Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3 No. 10 Oktober 2022

p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356

Sosial Sains

 

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA BERDASARKAN PENGALAMAN PRIBADI DENGAN TEKNIK PANCINGAN KATA KUNCI PADA SISWA KELAS VII UPT SMP NEGERI 3 ALLA KABUPATEN ENREKANG

 

Suwarti

Guru Bahasa Indonesia UPT SMP Negeri 3 Alla Kabupaten Enreakng

Email: [email protected]

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

06 Oktober 2022

Direvisi

18 Oktober 2022

Disetujui

27 Oktober 2022

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Keterampilan menulis pada dasarnya adalah keterampilan mengungkapkan buah pikiran dan perasaan melalui bahasa tulis. Berdasarkan observasi awal keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi siswa kelas VII UPT SMP Negeri 3 Alla Kabupaten Enrekang masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci dan mendeskripsikan perubahan perilaku siswa setelah mengikuti pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap siklus I dan tahap siklus II, sedangkan pengumpulan datanya menggunakan teknik tes dan nontes, teknik nontes meliputi, observasi, jurnal, dan wawancara. Analisis data digunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan analisis data pada siklus I rata-rata skor sebesar 67,38 dengan kategori cukup, pada siklus II mengalami peningkatan 8,67% dengan rata-rata skor kelas 76,05 termasuk dalam kategori baik, peningkatan rata-rata skor kelas diikuti dengan peningkatan rata-rata skor tiap aspek penilaian. Pada aspek kesesuaian isi dengan tema, rata-rata pada siklus I sebesar 78,57 dengan kategori baik, dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 84,29 dengan kategori baik, pada aspek diksi, rata-rata pada siklus I sebesar 66,67 dengan kategori cukup, dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 79,05 dengan kategori baik, pada aspek rima, rata-rata pada siklus I sebesar 60,48 dengan kategori cukup, dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 70,48 dengan kategori baik, pada aspek tipografi, rata-rata pada siklus I sebesar 58,57 temasuk dalam kategori kurang, dan pada siklis II mengalami peningkatan sebesar 64,76 termasuk dalam kategori cukup.

Kata kunci:

Keterampilan Menulis Puisi, Pengalaman Pribadi, Teknik Pancingan Kata Kunci.

 

Keywords:

Poetry Writing Skills, Personal Experience, Keyword Trigger Technique.

ABSTRACT

Writing is one of the language skills. Writing skills are basically the skills to express thoughts and feelings through written language. Based on initial observations, poetry writing skills about the personal experiences of seventh grade students of UPT SMP Negeri 3 Alla, Enrekang Regency are still low. This study aims to describe the increase in the ability to write poetry about personal experiences with keyword provocation techniques and describe changes in student behavior after participating in learning. This research was conducted in 2 stages, namely the first cycle stage and the second cycle stage, while the data collection used test and non-test techniques, non-test techniques included observations, journals, and interviews. Data analysis used quantitative and qualitative approaches. Based on data analysis in the first cycle the average score was 67.38 with sufficient category, in the second cycle there was an increase of 8.67% with an average class score of 76.05 included in the good category, the increase in the average class score was followed by an increase in the average score of each aspect of the assessment. In the aspect of conformity of the content to the theme, the average in the first cycle was 78.57 with a good category, and increased in the second cycle of 84.29 with a good category, in the diction aspect, the average in the first cycle was 66.67 with enough category, and in the second cycle there was an increase of 79.05 in the good category, in the rhyme aspect, the average in the first cycle was 60.48 with the sufficient category, and in the second cycle there was an increase of 70.48 in the good category. typographical aspect, the average in the first cycle was 58.57 which was included in the less category, and in the second cycle there was an increase of 64.76 which was included in the sufficient category.

 


Pendahuluan

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas pendidikan (Oktarina, 2007). Masalah-masalah pendidikan yang menyangkut usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dalam menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan pasar bebas merupakan hal yang sangat menarik untuk ditelaah (Tantowi, 2022). Peningkatan dan pasar bebas merupakan suatu proses yang terintegrasi oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses kualitas sumber daya manusia (SDM), maka pemerintah berusaha memperbaiki pembangunan pendidikan antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum (Nasir, 2021).

Perbaikan kurikulum lama menjadi kurikulum baru yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) merupakan salah satu bentuk upaya konkret pemerintah Indonesia dalam menyikapi permasalahan pendidikan nasional, terutama mengenai input dan output pendidikan (Sumar & Razak, 2016). Perlu diketahui bahwa tidak ada perubahan drastis atau secara menyeluruh dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Proses pembelajaran masih berbasis kompetensi, namun yang menentukan indikator dalam materi pokok pelajaran disesuaikan dengan situasi sekolah atau daerah dan minat anak didik (Sumar & Razak, 2016).

Kurikulum� Tingkat� Satuan� Pendidikan� (KTSP)� Sekolah� Menengah� Pertama (SMP)� atau� Madrasah� Tsanawiah� (MTs),� pembelajaran� Bahasa� Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta membubuhkan apresiasi hasil karya kesastraan manusia Indonesia (Mahfuddin, 2013).

Materi pengajaran merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peran penting dalam membantu siswa mencapai kompetensi dasar dan standar kompetensi (Aisyi et al., 2013). Secara garis besar materi pembelajaran berisikan pengetahuan, ketrampilan dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa. Materi pengajaran Bahasa Indonesia terdiri dari dua jenis yaitu kemampuan berbahasa dan bersastra (Pujiatna et al., 2020).

Pengajaran sastra mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi watak, kepribadian, memperluas wawasan kehidupan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa pada siswa (Batubara, 2016). Dari pengajaran sastra, siswa dapat mengenal dan menikmati karya satra. Adanya pengajaran sastra, siswa mendapatkan pengalaman kehidupan yang terdapat dalam karya sastra itu sendiri. Selain itu, dalam pengajaran sastra siswa dapat mengungkapkan ide, gagasan atau pendapat yang menjadi ekspresi dari siswa (Batubara, 2016).

Pengalaman-pengalaman tersebut akan memperkaya nuansa batin dan pola pikir siswa yang akhirnya akan mempengaruhi tanggapan siswa terhadap dirinya, alam sekitarnya dan pencipta-Nya. Sastra dapat membantu pendidikan secara utuh karena sastra dapat meningkatkan pengetahuan budaya, mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, teknologi, dan pengetahuan � pengetahuan lain (Tindaon, 2012).

Misi pengajaran sastra adalah memperkaya pengalaman siswa dan menjadikannya lebih tanggap terhadap peristiwa - peristiwa disekelilingnya (Lestari et al., 2021). Tujuan akhir pengajaran sastra adalah menanam, menumbuhkan dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusia, pengenalan dan rasa hormatnya terhadap tata nilai, baik dalam konteks individual maupun sosial. Pengajaran sastra tidak dapat dipisahkan dari pengajaran bahasa. Walaupun demkian pengajaran sastra tidak dapat disamakan dengan pengajaran bahasa, yaitu perbedaannya terletak pada tujuan akhirnya (Nurdiansah, 2015).

Dalam pembelajaran sastra siswa ditempatkan sebagai pusat dalam dunia pendidikan bahasa yang mengkoordinasikan komunikasi lisan, eksplorasi sastra, dan perkembangan pengalaman individu (Huda, 2008). Sastra dalam pembelajaran dapat membantu pengajaran kebahasaan, karena sastra dapat meningkatkan empat keterampilan dalam berbahasa, yaitu menyimak, membaca, menulis, dan berbicara (Siroj, 2015).

Menulis puisi merupakan salah satu kompetensi dasar yang menjadi bagian dari standar kompetensi kemampuan bersastra siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Taum, 2017). Standar kompetensi tersebut mengarapkan siswa mampu mengungkapkan keindahan alam dan pengalaman melalui menulis kreatif puisi (Prayitno, 2013).

Dalam pengajaran sastra khususnya menulis puisi harus diutamakan Licentia Poetica atau kebebasan penyair (Wijayanti, 2022). Prinsip ini perlu ditanamkan agar siswa mampu menulis karya sastra tanpa harus terbebani dengan memperhatikan kaidah berbahasa, sehingga benar-benar natural, fleksibel dan wajar.

Dengan demikian, pembelajaran menulis kreatif puisi akan menjadi wahana menghaluskan rasa humanis dan manakala siswa berhasil menembus media massa, kepuasan batin akan tercapai.

Menulis puisi bagi kebanyakan orang merupakan pelajaran yang memberatkan murid dan guru. Pembelajaran menulis puisi harus lebih banyak bersifat aplikatif, berupa pelatihan- pelatihan kegiatan menulis. Untuk bisa terampil menulis puisi perlu latihan secara terus-menerus. Karena kemampuan menulis bukanlah suatu keterampilan yang dapat diajarkan melalui uraian atau penjelasan semata-mata (Gurning, 2021). Pembelajaran menulis puisi memerlukan praktek bukan teori, yaitu dengan melakukan kegiata menulis secara rutin.

Menulis puisi sering dianggap sebagai bakat oleh siswa, sehingga siswa yang merasa tidak mempunyai bakat takut untuk menulis puisi. Padahal anggapan tersebut terbukti kecil karena bakat tidak ada artinya tanpa latihan. Menulis puisi memerlukan latihan secara rutin, tanpa bakatpun bila siswa sering berlatih akan terampil menulis puisi.

Namun pada kenyataannya pembelajaran sastra di sekolah khususnya menulis puisi sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, guru lebih banyak menekankan teori dan pengetahuan bahasa daripada keterampilan. Kedua, proses belajar mengajar lebih banyak didominasi guru. Guru kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif berperan serta. Ketiga, bahan pelajaran belum relevan atau tidak sesuai dengan kebutuhan siswa. Padahal seorang guru harus menguasai bahan pelajaran dengan teknik-teknik mengajar yang menarik sehingga dapat menggugah minat dan perhatian siswa. Bahan pelajaran yang baik adalah bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulis. Dalam pembelajaran yang efektif, guru harus lebih melibatkan siswa dalam proses belajar sehingga akan membuat pelajaran lebih menarik dan tidak membosankan. Keempat,guru masih menggunakan metode ceramah. Kelima, guru kurang variatif dalam memilih sumber belajar. Keenam, metode atau teknik pembelajaran yang kurang tepat atau kurang menarik sehingga siswa malas dan bosan. Ketujuh, siswa beranggapan pelajaran sastra khususnya menulis puisi adalah pelajaran yang paling sulit. Kedelapan, peletakan jam yang kurang efektif yaitu pada jam terakhir, padahal pada jam terakhir siswa mulai kelelahan karena dari pagi sudah mengikuti pelajaran. Akibatnya siswa mengantuk dan malas mengikuti pelajaran. Kesembilan, sebagian guru merasa rendah diri, kebanyakan guru bahasa Indonesia kurang berminat mengajarkan sastra khususnya puisi.

Guru beranggapan bahwa dirinya bukan sastrawan sehingga guru merasa rendah diri dan merasa tidak mampu. Guru beranggapan dalam kegiatan semacam itu tidak ada manfaatnya baik untauk ujian maupun dalam kaitannya dengan pelajaran bahasa Indonesia. Padahal guru seharusnya tidak nperlu merasa rendah diri dalam mengajar dan membimbing menulis puisi meskipun bukan sastrawan. Di depan kelas yang diperlukan adalah kualitas sebagai guru bukan sebagai sastrawan. Yang paling penting adalah sikap guru memberi dorongan kepada muridnya untuk terampil menulis puisi. Faktor-faktor yang lain yang berasal dari siswa seperti, siswa kesulitan dalam menentukan diksi yang tepat, siswa kurang mengetahui adanya prinsip Licentia Poetica (kebebasan penyair), rima yang digunakan siswa kurang mendukung dengan suasana puisi, siswa dalam pembaitan kurang tepat, penampilan atau tipografi yang kurang menarik sehingga siswa menganggap menulis puisi sangat sulit.

Berdasarkan observasi di SMPN 2 Mojotengah Wonosobo kemampuan pembelajaran bersastra masih rendah, khususnya menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan menulis puisi yang belum baik seperti, siswa belum mampu menyesuaikan isi dengan tema, kesulitan dalam menentukan diksi yang tepat, rima yang digunakan siswa kurang mampu mendukung suasana puisi, serta penampilan puisi yang kurang menarik sehingga pembelajaran keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi siswa perlu ditingkatkan.

Usaha untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi diperlukan teknik pembelajaran yang sesuai dan menarik. Salah satu teknik yang dapat digunakan dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi adalah teknik pancingan kata kunci. Penggunaan teknik pancingan kata kunci sebagai strategi dalam pembelajaran keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi, dangan tujuan bisa mamberikan pengaruh dan rangsangan bagi siswa. Guru memberikan pancingan dengan kata kunci yang berhubungan dengan pengalaman pribadi, sehingga dengan mudah siswa akan mengingat kembali pengalamannya, sekaligus memudahkan siswa dalam menentukan diksi yang tepat untuk menulis puisi.

Berdasarkan kenyataan di atas peneliti mencoba menggunakan teknik pancingan kata kunci sebagai strategi dalam pembelajaran, sehingga diharapkan bisa meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Mojotengah setelah menggunakan teknik pancingan kata kunci dan untuk mengetahui perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis tentang pengalaman pribadi dengan menggunakan teknik pancingan kata kunci.

 

Metode Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII UPT SMP Negeri 3 Alla Kabupaten Enrekang. Siswa kelas VII UPT SMP Negeri 3 Alla Kabupaten Enrekang berjumlah 240 siswa yang terdiri atas 115 siswa putra dan 125 siswa putri. Peneliti memilih kelas VII dengan mengambil sampel 42 orang siswa secara acak sebagai subjek penelitian dengan berdasarkan pada kurang berhasilnya pembelajaran sastra khususnya menulis puisi tentang pengalaman pribadi.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1.    Teknik Tes

Data dalam penelitian ini diperoleh rnelalui tes. Tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu pada siklus I dan siklus II dengan tujuan untuk mengukur keterampilan siswa dalam menulis puisi. Tes diberikan kepada siswa pada akhir pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa yaitu tugas menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Pada siklus hasil tes di analisis, dari analisis akan diketahui kelemahan-kelemahan kemudian diberikan perbaikan untuk menghadapi tes pada siklus II.

2.    Teknik Nontes

a.    Observasi

Observasi dilakukan peneliti pada saat pembelajaran berlangsung dengan membuat catatan khusus mengenai perilaku siswa dalam kegiatan menulis puisi. Observasi dipergunakan untuk mernperoleh data tentang perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus I dan siklus II. Observasi dilakukan pada semua siswa dengan memberikan tanda check list pada lembar observasi berdasarkan lembar pengamatan pada saat pembelajaran berlangsung.

b.    Jurnal

Jurnal dalam penelitian ini ada dua, yaitu jurnal siswa dan jurnal guru. Jurnal siswa berisi mengenai tanggapan siswa rnengenai pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi menggunakan teknik pancingan kata kunci. Aspek yang digunakan untuk menilai mengenai tanggapan pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi menggunakan teknik pancingan kata kunci, meliputi ketertarikan siswa terhadap teknik pembelajaran yang digunakan, kernudahan dan kesulitan siswa dalam menulis puisi dan tanggapan siswa terhadap pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi menggunakan teknik pancingan kata kunci. Jurnal juga berisi tentang manfaat yang diperoleh siswa selama mengikuti pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi menggunakan teknik pancingan kata kunci. Jurnal guru berisi catatan-catatan mengenai perilaku siswa, respon siswa, keaktifan siswa pada saat proses pembelajaran keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi menggunakan teknik pancingan kata kunci.

c.    Wawancara

Wawancara digunakan untuk mengungkapkan data penyebab kesulitan dan hambatan dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi menggunakan teknik pancingan kata kunci. Wawancara dilakukan peneliti terhadap siswa yang nilainya berkategori baik, cukup dan kurang. Hal ini didasarkan pada hasil observasi, jurnal siswa, dan hasil tes akhir tiap siklus. Wawancara dilakukan setelah pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi menggunakan teknik pancingan kata kunci selesai dilakukan.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitain ini adalah secara kuantitatif dan kualitatif.

1.    Teknik Kuantitatif

Data kualitatif diperoleh dari hasil menulis puisi yang dibuat siswa pada siklus I dan siklus II.

2.    Teknik Kualitataif

Data kualitatif diperoleh dari instrumen nontes berupa hasil observasi, jurnal, dan wawancara. Skor hasil observasi dijumlahkan kemudian dikualitatifkan dan hasilnya digunakan untuk mengetahui perkembangan perilaku siswa selama pembelajaran dan setelah mengikuti pembelajaran menulis puisi. Analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang diperoleh, menyusunnya dalam satuan-satuan yang dikategorisasikan.

Hasil analisis data secara kualitatif digunakan untuk mengetahui perubahan penilaku siswa pada pembelajaran siklus I dan siklus II, serta mengetahui peningkatan keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi menggunakan teknik pancingan kata kunci.

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Hasil Penelitian Siklus I

Siklus I ini merupakan tindakan awal penelitian dengan teknik pancingan kata kunci. Teknik pancingan kata kunci pada siklus I dilaksanakan sebagai upaya memperbaiki dan memecahkan masalah yang muncul sebelum penelitian dilakukan. Pelaksanaan pembelajaran menulis puisi siklus I terdiri atas tes dan nontes. Hasil kedua data tersebut diurutkan secara rinci sebagai berikut.

Hasil tes menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci dapat dilihat pada tabel berikut.


 

Tabel 1. Hasil Tes Keterampilan Menulis Puisi Siklus I

No

Kategori

Rentang Skor

Frekuensi

Bobot Skor

Persentase

Rata rata skor

1

Sangat baik

85-100

0

0

0

= 67,38 Kategori Cukup

2

Baik

70-84

15

1.134

40,07

3

Cukup

60.69

24

1.528

53.99

4

Kurang

50-59

3

168

5,94

5

Sangat Kurang

<50

0

0

0

Jumlah

42

28.30

100

 


Data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa keterampilan siswa kelas VII dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi untuk kategori sangat baik dengan skor 85-100 dan kategori sangat kurang dengan skor <50 tidak dicapai siswa atau sebesar 0%, sedangkan kategori baik dengan skor 70-84 dicapai oleh 15 siswa atau sebesar 40,07%, kategori cukup dengan skor 60-69 dicapai oleh 24 siswa atau sebesar 53,99%, dan kategori kurang dicapai oleh 3 siswa atau sebesar 5,94%.hasil tersebut merupakan jumlah skor empat aspek keterampilan menulis puisi yang diujikan, yaitu jumlah aspek kesesuaian isi dengan tema, aspek diksi, aspek rima, dan aspek tipografi.

1.    Hasil Nontes

a.    Hasil Observasi

Observasi dilakukan selama proses pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci dikelas VII UPT SMP Negeri 3 Alla Kabupaten Enrekang. Observasi dilakukan oleh peneliti sekaligus sekaligus sebagai guru dengan bantuan teman.

Kegiatan observasi difokuskan pada tiga perilaku, yaitu keaktifan mendengarkan penjelasan guru, keaktifan selama proses pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi, dan keaktifan siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Hasil observasi siklus I seperti dilihat pada tabel berikut.


 

Tabel 2. Hasil Observasi Siklus I

No

Jenis perilaku

Fokus Observasi

Skor

Jenis perilaku

Fokus Observasi

1

Keaktifan

mendengarkan

penjelasan

guru

1.    Siswa mendengarkan penjelasan guru

2.    Siswa mau bertanya tentang materi yang diajarkan guru

3.    Siswa mau berkomentartentang materi yang diajarkan guru

4.    Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru

5.    Siswa mau membuat catatan

4

 

 

2

 

 

1

 

 

 

3

 

 

4

5

 

 

5

 

 

5

 

 

 

5

 

 

5

80

 

 

40

 

 

20

 

 

 

60

 

 

80

2

Keaktifan siswa selama proses pembelajaran

1.   Semua siswa semangat dalam belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi

2.   Semua siswa terlibat dalam pembelajaran menulis puisitentang pengalaman pribadi

3.   Semua siswa berdiskusi dalam belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi

4

 

 

 

 

4

 

 

 

3

5

 

 

 

 

5

 

 

 

5

80

 

 

 

 

80

 

 

 

60

3

Keaktifan mengerjakan tugas telah ditentukan

1.   Semua siswa mengerjakan tugas menulis puisi bertemakan pengalaman pribadi dengan sungguh- sungguh

2.   Semua siswa mampu mengerjakan tugas dalam waktu yang telah ditentukan.

 

 

 

 

41

50

 

 

41/50x100=82

 


Dari data observasi diatas dapat diketahui hasil observasi siklus I mencapai rata- rata skor 64. Hasil tersebut diperoleh dari pemberian skor fokus observasi pada saat mengikuti proses belajar mengajar. Pada fokus observasi (1) siswa mendengarkan penjelasan guru mencapai skor 4 atau 80%. Pada focus observasi (2) siswa mau bertanya tentang materi yang diajarkan guru mencaspai skor 2 atau 40%. Pada focus observasi (3) siswa mau berkomentar tentang materi yang diajarkan guru mencapai skor 1 atau 20%. Pada focus observasi (4) siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru mencapai skor 3 atau 60%. Pada focus observasi (5) siswa mau membuat catatan mencapai skor 4 atau 80%. Pada focus observasi (6) semua siswa semangat dalam belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi mencapai skor 4 atau 80%. Pada focus observasi (7) semua siswa terlibat dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi mencapai skor 4 atau 80%. Pada focus observasi (8) semua siswa berdiskusi dalam belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi mencapai skor 3 atau 60%. Pada focus observasi (9) semua siswa mengerjakan tigas menulis kreatif puisi yang bertema pengalaman pribadi dengan sungguh-sungguh mencapai skor 3 atau 60%. Pada focus observasi (10) semua siswa menyelesaikan tugas dalam waktu yang telah ditentukan mencapai skor 4 atau 80%. Hasil tersebut tampak pada diagram 3 berikut.


 

 

Gambar 1. Diagram Perolehan Rata rata Skor tiap Fokus Observasi Siklus 1

 


Diagram 1. Perolehan Rata-rata Skor Tiap Fokus Observasi Siklus I. Berdasarkan diagram 3 dapat diketahui bahwa dalam mengikuti proses pembelajaran keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci memiliki kemampuan yang cukup baik.

b.    Hasil Jurnal

1)   Jurnal Siswa

Jurnal digunakan untuk mengetahui kesan dan pesan siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran menulis puisi dengan teknik pancingan kata kunci. Jurnal diisi oleh siswa setelah kegiatan pembelajaran selesai yang meliputi empat pertanyaan yaitu (1) apakah siswa merasa senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi, (2) apakah siswa tertarik belajar menulis puisi dengan teknik pancingan kata kunci, (3) apakah siswa mengalami kesulitan dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, dan (4) ksan pan pesan siswa terhadap pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadidengan teknik pancingan kata kunci.

Hasil dari jurnal menunjukkan bahwa 36 siswa senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Siswa senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi karena dapat menceritakan pengalaman sendiri menjadi puisi, siswa senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi karena bias mencurahkan isi hati dan siswa senang manulis puisi tentang pengalaman pribadi karena pengalaman pribadi merupakan sesuatu yang benar-benar tejadi dan berkesan di hati. Sementara itu 6 siswa menyatakan tidak tidak senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Salah satu siswa yang tidak senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi beralasn karena tidak suka membuat puisi tentang pengalaman pribadi. Dari 42 siswa, 38 siswa merasa tertarik belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, sedangkan 4 siswa merasa tidak tertarik. Sebagian besar siswa merasa tertarik menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci karena mereka merasa lebih mudah mencari ide dan mnemukan kata-kata yang sesuai dalam menulis puisi. Sebagian besar siswa, yaitu 27 siswa mengalami kesulitan dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci. Sebagian siswa kesulitan memilih kata atau diksi yang tepat untuk membuat puisi, dan kesulitan mengungkapkan perasaan. Sedangkan 15 siswa merasa tidak mengalami kesulitan.

Dari 42 siswa, 36 siswa merasa senang dengan pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, sedangkan 6 siswa merasa tidak senang. Sebagian besar siswa merasa senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi karena mereka merasa bahwa belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi sangat menyenangkan dan menambah pengetahuan bagi mereka. Namun, sebagian kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi menyebabakan sebagian siswa kurang menyukai pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi.

Dari data jurnal dapat disimpulkan bahwa masih ada siswa yang kurang menyukai pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, dan masih banyaksiswa yang mengalami kesulitan dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi sehingga guru perlu memperbaiki strategi pembelajaran agar dapat mengatasi kesulitan belajar siswadan mengarahkan siswa keperilaku yang baik.

2)   Jurnal Guru

Jurnal guru berisi uraian pendapat dan keseluruhan kejadian yang dapat ditangkap guru pengajar selama pembelajaran berlangsung. Jurnal diisi oleh guru setelah kegiatan pembelajaran selesai yang meliputi lima pertanyaan, yaitu (1) respon siswa terhadap materi menulis puisi, (2) respon siswa terhadap strategi pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci. (3) keaktifan siswa dalam pembelajaran. (4) keseriusan siswa dalam menulis puisi dan (5) Kedisiplinan siswa dalam mengumpulkan tugas.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada saat pembelajaran berlangsung, dapat dijelaskan bahwa sebagian siswa tertarik dengan materi pembelajaran menulis puisi, tetapi sebagian siswa masih terlihat belum siap mengikuti pembelajaran. Namun, setelah masuk dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci siswa terlihat lebih baik.

Pada siklus I keaktifan siswa dalam pembelajaran masih kurang, hanya beberapa siswa yang mau bertanya dan mempresentasikan puisinya di depan kelas pada saat kegiatan menulis puisi, sebagian besar siswa sudah menulis puisi dengan penuh perhatian akan tetapi ada sebagian siswa yang belum serius menulis puisi.

Kedisiplinan siswa dalam mengumpulkan tugas sudah baik. Sebagian siswa mengumpulkan tugas tepat waktu meskipun ada beberapa siswa yang mengumpulkan tugas di akhir pembelajaran.

c.    Hasil Wawancara

Wawancara dilakukan oleh peneliti kepada satu siswa yang memperoleh nilai tertinggi, satu siswa yang memperoleh nilai sedang, dan satu siswa yang memperolehnilai rendah dalam tes menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Wawancara pada siklus I dilakukan untuk mengetahui tanggapan para siswa terhadap pembelajaran menulis kreatif puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci. Wawancara ini mengungkapkan 4 pertanyaan sebagai berikut: (1) apakah siswa berminat menulis puisi tentang pengalaman pribadi dangan teknik pancingan kata kunci,(2) apakah siswa mengalami kesulitan ketika menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, (4) apakah ada manfaat yang diperoleh siswa ketika mengikuti pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci.

Jawaban berminat dilontarkan oleh satu siswa yang memperoleh nilai tinggi, satu siswa yang memperolaeh nilai sedang, dan satu siswa yang memperoleh nilai rendah. Siswa yang memperoleh nilai tinggi berminat karena dengan cara menggunakan teknik pancingan kata kunci cepat mendapatkan ide, siswa yang mendapat nilai sedang berminat karena hasil pengungkapan sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan, sedangkan siswa yang memperoleh nilai rendah berminat karena bias mengungkapkan apa yang ada dipikiran.

Sebagian besar siswa berminat menulis kreatif puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci. Mereka berminat dengan pembelajaran menulis puisi karena ingin memperluas pengetahuan. Selain itu dengan menggunakan teknik pancingan kata kunci mereka lebih mudah menemukan ide dan kata-kata yang sesuai untuk menulis puisi. Hal tersebut juga menjadi alasan bagi siswa mengapa lebih mudah menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci. Selanjutnya siswa yang kesulitan menulis puisi tentang pengalaman pibadi dengan teknik pancingan kata kunci karena kesulitan dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran dalam bentuk kata-kata sehingga mereka sedikit mengalami hambatan selama menulis puisi.

Dari beberapa tanggapan yang dikemukakan oleh siswa, mereka pada umumnya berminat dengan teknik pancingan kata kunci dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi karena menurut siswa dengan teknik pancingan kata kunci dapat mempermudah mereka dalam menemukan ide dan menemukan kata- kata yand sesuai untuk menulis puisi. Mereka juga berminat mengikuti pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci karena ingin memperluas pengetahuan.

B.  Hasil Penelitian Siklus II

Tindakan siklus II dilakukan karena pada siklus I keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi siswa kelas VII UPT SMP Negeri 3 Alla Kabupaten Enrekang belum terdapat siswa yang memperoleh nilai dengan kategori sangat baik,meskipun pencapaian nilai rata-rata kelas sudah cukup baik. Selain itu masih terdapat tingkah laku siswa yang kurang mendukung pembelajaran. Perubahan tingkah laku siswa dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi masih tergolong cukup belum tampak perubahan berarti.oleh karena itu, tindakan siklus II dilakukan untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi dan mengubah perilaku siswa dalam pembelajaran.

Pada siklus II penelitian dilakukan dengan rencana dan persiapan yang lebih matang daripada siklus I. tindakan siklus II ternyata dapat mengatasi masalah- masalah yang ada dalam pembelajaran siklus I. hal ini dibuktikan dengan terdapatnya beberapa siswa yang memperoleh nilai dengan kategori sangat baik. Meningkatnya tes ini juga diikuti dengan perubahan perilaku siswa yang lebih aktif dan serius dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci.

1.    Hasil Nontes

a.    Hasil Observasi

Kegiatan observasi pada siklus II dilakukan selama proses pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci pada siswa kelas VII UPT SMP Negeri 3 Alla Kabupaten Enrekang. Observasi ini dilakukan oleh peneliti sekaligus sebagai guru dengan bantuan teman. Selama melakukan pembelajaran siklus II, peneliti merasakan ada perubahan perilaku siswa. Hasil observasi siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.


 

Tabel 3. Hasil Observasi Siklus II

No

Jenis perilaku

Fokus Observasi

Skor

Jenis perilaku

Fokus Observasi

1

Keaktifan

mendengarkan

penjelasan

guru

1.   Siswa mendengarkan penjelasan guru

2.   Siswa mau bertanya tentang materi yang diajarkan guru

3.   Siswa mau berkomentar tentang materi yang diajarkan guru

4.   Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru

5.   Siswa mau membuat catatan

5

 

 

3

 

 

 

3

 

 

 

 

4

 

 

4

5

 

 

5

 

 

 

5

 

 

 

 

5

 

 

5

100

 

 

60

 

 

 

60

 

 

 

 

80

 

 

80

2

Keaktifan siswa selama proses pembelajaran

1.   Semua siswa semangat dalam belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi

2.   Semua siswa terlibat dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi

3.   Semua siswa berdiskusi dalam belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi

5

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

3

5

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

5

100

 

 

 

 

100

 

 

 

 

 

60

3

Keaktifan mengerjakan tugas telah ditentukan

1.   Semua siswa mengerjakan tugas menulis puisi bertemakan pengalaman pribadi dengan sungguh- sungguh

2.   Semua siswa mampu mengerjakan tugas dalam waktu yang telah ditentukan.

5

 

 

 

 

 

 

4

5

 

 

 

 

 

 

5

100

 

 

 

 

 

 

80

 

41

50

 

 

41/50x100=82

 


Pada tabel 15 diatas dapat diketahui, hasil observasi siklus II mencapai skor rata- rata 82. Hasil tersebutdicapai dari perubahan skor focus observasi yang diamati pada kondisi saat mengikuti proses pembelajaran. Pada fokus observasi (1) siswa memperhatikan penjelasan guru mencapai skor 5 atau 100%. Pada fokus observasi

(2) siswa mau bertanya tentang materi yang diajarkan guru mencapai skor 3 atau 60%. Pada fokus observasi (3) siswa mau berkomentar tentang materi yang diajarkan guru mencapai skor 3 atau 60%. Pada fokus observasi (4) siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru mencapai skor 4 atau 80%. Pada fokus observasi (5) siswa mau membuat catatan mencapai skor 4 atau 80%.

Pada fokus observasi (6) semua siswa semangat dalam belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi mencapai skor 5 atau 100%. Pada fokus observasi (7) semua siswa terlibat dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi mencapai skor 5 atau 100%. Pada fokus observasi (8) semua siswa berdiskusi belajar menulis kreatif puisi tentang pengalaman pribadi mencapai skor 3 atau 60%. Pada fokus observasi (9) semua siswa mengerjakan tugas menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan sungguh-sungguh mencapai skor 5 atau 100%. Pada fokus observasi (10) siswa mampu menyelesaikan tugas dalam waktu yang telah ditentukan mencapai skor 4 atau 80%. Hasil tersebut tampak pada diagram 6 berikut.


 

 

Gambar 2. Diagram Perolehan Rata rata Skor tiap Fokus Observasi Siklus II

 


Diagram 2. Perolehan Rata-rata Tiap Fokus Observasi Siklus II Berdasarkan diagram 6 tersebut dapat diketahui bahwa siswa memiliki sikap yang baik dalam mengikuti proses pembelajaran keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci.

b.    Hasil Jurnal

1)   Jurnal Siswa

Jurnal diisi oleh siswa setelah kegiatan pembelajaran selesai yang meliputi empat pertanyaan, yaitu (1) apakah siswa merasa senag menulis puisi tentang pengalaman pribadi, (2) apakah siswa tertarik belajar menulis puisi dengan teknik pancingan kata kunci, (3) apakah siswa mengalami kesulitan dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, dan (4) kesan dan pesan siswa terhadap pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci.

Dari data jurnal diketahui 38 siswa merasa senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Sebagian besar siswa merasa senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi dan 4 siswa tidak senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Sebagian besar siswa merasa senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Mengenai keterampilan siswa belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, 38 tertarik sedangkan 4 siswa tidak tertarik belajar menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci. Dari 42 siswa, 8 siswa masih mengalami kesulitan dalam menulis puisi tentang pengalaman pibadi terutama dalam memilih diksi yang tepat dan merangkai kata-kata menjadi sebuah puisi. Sisanya 4 siswa merasa sedikit mengalami kesu;itan dan 30 siswa merasa tidak mengalami kesulitan dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi karena sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh guru. Mereka merasa terbantu dengan pancingsan kata kunci yang diberikan guru memudahkan mereka menulis puisi. Dalam pembelajaran siklus II, sebagian siswa merasa semakin mengerti mengenai penulisan puisi tentang pengalaman pribadi. Pada dasarnya sebagian besar siswa menyukai pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci karena merasa lebih terbantu dengsan adanya srategi pembelajaran yang diberikan guru. Sebanyak 38 siswa merasa senang karena mereka merasa bahwa pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci membantu dan mempermudah mereka dalam menuli puisi. Sementara itu 4 siswa merasa tidak senang dangan pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci karena masih kesulitan dalam menentukan diksi yang tepat dan merangkainya menjadi sebuah puisi.

2)   Jurnal Guru

Jurnal guru berisi uraian pendapat dan keseluruhan kejadian yang dapat ditangkap guru pengajar selama pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci berlangsung. Jurnal diisi oleh guru setelah kegiuatan pembelajaran selesai yang meliputi 5 pertanyaan, yaitu (1) respon siswa terhadap materi menulis puisi. (2) respon siswa terhadap strategi pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, (3) keaktifan siswa dalam pembelajaran, (4) keseriusan siswa dalam menulis puisi, dan (5) kedisiplinan siswa dalam mengumpulkan tugas.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada saat pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci berlangsung, dapat dijelaskan sebagian besar siswa tertarik dengan materi pembelajaran menulis puisi.

Pada siklus II keaktifan siswa dalam pembelajaran sudah cukup baik, terbukti dengan beberapa siswa yang mau menjawab pertanyan yang diberikan oleh guru. Sebagian besar siswa yang mengerjakan tes menulis puisi dengan serius dan sungguh-sungguh. Kedisiplinan siswa saat mengumpulkan tugas sudah lebih baik. Sebagian besar siswa mengumpulkan tugas dengan tepat waktu.

c.    Hasil Wawancara

Wawancara siklus II juga dilakukan peneliti pada satu siswa yang memperoleh nilai tinggi, satu siswa yang memperoleh nilai sedang, dan satu siswa yang memperoleh nilai rendah.teknik wawancara siklus II ini masih sama dengan siklus I, wawancara mengungkap 4 pertanyaan sebagai berikut: (1) apakah siswa berminat dengan pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, (2) apakah siswa mengalami kasulitan selama pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci, (3) apakah siswa merasa lebih mudah memulai menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancinhgan kata kunci, dan (4) apakah siswa memperoleh manfaat setelah mengikuti pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci.

Pada dasarnya siswa yang memperoleh nilai tinggi, sedang, dan rendah berminat menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci. Mereka berminat karena menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci menjadikan lebih mudah menulis puis serta menambah pengetahuan dalam menulis puisi. Namun demikian pada umumnya semua senang menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci karena mempermudah dalam menulis puisi. Hal ini dikarenakan siswa mendapat bantuan dari guru berupa pancingan kata kunci sehingga lebih mudah membuat puisi.

Siswa memperoleh nilai tinggi dan sedang menyatakan bahwa mereka lebih mudah memulai menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci karena lebih mudah menemukan kata-kata yang sesuai untuk menulis puisi. Siswa yang memperoleh nilai rendah mengatakan sedikit mengalami kesulitan pada waktu mencari ide dan pokok kata-kata yang tepat. Berbeda dengan siswa yang memperoleh nilai tinggi dan sedang mereka mengalami kesulitan dalam merangkai kata-kata untuk menulis puisi.

Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa mereka berminat dengan teknik pancingan kata kunci dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi karena mereka merasa memperoleh pengetahuan yang baru. Hal ini dapat dikatakan bahwa pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci yang diterapkan oleh guru sudah berhasil meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis puisi.

C.  Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian ini didasarkan pada hasil penelitian siklusI, dan hasil tindakan siklus II. Pembahasan hasil penelitian meliputi hasil tes dan nontes. Pembahasan hasil tes mengacu pada perolehan skor yang dicapai siswa dalam uji keterampilan menulis puisi dengan tema pengalaman pribadi. Aspek-aspek yang dinilai dalam keterampilan menulis kreatif puisi meliputi 4 aspek yaitu: (1) aspek kesesuaian isi dengan tema, (2) aspek diksi, (3) aspek rima, dan (4) aspek tipografi. Perubahan hasil nontes berpedoman pada 3 instromen, yaitu: (1) lembar observasi, (2) jurnal, dan (3) wawancara.

Kegiatan siklus I dan siklus II dilakukan setelah mengetahui kondisi awal pembelajaran. Peneliti melakukan tindakan siklus I dan siklus II dengan melakukan pembelajaran menggunakan teknik pancingn kata kunci. Pada pembelajaran siklus I dan siklus II guru memberikan apersepsi dengan merangsang ingatan siswa menuju ke pokok materi ataupun dengan melatih ingatan siswa dengan bertanya jawab. Sebelum kegiatan inti pembelajaran, guru menjelaskan terlebih dahulu segala kegiatan yang akan dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Kegiatan inti pembelajaran diawali dengan memberikan semangat kepada siswa dengan cara memberikan contoh puisi tentang pengalaman pribadi, kemudian siswa disuruh berdiskusi untuk mengamati dan menemukan unsur-unsur dalam contoh puisi tersebut. Hasil diskusi dibahas guru bersama siswa dan guru memperkuat penegasan hasil diskusi. Selanjutnya guru menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menulis puisi dan menjelaskan jenis-jenis pengalaman pribadi. Langkah selanjutnya guru memberikan pancingan kata kunci, setelah itu guru mengadakan tes menulis puisi tentang pengalaman pribadi secara individu dengan tema yang telah ditentukan.

Setelah selesai guru memilih beberapa hasil tulisan siswa yang baik, kemudian siswa mempresentasikan didepan kelas. Hasil puisi siswa dikumpulkan kepada guru untuk dikoreksi dan selanjutnya siswa diminta untuk mengisi jurnal.

1.    Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Tentang Pengalaman Pribadi.


 

Tabel 4. Hasil Tes Keterampilan Menulis Siklus I dan Siklus II

No

Aspek Penilaian

Rata-rata Skor Kelas

Peningkatan

S I

S II

S I-S II

1.

Kesesuaian isi dengan tema

78,57

84,29

5,72%

2.

Diksi

66,67

79,05

12,38%

3.

Rima

60,48

70,48

10%

4.

Tipografi

58,57

64,76

6,19%

67,38

76,05

8,67%

 


Peningkatan keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi dari tes siklus I dan siklus II dapat juga dilihat pada diagram 7 berikut.


 

 

Gambar 3. Diagram Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Pada Tiap Tes

 


Berdasarkan rekapitulasi data hasil keterampilan menulis puisi dari siklus I sampai siklus II dapat dijelaskan bahwa rata-rata skor siswa pada aspek kesesuaian isi dengan tema pada tes siklus I sebesar 78,57. Pada pembelajaran siklus II rata-rata skor tes, meningkat 5,72%. Melalui penjelasan dan diskusi pada pembelajaran siklus II siswa sudah paham dalam menyesuaikan isi dengan tema sehingga isi puisi sudah sesuai dengan tema yang ditentukan.

Keterampilan siswa pada aspek diksi mengalami peningkatan dari tes siklus I sampai siklus II. Rata-rata skor pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 12,38% dari tes siklus I. malalui penjelasan dan diskusi pada pembelajaran siklus II siswa sudah dapat memilih diksi yang tepat dalam menulis puisi.

Pada aspek rima, rata-rata skor siswa pada tes siklus II mengalami peningkatan sebesar 10% dari tes siklus I. setelah beberapa kali diberi penjelasan dan contoh, pada pembelajaran II siswa sudah dapat menyesuaikan rima dengan suasana puisi. Pada aspek tipografi, sebagian besar siswa belum menggunakan tipografi yang unik dalam menulis puisi. Melalui penjelasan dan diskusi pada siklus II, rata-rata skor siswa meningkat sebesar 6,19% dari silus I. Peningkatan tersebut karena guru memberikan penjelasan dan contoh tipografi sehingga siswa lebih paham tentang tipografi yang unik.

Rata-rata skor kelas pada tes menulis puisi tentang pengalaman pribadipada siklus I sebesar 67,38 dan termasuk dalam kategori cukup. Rata-rata skor tersebut diakumulasikan dari masing-masing aspek penilaian. Dilihat dari rata-rata skor setiap aspek panilaian pada siklus I, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa pada setiap aspek penilaian mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan penelitian.

Rata-rata skor kelas pada tes keterampilan menulis puisi siklus II sebesar 76,05 dan termasuk dalam kategori baik karena pada rentang skor 70-84. Skor pada masing-masing aspek pada siklus II samuanya mengalami peningkatan. Berdasarkan rata-rata skor tiap aspek penilaian pada siklus II dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam setiap aspek penilaian menulis puisi mengalami peningkatan 8,67% dari siklus I.

Peningkatan keterampilan siswa dalam menulis kreatif puisi tentang pengalaman pribadi sudah baik. Sebelum dilakukan pembelajaran siklus I dan II. Keterampilan menulis kreatif puisi tentang pengalaman pribadi termasuk dalam kategori kurang. Setelah dilakukan pembelajaran dengan teknik pancingan kata kunci pada siklus I dan siklus II, kemampuan menulis puisi tentang pengalaman pribadi siswa mengalami peningkatan. kelas VII UPT SMP Negeri 3 Alla Kabupaten Enrekang.

2.    Perubahan Perilaku Siswa

Dari hasil nontes, yaitu observasi, jurnal, dan wawancara pada siklus I dapat disimpulkan bahwa kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi tentang pengslsmsn pribadi dengan teknik pancingan kata kunci belum maksimal. Meskipun sebagian besar siswa terlihat bersemangat dan antusias terhadap materi yang disampaikan guru. Namun ada beberapa siswa yang belum siap dan terlihat masih berbicara dengan teman sebangkunya.

Kondisi pada sikus I merupakan permasalahan yang harus dicari solusinya. Untuk mengtasi masalah tersebut, peneliti membuat rencana pembelajaran siklus II dengan lebih baik. Pada pembelajaran siklus II sudah ada perubahan perilaku siswa. Siswa tampak lebih antusias dan bersemangat mengikuti pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci. Sebagian besar siswa juga lebih aktif berdiskusi dan mengerjakan tes menulis puisi denga lebih serius da bersungguh-sungguh, sehingga berdampak pada hasil tes yang semakin meningkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perilaku siswa dalam pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci menunjukkan perubahan positif dari perilaku negative.

 

Kesimpulan

Keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi pada siklus I memperoleh skor rata-rata 67,38 dengan kategori cukup. Setelah dilakukan pembelajaran siklus II, rata-rata skor tes menulis puisi tentang pengalaman pribadi siswa mwningkat sebesar 8,67%. Rata-rata skor siswa kelas pada tes siklus II mencapai 76,05 dan termasuk dalam kategori baik.

Setelah digunakan pembelajaran keterampilan menulis puisi tentang pengalaman pribadi dengan teknik pancingan kata kunci terjadi perubahan perilaku siswa, dari perilaku negatif ke positif. Pada pembelajaran siklus I kesiapan siswa mengikuti kegiatan pembelajaran cukup baik, namun ada beberapa siswa yang masih menunjukkan perilaku negatif. Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran dan diskusi masih kurang sehingga dalam menulis puisi tentang pengalaman pribadi sebagian siswa masih mengalami kesulitan. Pada pembelajaran siklus II, siswa tampak lebih siap, serius dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi tentang pengalaman pribadi. Perubahan terlihat pada perilaku siswa yang aktif dalam pembelajaran.

 

BIBLIOGRAFI

 

Aisyi, F. K., Elvyanti, S., Gunawan, T., & Mulyana, E. (2013). Pengembangan bahan ajar TIK SMP mengacu pada pembelajaran berbasis proyek. Invotec, 9(2), 117�128. https://doi.org/10.17509/invotec.v9i2.4861. Google Scholar

 

Batubara, L. S. (2016). Pengaruh Kegiatan Membaca Kritis Sastra untuk meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas VII SMP Swasta Istiqlal Delitua Tahun Pembelajaran 2015/2016. UNIMED. Google Scholar

 

Gurning, E. O. (2021). Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Cerpen Melalui Metode Latihan Terbimbing Dengan Media Teks Lagu Pada Siswa Kelas XII MIA-1 SMA Negeri 16 Medan. Cybernetics: Journal Educational Research and Social Studies, 2(2), 151�160.� Google Scholar

 

Huda, M. (2008). Pembelajaran Sastra Di Kelas Xi Sma Negeri 1 Surakarta Tahun 2007-2008: Bahan Ajar, Metode, Dan Respon Siswa. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Google Scholar

 

Lestari, A. T., Supriyono, S., & Alfiawati, R. (2021). Nilai-Nilai Religius pada Novel Negeri 5 Menara Karya Ahmad Fuadi dan Implikasi pada Pembelajaran Sastra di SMP. Warahan: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 3(1), 1�10. https://doi.org/10.22219/.v1i1.1735. Google Scholar

 

Mahfuddin, A. (2013). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Menengah Atas (SMA). Allemania, 2(2), 241363. Google Scholar

 

Nasir, M. (2021). Pengembangan Sumber Daya Sekolah dalam Upaya Menjamin Layanan Belajar yang Berkualitas Pada SMP Swasta Nurul Arafah Baktiya. MUDABBIR (Journal Research and Education Studies), 1(2), 115�123. Google Scholar

 

Nurdiansah, D. M. (2015). Nilai sejarah dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah, 2015. Google Scholar

 

Oktarina, N. (2007). Peranan Pendidikan Global dalam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia. Dinamika Pendidikan Unnes, 2(3), 189�198. Google Scholar

 

Prayitno, H. W. (2013). Peningkatan keterampilan menulis puisi menggunakan teknik inkuiri dan latihan terbimbing. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 2(2), 1�10. https://doi.org/10.15294/jpbsi.v2i2.2399. Google Scholar

 

Pujiatna, T., Rosmaya, E., & Wahyuningsih, N. (2020). Pengembangan Bahan Ajar Simak Berorientas Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Mahasiswa pada Mata Kuliah Menyimak. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7(1), 91�97. https://doi.org/10.33603/deiksis.v7i1.2804. Google Scholar

 

Siroj, M. B. (2015). Pengembangan Model Integratif Bahan Ajar Bahasa Indonesia Ranah Sosial Budaya Berbasis ICT bagi Penutur Asing Tingkat Menengah. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 4(2), 74�84. https://doi.org/10.15294/jpbsi.v4i2.11305. Google Scholar

 

Sumar, W. T., & Razak, I. A. (2016). Strategi pembelajaran dalam implementasi kurikulum berbasis soft skill. Slean: Deepublish. Google Scholar

 

Tantowi, H. A. (2022). Pendidikan Islam di Era Transformasi Global. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. Google Scholar

 

Taum, Y. Y. (2017). Pembelajaran sastra berbasis teks: Peluang dan tantangan Kurikulum 2013. Sintesis, 11(1), 12�22. https://doi.org/10.24071/sin.v11i1.928. Google Scholar

 

Tindaon, Y. A. (2012). Pembelajaran sastra sebagai salah satu wujud implementasi pendidikan berkarakter. Basastra, 1(1). https://doi.org/10.24114/bss.v1i1.198. Google Scholar

 

Wijayanti, A. Y. (2022). Terampil Membaca dan Menulis Puisi. Bogor: Guepedia. Google Scholar


 

Copyright holder :

Suwarti (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: