Volume 4, No. 1 Januari 2023
p-ISSN� 2721-3854
| e-ISSN 2721-2769
DOI: �https://doi.org/10.46799/jst.v4i1.685
MANAJEMENT CONFLICT DALAM
PENDIDIKAN BERBASIS AGAMA, FILSAFAT, PSIKOLOGI DAN SOSIOLOGI
Kursih sulastriningsih, Pipih Salanti, Faiz Karim
Fatkhulloh, Saefurrijal
Universitas Islam Nusantara, Indonesia
Abstrak:
Manajemen
Konflik Kepemimpinan dalam Pendidikan berbasis, agama, filsafat, psikologi dan
sosilogi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Konflik hanya dapat dihindari manakala ada upaya untuk menetralisir
(penengah) dari seorang pemimpin yang dapat dipercaya, berwibawa, jujur dan
adil berpedoman pada konsep manajemen konflik.Tujuan penelitian yang ingin
dicapai dalam pelaksanaan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan
menganalisis apa, mengapa, dan bagaimana kooperatif
dan konflik dalam manajemen komplik kepemimpinan dalam pendidikan berbasis
agama, filsafat, psikologi, dan sosiologi. Penelitian ini
menggunakan tinjauan pustaka dengan metode analisis pustaka. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur ilmiah
secara sistematis melalui artikel, jurnal serta dokumen yang membahas terkait
dengan tema penelitian ini secara signifikan. Hasil penelitian
menunjukan manajemen konflik dalam pendidikan adalah kerja sama
dan perselisihan dalam proses Pendidikan. Berbasis agama
berarti berpedoman pada ajaran Tuhan yang menghendaki kebaikan. Berbasis
filsafat berarti berpedoman pada pengetahuan semesta dan makna kehidupan yang
menghendaki rekonstruksi, yang dilakukan dengan cara
demokrasi atau consensus. Berbasis sosiologi berarti
berpedoman pada ilmu sosial sebagai kompleksitas sistem sosial. Berbasis psikologi berarti berpedoman pada ilmu pikiran dan tingkah
laku yang islami, yang ditangani melalui metode keyakinan, rasional, integrasi
metode keyakinan dan rasional, dan otoritas.
Kata Kunci: Manajemen; Konflik;
Agama; Filsafat; Psikologi; Sosiologi.
Abstract:
Leadership Conflict
Management in Education-based, religion, philosophy, psychology and sociology
is a unity that cannot be separated. Conflict can only be avoided if there is
an effort to neutralize (mediate) a leader who can be trusted, authoritative,
honest and fair based on the concept of conflict management. The research
objectives to be achieved in conducting this research are to describe and
analyze what, why, and how cooperative and conflict in leadership complex
management in religion-based education, philosophy, psychology, and sociology.
This study used a literature review with a literature analysis method. Data
collection was carried out through a systematic search of scientific literature
through articles, journals and documents that discussed significantly related
to this research theme. The results of the study show that conflict management
in education is cooperation and disputes in the educational process. Based on religion means guided by the teachings of God who wants
goodness. Philosophically based means guided by universal knowledge and
the meaning of life that requires reconstruction, which is carried out by means
of democracy or consensus. Based on sociology means guided by
social science as the complexity of social systems. Psychology-based
means guided by the Islamic science of thought and behavior, which is handled
through belief, rational methods, integration of belief and rational methods,
and authority.
Keywords: Management; Conflict;
Religion; Philosophy; Psychology; Sociology.
Article History�����������������������
Accepted�������� : 28 December 2022
Revisied���������� : 01 January2023
Published�������� : 10 January 2023
�����������
INTRODUCTION
Konflik
merupakan interaksi yang menentang meliputi tingkah laku yang tampak jelas mulai
dari perlawanan yang halus, tersembunyi, terarah, tidak langsung sampai dengan
bentuk perlawanan terang-terangan (Santoso, 2019). Untuk mendapatkan capaian kepemimpinan yang
efektif perlu dilakukan kegiatan dan penugasan yang memberikan arahan,
bimbingan yang mengarah kepada kerjasama dan keikutsertaan dalam mengkoordinasikan
kegiatan observasi, suvervisi dan evaluasidari hasil kinerja (Amri, 2018).
�� Dalam suasana Pendidikan konflik merupakan
salah satu kajian menarik dalam ilmu Manajemen Pendidikan (Purba et al., 2021). Keberadaan konflik dalam manajemen Pendidikan
selalu melekat dalam persoalan kegiatan keseharian yang dialami oleh institusi
Pendidikan (Efferi, 2013). Suatu konflik jika dibiarkan berlarut-larut tanpa
ada penyelesaian akan mengganggu kekompakan dalm organisasi, selain itu juga
dapat menurunkan kinerja organisasi (Madiistriyatno &
Wahyuningsih, 2021).
Maka dari itu keahlian dalam mengelola suatu konflik sangat
di perlukan bagi setiap pemimpin. Kenyataannya tidak jarang terjadi
perbedaan pendapat, perselisihan, serta pertentangan yang dapat menimbulkan
banyak konflik dalam organisasi bahkan keluarga sekalipun dari mulai konflik
kecil hingga konflik besar baik secara diam-diam maupun secara terang-terangan (Murni, 2018).
Berdasarkan hal tersebut, pengelola lembaga
pendidikan membutuhkan perspektif dan tanggung jawab yang lebih luas dalam
penanganan konflik. Apalagi dalam penanganan konflik dalam lembaga pendidikan
dihadapkan pada dinamisasi sejumlah personel (baik tenaga edukatif maupun non
edukatif) yang memiliki watak dan sifat yang berbeda-beda. Realitas yang
tidak terelakkan dalam dunia pendidikan ini, mengemukakan karena pada dasarnya
setiap personel memiliki visi dan orientasi kegiatan yang berbeda, saling
saling mengadakan interaksi dan saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan
organisasi (Baharuddin, 2012).
(Sauri,
2017) menjelaskan bahwa ungkapan bahasa yang kasar dan arogan seringkali
menyebabkan perselisihan dan perkelahian (konflik). Intinya
adalah �komunikasi�, dimana berbahasa tidak santun dapat melahirkan kesenjangan
komunikasi, sehingga menimbulkan situasi yang buruk dalam berbagai lingkungan
baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
�Kecenderungan terjadi konflik� bisa disebabkan oleh suatu keadaan secara
mendadak diantaranya:� Adanya
perkembangan teknologi baru , persaingan yang keta,� perbedaan nilai dan� kebudayaan�
serta berbagai macam kepribadian individu efek dari banyak orang yang
mengungkapkan pendapat� dengan bebas
tanpa disadari� dengan pertimbangan moral� baik dari segi nilai maupun dari agam, maka
dengan itu� munculah berbagai
pertentangan� dan perselisihan� dalam masyarakat (Silviani, 2020). Tutur kata yang kurang baik dapat
mengakibatkan� perselisihan dalam
komunikasi� sehingga mengakibatkan
situasi yang tidak baik didalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan di
masyarakat (Sari, 2020).
Pada
kenyataannya sering terjadi perbedaan pandangan, ketidak cocokan, serta
pertentangan yang terkadang menimbulkan banyak konflik dalam organisasi
dimanapun, baik keluarga sekalipun, terdapat konflik, mulai dari konflik kecil
hingga konflik besar, baik secara tdiam-diam ataupun� yang timbul�
secara terang- terangan.
METHODS
Penelitian ini menggunakan tinjauan pustaka dengan metode analisis pustaka (Azwar, 2010). Pengumpulan data
dilakukan melalui penelusuran literatur ilmiah secara sistematis melalui
artikel, jurnal serta dokumen yang membahas terkait dengan tema penelitian ini
secara signifikan. Konteks yang menjadi objek
penelitian ini adalah data-data yang dielaborasikan secara erat mengenai
Manajemen Conflict Dalam Pendidikan Berbasis Agama, Filsafat, Psikologi dan Sosiologi.
Selanjutnya dilakukan proses pengumpulan data dan analisis, kemudian penelitian
menyampaikan kesimpulan sebagai penutup hasil penelitian ini.
RESULTS AND DISCUSSION
Manajemen konflik dalam
Pendidikan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etimologi kata
�kooperatif� adalah bersifat kerja sama; bersedia membantu, Konflik adalah
percekcokan; perselisihan; pertentangan ,dan pendidikan adalah proses, cara,
perbuatan mendidik; proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Siahaan, 2018),� Singkatnya, manajemen konflik dalam
pendidikan adalah kerja sama dan perselisihan dalam proses Pendidikan.
Manajemen
Konflik Kepemimpinan dalam Pendidikan berbasis, agama, filsafat, psikologi dan
sosilogi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Faktanya, masih terjadi konflik secara horisontal, baik dari aspek agama,
filsafat, prikologi, dan sosiologi sebagaimana terjadi di republik ini (Abdulhak et al., 2019). Hal ini
disebabkan karena kurangnya kesadaran membangun kerukunan, hidup berdampingan,
dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi maupun, kelompok, sehingga
diperlukan manajemen konflik dan kepemimpinan yang berwibawa, jujur dan dapat dipercaya
sebagai penetralisir (penengah) diantara pihak-pihak yang berkonflik
(bertikai), sekaligus sebagai sarana untuk menyatukan berbagai hal (konflik)
yang saling bertentangan untuk membebaskan kehidupan manusia dari kepentingan
individual dan dari kejelekan-kejelekan, sehingga kemudian mereka dapat dibawa
menuju ke jalan yang terang.
Berdasarkan
hasil analisis dan uraian pada latarbelakang masalah tentang manajemen konflik
dalam kepemimpinan berbasis agama, filsafat, psikologi dan sosioligi, penulis
berpendapat bahwa konflik tidak dapat dihindarkan karena bersifat alamiah dalam
setiap aktififitas setiap individu maupun organisasi /kelompok. Konflik hanya dapat dihindari manakala ada upaya untuk menetralisir
(penengah) dari seorang pemimpin yang dapat dipercaya, berwibawa, jujur dan
adil berpedoman pada konsep manajemen konflik. Dalam
konteks pendidikan berbasis agama, filosofi, prikologi dan sosiologi, pengambil
kebijakan (desesion maker) dihapkan memiliki rasa kepedulian, tanggungjawab,
mengayomi, berwibawa, dapat dipercaya sehingga mampu mencari solusi.
Hasil
interpretasi terhadap manajemen konflik dalam kepemimpinan berbasis agama
adalah, bahwa manusia sebagai mahluk sosial, selalu dihadapkan pada kenyataan
tentang konflik. (Dahrendorf, 1986), menganggap manusia
memiliki sifat ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerja sama
Kepemimpinan dalam
organisasi diarahkan untuk mempengaruhi orang- orang yang dipimpinnya, agar mau
berbuat seperti yang diharapkan ataupun diarahkan oleh orang yang memimpinnya
dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, meminimalisir dan mengelola konflik
untuk mencapai tujuan bersama (Rustandi, 2019). Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian, dapat menggangu
kekompakan suatu organisasi, dan dapat menurunkan kinerja organisasi.
CONCLUSION
Konflik
merupakan perbedaan, pertentangan, dan ketidak sesuaian kepentingan, tujuan,
dan kebutuhan dalam situasi formal, sosial, dan psikologis, sehingga menjadi
antagonis,�� ambivalen,�� dan��
emosional diantara individu dalam suatu kelompok atau organisasi. Dalam
Islam, konflik bukanlah sebagai tujuan namun lebih sebagai sarana untuk
memadukan antara berbagai hal yang saling bertentang-an untuk membebaskan
kehidupan manusia dari kepentingan individual dan dari kejelekan-kejelekan, sehingga
tidak membiarkan perbedaan-perbedaan itu menjadi penyebab adanya permusuhan.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik
yaitu keterbatasan sumber, tujuan yang berbeda komunikasi yang tidak baik,
beragam karakteris- tik sistem sosial, pribadi orang, kebutuhan, perasaan dan
emosi. Ada lima
tipe konflik antara lain: konflik internal individu, konflik antar individu,
konflik antara individu dan kelompok, konflik antarindividu dalam organisasi,
dan konflik antarorganisasi.
Islam
banyak menggunakan cara-cara damai sebagai cara untuk
mengelola konflik. Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk
memiliki sikap toleransi terhadap perbedaan perbedaan yang dimiliki tiap-tiap
manusia. Karena perbedaan itu merupakan kodrat Allah
Swt. yang tidak bisa ditolak. Perbedaan itu diciptakan untuk saling
melengkapi, dan dengan perbedaan itu manusia��
akan��
terus berkem-bang dan menciptakan perubahan-perubahan yang nantinya akan
berman-faat bagi manusia pada umumnya.
Prinsip-prinsip
pelaksanaan manajemen konflik adalah : perlakukanlah
secara wajar dan alamiah, pandanglah sebagai dinamisator organisasi, media
pengujian kepemimpinan, dan fleksibilitas strategi. Kriteria
keberhasilan manajemen konflik dapat diukur dari beberapa hal yang seyogyanya
menjadi langkah-langkah pelaksanaan manajemen konflik.
Abdulhak,
H. I., Sauri, H. S., & Angwarmase, R. (2019). Program Studi Doktor Ilmu
Pendidikan Sekolah Pascasarjana (S3) Universitas Islam Nusantara Bandung.
Universitas Islam Nusantara.
Amri. (2018). Peranan Camat dalam Perencanaan Pembangunan di Kecamatan
Bungin Kabupaten Enrekang. Politeknik STIA LAN Makassar.
Azwar, S. (2010). Metode penelitian (Edisi ke 1). Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Baharuddin, B. (2012). Konstelasi Konflik dalam Lembaga Pendidikan: sebuah
Telaah Kritis. In el-hikmah. Universitas Islam Negeri Malang.
Dahrendorf, R. (1986). Konflik dan konflik dalam masyarakat industri:
sebuah analisa-kritik. Penerbit CV Rajawali.
Efferi, A. (2013). Manajemen Konflik Dalam Lembaga Pendidikan. QUALITY,
1(1), 21�47. https://doi.org/10.21043/quality.v1i1.189.
Madiistriyatno, H., & Wahyuningsih, S. (2021). Dinamika Organisasi.
Indigo Media.
Murni, M. (2018). Manajemen Konflik Dalam Pendidikan. Intelektualita,
4(1), 140�170.
Purba, S., Subakti, H., Kato, I., Chamidah, D., Muntu, D. L., Cecep, H.,
Situmorang, K., & Saputro, A. N. C. (2021). Teori Manajemen Pendidikan.
Medan: Yayasan Kita Menulis.
Rustandi, R. N. (2019). Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Terhadap
Kinerja Karyawan di PT. Indo Raya Energi Karawang. Program Studi Manajemen
S1 Fakultas Ekonomi-Bisnis Universitas Widyatama.
Santoso, T. (2019). Konflik dan Perdamaian. CV Saga Jawadwipa.
Sari, A. F. (2020). Etika komunikasi. TANJAK: Journal of Education and
Teaching, 1(2), 127�135.
Sauri. (2017). Kesantuan Berbahasa. Bandung: Press Royyan.
Siahaan, A. (2018). Kepemimpinan Pendidikan (Aplikasi Kepemimpinan
Efektif, Strategis, dan Berkelanjutan). Cv. Widya Puspita.
Silviani, I. (2020). Komunikasi Organisasi. Scopindo Media Pustaka.
|
Kursih sulastriningsih, Pipih Salanti, Faiz Karim Fatkhulloh,
Saefurrijal (2023) |
|
First publication right: |
|
This article is licensed under: |