Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3, No. 9, September 2022

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENERAPANNEURO LINGUISTIC PROGRAMMING (NLP) DALAM KECERDASAN EMOSIONAL UNTUK KEBERHASILAN SISWA

 

Asep Sutisna Sanjaya

Universitas Nusa Putra Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia

Email: [email protected]

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

13 Agustus 2022

Direvisi

16 September 2022

Disetujui

23 September 2022

Tujuan penelitian ini yaitu untuk menemukan kebenaran melalui penerapan neuro linguistic programming dalam kecerdasan emosional dapat meningkatkan keberhasilan siswa. Hasil dalam best practices ini adalah kualitatif dari hasil atau efek dari keberhasilan perubahan tingkah laku pada siswa, dan kuantitatif untuk mengukur keberhasilan dalam bidang akademiknya yang merupakan pengaruh dari penerapan neuro linguistic programming dalam kecerdasan emosional siswa.Pelaksanaan pada best practices ini adalah seluruh siswa kelas VI C yang merupakan siswa sendiri yang setiap hari saya ajar. Dilaksanakan di SDN Pisangan Baru 01, yang berlokasi tepatnya di Jalan Jendral Ahmad Yani No. 30 Kelurahan Pisangan Baru Kecamatan Matraman Kota Administrasi Jakarta Timur. Dengan penerapan neuro linguistic programmingdalam kecerdasan emosional siswa mempunyai hasil secara Kualitatif (1) Lebih mengenal siapa dirinya, dimana dirinya, dan mau kemana dirinya (2) Memiliki arti hidup (3) Mengenal apa tujuan hidupnya dan apa yang harus dilakukannya (4) Tau bagaimana cara memperlakukan orang di sekitarnya, temannya, adik kelasnya, gurunya, orang tuanya bahkan orang lain yang ia temukan (5)Lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya (6)Lebih memaknai hidup, sedangkan secara Kuantitatif ada peningkatan hasil belajarnya dengan rata-rata nilai Ilmu Pengetahuan Alam 73,70 yang sebelumnya rata-rata nilai 63,20.

 

ABSTRACT

The purpose of these best practices is to find truth through the application of neuro linguistic programming in emotional intelligence can increase student success. The result in this best practice is qualitative results or effects of successful changes in behavior in students, and the quantitative measure of success in the academic field which is the influence of the application of neuro linguistic programming in emotional intelligence of students. C who is a student who teaches himself every day. Conducted at Pisangan Baru SDN 01, located precisely on Jalan Jendral Ahmad Yani No. 30 Pisangan Baru Village, Matraman District, East Jakarta Administrative City. With the application of neuro linguistic programming in emotional intelligence students have results qualitatively (1) More who they are, where they are, and where they want to be (2) Having the meaning of life (3) Knowing what their goals are and what to do (4) Tau how to treat the people around him, his friends, his younger siblings, his teacher, his parents and even other people he met (5) more sensitive to what is happening around him (6) more meaningful life, while quantitatively there is an increase in learning outcomes with an average Natural Knowledge Score 73.70 which previously averaged 63.20.

Kata Kunci:

Neuro Linguistic Programming, Kecerdasan Emosional, Keberhasilan Siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keywords:

Neuro Linguistic Programming, Emotional Intelligence, Student Success.

 


Pendahuluan

Pembelajaran di sekolah merupakan salah satu unsur penentu baik buruknya lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan di Indonesia (Kusdiyatun, 2016). Pembelajaran yang efektif akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, sebaliknya pembelajaran yang monoton menghasilkan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan terutama satuan pendidikan (Sahid & Rachlan, 2019). Khususnya di SDN Pisangan Baru 01 dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam masih dibawah target dengan KKM 70 siswa Kelas VI masih mempunyai rata-rata 63,20 dengan 12 siswa yang belum mencapai KKM sehingga masih jauh dari apa yang diharapkan.

Keberhasilan siswa tidak hanya dilihat dari hasil akademiknya saja, kita perlu sadari bahwa banyak potensi lain yang dimiliki siswa terutama akhlak mulia harus dijadikan acuan utama dalam tujuan dalam pembelajaran sehingga hasilnya akan menjadi acuan tercapainya tujuan pendidikan nasional (Parendrarti, 2009).

Di SDN Pisangan Baru 01 khususnya masih mengedepankan keberhasilan akademiknya saja dari siswa tersebut padahal banyak faktor yang bisa dipandang sebagai keberhasilan siswa mulai dari cara berkomunikasinya, potensi-potensi dan bakat yang dimilikinya maupun kecerdasan emosionalnya yang mampu mengembangkan dirinya di masa depan siswa untuk keberhasilan dalam kehidupannya.

Kemampuan berpikir menggunakan otak kiriyang kelihatannya nyata melalui hasil belajarnya, masih dipandang perlu demi tercapainya kualitas pendidikan berkualitas dan berkarakter (Margianti, 2018), padahal seharusnya tidak hanya memandang dari intelektualnya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupannya sehari-hari untuk mencapai tujuan hidup siswa (Baharun, 2015).

Pendidikan yang memiliki tujuan yaitu membantu manusia untuk cerdas dan pintar secara akademik dan membantu menjadi manusia yang baik dan berakhlak mulia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional (Digdoyo, 2019).

Siswayang pintar menjadi salah satu tujuan utama dari berbagai sekolah dan itu mudah dalam menilai dan mengukurnya, tetapi menjadikan manusia menjadi yang baik, arif dan bijaksana dalam kehidupannya dipandang sulit, dengan demikian wajarlah moral dan karakter siswa menjadi suatu masalah dalam kehidupan sekarang ini terutama generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa yang akan menjadi pemimpin bangsa dikemudian hari.

Kondisi pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan banyak siswa yang mempunyai kemampuan kognitif pintar dalam segala hal baik dalam pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun keterampilan, namun masih banyak siswa tidak mampu mengontrol emosi dan berperilaku yang baik sehingga moral dari siswa tersebut sangatlah lemah (Harahap & Turnip, 2020). Salah satu contoh yang sering kita temui maupun kita dengar perilaku-perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh siswa misalnya perkelahian antar pelajar, bolos sekolah, pemakai dan pengedar narkoba, itulah yang menjadi rendahnya moral siswa yang perlu menjadi perhatian khusus. Oleh karena itu pendidikan di indonesia memerlukan jalan keluar yang tepat yaitu pendidikan moral dan karakter setiap sekolah di seluruh wilayah indonesia agar peserta didik di sekolahnya tidak hanya dituntut untuk unggul dalam kognitifnya saja dengan mengabaikan afektif yang akan membuat siswa mempunyai akhlak dan moral yang baik sehingga kehidupannya lebih baik di masa yang akan dating (Mulyasa, 2022).

Kecerdasan emosional siswa sangat perlu diarahkan dan dibimbing di tengah kemerosotan akhlak dan moral bangsa ini. Seorang siswa harus mampu memahami tentang dirinya sendiri dan memahami lingkungan sekitarnya sehingga apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya yaitu fitrah dari yang Maha Kuasa.

Penanaman moral pada diri siswa haruslah menjadi sorotan dan isu utama dalam penyelenggaraan pendidikan demi masa depan siswa, jangan hanya mengedepankan akademiknya saja sampai tak menghiraukan terserah jadi apa siswanya tersebut di kemudian hari setelah lulus dari sekolahnya (Suprayitno & Wahyudi, 2020).

Guru di kelas kadang hanya melihat dari satu sisi siswa saja dimana siswanya di tekan harus bisa ini itu, artinya hanya memandang intelektualnya saja sedangkan karakter dan baik itu terabaikan yang penting siswa tercapai tujuan pembelajarannya.

Dalam hal ini perlu ada pemikiran yang serius sehingga ada seseorang yang mampu memotivasi maupun memberikan kata-kata yang bisa masuk kedalam diri siswa sehingga siswa tersebut bisa percaya dengan apa yang dia dengar sehingga potensi terbaik dalam diri siswa tersebut dengan berbagai stimulus bisa menampakan dan bisa tergali sehingga siswa tersebut mampu memahami apa arti kehidupannya itu.

Pendidikan karakter merupakan cara untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan akhlak mulia, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata siswa dalam berperilaku yang baik, jujur, bertanggung jawab, saling menghormati, kerja keras, dan sebagainya (Suwartini, 2017).

Di lapangan untuk penanaman karakter ini masih belum maksimal kadang tidak mudah mencari alat ukur untuk mengetahui keberhasilan akhlak siswa itu, tak jarang setiap sekolah hanya mengabaikannya saja dikarenakan selalu mengedepankan akademiknya saja, sekolah yang bagus adalah sekolah yang mampu menjuarai berbagai lomba yang diadakan oleh pemerintah misalkan OSN, O2SN dan FLS2N, namun masih banyak yang mengabaikan karakter siswanya baik dalam dirinya sendiri siswa maupun dengan teman sebayanya.

Pendidikan moral merupakan sebuah bantuan sosial agar individu itu dapat bertumbuh dan menghayati bebas dalam hidup bersama dengan orang lain dengan bertindak sesuai norma dan kaidah agama. Pendidikan karakter, bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang baik dan berakhlak untuk kehidupannya (Efendi & Ningsih, 2022).

Di era global industri 4.0 seperti sekarang ini ditandai dengan maraknya budaya asing yang masuk ke wilayah Indonesia, dengan era globalisasi. Ikut-ikutan gaya hidup, pakaian yang tidak sesuai norma, demam musik bule, minum-minuman keras, dan mudahnya mengakses internet yang banyak mengandung hal-hal negatif tidak hanya kaum remaja, tetapi anak usia dini sudah mampu mengoperasikannya.

Perlu adanya perubahan pola pikir dari pemerintah maupun sekolah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya terletak pada moral individu siswa. Sehingga pendidikan moral dan akhlak harus dimulai sejak kecil dalam keluarga, karena yang pertama kali dikenal sejak dia lahir, kemudian lingkungan sekolah yang menjadi keseharian tempat siswa dalam mencari ilmu (Syarbini, 2014).

Lingkungan keluarga berpengaruh sangat penting karena lingkungan awal dibentuk karakter siswa. lalu sekolah, masyarakat, serta media elektronik yang selalu memberikan informasi yang baik (Karo-Karo, 2014), dapat membedakan mana yang baik dan buruk, tau tentang mana yang benar dan mana yang tidak layak, mampu merasakan hal-hal yang baik dan merasakannya, bukan saja aspek kognitif yang layak dan mampu merasakan perlakuan yang baik, dan berperilaku sesuai norma agama yang dianutnya. Pembelajaran karakter mengharuskan yang secara terus menerus dilakukan dan dilaksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya supaya hasilnya kelihatannya nyata dalam bermasyarakat.

Pada zaman sekarang guru tidak bisa mengajar dengan cara yang lama dimana semua siswa akan menurut apa yang dikatakan siswa, dan penanaman moral tidak bisa sembarangan dilakukan oleh seorang guru, guru harus mampu menggunakan kata-kata yang bisa mengena pada kondisi siswa yang ada di kelasnya, dan seorang guru juga harus mampu memahami apa yang di mau dan dikehendaki oleh siswa tersebut (Fahrudin, 2021).

Neuro linguistic programming adalah penggunaan kata-kata secara lisan untuk menarik lawan bicara supaya bisa sesuai dengan kemauan si pembicara tersebut (Amalia, 2022). Seorang guru harus mampu menjadi pemikat bagi siswa artinya supaya siswa mau mengikuti dan menjadi teladan bagi siswanya tersebut, mengikuti disini tentulah dengan hal-hal yang baik yang sesuai dengan moral dan tujuan dari pendidikan nasional kita, sehingga dalam penyampaian materi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dalam tersampaikan dengan baik (Qomariyah, 2009).

Tujuan dari best practices ini penulis untuk menemukan ketepatan melalui penerapan Neuro linguistic programming dalam kecerdasan emosional dapat meningkatkan keberhasilan siswa secara kualitatif maupun secara kuantitatif.

 

Metode Penelitian

Penelitianinimenggunakanmetodekombinasi/ mixedmethod,yaitu metodepenelitianyangmenggabungkan metode kualitatif dan Metode kuantitatif. kualitatif berfungsi untuk menghasilkan model hipotetik dan menganalisis pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model hipotetik pada saat uji coba. Hasil ujicobapenggunaanmodelhipotetikkemudiandianalisisdenganmenggunakanmetodekuantitatif. Metode kuantitatif yang digunakan adalah eksperimen semu untuk menguji keefektifan model pembelajaran NLPberorientasikecerdasan emosional untuk keberhasilan siswa.

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Hasil Penelitian

Dengan penerapan neuro linguistic programmingdalam kecerdasan emosional siswa mempunyai hasil secara kualitatif:

1.    Lebih mengenal siapa dirinya, dimana dirinya, dan mau kemana dirinya.

2.    Memiliki arti hidup

3.    Mengenal apa tujuan hidupnya dan apa yang harus dilakukannya

4.    Tau bagaimana cara memperlakukan orang di sekitarnya, temannya, adik kelasnya, gurunya, orang tuanya bahkan orang lain yang ia temukan

5.    Lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya

6.    Lebih memaknai hidup

Data hasil perubahan pada siswa diperoleh dari beberapa informasi sebagai berikut :

1.    Laporan baik dari orang tuanya saat rapat wali murid.

2.    Wawancara langsung terhadap beberapa wali murid.

3.    Laporan dari wakil kepala sekolah bidang kesiswaan

4.    Tanggapan dari teman sejawat

Deskripsi informan sebagai berikut:

1.    Bapak Irfan salim, S.Pd (Guru kelas sebelumnya) �Anak-anak calon kelas VI ini hanya takut pada guru kelasnya, tapi kadang guru kelasnya juga tidak dihiraukan�. �Sering mengerjai guru bidang mulai dari bersembunyi di di lemari, membuat jebakan dan ngobrol serta bercanda saat pembelajaran�

2.    Ibu Sukmaliyah, S.Pd.I (Guru Agama Islam) �Saya takluk pak dengan anak-anak ini saya sering di kerjai saat saya masuk kelas beberapa siswa bersembunyi di dalam lemari lalu mengagetkan saya, saya mau minta sama kepala sekolah nanti saya tidak mengajar kelas ini, tukeran dengan guru agama islam yang lain�

3.    Bapak Mohamad Ridwan, S.Pd (Guru PJOK) �Anak-anak ini dalam pembelajaran olah raga sering sekali iseng terhadap teman yang lainnya misalkan menendang bola kearah wajah atau badan temannya, sampai anak tersebut menangis, dalam pelaksanaan senam malah berkumpul ngobrol dengan teman lainnya�

4.    Ibu Putri Merryanti, S.Pd (Guru Bahasa Inggris) �Pak, tinggi anak-anak kelas ini kan lebih dari saya kadang saya diejek secara verbal dengan anak-anak ini, dan dalam pembelajaran pun mereka hanya bercanda, kadang bolak-balik kamar mandi padahal mereka ke kantin atau hanya main air d kamar mandi�

Data informan setelah pelaksanaan Neuro linguistic programming (NLP)

1.    Ibu Dewita Lenny (wali murid dari Ahmad Haidar Ali) �Pak mohon maaf, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak anak saya sekarang berubah di rumah mau berangkat ngaji, mau membantu orang tua dalam pekerjaan rumah dan lebih penurut�

2.    Ibu Nilawati (Guru Kelas VI A) �Saya pernah mengajar di kelas pak asep, anak-anaknya tertib dan menghargai saya dengan baik bahkan setelah pembelajaran mengucapkan terima kasih�

3.    Ibu Hj. Emma Yusfa, S.Pd (Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan) �Kelas VI C sekarang sudah tidak ada lagi catatan tentang kejadian yang menyimpang dan sudah tidak ada lagi yang terlambat datang kesekolah�

4.    Bapak Nawawi, S.Pd �Dalam pembelajaran agam Islam anak-anak sangat antusias, aktif dalam bertanya bahkan mereka senang jika bercerita tentang kisah nabi dan tentang hafalan surat-surat�

5.    Bapak Mohamad Ridwan, S.Pd �Anak-anak sangat antusias dalam upacara dan senang jika diberi tugas menjadi petugas upacara, dan saat senam tidak ada lagi yang bercanda dan ngobrol dengan teman yang lainnya�

6.    Ibu Putri Merryanti, S.Pd �Saat ini mengajar kelas VI C sangat dihargai oleh anak-anak mereka sangat santun bahkan saat saya membawa tas dan media pembelajaran mereka dengan senang hati membantu saya.

Neuro linguistic programming sangat efektif untuk merubah pola pikir siswa yang awalnya negatif menjadi positif dalam pencapaian tujuan apa yang diinginkannya. Selain itu NLP merupakan salah satu cara memetakan proses yang terjadi di dalam otaknya berdasarkan pengalaman-pengalamannya yang ada di otaknya untuk mencapai tujuannya dengan melalui bahasa (linguistic).

Keberhasilan NLP juga untuk mengatasi kebosanan siswa dalam belajar, kecemasan terhadap ujian serta menjadikan semua yang terjadi dalam lingkungannya merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi siswa tersebut.

Tipe siswa yang ada di dalam kegiatan ini terdiri dari tiga tipe yaitu: visual, auditori dan kinestetik, jadi harus memahami sebelum melakukan NLP ini tipe mana yang ada didalam diri siswa tersebut supaya dalam pelaksaannya bisa menyesuaikan dengan apa yang ada di dalam diri siswa tersebut.

Mengetahui ketiga tipe tersebut sangatlah penting bagi guru sehingga dalam prakteknya tidak mendapat kesulitan, kemudian siswa di pandu dengan kata-kata yang disampaikan oleh guru :

Sekarang silahkan anak-anak mengambil tempat duduk yang nyaman kemudian pejamkan matanya:

Kemudian guru memberikan perintah lewat kata-kata kepada siswa, mulai dari membayangkan hal yang tidak disukai atau pengalaman buruk siswa, lalu kemudian menghapusnya dalam alam bawah sadarnya, sehingga kejadian tersebut benar-benar hilang bahkan jadi menyenangkan.

Setelah itu guru memberikan arahan kepada siswa untuk mencatat pengalam yang telah dilaksanakan tadi lalu memintanya kembali.

Kemudian guru memerintahkan siswa untuk mencatat kembali kejadian menyedihkan tersebut, kemudian memerintahkan siswa untuk membandingkan kejadian tersebut dari yang menyenangkan dan menyedihkan.

Selanjutnya guru membahas bersama siswa bagaimana cara berpikir yang kreatif menyelesaikan masalah yang terjadi saat kejadian menyedihkan tersebut, sehingga siswa menyadari dan memahami bahwa kejadian tersebut hanyalah sebuah masa lalu.

Kemudian guru memberikan energi positif melalui seseorang yang diidolakannya siswa tersebut:

Guru memberikan arahan untuk membayangkan yang siswa idolakan atau kagumi. �sekarang bayangkan orang yang paling kamu sayangi maupun kagumi selama hidup ini. Dan sekarang rasain kamu bersamanya dengan perasaan yang kamu rasakan itu. Kamu dengan jelas melihat orang yang kamu sayangi dan kagumi tersebut. Sekarang kamu masuk kedalamnya, rasakan menjadi dirinya, sehingga kamu tahu apa yang dirasakannya dan perilaku yang dilakukannya. Dan kamu tahu cara melakukan sesuatu yang sangat berharga. Dan kamu tau alasan melakukan itu. Dan semangat itu yang akan memicu kamu untuk melakukannya. Dalam hitungan lima kamu tersadar dengan penuh semangat yang berada di diri orang tersebut. lima, tarik nafas panjang... hembuskan perlahan dan lepas... empat, gerakan jarimu, dan hadirkan kamu secara utuh, kamu mulai sadar dengan keadaan nyatanya dua, siap-siap untuk membuka mata satu, silahkan buka mata kamu, dan rasakan kondisi tubuh yang segar, bugar, sehat, dan sangat positif.

Keberhasilan siswa setelah mendapatkan penerapan neuro linguistic programming secara Individu sebagai berikut


 

Tabel 1.

Keberhasilan Siswa Secara Kualitatif

 

No

 

 

Sebelum

Sesudah

Keterangan Informasi

1

Banyak siswa terlambat

 

Tidak ada lagi siswa terlambat

Wakil Kepala Sekolah dan guru piket

2

Tidak mau piket kelas (minggat)

 

Semua siswa piket kelas sesuai hari nya

Siswa dalam satu kelompok

3

Berantem dengan teman lainnya

 

Lebih menghargai temannya

Siswa di kelasnya

4

Menyepelekan guru

 

Hormat terhadap guru

Guru bidang studi

5

Bertindak sesuka hati di dalam kelas

 

Tertib dalam pembelajaran maupun waktu istirahat

Guru Kelas

6

Tidak mau upacara, senam dan pembiasaan

Giat dalam kegiatan sekolah

Guru Olah raga


 


Table 2.

Keberhasilan dalam Kedisiplinan

Aspek

Indikator Tercapai

1.       Pikiran

1)      Menghargai waktu pengerjaan tugas

2)      Menaruh perhatian terhadap ancangan kesempurnaantugas

3)      Konsentrasi mengerjakan tugas

4)      Mencari informasi yang berkaitan dengan tugas

5)      Tidak menunda tugas

2.       Perasaan

1)      Senang terhadap tugas

2)      Sangat tertantang oleh tugas

3)      Merasa tetap bersemangat

4)      Menikmati setiap kegiatan

5)      Merasa ingin selalu bermanfaat

3.       Tindakan

 

1)      Tidak terlambat sekolah

2)      Senang dalam piket kelas/ bertanggung jawab

3)      Tepat waktu dalam tugas

4)      Memanfaatkan waktu senggang

5)      Merapihkan semua tugas


 

 


Secara kuantitatif:

a.    Ada peningkatan hasil belajarnya

b.    Perubahan terhadap cara belajarnya


 


Tabel 3.

Rata-rata Hasil Tes Ilmu Pengetahuan Alam

Rata-rata

Nilai Tertinggi

Nilai Terendah

73.70

92.59

33.33

 

 

Gambar 1.

Peningkatan Hasil Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam


Sedangkan ketuntasan klasikal yang tercapai dapat dilihat dari tabel berikut :


 

Tabel 4.

Distribusi Frekuensi Relatif Kumulatif �atau lebih� Nilai Tes Formatif Siswa

No.

Nilai

Frek. Kumulatif

Frek Rel.Kumulatif (%)

1.

30 atau lebih

20

100%

2.

40 atau lebih

20

100%

3.

50 atau lebih

20

100%

4.

60 atau lebih

19

95%

5.

70 atau lebih

17

85%

6.

80 atau lebih

5

25%

7.

90 atau lebih

1

5%

8.

100

0

0%

 

 

 

 


Berdasarkan tabel 1, tabel 2, tabel 3 dan 4 di atas diperoleh keterangan rata-rata hasil evaluasi 73.70namun ketuntasan secara klasikal 85% atau 17 anak yang sudah tuntasbelajar dan 3 anak belum tuntas.


 

B.    Pembahasan

Neuro linguistic programming dalam kecerdasan emosional siswa ini dapat kita maksimalkan dengan memberikan stimulus kepada siswa, memberikan hal-hal baik kepada apa yang siswa lihat, dengar dan siswa rasakan sehingga siswa dapat dengan sendirinya tau apa yang harus dia lakukan.

Siswa mempunyai keinginan untuk maju dan memperjuangkan masa depannya sehingga dia tau apa yang akan dilakukannya, dan dia menyadari bahwa potensi yang ada di dalam dirinya adalah anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Siswa tidak akan menyia-nyiakan hidupnya, ingin kehidupannya lebih berarti , dan keterbatasan yang siswa miliki adalah sebagai motivasi terbesar dalam hidupnya untuk mendorong kehidupan di masa yang akan datang lebih baik lagi.

Kecerdasan emosional yang ada di dalam diri siswa akan lebih mengontrol respon yang akan dilakukan ketika di lingkungannya terjadi apapun juga sehingga kemudian emosi yang ada dalam dirinya akan mudah dikontrol oleh siswa tersebut.

Keberhasilan siswa tidak hanya dilihat dari hasil akademiknya saja, tetapi banyak hal lain yang bisa mendorong siswa untuk lebih baik di dalam kehidupannya, baik secara potensi maupun secara emosi sehingga siswa mensyukuri apa yang dimilikinya sebagai anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada dirinya.

Selain itu dari hasil akademiknya juga ada peningkatan yang signifikan setelah mengetahui apa arti dari apa yang dipelajarinya, untuk masa depannya sehingga siswa semakin sadar akan dirinya sendiri dan potensi yang dimilikinya.

Kesimpulan

Dalam penerapan neuro linguistic programming dalam kecerdasan emosional siswa merupakan strategi mengembangkan pikiran secara intelektual melalui perasaan dan emosional serta social sehingga tujuan dari pendidikan dapat tercapai secara maksimal.

Semua siswa mempunyai semangat belajar yang ingin selalu didorong dari lingkungan sekitarnya. Rasa ingin tahu harus selalu tertanam dalam diri siswa. Dengan rasa ingin tahu tersebut siswa diarahkan untuk mengamati dan melaksanakan apa yang seharusnya ia kerjakan untuk tercapai apa yang diinginkannya. Dengan demikian diharapkan akan tumbuh kemampuan serta dorongan dalam diri siswa tersebut sehingga menemukan cara untuk bangkit dan mencapai apa yang diinginkannya tersebut.

Penerapan neuro linguistic programming dalam kecerdasan emosional siswa mampu mengendalikan siswa dalam hal-hal yang sering dilakukan siswa yang negatif dan tidak bermanfaat, misalnya hal-hal yang iseng terhadap temannya, sampai dibiarkan begitu saja, serta sampai tidak peka terhadap lingkungannya yang mampu mengubah sikap siswa menjadi hal-hal yang positif terhadap masa depannya.

Kedisiplinan yang meningkat mulai dari tidak pernah lagi datang terlambat, selalu mengikuti upacara bendera, senam bersama dan piket kelas bersama teman sekelompoknya.

Dengan penerapan NLP dalam kecerdasan emosional siswa secara kuantitatif juga meningkatkan hasil belajarnya dengan rata-rata dibawah KKM yang awalnya 63,20 menjadi diatas KKM 70 yaitu 73,70 pada mata pelajaran Ilmu pengetahuan Alam.

 

BIBLIOGRAFI

 

Amalia, A. N. (2022). Teknik Berbicara di Depan Umum (Public Speaking) dan Negosiasi. Penerbit NEM. Google Scholar

 

Baharun, H. (2015). Penerapan pembelajaran active learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa di madrasah. PEDAGOGIK: Jurnal Pendidikan, 1(1), 34�46. Google Scholar

 

Digdoyo, E. (2019). Rumah Puspo Budaya Nusantara Sebagai Pusat Pengembangan Pendidikan Karakter Melalui Tari Nusantara. Integralistik, 30(1), 62�99. https://doi.org/10.15294/integralistik.v30i1.20778. Google Scholar

 

Efendi, R., & Ningsih, A. R. (2022). Pendidikan Karakter di Sekolah. Purworejo: Penerbit Qiara Media. Google Scholar

.

Fahrudin, A. (2021). Menjadi Guru Super. Jakarta: Elex Media Komputindo. Google Scholar

 

Harahap, H. S., & Turnip, J. (2020). Pengaruh Metode Inkuiri Terbimbing dan Proyek Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Biologi Siswa di SMP Swasta HKBP Simantin Pane. Bio-Lectura: Jurnal Pendidikan Biologi, 7(1), 23�35. https://doi.org/10.31849/bl.v7i1.4002. Google Scholar

 

Karo-Karo, D. (2014). Membangun Karakter Anak dengan Mensinergikan Pendidikan Informal dengan Pendidikan Formal. Elementary School Journal Pgsd Fip Unimed, 1(2). Google Scholar

 

Kusdiyatun, S. (2016). Pengaruh Iklim Keluarga Terhadap Motivasi Belajar Siswa SD Bonggalan Kecamatan Sanden BantulTahun Pelajaran 2014/2015. Universitas Islam Indonesia. Google Scholar

 

Margianti. (2018). Analisis Gaya Belajar Siswa Berprestasi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas V Sekolah Dasar Negeri I Purwosari Kecamatan Lais Kabupaten Musi Banyuasin. UIN Raden Fatah Palembang. Google Scholar

 

Mulyasa, H. E. (2022). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara. Google Scholar

 

Parendrarti, R. (2009). Aplikasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams-Games-Tournament) Dalam Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009. Universitas Muhammadiyah Surakarta Perpustakaan. Google Scholar

 

Qomariyah, S. (2009). Implementasi Metode Ketauladanan Mata Pelajaran Akidah Akhlak dalam Membentuk Tingkah Laku Siswa di MTS Negeri Karangrejo Tulungagung. Google Scholar

 

Sahid, D. R., & Rachlan, E. R. (2019). Pengelolaan Fasilitas Pembelajaran Guru dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Indonesian Journal of Education Management & Administration Review, 3(1), 24�39. https://doi.org/10.4321/ijemar.v3i1.2945. Google Scholar

 

Suprayitno, A., & Wahyudi, W. (2020). Pendidikan karakter di era milenial. Sleman: Deepublish. Google Scholar

 

Suwartini, S. (2017). Pendidikan karakter dan pembangunan sumber daya manusia keberlanjutan. Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 4(1), 220�234. https://doi.org/10.30738/trihayu.v4i1.2119. Google Scholar

 

Syarbini, A. (2014). Model pendidikan karakter dalam keluarga. Jakarta: Elex Media Komputindo. Google Scholar


 


Copyright holder :

Asep sutisna sanjaya (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: