Jurnal Syntax Transformation

Vol. 3 No. 12 Desember 2022

p-ISSN : 2722-7782 e-ISSN : 2722-5356

Sosial Sains

 

TINJAUAN ASPEK FINANSIAL PENGGUNAAN MOBIL LISTRIK DALAM UPAYA MENDUKUNG PENURUNAN EMISI GAS CO2

 

Zakarya Nugraha, Novri Kusumathalhah

Magister Manajemen Teknologi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Email: [email protected], [email protected]

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima

29 November 2022

Direvisi

8 Desember 2022

Disetujui

14 Desember 2022

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada kuartal tiga tahun 2022 sangat berdampak bagi perekonomian di masyarakat. Selain terjadi inflasi yang juga diikuti oleh kenaikan harga bahan pokok, hal tersebut ikut menurunkan mobilitas masyarakat dalam penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak. Seharusnya hal ini dapat dimanfaatkan pemerintah sebagai momentum untuk menggalakkan penggunaan kendaraan listrik. Di sisi lain, harga kendaraan listrik masih tergolong tinggi (mahal) jika dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar minyak. Walaupun secara aspek finansial pemanfaatan kendaraan listrik dapat lebih menguntungkan jika ditinjau dalam kurun waktu tertentu. Hal ini dapat ditunjukkan dari pengeluaran biaya per kilometer antara kendaraan listrik lebih rendah dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar minyak. Dari sudut pandang analisa perbandingan biaya pada kurun waktu tertentu, penggunaan kendaraan listrik lebih menguntungkan dibandingkan dengan kendaraan berbahan bakar minyak. Diharapkan kecenderungan masyarakat dapat teralihkan untuk menggunakan kendaraan listrik. Sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak yang sejalan dengan upaya mengurangi emisi gas CO2.

Kata kunci:

Kendaraan Listrik, Finansial, Emisi Gas CO2.

 

Keywords:

Electric Car, Financial, CO2 Emissions

ABSTRACT

The increase in the price of fuel oil (BBM) in the third quarter of 2022 will have a huge impact on the economy of the community. In addition to inflation, which was also followed by an increase in the price of basic commodities, this also reduced people's mobility in the use of oil-fueled vehicles. The government should use this as a momentum to promote the use of electric vehicles. On the other hand, the price of electric vehicles is still relatively high (expensive) when compared to oil-fueled vehicles. Although from a financial perspective, the use of electric vehicles can be more profitable if it is reviewed within a certain period. This can be shown by the lower cost per kilometer between electric vehicles compared to oil-fueled vehicles. From the point of view of cost comparison analysis over a certain period, the use of electric vehicles is more profitable than oil-fueled vehicles. It is hoped that the tendency of the community can be diverted to using electric vehicles. So that it can indirectly reduce the use of oil-fueled vehicles which is in line with efforts to reduce global warming.

 


Pendahuluan

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Korlantas POLRI (korlantas.polri.go.id per tanggal 10 Agustus 2022) jumlah populasi kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 149.707.859 unit. Dimana sebanyak 23.230.797 unit merupakan jumlah populasi untuk mobil pribadi (Ismiyati et al., 2014). Ditambah lagi informasi dari Gaikindo bahwasanya penjualan mobil sampai quartal III tahun 2022 juga mengalami peningkatan sekitar 25,7% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya (Budiningsih et al., 2022). Sehingga diperkirakan trend penjualan ini akan terus meningkat kembali lagi seperti sebelum pandemi Covid-19. Dari data tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sangat tinggi. Seperti data yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) per April 2022, menunjukkan konsumsi BBM merupakan penyumbang terbesar konsumsi energi nasional yaitu sebesar 47,29%. Angka ini jauh melebihi konsumsi energi jenis lain seperti listrik 18,52% dan gas alam 9,82% (Hambali et al., 2007).

Selain itu, sektor transportasi ini juga sebagai penyumbang utama konsumsi bahan bakar fosil dunia (Setiawan et al., 2019). Penggunaan berkelanjutan bahan bakar fosil telah menyebabkan peningkatan yang stabil dari konsentrasi CO2 di atmosfer menjadi 400,26 ppm pada tahun 2015 (Abas et al., 2015). Emisi CO2 yang dihasilkan oleh sektor transportasi adalah 22,9% dari total emisi CO2 di dunia (Woo et al., 2017). Untuk menghambat laju emisi CO2, harus ada langkah untuk transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan yang ramah lingkungan (Kristianturi et al., 2021). Penggunaan energi alternatif seperti energi listrik untuk sektor transportasi harus didorong untuk mempercepat proses transisi energi.

Di Indonesia mobil listrik mulai dikembangkan pada tahun 2012. Sampai dengan oktober tahun 2022 jumlah populasi mobil listrik di indonesia mencapai 4904 (Sidabutar, 2020). Angka ini sangat jauh dibandingkan jumlah populasi mobil ber bahan bakar fosil. Hal ini disebabkan karena kecenderungan masyarakat di indonesia untuk menggunakan mobil listrik masih rendah dikarenakan harga mobil listrik yang masih tergolong tinggi (mahal) dan ekosistim mobil listrik seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) secara jumlah masih terbatas (Putri & Rahmawan, 2022).

Untuk meningkatkan populasi penggunaan kendaraan listrik dan meningkatkan ekosistem kendaraan listrik, presiden Joko Widodo berencana untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri mobil listrik dunia dan berkomitmen untuk meningkatkan ekosistem kendaraan listrik (Sidabutar, 2020). Apalagi indonesia merupakan negara penghasil nikel terbesar di dunia, dimana itu merupakan bahan baku utama baterai kendaraan listrik (Thamsi, 2019). Kenaikan harga BBM pada quartal III tahun 2022 ini juga seharusnya menjadi momentum untuk mendorong penggunaaan mobil listrik (Pratama, 2022). Karena secara biaya operasional, konsumsi energi yang dibutuhkan untuk mencapai jarak tertentu mobil listrik lebih efisien dibandingkan mobil berbahan bakar fosil (Waloyo, 2012). Sehingga pada tulisan ini akan dianalisa perbandingan biaya operasional antara mobil listrik dengan mobil berbahan bakar fosil (bbm). Sehingga diharapkan dengan adanya tinjauan secara aspek finansial penggunaan (operasional) mobil listrik dapat mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan mobil listrik.

 

Metode Penelitian

Data dan informasi yang didapat dari berbagai sumber seperti artikel, jurnal, berita di media dan penelitian dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan metode dan rumus perbandingan dari jenis/ kelas mobil bbm yang banyak digunakan oleh masyarakat terhadap mobil listrik dengan jenis/kelas yang relatif sama (Sugiyono, 2018). Konsumsi bahan bakar bbm atau listrik dalam jarak tertentu  juga menjadi bahan perbandingan dalam kajian ini.

Perhitungan finansial penggunaan mobil didasarkan pada perhitungan biaya tetap (fixed cost) dan perhitungan biaya tidak tetap (variable cost). Dengan ditambahkan asumsi penggunaan dari mobil setiap harinya yang diakumulasi menjadi tahun.


 

Biaya Pembelian Kendaraan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Depresiasi

 

 

Biaya Tetap
(Fixed Cost)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biaya Kewajiban
(Pajak)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Total Biaya

 

 

 

 

 

 

 

 

Konsumsi Bahan Bakar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biaya Tidak Tetap
(Variable Cost)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biaya Service & Suku Cadang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Bagan Alir Analisa Data

 


Selain itu terdapat beberpa metode dalam perhitungan depresiasi sebuah aset. Saat ini metode depresiasi yang akan digunakan adalah Metode Garis Lurus (Straight-Line Method). Dengan menggunakan metode ini, beban penyusutan sebuah aset akan memiliki nilai yang sama besar di setiap periodenya. Sehingga bila dibuatkan grafik untuk nilai penyusutan akan membentuk garis lurus.

Besarnya penyusutan dengan menggunakan metode ini dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

 

 

Dengan :          

r           : beban depresiasi per periode

C          : Harga Perolehan

S          : Nilai Sis

N         : Jumlah periode / masa manfaat

 

Nilai ekonomis suatu barang dapat dihitung menggunakan rumusan sebagai berikut:

 

 

Dengan:           

e          : nilai keekonomisan

TB       : Total Biaya, yang meliputi Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap

S          : Nilai Sisa pada tahun ke-n, yang telah terdepresiasi

 

Hasil dan Pembahasan

A.  Pengklasifikasian Jenis Mobil

Sebagai informasi, jenis mobil yang ada dunia dan Indonesia terdiri dari berbagai kelas. karena banyaknya kelas yang ada, penulis coba mereduksi menjadi 2 (dua) kelas yang banyak digunakan oleh masyarakat (Nugroho & Emiliyawati, 2017). Kedua kelas itu adalah kelas jenis city car (mobil perkotaan) dan Sport Utility Vehicle (SUV) atau sering disebut mobil di segala medan. Lalu dari 2 (dua) kelas itu digolongkan lagi menjadi mobil yang berbahan bakar minyak (bbm) dan mobil listrik (Electrical Vehicle/ EV).

Merk mobil untuk golongan mobil berbahan bakar minyak (bbm) kelas city car yang dibandingkan adalah Toyota Agya, Honda Brio dan Suzuki Ignis, dengan harga rata-rata dari ketiga mobil tersebut adalah Rp 200.634.000,- dan untuk golongan mobil listrik (EV) kelas city car yang setara yaitu Wuling Air EV dengan harga Rp 295.000.000,-. Sedangkan kelas SUV, merk mobil untuk jenis bbm yang dibandingkan adalah Toyota Rush, Honda HR-V, dan Suzuki XL7 dengan harga rata-rata ketiga mobil tersebut yaitu Rp 329.363.000.,- dan untuk golongan mobil listrik kelas SUV yang setara yaitu Hyundai Kona Electric dengan harga Rp 742.000.000,-.


 

Gambar 2. Jenis Mobil beserta Harga Beli

 


B.  Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya tetap (Fixed Cost) adalah biaya yang jumlahnya tetap dalam volume kegiatan tertentu (Lasena, 2013). Jadi biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah dalam rentang waktu tertentu, berapapun jumlah aktivitas atau kegiatannya. Pada operasional kendaraan biaya tetap terdiri :

1.   Pajak Tahunan

2.   Depresiasi


 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Biaya Tetap (Fixed Cost)

 


Biaya Depresiasi Selama 10 Tahun Mobil Kelas City Car Berbahan Bakar BBM


 

 


Þ    Biaya Depresiasi Selama 10 Tahun Mobil Kelas City Car Berbahan Bakar Listrik (Electric Vehicle/ EV)


 

 


Þ    Biaya Depresiasi Selama 10 Tahun Mobil Kelas SUV Car Berbahan Bakar BBM


 

 


Þ    Biaya Depresiasi Selama 10 Tahun Mobil Kelas SUV Berbahan Bakar Listrik (Electric Vehicle/ EV)


 

 

Gambar 4. Depresiasi Mobil BBM vs Mobil Listrik

 


C.  Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)

Biaya tidak tetap adalah biaya yang besarnya mengikuti volume kegiatan (OJK). Jadi dapat diartikan biaya tidak tetap (variabel cost) adalah biaya yang berubah-rubah atau naik turun tergantung volume operasional suatu aktivitas. Apabila intensitas aktivitas operasional tinggi maka biaya tidak tetap juga meningkat. Pada operasional kendaraan, biaya tidak tetap meliputi :

1.   Biaya Konsumsi BBM/Listrik (Konsumsi BBM/Listrik ditinjau terhadap jarak dan konsumsi bbm/listrik per jarak tertentu).

2.   Biaya Service Pemilaharaan Kendaraan & Biaya Penggantian suku cadang kendaraan.

Untuk data penggunaan operasional akan diasumsikan jarak dari bodetabek (daerah penyangga) ke daerah DKI Jakarta, rata-rata perjalan = 33 km (pergi-pulang = 66 km/hari). Pemakaian rata-rata 1 bulan (asumsi 25 hari) = 1.650 km (19,800 km per tahun).


 

Gambar 5. Biaya Tidak Tetap (Variable Cost)

 

Gambar 6. Perbandingan Biaya Tetap dan Biaya Tidak Tetap Mobil BBM vs Mobil Listrik

 


Untuk mendapatkan biaya operasional (biaya bahan bakar, perawatan dan penggatian suku cadang) per kilometer (km) menggunakan nilai dari biaya tidak tetap (variable cost). Dari grafik pada gambar 3 diatas didapatkan nilai biaya operasional mobil BBM dan mobil listrik sebagai berikut:


 

Tabel 1. Perbandingan Biaya Operasional Mobil BBM vs Mobil Listrik

Jenis Mobil

Biaya Operasional per kilometer

City Car - BBM

Rp.836.45,- per km

City Car - Listrik

Rp.260.22,- per km

SUV - BBM

Rp.1,153.54,- per km

SUV - Listrik

Rp. 332.85,- per km

 


Total biaya pengeluaran mobil bbm dan mobil listrik yang mencakup biaya tetap, biaya tidak tetap dan harga mobil pada saat pembelian akan dianalisa sampai kurun waktu dimana total biaya pengeluaran mobil listrik lebih rendah daripada mobil bbm. Perbandingan total biaya pengeluaran ditampilkan pada grafik sebagai berikut:


 

Gambar 7. Perbandingan Total Biaya Mobil BBM vs Mobil Listrik – City Car

 

Gambar 8. Perbandingan Total Biaya Mobil BBM vs Mobil Listrik – SUV

 


Nilai ekonomis dari penggunaan mobil bbm dan mobil listrik didapatkan dari Total biaya dikurangi nilai asset pada tahun ke-n. Nilai asset pada tahun ke-n merupakan harga mobil yang telah terdepresiasi. Pada kajian ini nilai asset akan ditinjau sampai tahun ke-10 penggunaan mobil.


 

 

 

 

 

 

Tabel 2. Perbandingan Nilai Keekonomisan Mobil BBM vs Mobil Listrik

Jenis Mobil

Total Biaya

Nilai Asset (tahun ke-10)

Nilai Ekonomis

Mobil BBM - City Car

Rp.392,172,000

Rp.104,329,680

Rp.287,942,320

Mobil Listrik - City Car

Rp.351,524,400

Rp.224,200,000

Rp.127,324,400

Mobil BBM - SUV

Rp.598,664,400

Rp.171.268.760

Rp.427,395,640

Mobil Listrik - SUV

Rp.815,405,500

Rp.563,920,000

Rp.251,485,500

 


Dari tabel diatas menunjukkan penggunaan mobil listrik pada kelas City car dan SUV memiliki nilai ekonomis yang lebih baik dibanding mobil BBM.

 

Kesimpulan

Dari hasil yang dipaparkan dapat disimpulkan bahwa total biaya penggunaan mobil listrik pada awal penggunaan sampai tahun tertentu lebih mahal daripada mobil BBM. Pada kelas city car total biaya penggunaan mobil listrik lebih menguntungkan daripada mobil BBM setelah memasuki tahun ke-7 penggunaan. Sedangkan pada kelas SUV setelah memasuki tahun ke-21 penggunaan. Nilai depresiasi mobil listrik lebih kecil dari mobil BBM. Sehingga nilai asset mobil listrik pada tahun ke-n (pada kasus ini ditinjau pada tahun ke-10) lebih besar daripada mobil BBM. Biaya operasional mobil listrik per kilometer lebih kecil dibandingkan mobil BBM. Setelah tahun ke-10 penggunaan, mobil listrik memilik nilai ekonomis yang lebih baik menguntungkan dibandingkan mobil BBM.

Untuk meningkatkan daya tarik masyarakat Indonesia yang masih rendah dalam penggunaan mobil listrik dikarenakan biaya awal yang tinggi, pemerintah dapat memberikan insentif pajak dan biaya penambahan daya listrik yang murah. Sehingga masyarakat bisa melihat faktor ekonomis dalam penggunaan mobil listrik.

Selain itu percepatan ekosistem kendaraan listrik dengan memperbanyak Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SBKLU) juga akan menjadi trigger bagi masyarakat untuk beralih dari mobil BBM ke mobil listrik.

Bila penggunaan mobil listrik meningkat maka pengurangan emisi gas CO2 juga akan lebih signifikan dan dapat mengurangi efek rumah kaca. Apalagi bila sumber listrik SPKLU dan SBKLU berasal dari pembangkit listrik energi baru terbarukan (renewable energy), maka penggunaan mobil listrik akan berkontribusi 100 persen (end to end) untuk perbaikan lingkungan dan kualitas udara.

 

BIBLIOGRAFI

 

Abas, N., Kalair, A., & Khan, N. (2015). Review of fossil fuels and future energy technologies. Futures, 69, 31–49. https://doi.org/10.1016/j.futures.2015.03.003. Google Scholar

 

Budiningsih, H. S. S., Zulkifli, Z., & Rachbini, W. (2022). Pengaruh Pendemi Covid-19 Terhadap Kinerja Perusahaan (Profitabilitas, Likuiditas, Faktor Eksternal, Dan Harga Saham) Pada Perusahaan Industri Otomotif Di BEI. Jurnal Manajemen Dan Bisnis, 4(01), 15–36. Google Scholar

 

Hambali, E., Mujdalifah, S., Tambunan, A. H., Pattiwiri, A. W., & Hendroko, R. (2007). Teknologi bioenergi. AgroMedia. Google Scholar

 

Ismiyati, I., Marlita, D., & Saidah, D. (2014). Pencemaran udara akibat emisi gas buang kendaraan bermotor. Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik, 1(3), 241–248. Google Scholar

 

Kristianturi, R., Jinca, M. Y., & Akil, A. (2021). Strategi Pengembangan Biodiesel Untuk Sektor Transportasi Darat yang Berkelanjutan di Sulawesi Selatan. Jurnal Wilayah & Kota Maritim (Journal of Regional and Maritime City Studies), 9(1). Google Scholar

 

Lasena, S. R. (2013). Analisis penentuan harga pokok produksi pada PT. Dimembe Nyiur Agripro. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 1(3). Google Scholar

 

Nugroho, Y. S., & Emiliyawati, N. (2017). Sistem Klasifikasi Variabel Tingkat Penerimaan Konsumen Terhadap Mobil Menggunakan Metode Random Forest. Jurnal Teknik Elektro, 9(1), 24–29. Google Scholar

 

Pratama, R. (2022). Analisis Penilaian Kewajaran Harga Saham Dengan Metode Discounted Cashflow Pada Pt Bukit Asam Tbk. Universitas Jambi. Google Scholar

 

Putri, S. A., & Rahmawan, G. (2022). Pengaruh Green Life Style, Futuristic Design, Technology Dan Confidence Terhadap Minat Beli Mobil Listrik. Jurnal Kelola: Jurnal Ilmu Sosial, 5(1), 72–81. Google Scholar

 

Setiawan, A., Tua, D. P., & Husin, M. K. E. (2019). Pengaruh Konsumsi Bahan Bakar Fosil Terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia Dan Hubungan Timbal Balik Di Antara Keduanya. Jurnal Teknologi Mineral Dan Batubara, 15(3), 213–223. Google Scholar

 

Sidabutar, V. T. P. (2020). Kajian pengembangan kendaraan listrik di Indonesia: prospek dan hambatannya. Jurnal Paradigma Ekonomika, 15(1), 21–38. Google Scholar

 

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Google Scholar

 

Thamsi, A. B. (2019). Nikel Lateri Dan Indonesia. Google Scholar

 

Waloyo, H. T. (2012). Peningkatan efisiensi penggunaan daya pada sistem mobil listrik berpenggerak motor dc dengan menggunakan logika kabur (fuzzy logic). Google Scholar

 

Woo, J., Choi, H., & Ahn, J. (2017). Well-to-wheel analysis of greenhouse gas emissions for electric vehicles based on electricity generation mix: A global perspective. Transportation Research Part D: Transport and Environment, 51, 340–350. https://doi.org/10.1016/j.trd.2017.01.005. Google Scholar


 

Copyright holder :

Zakarya Nugraha, Novri Kusumathalhah (2022)

 

First publication right :

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: