Volume 4, No. 3 Maret 2023
p-ISSN� 2721-3854 | e-ISSN 2721-2769
DOI:� https://doi.org/10.46799/jst.v4i3.704
ANALISIS PREDIKSI
KERUSAKAN PERKERASAN LENTUR BERBASIS IRI (INTERNATIONAL ROUGHNESS INDEX) DENGAN
METODE IRMS-V3, RONET
Sarah
Maghfirah, Muhammad Ridwan Anas, Emma Patricia Bangun
Universitas Sumatera
Utara, Indonesia
Email: [email protected],
[email protected], [email protected]
Abstrak:
Penyusunan
anggaran yang dilakukan secara tahunan oleh BBPJN SUMUT sebagai stake holder
terkait, berdasarkan nilai FWD dengan program back caluculation. Hal ini
menyebabkan pendanaan menjadi tidak berkelanjutan sehingga berpengaruh terhadap
penanganan yang tidak berkelanjutan juga. Terdapat beberapa metode untuk
menghitung prediksi nilai kerusakan yang akan datang diantaranya IRMS-V3 dan
RONET. Keduanya memiliki basis perhitungan nilai IRI sebagai variabel utama
dalam memprediksi kerusakan. Tujuan dari penelitian ini adalah menggunakan
kedua metode tersebut dan membandingkannya untuk memprediksi nilai IRI, nilai
pertumbuhan lalu lintas, dan juga nilai sisa umur rencana sehingga diperoleh
skema pendanaan serta jenis penanganan yang tepat. Jenis data yang digunakan
adalah data sekunder yang bersumber dari BBPJN Sumut. Analisis dilakukan dengan
cara menghitung nilai IRI, volume lalu lintas, dan sisa umur rencana selama 5
tahun akan datang. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh adalah kerusakan
jalan akan lebih cepat terjadi menggunakan metode RONET. Dana pemeliharaan
jalan hasil metode IRMS-V3 lebih ekonomis. Kemudian dilakukan validasi
menggunakan uji T statistik. Diperoleh hasil bahwa tidak ada perbedaan
rata-rata prediksi nilai IRI, namun adanya perbedaan rata-rata dari prediksi
nilai RSL untuk kedua metode tersebut.
Kata Kunci: IRI, IRMS-V3, HDM-4, RONET, budget
planning
Abstract:
The preparation of the budget is carried out annually by BBPJN SUMUT as
the relevant stake holder, based on the FWD value with a back calculation
program. This causes funding to become unsustainable so that it affects
unsustainable handling as well. There are several methods for calculating
predictions of future damage values including IRMS-V3 and RONET. Both have a
basis for calculating the value of IRI as the main variable in predicting
damage. The purpose of this study is to use both methods and compare them to
predict IRI values, traffic growth values, and also the remaining planned life
values in order to obtain a funding/budget planning scheme and the right type
of treatment. The type of data used is secondary data sourced from North
Sumatra BBPJN. The analysis is carried out by calculating the IRI value,
traffic volume, and the remaining planned life for the next 5 years. Based on
the results of the analysis obtained, road damage will occur more quickly using
the RONET method. Road maintenance funds resulting from the IRMS-V3 method are
more economical. Then validated using statistical t test. The results show that
there is no difference in the average predicted IRI value, but there is a
difference in the average predicted RSL value for the two methods.
Keywords: IRI; IRMS-V3; HDM-4; RONET; Budget Planning.
PENDAHULUAN
Jalan merupakan salah satu aset publik yang terpenting karena
merupakan urat nadi dalam distribusi barang dan jasa atau perpindahan manusia
yang sampai saat ini dianggap paling mudah dan murah
Dalam kajian yang dilakukan oleh
Pada praktiknya kegiatan pemeliharaan jalan di Indonesia
selalu mengalami kendala antara lain program penganan yang tidak berkelanjutan.
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Utara (BBPJN Sumut) selaku
instansi terkait, melakukan penyusunan anggaran untuk program pemeliharaan
jalan berdasarkan hasil survey kondisi jalan yaitu data lendutan dengan program
back calculation
Sejak tahun 1980-an penyusunan anggaran telah dilakukan oleh
Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat
selaku pengelola jalan nasional. Di masa itu pemerintah menggunakan jasa
konsultan dengan alat bantu pengambil keputusan yaitu Road Maintenance
Management System (RMMS). Pada tahun 1992 RMMS dikembangkan menjadi Indonesia
Road Management System (IRMS). Pengembangan terus dilakukan di tahun-tahun
berikutnya karena versi pengoperasian harus mengikuti sistem operasi computer
yang juga ikut berkembang. IRMS 1992 menjadi IIRMS 2003, kemudian menjadi IIRMS
2006
Dalam penelitian yang dilakukan Hede (2010), diungkapkan
IIRMS 2006 memiliki banyak masalah. Salah satu yang menjadi masalah utama
adalah sistem pengumpulan data yang masih dapat dimanupulasi
Jika di Indonesia digunakan alat bantu berupa IRMS-V3, maka
di negara berkembang lainnya seperti Vietnam, India, Filipina juga digunakan
alat bantu berupa Highway Development Management (HDM) versi 4.� HDM-4 merupakan alat bantu yang diciptakan
oleh The World Bank berdasarkan persamaan empiris yang diteliti berdasarkan
karakteristik perkerasan jalan dan lalu lintas
Diantara banyaknya penelitian tentang penyebab kerusakan
jalan, salah satunya adalah pemodelan kerusakan/deteriorasi yang terjadi selama
umur masa layan. Dalam kajian yang dilakukan oleh
Permasalahan inilah yang mendasari pemikiran untuk melakukan
analisis terhadap prediksi kerusakan jalan menggunakan metode IRMS-V3 dan RONET
sehingga dapat memodelkan kerusakan jalan berdasarkan nilai IRI. Tahap
selanjutnya adalah perencanaan kebutuhan anggaran sesuai dengan penanganan yang
dibutuhkan. Metode penelitian ini adalah studi komparasi pemodelan kerusakan
jalan antara IRMS-V3 dengan RONET.
METODE
Metode penelitian yang digunakan
pada penelitian ini berupa metode Gabungan (kualitatif dan kuantitatif) dengan
analisis menggunakan IRMS-V3 dan RONET. Lokasi penelitian ini berada pada Ruas
Jalan Nasional No Link. 002 dimulai dari Simpang Pangkalan Susu sampai Tanjung
Pura sepanjang 29, 40 km. Ruas jalan ini berlokasi di Kabupaten Langkat
Provinsi Sumatera Utara. Dipilihnya ruas ini karena terletak di lintas timur
yang merupakan jalur utama ekonomi penghubung Provinsi Aceh dan Provinsi Sumut
sehingga volume kendaraan sangat tinggi. Sementara penanganan selama 5 tahun
terakhir hanya penambalan lubang (patching). Kondisi di lapangan berdasarkan
data IRI rata-rata menunjukkan nilai 4 hingga >7, bahwa penanganan tidak
dapat dilakukan hanya dengan penambalan lubang (BBPJNSU, 2021).
Data yang digunakan dalam
penelitian ini berupa data sekunder yang diperoleh dari kantor Balai Besar
Pelaksanaan Jalan Nasional Sumut. Data sekunder diperoleh dari kegiatan survei
kondisi jalan nasional tahun 2021. Kedua metode menggunakan masukan data yang sama
terdiri dari: nilai IRI, volume lalu lintas, jenis jaringan jalan, tipe
perkerasan eksisting, dan iklim. Kemudian terdapat perbedaan input data pada
kedua metode, pada IRMS-V3 dibutuhkan data inventori kondisi jalan atau disebut
dengan RNI dan juga kondisi drainase. Sedangkan pada RONET diperlukan data
topografi dan nilai pendapatan domestik bruto.
Setelah semua data di input
kedalam masing-masing metode, tahapan selanjutnya adalah menganalisa setiap
metode. Bagaimana hasil prediksi IRI dan volum lalu lintas setiap metode
dihasilkan dan pengaruhnya terhadap sisa umur rencana.� Perbedaan mendasar metode analisa antara
IRMS-V3 dan RONET. Tahapan selanjutnya adalah dengan memvalidasi hasil dari
kedua metode, menggunakan uji T 2 sampel bebas (independent). Seluruh tahapan
penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Bagan Alir Penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut disajikan data teknis ruas jalan Sp. Pangkalan Susu � Tanjung
Pura yang ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Data
Teknis Ruas Jalan
|
No |
Uraian |
Data Teknis Jalan |
|
1 |
Nama Ruas |
Sp. Pangkalan Susu � Tanjung Pura |
|
2 |
Panjang Ruas Jalan (km) |
29,70 km |
|
3 |
Jumlah Jalur |
2 |
|
4 |
Jumlah Lajur |
4 |
|
5 |
Lebar Lajur (m) |
3,5 |
|
6 |
Tipe Jalan |
2/4 UD |
|
7 |
Status Jalan |
Nasional |
|
8 |
Fungsi |
Arteri Primer |
|
9 |
Jenis perkerasan jalan |
Hotmix |
Sumber: BBPJN
Sumut, 2022.
Untuk mendapatkan nilai IRI pada tahun mendatang, IRMS-V3 menggunakan
data yang bersumber dari SMD. Perhitungan analisa dilakukan untuk prediksi
kondisi di tahun 2022-2026, sehingga data yang digunakan adalah hasil survei
tahun 2021 semester I (Januari-Juni). Sistem dalam IRMS-V3 dapat menganalisa
prediksi nilai IRI, volume lalu lintas, dan sisa umur rencana dalam satu kali
proses analisis. Keluaran yang dihasilkan berupa segmentasi dalam jarak per 100
m. Sehingga untuk mendapatkan prediksi nilai dalam satu tahun, diambil nilai
rata-rata dari ruas yang dianalisis.
Langkah awal untuk memulai proses analisis yaitu memilih data tahun 2021
dari SMD sesuai dengan tahun dimulai analisis atau disebut dengan Years of
Condition. Tahap ini adalah membuat satu skenario analisis yang diinginkan.
Kemudian dipilih lamanya durasi analisis/Analysis Length selama 5 tahun.
Analisis segmentasi per 100 m.
Data yang dipilih
dari SMD merupakan satu kumpulan data yang terdiri dari nilai IRI tahun aktual,
volume lalu lintas, RNI, jenis jaringan jalan, iklim dan kondisi drainase.
Selanjutnya dipilih kondisi skenario dana yang terdiri dari skenario dana tanpa
batas atau dengan dana yang terbatas. Pada penelitian ini dipilih kondisi dana
tanpa batas, dengan tujuan agar mengetahui kebutuhan anggaran sebenarnya.�
Setelah
menetapkan skenario dan skema dana penganggaran, tahap selanjutnya adalah
sistem akan menganalisis deteriorasi Hasil prediksi IRI tahun pertama merupakan
fungsi untuk perhitungan deteriorasi tahun berikutnya, hal inilah yang menjadi
ciri khas dalam pemodelan deteriorasi IRMS-V3.
Prediksi IRI
diperoleh segmentasi per 100 m, berbeda lajur kiri dan kanan. Sesuai dengan
alur IRMS-V3 yang ditunjukkan pada Gambar 3.3 maka langkah selanjutnya setelah
prediksi nilai IRI adalah pengurutan penanganan. Tahap ini disebut juga dengan Decision
Tree yaitu pengelompokkan jenis penanganan berdasarkan nilai IRI. Tahap
terakhir adalah analisis solusi masalah, pada tahap ini digunakan data panjang
ruas jalan, terbatasnya atau tidak terbatasnya pendanaan, serta metode
pelaksanaan seperti kontrak tahun jamak atau kontrak tahun tunggal. Setelah
tahapan ini selesai maka akan didapatkan hasil analisis berupa prediksi nilai
IRI, prediksi nilai lalu lintas, jenis penanganan serta biaya yang dibutuhkan. �Analisis prediksi IRI pada metode RONET input
data dilakukan secara manual. RONET terdiri dari 3 tahapan yang harus dilakukan
pengisian data seperti yang terlihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Proses Input Data pada RONET

Dalam penelitian
ini ruas yang akan dianalisa sepanjang 29,70 km, maka proses analisa prediksi
IRI dilakukan berulang dengan batasan segmentasi per 100 m dengan alasan agar
sama dengan metode IRMS-V3. Kemudian hasil setiap analisa di rata-ratakan untuk
mendapatkan prediksi nilai IRI per tahun. Hasil prediksi IRI yang diperolah
dari kedua metode ini ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2 Hasil Prediksi Nilai IRI Aktual
Dengan Metode IRMS-V3 dan RONET
|
TAHUN KE- |
PREDIKSI NILAI IRI (m/km) |
|||||
|
AKTUAL |
IRMS |
RONET |
||||
|
|
NILAI |
KENAIKAN (%) |
NILAI |
KENAIKAN (%) |
NILAI |
KENAIKAN (%) |
|
0 |
3,50 |
0 |
3,50 |
0 |
3,50 |
0 |
|
1 |
4,37 |
�������������
1,25 |
3,85 |
1,10 |
4,02 |
1,15 |
|
2 |
4,59 |
1,05 |
4,35 |
1,13 |
4,50 |
1,12 |
|
3 |
0 |
0 |
4,64 |
1,07 |
5,02 |
1,12 |
|
4 |
0 |
0 |
5,00 |
1,08 |
5,44 |
1,08 |
|
5 |
0 |
0 |
5,74 |
1,15 |
5,98 |
1,10 |
Dari Tabel 2 maka
dapat diketahui bahwa nilai IRI aktual pada saat tahun dimulainya analisis
adalah 3,5 m/km. Kenaikan nilai IRI antara kedua model relatif hampir sama.
Pada metode IRMS-V3 tingkat kenaikan tertinggi terjadi pada tahun kelima yaitu
sebesar 1,15%, sedangkan pada metode RONET terjadi pada tahun pertama sebesar
1,15%. Untuk keseluruhan, nilai prediksi IRI pada metode RONET lebih besar
dibandingkan metode IRMS-V3. Perbedaan ini terjadi karena pemodelan deteriorasi
pada IRMS-V3 sudah dirancang untuk secara otomatis responsif terhadap nilai
pembebanan lalu lintas dan iklim yang telah diadopsi kepada kondisi Indonesia.
Kuncinya adalah pemodelan yang didesain sesuai kondisi sebenarnya yang telah
diuji dengan data-data empiris, bukan melalui kalibrasi nilai (Robert. J et al,
2021).
Dari nilai tabel
di atas kemudian diplot grafik perkembangan nilai IRI terhadap tahun untuk
melihat tren peningkatan IRI seperti ditunjukkan pada Gambar 3.
Gambar 3 Grafik Prediksi Nilai IRI Metode IRMS-V3 dan RONET

Dari grafik di
atas dapat dilihat tren peningkatan prediksi nilai IRI pada masing-masing
metode. Laju kenaikan nilai prediksi IRI berbanding lurus dengan kecepatan
kerusakan jalan. Artinya prediksi kerusakan jalan akan terjadi lebih cepat pada
metode RONET. Perbedaan nilai IRI tersebut akan berpengaruh terhadap kondisi
dan penanganan jalan. Untuk metode IRMS-V3 pada tahun pertama dan kedua nilai
IRI berada diantara angka 3 � 4. Sesuai dengan nilai tersebut masuk ke dalam
kondisi sedang dan penanganannya adalah preventif ringan. Tahun ketiga hingga
kelima nilai IRI berada diantara angka 4,5-6, masuk ke dalam kategori rusak
ringan sehingga harus ditangani dengan pelapisan ulang struktural. Sementara
itu untuk metode RONET, nilai IRI pada tahun pertama hingga kelima berada
diantara 4-8.
Analisis Beban Lalulintas
Untuk perkerasan fleksibel/aspal pemodelan untuk efek dari pembebanan
volume lalu lintas menggunakan aturan dari desain tebal perkerasan yang telah
ada, dalam hal ini Direktorat Jenderal Bina Marga masih mengacu kepada AASHTO.
Nilai dari kapasitas struktur perkerasan akan mengalami penurunan karena efek
dari lalu lintas yang melewatinya. Setiap perkerasan yang telah ada, dirancang
sesuai dengan tingkat pembebanan lalu lintas sesuai dengan desain awal, sehingga
diharapkan tingkat penurunan kondisi perkerasan juga seharusnya terjadi sesuai
dengan rencana.
Dua metode baik IRMS-V3 maupun RONET memiliki pendekatan yang relatif
sama yaitu mengacu kepada AASHTO. Perbedaannya adalah pada pemodelan prediksi
lalu lintas IRMS-V3 menggunakan suatu nilai rasio yang disebut National Value
(VLn).
Tabel 3 Hasil Prediksi Beban lalu Lintas Metode IRMS-V3 dan RONET
|
TAHUN KE- |
BEBAN LALU LINTAS AKTUAL |
PREDIKSI BEBAN LALU LINTAS IRMS-V3 |
PREDIKSI BEBAN LALU LINTAS RONET |
|||
|
NILAI |
KENAIKAN (%) |
NILAI |
KENAIKAN (%) |
NILAI |
KENAIKAN (%) |
|
|
0 |
441,61 |
0,00 |
441,61 |
0,00 |
441,61 |
0,00 |
|
1 |
490,50 |
1,04 |
464,23 |
1,05 |
498,12 |
1,13 |
|
2 |
- |
- |
489,19 |
1,05 |
516,29 |
1,04 |
|
3 |
- |
- |
507,77 |
1,04 |
538,82 |
1,04 |
|
4 |
- |
- |
543,11 |
1,07 |
566,11 |
1,05 |
|
5 |
- |
- |
625,23 |
1,15 |
635,11 |
1,12 |
Gambar 3 Prediksi Beban lalu Lintas Metode IRMS-V3 dan Ronet

Pada gambar di atas dapat dilihat laju kenaikan beban lalu lintas
sejalan dengan laju kenaikan nilai IRI yang ditunjukkan pada Gambar 3. Seiring
dengan peningkatan beban lalu lintas akan mengakibatkan peningkatan nilai IRI,
hal tersebut akan mengakibatkan berkurangnya umur rencana jalan dan peningkatan
biaya penanganan jalan. Untuk mempertahankan kondisi jalan tersebut, maka
perencanaan awal untuk jenis sumbu kendaraan haruslah tepat serta dibutuhkan
pengawasan terhadap tonase kendaraan.
Analisis Sisa Umur Rencana (RSL)
Setelah diperoleh prediksi nilai IRI dan beban lalu lintas, maka
selajutnya adalah mengalisa sisa umur rencana. Tabel 4 menunjukkan nilai
prediksi IRI dan sisa umur rencana untuk masing-masing metode.
Tabel 4 �Hubungan Nilai IRI Prediksi dan RSL
|
Tahun |
IRMS-V3 |
RONET |
||
|
PREDIKSI IRI (m/km) |
PREDIKSI RSL (TAHUN) |
PREDIKSI IRI (m/km) |
PREDIKSI RSL (TAHUN) |
|
|
1 |
3,85 |
20,00 |
4,02 |
20,00 |
|
2 |
4,35 |
19,54 |
4,50 |
19,10 |
|
3 |
4,64 |
18,67 |
5,02 |
18,50 |
|
4 |
5,00 |
18,32 |
5,44 |
18,00 |
|
5 |
5,74 |
17,77 |
5,98 |
17,28 |
Gambar 4 Hubungan� antara perdiksi nilai IRI dan sisa umur
rencana

Pada tahun pertama untuk kedua metode memiliki nilai sisa umur rencana
sebesar 20 tahun, sesuai dengan nilai IRI IRMS-v3 sebesar 3,85 dan 4,02 untuk
RONET. Pada tahun kedua seiring meningkatnya nilai IRI maka nilai RSL semakin
kecil, metode IRMS-V3 diperoleh nilai RSL sebesar 19, 54 tahun dan metode RONET
sebesar 19,10 tahun. Hingga pada tahun kelima Ketika nilai IRI mencapai 5 maka
nilai RSL metode IRMS-V3 adalah 17,77 tahun dan nilai RSL metode RONET adalah
17,28 tahun. Artinya kerusakan yang akan terjadi dari prediksi sisa umur
rencana akan lebih cepat terjadi pada metode RONET.
Persamaan regresi linear yang menggambarkan hubungan antara nilai IRI
dan sisa umur rencana diperoleh untuk masing-masing metode. Untuk metode RONET
diperoleh persamaan y = -0,654x + 20,538 dengan nilai koefisien determinansi R�
= 0,9902. Koefisien determinansi (R�) adalah merupakan suatu nilai yang
memperlihatkan seberapa besar variabel independen (eksogen) mempengaruhi
variabel dependen (endogen). Nilai R� sebesar 0,9902 artinya 99% nilai RSL
dipengaruhi dari nilai prediksi IRI. Pada metode IRMS-V3 diperoleh persamaan
regresi linear y = -0,568x + 20,564, dan nilai R� = 0,9843 yang artinya 98%
nilai RSL dipengaruhi oleh nilai iri Prediksi.
Analisis Biaya Penanganan
Setelah dilakukan analisis prediksi nilai IRI, volume lalu lintas, dan
juga sisa umur rencana, maka tujuan terakhir dari penelitian ini adalah
menganalisis skema pendanaan agar dapat berkelanjutan terhadap tahun-tahun
berikutnya. Jenis penanganan adalah faktor utama yang mempengaruhi biaya, untuk
IRMS-V3 mengacu kepada decision tree untuk menentukan penanganan. Rekapitulasi
jenis penanganan dan kebutuhan biaya metode IRMS-V3 ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5 ulasi Jenis dan Nilai Penanganan Metode IRMS-V3

Dari hasil rekapitulasi di atas, bahwa nilai tertinggi� untuk�
dana pemeliharaan jalan terjadi pada tahun kelima. Hal ini merupakan
indikasi bahwa semakin tinggi nilai IRI maka penanganan yang dilakukan juga
semakin berat pula.� Pada penelitian ini
prediksi nilai IRI pada tahun kelima adalah 5,74 maka diperoleh penanganan
Rehabilitasi Mayor.� Dalam hal ini
penyebab tersebut adalah beban lalu lintas yang melewati ruas tersebut (lihat
kembali tabel 3). Total kebutuhan biaya penanganan jalan selama 5 tahun dengan
menggunakan metode IRMS-V3 adalah sebesar Rp. 59.671.303.000,-
Kondisi Very high standart adalah kondisi dimana tidak ada batasan
anggaran dengan jenis kalsifikasi penanganan rehabilitasi dan rutin berkala,
untuk kondisi high-medium-very low standart adalah kondisi adanya keterbatasan
dana sehingga klasifikasi penanganan dibawah tingkatan Very high standar.
Sementara kondisi Do Minimum adalah kondisi penanganan hanya dapat dilakukan
saat dimulainya analisis, ini terjadi saat dana yang tersedia sangat terbatas.
Jenis penanganan hanya 1 yang dapat dilakukan yaitu ulapis ulang tipis tanpa
adanya pemeliharaan rutin. Dan yang terakhir adalah kondisi Do Nothing adalah
kondisi tidak adanya sumber dana untuk melakukan pemeliharaan jalan. Total� kebutuhan dana pada metode RONET adalah
sebesar Rp.� 74.976.000.000,-.
Nilai dari masing-masing rekapitulasi kemudian diplot ke dalam grafik
yang ditunjukkan pada Gambar 6.
Gambar 5 Perbandingan Kebutuhan
Dana metode IRMS-V3 dan RONET

Dari
grafik terlihat kebutuhan dana pemeliharaan jalan dengan metode RONET lebih
besar dibandingkan dengan metode IRMS-V3. Analisis penanganan pada metode RONET
tetap memperhitungkan jenis penanganan rutin sepanjang ruas yang dianalisis, sementara
pada ruas jalan tersebut sudah ditangani dengan penanganan lain. Dalam analisis
biaya IRMS-V3, pembagian klasifikasi penanganan dilakukan untuk tiap segmen per
km. Apabila dalam satu segmen mendapatkan penanganan rehabilitasi maka pada
segmen tersebut tidak ada lagi penanganan rutin.
KESIMPULAN
Dari hasil analisis data yang
telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa secara statistik prediksi nilai IRI
IRMS-V3 tidak ada perbedaan signifikan dengan prediksi nilai IRI RONET. Secara
umum prediksi nilai IRI RONET lebih besar daripada prediksi nilai IRI IRMS-V3.
Hasil prediksi nilai IRI pada
metode IRMS-V3 nilai IRI prediksi terbesar yaitu 5,74, sementara pada metode
RONET nilai IRI paling besar adalah 5,98. Hasil prediksi nilai beban lalu
lintas (CESAL) terbesar pada IRMS-V3 adalah 625,233, dan pada RONET adalah
635,11.� Dapat disimpulkan kenaikan beban
lalu lintas akan sejalan dengan kenaikan nilai IRI, dan akan berpengaruh kepada
jenis dan biaya penanganan.
Pada IRMS-V3 nilai IRI paling
besar sebesar 5,74, menghasilkan RSL sebesar 17,77 tahun. Pada RONET dengan
nilai IRI terbesar 5,98 menghasilkan RSL 17,28 tahun. Disimpulkan masa layan
perkerasan hasil analisis IRMS-V3 lebih panjang dibandingkan dengan analisis
RONET.
Kebutuhan dana pemeliharaan jalan
selama 5 tahun kedepan, diperoleh hasil analisis IRMS-V3 lebih ekonomis yaitu
sebesar Rp. 59.671.303.000, -. Rehabiliti mayor diperoleh pada tahun ketiga dan
kelima, dimana pekerjaan rehabilitasi dapat menambah tingkat kemantapan jalan.
Hasil anallisis RONET diperoleh total kebutuhan biaya Rp74.976.000.000,- dengan
dominasi pekerjaan adalah pemeliharaan. IRMS-V3 masih dalam tahap pengembangan,
analisis prediksi hanya dapat dilakukan selama 5 tahun. Sementara RONET dapat
mengalisis prediksi maksimal untuk 20 tahun mendatang.
Kelebihan metode IRMS-V3 adalah
terintegrasinya seluruh data yang ada dalam SMD kedalam geospasial data.
Analisa dapat dilakukan segmental per 100 m hanya dalam sekali analisis.
Sementara RONET memiliki kelebihan akses dapat dilakukan dengan mudah dan dapat
diunduh secara gratis, waktu analisi yang singkat, data yang diperlukan tidak
banyak, dan sudah dapat menganalisis perhitungan studi kelayakan. IRMS-V3 tidak
dapat diakses secara umum, karena kepemilikan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga
yang hingga saat ini sudah digunakan untuk penyusunan biaya penanganan jalan.
Waktu untuk menganallisis cukup lama, dan penilaian kondisi jalan per segmental
setiap 100 m, sehingga berdampak kepada penyesuaian pelaksanaan di lapangan.
Kekurangan
metode RONET yaitu sistem yang sangat sederhana dan analisis dilakukan secara
homogen menerus sepanjang ruas jalan yang di analisis sehingga keluaran
menghasilkan nilai yang sama sepanjang ruas. Untuk mendapatkan hasil yang tidak
homogen maka analisis harus dilakukan secara berulang mengikuti jumlah
pembagian segmenUse the
"Insert Citation" button to add citations to this document.
.
BIBLIOGRAFI
_ Tranggono, M., & _ Santosa, W. (2016). Prediksi Umur
Sisa Perkerasan Lentur Jalan Tol Surabaya-Gempol Berdasarkan IRI. Jurnal
HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia), 2(1).
Adityadharma, C., Joewono, T. B., & Santosa, W. (2004).
Kajian Sistem Manajemen Pemeliharaan Jalan Rel Daerah Operasi 2 Bandung: Studi
Kasus Distrik 23c Kiaracondong. Jurnal Transportasi, 4(1).
Maisyarah, M. (2015). Dukungan sosial, kecerdasan emosi dan
resiliensi guru sekolah luar biasa. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia,
4(03).
Rifai, A. I., Hadiwardoyo, S. P., & Correia, A. G.
(2018). Model Decision Support System Berbasis Data Mining Optimasi
Manajemen Perkerasan Jalan dengan Muatan Berlebih.
Rosyidi, S. A. P. (2021). Evaluasi Variabilitas Kinerja
Struktur Perkerasan Jalan Berbasis Pengujian Seismik. Semesta Teknika, 24(2),
69�83.
Susantio, L. (2015). Pemilihan Metode Penilaian Kondisi
Jalan Yang Mendekati Perkiraan Kondisi Jalan Saat Pemeliharaan. Surabaya:
ITS.
Tranggono, M., & Santosa, M. (2016). Prediksi Umur Sisa
Perkerasan Lentur Berdasarkan Ketidakrataan Permukaan Jalan (Remaining Servce
Life of Flexible Pavement Based on Surface Pavement Roughness). Jurnal
Jalan Jembatan, 33(1).
Tranggono, M., & Santosa, W. (n.d.). PREDIKSI UMUR
SISA PERKERASAN LENTUR BERDASARKAN KETIDAKRATAAN PERMUKAAN JALAN (REMAINING
SERVICE LIFE OF FLEXIBLE PAVEMENT BASED ON SURFACE PAVEMENT ROUGHNESS).
Utama, Y. (2013). Sistem Pendukung Keputusan Untuk Menentukan
Prioritas Penanganan Perbaikan Jalan Menggunakan Metode Saw Berbasis Mobile
Web. JSI: Jurnal Sistem Informasi (E-Journal), 5(1).
Winardi, W. A., Mulyono, A. T., & Utomo, S. H. T.
(2019). PENILAIAN KONDISI PERKERASAN JALAN BERBASIS PERANGKAT LUNAK PADA RUAS
JALAN YOGYAKARTA-
MAGELANG. Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia), 5(2),
109�118.
|
Copyright holder: Nama Author (Tahun) |
|
First publication right: |
|
This article is licensed under: |
�������������������������������������������������������������������