|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 3,
No. 9, September 2022 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
EVALUASI KOMUNIKASI EDUKATIF GURU PAI DAN WALI SISWA
DI SD KECAMATAN DANAU SEMBULUH PADA MASA PANDEMI COVID-19
Rapika Nor Cayani,�
Muslimah
Institut Agama Islam
Negeri Palangka Raya, Indonesia
Email: �[email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 13 Juli
2022 Direvisi
11
Agustus 2022 Disetujui 23
Agustus 2022 |
Pembelajaran
yang baik dan efektif akan memberikan ruang dan kesempatan kepada anak untuk
belajar lebih aktif dan menggali rasa ingin tahunya melalui komunikasi dan
kemampuan/potensinya, yang memerlukan orang tua atau guru atau pendidik
khususnya pendidikan agama bimbingan yang baik dari guru. Guru yang berperan
sebagai agen pembelajaran harus memiliki kualifikasi dari universitas yang
diakui (S1/D4) dan memiliki 4 kompetensi. Berdasarkan pengamatan bahwasanya
pada masa pandemic Covid-19 banyak problematika pembelajaran salah satunya
adalah di sdn 1 danau sembuluh 1 kecamatan kabupaten seruySan dan di sdn 2
telaga pulang kecamatan danau sembuluh. Terdapat problematika pembelajaran
salah satunya mata pelajaran pendidikan agama islam. Adanya komunikasi guru
dan wali murid yang kurang. Artinya bahwa dalam sistem pembelajaran wali
murid tidak� me haddle anaknya belajar
d rumah salah satunya mata pelajaran pendidikan agama islam. Hal ini sangat
antusias karna dalam sistem pembelajaran adalah pembelajaran efektif adalah
akan memberikan ruang dan peluang agar anak belajar lebih efektif dgn
memberikan pengetahuan melalui komunikasi guru dan orang tua. Adapun tujuan
dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana evaluasi komunikasi
edukatif guru pendidikan agama islam dan wali siswa di sd kecamatan danau
sembuluh pada masa pandemic covid-19. Metode penelitian yang dipakai adalah
metode penelitian campuran atau penelitian mix kuantitatif dan kualitatif.
Berdasarkan hasil dari penelitian bahwa adanya perbandingan komunikasi guru
pendidikan agama islam dan wali murid di sdn 1 kecamatan danau sembuluh
kabupaten seruyan dan sdn 2 danau sembuluh kabupaten seruyan. ABSTRACT Good and effective
learning will provide space and opportunities so that children can learn more
actively and can explore their curiosity through communication and their
abilities/potential, and this requires good guidance from parents or from
teachers or educators, especially religious education teachers. Islam.
Teachers as learning agents are obliged to have academic qualifications
obtained through accredited universities (S1/D4) and have 4 competencies.
Based on the observation that during the Covid-19 pandemic, there were many
learning problems, one of which was at SDN 1 Danau Sembuluh 1, Seruyan
Regency and at SDN 2 Telaga Home, Danau Sembuluh Subdistrict. There are
learning problems, one of which is Islamic religious education subjects.
There is a lack of communication between teachers and parents. This means
that in the learning system the guardians of students do not allow their
children to study at home, one of which is Islamic religious education. This
is very enthusiastic because the regards of the learning system as effective
learning is that it will provide space and opportunities for children to
learn more effectively by providing knowledge through communication between
teachers and parents. The purpose of this study was to find out how to
evaluate the educative communication of Islamic religious education teachers
and student guardians at the Danau Sembuluh sub-district elementary school
during the covid-19 pandemic. The research method used is a mixed research
method or a mix of quantitative and qualitative research. Based on the results
of the study that there is a comparison of communication between Islamic
religious education teachers and students' guardians at SDN 1, Danau Sembuluh
sub-district, Seruyan Regency and Sdn 2 Danau Sembuluh, Seruyan Regency. |
|
Kata Kunci: Komunikasi,
Pembelajaran dan Pendidik. Keywords: Communication, Learning and Educators. |
Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dimana peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya, dengan kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, budi
pekerti, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat pendidikan, termasuk di dalamnya pedagogik khusus. keterampilan,
dan yang tak terlihat tetapi lebih dalam, karunia pengetahuan, penilaian, dan
kebijaksanaan (Hamdanah, 2017).
Strategi untuk menjalin komunikasi dalam proses
belajar mengajar merupakan salah satu hal terpenting untuk mencapai proses
belajar mengajar yang efektif. Sebab, tanpa komunikasi proses pengajaran tidak
dapat berjalan dengan lancar, karena komunikasi merupakan kunci utama
terjadinya interaksi antara guru dan siswa �(Masdul, 2018). Komunikasi tidak hanya
berarti berinteraksi hanya dengan menggunakan bahasa lisan, tetapi juga
menggunakan bahasa tulis dan bahasa isyarat atau gerak tubuh (Zazin, 2018).�
Pembelajaran yang baik dan efektif memberikan ruang
dan kesempatan kepada anak untuk belajar lebih aktif dan menggali rasa ingin
tahunya melalui komunikasi dan kemampuan/potensinya, yang memerlukan bantuan
baik dari orang tua atau guru/pendidik/pembimbing (Lumban Siantar, 2022). Kemampuan berkomunikasi
secara efektif merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki dan dikuasai
oleh guru, sebagaimana Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, serta Peraturan Menteri Negara Republik Indonesia
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pendidikan (Permendiknas) 2007
Peraturan Nomor 16 Tahun Tentang Standar Akademik dan Kompetensi Guru. Guru
yang berperan sebagai agen pembelajaran harus memiliki kualifikasi dari
universitas yang diakui (S1/D4) dan memiliki 4 kompetensi (Karima, 2021). Salah satunya adalah
kompetensi sosial, yaitu kemampuan pendidik untuk berkomunikasi dan bergaul
sebagai bagian dari masyarakat dengan peserta didik, mitra pendidikan,
pendidik, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar (Parnawi, 2018).
Berdasarkan pengamatan di sd kecamatan danau
sembuluh terkhusus di jenjang SD.� Mata
pelajaran pendidikan agama islam. Mempunyai permasalahan yang sangat signifikan
terkait komunikasi guru dan wali siswa mengenai proses pembelajaran di kelas
maupun pembelajaran daring di masa pandemic ini. Hal ini terlihat
banyaknya� informasi terkait siswa dan
orang tua yang� mengeluh� ketika sistem pembelajaran pada masa covid-19
salah satunya adalah mata pelajaran pendidikan agama islam di SDN 1 danau
sembuluh 1 dan SDN 2 telaga pulang kecamatan danau sembuluh kabupaten seruyan.
Salah satunya permasalahan yang dihadapi adalah kurangnya interaksi atau
komunikasi diantara keduanya wali muird dan guru mata pelajaran pendidikan
agama islam. Sehingga sistem pembelajaran jadi kurang.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan
pendekatan campuran atau biasa disebut dengan pendekatan campuran. Implementasi
pendekatan hybrid ini menggabungkan metode penelitian kuantitatif dan
kualitatif. Jenis penelitian ini adalah menggunakan strategi interpretasi
sekuensial. Penelitian campuran adalah proses pengumpulan, analisis dan
pencampuran metode kuantitatif dan kualitatif dalam studi atau serangkaian
studi untuk memahami pertanyaan penelitian.
Hasil dan
Pembahasan
1. Pengertian Komunikasi
Kata komunikasi atau
communication dalam Bahasa inggris berasa dari kata latin communis yang berarti
�pemberitahuan, pembagian, pertukaran dimana si pembicara mengharapkan
pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya�. Kata lain yang mirip dengan
komunikasi adalah komunitas, yang juga menekankan kesamaan atau kebenaran.
Komunitas adalah sekelompok orang yang berkumpul atau hidup bersama untuk
mencapai suatu tujuan. (Effendi, 2007) Definisi �Komunikasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau tindakan menyampaikan informasi. Proses komunikasi pada
hakikatnya adalah proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan pikiran
atau perasaan kepada orang lain (komunikator) (Anwar, 1995).� Ide bisa berupa
informasi, opini, dan langsung muncul. Komunikasi adalah hubungan umum yang
melibatkan berbagai kegiatan dari berbagai individu. Komunikasi tidak dibatasi
oleh ruang dan waktu karena dapat terjadi kapan saja dan dimana saja selama
proses interaksi masih berlangsung. Menurut Edward Depari �komunikasi adalah
penyampaian gagasan, harapan dan pesan yang disampaikan pesan ditujukan kepada
penerima pesan� Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa
komunikasi adalah proses penyampaian pesan informasi yang dilakukan oleh dua
orang atau lebih sehingga maksud dan tujuannya dapat dipahami (Mulyana, 2002).� Adapun Indikator
hubungan komunikasi yang baik antara orang tua siswa/ wali murid dengan guru
salah satunya adalah guru pendidikan agama islam adalah diantaranya: Adanya
Keakraban, Adanya Keterbukaan, Adanya Saling Percaya dan Adanya Saling
Keterbukaan. Oleh karena itu, tujuan pendidikan agama Islam terpenuhi ketika
atau setelah pendidikan Islam berlangsung (Husain, 1997).
2.
Pendidikan Agama Islam
Berbagai pendapat dan
ketentuan hukum tentang pendidikan (termasuk pendidikan agama Islam)
menunjukkan bahwa pendidik Islam harus menjalankan tugasnya secara luas di
samping berbagai standar dan persyaratan. Secara singkat, tugas pendidikan
Islam dapat didefinisikan secara jelas sebagai: tugas mensosialisasikan dan
menginternalisasikan ajaran Islam kepada peserta didik. Sosialisasi dan
internalisasi ajaran Islam tidak hanya diukur dari kandungan materi tauhid,
ajaran, tafsir, hadits, akhlak, dan lain-lain dalam pembelajaran, tetapi juga
lebih luas lagi, yaitu upaya untuk membuat seseorang memahami dan mengenali
keberadaan dirinya dan melibatkan dirinya. di dalamnya Kepada Allah, misalnya
melalui pengajaran, kimia, fisika, pengenalan alam, lingkungan, dll, termasuk
mensosialisasikan dan menginternalisasi makna ajaran Islam. Tujuan yang ingin
dicapai meliputi pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan
kepribadian (emosional). Tujuan pendidikan Islam adalah sebagai standar untuk
mengukur dan mengevaluasi tingkat pencapaian dalam proses pelaksanaan dan hasil
pendidikan Islam itu sendiri. Dalam pandangannya, rumusan dan penetapan tujuan
pendidikan agama Islam memiliki atau memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Membimbing
umat manusia menjadi khalifah bumi dengan mengemban tugas memakmurkan dan
mengolah bumi sesuai dengan kehendak Allah SWT, Membimbing umat manusia untuk
mewujudkan segala perwujudan kekhalifahan di muka bumi ini dilakukan dalam
rangka taqwa/ibadah kepada Allah SWT, sehingga tugas tersebut terasa mudah
untuk dilaksanakan, mengembangkan dan membimbing potensi akal, jiwa dan raga
untuk memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang dapat digunakan untuk
mendukung ketakwaan dan tugas kekhalifahan, memelihara dan membimbing potensi
pikiran, jiwa, dan tubuh, memberinya segala pengetahuan, moral, dan
keterampilan yang dapat digunakan untuk mendukung ketakwaan dan misi khalifah,
dan membimbing umat manusia menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat (Syar�i, 2020).
3.
Orang Tua/Wali Murid
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, orang tua dalam arti khusus adalah orang, yaitu ayah dan ibu.
Setiap orang tua adalah orang dewasa, tetapi tidak sebaliknya, ia mampu dan mau
bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya. Orang tua adalah pendidik utama.
Orang tua adalah alami atau alami. Orang tua secara alamiah memiliki kekuatan
dan kelayakan untuk mendidik anaknya, karena perkembangan masyarakat yang
semakin teknologi, dan terdapat perbedaan dan spesialisasi dalam kehidupan
orang tua yang menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan formal (Duroibah, 2021). Pendidikan dalam keluarga sebagai suatu proses, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan orang tua dalam melaksanakan tugas
pendidikan (Pratiwi, 2017). Soewarno mengatakan: Hubungan orang tua-anak yang dapat
merusak perkembangan anak harus dihindari. Orang tua perlu mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan tambahan dalam mendidik anak-anaknya. Sekalipun
orang tua secara naluriah memiliki kemampuan ini, orang tua tidak boleh
melakukan hal yang salah, seperti sebagai terlalu lemah, terlalu lemah Lembut,
keras, ramah dan berpenampilan sikap, menyediakan peralatan materi sebanyak
mungkin, orang tua perlu meluangkan waktu untuk bertemu dengan anak-anaknya
untuk menciptakan suasana kekeluargaan yang penuh kasih sayang agar kehidupan
emosional anak berkembang dengan baik (Jasiah, 2008).�
Fungsi dan tanggung jawab
orang tua dalam pendidikan anak-anaknya. Orang tua memegang peranan penting dan
sangat berpengaruh dalam keberhasilan pendidikan seorang anak. Oleh karena itu,
tanggung jawab tersebut pada dasarnya tidak dapat dipikul oleh orang lain,
karena guru atau pendidik lain hanya mengambil bagian dalam tanggung jawab
pendidikan (Rhamadany, 2021).� Menurut Zakiah
Daradjat, tanggung jawab pendidikan Islam sebagai orang tua setidaknya harus
dalam bidang-bidang berikut: Membesarkan dan membesarkan anak-anak. Ini adalah
bentuk tanggung jawab paling sederhana dari setiap orang tua dan dorongan alami
untuk mempertahankan keberadaan manusia, untuk melindungi dan memastikan
kesetaraan fisik dan spiritual, dari segala macam penyakit, dan menyimpang dari
tujuan hidup sesuai dengan filosofi dan tujuan hidup. . Menyediakan kurikulum
yang luas yang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan yang seluas-luasnya dan setinggi mungkin untuk
membuat anak-anak bahagia di dunia dan di masa depan. Perspektif dan tujuan
hidup Muslim (Zakiah, 1992).� Penelitian ini
menggunakan pendekatan campuran atau biasa disebut dengan pendekatan campuran.
Implementasi pendekatan hybrid ini menggabungkan metode penelitian kuantitatif
dan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah menggunakan strategi interpretasi
sekuensial. Penelitian campuran adalah proses pengumpulan, analisis dan
pencampuran metode kuantitatif dan kualitatif dalam studi atau serangkaian
studi untuk memahami pertanyaan penelitian. Penelitian dilakukan di Jalan
Selamat SDN 1 Sembuluh 1, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan. Subjek
dalam penelitian ini adalah seluruh wali atau orang tua siswa kelas 4 dan kelas
5 di SDN 1 Sembuluh 1 dan SDN 2 Telaga Pulang Kecamatan Danau Sembuluh
Kabupaten Seruyan. Sedangkan subjek penelitian ini adalah guru pendidikan agama
Islam di SDN 1 Sembuluh 1 dan guru pendidikan agama Islam di SDN 2 Telaga Rumah
di Kabupaten Seruyan kecamatan Danau Sembuluh.�
Populasi dalam penelitian� jumlah
keseluruhan siswa di kelas 4 dan kelas 5 di SDN 1 Sembuluh 1� Kecamatan Danau Sembuluh Kabupaten
Seruyan� berjumlah 45 orang siswa dan
keseluruhan siswa kelas 4 dan kelas 5 di SDN 2 Telaga Pulang kecamatan danau
sembuluh kabupaten seruyan berjumlah 50 orang siswa, sebagaimana tabel dibawah
ini.
Tabel 1.
Data Siswa Kelas 4 Dan Kelas 5 Di SDN 1 Sembuluh 1 Kecamatan
Danau Sembuluh Kabupaten Seruyan
|
No |
Kelas |
Jumlah Siswa |
|
1 |
4 |
25 |
|
2 |
5 |
20 |
|
|
Jumlah Keseluruhan |
45 |
Tabel 2.
Data Siswa Kelas 4 Dan
Kelas 5 Di SDN 2 Telaga Pulang Kecamatan Danau Sembuluh Kabupaten Seruyan
|
No |
Kelas |
Jumlah Siswa |
|
1 |
4 |
27 |
|
2 |
5 |
23� |
|
|
Jumlah Keseluruhan |
50
|
Sampel penelitian ini
adalah porsi dan kuantitas serta karakteristik yang dimiliki oleh populasi.
Jenis sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Purposeful
sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan beberapa pertimbangan. Sampel
penelitian ini adalah siswa kelas IV dan V, dengan melihat kurikulum berbasis
standar yang menjadi acuan penelitian komunikasi pendidikan evaluasi guru PAI
dan wali murid di masa pandemi Covid-19: Diutamakan orang tua/wali murid
terkhusus kelas IV dan kelas V, Orang tua/ wali murid beragama islam , dan
Orang tua/ wali murid terdata di sekolah yang diteliti. Teknik pengumpulan data
dalam penelitian ini adalah teknik atau metode yang digunakan peneliti untuk
mengumpulkan data yang relevan dengan pertanyaan penelitian. Adapun teknik
pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut: dengan menggunakan
angket/kuesioner, wawancara dan dokumentasi adapun hasil hipotesis dalam
penelitian ini adalah adanya perbandingan yang signifikansi perbandingan antara
keduanya di SDN 1 Danau Sembuluh 1 Dan SDN 2 Telaga Pulang Kecamatan Danau
Sembuluh Kabupaten Seruyan.
Kesimpulan
Komunikasi
adalah hubungan umum yang melibatkan berbagai kegiatan dari berbagai individu. Komunikasi
tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena dapat terjadi kapan saja dan dimana
saja selama proses interaksi masih berlangsung. Dalam arti, komunikasi adalah
interaksi atau kerjasama yang tercipta antara dua pihak, baik antara
orang-orang atau antara objek-objek yang terjalin secara luas.
Guru
menjadi pendidik karena statusnya, dan atas dasar ini guru bertanggung jawab
atas pendidikan siswa. Hadari nawawi menganugerahkan makna guru dalam dua
pengertian. Dalam arti sempit, guru berkewajiban untuk menyadari bahwa rencana
kelas adalah orang yang bertugas mengajar dan menyampaikan pelajaran di
sekolah/kelas. Dalam arti luas, guru adalah seseorang yang bekerja di bidang
pendidikan dan pengajaran yang juga bertanggung jawab untuk membantu anak
mencapai tingkat kedewasaannya masing-masing. Guru juga merupakan faktor yang
sangat penting dalam terselenggaranya pendidikan yang berkualitas di sekolah.
Tugas
dan fungsi orang tua untuk merawat dan membesarkan anak-anaknya, melindungi dan
menjamin kesetaraan jasmani dan rohani dari berbagai penyakit, serta menyimpang
dari tujuan hidup sesuai dengan falsafah hidup dan keyakinan agama yang
dianutnya. , Memberikan pengertian yang luas tentang Kurikulum yang memberikan
kesempatan kepada anak untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
seluas-luasnya dan setinggi-tingginya untuk membahagiakan anak di dunia dan di
akhirat, sejalan dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.
Anwar, A.
(1995). Ilmu Komunikasi (Sebagai Pengantar Ringkas). Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. Google Scholar
Duroibah,
B. (2021). Peran Orang Tua dlam Pembelajaran Online di Rumah (Studi Kasus di
Paud Tunas Ceria Desa Pulotondo). IAIN Tulungagung. Google Scholar
Effendi, O.
U. (2007). Ilmu Komunikasi teori dan praktek. Bandung: Remaja
Rosdakarya. Google Scholar
Hamdanah,
H. (2017). Bunga Rampai Ilmu Pendidikan Islam. Banjarmasin: Pustaka
Buana. Google Scholar
Husain, H.
(1997). Manajement Menurut Islamologi. Jakarta: Gema Insani Press.
Jasiah.
(2008). Pengantar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Byakta Cendikia.
Karima, M.
K. (2021). Pengembangan Model Komunikasi Pembelajaran Berbasis Qaulan dalam
Peningkatkan Karakter Integritas Mahasiswa. UNIMED. Google Scholar
Lumban
Siantar, M. (2022). Pengaruh Kepemimpinan Guru dan Komunikasi Guru Terhadap
Keaktifan Siswa dalam Proses Belajar di SMK Negeri 1 Kota Jambi.
Universitas Jambi. Google Scholar
Masdul, M.
R. (2018). Komunikasi pembelajaran. IQRA Jurnal Ilmu Kependidikan Dan
Keislaman, 13(2), 1�9. https://doi.org/10.56338/iqra.v13i2.259. Google Scholar
Mulyana, D.
(2002). Ilmu komunikasi suatu pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Google Scholar
Parnawi, A.
(2018). Kompetensi Sosial Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan
Prestasi Siswa. FENOMENA, 10(1), 27�40.
https://doi.org/10.21093/fj.v10i1.1180. Google Scholar
Pratiwi, N.
K. (2017). Pengaruh tingkat pendidikan, perhatian orang tua, dan minat belajar
siswa terhadap prestasi belajar bahasa indonesia siswa smk kesehatan di kota
tangerang. Pujangga: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 1(2), 75�105.
https://doi.org/10.47313/pujangga.v1i2.320. Google Scholar
Rhamadany,
E. (2021). Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seks Anak (Studi Kasus Kelurahan
Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu). UIN FAS Bengkulu. Google Scholar
Syar�i, A.
(2020). Filsafat Pendidikan Islam (Edisi Revisi). Palangkaraya: CV
Narasi Nara. Google Scholar
Zakiah, D.
(1992). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Google Scholar
Zazin, N.
(2018). Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan Islam. Malang: Edulitera. Google Scholar
|
Copyright holder : Rapika Nor Cayani, Muslimah (2022) |
|
First publication right : This article is licensed under: |