Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3 No. 10 Oktober 2022

p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356

Sosial Sains

 

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKN MELALUI METODE PEMBELAJARAN THINK-PAIR-SHARE (TPS) BAGI SISWA KELAS VII-C UPT SMPN 7 ALLA KABUPATEN ENREKANG TAHUN� PELAJARAN� 2019/2020

 

Mudjizat Hasan

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan UPT SMP Negeri 7 Alla

Email: [email protected]

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

07 Oktober 2022

Direvisi

20 Oktober 2022

Disetujui

29 Oktober 2022

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat mengakibatkan perubahan di segala bidang kehidupan. Peningkatan kualitas dan mutu pendidikan yang baik diharapkan mampu melahirkan lulusan-lulusan yang mempunyai daya saing tinggi untuk menghadapi ketatnya tantangan dan persaingan di dunia kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar PKn pada siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla� tahun pelajaran 2019/2020. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla tahun pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 30 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah model interaktif yang mempunyai empat komponen, yaitu pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar PKn pada kondisi awal (tes kemampuan awal), siklus I, dan siklus II. Pada nilai tes kemampuan awal rata- rata kelas hanya 53,5 dengan ketuntasan kelas sebesar 16,7% dan siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 berjumlah 5 siswa. Pada siklus I mengalami peningkatan yaitu rata-rata kelas menjadi 69,7 dan ketuntasan kelas meningkat menjadi 53,3% (mengalami peningkatan sebesar 36,6%) dan siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 ��berjumlah 16 siswa.��� Selanjutnya pada siklus II juga mengalami peningkatan yaitu rata-rata kelas menjadi 81,6 dan ketuntasan kelas menjadi 86,7% (mengalami peningkatan sebesar 33,4%) dan siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 berjumlah 26 siswa.

Kata kunci:

Prestasi Belajar, PKN, Think-Pair-Share.

 

Keywords:

Learning Achievement, PKN, Think-Pair-Share.

ABSTRACT

The rapid progress of science and technology has resulted in changes in all areas of life. Improving the quality and quality of good education is expected to be able to produce graduates who have high competitiveness to face the tough challenges and competition in the world of work. The purpose of this study was to determine the use of the Think-Pair-Share (TPS) learning method to improve Civics learning achievement in class VII C UPT SMPN 7 Alla in the 2019/2020 school year. This type of research is Classroom Action Research which is carried out in two cycles. The research subjects were students of class VII C UPT SMPN 7 Alla for the academic year 2019/2020, totaling 30 students. Data collection techniques used are tests, observations, questionnaires, interviews, and documentation. The data analysis technique used is an interactive model that has four components, namely data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions or verification. The results showed that there was an increase in Civics learning achievement in the initial conditions (initial ability test), cycle I, and cycle II. In the initial ability test scores, the average class was only 53.5 with a class completeness of 16.7% and 5 students who scored 70. In the first cycle there was an increase, namely the class average became 69.7 and class completeness increased to 53.3% (an increase of 36.6%) and students who scored 70 were 16 students. Furthermore, in the second cycle also experienced an increase, namely the class average became 81.6 and class completeness became 86.7% (an increase of 33.4%) and the students who scored 70 were 26 students.

 


Pendahuluan

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat mengakibatkan perubahan di segala bidang kehidupan (Jamun, 2018). Peningkatan kualitas dan mutu pendidikan yang baik diharapkan mampu melahirkan lulusan-lulusan yang mempunyai daya saing tinggi untuk menghadapi ketatnya tantangan dan persaingan di dunia kerja (Sulaiman, 2017). Oleh sebab itu, perbaikan-perbaikan yang membangun di bidang pendidikan harus terus dilaksanakan guna mencapai kualitas dan mutu pendidikan yang sesuai dengan harapan.

Upaya melakukan perbaikan di bidang pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, salah satunya yaitu guru. Sebagaimana dijelaskan oleh (Hosnan, 2014) yang mengatakan bahwa �Guru bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah dalam arti memberikan bimbingan dan pengajaran kepada para siswa�. Guru harus dapat melakukan suatu inovasi yang menyangkut tugasnya sebagai pendidik yang berkaitan dengan tugas mengajar siswa (Darmadi, 2015). Inovasi-inovasi yang dilakukan guru dalam tugasnya sebagai pendidik diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Sebagaimana dikemukakan oleh (Hamzah, 2007) bahwa �Seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang dapat ditunjukkan oleh peserta didiknya�. Oleh karena itu perubahan-perubahan berkaitan dengan tugas mengajar guru harus selalu ditingkatkan.

Metode mengajar diartikan sebagai suatu cara atau teknik yang dipakai oleh guru dalam menyajikan bahan ajar kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran (Aditya, 2016). Khususnya dalam hal ini adalah metode untuk menunjang proses belajar mengajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Guru hendaknya dapat memilih metode mengajar yang dianggap sesuai dengan materi yang hendak diajarkan. Hal ini dimaksudkan agar pengajaran khususnya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dapat berlangsung secara efektif, efisien dan tidak membosankan (Istiqomah, 2018).

Kenyataan di lapangan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) masih dianggap sebagai pelajaran nomor dua atau dianggap sepele oleh sebagian besar siswa (Dewi, 2018). Metode ini berkisar pada pemberian ceramah, tanya jawab, diskusi, dan penugasan. Akibatnya dalam mempelajari materi PKn siswa cenderung kurang semangat dan dianggap sebagai pelajaran yang membosankan. Hal tersebut terjadi pula di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Prambanan.

UPT SMPN 7 Alla� terdiri dari sembilan kelas, meliputi kelas VII A, B, dan C, kelas VIII A, B, dan C, dan kelas IX A, B, dan C. Peneliti memfokuskan perhatian pada kelas VII, yang terdiri dari tiga kelas. Permasalahan yang akan diteliti, peneliti temukan di kelas VII C UPT� SMPN 7 Alla. Kelas tersebut memiliki permasalahan prestasi belajar rata-rata kelas pada mata pelajaran PKn yang rendah. Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai rata-rata PKn kelas VII C semester gasal yaitu 58, 2 dengan batas ketuntasan minimalnya (KKM) yaitu 70. Berdasar data tersebut siswa yang mampu mencapai nilai ≥ 70 hanya 40%, sedangkan sisanya memperoleh nilai di bawah batas ketuntasan minimal tersebut. Data ini peneliti dapatkan setelah melakukan wawancara dengan guru PKn di SMP tersebut. Rendahnya prestasi belajar siswa tersebut antara lain disebabkan oleh kurangnya semangat siswa dalam belajar PKn, tidak semua siswa mempunyai buku pegangan atau buku paket PKn, dan metode mengajar guru yang masih berkisar pada ceramah, tanya jawab serta penugasan.

Berdasarkan sebab-sebab tersebut peneliti memfokuskan pada metode mengajar guru yang masih bersifat konvensional. Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh guru berkaitan dengan pengembangan metode mengajar agar tidak terpaku pada metode mengajar konvensional adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh (Hamzah, 2007) yaitu dengan �Mengubah dari sekedar metode ceramah dengan berbagai variasi metode yang lebih relevan dengan tujuan pembelajaran, memperkecil kebiasaan cara belajar peserta yang baru merasa belajar dan puas kalau banyak mendengarkan dan menerima informasi (diceramahi) guru, atau baru belajar kalau ada guru�. Oleh karena itu metode konvensional dalam pengajaran PKn harus diubah.

