Pauji Rahmat/Jurnal Syntax Transformastion, Vol 1, No 1 Maret
2020
IMPLEMENTASI
KARAKTER DISIPLIN SHALAT DHUHA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PAI KELAS X DI SMA NEGERI 3 KOTA CIREBON
Pauji Rahmat
Institut Agama Islam Iai Bunga Bangsa
Cirebon
Email: [email protected]
info artikel �����������������������abstrak
|
Diterima 2 Februari
2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Februari 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Februari 2020 Kata kunci: Shalat Dhuha, Pendidikan Agama Islam, Disiplin.
|
Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui adanya peningkatan prestasi belajar PAI dari implementasi
karakter disiplin shalat dhuha kelas X di SMA Negeri 3 Kota Cirebon Tahun
Pelajaran 2018/2019. Penelitian ini merupakan jenis penelitian
kuantitatif dengan menggunakan metode angket, observasi dan dokumen. Tehnik
pengumpulan data dengan menggunakan koesioner atau angket untuk mendapatkan data
tentang karakter disiplin shalat dhuha (X) dan prestasi belajar PAI (Y).
Penelitian ini Mengambil sampel sebanyak 15% dari jumlah populasi sebanyak
387 dengan subyek penelitian sebanyak 60 responden. Data penelitian yang
terkumpul dianalisis dengan menggunakan tekhik analisis Statistik deskriptif yaitu statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan
atau menggambarkan data
yang telah terkumpul. Selanjutnya, hasil
dari perhitungan statistik dengan Uji Linearitas dan Uji Regresi, dimana terdapat hubungan yang
linear antara variabel X (Karakter disiplin shalat dhuha) dengan variabel Y (Prestasi belajar PAI) ditunjukan oleh signifikansi 0,350 > 0,05. Sementara itu Dari koefisien
determinasi diperoleh sebesar 26,9361%. Hal ini berarti bahwa variabel
karakter disiplin shalat dhuha memberikan kontribusi dalam meningkatkan prestasi
belajar PAI sebesar 26,9361% dan sisanya (73,0639%) dipengaruhi oleh variabel
lain yang tidak diteliti.
Implementasi
karakter disiplin shalat dhuha diharapkan dapat meningkatkatkan prestasi
belajar PAI. Penelitian ini, diharapkan akan menjadi bahan informasi dan
masukan bagi kegiatan pelaksanaan shalat dhuha di sekolah khususnya di SMA
Negeri 3 Kota Cirebon. |
Pendahuluan
Pendidikan dimulai sejak awal kehidupan sampai berakhirnya ajal menjemput kita. Pendidikan dapat berlangsung kapan dan dimana saja baik itu secara formal, in formal maupun non formal. Ketika manusia berinteraksi dengan lingkungan maka saat itu pula proses pendidikan akan di dapat. Disebutkan dalam suatu riwayat bahwa setiap mukmin tidak boleh berhenti menuntut kebaikan (ilmu) hingga akhir hayatnya. Rasulullah Saw Bersabda:
لَنْ
يَشْبَعَ
الْمُؤْمِنُ
مِنْ خَيْر
يَسْمَعُهُ
حَتَّى
يَكُونَ
مُنْتَهَاهُالْجَنَّةُ
( رواه الترمذي)
Seorang mukmin tidak akan cukup dari mendengarkan kebaikan hingga masuk surga (wafat). (Riwayat Turmuzi dari Sa�id al-Khudri) (Agama, 2010).
Yang dimaksud kebaikan dalam hadis di atas kebaikan di sini adalah ilmu pengetahuan. Hal ini mengundang makna bahwa waktu untuk belajar adalah dari ayunan hingga liang lahad, dan hasil menuntut ilmu adalah surga.
Pendidikan diselenggarakan dalam rangka membangun dan mengembangkan semua potensi yang ada pada manusia. Sebagaimana tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan, menerangkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mendiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Mengacu kepada tujuan dari pendidikan nasional yaitu menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa dan berahlak mulia, artinya manusia harus memiliki karakter, nilai-nilai dan budi pekerti yang baik. Karakter menurut Soemarmo Soedarsono, merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri seseorang melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, dan pengaruh lingkungan dipadukan dengan nilai-nilai dalam diri manusia menjadi semacam nilai intrisik yang mewujud dalam sistem daya juang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku (Soedarsono, 2013).
Realitas kehidupan sekarang ini, dalam ilmu pengetahuan, seni dan teknologi berkembang dengan pesat yang akan memicu perubahan pada semua aspek terutama pada perubahan karakter, prilaku, akhlak dan gaya hidup.�
Permasalahan ini memicu pemerintah Indonesia untuk lebih memerhatikan dan memperbaikinya karakter bangasa dengan penanaman norma-norma agama dan sosial serta nilai-nilai bangsa Indonesia terutama pada suatu lembaga pendidikan baik itu lembaga pendidikan formal maupun lembaga pendidikan non formal.
Pendidikan karakter adalah proses menanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalankan kehidupannya (Syafaruddin, n.d.)
Karakter bukanlah bawaan sejak lahir, tidak bisa diwariskan, tidak bisa langsung jadi tapi karakter harus dibentuk melalui suatu proses yang dikembangkan, dibangun secara sadar dan penuh kesungguhan serta dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Karakter merupakan titian ilmu pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan. Karakter itu akan membentuk motivasi, yang dibentuk dengan metode dan proses yang martabat. Karakter bukanlah sekedar penampilan lahiriah, akan tetapi mengungkapkan secara inplisit hal- hal yang tersembunyi.
Karakter sangatlah penting terutama karakter dalam hal kedisiplinan beribadah, problem pada zaman sekarang ini masih banyak siswa yang kurang memperhatikan akan kedisiplinan dalam beribadah seperti lalai dalam mengerjakan shalat, hal tersebut siswa kuarang memperhatikan dan mengatur waktu. Kasus tersebut karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti sosial media, pergaulan dan yang lainnya, Sehingga dengan siswa yang kurang akan kedisiplinan khususnya disiplin dalam beribadah maka itu akan mempengaruhi pada tingkat prestasi belajar.
Banyak penelitian yang mengatakan bahwa karakter dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang.
Hasil penelitian di Harvard University, Amerika Serikat yang dikemukakan Jamal Ma�mur A bahwa ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), tetapi oleh kemampuan mengolah diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill, dan sisanya (80%) oleh soft skill Bahkan, orang-orang tersukses didunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung oleh kemampuan soft skill dari pada hard skill.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah
metode kuantitatif. Menurut Beni A Saebani �Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan uji statistik�(Suhasimi Arikunto, 2010). �Metode
penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada
filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk
menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2015).
Penelitian kuantitatif dipilih
karena data yang diperoleh
dan akan diolah adalah data yang berupa angka-angka dan membutuhkan pengujian statistik untuk menguji ada
atau tidaknya pengaruh implementasi karakter disiplin shalat dhuha (Variabel
X) dalam meningkatkan prestasi belajar PAI (Variabel Y). Berdasarkan jenis penelitiannya maka penelitian ini berjenis penelitian
deskriptif kolerasional.
Hasil dan Pembahasan
Indikator menjadi pertanyaan angket yang berjumlah 8 item. Setelah melalui tahapan verifikasi data hasil angket dan dilanjutkan dengan pemberian bobot pada setiap jawaban responden menggunakan skala yang menyediakan empat alternatif jawaban. Pemberian bobot ini dilakukan dengan pemberian bobot 4 untuk yang menjawab Selalu (S), 3 untuk yang menjawab Sering (SR), 2 untuk yang menjawab Kadang-Kadang (KD), dan 1 untuk yang menjawab Tidak Pernah (TD).
Setelah melakukan analisis data hasil penelitian mengenai karakter disiplin shalat dhuha yang didapatkan dengan memberikan kepada 60 peserta didik dengan 8 pertanyaan angket diperoleh dengan rata-rata 77% maka dapat disimpulkan bahwa respon sampel dalam karakter disiplin shalat dhuha termasuk dalam kategori baik. Sementara itu berdasakan analisis data hasil penelitian mengenai prestasi belajar PAI yang didapatkan dengan memberikan kepada 60 peserta didik dengan 7 pertanyaan angket diperoleh dengan rata-rata 70% dengan demikian dapat disimpulkan bahwa respon sampel dalam karakter disiplin shalat dhuha termasuk dalam kategori cukup baik.
Dari hasil pengujian normalitas data menggunakan SPSS 17, didapat �bahwa variable X (Karakter disiplin shalat dhuha) diperoleh nilai signifikansi pada kolom Shapiro-Wilk yaitu sebesar 0,068. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 atau 0,068 > 0,05 yang artinya data tersebut berdistribusi normal. Untuk variabel Y (Prestasi belajar PAI) diperoleh nilai signifikansi pada kolom Shapiro-Wilk yaitu sebesar 0,133. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 atau 0,133 > 0,05 yang artinya data tersebut berdistribusi normal.
Dari hasil linearitas diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,350 dengan taraf
�sebesar 0,05. Dikarenakan nilai signifikansinya lebih dari
�atau 0,350 > 0,05
maka dapat disimpulkan bahwa antara variabel X (Karakter disiplin shalat dhuha) dengan
variabel Y (Prestasi belajar PAI) mempunyai hubungan
Kesimpulan
Bibliografi
Agama, B. L. dan diklat K. (2010). Tafsir
Tematik Pendidikan, Pembangunan Karakter Dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur�an.
Soedarsono, S. (2013). Karakter Mengenal
Bangsa Gelap Menuju Terang. Elex Media Komputindo.
Sugiyono, P. (2015). Metode penelitian
kombinasi (mixed methods). Bandung: Alfabeta.
Suhasimi Arikunto. (2010). Prosedur
Penelitian: Satu Pendekatan Praktek. Bineka Cipta.
Syafaruddin, A. (n.d.). Mesiono, 2012. Inovasi
Pendidikan: Suatu Analisis Terhadap Kebijakan Baru Pendidikan.