|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 3 No. 12 Desember 2022 |
|
p-ISSN :
2722-7782 e-ISSN : 2722-5356 |
Sosial
Sains |
ANALISA TULANGAN PADA BLOK ANGKUR JEMBATAN
GANTUNG DENGAN MENGGUNAKAN ANSYS
Indra Jhon Fischer, Johannes Tarigan dan Emma Patricia
Bangun
Universitas Sumatera Utara
(USU) Indonesia
Email: [email protected],
[email protected], [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 04 november
2022 Direvisi 10 Desember
2022 Disetujui 13 Desember
2022 |
Kekuatan struktur
blok angkur pada jembatan gantung sangat bergantung pada berat sendirinya
untuk mampu memikul beban tarik kabel backstay. Oleh karena itu diperlukan
dimensi yang cukup besar untuk menahan gaya tarik tersebut. Beton memiliki
kuat tekan yang baik namun kurang memiliki kuat tarik yang baik, kuat tarik
beton hanya sekitar 10%-15% dari kuat tekannya. Oleh karena itu pada
perencanaan blok angkur diperlukan blok angkur yang terbuat dari baja yang
memiliki tegangan leleh dan tegangan fraktur yang cukup tinggi dan ditanam
pada blok beton angkur untuk menahan gaya tarik sebelum tegangan tarik
ditransfer pada blok beton. Pada tulisan ini digunakan baja profil H
300.300.10.15 sebagai angkur baja yang tertanam pada blok beton. Tujuan dari
penelitian ini adalah mendapatkan nilai tegangan yang terjadi pada blok
angkur dengan menggunakan bantuan program Ansys, memperoleh jarak penulangan
yang sesuai pada daerah tarik maksimum (daerah kritikal), dan memperoleh gambaran
secara grafis pengaruh geometri struktur angkur akibat beban tarik dari kabel
backstay. Penelitian ini dilakukan dengan kajian numerik menggunakan bantuan
program SAP 2000 untuk menghitung gaya � gaya dalam pada keseluruhan struktur
jembatan gantung, kemudian menggunakan bantuan analisa program Ansys untuk
memperoleh tegangan tarik yang terjadi pada blok angkur yang dimodelkan juga
pada Ansys dengan boundary condition yang mendekati kondisi yang ada pada
lapangan. Hasil analisa Ansys menunjukkan tegangan tarik maksimum terjadi
pada baja profil H 300.300.10.15 sebesar 73,27 MPa
dan tegangan tarik maksimum pada beton adalah 1,26 MPa. Nilai 1,26 MPa ini masih dalam batas yang aman karena tegangan
tarik ini masih dibawah tegangan tarik izin betonnya sebesar 2,23 MPa. Dari
hasil analisa empiris diperoleh jarak maksimum tulangan pada daerah kritikal
adalah 150 mm, dan pada daerah non kritikal diperoleh 250 mm. |
|
Kata kunci: Tegangan, Angkur,
Ansys, Penulangan. |
|
|
Keywords: Capital Expenditures,
Economic Growth, �Tension,
Anchor, Ansys, Reinforcement. |
ABSTRACT The strength of the anchor block structure in the suspension bridge is
very dependent on its weight to be able to bear the tensile load of the
backstay cable. Therefore, it is necessary to have dimensions large enough to
withstand the tensile force. Concrete has good compressive strength but does
not have good tensile strength, the tensile strength
of concrete is only about 10%-15% of its compressive strength. Therefore, in
planning anchor blocks, anchor blocks are needed making of steel that has
high yield and fracture stresses and is planted in anchor concrete blocks to
withstand the force before the tensile stresses are transferred to the
concrete blocks. In this paper, steel H 300.300.10.15 is used as steel
anchors embedded in concrete blocks. The purpose of this study was to obtain
the stress value that occurs in the anchor block using the Ansys assistance
program, obtain the appropriate reinforcement distance in the maximum tensile
area (critical area), and obtain a graphic description of the influence of
the anchor structure geometry due to the load from the backstay cable. This
research was conducted using a numerical study using the SAP 2000 assistance
program to calculate the forces in the entire suspension bridge structure,
then using the Ansys analysis assistance program to obtain the tensile stress
that occurs in the anchor block which is also modeled in Ansys with boundary
conditions that are close to the existing conditions in the field. The
results of Ansys analysis show that the maximum tensile stress in H profile
steel 300.300.10.15 is 73.27 MPa and the maximum tensile stress in concrete
is 1.26 MPa. The value of 1.26 MPa is still within a safe limit because the
tensile stress is still below the allowable tensile stress for the concrete
of 2.23 MPa. From the results of empirical analysis, the maximum
reinforcement space in the critical area is 150 mm, and in the non-critical
area, it is 250 mm. |
Pendahuluan
Di
Indonesia pada saat ini jembatan gantung menjadi pilihan yang tepat untuk
dijadikan penghubung antar daerah terisolasi dan memperkuat wilayah pedesaan
maupun kawasan terpencil yang dipisahkan oleh kondisi alam seperti sungai,
lereng, bukit, ataupun jurang (Mering
& IIK, 2020).
Kehadiran jembatan gantung sangat dibutuhkan dan disambut baik oleh masyarakat
karena manfaatnya nyata yaitu memangkas waktu tempuh masyarakat yang
beraktivitas di desa-desa (Santony,
2020).
Masyarakat tidak perlu lagi untuk menyebrang sungai dengan perahu, ataupun
melewati jalan alternatif lain yang sangat jauh jarak tempuhnya. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah
menyelesaikan pembangunan jembatan gantung di Desa Pisang Binaya Kecamatan
Teluk Dalam Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera Utara yang menjadi bahan
penelitian tulisan ini.
Tujuan utama dibangunnya jembatan
gantung di lingkungan tersebut adalah untuk memberikan kemudahan pergerakan
antardesa serta membuka isolasi daerah yang terpisahkan sungai.� Pembangunan jembatan gantung ini telah
dimulai sejak Oktober 2019 dan selesai pada Agustus� 2020.
Jembatan
gantung tersebut dibangun sepanjang 120� meter dengan lebar 1,8 meter. Jembatan
yang dibangun ini mengelilingi beberapa jalur tempat pemukiman masyarakat di
Kabupaten Asahan,� seperti di Desa Pisang
Binaya, Desa Padang Mahondang dan juga terletak dekat dengan jalan yang
menghubungkan Kota Kisaran sampai ke arah Aek Kanopan Kabupaten Labuhanbatu
Utara sehingga keberadaannya akan sangat membantu aktivitas masyarakat di Desa
Pisang Binaya dan Desa Padang Mahondang, termasuk akan meningkatkan
perekonomian daerah setempat.
Oleh karena tingginya kebutuhan jembatan
gantung atas kebutuhan masyarakat pada daerah terisolasi, maka perlu dilakukan
kajian dan inovasi terhadap jembatan gantung untuk desain yang lebih baik dan
sempurna. Penelitian ini
mengkaji desain angkur tipe graviasti pada jembatan gantung Pisang Binaya.
Angkur
pada jembatan gantung adalah struktur yang berfungsi� sebagai penahan tegangan kabel utama dan
kabel dibelakang menara (backstay)
serta menyalurkan gaya-gaya yang dipikulnya ke pondasi angkur itu sendiri dan
kemudian melimpahkan beban dan gaya � gaya yang bekerja ke lapisan tanah
pendukung (Pemberlakukan
Pedoman Perencanaan Dan Pelaksanaan Konstruksi Jembatan Gantung Untuk Pejalan
Kaki, 2010).
Gaya yang bekerja pada angkur terdapat beberapa gaya
diantaranya berat sendiri angkur, gaya gravitasi dan gaya tarik kabel backstay.
Angkur
pada jembatan gantung memiliki 2 tipe yaitu dingkur pada tanah (ground anchored) dan diangkur pada
spannya sendiri (self-anchored). Angkur dengan Self-anchored mengangkur kabel
utama pada ujung � ujung girder.� Self
Anchored adalah angkur yang mengangkur pada jembatannya sendiri (Han
et al., 2019).
Tipe pengangkuran ini tidak bergantung pada berat blok
angkur. Kabel utama akan diangkur di deck jembatan
sehingga deck jembatan menerima gaya tekanan horizontal dari kabel utama. Gaya tekan horizontal ini menyebabkan resiko terjadinya tekuk
global pada deck jembatan. Selain itu deck jembatan harus tetap menahan gaya vertikal diatasnya. Sedangkan blok angkur yang diangkur
di tanah (ground anchored) merupakan
sebuah sistem yang mentransfer gaya tarik kabel utama ke blok angkur dan
menyeimbangkan gaya tarik kabel utama melalui berat angkur (Pasak,
2018).
Blok angkur yang ditanam pada tanah dapat dibagi dalam dua tipe yaitu Gravity-Type Anchorage (GTA) atau
disebut angkur tipe gravitasi dan Tunnel-Type
Anchorage (TTA) atau disebut angkur tipe terowongan.
Beberapa
jembatan � jembatan yang telah menggunakan angkur dengan tipe terowongan (Tunnel Type Anchorage) diantaranya
adalah Washington Bridge di Amerika pada tahun 1932, The Oakland � San
Francisco Bay Bridge di Amerika pada tahun 1936, The Forth Road Bridge across
Foss Bay di Inggris pada tahun 1964, dan Seto Bridge diantara Honshu dan
Shikoku di Jepang pada tahun 1988. Sedangkan jembatan � jembatan yang telah
menggunakan angkur dengan tipe gravitasi (Gravity
Type Anchorage) dintaranya adalah The Akashi-kaikyo Bridge di Jepang,
Golden Gate Bridge di Amerika, Humber Bridge di Inggris, dan jembatan Kutai
Kartanegara di Indonesia.
Jembatan
gantung eksisting pada penelitian ini memiliki panjang bentang sepanjang 120 m,
dan lebar 1,8 m. Tipe blok angkur adalah angkur tipe gravitasi dengan tinggi
6,75 m dan lebar 4,90 m. Jembatan ini juga memiliki jarak antara blok angkur
dan pylon jembatan adalah sepanjang 30 m untuk sisi sebelah kanan maupun
sebelah kiri jembatan.
Tujuan
penelitian ini adalah mendapatkan nilai tegangan yang terjadi pada angkur
dengan program Ansys untuk analisa pada penulangan blok
angkur, memperoleh jarak penulangan yang lebih sesuai pada daerah tarik
maksimum blok angkur, dan mendapatkan gambaran secara grafis pengaruh terhadap
geometri struktur blok angkur akibat gaya tarik kabel backstay.
Penelitian
terhadap analisa blok angkur pada jembatan gantung dilakukan oleh (Zhou
et al., 2021).
Mereka melakukan analisis dengan teori-teori yang ada berdasarkan data lapangan
dan menganalisis dengan bantuan program elemen hingga yaitu program Abaqus.
Hasil analisis menunjukkan beberapa parameter diantaranya adalah kekuatan
kestabilan dan anti guling pada blok angkur yang
dihitung berdasarkan teori analisis, dan perpindahan horizontal, vertikal,
contact stress pada blok angkur yang diperoleh dari hasil analisa bantuan
program Abaqus yang berdasarkan metode elemen hingga. Hasil perhitungan
memenuhi persyaratan yang disyaratkan, dimana blok
angkur pada penelitian ini stabil dan mampu untuk menahan gaya tarik kabel
backstay dan kabel utama.
Penelitian
terhadap blok angkur jembatan gantung pejalan kaki juga dilakukan oleh (Han
et al., 2019).
Pada penelitian ini banyak menjelaskan berbagai jenis blok
angkur yang digunakan pada jembatan gantung, baik jembatan gantung pejalan kaki
maupun jembatan gantung dengan kapasitas lalu lintas yang besar. Pada
penelitian ini juga disebutkan bahwa blok angkur
dengan tipe gravitasi lebih banyak diterapkan pada jembatan gantung
dibandingkan dengan blok angkur dengan tipe Self anchor.
Kabel
pada jembatan gantung merupakan komponen yang sangat penting juga untuk
menentukan beban tarik yang diterima oleh blok angkur (Anggraeni
& Herbudiman, 2009).
meneliti studi parameter desain dimensi elemen
struktur jembatan gantung. Pada penelitian ini menganalisa gaya-gaya dalam yang
terjadi pada jembatan gantung pejalan kaki dengan bentang 120 m menggunakan
program SAP 2000 dan menyimpulkan bahwa semakin besar diameter kabel maka
semakin kecil lendutan pada seperempat bentang, namun semakin meningkat juga
gaya tarik kabel backstay akibat berat sendiri kabel dengan dimensi yang lebih
besar. Selain dimensi kabel, jarak antara blok angkur
dan pylon juga berpengaruh pada pembebanan pada jembatan gantung dan harus
dilakukan dengan sangat teliti pada proses pembangunan jembatan. (Dewobroto,
2022)
meneliti jembatan gantung yang berfokus pada Forensic
Engineering mengungkapkan bahwa kesalahan pada pelaksanaan pembangunan jembatan
gantung dimana panjang dari jarak horizontal antara blok angkur dan pylon tidak
mengikuti perencanaannya sehingga menyebabkan timbulnya gaya lateral pada pylon
yang tidak diperhitungkan pada perencanaan sehingga menyebabkan keruntuhan
jembatan.
Faktor pembebanan dibutuhkan untuk
menentukan pembebanan yang ideal pada sebuah struktur jembatan gantung untuk
menghindari keruntuhan struktur dan juga menghindari over dimension.
(Setiati
& Wardhana, 2015).
Mereka melakukan�
perhitungan struktur jembatan dengan menggunakan pembebanan
standar dan mempertimbangkan beban angin serta frekuensi getar beban yang
bekerja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa beban
yang bekerja masih lebih kecil dibandingkan dengan beban standar.
Penelitian terhadap penulangan beton
sudah banyak dilakukan pada penelitian � penelitian terdahulu.
(Suku,
2018)
melakukan pemodelan dan analisis dengan penerapan
program elemen hingga Ansys untuk menganalisa perilaku balok beton bertulang
yang berbeda diameter akibat variasi tata letak tulangannya. (Kumaseh
et al., 2015)
melakukan penelitian pengaruh jarak sengkang terhadap
kapasitas beban aksial maksimum kolom beton berpenampang lingkaran dan segi
empat. Penelitian ini mengevaluasi dan meneliti pengaruh
jarak sengkang terhadap kapasitas beban aksial maksimum kolom yang berpenampang
lingkaran dan segi empat.
Penerapan
program elemen hingga sangat membantu dalam penelitian analisa blok angkur. Beberapa penelitian terdahulu
sudah melakukannya (Rayhan & Rahman, 2020).
Pada penelitian ini mereka�
membuktikan keandalan software Ansys untuk memodelkan detail
material dan menganalisa dengan hasil akurasi yang baik dan tidak menghabiskan
banyak waktu (Ali et al., 2020). Pada
penelitian ini mereka menggunakan program Abaqus untuk menentukan respon
dinamik dari jembatan gantung dimana divalidasi terhadap hasil eksperimental
pengujian getar dan pemodelan numerik. Hasil dari penelitian
menyimpulkan bahwa ketebalan sekitar 20 mm untuk bahan GFRP (Glass Fibre Reinforeced Polymer) dan
kaca laminasi (innovative composite deck)
yang digunakan pada penelitian adalah efektif untuk memenuhi standar
code/peraturan jembatan untuk kedua beban baik beban statik dan respon dinamik.
(Purnamasari, 2016)
melakukan analisa retak pada balok tinggi dengan variasi jarak sengkang
menggunakan Ansys. Hasil penelitian dari
analisa program Ansys menunjukkan pola retak terjadi pada tegangan yang
melebihi batas mutu beton untuk jarak sengkang yang semakin rapat.
Blok angkur pada beton sudah pernah
diteliti juga sebelumnya oleh (Huda & Apriyatno, 2020).
Dimana mereka melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan
kekuatan angkur berdasarkan metode pemasangan yaitu secara cast in place
dibandingkan post-installed melalui pengujian kuat tarik angkur terhadap beton
dengan kegagalan breakout concrete (Eligehausen, 2006).
Angkur tipe ekspansi merk �Sanko� M12x100 (kedalaman 60 mm, diameter 12 mm,
panjang 100 mm) dan beton ready mix fc� 25 MPa. Dalam pengujian tarik angkur
terhadap beton baik pemasangan angkur secara cast in place dan post installed,
masing - masing metode pemasangan menggunakan 3 benda uji dengan dimensi
300x300x150 mm. Setiap benda uji terpasang 4 angkur. Hasil pengujian dan
hitungan teoritis ditujukkan dengan kegagalan breakout concrete (jebol beton)
akibat tarik, dimana perilaku jebolnya beton disekitar angkur, dengan kekuatan
maksimum rata-rata sebesar 40,5 kN untuk pemasangan
cast in place dan 38,2 kN untuk pemasangan angkur secara post installed. Kuat
tekan beton ratarata sebesar 25,2 MPa. Kuat tarik (bahan) angkur rata-rata sebesar 338 MPa. Namun
dalam penelitian yang penulis lakukan untuk blok angkur baja yang tertanam pada
blok beton tidak dapat menerapkan sepenuhnya metode breakout concrete ini
dikarenakan berbedanya baut baja dengan baja profil H. Dimana kedalaman baja
profil H adalah 2,35 m sudah melebihi lebar penampang betonnya sehingga
perhitungan tersebut tidak dapat diterapkan sepenuhnya pada perhitungan
tegangan blok angkur jembatan gantung yang menggunakan baja profil H. Tetapi
masih bisa mengadopsi pola keruntuhan kritis yang terjadi pada beton akibat
gaya tarik yaitu 350 dari kedalaman angkur.
Pada penelitian ini kondisi tulangan
eksisting pada struktur angkur jembatan gantung di lapangan memiliki jarak yang
seragam. Hal ini dilakukan
karena untuk mempermudah pekerjaan dilapangan sehingga perencana menggunakan
jarak yang seragam namun seharusnya jarak penulangan dapat lebih rapat hanya
pada daerah tarik maksimumnya. Jarak yang seragam pada
eksisting membutuhkan jumlah besi yang lebih banyak sehingga berdampak pada
biaya pembangunan yang tidak ekonomis karena itu tidak disarankan untuk
dilakukan. Untuk menganalisa permasalahan ini penulis
membutuhkan bantuan program elemen hingga yaitu Ansys untuk mendapatkan
tegangan yang terjadi.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan studi literatur dan analisis dengan metode kuantitatif (Sugiyono, 2018) menggunakan program Ansys yang
berbasis metode elemen hingga.
Penelitian ini dimulai dengan melakukan studi literatur
mengenai blok angkur pada jembatan gantung, dan
dilakukan juga studi berdasarkan penelitian � penelitian terdahulu dan terkait
dengan penelitian ini. Mempelajari gaya tarik maksimum
kabel backstay pada jembatan gantung dari gaya-gaya dalam yang diketahui dari
hasil analisa keseluruhan struktur jembatan gantung, mempelajari tegangan yang
terjadi pada blok angkur dengan menggunakan program Ansys, serta melakukan
analisa tulangan dengan metode empiris berdasarkan SNI 2847 tahun 2019.
Objek penelitian ini adalah jembatan
gantung pejalan kaki yang bernama Pisang Binaya yang berada di Desa Pisang
Binaya Kecamatan Teluk Dalam Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera Utara. Jembatan gantung ini memilki panjang
120 m dengan lebar 1,8 m.� Jembatan ini memiliki 2 buah angkur tipe
gravitasi dengan ukuran yang sama pada kedua ujung
jembatan. Lokasi dan jembatan dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Jembatan Gantung Pisang Binaya
Blok angkur yang digunakan pada jembatan gantung pejalan kaki
ini adalah blok angkur dengan tipe gravitasi yang
memiliki dimensi yang sangat besar seperti yang terlihat pada gambar 2 dan 3.
Gambar 2. Blok angkur tipe gravitasi yang digunakan pada jembatan gantung Pisang
Binaya
Gambar 3. Dimensi angkur gravitasi pada jembatan gantung Pisang Binaya (mm)
Tahap berikutnya melakukan input data � data jembatan dan
memodelkan keseluruhan jembatan gantung pada program SAP 2000 untuk melakukan
analisa struktur. Hasil analisa keseluruhan struktur mendapatkan gaya tarik kabel backstay yang akan menjadi beban pada blok
angkur. Pada tahap selanjutnya memodelkan blok angkur
pada program Ansys dan membahas hasil analisanya.
Hasil dan Pembahasan
A. Gaya tarik Kabel Backstay
Pemodelan struktur jembatan gantung
pada program SAP 2000 bertujuan untuk mencari gaya tarik maksimum kabel
backstay untuk menjadi beban pada blok angkur jembatan gantung yang akan
disimulasi pada program Ansys. Beban yang diinput pada
perhitungan struktur ini diantaranya adalah beban mati, beban hidup, dan beban
samping seperti beban angin dan beban gempa yang berdasarkan peraturan SNI 1726
tahun 2019.
Kombinasi pembebanan juga mengacu
pada peraturan SNI 1726 (Badan Standarisasi Nasional, 2019)� dengan 7 kombinasi diantaranya adalah
sebagai berikut:
1.
Kombinasi
1 : 1,4D
2.
Kombinasi
2 : 1,2D+1,6L
3.
Kombinasi
3 : 1,2D+L+0.5W
4.
Kombinasi
4 : 1,2D+1,0W+L
5.
Kombinasi
5 : 0,9D+1,0W
6.
Kombinasi
6 : 1,2D+E�v+Eh+L
7.
Kombinasi
7 : 0,9D-Ev+Eh
Kombinasi � kombinasi diatas
dijabarkan lagi kedalam tabel 1 untuk diinput pada program SAP 2000.
Tabel 1. Kombinasi � kombinasi pembebanan yang digunakan pada SAP 2000
|
Nomor |
DL |
SIDL |
LL |
Wx |
Wy |
Ex |
Ey |
|
|
1 |
1.1 |
1.4 |
1.4 |
|||||
|
2 |
2.1 |
1.2 |
1.2 |
1.6 |
||||
|
3 |
3.1 |
1.2 |
1.2 |
1 |
||||
|
3.2 |
1.2 |
1.2 |
0.5 |
|||||
|
3.3 |
1.2 |
1.2 |
0.5 |
|||||
|
3.4 |
1.2 |
1.2 |
0.375 |
0.375 |
||||
|
3.5 |
1.2 |
1.2 |
1 |
|||||
|
4 |
4.1 |
1.2 |
1.2 |
1 |
1 |
|||
|
4.2 |
1.2 |
1.2 |
1 |
1 |
||||
|
4.3 |
1.2 |
1.2 |
1 |
0.75 |
0.75 |
|||
|
5 |
5.1 |
0.9 |
0.9 |
1 |
||||
|
5.2 |
0.9 |
0.9 |
1 |
|||||
|
5.3 |
0.9 |
0.9 |
0.75 |
0.75 |
||||
|
6 |
6.1 |
1.2895 |
1.2895 |
1 |
1.3 |
0.39 |
||
|
6.2 |
1.2895 |
1.2895 |
1 |
1.3 |
-0.39 |
|||
|
6.3 |
1.2895 |
1.2895 |
1 |
-1.3 |
0.39 |
|||
|
6.4 |
1.2895 |
1.2895 |
1 |
-1.3 |
-0.39 |
|||
|
6.5 |
1.2895 |
1.2895 |
1 |
0.39 |
1.3 |
|||
|
6.6 |
1.2895 |
1.2895 |
1 |
-0.39 |
1.3 |
|||
|
6.7 |
1.2895 |
1.2895 |
1 |
0.39 |
-1.3 |
|||
|
6.8 |
1.2895 |
1.2895 |
1 |
-0.39 |
-1.3 |
|||
|
7 |
7.1 |
0.8105 |
0.8105 |
1.3 |
0.39 |
|||
|
7.2 |
0.8105 |
0.8105 |
1.3 |
-0.39 |
||||
|
7.3 |
0.8105 |
0.8105 |
-1.3 |
0.39 |
||||
|
7.4 |
0.8105 |
0.8105 |
-1.3 |
-0.39 |
||||
|
7.5 |
0.8105 |
0.8105 |
0.39 |
1.3 |
||||
|
7.6 |
0.8105 |
0.8105 |
-0.39 |
1.3 |
||||
|
7.7 |
0.8105 |
0.8105 |
0.39 |
-1.3 |
||||
|
7.8 |
0.8105 |
0.8105 |
-0.39 |
-1.3 |
||||
Setelah tahap desain pemodelan,
mendefenisikan material, penampang, beban, dan menentukan kombinasi pembebanan,
maka analisa struktur dapat langsung dilakukan dengan memilih menu analysis
options, centang bagian available DOFs terhadap arah UX, UY, UZ, RX, RY, RZ
karena analisa yang dilakukan dengan 3 dimensi. Kemudian menekan F5 untuk
memunculkan menu run, kemudian langkah terakhir adalah memilih menu run now dan
program akan menjalankan perhitungan analisis struktur (Badan Standardisasi Nasional, 2016). Hasil analisis tampak pada gambar
4, ragam getar dominan pertama seperti tampak pada gambar 5, dan gaya aksial akibat kombinasi 2.1 pada gambar 6.
Gambar 4. Hasil analisis program SAP 2000
Gambar 5. Ragam getar dominan pertama
Gambar 6. Gaya tarik kabel backstay akibat kombinasi 2.1
Pada hasil tersebut didapat gaya
tarik kabel maksimum di kombinasi 2.1 yang terjadi pada kabel backstay sebesar
169,09 kN diperoleh dari keempat kabel backstay pada
jembatan gantung seperti diperlihatkan pada tabel 2.
Tabel 2. Gaya tarik kabel backstay
|
Frame |
Output Case |
P (kN) |
Keterangan |
|
2 |
Comb. 2.1 |
168,90 |
Left side
span |
|
4 |
Comb. 2.1 |
169,09 |
Left side
span |
|
425 |
Comb. 2.1 |
168,89 |
Right side
span |
|
427 |
Comb. 2.1 |
169,08 |
Right side
span |
Pada penelitian ini lebih difokuskan
pada blok angkur tipe gravitasi, maka beban yang akan digunakan adalah beban
kabel backstay sebesar 169,09 kN. Kemudian beban ini akan diterapkan pada angkur gravitasi di program Ansys.
B. Tegangan Blok Angkur pada Ansys
Setelah analisa struktur jembatan
gantung dilakukan pada SAP 2000 dan mendapatkan gaya
tarik maksimum backstay, maka tahap selanjutnya adalah memodelkan blok angkur
pada program Ansys untuk mendapatkan tegangan yang terjadi. Pemodelan dimensi blok angkur jembatan gantung Pisang Binaya pada program
Ansys dapat dilihat pada gambar 7.
Gambar 7. Model dari angkur gravitasi jembatan gantung Pisang Binaya pada Ansys
Tahap pertama sebelum pemodelan
adalah melakukan input material yang akan digunakan.
Pada tahapan ini digunakan material beton dengan mutu beton fc� 20 MPa untuk
blok beton dan baja SS400 dengan fy 245 MPa untuk blok baja yang tertanam pada
blok beton� yang
digunakan pada angkur gravitasi seperti yang diperlihatkan pada gambar 8.
Gambar 8. Input material pada Ansys
Tahap berikutnya melakukan meshing
pada model yang telah disiapkan. Meshing adalah proses membagi komponen yang akan dianalisis
menjadi elemen � elemen kecil atau diskrit, semakin kecil ukuran mesh maka akan
semakin detail pula hasil yang didapatkan, dan semakin baik kualitas mesh maka
akan semakin tinggi tingkat konvergensinya (Pinem, 2017). Pada penelitian ini ditentukan
ukuran mesh senilai 10 cm yang diterapkan pada geometri angkur seperti yang
terlihat pada gambar 9.
Gambar 9. Meshing pada angkur gravitasi jembatan gantung
Kemudian untuk menyamakan model
dengan kondisi pada lapangan maka dibutuhkan tahap kondisi batas atau yang
disebut Boundary condition. Ini merupakan tahapan penting pada Ansys
untuk menentukan pembebanan, dan jenis perletakan dimana harus diatur
sedemikian rupa sehingga semirip mungkin dengan kondisi nyata sehingga model
struktur dapat mewakili kondisi nyata yang terjadi di lapangan. (Ansys Inc, 2020). Pada tahap inilah beban tarik
maksimum dari kabel backstay sebesar 169,09 kN diinput
sebagai beban pada model angkur gravitasi pada penelitian ini. Jenis perletakan
pada model angkur diasumsikan Fixed support. Kondisi batas pada blok angkur dapat dilihat pada gambar 10.
Gambar 10. Kondisi batas pada blok angkur
Setelah kondisi batas diatur, tahap
selanjutnya adalah menentukan hasil analisis yang berupa tegangan dengan cara memilih menu solution kemudian memilih equivalent
stress. Tahap berikutnya memastikan keseluruhan proses telah benar dengan cara melihat tanda centang pada setiap proses seperti pada
gambar 11. Setelah semua proses sudah tercentang maka kembali ke menu solution
dan pilih solve untuk memulai Ansys melakukan analisis.
Gambar 11. Tanda centang pada proses analisa program Ansys
Hasil perhitungan elemen hingga
dengan bantuan program Ansys memperlihatkan tegangan tarik maksimum pada blok
beton angkur adalah sebesar 0,081 Mpa dan berada dekat dengan posisi blok baja
yang tertanam seperti�
diperlihatkan pada gambar 12 Tegangan ini diperoleh beton setelah
tegangan didistribusi terlebih dahulu pada blok baja H 300x300x10x15 yang
tertanam pada angkur gravitasi sehingga beton menerima tegangan tarik yang
lebih kecil. Pada baja profil H sebagai angkur yang tertanam
menghasilkan tegangan sebesar 15,014 MPa. Proses ini terjadi pada
simulasi program Ansys. Hasil analisa dari program Ansys
dapat dilihat pada gambar 12.
Gambar 12. Hasil analisa blok angkur pada Ansys
Pengaruh terhadap bentuk geometri blok angkur akibat gaya tarik kabel backstay dari hasil analisa
Ansys terlihat tidak terlalu berbeda pada beton di daerah berwarna biru yang
berarti tegangan pada daerah tersebut tidak berbeda jauh dengan titik � titik
yang lain dan daerah biru tersebut menunjukkan bahwa tegangan masih dalam batas
yang aman.
Kuat jebol beton juga perlu
diperhitungkan untuk memastikan kekuatan blok angkur terhadap jebol beton (Badan Standarisasi Internasional, 2019). Berdasarkan hasil yang didapat kuat
jebol beton tersebut adalah 5.094, kN, maka dapat disimpulkan bahwa blok beton
pada angkur sangat kuat untuk menahan keruntuhan jebol beton akibat gaya tarik
kabel backstay 169,09 kN < 5.094,5 kN. Ilustrasi kuat jebol pada beton dapat dilihat pada gambar 13.
Gambar 13. Ilustrasi jebol beton pada blok angkur
C. Penulangan Blok Angkur
Berdasarkan hasil analisa Ansys dapat
diketahui tegangan tarik maksimum pada blok beton
angkur. Berdasarkan hasil analisa Ansys yang telah diperoleh
didapatkan juga tegangan pada tiap 1 meter lapis layernya seperti diperlihatkan
pada gambar 14.
Gambar 14. Tegangan pada tiap 1 m lapis layer
Pertimbangan breakout area pada tarik
beton akibat gaya tarik angkur seperti yang dijelaskan
pada ACI 318-19, section 17. Daerah breakout menjadi area yang kritikal dengan
sudut 350 terhadap tegak lurus gaya (ACI Commite 318, 2019). Merujuk pada hasil running Ansys
diperoleh tegangan maksimum sekitar area blok beton
angkur sebesar 0,081 MPa.
Tegangan maksimum sebesar 0,081 Mpa
kemudian didistribusikan searah x dan y. Dari analisa program Ansys� diperoleh tegangan sebesar 0,0361 MPa dimulai
dari bagian atas angkur 1 m seperti yang terlihat pada gambar 14. Selanjutnya
dilakukan pemetaan area berdasarkan ACI 318-19 section 17 dan SNI 2847 tahun
2019 didapat breakout area yang disesuaikan dengan tegangan yang terjadi
sepanjang struktur. Berdasarkan kondisi tersebut maka penulangan pada struktur blok angkur dapat didesain sesuai tegangan maksimum per
layer 1 meter.
Tegangan tarik izin pada beton
bertulang didapat dengan formula, ft = 6(√fc�). Diketahui pada dokumen
perencanaan bahwa,
fc� = 20 Mpa = 2900,75 psi dan
ft = 6(√2900,75) = 323,15 psi =
2,23 Mpa. (Nawy et al., 2015).
Berdasarkan hasil running Ansys
didapat tegangan tarik maksimum beton σt = 0,081 Mpa < ft = 2,22 Mpa sehingga ft�
> σt yang berarti tegangan tarik pada beton masih dalam batas
yang aman, sehingga hanya diperlukan penulangan minimum. Namun
jika tegangan tarik yang terjadi melebihi tegangan izin maka diharuskan
menggunakan penulangan yang maksimal.
Berdasarkan tegangan per 1 meter pada
blok angkur maka diperoleh layer gaya per 1 meter.
Layer gaya per 1 meter menjadi referensi dalam
perhitungan penulangan pada blok angkur sehingga dapat dilakukan perhitungan
sesuai gaya yang bekerja, tidak disamaratakan sepanjang struktur seperti yang
diperlihatkan pada gambar 15 yang menunjukkan layer gaya.
Gambar 15. Layer gaya per 1 meter terhadap x dan y
Perhitungan dilakukan pada daerah
kritikal dan non kritikal pada struktur angkurnya seperti pada gambar 16.
Gambar 16. Daerah kritkal dan nonkritikal blok angkur (cm)
Hasil analisa penulangan pada blok angkur disajikan pada tabel 3 berikut.
Tabel 3. Hasil Analisa Penulangan Blok Angkur
|
Diameter |
Jarak Tulangan eksisting |
Jarak Hasil analisa Penulangan |
||||||
|
Daerah Kritikal (mm) |
Daerah Non Kritikal
(mm) |
Daerah Kritikal (mm) |
Daerah Non Kritikal
(mm) |
|||||
|
x |
y |
x |
y |
x |
y |
x |
y |
|
|
D 16 |
- |
150 |
- |
150 |
- |
150 |
- |
250 |
|
D 13 |
150 |
- |
150 |
- |
150 |
- |
250 |
- |
Dari hasil analisa penulangan penulis
dapat mengoptimasi tulangan pada daerah kritikal dan non kritikal. Jarak penulangan eksisting semula
baik pada daerah kritkal dan non kritikalnya adalah seragam dengan jarak 150
mm. Kemudian penulis mengoptimalkan dengan jarak 250 mm pada daerah non
kritikalnya dan 150 mm tetap pada daerah kritikalnya seperti diperlihatkan pada
tabel 3 dan gambar 17.
Gambar 17. Hasil analisa tulangan
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil analisa program Ansys diperoleh tegangan maksimum pada baja angkur yang
tertanam sebesar 15,014 MPa dan diperoleh tegangan maksimum yang terjadi pada
beton sebesar 0,081 MPa. Tegangan tarik yang terjadi pada beton ini sangat
kecil karena tegangan maksium keseluruhan pada blok
angkur dipikul oleh blok baja yang tertanam.
Hasil analisa penulangan membuktikkan
bahwa beton pada angkur sudah sangat aman. Kuat geser beton jauh lebih besar dari pada beban ultimit yang
terjadi baik pada daerah kritikal dan non kritikal. Sehingga
beton pada angkur ini disarankan menggunakan tulangan minimum. Tulangan
eksisting pada kondisi lapangan sudah sangat mampu untuk memikul gaya yang
terjadi pada blok angkur namun pada penulisan ini penulis merekomendasikan
penulangan yang lebih rapat pada daerah tarik maksimumnya saja atau pada daerah
kritikalnya sesuai dengan sudut kritikal 350 pada angkur, sehingga penulis
memberikan jarak penulangan yang lebih lebar pada daerah non kritikalnya. Hal
ini juga dapat memberikan nilai yang lebih ekonomis untuk penulangan pada blok angkur.
ACI Commite 318. (2019). Building Code Requirements for Structural
Concrete. ACI.
Ali, S., Thambiratnam, D., Liu, X.,
& Fawzia, S. (2020). Numerical study of pedestrian suspension bridge with
innovative composite deck. Heliyon, 6(7), e04473.
https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2020.e04473. Google Scholar
Anggraeni, I., & Herbudiman, B.
(2009). Studi Parameter Desain Dimensi Elemen Struktur Jembatan Gantung Pejalan
Kaki dengan Bentang 120 m. Media Teknik Sipil, 8(2), PP-125. Google Scholar
Ansys Inc. (2020). Structural
Analysis Guide. Canonsburg: Southpointe.
Badan Standardisasi Nasional.
(2016). Pembebanan
untuk jembatan. Binamarga.Pu.Go.Id.
Badan Standarisasi Internasional. (2019). Tata
Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Nongedung. Tekonsipil.Sv.Ugm.Ac.Id.
Dewobroto, W. (2022). Failure
analysis of suspension bridge tower using Direct Analysis Method (DAM). Proceedings
of the Institution of Civil Engineers-Forensic Engineering, 175(3),
1�11. https://doi.org/10.1680/jfoen.21.00009. Google Scholar
Eligehausen, R., Mall�e, R., &
Silva, J. F. (2006). Anchorage in concrete construction (Vol. 10). Stuttgart:
Ernst & Sohn GmbH & Co. KG. Google Scholar
Han, Y., Liu, X., Wei, N., Li, D.,
Deng, Z., Wu, X., & Liu, D. (2019). A comprehensive review of the
mechanical behavior of suspension bridge tunnel-type anchorage. Advances in
Materials Science and Engineering, 2019.
https://doi.org/10.1155/2019/3829281. Google Scholar
Huda, A., & Apriyatno, H.
(2020). Eksperimen Tarik Angkur Tipe Ekspansi secara Cast in Place dan
Postinstalled dengan Keggalan Breakout Concrete. Seminar Nasional Teknik Sipil
X 2020. Google Scholar
Kumaseh, F., Wallah, S. E., &
Pandaleke, R. (2015). Pengaruh Jarak Sengkang Terhadap Kapasitas Beban Aksial
Maksimum Kolom Beton Berpenampang Lingkaran Dan Segi Empat. Jurnal Sipil
Statik, 3(9), 644�650. Google Scholar
Pemberlakukan Pedoman Perencanaan
dan Pelaksanaan Konstruksi Jembatan Gantung Untuk Pejalan Kaki, Pub. L. No.
Surat Edaran. No. 02/SE/M/2010. (2010).
Mering, G. K., & IIK, A. D.
(2020). Perancangan Jembatan Gantung menggunakan Konstruksi Kabel di Sungai
Boyong Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Prosiding Forum Studi Transportasi
Antar Perguruan Tinggi, 200. Google Scholar
Nawy, E. G., Tavio, & Kusuma,
B. (2015). Beton bertulang: sebuah
pendekatan mendasar. Surabaya: ITS Press.
Pasak, I. P. (2018). Modifikasi
Perencanaan Fly Over Lingkar Dalam Barat Surabaya Dengan Menggunakan Balok Box
Girder Pratekan. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Google Scholar
Pinem, M. D. (2017). ANSYS:
Menganalisis Berbagai Permasalahan Dalam Ilmu Keteknikan. Bandung:
Informatik. Google Scholar
Purnamasari, E. (2016). Analisa
Retak pada Balok Tinggi dengan Variasi Jarak Sengkang menggunakan Ansys. Jurnal
Ilmiah Teknik Sipil TRANSUKMA, 2(1), 35�42. Google Scholar
Rayhan, S. Bin, & Rahman, M. M.
(2020). Modeling elastic properties of unidirectional composite materials using
Ansys Material Designer. Procedia Structural Integrity, 28, 1892�1900.
https://doi.org/10.1016/j.prostr.2020.11.012. Google Scholar
Santony, J. (2020). Simulasi
penjadwalan proyek pembangunan jembatan gantung dengan metode Monte Carlo. Jurnal
Informasi Dan Teknologi, 2(1), 30�35.
https://doi.org/10.37034/jidt.v2i1.34. Google Scholar
Setiati, N. R., & Wardhana, P.
K. (2015). Kekuatan Struktur Jembatan Gantung Sederhana untuk Pejalan Kaki. Jurnal
HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia), 1(2), 67�76.
https://doi.org/10.26593/jh.v1i2.1470.%25p. Google Scholar
Sugiyono. (2018). Metode
Penelitian kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Google Scholar
Suku, Y. L. (2018). Pemodelan dan
Analisis Perilaku Balok Beton Bertulang yang Berbeda Diameter Akibat Variasi
Tata Letak Tulangannya. Media Komunikasi Teknik Sipil, 24(1),
20�28. https://doi.org/mkts.v24i1.17303. Google Scholar
Zhou, Z., Chen, C., Wang, L., Tian,
Y., Feng, H., & Wang, K. (2021). Stability Analysis of The Gravity
Anchorage of a Suspension Bridge Based on Large-Scale Field Tests. Stavebn�
Obzor-Civil Engineering Journal, 30(1). https://doi.org/10.14311/CEJ.2021.01.0021.
Google Scholar
|
Copyright holder : Indra Jhon
Fischer, Johannes Tarigan, Emma Patricia Bangun (2022) |
|
First publication right
: Jurnal Syntax
Transformation This article is licensed under: |