|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 3 No. 10 Oktober 2022 |
|
p-ISSN :
2722-7782 e-ISSN : 2722-5356 |
Sosial
Sains |
PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA
MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-PAIR-SHARE (TPS)
SISWA KELAS VIII-2 UPT SMP NEGERI� 1 ALLA
KABUPATEN ENREKANG
Nurhayati
Guru Matematika UPT SMP
Negeri 1 Alla Kab. Enrekang
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 07 Oktober
2022 Direvisi 19 Oktober
2022 Disetujui 30 Oktober
2022 |
Matematika adalah
bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita
sampaikan. Kenyataan di lapangan memberikan gambaran bahwa selama
pembelajaran berlangsung sebagian besar siswa kurang aktif, mereka akan aktif
apabila diberikan tugas, tidak memperhatikan penjelasan guru, banyak siswa
yang tidak selesai dalam mengerjakan soal sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan. Siswa juga tampak tidak bermotivasi pada pelajaran matematika.
Selain tumbuhnya motivasi, guru juga harus membangkitkan motivasi yang ada
dalam diri siswa agar terangsang untuk mempelajari materi serta ingin
memahami pelajaran lebih lanjut. Penelitian ini merumuskan sebuah
permasalahan Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat
meningkatkan prestasi belajar matematika materi lingkaran pada kelas VIII-2
UPT� SMP Negeri 1 Alla?. Penelitian ini
bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII-2
UPT� SMP Negeri 1 Alla pada materi
lingkaran melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS.
Pembelajaran TPS dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan idea atau
gagasan dengan kata- kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide
orang lain. Siswa dapat mengembangkan kemampuan untuk menguji ide dan
pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik. Interaksi yang terjadi selama
pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan memberi rangsangan untuk
berpikir sehingga bermanfaat bagi proses pendidikan jangka panjang.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik analisis
data yang digunakan untuk menganalisis data-data yang terkumpul adalah teknik
deskriptif komparatif yaitu untuk membandingkan keberhasilan antar siklus.
Teknik analisis data prestasi belajar siswa menggunakan statistik sederhana
yaitu analisis Ketuntasan belajar. Dari hasil analisis data dan
pembahasannya, diperoleh kesimpulan Penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe Think Pair Share pada materi lingkaran terbukti meningkatkan prestasi
belajar siswa kelas VIII-2 UPT� SMP
Negeri 1 Alla, Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share
pada materi lingkaran terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di
kelas VIII-2 UPT� SMP Negeri 1 Alla. |
|
Kata kunci: Kooperatif, TPS (Think,
Pair, Share), Prestasi belajar. |
|
|
Keywords: Cooperative, TPS (Think,
Pair, Share), Learning achievement. |
ABSTRACT Mathematics is a language that symbolizes a series of meanings from the
statements that we want to convey. The reality on the ground illustrates that
during the learning process, most of the students are less active, they will
be active when given assignments, do not pay attention to the teacher's
explanation, many students do not finish working on the questions in the
allotted time. Students also seem unmotivated in mathematics. In addition to
the growth of motivation, teachers must also generate motivation in students
to be stimulated to learn the material and want to understand further
lessons. This research formulates a problem. Is the application of the TPS
type cooperative learning model able to improve mathematics learning
achievement in circle material in class VIII-2 UPT SMP Negeri 1 Alla?. This
study aims to improve the mathematics learning achievement of grade VIII-2
UPT SMP Negeri 1 Alla students in the circle material through the application
of the TPS type cooperative learning model. TPS learning can develop the
ability to express ideas or ideas verbally and compare them with other
people's ideas. Students can develop the ability to test their own ideas and
understanding and receive feedback. The interactions that occur during
learning can increase motivation and provide stimulation to think so that it
is beneficial for the long-term educational process. This research is a
Classroom Action Research (CAR). The data analysis technique used to analyze
the collected data is a comparative descriptive technique, which is to
compare success between cycles. The technique of analyzing student
achievement data uses simple statistics, namely the analysis of learning
completeness. From the results of data analysis and discussion, it is
concluded that the application of the Think Pair Share type of cooperative
learning model on the circle material has been proven to improve student
achievement in class VIII-2 UPT SMP Negeri 1 Alla. learning in class VIII-2
UPT SMP Negeri 1 Alla. |
Pendahuluan
bersifat
artifisial yang baru Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian
makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan (Rismawati, 2016). Lambang-lambang matematika mempunyai
arti setelah sebuah makna diberikan padanya (Suriasumantri, 1993). Berdasarkan hasil pengamatan
pendahuluan ditemukan bahwa selama pembelajaran berlangsung sebagian besar
siswa kurang aktif, mereka akan aktif apabila diberikan tugas, tidak
memperhatikan penjelasan guru, banyak siswa yang tidak selesai dalam
mengerjakan soal sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Siswa juga tampak tidak
bermotivasi pada pelajaran matematika. Sehingga guru perlu selalu berupaya
menumbuhkan motivasi belajar siswa pada pelajaran matematika. Motivasi belajar
adalah salah satu faktor yang turut menentukan keefektifan pembelajaran (Mulyasa, 2002).
Selain
tumbuhnya motivasi, guru juga harus membangkitkan motivasi yang ada dalam diri
siswa agar terangsang untuk mempelajari materi serta ingin memahami pelajaran
lebih lanjut (Sinaga, 2021). Melalui demonstrasi penggunaan
berbagai bentuk metode pengajaran, siswa merasa ingin tahu lebih jauh tentang
konsep yang dipelajarinya dan akan terus berusaha untuk menelaah dan mengetahui
konsep tersebut lebih mendalam (Julak, 2021).
Matematika
dianggap sulit, dan saat pembelajaran matematika siswa cenderung kurang
termotivasi untuk belajar, maka guru harus mengupayakan kemudahan dalam belajar
dengan mempergunakan metode yang sesuai (Firmawati, 2020). Menurut (Mulyasa, 2002) kemudahan belajar diberikan
melalui kombinasi antara pembelajaran individual personal dengan pengalaman
lapangan. Atas dasar pemikiran ini peneliti ingin melakukan penelitian tentang
bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think pair share sebagai
upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika materi Lingkaran dengan
memilih obyek penelitian yaitu siswa kelas VIII-2 UPT� SMP Negeri 1 Alla .
Alasan
pemilihan judul tersebut adalah pentingnya masalah tersebut diteliti karena
akan membantu pelaksanan kerja yang lebih efektif, judul tersebut juga menarik
motivasi peneliti karena dari pengalaman peneliti mendapatkan gambaran bahwa
jarang sekali guru mempergunakan model kooperatif tipe think pair share dalam
pembelajaran matematika. Seorang guru harus mengenal sifat-sifat khas dari
setiap metode pembelajaran, yang penting untuk penguasaan setiap teknik
penyajian, agar guru mampu mengetahui, memahami dan trampil menggunakannya,
sesuai dengan tujuan yang akan dicapai (Djamarah & Zain,
2010).
Bila
seorang guru melakukan aktivitas, maka terjadi dua aktivitas yaitu aktivitas
mengajar dan aktivitas belajar (Idzhar, 2016). Aktivitas mengajar menyangkut
peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi
harmonis antara mengajar itu sendiri dengan belajar (Ahmad & Ahmadi,
2004).
Tujuan
penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika materi
lingkaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS pada kelas
VIII-2 UPT� SMP Negeri 1 Alla.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini direncanakan dua siklus dan tiap siklus
terdiri dari 4 langlah yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi,
dan (4) refleksi. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dirancang dengan
menggunakan beberapa siklus atau tahapan penelitian. Siklus yang digunakan
dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan model siklus yang diadaptasi
dari (Kemmis & McTaggart, 1982). Setiap siklus terdiri dari empat
tahap yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan
(observation) dan tindak lanjut refleksi (reflection). Setelah siklus pertama
dilaksanakan, kemudian dilanjutkan siklus kedua yang merupakan perbaikan dan
peningkatan dari siklus pertama, dan setelah siklus kedua dilaksanakan kemudian
dilanjutkan����������� dengan siklus
ketiga yang merupakan perbaikan dan peningkatan dari siklus kedua.
1.
Perencanaan
Tindakan
Dalam tahap ini peneliti dengan
persetujuan guru pengamat melakukan observasi. Berdasar hasil penelitian
Peneliti menyusun rancangan pelaksanaan tindakan berdasarkan metode
pembelajaran TPS. Kemudian mendiskusikan dengan guru pengamat tentang cara
melaksanakan metode pembelajaran TPS.
2.
Pelaksanaan
Tindakan
Guru peneliti melaksanakan model
pembelajaran TPS, berdasarkan rencana pembelajaran yang sudah dibuat, sedangkan
guru pengamat melakukan pengamatan dan memberi masukan, kepada guru peneliti
yang melakukan tindakan.
3.
Observasi
Dalam hal pengamat mengamati
pelaksanaan tindakan, guna mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan
rencana tindakan yang telah ditetapkan.
4.
Refleksi
Setelah dilakukan pengamatan terhadap
proses pembelajaran, peneliti dan guru pengamat melakukan diskusi untuk
mencermati kembali secara rinci tentang semua yang telah dilaksanakan, termasuk
mengamati perubahan keberhasilan maupun hambatan-hambatan yang terjadi. Sebagai
pedoman untuk menentukan keberhasilan dalam penelitian ini maka digunakan
kriteria sebagai berikut : Sebagai acuan bahwa prestasi belajar siswa
menunjukkan kualitas meningkat setelah dilakukan tindakan yaitu dengan
membandingkan prestasi belajar siswa sebelum dilaksanakan tindakan dengan
setelah dilaksanakan tindakan. Sebagai acuan bahwa proses pembelajaran
menunjukkan kualitas yang meningkat setelah dilakukan tindakan yaitu dengan
membandingkan proses pembelajaran sebelum dilaksanakan tindakan dengan setelah
dilaksanakan tindakan.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-2 UPT SMP
Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang, yang berjumlah 26 siswa. Pengambilan subjek
penelitian dengan pertimbangan kelas tersebut secara akademis memiliki nilai
kurang baik, dari hasil tes awal sebanyak 26 siswa, 13 siswa belum tuntas dan
baru 13 siswa yang mencapai ketuntasan, dengan kriteria ketuntasan minimal
sebesar 70.
Data penelitian yang dikumpulkan menggunakan teknik
observasi, dokumentasi, angket dan wawancara. Dalam penelitian ini instrumen
yang digunakan adalah, pedoman observasi, dan format untuk data lapangan.
Data dianalisis berdasarkan perubahan setiap siklus tentang
proses pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sebagai bentuk pengalaman
belajar. Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data-data yang
terkumpul dengan teknik deskriptif komparatif yaitu untuk membandingkan
keberhasilan antar siklus. Teknik analisis kritik untuk mencakup kegiatan yang
mengungkap kelemahan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses
pembelajaran berdasarkan kriteria normatif yang diturunkan dari kajian teori.
Teknik analisis data adalah proses mengolah data dan
menginterpretasikan hasil pengumpulan data. Pada penelitian ini menggunakan
teknik analisis data kuantitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat
menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan
tujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa, Untuk mengetahui
tingkat keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya
dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap
akhir putaran. Analisis ini di hitung dengan menggunakan statistik sederhana
yaitu : Ketuntasan belajar.
Ada dua katagori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan
dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar
kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994) yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila
telah mencapai skor 65 dan kelas tersebut tuntas belajar bila di kelas tersebut
terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%.
Untuk menghitung presentase ketuntasan belajar dikelas menggunakan rumus:
E =
E ���������� =
persentase ketuntasan belajar secara���
klasikal
n ���������� =
jumlah siswa yang belajar tuntas
N ��������� =
jumlah seluruh siswa
Validitas data penelitian ini mengacu pada kriteria validitas
data yang digunakan oleh Burns (1999 : 161-162) yaitu:
1.
Validitas
Demokratik
Bahwa validitas dicapai dengan
memberi kesempatan kepada peneliti untuk melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak.
2.
Validitas
Hasil
Kriteria ini berhubungan dengan
pernyataan bahwa tindakan membawa hasil yang sukses� dalam konteks penelitian.
3.
Validitas
Proses
Validitas ini tercapai dengan cara
peneliti dan pengamat secara intensif bekerjasama mengikuti semua tahap-tahap
dalam proses penelitian.
4.
Validitas
Dialogis
Validitas penelitian ini tercapai
dengan cara peneliti selalu mengembangkan dialog dengan guru pengamat.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian ini diperoleh dari pelaksanaan tindakan pada
Siklus I dan Siklus II. Hasil penelitian tentang prestasi belajar diperoleh
melalui hasil tes dan hasil ulangan harian. Hasil pada proses pembelajaran
diperoleh melalui hasil pengamatan dan�
hasil angket.
A. Hasil Penelitian
1.
Sebelum
Tindakan Penelitian
a.
Prestasi
Belajar
Melalui hasil tes awal diketahui
bahwa dari jumlah 26 siswa, baru 20 Siswa atau 77,8 % sudah mencapai ketuntasan
belajar, sedang yang belum mencapai ketuntasan sebanyak 6 siswa atau 22,2 %.
Hasil nilai rata-rata kelas 78,6 dengan demikian secara klasikal belum mencapai
ketuntasan belajar dengan batas ketuntasan 75.
b.
Kualitas
Pembelajaran
Proses pembelajaran sebelum
dilakukannya tindakan, suasana pembelajaran kurang menyenangkan siswa. Hal itu
terlihat dari ekspresi yang datar-datar saja, siswa tidak menunjukkan ekspresi
kegembiraan ketika mengikuti pembelajaran, sehingga pembelajaran terlihat dalam
suasana kaku. Proses pembelajaran tidak mendorong hubungan yang akrab antara
siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Siswa masih menempatkan hubungan
siswa dengan guru adalah hubungan yang sangat formal. Kondisi demikian tidak
mendorong siswa untuk dapat bersikap terbuka dengan guru.
2.
Hasil
Siklus I
a.
Prestasi
Belajar
Prestasi belajar pada Siklus I dapat
diketahui bahwa nilai rata- rata kelas 80,8 dari 26 siswa. Jumlah siswa yang
belum mencapai ketuntasan sebanyak 6 siswa atau 16,7 %, sedang siswa yang telah
mencapai nilai ketuntasan yaitu memperoleh nilai 70 atau lebih adalah sebanyak
20 siswa atau 83,3 %. Dengan demikian pembelajaran dengan menerapkan metode
Think Pair Share pada Siklus I belum mencapai kualifikasi ketuntasan belajar
yang diharapkan.
b.
Kualitas
Pembelajaran
Suasana pembelajaran pada Siklus I
menunjukkan kualitas yang meningkat dengan skor kualitas 3.00 dengan
kualifikasi kualitas �Baik�. Metode Think Pair Share telah membuat siswa
mengikuti pembelajaran dengan gembira. Pada tahap ini siswa mulai memiliki
percaya diri� dalam mengerjakan tugas.
Metode Think Pair Share membuat siswa
mengalami apa yang disebut dengan �belajar bermakna� karena siswa tidak lagi
sekedar mendengarkan ceramah guru namun siswa juga melakukan dalam belajar
dengan membuat peta pikiran dalam Think Pair Share.
3.
Hasil
Siklus II.
a.
Prestasi
Belajar
Prestasi belajar pada Siklus II dapat
diketahui bahwa nilai rata- rata kelas 86,7 dari 26 siswa. Jumlah siswa yang
belum mencapai ketuntasan sebanyak dua siswa atau 8,3 %, sedang siswa yang
telah mencapai nilai ketuntasan yaitu memperoleh nilai 70 atau lebih adalah
sebanyak 24 siswa atau 91,7%.
b.
Kualitas
Pembelajaran
Berdasarkan hasil pengamatan proses
pembelajaran pada siklus II, dapat diketahui bahwa suasana pembelajaran
memperoleh skor 4.80, tanggung jawab 4.80, rasa percaya diri dengan skor 4.00,
fokus kegiatan dengan skor 4.00 dengan demikian kualitas pembelajaran mencapai
skor 4.50 atau kualifikasi kualitas � Sangat Baik�.
B. Pengujian Hipotesis
1.
Prestasi
Belajar
Hasil tes menunjukkan bahwa hanya 28
siswa dari 26 siswa yang telah mencapai ketuntasan. Sedang pada Siklus I
tercatat 30 siswa telah mencapai ketuntasan��
dan pada Siklus II tercatat 33 siswa yang telah mencapai ketuntasan.
Dengan demikian hipotesis pertama yang diajukan pada Bab II penelitian ini
dinyatakan� diterima .
2.
Kualitas
Pembelajaran
Kualitas pembelajaran dikatakan
meningkat jika keadaan menunjukkan bahwa pembelajaran lebih berkualitas
dibandingkan dengan keadaan sebelum dilakukannya tindakan. Berdasarkan hasil
pengamatan yang dilakukan guru peneliti dan guru pengamat sebelum pelaksanaan
tindakan dapat dikatakan bahwa pembelajaran kurang menyenangkan, siswa kurang
memiliki tanggung jawab terhadap tugas, siswa juga kurang berani menunjukkan
ekspresinya dan kegiatan masih terfokus pada guru.
Namun setelah dilaksanakan tindakan
maka kualitas pembelajaran lebih meningkat dibandingkan dengan sebelum
dilakukannya tindakan, hal itu terlihat ketika siswa mengikuti pembelajaran
dengan wajah gembira.. Sehingga hipotesis kedua yang diajukan pada Bab II
penelitian ini dinyatakan diterima.
C. Pembahasan
1.
Prestasi
Belajar
Nilai- rata rata kelas prestasi
belajar sebelum dilakukannya tindakan sebesar 78,6, pada Siklus I sebesar 80,8
dan pada siklus II sebesar 86,7. Dengan demikian dilihat dari nilai- rata-rata
kelas dari sebelum dilakukannya tindakan sampai dengan Siklus II terdapat
peningkatan sebesar 8,1 atau� 10,31% .
Dilihat dari ketuntasan belajar,
sebelum dilakukannya tindakan penelitian, siswa yang tuntas sebanyak 28 siswa
atau 77,8%, pada siklus I siswa yang tuntas sebanyak 30 siswa atau 83,3%.
Sedang pada siklus II siswa yang tuntas sebanyak 33 siswa atau 91,7% siswa
telah menguasai kompetensi dasar peran lembaga-lembaga negara. Sehingga dilihat
dari ketuntasan belajar dari sebelum dilakukannya tindakan sampai dengan Siklus
II terdapat peningkatan sebesar 13,9%.
2.
Kualitas
Pembelajaran
a.
Pengamatan
Penggunaan model Think Pair Share
telah meningkatkan kualitas pembelajaran. Nilai rata-rata kualitas pembelajaran
sebelum tindakan sebesar 1.625, sedang pada siklus I sebesar 3.00 dan pada
Siklus II sebesar 4.50.
Tindakan guru yang banyak memberi
kesempatan siswa untuk bekerja dan bergerak membuat suasana pembelajaran lebih
menyenangkan. Tindakan guru dengan memberi tugas individu pada tiap kelompok
memberi kontribusi besar terhadap peningkatan rasa tanggung jawab siswa.
Presentasi yang dilakukan siswa tentang hasil Think Pair Share memberi
sumbangan besar terhadap rasa percaya diri siswa. Dengan penerapan media Think
Pair Share fokus kegiatan sudah berpindah kepada siswa karena siswa��� lebih banyak �melakukan� daripada sekedar
mendengarkan ceramah.
b.
Hasil
Angket
Angket yang dibagikan kepada 36 siswa
menghasilkan data 36 siswa atau 100 % menyatakan sangat setuju bahwa metode
Think Pair Share dalam pembelajaran peran lembaga-lembaga negara menjadikan
proses pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak ditemukan yang menyatakan
tidak tahu dan tidak ditemukan siswa yang menyatakan tidak setuju.
Kesimpulan
Penggunaan
model pembelajaran Think Pair Share pada siswa kelas VIII-2 UPT SMP Negeri 1
Alla Kabupaten Enrekang, terbukti meningkatkan prestasi belajar siswa, Sebelum
tindakan siswa yang tuntas belajar sebanyak 28 siswa atau 77,8%, pada Siklus I
siswa yang tuntas sebanyak 30 siswa atau 83,3 %. sedang pada Siklus II siswa
yang tuntas sebanyak 33 siswa atau 91,7 %.
Penggunaan
model pembelajaran Think Pair Share terbukti dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran di kelas VIII-2 UPT SMP Negeri 1 Alla Kabupaten Enrekang. Sebelum
tindakan sebesar 1.625, sedang pada siklus I sebesar 3.00 dan pada Siklus II
sebesar 4.50. Dengan demikian kualitas pembelajaran dari sebelum tindakan
sampai dengan Siklus II terjadi peningkatan sebesar 2.875, dengan kualifikasi
�Sangat Baik�.
Ahmad, R., & Ahmadi, A. (2004). Pengelolaan pengajaran.
Jakarta: Rineka Cipta. Google Scholar
Djamarah, S. B., & Zain, A.
(2010). Strategi Belajar Mengajar Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Rineka
Cipta. Google Scholar
Firmawati, F. (2020). Peningkatan
Prestasi Belajar Matematika melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Think Pair Share (TPS). Jurnal Pendidikan Tambusai, 4(1),
125�129. https://doi.org/10.31004/jptam.v4i1.437. Google Scholar
Idzhar, A. (2016). Peranan guru
dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Jurnal Office, 2(2),
221�228. Google Scholar
Julak, J. (2021). Penggunaan
Think Pair Share Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Luas Dan
Volume Bangun Ruang Sisi Lengkung Di Kelas IX A SMP Negeri 1 Wanaraya Kabupaten
Barito Kuala Oleh: Suwarto. OSF Preprints. Google Scholar
Kemmis, S., & McTaggart, R.
(1982). The action research planner. Victoria : Deakin University.
Google Scholar
Mulyasa, E. (2002). Kurikulum
Berbasis kompetensi konsep, karakteristik, dan implementasi. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya. Google Scholar
Rismawati, M. (2016). Mengembangkan
Peran Matematika Sebagai Alat Berpikir Ilmiah Melalui Pembelajaran Berbasis
Lesson Study. Vox Edukasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(2),
203�215. https://doi.org/10.31932/ve.v7i2.77. Google Scholar
Sinaga, R. S. (2021). Upaya
Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Siswa melalui Penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) di SMP Satu Atap Negeri 5
Pangururan. Jurnal Serunai Matematika, 13(2), 119�124.
https://doi.org/10.37755/jsm.v13i2.464. Google Scholar
Suriasumantri, J. S. (1993). Filsafat
ilmu: Sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Google Scholar
|
Copyright holder
: Nurhayati (2022) |
|
First publication right : Jurnal Syntax Transformation This article
is licensed under: |