Salah satu metode mengajar yang dapat diterapkan oleh guru untuk mengatasi permasalahan di atas dan mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan tidak membosankan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think- Pair-Share (TPS). Model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) memberikan kepada siswa waktu untuk berpikir, menjawab, merespon dan membantu satu sama lain. Metode Think-Pair-Share (TPS) dikembangkan untuk meningkatkan penguasaan isi akademis siswa terhadap materi yang diajarkan. Hal ini seperti dinyatakan oleh (Arends, 1997) bahwa �Think-pair-share and Numbered heads together, described here, are two examples of structures teachers can use to teach academic content or to check on student understanding of particular content�.

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: �Untuk mengetahui penggunaan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar PKn pada siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla tahun pelajaran 2019/2020�.

Penelitian serupa yang pernah dilakukan yaitu diantaranya:

1.    �Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII E SMPN 14 Tegal dalam Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel�. Ditulis oleh (Susilo et al., 2022). Dalam penelitian skripsinya ini diungkapkan bahwa metode Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar Siswa Kelas VIII E SMPN 14 Tegal dalam Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.

2.    �Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa SMP dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share) dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Garis dan Sudut di Kelas VII SLTP IPIEMS Surabaya Tahun Pelajaran 2006/2007� (Utaminingsih, 2010). Dalam penelitian skripsinya ini diungkapkan bahwa metode Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar Siswa Kelas VII SLTP IPIEMS Surabaya dalam Pokok Bahasan Garis dan Sudut.

3.    �Studi Komparasi Pembelajaran Cooperatif Learning dengan Teknik Think- Pair-Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT) pada Materi Pokok Larutan Penyangga Ditinjau dari Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Semester 1 SMAN Tayu TA 2006/2007� (Driarastuti, 2012). Dalam penelitian skripsinya ini diungkapkan bahwa prestasi belajar pada kelas yang menerapkan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) lebih tinggi dibanding pada kelas yang mengunakan metode Numbered Head Together (NHT).

Beberapa penelitian tersebut menyatakan bahwa metode Think-Pair- Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar� pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan sistem persamaan linear dua variabel, dan juga dapat meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan garis dan sudut. Metode Think-Pair-Share (TPS) juga lebih baik dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran Kimia daripada metode Numbered Head Together (NHT). Sehingga metode Think- Pair-Share (TPS) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa

 

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di UPT SMPN 7 Alla Kabupaten Enrekang. Pemilihan lokasi tersebut dikarenakan peneliti menemukan masalah sebagaimana yang telah dijelaskan pada latar belakang permasalahan yaitu prestasi belajar rata-rata kelas VII C pada mata pelajaran PKn yang rendah, di samping itu karena lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal peneliti, sehingga dapat menghemat biaya, waktu dan tenaga. Setelah lokasi penelitian ditentukan,����������� langkah selanjutnya���� yaitu menentukan waktu penelitian. Peneliti memerlukan waktu sekitar 7 bulan yaitu bulan April 2019 sampai Oktober 2019. Subjek penelitian tindakan ini adalah siswa UPT SMPN 7 Alla. Siswa yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII C . Siswa tersebut berjumlah 30 orang yang terdiri dari 15 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki.

Pendekatan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Sugiyono, 2019). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru maupun peneliti untuk memperbaiki suatu keadaan atau hasil yang belum sesuai dengan harapan, misalnya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Jadi disini seorang guru atau peneliti terjun secara langsung ke kelas untuk mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi kemudian mencari dan melaksanakan suatu tindakan untuk mengatasi masalah tersebut dan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Definisi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sangat bervariasi. Menurut (Hamdani & Hermana, 2008) menyatakan bahwa �Secara lebih luas penelitian tindakan diartikan sebagai penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada sekelompok subyek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik�.

Penelitian tindakan yang dilakukan dalam konteks pekerjaan guru di kelas disebut sebagai Penelitian Tindakan Kelas. Ebbut dalam (Kasbolah, 2001) juga menyatakan pendapatnya mengenai Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu �Penelitian Tindakan Kelas merupakan studi yang sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-praktik dalam pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan tersebut�.

(Hamdani & Hermana, 2008) menyatakan bahwa �Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu kegiatan penelitian dengan mencermati sebuah kegiatan belajar yang diberikan tindakan, yang secara sengaja dimunculkan dalam sebuah kelas, yang bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas tersebut�.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu penelitian yang reflektif untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas dengan melakukan tindakan-tindakan praktis untuk memperbaiki proses belajar mengajar guna meningkatkan mutu pembelajaran.


 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1. Perbedaan antara Penelitian Formal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian Formal

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Dilakukan oleh orang di luar kelas, misalnya dosen, ilmuwan, mahasiswa yang melakukan eksperimen tertentu.

Dilakukan oleh kepala sekolah atau guru atau calon guru

Di lingkungan dimana��������� variable-variabel luar dapat dikendalikan

Di kelas dan di sekolah

Sampel harus representatif

Kerepresentatifan sampel�������������� tidak menjadi persyaratan penting

Mengutamakan validitas internal dan eksternal

Lebih mengutamakan validitas Internal

Menuntut penggunaan analisis statistik yang rumit, signifikansi statistik yang ditentukan sejak awal, dan memeriksa hubungan sebab akibat antarvariabel

Tidak menuntut penggunaan analisis statistik yang rumit, menggunakan metode

Mempersyaratkan hipotesis

Tidak selalu menggunakan hipotesis

Mengembangkan teori dan tidak memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung

Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung

Hasil penelitian merupakan produk ilmu yang dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas

Hasil penelitian merupakan peningkatan mutu pembelajaran di lingkungan pembelajaran tertentu tempat dilakukannya PTK

Berlangsung secara liniear (bergerak

maju)

Berlangsung secara siklis (berdaur)

Tidak kolaboratif dan individual

Kolaboratif dan kooperatif

Dasna (2007: 4-5) dan Mills (2003: 4) dalam Herawati Susilo, Husnul Chotimah, & Yuyun Dwita Sari (2008: 5).

 


Data penelitian dikumpulkan dari berbagai sumber meliputi:

1.    Informan, dalam penelitian ini yang ditunjuk sebagai informan adalah guru mata pelajaran PKn kelas VII.

2.    Peristiwa, peristiwa yang dimaksud adalah peristiwa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung pada pertemuan awal, siklus I dan siklus II.

3.    Dokumen, dokumen digunakan untuk melengkapi data-data yang telah diperoleh yang terdiri dari rencana pembelajaran, data identitas siswa, daftar nilai siswa, daftar guru, dan foto ketika proses belajar mengajar berlangsung.

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang ditempuh untuk mendapatkan data yang diperlukan dengan menggunakan teknik tertentu. Dalam penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan yaitu tes, wawancara, agket, observasi dan dokumentasi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Penelitian untuk Mengetahui Kemampuan Awal Siswa

Kegiatan untuk mengetahui kondisi awal siswa dilakukan dengan menggunakan tes kemampuan awal pada hari Sabtu tanggal 1 Agustus 2019. Tes kemampuan awal ini digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi tentang Norma, Kebiasaan, Adat Istiadat dan Peraturan. Selain itu, tes kemampuan awal juga digunakan sebagai pedoman dalam menentukan pasangan teman sebangku selama proses pembelajaran menggunakan metode Think-Pair- Share (TPS) siklus I.�� Tes kemampuan awal diberikan di semua kelas VII UPT SMPN 7 Alla yang terdiri dari tiga kelas yaitu kelas VII A, VII B, dan VII C. Berdasarkan hasil tes kemudian di rata-rata dan kelas yang memperoleh rata-rata dan ketuntasan kelas terendah yaitu kelas VII C, maka penelitian dilaksanakan di kelas ini. Tes kemampuan awal diberikan sebanyak 20 soal berupa soal pilihan ganda dengan empat alternatif jawaban. Adapun kisi-kisi dan soal tes kemampuan awal dapat dilihat pada lampiran 1 dan 2.

Berdasarkan tes kemampuan awal diperoleh bahwa kelas VII C memperoleh nilai rata-rata kelas terendah yaitu 53,5 dengan jumlah siswa yang tuntas 5 siswa dan siswa yang belum tuntas sebanyak 25 siswa.�� Hasil nilai tes kemampuan awal kelas VII C dapat dilihat pada lampiran 4. Nilai ini juga digunakan sebagai pedoman dalam menentukan pasangan teman sebangku pada pelaksanaan siklus I, daftar pasangan teman sebangku untuk pelaksanaan siklus I dapat dilihat pada lampiran 5. Nilai yang diperoleh kelas VII C lebih rendah dibandingkan dua kelas lainnya yang mampu memperoleh nilai rata-rata kelas 58,3 dan 64,7. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:


 

Tabel 2. Hasil Nilai Tes Kemampuan Awal

Kriteria

Kelas

Persentase

Rata-Rata Kelas

VIIA

VIIB

VIIC

VIIA

VIIB

VIIC

VIIA

VIIB

VIIC

Tuntas

7

11

5

23,3%

36,7%

16,7%

58,3

64,7

53,5

Belum Tuntas

23

19

25

76,7%

63,3%

83,3%

 


Perbandingan hasil nilai tes kemampuan awal dapat pula dilihat pada grafik berikut ini:


 

70

 

60

58.3

50

 

40

 

30

 

20

16.7

10

 

0

VII A

VII B

VII C

Persentase Ketuntasan Kelas

Rata-rata kelas

23.3

36.7

53.5

64.7

Gambar 1. Profil hasil perbandingan nilai tes kemampuan awal

 


Selain berpedoman pada nilai tes kemampuan awal, penentuan kelas untuk dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini juga berdasar pada� penggunaan metode pembelajaran yang selama ini diterapkan. Metode yang selama ini banyak digunakan dalam pembelajaran PKn adalah metode konvensional yang hanya berkisar pada ceramah dan tanya jawab. Sikap siswa ketika ketika guru sedang menjelaskan pelajaran bermacam-macam, ada yang mendengarkan tetapi kebanyakan siswa malah membuat kesibukan sendiri sehingga bersikap acuh terhadap penjelasan guru. Bahkan ada pula siswa yang mengantuk dan mengobrol sendiri dengan temannya. Guru sudah memberi peringatan kepada siswa untuk diam dan mendengarkan penjelasan guru, tetapi sebentar mereka diam dan tak lama kemudian mereka membuat kesibukan lagi. Hal ini terus berlangsung hingga pelajaran PKn selesai dan beliau kadang merasa bosan untuk terus memperingatkan siswa agar memperhatikan pelajaran. Keadaan ini semakin diperparah dengan jadwal pelajaran PKn khususnya di kelas VII C yang jatuh pada siang hari tepatnya pada jam pelajaran terakhir sehingga semangat siswa untuk belajar sudah berkurang. Beliau juga menjelaskan bahwa kelas yang paling perlu ditangani berkaitan dengan permasalahan di atas adalah kelas VII C. Beliau menambahkan bahwa pendapat ini juga berasal dari guru-guru lain yang mengajar di kelas VII C yang juga mengeluhkan permasalahan yang sama. Oleh karena itu beliau menyarankan bahwa kelas yang paling tepat untuk dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah kelas VII C. Berdasarkan hasil tes kemampuan awal dan wawancara dengan guru PKn kelas VII di atas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan di kelas VII C.

B.  Penelitian Siklus I

1.    Perencanaan Siklus I

Pada tahap ini guru bersama peneliti menyusun rancangan pembelajaran untuk diterapkan dalam penyampaian materi tentang Norma, Kebiasaan, Adat Istiadat dan Peraturan. Kegiatan perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 6 Agustus 2019.

Pada tiap siklus peneliti akan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS), menyiapkan soal tes, lembar observasi, angket respon siswa, dan daftar wawancara. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) digunakan sebagai pedoman untuk menentukan langkah-langkah pembelajaran (lihat lampiran 8), soal tes untuk mengetahui hasil belajar siswa (lihat lampiran 10), lembar observasi digunakan untuk mengamati keaktifan siswa dan untuk mengamati aktivitas mengajar yang dilakukan peneliti (lihat lampiran 12 dan 13), angket digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkan (lihat lampiran 15), dan daftar wawancara untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan metode pembelajaran Think-Pair- Share (TPS) siklus I.

2.    Pelaksanaan Siklus I

Pelaksanaan tindakan I dilaksanakan selama dua kali pertemuan seperti yang telah direncanakan yaitu pada hari Sabtu tanggal 8 Agustus 2019 dan hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2019. Pertemuan pertama dilaksanakan selama 2 X 40 menit dan pertemuan kedua dilaksanakan selama 1 X 40 menit. Peneliti bertindak sebagai guru (mengajar) guru mata pelajaran PKn kelas VII C. Materi pada pelaksanaan tindakan I adalah kompetensi dasar mendeskripsikan hakekat norma-norma, kebiasaan, adat- istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat.

Pertemuan pertama digunakan guru untuk melaksanakan pembelajaran menggunakan metode Think-Pair-Share (TPS), sedangkan pertemuan kedua akan dilakukan tes siklus I dan pengisian angket respon siswa terhadap metode yang diterapkan.

3.    Observasi Siklus I

Pengamatan dilaksanakan untuk mengamati keaktifan siswa selama proses belajar mengajar dan untuk mengamati aktivitas mengajar yang dilakukan peneliti selama menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) siklus I. Hasil pengamatan dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan.

4.    Analisis dan Refleksi Siklus I

a.    Analisis dan Refleksi terhadap Prestasi Belajar Siswa

Pada tahap ini dilakukan analisis tentang keberhasilan tindakan terhadap prestasi belajar siswa dari tes kemampuan awal sampai pada berakhirnya kegiatan belajar siklus I. Pada dasarnya prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari kondisi awal (tes kemampuan awal) sampai dengan siklus I. Adapun hasil peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini:


 

 

 

 

Tabel 3. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Tes Kemampuan Awal dan Tes Siklus I Siswa Kelas VII C SMPN 3 Prambanan

Keterangan

Tes Awal

Siklus I

Siswa Tuntas

5 (16,7 %)

16 (53,3%)

Siswa Belum Tuntas

25 (83,3%)

14 (46,7)

Rata-rata Kelas

53,5

69,7

Sumber: Data primer hasil tes awal dan tes siklus I

 


Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar PKn siswa kelas VII C mengalami peningkatan dari kondisi awal (tes kemampuan awal) sampai tindakan pada siklus I. Hasil tes awal menunjukkan siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa dengan persentase 16,7% kemudian pada siklus I mengalami peningkatan yaitu siswa yang tuntas menjadi 16 siswa dengan persentase 53,3% (mengalami peningkatan sebesar 36,6%). Begitupula dengan rata-rata kelas yang semula hanya 53,5 pada siklus I mengalami peningkatan menjadi 69,7.

Kriteria keberhasilan untuk prestasi belajar yaitu dengan batas tuntas atau KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 70 dan ketuntasan kelas sebesar 85%. Berdasarkan target tersebut dapat diketahui bahwa pencapaian nilai untuk prestasi belajar pada siklus I belum tercapai, karena pada siklus I ketuntasan kelas baru mencapai 53,3% sedangkan target yang ditetapkan sebesar 85%.

b.    Analisis dan Refleksi terhadap Keaktifan Siswa

Selain terjadi peningkatan dalam hal prestasi belajar siswa, keaktifan siswa selama mengikuti proses belajar mengajar pun mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil observasi awal yang telah dilakukan siswa terlihat kurang aktif selama proses belajar mengajar. Siswa cenderung diam tetapi tidak memperhatikan penjelasan guru. Ketika guru memberikan pertanyaan siswa enggan untuk menjawab secara sukarela, sehingga guru harus menunjuk nama siswa tertentu agar bersedia menjawab pertanyaan guru. Ketika siklus I berlangsung siswa mulai aktif selama proses belajar mengajar. Berdasrkan hasil observasi yang dilakukan pengamat didapatkan hasil mengenai keaktifan siswa sebagai berikut:


 

 

 

 

 

 

 

Tabel 4. Capaian Keaktifan Siswa Siklus I

No

Aspek yang Diamati

Penilaian

Persentase

1

Perhatian siswa terhadap penjelasan guru

19

63,3%

2

Kerjasama dalam kelompok

18

60%

3

Kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam kelompok

16

52,2%

4

Memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok

21

70%

5

Mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat

18

60%

6

Memberi gagasan yang cemerlang

14

46,7%

7

Membuat perencanaan� �dan� �pembagian kerja yang matang

20

66,7%

8

Keputusan berdasarkan pertimbangan anggota lain

20

66,7%

9

Memanfaatkan potensi anggota kelompok

18

60%

10

Saling membantu dalam menyelesaikan masalah

21

70%

 


C.  Hasil Penelitian Tindakan Kelas Siklus I dan Temuan Penelitian

1.    Hasil Tes Prestasi Belajar Siklus I

Berdasarkan hasil tes siklus I terdapat siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 (KKM = 70) sebanyak 14 siswa dengan persentase 46,7% dan yang mendapat nilai ≥ 70 sebanyak 16 siswa dengan persentase sebesar 53,3%, dan nilai rata-rata kelas yang dicapai sebesar 69,7. Adapun hasil nilai tes siklus I dapat dilihat pada lampiran 17. Nilai tes siklus I juga digunakan sebagai pedoman dalam menentukan pasangan teman sebangku pada pembelajaran siklus II, daftar pasangan teman sebangku siklus II dapat dilihat pada lampiran 18. Ketuntasan belajar siswa tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


 

Tabel 5. Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I

Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I

Kriteria

Jumlah Siswa

Tuntas

16 (53,3%)

Belum Tuntas

14 (46,7%)

Sumber: Data primer ketuntasan belajar siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla

 


Hasil capaian ketuntasan belajar siswa siklus I juga dapat dilihat pada� grafik berikut ini:


 

Gambar 2. Profil capaian ketuntasan belajar siswa siklus I

 


Kriteria keberhasilan tindakan untuk prestasi belajar adalah dengan batas tuntas 70 (KKM = 70) dan ketuntasan kelas sebesar 85%. Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa target yang diharapkan belum tercapai, karena pada hasil tes siklus I ketuntasan kelas baru mencapai 53,3% sedangkan target yang ditetapkan sebesar 85%. Keadaan ini akan diperbaiki pada siklus II.

2.    Hasil Observasi Siklus I

Berdasarkan lembar observasi yang diperoleh pada kegiatan observasi siklus I dapat dijelaskan hasilnya sebagai berikut:

a.    Hasil Observasi Keaktifan Siswa

Hasil observasi kemudian dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Adapun pengolahan hasil observasi keaktifan siswa siklus I dapat dilihat pada lampiran 19.


 

Tabel 6. Hasil Observasi Keaktifan Siswa Siklus I

No

Aspek yang Diamati

Penilaian

Persentase

1

Perhatian siswa terhadap penjelasan guru

19

63,3%

2

Kerjasama dalam kelompok

18

60%

3

Kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam kelompok

16

52,2%

4

Memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam kelompok

21

70%

5

Mendengarkan dengan baik ketika temanm berpendapat

18

60%

6

Memberi gagasan yang cemerlang

14

46,7%

7

Membuat perencanaan dan pembagian kerja yang matang

20

66,7%

8

Keputusan berdasarkan pertimbangan anggota lain

20

66,7%

9

Memanfaatkan potensi anggota kelompok

18

60%

10

Saling membantu dalam menyelesaikan masalah

21

70%

Sumber: Data primer pengolahan hasil observasi keaktifan siswa siklus I

 


Target seluruh item untuk keaktifan siswa adalah sebesar 65%. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa aspek yang diamati dan telah memenuhi target 65% pada siklus I ini terdapat pada pernyataan nomor 4, 7, 8 dan 10, sedangkan pernyataan yang lainnya masih belum memenuhi target karena persentasenya kurang dari 65%.

Hasil capaian keaktifan siswa siklus I juga dapat dilihat pada grafik berikut ini:


 

70

70

70

66.7 66.7

65

 

60

60

60

60

55

 

50

 

45

 

40

1

2

3

4������� 5

6

7

8�������� 9����������� 10

Aspek yang Diamati

46.7

52.2

63.3

Gambar 3. Profil capaian keaktifan siswa siklus I

 


b.    Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar

Hasil observasi kemudian dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Adapun pengolahan hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus I dapat dilihat pada lampiran 20.


 

Tabel 7. Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus I

No

Indikator

Penilaian

Kategori

1

Membuka pelajaran

2

Cukup

2

Menjelaskan materi pelajaran

2

Cukup

3

Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

3

Baik

4

Membimbing��� kelompok��� belajar dan

bekerjasama dalam diskusi kelompok

3

Baik

5

Memberi waktu berpikir

3

Baik

Sumber: Data primer pengolahan hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus I

 


Berdasarkan tabel di atas hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus I dapat diuraikan sebagai berikut:

a.    Kemampuan guru dalam membuka pelajaran masuk dalam kategori cukup karena relevan dengan materi tetapi guru tidak memberikan apersepsi.

b.    Kemampuan guru dalam menjelaskan materi pelajaran masuk dalam kategori cukup karena relevan dengan materi tetapi situasi kelas belum begitu terkendali.

c.    Kemampuan guru mengorganisasi siswa ke dalam kelompok belajar masuk kategori baik karena guru mampu membantu siswa dalam mengorganisasi kelompok belajar dengan baik.

d.   Kemampuan guru dalam membimbing kelompok belajar untuk bekerjasama dan berdiskusi masuk kategori baik guru juga telah melakukan tugasnya dalam hal ini membimbing kelompok belajar untuk bekerjasama dengan baik.

e.    Kemampuan guru dalam memberi waktu berpikir masuk kategori baik karena guru telah memberikan waktu untuk berpikir tetapi kadang guru juga kurang memberikan waktu berpikir kepada siswa dalam menjawab pertanyaan.

f.     Kemampuan guru dalam pengelolaan kelas masuk kategori cukup karena suasana kelas belum terkendali, kalaupun terkendali itu karena guru harus memberi peringatan yang cukup keras kepada siswa.

g.    Kemampuan guru dalam menutup pelajaran masuk kategori cukup karena pada akhir pelajaran guru belum melibatkan siswa dalam menyimpulkan materi pelajaran yang baru dipelajari.

3.    Hasil Angket Respon Siswa Siklus I

Angket respon ini diisi oleh siswa mengenai respon terhadap pembelajaran PKn menggunakan metode Think-Pair-Share (TPS) siklus I, pengisian ini dilakukan setelah siswa mengerjakan tes siklus I.


 

Tabel 8. Hasil Angket Respon Siswa Siklus I

No

Pernyataan

Respon Siswa

Persentase

SS dan S

TS dan STS

1

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) membuat suasana belajar lebih hidup dan tidak membosankan.

18

 

60%

2

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) menciptakan suasana pembelajaran yang gaduh dan tidak terkendali.

 

22

73,3%

3

Penggunaan��� metode��� Think-Pair-Share (TPS) memudahkan saya dalam memahami materi pelajaran.

20

 

66,7%

4

Saya tidak suka mengerjakan tugas secara berpasangan sebagaimana instruksi dalam pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS).

 

20

66,7%

5

Metode��� Think-Pair-Share (TPS) sesuai digunakan��� dalam pembelajaran PKn.

25

 

83,3%

6

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) mendorong saya untuk aktif dalam kegiatan belajar di kelas.

18

 

60%

7

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) mendorong saya untuk bekerja secara individu dan tidak memperhatikan teman dalam satu pasangan.

 

26

86,7%

8

Saya mengalami kesulitan saat guru

menjelaskan materi dengan metode

 

19

63,3%

9

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) mendorong saya aktif berpikir dalam menjawab pertanyaan dan mengerjakan tugas secara

berpasangan.

17

 

56,7%

10

Pembelajaran������ dengan����� metode

Think-Pair-Share (TPS) membuat saya tidak mengantuk di kelas.

25

 

83,3%

11

Saya tidak memperhatikan teman yang sedang mengeluarkan pendapat ketika tahap share dalam metode Think-Pair-Share (TPS) dilaksanakan.

 

20

66,7%

12

Tugas berpasangan dalam pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) menarik untuk dikerjakan.

22

 

73,3%

13

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) mendorong saya untuk berusaha mendapat nilai maksimal.

21

 

70%

14

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) tidak membuat saya lebih aktif dalam pembelajaran PKn.

 

20

66,7%

15

Metode�������������� Think-Pair-Share������������ (TPS) tidak sesuai������� digunakan dalam pembelajaran PKn.

 

25

83,3%

Sumber: Data primer pengolahan angket respon siswa siklus I

 


Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa respon siswa terhadap penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) sangat baik. Hal ini dibuktikan pada hasil persentase angket respon siswa hampir semua pernyataan yang diberikan memperoleh tanggapan yang cukup memuaskan yaitu ≥ 60%. Hal ini menandakan bahwa separuh lebih siswa kelas VII C menanggapi positif terhadap penerapan metode ini dalam pembelajaran PKn. Adapun pengolahan hasil angket respon siswa siklus I dapat dilihat pada lampiran 21.

4.    Temuan Penelitian untuk Perbaikan Siklus II

a.    Perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang dijelaskan guru masih rendah. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan mencoba menampilkan media gambar untuk menarik perhatian siswa.

b.    Keengganan siswa untuk berpasangan dengan teman yang tidak biasa duduk sebangku ataupun ketika harus berpasangan dengan lawan jenis. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan kembali mencoba memberikan penjelasan kepada siswa mengenai cara kerja metode pembelajaran kooperatif khususnya metode Think-Pair-Share (TPS).

c.    Pada tahap sharing (berbagi) masih banyak pasangan yang hanya mengulang atau menyalin pekerjaan pasangan lainnya. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II tugas yang dikerjakan secara berpasangan langsung dikumpulkan ke meja guru, sebelum guru memanggil tiap pasangan untuk maju mempresentasikan hasil pekerjaannya.

d.   Guru kurang bisa memantau dan mengontrol jalannya diskusi, karena posisi guru kebanyakan di depan kelas.�� Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan berkeliling kelas untuk mengawasi jalannya diskusi.

e.    Siswa belum tertib masuk kelas setelah tanda bel istirahat, sehingga banyak menyita waktu pelajaran PKn. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan berkoordinasi dengan ketua kelas VII C agar menertibkan teman-temannya untuk segera masuk kelas setelah bel istirahat.

f.     Masih ada siswa yang bekerjasama pada saat evaluasi berlangsung. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan meningkatkan pengawasannya terhadap jalannya evaluasi.

g.    Target ketuntasan kelas sebesar 85% belum tercapai. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan mencoba memperbaiki segala kekurangan yang ada pada siklus I, baik dari media, pelaksanaan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) maupun pendalaman materi kepada siswa.

h.    Target keaktifan siswa selama pembelajaran sebesar 65% untuk setiap item belum tercapai. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan lebih banyak memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk dapat merangsang keingintahuannya terhadap materi pelajaran. Selain itu pada tahap sharing (berbagi) guru akan mencoba menunjuk pasangan tertentu untuk memberikan tanggapan terhadap hasil presentasi pasangan tertentu.

D.  Penelitian Siklus II

1.    Perencanaan Siklus II

Pada tahap ini peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembelajaran (lihat lampiran 24). Terdapat beberapa perbedaan dalam RPP siklus I dengan siklus II, yaitu:

a.    Perihal waktu, pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus II terjadi perubahan alokasi waktu yaitu dengan menambah waktu untuk kegiatan pendahuluan menjadi 25 menit dari RPP siklus I yang hanya 20 menit. Hal ini dilakukan karena pada tahap ini guru akan menjelaskan kembali secara lebih mendalam mengenai metode yang diterapkan agar dalam pelaksanaan kegiatan inti pembelajaran siswa tidak lagi merasa bingung seperti yang terjadi pada siklus I.

b.    Perihal media, pada pelaksanaan siklus I media yang digunakan guru hanya papan tulis, kapur, dan penghapus. Pada pelaksanaannya pemakaian media tersebut belum efektif karena siswa masih merasa kesulitan memahami materi pelajaran dan terlihat masih jenuh untuk mendengarkan penjelasan guru. Oleh karena itu pada siklus II guru menggunakan media gambar yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

Selain menyusun RPP peneliti juga mempersiapkan soal tes untuk mengetahui hasil belajar siswa (lihat lampiran 26), lembar observasi digunakan untuk mengamati keaktifan siswa dan untuk mengamati aktivitas mengajar yang dilakukan peneliti (lihat lampiran 28 dan 29), angket digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkan (lihat lampiran 31), dan daftar wawancara untuk memperoleh informasi mengenai pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) siklus II (lihat lampiran 32).

2.    Pelaksanaan Siklus II

Pelaksanaan tindakan II dilaksanakan selama dua kali pertemuan yaitu pada hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2019 dan hari Sabtu tanggal 5 September 2019. Peneliti bertindak sebagai guru selaku guru mata pelajaran PKn kelas VII C.

Pelaksanaan tindakan II hampir sama dengan pelaksanaan tindakan I, hanya saja dalam pelaksanaan tindakan II ini terdapat perbaikan-perbaikan yang diperlukan dengan memperhatikan hasil refleksi tindakan I.

Materi pada tindakan II ini adalah kompetensi dasar mendeskripsikan hakikat norma-norma, kebiasaan, adat-istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Pada pertemuan pertama guru menyampaikan materi dengan menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS). Pertemuan kedua guru memberikan soal sebagai evaluasi belajar siswa siklus II dan membagikan angket respon untuk diisi siswa.

3.    Observasi Siklus� II

Pengamatan dilaksanakan untuk mengamati keaktifan siswa dan aktivitas mengajar guru selama proses pembelajaran siklus II berlangsung. Adapun hasil pengamatan akan dicatat pada lembar observasi yang telah disediakan.

4.    Analisis dan Refleksi Siklus II

a.    Analisis dan Refleksi terhadap Prestasi Belajar Siswa

Pada tahap ini dilakukan analisis tentang keberhasilan tindakan terhadap prestasi belajar siswa. Hasil prestasi belajar yang diperoleh pada siklus II akan dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada siklus I dan tes kemampuan awal. Adapun hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


 

Tabel 9. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Pada Tes Awal, Siklus I, dan Siklus II Siswa Kelas VII C UPT SMPN 7 Alla Kabupaten Enrekang

Keterangan

Tes Awal

Siklus I

Siklus II

Siswa Tuntas

5 (16,7%)

16 (53,3%)

26 (86, 7%)

Siswa Belum Tuntas

25 (83,3%)

14 (46,7%)

4 (13,3%)

Rata-rata Kelas

53,5

69,7

81,6

Sumber: Data primer hasil tes awal, siklus I, dan siklus II

 


Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar dari kondisi awal (tes kemampuan awal), siklus I, dan siklus II. Pada kondisi awal (tes kemampuan awal) siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa dengan persentase sebesar 16,7%, pada siklus I mengalami peningkatan dimana siswa yang tuntas menjadi 16 siswa dengan persentase sebesar 53,3% (mengalami peningkatan sebesar 36,3%). Selanjutnya pada siklus II mengalami peningkatan lagi dimana siswa yang tuntas menjadi 26 siswa dengan persentase sebesar 86,7% (mengalami peningkatan sebesar 33,4%).

Kriteria keberhasilan untuk prestasi belajar yaitu dengan batas tuntas atau KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 70 dan ketuntasan kelas sebesar 85%. Berdasarkan target tersebut dapat diketahui bahwa pencapaian nilai untuk prestasi belajar pada siklus II telah tercapai, hal ini ditunjukkan pada perolehan nilai tes siklus II siswa yang tuntas sebanyak 26 siswa dengan persentase 86,7% dan target yang ditetapkan sebesar 85%.

b.    Analisis dan Refleksi terhadap Keaktifan Siswa

Keaktifan siswa selama proses belajar mengajar siklus II telah mengalami peningkatan dibandingkan pada saat sebelumnya. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:


 

Tabel 10. Capaian Keaktifan Siswa Siklus I dan Siklus II

No

Aspek yang Diamati

Siklus I

Siklus II

Penilaian/Persentase

Penilaian/Persentase

1

Perhatian siswa terhadap penjelasan guru

19 (63,3%)

22 (73,3%)

2

Kerjasama dalam kelompok

18 (60%)

20 (66,7%)

3

Kemampuan siswa mengemukakan pendapat

dalam kelompok

16 (52,2%)

21 (70%)

4

Memberi kesempatan Berpendapat kepada teman dalam kelompok

21 (70%)

23 76,7%)

5

Mendengarkan dengan baik

ketika teman berpendapat

18 (60%)

20 (66,7%)

6

Memberi gagasan yang Cemerlang

14 (46,7%)

20 (66,&%)

7

Membuat perencanaan dan

Pembagaian kerja yang matang

20 (66,7%)

25 (83,3%)

8

Keputusan berdasarkan pertimbangan anggota lain

20 (66,7%)

26 (86,7%)

9

Memanfaatkan potensi anggota kelompok

18 (60%)

24 (80%)

10

Saling membantu dalam menyelesaikan masalah

21 (70%)

23 (76,7%)

 


Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan kekatifan siswa selama proses belajar mengajar siklus I dan siklus II. Pada siklus I terdapat empat item pernyataan yang belum memenuhi target 65% yaitu item nomer 4,7,8, dan 10. Sedangkan pada siklus II target kekatifan siswa sebesar 65% dapat tercapai.

E.  Hasil Penelitian Tindakan Kelas Siklus II dan Temuan Penelitian

1.    Hasil Tes Prestasi Belajar Siklus II

Berdasarkan tes siklus II terdapat siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 (KKM = 70) sebanyak 4 siswa dengan persentase sebesar 13,3% dan yang mendapat nilai ≥ 70 sebanyak 26 dengan persentase sebesar 86,7 % siswa, dan nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 81,6. Adapun hasil nilai tes siklus II dapat dilihat pada lampiran 33. Ketuntasan belajar siswa tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


 

Tabel 11. Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II

Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

Kriteria

Jumlah Siswa

Tuntas

26 (86,7%)

Belum Tuntas

4 (13,3%)

Sumber: Data primer ketuntasan belajar siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla Kabupaten Enrekang.


Hasil capaian ketuntasan belajar siswa siklus II juga dapat dilihat pada grafik berikut ini:


Gambar 4. Profil capaian ketuntasan belajar siswa siklus II

 


Kriteria keberhasilan tindakan untuk prestasi belajar adalah dengan batas tuntas 70 (KKM = 70) dan ketuntasan kelas sebesar 85%. Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa target yang ditetapkan telah tercapai, karena pada hasil tes siklus II ketuntasan kelas telah mencapai 86,7% dan target yang ditetapkan sebesar 85%.

2.    Hasil Observasi Siklus II

a.    Hasil Observasi Keaktifan Siswa

Kegiatan observasi keaktifan siswa siklus II dilakukan oleh guru PKn kelas VII C, Hasil observasi kemudian dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Adapun pengolahan hasil observasi keaktifan siswa siklus II dapat dilihat pada lampiran 34.


 

 

 

Tabel 12. Hasil Observasi Keaktifan Siswa Siklus II

No

Aspek yang Diamati

Penilaian

Persentase

1

Perhatian siswa terhadap penjelasan guru

22

73,3%

2

Kerjasama dalam kelompok

20

66,7%

3

Kemampuan������ siswa������ mengemukakan

pendapat dalam kelompok

21

70%

4

Memberi kesempatan berpendapat kepada

teman dalam kelompok

23

76,7%

5

Mendengarkan dengan baik ketika teman

berpendapat

20

66,7%

6

Memberi gagasan yang cemerlang

20

66,7%

7

Membuat perencanaan� �dan� �pembagian

kerja yang matang

25

83,3%

8

Keputusan���� berdasarkan���� pertimbangan

anggota lain

26

86,7%

9

Memanfaatkan potensi anggota kelompok

24

80%

10

Saling membantu dalam menyelesaikan

masalah

23

76,7%

Sumber: Data primer pengolahan hasil observasi keaktifan siswa siklus II

 


Target seluruh item dalam keaktifan siswa sebesar 65%. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa semua aspek yang diamati dan telah memenuhi target 65%, dengan persentase tertinggi terdapat pada item nomor 8 yaitu keputusan berdasarkan pertimbangan anggota lain, sedangkan persentase terendah terdapat pada item nomor 2, 5, dan 6. Namun demikian secara keseluruhan target yang ingin dicapai pada siklus II ini yaitu sebesar 65% dapat tercapai. Hasil capaian keaktifan siswa siklus II juga dapat dilihat pada grafik berikut ini:


 

85

80

83.3

75

70

65

60

55

50

45

73.3

66.7 66.7

1������ 2������ 3������ 4������ 5��������� 6������ 7������ 8������ 9��������� 10

Aspek yang Diamati

76.7

86.7

66.7

70

76.7

80

Gambar 5. Profil capaian keaktifan siswa siklus II

 


b.    Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus II

Hasil observasi kemudian dicatat dalam lembar observasi yang telah disediakan. Adapun pengolahan hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus II dapat dilihat pada lampiran 35.


 

Tabel 13. Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus II

No

Indikator

Penilaian

Kategori

1

Membuka pelajaran

3

Baik

2

Menjelaskan materi pelajaran

3

Baik

3

Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

3

Baik

4

Membimbing kelompok belajar dan bekerjasama dalam diskusi kelompok

3

Baik

5

Memberi waktu berpikir

4

Sangat baik

6

Pengelolaan kelas

3

Baik

7

Menutup pelajaran

2

Cukup

Sumber: Data primer pengolahan hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus II

 


Berdasarkan tabel hasil observasi aktivitas guru mengajar di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

a.    Kemampuan guru dalam membuka pelajaran masuk dalam kategori baik karena relevan dengan materi dan memberikan apersepsi.

b.    Kemampuan guru dalam menjelaskan materi pelajaran mengalami peningkatan dan masuk dalam kategori baik karena relevan dengan materi dan situasi kelas dapat terkendali.

c.    Kemampuan guru mengorganisasi siswa ke dalam kelompok belajar masuk dalam kategori baik karena guru mampu melaksanakan tugas tersebut sesuai dengan ketentuan.

d.   Kemampuan guru dalam membimbing kelompok belajar untuk bekerjasama dan berdiskusi masuk dalam kategori baik karena guru mampu melaksanakan tugas tersebut sesuai dengan ketentuan.

e.    Kemampuan guru memberi waktu berpikir pada siklus II ini mengalami peningkatan dan masuk kategori sangat baik karena guru telah memberikan waktu berpikir kepada siswa sesuai dengan kebutuhan.

f.     Kemampuan guru dalam pengelolaan kelas juga mengalami peningkatan dan masuk kategori baik karena situasi pembelajaran pada siklus II ini lebih terkendali daripada siklus I.

g.    Kemampuan guru menutup pelajaran masih masuk kategori cukup karena dalam memberikan kesimpulan di akhir pelajaran guru masih belum melibatkan siswa.

3.    Hasil Angket Respon Siswa Siklus II

Angket respon ini diisi oleh siswa mengenai respon terhadap pembelajaran PKn menggunakan metode Think-Pair-Share (TPS) siklus II, pengisian ini dilakukan setelah siswa mengerjakan tes siklus II.


 

Tabel 14. Hasil Angket Respon Siswa Siklus II

No

Pernyataan

Respon Siswa

Persentase

SS dan S

TS dan STS

1

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) membuat suasana belajar lebih hidup dan tidak membosankan.

26

 

86,7%

2

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) Menciptakan suasana pembelajaran yang gaduh dan tidak terkendali.

 

28

93,3%

3

Penggunaan metode Think- Pair-Share (TPS) memudahkan saya dalam memahami materi pelajaran.

26

 

86,7%

4

Saya tidak suka mengerjakan tugas secara berpasangan sebagaimana instruksi dalam pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS).

 

27

90%

5

Metode Think-Pair-Share (TPS) sesuai digunakan dalam pembelajaran PKn.

25

 

83,3%

6

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) mendorong saya untuk aktif dalam kegiatan belajar di kelas.

24

 

80%

7

Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS) mendorong saya untuk bekerja secara individu dan tidak memperhatikan teman dalam

satu pasangan.

 

26

86,7%

8

Saya mengalami kesulitan saat guru menjelaskan materi dengan metode Think-Pair- Share (TPS).

 

24

80%

9

Pembelajaran����� dengan�� metode

25

 

83,3%

Sumber: Data primer pengolahan angket respon siswa siklus I

 


Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil respon siswa jika dibandingkan dengan siklus I meningkat menjadi lebih baik. Pada siklus I respon siswa cukup baik yaitu hampir semua pernyataan mendapatkan persentase ≥ 60%, dan pada siklus II ini respon terhadap penerapan metode pembelajaran Think- Pair-Share (TPS) meningkat yaitu semua pernyataan yang diberikan memperoleh tanggapan yang sangat memuaskan yaitu ≥ 80%. Hal ini berarti separuh lebih siswa kelas VII C menanggapi positif penerapan metode ini dalam pembelajaran PKn. Khusus untuk angket respon siswa terhadap penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) memang peneliti tidak memberikan target khusus untuk dikatakan berhasil, tetapi melihat pada perolehan hasil angket respon siswa siklus II dimana semua pernyataan yang diberikan memperoleh tanggapan yang sangat memuaskan yaitu ≥ 80% ( ≥ 24 dari 30 siswa menanggapi positif) itu sudah cukup menggambarkan bahwa siswa sangat antusias terhadap penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS). Adapun pengolahan hasil angket respon siswa siklus II dapat dilihat pada lampiran 36.

4.    Temuan Penelitian Siklus II

a.    Siswa mulai memperhatikan penjelasan guru dengan cukup baik setelah penggunaan media gambar.

b.    Siswa terlihat lebih mudah diarahkan untuk berpasangan dengan teman yang telah ditentukan guru.

c.    Pada tahap sharing (berbagi) tiap pasangan tidak lagi hanya sekedar mengulang atau menyontek pekerjaan pasangan lainnya karena sebelum guru memanggil pasangan tertentu untuk maju ke depan terlebih dulu pekerjaan tiap pasangan dikumpulkan di meja guru.

d.   Guru sudah dapat meningkatkan perhatiannya kepada setiap pasangan sehingga diskusi dapat berjalan lancar. Siswa terlihat lebih aktif dalam diskusi yang berlangsung dibandingkan dengan keadaan diskusi pada siklus I.

e.    Pada evaluasi siklus II siswa terlihat lebih tenang karena guru lebih meningkatkan pengawasannya terhadap jalannya evaluasi.

f.     Target ketuntasan kelas sebesar 85% dapat tercapai dan keaktifan siswa sebesar 65% untuk setiap item dapat tercapai, sehingga Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berakhir pada siklus II, karena indikator kerja yang meliputi prestasi belajar dan keaktifan siswa telah memenuhi target yang ditetapkan.


 

 

��������������������������������� Tabel 15. Ketercapaian Indikator Kerja���

Indikator Kinerja

Target

Siklus I

Siklus II

Keterangan

Prestasi Belajar

Hasil tes tiap siklus minimal 70 (KKM = 70) dan 85% secara

klasikal.

53,3%

86,7%

Tercapai

Keaktifan Siswa

Minimal 65% siswa aktif untuk semua item pernyataan.

6 item ��������������belum memenuhi target

65%.

Semua item memenuhi target

65%

Tercapai

 


F.   Analisis Pelaksanaan Tindakan Kelas dalam Penerapan Metode Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

1.    Perencanaan yang Dilakukan Guru untuk Mempersiapkan Metode Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)

Perencanaan yang dilakukan untuk mempersiapkan metode Think-Pair-Share

(TPS) adalah sebagai berikut:

a.    Mempersiapkan serangkaian tindakan yang berupa pelaksanaan dari metode Think-Pair-Share (TPS) meliputi kegiatan Thinking (berpikir), Pairing (berpasangan), dan Sharing (berbagi).

b.    Menyusun instrumen penelitian seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk tiap siklus, soal kemampuan awal, soal tes untuk tiap siklus, lembar observasi untuk mengamati keaktifan siswa dan aktivitas guru mengajar, angket untuk mengetahui respon siswa terhadap metode yang diterapkan, serta daftar wawancara untuk mengetahui informasi dari guru PKn mengenai pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS).

2.    Implikasi Metode Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) siklus I dan siklus II dengan menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) khususnya pada kompetensi dasar mendeskripsikan hakikat norma-norma, kebiasaan, adat-istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat terjadi peningkatan prestasi belajar PKn. Peningkatan ini dapat dilihat pada tabel berikut ini:


 

Tabel 16. Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa

Ketuntasan Hasil Belajar

Kriteria

Jumlah Siswa

Persentase

Tes Awal

Siklus I

Siklus II

Tes Awal

Siklus I

Siklus II

Tuntas

Belum Tuntas

5

25

16

14

26

4

16,7%

83,3%

53,3%

46,7%

86,7%

13,3%

Sumber: Data primer peningkatan ketuntasan belajar siswa

 


Peningkatan ketuntasan belajar siswa tersebut juga dapat dilihat pada grafik berikut ini:


 

90

80

70

60

50

40

30

20

10

0

86.7

53.3

Jumlah Siswa Tuntas

26

16.7

16

Persentase Ketuntasan (%)

5

Tes Awal���������������������������������� Siklus I���������������������������������� Siklus II

Gambar 6. Peningkatan ketuntasan belajar siswa sebelum tindakan, siklus I, dan siklus II

 


Peningkatan keaktifan siswa saat pembelajaran berlangsung dapat dilihat pada grafik berikut ini:


 

Gambar 7. Peningkatan keaktifan siswa siklus I dan siklus II

 


3.    Hambatan atau Kendala yang Dihadapi Guru dalam Penerapan Metode Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)

a.    Metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) belum pernah diterapkan sebelumnya sehingga siswa masih terlihat bingung dengan penerapan metode pembelajaran ini.

b.    Masih ada siswa yang terlihat tidak nyaman berpasangan dengan teman yang tidak biasa duduk sebangku.

c.    Ketika diskusi kelas berlangsung masih ada siswa yang melakukan kegiatan lain dan enggan berdiskusi.

d.   Kegiatan sharing (berbagi) yang dilakukan masih ada siswa yang hanya sekedar menyalin pekerjaan pasangan lain yang sedang maju ke depan kelas.

4.    Upaya untuk Mengatasi Hambatan atau Kendala yang Dihadapi Guru dalam Penerapan Metode Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)

a.    Pada siklus II guru mengalokasikan waktu lebih banyak lagi untuk menjelaskan kembali metode pembelajaran yang diterapkan. Pada tahap- tahap penerapan metode Think-Pair-Share (TPS) yang meliputi Thinking (berpikir), Pairing (berpasangan), dan Sharing (berbagi) guru dan pengamat membantu mengarahkan siswa melaksanakan tahap-tahap tersebut.

b.    Guru menjelaskan dan memberi pengarahan kepada siswa agar bersedia berpasangan dengan teman yang sudah ditetapkan.

c.    Ketika tahap diskusi berlangsung guru dan pengamat bersama-sama mengawasi jalannya diskusi agar siswa tidak melakukan kegiatan lain selain berdiskusi.

d.   Tugas berpasangan dikumpulkan langsung kepada guru, sehingga ketika guru menunjuk pasangan tertentu untuk maju maka pasangan itu meminta hasil pekerjaannya kepada guru untuk dipresentasikan, sehingga pasangan lainnya tidak dapat menyalin hasil pekerjaannya karena sudah dikumpulkan di meja guru.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian penerapan metode pembelajaran Think- Pair-Share (TPS) pada siswa kelas VII C UPT SMPN 7 All tahun pelajaran 2019- 2020, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran Think- Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar PKn siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla pada kompetensi dasar mendeskripsikan hakikat norma- norma, kebiasaan, adat-istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat.�� Hal ini dapat ditunjukkan pada peningkatan prestasi belajar siswa dari sebelum dilaksanakan tindakan, siklus I, dan siklus II. Sebelum pelaksanaan tindakan, ketuntasan hasil belajar siswa yaitu sebanyak 5 siswa tuntas dengan persentase sebesar 16,7% dan rata-rata kelas sebesar 53,5. Siklus I ketuntasan hasil belajar siswa meningkat menjadi 16 siswa dengan persentase sebesar 53,3% rata-rata kelas meningkat menjadi 69,7. Siklus II meningkat lagi menjadi 26 siswa dengan persentase sebesar 86, 7% rata-rata kelas meningkat lagi menjadi 81,6. Angka ini melebihi target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 85%, sehingga dapat disimpulkan bahwa target ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 85% telah tercapai pada siklus II. Penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) juga dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas VII C UPT SMP Negeri 7 Alla� pada kompetensi dasar mendeskripsikan hakikat norma-norma, kebiasaan, adat-istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini dapat ditunjukkan pada ketercapaian seluruh item yang ditargetkan yaitu sebesar 65%. Pada siklus I target perolehan 65% untuk semua item belum tercapai, karena masih ada enam item yang belum mencapai target 65% , tetapi pada siklus II target yang ditetapkan dapat tercapai.

 

BIBLIOGRAFI

 

Aditya, D. Y. (2016). Pengaruh penerapan metode pembelajaran resitasi terhadap hasil belajar matematika siswa. SAP (Susunan Artikel Pendidikan), 1(2), 165�174. http://dx.doi.org/10.30998/sap.v1i2.1023. Google Scholar

 

Arends, R. (1997). Classroom instruction and management. McGraw-Hill Companies. Google Scholar

 

Darmadi, H. (2015). Tugas, peran, kompetensi, dan tanggung jawab menjadi guru profesional. Edukasi: Jurnal Pendidikan, 13(2), 161�174. �https://doi.org/10.31571/edukasi.v13i2.113. Google Scholar

 

Dewi, E. R. (2018). Metode Pembelajaran Modern Dan Konvensional Pada Sekolah Menengah Atas. PEMBELAJAR: Jurnal Ilmu Pendidikan, Keguruan, Dan Pembelajaran, 2(1), 44�52. https://doi.org/10.26858/pembelajar.v2i1.5442. Google Scholar

 

Driarastuti, E. D. (2012). Studi Komparasi Prestasi Belajar Akuntansi Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Think Pairs Share (TPS) dengan Numbered Head Together (NHT) pada Siswa Kelas XI IPS Semester 2 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun Pelajaran 2011/2012. Google Scholar

 

Hamdani, N. A., & Hermana, D. (2008). Classroom Action Research. Jakarta: Rahayasa. Google Scholar

 

Hamzah, B. U. (2007). Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Google Scholar

 

Hosnan, M. (2014). Pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad 21: Kunci sukses implementasi kurikulum 2013. Google Scholar

 

Istiqomah, N. N. (2018). Strategi Guru PKN dalam Menentukan Metode Pembelajaran yang Sesuai dengan Tujuan Pembelajaran. Seminar Nasional Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Persekolahan Dan Kemasyarakatan. Google Scholar

 

Jamun, Y. M. (2018). Dampak teknologi terhadap pendidikan. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan Missio, 10(1), 48�52. Google Scholar

 

Kasbolah, K. (2001). Foreign Language Teaching Media. Malang: Universitas Negeri Malang. Google Scholar

 

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D. Alfabeta. Google Scholar

 

Sulaiman, S. (2017). Peningkatan Mutu Pendidikan Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Perguruan Tinggi Untuk Menghadapi Era Globalisasi. Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi Publik, 5(2), 96912. Google Scholar

 

Susilo, H., Chotimah, H., & Sari, Y. D. (2022). Penelitian Tindakan Kelas. Media Nusa Creative (MNC Publishing). Google Scholar

 

Utaminingsih, D. W. T. (2010). Upaya peningkatan prestasi belajar pkn melalui metode pembelajaran think-pair-share (TPS) bagi siswa kelas vii C SMPN 3 Prambanan Tahun ajaran 2009/2010. Google Scholar


 

 

 

 

 

 

Copyright holder :

Mudjizat Hasan (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: