Volume 4, No. 1 Januari
2023
p-ISSN� 2721-3854
| e-ISSN 2721-2769
DOI: �https://doi.org/10.46799/jst.v4i1.680
HUBUNGAN KEBISINGAN TERHADAP
STRESS PADA PEKERJA
BAGIAN PRODUKSI DI
PERUSAHAAN TEKSTIL
Sih Parmawati1, Dyah Novia Nugraheni2
Akademi
Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta, Indonesia1
Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi Indonesia Pontianak2
Emails: [email protected],
[email protected]
Abstrak:
Kesehatan
menjadi faktor penentu kualitas sumber daya manusia. Kesehatan juga mendukung dalam tercapainya hasil kerja
yang lebih baik. Selanjutnya, lingkungan kerja
merupakan pendukung dari kesehatan para pekerjanya. Salah
satu faktor yang menyebabkan lingkungan kerja tidak memenuhi syarat sebagai
pendukung kesehatan pekerjanya adalah kebisingan yang diambang batas sehingga
dapat menurunkan performa kerja. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan kebisingan terhadap stress pada pekerja bagian produksi di
perusahan tekstil. Penelitian yang digunakan adalah
kuantitatif, yakni untuk menguji teori objektif dengan menguji hubungan antar
variabel. Hasil penelitian menunjukan paparan
kebisingan yang melebihi ambang batas di lingkungan kerja dapat menimbulkan
stres kerja pada kategori stres kerja sedang. Kesimpulannya
ada hubungan paparan kebisingan terhadap stres pada pekeja bagian produksi.
Kata Kunci: Kebisingan; Stress;
Pekerja.
Abstract:
Health is a determining
factor for the quality of human resources. Health also supports the achievement
of better work results. Furthermore, the work environment is a supporter of the
health of its workers. One of the factors that causes
the work environment not to meet the requirements as a supporter of the health
of its workers is noise that is at a threshold so that it can reduce work
performance. This study aims to determine the relationship of noise to stress
on workers in the production section of a textile company. The research used is
quantitative, namely to test objective theory by examining the relationship
between variables. The results of the study show that exposure to noise that
exceeds the threshold in the work environment can cause work stress in the moderate
work stress category. In conclusion, there is a relationship between noise
exposure and stress in production workers.
Keywords: Noise; stress; Worker.
Article History�����������������������
Accepted�������� : 19 January 2022
Revisied���������� : 22 January 2023
Published�������� : 23 January 2023
�����������
PENDAHULUAN
Kesehatan
merupakan hak dasar (asasi) manusia dan salah satu faktor yang sangat
menentukan kualitas sumber daya manusia. Kesehatan dan
keselamatan bagi masyarakat pekerja terbukti memiliki korelasi langsung dan
nyata terhadap kesejahteraan tenaga kerja (Susetyo & Oesman, 2018). Pekerja yang sehat
memungkinkan tercapainya hasil kerja yang lebih baik bila dibandingkan dengan
pekerja yang terganggu kesehatannya (Megawati, 2020). Kesehatan kerja
merupakan spesialisasi dalam ilmu kesehatan beserta praktiknya yang bertujuan
agar masyarakat atau pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi tingginya,
baik fisik maupun mental, sosial dengan usaha preventif dan kuratif, terhadap
penyakit atau gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor pekerjaan dan
lingkungan serta terhadap penyakit umum (Pradana, 2013).
Menurut
Peraturan Pemerintah No 50 tahun 2012, tenaga kerja adalah setiap orang yang
mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, guna
menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, lingkungan kerja merupakan salah satu
sumber utama bahaya potensial kesehatan kerja.
Lingkungan
kerja yang tidak memenuhi syarat misalnya bising yang melebihi ambang batas
merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.
Kebisingan selain dapat menimbulkan ketulian sementara dan ketulian permanen
juga akan berdampak negatif lain seperti gangguan komunikasi, efek pada
pekerjaan dan reaksi masyarakat (Juliyati et al., 2014). Apabila bekerja dengan
kondisi tidak nyaman lama kelamaan akan menimbulkan
stres dan kelelahan. Intensitas kebisingan sering dapat
menyebabkan penurunan performansi kerja, sebagai salah satu penyebab stres dan
gangguan kesehatan lainnya. Stres yang disebabkan
karena pemaparan kebisingan dapat menyebabkan terjadinya kelelahan dini,
kegelisahan dan depresi. Stres karena kebisingan juga menyebabkan cepat
marah, sakit kepala dan gangguan tidur (Budiyanto & Pratiwi, 2010).
Pada umumnya, kebisingan yang
bernada tinggi sangat mengganggu, terlebih jika kebisingan tersebut berjenis
terputus-putus atau yang datang hilangnya secara tiba-tiba dan tidak terduga
dapat menimbulkan gangguan berupa tekanan darah, peningkatan nadi, kontruksi
pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan
pucat dan gangguan sensoris (Safitri, 2021).
Di
negara-negara industri, bising merupakan masalah utama kesehatan. World
Health Organization (WHO, 1995) memperkirakan hampir 14% total tenaga kerja
negara industri terpapar bising melebihi 90 dB di tempat kerjanya. Diperkirakan sebanyak 20 juta orang Amerika terpapar bising lebih
dari 85 dB. Wough dan Forcier mendapat data bahwa
perusahaan kecil di sekitar Sidney mempunyai tingkat kebisingan 87 dB.
Quebec � Canada, Frechet mendapat data bahwa 55% daerah industri memiliki
tingkat kebisingan lebih dari 85 dB. Peningkatan suara dengan
gelombang kompleks yang tidak beraturan dikenal sebagai bising. Di
Indonesia intensitas kebisingan yang disepakati sebagai pedoman bagi
perlindungan alat pendengaran agar tidak kehilangan daya dengar untuk pemaparan
8 (delapan) jam sehari dan 5 (lima) hari kerja atau 40 jam kerja seminggu
adalah 85 dB bagi pekerja (Yusmardiansyah & Zhara, 2019).
Perusahaan
tekstil adalah perusahaan yang mengolah bahan baku benang menjadi kain mentah
(grey) (Sari et al., 2019). Proses bahan baku di bagian weaving dari setengah jadi yang terdiri
dari ribuan helai benang yang kemudian ditenun, untuk dirubah menjadi kain,
dalam proses weaving ini butuh
ketelitian yang tinggi karena memproses benang menjadi kain. Proses ini diawali
dari mempersiapkan benang dalam seksi persiapan hingga terbentuk anyaman benang
tate yang siap masuk mesin tenun, selanjutnya diproses dalam mesin tenun yaitu
persilangan dua set benang dengan cara memasuk-masukkan benang pakan secara
melintang pada benang-benang lungsin (benang lusi) (Ratih, 2012).
Pada
survei awal yang telah dilakukan di perusahaan tekstil ditemukan gejala stress
kerja yang dialami oleh tenaga kerja yang disebabkan kelelahan kerja, berakibat
pada menurunnya performansi dan produktivitas kerja khususnya di produksi.
METODE
Penelitian
ini untuk menjelaskan ada atau tidaknya hubungan antara kebisingan terhadap
stress pada pekerja bagian produksi di perusahaan tekstil. Dalam
penelitian ini, terdapat dua variabel penelitian yakni kebisingan sebagai
variabel bebas dan stress sebagai variabel terikat. Selanjutnya data
yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan
program statistik. Untuk itu penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif,
hal ini sesuai dengan pendapat (Creswell, 2016) yang menyatakan penelitian kuantitatif merupakan pendekatan untuk
menguji teori objektif dengan menguji hubungan antar variabel. Variabel ini,
pada gilirannya, dapat diukur dengan menggunakan instrumen, sehingga data
jumlah dapat dianalisis dengan menggunakan prosedur statistik (Wahidmurni, 2017).
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengukuran paparan kebisingan bagian weaving dilakukan pada 7 titik
lokasi yaitu ruang A, B, C, D, E, F, dan G. Berdasarkan ketentuan Nilai Ambang
Batas (NAB) kebisingan menurut permenaker No 5 tahun 2018 adalah 85 dBA untuk
pemaparan 8 jam/hari atau 40 jam/minggu. Berikut hasil pengukurannya:
Tabel 1. Hasil
Pengukuran Paparan Kebisingan Pada Titik Pengambilan Sampel
|
Lokasi Pengukuran |
Jumlah Pekerja |
dBA |
Keterangan |
|
A |
13 |
91,50 |
Diatas NAB |
|
B |
5 |
91,50 |
Diatas NAB |
|
C |
2 |
72,75 |
Dibawah NBA |
|
D |
4 |
72,75 |
Dibawah NBA |
|
E |
6 |
83,43 |
Dibawah NBA |
|
F |
33 |
101,67 |
Diatas NAB |
|
G |
13 |
100,22 |
Diatas NAB |
Berdasarkan tabel 1.
didapatkan hasil pengukuran paparan kebisingan yang dilakukan di tujuh titik
lokasi produksi di perusahaan tekstil menunjukan bahwa terdapat 4 lokasi yaitu
A, B, F, dan G yang hasil pengukuran paparan kebisingan melebihi nilai ambang
batas (85 dBA) dengan jumlah pekerja terbanyak pada lokasi F sebanyak 33 orang
dengan tinggi paparan kebisingan 101,67 dBA yaitu diatas standar NAB.
Tabel 2. Hasil
Data Responden yang dengan suara bising berdasarkan jumlah pekerja
|
Kategori NAB |
Jumlah (n) |
Frekuensi (%) |
|
Dibawah NAB |
12 |
15,80 |
|
Diatas NAB |
64 |
84,20 |
|
Total |
76 |
100,00 |
Paparan kebisingan dibagi menjadi dua kategori yaitu Dibawah jika <
85 dBA dan Diatas jika > 85 dBA, angka ini diambil dari standar nilai ambang
batas menurut PERMENAKER nomor 5 tahun 2018 sebesar 85 dBA. Berdasarkan tabel
4.2 mendapatkan hasil bahwa pengukuran NAB bagian produksi di perusahaan tekstil
menunjukan bahwa sebanyak 12 atau 15,80% pekerja yang terpapar suara bising
Dibawah NAB sedangkan sebanyak 64 atau 84.20% pekerja yang terpapar suara
bising Diatas NAB. Dari hasil yang didapat menunjukan yakni
paling banyak pekerja yang bekerja pada bagian dengan tingkat paparan
kebisingan Diatas NAB.
Pengukuran stres kerja pada pekerja bagian produksi di perusahaan
tekstil dengan cara memberikan kuesioner kepada para
pekerja untuk di isi, dengan 20 pernyataan kepada 76 responden. Berikut
merupakan gambaran mengenai distribusi frekuesi stres kerja bagian produksi di
perusahaan tekstil dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:
Tabel 3. Hasil
pengukuran Tingkat stres pekerja di Perusahaan Tekstil
|
Tingkat stres |
Jumlah (n) |
Frekuensi (%) |
|
Stress Kerja
Ringan |
10 |
13,20 |
|
Stres Kerja
Sedang |
64 |
84,20 |
|
Stres Kerja Berat |
2 |
2,60 |
|
Total |
76 |
100.00 |
Berdasarkan tabel 3. dapat
diketahui bahwa berdasarkan hasil skor kuesioner dari responden yaitu bagian
produksi di perusahaan tekstil menunjukan bahwa terdapat 10 orang mengalami
stres kerja ringan atau 13.20%, terdapat 64 orang pekerja yang mengalami stres
kerja sedang atau 84.20% dan dan terdapat 2 pekerja yang mengalami stres kerja
berat atau 2.60%.
Analisis bivariat dalam penelitian ini yaitu
analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan paparan kebisingan terhadap
stres kerja pada pekerja bagian produksi di perusahaan tekstil.
Tabel 4.
Hubungan paparan kebisingan terhadap stres kerja pada pekerja bagian produksi
di perusahaan tekstil
|
Stres Kerja |
||||||||||
|
Kebisingan |
Ringan |
Sedang |
Berat |
Total |
τ |
Sig |
||||
|
f |
% |
f |
% |
F |
% |
f |
% |
|||
|
Dibawah NAB |
7 |
58,4 |
5 |
41,6 |
12 |
15,8 |
0.229 |
0.038 |
||
|
Diatas NAB |
3 |
4,7 |
59 |
92,2 |
2 |
3,1 |
64 |
84,2 |
||
|
Total |
10 |
13,2 |
64 |
84,2 |
2 |
2,6 |
76 |
100,00 |
||
Berdasarkan tabel 4. diatas
menunjukan bahwa pekerja yang bekerja pada lokasi dengan paparan kebisingan di
bawah NAB dan mengalami stres kerja sedang sebanyak 12 orang dengan persentase
15.8%, sedangkan pekerja yang berada pada lokasi dengan paparan kebisingan
dibawah NAB dan mengalami stres kerja berat sebanyak 0% orang dengan persentase
0%. Pekerja yang berada pada lokasi dengan paparan kebisingan diatas NAB dan
mengalami stres kerja ringan sebanyak 3 orang dengan persentase 4,7%, stress kerja sedang sebanyak 59 orang dengan persentase
92.2%, sedangkan pekerja yang berada pada lokasi dengan paparan kebisingan
diatas NAB dan mengalami stres kerja berat sebanyak 2 orang dengan persentase
3.1%.
Berdasarkan tabel
4. dapat diketahui bahwa hasil perhitungan dengan
uji Kandall Tau mengenai hubungan paparan kebisingan terhadap stres kerja
diperoleh nilai significancy atau
nilai p value sebesar 0.038 (p value < 0.05 ). Yang
menunjukan bahwa ada hubungan paparan kebisingan terhadap stres kerja. Nilai 𝜏
(Correlation Coefficient) sebesar 0.229, nilai ini diartikan ke eratan
hubungan paparan kebisingan terhadap stres kerja pada pekerja bagian produksi
di perusahaan tekstil adalah sangat lemah.
B. Pembahasan
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebanyak 12
orang atau sebesar 15.8% bekerja dibawah NAB, dengan tingkat stress kerja
ringan sebanyak 7 orang atau 58.5%. kemudian, stres
kerja sedang dialami oleh 5 orang atau sebesar 41,6%.
Sedangkan, pada pekerja bagian produksi yang bekerja diatas NAB
sebanyak 64 orang atau sebesar 84.2%, dengan tingkat stres kerja ringan
sebanyak 3 orang atau 4,7%, tingkat stres kerja sedang sebanyak 59 orang atau
sebesar 92.2%, dan tingkat stres kerja berat dialami oleh 2 orang atau sebesar
2.6%.
Hasil yang didapatkan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinamude et al., (2022) menunjukkan bahwa
paparan kebisingan yang melebihi ambang batas di lingkungan kerja dapat
menimbulkan stres kerja pada kategori stres kerja sedang. Kesimpulannya
ada hubungan paparan kebisingan terhadap stres pada pekeja bagian weaving.
Didukung penelitian Alfian & Putri, (2020) yang menunjukkan hasil
uji t diperoleh kesimpulan bahwa
variabel kebisingan berpengaruh signifikan terhadap stres kerja. Hal ini menunjukan bahwa kebisingan mempengaruhi stres kerja yang
terjadi pada Pegawai Negeri Sipil Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Kota Pariaman.
Hubungan paparan kebisingan Dengan stres kerja pada pekerja bagian
produksi di perusahaan tekstil dapat dilihat dari uji Kandall Tau mengenai
hubungan paparan kebisingan terhadap stres kerja diperoleh nilai significancy atau nilai p value sebesar 0.038 (p value < 0.05 ).
Yang menunjukan bahwa ada hubungan paparan kebisingan
terhadap stres kerja. Nilai 𝜏 (Correlation Coefficient) sebesar 0.229,
nilai ini diartikan ke eratan hubungan paparan kebisingan terhadap stres kerja
pada pekerja bagian produksi di perusahaan tekstil adalah sangat lemah.
Didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sumardiyono et al., (2019) yang menyatakan bahwa
pemaparan kebisingan melebihi nilai ambang batas (>85 dBA per hari)
merupakan faktor risiko peningkatan kadar kortisol dalam darah (F=58,722;
p=0,000), yang merupakan gambaran meningkatnya tingkat stres kerja.
Meningkatnya stres kerja berdampak pada peningkatan kadar
gula darah (r=0,898; p=0,000). Dengan demikian ada korelasi antara paparan
kebisingan di tempat kerja dengan meningkatnya kadar
gula darah melalui mekanisme stres kerja.
Sejalan dengan penelitian Darlani & Sugiharto, (2017) yang menyatakan terdapat
hubungan yang bermakna antara kebisingan dengan rasa tidak nyaman, gangguan
konsentrasi, gangguan emosi atau cepat marah, dan gangguan tidur pekerja bagian
Weaving Loom dan Weaving Inspection PT. Primatexco Indonesia Batang.
KESIMPULAN
Tingkat
stres kerja akibat paparan kebisingan bagian produksi di perusahaan tekstil
yaitu terdapat 10 orang mengalami stres kerja ringan atau 13.2%, terdapat 64
orang pekerja yang mengalami stres kerja sedang atau 84.2% dan dan terdapat 2
pekerja yang mengalami stres kerja berat atau 2.6%. Hasil ini
menunjukan paparan kebisingan yang melebihi ambang batas di lingkungan kerja
dapat menimbulkan stres kerja pada kategori stres kerja sedang. Kesimpulannya ada hubungan paparan kebisingan terhadap stres pada
pekeja bagian produksi.
Alfian,
& Putri, G. R. (2020). Pengaruh Kebisingan Dan Masa Kerja Terhadap Stres
Kerja Pegawai Negeri Sipil Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Kota Pariaman. Jurnal Pundi, 4(3), 343�354.
Budiyanto, T., & Pratiwi, E. Y. (2010). Hubungan Kebisingan Dan Massa
Kerja Terhadap Terjadinya Stres Kerja Pada Pekerja Di Bagian Tenun �Agung
Saputra Tex� Piyungan Bantul Yogyakarta. KES MAS, 4(2), 76�143.
Creswell, J. . 2016. (2016). Research Design, Pendekatan Metode
Kualitatif, Kuantitaif, dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Darlani, & Sugiharto. (2017). Kebisingan Dan Gangguan Psikologis
Pekerja Weaving Loom Dan Inspection PT. Primatexco Indonesia. Jurnal of
Health Education, 2(2), 130�137.
Juliyati, R., Saam, Z., & Nopriadi, N. (2014). Hubungan Shift Kerja
dan Kebisingan dengan Stres Kerja Pada Karyawan Bagian Produksi Gilingan PT.
Riau Crumb Rubber Factory Pekanbaru. Dinamika Lingkungan Indonesia, 1(2),
88�96. https://doi.org/10.31258/dli.1.2.p.88-96.
Megawati, Y. (2020). Konsep Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah
Sakit. OSF Preprints.
Pradana, A. (2013). Hubungan Antara Kebisingan Dengan Stres Kerja Pada
Pekerja Bagian Gravity PT. Dua Kelinci. Universitas Negeri Semarang.
Ratih, A. D. (2012). Hubungan Antara Kelelahan Kerja Dengan Stress
Kerja Pada Tenaga Kerja Bagian Weaving PT. Iskandar Indah Printing Textile
Surakarta. UNIVERSITAS SEBELAS MARET Surakarta.
Safitri, D. (2021). Pengaruh Kebisingan Terhadap Stres Kerja Pada Tenaga
Kerja Di Industri Penggilingan Padi. Jurnal Kesehatan Lingkungan Ruwa Jubai,
15(2), 77�84.
Sari, I. N., Ananda, R., & Gultom, M. D. P. (2019). Industri
Tekstil. INA-Rxiv.
Sinamude, M. G., Nugroho, A., & Alfanan, A. (2022). Hubungan Paparan
Kebisingan dengan Stres pada Pekerja Bagian Weaving di PC GKBI Medari Sleman
Yogyakarta. Jurnal Formil (Forum Ilmiah) KesMas Respati, 7(1),
1�13.
Sumardiyono, Wijayanti, Hartono, R., & Sutomo, A. H. (2019).
Kebisingan Lingkungan Kerja: Kerentanan Kesehatan Pada Pekerja Industri
Tekstil. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 11(4), 269�275.
Susetyo, J., & Oesman, T. I. (2018). Analisis Tingkat Kebisingan pada
Kantor untuk Mereduksi Paparan Bising dengan Pendekatan Perancangan Tata Letak
Fasilitas. Prosiding SNAST, 89�94.
Wahidmurni. (2017). Pemaparan Metode Penelitian Kuantitatif. Repository
UIN Malang, 1�15.
Yusmardiansyah, & Zhara, G. (2019). Hubungan Kebisingan Dengan Stres
Kerja Pada Perkerja Bagian Produksi Di PT Mitra Bumi. PREPOTIF Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 3(2), 23�30.
|
Sih Parmawati (2023) |
|
First publication right: |
|
This article is licensed under: |