|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 3 No. 10 Oktober 2022 |
|
p-ISSN :
2722-7782 e-ISSN : 2722-5356 |
Sosial
Sains |
UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKN MELALUI
METODE PEMBELAJARAN THINK-PAIR-SHARE (TPS) BAGI SISWA KELAS VII-C UPT SMPN 7
ALLA KABUPATEN ENREKANG TAHUN�
PELAJARAN� 2019/2020
Mudjizat Hasan
Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan UPT SMP Negeri 7 Alla
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 07 Oktober
2022 Direvisi 20 Oktober
2022 Disetujui 29 Oktober
2022 |
Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat mengakibatkan perubahan di segala
bidang kehidupan. Peningkatan kualitas dan mutu pendidikan yang baik
diharapkan mampu melahirkan lulusan-lulusan yang mempunyai daya saing tinggi
untuk menghadapi ketatnya tantangan dan persaingan di dunia kerja. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan metode pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar PKn pada siswa
kelas VII C UPT SMPN 7 Alla� tahun pelajaran
2019/2020. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom
Action Research) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah
siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla tahun pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 30
siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, angket,
wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah model
interaktif yang mempunyai empat komponen, yaitu pengumpulan data, reduksi
data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau
verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi
belajar PKn pada kondisi awal (tes kemampuan awal), siklus I, dan siklus II.
Pada nilai tes kemampuan awal rata- rata kelas hanya 53,5 dengan ketuntasan
kelas sebesar 16,7% dan siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 berjumlah 5
siswa. Pada siklus I mengalami peningkatan yaitu rata-rata kelas menjadi 69,7
dan ketuntasan kelas meningkat menjadi 53,3% (mengalami peningkatan sebesar
36,6%) dan siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 ��berjumlah 16
siswa.��� Selanjutnya pada siklus II
juga mengalami peningkatan yaitu rata-rata kelas menjadi 81,6 dan ketuntasan
kelas menjadi 86,7% (mengalami peningkatan sebesar 33,4%) dan siswa yang
memperoleh nilai ≥ 70 berjumlah 26 siswa. |
|
Kata kunci: Prestasi Belajar, PKN, Think-Pair-Share. |
|
|
Keywords: Learning Achievement,
PKN, Think-Pair-Share. |
ABSTRACT The rapid progress of science and technology has resulted in changes in
all areas of life. Improving the quality and quality of good education is
expected to be able to produce graduates who have high competitiveness to
face the tough challenges and competition in the world of work. The purpose
of this study was to determine the use of the Think-Pair-Share (TPS) learning
method to improve Civics learning achievement in class VII C UPT SMPN 7 Alla in
the 2019/2020 school year. This type of research is Classroom Action Research
which is carried out in two cycles. The research subjects were students of
class VII C UPT SMPN 7 Alla for the academic year 2019/2020, totaling 30
students. Data collection techniques used are tests,
observations, questionnaires, interviews, and documentation. The data
analysis technique used is an interactive model that has four components,
namely data collection, data reduction, data presentation, and drawing
conclusions or verification. The results showed that there was an increase in
Civics learning achievement in the initial conditions (initial ability test),
cycle I, and cycle II. In the initial ability test scores, the average class
was only 53.5 with a class completeness of 16.7% and 5 students who scored
70. In the first cycle there was an increase, namely the class average became
69.7 and class completeness increased to 53.3% (an increase of 36.6%) and
students who scored 70 were 16 students. Furthermore, in the second cycle
also experienced an increase, namely the class average became 81.6 and class
completeness became 86.7% (an increase of 33.4%) and the students who scored
70 were 26 students. |
Pendahuluan
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sangat pesat mengakibatkan perubahan di segala bidang kehidupan (Jamun, 2018). Peningkatan kualitas dan mutu pendidikan yang
baik diharapkan mampu melahirkan lulusan-lulusan yang mempunyai daya saing
tinggi untuk menghadapi ketatnya tantangan dan persaingan di dunia kerja (Sulaiman, 2017). Oleh sebab itu, perbaikan-perbaikan yang
membangun di bidang pendidikan harus terus dilaksanakan guna mencapai kualitas
dan mutu pendidikan yang sesuai dengan harapan.
Upaya melakukan perbaikan di bidang pendidikan
menjadi tanggung jawab semua pihak, salah satunya yaitu guru. Sebagaimana
dijelaskan oleh (Hosnan, 2014) yang mengatakan bahwa �Guru bertanggung jawab
melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah dalam arti memberikan bimbingan dan
pengajaran kepada para siswa�. Guru harus dapat melakukan suatu inovasi yang
menyangkut tugasnya sebagai pendidik yang berkaitan dengan tugas mengajar siswa (Darmadi, 2015). Inovasi-inovasi yang dilakukan guru dalam
tugasnya sebagai pendidik diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sebagaimana dikemukakan oleh (Hamzah, 2007) bahwa �Seorang guru sangat berpengaruh terhadap hasil belajar yang dapat
ditunjukkan oleh peserta didiknya�. Oleh karena itu perubahan-perubahan
berkaitan dengan tugas mengajar guru harus selalu ditingkatkan.
Metode mengajar diartikan sebagai suatu cara atau teknik yang dipakai oleh guru dalam menyajikan bahan ajar
kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran (Aditya, 2016). Khususnya dalam hal ini adalah metode untuk
menunjang proses belajar mengajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Guru hendaknya
dapat memilih metode mengajar yang dianggap sesuai dengan materi yang hendak
diajarkan. Hal ini dimaksudkan agar pengajaran khususnya mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dapat berlangsung secara efektif, efisien dan
tidak membosankan (Istiqomah, 2018).
Kenyataan di lapangan pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn) masih dianggap sebagai pelajaran nomor dua atau dianggap
sepele oleh sebagian besar siswa (Dewi, 2018). Metode ini berkisar pada pemberian ceramah,
tanya jawab, diskusi, dan penugasan. Akibatnya dalam mempelajari materi PKn
siswa cenderung kurang semangat dan dianggap sebagai pelajaran yang
membosankan. Hal tersebut terjadi pula di Sekolah Menengah Pertama Negeri
(SMPN) 3 Prambanan.
UPT SMPN 7 Alla�
terdiri dari sembilan kelas, meliputi kelas VII A, B, dan C, kelas VIII
A, B, dan C, dan kelas IX A, B, dan C. Peneliti memfokuskan perhatian pada kelas VII, yang terdiri dari tiga kelas. Permasalahan
yang akan diteliti, peneliti temukan di kelas VII C UPT� SMPN 7 Alla. Kelas tersebut memiliki
permasalahan prestasi belajar rata-rata kelas pada mata pelajaran PKn yang
rendah. Hal ini dapat dilihat berdasarkan nilai rata-rata PKn kelas VII C
semester gasal yaitu 58, 2 dengan batas ketuntasan minimalnya (KKM) yaitu 70.
Berdasar data tersebut siswa yang mampu mencapai nilai ≥ 70 hanya 40%,
sedangkan sisanya memperoleh nilai di bawah batas ketuntasan minimal tersebut.
Data ini peneliti dapatkan setelah melakukan wawancara dengan guru PKn di SMP
tersebut. Rendahnya prestasi belajar siswa tersebut antara lain disebabkan oleh
kurangnya semangat siswa dalam belajar PKn, tidak semua siswa mempunyai buku
pegangan atau buku paket PKn, dan metode mengajar guru yang masih berkisar pada
ceramah, tanya jawab serta penugasan.
Berdasarkan sebab-sebab tersebut peneliti
memfokuskan pada metode mengajar guru yang masih bersifat konvensional. Salah
satu cara yang dapat ditempuh oleh guru berkaitan dengan pengembangan metode
mengajar agar tidak terpaku pada metode mengajar konvensional adalah
sebagaimana yang dikemukakan oleh (Hamzah, 2007) yaitu dengan �Mengubah dari sekedar metode
ceramah dengan berbagai variasi metode yang lebih relevan dengan tujuan
pembelajaran, memperkecil kebiasaan cara belajar peserta yang baru merasa
belajar dan puas kalau banyak mendengarkan dan menerima informasi (diceramahi)
guru, atau baru belajar kalau ada guru�. Oleh karena itu metode konvensional
dalam pengajaran PKn harus diubah.
Salah satu metode mengajar yang dapat diterapkan
oleh guru untuk mengatasi permasalahan di atas dan mampu menciptakan suasana
belajar yang aktif dan tidak membosankan adalah model pembelajaran kooperatif
tipe Think- Pair-Share (TPS). Model pembelajaran kooperatif tipe
Think-Pair-Share (TPS) memberikan kepada siswa waktu untuk berpikir, menjawab,
merespon dan membantu satu sama lain. Metode Think-Pair-Share (TPS) dikembangkan untuk meningkatkan penguasaan isi
akademis siswa terhadap materi yang diajarkan. Hal ini seperti dinyatakan oleh (Arends, 1997) bahwa �Think-pair-share and Numbered heads
together, described here, are two examples of structures teachers can use to
teach academic content or to check on student understanding of particular
content�.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut: �Untuk mengetahui penggunaan metode pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar PKn pada siswa kelas
VII C UPT SMPN 7 Alla tahun pelajaran 2019/2020�.
Penelitian serupa yang pernah dilakukan yaitu
diantaranya:
1. �Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning
Tipe Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII E
SMPN 14 Tegal dalam Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel�.
Ditulis oleh (Susilo et al., 2022). Dalam penelitian skripsinya ini diungkapkan bahwa
metode Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar Siswa Kelas VIII
E SMPN 14 Tegal dalam Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel.
2. �Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Fisika Siswa SMP
dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS (Think-Pair-Share)
dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Garis dan Sudut di Kelas VII
SLTP IPIEMS Surabaya Tahun Pelajaran 2006/2007� (Utaminingsih, 2010). Dalam penelitian skripsinya ini diungkapkan bahwa
metode Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar Siswa Kelas
VII SLTP IPIEMS Surabaya dalam Pokok Bahasan Garis dan Sudut.
3. �Studi Komparasi Pembelajaran Cooperatif Learning
dengan Teknik Think- Pair-Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT) pada
Materi Pokok Larutan Penyangga Ditinjau dari Prestasi Belajar Siswa Kelas XI
Semester 1 SMAN Tayu TA 2006/2007� (Driarastuti, 2012). Dalam penelitian skripsinya ini diungkapkan bahwa
prestasi belajar pada kelas yang menerapkan metode pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS) lebih tinggi dibanding pada kelas yang mengunakan metode
Numbered Head Together (NHT).
Beberapa penelitian tersebut menyatakan bahwa metode
Think-Pair- Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar� pada mata pelajaran Matematika pokok bahasan sistem persamaan
linear dua variabel, dan juga dapat meningkatkan prestasi belajar pada mata
pelajaran Matematika pokok bahasan garis dan sudut. Metode
Think-Pair-Share (TPS) juga lebih baik dalam upaya meningkatkan prestasi
belajar siswa dalam pelajaran Kimia daripada metode Numbered Head Together
(NHT). Sehingga metode Think- Pair-Share (TPS) dapat digunakan sebagai
salah satu alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di UPT
SMPN 7 Alla Kabupaten Enrekang. Pemilihan lokasi tersebut dikarenakan peneliti menemukan
masalah sebagaimana yang telah dijelaskan pada latar belakang permasalahan
yaitu prestasi belajar rata-rata kelas VII C pada mata pelajaran PKn yang
rendah, di samping itu karena lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal
peneliti, sehingga dapat menghemat biaya, waktu dan tenaga. Setelah
lokasi penelitian ditentukan,����������� langkah
selanjutnya���� yaitu menentukan waktu
penelitian. Peneliti memerlukan waktu sekitar 7 bulan
yaitu bulan April 2019 sampai Oktober 2019. Subjek
penelitian tindakan ini adalah siswa UPT SMPN 7 Alla. Siswa yang menjadi
subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII C . Siswa tersebut berjumlah 30 orang yang terdiri dari 15 siswa
perempuan dan 15 siswa laki-laki.
Pendekatan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) (Sugiyono, 2019). Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh seorang
guru maupun peneliti untuk memperbaiki suatu keadaan atau hasil yang belum
sesuai dengan harapan, misalnya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Jadi disini seorang guru atau peneliti terjun secara langsung
ke kelas untuk mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi kemudian mencari
dan melaksanakan suatu tindakan untuk mengatasi masalah tersebut dan untuk
meningkatkan mutu pembelajaran. Definisi Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) sangat bervariasi. Menurut (Hamdani & Hermana, 2008) menyatakan bahwa �Secara lebih luas
penelitian tindakan diartikan sebagai penelitian yang berorientasi pada
penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada
sekelompok subyek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat
tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat
penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga
diperoleh hasil yang lebih baik�.
Penelitian tindakan yang dilakukan
dalam konteks pekerjaan guru di kelas disebut sebagai Penelitian Tindakan
Kelas. Ebbut
dalam (Kasbolah, 2001) juga menyatakan pendapatnya mengenai
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu �Penelitian Tindakan Kelas merupakan
studi yang sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-praktik
dalam pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan
tersebut�.
(Hamdani & Hermana, 2008) menyatakan bahwa
�Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu kegiatan penelitian dengan mencermati
sebuah kegiatan belajar yang diberikan tindakan, yang secara sengaja
dimunculkan dalam sebuah kelas, yang bertujuan memecahkan masalah atau
meningkatkan mutu pembelajaran di kelas tersebut�.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu penelitian yang reflektif untuk
mengatasi permasalahan yang terjadi di kelas dengan melakukan tindakan-tindakan
praktis untuk memperbaiki proses belajar mengajar guna meningkatkan mutu
pembelajaran.
Tabel 1. Perbedaan antara Penelitian Formal dengan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK)
|
Penelitian Formal |
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) |
|
Dilakukan oleh orang di luar kelas, misalnya dosen, ilmuwan, mahasiswa yang melakukan
eksperimen tertentu. |
Dilakukan oleh kepala sekolah
atau guru atau calon guru |
|
Di lingkungan
dimana��������� variable-variabel luar dapat dikendalikan |
Di kelas
dan di sekolah |
|
Sampel harus
representatif |
Kerepresentatifan sampel�������������� tidak menjadi persyaratan penting |
|
Mengutamakan validitas internal dan eksternal |
Lebih mengutamakan validitas Internal |
|
Menuntut
penggunaan analisis statistik yang rumit, signifikansi statistik yang
ditentukan sejak awal, dan memeriksa hubungan sebab akibat antarvariabel |
Tidak menuntut penggunaan
analisis statistik yang rumit, menggunakan metode |
|
Mempersyaratkan
hipotesis |
Tidak selalu menggunakan
hipotesis |
|
Mengembangkan
teori dan tidak memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung |
Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung |
|
Hasil
penelitian merupakan produk ilmu yang dapat digeneralisasikan ke populasi
yang lebih luas |
Hasil penelitian merupakan peningkatan mutu pembelajaran
di lingkungan pembelajaran tertentu tempat dilakukannya PTK |
|
Berlangsung
secara liniear (bergerak maju) |
Berlangsung secara siklis (berdaur) |
|
Tidak kolaboratif dan individual |
Kolaboratif dan kooperatif |
Dasna
(2007: 4-5) dan Mills (2003: 4) dalam Herawati Susilo, Husnul Chotimah, & Yuyun
Dwita Sari (2008: 5).
Data penelitian dikumpulkan dari berbagai sumber meliputi:
1.
Informan,
dalam penelitian ini yang ditunjuk sebagai informan adalah guru mata pelajaran
PKn kelas VII.
2.
Peristiwa,
peristiwa yang dimaksud adalah peristiwa selama kegiatan belajar mengajar
berlangsung pada pertemuan awal, siklus I dan siklus II.
3.
Dokumen,
dokumen digunakan untuk melengkapi data-data yang telah diperoleh yang terdiri
dari rencana pembelajaran, data identitas siswa, daftar nilai siswa, daftar
guru, dan foto ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Teknik pengumpulan data merupakan cara
yang ditempuh untuk mendapatkan data yang diperlukan dengan menggunakan teknik
tertentu. Dalam penelitian ini alat pengumpulan data yang
digunakan yaitu tes, wawancara, agket, observasi dan dokumentasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Penelitian untuk Mengetahui Kemampuan Awal Siswa
Kegiatan untuk mengetahui kondisi
awal siswa dilakukan dengan menggunakan tes kemampuan awal pada hari Sabtu
tanggal 1 Agustus 2019. Tes kemampuan awal ini digunakan untuk mengetahui
tingkat penguasaan siswa terhadap materi tentang Norma, Kebiasaan, Adat
Istiadat dan Peraturan. Selain itu, tes kemampuan awal juga digunakan
sebagai pedoman dalam menentukan pasangan teman sebangku selama proses pembelajaran
menggunakan metode Think-Pair- Share (TPS) siklus I.�� Tes kemampuan awal diberikan di semua kelas
VII UPT SMPN 7 Alla yang terdiri dari tiga kelas yaitu kelas VII A, VII B, dan
VII C. Berdasarkan hasil tes kemudian di rata-rata dan kelas yang memperoleh
rata-rata dan ketuntasan kelas terendah yaitu kelas VII C, maka penelitian
dilaksanakan di kelas ini. Tes kemampuan awal diberikan
sebanyak 20 soal berupa soal pilihan ganda dengan empat alternatif jawaban.
Adapun kisi-kisi dan soal tes kemampuan awal dapat dilihat
pada lampiran 1 dan 2.
Berdasarkan tes kemampuan awal
diperoleh bahwa kelas VII C memperoleh nilai rata-rata kelas terendah yaitu
53,5 dengan jumlah siswa yang tuntas 5 siswa dan siswa yang belum tuntas
sebanyak 25 siswa.�� Hasil
nilai tes kemampuan awal kelas VII C dapat dilihat pada lampiran 4. Nilai ini juga digunakan sebagai pedoman dalam menentukan pasangan
teman sebangku pada pelaksanaan siklus I, daftar pasangan teman sebangku untuk
pelaksanaan siklus I dapat dilihat pada lampiran 5. Nilai yang diperoleh
kelas VII C lebih rendah dibandingkan dua kelas lainnya yang mampu memperoleh
nilai rata-rata kelas 58,3 dan 64,7. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2. Hasil Nilai Tes Kemampuan Awal
|
Kriteria |
Kelas |
Persentase |
Rata-Rata Kelas |
||||||
|
VIIA |
VIIB |
VIIC |
VIIA |
VIIB |
VIIC |
VIIA |
VIIB |
VIIC |
|
|
Tuntas |
7 |
11 |
5 |
23,3% |
36,7% |
16,7% |
58,3 |
64,7 |
53,5 |
|
Belum Tuntas |
23 |
19 |
25 |
76,7% |
63,3% |
83,3% |
|||
Perbandingan hasil nilai tes
kemampuan awal dapat pula dilihat pada grafik berikut ini:
70 60 58.3 50 40 30 20 16.7 10 0 VII A VII B VII C Persentase Ketuntasan Kelas Rata-rata
kelas 23.3 36.7 53.5 64.7
Gambar 1. Profil hasil perbandingan nilai tes kemampuan awal
Selain berpedoman pada nilai tes
kemampuan awal, penentuan kelas untuk dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) ini juga berdasar pada�
penggunaan metode pembelajaran yang selama ini diterapkan. Metode
yang selama ini banyak digunakan dalam pembelajaran PKn adalah metode
konvensional yang hanya berkisar pada ceramah dan tanya
jawab. Sikap siswa ketika ketika guru sedang menjelaskan
pelajaran bermacam-macam, ada yang mendengarkan tetapi kebanyakan siswa malah
membuat kesibukan sendiri sehingga bersikap acuh terhadap penjelasan guru.
Bahkan ada pula siswa yang mengantuk dan mengobrol sendiri
dengan temannya. Guru sudah memberi peringatan
kepada siswa untuk diam dan mendengarkan penjelasan guru, tetapi sebentar
mereka diam dan tak lama kemudian mereka membuat kesibukan lagi. Hal ini terus berlangsung hingga pelajaran PKn selesai dan beliau
kadang merasa bosan untuk terus memperingatkan siswa agar memperhatikan
pelajaran. Keadaan ini semakin diperparah dengan jadwal pelajaran PKn
khususnya di kelas VII C yang jatuh pada siang hari tepatnya pada jam pelajaran
terakhir sehingga semangat siswa untuk belajar sudah berkurang. Beliau juga
menjelaskan bahwa kelas yang paling perlu ditangani berkaitan dengan
permasalahan di atas adalah kelas VII C. Beliau menambahkan bahwa pendapat ini
juga berasal dari guru-guru lain yang mengajar di kelas VII C yang juga
mengeluhkan permasalahan yang sama. Oleh karena itu beliau menyarankan bahwa
kelas yang paling tepat untuk dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah
kelas VII C. Berdasarkan hasil tes kemampuan awal dan wawancara dengan guru PKn
kelas VII di atas maka Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan di
kelas VII C.
B. Penelitian Siklus I
1.
Perencanaan
Siklus I
Pada tahap ini guru bersama peneliti
menyusun rancangan pembelajaran untuk diterapkan dalam penyampaian materi
tentang Norma, Kebiasaan, Adat Istiadat dan Peraturan. Kegiatan
perencanaan tindakan I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 6 Agustus 2019.
Pada tiap siklus peneliti akan
menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS), menyiapkan soal tes, lembar observasi, angket respon
siswa, dan daftar wawancara. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) digunakan
sebagai pedoman untuk menentukan langkah-langkah pembelajaran (lihat lampiran
8), soal tes untuk mengetahui hasil belajar siswa (lihat lampiran 10), lembar
observasi digunakan untuk mengamati keaktifan siswa dan untuk mengamati
aktivitas mengajar yang dilakukan peneliti (lihat lampiran 12 dan 13), angket
digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap metode pembelajaran yang
diterapkan (lihat lampiran 15), dan daftar wawancara untuk memperoleh informasi
mengenai pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan metode
pembelajaran Think-Pair- Share (TPS) siklus I.
2.
Pelaksanaan
Siklus I
Pelaksanaan tindakan I dilaksanakan
selama dua kali pertemuan seperti yang telah direncanakan yaitu pada hari Sabtu
tanggal 8 Agustus 2019 dan hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2019. Pertemuan pertama
dilaksanakan selama 2 X 40 menit dan pertemuan kedua dilaksanakan selama 1 X 40
menit. Peneliti bertindak sebagai guru (mengajar) guru
mata pelajaran PKn kelas VII C. Materi pada pelaksanaan tindakan I adalah
kompetensi dasar mendeskripsikan hakekat norma-norma, kebiasaan, adat-
istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat.
Pertemuan pertama digunakan guru
untuk melaksanakan pembelajaran menggunakan metode Think-Pair-Share (TPS),
sedangkan pertemuan kedua akan dilakukan tes siklus I
dan pengisian angket respon siswa terhadap metode yang diterapkan.
3.
Observasi
Siklus I
Pengamatan dilaksanakan untuk
mengamati keaktifan siswa selama proses belajar mengajar dan untuk mengamati
aktivitas mengajar yang dilakukan peneliti selama menggunakan metode
pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) siklus I. Hasil pengamatan dicatat dalam
lembar observasi yang telah disediakan.
4.
Analisis
dan Refleksi Siklus I
a.
Analisis
dan Refleksi terhadap Prestasi Belajar Siswa
Pada tahap ini dilakukan analisis
tentang keberhasilan tindakan terhadap prestasi belajar siswa dari tes
kemampuan awal sampai pada berakhirnya kegiatan belajar siklus I. Pada dasarnya
prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari kondisi awal (tes kemampuan
awal) sampai dengan siklus I. Adapun hasil peningkatan prestasi belajar siswa
dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Tes Kemampuan Awal dan Tes
Siklus I Siswa Kelas VII C SMPN 3 Prambanan
|
Keterangan |
Tes Awal |
Siklus I |
|
Siswa Tuntas |
5
(16,7 %) |
16 (53,3%) |
|
Siswa Belum Tuntas |
25 (83,3%) |
14 (46,7) |
|
Rata-rata Kelas |
53,5 |
69,7 |
Sumber: Data primer hasil
tes awal dan tes siklus I
Berdasarkan tabel di atas dapat
disimpulkan bahwa prestasi belajar PKn siswa kelas VII C mengalami peningkatan
dari kondisi awal (tes kemampuan awal) sampai tindakan pada siklus I. Hasil tes
awal menunjukkan siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa dengan persentase 16,7%
kemudian pada siklus I mengalami peningkatan yaitu siswa yang tuntas menjadi 16
siswa dengan persentase 53,3% (mengalami peningkatan sebesar 36,6%). Begitupula
dengan rata-rata kelas yang semula hanya 53,5 pada
siklus I mengalami peningkatan menjadi 69,7.
Kriteria keberhasilan untuk prestasi
belajar yaitu dengan batas tuntas atau KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 70 dan
ketuntasan kelas sebesar 85%. Berdasarkan target tersebut dapat diketahui bahwa pencapaian
nilai untuk prestasi belajar pada siklus I belum tercapai, karena pada siklus I
ketuntasan kelas baru mencapai 53,3% sedangkan target
yang ditetapkan sebesar 85%.
b.
Analisis
dan Refleksi terhadap Keaktifan Siswa
Selain terjadi peningkatan dalam hal
prestasi belajar siswa, keaktifan siswa selama mengikuti proses belajar
mengajar pun mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil observasi awal yang telah
dilakukan siswa terlihat kurang aktif selama proses belajar mengajar. Siswa cenderung diam tetapi tidak memperhatikan penjelasan guru.
Ketika guru memberikan pertanyaan siswa enggan untuk menjawab secara sukarela,
sehingga guru harus menunjuk nama siswa tertentu agar
bersedia menjawab pertanyaan guru. Ketika siklus I berlangsung siswa mulai
aktif selama proses belajar mengajar. Berdasrkan hasil observasi yang dilakukan
pengamat didapatkan hasil mengenai keaktifan siswa sebagai berikut:
Tabel 4. Capaian Keaktifan Siswa Siklus I
|
No |
Aspek yang Diamati |
Penilaian |
Persentase |
|
1 |
Perhatian siswa
terhadap penjelasan guru |
19 |
63,3% |
|
2 |
Kerjasama dalam
kelompok |
18 |
60% |
|
3 |
Kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam
kelompok |
16 |
52,2% |
|
4 |
Memberi kesempatan berpendapat kepada
teman dalam kelompok |
21 |
70% |
|
5 |
Mendengarkan dengan
baik ketika teman berpendapat |
18 |
60% |
|
6 |
Memberi gagasan
yang cemerlang |
14 |
46,7% |
|
7 |
Membuat perencanaan� �dan�
�pembagian kerja yang matang |
20 |
66,7% |
|
8 |
Keputusan berdasarkan pertimbangan anggota lain |
20 |
66,7% |
|
9 |
Memanfaatkan potensi
anggota kelompok |
18 |
60% |
|
10 |
Saling membantu dalam menyelesaikan
masalah |
21 |
70% |
C. Hasil Penelitian Tindakan Kelas Siklus I dan Temuan Penelitian
1.
Hasil
Tes Prestasi Belajar Siklus I
Berdasarkan hasil tes siklus I
terdapat siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 (KKM = 70) sebanyak 14 siswa
dengan persentase 46,7% dan yang mendapat nilai ≥ 70 sebanyak 16 siswa
dengan persentase sebesar 53,3%, dan nilai rata-rata kelas yang dicapai sebesar
69,7. Adapun hasil nilai tes siklus I dapat dilihat pada
lampiran 17. Nilai tes siklus I juga digunakan sebagai
pedoman dalam menentukan pasangan teman sebangku pada pembelajaran siklus II,
daftar pasangan teman sebangku siklus II dapat dilihat pada lampiran 18.
Ketuntasan belajar siswa tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5. Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I
|
Ketuntasan Hasil Belajar Siklus
I |
|
|
Kriteria |
Jumlah Siswa |
|
Tuntas |
16 (53,3%) |
|
Belum Tuntas |
14 (46,7%) |
Sumber: Data primer
ketuntasan belajar siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla
Hasil capaian ketuntasan belajar
siswa siklus I juga dapat dilihat pada� grafik
berikut ini:
Gambar 2. Profil capaian ketuntasan belajar siswa siklus I
Kriteria keberhasilan tindakan untuk
prestasi belajar adalah dengan batas tuntas 70 (KKM = 70) dan ketuntasan kelas
sebesar 85%. Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa target yang
diharapkan belum tercapai, karena pada hasil tes siklus I ketuntasan kelas baru
mencapai 53,3% sedangkan target yang ditetapkan
sebesar 85%. Keadaan ini akan diperbaiki pada siklus
II.
2.
Hasil
Observasi Siklus I
Berdasarkan lembar observasi yang
diperoleh pada kegiatan observasi siklus I dapat dijelaskan hasilnya sebagai
berikut:
a.
Hasil
Observasi Keaktifan Siswa
Hasil observasi kemudian dicatat
dalam lembar observasi yang telah disediakan. Adapun pengolahan
hasil observasi keaktifan siswa siklus I dapat dilihat pada lampiran 19.
Tabel 6. Hasil Observasi Keaktifan Siswa Siklus I
|
No |
Aspek yang
Diamati |
Penilaian |
Persentase |
|
1 |
Perhatian siswa
terhadap penjelasan guru |
19 |
63,3% |
|
2 |
Kerjasama dalam
kelompok |
18 |
60% |
|
3 |
Kemampuan siswa mengemukakan pendapat dalam
kelompok |
16 |
52,2% |
|
4 |
Memberi kesempatan berpendapat kepada
teman dalam kelompok |
21 |
70% |
|
5 |
Mendengarkan
dengan baik ketika temanm
berpendapat |
18 |
60% |
|
6 |
Memberi gagasan
yang cemerlang |
14 |
46,7% |
|
7 |
Membuat perencanaan dan pembagian kerja yang matang |
20 |
66,7% |
|
8 |
Keputusan berdasarkan pertimbangan anggota lain |
20 |
66,7% |
|
9 |
Memanfaatkan potensi
anggota kelompok |
18 |
60% |
|
10 |
Saling membantu dalam menyelesaikan
masalah |
21 |
70% |
Sumber: Data primer
pengolahan hasil observasi keaktifan siswa siklus I
Target seluruh item untuk keaktifan
siswa adalah sebesar 65%. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa aspek yang
diamati dan telah memenuhi target 65% pada siklus I ini terdapat pada
pernyataan nomor 4, 7, 8 dan 10, sedangkan pernyataan yang lainnya masih belum
memenuhi target karena persentasenya kurang dari 65%.
Hasil capaian keaktifan siswa siklus
I juga dapat dilihat pada grafik berikut ini:
70 70 70 66.7 66.7 65 60 60 60 60 55 50 45 40 1 2 3 4������� 5 6 7 8�������� 9����������� 10 Aspek yang Diamati 46.7 52.2 63.3
Gambar 3. Profil capaian keaktifan siswa siklus I
b.
Hasil
Observasi Aktivitas Guru Mengajar
Hasil observasi kemudian dicatat
dalam lembar observasi yang telah disediakan. Adapun pengolahan
hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus I dapat dilihat pada lampiran
20.
Tabel 7. Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus I
|
No |
Indikator |
Penilaian |
Kategori |
|
1 |
Membuka pelajaran |
2 |
Cukup |
|
2 |
Menjelaskan materi pelajaran |
2 |
Cukup |
|
3 |
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar |
3 |
Baik |
|
4 |
Membimbing��� kelompok��� belajar dan bekerjasama dalam diskusi kelompok |
3 |
Baik |
|
5 |
Memberi waktu berpikir |
3 |
Baik |
Sumber: Data primer
pengolahan hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus I
Berdasarkan tabel di atas hasil
observasi aktivitas guru mengajar siklus I dapat diuraikan sebagai berikut:
a.
Kemampuan
guru dalam membuka pelajaran masuk dalam kategori cukup karena relevan dengan
materi tetapi guru tidak memberikan apersepsi.
b.
Kemampuan
guru dalam menjelaskan materi pelajaran masuk dalam kategori cukup karena
relevan dengan materi tetapi situasi kelas belum begitu terkendali.
c.
Kemampuan
guru mengorganisasi siswa ke dalam kelompok belajar masuk kategori baik karena guru
mampu membantu siswa dalam mengorganisasi kelompok belajar dengan baik.
d.
Kemampuan
guru dalam membimbing kelompok belajar untuk bekerjasama dan berdiskusi masuk
kategori baik guru juga telah melakukan tugasnya dalam hal ini membimbing
kelompok belajar untuk bekerjasama dengan baik.
e.
Kemampuan
guru dalam memberi waktu berpikir masuk kategori baik karena guru telah
memberikan waktu untuk berpikir tetapi kadang guru juga kurang memberikan waktu
berpikir kepada siswa dalam menjawab pertanyaan.
f.
Kemampuan
guru dalam pengelolaan kelas masuk kategori cukup karena suasana kelas belum
terkendali, kalaupun terkendali itu karena guru harus memberi peringatan yang
cukup keras kepada siswa.
g.
Kemampuan
guru dalam menutup pelajaran masuk kategori cukup karena pada akhir pelajaran
guru belum melibatkan siswa dalam menyimpulkan materi pelajaran yang baru
dipelajari.
3.
Hasil
Angket Respon Siswa Siklus I
Angket respon ini diisi oleh siswa
mengenai respon terhadap pembelajaran PKn menggunakan metode Think-Pair-Share
(TPS) siklus I, pengisian ini dilakukan setelah siswa mengerjakan tes siklus I.
Tabel 8. Hasil Angket Respon Siswa Siklus I
|
No |
Pernyataan |
Respon Siswa |
Persentase |
|
|
SS dan S |
TS dan
STS |
|||
|
1 |
Pembelajaran dengan
metode Think-Pair-Share (TPS) membuat suasana
belajar lebih hidup
dan tidak membosankan. |
18 |
|
60% |
|
2 |
Pembelajaran dengan metode
Think-Pair-Share (TPS)
menciptakan suasana pembelajaran yang gaduh
dan tidak terkendali. |
|
22 |
73,3% |
|
3 |
Penggunaan��� metode��� Think-Pair-Share
(TPS) memudahkan saya dalam
memahami materi pelajaran. |
20 |
|
66,7% |
|
4 |
Saya tidak
suka mengerjakan tugas secara berpasangan sebagaimana instruksi dalam
pembelajaran dengan metode
Think-Pair-Share (TPS). |
|
20 |
66,7% |
|
5 |
Metode��� Think-Pair-Share (TPS)
sesuai digunakan��� dalam pembelajaran PKn. |
25 |
|
83,3% |
|
6 |
Pembelajaran dengan metode
Think-Pair-Share (TPS)
mendorong saya untuk
aktif dalam kegiatan belajar
di kelas. |
18 |
|
60% |
|
7 |
Pembelajaran dengan metode
Think-Pair-Share (TPS)
mendorong saya untuk
bekerja secara individu dan tidak memperhatikan teman dalam satu pasangan. |
|
26 |
86,7% |
|
8 |
Saya mengalami kesulitan saat guru menjelaskan materi
dengan metode |
|
19 |
63,3% |
|
9 |
Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share
(TPS) mendorong saya aktif
berpikir dalam menjawab pertanyaan dan mengerjakan tugas secara berpasangan. |
17 |
|
56,7% |
|
10 |
Pembelajaran������ dengan����� metode Think-Pair-Share (TPS) membuat
saya tidak mengantuk di kelas. |
25 |
|
83,3% |
|
11 |
Saya tidak
memperhatikan teman yang sedang mengeluarkan pendapat ketika tahap share
dalam metode Think-Pair-Share (TPS) dilaksanakan. |
|
20 |
66,7% |
|
12 |
Tugas berpasangan dalam pembelajaran dengan
metode Think-Pair-Share (TPS) menarik untuk dikerjakan. |
22 |
|
73,3% |
|
13 |
Pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share
(TPS) mendorong saya untuk berusaha
mendapat nilai maksimal. |
21 |
|
70% |
|
14 |
Pembelajaran dengan
metode Think-Pair-Share (TPS) tidak membuat saya lebih aktif
dalam pembelajaran PKn. |
|
20 |
66,7% |
|
15 |
Metode�������������� Think-Pair-Share������������ (TPS)
tidak sesuai������� digunakan dalam pembelajaran PKn. |
|
25 |
83,3% |
Sumber: Data primer
pengolahan angket respon siswa siklus I
Berdasarkan tabel di atas dapat
diketahui bahwa respon siswa terhadap penerapan metode pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS) sangat baik. Hal ini dibuktikan pada hasil persentase
angket respon siswa hampir semua pernyataan yang diberikan memperoleh tanggapan
yang cukup memuaskan yaitu ≥ 60%. Hal ini
menandakan bahwa separuh lebih siswa kelas VII C menanggapi positif terhadap
penerapan metode ini dalam pembelajaran PKn. Adapun pengolahan hasil angket
respon siswa siklus I dapat dilihat pada lampiran 21.
4.
Temuan
Penelitian untuk Perbaikan Siklus II
a.
Perhatian
siswa terhadap materi pelajaran yang dijelaskan guru masih rendah. Untuk
memperbaikinya maka pada siklus II guru akan mencoba
menampilkan media gambar untuk menarik perhatian siswa.
b.
Keengganan
siswa untuk berpasangan dengan teman yang tidak biasa duduk sebangku ataupun
ketika harus berpasangan dengan lawan jenis. Untuk memperbaikinya maka pada
siklus II guru akan kembali mencoba memberikan
penjelasan kepada siswa mengenai cara kerja metode pembelajaran kooperatif
khususnya metode Think-Pair-Share (TPS).
c.
Pada
tahap sharing (berbagi) masih banyak pasangan yang hanya mengulang atau
menyalin pekerjaan pasangan lainnya. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II
tugas yang dikerjakan secara berpasangan langsung dikumpulkan ke meja guru,
sebelum guru memanggil tiap pasangan untuk maju mempresentasikan hasil
pekerjaannya.
d.
Guru
kurang bisa memantau dan mengontrol jalannya diskusi,
karena posisi guru kebanyakan di depan kelas.��
Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan
berkeliling kelas untuk mengawasi jalannya diskusi.
e.
Siswa
belum tertib masuk kelas setelah tanda bel istirahat, sehingga banyak menyita
waktu pelajaran PKn. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan
berkoordinasi dengan ketua kelas VII C agar menertibkan teman-temannya untuk
segera masuk kelas setelah bel istirahat.
f.
Masih
ada siswa yang bekerjasama pada saat evaluasi berlangsung. Untuk memperbaikinya
maka pada siklus II guru akan meningkatkan
pengawasannya terhadap jalannya evaluasi.
g.
Target
ketuntasan kelas sebesar 85% belum tercapai. Untuk memperbaikinya maka pada
siklus II guru akan mencoba memperbaiki segala kekurangan yang ada pada siklus
I, baik dari media, pelaksanaan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)
maupun pendalaman materi kepada siswa.
h.
Target
keaktifan siswa selama pembelajaran sebesar 65% untuk setiap item belum
tercapai. Untuk memperbaikinya maka pada siklus II guru akan
lebih banyak memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk dapat merangsang
keingintahuannya terhadap materi pelajaran. Selain itu pada tahap sharing
(berbagi) guru akan mencoba menunjuk pasangan tertentu
untuk memberikan tanggapan terhadap hasil presentasi pasangan tertentu.
D. Penelitian Siklus II
1.
Perencanaan
Siklus II
Pada tahap ini peneliti menyusun
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS) yang digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan
pembelajaran (lihat lampiran 24). Terdapat beberapa perbedaan dalam RPP siklus
I dengan siklus II, yaitu:
a.
Perihal
waktu, pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus II terjadi perubahan
alokasi waktu yaitu dengan menambah waktu untuk kegiatan pendahuluan menjadi 25
menit dari RPP siklus I yang hanya 20 menit. Hal ini dilakukan karena pada
tahap ini guru akan menjelaskan kembali secara lebih
mendalam mengenai metode yang diterapkan agar dalam pelaksanaan kegiatan inti
pembelajaran siswa tidak lagi merasa bingung seperti yang terjadi pada siklus
I.
b.
Perihal
media, pada pelaksanaan siklus I media yang digunakan guru hanya papan tulis,
kapur, dan penghapus. Pada pelaksanaannya pemakaian media tersebut belum
efektif karena siswa masih merasa kesulitan memahami materi pelajaran dan
terlihat masih jenuh untuk mendengarkan penjelasan guru. Oleh karena itu pada
siklus II guru menggunakan media gambar yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
Selain menyusun RPP peneliti juga
mempersiapkan soal tes untuk mengetahui hasil belajar siswa (lihat lampiran
26), lembar observasi digunakan untuk mengamati keaktifan siswa dan untuk
mengamati aktivitas mengajar yang dilakukan peneliti (lihat lampiran 28 dan
29), angket digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap metode
pembelajaran yang diterapkan (lihat lampiran 31), dan daftar wawancara untuk
memperoleh informasi mengenai pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
dengan menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) siklus II (lihat
lampiran 32).
2.
Pelaksanaan
Siklus II
Pelaksanaan tindakan II dilaksanakan
selama dua kali pertemuan yaitu pada hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2019 dan
hari Sabtu tanggal 5 September 2019. Peneliti bertindak
sebagai guru selaku guru mata pelajaran PKn kelas VII C.
Pelaksanaan tindakan II hampir sama dengan pelaksanaan tindakan I, hanya saja dalam
pelaksanaan tindakan II ini terdapat perbaikan-perbaikan yang diperlukan dengan
memperhatikan hasil refleksi tindakan I.
Materi pada tindakan II ini adalah
kompetensi dasar mendeskripsikan hakikat norma-norma, kebiasaan, adat-istiadat,
peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Pada pertemuan pertama guru
menyampaikan materi dengan menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share
(TPS). Pertemuan kedua guru memberikan soal sebagai
evaluasi belajar siswa siklus II dan membagikan angket respon untuk diisi
siswa.
3.
Observasi
Siklus� II
Pengamatan dilaksanakan untuk
mengamati keaktifan siswa dan aktivitas mengajar guru selama proses
pembelajaran siklus II berlangsung. Adapun hasil pengamatan akan
dicatat pada lembar observasi yang telah disediakan.
4.
Analisis
dan Refleksi Siklus II
a.
Analisis
dan Refleksi terhadap Prestasi Belajar Siswa
Pada tahap ini dilakukan analisis
tentang keberhasilan tindakan terhadap prestasi belajar siswa. Hasil prestasi belajar yang
diperoleh pada siklus II akan dibandingkan dengan
hasil yang diperoleh pada siklus I dan tes kemampuan awal. Adapun hasilnya
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 9. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Pada Tes Awal, Siklus I, dan Siklus
II Siswa Kelas VII C UPT SMPN 7 Alla Kabupaten Enrekang
|
Keterangan |
Tes Awal |
Siklus I |
Siklus II |
|
Siswa Tuntas |
5
(16,7%) |
16 (53,3%) |
26 (86, 7%) |
|
Siswa Belum Tuntas |
25 (83,3%) |
14 (46,7%) |
4
(13,3%) |
|
Rata-rata Kelas |
53,5 |
69,7 |
81,6 |
Sumber: Data primer hasil tes awal, siklus I, dan siklus II
Berdasarkan tabel di atas dapat
diketahui bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar dari kondisi awal (tes
kemampuan awal), siklus I, dan siklus II. Pada kondisi awal (tes kemampuan awal) siswa yang
tuntas sebanyak 5 siswa dengan persentase sebesar 16,7%,
pada siklus I mengalami peningkatan dimana siswa yang tuntas menjadi 16 siswa
dengan persentase sebesar 53,3% (mengalami peningkatan sebesar 36,3%).
Selanjutnya pada siklus II mengalami peningkatan lagi dimana siswa yang tuntas
menjadi 26 siswa dengan persentase sebesar 86,7%
(mengalami peningkatan sebesar 33,4%).
Kriteria keberhasilan untuk prestasi
belajar yaitu dengan batas tuntas atau KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 70 dan
ketuntasan kelas sebesar 85%. Berdasarkan target tersebut dapat diketahui bahwa pencapaian
nilai untuk prestasi belajar pada siklus II telah tercapai, hal ini ditunjukkan
pada perolehan nilai tes siklus II siswa yang tuntas sebanyak 26 siswa dengan
persentase 86,7% dan target yang ditetapkan sebesar
85%.
b.
Analisis
dan Refleksi terhadap Keaktifan Siswa
Keaktifan siswa selama proses belajar
mengajar siklus II telah mengalami peningkatan dibandingkan pada saat
sebelumnya. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut:
Tabel 10. Capaian Keaktifan Siswa Siklus I dan Siklus II
|
No |
Aspek yang Diamati |
Siklus I |
Siklus II |
|
Penilaian/Persentase |
Penilaian/Persentase |
||
|
1 |
Perhatian siswa terhadap penjelasan guru |
19 (63,3%) |
22 (73,3%) |
|
2 |
Kerjasama dalam
kelompok |
18 (60%) |
20 (66,7%) |
|
3 |
Kemampuan siswa mengemukakan
pendapat dalam
kelompok |
16 (52,2%) |
21 (70%) |
|
4 |
Memberi kesempatan Berpendapat
kepada teman dalam
kelompok |
21 (70%) |
23 76,7%) |
|
5 |
Mendengarkan dengan baik ketika teman berpendapat |
18 (60%) |
20 (66,7%) |
|
6 |
Memberi gagasan yang
Cemerlang |
14 (46,7%) |
20 (66,&%) |
|
7 |
Membuat perencanaan
dan Pembagaian kerja yang
matang |
20 (66,7%) |
25 (83,3%) |
|
8 |
Keputusan berdasarkan
pertimbangan anggota lain |
20 (66,7%) |
26 (86,7%) |
|
9 |
Memanfaatkan potensi anggota kelompok |
18 (60%) |
24 (80%) |
|
10 |
Saling membantu dalam
menyelesaikan masalah |
21 (70%) |
23 (76,7%) |
Berdasarkan hasil tersebut dapat
disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan kekatifan siswa selama proses
belajar mengajar siklus I dan siklus II. Pada siklus I terdapat empat item
pernyataan yang belum memenuhi target 65% yaitu item nomer 4,7,8, dan 10. Sedangkan
pada siklus II target kekatifan siswa sebesar 65% dapat tercapai.
E. Hasil Penelitian Tindakan Kelas Siklus II dan Temuan Penelitian
1.
Hasil
Tes Prestasi Belajar Siklus II
Berdasarkan tes siklus II terdapat
siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 (KKM = 70) sebanyak 4 siswa dengan
persentase sebesar 13,3% dan yang mendapat nilai ≥ 70 sebanyak 26 dengan
persentase sebesar 86,7 % siswa, dan nilai rata-rata kelas meningkat menjadi
81,6. Adapun hasil nilai tes siklus II dapat dilihat pada
lampiran 33. Ketuntasan belajar siswa tersebut dapat dilihat pada tabel
di bawah ini:
Tabel 11. Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II
|
Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II |
|
|
Kriteria |
Jumlah Siswa |
|
Tuntas |
26 (86,7%) |
|
Belum Tuntas |
4
(13,3%) |
Sumber: Data primer
ketuntasan belajar siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla Kabupaten Enrekang.
Hasil capaian ketuntasan belajar
siswa siklus II juga dapat dilihat pada grafik berikut ini:
Gambar 4. Profil capaian ketuntasan belajar siswa siklus II
Kriteria keberhasilan tindakan untuk
prestasi belajar adalah dengan batas tuntas 70 (KKM = 70) dan ketuntasan kelas
sebesar 85%. Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa target yang
ditetapkan telah tercapai, karena pada hasil tes siklus II ketuntasan kelas
telah mencapai 86,7% dan target yang ditetapkan
sebesar 85%.
2.
Hasil
Observasi Siklus II
a.
Hasil
Observasi Keaktifan Siswa
Kegiatan observasi keaktifan siswa
siklus II dilakukan oleh guru PKn kelas VII C, Hasil observasi kemudian dicatat
dalam lembar observasi yang telah disediakan. Adapun pengolahan
hasil observasi keaktifan siswa siklus II dapat dilihat pada lampiran 34.
Tabel 12. Hasil Observasi Keaktifan Siswa Siklus II
|
No |
Aspek yang
Diamati |
Penilaian |
Persentase |
|
1 |
Perhatian siswa
terhadap penjelasan guru |
22 |
73,3% |
|
2 |
Kerjasama dalam
kelompok |
20 |
66,7% |
|
3 |
Kemampuan������ siswa������ mengemukakan pendapat dalam
kelompok |
21 |
70% |
|
4 |
Memberi kesempatan berpendapat kepada teman dalam
kelompok |
23 |
76,7% |
|
5 |
Mendengarkan dengan
baik ketika teman berpendapat |
20 |
66,7% |
|
6 |
Memberi gagasan
yang cemerlang |
20 |
66,7% |
|
7 |
Membuat perencanaan� �dan�
�pembagian kerja yang matang |
25 |
83,3% |
|
8 |
Keputusan���� berdasarkan���� pertimbangan anggota lain |
26 |
86,7% |
|
9 |
Memanfaatkan potensi
anggota kelompok |
24 |
80% |
|
10 |
Saling membantu dalam menyelesaikan masalah |
23 |
76,7% |
Sumber: Data primer
pengolahan hasil observasi keaktifan siswa siklus II
Target seluruh item dalam keaktifan
siswa sebesar 65%.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa semua aspek yang diamati dan
telah memenuhi target 65%, dengan persentase tertinggi terdapat pada item nomor
8 yaitu keputusan berdasarkan pertimbangan anggota lain, sedangkan persentase
terendah terdapat pada item nomor 2, 5, dan 6. Namun demikian secara
keseluruhan target yang ingin dicapai pada siklus II ini yaitu sebesar 65%
dapat tercapai. Hasil capaian keaktifan siswa siklus II juga dapat dilihat pada
grafik berikut ini:
85 80 83.3 75 70 65 60 55 50 45 73.3 66.7 66.7 1������ 2������ 3������ 4������ 5��������� 6������ 7������ 8������ 9��������� 10 Aspek yang Diamati 76.7 86.7 66.7 70 76.7 80
Gambar 5. Profil capaian keaktifan siswa siklus II
b.
Hasil
Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus II
Hasil observasi kemudian dicatat
dalam lembar observasi yang telah disediakan. Adapun pengolahan
hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus II dapat dilihat pada lampiran
35.
Tabel 13. Hasil Observasi Aktivitas Guru Mengajar Siklus II
|
No |
Indikator |
Penilaian |
Kategori |
|
1 |
Membuka pelajaran |
3 |
Baik |
|
2 |
Menjelaskan materi pelajaran |
3 |
Baik |
|
3 |
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar |
3 |
Baik |
|
4 |
Membimbing kelompok belajar dan bekerjasama dalam diskusi kelompok |
3 |
Baik |
|
5 |
Memberi waktu berpikir |
4 |
Sangat baik |
|
6 |
Pengelolaan kelas |
3 |
Baik |
|
7 |
Menutup pelajaran |
2 |
Cukup |
Sumber: Data primer
pengolahan hasil observasi aktivitas guru mengajar siklus II
Berdasarkan tabel hasil observasi
aktivitas guru mengajar di atas dapat diuraikan sebagai berikut:
a.
Kemampuan
guru dalam membuka pelajaran masuk dalam kategori baik karena relevan dengan
materi dan memberikan apersepsi.
b.
Kemampuan
guru dalam menjelaskan materi pelajaran mengalami peningkatan dan masuk dalam
kategori baik karena relevan dengan materi dan situasi kelas dapat terkendali.
c.
Kemampuan
guru mengorganisasi siswa ke dalam kelompok belajar masuk dalam kategori baik
karena guru mampu melaksanakan tugas tersebut sesuai dengan ketentuan.
d.
Kemampuan
guru dalam membimbing kelompok belajar untuk bekerjasama dan berdiskusi masuk
dalam kategori baik karena guru mampu melaksanakan tugas tersebut sesuai dengan
ketentuan.
e.
Kemampuan
guru memberi waktu berpikir pada siklus II ini mengalami peningkatan dan masuk
kategori sangat baik karena guru telah memberikan waktu berpikir kepada siswa
sesuai dengan kebutuhan.
f.
Kemampuan
guru dalam pengelolaan kelas juga mengalami peningkatan dan masuk kategori baik
karena situasi pembelajaran pada siklus II ini lebih terkendali daripada siklus
I.
g.
Kemampuan
guru menutup pelajaran masih masuk kategori cukup karena dalam memberikan
kesimpulan di akhir pelajaran guru masih belum melibatkan siswa.
3.
Hasil
Angket Respon Siswa Siklus II
Angket respon ini diisi oleh siswa
mengenai respon terhadap pembelajaran PKn menggunakan metode Think-Pair-Share
(TPS) siklus II, pengisian ini dilakukan setelah siswa mengerjakan tes siklus
II.
Tabel 14. Hasil Angket Respon Siswa Siklus II
|
No |
Pernyataan |
Respon Siswa |
Persentase |
|
|
SS dan S |
TS dan STS |
|||
|
1 |
Pembelajaran dengan metode
Think-Pair-Share (TPS)
membuat suasana belajar
lebih hidup dan tidak
membosankan. |
26 |
|
86,7% |
|
2 |
Pembelajaran
dengan metode Think-Pair-Share (TPS)
Menciptakan suasana pembelajaran yang gaduh dan tidak terkendali. |
|
28 |
93,3% |
|
3 |
Penggunaan metode
Think- Pair-Share (TPS) memudahkan saya dalam memahami materi pelajaran. |
26 |
|
86,7% |
|
4 |
Saya tidak
suka mengerjakan tugas
secara berpasangan sebagaimana instruksi dalam pembelajaran dengan metode Think-Pair-Share (TPS). |
|
27 |
90% |
|
5 |
Metode Think-Pair-Share (TPS) sesuai
digunakan dalam pembelajaran PKn. |
25 |
|
83,3% |
|
6 |
Pembelajaran dengan metode
Think-Pair-Share (TPS)
mendorong saya untuk
aktif dalam kegiatan belajar
di kelas. |
24 |
|
80% |
|
7 |
Pembelajaran dengan metode
Think-Pair-Share (TPS)
mendorong saya untuk bekerja secara individu dan tidak memperhatikan teman dalam satu pasangan. |
|
26 |
86,7% |
|
8 |
Saya
mengalami kesulitan saat guru menjelaskan materi dengan metode
Think-Pair- Share (TPS). |
|
24 |
80% |
|
9 |
Pembelajaran����� dengan�� metode |
25 |
|
83,3% |
Sumber: Data primer
pengolahan angket respon siswa siklus I
Berdasarkan tabel di atas dapat
diketahui bahwa hasil respon siswa jika dibandingkan dengan siklus I meningkat
menjadi lebih baik. Pada siklus I respon siswa cukup baik yaitu hampir semua pernyataan
mendapatkan persentase ≥ 60%, dan pada siklus II ini respon terhadap
penerapan metode pembelajaran Think- Pair-Share (TPS) meningkat yaitu semua
pernyataan yang diberikan memperoleh tanggapan yang sangat memuaskan yaitu
≥ 80%. Hal ini berarti separuh lebih siswa kelas VII C menanggapi positif
penerapan metode ini dalam pembelajaran PKn. Khusus untuk angket respon siswa
terhadap penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) memang peneliti tidak
memberikan target khusus untuk dikatakan berhasil, tetapi melihat pada
perolehan hasil angket respon siswa siklus II dimana semua pernyataan yang
diberikan memperoleh tanggapan yang sangat memuaskan yaitu ≥ 80% (
≥ 24 dari 30 siswa menanggapi positif) itu sudah cukup menggambarkan
bahwa siswa sangat antusias terhadap penerapan metode pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS). Adapun pengolahan hasil angket respon
siswa siklus II dapat dilihat pada lampiran 36.
4.
Temuan
Penelitian Siklus II
a.
Siswa
mulai memperhatikan penjelasan guru dengan cukup baik setelah penggunaan media
gambar.
b.
Siswa
terlihat lebih mudah diarahkan untuk berpasangan dengan teman yang telah
ditentukan guru.
c.
Pada
tahap sharing (berbagi) tiap pasangan tidak lagi hanya sekedar mengulang atau
menyontek pekerjaan pasangan lainnya karena sebelum guru memanggil pasangan
tertentu untuk maju ke depan terlebih dulu pekerjaan tiap pasangan dikumpulkan
di meja guru.
d.
Guru
sudah dapat meningkatkan perhatiannya kepada setiap
pasangan sehingga diskusi dapat berjalan lancar. Siswa terlihat lebih aktif
dalam diskusi yang berlangsung dibandingkan dengan keadaan diskusi pada siklus
I.
e.
Pada
evaluasi siklus II siswa terlihat lebih tenang karena guru lebih meningkatkan
pengawasannya terhadap jalannya evaluasi.
f.
Target
ketuntasan kelas sebesar 85% dapat tercapai dan keaktifan siswa sebesar 65%
untuk setiap item dapat tercapai, sehingga Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
berakhir pada siklus II, karena indikator kerja yang meliputi prestasi belajar
dan keaktifan siswa telah memenuhi target yang ditetapkan.
��������������������������������� Tabel 15. Ketercapaian Indikator Kerja���
|
Indikator Kinerja |
Target |
Siklus I |
Siklus II |
Keterangan |
|
Prestasi Belajar |
Hasil tes tiap siklus minimal 70 (KKM = 70) dan 85%
secara klasikal. |
53,3% |
86,7% |
Tercapai |
|
Keaktifan Siswa |
Minimal 65% siswa
aktif untuk semua
item pernyataan. |
6 item ��������������belum memenuhi target 65%. |
Semua item memenuhi target 65% |
Tercapai |
F. Analisis Pelaksanaan Tindakan Kelas dalam Penerapan Metode Pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS) pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
1.
Perencanaan
yang Dilakukan Guru untuk Mempersiapkan Metode Pembelajaran Think-Pair-Share
(TPS)
Perencanaan yang dilakukan untuk
mempersiapkan metode Think-Pair-Share
(TPS) adalah sebagai berikut:
a.
Mempersiapkan
serangkaian tindakan yang berupa pelaksanaan dari metode Think-Pair-Share (TPS)
meliputi kegiatan Thinking (berpikir), Pairing
(berpasangan), dan Sharing (berbagi).
b.
Menyusun
instrumen penelitian seperti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk tiap
siklus, soal kemampuan awal, soal tes untuk tiap siklus, lembar observasi untuk
mengamati keaktifan siswa dan aktivitas guru mengajar, angket untuk mengetahui
respon siswa terhadap metode yang diterapkan, serta daftar wawancara untuk
mengetahui informasi dari guru PKn mengenai pelaksanaan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) menggunakan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS).
2.
Implikasi
Metode Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) terhadap Peningkatan Prestasi
Belajar Siswa pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) siklus I dan siklus II dengan menggunakan metode pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS) khususnya pada kompetensi dasar mendeskripsikan hakikat
norma-norma, kebiasaan, adat-istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat
terjadi peningkatan prestasi belajar PKn. Peningkatan ini dapat dilihat pada
tabel berikut ini:
Tabel 16. Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa
|
Ketuntasan Hasil Belajar |
||||||
|
Kriteria |
Jumlah Siswa |
Persentase |
||||
|
Tes Awal |
Siklus I |
Siklus II |
Tes Awal |
Siklus I |
Siklus II |
|
|
Tuntas Belum Tuntas |
5 25 |
16 14 |
26 4 |
16,7% 83,3% |
53,3% 46,7% |
86,7% 13,3% |
Sumber:
Data primer peningkatan ketuntasan belajar siswa
Peningkatan ketuntasan belajar siswa
tersebut juga dapat dilihat pada grafik berikut ini:
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 86.7 53.3 Jumlah Siswa Tuntas 26 16.7 16 Persentase Ketuntasan (%) 5 Tes Awal���������������������������������� Siklus I���������������������������������� Siklus II
Gambar 6. Peningkatan ketuntasan belajar siswa sebelum tindakan, siklus I, dan
siklus II
Peningkatan keaktifan siswa saat pembelajaran
berlangsung dapat dilihat pada grafik berikut ini:
Gambar 7. Peningkatan keaktifan siswa siklus I dan siklus II
3.
Hambatan
atau Kendala yang Dihadapi Guru dalam Penerapan Metode Pembelajaran
Think-Pair-Share (TPS)
a.
Metode
pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) belum pernah diterapkan sebelumnya sehingga
siswa masih terlihat bingung dengan penerapan metode pembelajaran ini.
b.
Masih
ada siswa yang terlihat tidak nyaman berpasangan dengan teman yang tidak biasa
duduk sebangku.
c.
Ketika
diskusi kelas berlangsung masih ada siswa yang melakukan kegiatan lain dan enggan berdiskusi.
d.
Kegiatan
sharing (berbagi) yang dilakukan masih ada siswa yang hanya sekedar menyalin
pekerjaan pasangan lain yang sedang maju ke depan kelas.
4.
Upaya
untuk Mengatasi Hambatan atau Kendala yang Dihadapi Guru dalam Penerapan Metode
Pembelajaran Think-Pair-Share (TPS)
a.
Pada
siklus II guru mengalokasikan waktu lebih banyak lagi untuk menjelaskan kembali
metode pembelajaran yang diterapkan. Pada tahap- tahap penerapan metode
Think-Pair-Share (TPS) yang meliputi Thinking (berpikir), Pairing
(berpasangan), dan Sharing (berbagi) guru dan pengamat membantu mengarahkan
siswa melaksanakan tahap-tahap tersebut.
b.
Guru
menjelaskan dan memberi pengarahan kepada siswa agar
bersedia berpasangan dengan teman yang sudah ditetapkan.
c.
Ketika
tahap diskusi berlangsung guru dan pengamat bersama-sama mengawasi jalannya
diskusi agar siswa tidak melakukan kegiatan lain
selain berdiskusi.
d.
Tugas
berpasangan dikumpulkan langsung kepada guru, sehingga ketika guru menunjuk
pasangan tertentu untuk maju maka pasangan itu meminta hasil pekerjaannya
kepada guru untuk dipresentasikan, sehingga pasangan lainnya tidak dapat
menyalin hasil pekerjaannya karena sudah dikumpulkan di meja guru.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian penerapan metode
pembelajaran Think- Pair-Share (TPS) pada siswa kelas VII C UPT SMPN 7 All
tahun pelajaran 2019- 2020, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan metode
pembelajaran Think- Pair-Share (TPS) dapat meningkatkan prestasi belajar PKn
siswa kelas VII C UPT SMPN 7 Alla pada kompetensi dasar mendeskripsikan hakikat
norma- norma, kebiasaan, adat-istiadat, peraturan yang berlaku dalam
masyarakat.�� Hal ini dapat ditunjukkan
pada peningkatan prestasi belajar siswa dari sebelum dilaksanakan tindakan,
siklus I, dan siklus II. Sebelum pelaksanaan tindakan, ketuntasan hasil belajar
siswa yaitu sebanyak 5 siswa tuntas dengan persentase sebesar 16,7% dan
rata-rata kelas sebesar 53,5. Siklus I ketuntasan hasil belajar siswa meningkat
menjadi 16 siswa dengan persentase sebesar 53,3% rata-rata kelas meningkat
menjadi 69,7. Siklus II meningkat lagi menjadi 26 siswa dengan persentase
sebesar 86, 7% rata-rata kelas meningkat lagi menjadi 81,6. Angka ini melebihi
target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 85%, sehingga dapat disimpulkan
bahwa target ketuntasan hasil belajar siswa sebesar 85% telah tercapai pada
siklus II. Penerapan metode pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) juga dapat
meningkatkan keaktifan siswa kelas VII C UPT SMP Negeri 7 Alla� pada kompetensi dasar mendeskripsikan hakikat
norma-norma, kebiasaan, adat-istiadat, peraturan yang berlaku dalam masyarakat.
Hal ini dapat ditunjukkan pada ketercapaian seluruh item yang ditargetkan yaitu
sebesar 65%. Pada siklus I target perolehan 65% untuk semua item belum
tercapai, karena masih ada enam item yang belum mencapai target 65% , tetapi
pada siklus II target yang ditetapkan dapat tercapai.
Aditya, D. Y. (2016). Pengaruh penerapan metode pembelajaran
resitasi terhadap hasil belajar matematika siswa. SAP (Susunan Artikel
Pendidikan), 1(2), 165�174. http://dx.doi.org/10.30998/sap.v1i2.1023.
Google Scholar
Arends, R.
(1997). Classroom instruction and management. McGraw-Hill Companies. Google Scholar
Darmadi, H.
(2015). Tugas, peran, kompetensi, dan tanggung jawab menjadi guru profesional. Edukasi:
Jurnal Pendidikan, 13(2), 161�174. �https://doi.org/10.31571/edukasi.v13i2.113. Google Scholar
Dewi, E. R.
(2018). Metode Pembelajaran Modern Dan Konvensional Pada Sekolah Menengah Atas.
PEMBELAJAR: Jurnal Ilmu Pendidikan, Keguruan, Dan Pembelajaran, 2(1),
44�52. https://doi.org/10.26858/pembelajar.v2i1.5442. Google Scholar
Driarastuti, E.
D. (2012). Studi Komparasi Prestasi Belajar Akuntansi Menggunakan
Pembelajaran Kooperatif Think Pairs Share (TPS) dengan Numbered Head Together
(NHT) pada Siswa Kelas XI IPS Semester 2 SMA Negeri 2 Karanganyar Tahun
Pelajaran 2011/2012. Google Scholar
Hamdani, N. A.,
& Hermana, D. (2008). Classroom
Action Research. Jakarta: Rahayasa. Google Scholar
Hamzah, B. U.
(2007). Profesi Kependidikan: Problema,
Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Google Scholar
Hosnan, M.
(2014). Pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad 21:
Kunci sukses implementasi kurikulum 2013. Google Scholar
Istiqomah, N. N.
(2018). Strategi Guru PKN dalam Menentukan Metode Pembelajaran yang Sesuai
dengan Tujuan Pembelajaran. Seminar Nasional Penguatan Nilai-Nilai
Kebangsaan Melalui Pendidikan Kewarganegaraan Persekolahan Dan Kemasyarakatan.
Google Scholar
Jamun, Y. M.
(2018). Dampak teknologi terhadap pendidikan. Jurnal Pendidikan Dan
Kebudayaan Missio, 10(1), 48�52. Google Scholar
Kasbolah, K.
(2001). Foreign Language Teaching Media.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Google Scholar
Sugiyono.
(2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D. Alfabeta. Google Scholar
Sulaiman, S.
(2017). Peningkatan Mutu Pendidikan Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing
Perguruan Tinggi Untuk Menghadapi Era Globalisasi. Jurnal Ilmiah Ilmu
Administrasi Publik, 5(2), 96912. Google Scholar
Susilo, H.,
Chotimah, H., & Sari, Y. D. (2022). Penelitian Tindakan Kelas. Media
Nusa Creative (MNC Publishing). Google Scholar
Utaminingsih, D.
W. T. (2010). Upaya peningkatan prestasi belajar pkn melalui metode
pembelajaran think-pair-share (TPS) bagi siswa kelas vii C SMPN 3 Prambanan
Tahun ajaran 2009/2010. Google Scholar
|
Copyright holder : Mudjizat
Hasan (2022) |
|
First publication right
: Jurnal Syntax
Transformation This article is licensed under: |