Volume 4, No. 3 Maret
2023
p-ISSN� 2721-3854 | e-ISSN 2721-2769
DOI:� https://doi.org/10.46799/jst.v4i3.701
IMPLEMENTASI PROGRAM
PEMBIASAAN TERSTRUKTUR BERBASIS KARAKTER ISLAMI DI MTS NEGERI 3 WONOGIRI
Suwarni, Imam
Makruf
UIN Raden Mas Said
Surakarta, Indonesia
Email: [email protected],
[email protected]
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implementasi program
pembiasaan terstruktur berbasis karakter islami di MTs Negeri 3 Wonogiri,
dengan sub fokus mencakup: (1) bentuk program pembiasaan terstruktur berbasis
karakter Islami (2) Karakter- karakter Islami yang terbentuk pada diri siswa
melalui program pembiasaan terstruktur (3) Evaluasi implementasi program
pembiasaan terstruktur untuk pembentukan nilai-nilai karakter islam. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif, Untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara Triangulasi
dan Bahan Referensi. Sedangkan Informan peneliti yaitu kepala madrasah, wakil
kepala dalam bidang kesiswaan, guru dan wali kelas, serta pihak lain yang
terkaitan dengan penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:
implementasi program� pembiasaan
terstruktur berbasis karakter islami berdasarkan waktu pelaksanaan� meliputi: program harian, bulanan dan tahunan
serta kegiatan insidental� yang bertujuan
untuk pembentukan akhlaq dan� ibadah,
karakter yang dapat ditumbuhkan dengan program tersebut ialah: berbudaya
religius,, peduli, jujur, berdisiplin, kreatif, semangat kebangsaan, kepedulian
sosial, dan tanggung jawab, sedangkan bentuk evaluasi dilakukan melalui kegiatan
upacara hari Senin, rapat guru dan melalui buku capaian prestasi BTQku.
Kata Kunci: Implementasi; Program Pembiasaan Terstruktur; Karakter Islami.
Abstract:
This study aims to describe the implementation of a structured
habituation program based on Islamic character at MTs Negeri 3 Wonogiri, with
sub-focuses including: (1) the form of a structured habituation program based
on Islamic character (2) Islamic characters formed in students through a
structured habituation program (3) Evaluation of the implementation of a
structured habituation program for the formation of Islamic character values.
The method used in this study is a qualitative method with a descriptive
approach. To check the validity of the data, it is done by means of
triangulation and reference materials. While the research informants are the
head of the madrasa, deputy head in the field of student affairs, teachers and
homeroom teachers, as well as other parties related to this research. The
results of this study indicate that: the implementation of a structured
habituation program based on Islamic character based on the implementation time
includes: daily, monthly and yearly programs as well as incidental activities
aimed at the formation of morality and worship, the characters that can be
grown with the program are: religious culture, caring, honest, disciplined,
creative, national spirit, social care, and responsibility, while the form of
evaluation is carried out through Monday ceremonies, teacher meetings and
through the BTQku achievement book.
Keywords: Implementation;
Structured Habituation Program; Islamic Character.
PENDAHULUAN
Menurunnya
akhlaq pada generasi muda akhir-akhir ini terjadi hampir di seluruh masyarakat.
Utamanya terjadi pada generasi muda, bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi
pada anak-anak. Indikasi kemerosotan akhlaq ditandai dengan merebaknya berbagai
tindak kejahatan, perkelahian pelajar dan semakin banyaknya generasi muda yang
terlibat dalam pemakaian obat terlarang,
Penanaman nilai moral dalam Pendidikan Islam menjadi salah satu
upaya menjawab berbagai tantangan di era globalisasi saat sekarang ini.
Penguatan nilai moral bertujuan untuk membimbing dan membina peserta didik agar
menjadi pribadi yang lebih baik dan mampu berakhlak mulia, yang sesuai dengan
nilai-nilai Islam. Berkaitan dengan nilai-nilai moral, peran pendidik dalam
penanaman nilai-nilai moral sangatlah penting. Hal ini untuk mempersiapkan
sikap� yang baik bagi siswa dalam
menghadapi era milenial
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki peradaban
sebagai masyarakat madani dan peduli pada pendidikan bangsa, sudah pasti kita
berusaha untuk menjadikan nilai-nilai karakter mulia itu tumbuh dan berkembang
dalam sikap dan perilaku bangsa, diawali dari para pemimpin yang ada di atas
sampai rakyat yang ada di bawah, sehingga bangsa ini memiliki kebanggaan dan
dapat diperhitungkan eksistensinya di antara bangsa yang lain.� Salah satu upaya ke arah itu adalah melakukan
pembinaan karakter di semua aspek kehidupan masyarakat, terutama melalui
lembaga pendidikan.
Tujuan Pendidikan mampu diwujudkan dengan membentuk karakter yang
baik pada peserta didik. Begitu pentingnya pendidikan, sebab karakter yang baik
itu sendiri tiada lain adalah perwujudan dari�
sifat Agung Sang Pencipta dalam keseharian hidup manusia�
Program pembiasaan (habituation) merupakan salah satu cara
yang sangat efektif untuk diterapkan dalam pembentukan dan pembinaan karakter
serta kepribadian anak. Pembiasaan merupakan perilaku yang dengan kesadaran
diri dilaksanakan secara berkesinambungan dan berulang dengan tujuan perilaku
tersebut menjadi keseharian. Sesuatu yang biasa dilakukan merupakan pengamalan.
Pada program pembiasaan intinya adalah pengulangan�
Berdasarkan hasil wawancara dengan wakil kepala MTs Negeri 3 Wonogiri
menyatakan keprihatinan akan dekadensi moral para siswa tidak menutup
kemungkinan akan menjangkit pada siswa madrasah. Sebab Pendidikan di madrasah
berbeda dengan Pendidikan pondok pesatren yang bisa mengawasi peserta didik 24
jam. Peran madrasah sebatas mengajarkan pokok -pokok agama, dan
mengintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran dengan mengedepankan nilai-nilai
kekuasaan Allah Swt Yang Maha Kuasa dan penerapan selanjutnya adalah tergantung
pada anak di lingkungan masing-masing. Peran Orang tua juga sangat diperlukan
untuk memantau perkembangan sikap dan perilaku anak selama berada di rumah.
Akan halnya, dengan pernyataan kepala sekolah bahwa peran madrasah sebagai
bentuk upaya mengurangi kenakalan anak dan mengarahkan perilaku pada kebiasaan yang
baik adalah dengan menyusun strategi program pembiasaan terstruktur, supaya
siswa terlatih berakhlaq karimah di sekolah dan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Upaya�� sekolah menjadikan
program pembiasaan terstruktur yang ada di MTs Negeri 3 Wonogiri ini diharapkan
mampu memberikan sumbangsih perbaikan karakter generasi bangsa ini.� Dengan adanya komunikasi dua arah yaitu dari
pihak sekolah dan pihak keluarga yang terpantau setiap bulan, akan diketahui
sedini mungkin dan dapat meminimalkan tindak penyimpangan yang terjadi pada
diri siswa. Peran sekolah sebagai
lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian
siswa sekiranya perlu menciptakan budaya sekolah agar terwujud kepribadian
siswa yang terlatih, sesuai dengan visi, misi dan tujuan pendidikan untuk
membentuk manusia insan kamil.� Budaya
sekolah yang akan dibentuk tentunya harus dirancang, dibentuk, dibangun dan
digunakan oleh seluruh komponen sekolah untuk diimplementasikan
Pembiasaan merupakan salah satu cara
dalam pendidikan berbasis Islam yang begitu penting untuk membentuk kepribadian
anak sejak dini, karena dengan rutinitas ini suatu kegiatan yang pada akhirnya
akan menjadi milik anak di kemudian hari
Nilai-nilai pendidikan karakter juga harus ditumbuh kembangkan
melalui kebiasaan kehidupan keseharian di sekolah (habituasi), melalui budaya
sekolah karena budaya sekolah (school culture) merupakan faktori pendukung
keberhasilan pendidikan karakter itu sendiri
�Pembiasaan terstruktur
adalah bentuk pembiasaan yang diprogramkan oleh sekolah, terjadwal dan
tersistematis pelaksanaannya. Berfungsi untuk menumbuhkan sikap atau perilaku
yang baik dan tertanam dalam hati serta mampu menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Siswa akan terbiasa secara sendirinya dengan hal-hal yang positif
seperti sikap mengimani adanya Tuhan yang Maha Kuasa dan menjalankan ibadah
sehari-hari, serta munculnya sikap menghargai sesama, peduli dan empati
terhadap suatu kejadian yang dilakukan secara terus menerus maka akan menjadi
suatu kebiasaan.
Dari segi etimologi, karakter berasal dari
bahasa Yunani yang berarti mengukir corak. Mengaplikasikan nilai kebaikan dalam
bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam,
rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya,
orang yang berprilaku sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter
mulia
Kata karakter ini awalnya
dipakai guna mendapati beberapa hal yang mengagumkan dari dua koin (keping
uang). Selanjutnya kata tersebut dipakai guna mendapati dua hal yang tidak sama
antara satu dengan yang lainnya,�
akhirnya dipakai pula untuk menyebut kecenderungan kualitas dari� setiap orang yg membedakan dengan yang
lainnya.
Hasil publikasi Pusat Kurikulum Badan
Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional berjudul �Pedoman
Pelaksanaan Pendidikan Karakter (2011)� menyebutkan sejumlah nilai pembentuk
karakter yang merupakan hasil kajian empirik Pusat Kurikulum yang bersumber
dari agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Nilai-nilai
tersebut diantaranya: 1) Sikap Religius yaitu sikap yang mencerminkan ketaatan
dalam menjalankan ajaran agama yang dianutnya, bersikap toleransi terhadap
agama lain, serta menjaga kerukunan dengan penganut agama lain, 2) Sikap jujur
yaitu perilaku yang didasarkan pada usaha dan menjadikannya sebagai seorang
yang selalu dapat dipercaya dalam segala hal, 3) Sikap toleransi� yaitu sikap saling menghargai segala
perbedaan yang muncul baik meliputi suku, ras, agama, pendapat, sikap, dan
tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya, 4) Sikap disiplin yaitu tindakan
yang mencerminkan tindakan tertib dan patuh terhadap berbagai macam� ketentuan dan peraturan, 5) Sikap� kerja keras yaitu perilaku yang menunjukkan
usaha yang penuh kesungguhan dalam mengatasi berbagai hambatan dan mampu
menyelesaikan dengan baik, 6) Sikap kreatif yaitu berfikir dan melakukan segala
hal untuk membuahkan� cara atau penemuan
yang terbaru dari sebelumnya, 7) Sikap mandiri yaitu sikap dan perilaku yang
mencerminkan tidak selalu bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan
tugas, 8) Sikap demokratis yaitu cara pandang dalam memberikan kesamaan hak dan
kewajiban antara diri sendiri dan orang lain, 9) Rasa Ingin Tahu yaitu sikap
atau tindakan yang berupaya untuk mengetahui lebih jauh tentang� sesuatu , 10) Semangat Kebangsaan yaitu
pandang dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan
pribadi maupun� kelompok, 11) Sikap cinta
tanah air yaitu cara pandang yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan
penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi, dan politik bangsa, 12) Sikap kerja keras yaitu perilaku yang
menunjukkan upaya yang sungguh-sungguh dalam mengatasi hambatan untuk
menyelesaikan segala sesuatu dengan sebaik -baiknya, 13) Menghargai Prestasi
yatu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang
lain,� 14) Bersahabat/Komunikatif (tindakan
yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan
orang lain, 15) Cinta Damai yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang
menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya, 16) Sikap
gemar membaca (kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang
memberikan kebaikan bagi dirinya, 17) Sikap peduli lingkungan yaitu sikap dan
tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di
sekitarnya, dan mengembangkan upaya- upaya untuk memperbaiki kerusakan alam
yang terjadi, 18) Sikap peduli sosial yaitu sikap dan tindakan yang selalu
ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan, 19)
Sikap tanggung jawab� yaitu sikap dan
perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya
ia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan alam, sosial dan
budaya, Negara dan Tuhan Yang Maha Esa)
Selaras dengan hasil kajian tersebut di atas,
dalam pandangan Islam adalah agama yang tidak memisahkan antara disiplin ilmu
dengan etika-etika Islam. Sebagai usaha yang identik dengan ajaran agama,
pendidikan karakter dalam Islam memiliki keunikan dan perbedaan dengan
pendidikan karakter di dunia barat. Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup
penekanan terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum dalam
memperkuat moralitas, perbedaan pemahaman tentang kebenaran, penolakan terhadap
otonomi moral sebagai tujuan pendidikan moral, dan penekanan pahala di akhirat
sebagai motivasi perilaku bermoral. Inti dari perbedaaan-perbedaan ini adalah
keberadaan Al Qur�an sebagai sumber dan rambu-rambu pendidikan karakter dalam
Islam
Pendidikan karakter dalam Islam adalah sebuah
proses pembentukan akhlak, kepribadian dan watak yang baik, yang bertanggung
jawab akan tugas yang diberikan Allah kepadanya di dunia, serta mampu
menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu dalam Islam
sendiri, pendidikan karakter sama maknanya dengan pendidikan agama yang
berbasis akhlak. Islam melihat begitu pentingnya membentuk pribadi muslim yang
berakhlaq mulia (akhlaq al- karimah) yang bermuara pada insan kamil
Ciri-ciri�
Kurikulum yang membangun karakter dalam perspektif Islam adalah sebagai
berikut: 1) Pembinaan anak didik untuk bertauhid, 2) Kurikulum harus
disesuaikan dengan fitrah manusia, sebagai makhluk yang memiliki keyakinan
kepada Tuhan, 3) Kurikulum yang disajikan merupakan hasil pengujian materi
dengan landasan al-Quran dan as-Sunnah, 4) Mengarahkan minat dan bakat serta
meningkatkan kemampuan akidah anak didik serta keterampilan yang akan
diterapkan dalam kehidupan konkret, 5) Pembinaan akhlak anak didik, sehingga
pergaulannya tidak keluar dan tuntunan Islam, 6) Tidak ada kedaluwarsa
kurikulum karena ciri khas kurikulum Islam senantiasa relevan dengan
perkembangan zaman, bahkan menjadi filter kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam penerapannya dikehidupan masyarakat, 7) Pendidikan karakter
mengisyaratkan tiga macam dimensi dalam upaya mengembangkan kehidupan manusia,
yaitu: dimensi kehidupan duniawi yang mendorong manusia sebagai hamba Allah
untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, dan
nilai-nilai Islam yang mendasari kehidupan, dimensi kehidupan ukhrawi yang
mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi
dan seimbang dengan Tuhan.
Sudut pandang inilah yang melahirkan berbagai
usaha agar seluruh aktivitas manusia senantiasa sesuai dengan nilai-nilai Islam
dan dimensi hubungan antara kehidupan dunia dan akhirat yang mendorong manusia
untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang kaffah dalam bidang
ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta menjadi pendukung dan pelaksana ajaran
Islam. Dimensi itu kemudian dituangkan dan dijabarkan dalam program operasional
pendidikan yang bermuara pada tujuan yang telah ditetapkan
Secara�
bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris, �evaluation�, yang
berarti penilaian atau penaksiran
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 21 menyebutkan bahwa evaluasi
pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu
pendidikan terhadap berbagai bidang pendidikan pada setia jalur, jenjang, dan
jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggung jawaban pelaksanaan Pendidikan
Usaha pembentukan
pendidikan karakter harus melibatkan seluruh komponen diantaranya pihak
keluarga, warga sekolah, dan lingkungan sekolah. Pendidikan karakter melalui
sekolah adalah kegiatan mulia yang mendesak dan harus dilakukan. Bahkan saat
waktu berbicara mengenai masa depan, sekolah bertanggung jawab bukan hanya
mencetak siswa yang unggul bidang ilmu pengetahuan & teknologi, namun dalam
karakter kepribadian juga.
METODE
Metode
penelitian yang digunakan dalam pemecahan permasalahan termasuk metode
analisis. Keterangan gambar diletakkan menjadi bagian dari judul gambar (figure
caption) bukan menjadi bagian dari gambar. Metode-metode yang digunakan dalam
penyelesaian penelitian dituliskan di bagian ini. Pada Metode Penelitian,
Alat-alat kecil dan bukan utama (sudah umum berada di lab, seperti: gunting,
gelas ukur, pensil) tidak perlu dituliskan, tetapi cukup tuliskan rangkaian
peralatan utama saja, atau alat-alat utama yang digunakan untuk analisis
dan/atau karakterisasi, bahkan perlu sampai ke tipe dan akurasi; Tuliskan
secara lengkap lokasi penelitian, jumlah responden, cara mengolah hasil
pengamatan atau wawancara atau kuesioner, cara mengukur tolok ukur kinerja;
metode yang sudah umum tidak perlu dituliskan secara detil, tetapi cukup
merujuk ke buku acuan. Prosedur percobaan harus dituliskan dalam bentuk kalimat
berita, bukan kalimat perintah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Implementasi merupakan upaya yang
dilaksanakan dalam bentuk kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi
tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien,
sehingga akan memiliki nilai
Hasil penelitian yang diperoleh
peneliti mengenai bentuk implementasi program pembiasaan di MTs Negeri 3
Wonogiri, peran sekolah berbasis madrasah membentuk program kegiatan
terstruktur dimana kegiatan tersebut dibiasakan agar dapat membentuk nilai-
nilai karakter siswa yang sesuai dengan visi dan misi sekolah yaitu: Pertama
Program Harian yang meliputi pembiasaan ditekankan pada sikap akhlaqul karimah,
budaya� yang ditanamkan yaitu membiasakan
mengucap salam dan berjabat tangan sesama jenis, dengan yang lain jenis bisa
menunjukkan salam dengan kedua telapak tangan didepan dada,ini tanda sikap
ta�dim terutama kepada gurunya,� budaya
senyum , dan� saling menyapa apabila bertemu
dengan seluruh civitas madrasah. Menanamkan budaya hidup bersih dengan menempatkan
bak sampah di tempat -tempat tertentu, budaya berdisiplin dalam kegiatan apapun,
Hal ini dapat terwujud dengan baik karena ada uswah hasanah yang ditunjukkan
oleh guru yang secara terus menerus diterapkan ketika di dalam kelas maupun di
luar kelas, selanjutnya kebiasaan itu dapat diteladani para siswa. Pembiasaan
dalam ibadah harian, meliputi, Shalat dhuha yang dilaksanakan pada waktu
istirahat, salat Zuhur selalu berjama�ah, pembiasaan baca tulis Al Qur�an,
mengingat siswa yang masuk ke Mts Negeri 3 Wonogiri belum semuanya mampu
membaca Al Qur�an, maka setiap pagi selalu diadakan program BTQ yang didampingi
wali kelas masing-masing, yang belum lancar membaca Al Qur�an menggunakan
metode IQRA� jilid 1 sampai 6, bagi yang sudah lancar dengan system tadarus,
disetiap akhir pelajaran semua siswa membaca asma�ul Husna. Kegiatan tersebut
dibiasakan karena merupakan sekolah Madrasah, jadi budaya religius harus
diciptakan dan dibiasakan, karena jika ini dibentuk maka nilai-nilai karakter
seperti apa yang diajarkan uswatun hasanah Nabi Muhammas SAW dapat berjalan
dengan baik.
Semua pihak yang ada disekolah
harus ikut bertangung jawab dalam pembentukan nilai-nilai karakter siswa yang
sesuai dengan yang diharapkan. Kegiatan yang dilakukan setiap hari dalam hal
penanaman Aqidah supaya menjadi bertambah keyakinannya, maka dengan cara
memasukkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT disetiap kegiatan belajar-mengajar,
mengajarkan kepada siswa bahwa segala ilmu yang dipelajari merupakan bagian
tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Terkait dengan hal ini, semua pihak yang ada
di sekolah bekerjasama dengan Waka kurikulum, dan berkoordinasi dengan guru
lainnya agar setiap mata pelajaran memasukkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT
agar siswa terbiasa mengingat Allah Swt. Selanjutnya pembiasaan dalam membaca asma�ul
Husna setiap selesai kegiatan pembelajaran, hal ini dilakukan supaya peserta
didik selain mampu menghafalkan dapat pula meneladani sifat- sifat dari Asma�ul
Husna.� Kedua, program kegiatan
mingguan, diantaranya pelaksanaan ibadah salat Jum�at berjama�ah dengan petugas
dari peserta didik dijadwal bergantian tetapi juga melibatkan guru pendamping.
Kegiatan di hariyang sama yaitu Jum�at bersih, sekaligus pengamalan langsung
sunah-sunah hari Jum�at yang meliputi pemeriksaan kuku dan rambut yang panjang
langsung dipotong di tempat. Hal ini dilakukan untuk mendidik jiwa percaya diri
dan bertanggung jawab siswa. Untuk melatih keikhlasan, maka setiap Jum�at
diadakan infaq Jum�at, lalu uang yang diperoleh digunakan untuk kegiatan sosial
seperti, menjenguk peserta didik yang sakit, atau terkena musibah.� Untuk kebersihan lingkungan diadakan Gerakan
Pungut Sampah juga dilaksanakan di hari Jum�at. Hasil dari sampah tersebut
kesetorkan ke Bank Sampah Desa, hasil dari penjualan sampah dimasukkan ke kas
social. Ketiga Pembiasaan Kegiatan Tahunan, diantaranya pesantren
Ramadhan, dilakukan selama 15 (Lima belas) hari selama bulan Ramadhan,
pengelolaan zakat fitrah meliputi penerimaan dan penyaluran zakat fitrah kepada
yang berhak. Ketika kegiatan tahunan diterapkan dan dibiasakan kepada siswa
muncul nilai-nilai karakter jujur dan tanggung jawab yang baik seperti yang
diharapkan. Keempat, Pembiasaan incidental meliputi penggalangan dana
apabila ada bencana baik yang terjadi dalam lingkungan madrasan maupun
nasional, seperti sumbangan korban Merapi, bencana semeru dan sebagainya para
siswa secara sukarela menggalang sumbangan baik dana maupun barang pantas pakai
dan disalurkan melalui lembaga social. Hal ini untuk mendidik sikap empati terhadap
sesama. Demikian juga ketika ada musibah yang dialami segenap civitas madrasah,
semisal kematian, kecelakaan atau musibah lainnya secara otomatis penggalangan
dana yang dikoordinir oleh OSIS segera bertindak dan secara langsung
menyerahkan bantuan tersebut ke lokasi kejadian.
Pada tahap implementasi diharapkan
adanya perkembangan pengalaman belajar dan proses kegiatan pembelajaran yang
akhirnya tumbuh dan melekat menjadi karakter dalam diri individu siswa. Proses
ini dilaksanakan melalui proses pembudayaan dan pemberdayaan tersebut menjadi
sebuah prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung
dalam tiga unsur pendidikan yakni dalam lembaga pendidikan, keluarga, dan
masyarakat. Ketiga unsur tersebut harus menjadi satu kesatuan yang kokoh. Dalam
masing-masing unsur pendidikan terdapat dua jenis pengalaman belajar yang
dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi (pembiasaan).
Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang
sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentukan karakter dengan menerapkan
kegiatan yang terstruktur. Agar proses pembelajaran tersebut berhasil maka
diperlukan peran guru sebagai figure yang bisa dicontoh merupakan bagian yang
sangat penting dan menentukan. Sementara itu dalam habituasi (pembiasaan)
diciptakan situasi dan kondisi lingkungan yang nyaman, dan penguatan yang dapat
dipastikan bahwa para siswa baik ketika berada di lembaga pendidikannya, di
rumahnya, maupun di lingkungan masyarakatnya dapat membiasakan diri berperilaku
berdasarkan nilai dan menjadi karakter. Proses pembudayaan dan pemberdayaan
yang mencakup pemberian keteladanan, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan
harus dikembangkan secara dinamis.
Nilai-nilai karakter Islami yang
dihasilkan siswa melalui program pembiasaan terstruktur di MTs Negeri 3
Wonogiri, ialah: budaya religius, jujur, peduli lingkungan, berdisiplin,
kreatif, semangat kebangsaan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Hal ini
didapat dari pembiasaan-pembiasaan yang diterapkan di madrasah setiap harinya,
baik dalam kegiatan belajar-mengajar, keseharian di sekolah, ataupun di dalam
kegiatan ekstra kurikuler. Yang mana seluruh guru dan Wakil kepala bidang,
maupun kepala madrasah saling bersinergi untuk membentuk karakter-karakter tersebut
melalui program pembiasaan. Di MTs Negeri 3 Wonogiri menginginkan agar siswanya
memiliki karakter Islami yang merasuk ke dalam jiwa setiap individu.
Evaluasi merupakan sebuah kegiatan untuk
mengukur proses pelaksanaan program pembinaan pendidikan karakter. Titik berat
kegiatan evaluasi adalah pada kesesuaian antara proses dan pelaksanaan program
pembiasaan berbasis karakter Islami berdasarkan tahapan atau prosedur yang
telah ditetapkan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat
efektivitas program berdasarkan pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
Hasilnya dapat digunakan untuk umpan balik untuk menyempurnakan proses dan
pelaksanaan program.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan pembiasaan
terstruktur dilakukan supaya lebih terencana dan hasilnya bisa memuaskan.
Selanjutnya dilakukan penilaian melalui pengamatan dan pencatatan perilaku.
Penilaian keberhasilan tersebut dilakukan melalui langkah-langkah berikut: (1)
Mengembangkan indikator dari nilai-nilai yang ditetapkan (2) Menyusun berbagai
macam instrumen penilaian. (3) Melakukan pencatatan terhadap pencapaian
indikator. (4) Melakukan analisis dan evaluasi. (5) Melakukan tindak lanjut.
(Kementerian Pendidikan Nasional, 2011).
Bentuk evaluasi program pembiasaan
terstruktur berbasis karakter Islami di MTs Negeri 3 Wonogiri antara lain
dilakukan pada waktu kegiatan upacara yang dilaksanakan setiap hari Senin,
setiap pembina upacara selalu menyisipkan dalam amanatnya tentang evaluasi
program pembiasaan utamanya kegiatan harian. Selanjutnya melalui kegiatan rapat
dewan guru yang dilakukan setiap akhir bulan merupakan kesempatan untuk
mengevaluasi pencapaian target program pembiasaan, apabil ada permasalahan yang
ditimbulkan dari para siswa dalam satu bulan terakhir segera bisa ditemukan
solusinya. Bentuk evaluasi selanjutnya adalah melalui hasil penilaian Baca
Tulis Al Qur�an yang dituangkan dalam buku prestasi pencapaian atau BTQku, buku
ini wajib dimiliki oleh seluruh siswa dengan penilaian pencapaian target baca
tulis Al Qur�an, implementasinya setiap bulan menghadirkan para wali untuk
diserahkan hasil capaian siswa dan juga penyampaian hasil pengamatan akhlaq
siswa dari wali kelas kepada para wali siswa, selain capaian Baca Tulis Al
Qur�an juga perkembangan perilaku siswa utamanya akhlaq juga disampaikan kepada
wali siswa.�
Khususnya hal evaluasi program
pembiasaan terstruktur dalam pembentukan nilai-nilai karakter di madrasah ini
tidak jauh beda dengan setting evaluasi pendidikan karakter, yaitu: Madrasah,
siswa, dan orang tua. Selanjutnya orang tua diberi kesempatan mengutarakan
perkembangan anak-anak mereka baik belajarnya maupun perilakunya sehari-hari di
rumah.� Sedangkan dalam Setting
Pendidikan Karakter yaitu: Kelas, sekolah, dan rumah. Hasil penelitian tersebut
sesuai dengan teori yang menegaskan, bahwa: Evaluasi untuk pendidikan karakter
dilakukan untuk mengukur apakah anak sudah memiliki satu atau sekelompok
karakter yang ditetapkan oleh sekolah dalam kurun waktu tertentu. Karena itu,
makna evaluasi dalam konteks pendidikan karakter adalah upaya membandingkan
perilaku anak dengan standar (indikator) karakter yang ditetapkan oleh guru
dan/atau sekolah.
Satu hal yang menjadi catatan
penting, bahwa suatu karakter tidak dapat dinilai dalam satu waktu (one shot
evaluation), tetapi memerlukan observasi dan identifikasi secara terus menerus
dalam keseharian anak, baik di kelas, sekolah, maupun rumah. Karena itu,
penilaian terhadap karakter harus melibatkan tiga komponen tersebut. Evaluasi
di kelas melibatkan guru yaitu dengan mengamati dan mencatat perilaku siswa
selama mengikuti kegiatan pembelajaran, peserta didik sendiri dengan cara
menjaga sikap dan perilaku selama berada di lingkungan sekolah dengan perilaku
yang baik dan siap menerima sangsi apabila melakukan pelanggaran, peserta didik
lainnya juga dilibatkan dalam evaluasi ini dengan cara ikut mengamati perilaku
temannya dan melaporkan apabila terdapat perilaku menyimpang yang dilakukan
temannya. Evaluasi di sekolah melibatkan peserta didik itu sendiri,
teman-temannya, guru lainnya (termasuk Kepala Sekolah dan Wakil Kepala
Sekolah), pustakawan, tenaga administrasi sekolah, penjaga sekolah, yaitu
dengan mengisi lembar observasi yang telah disediakan secara berkala. Sedangkan
bentuk evaluasi di rumah melibatkan peserta didik, orang dan masyarakat untuk
memberikan informasi yang benar apabila terdapat perilaku siswa yang melakukan
penyimpangan baik ketika jam sekolah maupun di luar jam sekolah. Selanjutnya
hasil observasi akan disampaikan secara berkala dan periodik dilakukan setiap
hari Senin pada waktu upacara, selanjutnya akan dibawa dan dibahas pada waktu
rapat dewan guru serta dilaporkan kepada orang tua setiap akhir bulan. Bagi
siswa yang diketahui ada penyimpangan maka akan dilakukan tindak lanjut berupa
pembinaan.
Penelitian yang selaras dengan
penelitian ini dilakukan oleh Agus Setiawan, Mahasiswa IAIN Samarinda,
Indonesia dengan judul penelitian Implementasi Nilai-Nilai Karakter Islam
Berbasis Pembiasaan Siswa Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Batu. Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa: bentuk implementasi metode pembiasaan dalam
pendidikan agama Islam untuk pembentukan nilai-nilai karakter siswa di MTs
Negeri Kota Batu (1) Pembiasaan dalam akhlaq, pembiasaan dalam ibadah, dan
pembiasaan dalam kegiatan tahunan. (2) Karakter-karakter yang dihasilkan siswa
melalui metode pembiasaan dalam pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah
Negeri Kota Batu ialah: Berbudaya religius, bersahabat/komunikatif, peduli
lingkungan, berdisiplin, kreatif, semangat kebangsaan, gemar membaca, peduli sosial,
dan tanggung jawab. (3) Bentuk evaluasi metode pembiasaan dalam pendidikan
agama Islam untuk pembentukan nilai-nilai karakter siswa di Madrasah Tsanawiyah
Negeri Kota Batu antara lain: Kegiatan upacara di hari Senin, perkumpulan dewan
guru (rapat), dan melalui buku TATIBSI (tata tertib siswa) dengan penilaian
skor dan direkap setiap semester.
Persamaan yang
terdapat dalam penelitian tersebut yaitu pada bentuk program pembiasaan yang
meliputi kegiatan harian dan tahunan, sedangkan pada penelitian ini terdapat
program pembiasaan bulanan dan incidental, sedangakan persamaan pada bentuk
evaluasi program yaitu pada kegiatan upacara hari senin dan rapat guru, sebagai
dokumen evaluasi pada neleitian tersebut melalui buku TATIBSI yang diberikan
setiap akhir semester, sedangkan pada penelitian ini hasil rekap penilaian
evaluasi ditulis melalui buku yang dinamai �capaian BTQku� yang berisi capaian
prestasi bacaan Al Qur�an/ BTQ juga berisi catatan -catatan hasil pengamatan
dan observasi seluruh kegiatan yang dilakukan siswa dalam 1 bulan dan� diberikan dengan cara mengundang para wali
siswa setiap bulannya dan sekaligus diberi pengarahan terkait perkembangan
sikap para siswa, hal ini dilakukan supaya orang tua mengetahui perilaku
keseharian yang dilakukan anaknya selama belajar di sekolah. Apakah siswa
tersebut rajin, punya kepribadian yang baik dan bertanggung jawab terhadap
dirinya ataukah sebaliknya, apakah anak sering membolos sekolah atau
berperilaku kurang baik yang ditunjukkan dalam lembar observasi baik dari guru,
pihak sekolah maupun dari pengamatan teman sejawat. Hal ini dilakukan untuk
meminimalisir bibit -bibit kenakalan yang akan ditimbulkan dari siswa, sedini
mungkin sudah dapat diketahui dan dilakukan pembinaan.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dipaparkan pada pembahasan ini yang berkaitan
dengan implementasi program pembiasaan terstruktur berbasis karakter islami di
MTs Negeri 3 Wonogiri, maka dapat diambil kesimpulan bentuk-bentuk implementasi
program pembiasaan terstruktur berbasis karakter Islami ada empat macam
kegiatan yaitu: pembiasaan harian dalam hal akhlaq diantaranya selalu menebar
salam,berjabat tangan sebagai rasa ta�dim, senyum dan selalu menyapa , hidup
bersih, berdisiplin. Dalam hal ibadah ada pembiasaan shalat dhuha, zuhur,
membaca Asma�ul Husna, dan membaca Al-Qur�an. Pembiasaan mingguan, dalam hal
ibadah meliputi shalat Jum�at, amalan sunah jum�at seperti memotong kuku dan
rambut dan untuk kepedulian social ada infaq sedekah Jum�at. Pembiasaan
kegiatan tahunan meliputi: Peningkatan iman dan taqwa melalui program pesantren
kilat dan pengelolaan zakat fitrah, peringatan hari besar islam. Pembiasaan
incidental, meliputi kegiatan social peduli bencana dan musibah manakala
terjadi pada keluarga civitas madrasah dengan cara penggalangan dana untuk
disalurkan kepada yang mebutuhkan melalui lembaga social.
Karakter-karakter
yang dihasilkan siswa melalui metode pembiasaan dalam pendidikan agama Islam di
MTs Negeri 3 Wonogiri ialah: Berbudaya religius, peduli lingkungan,
berdisiplin, kreatif, jujur, peduli sosial, dan tanggung jawab. Bentuk evaluasi
metode pembiasaan dilakukan pada waktu kegiatan upacara setiap hari Senin,
melalui rapat dewan guru yang rutin dilakukan setiap bulan dan melalui isian buku
capaian prestasi BTQku yang dilaporkan dengan menghadirkan orang tua ke sekolah
setiap bulannya.
Abdul Madji. (2011). Pendidikan
Karakter Perspektif Islam. Rosdakarya.
Abdul Majid. dan Dian
Andayani. (2012). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam. PT Remaja
Rosdakarya.
Agus Setiawan. (2014). Prinsip
Pendidikan Karakter Dalam Islam ( Studi Komparasi Pemikiran Al-Ghazali dan
Burhanuddin Al-Zarnuji ). 1, 1�12. 1, 1�12.
Akhmad Muhaimin Azzet.
(2013). Urgensi Pendidikan Karakter Di Indonesia: Revitalisasi Pendidikan
Karakter Terhadap Keberhasilan Dan Kemajuan Bangsa. Ar-Ruzz Media.
Anas Salahudin dan Irwanto
Alkrienciehie. (2013). Pendidik an Karak ter Pendidikan Berbasis Agama dan
Budaya Bangsa,. Pustaka Setia.
Ardi Wiyani, N. (2012). Manajemen
Pendidikan Karakter; Konsep dan Implementasinya di Sekolah. PT Pustaka
Insan Madani.
Arikunto, S. (2003). Dasar-dasar
Evaluasi Pendidikan. PT Bumi Aksara.
Darmiatun, D. & S.
(2013). Implementasi Karakter di Sekolah. Gava Media.
Fathul Muin. (2011). Pendidikan
Karakter: Konstruksi Teoritik dan Praktik,. Ar Ruzz.
Hamid, A. (2017). Pendidikan
Karakter Berbasis Pesantren: Pelajar dan Santri dalam Era IT & Cyber
Culture. IMTIYAZ.
Heri Gunawan. (2014). Pendidikan
Karakter. Alfabeta.
Kementerian Pendidikan Nasional.
(n.d.). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter; Berdasarkan Pengalaman di
Satuan Pendidikan Rintisan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat
Kurikulum dan Perbukuan.
Kurniawan, S. (2017).
Pendidikan Karakter dalam Islam Pemikiran Al- Ghazali tentang pendidikan
karakter anak berbasis akhlaq karimah. Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama
Islam, 3(2), 197�216.
Lexy J. Moeloeng. (2012). Metodologi
Penelitian Kualitatif. Rosdakarya.
Mardeli. (2020). Penanaman
Nilai-Nilai Akhlak Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Menghadapi Era
Milenialdi SMA Negeri 2 Rejang Lebong. TADRIB: Jurnal Pendidikan Agama
Islam, 6(2), 200.
Marzuki, M. A. (n.d.). 41.
Konsep Dasar Pendidikan Karakter Marzuki. 1�13.
Rahim, A., Paser, K., &
Setiawan, A. (2019). Implementasi Nilai-nilai Karakter Islam Berbasis
Pembiasaan Siswa di Madrasah Tsanawiyah Kota Batu. Syamil, 7(3).
Saebani, H. H. & B. A.
(2013). Pendidikan Karakter Perspek tif Islam. Pustaka Setia.
Syaiful Bahri Djamarah dan
Aswan Zain. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta.
Undang-undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (n.d.).
Wibowo, A. (2013). Manajemen
Pendidikan Karakter di Sekolah. Pustaka Belajar.
Wina Sanjaya. (2013). Penelitian
Pendidikan. Kencana Prenada Media Group.
Zulhijrah. (2017).
Implementasi Pendidikan Karakter Di Sekolah. Tadrib: Jurnal Pendidikan
Agama Islam, 1(1), 118�136.
|
Copyright holder: Nama Author (Tahun) |
|
First publication right: |
|
This article is licensed under: |