Volume 4, No. 1 Januari 2023
p-ISSN� 2721-3854
| e-ISSN 2721-2769
DOI: �https://doi.org/10.46799/jst.v4i1.681 �
VISI PENDIDIKAN
BERBASIS AGAMA, FILSAFAT, PSIKOLOGI DAN SOSIOLOGI
Achmad Saefurridjal, Faiz Karim Fatkhullah, Abdul
Rohman, Samsudin
Universitas Islam Nusantara, Indonesia
Abstrak:
Madrasah
merupakan stikholder pendidikan garda terdepan yang secara langsung bertugas
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dalam menjalankan peran sebagai lembaga pendidikan, madrasah harus
dikelola dengan baik agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan yang telah
dirumuskan dengan optimal melalui visi pendidikan. Visi pendidikan
berbasis agama menitikberatkan pada penanaman nilai-nilai ajaran Agama sebagai
pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak, pengembangan
keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta berkarakter mulia, dalam
tinjauan Filsafat merupakan perwujudan pengabdian yang optimal kepada sang
pencipta melalui potensi yang dimilikinya, yaitu potensi spiritual dan
intelektual. Basis Psikologi memiliki kekuatan dalam memahami karakter sesama
pembelajar dalam proses pembelajaran. lingkungan
belajar yang baik menjadi peran penting dalam proses mencapai visi pendidika
dari basis Sosiologi.
Kata Kunci: Visi Pendidikan;
Agama; Filsafat; Psikologi; Sosiologi.
Abstract:
Madrasas are the
frontline education stakeholders who are directly tasked with realizing
national education goals. In carrying out its role as an educational
institution, madrasas must be managed properly so that they can realize the
educational goals that have been optimally formulated through the vision of education.
The vision of religion-based education focuses on instilling the values of
religious teachings as a guideline for achieving happiness in life in the world
and in the hereafter, developing faith and piety to God Almighty and having
noble character, in a philosophical view is the embodiment of optimal service
to the creator through the potential possessed, namely spiritual and
intellectual potential. Psychology Base has strength in understanding the
character of fellow learners in the learning process. a
good learning environment plays an important role in the process of achieving
an educational vision from a Sociological basis.
Keywords: Vision
of Education; Religion; Philosophy; Psychology; Sociology.
Article History�����������������������
Diterima��������� : 16 Januari 2023
Revisi�� ����������� :
21 Januari 2023
Publish ����������� :
23 Januari 2023
�����������
PENDAHULUAN
Lembaga pendidikan memiliki peran strategis untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional agar menjalankan perannya dengan baik. Dalam menjalankan perannya sebuah
lembaga harus menyusun strategi agar tujuan pendidikan yang telah dirumuskan
terlaksana dengan optimal. Komponen dalam perencanaan strategis paling
tidak terdiri dari visi, misi, prinsip dan tujuan (Calam &
Qurniati, 2016).
Visi erat kaitannya dengan misi karena visi adalah tujuan atau hal yang ingin
dilakukan sedangkan misi adalah langkah, bentuk�
atau cara untuk mewujudkannya, sehingga visi misi menjadi sebuah
landasan dasar bagi sebuah perusahaan atau lembaga (M. Muslim, 2017).
Saat
ini lingkungan pendidikan yang semakin kompetitif akan
berdampak pada beberapa hal contohnya tuntutan untuk selalu membangun
kompetisi, pemutakhiran data organisasi secara berkala, penentuan
langkah-langkah strategik ke depan, pengerahan, pemusatan kapabilitas dan
komitmen tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan masa depan
Lembaga Pendidikan tersebut. Madrasah sebagai salah satu
lembaga pendidikan yang mempunyai tugas dalam mewujudkan tujuan pendidikan
nasional harus bisa menjalankan perannya dengan baik. Di
dalam menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan, Madrasah harus
dijalankan dengan baik agar tujuan pendidikan yang telah dirumuskan bisa
diwujudkan dengan maksimal.
Apabila
Madrasah tersebut tidak dikelola secara profesional maka otomatis akan dapat menghambat proses pendidikan yang sedang
berlangsung dan juga dapat menghambat langkah Madrasah tersebut di dalam
menjalankan fungsinya sebagai sebuah lembaga pendidikan formal. Oleh karena itu,
supaya pengelolaan Madrasah tersebut dapat berjalan dengan maksimal, maka
dibutuhkan beberapa rencana strategis sebagai salah satu cara
untuk bisa mengendalikan organisasi (Madrasah) tersebut secara efektif dan
efesien sehingga tujuan dan sasarannya bisa tercapai. Perencanaan yang
strategis adalah sebuah landasan bagi Madrasah dalam menjalankan proses
pendidikan. Komponen-komponen dalam perencanaan yang
strategis diantaranya terdiri dari visi, misi, prinsip dan tujuan. Perumusan-perumusan tersebut harus dilakukan oleh pengelola
Madrasah, supaya memiliki arah kebijakan yang dapat menunjang tercapainya
tujuan yang tepat sasaran dan juga diharapkan.
Menurut
teori Midle tentang teori pengelolaan sebagai proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian�. Tugas
seorang pengelola, menyusun struktur penting dalam memberikan arahan untuk
kemajuan Madrasah kedepannya. Maka dari itu seorang
pengelola mampu merencakanan visi, misi dan tujuan Madrasah yang diharapkan
(Zulfania, 2021).
Pendapat
para ahli dapat memberikan gambaran kepada kita tentang pengertian visi salah
satunya Fred R. David dalam (Anisa &
Rahmatullah, 2020)
yang menyatakan bahwa visi adalah: �A vision statement should answer the basic
question, �What do we want to become?�. The vision statement should be short,
preferably one sentence, and as many managers as possible should have input
into developing the statement. It is especially important for managers and
executives in any organization to agree on the basic vision that the firm strives
to achieve in the long term.� yang artinya bahwa visi merupakan sebuah
perencanaan yang bisa mengandung� jawaban dan gambaran tentang suatu
kondisi maupun citra sebuah lembaga yang ingin diwujudkan pada masa yang akan
datang. Sedangkan menurut Hax dan Majluf dalam (Windaningrum, 2019), bahwa visi merupakan sarana dalam beberapa hal
antara lain mengkomunikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan
dan tugas pokok, memperlihatkan frame work hubungan antara organisasi dengan
stakeholders (sumber daya manusia organisasi, konsumen/citizen dan pihaklain
yang terkait), menyatakan sasaran utama kinerja organisasi dalam arti
pertumbuhan danperkembangan. Disamping itu, (Sudaryono, 2014) mengatakan visi memiliki setidaknya 7 karakteristik
yaitu memperjelas arah dan tujuan, mencerminkan cita-cita yang tinggi,
menumbuhkan isnpirasi, menciptakan makna, merefleksikan keunikan atau
keistimewaan, menyiratkan nilainilai luhur dan memperhatikan dengan seksama
hubungan lembaga dengan lingkungan.
Dengan demikian visi menjadi landasan dasar bagi
misi agar tujuan-tujuan yang diharapkan lembaga tercapai. Akan tetapi pada kenyataannya visi dan misi yang
sudah dibuat sebagai bentuk�
perencanaan yang ingin dicapai masih belum bisa direalisasikan
secara maksimal karena banyak kendala atau hambatan dalam proses pelaksanaannya
antara lain masih banyak Lembaga Pendidikan yang merumuskan visi, misi yang
tidak berdasarkan analisis realitas dan rasionalitas. Rumusan
visi dan misi tersebut seringkali tidak bisa dibedakan sehingga dinilai tidak
mempunyai identitas dari Lembaga Pendidikan tersebut.
Oleh karena itu penelitian ini dinilai penting untuk
menganalisis visi dan misi Pendidikan jika dipandang dari berbagai macam sudut
yang berbeda yaitu dari segi agama, filsafat, psikologi dan juga sosiologi. Proses pendidikan aliran-aliran filsafat yaitu
aliran progresivisme konstruktivisme, dan humanisme menghendaki agar peserta
didik dapat menggunakan kemampuannya secara konstruktif dan komprehensif untuk
menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi. Sedangkan
berdasarkan sudut pandang sosiologi, Pendidikan mempunyai visi untuk memberikan
kontribusi bagaimana faktor lingkungan mempengaruhi proses belajar individu.
Sedangkan tujuan Pendidikan dilihat dari sudut pandang psikologi yaitu supaya
proses dalam Pendidikan itu berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang
diinginkan maka terlebih dahulu harus bisa memahami karakteristik dari siswa,
memahami karakteristik dari proses belajar dan pembelajaran, dan juga memahami
lingkungan sekitar siswa untuk dimanfaatkan dalam peningkatan proses dan hasil
Pendidikan, sehingga dapat memberikan prinsip-prinsip untuk digunakan dalam
membuat keputusan yang baik dalam Pendidikan.
Berdasarkan
hal di atas harapan penelitian ini adalah dengan mempertimbangkan preseptif
visi dari berbagai sudut pandang yaitu agama, filsafat, psikologi dan
sosiologi, penyusunan visi pendidikan sebuah lembaga dapat terlaksana secara
maksimal.Untuk lebih jelasnya, dalam makalah ini kami akan memaparkan tentang
visi Pendidikan berbasis Agama, Filsafat, Psikologi dan Sosiologi.
METODE
Metodelogi kajian tentang perspektif visi pendidikan
dilihat dari sudut pandang agama, filsafat, psikologi, dan sosiologi yang
dilakukan penulis melalui pendekatan pendekatan kualitatif dengan metode
deskriptif analisis berdasarkan kajian literatur atau studi kepustakaan
(library research) dari sumber-sumber yang relevan, seperti buku dan juga
jurnal-jurnal.
Riset kepustakaan adalah serangkaian kegiatan yang
berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta
mengolah bahan penelitian.
Menurut (Sugiyono, 2018) menjelaskan bahwa penelitian kepustakaan yaitu jenis
penelitian yang dilakukan dengan membaca buku-buku atau majalah dan sumber data
lainnya untuk menghimpun data dari berbagai literatur, baik perpustakaan maupun
di tempat-tempat lain. Teknik analisis data yang digunakan
peneliti yaitu reduksi, display data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data digunakan peneliti untuk
mempertanggungjawabkan data yang telah diperoleh. Hal ini sesuai dengan
pendapat (Moelong, 2018) yang menyatakan bahwa teknik pemeriksaan keabsahan data
dilakukan dengan cara memanfaatkan hal-hal (data) lain untuk pengecekan atau
perbandingan data. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara kredibilitas, karena dengan kredibilitas (credibility)
sudah mencukupi untuk dilakukan pengecekan keabsahan data. Kredibilitas
tersebut meliputi triangulasi, meningkatkan ketekunan, serta kecukupan
referensi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Perspektif Visi Pendidikan dari Sudut
Pandang Agama
Secara
umum pendidikan dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina
kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di
dalamnya selalu terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Oleh karena itu sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang
peradaban umat manusia. Pendidikan mempunyai pengertian: proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan,
cara mendidik (Nurkholis, 2013).
Pendidikan
memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan pengajaran, karena bisa
dikatakan bahwa Pendidikan adalah sebagai suatu proses transfer ilmu,
transformasi nilai, dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang
dicakupnya. Dengan demikian pengajaran lebih berorientasi
pada pembentukan spesialis atau bidang-bidang tertentu, dimana perhatian dan
minatnya lebih bersifat teknis. Sedangkan Pendidikan lebih kepada suatu
proses yang diperlukan untuk mendapatkan keseimbangan dan kesempurnaan dalam
perkembangan individu maupun masyarakat. Penekanan pendidikan dibanding dengan
pengajaran terletak pada pembentukan kesadaran dan kepribadian individu atau
masyarakat di samping transfer ilmu dan keahlian. Dalam hal ini suatu bangsa
atau negara dapat mewariskan nilai-nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran dan
keahlian kepada generasi berikutnya, sehingga mereka betul-betul siap untuk
menyongsong atau menghadapi masa depan kehidupan yang lebih baik. Pendidikan juga merupakan sebuah aktifitas yang memiliki tujuan
tertentu yang diarahkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki manusia baik
sebagai manusia ataupun sebagai anggota dari suatu masyarakat.
Sedangkan
pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan bertanggung jawab.
Menurut
Achmadi dalam (Nurkholis, 2013) menyatakan bahwa
dari kajian antropologi dan sosiologi secara sekilas dapat kita ketahui adanya
tiga fungsi pendidikan yaitu (1) mengembangkan wawasan subjek didik mengenai
dirinya dan alam sekitarnya, sehingga dengannya akan timbul kemampuan membaca
(analisis), akan mengembangkan kreativitas dan produktivitas, (2) melestarikan
nilai-nilai insani yang akan menuntun jalan kehidupannya sehingga
keberadaannya, baik secara individual maupun social lebih bermakna, (3) membuka
pintu ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan
dan kemajuan hidup bagi individu dan social.
Menurut
Hamim dalam (Firmansyah, 2019) menyatakan bahwa
dalam pandangan Al-Ghazali pendidikan adalah usaha pendidik untuk menghilangkan
akhlak buruk dan menanamkan akhlak yang baik kepada siswa sehingga dekat kepada
Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dari
beberapa pengertian tentang Pendidikan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa
hal antara lain pendidikan merupakan suatu proses yang terjadi secara timbal
balik, siswa adalah manusia merdeka yang dipandang memiliki potensi untuk
selanjutnya potensi tersebut ditumbuhkan dan dikembangkan melalui pendidikan,
pendidik adalah orang yang memiliki posisi penting proses pendidikan, termasuk
dalam memotivasi dan menciptakan lingkungan kondusif, manusia dengan
intelektual cerdas dan karakter yang baik tujuan dari pendidikan sehingga
menemukan keselamatan dan kebahagiaan. Peradaban dan martabat
suatu bangsa dapat terwujud ketika sumber daya manusia (SDM) bangsa itu
mendukung dalam mewujudkannya. Dukungan SDM terhadap kemajuan peradaban
dan martabat bangsa dapat terlihat dari beberapa variabel yang menyertainya,
dan di Indonesia variabel tersebut mencakup iman dan takwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Firmansyah, 2019). Untuk mewujudkan hal tersebut salah satunya adalah dengan
diberikannya Pendidikan agama kepada siswa.
Menurut
Zakiah Daradjat dalam (Firmansyah, 2019) bahwa pendidikan
Islam dititik beratkan pada dua segi. Pertama, pendidikan Islam lebih banyak
ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan
terwujud dalam amal perbuatan, baik untuk diri pribadinya maupun orang lain. Kedua, pendidikan Islam tidak hanya teoritis saja, tetapi juga
praktis. Artinya pendidikan Islam merupakan pendidikan
iman dan pendidikan amal. Karena ajaran Islam
berkaitan dengan ajaran sikap dan tingkah laku individu dan masyarakat, maka
pendidikan Islam juga merupakan pendidikan individu dan masyarakat. Adapun
fungsi-fungsi pendidikan berbasis agama yaitu penanaman nilai-nilai ajaran
agama sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak,
pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa serta
berkarakter mulia yang telah ditanamkan lebih dahulu dalam lingkungan keluarga,
pencegahan peserta didik dari hal-hal negatif budaya asing yang akan
dihadapinya sehari-hari, pengajaran tentang ilmu pengetahun keagamaan secara
umum, sistem dan fungsionalnya.
Ahmad
Tafsir dalam (Firmansyah, 2019) mengemukakan tiga
tujuan Pendidikan Agama Islam, yakni terwujudnya insan kamil, sebagai
wakil-wakil Tuhan di muka bumi, terciptanya insan kaffah, yang memiliki tiga
dimensi; religius, budaya, dan ilmiah, dan terwujudnya penyadaran fungsi
manusia sebagai hamba, khalifah Allah, pewaris para nabi, dan memberikan bekal
yang memadai untuk menjalankan fungsi tersebut.
Dasar
pendidikan Islam adalah Islam dengan segala ajarannya. Ajaran itu bersumber pada al-Qur-an, Sunnah Rasulullah SAW, dan
ra�yu. Al Qur-an harus di dahulukan. Apabila
suatu ajaran atau penjelasannya tidak ditemukan di dalam al-Qur-an, maka harus
dicari di dalam sunnah; apabila tidak juga ditemukan
di dalam sunnah barulah digunakan ra�yu (ijtihad). Sunnah tidak akan bertentangan dengan al-Qur-an dan ra�yu tidak boleh
bertentangan dengan al-Qur-an dan Sunnah. Adapun beberapa
visi Pendidikan yang sesuai dengan ayat-ayat dalam A-qur�an diantaranya QS.
Al-Baqarah: 207 yaitu: Tujuan Pendidikan adalah untuk mencari ridho Allah
artinya: �dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena
mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya�, QS.
Ali Imran: 102 yaitu Tujuan Pendidikan untuk bertaqwa kepada Allah artinya: Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan
beragama Islam, Tujuan Pendidikan untuk beribadah kepada Allah artinya: dan aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.
B. Perspektif Visi Pendidikan dari Sudut
Pandang Filsafat
Sementara
itu Pembahasan tentang tujuan pendidikan secara mendasar merupakan bidang
kajian filsafat, khususnya filsafat tentang hakikat manusia dan kedudukannya di
tengah dunianya dengan segenap harapan dan kebutuhannya, baik yang menyangkut
harapan duniawi maupun ukhrawi. Plato dalam (Sumanto, 2019) mengatakan bahwa
filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mencapai kebenaran yang asli.,
karena kebenaran mutlak ditangan tuhan atau disingkat dengan pengetahuan
tentang segala yang ada. Hasbullah Bakry masih dalam (Sumanto, 2019) mengatakan bahwa
filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mencapai kebenaran yang asli,
karena kebenaran mutlak ditangan tuhan atau disingkat dengan pengetahuan
tentang segala yang ada. Beberapa pengertian dari para ahli filsafat
mendefinisikan filsafat dari titik tolak,sudut
pandangan yang berbeda sesuai dengan latar belakang dan merumuskan tentang
filsafat secara berbeda-beda. Setiap sudut pandangan yang digunakan para filsuf
tidaklah bertentangan satu sama lain melainkan mereka
saling melengkapi kepentingannya masing-masing. Menurut Jujun Suriasumantri
dalam (Basri, 2019) adalah kajian
utama filsafat berkaitan dengan masalah ilmu pengetahuan dengan memikirkan
hakikat pengetahuan dan hakikat keberadaan segala sesuatu. Kajiannya
mengarahkan diri pada dasar-dasar pengetahuan dalam bentuk penalaran, logika,
sumber pengetahuan, dan kriteria kebenaran. Dalam
berfilsafat memerlukan suatu ilmu untuk mewujudkan pemahaman tersebut, terutama
dalam dunia pendidikan. Dimana tenaga pendidik perlu
memahami karakteristik filsafat, teori dan praktek pendidikan di lapangan
sehingga sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dalam dunia pendidikan, seorang� pendidik baik
sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat
dalam pendidikan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Thabrani,
2015) bahwa filsafat dalam pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada
para pendidik (guru dan dosen). Hal tersebut akan
mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Peranan filsafat dalam pendidikan ditinjau dari tiga lapangan
filsafat, yaitu ontologi/metafisika, epistemologi dan aksiologi. Filsafat seorang pendidik yang menentukan adalah seperangkat
keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku pendidik, yaitu
keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, peserta didik/warga belajar,
dan pengetahuan. Antara filsafat, teori pendidikan dan
implementasinya di lapangan harus bersinergi, sehingga tujuan pendidikan untuk
meningkatkan harkat dan martabat manusia dapat terpenuhi.
Tujuan
pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Pendidik sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan pendidik
sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama. Filsafat tentang dan atau dalam pendidikan harus mampu memberikan
pedoman kepada para pendidik. Hal tersebut akan
mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM).
Selain itu pemahaman filsafat dalam pendidikan akan
menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam
menyelesaikan masalah-masalah pendidikan (Thabrani, 2015). Berdasarkan sudut
filosofis Pendidikan, banyak ragam konsep atau cara
pandang pelaksanaan Pendidikan yang digagas oleh para filusuf. Dalam hal ini yang sesuai dengan visi Pendidikan berbasis filsafat
diantaranya adalah aliran pragmatisme. Hal ini karena
aliran pragmatisme memandang bahwa tujuan Pendidikan bukanlah terminal,
melainkan alat atau instrument untuk mencapai tujuan berikutnya. Hakikat pengetahuan menurut pragmatism terus berkembang. Pengetahuan bersifat hipotesis dan relatif yang kebenarannya
bergantung pada kegunaannya dalam kehidupan dan praktik. Visi Pendidikan ini juga sesuai dengan aliran fisafat idealisme
yang memandang bahwa segala sesuatu berawal dari ide atau gagasan dan alam
semesta merupakan perwujudan dari inteligensi dan kemauan. Ada beberapa
hal yang menyangkut tujuan Pendidikan yang sesuai dengan filsafat Pendidikan
yang harus kita ketahui, diantaranya adalah pengertian tujuan pendidikan
terkait batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat
perhatiannya untuk dicapai melalui usaha. Dalam tujuan
terkandung cita-cita, kehendak, dan kesengajaan, serta berkonsekuensi
penyusunan daya-upaya untuk mencapainya. Selanjutnya adalah kepentingan
Tujuan Pendidikan dimana tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam
proses pendidikan. Hal itu disebabkan oleh fungsi-fungsi yang
dipikulnya yaitu Pertama, tujuan pendidikan mengarahkan perbuatan mendidik.
Fungsi ini menunjukkan pentingnya perumusan dan pembatasan
tujuan pendidikan secara jelas. Kedua, tujuan
pendidikan mengakhiri usaha pendidikan. Apabila tujuan
pendidikan telah tercapai, maka berakhir pula usaha tersebut. Usaha yang
terhenti sebelum tujuannya tercapai, sesungguhnya belum dapat disebut berakhir,
tetapi hanya mengalami kegagalan yang antara lain disebabkan oleh tidak
jelasnya rumusan tujuan pendidikan. Ketiga, tujuan pendidikan disatu sisi
membatasi lingkup suatu usaha pendidikan, tetapi di sisi lain mempengaruhi
dinamikanya. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan usaha proses yang di
dalamnya usaha-usaha pokok dan usaha parsial saling terkait. Keempat,
Tujuan pendidikan memberikan semangat dan dorongan untuk melaksanakan
pendidikan. Hal ini berlaku pada setiap perbuatan.
Adapun
Subtansi dari tujuan pendidikan Islam, Ahmad Tafsir menjelaskan tujuan
pendidikan Islam dengan merujuk berbagai pendapat para pakar pendidikan Islam.
Dari berbagai pendapat tersebut, ia membagi tujuan
pendidikan yang bersifat umum dan bersifat khusus. Menurutnya,
untuk merumuskan tujuan pendidikan Islam secara umum harus diketahui terlebih
dahulu ciri manusia sempurna menurut Islam, yaitu dengan mengetahui terlebih
dahulu hakikat manusia menurut Islam. Dimana yang
menjadi prioritas utama dalam Pendidikan Islam adalah peningkatan dalam hal
budi pekerti. Menurut Ensiklopedia Pendidikan, budi pekerti diartikan
sebagai kesusilaan yang mencakup segi-segi kejiwaan dan perbuatan manusia;
sedangkan manusia susila adalah manusia yang sikap lahiriyah dan batiniyahnya
sesuai dengan norma etik dan moral. Haidar
dalam (Muhtadi, 2010) mengemukakan bahwa pendidikan budi pekerti adalah usaha
sadar yang dilakukan dalam rangka menanamkan atau menginternalisasikan
nilai-nilai moral ke dalam sikap dan prilaku peserta didik agar memiliki sikap
dan prilaku yang luhur (berakhlakul karimah) dalam kehidupan sehari-hari, baik
dalam berinteraksi dengan Tuhan, dengan sesama manusia maupun dengan
alam/lingkungan.
Menurut
Haidar dalam (Muhtadi, 2010) tujuan pendidikan
Budi Pekerti adalah untuk mengembangkan nilai, sikap dan prilaku siswa yang
memancarkan akhlak mulia/budi pekerti luhur. Hal ini
mengandung arti bahwa dalam pendidikan Budi Pekerti, nilai-nilai yang ingin
dibentuk adalah nilai-nilai akhlak yang mulia, yaitu tertanamnya nilainilai
akhlak yang mulia ke dalam diri peserta didik yang kemudian terwujud dalam
tingkah lakunya.
Sedangkan
menurut pendapat Nana Sujana dalam (Su�dadah, 2014) tujuan adalah
sesuatu yang dituju atau sesuatu yang akan dicapai. Suatu kegiatan harus
memiliki tujuan agar yang akan dicapai dari kegiatan
itu dapat diketahui, karena kegiatan tanpa tujuan akan berjalan tanpa arah. Dalam sistem pendidikan Nasional, rumusan tujuan pendidikan baik
tujuan kurikuler, maupun tujuan instruksional menggunakan klasifikasi belajar
dari Benyamin Bloom yang secara garis besar dibagi menjadi tiga ranah, yaki
ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Ranah kognitif
berkenaan dengan hasil belajar intelektual, ranah afektif berkenaan dengan sikap
dan ranah psikomotorik berkenaan dengan ktrempilan dan kemampuan untuk
bertindak. Oleh karena itu Haidar Putra Dauly dalam
(Su�dadah, 2014) menyatakan bahwa tujuan pendidikan budi pekerti adalah untuk
mengembangkan nilai, sikap dan perilaku siswa yang memancarkan akhlak mulia /
budi pekerti luhur. Dengan kata lain dalam
pendidikan budi pekerti nilai-nilai yang ingin dibentuk adalah nilai nilai
akhlak yang mulia, yaitu tertanamnya nilai-nilai akhlak yang mulia kedalam diri
peserta didik yang kemudian terwujud dalam tingkah lakunya.
Menurut
Basri (2019), berdasarkan sudut filosofis Pendidikan, banyak ragam konsep cara
pandang pelaksanaan Pendidikan yang digagas oleh para filosof, diantaranya
idealisme yaitu aliran filsafat yang berpandangan bahwa alam semesta ini
merupakan perwujudan intelegensi dan kemauan, realisme yaitu teori pengetahuan
realisme menyatakan adanya prinsip ketergantungan pengetahuan yang hadir dengan
sendirinya dan bersifat objektif serta tidak bergantung pada pengetahuan dan
gagasan manusia, naturalisme Romantis dimana menurut aliran ini, pendekatan
untuk mendidik anak bukanlah anak dengan mengajar anak secara formal atau
melalui pengajaran secara langsung, melainkan dengan memberikan kesempatan
kepada mereka untuk belajar melalui proses eksplorasi dan siskoveri, dan
terakhir pragmatisme dimana aliran ini disebut juga instrumentalisme karena
memandang bahwa tujuan Pendidikan bukanlah terminal, melainkan alat atau
instrumen untuk mencapai tujuan berikutnya.
Pada
definisi yang telah dikemukakan di atas sudah sejalan dengan tujuan yang
dikemukakan sebelumnya, yaitu perwujudan pengabdian yang optimal kepada Allah. Untuk dapat melaksanakan pengabdian tersebut, harus dibina seluruh
potensi yang dimilikinya, yaitu potensi spiritual, intelektual, perasaan,
kepekaan dan sebagainya. Jadi perspektif Visi
Pendidikan dilihat dari sudut pandang filsafat sudah selaras dengan tujuan dari
Pendidikan Nasional itu sendiri tergantung dari aliran filsafat mana yang
sesuai dengan visi Pendidikan yang dirumuskan oleh Lembaga Pendidikan tersebut.
C. Perspektif Visi Pendidikan dari Sudut
Pandang Psikologi
Pendidikan
selalu melibatkan kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologis Pendidikan
pada umumnya tertuju pada pemahaman manusia, khusunya proses perkembangan dan
proses belajar. Pendidikan adalah subdisiplin psikologi yang berkaitan dengan
teori dan masalah kependidikan yang berguna untuk menerapkan prinsip-prinsip
belajar dalam kelas, pengembangan dan pembaharuan kurikulum, ujian dan evaluasi
bakat dan kemampuan, serta sosialisasi proses dan interaksi pendayagunaan ranah
kognitif.
Peran
psikologi dalam bidang pendidikan, berkaitan dengan serangkaian tes yang
dilakukan dalam lingkungan pendidikan. Menurut Syah dalam
(Novianti, 2015) terdapat beberapa
definisi psikologi yang satu sama lain berbeda,yaiitu (1) psikologi adalah ilmu
mengenai kehidupan mental (The Science of mental Life), (2) psikologi adalah
ilmu mengenai pikiran (The Science of Mind), (3) psikolog adalah ilmu mengenai
tingkah laku (The Science of behavior).
Psikologi
pendidikan merupakan pembelajaran yang sistematis tentang proses-proses dan
faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia untuk memperoleh pengetahuan,
pemahaman dan cara bertingkah laku yang baik (Novianti, 2015). Menurut Syah
dalam (Novianti, 2015) bahwa psikologi
pendidikan adalah sebuah disiplin ilmu psikologi yang menyelidiki masalah
psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Dari beberapa definisi
tersebut, dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah salah satu ilmu
yang mempelajari tentang prilaku manusia didunia pendidikan yang meliput studi
sistematis tentang proses yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
pendidikan. Sedangkan menurut pendapat (Rosmayati et al., 2020) menyatakan bahwa
sebagai sebuah ilmu, tujuan psikologi Pendidikan adalah memberi kita
pengetahuan riset yang dapat secara efektif diaplikasikan untuk situasi mengajar.
Upaya menciptakan proses pembelajaran yang bermutu dan berhasil, dapat
dilakukan dengan mewujudkan perilaku psikologis proses pengajaran dan
pembelajaran antara pendidik dan peserta didik dapat berjalan secara efektif
dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Landasan
psikologis menjadi penting dikarenakan pendidikan umumnya berkaitan erat dengan
pemahaman dan penghayatan akan perkembangan manusia,
khususnya proses belajar mengajar. Landasan psikologi tentu
harus memiliki pedoman. Landasan yang dianut dalam pendidikan berpedoman
pada azas yang dibuat oleh Komisi Pembaharuan Pendidikan, salah satu asa yang
pertama adalah ide dari Ki Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing
Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Landasan dan Asas
yang diberlakukan dalam dunia pendidikan memiliki fungsi yang merupakan
serangkaian tugas atau misi yang diemban. Fungsi
pendidikan itu sendiri adalah menyiapkan sebagai manusia, menyiapkan tenaga
kerja dan menyiapakna warga negara yang baik. Di Indonesia dalam UU No.
20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, berbunyi bahwa
pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa. Hal ini bertujuan tidak hanya mencerdaskan peserta didik akan tetapi juga membentuk karakter anak menjadi lebih baik.
Ruang lingkup peran psikolog dalam membentuk karakter dimulai dari penyusunan
kurikulum yang sesuai dengan tahapan perkembangan usia peserta didik, buku
pembelajaran yang cocok untuk membentuk IQ (intelligence quotient) dan EQ
(emotional quotient) peserta didik sampai dengan kegiatan-kegiatan positif yang
dapat dilakukan peserta didik, bahkan tenaga pengajar yang mampu bekerja secara
efektif dan kreatif. Oleh karena itu psikolog dalam
pendidikan memiliki peran yang sangat penting, adapun yang harus dilakukan
adalah melakukan serangkaian tes. Selanjutnya hasil
tes dapat digunakan untuk memeriksa inteligensi (IQ), kepribadian, prestasi
akademik, minat dan bakat. disamping itu,
psikolog akan memeriksa hasil tes dan mengarahkan untuk penanganan lanjutan
berdasarkan hasil tes. Berdasarkan pernyataan Komisaris
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Listyarti, menjelaskan bahwa psikolog
sangat penting untuk dilibatkan dalam lingkup pendidikan. Psikolog akan
sangat membantu peserta didik maupun pendidik (guru) untuk saling berinteraksi
dan berkomunikasi dengan baik dalam hal apapun yang berkaitan dengan
permasalah-an yang mengganggu kegiatan sekolah. Pada dasarnya permasalahan dalam bidang pendidikan membutuhkan
seorang ahli dalam bidang kesehatan mental.
Permasalahan
lainnya dalam pendidikan yang sering terjadi adalah kesulitan siswa dalam
mengikuti pembelajaran. Peranan Psikologi
dalam dunia pendidikan sangatlah penting dalam rangka mewujudkan tindakan
psikologis yang tepat dalam interaksi antara setiap faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal yang
sangat penting dalam pendidikan. Oleh karena itu,
pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para
guru, bahkan bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik.
Oleh sebab itu psikologi pendidikan berfungsi diantaranya sebagai proses
Perkembangan siswa., mengarahkan cara belajar siswa,
sebagai penghubung antara mengajar dengan belajar, dan sebagai pengambilan
keputusan untuk Pengelolaan Proses Belajar Mengajar.
Dalam
psikologi Pendidikan dilihat dari sudut pandang behavioristik dimana Ciri-ciri
teori belajar behavioristik, yakni: (1) mementingkan pengaruh lingkungan
(environment); (2) mementingkan bagian-bagian (elementaristik); (3)
mementingkan peranan reaksi; (3) mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil
belajar; (4) mementingkan sebab-sebab di waktu yang lalu; (5) mementingkan
pembentukan kebiasaan; dan (6) dalam pemecahan masalah, ciri khasnya adalah
trial and error (Nurhidayah, 2017). Prinsip yang paling penting dari teori-teori belajar perilaku ialah
bahwa perilaku berubah menurut konsekuensi-konsekuensi langsung.
Konsekuensi-konsekuensi
yang menyenangkan memperkuat perilaku, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang
tidak menyenangkan melemahkan perilaku. Konsekuensi-konsekuensi
yang menyenangkan pada umumnya disebut reinforser (reinforcers), sedangkan
konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman (punishers).
Selanjutnya aliran kognitif, dimana Ciri-ciri teori belajar kognitif adalah:
(1) mementingkan apa yang ada pada diri si belajar (nativistic); (2)
mementingkan keseluruhan (wholistic); (3) mementingkan peranan fungsi kognitif;
(4) mementingan keseimbangan dalam diri pelajar (dynamic equilibrium); (5)
mementingkan kondisi yang ada pada waktu kini (sekarang); (6) mementingkan
pembentukan struktur kognitif; dan (7) dalam pemecahan masalah, ciri khasnya
adalah insight (Nurhidayah, 2017). Sehingga dapat disimpulkan bahwa peranan Psikologi dalam dunia
pendidikan sangatlah penting dalam rangka mewujudkan tindakan psikologis yang
tepat dalam interaksi antara setiap faktor pendidikan. Pengetahuan psikologis tentang peserta didik menjadi hal yang
sangat penting dalam pendidikan. Oleh karena itu,
pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para
guru, bahkan bagi tiap orang yang menyadari dirinya sebagai pendidik.
D. Perspektif Visi Pendidikan dari Sudut
Pandang Sosiologi
Sementara
itu sosiologi pendidikan tidak bisa dipisahkan dari sejumlah jenis ilmu yang
terkait dengan pendidikan. Meskipun
wilayah sosiologi pendidikan sangat terbatas, namun telah meningkat secara
pesat kontribusi terhadap suatu analisis ilmiah yang mengenai sistem sosial
pendidikan. Beberapa ahli memberikan batasan pengertian diantaranya ada
yang menyebutkan bahwa salah satu sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki
struktur dan dinamika proses pendidikan. Sedangkan Dictionary
of Sociology, membatasi pengertian sosiologi pendidikan sebagai sosiologi yang
diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.
Sementara E.G Payne menyebutkan bahwa sosiologi pendidikan
ialah suatu studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segi
ilmu sosiologi yang diterapkan. Bagi Payne sosiologi pendidikan tidak
hanya meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat bertalian
dengan proses belajar dan sosialisasi, akan tetapi
juga segala sesuatu dalam pendidikan yang dapat digunakan analisis sosiologis.
Menurut Charles A. Ellwood dalam (Arifin, 2020) sosiologi
Pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang maksud
hubungan-hubungan antara semua pokok masalah antara masalah social dan
Pendidikan. Sedangkan menurut FG. Robbin dan Brown
dalam (Arifin, 2020) mendefinisikan sosiologi� Pendidikan sebagai ilmu yang
membicarakan dan menjelaskan hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk
mendapatkan serta mengorganisasikan pengalaman.
Dari
definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi Pendidikan mengkaji
masyarakat yang didalamnya terdapat proses dan pola interaksi sosial dalam
hubungannya dengan Pendidikan. Dalam hubungan ini dapat
dilihat bagaimana masyarakat mempengaruhi Pendidikan. Juga
sebaliknya, bagaimana Pendidikan mempengaruhi masyarakat. Manusia adalah
makhluk sosial, yang selalu berkelompok dan saling� membutuhkan satu sama lain. Kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat sosial
dari pendidikan dan memandang masalah-masalah pendidikan dari sudut totalitas
sosial kebudayaan, politik dan ekonomisnya bagi masyarakat. Apabila psikologi pendidikan memandang gejala pendidikan dari
konteks perilaku dan perkembangan pribadi, maka sosiologi pendidikan memandang
gejala pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat. Dilihat dari objek penyelidikannya sosiologi pendidikan adalah
bagian dari ilmu sosial terutama sosiologi dan ilmu pendidikan yang secara umum
juga merupakan bagian dari kelompok ilmu sosial. Sedangkan yang termasuk
dalam lingkup ilmu sosial antara lain: ilmu ekonomi, ilmu hukum, ilmu
pendidikan, psikologi, antropologi dan sosiologi. Dari sini
terlihat jelas kedudukan sosiologi dan ilmu pendidikan. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan telah memiliki lapangan
penyelidikan, sudut pandang, metode dan susunan pengetahuan yang jelas. Objek penelitiannya adalah tingkah laku manusia dan kelompok.
Sudut pandangnya memandang hakikat masyarakat, kebudayaan dan
individu secara ilmiah. Sedangkan susunan
pengetahuannya terdiri dari atas konsep-konsep dan prinsip-prinsip mengenai
kehidupan kelompok sosial, kebudayaan dan perkembangan pribadi (Suhada, 2020).
Peran sosiologi dalam pembentukan karakter dari dunia pendidikan yaitu dalam kurikulum
sebelumnya guru diwajibkan untuk menyisipkan pendidikan karakter dalam proses
pembelajaran, dan pendidikan karakter itu harus tercantum dalam silabus serta
rencana pembelajaran, maka dalam kurikulum baru, hal yang semacam dengan
pendidikan karakter sudah masuk dalam kompetisi inti di setiap mata
pembelajaran, yaitu menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya dan
menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli
(gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsive dan pro-aktif
dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia (Suhada, 2020).
Kajian
sosiologi tentang Pendidikan pada prinsipnya mencakup semua jalur Pendidikan,
baik Pendidikan sekolah maupun Pendidikan di luar sekolah. Jadi dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu
pengetahuan yang menganalisis secara ilmiah tentang hubungan antara manusia
dalam pendidikan dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Pendidikan
dari sudut pandang sosiologi mempunyai visi untuk memberikan kontribusi
bagaimana faktor lingkungan mempengaruhi proses belajar individu. Hal ini sesuai dengan pendapat (Suhada, 2020) yang menyatakan bahwa
kajian sosiologi pendidikan menekankan implikasi dan akibat sosial dari
pendidikan dan memandang masalah-masalah pendidikan dari sudut totalitas
lingkup sosial kebudayaan, politik dan ekonomisnya bagi masyarakat. Apabila psikologi pendidikan memandang gejala pendidikan dari
konteks perilaku dan perkembangan pribadi, maka sosiologi pendidikan memang
gejala pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial masyarakat. Selain lingkungan masyarakat, peran budaya sekolah juga ikut
menungjang keberhasilan dari visi Pendidikan yang sudah dirumuskan.
Menurut Burt Nanus dalam Rahmat & Mirnawati (2015).,
budaya sekolah menentukan bagaimana energi sekolah dan struktur organisasi
sekolah akan ditransformasikan ke dalam pekerjaan yang bermanfaat (Burt Nanus).
Hal ini sesuai dengan pendapat Barry Cushway dalam (Rahmat, n.d.), budaya
sekolah merupakan sistem nilai sekolah dan akan
mempengaruhi cara pekerjaan dilakukan serta cara warga sekolah berperilaku. Budaya sekolah dibangun dari kepercayaan yang dipegang teguh secara
mendalam tentang bagaimana sekolah seharusnya dikelola atau dioperasikan.
Budaya sekolah dibangun dari kepercayaan yang dipegang teguh
secara mendalam tentang bagaimana sekolah seharusnya dikelola atau dioperasikan.
Budaya sekolah menunjuk pada suatu sistem berbagi makna
diantara para warga sekolah yang membedakan satu sekolah dengan sekolah
lainnya. Sistem berbagi rasa dalam hal ini merupakan
seperangkat karakteristik kunci berupa nilai-nilai sekolah itu sendiri. Sedangkan menurut Newstrom dalam Ansar dan Masaong dalam Rahmat
& Mirnawati (2015) budaya sekolah penting perannya terhadap kesuksesan
sekolah dengan beberapa alasan. Pertama, budaya
sekolah merupakan identitas bagi para guru dan staf di sekolah. Kedua, budaya sekolah merupakan sumber penting stabilitas dan
kelanjutan sekolah sehingga memberikan rasa aman bagi warga sekolah.
Ketiga, budaya sekolah membantu para guru baru/formula untuk
menginterprestasikan apa yang terjadi di sekolah. Keempat, budaya sekolah membantu menstimulus antusiasme guru dan
staf dalam menjalankan tugasnya. Budaya sekolah menentukan bagaimana
energi sekolah dan struktur organisasi sekolah akan
ditransformasikan ke dalam pekerjaan yang bermanfaat. Budaya sekolah merupakan
sistem nilai sekolah dan akan mempengaruhi cara
pekerjaan dilakukan serta cara warga sekolah berperilaku. Budaya
sekolah dibangun dari kepercayaan yang dipegang teguh secara mendalam tentang
bagaimana sekolah seharusnya dikelola atau dioperasikan. Budaya sekolah menunjuk pada suatu sistem berbagi makna diantara
para warga sekolah yang membedakan satu sekolah dengan sekolah lainnya. Sistem berbagi rasa dalam hal ini merupakan seperangkat
karakteristik kunci berupa nilai-nilai sekolah itu sendiri. Menurut Newstrom dalam Rahmat & Mirnawati (2015), budaya
sekolah penting perannya terhadap kesuksesan sekolah dengan beberapa alasan.
Pertama, budaya sekolah merupakan identitas bagi para guru
dan staf di sekolah. Kedua, budaya sekolah merupakan
sumber penting stabilitas dan kelanjutan sekolah sehingga memberikan rasa aman
bagi warga sekolah. Ketiga, budaya sekolah membantu para guru
baru/formula untuk menginterprestasikan apa yang
terjadi di sekolah. Keempat, budaya sekolah membantu
menstimulus antusiasme guru dan staf dalam menjalankan tugasnya.
Sehingga
kajian perspektif visi Pendidikan dari sudut pandang agama, filsafat, psikologi
dan sosiologi dalam hal ini diharapkan dapat menunjang keberhasilan dari sistem
Pendidikan nasional yang bermutu. Serta
dapat menghasilkan peserta didik yang berkualitas yaitu yang berwawasan luas,
berbudi pekerti luhur serta mempunyai skill yang unggul.
Berdasarkan
beberapa penelitian yang dilakukan Mugiarto et al. (2021) menyatakan bahwa visi
pendidikan berbasis agama, filsafat, psikologi dan sosiologi memiliki latar
belakang bahwa pendidikan merupakan salah satu upaya mencapai tujuan yang
secara runtut mengarah pada perbaikan tingkah laku menuju kedewasaan anak didik
Kehidupan manusia yang senantiasa terus berproses dalam perkembangan kehidupannya.
Di antara persoalan pendidikan yang cukup penting dan
mendasar adalah mengenai tujuan pendidikan. Pendekatan
tujuan dalam penelitian ini memiliki makna, bahwa upaya pendidikan adalah
pembinaan pribadi sejati yang mengabdi serta mengisi tugas kehidupannya di
dunia dan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan utama pendidikannya.
Dilihat
dari visi Pendidikan berbasis agama dalam penelitian tersebut menggambarkan
bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan secara
sadar untuk memberikan bimbingan atau pengarahan terhadap perkembangan jasmani
dan rohani anak menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan. Atau
dengan kata lain menuju terbentuknya manusia yang
dewasa, memiliki keterampilan, keahlian yang sempurna dengan kepribadian atau
akhlak yang utama. Pendidikan Islam juga suatu sistem yang
memungkinkan peserta didik dapat mengarahkan kehidupannya sesuai ideologi
Islam, punya kepribadian utuh (integrated personality) sehingga mampu
memakmurkan, memuliakan kehidupan material dan spiritual diri. Dimana diharapkan melalui pendekatan ini, dapat dengan mudah
membentuk kehidupan dirinya sendiri sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang
diyakininya. Karena pendidikan Islam merupakan usaha
membina dan mengembangkan pribadi manusia, baik dari aspek rohaniah, jasmaniah,
serta harus berlangsung secara hirarkis.
Selanjutnya
visi Pendidikan berbasis filsafat yang diangkat dalam penelitian ini adalah
membahas masalah visi pendidikan sebagai upaya mencari paradigma yang lebih
sesuai dengan tantangan zaman. Sehingga apabila dikaji
secara ontologis, aliran yang mengakui secara eksplisit eksistensi kebenaran
etik yang wujudnya berupa nilai �value� yaitu aliran idealisme dan
realisme.Aliran idealisme (serba cita) adalah gambaran subyektif (menurut
anggapan) tentang apa yang ada dalam alam sesungguhnya. Sedang aliran realisme
(serba nyata) adalah salinan obyektif (menurut kenyataan) dari apa yang ada dalam alam yang sesungguhnya (fakta atau
hakikat). Jadi menurut idealisme menyatakan bahwa pengetahuan
itu hanya rekaan akal yang jelas mustakhil dengan yang sebenarnya.
Sedangkan menurut realisme, pengetahuan itu tidak lain adalah potret yang
persis yang sebenarnya. Akan tetapi dalam penelitian tersebut
lebih condong kepada Pendidikan menurut aliran idealisme. Karena menurut peneliti dalam penelitian tersebut, idealisme
dianggap dominan dalam hal pembentukan karakter dan pengembangan bakat insani
dan kebajikan sosial. Aliran yang pandangannya hampir sama adalah
humanisme rasional, yang menyatakan bahwa faktor yang paling penting dalam alam
semesta ini adalah manusia dan kemanusiaan, dan oleh karena itu, rasionalitas
merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia dan kemanusiaan. aliran idealisme mengakui nilai dan etika itu absolut. Kebaikan, kebenaran, dan keindahan itu tidak berubah dari generasi
ke generasi lainnya.
Visi
Pendidikan berbasis psikologi dalam penelitian ini mengkajinya dilihat dari
segi psikologi humanistis. Dimana
dalam psikologi humanistis terdapat pikiran, perasaan dan kehendak.
Ketiga aspek inilah yang melahirkan karakteristik jiwa manusia, berupa gagasan,
kreatifitas, nilai-nilai hidup, pengalaman transendental, rasa malu, kesadaran
diri, tanggung jawab, hati nurani, makna hidup, cinta semangat, humor,
saraseni, dan lain-lain. Dengan demikian, pendidikan humanistik bermaksud
membentuk insan manusia yang memiliki komitmen humaniter sajati, yaitu insan
manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab sebagai insan
manusia individual, namun tidak terangkat dari kebenaran faktualnya bahwa
dirinya hidup di tengah masyarakat. Terakhir adalah visi
Pendidikan berbasis sosiologi yaitu melihat Pendidikan dari segi
multikulturalisme.
Karena
menurut pendapat Choerul Mahfud dalam (Mugiarto, Sofyan Sauri, Faiz Karim
Fatkhullah, Fauzi AlMuhtad, 2021) dikatakan bahwa Pendidikan dan masyarakat
multikultural memiliki hubungan timbal balik (reciprocalrelayionship). Artinya,
bila pada satu sisi pendidikan memiliki peran signifikan guna membangun
masyarakat multikultural, disisi lain masyarakat multikultural dengan segala
karakternya memiliki potensi signifikan untuk mensukseskan fungsi dan peran
pendidikan, itu berarti penguatan disatu sisi, langsung atau tidak langsung, akan memberi penguatan pada sisi lain. Menurut pendapat
Sofian Sauri dalam (Sodikin et al., 2021), Pendidikan tidak
hanya mendidik peserta didik untuk menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga
membangun kepribadiannya berakhlak mulia.
Berdasarkan
penelitian-penelitian terdahulu di atas, dapat diidentifikasi beberapa research
gap. Menurut Alvesson & Sandberg dalam (M. I. Muslim & Perdhana, 2017) research gap
adalah permasalahan yang belum tuntas diteliti atau belum pernah diteliti oleh
penelitian sebelumnya. Research gap dari sebuah penelitian
umumnya unik dan menjadikan pembeda antara satu riset dengan riset lainnya.
Adapun research gap yang ditemukan dari penelitian terdahulu
yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini (1) \belum dijelaskan secara
rinci mengeani ayat Al-Qur�an atau Hadits yang berkaitan dengan visi Pendidikan
berbasis agama, (2) dilihat dari visi Pendidikan berbasis filsafat hanya
melihat dari kajian filsafat aliran idealisme dan realisme saja.
Sementara kajian filsafat mengenai visi Pendidikan dari sudut pandang filsafat
juga bisa dikaji dari aliran naturalisme romantisme dan juga aliran pragmatism,
(3) visi Pendidikan berbasis psikologi hanya mengkajinya dilihat dari pandangan
aliran humanistik saja, sedangkan yang membahas masalah Pendidikan dalam
psikologi Pendidikan diantaranya ada aliran behavioristik dan juga kognitif (4)
visi Pendidikan berbasis sosiologi mengkaji visi Pendidikan dilihat dari sudut
pandang multikulturaalisme yaitu mengkaji bagaimana system Pendidikan
beradaptasi dengan lingkungan social. Sementara budaya sekolah merupakan faktor
yang paling dominan dalam mempengaruhi proses belajar.
KESIMPULAN
Berdasarkan kajian Pustaka di atas dapat kita ambil
beberapa kesimpulan dilihat dari sudut pandang agama Islam tujuan Pendidikan
yang hendak dibidik dewasa ini adalah untuk membimbing, mengarahkan, dan
mendidik seseorang untuk memahami dan mempelajari ajaran agama Islam. Diharapkan mereka memiliki kecerdasan berpikir
(IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan memiliki kecerdasan Spiritual (SQ) untuk
bekal hidup menuju kesuksesan dunia dan akherat, sedangkan pendidikan
berdasarkan aliran-aliran filsafat yaitu aliran progresivisme konstruktivisme,
dan humanisme menghendaki agar peserta didik dapat menggunakan kemampuannya
secara konstruktif dan komprehensif untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan
perkembangan ilmu dan teknologi. peserta didik harus
aktif mengembangkan pengetahuan, bukan hanya menunggu arahan dan petunjuk dari
guru atau sesama siswa, dan dari sudut pandang sosiologi, Pendidikan mempunyai
visi untuk memberikan kontribusi bagaimana faktor lingkungan mempengaruhi
proses belajar individu. Sedangkan tujuan Pendidikan dilihat dari sudut pandang
psikologi yaitu supaya proses dalam Pendidikan itu berjalan dengan baik dan
mencapai tujuan yang diinginkan maka terlebih dahulu harus bisa memahami
karakteristik dari siswa, memahami karakteristik dari proses belajar dan
pembelajaran, dan juga memahami lingkungan sekitar siswa untuk dimanfaatkan
dalam peningkatan proses dan hasil Pendidikan, sehingga dapat memberikan
prinsip-prinsip untuk digunakan dalam membuat keputusan yang baik dalam
Pendidikan.
Penelitian mendatang diharapkan dapat mengembangkan
ruang lingkup penelitian visi Pendidikan dilihat dari sudut pandang agama,
filsafat, psikologi dan sosiologi bisa dikaji lebih luas dengan mengambil lebih
banyak kajian literatur yang berbeda-beda. Sehingga kajian penelitian tersebut nantinya akan
menambah wawasan mengenai khasanah sistem Pendidikan di Indonesia terutama
kajian mengenai visi Pendidikan.
Anisa,
C., & Rahmatullah, R. (2020). Visi Dan Misi Menurut Fred R. David Dalam
Perspektif Pendidikan Islam. Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam,
4(1), 70�87. https://doi.org/10.32478/evaluasi.v4i1.356.
Arifin, Z. (2020). Sosiologi Pendidikan. Sahabat Pena Kita.
Basri. (2019). Landasan Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Calam, A., & Qurniati, A. (2016). Merumuskan Visi dan Misi Lembaga
Pendidikan. Jurnal Saintikom, 15(1), 53�68.
Firmansyah, E. (2019). Penerapan Teknologi Sebagai Inovasi Pendidikan. Prosiding
Seminar Nasional Pendidikan FKIP, 2(1), 657�666.
Moelong, L. J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakartat:
Rosda Karya.
Muhtadi, A. (2010). Strategi untuk mengimplementasikan Pendidikan Budi
Pekerti secara efektif di sekolah. Jurnal Dinamika Pendidikan, 17(1),
1�12.
Muslim, M. (2017). Membangun Visi Perusahaan. Esensi, 20,
144�152.
Muslim, M. I., & Perdhana, M. S. (2017). Glass ceiling: sebuah studi
literatur. Jurnal Bisnis Strategi, 26(1), 28�38.
https://doi.org/10.14710/jbs.26.1.28-38.
Novianti, N. (2015). Peranan Psikologi Pendidikan Dalam Proses Belajar
Mengajar. Jurnal Pendidikan Dasar (JUPENDAS), 2(2), 55�60.
Nurhidayah. (2017). Psikologi Pendidikan. Universitas Negeri
Malang.
Nurkholis, N. (2013). Pendidikan dalam upaya memajukan teknologi. Jurnal
Kependidikan, 1(1), 24�44. https://doi.org/10.24090/jk.v1i1.530.
Rosmayati, S., Latifah, E. D., & Maulana, A. (2020). Psikologi
Pendidikan"Landasan untuk Pengembangan Strategi Pembelajaran".
Widina Bhakti Persada Bandung.
Sodikin, O., Hendriady, D., Sauri, S., & Fathullah, F. K. (2021).
Komunikasi Dan Human Relation Pemimpin Pendidikan Berbasis Agama, Filsafat,
Psikologi, Dan Sosiologi. As-Salam: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, 5(1),
14�31.
Su�dadah. (2014). Doktoranda Alumni IAIN Sunaan kalijaga Yogyakarta
Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam, Guru PAI pada SMPN
Kedungbanteng I Kedungbanteng Banyumas. Pendidikan Budi Pekerti, 2(1),
132�141.
Sudaryono, P. K. D. P. P. (2014). Budaya dan Perilaku Organisasi.
Jakarta: Lentera Ilmu Cendekia.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Alfabeta.
Sumanto, E. (2019). Esensi, Hakikat, dan Eksistensi Manusia (Sebuah Kajian
Filsafat Islam). El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Tafsir Hadis, 8(2),
60�69.
Windaningrum, F. (2019). Analisis Relevansi Visi, Misi, Tujuan, dan
Kurikulum Antara SMKN 1 Kedawung Sragen dan SMKN 1 Bawen Semarang. AL-ISHLAH:
Jurnal Pendidikan Islam, 17(2), 123�140.
https://doi.org/10.35905/alishlah.v17i2.1017.
|
Achmad Saefurridjal, Faiz Karim Fatkhullah, Abdul Rohman, Samsudin (2023) |
|
First publication right: |
|
This article is licensed under: |