|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 3 No. 10 Oktober 2022 |
|
p-ISSN :
2722-7782 e-ISSN : 2722-5356 |
Sosial
Sains |
UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR IPS MENGGUNAKAN
METODE TEKA-TEKI SILANG DI KELAS VIII 3 UPT�
SMP NEGERI 1 ALLA KABUPATEN ENREKANG
Ratna Jita
Guru IPS UPT SMPN 1 Alla
Kabupaten Enrekang
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 19 September
2022 Direvisi 18 Oktober
2022 Disetujui 25 Oktober
2022 |
Penelitian
dilakukan di kelas VIII 3 UPT SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enricon untuk
mengetahui peningkatan minat dan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode
pembelajaran teka-teki silang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan
Kelas. Subjek penelitian ini adalah 26 siswa kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1
Alla. Penelitian dilakukan dalam 3 siklus. Setiap siklus terdiri dari satu
kali pertemuan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, catatan
lapangan dan dokumentasi. Jenis data yang dikumpulkan adalah data observasi
minat belajar dan data hasil belajar kelompok. Teknik analisis data yang
digunakan adalah teknik analisis data kualitatif meliputi reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Gunakan triangulasi untuk validitas
data. Hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Penerapan
metode pembelajaran teka-teki silang dapat meningkatkan minat belajar IPS
siswa kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata
persentase peningkatan minat belajar siswa pada indikator per siklus. Pada
siklus I rata-rata persentase minat belajar siswa sebesar 62%. Mencapai 70%
atau meningkat 8% pada siklus kedua. Pada siklus III meningkat dari 18%
menjadi 88%. 2) Penerapan metode pembelajaran teka-teki silang dapat meningkatkan
hasil belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan
persentase siswa yang mencapai nilai KKM dari 20% pada siklus I menjadi 60%
pada siklus II. Pada siklus III masih meningkat menjadi 80%. � |
|
Kata kunci: Crossword Puzzle, Minat
Belajar Siswa, Pembelajaran IPS. |
|
|
Keywords: Crossword Puzzle,
Student Interests, Social Studies Learning. |
ABSTRACT The study was conducted in class VIII 3 of UPT SMP Negeri 1 Alla,
Enricon Regency to determine the increase in student interest and learning
outcomes by applying the crossword puzzle learning method. This research is a
Classroom Action Research. The subjects of this study were 26 students of
class VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla. The research was conducted in 3 cycles.
Each cycle consists of one meeting. Data collection techniques using
observation, field notes and documentation. The types of data collected are
observational data on learning interest and group learning outcomes data. The
data analysis technique used is qualitative data analysis techniques
including data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Use
triangulation for data validity. The results of the study can be concluded as
follows: 1) The application of the crossword puzzle learning method can
increase the interest in learning social studies for grade VIII-3 UPT SMP
Negeri 1 Alla students. This is evidenced by the average percentage increase
in student interest in learning indicators per cycle. In the first cycle the
average percentage of student interest in learning is 62%. Reach 70% or
increase 8% in the second cycle. In the third cycle increased from 18% to
88%. 2) The application of the crossword puzzle learning method can improve
student learning outcomes. This can be proven by an increase in the
percentage of students who achieve the KKM score from 20% in the first cycle
to 60% in the second cycle. In cycle III, it still increased to 80%. |
Pendahuluan
Pendidikan
adalah proses pengembangan diri manusia. Hal ini dibenarkan
berdasarkan UU No. 1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang
memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan. , budi pekerti luhur, dan keterampilan yang
dibutuhkan dirinya, masyarakat, negara, dan bangsa. Sesuai dengan tujuan
pendidikan yang diatur oleh undang-undang, berbagai persoalan dalam proses
pendidikan dan pembelajaran harus mendapat perhatian lebih dalam peningkatan
kualitas sumber daya manusia (Baro�ah, 2020).
Pendidikan
merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup dan
modal penting dalam menghadapi persaingan saat ini (Munir, 2018). Sekolah merupakan lembaga
pendidikan dan salah satu faktor penentu dalam pencapaian tujuan pendidikan di
Indonesia (Winarti, 2018). Kegiatan
belajar mengajar berjalan lancar jika komponen-komponen sekolah terpenuhi dan
berfungsi dengan baik. Ada banyak faktor yang mempengaruhi proses
belajar mengajar, antara lain guru, sarana dan prasarana, metode pembelajaran,
kurikulum, dan lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan (Falachi et al., 2017). Setiap komponen harus saling
mendukung untuk mencapai tujuan pendidikan yang dimaksudkan (Purba et al., 2021).
Faktor
dalam diri siswa juga berpengaruh besar terhadap proses pengajaran, seperti
minat siswa untuk mengikuti proses pengajaran. Meningkatkan minat belajar siswa
merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan mengajar (Supriyono, 2018). Tanpa minat belajar, siswa tidak
dapat memiliki kemauan untuk belajar dan mencapai prestasi akademik yang
optimal (Gusniwati, 2015). Guru harus mampu bekerja keras
untuk membina dan merangsang minat belajar siswa (Sampurno, 2018). Guru tidak hanya cukup dalam
menyampaikan materi pelajaran, tetapi guru juga harus mampu menciptakan suasana
belajar yang baik dan menarik (Adnan, 2017). Guru juga harus memilih secara
tepat metode dan strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran berdasarkan
materi dan situasi siswa (Aidah &
Indonesia, 2021).
Penggunaan
metode pembelajaran dalam proses pembelajaran berdampak besar terhadap
pencapaian tujuan pembelajaran. Menggunakan metode pembelajaran yang tepat
pasti akan mempengaruhi minat belajar siswa untuk
mengikuti proses pembelajaran. Minat belajar yang tinggi menimbulkan rasa
senang, sehingga mata pelajaran yang diajarkan guru dapat dipahami atau diserap
oleh siswa (Nurkusuma et al.,
2020). Metode
pembelajaran memegang peranan yang sangat penting karena metode pembelajaran
merupakan sarana penyampaian materi. Tanpa pendekatan yang tepat, proses
pembelajaran tidak akan efektif dan efisien. Metode
pembelajaran harus memungkinkan semua siswa berperan aktif dalam proses
pembelajaran, mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya, menjadikan proses
pembelajaran lebih menarik dan menarik, dan sekaligus menumbuhkan minat belajar
siswa, sehingga diharapkan nilai siswa untuk ditingkatkan (Susanto, 2014).
Nyatanya,
untuk mencapai proses belajar yang aktif dan menyenangkan seperti dijelaskan di
atas tidaklah mudah (Mariana, 2022). Hal yang sama juga terjadi pada pembelajaran IPS. Proses pembelajaran
di kelas diarahkan hanya pada kemampuan anak dalam menghafal informasi, bukan
pada pembangunan dan pengembangan karakter dan potensi (Sanjaya, 2011). Metode pembelajaran masih terlalu
didominasi oleh peran guru (teacher oriented). Pembelajaran lebih berpusat pada
guru, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara
aktif dalam pembelajaran di kelas (Baroya, 2018). Menggunakan
metode ceramah adalah pilihan utama untuk belajar. Dalam metode ceramah,
guru mengkomunikasikan informasi dan pengetahuan kepada siswa secara lisan,
sehingga siswa cenderung belajar secara pasif karena hanya mencatat dan
mendengarkan (Astiti et al., 2017). Situasi seperti ini terkadang
dapat membuat proses pembelajaran menjadi kurang menarik dan mempengaruhi minat
belajar siswa.
Idealnya,
proses pembelajaran memerlukan strategi yang tepat, khususnya dalam
pembelajaran IPS, yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman,
dan kemampuan analisis tentang kondisi sosial dan sosial dalam rangka memasuki
kehidupan sosial yang dinamis (Syaharuddin, 2020). Masalah sosial
dapat dicegah dan dikurangi melalui pelaksanaan pembelajaran IPS yang
sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pembelajaran harus
mampu membekali siswa dengan kondisi berpikir kritis, logis, analitis,
sistematis, dan kreatif. Untuk membekali siswa, biarkan siswa memiliki
pembelajaran IPS yang inovatif, menarik, dan menarik, sehingga mata pelajaran
IPS tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang hafal dan membosankan, yang
akan berdampak pada rendahnya minat belajar siswa terhadap pembelajaran IPS.
Kursus (Makruf, 2022).
Menurut
pengamatan UPT SMP Negeri 1 Alla khususnya pada kelas VIII-3 pada mata
pelajaran IPS siswa cenderung pendiam dan kurang aktif dalam mengikuti
pembelajaran, hal ini dimungkinkan karena guru kurang variasi dalam
pendekatannya. Terlihat bahwa siswa terkadang bosan dengan proses pembelajaran
yang dilakukan dan siswa tidak terlalu tertarik untuk mengikuti mata kuliah
tersebut, yang tercermin dari beberapa siswa yang sering sibuk dan tidak
memperhatikan materi yang diberikan oleh guru. Hasil belajar
untuk kelas ini juga relatif rendah, hanya 63% siswa yang mencapai KKM 70.
Jika situasi ini terus berlanjut, tujuan pendidikan akan
lebih tercapai. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi
pembelajaran yang lebih menarik yang dapat meningkatkan minat belajar siswa dan
mengikuti proses pembelajaran tanpa adanya rasa paksaan. Salah
satu metode pembelajaran yang dianggap cocok untuk menyelesaikan masalah di
atas adalah teka-teki silang.
Metode
teka-teki silang dapat dijadikan sebagai strategi pembelajaran yang baik dan
menyenangkan tanpa menghilangkan esensi pembelajaran yang berkelanjutan (Zaini, 2008). Metode dan
media pembelajaran aktif seperti ini dapat digunakan untuk mengatasi
permasalahan yang muncul pada mata kuliah IPS UPT SMP Negeri 1 Alla VIII-3.
Berdasarkan rumusan masalah yang ada,
maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan minat dan hasil
belajar siswa setelah penerapan metode teka-teki silang dalam pembelajaran IPS
di kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla.
Penelitian
Rahayu Dwi Prastiti tahun 2010 ini berjudul �Upaya Meningkatkan Motivasi dan
Prestasi Belajar Sejarah Melalui Pendekatan Pembelajaran Teka Teki Silang Pada
Mata Pelajaran IPS Semester XI 2009/2010 Semester 2 SMA N I Ngemplak Tahun
Pelajaran 2009/2010�. Studi terkait tersebut di atas menunjukkan persamaan dan
perbedaan dengan apa yang akan peneliti lakukan.
Kesamaan dengan penelitian ini antara lain penggunaan
metode teka-teki silang (Cross Puzzle) dalam metode pembelajaran yang
digunakan. Meskipun perbedaannya terletak pada jumlah
variabel terikat yang digunakan, lokasi penelitian dan subjek. Jumlah variabel terikat yang digunakan pada penelitian terkait
pertama adalah dua, yaitu motivasi dan prestasi belajar. Hal ini berbeda
dengan variabel terikat yang akan peneliti gunakan
yaitu minat belajar dan hasil belajar. Pada penelitian terkait pertama, mata
pelajaran yang dipelajari adalah sejarah, sedangkan peneliti akan
mempelajari mata pelajaran ilmu-ilmu sosial (IPS). Lokasi
penelitian pertama yang relevan adalah kelas XI IPS I SMA N I Ngemplak,
sedangkan lokasi penelitian ini adalah kelas VIII C SMP N 2 Prambanan.
Kajian 2011 oleh Wisnu Adi Rahayu dengan
judul �Implementasi Model Pembelajaran Ular Tangga Untuk Meningkatkan Minat Dan
Prestasi Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IPS 3 SMA N 1 Banguntapan Tahun Ajaran
2011/212�.
Studi
terkait tersebut di atas menunjukkan persamaan dan perbedaan dengan apa yang akan peneliti lakukan. Pada
penelitian terkait kedua, persamaannya terletak pada variabel terikat yang
digunakan yaitu minat belajar. Perbedaannya terletak
pada variabel bebas yang digunakan, subjek penelitian, dan lokasi penelitian.
Dalam penelitian terkait, kedua variabel bebas tersebut
adalah model pembelajaran Ular Tangga. Dan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah dengan metode teka-teki silang.
Pada penelitian terkait kedua, mata pelajaran yang dipelajari adalah sejarah,
sedangkan peneliti akan mempelajari mata pelajaran
ilmu-ilmu sosial (IPS). Lokasi penelitian untuk penelitian
terkait kedua adalah Kelas XI IPS 3 di SMAN 1 Banguntapan, sedangkan lokasi
penelitian untuk penelitian ini adalah Kelas VIII-3 di SMP Negeri 1 Alla
Kabupaten Enrekang.
Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri
1 Alla tahun pelajaran 2021/2022, kelas VIII-3. Pelaksanaan penelitian tindakan
kelas ini akan berlangsung dari bulan Oktober hingga
November 2021. Pemilihan UPT SMP Negeri 1 Alla sebagai lokasi
penelitian didasarkan pada pertimbangan masalah yang berkaitan dengan kurangnya
minat dan hasil belajar siswa yang telah belajar. Baru
mencapai 63% KKM di kelas IPS.
Topik untuk penelitian ini dipilih
berdasarkan pengamatan awal dan kesepakatan dengan guru. Subjek dalam
penelitian ini adalah kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla. Berdasarkan
observasi, kelas ini memiliki masalah dengan minat dan hasil belajar yang
rendah selama proses pembelajaran, dan siswa tampak pasif selama proses
pembelajaran. Hal ini ditandai dengan siswa sering tidak mendengarkan atau
bahkan mengobrol dengan teman sekelasnya dalam proses pembelajaran IPS, dan
tidak memperhatikan guru yang mengajar, sehingga siswa tidak tertarik untuk
bertanya, menjawab atau menyampaikan. gagasan yang
berdampak pada hasil belajar siswa.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa
metode, yaitu:
1.
Observasi
(pengamatan)
Selama proses pembelajaran
berlangsung, kegiatan observasi dilakukan di dalam kelas untuk memperoleh data
tentang situasi proses pembelajaran yang berlangsung di kelas observasi. Data dari observasi tersebut dicatat dan kemudian ditindaklanjuti
dalam penegakan class action. Menurut (Sanjaya, 2011), observasi adalah teknik pengumpulan
data dengan mengamati setiap peristiwa yang sedang berlangsung dengan
menggunakan alat observasi untuk mencatat apa yang akan diamati atau
dipelajari. Selama proses pembelajaran menggunakan metode teka-teki silang, amati untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran,
minat belajar, dan hasil belajar siswa dan guru.
2.
Dokumentasi
Dokumen adalah catatan peristiwa yang
telah berlalu.
Dokumen dapat berupa kata-kata, gambar, atau karya abadi seseorang (Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini, teknologi
dokumen digunakan untuk memperoleh data sekolah, nomor siswa, dan dokumen lain
yang mendukung proses pembelajaran. Dokumen yang digunakan antara lain: Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Observasi, Daftar Nama Siswa, Daftar Prestasi Belajar Siswa. Proses pembelajaran dicatat
dalam catatan lapangan dan difoto sehingga dapat digunakan untuk membantu
proses refleksi.
3.
Catatan
Lapangan
Salah satu sumber informasi
terpenting dalam penelitian adalah catatan lapangan. Catatan lapangan
dalam penelitian ini adalah catatan yang dibuat oleh peneliti sebagai pengamat.
Hasil dan Pembahasan
A.
Hasil
Penelitian
1. Kegiatan
Pra Survey
Sebelum proses
penelitian dilakukan pra-survei untuk mengidentifikasi permasalahan yang
dihadapi guru dalam proses pembelajaran IPS. Dari pengamatan guru
mempersepsikan siswa kelas VIII-3 kurang berminat terhadap belajar dan hasil
belajar, hal ini didukung oleh data guru IPS bahwa hanya 63% siswa yang
menyelesaikan KKM Masyarakat menurut UPT SMP Negeri 1 Alla Penelitian mata
pelajaran, Alla adalah 70. Bahkan, guru telah menerapkan berbagai mode
pembelajaran, termasuk ceramah dan diskusi, untuk menumbuhkan minat belajar
siswa.
Berdasarkan
penyelidikan dan pengamatan sebelumnya, minat belajar IPS siswa di kelas VIII-3
masih sangat rendah. Siswa cenderung pendiam dan kurang aktif ketika terlibat
dalam pembelajaran, yang dimungkinkan karena guru kurang bervariasi dalam
pendekatan mereka. Terlihat bahwa siswa terkadang bosan dengan proses
pembelajaran yang dilakukan dan siswa tidak terlalu tertarik untuk mengikuti
mata kuliah tersebut, yang tercermin dari beberapa siswa yang sering sibuk dan
tidak memperhatikan materi yang diberikan oleh guru.
Mengingat
permasalahan yang dihadapi, maka perlu adanya peningkatan minat siswa untuk
mempelajari IPS. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi
pembelajaran yang lebih menarik yang dapat meningkatkan minat belajar siswa dan
mengikuti proses pembelajaran tanpa adanya rasa paksaan. Salah satu strategi
pembelajaran yang cocok untuk menyelesaikan masalah di atas adalah metode
teka-teki silang. Guru merespon positif, sesuai dengan penjelasan peneliti
tentang metode pembelajaran teka-teki silang yang akan diterapkan di kelas.
Selain itu, guru setuju untuk mencoba menerapkan metode pembelajaran Kelas
VIII-3 pada pembelajaran IPS.
B. Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan dalam beberapa
siklus. Data siklus I dan II menyimpulkan belum memenuhi kriteria
keberhasilan tindakan kelompok, sedangkan pada siklus III telah memenuhi
kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan. Di bawah ini
adalah deskripsi data yang diperoleh untuk setiap loop.
1.
Siklus
I
Siklus I dilaksanakan pada Jumat 2
November 2021 dimana satu pertemuannya 2 Jam Pelajaran (JP) atau 2 x 40 menit. Siklus I
dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan dengan melanjutkan materi pelajaran yang
sebelumnya disampaikan oleh guru. Selama pelaksanaan tindakan, Guru mata pelajaran IPS sebagai pengajar sedang Observer
mengamati serta mencatat pelaksanaan tindakan pada proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil obsevasi kegiatan
pembelajaran dan catatan lapangan setelah pelaksanaan pembelajaran siklus I,
dapat diperoleh kesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menerapkan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang dalam siklus I cukup baik, akan tetapi guru kurang obtimal dalam penerapan metode
Teka-Teki Silang. Penguasaan kelas masih kurang sehingga
banyak siswa yang berbuat keramaian di kelas dan dibiarkan saja.
Pada awal sampai pertengahan proses
pembelajaran, perhatian siswa belum sepenuhnya terpusat pada materi pelajaran. Siswa masih belum paham dengan model pembelajaran yang diterapkan.
Antusiasme siswa masih kurang. Penerapan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang pada siklus I belum sepenuhnya dapat dilaksanakan
secara optimal. Berdasarkan hasil pengamatan, rata-
rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus I belum mencapai
kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu sebesar 75%. Rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus I
adalah sebesar 62%.
Beberapa kendala yang ditemukan pada
siklus I antara lain:
a)
Guru
belum optimal dalam menjelaskan dan mengondisikan
pembelajaran dengan metode Teka-Teki Silang.
b)
Guru
belum dapat mengkontrol kelas dengan baik pada saat
penerapan metode Teka-Teki Silang.
c)
Guru
belum dapat memanfaatkan waktu secara optimal dan
efektif pada saat pembelajaran di kelas berlangsung.
d)
Guru
kurang tegas menegur siswa yang membuat keributan di
kelas.
e)
Rata-rata
persentase indikator minat belajar belum mencapai kriteria keberhasilan
tindakan karena baru mencapai 62%.
Berdasarkan data-data dan
kendala-kendala di atas, maka upaya meningkatkan minat belajar siswa dalam
pembelajaran IPS dengan menggunakan metode pembelajaran Teka-Teki Silang di
kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla pada siklus I dapat dikatakan belum
berhasil. Rata-rata indikator minat belajar siswa pada siklus I adalah 62%
sehingga belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan
yaitu 75%. Selain itu, persentase siswa kelas VIII-3� yang mencapai nilai KKM baru ada
sebesar 20%. Padahal kriteria keberhasilan yang harus dicapai
adalah 75%. Untuk itu perlu disusun rencana tindakan
yang diperbaiki, rencana tindakan yang baru, ataupun yang dimodifikasi dari
siklus sebelumnya pada siklus II agar mencapai kriteria keberhasilan tindakan.
Untuk itu perlu disusun rencana
tindakan yang diperbaiki, rencana tindakan yang baru, ataupun yang dimodifikasi
dari siklus sebelumnya pada siklus II agar mencapai kriteria keberhasilan.
2.
Siklus
II
Pembelajaran mata pelajaran IPS pada
siklus II ini merupakan perbaikan dari pelaksanaan pembelajaran pada siklus I
dengan menggunakan metode pembelajaran Teka-Teki Silang.
Berdasarkan hasil obsevasi kegiatan
pembelajaran dan catatan lapangan setelah pelaksanaan pembelajaran siklus II,
dapat diperoleh kesimpulan bahwa upaya peningkatan minat belajar siswa dengan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang lebih baik dari siklus I. Akan tetapi,
guru masih kurang optimal dalam penyampaian materi di awal pembelajaran, dalam memberikan
motivasi kepada siswa masih belum optimal.
Pengaruh penerapan metode
pembelajaran Teka-Teki Silang terhadap peningkatan minat belajar siswa dalam
pelaksanaan pembelajaran IPS sudah lebih baik dibandingkan siklus I. Siswa
mulai menunjukan adanya minat belajar IPS dengan baik. Siswa yang tadinya
jarang membaca menjadi aktif membaca materi yang diberikan oleh guru. Terlihat mereka lebih antusias dalam mengikuti pelajaran.
Hasil refleksi siklus II ini adalah
rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II masih kurang
atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75% karena baru
mencapai 70%. Selain itu, persentase siswa yang mencapai nilai KKM belum mencapai
75% sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Persentase siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II adalah
sebesar 60%.
Beberapa tindakan yang mengakibatkan
kegagalan pada siklus II ini adalah sebagai berikut.
a)
Pengelolaan
kelas belum sepenuhnya berhasil.
b)
Beberapa
siswa masih ramai pada saat pembelajaran di kelas, terutama siswa laki-laki.
c)
Peningkatan
minat belajar siswa melalui penggunaan gambar belum optimal.
d)
Hanya
sedikit siswa yang berani bertanya dan menanggapi pertanyaan dari guru.
Berdasarkan data-data di atas dan
dengan melihat masih ada kendala-kendala yang dihadapi pada saat penerapan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang di kelas VIII-3� pada siklus II, maka secara umum dapat
dikatakan bahwa upaya perbaikan yang dilakukan di siklus II belum berhasil. Untuk itu perlu disusun rencana tindakan yang diperbaiki, rencana
tindakan yang baru, ataupun yang dimodifikasi dari siklus sebelumnya pada
siklus III agar mencapai kriteria keberhasilan tindakan.
3.
Siklus
III
Pembelajaran mata pelajaran IPS pada
siklus III ini merupakan perbaikan dari pelaksanaan pembelajaran pada siklus
sebelumnya.
Berdasarkan hasil obsevasi kegiatan
pembelajaran dan catatan lapangan setelah pelaksanaan pembelajaran siklus III,
dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan minat belajar siswa yang jauh
lebih baik dari siklus-siklus sebelumnya. Pada siklus III, pengaruh penerapan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang terhadap peningkatan minat belajar siswa
dalam pelaksanaan pembelajaran IPS sangat besar.
Siswa terlihat lebih berminat dalam
mengikuti proses pembelajaran di kelas. Siswa juga lebih
berani dalam menyampaikan ide maupun pendapatnya dalam menjawab pertanyaan
guru. Selain itu siswa juga lebih berani bertanya,
siswa yang pada siklus sebelumnya terlihat pasif juga sudah mulai aktif
berpartisipasi di kelas.
Guru sudah dapat
melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik. Pengelolaan
kelas yang dilakukan dalam siklus III ini jauh lebih baik dibandingkan siklus
II. Guru mampu menjelaskan dan
mengorganisasikan pembelajaran aktif dengan metode Teka-Teki Silang secara
lebih baik. Selain itu juga sudah memberikan motivasi kepada
siswa agar lebih berperan aktif di dalam kelas.
Respon siswa juga sangat baik. Siswa terlihat
senang dan sangat bersemangat. Suasana kelas menjadi
menyenangkandan kondusif. Minat siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran sudah terlihat dalam setiap tahap pembelajaran serta banyak dari
siswa yang sudah fokus dengan pembelajaran yang dilakukan.
Proses pembelajaran di kelas
berlangsung dinamis. Hal tersebut ditandai dengan minat
belajar siswa dalam menyampaikan pertanyaan dan memberi tanggapan terhadap
pertanyaan guru sehingga suasana lebih hidup.
Pada siklus III rata-rata persentase
indikator minat belajar siswa sudah optimal atau sudah mencapai kriteria
keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75% karena rata-rata persentase indikator
minat belajar siswa pada siklus III mencapai 88%. Selain itu,
persentase siswa yang mencapai nilai ≤ 70 pada siklus ini sudah mencapai
kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75% bahkan melebihi.
Persentase siswa kelas VIII-3 yang berhasil mencapai nilai ≤ 70 adalah
88%.Selain itu, persentase siswa yang mencapai nilai ≤ 70 pada siklus ini
sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75% bahkan
melebihi. Persentase siswa kelas VIII -3 yang berhasil
mencapai nilai ≤ 70 adalah 80%. Hal ini didukung
dengan pengakuan sebagian besar siswa yang mengaku lebih menyenangkan dan mudah
memahami materi setelah diterapkannya metode pembelajaran Teka-Teki Silang.
Berdasarkan hasil pengamatan dan
diskusi yang dilakukan antara guru dengan peneliti pada siklus III, maka secara
umum upaya perbaikan yang dilakukan dapat dikatakan berhasil atau dapat
disimpulkan bahwa hipotesis tindakan seperti yang telah dijelaskan pada BAB II
terbukti atau diterima.
C. Pembahasan
Penelitian ini merupakan jenis
Penelitian Tindakan Kelas (Classroom� Action Research). Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) dapat diartikan sebagai upaya atau tindakan yang dilakukan
oleh guru atau peneliti untuk memecahkan masalah pembelajaran melalui kegiatan
penelitian. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di UPT SMP Negeri
1 Alla� yang
dilakukan sebanyak tiga siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
peningkatan minat belajar siswa setelah penerapan metode pembelajaran Teka-Teki
Silang pada pembelajaran IPS di kelas VIII-3� UPT�
SMP Negeri 1 Alla..
Hasil analisis pada siklus I sampai
dengan siklus III menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran Teka-Teki
Silang dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas
VIII-1 UPT� SMP
Negeri 1 Alla. Hal ini didukung dengan data rata-rata
persentase indikator minat belajar siswa yang meningkat tiap siklusnya sampai
berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan pada siklus III.
Pada siklus I guru kurang dapat
melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik. Guru kurang
mampu menjelaskan dan mengorganisasikan penerapan metode pembelajaran Teka-Teki
Silang. Guru belum dapat mengontrol kelas dengan baik.
Pada awal pembelajaran guru tidak melakukan apersepi.
Guru pun tidak memberikan penguatan dan menyimpulkan materi pelajaran di akhir
pembelajaran.Upaya meningkatkan minat belajar siswa dengan menerapkan metode
pembelajaran Teka-Teki Silang di kelas VIII-3 UPT� SMP Negeri 1 Alla pada siklus I belum
berhasil dengan baik. Hal tersebut dibuktikan dengan
rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada lembar observasi baru
mencapai 62%, sedangkan kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan
adalah 75%. Selain itu, dilihat dari hasi belajar
kelompok siswa yang mencapai nilai KKM masih dibawah krtiteria keberhasilan
yang ditetapkan yaitu 75%. Siswa yang mencapai KKM
pada siklus I sebanyak 20% atau 7 siswa. Siswa yang
belum mencapai KKM pada siklus I sebanyak 80% atau 28 siswa. Beberapa
kelemahan atau kendala yang mengakibatkan kegagalan tersebut adalah sebagai
berikut: 1) Guru kurang mampu untuk menjelaskan kegiatan pembelajaran dengan
metode Teka-Teki Silang; 2) Guru kurang memotivasi siswa agar berperan aktif
mengikuti kegiatan pembelajaran; 3) Guru belum dapat memanfaatkan waktu secara
optimal dan efektif pada saat pembelajaran di kelas berlangsung; 4) Guru kurang
tegas menegur siswa yang membuat keributan di kelas; 5) Tidak meratanya
pendampingan guru saat diskusi berlangsung; 6) Rata-rata persentase indikator
minat belajar belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan karena baru
mencapai 62%.
Berdasarkan permasalahan atau
kelemahan yang muncul pada siklus I, maka peneliti dan guru IPS membuat
tambahan perencanaan pada pembelajaran siklus II yaitu Peningkatan kemampuan
dalam menjelaskan kegiatan pembelajaran kepada siswa. Peningkatan kemampuan dalam
mekanisme pengajaran dengan metode Teka-Teki Silang, Peningkatan motivasi siswa
agar berperan aktif dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran
melalui penggunaan gambar dalam lembar kertas Teka-Teki Silang, Pemanfaatan
waktu secara optimal dan efektif pada saat pembelajaran di kelas berlangsung,
Peningkatan ketegasan dalam menghadapi siswa yang ramai atau membuat keributan
di kelas dan Peningkatan pendampingan siswa saat diskusi berlangsung.
Selanjutnya, pada proses pembelajaran
siklus II guru masih dikatakan belum optimal dalam melakukan kegiatannya.
Selain itu pelaksanaan tindakannya� kurang sesuai dengan rencana tindakan
walaupun guru mampu menjelaskan dan mengorganisasikan pembelajaran dengan
metode Teka-Teki Silang dengan lebih baik. Pengelolaan kelas
yang dilakukan oleh guru dalam siklus II belum menunjukkan perubahan yang
berarti. Pengelolaan kelas belum sepenuhnya berhasil,
masih ada beberapa siswa yang ramai pada saat pembelajaran di kelas, terutama
siswa laki-laki. Hanya sedikit siswa yang berani
bertanya dan menanggapi pertanyaan dari guru.
Pada awal pembelajaran siklus II
siswa tampak bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran hal ini menunjukan
bahwa minat belajar siswa masih rendah dalam mengikuti pembelajaran IPS. Pada kegiatan
akhir, guru mengajak siswa bersama-sama untuk menyimpulkan materi pelajaran.
Akan tetapi, pada akhirnya guru yang memberikan kesimpulan
karena siswa belum ada yang berani mengemukakan pendapatnya untuk menyimpulkan.
Upaya meningkatkan minat belajar
siswa dengan menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang di kelas VIII-3
UPT SMP Negeri 1 Alla� pada siklus II
masih belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu
75% walaupun terdapat peningkatan persentase dari siklus I. Hal tersebut
dibuktikan dengan rata-rata persentase indikator minat belajar siswa yang
meningkat sebesar 8% dari siklus I menjadi 70%. Peningkatan
persentase indikator minat juga berpengaruh pada peningkatan persentase
indikator hasil belajar kelompok siswa yang meningkat sebesar 40% dari siklus I
menjadi 60% walaupun hasilnya masih dibawah krtiteria keberhasilan yang
ditetapkan yaitu 75%.
Peningkatan-peningkatan tersebut
terjadi setelah diterapkannya metode pembelajaran Teka-Teki Silang dengan
ditambah gambar dalam lembar Teka- Teki Silang sebagai motivasi dan untuk
menarik perhatian siswa. Selain itu juga karena guru sudah mampu menjelaskan dan
mengorganisasikan pembelajaran dengan metode Teka-Teki Silang dengan lebih baik
dari siklus I. Beberapa tindakan yang mengakibatkan kegagalan pada siklus II
adalah sebagai berikut: 1) Pengelolaan kelas belum sepenuhnya berhasil; 2)
Beberapa siswa masih ramai pada saat pembelajaran di kelas, terutama siswa laki-laki;
3) Peningkatan motivasi siswa melalui penggunaan gambar belum optimal; 4) Hanya
sedikit siswa yang berani bertanya dan menanggapi pertanyaan dari guru
Berdasarkan permasalahan atau
kelemahan yang muncul pada siklus II, maka peneliti dan guru IPS membuat
tambahan perencanaan pada pembelajaran siklus III yaitu mengelola kelas harus
lebih baik dengan ketegasan, memberikan motivasi kepada siswa secara optimal
dengan menggunakan gambar yang lebih menarik.
Pada akhirnya, pengamatan terhadap
kegiatan guru pada siklus III menunjukkan bahwa guru sudah dapat melakukan
kegiatan pembelajaran dengan baik. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru
dalam siklus III ini jauh lebih baik dibandingkan siklus II. Guru mampu menjelaskan dan mengorganisasikan pembelajaran dengan
metode Teka-Teki Silang secara baik. Selain itu guru juga
memberikan dorongan kepada siswa agar lebih berperan aktif di dalam kelas.
Siswa terlihat lebih berminat dalam
mengikuti proses pembelajaran di kelas. Siswa terlihat senang
dan sangat bersemangat. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diekmukakan
oleh Hisyam Zaini, dkk (2012: 71) bahwa metode Teka-Teki Silang dapat digunakan
sebagai strategi pembelajaran yang baik dan menyenagkan tanpa menghilangkan
asensi belajar yang sedang berlangsung. Selain itu siswa juga
lebih berani bertanya. Siswa yang pada siklus
sebelumnya terlihat pasif juga sudah mulai aktif. Pada
kegiatan akhir, siswa berperan aktif dalam menyimpulkan materi pelajaran
bersama dengan guru.
Pada siklus III, minat belajar siswa
mengalami peningkatan dari siklus II sebesar 18% menjadi 88%. Hal tersebut
dikarenakan pada III ini guru menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang
ditambah dengan gambar. Selain itu, kendala atau
kelemahan yang mengakibatkan kegagalan pada siklus II berhasil diatasi pada
siklus III. Untuk memperjelas peningkatan minat belajar siswa dalam mata
pelajaran IPS, dapat dilihat dalamtabel berikut:
Tabel
1. Peningkatan
Minat Belajar Siswa
|
No |
Aspek |
Indikator |
Siklus |
Kriteria Keberhasilan |
||
|
I |
II |
III |
||||
|
1 |
Perhatian |
Memperhatikan guru saat proses pembelajaran |
63% |
62% |
87% |
75% |
|
2 |
Ingin Tahu |
Menanyakan materi yang belum dimengerti |
63% |
76% |
86% |
|
|
3 |
Keinginan |
Menjawab dan merespon petanyaan guru |
64% |
84% |
90% |
|
|
4 |
Rasa Senang |
Mengerjakan tugas dari guru |
63% |
61% |
92% |
|
|
Rata-rata Persentase Indikator Minat Belajar Siswa |
62% |
70% |
88% |
|
||
Dari tabel diatas dapat dilihat dalam
bentuk diagram sebagai berikut:
Gambar
2. Peningkatan
Minat Belajar Siswa
Penelitian ini dikatakan berhasil
juga apabila 75% dari siswa kelas VIII -3 memiliki nilai minimal 70 pada mata
pelajaran IPS. Hal ini berdasarkan kurikulum UPT SMP Negeri 1 Alla mengenai
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran IPS yaitu 70.
Berikut disajikan
tabel mengenai persentase hasil kelompok belajar siswa yang mencapai nilai KKM
pada siklus I sampai siklus III.
Tabel 10 Peningkatan
Hasil Belajar Kelompok Siswa Siklus I, II, dan III
|
Nilai |
Siklus I |
Siklus II |
Iklus III |
|
≤ 70 |
80% |
40% |
20% |
|
≤ 70 |
20% |
60% |
80% |
Berdasarkan tabel 13 di
atas, dapat diketahui bahwa pada hasil kelompok belajar siswa siklus I,
persentase siswa yang mencapai nilai ≤ 70 belum mencapai kriteria
keberhasilan yaitu 75% karena baru mencapai 20%. Hal yang sama
juga terjadi pada hasil siklus II. Persentase siswa yang
mencapai nilai ≤ 70 belum mencapai kriteria keberhasilan karena baru
mencapai 60% sehingga perlu ditingkatkan lagi pada siklus III. Pada hasil siklus III siswa yang mencapai nilai ≤ 70 sudah
mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditentukan bahkan melebihi. Hasil siklus III menunjukkan bahwa besarnya persentase siswa yang
telah mencapai nilai ≤ 70 adalah 80%. Untuk lebih jelas lagi,
dapat dilihat� pada
diagram di bawah ini.
Gambar
10. Diagram
Persentase Siswa yang Mencapai Nilai KKM Pada Hasil Belajar Kelompok Siklus I,
II, dan III
D. Temuan Penelitian
Selama pelaksanaan penelitian di
lapangan, peneliti telah mengumpulkan data-data penelitian yang diperoleh
berdasarkan hasil observasi atau pengamatan dan wawancara. Pada saat penelitian, ada beberapa
pokok-pokok temuan penelitian antara lain yaitu:
1.
Penerapan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan minat belajar siswa
dalam pembelajaran IPS.
2.
Penerapan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan minat belajar siswa
dalam pembelajaran IPS dalam bentuk keberanian bertanya, memecahkan soal atau
menanggapi pertanyaan guru.
3.
Penerapan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan pemahaman siswa
terhadap materi pelajaran IPS.
4.
Penerapan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
5.
Penerapan
metode pembelajaran Teka-Teki Silang menjadikan proses pembelajaran berpusat
pada siswa (student centered) sehingga tidak lagi berpusat pada guru (teacher
centered) dan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator.
6.
Dalam
penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang, siswa tidak lagi hanya sebagai
objek pembelajaran tetapi sebagai subjek pembelajaran.
Kesimpulan
Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat
meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS dikelas
VIII-3 UPT� SMP Negeri 1 Alla. Hal
tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata persentase indikator
minat belajar siswa setiap siklusnya. Pada siklus I rata- rata persentase
indikator minat belajar siswa adalah 62%. Pada siklus II menjadi 70% atau
mengalami peningkatan sebesar 8%. Pada siklus III mengalami peningkatan sebesar
18% sehingga menjadi 88%. Hal ini berarti bahwa rata-rata persentase indikator
minat belajar siswa telah melampaui kriteria keberhasilan tindakan yang
ditetapkan yaitu 75%.
Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat
meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan persentase siswa
yang mencapai nilai KKM pada siklus I sebesar 20% meningkat menjadi 60% pada
siklus II. Selanjutnya masih mengalami peningkatan menjadi 80% pada siklus III.
Hal ini berarti bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM (70) telah melampaui
kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%.
Impilkasi dari keberhasilan penelitian ini adalah guru
harus menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang karena terbukti mampu
menumbuhkan dan meningkatkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran IPS.
metode pembelajaran Teka-Teki Silang bisa menumbuhkan rasa kerjasama pada
setiap siswa bila diterapkan secara kelomp0k. Berdasarkan hasil, minat belajar
siswa sangat berpengaruh kepada hasil belajar yang baik untuk itu guru harus
menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang proses pembelajaran. Selain
itu, guru harus menguasai strategi mengajar untuk mencapai hasil belajar yang
baik.
Adnan, M. (2017). Urgensi penerapan metode paikem bagi guru dalam
meningkatkan mutu pembelajaran pendidikan agama islam. CENDEKIA: Jurnal
Studi Keislaman, 3(1), 133�150. https://doi.org/10.37348/cendekia.v3i1.39.
Google Scholar
Aidah, S. N., & Indonesia, T.
P. K. B. M. (2021). Cara Efektif Penerapan Metode dan Model Pembelajaran
(Vol. 54). Penerbit KBM Indonesia. Google Scholar
Astiti, N. M., Sukadi, S., &
Wesnawa, I. G. A. (2017). Pbl Berbantuan Media Audiovisual Dan Tipe Kepribadian
Dalam Pembelajaran IPS. Jurnal Pendidikan IPS Indonesia, 1(2),
66�74. https://doi.org/10.23887/pips.v1i2.2826. Google Scholar
Baro�ah, S. (2020). Kebijakan
merdeka belajar sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan. Jurnal Tawadhu,
4(1), 1063�1073. Google Scholar
Baroya, E. H. (2018). Strategi
pembelajaran abad 21. As-Salam: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, 1(1),
101�115. Google Scholar
Falachi, H., Kartana, T. J., &
Utami, W. B. (2017). Pengaruh Penerapan Kompetensi Pedagogik Guru dalam
Pembelajaran Matematika Berbasis Kurikulum 2013 Terhadap Prestasi Belajar
Matematika Peserta Didik Tahun Pelajaran 2016/2017. Aksioma: Jurnal
Matematika Dan Pendidikan Matematika, 8(1), 9�16.
https://doi.org/10.26877/aks.v8i1.1508. Google Scholar
Gusniwati, M. (2015). Pengaruh
kecerdasan emosional dan minat belajar terhadap penguasaan konsep matematika
siswa SMAN di Kecamatan Kebon jeruk. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA,
5(1), 26�41. https://doi.org/10.30998/formatif.v5i1.165. Google Scholar
Makruf, A. (2022). Meningkatkan
Hasil Belajar IPS Materi Pola dan Bentuk�Bentuk Muka Bumi dengan Metode Out
Door pada Siswa Kelas IX.. A SMPN 8 Pujut Tahun Pelajaran 2020/2021�. JUPE:
Jurnal Pendidikan Mandala, 7(1), 81�88. https://doi.org/10.36312/jupe.v7i1.2992.
Google Scholar
Mariana, N. I. (2022). Upaya
Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar IPS Menggunakan Metode Teka-Teki Silang
Kelas IX MTS N 6 Ponorogo. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(5),
6123�6136. https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i5.7665. Google Scholar
Munir, M. (2018). Manajemen
Pemasaran Pendidikan Dalam Peningkatan Kuantitas Peserta Didik. Intizam,
Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(2), 78�94. Google Scholar
Nurkusuma, A., Achmadi, A., &
Utomo, B. B. (2020). Efektivitas Penggunaan Media Teka-Teki Silang dalam
meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran
Khatulistiwa, 9(6), 1�9. https://doi.org/10.26418/jppk.v9i6.41060. Google Scholar
Purba, S., Subakti, H., Kato, I.,
Chamidah, D., Muntu, D. L., Cecep, H., Situmorang, K., & Saputro, A. N. C.
(2021). Teori Manajemen Pendidikan. Medan: Yayasan Kita Menulis. Google
Scholar
Sampurno, J. I. (2018). Peningkatan
Minat dan Hasil Belajar IPS menggunakan Metode Teka-Teki Silang di Kelas VII
SMP Negeri 4 Pasir Belengkong. BORNEO Jurnal Ilmu Pendidikan, 24,
173. Google Scholar
Sanjaya, W. (2011). Strategi
pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Prenada Media. Google Scholar
Sugiyono. (2012). Metode
Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Afabeta. Google Scholar
Supriyono, S. (2018). Pentingnya
Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Sd. Edustream:
Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1), 43�48.
https://doi.org/10.26740/eds.v2n1.p43-48. Google Scholar
Susanto, A. (2014). Pengembangan
pembelajaran IPS di SD. Yogyakarta: Kencana. Google Scholar
Syaharuddin, S. (2020). Pembelajaran
Sejarah Lokal di Sekolah. Surabaya: Media Edukasi Indonesia. Google Scholar
Winarti, E. (2018). Perencanaan
manajemen sumber daya manusia lembaga pendidikan. Tarbiyatuna: Jurnal
Pendidikan Ilmiah, 3(1), 1�26. Google Scholar
Zaini, H. (2008). Strategi
Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani. Google Scholar
|
Copyright holder : Ratna Jita (2022) |
|
First publication right
: Jurnal Syntax
Transformation This article is licensed under: |