Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3 No. 10 Oktober 2022

p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356

Sosial Sains

 

UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR IPS MENGGUNAKAN METODE TEKA-TEKI SILANG DI KELAS VIII 3 UPT� SMP NEGERI 1 ALLA KABUPATEN ENREKANG

 

Ratna Jita

Guru IPS UPT SMPN 1 Alla Kabupaten Enrekang

Email: [email protected]

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

19 September 2022

Direvisi

18 Oktober 2022

Disetujui

25 Oktober 2022

Penelitian dilakukan di kelas VIII 3 UPT SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enricon untuk mengetahui peningkatan minat dan hasil belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran teka-teki silang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini adalah 26 siswa kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla. Penelitian dilakukan dalam 3 siklus. Setiap siklus terdiri dari satu kali pertemuan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, catatan lapangan dan dokumentasi. Jenis data yang dikumpulkan adalah data observasi minat belajar dan data hasil belajar kelompok. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Gunakan triangulasi untuk validitas data. Hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Penerapan metode pembelajaran teka-teki silang dapat meningkatkan minat belajar IPS siswa kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata persentase peningkatan minat belajar siswa pada indikator per siklus. Pada siklus I rata-rata persentase minat belajar siswa sebesar 62%. Mencapai 70% atau meningkat 8% pada siklus kedua. Pada siklus III meningkat dari 18% menjadi 88%. 2) Penerapan metode pembelajaran teka-teki silang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan persentase siswa yang mencapai nilai KKM dari 20% pada siklus I menjadi 60% pada siklus II. Pada siklus III masih meningkat menjadi 80%. �

Kata kunci:

Crossword Puzzle, Minat Belajar Siswa, Pembelajaran IPS.

 

Keywords:

Crossword Puzzle, Student Interests, Social Studies Learning.

ABSTRACT

The study was conducted in class VIII 3 of UPT SMP Negeri 1 Alla, Enricon Regency to determine the increase in student interest and learning outcomes by applying the crossword puzzle learning method. This research is a Classroom Action Research. The subjects of this study were 26 students of class VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla. The research was conducted in 3 cycles. Each cycle consists of one meeting. Data collection techniques using observation, field notes and documentation. The types of data collected are observational data on learning interest and group learning outcomes data. The data analysis technique used is qualitative data analysis techniques including data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Use triangulation for data validity. The results of the study can be concluded as follows: 1) The application of the crossword puzzle learning method can increase the interest in learning social studies for grade VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla students. This is evidenced by the average percentage increase in student interest in learning indicators per cycle. In the first cycle the average percentage of student interest in learning is 62%. Reach 70% or increase 8% in the second cycle. In the third cycle increased from 18% to 88%. 2) The application of the crossword puzzle learning method can improve student learning outcomes. This can be proven by an increase in the percentage of students who achieve the KKM score from 20% in the first cycle to 60% in the second cycle. In cycle III, it still increased to 80%.

 


Pendahuluan

Pendidikan adalah proses pengembangan diri manusia. Hal ini dibenarkan berdasarkan UU No. 1. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan. , budi pekerti luhur, dan keterampilan yang dibutuhkan dirinya, masyarakat, negara, dan bangsa. Sesuai dengan tujuan pendidikan yang diatur oleh undang-undang, berbagai persoalan dalam proses pendidikan dan pembelajaran harus mendapat perhatian lebih dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (Baro�ah, 2020).

Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup dan modal penting dalam menghadapi persaingan saat ini (Munir, 2018). Sekolah merupakan lembaga pendidikan dan salah satu faktor penentu dalam pencapaian tujuan pendidikan di Indonesia (Winarti, 2018). Kegiatan belajar mengajar berjalan lancar jika komponen-komponen sekolah terpenuhi dan berfungsi dengan baik. Ada banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar, antara lain guru, sarana dan prasarana, metode pembelajaran, kurikulum, dan lingkungan belajar yang efektif dan menyenangkan (Falachi et al., 2017). Setiap komponen harus saling mendukung untuk mencapai tujuan pendidikan yang dimaksudkan (Purba et al., 2021).

Faktor dalam diri siswa juga berpengaruh besar terhadap proses pengajaran, seperti minat siswa untuk mengikuti proses pengajaran. Meningkatkan minat belajar siswa merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan mengajar (Supriyono, 2018). Tanpa minat belajar, siswa tidak dapat memiliki kemauan untuk belajar dan mencapai prestasi akademik yang optimal (Gusniwati, 2015). Guru harus mampu bekerja keras untuk membina dan merangsang minat belajar siswa (Sampurno, 2018). Guru tidak hanya cukup dalam menyampaikan materi pelajaran, tetapi guru juga harus mampu menciptakan suasana belajar yang baik dan menarik (Adnan, 2017). Guru juga harus memilih secara tepat metode dan strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran berdasarkan materi dan situasi siswa (Aidah & Indonesia, 2021).

Penggunaan metode pembelajaran dalam proses pembelajaran berdampak besar terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Menggunakan metode pembelajaran yang tepat pasti akan mempengaruhi minat belajar siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. Minat belajar yang tinggi menimbulkan rasa senang, sehingga mata pelajaran yang diajarkan guru dapat dipahami atau diserap oleh siswa (Nurkusuma et al., 2020). Metode pembelajaran memegang peranan yang sangat penting karena metode pembelajaran merupakan sarana penyampaian materi. Tanpa pendekatan yang tepat, proses pembelajaran tidak akan efektif dan efisien. Metode pembelajaran harus memungkinkan semua siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran, mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya, menjadikan proses pembelajaran lebih menarik dan menarik, dan sekaligus menumbuhkan minat belajar siswa, sehingga diharapkan nilai siswa untuk ditingkatkan (Susanto, 2014).

Nyatanya, untuk mencapai proses belajar yang aktif dan menyenangkan seperti dijelaskan di atas tidaklah mudah (Mariana, 2022). Hal yang sama juga terjadi pada pembelajaran IPS. Proses pembelajaran di kelas diarahkan hanya pada kemampuan anak dalam menghafal informasi, bukan pada pembangunan dan pengembangan karakter dan potensi (Sanjaya, 2011). Metode pembelajaran masih terlalu didominasi oleh peran guru (teacher oriented). Pembelajaran lebih berpusat pada guru, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif dalam pembelajaran di kelas (Baroya, 2018). Menggunakan metode ceramah adalah pilihan utama untuk belajar. Dalam metode ceramah, guru mengkomunikasikan informasi dan pengetahuan kepada siswa secara lisan, sehingga siswa cenderung belajar secara pasif karena hanya mencatat dan mendengarkan (Astiti et al., 2017). Situasi seperti ini terkadang dapat membuat proses pembelajaran menjadi kurang menarik dan mempengaruhi minat belajar siswa.

Idealnya, proses pembelajaran memerlukan strategi yang tepat, khususnya dalam pembelajaran IPS, yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis tentang kondisi sosial dan sosial dalam rangka memasuki kehidupan sosial yang dinamis (Syaharuddin, 2020). Masalah sosial dapat dicegah dan dikurangi melalui pelaksanaan pembelajaran IPS yang sebaik-baiknya. Oleh karena itu, pembelajaran harus mampu membekali siswa dengan kondisi berpikir kritis, logis, analitis, sistematis, dan kreatif. Untuk membekali siswa, biarkan siswa memiliki pembelajaran IPS yang inovatif, menarik, dan menarik, sehingga mata pelajaran IPS tidak lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang hafal dan membosankan, yang akan berdampak pada rendahnya minat belajar siswa terhadap pembelajaran IPS. Kursus (Makruf, 2022).

Menurut pengamatan UPT SMP Negeri 1 Alla khususnya pada kelas VIII-3 pada mata pelajaran IPS siswa cenderung pendiam dan kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, hal ini dimungkinkan karena guru kurang variasi dalam pendekatannya. Terlihat bahwa siswa terkadang bosan dengan proses pembelajaran yang dilakukan dan siswa tidak terlalu tertarik untuk mengikuti mata kuliah tersebut, yang tercermin dari beberapa siswa yang sering sibuk dan tidak memperhatikan materi yang diberikan oleh guru. Hasil belajar untuk kelas ini juga relatif rendah, hanya 63% siswa yang mencapai KKM 70. Jika situasi ini terus berlanjut, tujuan pendidikan akan lebih tercapai. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi pembelajaran yang lebih menarik yang dapat meningkatkan minat belajar siswa dan mengikuti proses pembelajaran tanpa adanya rasa paksaan. Salah satu metode pembelajaran yang dianggap cocok untuk menyelesaikan masalah di atas adalah teka-teki silang.

Metode teka-teki silang dapat dijadikan sebagai strategi pembelajaran yang baik dan menyenangkan tanpa menghilangkan esensi pembelajaran yang berkelanjutan (Zaini, 2008). Metode dan media pembelajaran aktif seperti ini dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan yang muncul pada mata kuliah IPS UPT SMP Negeri 1 Alla VIII-3.

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan minat dan hasil belajar siswa setelah penerapan metode teka-teki silang dalam pembelajaran IPS di kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla.

Penelitian Rahayu Dwi Prastiti tahun 2010 ini berjudul �Upaya Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Sejarah Melalui Pendekatan Pembelajaran Teka Teki Silang Pada Mata Pelajaran IPS Semester XI 2009/2010 Semester 2 SMA N I Ngemplak Tahun Pelajaran 2009/2010�. Studi terkait tersebut di atas menunjukkan persamaan dan perbedaan dengan apa yang akan peneliti lakukan. Kesamaan dengan penelitian ini antara lain penggunaan metode teka-teki silang (Cross Puzzle) dalam metode pembelajaran yang digunakan. Meskipun perbedaannya terletak pada jumlah variabel terikat yang digunakan, lokasi penelitian dan subjek. Jumlah variabel terikat yang digunakan pada penelitian terkait pertama adalah dua, yaitu motivasi dan prestasi belajar. Hal ini berbeda dengan variabel terikat yang akan peneliti gunakan yaitu minat belajar dan hasil belajar. Pada penelitian terkait pertama, mata pelajaran yang dipelajari adalah sejarah, sedangkan peneliti akan mempelajari mata pelajaran ilmu-ilmu sosial (IPS). Lokasi penelitian pertama yang relevan adalah kelas XI IPS I SMA N I Ngemplak, sedangkan lokasi penelitian ini adalah kelas VIII C SMP N 2 Prambanan.

Kajian 2011 oleh Wisnu Adi Rahayu dengan judul �Implementasi Model Pembelajaran Ular Tangga Untuk Meningkatkan Minat Dan Prestasi Belajar Sejarah Siswa Kelas XI IPS 3 SMA N 1 Banguntapan Tahun Ajaran 2011/212�.

Studi terkait tersebut di atas menunjukkan persamaan dan perbedaan dengan apa yang akan peneliti lakukan. Pada penelitian terkait kedua, persamaannya terletak pada variabel terikat yang digunakan yaitu minat belajar. Perbedaannya terletak pada variabel bebas yang digunakan, subjek penelitian, dan lokasi penelitian. Dalam penelitian terkait, kedua variabel bebas tersebut adalah model pembelajaran Ular Tangga. Dan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah dengan metode teka-teki silang. Pada penelitian terkait kedua, mata pelajaran yang dipelajari adalah sejarah, sedangkan peneliti akan mempelajari mata pelajaran ilmu-ilmu sosial (IPS). Lokasi penelitian untuk penelitian terkait kedua adalah Kelas XI IPS 3 di SMAN 1 Banguntapan, sedangkan lokasi penelitian untuk penelitian ini adalah Kelas VIII-3 di SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang.

 

Metode Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Alla tahun pelajaran 2021/2022, kelas VIII-3. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini akan berlangsung dari bulan Oktober hingga November 2021. Pemilihan UPT SMP Negeri 1 Alla sebagai lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan masalah yang berkaitan dengan kurangnya minat dan hasil belajar siswa yang telah belajar. Baru mencapai 63% KKM di kelas IPS.

Topik untuk penelitian ini dipilih berdasarkan pengamatan awal dan kesepakatan dengan guru. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla. Berdasarkan observasi, kelas ini memiliki masalah dengan minat dan hasil belajar yang rendah selama proses pembelajaran, dan siswa tampak pasif selama proses pembelajaran. Hal ini ditandai dengan siswa sering tidak mendengarkan atau bahkan mengobrol dengan teman sekelasnya dalam proses pembelajaran IPS, dan tidak memperhatikan guru yang mengajar, sehingga siswa tidak tertarik untuk bertanya, menjawab atau menyampaikan. gagasan yang berdampak pada hasil belajar siswa.

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode, yaitu:

1.    Observasi (pengamatan)

Selama proses pembelajaran berlangsung, kegiatan observasi dilakukan di dalam kelas untuk memperoleh data tentang situasi proses pembelajaran yang berlangsung di kelas observasi. Data dari observasi tersebut dicatat dan kemudian ditindaklanjuti dalam penegakan class action. Menurut (Sanjaya, 2011), observasi adalah teknik pengumpulan data dengan mengamati setiap peristiwa yang sedang berlangsung dengan menggunakan alat observasi untuk mencatat apa yang akan diamati atau dipelajari. Selama proses pembelajaran menggunakan metode teka-teki silang, amati untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran, minat belajar, dan hasil belajar siswa dan guru.

2.    Dokumentasi

Dokumen adalah catatan peristiwa yang telah berlalu. Dokumen dapat berupa kata-kata, gambar, atau karya abadi seseorang (Sugiyono, 2012). Dalam penelitian ini, teknologi dokumen digunakan untuk memperoleh data sekolah, nomor siswa, dan dokumen lain yang mendukung proses pembelajaran. Dokumen yang digunakan antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Observasi, Daftar Nama Siswa, Daftar Prestasi Belajar Siswa. Proses pembelajaran dicatat dalam catatan lapangan dan difoto sehingga dapat digunakan untuk membantu proses refleksi.

3.    Catatan Lapangan

Salah satu sumber informasi terpenting dalam penelitian adalah catatan lapangan. Catatan lapangan dalam penelitian ini adalah catatan yang dibuat oleh peneliti sebagai pengamat.

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Hasil Penelitian

1.    Kegiatan Pra Survey

Sebelum proses penelitian dilakukan pra-survei untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran IPS. Dari pengamatan guru mempersepsikan siswa kelas VIII-3 kurang berminat terhadap belajar dan hasil belajar, hal ini didukung oleh data guru IPS bahwa hanya 63% siswa yang menyelesaikan KKM Masyarakat menurut UPT SMP Negeri 1 Alla Penelitian mata pelajaran, Alla adalah 70. Bahkan, guru telah menerapkan berbagai mode pembelajaran, termasuk ceramah dan diskusi, untuk menumbuhkan minat belajar siswa.

Berdasarkan penyelidikan dan pengamatan sebelumnya, minat belajar IPS siswa di kelas VIII-3 masih sangat rendah. Siswa cenderung pendiam dan kurang aktif ketika terlibat dalam pembelajaran, yang dimungkinkan karena guru kurang bervariasi dalam pendekatan mereka. Terlihat bahwa siswa terkadang bosan dengan proses pembelajaran yang dilakukan dan siswa tidak terlalu tertarik untuk mengikuti mata kuliah tersebut, yang tercermin dari beberapa siswa yang sering sibuk dan tidak memperhatikan materi yang diberikan oleh guru.

Mengingat permasalahan yang dihadapi, maka perlu adanya peningkatan minat siswa untuk mempelajari IPS. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dikembangkan strategi pembelajaran yang lebih menarik yang dapat meningkatkan minat belajar siswa dan mengikuti proses pembelajaran tanpa adanya rasa paksaan. Salah satu strategi pembelajaran yang cocok untuk menyelesaikan masalah di atas adalah metode teka-teki silang. Guru merespon positif, sesuai dengan penjelasan peneliti tentang metode pembelajaran teka-teki silang yang akan diterapkan di kelas. Selain itu, guru setuju untuk mencoba menerapkan metode pembelajaran Kelas VIII-3 pada pembelajaran IPS.

B.  Deskripsi Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan dalam beberapa siklus. Data siklus I dan II menyimpulkan belum memenuhi kriteria keberhasilan tindakan kelompok, sedangkan pada siklus III telah memenuhi kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan. Di bawah ini adalah deskripsi data yang diperoleh untuk setiap loop.

1.    Siklus I

Siklus I dilaksanakan pada Jumat 2 November 2021 dimana satu pertemuannya 2 Jam Pelajaran (JP) atau 2 x 40 menit. Siklus I dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan dengan melanjutkan materi pelajaran yang sebelumnya disampaikan oleh guru. Selama pelaksanaan tindakan, Guru mata pelajaran IPS sebagai pengajar sedang Observer mengamati serta mencatat pelaksanaan tindakan pada proses pembelajaran.

Berdasarkan hasil obsevasi kegiatan pembelajaran dan catatan lapangan setelah pelaksanaan pembelajaran siklus I, dapat diperoleh kesimpulan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dalam siklus I cukup baik, akan tetapi guru kurang obtimal dalam penerapan metode Teka-Teki Silang. Penguasaan kelas masih kurang sehingga banyak siswa yang berbuat keramaian di kelas dan dibiarkan saja.

Pada awal sampai pertengahan proses pembelajaran, perhatian siswa belum sepenuhnya terpusat pada materi pelajaran. Siswa masih belum paham dengan model pembelajaran yang diterapkan. Antusiasme siswa masih kurang. Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang pada siklus I belum sepenuhnya dapat dilaksanakan secara optimal. Berdasarkan hasil pengamatan, rata- rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus I belum mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu sebesar 75%. Rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus I adalah sebesar 62%.

Beberapa kendala yang ditemukan pada siklus I antara lain:

a)    Guru belum optimal dalam menjelaskan dan mengondisikan pembelajaran dengan metode Teka-Teki Silang.

b)   Guru belum dapat mengkontrol kelas dengan baik pada saat penerapan metode Teka-Teki Silang.

c)    Guru belum dapat memanfaatkan waktu secara optimal dan efektif pada saat pembelajaran di kelas berlangsung.

d)   Guru kurang tegas menegur siswa yang membuat keributan di kelas.

e)    Rata-rata persentase indikator minat belajar belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan karena baru mencapai 62%.

Berdasarkan data-data dan kendala-kendala di atas, maka upaya meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan metode pembelajaran Teka-Teki Silang di kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla pada siklus I dapat dikatakan belum berhasil. Rata-rata indikator minat belajar siswa pada siklus I adalah 62% sehingga belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan yaitu 75%. Selain itu, persentase siswa kelas VIII-3� yang mencapai nilai KKM baru ada sebesar 20%. Padahal kriteria keberhasilan yang harus dicapai adalah 75%. Untuk itu perlu disusun rencana tindakan yang diperbaiki, rencana tindakan yang baru, ataupun yang dimodifikasi dari siklus sebelumnya pada siklus II agar mencapai kriteria keberhasilan tindakan.

Untuk itu perlu disusun rencana tindakan yang diperbaiki, rencana tindakan yang baru, ataupun yang dimodifikasi dari siklus sebelumnya pada siklus II agar mencapai kriteria keberhasilan.

2.    Siklus II

Pembelajaran mata pelajaran IPS pada siklus II ini merupakan perbaikan dari pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dengan menggunakan metode pembelajaran Teka-Teki Silang.

Berdasarkan hasil obsevasi kegiatan pembelajaran dan catatan lapangan setelah pelaksanaan pembelajaran siklus II, dapat diperoleh kesimpulan bahwa upaya peningkatan minat belajar siswa dengan metode pembelajaran Teka-Teki Silang lebih baik dari siklus I. Akan tetapi, guru masih kurang optimal dalam penyampaian materi di awal pembelajaran, dalam memberikan motivasi kepada siswa masih belum optimal.

Pengaruh penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang terhadap peningkatan minat belajar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran IPS sudah lebih baik dibandingkan siklus I. Siswa mulai menunjukan adanya minat belajar IPS dengan baik. Siswa yang tadinya jarang membaca menjadi aktif membaca materi yang diberikan oleh guru. Terlihat mereka lebih antusias dalam mengikuti pelajaran.

Hasil refleksi siklus II ini adalah rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus II masih kurang atau belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75% karena baru mencapai 70%. Selain itu, persentase siswa yang mencapai nilai KKM belum mencapai 75% sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Persentase siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II adalah sebesar 60%.

Beberapa tindakan yang mengakibatkan kegagalan pada siklus II ini adalah sebagai berikut.

a)    Pengelolaan kelas belum sepenuhnya berhasil.

b)   Beberapa siswa masih ramai pada saat pembelajaran di kelas, terutama siswa laki-laki.

c)    Peningkatan minat belajar siswa melalui penggunaan gambar belum optimal.

d)   Hanya sedikit siswa yang berani bertanya dan menanggapi pertanyaan dari guru.

Berdasarkan data-data di atas dan dengan melihat masih ada kendala-kendala yang dihadapi pada saat penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang di kelas VIII-3� pada siklus II, maka secara umum dapat dikatakan bahwa upaya perbaikan yang dilakukan di siklus II belum berhasil. Untuk itu perlu disusun rencana tindakan yang diperbaiki, rencana tindakan yang baru, ataupun yang dimodifikasi dari siklus sebelumnya pada siklus III agar mencapai kriteria keberhasilan tindakan.

3.    Siklus III

Pembelajaran mata pelajaran IPS pada siklus III ini merupakan perbaikan dari pelaksanaan pembelajaran pada siklus sebelumnya.

Berdasarkan hasil obsevasi kegiatan pembelajaran dan catatan lapangan setelah pelaksanaan pembelajaran siklus III, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan minat belajar siswa yang jauh lebih baik dari siklus-siklus sebelumnya. Pada siklus III, pengaruh penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang terhadap peningkatan minat belajar siswa dalam pelaksanaan pembelajaran IPS sangat besar.

Siswa terlihat lebih berminat dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Siswa juga lebih berani dalam menyampaikan ide maupun pendapatnya dalam menjawab pertanyaan guru. Selain itu siswa juga lebih berani bertanya, siswa yang pada siklus sebelumnya terlihat pasif juga sudah mulai aktif berpartisipasi di kelas.

Guru sudah dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik. Pengelolaan kelas yang dilakukan dalam siklus III ini jauh lebih baik dibandingkan siklus II. Guru mampu menjelaskan dan mengorganisasikan pembelajaran aktif dengan metode Teka-Teki Silang secara lebih baik. Selain itu juga sudah memberikan motivasi kepada siswa agar lebih berperan aktif di dalam kelas.

Respon siswa juga sangat baik. Siswa terlihat senang dan sangat bersemangat. Suasana kelas menjadi menyenangkandan kondusif. Minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran sudah terlihat dalam setiap tahap pembelajaran serta banyak dari siswa yang sudah fokus dengan pembelajaran yang dilakukan.

Proses pembelajaran di kelas berlangsung dinamis. Hal tersebut ditandai dengan minat belajar siswa dalam menyampaikan pertanyaan dan memberi tanggapan terhadap pertanyaan guru sehingga suasana lebih hidup.

Pada siklus III rata-rata persentase indikator minat belajar siswa sudah optimal atau sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75% karena rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada siklus III mencapai 88%. Selain itu, persentase siswa yang mencapai nilai ≤ 70 pada siklus ini sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75% bahkan melebihi. Persentase siswa kelas VIII-3 yang berhasil mencapai nilai ≤ 70 adalah 88%.Selain itu, persentase siswa yang mencapai nilai ≤ 70 pada siklus ini sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75% bahkan melebihi. Persentase siswa kelas VIII -3 yang berhasil mencapai nilai ≤ 70 adalah 80%. Hal ini didukung dengan pengakuan sebagian besar siswa yang mengaku lebih menyenangkan dan mudah memahami materi setelah diterapkannya metode pembelajaran Teka-Teki Silang.

Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan antara guru dengan peneliti pada siklus III, maka secara umum upaya perbaikan yang dilakukan dapat dikatakan berhasil atau dapat disimpulkan bahwa hipotesis tindakan seperti yang telah dijelaskan pada BAB II terbukti atau diterima.

C.  Pembahasan

Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom� Action Research). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat diartikan sebagai upaya atau tindakan yang dilakukan oleh guru atau peneliti untuk memecahkan masalah pembelajaran melalui kegiatan penelitian. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di UPT SMP Negeri 1 Alla� yang dilakukan sebanyak tiga siklus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa setelah penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang pada pembelajaran IPS di kelas VIII-3� UPT� SMP Negeri 1 Alla..

Hasil analisis pada siklus I sampai dengan siklus III menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas VIII-1 UPT� SMP Negeri 1 Alla. Hal ini didukung dengan data rata-rata persentase indikator minat belajar siswa yang meningkat tiap siklusnya sampai berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan pada siklus III.

Pada siklus I guru kurang dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik. Guru kurang mampu menjelaskan dan mengorganisasikan penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang. Guru belum dapat mengontrol kelas dengan baik. Pada awal pembelajaran guru tidak melakukan apersepi. Guru pun tidak memberikan penguatan dan menyimpulkan materi pelajaran di akhir pembelajaran.Upaya meningkatkan minat belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang di kelas VIII-3 UPT� SMP Negeri 1 Alla pada siklus I belum berhasil dengan baik. Hal tersebut dibuktikan dengan rata-rata persentase indikator minat belajar siswa pada lembar observasi baru mencapai 62%, sedangkan kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditetapkan adalah 75%. Selain itu, dilihat dari hasi belajar kelompok siswa yang mencapai nilai KKM masih dibawah krtiteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%. Siswa yang mencapai KKM pada siklus I sebanyak 20% atau 7 siswa. Siswa yang belum mencapai KKM pada siklus I sebanyak 80% atau 28 siswa. Beberapa kelemahan atau kendala yang mengakibatkan kegagalan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Guru kurang mampu untuk menjelaskan kegiatan pembelajaran dengan metode Teka-Teki Silang; 2) Guru kurang memotivasi siswa agar berperan aktif mengikuti kegiatan pembelajaran; 3) Guru belum dapat memanfaatkan waktu secara optimal dan efektif pada saat pembelajaran di kelas berlangsung; 4) Guru kurang tegas menegur siswa yang membuat keributan di kelas; 5) Tidak meratanya pendampingan guru saat diskusi berlangsung; 6) Rata-rata persentase indikator minat belajar belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan karena baru mencapai 62%.

Berdasarkan permasalahan atau kelemahan yang muncul pada siklus I, maka peneliti dan guru IPS membuat tambahan perencanaan pada pembelajaran siklus II yaitu Peningkatan kemampuan dalam menjelaskan kegiatan pembelajaran kepada siswa. Peningkatan kemampuan dalam mekanisme pengajaran dengan metode Teka-Teki Silang, Peningkatan motivasi siswa agar berperan aktif dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran melalui penggunaan gambar dalam lembar kertas Teka-Teki Silang, Pemanfaatan waktu secara optimal dan efektif pada saat pembelajaran di kelas berlangsung, Peningkatan ketegasan dalam menghadapi siswa yang ramai atau membuat keributan di kelas dan Peningkatan pendampingan siswa saat diskusi berlangsung.

Selanjutnya, pada proses pembelajaran siklus II guru masih dikatakan belum optimal dalam melakukan kegiatannya. Selain itu pelaksanaan tindakannya� kurang sesuai dengan rencana tindakan walaupun guru mampu menjelaskan dan mengorganisasikan pembelajaran dengan metode Teka-Teki Silang dengan lebih baik. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dalam siklus II belum menunjukkan perubahan yang berarti. Pengelolaan kelas belum sepenuhnya berhasil, masih ada beberapa siswa yang ramai pada saat pembelajaran di kelas, terutama siswa laki-laki. Hanya sedikit siswa yang berani bertanya dan menanggapi pertanyaan dari guru.

Pada awal pembelajaran siklus II siswa tampak bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran hal ini menunjukan bahwa minat belajar siswa masih rendah dalam mengikuti pembelajaran IPS. Pada kegiatan akhir, guru mengajak siswa bersama-sama untuk menyimpulkan materi pelajaran. Akan tetapi, pada akhirnya guru yang memberikan kesimpulan karena siswa belum ada yang berani mengemukakan pendapatnya untuk menyimpulkan.

Upaya meningkatkan minat belajar siswa dengan menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang di kelas VIII-3 UPT SMP Negeri 1 Alla� pada siklus II masih belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu 75% walaupun terdapat peningkatan persentase dari siklus I. Hal tersebut dibuktikan dengan rata-rata persentase indikator minat belajar siswa yang meningkat sebesar 8% dari siklus I menjadi 70%. Peningkatan persentase indikator minat juga berpengaruh pada peningkatan persentase indikator hasil belajar kelompok siswa yang meningkat sebesar 40% dari siklus I menjadi 60% walaupun hasilnya masih dibawah krtiteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%.

Peningkatan-peningkatan tersebut terjadi setelah diterapkannya metode pembelajaran Teka-Teki Silang dengan ditambah gambar dalam lembar Teka- Teki Silang sebagai motivasi dan untuk menarik perhatian siswa. Selain itu juga karena guru sudah mampu menjelaskan dan mengorganisasikan pembelajaran dengan metode Teka-Teki Silang dengan lebih baik dari siklus I. Beberapa tindakan yang mengakibatkan kegagalan pada siklus II adalah sebagai berikut: 1) Pengelolaan kelas belum sepenuhnya berhasil; 2) Beberapa siswa masih ramai pada saat pembelajaran di kelas, terutama siswa laki-laki; 3) Peningkatan motivasi siswa melalui penggunaan gambar belum optimal; 4) Hanya sedikit siswa yang berani bertanya dan menanggapi pertanyaan dari guru

Berdasarkan permasalahan atau kelemahan yang muncul pada siklus II, maka peneliti dan guru IPS membuat tambahan perencanaan pada pembelajaran siklus III yaitu mengelola kelas harus lebih baik dengan ketegasan, memberikan motivasi kepada siswa secara optimal dengan menggunakan gambar yang lebih menarik.

Pada akhirnya, pengamatan terhadap kegiatan guru pada siklus III menunjukkan bahwa guru sudah dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan baik. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dalam siklus III ini jauh lebih baik dibandingkan siklus II. Guru mampu menjelaskan dan mengorganisasikan pembelajaran dengan metode Teka-Teki Silang secara baik. Selain itu guru juga memberikan dorongan kepada siswa agar lebih berperan aktif di dalam kelas.

Siswa terlihat lebih berminat dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Siswa terlihat senang dan sangat bersemangat. Hal tersebut sesuai dengan apa yang diekmukakan oleh Hisyam Zaini, dkk (2012: 71) bahwa metode Teka-Teki Silang dapat digunakan sebagai strategi pembelajaran yang baik dan menyenagkan tanpa menghilangkan asensi belajar yang sedang berlangsung. Selain itu siswa juga lebih berani bertanya. Siswa yang pada siklus sebelumnya terlihat pasif juga sudah mulai aktif. Pada kegiatan akhir, siswa berperan aktif dalam menyimpulkan materi pelajaran bersama dengan guru.

Pada siklus III, minat belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus II sebesar 18% menjadi 88%. Hal tersebut dikarenakan pada III ini guru menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang ditambah dengan gambar. Selain itu, kendala atau kelemahan yang mengakibatkan kegagalan pada siklus II berhasil diatasi pada siklus III. Untuk memperjelas peningkatan minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPS, dapat dilihat dalamtabel berikut:


 

Tabel 1. Peningkatan Minat Belajar Siswa

No

Aspek

Indikator

Siklus

Kriteria

Keberhasilan

I

II

III

 

1

Perhatian

Memperhatikan guru saat proses pembelajaran

63%

62%

87%

75%

 

2

Ingin Tahu

Menanyakan materi yang belum dimengerti

63%

76%

86%

 

3

Keinginan

Menjawab dan merespon petanyaan guru

64%

84%

90%

4

Rasa Senang

Mengerjakan tugas dari guru

63%

61%

92%

Rata-rata Persentase Indikator

Minat Belajar Siswa

62%

70%

88%

 

 


Dari tabel diatas dapat dilihat dalam bentuk diagram sebagai berikut:


 

 

Gambar 2. Peningkatan Minat Belajar Siswa

 


Penelitian ini dikatakan berhasil juga apabila 75% dari siswa kelas VIII -3 memiliki nilai minimal 70 pada mata pelajaran IPS. Hal ini berdasarkan kurikulum UPT SMP Negeri 1 Alla mengenai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran IPS yaitu 70.

Berikut disajikan tabel mengenai persentase hasil kelompok belajar siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus I sampai siklus III.


 

Tabel 10 Peningkatan Hasil Belajar Kelompok Siswa Siklus I, II, dan III

Nilai

Siklus I

Siklus II

Iklus III

≤ 70

80%

40%

20%

≤ 70

20%

60%

80%

 


Berdasarkan tabel 13 di atas, dapat diketahui bahwa pada hasil kelompok belajar siswa siklus I, persentase siswa yang mencapai nilai ≤ 70 belum mencapai kriteria keberhasilan yaitu 75% karena baru mencapai 20%. Hal yang sama juga terjadi pada hasil siklus II. Persentase siswa yang mencapai nilai ≤ 70 belum mencapai kriteria keberhasilan karena baru mencapai 60% sehingga perlu ditingkatkan lagi pada siklus III. Pada hasil siklus III siswa yang mencapai nilai ≤ 70 sudah mencapai kriteria keberhasilan yang telah ditentukan bahkan melebihi. Hasil siklus III menunjukkan bahwa besarnya persentase siswa yang telah mencapai nilai ≤ 70 adalah 80%. Untuk lebih jelas lagi, dapat dilihat� pada diagram di bawah ini.


 

 

Gambar 10. Diagram Persentase Siswa yang Mencapai Nilai KKM Pada Hasil Belajar Kelompok Siklus I, II, dan III

 


D.  Temuan Penelitian

Selama pelaksanaan penelitian di lapangan, peneliti telah mengumpulkan data-data penelitian yang diperoleh berdasarkan hasil observasi atau pengamatan dan wawancara. Pada saat penelitian, ada beberapa pokok-pokok temuan penelitian antara lain yaitu:

1.    Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS.

2.    Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran IPS dalam bentuk keberanian bertanya, memecahkan soal atau menanggapi pertanyaan guru.

3.    Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS.

4.    Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

5.    Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang menjadikan proses pembelajaran berpusat pada siswa (student centered) sehingga tidak lagi berpusat pada guru (teacher centered) dan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator.

6.    Dalam penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang, siswa tidak lagi hanya sebagai objek pembelajaran tetapi sebagai subjek pembelajaran.

 

Kesimpulan

Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS dikelas VIII-3 UPT� SMP Negeri 1 Alla. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata persentase indikator minat belajar siswa setiap siklusnya. Pada siklus I rata- rata persentase indikator minat belajar siswa adalah 62%. Pada siklus II menjadi 70% atau mengalami peningkatan sebesar 8%. Pada siklus III mengalami peningkatan sebesar 18% sehingga menjadi 88%. Hal ini berarti bahwa rata-rata persentase indikator minat belajar siswa telah melampaui kriteria keberhasilan tindakan yang ditetapkan yaitu 75%.

Penerapan metode pembelajaran Teka-Teki Silang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan persentase siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus I sebesar 20% meningkat menjadi 60% pada siklus II. Selanjutnya masih mengalami peningkatan menjadi 80% pada siklus III. Hal ini berarti bahwa jumlah siswa yang mencapai nilai KKM (70) telah melampaui kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75%.

Impilkasi dari keberhasilan penelitian ini adalah guru harus menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang karena terbukti mampu menumbuhkan dan meningkatkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran IPS. metode pembelajaran Teka-Teki Silang bisa menumbuhkan rasa kerjasama pada setiap siswa bila diterapkan secara kelomp0k. Berdasarkan hasil, minat belajar siswa sangat berpengaruh kepada hasil belajar yang baik untuk itu guru harus menerapkan metode pembelajaran Teka-Teki Silang proses pembelajaran. Selain itu, guru harus menguasai strategi mengajar untuk mencapai hasil belajar yang baik.

 

BIBLIOGRAFI

 

Adnan, M. (2017). Urgensi penerapan metode paikem bagi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran pendidikan agama islam. CENDEKIA: Jurnal Studi Keislaman, 3(1), 133�150. https://doi.org/10.37348/cendekia.v3i1.39. Google Scholar

 

Aidah, S. N., & Indonesia, T. P. K. B. M. (2021). Cara Efektif Penerapan Metode dan Model Pembelajaran (Vol. 54). Penerbit KBM Indonesia. Google Scholar

 

Astiti, N. M., Sukadi, S., & Wesnawa, I. G. A. (2017). Pbl Berbantuan Media Audiovisual Dan Tipe Kepribadian Dalam Pembelajaran IPS. Jurnal Pendidikan IPS Indonesia, 1(2), 66�74. https://doi.org/10.23887/pips.v1i2.2826. Google Scholar

 

Baro�ah, S. (2020). Kebijakan merdeka belajar sebagai strategi peningkatan mutu pendidikan. Jurnal Tawadhu, 4(1), 1063�1073. Google Scholar

 

Baroya, E. H. (2018). Strategi pembelajaran abad 21. As-Salam: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, 1(1), 101�115. Google Scholar

 

Falachi, H., Kartana, T. J., & Utami, W. B. (2017). Pengaruh Penerapan Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Matematika Berbasis Kurikulum 2013 Terhadap Prestasi Belajar Matematika Peserta Didik Tahun Pelajaran 2016/2017. Aksioma: Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 8(1), 9�16. https://doi.org/10.26877/aks.v8i1.1508. Google Scholar

 

Gusniwati, M. (2015). Pengaruh kecerdasan emosional dan minat belajar terhadap penguasaan konsep matematika siswa SMAN di Kecamatan Kebon jeruk. Formatif: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA, 5(1), 26�41. https://doi.org/10.30998/formatif.v5i1.165. Google Scholar

 

Makruf, A. (2022). Meningkatkan Hasil Belajar IPS Materi Pola dan Bentuk�Bentuk Muka Bumi dengan Metode Out Door pada Siswa Kelas IX.. A SMPN 8 Pujut Tahun Pelajaran 2020/2021�. JUPE: Jurnal Pendidikan Mandala, 7(1), 81�88. https://doi.org/10.36312/jupe.v7i1.2992. Google Scholar

 

Mariana, N. I. (2022). Upaya Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar IPS Menggunakan Metode Teka-Teki Silang Kelas IX MTS N 6 Ponorogo. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(5), 6123�6136. https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i5.7665. Google Scholar

 

Munir, M. (2018). Manajemen Pemasaran Pendidikan Dalam Peningkatan Kuantitas Peserta Didik. Intizam, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(2), 78�94. Google Scholar

 

Nurkusuma, A., Achmadi, A., & Utomo, B. B. (2020). Efektivitas Penggunaan Media Teka-Teki Silang dalam meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 9(6), 1�9. https://doi.org/10.26418/jppk.v9i6.41060. Google Scholar

 

Purba, S., Subakti, H., Kato, I., Chamidah, D., Muntu, D. L., Cecep, H., Situmorang, K., & Saputro, A. N. C. (2021). Teori Manajemen Pendidikan. Medan: Yayasan Kita Menulis. Google Scholar

 

Sampurno, J. I. (2018). Peningkatan Minat dan Hasil Belajar IPS menggunakan Metode Teka-Teki Silang di Kelas VII SMP Negeri 4 Pasir Belengkong. BORNEO Jurnal Ilmu Pendidikan, 24, 173. Google Scholar

 

Sanjaya, W. (2011). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Prenada Media. Google Scholar

 

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Afabeta. Google Scholar

 

Supriyono, S. (2018). Pentingnya Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Minat Belajar Siswa Sd. Edustream: Jurnal Pendidikan Dasar, 2(1), 43�48. https://doi.org/10.26740/eds.v2n1.p43-48. Google Scholar

 

Susanto, A. (2014). Pengembangan pembelajaran IPS di SD. Yogyakarta: Kencana. Google Scholar

 

Syaharuddin, S. (2020). Pembelajaran Sejarah Lokal di Sekolah. Surabaya: Media Edukasi Indonesia. Google Scholar

 

Winarti, E. (2018). Perencanaan manajemen sumber daya manusia lembaga pendidikan. Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah, 3(1), 1�26. Google Scholar

 

Zaini, H. (2008). Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani. Google Scholar


 

Copyright holder :

Ratna Jita (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: