Volume 4, No. 1 Januari 2023
p-ISSN� 2721-3854
| e-ISSN 2721-2769
DOI: �https://doi.org/10.46799/jst.v4i1.687
ANALISIS FAKTOR
KETERLAMBATAN PELAKSANAAN PROYEK JEMBATAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA
Nani Tabrani, Ahmad Perwira Mulia, Ridwan Anas
Universitas
Sumatera Utara, Indonesia
Abstrak:
Keberhasilan proyek
tidak terlepas dari pihak-pihak yang terlibat dalam proses� pelaksanaanya� seperti�
owner� (pemilik),� perencana�
dan� pengawas� (konsultan)��
dan pelaksana pekerjaan (kontraktor). Ketiga sektor tersebut haruslah menjaga� kualitas dan
kuantitas agar proyek yang telah direncanakan dapat diselesaikan� dengan baik. Kontraktor sebagai pelaksana
harus memiliki manajemen yang baik� dalam
mengatur dan mengkoordinir perusahaannya maupun pekerja di lapangan,� sehingga dapat meminimalisasi munculnya
risiko-risiko� yang akan berdampak� langsung�
kepada� terjadinya� keterlambatan�
pada� saat� proses�
pembangunanan.� Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterlambatan dalam� pelaksanaan proyek konstruksi jembatan
dengan menggunakan dana APBN di� Provinsi
Sumatera Utara. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan� kuesioner
sebagai instrumen penelitian. Responden penelitian adalah pemilik,
kontraktor� dan� konsultan�
pengawas� yang� menangani�
paket� pekerjaan� jembatan�
wilayah� Provinsi Sumatera Utara.
Analisis data dilakukan dengan metode Principal� Component Analysis, faktor-faktor
keterlambatan terdiri atas manajemen�
proyek dan kontrak operasional lapangan dan kondisi alam.
Kata Kunci: Keterlambatan; Proyek
Konstruksi; Jembatan.
Abstract:
The success of the
project is inseparable from the parties involved in the implementation process
such as the owner (owner), planners and supervisors (consultant) and executor
of work (contractor). The three sectors must maintain quality and quantity so
that the projects that have been planned can be completed properly. Contractors
as executors must have good management in managing and coordinating their
company and workers in the field, so as to minimize the emergence of risks that
will have a direct impact on delays during the construction process. This study
aims to identify the factors of delays in the implementation of bridge
construction projects using APBN funds in North Sumatra Province. The method
used is a qualitative method with a questionnaire as a research instrument. The
research respondents were the owners, contractors and supervisory consultants
who handled the bridge work packages for the North Sumatra Province. Data
analysis was carried out using the Principal Component Analysis method, the
delay factors consisted of project management and field operational contracts
and natural conditions..
Keywords: Delay, Construction Project,
Bridge.
Article History�����������������������
Accepted�������� : 28 December 2022
Revisied���������� : 01 January2023
Published�������� : 10 January 2023
�����������
INTRODUCTION
Proses pekerjaan konstruksi
melibatkan banyak pihak dan dibatasi oleh biaya, mutu serta waktu (Maulani et al., 2014). Permasalahan
kinerja yang paling sering terjadi berupa keterlambatan proyek yang dapat
terjadi di fase awal proyek sampai pada fase akhir proyek. Berbagai
faktor ditengarai menjadi penyebab keterlambatan, baik secara internal maupun
eksternal (Mungkasa, 2020).
Keterlambatan
proyek menjadi salah satu topik penelitian yang telah lama dilakukan. (Trauner et al., 2017) menyebutkan bahwa ada
empat cara dasar untuk mengkategorikan jenis
keterlambatan: critical atau non-critical; excusable atau non-excusable;
compensable atau non-compensable; concurrent atau non-concurrent. Karakteristik
dan kompleksitas pekerjaan kontruksi menyebabkan faktor-faktor keterlambatan
antara satu proyek dengan proyek yang lain bisa bervariasi (Sianipar, 2013). Karakteristik
pekerjaan konstruksi jembatan berbeda dengan pekerjaan konstruksi gedung.
Pekerjaan jembatan lebih banyak menggunakan peralatan berat dalam proses
produksinya. Sementara pekerjaan gedung relatif lebih banyak menggunakan tenaga
kerja dalam proses produksinya (Ervianto & MT, 2006).
(Bansambua, 2013)
menyatakan bahwa keterlambatan pelaksanaan proyek pada pekerjaan jalan dan
jembatan disebabkan oleh tidak tersedianya bahan secara cukup pasti/layak
sesuai kebutuhan; mobilisasi sumber daya (bahan, alat, tenaga kerja) yang
lambat. Keterlambatan tetap saja tidak bisa dihindari
apabila berhubungan dengan kejadian alam, seperti hujan, banjir, longsor, dan lain-lain.
Apalagi dalam pelaksanaan proyek jalan dan jembatan hal ini
sangat berpengaruh dan tidak bisa dihindari dalam pelaksanaan karena
pengerjaannya dilakukan diluar ruangan.
Keterlambatan diakibatkan oleh
adanya permintaan perubahan pekerjaan, banyaknya perubahan pekerjaan merupakan
compensable delay yang berarti kontraktor berhak untuk meminta kompensasi
tambahan bila hal ini terjadi dalam suatu proyek konstruksi (Purba, 2009). Pelaksana proyek
konstruksi tentu mengharapkan pelaksanaan proyek konstruksi sesuai dengan
perencanaan yang dibuat, namun pada kenyataannya tidak ada proyek yang dapat
mencapai kondisi ideal tersebut (Mahapatni, 2019). Pada semua proyek
konstruksi pasti akan terjadi perubahan rencana atau hambatan lain yang
seringkali menyebabkan terjadinya keterlambatan (Ladjao et al., 2016).
(Soeharto, 2001)
berpendapat bahwa pelaksanaan proyek dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap
persiapan dan tahap pelaksanaan pembangunan. Bila
tidak direncanakan dan dikoordinasikan secara tepat, penyelesaian proyek yang
sudah berada diambang pintu dapat terhambat. Untuk
mendapatkan hasil efektif diperlukan jalur komunikasi dan tanggungjawab
vertikal maupun horizontal dalam pengelolaannya.
Penelitian (Khoirul et al., 2017) menyimpulkan cuaca buruk
(hujan deras/lokasi tergenang), tidak memenuhi perencanaan awal proyek,
produktivitas tidak optimal oleh kontraktor, mengalami gangguan diluar proyek,
keterlambatan pengiriman bahan menjadi penyebab keterlambatan proyek. Sementara
hasil penelitian (Yuliana, 2013) pada jembatan Lingkar
Batulicin/ Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan diperoleh delapan faktor
yang paling dominan penyebab keterlambatan yaitu kondisi cuaca yang tidak
terduga sebelumnya, kekurangan tenaga kerja/personil, kekurangan peralatan,
kesalahan yang terjadi selama pelaksanaan proyek sehingga harus dikerjakan
kembali, prediksi terhadap lokasi lapangan atau geografis proyek,� faktor terlambat membayar upah, perencanaan
yang kurang lengkap, faktor material yang digunakan jarang ditemui dipasaran.
Beberapa penelitian di atas
telah menunjukkan bahwa keterlambatan proyek (delay) akan
sangat riskan terjadi jika tidak adanya manajemen yang baik dan pengambilan
keputusan yang efektif untuk menghindari hal-hal yang berisiko menyebabkan
keterlambatan proyek. Karena jika pekerjaan terlambat tentu akan
menyebabkan pembengkakan biaya, dan mungkin kontraktror akan merugi dalam hal
tersebut.
Beranjak dari pemaparan di atas,
maka penelitian ini akan mengidentifikasi
faktor-faktor penyebab terjadinya keterlambatan (delay) pada pelaksanan
pekerjaan konstruksi jembatan di Sumatera Utara. Berdasarkan penelusuran awal,
pada Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II Medan terdapat 5 (lima) paket
pekerjaan jembatan yang dilaksanakan dari tahun 2017 sampai dengan 2021
mengalami keterlambatan sebagaimana terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Paket terlambat pekerjaan
pada BBPJN II Medan
|
No |
Nama Paket |
Tahun
Anggaran |
|
1 |
Pembangunan
Jembatan Sei Wampu (MYC) |
2017 |
|
2 |
Paket
Penggantian Jembatan Idano Oou |
2018 |
|
3 |
Paket
Penggatian Jembatan Aek Tano Ponggol ( MYC) |
2019 |
|
4 |
Pembangunan
Jembatan Sei Wampu (Lanjutan TA. 2019) |
2019 |
|
5 |
Pembangunan
Jembatan Idano Sibolou |
2020 |
|
6 |
Pembangunan
Jembatan Idano Eho |
2021 |
Sumber: Balai Besar
Pelaksanaan Jalan Nasional II Medan
Keterlambatan terjadi karena berbagai permasalahan baik secara teknis
maupun non-teknis. Identifikasi
pada penelitian ini dilakukan berdasarkan perspektif kontraktor pelaksana dan
konsultan pengawas yang pernah melaksanakan pekerjaan jembatan di wilayah
Sumatera Utara.
METHODS
Metode
penelitian yang digunakan pada penelitian ini berupa metode kualitatif dan
kuantitatif (Sugiyono, 2018) dengan analisis faktor, metode kuantitatif digunakan untuk
mendapatkan skor dari hasil persepsi responden pada kuesioner. Selanjutnya dianalisis melalui software SPSS. Angka dari
hasil analisis tersebut berupa rhitung, thitung, cronbach alpha, nilai KMO,
nilai MSA, nilai PCA, Rotasi Kelompok Faktor, dan menamakan Kelompok Faktor. Bagan alir penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.
Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer
merupakan data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner pada responden
dan observasi secara langsung di lokasi proyek. Data
sekunder merupakan data pendukung yang didapatkan dari instansi terkait.
Variabel penelitian diperoleh dari penelitian terdahulu sebagaimana
terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Variabel Penelitian
|
Faktor |
Indikator |
Sumber |
|
Tenaga Kerja |
Kekurangan
tenaga kerja untuk menyelesaikan proyek |
Chandra Yuliana (2013): Sepasgozar
(2014); Malir (2018): Adhiputra (2017) |
|
Kualifikasi
tenaga kerja yang tidak memenuhi standar |
Najah (2018):
Triarman (2018) |
|
|
Rendahnya
produktivitas yang dihasilkan setiap tenaga kerja |
Najah (2018) |
|
|
Kerjasama tim
yang kurang baik |
Khoirul (2019) |
|
|
Material |
Perubahan
jenis dan spesifikasi material� yang
digunakan |
Bansambua
(2014); Malir (2018) |
|
Kelangkaan
material yang dibutuhkan |
Chandra Yuliana (2013) |
|
|
Rendahnya
mutu material |
Sepasgozar (2014); Triarman (2018) |
|
|
Pengiriman
material/bahan konstruksi terlambat sampai ke lapangan (site) |
Bansambua (2014): Khoirul (2019) |
|
|
Peralatan |
Peralatan
tidak sesuai dengan kontrak |
Chandra Yuliana (2013) |
|
Kerusakan
peralatan/alat berat yang sangat penting untuk dipakai |
Malir (2018) |
|
|
Mobilisasi
sumber daya alat yang lambat |
Bansambua (2014) |
|
|
Lokasi Pekerjaan |
Kondisi alam
yang berbeda dari saat survei |
Malir (2018) |
|
Transportasi
ke lokasi proyek yang sulit |
Chandra Yuliana (2013) |
|
|
Cuaca buruk
di sekitar lokasi proyek (hujan deras/banjir/bencana alam) |
Chandra Yuliana (2013); Khoirul
(2019):� Malir (2018) |
|
|
Kontrak |
Estimasi
durasi kontrak terlalu cepat/pendek |
Sulaiman (2017) |
|
Ketidaksesuaian
antara penggambaran dengan representasi di lapangan |
Sulaiman
(2017) |
|
|
Perubahan
lingkup pekerjaan pada waktu pelaksanaan |
Sulaiman
(2017) |
|
|
Ada banyak
(sering) terjadi pekerjaan tambah |
Sulaiman
(2017) |
|
|
Manajemen Proyek |
Keterlambatan
proses pembayaran progress kerja |
Sulaiman (2017); Malir (2018) |
|
Terlambat
menyetujui gambar kerja dan contoh material yang diajukan |
Chandra Yuliana (2013): Triarman
(2018) |
|
|
Komunikasi
dan koordinasi owner yang buruk terhadap pihak lain |
Khoirul (2019): Chandra Yuliana
(2013): Sepasgozar (2014) |
|
|
Keterlambatan
dalam proses pengambilan keputusan untuk konstruksi |
Khoirul (2019): Chandra Yuliana
(2013): Sepasgozar (2014) |
|
|
Perencanaan dan Penjadwalan Pekerjaan |
Penetapan
jadwal proyek yang amat ketat oleh pemilik |
Adhiputra
(2017) |
|
Rencana
urutan kerja yang tidak tersusun dengan baik/terpadu |
Adhiputra
(2017) |
|
|
Penentuan
durasi waktu kerja yang tidak seksama |
Adhiputra
(2017) |
|
|
Rencana kerja
pemilik yang sering berubah-ubah |
Adhiputra
(2017) |

Gambar 1. Bagan Alir Penelitian
RESULTS AND DISCUSSION
A. Hasil Pengolahan Data
Evaluasi
faktor-faktor keterlambatan pada pelaksanaan proyek konstruksi jembatan.
Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi 7 (tujuh) faktor yaitu: tenaga kerja,
material, peralatan, lokasi pekerjaan, kontrak, manajemen proyek, perencanaan
dan penjadwalan pekerjaan.� Masing-masing faktor memiliki indikator yang secara keseluruhan
terdiri atas 26 indikator.
1.
Korelasi Matrik
Tujuan
korelasi matrik yang pertama adalah untuk memeriksa seluruh indikator yang
diambil dari suatu sumber dapat dibentuk menjadi suatu faktor atau tidak,
dengan syarat KMO > 0,5. Kedua untuk memastikan
jumlah sampel yang ditetapkan sudah memadai atau tidak untuk diterapkan PCA,
dengan syarat nilai Sig. < 0,05. Sementara yang ketiga
untuk menyeleksi seluruh indikator yang diambil dari suatu sumber dapat muncul
di wilayah penelitian atau tidak, dengan syarat MSA > 0,5.
Adapun output korelasi matrik ini diperlihatkan pada Tabel 3.
Tabel
3.
Hasil Korelasi Matrik
|
Parameter |
Korelasi
Matrik ke- |
||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
KMO > 0,5 |
0,543 |
0,701 |
0,737 |
0,799 |
|
|
Sig. < 0,05 |
0 |
0 |
0 |
0 |
|
|
MSA < 0,5 |
10 |
1 |
2 |
0 |
|
|
X1 |
Kekurangan
tenaga kerja untuk menyelesaikan proyek |
.563a |
.506a |
.429a |
- |
|
X2 |
Kualifikasi
tenaga kerja yang tidak memenuhi standar |
.508a |
.438a |
- |
- |
|
X3 |
Rendahnya
produktivitas yang dihasilkan setiap tenaga kerja |
.586a |
.586a |
.641a |
.792a |
|
X4 |
Kerjasama tim
yang kurang baik |
.565a |
.513a |
.488a |
- |
|
X5 |
Perubahan
jenis dan spesifikasi material� yang
digunakan |
.548a |
.701a |
.678a |
.722a |
|
X6 |
Kelangkaan
material yang dibutuhkan |
.341a |
- |
- |
- |
|
X7 |
Rendahnya
mutu material |
.257a |
- |
- |
- |
|
X8 |
Pengiriman
material/bahan konstruksi terlambat sampai ke lapangan (site) |
.303a |
- |
- |
- |
|
X9 |
Peralatan
tidak sesuai dengan kontrak |
.270a |
- |
- |
- |
|
X10 |
Kerusakan
peralatan/alat berat yang sangat penting untuk dipakai |
.223a |
- |
- |
- |
|
X11 |
Mobilisasi
sumber daya alat yang lambat |
.701a |
.717a |
.724a |
.719a |
|
X12 |
Kondisi alam
yang berbeda dari saat survei |
.660a |
.872a |
.909a |
.886a |
|
X13 |
Transportasi
ke lokasi proyek yang sulit |
.532a |
.755a |
.781a |
.764a |
|
X14 |
Cuaca buruk
di sekitar lokasi proyek (hujan deras/banjir/bencana alam) |
.760a |
.606a |
.574a |
.653a |
|
X15 |
Estimasi
durasi kontrak terlalu cepat/pendek |
.540a |
.836a |
.832a |
.804a |
|
X16 |
Ketidaksesuaian
antara penggambaran dengan representasi di lapangan |
.429a |
- |
- |
- |
|
X17 |
Perubahan
lingkup pekerjaan pada waktu pelaksanaan |
.553a |
.639a |
.722a |
.774a |
|
X18 |
Ada banyak
(sering) terjadi pekerjaan tambah |
.698a |
.714a |
.700a |
.765a |
|
X19 |
Keterlambatan
proses pembayaran progress kerja |
.417a |
- |
- |
- |
|
X20 |
Terlambat
menyetujui gambar kerja dan contoh material yang diajukan |
.665a |
.799a |
.822a |
.877a |
|
X21 |
Komunikasi
dan koordinasi owner yang buruk terhadap pihak lain |
.728a |
.757a |
.737a |
.811a |
|
X22 |
Keterlambatan
dalam proses pengambilan keputusan untuk konstruksi |
.778a |
.785a |
.876a |
.883a |
|
X23 |
Penetapan
jadwal proyek yang amat ketat oleh pemilik |
.241a |
- |
- |
- |
|
X24 |
Rencana
urutan kerja yang tidak tersusun dengan baik/terpadu |
.454a |
- |
- |
- |
|
X25 |
Penentuan
durasi waktu kerja yang tidak seksama |
.465a |
- |
- |
- |
|
X26 |
Rencana kerja
pemilik yang sering berubah-ubah |
.736a |
.739a |
.790a |
.775a |
2.
Ekstraksi Faktor
Tahap
ini mempunyai 3 tujuan untuk mengetahui jumlah faktor yang terbentuk dengan
menghitung jumlah komponen yang mempunyai nilai eigen
> 1; mengetahui faktor dominan dengan melihat nilai varians tertinggi pada
salah satu faktor yang ditinjau dan mengetahui kontribusi sejumlah faktor yang
terbentuk dengan melihat nilai kumulatif varians. Hasil
ekstraksi faktor terlihat pada Tabel 4.
Tabel
4.
Hasil Ekstraksi Faktor
|
Total Variance Explained |
|||||||||
|
Comp |
Initial Eigenvalues |
Extraction Sums of Squared Loadings |
Rotation Sums of Squared Loadings |
||||||
|
Total |
% of Variance |
Cum % |
Total |
% of Variance |
Cum % |
Total |
% of Variance |
Cum % |
|
|
1 |
5.786 |
44.507 |
44.507 |
5.786 |
44.507 |
44.507 |
3.978 |
30.596 |
30.596 |
|
2 |
1.769 |
13.604 |
58.111 |
1.769 |
13.604 |
58.111 |
2.481 |
19.086 |
49.682 |
|
3 |
1.086 |
8.354 |
66.466 |
1.086 |
8.354 |
66.466 |
2.182 |
16.784 |
66.466 |
|
4 |
.894 |
6.873 |
73.339 |
|
|
|
|
|
|
|
5 |
.723 |
5.561 |
78.900 |
|
|
|
|
|
|
|
6 |
.626 |
4.814 |
83.714 |
|
|
|
|
|
|
|
7 |
.614 |
4.723 |
88.437 |
|
|
|
|
|
|
|
8 |
.417 |
3.207 |
91.644 |
|
|
|
|
|
|
|
9 |
.337 |
2.593 |
94.237 |
|
|
|
|
|
|
|
10 |
.278 |
2.139 |
96.376 |
|
|
|
|
|
|
|
11 |
.194 |
1.489 |
97.865 |
|
|
|
|
|
|
|
12 |
.173 |
1.333 |
99.198 |
|
|
|
|
|
|
|
13 |
.104 |
.802 |
100.000 |
|
|
|
|
|
|
|
Extraction
Method: Principal Component Analysis. |
|||||||||
Pada
tabel diatas terlihat bahwa nilai eigen > 1
terletak pada komponen 1 hingga 3. Hal ini berarti bahwa
jumlah faktor yang terbentuk ada 3 faktor dari 13 indikator yang muncul di
wilayah penelitian. Nilai variance tertinggi terletak
pada komponen 1 sebesar 44,507% dan ini berarti bahwa faktor dominan terletak
pada faktor 1. Nilai kumulatif varians diperoleh sebesar 66,47 % yang merupakan kontribusi dari 3 faktor yang
terbentuk.
3.
Rotasi Faktor
Rotasi
faktor bertujuan untuk mendistribusikan sejumlah indikator pada kelompok faktor
yang terbentuk dengan melihat loading factor tertinggi.
Alternatif yang digunakan dalam rotasi faktor adalah orthogonal rotation, yaitu
proses rotasi memutar sumbu 90o dengan metode varimax. Melalui metode tersebut
loading factor yang awalnya kecil akan semakin
diperkecil dan loading factor yang besar semakin diperbesar. Oleh karena itu,
pada komponen faktor tidak akan ditemukan lagi peluang
indicator dengan nilai loading factor yang sama besar. Hasil
rotasi faktor ini diperlihatkan pada Tabel 5.
Tabel
5.
Hasil Rotasi Faktor
|
Rotated Component Matrixa |
||||
|
|
Component |
|||
|
1 |
2 |
3 |
||
|
X3 |
Rendahnya
produktivitas yang dihasilkan setiap tenaga kerja |
-.012 |
.795 |
.174 |
|
X5 |
Perubahan
jenis dan spesifikasi material� yang
digunakan |
.171 |
.828 |
.032 |
|
X11 |
Mobilisasi
sumber daya alat yang lambat |
.281 |
.184 |
.717 |
|
X12 |
Kondisi alam
yang berbeda dari saat survei |
.316 |
.684 |
.276 |
|
X13 |
Transportasi
ke lokasi proyek yang sulit |
.793 |
.056 |
-.064 |
|
X14 |
Cuaca buruk
di sekitar lokasi proyek (hujan deras/banjir/bencana alam) |
-.187 |
.125 |
.798 |
|
X15 |
Estimasi
durasi kontrak terlalu cepat/pendek |
.658 |
.217 |
.056 |
|
X17 |
Perubahan
lingkup pekerjaan pada waktu pelaksanaan |
.849 |
.022 |
.106 |
|
X18 |
Ada banyak
(sering) terjadi pekerjaan tambah |
.847 |
.240 |
.139 |
|
X20 |
Terlambat
menyetujui gambar kerja dan contoh material yang diajukan |
.578 |
.260 |
.585 |
|
X21 |
Komunikasi
dan koordinasi owner yang buruk terhadap pihak lain |
.572 |
.413 |
.320 |
|
X22 |
Keterlambatan
dalam proses pengambilan keputusan untuk konstruksi |
.673 |
.194 |
.498 |
|
X26 |
Rencana kerja
pemilik yang sering berubah-ubah |
.345 |
.512 |
.440 |
|
Extraction
Method: Principal Component Analysis. |
||||
|
Rotation
Method: Varimax with Kaiser Normalization. |
||||
|
a. Rotation
converged in 5 iterations. |
||||
4.
Pemberian Nama Faktor
Pemberian
nama faktor bertujuan untuk melekatkan nama faktor
berdasarkan kecenderungan karakteristik indikator yang berkumpul dalam faktor
yang terbentuk. Berdasarkan analisis faktor dari 7 indikator yang diteliti,
dengan proses factoring bisa direduksi menjadi 3 faktor, sehingga diberikan nama yang sesuai dengan faktor yang telah terbentuk dari
hasil perhitungan. Pemberian nama tidak bersifat
khusus dan lebih bersifat subjektif yang diupayakan representatif atau
mencerminkan faktor yang ada. Penamaan untuk masing-masing
faktor dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel
6.
Pemberian Nama Faktor
|
Faktor Baru |
Indikator |
Loading Factor |
Faktor Awal |
|
|
Manajemen proyek dan kontrak� |
X13 |
Transportasi
ke lokasi proyek yang sulit |
.793 |
Lokasi pekerjaan |
|
X15 |
Estimasi
durasi kontrak terlalu cepat/pendek |
.658 |
Kontrak |
|
|
X17 |
Perubahan
lingkup pekerjaan pada waktu pelaksanaan |
.849 |
||
|
X18 |
Ada banyak
(sering) terjadi pekerjaan tambah |
.847 |
||
|
X21 |
Komunikasi
dan koordinasi owner yang buruk terhadap pihak lain |
.572 |
Manajemen Proyek |
|
|
X22 |
Keterlambatan
dalam proses pengambilan keputusan untuk konstruksi |
.673 |
||
|
Operasional lapangan |
X3 |
Rendahnya
produktivitas yang dihasilkan setiap tenaga kerja |
.795 |
Tenaga Kerja |
|
X5 |
Perubahan
jenis dan spesifikasi material� yang
digunakan |
.828 |
Material |
|
|
X12 |
Kondisi alam
yang berbeda dari saat survei |
.684 |
Lokasi pekerjaan |
|
|
X26 |
Rencana kerja
pemilik yang sering berubah-ubah |
.512 |
Perencanaan dan penjadwalan pekerjaan |
|
|
Kondisi alam |
X11 |
Mobilisasi
sumber daya alat yang lambat |
.717 |
Lokasi pekerjaan |
|
X14 |
Cuaca buruk
di sekitar lokasi proyek (hujan deras/banjir/bencana alam) |
.798 |
||
|
X20 |
Terlambat
menyetujui gambar kerja dan contoh material yang diajukan |
.585 |
Manajemen Proyek |
|
B. Pembahasan
Keterlambatan
dalam pelaksanaan proyek konstruksi menjadi salah satu titik perhatian penting. Banyak faktor yang ditengarai menjadi penyebab terjadinya
keterlambatan. Baik yang disengaja maupun tidak disengaja yang secara
langsung atau tidak langsung akan menyebabkan
terjadinya keterlambatan. Banyak penelitian yang telah
dilakukan terkait dengan keterlambatan pada pelaksanaan proyek konstruksi, juga
konstruksi jembatan.
Penelitian
ini mengadopsi faktor-faktor keterlambatan dari beberapa penelitian terdahulu
untuk melihat keterlambatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi jembatan di
Provinsi Sumatera Utara dengan dana APBN. Hasil pengolahan data, semula teridentifikasi 7 (tujuh) faktor yang
menjadi penyebab keterlambatan tereduksi menjadi tiga faktor berdasarkan persepsi
responden pelaksana/ kontraktor yang pernah terlibat dalam pelaksanaan
pekerjaan.
1.
Manajemen Proyek dan Kontrak
Faktor
ini menjadi faktor pertama yang terdiri atas enam indikator yaitu transportasi
ke lokasi proyek yang sulit, estimasi durasi kontrak terlalu cepat/pendek,
perubahan lingkup pekerjaan pada waktu pelaksanaan, ada banyak (sering) terjadi
pekerjaan tambah, komunikasi dan koordinasi owner yang buruk terhadap pihak
lain, keterlambatan dalam proses pengambilan keputusan untuk konstruksi. Faktor ini merupakan gabungan dari faktor lokasi pekerjaan, kontrak
dan manajemen proyek. Berdasarkan indikator-indikator yang membentuknya,
maka faktor ini diberi nama manajemen proyek dan
kontrak.
2.
Operasional Lapangan
Faktor
kedua terbentuk dari empat indikator yang terdiri atas rendahnya produktivitas
yang dihasilkan setiap tenaga kerja, perubahan jenis dan spesifikasi material� yang
digunakan, kondisi alam yang berbeda dari saat survei dan rencana kerja pemilik
yang sering berubah-ubah. Faktor ini terbentuk dari reduksi
faktor tenaga kerja, material, lokasi pekerjaan, perencanaan dan penjadwalan
pekerjaan. Hasil ekstrasi indikator dan membentuk
faktor operasional lapangan sebagai faktor kedua dari keterlambatan pelaksanaan
proyek konstruksi jembatan.
3.
Kondisi Alam
Faktor
ketiga terbentuk dari indikator-indikator mobilisasi sumber daya alat yang
lambat, cuaca buruk di sekitar lokasi proyek (hujan deras/banjir/ bencana alam)
dan terlambat menyetujui gambar kerja dan contoh material yang diajukan.
Ketiga indikator ini membentuk faktor ketiga yang diberikan nama
kondisi alam.
Pemberian
nama faktor bertujuan untuk melekatkan nama faktor
berdasarkan kecenderungan karakteristik indikator yang berkumpul dalam faktor
yang terbentuk. Pemberian nama faktor ini lebih
bersifat subjektif, yang diupayakan representatif terhadap sejumlah indikator. Pada penelitian ini, pola indikator yang terbentuk menyebar dengan
kriteria berlainan antara satu dengan lainnya.
Penamaan
faktor yang terbentuk dilakukan dengan melihat kesamaan antara
indikator-indikator terkumpul. Diusahakan
untuk mengakomodir seluruh karakteristik indikator yang ada sehingga dapat
memberikan gambaran dari faktor keterlambatan dalam pelaksanaan pekerjaan
konstruksi jembatan.
Hasil
penelitian memperlihatkan bahwa faktor manajemen proyek dan kontrak merupakan
faktor dominan keterlambatan dalam pelaksanaan proyek konstruksi jembatan.� Variabel/ indikator yang
memiliki nilai loading factor terbesar (0,849) adalah X17 - perubahan lingkup
pekerjaan pada waktu pelaksanaan. Sementara
berdasarkan jawaban persepsi awal kontraktor adalah X18 - ada banyak (sering)
terjadi pekerjaan tambah.
Faktor-faktor
keterlambatan yang diperoleh pada penelitian ini berbeda dengan beberapa hasil
penelitian terdahulu. Hal ini ditengarai
dapat disebabkan karena jawaban atas pertanyaan penelitian bersifat sangat
subyektif, dimana keterlambatan pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi jembatan
dikaji berdasarkan persepsi kontraktor dan konsultan pengawas.
Selain
itu, mengingat batasan penelitian yang hanya mengkaji proyek jembatan di
Sumatera Utara dengan menggunakan dana APBN dari sudut
pandang kontraktor maka responden penelitian sangat terbatas. Namun jawaban penelitian dari hasil pengolahan data tetap dapat
memberikan gambaran faktor penyebab keterlambatan, walaupun belum dapat
digeneralisasi.
CONCLUSION
Berdasarkan
hasil pengolahan dan analisis data kuisioner, diperoleh bahwa faktor-faktor
keterlambatan dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi jembatan dengan
menggunakan dana APBN di Sumatera Utara terdiri atas manajemen proyek dan
kontrak operasional lapangan dan kondisi alam, faktor-faktor ini merupakan
hasil transformasi dari faktor awal yang saling berkorelasi menjadi faktor baru
yang tidak saling berkorelasi dengan mereduksi sejumlah faktor tersebut
sehingga mempunyai dimensi yang lebih kecil namun dapat menerangkan sebagian
besar keragaman faktor aslinya.
Karakteristik proyek konstruksi berbeda antara satu
proyek dengan proyek lainnya.
Demikian pula dalam proses pelaksanaan, antara satu proyek dan proyek yang lain
memiliki permasalahan yang berbeda. Faktor keterlambatan juga akan berbeda, terlebih lagi adanya perbedaan kompleksitas
pekerjaan. Diperlukan strategi yang berbeda dalam menangani
keterlambatan pelaksanaan proyek sehingga penyelesaiaan pekerjaan dapat
berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Bansambua,
E. M. (2013). Faktor-Faktor yang Menyebabkan Keterlambatan Waktu Pelaksanaan
Proyek pada Pekerjaan Jalan dan Jembatan di Kabupaten Morowali. Jurnal
Maroso, 1(1), 59�68.
Ervianto, W. I., & MT, I. (2006). Studi Implementasi Teknologi Beton
Pracetak Bagi Bangunan Gedung. National Conference on Prospected Technology.
Khoirul, K., Pristianto, H., & Rusmin, M. (2017). Analisis Penyebab
Keterlambatan Pekerjaan Konstruksi Jembatan. Jurnal Teknik Sipil: Rancang
Bangun, 2(2), 27�36. https://doi.org/10.33506/rb.v2i2.481.
Ladjao, J., Yurianto, E., Limanto, S., & Wicaksono, E. (2016).
Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan Pada Bangunan Tinggi di Surabaya. Jurnal
Dimensi Pratama Teknik Sipil, 5(1), 1�8.
Mahapatni, I. A. P. S. (2019). Metode Perencanaan dan Pengendalian
Proyek Konstruksi. Unhi Press.
Maulani, F., Suraji, A., & Istijono, B. (2014). Analisis Struktur Rantai
Pasok Kontruksi Pada Pekerjaan Jembatan. Jurnal Rekayasa Sipil, 10(2),
1�8. https://doi.org/10.25077/jrs.10.2.1-8.2014.
Mungkasa, O. (2020). Bekerja dari rumah (working from home/WFH): menuju
tatanan Baru era pandemi Covid 19. Jurnal Perencanaan Pembangunan: The
Indonesian Journal of Development Planning, 4(2), 126�150.
https://doi.org/10.36574/jpp.v4i2.119.
Purba, R. (2009). Studi Tentang Klaim Konstruksi dari Kontraktor ke
Owner. UAJY.
Sianipar, H. B. (2013). Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan
Penyelesaian Proyek Konstruksi Pengaruhnya Terhadap Biaya. UNS (Sebelas
Maret University).
Soeharto, I. (2001). Manajemen Proyek Jilid 2. Semarang: Erlangga.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Alfabeta.
Trauner, T. J., Lowe, S., Nagata, M. F., & Manginelli, W. A. (2017). Construction
Delays. Elsevier.
Yuliana, C. (2013). Analisis Faktor Penyebab Terjadinya Keterlambatan Pada
Pelaksanaan Proyek Pembangunan Jembatan. INFO-TEKNIK, 14(2),
114�125. https://doi.org/10.20527/infotek.v14i2.297.
|
Nani Tabrani, Ahmad Perwira Mulia, Ridwan Anas (2023) |
|
First publication right: |
|
This article is licensed under: |