Jurnal Syntax Transformation

Vol. 1 No. 5, Juli 2020

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

STRATEGI GURU DALAM MENANAMKAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA PESERTA DIDIK DI APPLE TREE PRE-SCHOOL LOMBOK

 

Dwi Harianti

Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram

Email: hari.harianti@gmail.com

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima 2 Juni 2020

Diterima dalam bentuk revisi 15 Juli 2020

Diterima dalam bentuk revisi

20 Juli 2020

Pembentukan karakter anak usia dini dilaksanakan dengan mengacu pada 18 nilai-nilai karakter yang bersumber dari agama, budaya, dan falsafah bangsa. Pembentukan karakter akan mendapatkan hasil yang maksimal jika guru menerapkan berbagai strategi yang sesuai dengan keadaan peserta didik. Mengacu pada latar belakang tersebut, maka dilakukanlah penelitian terkait strategi guru yang berfokus pada perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi proses internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didik di Apple Tree Pre-School Lombok. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan analisis data secara deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian dilakukan pengecekan keabsahan data yaitu: kredibilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Penelitian ini didukung dengan teori humanistik, teori sistem dan teori nilai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perencanaan yang dilakukan oleh guru yaitu dengan melengkapi dekorasi pada setiap kelas, menyusun program pembelajaran, dan membuat learning centre. Dalam proses pelaksanaan internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter guru menerapkan sebuah pembiasaan yang mencakup 18 nilai-nilai pendidikan karakter yang dimaksud. Selain itu guru juga memilih metode dan teknik pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran. Proses evaluasi yang dilaksanakan oleh guru dituangkan melalui catatan harian (log book), laporan mingguan (daily activity report), laporan perkembangan siswa (progress report) dan buku raport (report book).

Kata kunci:

Strategi, pendidikan karakter, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi



Pendahuluan

Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik ke dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Guru merupakan sumber daya edukatif sekaligus aktor proses pembelajaran yang utama dalam proses belajar mengajar di sekolah. Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar, bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik dan dalam belajar. Demikian halnya dengan pengembangan pendidikan karakter yang menuntut aktifitas, kreatifitas, dan budi pekerti guru dalam membentuk kompetensi pribadi peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran harus sebanyak mungkin melibatkan peserta didik, agar mereka mampu bereksplorasi untuk membentuk kompetensi dengan menggali berbagai potensi dan kebenaran secara ilmiah. Dalam kerangka inilah perlunya membangun guru, agar mereka mampu menjadi fasilitator dan mitra belajar bagi peserta didiknya. Sehubungan dengan itu, penting untuk membangun karakter guru sesuai dengan kebutuhan guru dan perkembangan saat ini.

Guru merupakan profesi/jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup/kepribadian. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan kepada peserta didik.

Penerapan pendidikan karakter kini sudah mulai diterapkan oleh berbagai lembaga pendidikan yang dimulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD). Pendidikan karakter tidak hanya memberikan stimulus untuk tumbuh kembang kecerdasan intelektual (IQ) anak, namun dengan karakter yang kuat kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) akan seimbang. Kecerdasan intelektual adalah syarat minimum kompetensi. Sementara untuk pencapaian prestasi puncak, kecerdasan spiritual lebih berperan besar. Anak akan mengalami masa keemasan (the golden years) yang merupakan masa dimana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Oleh sebab itu masa pra-sekolah (0-6 tahun) adalah momen yang sangat tepat untuk membentuk karakter anak melalui pembiasaan-pembiasaan yang baik (Sukatin et al., 2020) Dalam hal ini peran guru tentu sangat berpengaruh, melalui kebiasaan-kebiasaan yang diberikan anak akan mulai memahami makna kejujuran, tanggung jawab dan lain sebagainya yang berhubungan dengan karakter anak.

Apple Tree Pre-School Lombok merupakan salah satu sekolah internasional yang mengadopsi kurikulum Singapura dengan menggunakan bahasa Inggris dan Mandarin sebagai bahasa pengantar. Proses pembelajaran dibagi kedalam 5 (Lima) level sesuai dengan usia anak yaitu: level Toddler (1,5-2 tahun), Pre-Nursery (2-3 tahun), Nursery (3-4 Tahun), Kindergarten 1 (4-5 tahun), dan Kindergarten 2 (5-6 tahun). Apple Tree Pre-School bertujuan untuk mendidik peserta didik yang berkarakter sesuai dengan visi dan misinya yaitu mendidik anak cerdas dan berkarakter melalui pembelajaran eksperimental. Proses pembelajaran dan penanaman nilai-nilai moral dilakukan dengan menyenangkan melalui pembiasaan-pembiasaan rutin. Sehingga sedini mungkin anak mengetahui bagaimana cara menghargai milik orang lain, saling menolong, mengucapkan kata maaf, permisi, terimakasih dan lain sebagainya yang apabila dilakukan secara terus menerus akan membentuk karakter yang baik pada peserta didik.

Untuk merealisasikan nilai-nilai pendidikan karakter tersebut, tentunya guru harus memilih strategi yang tepat dalam proses belajar mengajar didalam kelas. Sehubungan dengan pernyataan tersebut Guru di Apple Tree Pre-School Lombok menyajikan proses pembelajaran yang menyenangkan dengan strategi yang berbeda pada setiap level. Seperti sekolah PAUD pada umumnya anak akan diberikan kesempatan bermain dengan teman sebayanya. Hal yang menarik perhatian peneliti yaitu guru di Apple Tree Pre-School Lombok menyediakan beberapa lerning centre dengan tujuan dan target yang jelas untuk pengembangan soft skill anak. Sehingga dalam setiap minggu, terdapat target yang ingin dicapai pada tahap perkembangan anak oleh para guru.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti mengangkat fenomena tersebut dan mengkajinya dalam sebuah karya tulis ilmiah berupa jurnal dengan judul Strategi Guru dalam Menanamkan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Pada Peserta Didik (Studi Kasus di Apple Tree Pre-School Lombok). Adapun fokus penelitian mengenai strategi guru untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didik yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Guru yang di maksud adalah guru kelas dan guru bidang studi yang lain (Guru Bahasa Mandarin dan Guru Bahasa Indonesia). Fungsi guru tidak hanya menyampaikan materi yang diajarkan akan tetapi menanamkan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam setiap pembelajaran materi yang disajikan.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu penelitian yang bersifat deskriptif. Sumber data dalam penelitian dibagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder (Zaenab, 2015). Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari semua guru kelas, guru pendamping, serta guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Mandarin. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen, buku-buku referensi yang dapat menunjang penyelesaian penelitian ini, khususnya buku-buku tentang strategi pendidikan, pendidikan karakter, pendidikan anak usia dini, dan buku lainnya. Untuk pemilihan informan dilakukan secara purposive, sedangkan teknik pengumpulan data terdiri dari tiga yaitu (1) observasi, (2) wawancara, (3) dokumentasi.

Data-data yang didapat dalam penelitian ini dianalisis dengan cara deskriptif kualitatif dan interpretatif yaitu dengan cara mengatur secara sistematis hasil observasi, wawancara, dan data dokumentasi yang diformulasikan dalam bentuk deskriptif selanjutnya diolah dengan beberapa tahapan yaitu pengumpulan informasi melalui wawancara, reduksi data yaitu proses pemilihan dan tahap ketiga dari analisis data adalah penyajian data (data display) (Sugiyono, 2013).

 

Hasil dan Pembahasan

Nilai-nilai pendidikan karakter disampaikan pada mata pelajaran Bahasa Inggris pada level bawah yaitu Toddler dan Pre-Nursery sedangkan level atas yaitu Nursery, Kindergarten 1 dan Kindergarten 2 mendapatkan mata pelajaran Pendidikan Moral setiap satu minggu sekali. Terdapat tiga garis besar dalam proses perencanaan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter yang dilaksanakan oleh guru di Apple Tree Pre-School Lombok yaitu melengkapi dekorasi kelas dengan peraturan kelas (ground rules) serta lima kata ajaib (magic words) pada setiap kelas, menyusun program pembelajaran terkait dengan pendidikan karakter, dan membuat learning centre yang juga berfungsi sebagai media pembelajaran di dalam kelas. Setiap persiapan yang dilakukaan oleh guru akan dikonsultasikan ke kepala sekolah melalui pertemuan yang dilaksanakan setiap dua minggu sekali pada hari Rabu.

Untuk membedah rumusan masalah yang kedua, peneliti menggunakan teori sistem. Jika dalam proses perencanaan masuk ke dalam ranah input, maka dalam pelaksanaannya mengkhusus ke ranah proses. Point utama dalam pembentukan karakter yaitu proses pembiasaan yang biasa dilakukan di sekolah berupa berdoa sebelum memulai hari, sebelum makan dan sebelum pulang ke rumah. Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain dengan mengangkat tangan sebelum berbicara, mengantre untuk mencuci tangan atau menggunakan mainan serta saling mengasihi dengan berbagi makanan ataupun mainan. Melalui proses pembiasaan tersebut, diharapkan siswa menjadi lebih disiplin, toleransi, bertanggung jawab dan mandiri. Lebih lanjut Yuyun menjelaskan tentang kemandirian anak sebagai berikut:

1.       Kemandirian fisik, adalah kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Contohnya anak usia 3-4 tahun yang sudah bisa menggunakan alat makan sendiri, mandi, berpakaian, buang air kecil dan air besar sendiri.

2.       Kemandirian psikologis, yaitu kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah yang dihadapi. Contohnya anak yang bisa masuk ke kelas dengan nyaman karena mampu mengontrol dirinya, anak mampu berhubungan dengan orang lain secara independen sebagai individu dan tidak hanya berinteraksi dengan orang tua pengasuhnya (Haliza et al., 2017).

 

Kemandirian secara fisik dan psikologis diajarkan oleh guru melalui proses pembiasaan setiap hari. Salah satu cara melatih kemandirian siswa yaitu dengan melaksanakan toilet training. Belajar menggunakan toilet tidak bisa sampai anak mampu dan ingin. Anak harus mampu mengenali kebutuhan tersebut, belajar menahan air kecil dan besar sampai dia berada di toilet.

Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, guru memilih berbagai strategi/teknik/metode pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter anak. Adapun metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru di sekolah untuk menumbuhkan nilai-nilai pendidikan karakter anak diantaranya yaitu: mendongeng/bercerita, teknik reinforcement (penguatan). Reinforcement (penguatan) adalah segala bentuk respon baik verbal maupun non verbal yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku murid, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik dari peserta didik atas perbuatannya sebagai tindakan dorongan ataupun koreksi (Sulistyaningsih & Cahyani, 2011). Unsur terpenting dalam belajar adalah adanya reinforcement (penguatan) yang tidak dapat dilakukan setiap kali anak melakukan sesuatu, namun dalam waktu-waktu tertentu saja (Erawati, 2018). Dalam hal ini guru berperan untuk memberikan penguatan dan mengingatkan kembali ground rules yang ada di dalam kelas. Jadi penguatan ini merupakan respon yang diberikan oleh guru sebagai suatu penghargaan terhadap kemampuan belajar ataupun tingkah laku anak secara verbal maupun non verbal, dimana respon tersebut dilakukan guru saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

Menggunakan media audio visual. Media audio visual adalah jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat misalnya rekaman video, film, slide suara dan lain sebagainya (Sanjaya, 2019). Dengan menggunakan video maka siswa dapat melihat suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu. Sebagai contoh pada tema olahraga guru memperlihatkan video salah seorang pelari yang bernama Zohri yang bekerja keras hingga meraih juara. Setelah menyaksikan video tersebut guru akan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan mengapa Zohri bisa menjadi juara. Lalu guru memberikan penguatan-penguatan mengenai konsep bekerja keras.

Metode problem solving. Pembelajaran dengan metode pemecahan masalah (problem solving) adalah proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya kedalam situasi baru yang belum dikenal (Utami et al., 2018). Metode ini dapat menghindarkan anak untuk mengambil kesimpulan secara tergesa-gesa, menimbang-nimbang kemungkinan berbagai pemecahan, dan menangguhkan pengambilan keputusan hingga terdapat bukti-bukti yang cukup. Guru akan memberikan kesempatan bermain kepada anak setelah mereka menyelesaikan worksheet sebelum pelajaran selanjutnya dimulai. Hal ini dapat memotivasi anak untuk menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu sebelum menuntut hak. Penanaman nilai kerja keras juga disampaikan melalui berbagai permainan yang disediakan disekolah contohnya ketika bermain puzzle ataupun bermain balok.

Menyalurkan kreativitas anak melalui mata pelajaran kreativitas. Kreativitas dirumuskan sebagai kemampuan untuk membuat kumbinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada. Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi untuk menjadi kreatif, perbedaannya terletak pada derajat dan bidang yang diekspresikan. Disinilah peran orang tua dan pendidik untuk mengembangkan aspek kreativitas anak dengan menyajikan permainan-permainan yang memiliki unsur edukatif.

Metode role playing (bermain peran) di Apple Town. Metode role playing (bermain peran) adalah metode yang melibatkan interaksi antara dua anak atau lebih tentang suatu topic atau situasi, anak melakukan peran masing-masing sesuai dengan tokoh yang ia perankan (Mulia, 2017). Adapun tahap-tahap pelaksanaannya yaitu: Guru memberikan penguatan mengenai ground rules sebelum masuk kedalam ruangan bermain yang bernama Apple Town, guru menjelaskan bahwa hari ini kita akan belajar tentang pemadam kebakaran lalu mengarahkan siswa untuk duduk didepan pos pemadam kebakaran dan memberikan penjelasan mengenai pemadam kebakaran. Lalu memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih peran yang diinginkan. Dengan metode pembelajaran role playing, siswa akan lebih mudah untuk mencerna suatu informasi dari dialog, mimik, dan alur cerita yang sedang dilakoninya. Selanjutnya yaitu melaksanakan karyawisata atau field trip setiap tiga bulan sekali. Metode field trip merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai tempat sekaligus sumber belajar bagi siswa. Metode field trip dalam pembelajaran bukan semata mengajak siswa untuk berwisata kesuatu tempat (Yati, 2016). Menerapkan sistem reward dan punishment oleh guru untuk memberikan apresiasi terhadap pelajaran dan nilai-nilai pendidikan karakter lainnya yang ditanamkan di dalam kelas. Pemberian reward dapat berupa kata-kata pujian, senyuman, tepuk tangan bahkan berupa materi seperti stamp, sticker, dan star yang dilakukan oleh guru Apple Tree Pre-School Lombok dalam proses pembelajaran. Sedangkan punishment atau hukuman diberikan kepada siswa yang melakukan kesalahan, perlawanan atau pelanggaran. Pemberian reward kepada peserta didik diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 69 tentang: penilaian, penghargaan, dan sanksi oleh guru kepada peserta didik yang termaktub pada pasal 38. Reward ialah alat untuk mendidik anak-anak agar anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Pemberian reward memiliki beberapa tujuan seperti meningkatkan perhatian siswa dalam proses belajar mengajar. Membangkitkan, memelihara dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Mengarahkan perkembangan berfikir siswa ke arah berfikir divergen (luas).

Punishment adalah penderitaan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru dan sebagainya) sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan (Hastuti, 2019). Sebagai alat pendidikan, hukuman hendaknya sebagai jawaban atas suatu pelanggaran, sedikit banyaknya bersifat tidak menyenangkan, dan bertujuan kearah perbaikan untuk kepentingan anak tersebut. Bentuk hukuman yang diberikan oleh guru di Apple Tree Pre-School Lombok yaitu penundaan atau pemberhentian waktu bermain agar siswa mengerti tentang konsep kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi dikemudian hari.

Menerapkan metode peer teaching. Berdasarkan hasil observasi, bantuan belajar dari teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan, sebab cara berbicara teman sebaya lebih mudah dipahami selain itu siswa tidak enggan, merasa malu dan lain sebagainya. Metode peer teaching tidak hanya berguna bagi siswa yang enggan bertanya atau kurang aktif, tetapi juga untuk siswa yang dijadikan tutor bagi temannya. Untuk mengoptimalkan penanaman nilai-nilai pendidik pada peserta didik, guru juga mengembangkan nilai-nilai demokrasi dalam proses pembelajaran. Terpenuhinya misi pendidikan sangat tergantung pada kemampuan guru untuk menanamkan setting demokrasi pada siswa, dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk belajar dalam rangka membangkitkan semangat bereksplorasi, berkreasi dan berprakarsa di kalangan siswa agar kelak siswa mampu mengambil keputusan dengan cara terbaik tanpa mengabaikan lingkungan sosialnya.

Sedini mungkin guru telah memperkenalkan beberapa bahan bacaan untuk menumbuhkan minat membaca anak. Dukungan dari pihak sekolah ditunjukkan dengan menyediakan fasilitas berupa perpustakaan dan rak buku di setiap kelas. Selain itu, guru juga menyediakan waktu untuk membaca cerita bersama guna menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap buku bacaan. Selain itu guru juga melibatkan peran orang tua dalam mengasah kemampuan membaca siswa dengan memberikan kebiasaan meminjam buku di perpustakaan setiap seminggu sekali. Dalam hal ini guru merupakan ujung tombak dalam peningkatan minat membaca siswa di sekolah. Oleh sebab itu guru harus memiliki berbagai strategi untuk meningkatkan minat membaca siswa. Sebab dengan meningkatnya minat membaca maka secara langsung kualitas sumber daya manusia juga akan meningkat.

Untuk menumbuhkan nilai peduli sosial anak, diketahui bahwa guru berusaha untuk menanamkan keterampilan-keterampilan sosial berupa:

1.    Kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain. Hal ini dilakukan dengan memberi stimulus kepada anak untuk menyatakan perasaan-perasaannya melalui kata-kata. Dalam proses observasi diketahui terdapat materi dalam pelajaran pendidikan moral yaitu dengan mengubah pesan kamu menjadi aku. Contohnya ketika sebuah permainan berakhir siswa akan menyampaikan pesan kamu bereskan mainannya disarankan untuk diubah kedalam pesan yang lebih positif menjadi aku akan menolongmu.

2.    Kemampuan melakukan kegiatan bermain dan menggunakan waktu luang. Kegiatan dilakukan tanpa mempertimbangkan hasil akhir, semata-mata untuk menimbulkan kesenangan dan kegembiraan saja. Dalam hal ini guru juga memberikan kesempatan bermain kepada anak sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan sikap sosial anak.

Terdapat tiga proses yang diperlukan agar anak mampu bersosialisasi yaitu belajar berperilaku yang diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang dapat diterima, dan perkembangan sikap sosial (Rohayati, 2013). Ketiga proses ini ditanamkan pada kegiatan rutin di pagi hari oleh guru di Apple Tree Pre-School Lombok melalui ground rules dan magic words. Sehingga siswa mampu mamainkan perannya dalam lingkungan sosialnya di sekolah maupun di rumah.

Pada umumnya, anak yang berumur 1,5 hingga 6 tahun masih akan dimanja dan dilayani dalam melakukan segala hal yang mereka butuhkan. Namun dalam berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa guru telah memberikan tugas kepada siswa terkait dengan kebutuhan pribadinya seperti merapikan tas, botol minuman, mainan dan tempat duduknya masing-masing. Selain itu jika siswa menumpahkan air atau makanan, maka siswa tersebut diarahkan untuk membersihkan air atau makanan yang telah ditumpahkan secara mandiri atau dengan bantuan guru. Pemberian tugas kepada anak usia dini dapat dilakukan sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

Cara lain yang dilakukan oleh guru dalam menanamkan nilai tanggung jawab kepada anak yaitu dengan memberikan kepercayaan kepada anak. Memberikan kepercayaan kepada anak adalah cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab dalam diri anak. Anak akan merasa lebih dihargai dan dapat diandalkan seperti memberikan kepercayaan untuk menjadi special person pada hari tertentu. Selain itu guru juga menerapkan metode pemberian tugas untuk menumbuhkan rasa bertanggung jawab pada diri siswa. Pemberian tugas adalah metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk guru secara langsung (Thamrin & Ali, n.d.). Dengan metode pemberian tugas, maka anak akan memperoleh pemantapan cara mempelajari materi pelajaran secara efektif karena dalam kegiatan melaksanakan tugas tersebut, anak memperoleh pengalaman belajar untuk memperbaiki cara belajar sebelumnya.

Proses evaluasi yang dilaksanakan oleh guru di Apple Tree Pre-School Lombok untuk mengukur keberhasilan siswa dalam memahami dan menerapkan 18 nilai-nilai pendidikan karakter yaitu dengan cara mengamati, dan mencatat secara berkesinambungan melalui catatan harian (log book) yang dibuat oleh guru kelas yang mana nantinya akan menjadi acuan guru dalam membuat laporan mingguan (daily activity report), laporan perkembangan siswa (progress report) pada Term 1 dan 3, serta penulisan raport (report book) pada Term 2 dan 4. Penilaian secara langsung sebagai bentuk apresiasi terhadap pencapaian siswa juga dilakukan oleh guru dengan memberikan stamp, sticker ataupun bintang kepada anak sebagai simbol nilai atau hasil yang dicapai oleh siswa. Penilaian-penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan peserta didik.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada pokok masalah dalam penelitian ini tentang strategi guru dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didik di Apple Tree Pre-School Lombok maka peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut: Dalam proses perencanaan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter yang dilaksanakan oleh guru di Apple Tree Pre-School Lombok guru akan melengkapi dekorasi kelas dengan peraturan kelas (ground rules) serta lima kata ajaib (magic words) pada setiap kelas, menyusun program pembelajaran terkait dengan pendidikan karakter, dan membuat learning centre yang juga berfungsi sebagai media pembelajaran di dalam kelas.

Dalam proses pelaksanaan internalisasi nilai-nilai pendidikan karakter guru menerapkan sebuah pembiasaan yang dilaksanakan secara berulang-ulang hingga peserta didik terbiasa untuk melakukan rutinitas yang mencakup 18 nilai-nilai pendidikan karakter yang dimaksud. Selain itu, guru juga memilih metode dan teknik pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran seperti menerapkan metode mendongeng/bercerita, problem solving, role playing, dan peer teaching. Guru memberikan penguatan kepada anak, menggunakan media audio visual, menyalurkan kreativitas anak, melaksanakan karya wisata, menerapkan sistem reward dan punishment, menyediakan bahan bacaan, dan memberikan kepercayaan kepada anak. Dengan penerapan strategi dan metode pembelajaran yang beragam, guru menjadi lebih mudah untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter.

Proses evaluasi yang dilaksanakan oleh guru di Apple Tree Pre-School Lombok untuk mengukur keberhasilan siswa dalam memahami dan menerapkan 18 nilai-nilai pendidikan karakter yaitu dengan cara mengamati, dan mencatat secara berkesinambungan melalui catatan harian (log book) yang dibuat oleh guru kelas, yang mana nantinya akan menjadi acuan guru dalam membuat laporan mingguan (daily activity report), laporan perkembangan siswa (progress report) pada Term 1 dan 3, serta menjadi acuan untuk penulisan raport (report book) pada Term 2 dan 4. Penilaian secara langsung sebagai bentuk apresiasi terhadap pencapaian siswa juga dilakukan oleh guru dengan memberikan stamp, sticker ataupun bintang kepada anak sebagai simbol nilai atau hasil yang dicapai oleh siswa. Penilaian-penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan peserta didik.

 

.Bibliografi

Erawati, E. (2018). Meningkatkan Kedisiplinan Anak melalui Penggunaan Reinforcement secara Variatif pada Anak Kelompok B1 Taman Kanak-kanak Negeri Pembina. Jurnal Ilmiah Potensia, 3(2), 9198.

 

Haliza, W., Kailaku, S. I., & Yuliani, S. (2017). Penggunaan Mixture Response Surfa Ce Methodology Pada Optimasi Formula Brownies Berbasis Tepung Talas Banten (Xanthosoma Undipes K. Koch) Sebagai Alternatif Pangan Sumber Serat.

 

Hastuti, H. (2019). Implementasi pembelajaran berbasis reward dan punishment dalam mata pelajaran fiqih Kelas VIII di MTS. Al-Madaniyah Mataram Tahun Ajaran 2018/2019. Universitas Islam Negeri Mataram.

 

Mulia, A. (2017). Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Melalui Metode ROLE Playing (Main Peran).

 

Rohayati, T. (2013). Pengembangan perilaku sosial anak usia dini. Cakrawala Dini: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2).

 

Sanjaya, W. (2019). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan.

 

Sugiyono, P. D. (2013). Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif dan R&D [Quantitative and qualitative and R & D research methods]. Bandung, Indonesia: Alfabeta.

 

Sukatin, S., Chofifah, N., Turiyana, T., Paradise, M. R., Azkia, M., & Ummah, S. N. (2020). Analisis Perkembangan Emosi Anak Usia Dini. Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 5(2), 7790.

 

Sulistyaningsih, E., & Cahyani, B. H. (2011). Peran Reinforcement Dalam Kemampuan Regulasi Diri Pada Siswa Sd Selama Di Kelas YF. Jurnal Spirits, 2(1), 113.

 

Thamrin, M., & Ali, M. (n.d.). Peningkatan Tanggung Jawab Melalui Metode Pemberian Tugas Pada Anak Usia 5-6 Tahun. Tanjungpura University.

 

Utami, L. O., Utami, I. S., & Sarumpaet, N. (2018). Penerapan Metode Problem Solving dalam Mengembangkan Kemampuan Kognitif Anak Usia Dini melalui Kegiatan Bermain. Tunas Siliwangi: Jurnal Program Studi Pendidikan Guru PAUD STKIP Siliwangi Bandung, 3(2), 175180.

 

Yati, P. (2016). Pendidikan Karakter Anak Usia Dini Melalui Metode Pembelajaran Field Trip. Lentera, 18(1).

 

Zaenab, S. (2015). Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif Perspektif Kekinian. Malang: Selaras.