Volume 4, No. 3 Maret 2023

p-ISSN2721-3854 | e-ISSN 2721-2769

DOI:https://doi.org/10.46799/jst.v4i3.701


 

IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBIASAAN TERSTRUKTUR BERBASIS KARAKTER ISLAMI DI MTS NEGERI 3 WONOGIRI

 

Suwarni, Imam Makruf

UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Email: [email protected], [email protected]

 

Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implementasi program pembiasaan terstruktur berbasis karakter islami di MTs Negeri 3 Wonogiri, dengan sub fokus mencakup: (1) bentuk program pembiasaan terstruktur berbasis karakter Islami (2) Karakter- karakter Islami yang terbentuk pada diri siswa melalui program pembiasaan terstruktur (3) Evaluasi implementasi program pembiasaan terstruktur untuk pembentukan nilai-nilai karakter islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, Untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara Triangulasi dan Bahan Referensi. Sedangkan Informan peneliti yaitu kepala madrasah, wakil kepala dalam bidang kesiswaan, guru dan wali kelas, serta pihak lain yang terkaitan dengan penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: implementasi programpembiasaan terstruktur berbasis karakter islami berdasarkan waktu pelaksanaanmeliputi: program harian, bulanan dan tahunan serta kegiatan insidentalyang bertujuan untuk pembentukan akhlaq danibadah, karakter yang dapat ditumbuhkan dengan program tersebut ialah: berbudaya religius,, peduli, jujur, berdisiplin, kreatif, semangat kebangsaan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab, sedangkan bentuk evaluasi dilakukan melalui kegiatan upacara hari Senin, rapat guru dan melalui buku capaian prestasi BTQku.

Kata Kunci: Implementasi; Program Pembiasaan Terstruktur; Karakter Islami.

 

Abstract:

This study aims to describe the implementation of a structured habituation program based on Islamic character at MTs Negeri 3 Wonogiri, with sub-focuses including: (1) the form of a structured habituation program based on Islamic character (2) Islamic characters formed in students through a structured habituation program (3) Evaluation of the implementation of a structured habituation program for the formation of Islamic character values. The method used in this study is a qualitative method with a descriptive approach. To check the validity of the data, it is done by means of triangulation and reference materials. While the research informants are the head of the madrasa, deputy head in the field of student affairs, teachers and homeroom teachers, as well as other parties related to this research. The results of this study indicate that: the implementation of a structured habituation program based on Islamic character based on the implementation time includes: daily, monthly and yearly programs as well as incidental activities aimed at the formation of morality and worship, the characters that can be grown with the program are: religious culture, caring, honest, disciplined, creative, national spirit, social care, and responsibility, while the form of evaluation is carried out through Monday ceremonies, teacher meetings and through the BTQku achievement book.

Keywords: Implementation; Structured Habituation Program; Islamic Character.

 

PENDAHULUAN

Menurunnya akhlaq pada generasi muda akhir-akhir ini terjadi hampir di seluruh masyarakat. Utamanya terjadi pada generasi muda, bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi pada anak-anak. Indikasi kemerosotan akhlaq ditandai dengan merebaknya berbagai tindak kejahatan, perkelahian pelajar dan semakin banyaknya generasi muda yang terlibat dalam pemakaian obat terlarang, (Rahim et al., 2019).

Penanaman nilai moral dalam Pendidikan Islam menjadi salah satu upaya menjawab berbagai tantangan di era globalisasi saat sekarang ini. Penguatan nilai moral bertujuan untuk membimbing dan membina peserta didik agar menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu berakhlak mulia, yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Berkaitan dengan nilai-nilai moral, peran pendidik dalam penanaman nilai-nilai moral sangatlah penting. Hal ini untuk mempersiapkan sikapyang baik bagi siswa dalam menghadapi era milenial (Mardeli, 2020). Peran pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sangat gencar mensosialisasikan adanya Pendidikan Karakter, hal ini dilakukan sebagai upaya menyelamatkan moral generasi bangsa sebagai penyambung estafet keberlangsungan negara. Hingga berita tentang pendidikan karakter menjadi � tranding topic�dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Namun upaya ini berbanding terbalik dengan dampak globalisasi yang terjadi saat ini yang justru mampu membawa masyarakat Indonesia jauh dari nilai-nilai karakter bangsa (Zulhijrah, 2017).

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki peradaban sebagai masyarakat madani dan peduli pada pendidikan bangsa, sudah pasti kita berusaha untuk menjadikan nilai-nilai karakter mulia itu tumbuh dan berkembang dalam sikap dan perilaku bangsa, diawali dari para pemimpin yang ada di atas sampai rakyat yang ada di bawah, sehingga bangsa ini memiliki kebanggaan dan dapat diperhitungkan eksistensinya di antara bangsa yang lain.Salah satu upaya ke arah itu adalah melakukan pembinaan karakter di semua aspek kehidupan masyarakat, terutama melalui lembaga pendidikan. (Marzuki, n.d.)

Tujuan Pendidikan mampu diwujudkan dengan membentuk karakter yang baik pada peserta didik. Begitu pentingnya pendidikan, sebab karakter yang baik itu sendiri tiada lain adalah perwujudan darisifat Agung Sang Pencipta dalam keseharian hidup manusia(Agus Setiawan, 2014). Dua hal yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia dan tidak dapat dipisahkan adalah agama dan akhlaq.Sebab akhlaq merupakan implementasi dari kualitas keberagamaan seseorang. Akhlaq terpuji yang diaplikasikan dalam kehidupan merupakan tanda kuatnya iman seseorang yang dapat membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Akhlaq juga merupakan sebuah pilar penting dalam agama Islam. Semua aspek ajaran Islam mustahil terlaksana dengan baik tanpa adanya akhlak yang baik. (Kurniawan, 2017) . Sekolah sebagai lembaga pendidikan merupakan salah satu tempat yang strategis dalam pembentukan karakter selain di keluarga dan masyarakat (Hamid, 2017). Oleh sebab itu disebut sebagai salah satu hal yang sangat mendasari adanya program pendidikan karakter di lembaga sekolah yang diterapkan, di dalam kelas maupun di luar kelas. Perlunya penanaman pendidikan karakter disetiap lembaga sekolah dengan berbagai kegiatan yang bisa mendukung penanaman nilai-nilai karakter yang baik ini. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk penanaman nilai karakter adalah dengan program pembiasaan yang dilakukan di sekolah. Karena memang hal yang rutin dilakukan setiap hari akan tertanam dengan baik dalam diri peserta didik maupun warga sekolah yang lain. Maka dari itu kegiatan pembiasaan ini menjadi suatu kegiatan yang sangat penting bagi terlaksananya pendidikan karakter di sekolah (Rahim et al., 2019).

Program pembiasaan (habituation) merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk diterapkan dalam pembentukan dan pembinaan karakter serta kepribadian anak. Pembiasaan merupakan perilaku yang dengan kesadaran diri dilaksanakan secara berkesinambungan dan berulang dengan tujuan perilaku tersebut menjadi keseharian. Sesuatu yang biasa dilakukan merupakan pengamalan. Pada program pembiasaan intinya adalah pengulangan(Heri Gunawan, 2014).

Berdasarkan hasil wawancara dengan wakil kepala MTs Negeri 3 Wonogiri menyatakan keprihatinan akan dekadensi moral para siswa tidak menutup kemungkinan akan menjangkit pada siswa madrasah. Sebab Pendidikan di madrasah berbeda dengan Pendidikan pondok pesatren yang bisa mengawasi peserta didik 24 jam. Peran madrasah sebatas mengajarkan pokok -pokok agama, dan mengintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran dengan mengedepankan nilai-nilai kekuasaan Allah Swt Yang Maha Kuasa dan penerapan selanjutnya adalah tergantung pada anak di lingkungan masing-masing. Peran Orang tua juga sangat diperlukan untuk memantau perkembangan sikap dan perilaku anak selama berada di rumah. Akan halnya, dengan pernyataan kepala sekolah bahwa peran madrasah sebagai bentuk upaya mengurangi kenakalan anak dan mengarahkan perilaku pada kebiasaan yang baik adalah dengan menyusun strategi program pembiasaan terstruktur, supaya siswa terlatih berakhlaq karimah di sekolah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya�� sekolah menjadikan program pembiasaan terstruktur yang ada di MTs Negeri 3 Wonogiri ini diharapkan mampu memberikan sumbangsih perbaikan karakter generasi bangsa ini.Dengan adanya komunikasi dua arah yaitu dari pihak sekolah dan pihak keluarga yang terpantau setiap bulan, akan diketahui sedini mungkin dan dapat meminimalkan tindak penyimpangan yang terjadi pada diri siswa. Peran sekolah sebagai lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian siswa sekiranya perlu menciptakan budaya sekolah agar terwujud kepribadian siswa yang terlatih, sesuai dengan visi, misi dan tujuan pendidikan untuk membentuk manusia insan kamil.Budaya sekolah yang akan dibentuk tentunya harus dirancang, dibentuk, dibangun dan digunakan oleh seluruh komponen sekolah untuk diimplementasikan (Akhmad Muhaimin Azzet, 2013).

Pembiasaan merupakan salah satu cara dalam pendidikan berbasis Islam yang begitu penting untuk membentuk kepribadian anak sejak dini, karena dengan rutinitas ini suatu kegiatan yang pada akhirnya akan menjadi milik anak di kemudian hari (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2002). Seseorang yang terbiasa melakukan kebiasaan baik akan terbentuk karakter yang baik, dan sebaliknya apabila terbiasa dengan kebiasaan yang buruk akan membentuk karakter yang buruk.

Nilai-nilai pendidikan karakter juga harus ditumbuh kembangkan melalui kebiasaan kehidupan keseharian di sekolah (habituasi), melalui budaya sekolah karena budaya sekolah (school culture) merupakan faktori pendukung keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri (Wibowo, 2013).

Pembiasaan terstruktur adalah bentuk pembiasaan yang diprogramkan oleh sekolah, terjadwal dan tersistematis pelaksanaannya. Berfungsi untuk menumbuhkan sikap atau perilaku yang baik dan tertanam dalam hati serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa akan terbiasa secara sendirinya dengan hal-hal yang positif seperti sikap mengimani adanya Tuhan yang Maha Kuasa dan menjalankan ibadah sehari-hari, serta munculnya sikap menghargai sesama, peduli dan empati terhadap suatu kejadian yang dilakukan secara terus menerus maka akan menjadi suatu kebiasaan.

Dari segi etimologi, karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti mengukir corak. Mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang berprilaku sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia (Darmiatun, 2013). Karakter juga terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak., menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama baik keluarga, masyarakat atau bangsa (Anas Salahudin dan Irwanto Alkrienciehie, 2013).

Kata karakter ini awalnya dipakai guna mendapati beberapa hal yang mengagumkan dari dua koin (keping uang). Selanjutnya kata tersebut dipakai guna mendapati dua hal yang tidak sama antara satu dengan yang lainnya,akhirnya dipakai pula untuk menyebut kecenderungan kualitas darisetiap orang yg membedakan dengan yang lainnya.(Fathul Muin, 2011). Karakter cenderung disamakan dengan menggunakan personalitas atau kepribadian. Orang yang mempunyai karakter berarti mempunyai kepribadian. Keduanya diartikan menjadi totalitas nilai yang dimiliki seorang dan mengarahkan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Totalitas nilai mencakup watak, akhlak, budi pekerti & sifat-sifat kejiwaan lainya (Abdul Madji, 2011).

Hasil publikasi Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional berjudul �Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011)� menyebutkan sejumlah nilai pembentuk karakter yang merupakan hasil kajian empirik Pusat Kurikulum yang bersumber dari agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Nilai-nilai tersebut diantaranya: 1) Sikap Religius yaitu sikap yang mencerminkan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya, bersikap toleransi terhadap agama lain, serta menjaga kerukunan dengan penganut agama lain, 2) Sikap jujur yaitu perilaku yang didasarkan pada usaha dan menjadikannya sebagai seorang yang selalu dapat dipercaya dalam segala hal, 3) Sikap toleransiyaitu sikap saling menghargai segala perbedaan yang muncul baik meliputi suku, ras, agama, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya, 4) Sikap disiplin yaitu tindakan yang mencerminkan tindakan tertib dan patuh terhadap berbagai macamketentuan dan peraturan, 5) Sikapkerja keras yaitu perilaku yang menunjukkan usaha yang penuh kesungguhan dalam mengatasi berbagai hambatan dan mampu menyelesaikan dengan baik, 6) Sikap kreatif yaitu berfikir dan melakukan segala hal untuk membuahkancara atau penemuan yang terbaru dari sebelumnya, 7) Sikap mandiri yaitu sikap dan perilaku yang mencerminkan tidak selalu bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan tugas, 8) Sikap demokratis yaitu cara pandang dalam memberikan kesamaan hak dan kewajiban antara diri sendiri dan orang lain, 9) Rasa Ingin Tahu yaitu sikap atau tindakan yang berupaya untuk mengetahui lebih jauh tentangsesuatu , 10) Semangat Kebangsaan yaitu pandang dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupunkelompok, 11) Sikap cinta tanah air yaitu cara pandang yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, 12) Sikap kerja keras yaitu perilaku yang menunjukkan upaya yang sungguh-sungguh dalam mengatasi hambatan untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan sebaik -baiknya, 13) Menghargai Prestasi yatu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain,14) Bersahabat/Komunikatif (tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain, 15) Cinta Damai yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya, 16) Sikap gemar membaca (kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebaikan bagi dirinya, 17) Sikap peduli lingkungan yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya- upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang terjadi, 18) Sikap peduli sosial yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan, 19) Sikap tanggung jawabyaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya ia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan alam, sosial dan budaya, Negara dan Tuhan Yang Maha Esa) (Kementerian Pendidikan Nasional, n.d.)

Selaras dengan hasil kajian tersebut di atas, dalam pandangan Islam adalah agama yang tidak memisahkan antara disiplin ilmu dengan etika-etika Islam. Sebagai usaha yang identik dengan ajaran agama, pendidikan karakter dalam Islam memiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidikan karakter di dunia barat. Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum dalam memperkuat moralitas, perbedaan pemahaman tentang kebenaran, penolakan terhadap otonomi moral sebagai tujuan pendidikan moral, dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku bermoral. Inti dari perbedaaan-perbedaan ini adalah keberadaan Al Qur�an sebagai sumber dan rambu-rambu pendidikan karakter dalam Islam (Abdul Majid. dan Dian Andayani, 2012).

Pendidikan karakter dalam Islam adalah sebuah proses pembentukan akhlak, kepribadian dan watak yang baik, yang bertanggung jawab akan tugas yang diberikan Allah kepadanya di dunia, serta mampu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu dalam Islam sendiri, pendidikan karakter sama maknanya dengan pendidikan agama yang berbasis akhlak. Islam melihat begitu pentingnya membentuk pribadi muslim yang berakhlaq mulia (akhlaq al- karimah) yang bermuara pada insan kamil (Kurniawan, 2017).

Ciri-ciriKurikulum yang membangun karakter dalam perspektif Islam adalah sebagai berikut: 1) Pembinaan anak didik untuk bertauhid, 2) Kurikulum harus disesuaikan dengan fitrah manusia, sebagai makhluk yang memiliki keyakinan kepada Tuhan, 3) Kurikulum yang disajikan merupakan hasil pengujian materi dengan landasan al-Quran dan as-Sunnah, 4) Mengarahkan minat dan bakat serta meningkatkan kemampuan akidah anak didik serta keterampilan yang akan diterapkan dalam kehidupan konkret, 5) Pembinaan akhlak anak didik, sehingga pergaulannya tidak keluar dan tuntunan Islam, 6) Tidak ada kedaluwarsa kurikulum karena ciri khas kurikulum Islam senantiasa relevan dengan perkembangan zaman, bahkan menjadi filter kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya dikehidupan masyarakat, 7) Pendidikan karakter mengisyaratkan tiga macam dimensi dalam upaya mengembangkan kehidupan manusia, yaitu: dimensi kehidupan duniawi yang mendorong manusia sebagai hamba Allah untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai Islam yang mendasari kehidupan, dimensi kehidupan ukhrawi yang mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan Tuhan.

Sudut pandang inilah yang melahirkan berbagai usaha agar seluruh aktivitas manusia senantiasa sesuai dengan nilai-nilai Islam dan dimensi hubungan antara kehidupan dunia dan akhirat yang mendorong manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang kaffah dalam bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta menjadi pendukung dan pelaksana ajaran Islam. Dimensi itu kemudian dituangkan dan dijabarkan dalam program operasional pendidikan yang bermuara pada tujuan yang telah ditetapkan (Saebani, 2013).

Secarabahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris, �evaluation�, yang berarti penilaian atau penaksiran (Arikunto, 2003). Sedangkan menurut istilah kata evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk memantau keadaan sebuah obyek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan melalui tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan. Oleh karena itu dapat disimpukan bahwa evaluasi pendidikan di dalamnya ada karakter adalah penilaian untuk mengetahui proses pendidikan dan komponen-komponennya dengan menggunakan instrument yang terukur (Wina Sanjaya, 2013).

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 21 menyebutkan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai bidang pendidikan pada setia jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggung jawaban pelaksanaan Pendidikan (Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional., n.d.).

Usaha pembentukan pendidikan karakter harus melibatkan seluruh komponen diantaranya pihak keluarga, warga sekolah, dan lingkungan sekolah. Pendidikan karakter melalui sekolah adalah kegiatan mulia yang mendesak dan harus dilakukan. Bahkan saat waktu berbicara mengenai masa depan, sekolah bertanggung jawab bukan hanya mencetak siswa yang unggul bidang ilmu pengetahuan & teknologi, namun dalam karakter kepribadian juga.

 

METODE

Metode penelitian yang digunakan dalam pemecahan permasalahan termasuk metode analisis. Keterangan gambar diletakkan menjadi bagian dari judul gambar (figure caption) bukan menjadi bagian dari gambar. Metode-metode yang digunakan dalam penyelesaian penelitian dituliskan di bagian ini. Pada Metode Penelitian, Alat-alat kecil dan bukan utama (sudah umum berada di lab, seperti: gunting, gelas ukur, pensil) tidak perlu dituliskan, tetapi cukup tuliskan rangkaian peralatan utama saja, atau alat-alat utama yang digunakan untuk analisis dan/atau karakterisasi, bahkan perlu sampai ke tipe dan akurasi; Tuliskan secara lengkap lokasi penelitian, jumlah responden, cara mengolah hasil pengamatan atau wawancara atau kuesioner, cara mengukur tolok ukur kinerja; metode yang sudah umum tidak perlu dituliskan secara detil, tetapi cukup merujuk ke buku acuan. Prosedur percobaan harus dituliskan dalam bentuk kalimat berita, bukan kalimat perintah.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Implementasi merupakan upaya yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien, sehingga akan memiliki nilai (Ardi Wiyani, 2012). Dengan demikian, implementasi program pembiasaan terstruktur merupakan proses penerapan pembiasaan yang terprogram dilakukan kepada peserta didik dengan tujuan untuk membentuk nilai-nilai karakter dalam berfikir dan bersikap sesuai dengan tuntunan agama Islam yaitu Al-Qur�an dan As Sunah.

Hasil penelitian yang diperoleh peneliti mengenai bentuk implementasi program pembiasaan di MTs Negeri 3 Wonogiri, peran sekolah berbasis madrasah membentuk program kegiatan terstruktur dimana kegiatan tersebut dibiasakan agar dapat membentuk nilai- nilai karakter siswa yang sesuai dengan visi dan misi sekolah yaitu: Pertama Program Harian yang meliputi pembiasaan ditekankan pada sikap akhlaqul karimah, budayayang ditanamkan yaitu membiasakan mengucap salam dan berjabat tangan sesama jenis, dengan yang lain jenis bisa menunjukkan salam dengan kedua telapak tangan didepan dada,ini tanda sikap ta�dim terutama kepada gurunya,budaya senyum , dansaling menyapa apabila bertemu dengan seluruh civitas madrasah. Menanamkan budaya hidup bersih dengan menempatkan bak sampah di tempat -tempat tertentu, budaya berdisiplin dalam kegiatan apapun, Hal ini dapat terwujud dengan baik karena ada uswah hasanah yang ditunjukkan oleh guru yang secara terus menerus diterapkan ketika di dalam kelas maupun di luar kelas, selanjutnya kebiasaan itu dapat diteladani para siswa. Pembiasaan dalam ibadah harian, meliputi, Shalat dhuha yang dilaksanakan pada waktu istirahat, salat Zuhur selalu berjama�ah, pembiasaan baca tulis Al Qur�an, mengingat siswa yang masuk ke Mts Negeri 3 Wonogiri belum semuanya mampu membaca Al Qur�an, maka setiap pagi selalu diadakan program BTQ yang didampingi wali kelas masing-masing, yang belum lancar membaca Al Qur�an menggunakan metode IQRA� jilid 1 sampai 6, bagi yang sudah lancar dengan system tadarus, disetiap akhir pelajaran semua siswa membaca asma�ul Husna. Kegiatan tersebut dibiasakan karena merupakan sekolah Madrasah, jadi budaya religius harus diciptakan dan dibiasakan, karena jika ini dibentuk maka nilai-nilai karakter seperti apa yang diajarkan uswatun hasanah Nabi Muhammas SAW dapat berjalan dengan baik.

Semua pihak yang ada disekolah harus ikut bertangung jawab dalam pembentukan nilai-nilai karakter siswa yang sesuai dengan yang diharapkan. Kegiatan yang dilakukan setiap hari dalam hal penanaman Aqidah supaya menjadi bertambah keyakinannya, maka dengan cara memasukkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT disetiap kegiatan belajar-mengajar, mengajarkan kepada siswa bahwa segala ilmu yang dipelajari merupakan bagian tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Terkait dengan hal ini, semua pihak yang ada di sekolah bekerjasama dengan Waka kurikulum, dan berkoordinasi dengan guru lainnya agar setiap mata pelajaran memasukkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT agar siswa terbiasa mengingat Allah Swt. Selanjutnya pembiasaan dalam membaca asma�ul Husna setiap selesai kegiatan pembelajaran, hal ini dilakukan supaya peserta didik selain mampu menghafalkan dapat pula meneladani sifat- sifat dari Asma�ul Husna.Kedua, program kegiatan mingguan, diantaranya pelaksanaan ibadah salat Jum�at berjama�ah dengan petugas dari peserta didik dijadwal bergantian tetapi juga melibatkan guru pendamping. Kegiatan di hariyang sama yaitu Jum�at bersih, sekaligus pengamalan langsung sunah-sunah hari Jum�at yang meliputi pemeriksaan kuku dan rambut yang panjang langsung dipotong di tempat. Hal ini dilakukan untuk mendidik jiwa percaya diri dan bertanggung jawab siswa. Untuk melatih keikhlasan, maka setiap Jum�at diadakan infaq Jum�at, lalu uang yang diperoleh digunakan untuk kegiatan sosial seperti, menjenguk peserta didik yang sakit, atau terkena musibah.Untuk kebersihan lingkungan diadakan Gerakan Pungut Sampah juga dilaksanakan di hari Jum�at. Hasil dari sampah tersebut kesetorkan ke Bank Sampah Desa, hasil dari penjualan sampah dimasukkan ke kas social. Ketiga Pembiasaan Kegiatan Tahunan, diantaranya pesantren Ramadhan, dilakukan selama 15 (Lima belas) hari selama bulan Ramadhan, pengelolaan zakat fitrah meliputi penerimaan dan penyaluran zakat fitrah kepada yang berhak. Ketika kegiatan tahunan diterapkan dan dibiasakan kepada siswa muncul nilai-nilai karakter jujur dan tanggung jawab yang baik seperti yang diharapkan. Keempat, Pembiasaan incidental meliputi penggalangan dana apabila ada bencana baik yang terjadi dalam lingkungan madrasan maupun nasional, seperti sumbangan korban Merapi, bencana semeru dan sebagainya para siswa secara sukarela menggalang sumbangan baik dana maupun barang pantas pakai dan disalurkan melalui lembaga social. Hal ini untuk mendidik sikap empati terhadap sesama. Demikian juga ketika ada musibah yang dialami segenap civitas madrasah, semisal kematian, kecelakaan atau musibah lainnya secara otomatis penggalangan dana yang dikoordinir oleh OSIS segera bertindak dan secara langsung menyerahkan bantuan tersebut ke lokasi kejadian.

Pada tahap implementasi diharapkan adanya perkembangan pengalaman belajar dan proses kegiatan pembelajaran yang akhirnya tumbuh dan melekat menjadi karakter dalam diri individu siswa. Proses ini dilaksanakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan tersebut menjadi sebuah prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga unsur pendidikan yakni dalam lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus menjadi satu kesatuan yang kokoh. Dalam masing-masing unsur pendidikan terdapat dua jenis pengalaman belajar yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi (pembiasaan). Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentukan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur. Agar proses pembelajaran tersebut berhasil maka diperlukan peran guru sebagai figure yang bisa dicontoh merupakan bagian yang sangat penting dan menentukan. Sementara itu dalam habituasi (pembiasaan) diciptakan situasi dan kondisi lingkungan yang nyaman, dan penguatan yang dapat dipastikan bahwa para siswa baik ketika berada di lembaga pendidikannya, di rumahnya, maupun di lingkungan masyarakatnya dapat membiasakan diri berperilaku berdasarkan nilai dan menjadi karakter. Proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mencakup pemberian keteladanan, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan harus dikembangkan secara dinamis.

Nilai-nilai karakter Islami yang dihasilkan siswa melalui program pembiasaan terstruktur di MTs Negeri 3 Wonogiri, ialah: budaya religius, jujur, peduli lingkungan, berdisiplin, kreatif, semangat kebangsaan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Hal ini didapat dari pembiasaan-pembiasaan yang diterapkan di madrasah setiap harinya, baik dalam kegiatan belajar-mengajar, keseharian di sekolah, ataupun di dalam kegiatan ekstra kurikuler. Yang mana seluruh guru dan Wakil kepala bidang, maupun kepala madrasah saling bersinergi untuk membentuk karakter-karakter tersebut melalui program pembiasaan. Di MTs Negeri 3 Wonogiri menginginkan agar siswanya memiliki karakter Islami yang merasuk ke dalam jiwa setiap individu.

Evaluasi merupakan sebuah kegiatan untuk mengukur proses pelaksanaan program pembinaan pendidikan karakter. Titik berat kegiatan evaluasi adalah pada kesesuaian antara proses dan pelaksanaan program pembiasaan berbasis karakter Islami berdasarkan tahapan atau prosedur yang telah ditetapkan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat efektivitas program berdasarkan pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Hasilnya dapat digunakan untuk umpan balik untuk menyempurnakan proses dan pelaksanaan program.

Langkah-langkah dalam pelaksanaan pembiasaan terstruktur dilakukan supaya lebih terencana dan hasilnya bisa memuaskan. Selanjutnya dilakukan penilaian melalui pengamatan dan pencatatan perilaku. Penilaian keberhasilan tersebut dilakukan melalui langkah-langkah berikut: (1) Mengembangkan indikator dari nilai-nilai yang ditetapkan (2) Menyusun berbagai macam instrumen penilaian. (3) Melakukan pencatatan terhadap pencapaian indikator. (4) Melakukan analisis dan evaluasi. (5) Melakukan tindak lanjut. (Kementerian Pendidikan Nasional, 2011).

Bentuk evaluasi program pembiasaan terstruktur berbasis karakter Islami di MTs Negeri 3 Wonogiri antara lain dilakukan pada waktu kegiatan upacara yang dilaksanakan setiap hari Senin, setiap pembina upacara selalu menyisipkan dalam amanatnya tentang evaluasi program pembiasaan utamanya kegiatan harian. Selanjutnya melalui kegiatan rapat dewan guru yang dilakukan setiap akhir bulan merupakan kesempatan untuk mengevaluasi pencapaian target program pembiasaan, apabil ada permasalahan yang ditimbulkan dari para siswa dalam satu bulan terakhir segera bisa ditemukan solusinya. Bentuk evaluasi selanjutnya adalah melalui hasil penilaian Baca Tulis Al Qur�an yang dituangkan dalam buku prestasi pencapaian atau BTQku, buku ini wajib dimiliki oleh seluruh siswa dengan penilaian pencapaian target baca tulis Al Qur�an, implementasinya setiap bulan menghadirkan para wali untuk diserahkan hasil capaian siswa dan juga penyampaian hasil pengamatan akhlaq siswa dari wali kelas kepada para wali siswa, selain capaian Baca Tulis Al Qur�an juga perkembangan perilaku siswa utamanya akhlaq juga disampaikan kepada wali siswa.

Khususnya hal evaluasi program pembiasaan terstruktur dalam pembentukan nilai-nilai karakter di madrasah ini tidak jauh beda dengan setting evaluasi pendidikan karakter, yaitu: Madrasah, siswa, dan orang tua. Selanjutnya orang tua diberi kesempatan mengutarakan perkembangan anak-anak mereka baik belajarnya maupun perilakunya sehari-hari di rumah.Sedangkan dalam Setting Pendidikan Karakter yaitu: Kelas, sekolah, dan rumah. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan teori yang menegaskan, bahwa: Evaluasi untuk pendidikan karakter dilakukan untuk mengukur apakah anak sudah memiliki satu atau sekelompok karakter yang ditetapkan oleh sekolah dalam kurun waktu tertentu. Karena itu, makna evaluasi dalam konteks pendidikan karakter adalah upaya membandingkan perilaku anak dengan standar (indikator) karakter yang ditetapkan oleh guru dan/atau sekolah.

Satu hal yang menjadi catatan penting, bahwa suatu karakter tidak dapat dinilai dalam satu waktu (one shot evaluation), tetapi memerlukan observasi dan identifikasi secara terus menerus dalam keseharian anak, baik di kelas, sekolah, maupun rumah. Karena itu, penilaian terhadap karakter harus melibatkan tiga komponen tersebut. Evaluasi di kelas melibatkan guru yaitu dengan mengamati dan mencatat perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran, peserta didik sendiri dengan cara menjaga sikap dan perilaku selama berada di lingkungan sekolah dengan perilaku yang baik dan siap menerima sangsi apabila melakukan pelanggaran, peserta didik lainnya juga dilibatkan dalam evaluasi ini dengan cara ikut mengamati perilaku temannya dan melaporkan apabila terdapat perilaku menyimpang yang dilakukan temannya. Evaluasi di sekolah melibatkan peserta didik itu sendiri, teman-temannya, guru lainnya (termasuk Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah), pustakawan, tenaga administrasi sekolah, penjaga sekolah, yaitu dengan mengisi lembar observasi yang telah disediakan secara berkala. Sedangkan bentuk evaluasi di rumah melibatkan peserta didik, orang dan masyarakat untuk memberikan informasi yang benar apabila terdapat perilaku siswa yang melakukan penyimpangan baik ketika jam sekolah maupun di luar jam sekolah. Selanjutnya hasil observasi akan disampaikan secara berkala dan periodik dilakukan setiap hari Senin pada waktu upacara, selanjutnya akan dibawa dan dibahas pada waktu rapat dewan guru serta dilaporkan kepada orang tua setiap akhir bulan. Bagi siswa yang diketahui ada penyimpangan maka akan dilakukan tindak lanjut berupa pembinaan.

Penelitian yang selaras dengan penelitian ini dilakukan oleh Agus Setiawan, Mahasiswa IAIN Samarinda, Indonesia dengan judul penelitian Implementasi Nilai-Nilai Karakter Islam Berbasis Pembiasaan Siswa Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Batu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: bentuk implementasi metode pembiasaan dalam pendidikan agama Islam untuk pembentukan nilai-nilai karakter siswa di MTs Negeri Kota Batu (1) Pembiasaan dalam akhlaq, pembiasaan dalam ibadah, dan pembiasaan dalam kegiatan tahunan. (2) Karakter-karakter yang dihasilkan siswa melalui metode pembiasaan dalam pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Batu ialah: Berbudaya religius, bersahabat/komunikatif, peduli lingkungan, berdisiplin, kreatif, semangat kebangsaan, gemar membaca, peduli sosial, dan tanggung jawab. (3) Bentuk evaluasi metode pembiasaan dalam pendidikan agama Islam untuk pembentukan nilai-nilai karakter siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Batu antara lain: Kegiatan upacara di hari Senin, perkumpulan dewan guru (rapat), dan melalui buku TATIBSI (tata tertib siswa) dengan penilaian skor dan direkap setiap semester. (Rahim et al., 2019).

Persamaan yang terdapat dalam penelitian tersebut yaitu pada bentuk program pembiasaan yang meliputi kegiatan harian dan tahunan, sedangkan pada penelitian ini terdapat program pembiasaan bulanan dan incidental, sedangakan persamaan pada bentuk evaluasi program yaitu pada kegiatan upacara hari senin dan rapat guru, sebagai dokumen evaluasi pada neleitian tersebut melalui buku TATIBSI yang diberikan setiap akhir semester, sedangkan pada penelitian ini hasil rekap penilaian evaluasi ditulis melalui buku yang dinamai �capaian BTQku� yang berisi capaian prestasi bacaan Al Qur�an/ BTQ juga berisi catatan -catatan hasil pengamatan dan observasi seluruh kegiatan yang dilakukan siswa dalam 1 bulan dandiberikan dengan cara mengundang para wali siswa setiap bulannya dan sekaligus diberi pengarahan terkait perkembangan sikap para siswa, hal ini dilakukan supaya orang tua mengetahui perilaku keseharian yang dilakukan anaknya selama belajar di sekolah. Apakah siswa tersebut rajin, punya kepribadian yang baik dan bertanggung jawab terhadap dirinya ataukah sebaliknya, apakah anak sering membolos sekolah atau berperilaku kurang baik yang ditunjukkan dalam lembar observasi baik dari guru, pihak sekolah maupun dari pengamatan teman sejawat. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir bibit -bibit kenakalan yang akan ditimbulkan dari siswa, sedini mungkin sudah dapat diketahui dan dilakukan pembinaan.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada pembahasan ini yang berkaitan dengan implementasi program pembiasaan terstruktur berbasis karakter islami di MTs Negeri 3 Wonogiri, maka dapat diambil kesimpulan bentuk-bentuk implementasi program pembiasaan terstruktur berbasis karakter Islami ada empat macam kegiatan yaitu: pembiasaan harian dalam hal akhlaq diantaranya selalu menebar salam,berjabat tangan sebagai rasa ta�dim, senyum dan selalu menyapa , hidup bersih, berdisiplin. Dalam hal ibadah ada pembiasaan shalat dhuha, zuhur, membaca Asma�ul Husna, dan membaca Al-Qur�an. Pembiasaan mingguan, dalam hal ibadah meliputi shalat Jum�at, amalan sunah jum�at seperti memotong kuku dan rambut dan untuk kepedulian social ada infaq sedekah Jum�at. Pembiasaan kegiatan tahunan meliputi: Peningkatan iman dan taqwa melalui program pesantren kilat dan pengelolaan zakat fitrah, peringatan hari besar islam. Pembiasaan incidental, meliputi kegiatan social peduli bencana dan musibah manakala terjadi pada keluarga civitas madrasah dengan cara penggalangan dana untuk disalurkan kepada yang mebutuhkan melalui lembaga social.

Karakter-karakter yang dihasilkan siswa melalui metode pembiasaan dalam pendidikan agama Islam di MTs Negeri 3 Wonogiri ialah: Berbudaya religius, peduli lingkungan, berdisiplin, kreatif, jujur, peduli sosial, dan tanggung jawab. Bentuk evaluasi metode pembiasaan dilakukan pada waktu kegiatan upacara setiap hari Senin, melalui rapat dewan guru yang rutin dilakukan setiap bulan dan melalui isian buku capaian prestasi BTQku yang dilaporkan dengan menghadirkan orang tua ke sekolah setiap bulannya.

 

BIBLIOGRAFI

Abdul Madji. (2011). Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Rosdakarya.

Abdul Majid. dan Dian Andayani. (2012). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam. PT Remaja Rosdakarya.

Agus Setiawan. (2014). Prinsip Pendidikan Karakter Dalam Islam ( Studi Komparasi Pemikiran Al-Ghazali dan Burhanuddin Al-Zarnuji ). 1, 1�12. 1, 1�12.

Akhmad Muhaimin Azzet. (2013). Urgensi Pendidikan Karakter Di Indonesia: Revitalisasi Pendidikan Karakter Terhadap Keberhasilan Dan Kemajuan Bangsa. Ar-Ruzz Media.

Anas Salahudin dan Irwanto Alkrienciehie. (2013). Pendidik an Karak ter Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa,. Pustaka Setia.

Ardi Wiyani, N. (2012). Manajemen Pendidikan Karakter; Konsep dan Implementasinya di Sekolah. PT Pustaka Insan Madani.

Arikunto, S. (2003). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. PT Bumi Aksara.

Darmiatun, D. & S. (2013). Implementasi Karakter di Sekolah. Gava Media.

Fathul Muin. (2011). Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik dan Praktik,. Ar Ruzz.

Hamid, A. (2017). Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren: Pelajar dan Santri dalam Era IT & Cyber Culture. IMTIYAZ.

Heri Gunawan. (2014). Pendidikan Karakter. Alfabeta.

Kementerian Pendidikan Nasional. (n.d.). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter; Berdasarkan Pengalaman di Satuan Pendidikan Rintisan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan.

Kurniawan, S. (2017). Pendidikan Karakter dalam Islam Pemikiran Al- Ghazali tentang pendidikan karakter anak berbasis akhlaq karimah. Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 3(2), 197�216.

Lexy J. Moeloeng. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosdakarya.

Mardeli. (2020). Penanaman Nilai-Nilai Akhlak Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Menghadapi Era Milenialdi SMA Negeri 2 Rejang Lebong. TADRIB: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 6(2), 200.

Marzuki, M. A. (n.d.). 41. Konsep Dasar Pendidikan Karakter Marzuki. 1�13.

Rahim, A., Paser, K., & Setiawan, A. (2019). Implementasi Nilai-nilai Karakter Islam Berbasis Pembiasaan Siswa di Madrasah Tsanawiyah Kota Batu. Syamil, 7(3).

Saebani, H. H. & B. A. (2013). Pendidikan Karakter Perspek tif Islam. Pustaka Setia.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta.

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (n.d.).

Wibowo, A. (2013). Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah. Pustaka Belajar.

Wina Sanjaya. (2013). Penelitian Pendidikan. Kencana Prenada Media Group.

Zulhijrah. (2017). Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah. Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(1), 118�136.

 

 

Copyright holder:

Nama Author (Tahun)

 

First publication right:

Jurnal Syntax Transformation

 

This article is licensed under: