|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol.
3 No. 10 Oktober 2022 |
|
p-ISSN :
2722-7782 e-ISSN : 2722-5356 |
Sosial Sains |
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERMAIN DRAMA MELALUI
TEKNIK PEMBELAJARAN PERAN BERGILIR PADA SISWA KELAS VIII 4� UPT�
SMP NEGERI 3 ALLA KABUPATEN ENREKANG TAHUN 2021
Kasau
Guru Bahasa Indonesia UPT
SMPN 3 Alla
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 06 Oktober
2022 Direvisi 18 Oktober
2022 Disetujui 27 Oktober
2022 |
Penelitian
Tindakan Kelas ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana teknik pembelajaran
peran bergilir� dapat
meningkatkan keterampilan bermain drama siswa kelas VIII-4 UPT� SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak
dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan,
(2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Penelitian ini
dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti bersama guru Bahasa
Indonesia. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-4 UPT� SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang, dan
objek penelitian ini adalah keterampilan bermain drama siswa dengan
menggunakan teknik peran bergilir. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi,
catatan lapangan, tes praktik bermain drama, dan wawancara. Analisis data
dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif yang didukung oleh data
kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknik
pembelajaran rotating roles mampu meningkatkan keterampilan bermain drama
siswa kelas VIII-4 UPT�
SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang. Berdasarkan catatan
lapangan dan pedoman pengamatan, terjadi perubahan siswa ke arah positif.
Peningkatan keterampilan bermain drama dilihat dari dua hal, yaitu
keberhasilan proses dan produk. Keberhasilan proses dapat dilihat dari
perubahan sikap siswa setelah diadakan implementasi tindakan, siswa lebih
aktif, bersemangat, berani mengemukakan pendapat, dan mampu bekerja sama
dengan siswa lain. Keberhasilan produk dilihat dari tes praktik bermain
drama. Nilai rata-rata bermain drama siswa sebelum implementasi tindakan
sebesar 49,46, siklus I sebesar 63,5 dan pada siklus
II sebesar 78,14. Data tersebut menunjukkan bahwa keterampilan bermain drama
siswa dari pratindakan ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 28,68. Beberapa aspek yang menunjukkan peningkatan paling
signifikan adalah aspek ekspresi, gerak, dan intonasi. |
|
Kata kunci: Drama, Guru Bahasa
Indonesia, Learning. |
|
|
Keywords: Drama, Indonesian
Teacher, Learning. |
ABSTRACT This Classroom Action Research aims to find out how the rotating role
learning technique can improve the drama playing skills of class VIII-4 UPT
SMP Negeri 3 Alla, Enrekang Regency. This research is a classroom action
research conducted in two cycles. Each cycle consists of four stages, namely:
(1) planning, (2) implementation, (3) observation, and (4) reflection. This
research was conducted collaboratively between researchers and Indonesian
teachers. The subjects of this study were students of class VIII-4 UPT SMP
Negeri 3 Alla, Enrekang Regency, and the object of this research was the
students' drama playing skills using the rotating role technique. Data
collection was obtained through observation, field notes, drama playing
practice tests, and interviews. Data analysis was carried out using
qualitative descriptive techniques supported by quantitative data. The
results showed that the use of rotating roles learning techniques was able to
improve the drama playing skills of class VIII-4 UPT SMP Negeri 3 Alla,
Enrekang Regency. Based on field notes and observation guidelines, there was
a change in students in a positive direction. The improvement of drama
playing skills is seen from two things, namely the success of the process and
the product. The success of the process can be seen from the change in
student attitudes after the implementation of the action, students are more
active, enthusiastic, dare to express opinions, and are able to work together
with other students. The success of the product is seen from the practice
test of playing drama. The average value of students' drama play before the
implementation of the action was 49.46, the first cycle was 63.5 and in the
second cycle was 78.14. The data shows that
students' drama playing skills from pre-action to cycle II have increased by
28.68. Some of the aspects that showed the most significant improvement were
aspects of expression, movement, and intonation. |
Pendahuluan
Pendidikan merupakan pilar utama dalam
pembentukan mental atau karakter seseorang (Martini, 2020). Hal
ini dikarenakan pendidikan sudah dimulai semenjak seseorang dilahirkan.
Pendidikan adalah proses sepanjang hayat dan perwujudan pembentukan diri secara
utuh dalam arti pengembangan segenap potensi diri dalam rangka pemenuhan semua
komitmen manusia sebagai makhluk individu, sebagai makhluk sosial dan makhluk
Tuhan (Sumitro et.al, 2006). Semua manusia
membutuhkan dan melakukan proses pendidikan untuk dapat mentransformasikan
budaya yang mencakup pengetahuan, nilai- nilai dan keterampilan-keterampilan
dari satu generasi ke generasi selanjutnya (Akhwan, 2018).
Sesuai dengan standar isi kurikulum,
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia meliputi empat keterampilan berbahasa (Akhyar, 2019).
Pembelajaran tersebut meliputi kegiatan atau kemampuan menyimak atau
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Apabila pembelajaran dilakukan
dengan mengaitkan keempat kegiatan tersebut maka kegiatan pembelajaran akan
lebih terfokus (Kolipah, 2022).
Misalnya dalam kegiatan pembelajaran sastra, apabila pembelajarannya dilakukan
dengan mengaitkan keempat keterampilan berbahasa tersebut maka secara bertahap
siswa akan memiliki kemampuan untuk mengapresiasi karya sastra. Apresiasi
tersebut mulai dari yang paling rendah, misalnya siswa hanya sekedar mampu memahami isi suatu karya
sastra, sampai pada apresiasi yang paling tinggi yaitu siswa mampu menciptakan sendiri
suatu karya sastra.
Berbicara merupakan proses komunikasi secara lisan. Hal itu
sejalan dengan pendapat yang dikemukakan (Haryadi, 1997), bahwa berbicara adalah suatu
penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan
menggunakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dapat dipahami orang lain.
Berbicara sebagai salah satu proses penyampaian maksud kepada orang lain secara
lisan, keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan pembicara (Dwiyanti, 2012). Kemampuan
tersebut salah satunya bisa berbentuk terhadap makna pesan yang hendak
disampaikan. Proses pencapaian keterampilan berbicara siswa perlu
mendapatkan bimbingan dari guru melalui berbagai latihan pengembangan kemampuan
kognitif, afektif, dan psikomotor (Sukma & Saifudin, 2021).
Salah satu latihan pengembangan
keterampilan berbicara di sekolah adalah dengan pembelajaran bermain drama,
yang termasuk ke dalam pembelajaran sastra. Mengajarkan drama memang bukan hal
yang mudah, karena drama memiliki keunikan tersendiri yang terletak pada dialog
dan gerakan-gerakan (Fatimah, 2020). Fokus utama
pembelajaran sastra salah satunya adalah agar siswa mempunyai pengalaman
berekspresi.
Bermain drama merupakan kegiatan
memerankan tokoh yang ada dalam cerita. Dalam memerankan drama seorang pemain harus dapat
membayangkan latar dan tindakan pelaku dan dapat menggunakan suara sesuai
dengan pemahamannya terhadap perasaan dan pikiran pelaku (Nugroho, 2010). Bermain drama yang merupakan
pengembangan keterampilan berbicara harus dapat dilatihkan dengan
sungguh-sungguh kepada siswa sekolah menengah pertama (SMP) khususnya siswa
kelas VIII melalui kegiatan pembelajaran (Novianti, 2019).
Dalam kurikulum pendidikan sekolah
menengah pertama (SMP), khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII,
terdapat pengajaran yang meliputi keterampilan berbahasa dan keterampilan
bersastra. Aspek
keterampilan berbahasa meliputi; keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca
dan menulis yang berkaitan dengan ragam bahasa (Mulyati, 2014). Aspek
keterampilan bersastra meliputi; keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca
dan menulis yang berkaitan dengan ragam sastra. Pengajaran
sastra khususnya standar kompetensi (SK) mengungkapkan pikiran dan perasaan
dengan bermain peran merupakan pengenalan awal terhadap keterampilan berbicara
sastra sehingga perlu adanya metode atau strategi yang sesuai agar kemampuan
bersastra dapat terasah dengan baik. Dengan kompetensi dasar (KD)
bermain peran sesuai dengan naskah drama yang ditulis siswa, maka siswa
diharapkan dapat menguasai kemampuan bermain peran (drama) secara formal sesuai
dengan kompetensi dasar yang hendak dicapai (Siahaan, 2018).
Untuk mengetahui bagaimana pembelajaran drama di VIII-4
UPT� SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten
Enrekang, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII melakukan penganatan
pada tanggal 19 Juli 2021. Dari pengamatan� tersebut diperoleh informasi bahwa
kemampuan siswa kelas VIII dalam bermain drama masih rendah, yakni sebagian
siswa belum dapat bermain dengan lafal, intonasi, penghayatan, dan ekspresi
yang sesuai karakter tokoh. Beberapa penyebab siswa belum dapat bermain peran
dengan benar di antaranya adalah: (1) masih rendahnya keberanian siswa untuk
berbicara; (2) guru melakukan pembelajaran bermain peran melalui metode
penugasan, yakni, guru membentuk kelompok belajar dan menugaskan kepada siswa
pada tiap- tiap kelompok untuk membaca teks dan menghafalkannya; (3) siswa
hanya membaca dan menghafalkan naskah dramanya saja tanpa berusaha memahami
karakter tokoh yang akan diperankannya; (4) siswa kurang mengetahui cara- cara
mengekspresikan dan menghayati karakter tokoh yang akan diperankan; (5) pada
saat bermain peran, siswa kurang berantusias; (6) siswa terlihat tidak serius
dan lebih sering bersenda gurau dengan lawan mainnya.
Berdasarkan faktor penyebab kesulitan
siswa dalam bermain drama di atas maka diperlukan suatu tindakan untuk
mengatasi permasalahan yang terjadi selama berlangsungnya pembelajaran bermain
drama. Upaya yang dilakukan peneliti adalah dengan menerapkan teknik
pembelajaran rotating roles. Dengan teknik ini, diharapkan pembelajaran
bermain drama di VIII-4 UPT�
SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang akan menjadi lebih baik.
Menurut (Silberman, 2011), mengemukakan bahwa teknik
pembelajaran rotating roles adalah suatu strategi pembelajaran active learning
dengan cara memberi kesempatan bagi tiap siswa untuk melatih kecakapan melalui
bermain peran tentang situasi kehidupan yang nyata. Melalui teknik ini, siswa akan diarahkan untuk belajar secara berkelompok dan setiap
kelompok memainkan peran sesuai dengan skenario secara bergiliran, untuk
kemudian saling memberikan feedback.
Peneliti memilih teknik pembelajaran rotating
roles dalam bermain drama dikarenakan rotating roles memiliki kelebihan, yakni
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bermain drama sesuai dengan skenario
yang mereka buat sendiri. Selain itu, metode pembelajaran ini juga dapat memacu siswa
untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, pemberian feedback atau masukan
dari setiap kelompok kepada kelompok yang tampil akan
melatih keberanian siswa untuk berpendapat. Adanya feedback pada setiap akhir
penanpilan, akan lebih mempercepat siswa untuk berusaha
memperbaiki apa yang kurang atau belum sesuai, sehingga penampil berikutnya
dapat bermain dengan lebih baik.
Pembelajaran melalui teknik pembelajaran rotating roles
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bermain drama siswa kelas VIII-4
UPT� SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten
Enrekang, khususnya dalam kemampuan bermain drama. Oleh karena itu, penulis
mengadakan penelitian tentang peningkatan kemampuan bermain drama melalui
teknik pembelajaran rotating roles pada siswa VIII-4 UPT� SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
teknik pembelajaran rotating roles dapat meningkatkan keterampilan bermain
drama siswa kelas VIII-4 UPT�
SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang.
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah
penelitian yang dilakukan oleh saudara (Baihaqi, 2016) dengan judul �Peningkatan
Keterampilan Bermain Drama dengan Metode Role Playing pada Kelompok Teater
Kenes SMPN 4 Yogyakarta.� Penelitian ini menunjukkan bahwa metode role playing
dalam proses pembelajaran mampu meningkatkan keterampilan bermain drama kelompok
teater Kenes SMPN 4 Yogyakarta.
Pada akhir tindakan penelitian ini,
terdapat peningkatan keterampilan bermain drama siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan
nilai rata-rata sebesar 9,6 (48%). Selain itu, hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan metode role playing dalam
pembelajaran bermain drama mampu memberikan motivasi dan kesenangan dalam
proses pembelajaran. Siswa terlihat lebih aktif dan
bersemangat.
Perbedaan dengan penelitian yang akan
dilakukan oleh peneliti terletak pada metode dan subjek penelitian. Pada
penelitian yang akan dilakukan, peneliti menerapkan teknik pembelajaran
rotating roles dengan subjek siswa kelas VIII-4 UPT� SMP Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan
kelas (PTK).
Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru
di kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, dan (3)
merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan
memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat
meningkat (Kusumah & Dwitagama, 2010). Secara singkat, PTK merupakan
bentuk kajian yang sistematis reflektif yang dilakukan dengan cara atau metodologi tertentu oleh pelaku tindakan (guru)
demi kepentingan peserta didik dalam memperoleh hasil belajar yang memuaskan.
Menurut (Arikunto, 2008), penelitian tindakan kelas (PTK)
merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan
yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan guru yang
dilakukan oleh siswa. Penelitian tindakan kelas yang ideal seharusnya
dilakukan dengan melakukan kerjasama secara kolaboratif antara pihak yang
melakukan tindakan dengan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan (Arikunto, 2008). Dalam hal ini,
penelitian melibatkan mahasiswa sebagai peneliti yang berkolaborasi dengan guru
Bahasa Indonesia kelas VIII SMP N 2 Sentolo.
Acuan yang dijadikan pedoman penelitian ini adalah model
penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc. Taggart yang mencakup
perencanaan tindakan, implementasi tindakan dan observasi, serta
refleksi. Gambar model penelitian tindakan kelas dapat
dilihat sebagai berikut.
Dari gambar siklus tersebut, maka tahap-tahap dalam
penelitian tindakan meliputi: (1) Plan (perencanaan); (2) Act (pelaksanaan
tindakan), (3) Observe (pengamatan); dan (4) Reflect (refleksi). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, siklus I dilakukan untuk
mengetahui peningkatan keterampilan bermain drama siswa setelah dilakukan
tindakan dengan teknik rotating roles. Tindakan siklus II bertujuan
untuk mengetahui bagaimana peningkatan keterampilan bermain drama setelah
dilakukan proses perbaikan pada pelaksanaan belajar mengajar yang didasarkan
pada refleksi hasil siklus I.
Setting penelitian adalah lokasi atau
tempat penelitian dilakukan. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di VIII-4 UPT� SMP Negeri 3
Alla, Kabupaten Enrekang. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Oktober-November 2021 yang meliputi keseluruhan kegiatan penelitian dari
perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Hal ini
disesuaikan dengan kalender pendidikan tahun ajaran 2011 (semester I). Adapun pelaksanaanya sesuai dengan jadwal pelajaran Bahasa
Indonesia.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-4 UPT� SMP Negeri 3
Alla, Kabupaten Enrekang, sedangkan objek penelitian ini adalah keterampilan
bermain drama siswa kelas VIII-4 UPT� SMP
Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang, yang mencakup proses dan hasil.
Teknik pengumpulan data yang digunakan ada dua,yaitu tes dan nontes.
1.
Tes
(praktik bermain drama)
Tes dilakukan untuk mengetahui data
yang menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam bermain drama. Tes dilakukan pada
saat sebelum dan sesudah pemberian tindakan. Pengumpulan
data tes untuk mengetahui ketercapaian indikator pembelajaran bermain drama.
2.
Nontes
Teknik pengumpulan nontes dilakukan
dengan menggunakan catatan lapangan, pengamatan atau observasi, angket,
wawancara, dan dokumentasi.
Penelitian ini menggunakan teknik
analisis data deskriptif kualitatif yang didukung oleh data kuantitatif, yaitu
mendeskripsikan kemampuan bermain drama sebelum dan sesudah implementasi
tindakan. Analisis kualitatif digunakan untuk data kualitatif yang berupa
hasil wawancara, tes bermain drama, angket, lembar observasi, dan catatan
lapangan. Data kuantitatif diperoleh dari hasil
penilaian bermain drama sebelum dan sesudah diberi tindakan.
Hasil dan Pembahasan
A.
Deskripsi
Setting Penelitian
Penelitian ini
dilakukan di UPT� SMP Negeri 3 Alla,
Kabupaten Enrekang, yang beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 12 Kalosi, Kecamatan
Alla, kabupaten Enrekamg. Siswa yang menjadi subjek penelitian ini adalah kelas
VIII 4. Kelas terdiri dari 32 siswa dengan rincian 18 siswa laki-laki dan 14
siswa perempuan. Pemilihan subjek kelas VIII 4 didasarkan pada pertimbangan
kemampuan bersastra di kelas itu masih tergolong kurang. Kriteria kurang yang
dimaksudkan berdasarkan hasil evaluasi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
kelas VIII.
Waktu
peneliltian dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2021 yang meliputi
perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Adapun pelaksanaan tindakan disesuaikan
dengan jadwal pembelajaran bermain drama di kelas VIII. Pelaksanaan tindakan
telah melalui proses wawancara dan observasi terlebih dahulu. Jadwal
pelaksanaan penelitian dibuat berdasarkan kesepakatan dengan guru kolaborator.
Tabel 1. Jadwal
Penelitian
|
No |
Hari/ Tanggal |
Kegiatan |
|
1 |
Kamis, 27 Oktober 20011 |
Koordinasi dengan guru kolaborator untuk menentukan jadwal penelitian. |
|
2 |
Sabtu, 29 �Oktober 2011 |
Observasi Pratindakan Penyebaran angket pratindakan Tes Pratindakan |
|
3 |
Senin, 31 �Oktober 2011 |
Pelaksanaan Siklus I pertemuan 1 KBM
dan praktik bermain drama dengan menggunakan teknik pembelajaran rotating roles |
|
4 |
Rabu, 02 November 2011 |
Pelaksanaan Siklus I pertemuan 2 Tes bermain peran sesuai naskah
drama yang ditulis
siswa siklus I dan refleksi tes akhir siklus
I |
|
5 |
Sabtu, 05 November 2011 |
Pelaksanaan
siklus II pertemuan 1 KBM dan praktik bermain drama dengan menggunakan teknik pembelajaran rotating roles |
|
6 |
Senin, 07 November 2011 |
Pelaksanaan siklus II pertemuan 2 Tes bermain peran sesuai naskah
drama yang ditulis siswa
siklus II dan refleksi tes akhir
siklus II. |
|
7 |
Rabu, 09 November 2011 |
Wawancara dengan guru/kolaborator dan beberapa siswa |
Alokasi waktu
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII 4 sebanyak 6 jam pelajaran (6x40
menit) tiap minggu yang dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Berdasarkan jadwal
pelajaran Bahasa Indonesia di kelas itu, maka peneliti sepakat dengan guru
kolaborator bahwa penelitian dilakukan setiap hari Senin, Rabu dan Jum�t.
B. Pembahasan
Pada penelitian ini, pembahasan difokuskan
pada (1) deskripsi awal, (2) proses pelaksanaan penelitian tindakan kelas
dengan teknik pembelajaran rotating roles dan (3) peningkatan keterampilan
bermain drama melalui teknik pembelajaran rotating roles.
1.
Deskripsi
Awal
Pada tanggal 29 Oktober 2011
dilakukan pengisian angket pengetahuan awal minat dan kemampuan bermain drama
siswa yang dijadikan subjek penelitian dan menghasilkan suatu kesimpulan bahwa
hanya 12,5% siswa yang menjawab tertarik pada pembelajaran bermain drama, 31,5%
siswa yang menjawab kadang-kadang tertarik, dan 56% siswa yang menjawab tidak
tertarik pada pembelajaran bermain drama. Siswa cenderung
takut, malu dan kurang percaya diri untuk bermain drama.
Berdasarkan data tersebut, terdapat
kendala dalam pembelajaran keterampilan berbicara, yaitu kurangnya minat siswa,
kurang adanya rasa percaya diri, dan masih besarnya rasa takut yang dialami
para siswa untuk berbicara di muka umum, khususnya bermain drama. Kesempatan untuk
berdiskusi mengenai kendala dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran
bermain drama tidak digunakan oleh siswa. Siswa
cenderung diam tidak berani mengeluarkan pendapatnya.
Selain hal di atas, dari hasil tes
awal kemampuan siswa dalam bermain drama masih dalam kategori rendah. Hal ini dibuktikan dengan skor rata-rata
tes awal kemampuan bermain drama siswa sebesar 24,73,
dengan nilai rata- rata 49,46.
Melihat kondisi tersebut, Peneliti
dan kolaborator menetapkan bahwa kegiatan pembelajaran bermain drama memerlukan
adanya perbaikan.
Salah satu langkah yang dapat diambil adalah penggunaan
teknik pembelajaran rotating roles dalam pembelajaran bermain drama.
2.
Pelaksanaan
Penelitian Tindakan Kelas Melalui Teknik Pembelajaran Rotating Roles
Pelaksanaan Penelitian Pembelajaran
keterampilan bermain drama melalui teknik pembelajaran rotating roles dilakukan
selama 2� siklus.� Siklus� pertama� dan�
kedua dilaksanakan sesuai dengan rencana. Siklus II
merupakan perbaikan siklus I yang bertujuan untuk memaksimalkan aspek-aspek
yang masih rendah.
Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui
peningkatan keterampilan bermain drama siswa sebelum maupun sesudah
implementasi tindakan adalah tes praktik bermain drama. Penilaian praktik tersebut mencakup lima aspek yaitu: (1) ekspresi; (2) penghayatan; (3) gerak;
(4) intonasi; dan (5) artikulasi.
Proses pembelajaran melalui teknik
pembelajaran peran bergilir dilakukan secara bertahap. Pada
awal pertemuan guru menjelaskan prosedur kegiatan pembelajaran bermain drama
melalui teknik pembelajaran rotating roles, membagikan naskah drama dan membagi
kelas dalam beberapa kelompok sesuai naskah. Kemudian guru meminta salah
satu siswa dari masing-masing kelompok untuk menyampaikan skenario yang akan dimainkan pada kelompok yang lain dan kelompok lain
boleh memberikan koreksi. Setelah siswa membaca dan memahami naskah, guru
meminta tiap kelompok untuk melakukan permainan drama di depan secara bergilir,
kelompok lain memperhatikan dan memberikan masukan atau penilaiannya setelah
permainan selesai, begitu seterusnya sampai semua kelompok mendapat giliran
untuk bermain drama. Di akhir pembelajaran, kelas
dikondisikan seperti semula dan dilakukan diskusi kelas tentang pembelajaran
yang baru saja dilaksanakan.
a)
Siklus
I
Pelaksanaan siklus I terdiri dari
perencanann, tindakan, pengamatan dan refleksi. Setelah diadakan
tindakan dengan teknik pembelajaran rotating roles serta diberikan materi
mengenai ekspresi, penghayatan dan intonasi dalam bermain drama, siswa
mendapatkan manfaat yang besar. Aktivitas siswa pada
siklus ini berjalan maksimal walaupun masih ada kelemahan dibeberapa aspek
penilaian. Penelitian yang dilakukan mengalami
peningkatan pada setiap aspek penilaian bermain drama meskipun belum maksimal.
Aspek penghayatan hanya mencapai 5,92 dan merupakan
skor terendah dibanding aspek yang lain, oleh karena itu masih diperlukan
adanya perbaikan.
Perubahan kearah positif juga dapat
dilihat dari proses pembelajaran. Berdasarkan pengamatan proses pembelajaran,
pelaksanaan tindakana kelas siklus I berjalan dengan menarik dan menyenangkan.
Antusias, keberanian dan keaktifan siswa meningkat, saat berdiskusi dengan
kelompok masing- masing, siswa terlihat dapat bekerjasama dengan siswa lain. Jika pada pertemuan pratindakan hanya ada 2 sampai 5 siswa saja
yang berani bertanya dan berkomentar, pada siklus I meningkat menjadi 6 sampai
10 siswa. Sebelum implementasi tindakan, permainan
drama siswa terlihat kurang menarik, bahkan cenderung seperti hanya seperti
sedang membacakan cerita, Hal ini dikarenakan siswa diperbolehkan membawa
naskah drama oleh guru. Siswa cenderung terpaku pada
naskah, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan acting yang dilakukan.
Implementasi tindakan dengan menerapkan teknik pembelajaran
peran bergilir mengharuskan siswa praktik bermain drama dengan lepas naskah.
Hal ini menjadikan siswa lebih leluasa untuk berakting dan
melakukan improvisasi.
b)
Siklus
II
Siklus II lebih difokuskan pada
perbaikan dari hasil refleksi siklus I. Dalam refleksi siklus I, peneliti dan
guru menyepakati bahwa aspek gerak dan penghayatan masih perlu untuk
dimaksimalkan. Selain
itu, cara pemberian masukan pada siklus I yang hanya
dilakukan oleh 1 kelompok yang mendapatkan giliran tampil selanjutnya
menjadikan siswa lain ramai dan kurang memperhatikan. Hal ini
yang diperbaiki dalam siklus II. Setelah diberikan
tindakan, penelitian yang dilakukan mengalami peningkatan pada semua aspek,
terutama aspek penghayatan dan gerak. Skor rata-rata pada tiap aspek
penunjang keterampilan bermain drama siklus II ini berpredikat sangat baik
dengan jumlah skor 39,03 dengan nilai rata-rata 78,14.
Dari proses pembelajaran, siswa lebih aktif dan bersemangat mengikuti
pembelajaran. Hal ini terlihat dari siklus sebelumnya, siswa yang berani
bertanya dan berkomentar sekitar 6 sampai 10 siswa namun pada siklus II ini
meningkat menjadi 14 sampai 25 siswa. Siswa juga menjadi
lebih lancar dalam berbicara, pemilihan kata dan penggunaan kalimat semakin
bervariasi. Perubahan cara memberikan feedback
(masukan) pada tindakan siklus II, yakni dilakukan oleh semua kelompok
menjadikan siswa lebih fokus dan memperhatikan kelompok lain yang tampil,
sehingga suasana kelas menjadi lebih kondusif.
3.
Peningkatan
Keterampilan Bermain Drama Melalui Teknik Pembelajaran Rotating Roles
Penilaian keterampilan siswa
dilakukan dengan cara mengamati aspek-aspek yang telah
ditentukan. Penilaian dilakukan untuk mengukur keterampilan
siswa dalam bermain drama sebelum dan sesudah pelaksanaan tindakan. Berdasarkan pengamatan, hasil penelitian menunjukkan adanya
peningkatan kemampuan bermain drama siswa pada aspek kebahasaan maupun nonkebahasaan.
Hal tersebut diketahui dari perubahan yang ke arah yang lebih
baik dan juga peningkatan skor pada aspek kebahasaan yang meliputi intonasi dan
artikulasi, dan juga aspek nonkebahasaan meliputi ekspresi, penghayatan dan
gerak. Berdasarkan hasil tes awal pada pratindakan, skor rata-rata tiap
aspek sebelum implementasi tindakan masih tergolong rendah, beberapa aspek
tersebut antara lain: ekspresi (4,59); penghayatan
(4,86); gerak (4,66); intonasi (5,09); dan artikulasi (5,53). Nilai rata-rata
sebelum implementasi tindakan adalah 4,95. Rendahnya
skor beberapa aspek sebelum implementasi tindakan disebabkan oleh beberapa
faktor, antara lain: masih ada beberapa siswa yang kurang serius dalam berlatih
dengan teman sekelompoknya, siswa kurang percaya diri dan malu- malu dalam
bermain drama, sehingga acting yang dihasilkan tidak maksimal.
Untuk meningkatkan kemampuan
masing-masing aspek, peneliti dan kolaborator melakukan pemberian tindakan
tahap pertama pada siklus I. Nilai rata-rata tindaka siklus I yang dihasilkan
siswa adalah 63,5. Mengingat hasil
penelitian pada tindakan siklus I belum sesuai dengan harapan peneliti, maka
perlu diadakan tindakan siklus II. Siklus II dilaksanakan berdasarkan
hasil refleksi pada siklus I, yakni akan lebih
memfokuskan pada beberapa aspek yang masih rendah (ekspresi dan penghayatan)
serta mengubah cara pemberian feedback atau masukan agar semua siswa lebih
aktif dan berani selama proses pembelajaran.
Tindakan pada siklus II bertujuan
untuk mengoptimalkan hasil dari siklus I. Pada tindakan siklus II ini semua
siswa mencapai hasil yang lebih baik dibandingkan pada siklus sebelumnya. Jika didasarkan pada tiap-tiap
indikator penilaian, nilai rata-rata dalam bermain drama telah menunjukkan
hasil yang memuaskan, yakni sebesar 78,14. Berikut hasil penelitian pada pratindakan, siklus I dan siklus II.
Tabel 2. Perbandingan Skor Rata-rata Keseluruhan Aspek pada
Pratindakan, Siklus I, dan Siklus II
|
No |
Aspek Penilaian Bermain Drama |
Pratindakan |
Siklus I |
Siklus II |
|
Skor |
Skor |
Skor |
||
|
1. |
Ekspresi |
4,59 |
6,14 |
7,71 |
|
2. |
Penghayatan |
4,86 |
5,92 |
7,46 |
|
3. |
Gerak |
4,66 |
6,34 |
8,01 |
|
4. |
Intonasi |
5,09 |
6,58 |
7,95 |
|
5. |
Artikulasi |
5,53 |
6,77 |
7,87 |
|
Jumlah |
24,73 |
31,75 |
39,03 |
|
|
Nilai rata-rata |
49,46 |
63,5 |
78,14 |
|
Adapun data dalam dalam bentuk grafik
adalah sebagia berikut.
Gambar 2. Perbandingan
Skor Rata-rata Keseluruhan Aspek pada
Pratindakan, Siklus I, dan Siklus
II
Dari tabel dan
diagram di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan bermain drama siswa mengalami
peningkatan pada setiap aspek penilaian dari pratindakan ke siklus II, yaitu:
(1) ekspresi sebesar 3,12;
(2) penghayatan
sebesar 2,6; (3) gerak sebesar 3,35; (4) intonasi sebesar 2,86; artikulasi
sebesar 2,34. Dari
hasil penelitian tiap-tiap aspek yang dinilai dalam bermain drama tersebut
dapat diambil skor rata-rata dari seluruh siswa dalam satu kelas adalah sebagai
berikut.
Gambar 3. Perbandingan
Nilai Rata-rata Praktik Bermain Drama Siswa pada Pratindakan, Siklus I dan
Siklus II
Dari diagram di
atas, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata pada�
pratindakan sebesar 49,46 sedangkan skor pada siklus II sebesar 78,14.
Maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara siswa mengalami peningkatan
sebesar 28,68. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa
implementasi tindakan berupa penggunaan teknik pembelajaran rotating roles
dapat meningkatkan keterampilan bermain drama siswa. Keberhasilan� dalam penelitian ini dapat dilihat melalui
keberhasilan proses dan produk. Dalam keberhasilan proses yakni siswa menjadi
aktif dan bersemangat mengikuti pembelajaran bermain drama serta situasi
pembelajaran yang kondusif. Penggunaan teknik rotating roles yang memberi
kesempatan pada siswa,untuk saling berdiskusi dan berlatih sebelum praktik dapat
membantu menumbuhkaan semangat kebersamaan yang dituangkankan dalam kerjasama
dengan siswa lain sehingga hasil permainan drama menjadi maksimal.
Kondisi ini
terdapat pada lampiran catatan lapangan yang tergambar dalam vignette 15
berikut ini.
Keberhasilan
produk dapat dilihat dari peningkatan skor rata-rata pada tiap siklus. Skor
rata-rata tiap aspek penilaian bermain drama setelah implementasi tindakan
menjadi berpredikat baik (B). Beberapa aspek yang menunjukkan peningkatan
paling signifikan adalah aspek ekspresi, gerak, dan intonasi.
Karakteristik
pembelajaran melalui teknik rotating roles yang memberikan kesempatan siswa
untuk belajar dengan cara mempraktikan keterampilan melalui pemeranan tokoh
membuat siswa lebih terbiasa untuk berbicara di muka umum. Berbicara di hadapan
banyak orang dapat memotivasi siswa agar lebih percaya diri. Adanya tuntutan
untuk saling memberikan masukan (feedback) pada saat pembelajaran juga dapat
melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat. Keberanian dan percayaan diri
yang terbentuk menjadikan siswa lebih berantusias dalam melakukan praktik bermain drama, mereka tidak lagi
sungkan dan malu untuk memerankan tokoh dengan ekspresi dan penghayatan, sehingga
acting yang dihasilkan menjadi lebih baik.
Ekspresi pemain telah menunjukkan
adanya peningkatan jika dibandingkan pada pratindakan. Setelah
implementasi tindakan, siswa mampu memainkan peran dengan ekspresi yang sesuai
dengan karakter dan dialog, permainan menjadi terlihat menarik dan tidak
dibuat-buat. Dari segi penghayatan, siswa sudah mampu
bermain peran dengan menghayati tokoh atau karakter yang dibawakannya.
Setelah aspek ekspresi dan penghayatan dapat tercapai dengan baik, maka dengan
sendirinya gerak juga akan menyesuaikan. Hal ini
sejalan dengan yang disampaiakan (Harymawan, 1993), ia menyatakan bahwa dengan
sendirinya plastik (gerak) terpengaruh oleh mimik (ekspresi dan penghayatan). Hasil penilaian untuk aspek gerak mengalami peningkatan yang baik.
Siswa sudah mampu berimprovisasi sehingga gerakan-gerakan
yang dilakukan menjadi terlihat alami, dan sesuai dengan dialog yang mereka
ucapkan. Aspek intonasi dan artikulasi siswa juga
mengalami peningkatan setelah implementasi tindakan. Sebagian
besar siswa sudah mampu mengatur jeda dengan baik, menggunakan intonasi yang
bervariasi menyesuaikan dialog, dan mampu menyampaikan isi cerita melalui
dialog dengan pengucapan yang keras dan jelas, sehingga cerita yang dibawakan
dapat dimengerti oleh penonton.
Berdasarkan hasil pengisian angket
pascatindakan, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik pembelajaran rotating
roles dapat diterima oleh siswa serta memberikan motivasi dan pemahaman bagi
siswa dalam bermain drama.
Berdasarkan gambar di atas, dapat
diketahui perubahan dalam diri siswa setelah adanya implementasi tindakan. Pada butir nomor 3, sebanyak 87%
siswa menyatakan menyukai pembelajaran bermain drama, ini berbeda dengan
sebelum adanya implementasi tindakan yang hanya 40%. Penggunaan teknik
pembelajaran rotating roles juga dapat meningkatkan pemahaman siswa mengenai cara bermain drama yang baik dan sesuai dengan karakter
tokoh yang seharusnya. Hal ini terdapat pada butir nomor 6,
yakni sebanyak 68% siswa menyatakan telah mampu memerankan tokoh dalam naskah
dengan lebih mudah. Selain itu, berdasarkan hasil
wawancara dengan beberapa siswa, diperoleh informasi bahwa penggunaan teknik
rotating roles membuat mereka lebih mudah untuk bermain drama dan menambah
semangat. Adanya koreksi membuat siswa berantusias
untuk bermain drama dengan baik. Pembelajaran dengan
rotating roles juga membuat siswa berani untuk bertanya dan berpendapat,
sehingga terjadi interaksi yang aktif selama pembelajaran.
Hal serupa juga disampaikan guru
kolaborator. Berdasarkan hasil wawancara dengan guuru, diperoleh informasi bahwa
teknik pembelajaran rotating roles sangat membantu dalam pembelajaran bermain
drama. Siswa lebih bisa dalam melakukan pemeranan,
sehingga keterampilan mereka dalam bermain drama menjadi meningkat. Pembelajaran dengan rotating roles memberikan manfaat yang besar
bagi siswa, mereka menjadi lebih aktif dan berani berpendapat.
Dilihat dari proses dan hasil
pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik pembelajaran rotating
roles dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam bermain drama siswa kelas
VIII-4 UPT� SMP
Negeri 3 Alla, Kabupaten Enrekang.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah
dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan
teknik pembelajaran rotating roles dapat meningkatkan keterampilan bermain
drama siswa kelas VIII-4 UPT� SMP Negeri
3 Alla, Kabupaten Enrekang. Peningkatan keterampilan bermain drama siswa dapat
dilihat pada proses pembelajaran. yang ditunjukkan oleh keaktifan siswa,
keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat, semangat siswa pada saat
pembelajaran, serta kemampuan siswa untuk bekerja sama dengan siswa lain.
Hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan
kemampuan bermain drama siswa ke arah yang lebih baik yaitu siswa berani
bermain drama dengan penuh penghayatan dan dengan gerakan-gerakan yang sesuai
dengan dialog. Dari segi kebahasaan, siswa sudah mampu bermain drama dengan
menggunakan intonasi yang bervariasi serta artikulasi yang jelas. Hal ini
ditunjukkan dengan jumlah skor yang meningkat setelah implementasi tindakan
pada tiap siklus. Nilai rata-rata bermain drama siswa pada pratindakan sebesar
49,46 siklus I sebesar 63,5, dan siklus II sebesar 78,14. Jadi skor rata-rata
dari pratindakan ke siklus II meningkat sebesar 28,68. dengan lebih dari 75%
siswa yang mengikuti pembelajaran telah mencapai nilai kriteria kelulusan
minimal (KKM) sebesar 72.
Pembelajaran bermain drama dengan menerapkan teknik
pembelajaran rotating roles untuk meningkatkan kemampuan bermain drama memiliki
potensi untuk dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan
kemampuan siswa dalam praktik bermain drama. Tanggapan dari guru dan siswa juga
menunjukkan bahwa penerapan rotating roles mampu memberikan motivasi belajar
bagi siswa, serta dapat dijadikan sebagai alternatif teknik pembelajaran dalam
bermain drama.
Akhwan, M. F. (2018). Peningkatan Kemampuan Menulis
Teks Cerpen melalui Pemanfaatan Media Flow Chart. Pend. Bahasa Dan Sastra
Indonesia-S1, 7(3), 330�341. Google Scholar
Akhyar, F. (2019). Pembelajaran
Keterampilan Berbahasa dalam Kurikulum 2013 Sekolah Dasar. Prosiding Seminar
Nasional STKIP PGRI Bandar Lampung, 1(1), 77�90. Google Scholar
Arikunto, S. (2008). Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Google Scholar
Baihaqi, I. (2016). Peningkatan
keterampilan bermain drama dengan metode Role Playing pada kelompok teater
Kenes SMPN 4 Yogyakarta. Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan
Pengajarannya, 12(2), 15�28.
https://doi.org/10.31002/transformatika.v12i2.187. Google Scholar
Dwiyanti, N. (2012). Meningkatkan
kemampuan bermain drama melalui penerapan model pembelajaran role playing pada
mata pelajaran bahasa Indonesia: penelitian tindakan kelas di kelas VA MI
Miftahulfalah 1 Kota Bandung. UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Google Scholar
Fatimah, F. (2020). Peningkatan
Keterampilan Mendemonstrasikan Sebuah Naskah Drama dengan Menggunakan Media
Video. Serambi Konstruktivis, 2(4), 112�124.
https://doi.org/10.32672/konstruktivis.v2i4.3199. Google Scholar
Haryadi. (1997). Peningkatan
Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Harymawan, R. (1993). Dramaturgi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kolipah, S. (2022). Penerapan
Metode Drill dalam Upaya Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia yang Memuat
Drama Pada Siswa Kelas V Semester 2 SD Negeri 3 Sumberdadap Pucanglaban
Tulungagung Tahun Pelajaran 2018/2019. Jurnal Pembelajaran Dan Riset
Pendidikan (JPRP), 2(1), 44�53.
https://doi.org/10.28926/jprp.v2i1.260. Google Scholar
Kusumah, W., & Dwitagama, D.
(2010). Mengenal penelitian tindakan kelas. Jakarta: PT Indeks. Google Scholar
Martini, E. (2020). Upaya
Meningkatkan Keterampilan Bermain Drama melalui Teknik Pembelajaran Rotating
Roles Siswa Kelas VIII C SMP Negeri Sungai Jauh Tahun Pelajaran 2019/2020. Jurnal
Perspektif Pendidikan, 14(1), 1�11.
https://doi.org/0.31540/jpp.v14i1.904. Google Scholar
Mulyati, Y. (2014). Hakikat
keterampilan berbahasa. Jakarta: PDF Ut. ac. id hal. Google Scholar
Novianti, L. (2019). Peningkatan Keterampilan Bermain Drama Melalui Teknik Pembelajaran Rotating Roles Pada Siswa Kelas VIII D SMP N 2 Sentolo Kulon Progo. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Google Scholar
Nugroho, W. A. (2010). Penerapan
model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw pada mata pelajaran bahasa
indonesia untuk meningkatkan kemampuan bermain drama kelas V SDN 04 Tundagan
tahun pelajaran 2009/2010. UNS (Sebelas Maret University). Google Scholar
Siahaan, D. B. (2018). Penerapan
Teknik Pembelajaran Rotating Roles dalam Pembelajaran Bermain Drama oleh Guru
Bahasa Indonesia di SMA Taman Siswa Lubuk Pakam Tahun Ajaran 2018/2019.
UNIMED. Google Scholar
Silberman, M. L. (2011). Aktif
Learning 101 Cara Siswa Belajar Aktif. Bandung: Nuansa dan Nusamedia. Google Scholar
Sukma, H. H., & Saifudin, M. F.
(2021). Keterampilan Menyimak dan Membaca: Teori dan Praktik.
Yogyakarta: K-Media. Google Scholar
Sumitro et.al. (22006). Pengantar
Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
|
Copyright holder : Kasau (2022) |
|
First publication right
: Jurnal Syntax
Transformation This article is licensed under: |