonomian Provinsi Sumatera Selatan, terdapat 5 sektor yang masuk dalam kategori basis dan sisanya 12 sektor masuk ke dalam kategori non basis.


 

Tabel 1. Hasil Perhitungan Static Location Quetient (SLQ) Provinsi Sumatera Selatan

Sektor Perekonomian

2017

2018

2019

2020

2021

Rata-Rata

Keterangan

A.   Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

1.197

1.135

1.123

1.141

1.149

1.149

Basis

B.    Pertambangan dan Penggalian

2.352

2.533

2.647

2.398

2.586

2.503

Basis

C.    Industri Pengolahan

0.886

0.890

0.893

0.926

0.909

0.901

Non Basis

D.   Pengadaan Listrik dan Gas

0.121

0.120

0.119

0.140

0.138

0.127

Non Basis

E.    Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

1.387

1.420

1.435

1.451

1.302

1.399

Basis

F.     Konstruksi

1.277

1.240

1.189

1.205

1.161

1.214

Basis

G.   Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

 

0.903

0.941

0.987

1.018

0.995

0.969

Non Basis

H.   Transportasi dan Pergudangan

0.542

0.545

0.561

0.613

0.562

0.565

Non Basis

I.      Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

0.523

0.560

0.621

0.650

0.629

0.597

Non Basis

J.      Informasi dan Komunikasi

0.526

0.529

0.518

0.518

0.494

0.517

Non Basis

K.   Jasa Keuangan dan Asuransi

0.629

0.611

0.560

0.538

0.548

0.577

Non Basis

L.    Real Estat

0.997

1.027

1.057

1.061

1.061

1.040

Basis

M. Jasa Perusahaan

0.066

0.067

0.069

0.071

0.069

0.068

Non Basis

N.   Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

0.922

0.817

0.767

0.817

0.818

0.828

Non Basis

O.   Jasa Pendidikan

0.773

0.735

0.722

0.707

0.726

0.733

Non Basis

P.     Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

0.538

0.504

0.512

0.518

0.480

0.510

Non Basis

Q.   Jasa lainnya

0.409

0.409

0.406

0.448

0.427

0.420

Non Basis

 


Dari tabel di atas, sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor basis dengan nilai rata-rata SLQ tertinggi sebesar 2,503. Kemudian dilanjutkan oleh sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; sektor konstruksi; sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; serta sektor real estate rata-rata SLQ nya masing-masing sebesar 1,399; 1,214; 1,149 dan 1,040. Sedangkan untuk sektor non basis dengan rata-rata nilai SLQ yang paling tinggi adalah sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yaitu sebesar 0,969. Kemudian dilanjutkan oleh sektor industri pengolahan sebesar 0,90; sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 0,828; sektor jasa pendidikan sebesar 0,733; sektor penyediaan akomodasi, makan dan minum sebesar 0,597; sektor jasa keuangan dan asuransi sebesar 0,577; sektor transportasi dan pergudangan sebesar 0,565; sektor informasi dan komunikasi sebesar 0,517; sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 0,510; sektor jasa lainnya sebesar 0,420; sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 0,127; serta sektor jasa perusahaan 0,068.

2.    Dynamic Location Quotient (DLQ)

Tabel 2. menunjukkan tabel perhitungan Dynamic Location Quotient (DLQ) Provinsi Sumatera Selatan. Perhitungan ini bertujuan untuk mengetahui apakah sektor-sektor perekonomian memiliki potensi atau tidak di masa yang akan datang. Berdasarkan perhitungan pada Tabel 2, diketahui bahwa dari 17 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan, semua sektor memiliki rata-rata nilai DLQ lebih dari satu (DLQ > 1), hal ini berarti semua sektor di Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi untuk terus dikembangkan di masa yang akan datang.


 

Tabel 2. Hasil Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) Provinsi Sumatera Selatan

Sektor Perekonomian

2017

2018

2019

2020

2021

Rata-rata

Keterangan

A.   Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

0.856

0.876

1.009

1.121

1.175

1.008

Potensial

 

B.    Pertambangan dan Penggalian

0.944

1.332

1.072

0.509

1.330

1.037

Potensial

 

C.    Industri Pengolahan

1.121

1.002

0.939

1.068

0.887

1.004

Potensial

 

D.   Pengadaan Listrik dan Gas

1.289

0.786

0.777

1.662

0.758

1.055

Potensial

 

E.    Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

1.161

1.217

1.064

1.036

0.624

1.020

Potensial

 

F.     Konstruksi

1.054

1.003

0.880

1.125

0.961

1.004

Potensial

 

G.   Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

1.164

1.090

1.056

0.934

0.787

1.006

Potensial

 

H.   Transportasi dan Pergudangan

1.008

1.031

1.086

1.417

0.643

1.037

Potensial

 

I.      Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

0.960

1.166

1.301

0.945

0.699

1.015

Potensial

 

J.      Informasi dan Komunikasi

1.041

1.149

0.938

1.017

0.872

1.003

Potensial

 

K.   Jasa Keuangan dan Asuransi

1.058

1.053

0.741

0.906

1.329

1.017

Potensial

 

L.    Real Estate

1.025

1.111

1.035

0.885

0.954

1.002

Potensial

 

M.  Jasa Perusahaan

0.956

1.091

1.055

1.089

0.827

1.004

Potensial

 

N.   Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

0.864

0.683

0.857

1.567

1.252

1.045

Potensial

 

O.   Jasa Pendidikan

0.867

0.910

0.996

0.955

1.331

1.012

Potensial

 

P.     Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

1.061

0.854

1.200

1.130

0.803

1.010

Potensial

 

Q.   Jasa lainnya

0.784

1.055

0.958

1.549

0.826

1.034

Potensial

 

 


Dari Tabel 2 didapat hasil perhitungan DLQ Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2017 hingga tahun 2021, diketahui bahwa sektor yang memiliki rata-rata nilai DLQ tertinggi adalah sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 1,055, sedangkan sektor real estat memiliki rata-rata nilai DLQ terendah sebesar 1,002.

Menurut Kuncoro dalam (Irmawati, 2015), Menggabungkan hasil analisis SLQ dan DLQ dapat mengelompokkan jenis-jenis sektor ekonomi yang memiliki keunggulan komparatif. Mulai dari penggabungan, mereka dibagi menjadi empat kategori yaitu industri unggulan, industri unggulan, industri potensial dan industri kurang berkembang.


 

Tabel 3. Matriks Analisis Gabungan SLQ dan DLQ Provinsi Sumatera Selatan

 

SLQ

SLQ > 1

SLQ < 1

DLQ

 

Sektor Unggulan

Sektor Andalan

DLQ > 1

    Pertambangan dan penggalian

    Pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang

    Konstruksi

    Pertanian, kehutanan dan perikanan

    Real estate

    Perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor

    Industri pengolahan

    Administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib

    Jasa pendidikan

    Penyediaan akomodasi, makan dan minum

    Jasa keuangan dan asuransi

    Transportasi dan pergudangan

    Informasi dan komunikasi

    Jasa kesehatan dan kegiatan sosial

    Jasa lainnya

    Pengadaan listrik dan gas

    Jasa perusahaan

DLQ < 1

Sektor Prospektif

Sektor Terbelakang

-

-

Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan dan Indonesia 2017-2022 (Data diolah)

 


Berdasarkan matriks analisis gabungan SLQ dan DLQ, Sumatera Selatan memiliki dua jenis sektor ekonomi yaitu sektor penggalian dan pertambangan, sektor penyediaan air, pengelolaan limbah, limbah dan daur ulang, sektor konstruksi, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan dan sektor real estate yang terdiri dari 5 sektor utama dan 12 pilar industri, Termasuk grosir dan perdagangan eceran, reparasi mobil dan motor; manufaktur; administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib; jasa pendidikan; sektor penyediaan akomodasi, makanan dan minuman; jasa keuangan dan asuransi; pengangkutan dan pergudangan; Sektor Informasi dan Komunikasi; Sektor Jasa Kesehatan dan Sosial Kegiatan; Bidang Jasa Lainnya; Bidang Pengadaan Listrik dan Gas; dan Bidang Jasa Usaha.

3.    Analisis Shift-Share

a.    Kinerja Sektor-Sektor Perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan

Tabel 4. menunjukkan hasil analisis shift share Provinsi Sumatera Selatan. Tabel tersebut disusun berdasarkan klasifikasi komponen pertumbuhan wilayah di Provinsi Sumatera Selatan.


 

Tabel 4. Klasifikasi Komponen Pertumbuhan Wilayah Provinsi Sumatera Selatan

Sektor Perekonomian

KPW

KPP

KPPW

Dij

A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

17,174,881

-10,186,637

6,815,420

13,803,664

B.   Pertambangan dan Penggalian

20,911,878

-16,903,432

20,251,911

24,260,356

C.  Industri Pengolahan

21,260,180

-14,802,464

14,281,573

20,739,289

D.  Pengadaan Listrik dan Gas

140,028

-75,371

169,701

234,358

E.   Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

126,273

-18,535

42,358

150,096

F.   Konstruksi

14,386,079

-8,507,229

2,421,172

8,300,022

G.   Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

13,504,626

-8,481,945

13,880,945

18,903,626

H.  Transportasi dan Pergudangan

2,513,358

-2,524,066

1,668,681

1,657,973

I.     Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

1,777,849

-1,512,610

2,479,434

2,744,673

J.     Informasi dan Komunikasi

3,016,668

1,058,632

1,149,175

5,224,476

K.  Jasa Keuangan dan Asuransi

2,861,651

-1,202,294

-12,818

1,646,540

L.   Real Estate

3,291,666

-1,540,991

2,946,692

4,697,367

M,N. Jasa Perusahaan

130,555

-65,747

98,308

163,116

O.  Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

3,434,070

-2,036,464

226,218

1,623,824

P.   Jasa Pendidikan

2,686,143

-1,262,823

847,903

2,271,223

Q.  Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

671,507

357,067

79,160

1,107,733

R,S,T,U. Jasa lainnya

793,338

-290,794

649,870

1,152,415

 


Berdasarkan perhitungan analisis shift share pada Tabel 4 diperoleh hasil bahwa Komponen Pertumbuhan Wilayah/KPW (Regional Share) di Provinsi Sumatera Selatan pada semua sektor perekonomian memiliki nilai positif, artinya semua sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan dapat berkembang di perekonomian Nasional.Sektor perekonomian yang memiliki nilai KPW relatif besar adalah sektor industri pengolahan; sektor penggalian dan pertambangan; serta sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Dari perhitungan Komponen Pertumbuhan Proporsional/KPP (Proportional Shift) diperoleh hasil bahwa dari 17 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan, hampir semua sektor bernilai negatif kecuali sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Artinya hanya sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang dapat berkembang dalam perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan. Kemudian hasil perhitungan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah/KPPW (Differential Shift), diketahui bahwa hanya sektor jasa keuangan dan asuransi yang memiliki nilai negatif dari 17 sektor perekonomian selain dari sektor tersebut bernilai positif. Hal ini berarti 16 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan memiliki daya saing terhadap sektor yang sama di Nasional sedangkan sektor jasa keuangan dan asuransi tidak memiliki daya saing jika dibandingkan dengan sektor yang sama secara Nasional. Kemudian berdasarkan perhitungan pergeseran variabel regional, diketahui bahwa 17 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan memiliki nilai positif secara keseluruhan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi pergeseran struktur perekonomian wilayah di Provinsi Sumatera Selatan dalam kurun waktu 5 tahun yaitu mulai tahun 2017 hingga tahun 2021.

b.    Penentuan Sektor Unggulan berdasarkan keunggulan komparatif (SLQ, DLQ) dan Keunggulan Kompetitif (KPPW Shift Share)

Berdasarkan analisis SLQ dan DLQ, diperoleh beberapa sektor unggulan di Provinsi Sumatera Selatan, namun sektor tersebut hanya memiliki keunggulan komparatif. Sedangkan sektor yang memiliki keunggulan kompetitif dapat dilihat pada hasil analisis shift-share pada KPPW. Berdasarkan hal tersebut, perlu dibuat tabel penggabungan ketiga alat analisis tersebut guna mengetahui sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sebagai berikut.


 

Tabel 5 Penggabungan Analisis SLQ, DLQ dan Shift-Share Sektor Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017-2021

Sektor Perekonomian

SLQ

DLQ

KPPW

Kriteria

A. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan

1.149

1.008

6,815,420

Unggul

B. Pertambangan dan Penggalian

2.503

1.037

20,251,911

Unggul

C. Industri Pengolahan

0.901

1.004

14,281,573

Tidak Unggul

D. Pengadaan Listrik dan Gas

0.127

1.055

169,701

Tidak Unggul

E. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

1.399

1.020

42,358

Unggul

F. Konstruksi

1.214

1.004

2,421,172

Unggul

G. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

0.969

1.006

13,880,945

Tidak Unggul

H. Transportasi dan Pergudangan

0.565

1.037

1,668,681

Tidak Unggul

I. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum

0.597

1.015

2,479,434

Tidak Unggul

J. Informasi dan Komunikasi

0.517

1.003

1,149,175

Tidak Unggul

K. Jasa Keuangan dan Asuransi

0.577

1.017

-12,818

Tidak Unggul

L. Real Estate

1.040

1.002

2,946,692

Unggul

M,N Jasa Perusahaan

0.068

1.004

98,308

Tidak Unggul

O. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

0.828

1.045

226,218

Tidak Unggul

P. Jasa Pendidikan

0.733

1.012

847,903

Tidak Unggul

Q. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial

0.510

1.010

79,160

Tidak Unggul

R,S,T,U Jasa lainnya

0.420

1.034

649,870

Tidak Unggul

 


Berdasarkan Tabel 5. bahwa berdasarkan perhitungan SLQ dan DLQ yang telah diklasifikasikan sebelumnya, Industri yang memenuhi perhitungan analisis transfer share dan memiliki nilai positif adalah industri unggulan di Sumatera Selatan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif, yaitu sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; pertambangan dan penggalian; penyediaan air bersih, pengelolaan limbah, limbah dan sektor daur ulang; Konstruksi dan real estate. Sementara sektor andalan berdasarkan perhitungan SLQ dan DLQ juga memiliki nilai KPPW yang positif, Artinya industri tersebut berpotensi menjadi industri unggulan di masa depan dan mampu bersaing dengan industri yang sama di daerah lain. Dibandingkan dengan industri jasa keuangan dan asuransi yang berpotensi menjadi industri unggulan di masa depan, industri tersebut tidak dapat bersaing dengan industri sejenis di bidang lain karena KPPW-nya negatif.

a.    Analisis Spesialisasi Wilayah dan Sektor Unggulan Daerah serta Kebijakan Rencana Pembangunan Daerah Provinsi Sumatera Selatan

Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Static Location Quotient (SLQ) untuk melihat sektor basis dan non basis, dari 17 sektor perekonomian penyusun PDRB Provinsi Sumatera Selatan, terdapat 5 sektor perekonomian yang menjadi sektor basis dimana sektor pertambangan dan penggalian menjadi sektor basis dengan nilai rata-rata SLQ tertinggi sebesar 2,503, kemudian diikuti dengan sektor sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, sektor konstruksi, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, serta sektor real estat dimana masing-masing nilai SLQ secara berurutan adalah 1,399; 1,214; 1,149 dan 1,040. Selain 5 sektor yang telah disebutkan menjadi sektor non basis pada perekonomian Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan metode Dynamic Location Quotient (DLQ), diketahui bahwa dari 17 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan, semua sektor memiliki rata-rata nilai (DLQ > 1), hal ini berarti semua sektor di Provinsi Sumatera Selatan memiliki potensi untuk terus dikembangkan di masa yang akan datang. Matriks analisis gabungan SLQ dan DLQ, Provinsi Sumatera Selatan memiliki 2 kategori sektor perekonomian di yaitu 5 Sektor unggulan yang terdiri dari sektor penggalian dan pertambangan, sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, sektor konstruksi, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta sektor real estat, 12 sektor lainnya masuk dalam sektor andalan.

Untuk mengetahui daya saing sektor ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan, dianalisis menggunakan metode analisis shift share. perhitungan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah/KPPW (Differential Shift), diketahui bahwa hanya sektor jasa keuangan dan asuransi yang memiliki nilai negatif dari 17 sektor perekonomian, selain dari sektor tersebut bernilai positif. Artinya 16 sektor ekonomi di Sumatera Selatan secara nasional bersaing dengan sektor yang sama, sedangkan sektor jasa keuangan dan asuransi tidak kompetitif dengan sektor yang sama di seluruh tanah air. Berdasarkan analisis ini, industri unggulan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif di Sumatera Selatan adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian, sektor penyediaan air, pengelolaan limbah, limbah dan daur ulang, sektor konstruksi dan sektor real estate.

Kebijakan rencana pembangunan daerah di Provinsi Sumatera Selatan harus dilaksanakan sesuai dengan Dokumen RPJPD dan RPJMD Provinsi Sumatera Selatan yang telah disusun dan dengan mempertimbangankan sektor-sektor unggulan yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sesuai dengan analisis yang telah dilakukan. Tema Pembangunan Provinsi Sumatera Selatan adalah �Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dan Pengurangan Kemiskinan melalui Peningkatan Ekonomi Kerakyatan, Kualitas Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia�. Untuk mencapai hal tersebut, Pemprov Sumsel menghadapi beberapa tantangan seperti angka harapan hidup, angka kemiskinan yang tinggi, ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Covid-19, permintaan produksi pertambangan yang menurun dan pandemi Covid-19, seperti pemutusan hubungan kerja, pendapatan orang di berbagai sektor sektor bisnis telah jatuh. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan memaksimalkan sektor ekonomi utama Sumatera Selatan.

Berdasarkan analisis, industri utama di mana Sumatera Selatan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif adalah pertanian, kehutanan dan perikanan, pertambangan dan penggalian, pasokan air, pengelolaan limbah, limbah dan daur ulang, konstruksi dan real estate. Kebijakan rencana pembangunan yang dapat diupayakan sesuai dengan analisis tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1)   Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan sektor unggulan daerah yang memiliki kontribusi 16,79% terhadap PDRB Provinsi Sumatera Selatan dengan nominal output Rp.54.834,53 miliar atas dasar harga konstan. Komoditas tanaman pangan yang paling penting bagi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan adalah beras. Sumatera Selatan sendiri merupakan salah satu lumbung padi nasional. Daerah penghasil beras terbesar di Sumatera Selatan adalah Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur dan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Luas lahan sawah di Sumatera Selatan adalah 790.395 hektar, dimana 71% diantaranya merupakan lahan sawah rawa. Sumsel sendiri menjadi pilot project program Save Rawa Petani Sejahtera (Serasi) Kementerian Pertanian untuk mengoptimalkan lahan rawa. Manfaat dari program ini adalah peningkatan indeks tanam, yaitu peningkatan frekuensi tanam dan panen, serta peningkatan produktivitas per hektar. Berdasarkan analisis, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan sektor unggulan dengan keunggulan komparatif dan kompetitif, dan pemerintah daerah dapat terus memberikan dukungan dalam program tersebut. Kebijakan lain yang dapat dilakukan adalah dengan menjamin ketersediaan pupuk, meningkatkan ekspor hasil perkebunan seperti karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, lada dan cokelat serta menjamin kestabilan Nilai Tukar Petani (NTP).

2)   Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sektor pertambangan dan penggalian merupakan penyumbang terbesar PDRB Sumsel. Sektor pertambangan dan penggalian berasal dari beberapa bahan tambang yang tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Bahan tambang utama yang diekstraksi dari kerak di wilayah Sumatera Selatan adalah minyak bumi (Prabumulih, Muara Enim dan Musi Banyuasin), gas alam (Lahat dan Ogan Komering Ulu) dan batubara (Muara Enim dan Lahat). Sumatera Selatan juga menghasilkan mineral C seperti andesit, lempung, batugamping, pasir konstruksi, urugan, batuan sungai, pasir urugan, pasir, koral, kerikil, pasir kuarsa dan batu pecah. Kebijakan yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan sektor pertambangan dan penggalian adalah meningkatkan ekspor (demand) akan komoditas pertambangan dan penggalian. Pasalnya, di saat harga komoditas minyak, gas, dan batu bara naik, permintaan industri pertambangan dan penggalian turun akibat pandemi Covid-19, yang otomatis akan menurunkan produksi minyak, gas, dan batu bara. Demikian pula, produksi penambangan pasir menurun dengan berkurangnya penerimaan pajak dari penambangan C. Selain itu, Pemerintah Daerah juga perlu memaksimalkan regulasi terkait dengan keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan, reklamasi, pasca-tambang, dan tanggung jawab sosial. Regulasi ini perlu dimaksimalkan sebagai salah satu upaya untuk meminimalisir dampak negatif dari kegiatan pertambangan.

3)   Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

Sektor penyediaan air, pengelolaan limbah, limbah dan daur ulang terus memberikan kontribusi 10,73% terhadap PDRB Sumatera Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan di sektor penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, sampah dan daur ulang memiliki nilai ekonomi yang sangat besar dalam perekonomian Sumatera Selatan. Industri ini mampu tumbuh agresif meski di tengah wabah Covid-19 yang masih melanda. Kebijakan rencana pembangunan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kontribusi sektor ini adalah:

a)    Memperluas bank sampah. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 13 Tahun 2012, bank sampah adalah tempat untuk memilah dan mengumpulkan sampah yang bernilai ekonomis yang dapat didaur ulang dan/atau digunakan kembali. Bank sampah terdiri dari bank sampah unit (BSU) dan bank sampah utama (BSI). Provinsi Sumatera Selatan sudah memiliki beberapa bank sampah yang memilah sampah untuk di daur ulang seperti Bank Sampah KGS, Bank Sampah Sakura Talang Kelapa, Bank Sampah Gemilang Sejahtera, Bank Sampah Kamboja, dan Bank Sampah Kartini. Namun, keberadaan bank sampah ini hanya ada di Kota Palembang, bank sampah belum ada di Kabupaten/Kota lain selain di Kota Palembang. Oleh karena itu, pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dapat meningkatkan jumlah bank sampah dan mendistribusikannya secara merata ke seluruh daerah di Provinsi Sumatera Selatan guna meningkatkan kontribusi sektor ini.

b)    Membangun proyek Instalasi Pengolahan air Limbah (IPAL).

c)    Menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat dengan melakukan pengawasan terhadap Perusahaan Daerah air Minum (PDAM).

4)   Sektor Konstruksi

Dengan harga konstan, sektor konstruksi memberikan kontribusi sebesar Rp 36.671,66 miliar atau 11,23% terhadap PDRB Sumsel. Konstruksi adalah kegiatan yang menghasilkan struktur seperti gedung, jalan, jembatan, rel kereta api, terowongan, drainase, jaringan listrik dan telekomunikasi, dan lain-lain. Pekerjaan konstruksi di Sumatera Selatan meliputi pembangunan jalan tol Palembang-Betung di Kabupaten Banyuasin. Proyek pembangunan jalan tol Palembang-Betung sendiri dirancang sepanjang 69,19 kilometer dengan perkiraan biaya Rp. 7 triliun. Namun karena adanya pandemi Covid-19, PT. Waskita Karya (Persero) juga menghadapi kesulitan pembiayaan sebagai badan usaha jalan tol (BUJT) karena bank tidak mampu mencairkan dana yang dibutuhkan. Maka kebijakan rencana pembangunan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kontribusi sektor ini adalah Pemerintah Provinsi bersama-sama dengan PT. Waskita Karya (Persero) melakukan percepatan pembangunan proyek pembangunan tol Palembang-Betung. Selain itu Pemerintah Provinsi harus memperhatikan indikator nilai konstruksi, Diantaranya, nilai proyek adalah pekerjaan yang benar-benar diselesaikan oleh kontraktor dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan atau perintah kerja antara pemilik dan kontraktor. Dalam hal ini pemerintah daerah harus memastikan pekerjaan konstruksi yang dikerjakan oleh pihak pemborong dapat selesai tepat waktu.

5)   Sektor Real Estate

Sektor real estate memberikan kontribusi 8,33% terhadap PDRB Sumatera Selatan atas dasar harga konstan. Maraknya industri real estate sebagai industri unggulan di Sumatera Selatan tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan jaringan light rail sepanjang 23 kilometer yang menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmoud Badaluddin, Masjid Agung Palembang dan Jaka Baring Sports City. . Kereta ringan melintasi Sungai Musi, dan Jembatan Amberra menghubungkan 13 stasiun dan 9 gardu induk dari bandara ke hulu Palembang. Selain itu, Sumsel telah sukses menjadi tuan rumah sejumlah event olahraga lokal dan internasional. Pembangunan pusat perbelanjaan, rumah, sekolah, tempat wisata dan pusat konvensi juga meningkat di Sumatera Selatan. Kebijakan rencana pembangunan yang dapat dilakukan pemerintah Provinsi Sumatera Selatan adalah salah satunya dengan meningkatkan iklim investasi.

Dengan mempermudah investasi dapat meningkatkan keamanan wilayah dan terus melaksanakan pembangunan infrastruktur publik, seperti kereta dan LRT agar nantinya dapat memudahkan mobilitas masyarakat. Selain itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Sumatera Selatan juga melaksanakan terobosan di era pandemi Covid-19, guna mengatasi deadlock penjualan perumahan di Sumsel. Efek pandemi Covid-19 sangat mengganggu target penjualan perumahan. Bahkan penjualan perumahan mengalami penurunan cukup signifikan. Namun hal ini dapat diatasi dengan mengerahkan semua elemen, baik dibidang pemerintahan, perbankan, ataupun jasa keuangan untuk meningkatkan penjualan perumahan. Di tahun 2021, REI Sumatera Selatanmematok target penjualan sebanyak 15.000 unit atau meningkat dibanding realisasi tahun 2020 sebanyak 10.000 unit. Sektor real estate sangat berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19 karena sektor tersebut memiliki 174 industri turunan sehingga sangat berdampak dan perlu untuk difokuskan perkembangannya.

 

Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas maka bisa diambil kesimpulan bahwa terdapat 5 sektor ekonomi di Provinsi Sumatera Selatan yang dikategorikan ke dalam sektor basis yaitu sektor pertambangan dan penggalian; sektor pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang; sektor konstruksi; sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; serta sektor real estate. Dan semua sektor termasuk sektor potensial dalam perkembangan pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan menggunakan matriks gabungan di dapat dua kategori yaitu 5 sektor unggulan (basis dan potensial) dan 12 sektor andalan (non basis dan potensial).

Berdasarkan perhitungan menggunakan analisis shift share, diketahui bahwa 17 sektor perekonomian di Provinsi Sumatera Selatan memiliki nilai positif secara keseluruhan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi pergeseran struktur perekonomian wilayah di Provinsi Sumatera Selatan dalam kurun waktu 5 tahun yaitu mulai tahun 2017 hingga tahun 2021.

Gabungan SLQ dan DLQ, dan Shift Share (KPPW) menunjukan bahwa dari semua sektor pembentuk PDRB provinsi Sumatera Selatan ternyata sektor penggalian dan pertambangan; sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; sektor pengadaan air, pengolahan sampah, limbah dan daur ulang; sektor konstruksi dan sektor real estat merupakan sektor unggulan yang memenuhi ketiga kriteria analisis diatas yaitu menunjukkan angka positif yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.

 

BIBLIOGRAFI

 

Arifah, L. F., & Sunarjo, D. A. (2021). Analisis Keterkaitan Antar Industri di Sumatera Utara dan Pengaruhnya terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2016 (Analisis IO dan IRIO). Jurnal Ekonomi Dan Statistik Indonesia, 1(3), 213�226. https://doi.org/10.11594/jesi.01.03.08. Google Scholar

 

Irmawati, S. (2015). Analisis Industri Unggulan di Provinsi Jawa Tengah. JEJAK Journal of Economics and Policy, 8(2), 224�237. Google Scholar

 

Kristina, S. (2017). Analisis Produk Unggulan Di Kabupaten Serdang Bedagai. Universitas Sumatera Utara. Medan. Google Scholar

 

Miraza, B. H., & Mahalli, K. (2009). Analisis Penentuan Sektor Unggulan Perekonomian Wilayah Kabupaten Aceh Utara dengan Pendekatan Sektor Pembentuk PDRB. Universitas Sumatera Utara. Google Scholar

 

Oktavia, Z., Darwanto, D. H., & Hartono, S. (2015). Sektor Pertanian Unggulan di Sumatera Selatan. AGRARIS: Journal of Agribusiness and Rural Development Research, 1(2), 61�69. https://doi.org/10.18196/agr.129. Google Scholar

 

Rasyid, A. (2016). Analisis potensi sektor potensi pertanian di Kabupaten Kediri Tahun 2010-2014. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 14(1), 99�111. https://doi.org/10.22219/jep.v14i1.3889. Google Scholar

 

Rizani, A. (2017). Analisis potensi ekonomi di sektor dan subsektor pertanian, kehutanan dan perikanan Kabupaten Jember. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 15(2), 137�156. https://doi.org/10.22219/jep.v15i2.5361. Google Scholar

 

Sari, F. W. A. W., & Bangun, R. H. B. (2019). Analisis Peranan Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan pada Perekonomian Kabupaten Deli Serdang. Agroland: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 26(3), 198�211. https://doi.org/10.22487/agrolandnasi... Google Scholar

 

Setiajatnika, E., & Astuti, Y. D. (2022). Potensi Produk Unggulan Daerah dan Strategi Pengembangannya di Kabupaten Kepulauan Aru. Coopetition: Jurnal Ilmiah Manajemen, 13(1), 97�114. https://doi.org/10.32670/coopetition.v13i1.1243. Google Scholar

 

Sjafrizal, S. (1997). Pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan regional wilayah Indonesia Bagian Barat. Jurnal Buletin Prisma, 3(3), 27�38. Google Scholar

 

Sumardi, S. (2014). Determinan Efektivitas Pengaruh Kebijakan Desentralisasi Fiskal Terhadap Kemampuan Keuangan Daerah Serta Dampaknya Pada Pertumbuhan Ekonomi Daerah (Studi Kasus: Kabupaten/Kota di Jawa Tengah). Journal of Rural and Development, 5(2), 147�166. Google Scholar

 

Suryani, T. (2013). Analisis peran sektor ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pemalang (Analisis tabel input output Kabupaten Pemalang tahun 2010). Economics Development Analysis Journal, 2(1), 1�9. https://doi.org/10.15294/edaj.v2i1.1005. Google Scholar

 

Yulianti, N., Firmansyah, R., & Sundari, S. (2020). Analisis Potensi Sektor Unggulan Kota Balikpapan Dalam Mempersiapkan Ibu Kota Baru Dari Perspektif Ekonomi Pertahanan. Moneter: Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 8(1), 1�13. Google Scholar

 

 


Copyright holder :

I Wayan Suparta, Sony Tian Dhora, Desi Wijayanti, Crisnina Handayani (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: