|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 3,
No. 9, September 2022 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PENERAPAN� NEURO
LINGUISTIC PROGRAMMING (NLP) DALAM KECERDASAN EMOSIONAL UNTUK KEBERHASILAN
SISWA
Asep Sutisna
Sanjaya
Universitas Nusa Putra Sukabumi,
Jawa Barat, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima
13 Agustus 2022 Direvisi 16 September 2022 Disetujui 23 September 2022 |
Tujuan
penelitian ini yaitu untuk menemukan kebenaran melalui penerapan neuro
linguistic programming dalam kecerdasan emosional dapat meningkatkan
keberhasilan siswa. Hasil dalam best practices ini adalah kualitatif dari
hasil atau efek dari keberhasilan perubahan tingkah laku pada siswa, dan
kuantitatif untuk mengukur keberhasilan dalam bidang akademiknya yang
merupakan pengaruh dari penerapan neuro linguistic programming dalam
kecerdasan emosional siswa.Pelaksanaan pada best practices ini adalah seluruh
siswa kelas VI C yang merupakan siswa sendiri yang setiap hari saya ajar.
Dilaksanakan di SDN Pisangan Baru 01, yang berlokasi tepatnya di Jalan
Jendral Ahmad Yani No. 30 Kelurahan Pisangan Baru Kecamatan Matraman Kota
Administrasi Jakarta Timur. Dengan penerapan neuro linguistic
programming� dalam kecerdasan emosional
siswa mempunyai hasil secara Kualitatif (1) Lebih mengenal siapa dirinya,
dimana dirinya, dan mau kemana dirinya (2) Memiliki arti hidup (3) Mengenal
apa tujuan hidupnya dan apa yang harus dilakukannya (4) Tau bagaimana cara
memperlakukan orang di sekitarnya, temannya, adik kelasnya, gurunya, orang
tuanya bahkan orang lain yang ia temukan (5)Lebih peka terhadap apa yang
terjadi di sekelilingnya (6)Lebih memaknai hidup, sedangkan secara
Kuantitatif ada peningkatan hasil belajarnya dengan rata-rata nilai Ilmu
Pengetahuan Alam 73,70 yang sebelumnya rata-rata nilai 63,20. ABSTRACT The purpose of these best practices is to
find truth through the application of neuro linguistic programming in
emotional intelligence can increase student success. The result in this best
practice is qualitative results or effects of successful changes in behavior
in students, and the quantitative measure of success in the academic field
which is the influence of the application of neuro linguistic programming in
emotional intelligence of students. C who is a student who teaches himself
every day. Conducted at Pisangan Baru SDN 01, located precisely on Jalan
Jendral Ahmad Yani No. 30 Pisangan Baru Village, Matraman District, East
Jakarta Administrative City. With the application of neuro linguistic
programming in emotional intelligence students have results qualitatively (1)
More who they are, where they are, and where they want to be (2) Having the
meaning of life (3) Knowing what their goals are and what to do (4) Tau how
to treat the people around him, his friends, his younger siblings, his
teacher, his parents and even other people he met (5) more sensitive to what
is happening around him (6) more meaningful life, while quantitatively there
is an increase in learning outcomes with an average Natural Knowledge Score
73.70 which previously averaged 63.20. |
|
Kata
Kunci: Neuro Linguistic Programming, Kecerdasan
Emosional, Keberhasilan Siswa. Keywords: Neuro Linguistic Programming, Emotional
Intelligence, Student Success. |
Pendahuluan
Pembelajaran di sekolah merupakan salah satu unsur
penentu baik buruknya lulusan yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan di
Indonesia (Kusdiyatun, 2016). Pembelajaran yang efektif
akan menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, sebaliknya pembelajaran yang
monoton menghasilkan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan
terutama satuan pendidikan (Sahid & Rachlan, 2019). Khususnya di SDN Pisangan
Baru 01 dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam masih dibawah target dengan
KKM 70 siswa Kelas VI masih mempunyai rata-rata 63,20 dengan 12 siswa yang
belum mencapai KKM sehingga masih jauh dari apa yang diharapkan.
Keberhasilan siswa tidak hanya dilihat dari hasil
akademiknya saja, kita perlu sadari bahwa banyak potensi lain yang dimiliki
siswa terutama akhlak mulia harus dijadikan acuan utama dalam tujuan dalam
pembelajaran sehingga hasilnya akan menjadi acuan tercapainya tujuan pendidikan
nasional (Parendrarti, 2009).
Di SDN Pisangan Baru 01 khususnya masih
mengedepankan keberhasilan akademiknya saja dari siswa tersebut padahal banyak faktor
yang bisa dipandang sebagai keberhasilan siswa mulai dari cara
berkomunikasinya, potensi-potensi dan bakat yang dimilikinya maupun kecerdasan
emosionalnya yang mampu mengembangkan dirinya di masa depan siswa untuk
keberhasilan dalam kehidupannya.
Kemampuan berpikir menggunakan otak kiri� yang kelihatannya nyata melalui hasil
belajarnya, masih dipandang perlu demi tercapainya kualitas pendidikan berkualitas
dan berkarakter (Margianti, 2018), padahal seharusnya tidak
hanya memandang dari intelektualnya saja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam kehidupannya sehari-hari untuk mencapai tujuan hidup siswa (Baharun, 2015).
Pendidikan yang memiliki tujuan yaitu membantu
manusia untuk cerdas dan pintar secara akademik dan membantu menjadi manusia
yang baik dan berakhlak mulia sesuai dengan tujuan pendidikan nasional (Digdoyo, 2019).
Siswa� yang
pintar menjadi salah satu tujuan utama dari berbagai sekolah dan itu mudah
dalam menilai dan mengukurnya, tetapi menjadikan manusia menjadi yang baik,
arif dan bijaksana dalam kehidupannya dipandang sulit, dengan demikian wajarlah
moral dan karakter siswa menjadi suatu masalah dalam kehidupan sekarang ini
terutama generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa yang akan menjadi
pemimpin bangsa dikemudian hari.
Kondisi pendidikan di Indonesia masih sangat
memprihatinkan banyak siswa yang mempunyai kemampuan kognitif pintar dalam
segala hal baik dalam pelajaran yang diajarkan di sekolah maupun keterampilan,
namun masih banyak siswa tidak mampu mengontrol emosi dan berperilaku yang baik
sehingga moral dari siswa tersebut sangatlah lemah (Harahap & Turnip, 2020). Salah satu contoh yang
sering kita temui maupun kita dengar perilaku-perilaku yang menyimpang yang
dilakukan oleh siswa misalnya perkelahian antar pelajar, bolos sekolah, pemakai
dan pengedar narkoba, itulah yang menjadi rendahnya moral siswa yang perlu
menjadi perhatian khusus. Oleh karena itu pendidikan di indonesia memerlukan
jalan keluar yang tepat yaitu pendidikan moral dan karakter setiap sekolah di seluruh
wilayah indonesia agar peserta didik di sekolahnya tidak hanya dituntut untuk
unggul dalam kognitifnya saja dengan mengabaikan afektif yang akan membuat
siswa mempunyai akhlak dan moral yang baik sehingga kehidupannya lebih baik di
masa yang akan dating (Mulyasa, 2022).
Kecerdasan emosional siswa sangat perlu diarahkan
dan dibimbing di tengah kemerosotan akhlak dan moral bangsa ini. Seorang siswa
harus mampu memahami tentang dirinya sendiri dan memahami lingkungan sekitarnya
sehingga apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya
yaitu fitrah dari yang Maha Kuasa.
Penanaman moral pada diri siswa haruslah menjadi
sorotan dan isu utama dalam penyelenggaraan pendidikan demi masa depan siswa,
jangan hanya mengedepankan akademiknya saja sampai tak menghiraukan terserah
jadi apa siswanya tersebut di kemudian hari setelah lulus dari sekolahnya (Suprayitno & Wahyudi, 2020).
Guru di kelas kadang hanya melihat dari satu sisi
siswa saja dimana siswanya di tekan harus bisa ini itu, artinya hanya memandang
intelektualnya saja sedangkan karakter dan baik itu terabaikan yang penting
siswa tercapai tujuan pembelajarannya.
Dalam hal ini perlu ada pemikiran yang serius
sehingga ada seseorang yang mampu memotivasi maupun memberikan kata-kata yang
bisa masuk kedalam diri siswa sehingga siswa tersebut bisa percaya dengan apa
yang dia dengar sehingga potensi terbaik dalam diri siswa tersebut dengan
berbagai stimulus bisa menampakan dan bisa tergali sehingga siswa tersebut
mampu memahami apa arti kehidupannya itu.
Pendidikan karakter merupakan cara untuk membentuk
kepribadian seseorang melalui pendidikan akhlak mulia, yang hasilnya terlihat
dalam tindakan nyata siswa dalam berperilaku yang baik, jujur, bertanggung
jawab, saling menghormati, kerja keras, dan sebagainya (Suwartini, 2017).
Di lapangan untuk penanaman karakter ini masih belum
maksimal kadang tidak mudah mencari alat ukur untuk mengetahui keberhasilan
akhlak siswa itu, tak jarang setiap sekolah hanya mengabaikannya saja
dikarenakan selalu mengedepankan akademiknya saja, sekolah yang bagus adalah
sekolah yang mampu menjuarai berbagai lomba yang diadakan oleh pemerintah
misalkan OSN, O2SN dan FLS2N, namun masih banyak yang mengabaikan karakter
siswanya baik dalam dirinya sendiri siswa maupun dengan teman sebayanya.
Pendidikan moral merupakan sebuah bantuan sosial
agar individu itu dapat bertumbuh dan menghayati bebas dalam hidup bersama
dengan orang lain dengan bertindak sesuai norma dan kaidah agama. Pendidikan
karakter, bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang baik dan
berakhlak untuk kehidupannya (Efendi & Ningsih, 2022).
Di era global industri 4.0 seperti sekarang ini
ditandai dengan maraknya budaya asing yang masuk ke wilayah Indonesia, dengan
era globalisasi. Ikut-ikutan gaya hidup, pakaian yang tidak sesuai norma, demam
musik bule, minum-minuman keras, dan mudahnya mengakses internet yang banyak
mengandung hal-hal negatif tidak hanya kaum remaja, tetapi anak usia dini sudah
mampu mengoperasikannya.
Perlu adanya perubahan pola pikir dari pemerintah
maupun sekolah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia khususnya
terletak pada moral individu siswa. Sehingga pendidikan moral dan akhlak harus
dimulai sejak kecil dalam keluarga, karena yang pertama kali dikenal sejak dia
lahir, kemudian lingkungan sekolah yang menjadi keseharian tempat siswa dalam
mencari ilmu (Syarbini, 2014).
Lingkungan keluarga berpengaruh sangat penting
karena lingkungan awal dibentuk karakter siswa. lalu sekolah, masyarakat, serta
media elektronik yang selalu memberikan informasi yang baik (Karo-Karo, 2014), dapat membedakan mana yang
baik dan buruk, tau tentang mana yang benar dan mana yang tidak layak, mampu
merasakan hal-hal yang baik dan merasakannya, bukan saja aspek kognitif yang
layak dan mampu merasakan perlakuan yang baik, dan berperilaku sesuai norma
agama yang dianutnya. Pembelajaran karakter mengharuskan yang secara terus
menerus dilakukan dan dilaksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh dalam
menjalankannya supaya hasilnya kelihatannya nyata dalam bermasyarakat.
Pada zaman sekarang guru tidak bisa mengajar dengan
cara yang lama dimana semua siswa akan menurut apa yang dikatakan siswa, dan
penanaman moral tidak bisa sembarangan dilakukan oleh seorang guru, guru harus
mampu menggunakan kata-kata yang bisa mengena pada kondisi siswa yang ada di
kelasnya, dan seorang guru juga harus mampu memahami apa yang di mau dan
dikehendaki oleh siswa tersebut (Fahrudin, 2021).
Neuro linguistic programming adalah penggunaan
kata-kata secara lisan untuk menarik lawan bicara supaya bisa sesuai dengan
kemauan si pembicara tersebut (Amalia, 2022). Seorang guru harus mampu
menjadi pemikat bagi siswa artinya supaya siswa mau mengikuti dan menjadi
teladan bagi siswanya tersebut, mengikuti disini tentulah dengan hal-hal yang
baik yang sesuai dengan moral dan tujuan dari pendidikan nasional kita,
sehingga dalam penyampaian materi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dalam
tersampaikan dengan baik (Qomariyah, 2009).
Tujuan dari best practices ini
penulis untuk menemukan ketepatan melalui penerapan Neuro linguistic
programming dalam kecerdasan emosional dapat meningkatkan keberhasilan siswa
secara kualitatif maupun secara kuantitatif.
Metode Penelitian
Penelitian� ini�
menggunakan� metode� kombinasi/ mixed� method,�
yaitu �metode� penelitian�
yang� menggabungkan metode
kualitatif dan Metode kuantitatif. kualitatif berfungsi untuk menghasilkan
model hipotetik dan menganalisis pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
model hipotetik pada saat uji coba. Hasil uji�
coba� penggunaan� model�
hipotetik� kemudian� dianalisis�
dengan� menggunakan� metode�
kuantitatif. Metode kuantitatif yang digunakan adalah eksperimen semu
untuk menguji keefektifan model pembelajaran NLP� berorientasi�
kecerdasan emosional untuk keberhasilan siswa.
Hasil dan
Pembahasan
A. Hasil Penelitian
Dengan penerapan neuro linguistic programming� dalam kecerdasan emosional siswa mempunyai
hasil secara kualitatif:
1.
Lebih mengenal siapa dirinya, dimana dirinya, dan mau kemana dirinya.
2.
Memiliki arti hidup
3.
Mengenal apa tujuan hidupnya dan apa yang harus dilakukannya
4.
Tau bagaimana cara memperlakukan orang di sekitarnya, temannya, adik
kelasnya, gurunya, orang tuanya bahkan orang lain yang ia temukan
5.
Lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya
6.
Lebih memaknai hidup
Data hasil perubahan pada siswa diperoleh dari beberapa informasi sebagai
berikut :
1.
Laporan baik dari orang tuanya saat rapat wali murid.
2.
Wawancara langsung terhadap beberapa wali murid.
3.
Laporan dari wakil kepala sekolah bidang kesiswaan
4.
Tanggapan dari teman sejawat
Deskripsi informan sebagai berikut:
1.
Bapak Irfan salim, S.Pd (Guru kelas sebelumnya) �Anak-anak calon kelas VI
ini hanya takut pada guru kelasnya, tapi kadang guru kelasnya juga tidak
dihiraukan�. �Sering mengerjai guru bidang mulai dari bersembunyi di di lemari,
membuat jebakan dan ngobrol serta bercanda saat pembelajaran�
2.
Ibu Sukmaliyah, S.Pd.I (Guru Agama Islam) �Saya takluk pak dengan
anak-anak ini saya sering di kerjai saat saya masuk kelas beberapa siswa bersembunyi
di dalam lemari lalu mengagetkan saya, saya mau minta sama kepala sekolah nanti
saya tidak mengajar kelas ini, tukeran dengan guru agama islam yang lain�
3.
Bapak Mohamad Ridwan, S.Pd (Guru PJOK) �Anak-anak ini dalam pembelajaran
olah raga sering sekali iseng terhadap teman yang lainnya misalkan menendang
bola kearah wajah atau badan temannya, sampai anak tersebut menangis, dalam
pelaksanaan senam malah berkumpul ngobrol dengan teman lainnya�
4.
Ibu Putri Merryanti, S.Pd (Guru Bahasa Inggris) �Pak, tinggi anak-anak
kelas ini kan lebih dari saya kadang saya diejek secara verbal dengan anak-anak
ini, dan dalam pembelajaran pun mereka hanya bercanda, kadang bolak-balik kamar
mandi padahal mereka ke kantin atau hanya main air d kamar mandi�
Data informan setelah pelaksanaan Neuro linguistic programming (NLP)
1.
Ibu Dewita Lenny (wali murid dari Ahmad Haidar Ali) �Pak mohon maaf, saya
mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak anak saya sekarang berubah di
rumah mau berangkat ngaji, mau membantu orang tua dalam pekerjaan rumah dan
lebih penurut�
2.
Ibu Nilawati (Guru Kelas VI A) �Saya pernah mengajar di kelas pak asep,
anak-anaknya tertib dan menghargai saya dengan baik bahkan setelah pembelajaran
mengucapkan terima kasih�
3.
Ibu Hj. Emma Yusfa, S.Pd (Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan) �Kelas
VI C sekarang sudah tidak ada lagi catatan tentang kejadian yang menyimpang dan
sudah tidak ada lagi yang terlambat datang kesekolah�
4.
Bapak Nawawi, S.Pd �Dalam pembelajaran agam Islam anak-anak sangat
antusias, aktif dalam bertanya bahkan mereka senang jika bercerita tentang
kisah nabi dan tentang hafalan surat-surat�
5.
Bapak Mohamad Ridwan, S.Pd �Anak-anak sangat antusias dalam upacara dan
senang jika diberi tugas menjadi petugas upacara, dan saat senam tidak ada lagi
yang bercanda dan ngobrol dengan teman yang lainnya�
6.
Ibu Putri Merryanti, S.Pd �Saat ini mengajar kelas VI C sangat dihargai
oleh anak-anak mereka sangat santun bahkan saat saya membawa tas dan media
pembelajaran mereka dengan senang hati membantu saya.
Neuro linguistic programming sangat efektif untuk
merubah pola pikir siswa yang awalnya negatif menjadi positif dalam pencapaian
tujuan apa yang diinginkannya. Selain itu NLP merupakan salah satu cara
memetakan proses yang terjadi di dalam otaknya berdasarkan pengalaman-pengalamannya
yang ada di otaknya untuk mencapai tujuannya dengan melalui bahasa
(linguistic).
Keberhasilan NLP juga untuk mengatasi kebosanan siswa dalam belajar,
kecemasan terhadap ujian serta menjadikan semua yang terjadi dalam
lingkungannya merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi siswa tersebut.
Tipe siswa yang ada di dalam kegiatan ini terdiri dari tiga tipe yaitu:
visual, auditori dan kinestetik, jadi harus memahami sebelum melakukan NLP ini
tipe mana yang ada didalam diri siswa tersebut supaya dalam pelaksaannya bisa
menyesuaikan dengan apa yang ada di dalam diri siswa tersebut.
Mengetahui ketiga tipe tersebut sangatlah penting bagi guru sehingga
dalam prakteknya tidak mendapat kesulitan, kemudian siswa di pandu dengan
kata-kata yang disampaikan oleh guru :
Sekarang silahkan anak-anak mengambil tempat duduk yang nyaman kemudian
pejamkan matanya:
Kemudian guru memberikan perintah lewat kata-kata kepada siswa, mulai
dari membayangkan hal yang tidak disukai atau pengalaman buruk siswa, lalu
kemudian menghapusnya dalam alam bawah sadarnya, sehingga kejadian tersebut
benar-benar hilang bahkan jadi menyenangkan.
Setelah itu guru memberikan arahan kepada siswa untuk mencatat pengalam
yang telah dilaksanakan tadi lalu memintanya kembali.
Kemudian guru memerintahkan siswa untuk mencatat kembali kejadian
menyedihkan tersebut, kemudian memerintahkan siswa untuk membandingkan kejadian
tersebut dari yang menyenangkan dan menyedihkan.
Selanjutnya guru membahas bersama siswa bagaimana cara berpikir yang
kreatif menyelesaikan masalah yang terjadi saat kejadian menyedihkan tersebut,
sehingga siswa menyadari dan memahami bahwa kejadian tersebut hanyalah sebuah
masa lalu.
Kemudian guru memberikan energi positif melalui seseorang yang
diidolakannya siswa tersebut:
Guru memberikan arahan untuk membayangkan yang siswa idolakan atau
kagumi. �sekarang bayangkan orang yang paling kamu sayangi maupun kagumi selama
hidup ini. Dan sekarang rasain kamu bersamanya dengan perasaan yang kamu
rasakan itu. Kamu dengan jelas melihat orang yang kamu sayangi dan kagumi
tersebut. Sekarang kamu masuk kedalamnya, rasakan menjadi dirinya, sehingga
kamu tahu apa yang dirasakannya dan perilaku yang dilakukannya. Dan kamu tahu
cara melakukan sesuatu yang sangat berharga. Dan kamu tau alasan melakukan itu.
Dan semangat itu yang akan memicu kamu untuk melakukannya. Dalam hitungan lima
kamu tersadar dengan penuh semangat yang berada di diri orang tersebut. lima,
tarik nafas panjang... hembuskan perlahan dan lepas... empat, gerakan jarimu,
dan hadirkan kamu secara utuh, kamu mulai sadar dengan keadaan nyatanya dua,
siap-siap untuk membuka mata satu, silahkan buka mata kamu, dan rasakan kondisi
tubuh yang segar, bugar, sehat, dan sangat positif.
Keberhasilan siswa setelah mendapatkan penerapan neuro linguistic
programming secara Individu sebagai berikut �
Tabel 1.
Keberhasilan Siswa Secara Kualitatif
|
No |
Sebelum |
Sesudah |
� Keterangan Informasi |
|
1 |
Banyak siswa terlambat |
Tidak ada lagi siswa
terlambat |
Wakil Kepala Sekolah dan
guru piket |
|
2 |
Tidak mau piket kelas
(minggat) |
Semua siswa piket kelas
sesuai hari nya |
Siswa dalam satu kelompok |
|
3 |
Berantem dengan teman
lainnya |
Lebih menghargai temannya |
Siswa di kelasnya |
|
4 |
Menyepelekan guru |
Hormat terhadap guru |
Guru bidang studi |
|
5 |
Bertindak sesuka hati di dalam
kelas |
Tertib dalam pembelajaran
maupun waktu istirahat |
Guru Kelas |
|
6 |
Tidak mau upacara, senam
dan pembiasaan |
Giat dalam kegiatan sekolah |
Guru Olah raga |
Table 2.
Keberhasilan
dalam Kedisiplinan
|
Aspek |
Indikator
Tercapai |
|
|
1.
Pikiran |
1)
Menghargai
waktu pengerjaan tugas 2)
Menaruh
perhatian terhadap ancangan kesempurnaan�
tugas 3)
Konsentrasi
mengerjakan
�tugas 4)
Mencari
informasi yang berkaitan dengan tugas 5)
Tidak menunda
tugas |
|
|
2.
Perasaan |
1)
Senang
terhadap tugas 2)
Sangat �tertantang oleh tugas 3)
Merasa tetap bersemangat 4)
Menikmati setiap kegiatan 5)
Merasa ingin selalu
bermanfaat |
|
|
3.
Tindakan |
1)
Tidak terlambat sekolah 2)
Senang dalam piket kelas/ bertanggung jawab 3)
Tepat waktu dalam tugas 4)
Memanfaatkan waktu senggang 5)
Merapihkan semua tugas |
Secara kuantitatif:
a. Ada
peningkatan hasil belajarnya
b. Perubahan
terhadap cara belajarnya
Tabel 3.
Rata-rata Hasil Tes
Ilmu Pengetahuan Alam
|
Rata-rata |
Nilai
Tertinggi |
Nilai
Terendah |
|
73.70 |
92.59 |
33.33 |

Gambar 1.
Peningkatan Hasil Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
Sedangkan ketuntasan klasikal yang
tercapai dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 4.
Distribusi Frekuensi Relatif Kumulatif �atau lebih� Nilai Tes
Formatif Siswa
|
Nilai |
Frek.
Kumulatif |
Frek
Rel.Kumulatif (%) |
|
|
1. |
30 atau
lebih |
20 |
100% |
|
2. |
40 atau
lebih |
20 |
100% |
|
3. |
50 atau
lebih |
20 |
100% |
|
4. |
60 atau
lebih |
19 |
95% |
|
5. |
70 atau
lebih |
17 |
85% |
|
6. |
80 atau
lebih |
5 |
25% |
|
7. |
90 atau
lebih |
1 |
5% |
|
8. |
100 |
0 |
0% |
|
|
|
|
|
Berdasarkan tabel 1, tabel 2, tabel
3 dan 4 di atas diperoleh keterangan rata-rata hasil evaluasi 73.70� namun ketuntasan secara klasikal 85% atau 17
anak yang sudah tuntas� belajar dan 3
anak belum tuntas.
B.
Pembahasan
Neuro linguistic programming
dalam kecerdasan emosional siswa ini dapat kita maksimalkan dengan memberikan
stimulus kepada siswa, memberikan hal-hal baik kepada apa yang siswa lihat,
dengar dan siswa rasakan sehingga siswa dapat dengan sendirinya tau apa yang
harus dia lakukan.
�Siswa mempunyai keinginan untuk maju dan
memperjuangkan masa depannya sehingga dia tau apa yang akan dilakukannya, dan
dia menyadari bahwa potensi yang ada di dalam dirinya adalah anugerah dari
Tuhan yang Maha Kuasa.
Siswa tidak akan
menyia-nyiakan hidupnya, ingin kehidupannya lebih berarti , dan keterbatasan
yang siswa miliki adalah sebagai motivasi terbesar dalam hidupnya untuk
mendorong kehidupan di masa yang akan datang lebih baik lagi.
Kecerdasan emosional yang
ada di dalam diri siswa akan lebih mengontrol respon yang akan dilakukan ketika
di lingkungannya terjadi apapun juga sehingga kemudian emosi yang ada dalam
dirinya akan mudah dikontrol oleh siswa tersebut.
�Keberhasilan siswa tidak hanya dilihat dari
hasil akademiknya saja, tetapi banyak hal lain yang bisa mendorong siswa untuk
lebih baik di dalam kehidupannya, baik secara potensi maupun secara emosi
sehingga siswa mensyukuri apa yang dimilikinya sebagai anugerah terindah yang
Tuhan berikan kepada dirinya.
Selain itu dari hasil
akademiknya juga ada peningkatan yang signifikan setelah mengetahui apa arti
dari apa yang dipelajarinya, untuk masa depannya sehingga siswa semakin sadar
akan dirinya sendiri dan potensi yang dimilikinya.
Kesimpulan
Dalam
penerapan neuro linguistic programming dalam kecerdasan emosional siswa
merupakan strategi mengembangkan pikiran secara intelektual melalui perasaan
dan emosional serta social sehingga tujuan dari pendidikan dapat tercapai
secara maksimal.
Semua
siswa mempunyai semangat belajar yang ingin selalu didorong dari lingkungan
sekitarnya. Rasa ingin tahu harus selalu tertanam dalam diri siswa. Dengan rasa
ingin tahu tersebut siswa diarahkan untuk mengamati dan melaksanakan apa yang seharusnya
ia kerjakan untuk tercapai apa yang diinginkannya. Dengan demikian diharapkan
akan tumbuh kemampuan serta dorongan dalam diri siswa tersebut sehingga
menemukan cara untuk bangkit dan mencapai apa yang diinginkannya tersebut.
Penerapan
neuro linguistic programming dalam kecerdasan emosional siswa mampu
mengendalikan siswa dalam hal-hal yang sering dilakukan siswa yang negatif dan
tidak bermanfaat, misalnya hal-hal yang iseng terhadap temannya, sampai
dibiarkan begitu saja, serta sampai tidak peka terhadap lingkungannya yang
mampu mengubah sikap siswa menjadi hal-hal yang positif terhadap masa depannya.
�Kedisiplinan yang meningkat mulai dari tidak
pernah lagi datang terlambat, selalu mengikuti upacara bendera, senam bersama
dan piket kelas bersama teman sekelompoknya.
Dengan
penerapan NLP dalam kecerdasan emosional siswa secara kuantitatif juga
meningkatkan hasil belajarnya dengan rata-rata dibawah KKM yang awalnya 63,20
menjadi diatas KKM 70 yaitu 73,70 pada mata pelajaran Ilmu pengetahuan Alam.
Amalia, A.
N. (2022). Teknik Berbicara di Depan Umum (Public Speaking) dan Negosiasi.
Penerbit NEM. Google Scholar
Baharun, H.
(2015). Penerapan pembelajaran active learning untuk meningkatkan hasil belajar
siswa di madrasah. PEDAGOGIK: Jurnal Pendidikan, 1(1), 34�46. Google Scholar
Digdoyo, E.
(2019). Rumah Puspo Budaya Nusantara Sebagai Pusat Pengembangan Pendidikan
Karakter Melalui Tari Nusantara. Integralistik, 30(1), 62�99.
https://doi.org/10.15294/integralistik.v30i1.20778. Google Scholar
Efendi, R.,
& Ningsih, A. R. (2022). Pendidikan Karakter di Sekolah. Purworejo:
Penerbit Qiara Media. Google Scholar
.
Fahrudin,
A. (2021). Menjadi Guru Super. Jakarta: Elex Media Komputindo. Google Scholar
Harahap, H.
S., & Turnip, J. (2020). Pengaruh Metode Inkuiri Terbimbing dan Proyek
Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Biologi Siswa di SMP Swasta HKBP Simantin
Pane. Bio-Lectura: Jurnal Pendidikan Biologi, 7(1), 23�35.
https://doi.org/10.31849/bl.v7i1.4002. Google Scholar
Karo-Karo,
D. (2014). Membangun Karakter Anak dengan Mensinergikan Pendidikan Informal
dengan Pendidikan Formal. Elementary School Journal Pgsd Fip Unimed, 1(2).
Google Scholar
Kusdiyatun,
S. (2016). Pengaruh Iklim Keluarga Terhadap Motivasi Belajar Siswa SD
Bonggalan Kecamatan Sanden BantulTahun Pelajaran 2014/2015. Universitas
Islam Indonesia. Google Scholar
Margianti.
(2018). Analisis Gaya Belajar Siswa Berprestasi dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia di Kelas V Sekolah Dasar Negeri I Purwosari Kecamatan Lais Kabupaten
Musi Banyuasin. UIN Raden Fatah Palembang. Google Scholar
Mulyasa, H.
E. (2022). Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara. Google Scholar
Parendrarti,
R. (2009). Aplikasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT
(Teams-Games-Tournament) Dalam Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi
Siswa Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah 2 Surakarta Tahun Ajaran 2008/2009.
Universitas Muhammadiyah Surakarta Perpustakaan. Google Scholar
Qomariyah,
S. (2009). Implementasi Metode Ketauladanan Mata Pelajaran Akidah Akhlak
dalam Membentuk Tingkah Laku Siswa di MTS Negeri Karangrejo Tulungagung. Google Scholar
Sahid, D.
R., & Rachlan, E. R. (2019). Pengelolaan Fasilitas Pembelajaran Guru dalam
Meningkatkan Mutu Pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK). Indonesian Journal of Education Management & Administration
Review, 3(1), 24�39. https://doi.org/10.4321/ijemar.v3i1.2945. Google Scholar
Suprayitno,
A., & Wahyudi, W. (2020). Pendidikan karakter di era milenial.
Sleman: Deepublish. Google Scholar
Suwartini,
S. (2017). Pendidikan karakter dan pembangunan sumber daya manusia
keberlanjutan. Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 4(1),
220�234. https://doi.org/10.30738/trihayu.v4i1.2119. Google Scholar
Syarbini,
A. (2014). Model pendidikan karakter dalam keluarga. Jakarta: Elex Media
Komputindo. Google Scholar
|
Copyright holder : Asep sutisna sanjaya (2022) |
|
First publication right : This article is licensed under: |
![]()