Jurnal Syntax Transformation

Vol. 1 No. 5,  Juli 2020

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PENGARUH PENGELOLAAN PROGRAM RASTRA TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI KECAMATAN CISOMPET KABUPATEN GARUT

 

Rahmawati Nurul Jannah

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Garut

Email : rahmawatinuruljanna11@gmail.com

 

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima 2 Juli 2020

Diterima dalam bentuk revisi 15 Juli 2020

Diterima dalam bentuk revisi

20 Juli 2020

Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut terlihat adanya permasalahan dalam Tingkat kesejahteraan masyarakat, hal ini diindikasikan karena Pengelolaan Program Rastra belum baik. Tujuan penelitian ini menemukan data dan informasi mengenai Pengengelolaan Program Rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan data melalui penelitian dan studi pustaka dan penelitian lapangan yang meliputi observasi, wawancara dan angket. Populasi dalam penelitian ini adalah para pengelolaan Rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut yang berjumlah 48 orang. Teknik penarikan sampel yaitu teknik sensus artinya semua populasi dijadikan sampel. Berdasarkan hasil analisis bahwa tanggapan responden tentang Pengengelolaan Program Rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut sudah baik. Sedangkan tanggapan responden tentang kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut juga sudah sangat baik, dan besaran pengaruh pengelolaan program rastra terhadap kesejahteran sosial di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut. sebesar 55.28 % dan sisanya 44.72 % ditentukan oleh variabel lain di indikasi antaranya adalah kepemimpinan, pemberdayaan dan disiplin pegawai

Kata kunci:

Pengengelolaan

dan Kesejahteraan

 



Pendahuluan

Salah satu bentuk kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan adalah Undang-Undang nomor 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi, yang diatur dalam buku Pedoman Umum Subsidi Pangan (Bank, 2017).

Kesehatan merupakan aspek yang penting dalam menunjang program pembangunan (Khasanah, 2020). Pemerintah telah mengeluarkan PP No 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Intinya ketahanan pangan sangat penting untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera melalui ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam serta tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. Berbekal PP tersebut semestinya, ketahanan pangan menjadi agenda penting bagi pemerintah bersama masyarakat untuk dilaksanakan. Apalagi banyak komoditi penting yang sampai saat ini masih harus impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, membangun kewaspadaan dan/atau ketahanan pangan dari strata pemerintahan yang paling rendah yaitu desa (kelurahan) secara bertahap dan konsisten menjadi suatu keniscayaan untuk menjamin tegaknya kedaulatan pangan di tingkat desa dan atau rumah tangga (Dwirayani, 2017).Pemerintah melalui program Beras Miskin (Raskin) yang kini berganti nama sejak tahun 2015 menjadi program beras untuk Keluarga Sejahtera (Rastra) sebagai salah satu program proteksi sosial, yang bertujuan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan (beras) sehingga diharapkan dapat mengurangi beban pengeluaran Keluarga Penerima Manfaat Rastra (KPM) melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan beras dan sasaran Program Rastra adalah berkurangnya beban pengeluaran KPM dalam mencukupi kebutuhan pangan beras melalui penyaluran beras bersubsidi dengan alokasi sebanyak 15Kg/KPM/bulan atau sesuai dengan kebijakan Pemerintah Pusat.

Masalah  kependudukan  merupakan  masalah  global  yang  terus  berkembang  diiringi  dengan  semakin  kompleksnya  permasalahan  yang dihadapi  masyarakat  di dunia.  Menurut World Health  Organization (WHO) (Anggraeni et al., 2017). Program rastra merupakan program perlindungan sosial sekaligus sebagai pendukung program lainya, seperti perbaikan gizi, peningkatan kesehatan pendidikan dan peningkatan produktivitas keluarga miskin. Rastra adalah bagian dari Program penanggulangan kemiskinan yang berada pada kluster I, yaitu kegiatan perlindungan sosial berbasis keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok bagi mayarakat kurang mampu. Rastra mempunyai multi fungsi, yaitu memperkuat ketahanan pangan keluarga miskin, sebagai pendukung bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), Dalam era pembangunan jangka panjang nasional masalah sumber daya manusia (SDM) merupakan masalah yang sentris dan menjadi tanggung jawab semua lembaga. Karena pada dasarnya sumber daya manusia merupakan modal utama bagi perusahaan dalam membangun persaingan bisnis. Sumber daya manusia merupakan bagian penting dalam aktivitas kerja. Karena hal tersebut berhubungan dengan masalah kualitas kerja dan pencapaian kerja (Saridawati, 2020).  Pendukung usaha tani padi dan sektor lainnya dan peningkatan pemberdayaan ekonomi daerah. Disamping itu Rastra berdampak langsung pada stabilisasi harga beras, yang akhirnya juga berperan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.Kabupaten Garut pada tahun 2016 mentargetkan Rastra yang tersalurkan adalah 182.239 Keluarga Penerima Manfaat Rastra (KPM) sebesar 220.68 Milyar rupiah. Untuk meningkatkan pengelolaan program Rastra, diperlukan adanya sinkronisasi dan koordinasi antar seluruh instansi yang terkait, mulai dari ditingkat Pusat sampai ke tingkat Daerah (provinsi, kabupaten  dan  kota),  tingkat  kecamatan dan desa/kelurahan; mulai dari perencanaan sampai implementasinya, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, maupun pihak lain yang terkait. Untuk menjamin efektivitas pengelolaan program Rastra, maka pemerintah menunjuk Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai Lembaga atau badan yang bertanggung jawab untuk mendistribusikan (menyalurkan) Rastra tersebut. Pelaksanaannya di daerah, khususnya dalam penelitian ini adalah di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut.Dalam pelaksanaan penyaluran program Rasta dari mulai proses pemilihan Keluarga Penerima Manfaat Rastra (KPM) dilakukan melalui survei oleh pegawai kecamatan untuk mendapat data rumah tangga miskin/pemilihan KPM yang sesuai dengan KEPMENSOS No.146/HUK/2013 tentang penetapan kriteria dan pendataan fakir miskindan orang yang tidak mampu dan menurut standar BPS tentang kriteria miskin dari semua rumah tangga yang di survei sebagai calon peserta penerima bantuan Rastra, yang kemudian dicantumkan dalam DPM-1 Rastra dan dijadikan Pagu Rastra (alokasi jumlah KPM dan jumlah beras bagi KPM rastra untuk tingkat nasional, provinsi dan atau Kabupaten/kota pada tahun tertentu).

DPM1 telah mengakomodir hasil perubahan KPM melalui mekanisme musyawarah desa/kecamatan jika diperlukan pemutahiran, adapun perubahan daftar penerima KPM Rastra dimungkinkan apabila KPM yang pindah alamat, KPM yang seluruh anggota keluarganya sudah meninggal, dan KPM yang dinilai oleh Mudes/Mukel sudah tidak layak sebagai penerima Rastra.

Keluarga yang dinilai layak sebagai KPM pengganti adalah keluarga miskin/kurang mampu dengan kriteria antara lain sebagai berikut: jumlah anggota keluarga besar, terdapat balita dibawah dan anak usia sekolah, lansia, penyandang disabilitas, kepala keluarganya perempuan, kondisi fisik rumahnya tidak layak huni, berpendapatan paling rendah dan/atau tidak tetap.

Tim koordinasi Rastra Kecamatan adalah pelaksana program Rastra di kecamatan yang mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, sosialisasi, pemantauan dan evaluasi program Rastra di tingkat kecamatan serta melaporkan hasilnya kepada tim koordinasi Rastra Kabupaten/Kota.

Kaitanya pelaksanaan program Rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut sebagai lokasi penelitian ini, dimana hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa dari 5014 Keluarga Penerima Manfaat Rastra (KPM), hanya berhasil disalurkan Rastra sebanyak 4262 KPM atau sebesar 85%. Selain  itu, dari kuota yang ditetapkan untuk setiap KPM yang seharusnya menerima 15kg beras/bulan dengan harga Rp.1.600/kg, ternyata setiap KPM hanya menerima 10 kg per bulan dengan harga Rp.3.000/kg Dari permasalahan tersebut mengakibatnya adanya masyarakat (15 %) yang belum terpenuhinya kebutuhan beras secara maksimal (Hamdani, 2018).

Dari fenomena tersebut mengakibatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Cisompet masih belum baik diantaranya adalah dari segi materi seperti kualitas rumah banyak yang kurang layak huni, segi fisik dan mental masyarakat masih lemah salah satunya dari segi kesehatan dan lingkungan masyarakat yang kurang baik, dan hal ini mengakibatkan segi spiritual masyarakat di Kecamatan Cisompet seperti moral dan etika masih kurang baik.

Hal ini membuktikan bahwa pengelolaan program Rastra belum berjalan optimal dari mulai perencanaan seperti menempatkan pegawai yang ditunjuk untuk pengelolaan program rasta tidak sesuai dengan jumlah penerima program rasta tersebut, pengorganisasian dan pelaksanaan dalam menjalankan program rasta belum sesuai dengan kebutuhan di Kecamatan Cisompet serta pengawasan yang kurang baik dari kepala Desa/ Camat Kecamatan kaitannya dengan program rasta tersebut.

Selain itu, peniliti melakukan studi pustaka dari penelitian terdahulu yang mempunyai variable terkait dengan penelitian penulis, menurut penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Kusuma & Dewi, 2017) yang berasal dari Institut Pertanian Bogor dengan judul ”Analisis Efektivitas Kebijakan Publik Memihak Masyarakat Miskin. (Kusuma & Dewi, 2017)  menyimpulkan bahwa distribusi Rastra di provinsi Jawa Barat belum optimal karena tidak tepat jumlah dan harga. Di semua desa yang dipelajari, KPM menebus Rastra dengan harga yang jauh di atas harga tebus normatifnya (Rp 1.600/Kg). Selain itu KPM menerima Rastra dalam kuantitas yang jauh lebih sedikit dari kuota normatifnya (10Kg/KPM/Bulan). Kemudian para KPM juga tidak keberatan bila pemerintah menaikan harga tebus Rastra, asal dua hal berikut dipenuhi. Pertama, harga tebus Rastra yang baru adalah harga sampai di rumah KPM. Kedua, Pemerintah menaikkan kuota KPM 20Kg/Bulan seperti dulu. Untuk lebih mengoptimalkan program pelaksanaan Rastra, penelitian ini merekomendasikan agar Pemerintah mengembangkan sistem kendali pelaksanaan program Rastra di tingkat desa, menaikkan harga tebus normatif Rastra, dan menaikkan kuota Rastra bulanan KPM menjadi 20Kg/KPM/Bulan, serta melibatkan Pemkab/Pemkot dalam menanggung pembiayaan program Rastra.

Hasil pengamatan penelitian diatas tersebut mengindikasikan bahwa pengelolaan Program Rastra belum seluruhnya optimal baik dari segi Perencanaan Pelaksanaan maupun Pengawasan, terutama dilihat dari aspek jumlah kelompok sasaran, volume beras dan harga, sehingga dapat dipastikan belum optimal memberikan kontribusi yang berarti bagi peningkatan kesejahteraan hidup keluarga miskin,  hal ini selaras dengan pengamatan penulis khususnya di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut antara lain :

a.       Kurangnya sumberdaya manusia (pegawai) dalam pengelolaan program rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut, salah satu contohnya adalah dari 5014 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), hanya berhasil disalurkan Rastra sebanyak 4262 KPM atau sebesar 85%.

b.       Tidak tepatnya penyaluran program Rastra bagi KPM dan harga yang tidak sesuai dengan ketentuan pemerintah salah satu contohnya adalah kuota yang ditetapkan untuk setiap KPM yang seharusnya menerima  15 kg beras netto perbulan dengan harga Rp.1.600/kg, ternyata setelah observasi setiap KPM hanya menerima 10 kg per bulan dengan harga rata-rata Rp.3000/kg.

c.       Kurangnya sosialisasi dan transparansi terhadap masyarakat Keluarga Penerima Manfaat (KPM) kaitanya dengan program beras untuk keluarga sejahtera (RASTRA) sehingga banyaknya KPM yang tidak mengetahui tentang peraturan/ketentuan kebijakan dari program rastra.

 

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey deskriftif analisis, yaitu menggambarkan secara terperinci dari gejala gejala tertentu yang terjadi pada saat mengadakan penelitian. Metode deskriftif analisis yaitu metode yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis kemudian menarik suatu kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini adalah para pengelolaan Rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut yang berjumlah 48 orang. Teknik penarikan sampel yaitu teknik sensus

 

Hasil dan Pembahasan

1.    Berdasarkan tanggapan responden tentang Pengengelolaan Program Rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut yang menyatakan sangat setuju adalah 8 responden atau 15.97% yang menyatakan setuju adalah 21 responden atau 43.29% yang menyatakan ragu-ragu adalah 17 responden atau 35.42%, dan yang menyatakan tidak setuju adalah 3 responden atau 5.32%. dengan Skor total (FxS) sebesar  180, maka persentase kelompok responden ini yaitu (180:240)x100%=0,7505x100%=75.05%. jadi dari interpretasi persentasi skor tersebut bahwa Pengengelolaan Program Rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut sudah baik.

2.    Sedangkan tanggapan responden tentang kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut yang menyatakan sangat setuju adalah 11 responden atau 22.66% yang menyatakan setuju adalah 21 responden atau 44.01% yang menyatakan ragu-ragu adalah 12 responden atau 25.78%, dan yang menyatakan tidak setuju adalah 4 responden atau 7.55%. dengan Skor total (FxS) sebesar  187 maka persentase kelompok responden ini yaitu (187:240)x100%=0,7786x100%=77.86%. jadi dari interpretasi persentasi skor tersebut bahwa kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut sudah sangat baik.

3.    Pengaruh pengelolaan program rastra terhadap kesejahteran sosial di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut. Secara keseluruhan perhitungan statistika korelasi dengan menggunakan Koefisien Korelasi Rank Spearman diketahui korelasi sebesar 0.72 dan Pengaruh pengelolaan program rastra  terhadap kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut sebesar 55.28 % dan sisanya 44.72 % ditentukan oleh variabel lain di indikasi antaranya adalah kepemimpinan, pemberdayaan dan disiplin pegawai.

 

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: a.) Pengengelolaan Program Rastra di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut sudah baik interpretasi persentasi skor sebesar 75.05%. b.) Kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut sudah sangat baik dengan interpretasi persentasi skor 77.86%. c.) Pengaruh pengelolaan program rastra terhadap kesejahteran sosial di Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut. sebesar 55.28 % dan sisanya 44.72 % ditentukan oleh variabel lain di indikasi antaranya adalah kepemimpinan, pemberdayaan dan disiplin pegawai.

 

Bibliografi

 

Anggraeni, D. P., Herlina, H. N., & Astari, R. Y. (2017). Gambaran Penggunaan Kb Di Desa Haurseah Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka Tahun 2017. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(12), 9–21.

 

Bank, N. R. (2017). Monetary policy for 2017/18. Kathmandu: Author. Retrieved from https://www. nrb. org. np/ofg ….

 

Dwirayani, D. (2017). Analisis Strategi Pengembangan Lumbung Pangan Desa Untuk Ketahanan Pangan. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(10), 14–26.

Hamdani, I. (2018). Analisis Pengelolaan Keuangan Desa: Studi Kasus di Desa Sukanagara Kecamatan Cisompet Kabupaten Garut. UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

 

Khasanah, Y. Y. (2020). Hubungan Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Dengan Peningkatan Berat Badan Selama Kehamilan. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(6), 233–239.

 

Kusuma, I. L., & Dewi, M. W. (2017). Pengelolaan Program Raskin Ditinjau Dari Value For Money Audit Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus Di Kelurahan Wilayah Surakarta). Jurnal Manajemen Terapan Dan Keuangan, 6(02), 109–119.

 

Saridawati, S. (2020). Peranan Pelatihan Dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Kerja Karyawan Di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(5), 159–172.