Volume 4, No. 3 Maret 2023
p-ISSN� 2721-3854 | e-ISSN 2721-2769
DOI:� https://doi.org/10.46799/jst.v4i3.705
STRATEGI PENGEMBANGAN
OBJEK WISATA PANTAI OLEH DINAS PARIWISATA DI KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA
Indah
Ekaristi, Muhadam Labolo, Faria Ruhana
Program Pasca Sarjana
MTSP Institut Pemerintahan Dalam Negeri
Email: [email protected],
[email protected], [email protected]
Abstrak:
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengembangan objek wisata oleh Dinas
Pariwisata Kota Jayapura serta faktor penghambat dalam pengembangan objek
wisata di Kota Jayapura dan menganalisis strategi yang dilakukan untuk
mengatasi hambatan dalam pengembangan objek wisata di Kota Jayapura. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis SOAR
(Strengths, Opportunities, Apirations, Results). Hasil penelitian ini terkait
strategi alternatif berdasarkan matriks SOAR (Strengtsh, Opportunities,
Apirations, Results), sebagai berikut; startegi I : program percepatan
pembangunan pada sektor pariwisata; strategi II�
: kerja sama dengan PD terkait pembangunan dan pengembanga objek wisata
berdasarkan regulasi; strategi III : sosialisasi sadar wisata kepada pelaku
pengelola objek wisata dan masyarakat; strategi IV : pemerintah membuat
kelompok masyarakat pengerajin; dan strategi V : promosi wisata oleh Dinas
Pariwisata, serta strategi alternatif berdasarkan QSPM (Quantitative Strategic
Planning Matrix) yang dapat diterapkan oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura
dalam pegembangan objek wisata, yaitu strategi II yaitu membangun kerjasama
dari PD terkait dalam pembangunan infrastruktur/sarana prasarana pada kawasan
objek wisata pantai.
Kata Kunci: Objek Wisata; Pengembangan;
Strategi.
Abstract:
This study aims to find out how the development of tourist attractions by
the Jayapura City Tourism Office as well as the inhibiting factors in the
development of tourist attractions in Jayapura City and analyze the strategies
carried out to overcome obstacles in the development of tourist attractions in
Jayapura City. The method used in this study is qualitative research with a
descriptive. Analysis approach using SOAR (Strengths, Opportunities,
Apirations, Results) analysis. The results of this study are alternative
strategies based on the SOAR matrix (Strengtsh, Opportunities, Apirations,
Results), namely; Strategy I: development acceleration program in the tourism
sector; strategy II: cooperation with PD related to the construction and
development of tourist attractions based on regulations; strategy III: socialization
of tourism awareness to actors managing tourist attractions and the community;
strategy IV : the government created a community of artisans; and strategy V:
tourism promotion by the Tourism Office, as well as alternative strategies
based on QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) that can be applied by
the Jayapura City Tourism Office in developing tourist attractions, namely
strategy II, namely building cooperation from related PD in the development of
infrastructure in the coastal tourist attraction area.
Keywords: Tourism Object; Development; Strategy.
PENDAHULUAN
Dalam pembagian urusan pemerintah di Indonesia, pada
hakikatnya dibagi dalam tiga kategori, yakni urusan pemerintahan yang dikelola
oleh pemerintah pusat, urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintah
daerah provinsi dan urusan pemerintahan yang dilaksanakan oleh pemerintahan
kabupten/kota
Pengembangan potensi pariwisata saat ini memerlukan inovasi
yang tepat dari pemerintah agar dapat berkembang lebih cepat
Berdasarkan kebijakan tersebut, Pemerintah Kota Jayapura
Melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2002 Tentang Kepariwisataan, didukung
dengan keberadaan Dinas Pariwisata Kota Jayapura diharapkan mampu menggali dan
mengelola potensi wisata yang ada di daerah untuk memperkenalkan,
mendayagunakan, melestarikan, meningkatakan mutu objek daya tarik wisata, dan
menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat
Dengan keberadaan Kota Jayapura yang berada pada kawasan
pesisir di ujung timur pulau Papua dan termaksud kategori perairan terbuka,
membuat Kota Jayapura terkenal dengan objek wisata pantainya yang indah dan
menarik untuk dikunjungi
Selain itu, dalam pengembangan objek wisata tidak akan dapat
berkembang tanpa adanya usaha yang dilakukan, maka ketersediaan sarana dan
prasarana serta aturan yang mendukung sangat diperlukan untuk pengembangan
objek wisata dan agar dapat menjadi objek wisata andalan. Kualitas lingkungan
merupakan bagian integral dari industri wisata. Bagi pengembangan dan
penyelenggaraan wisata , kualitas lingkungan harus mendapat perhatian dengan
melihat karakter keindahan, keseimbangan, natural, kesehatan, dan kualitas
lingkungan yang terjamin
Saat ini objek wisata di Kota Jayapura belum dapat
menciptakan kualitas lingkungan yang nyaman dari segi sarana dan prasarana.
Kurangnya kerjasama yang baik dari dinas atau pihak terkait pengembangan objek
wisata dapat dilihat dari kurangnya sarana dan prasarana yang menunjang di beberapa
objek wisata .
Dalam pembangunan dan pengembangan objek wisata diperlukan
dukungan dan kerja sama dari pihak atau dinas terkait. Pada rencana pembangunan
saran dan prasarana pada tiap objek wisata, maka dibutuhkan kerja sama dari
Dinas Pekerjaan Umum (PU) sebagai penyedia infrastruktur, sarana dan prasarana
serta koordinasi dari masyarakat pengelola objek wisata. Ketika objek wisata
sudah dikelola dan dinikmati oleh masyarakat tentunya masyarakat membutuhkan
keamanan dan kebersihan yang merupakan tugas dan tangggung jawab dari pihak
Kepolisian dan Dinas Kebersihan dan Penataan. Dengan demikian masyarakat yang
melakukan perjalanan wisata akan merasa nyaman dengan pelayanan yang ada.
Tetapi yang terjadi adalah egosentral yang mengakibatkan setiap dinas jalan
sendiri-sendiri.
Kendala lain yang sama yaitu kurangnya pengetahuan tentang
kepariwisataan bagi masyarakat sehingga ,saat Dinas Pariwisata ingin melakukan
sosialisasi ataupun membuka forum terkait pengembangan pariwisata, masyarakat
sulit untuk diajak berpartisipasi. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah
mengambarkan kondisi objek wisata, memperoleh data, memberikan informasi,
sebagai proses untuk mendapat jawaban atas permasalahan mengenai strategi Dinas
Pariwisata dalam pengembangan� objek
wisata di Kota Jayapura Provinsi Papua.
METODE
Pada
penelitian ini, peneliti akan mengidentifikasi terkait permasalahan yang timbul
akibat hasil pengembangan objek wisata pantai, dengan menganalisis strategi
yang tepat untuk diterapkan dalam pengembangan objek wisata pantai oleh Dinas
Pariwisata di Kota Jayapura. Dalam penelitian ini, proses analisis data yang
peneliti lakukan adalah dengan mereduksi data-data sekunder yang diperoleh yang
berupa rencana startegi pengembangan objek wisata berdasarkan Rencana Induk
Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) dengan merangkum dan memilih
permasalahan-permasalahan pokok yang terjadi dilapangan yang menjadi fokus
penelitian. Kemudian, menyajikannya dalam bentuk uraian singkat dalam bentuk
deskriptif sehingga dapat mempermudah peneliti dalam memahami permasalahan
tersebut dan merencanakan langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan
kemudian tahap penarikan kesimpulan dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan
pada rumusan masalah. Penelitian ini dilakukan di Kota Jayapura Provinsi Papua,
yakni pada Dinas Pariwisata Kota Jayapura dan juga pada objek wisata pantai di
Kota Jayapura.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengembangan Potensi Pariwisata
Dalam
Undang-Undang No 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan, Pasal 6 menjelaskan
bahwa yang dimaksud dengan daerah tujuan pariwisata adalah kawasn geografis
yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya
terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata,
aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya
kepariwisataan.
Berpatokan dari
peraturan perundang-undangan tersebut, maka melalui RIPPDA (Rencana Induk
Pariwisata Kota Jayapura) diharapkan mampu melakuakan pengembangan pada bidang
pariwisata. RIPPDA sendiri merupakan bagian dari perencanaan pembangunan
wilayah secara keseluruhan. Perencanaan ini merupakan penjabaran dari visi dan
misi pembangunan sektor pariwisata maupun pembangunan daerah. karena itu,
RIPPDA menjadi sangat penting karena dapat dipandang sebagi bagian dari
penjabaran rencana pembangunan yang lebih bersifat makro. Dengan Tujuan RIPPDA
sebagai berikut: a). Menyusun arah pengembangan serta konsep, kebijakan dan
rencana strategi yang akan menjadi dasar pengembangan destinasi pariwisata Kota
Jayapura di masa yang akan datang. b). Menyiapkan arah, strategi dan pola
keterpaduan pengembangan destinasi pariwisata di Kota Jayapura dimasa yang akan
datang.
Berdasarkan hal
tersebut, maka peneliti menggunakan teori dalam konsep pengembangan pariwisata
dari Copper dkk dalam Sunaryo (2013: 159), untuk dapat memberikan gambaran
pengembangan destinasi pariwisata. Konsep pengembangan strategi tersebut
terdiri dari 6 komponen utama sebagai berikut: a). Attraction (atraksi) Obyek
daya tarik wisata (yang mencakup keunikan dan daya Tarik berbasis alam, budaya,
maupun buatan/artificial. b). Accessibility (Aksesibilitas) yang
mencakup kemudahan sarana dan sistem transportasi. �c). Amenities (Amenitas) yang mencakup
fasilitas penunjang dan pendukung wisata. d). Ancillary Service
(Fasilitas tabahan) yang mendukung kegiatan pariwisata. e). Institutions (institusi/kelembagaan)
yang memiliki kewenangan, tanggung jawab dan peran dalam mendukung terlaksananya
kegiatan pariwisata.
Faktor Penghambat Dalam Pengembangan
Objek Wisata Di Kota Jayapura
Berdasarkan hasil
observasi peneliti dilapangan, berikut adalah berbagai kendala yang ditemukan
diantaranya:
Peran pemerintah
Dalam peran dan
fungsinya Dinas pariwisata bertugas dalam mengelola dan menjalankan ekosistem
pemerintahan pada bidang pariwisata.�
Berdasarkan hasil observasi, Dinas Pariwisata Kota Jayapura dan
perangkat daerah terkait kurang dalam memperioritaskan pembangunan pada sektor
pariwisata yang akhirnya adanya keterbatasan infrastruktur dan sarana prasarana
pada kawasan objek wisata pantai di Kota Jayapura.
Sarana dan prasarana
Bahwa
ketersediaan fasilitas pada objek wisata pantai di Kota Jayapura menunjukan sarana
prasarana yang dimiliki kurang cukup memadai seperti tempat parkir, tempat
sampah, papan informasi, pos keamanan, kamar mandi/WC, pondok singgah, air
bersih dan tempat ibadah/musollah sebagai tambahan.
Masyarakat
Kurangnya
pengetahuan tentang kepariwisataan bagi masyarakat terkhususnya pengelola objek
wisata pantai yang di kuasai oleh pemilik hak ulayat tanah, membuat objek
wisata di Kota Jayapura belum dapat dikembangkan secara maksimal.
Strategi Pengembangan Objek Wisata
Berdasarkan
pembahasan di atas dapat dilihat bahwa pengembangan objek wisata di Kota
Jayapura masih belum maksimal. Menghadapi hal tersebut maka peneliti
mengusulkan strategi yang dapat dilakukan pemerintah Kota Jayapura dalam
membuat strategi dalam mengembangkan objek wisata dengan menggunakan strategi
SOAR (strengths, oppurtunities, aspirations, results).
Analisis Internal Factor Evaluation
(IFE)
Internal
Factor Evaluation (IFE) adalah kegiatan mengidentifikasi fakotor internal berupa
kekuatan (strengths) dan peluang (oppurtunities). Dari hasil
observasi dan wawancara yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan beberapa
faktor yang menjadi faktor kekuatan (strengths), yaitu: a). Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 9 tahun 2002
tentang Kepariwisataan serta visi dan misi Kota Jayapura dan RIPPDA Kota
Jayapura. b). Letak geografis yang begitu strategis yaitu
sebelah timur berbatasan dengan negara PNG, sebelah utara berbatasan dengan
samudra pasifik. C). Sumber daya alam
yang masih terjaga dan terlindungi. c). Jayapura memiliki 13 suku asli yang
membuat Kota Jayapura memiliki keberagaman budaya. d). Aksesibilitas yang baik dan terjangkau
dan sarana wisata
yang cukup memadai.
Faktor internal peluang (oppurtunities) dapat
diidentifikasikan yaitu: a). Adanya dukungan dari Dinas Pariwisata.
b). Adanya kerjasama antara pemerintah dengan perangkat daerah dalam pengembangan
dan pembangunan objek wisata. c). Kunjungan wisata yang meningkat. d). Potensi
pengembangan wisata perbatasan, sejarah ekowisata dan bahari. e). Peluang bagi
masyarakat lokal belajar kepariwisataan baik secara formal maupun non formal.
Internal Factor Evaluation (IFE) adalah
hasil dari identifikasi faktor internal berupa kekuatan (strengths) dan
peluang (oppurtunities) dalam pengembangan objek wisata pantai oleh
Dinas Pariwsata di Kota Jayapura.
Tabel 1 Matriks IFE Internal Factor Evaluation (IFE)
|
FAKTOR INTERNAL |
HORIZONTAL |
TOTAL |
BOBOT |
||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
|
|
||
|
V E R T I K A L |
1 |
|
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
14 |
0.081 |
|
2 |
3 |
|
2 |
1 |
2 |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
21 |
0.121 |
|
|
3 |
2 |
1 |
|
2 |
3 |
3 |
3 |
1 |
2 |
2 |
19 |
0.109 |
|
|
4 |
3 |
3 |
3 |
|
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
3 |
26 |
0.151 |
|
|
5 |
2 |
1 |
2 |
1 |
|
2 |
2 |
1 |
2 |
2 |
15 |
0.087 |
|
|
6 |
2 |
2 |
1 |
1 |
2 |
|
2 |
1 |
2 |
2 |
15 |
0.087 |
|
|
7 |
2 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
|
1 |
2 |
2 |
14 |
0.081 |
|
|
8 |
3 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
2 |
2 |
19 |
0.109 |
|
|
9 |
2 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
|
2 |
15 |
0.087 |
|
|
10 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
|
15 |
0.087 |
|
|
|
JUMLAH |
173 |
1.00 |
||||||||||
Sumber: Data diolah peneliti, 2022
Keterangan:
1.
Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 9 tahun 2002 tentang
Kepariwisataan serta visi dan misi Kota Jayapura RIPPDA Kota Jayapura;
2.
Letak geografis yang begitu strategis
yaitu sebelah timur berbatasan dengan negara PNG, sebelah utara berbatasan
dengan samudra pasifik;
3.
Sumber daya alam yang masih terjaga dan terlindungi;
4.
Jayapura memiliki 13 suku asli yang membuat Kota Jayapura memiliki
keberagaman budaya;
5.
Aksesibilitas yang baik dan terjangkau
dan sarana
wisata yang cukup memadai;
6.
Adanya dukungan dari Pemerintah
Daerah;
7.
Adanya kerjasama antara pemerintah
dengan perangkat daerah dalam pengembangan dan pembangunan objek wisata;
8.
Kunjungan wisata yang meningkat;
9.
Potensi pengembangan wisata perbatasan, sejarah ekowisata dan
bahari; dan
10. Peluang bagi
masyarakat lokal belajar kepariwisataan baik secara formal maupun non formal.
Dengan indikator:
1 = jika
indikator horizontal kurang penting dari pada indikator vertikal
2 = jika
indikator horizontal dan vertikal yang penting
3 = jika
indikator horizontal lebih penting dari pada indikator vertikal
Berdasarkan hasil perhitungan dengan matriks Internal
Factor Evaluation (IFE) diperoleh skor 173 dengan masksimal bobot 1.00.
Pada tabel berikut akan di peroleh total skor dengan mengalikan bobot dengan
ranting.
Tabel 2 Hasil Analisis Matriks Internal Factor Evaluation
(IFE)
|
Faktor Internal |
Bobot |
Rating |
Skor |
|
Kekuatan (Strength) |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
|
1. Peraturan
Daerah Kota Jayapura Nomor 9 tahun 2002 tentang Kepariwisataan serta visi dan
misi Kota Jayapura dan RIPPDA Kota Jayapura |
0.081 |
4 |
0.324 |
|
2. Letak geografis
yang begitu strategis yaitu sebelah timur berbatasan dengan negara PNG,
sebelah utara berbatasan dengan samudra pasifik |
0.121 |
3 |
0.363 |
|
3.
Sumber daya alam yang masih terjaga dan terlindungi |
0.109 |
3 |
0.327 |
|
4.
Jayapura memiliki 13 suku asli yang membuat Kota Jayapura
memiliki keberagaman budaya |
0.151 |
2 |
0.302 |
|
5.
Aksesibilitas yang baik dan terjangkau dan sarana wisata yang
cukup memadai |
0.087 |
3 |
0.261 |
|
Peluang (Oppurtunities) |
Bobot |
Rating |
Skor |
|
0.087 |
4 |
0.348 |
|
|
2.
Adanya kerjasama antara pemerintah dengan perangkat daerah
terkait dalam pembangunan dan pengembangan objek wisata |
0.081 |
4 |
0.324 |
|
3. �Kunjungan wisata yang meningkat |
0.109 |
3 |
0.327 |
|
4.
Potensi pengembangan wisata perbatasan, sejarah ekowisata dan
bahari |
0.087 |
4 |
0.348 |
|
5.
Peluang bagi masyarakat lokal belajar kepariwisataan baik secara
formal maupun non formal |
0.087 |
3 |
0.261 |
|
Total |
1.00 |
33 |
Sumber: Data
diolah peneliti, 2022
Dengan rating:
1 = kelemahan besar
2 = kelemahan kecil
3 = kekuatan kecil
4 = kekuatan besar
Berdasarkan Hasil Analisis Matriks Internal
Factor Evaluation (IFE) maka diperoleh skor 3.185 yang
menandakan jika skor di atas 2,5 maka secara internal organisasi memiliki
peluang strategi yang lebih kuat.
Analisis Eksternal
Factor Evaluation (EFE)
Eksternal Factor Evaluation
(EFE) adalah
kegiatan mengidentifikasi fakotor internal berupa aspirasi (aspirations) dan
hasil (results). Dari hasil observasi dan wawancara yang telah
dilakukan, dapat ditarik kesimpulan beberapa faktor yang menjadi faktor
aspirasi (aspirations) yaitu: a). Pemerintahan diharapkan melakukan percepatan
pembangunan pada kawasan
objek wisata. b). Pada pembangunan dan pengembangan objek wisata
pantai Dinas Pariwisata tidak hanya bekerja sendiri, melainkan bekerjasama dengan
perangkat daerah terkait. c). Dalam pembangunan dan pengembangannya pemerintah
juga turut serta melibatkan masyarakat terkhusus pengelola objek wisata pantai
(pemilik hak ulayat tanah). d). Meningkatkan daya
saing dan meningkatkan kualitas penjualan produk-produk unggulan yang ada melalui
pemberdayaan masyarakat. e). Pembentukan kelompok masyarakat untuk peningkatan
kesejaterahaan masyarakat (pengelola objek wisata).
Faktor hasil (results)
yang dapat diidentifikasi adalah: a). Percepatan pembangunan infrastruktur,
sarana dan prasarana pada kawasan objek wisata pantai. b). Pembangunan
fasilitas sarana/prasarana yang dilakukan bersama dengan perangkat daerah
terkait sebagai fasilitator. c). Selalu menjaga fasilitas, sarana dan prasarana
penunjang yang ada. d). Melakukan promosi dengan memanfaatkan sumber daya yang
ada melalui era digitalisasi. e). Terbentuknya kelompok masyarakat (organisasi
kelompok sadar wisata) yang di bawahi oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura.
Meningkatkan daya
saing produk wisata Eksternal Factor Evaluation (EFE) adalah hasil dari
identifikasi faktor internal berupa aspirasi (aspirations) hasil
(results) dalam pengembangan objek wisata pantai oleh Dinas Pariwsata Di Kota
Jayapura.
Tabel 3 Matriks EFE Eksternal Factor Evaluation (EFE)
|
FAKTOR
EKSTERNAL |
HORIZONTAL |
TOTAL |
BOBOT |
||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
||||
|
V E R T I K A L |
1 |
|
2 |
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
14 |
0.074 |
|
2 |
2 |
|
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
1 |
1 |
1 |
13 |
0.068 |
|
|
3 |
2 |
2 |
|
2 |
2 |
3 |
3 |
2 |
1 |
2 |
19 |
0.100 |
|
|
4 |
3 |
3 |
3 |
|
1 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
24 |
0.126 |
|
|
5 |
3 |
3 |
3 |
1 |
|
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
23 |
0.121 |
|
|
6 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
|
2 |
1 |
1 |
1 |
13 |
0.068 |
|
|
7 |
2 |
2 |
2 |
1 |
1 |
3 |
|
2 |
1 |
1 |
15 |
0.079 |
|
|
8 |
3 |
3 |
3 |
2 |
2 |
3 |
3 |
|
1 |
2 |
22 |
0.116 |
|
|
9 |
3 |
3 |
3 |
3 |
2 |
3 |
3 |
3 |
|
3 |
26 |
0.137 |
|
|
10 |
3 |
3 |
3 |
2 |
1 |
3 |
3 |
2 |
1 |
|
21 |
0.111 |
|
|
|
JUMLAH |
190 |
1.00 |
||||||||||
Sumber: Data diolah peneliti, 2022
Keterangan:
1.
Pemerintahan diharapkan melakukan
percepatan pembangunan infrastruktur pada kawasan objek wisata pantai dan memperbaiki
fasilitas infrastruktur, sarana dan prasarana pada kawasan objek wisata;
2.
Pada pembangunan dan pengembangan
objek wisata pantai Dinas Pariwisata tidak hanya bekerja sendiri, melainkan
bekerjasama dengan perangkat daerah terkait;
3.
Dalam pembangunan dan pengembangannya
pemerintah juga turut serta melibatkan masyarakat terkhusus pengelola objek
wisata (pemilik hak ulayat tanah);
4.
Meningkatkan daya saing dan meningkatkan kualitas penjualan
produk-produk unggulan yang ada melalui pemberdayaan masyarakat;
5.
Pembentukan kelompok masyarakat untuk peningkatan kesejaterahaan
masyarakat (pengelola objek wisata);
6.
Percepatan pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana pada
kawasan objek wisata pantai;
7.
Pembangunan fasilitas sarana/prasarana yang dilakukan bersama
dengan perangkat daerah terkait sebagai fasilitator;
8.
Selalu menjaga fasilitas, sarana dan prasarana penunjang yang ada;
9.
Melakukan promosi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada melalui
era digitalisasi; dan
10.
Terbentuknya kelompok masyarakat (organisasi kelompok sadar
wisata) yang di bawahi oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura.
Dengan indikator:
1 = jika
indikator kurang penting dari pada indikator vertikal
2 = jika
indikator horizontal dan vertikal yang penting
3 = jika
indikator horizontal lebih penting dari pada indikator vertikal
Berdasarkan hasil perhitungan dengan matriks Eksternal
Factor Evaluation (EFE) diperoleh skor 190 dengan masksimal bobot 1.00.
Berdasarkan Hasil Analisis Matriks Eksternal
Factor Evaluation (EFE)� maka
diperoleh skor 2.624 yang menandakan jika skor di atas
2.5 mencirikan bahwa secara eksternal aspirasi yang ada sangat mempengaruhi
organisasi.
Analisis Matriks Internal � Eksternal (IE)
Setelah memperoleh total bobot, rating dan
score pada masing-masing matriks yang terdiri dari Internal Factor
Evaluation (IFE) kekuatan (strength) dan peluang (oppurtunities) dan
Eksternal Factor Evaluation (EFE) yang terdiri dari aspirasi (aspirations)
dan hasil (results) maka akan digabungkan dalam Matriks
Internal � Eksternal (IE) untuk memperoleh posisi organisasi dan alternatif
strategi apa yang dinilai lebih tepat berdasarkan hasil analisis posisi
organisasi.
Hasil dari
Internal � Eksternal (IE) pada gambar di atas dengan nilai rata-rata
Internal Factor Evaluation (IFE) adalah sebesar 3.185 kemudian Eksternal
Factor Evaluation (EFE) 2.624, menunjukan posisi Kota Jayapura berada di
sel IV. Pada posisi ini, strategi yang paling tepat diterapkan adalah tumbuh
dan membangun (grow and build).
SOAR (Strengths, Opportunities,
Aspirations, Results)
Pada tahapan ini,
akan dijelaskan mengenai mengidentifikasi faktor-faktor pada setiap item SOAR (Strengths,
Opportunities, Aspirations, Results) dan pencapaian strategi berdasarkan
item tersebut. Guna memperjelas analisis berbagai permaslahan yang terjadi pada
objek wista pantai di Kota Jayapura secara umum hal tersebut akan digambarkan
pada tabel 2.3 Matriks
SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results).
QSPM (Quantitative Strategic Planning
Matrix)
Tahapan terakhir
dalam pengusulan startegi setelah dilakukan pemilihan alternatif strategi
adalah melakukan pengambilan keputusan untuk memilih strategi apa yang paling
tepat untuk di terapkan oleh Dinas Pariwisata Kota jayapura. Matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) akan
digunakan untuk meringkas dan mengevaluasi berbagai alternatif secara objektif
berdasarkan faktor internal dan eksternal organisai yang sudah diidentifikasi
sebelumnya (Nirmala & Paramitha, 2020). QSPM (Quantitative Strategic
Planning Matrix) diperoleh dari hasil perhitungan dengan mengalikan
rata-rata bobot dari masing-masing faktor internal dan ekternal organisasi
dengan nilai AS (Astractiveness Score) sehingga diperoleh TAS (Total
Atractiveness Score). Matriks ini akan menghasilkan tindakan strategi
alternatif yang dapat diterapkan oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura.
Berdasarkan hasil
matriks QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) dan tabel
perbandingan yang telah dibuat seperti�
di atas peneliti dapat menyimpulkan bahwa strategi yang mesti dijalankan
dan dijadikan prioritas oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura adalah strategi ke
2 adalah strategi yang perlu dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura
adalah membangun kerjasama dari perangkat daerah terkait dalam pembangunan
infrastruktur/sarana prasarana pada kawasan objek wisata pantai yaitu, Dinas
Pariwisata Kota Jayapura melakukan tindak tegas terhadap pelaksanaan
pembangunan dan pengembangan pada objek wisata dalam suatu program kegiatan
yang bersifat mengikat dan dalam perkerjaannya berpatokan pada regulasi yang
ada. Dan untuk strategi terakhir adalah strategi nomor 4 yaitu, strategi yang
perlu dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kota Jayapura adalah dalam upaya
menciptakan rasa aman, menjaga kebersihan dan kelestarian pantai di Kota
Jayapura, pemerintah daerah khususnya Dinas Pariwisata Kota Jayapura membentuk
kelompok pengelola objek wisata pantai yang dibawahi oleh Dinas Pariwisata Kota
Jayapura. Kelompok ini dibentuk sebagai koordinator dan penanggung jawab atas segala
aktifitas kepariwisataan pada objek wisata pantai di Kota Jayapura.
KESIMPULAN
Dalam peran dan fungsinya Dinas
pariwisata bertugas dalam mengelola dan menjalankan ekosistem pemerintahan pada
bidang pariwisata.� Berdasarkan hasil
observasi, Dinas Pariwisata Kota Jayapura dan perangkat daerah terkait kurang
dalam memperioritaskan pembangunan pada sektor pariwisata yang akhirnya adanya
keterbatasan infrastruktur dan sarana prasarana pada kawasan objek wisata
pantai di Kota Jayapura. �
Ketersediaan fasilitas objek
wisata pantai di Kota Jayapura menunjukan kurang memadai seperti tempat parkir,
tempat sampah, papan informasi, pos keamanan, kamar mandi/WC, pondok singgah,
air bersih dan tempat ibadah/musollah sebagai tambahan.
Kurangnya pengetahuan tentang
kepariwisataan oleh masyarakat khususnya pengelola objek wisata pantai yang di
kuasai oleh pemilik hak ulayat tanah, membuat objek wisata pantai di Kota
Jayapura belum dapat dikembangkan secara maksimal.
BIBLIOGRAFI
Nirmala,
B. P. W., & Paramitha, A. A. I. I. (2020). Digitalisasi Desa dan Potensi
Wisata Di Desa Kerta, Kabupaten Gianyar Menuju Pariwisata 4.0. Jurnal Karya
Abdi Masyarakat, 4(3), 350�355.
Ariadi,
W., Jatmika, W., Syafii, M., Lobubun, M., Melmambessy, D., Farowowan, F. F.,
Latuheru, A., Toatubun, H., Wahab, L. A., & Rerung, A. (2022). Potensi
Wisata Desa Tapal Batas Distrik Muara Tami Kota Jayapura: Pengembangan Dan
Promosi. Open Community Service Journal, 1(2), 66�73.
Asso, B., MANUABA, I. B. A., & Sunarta, I. N. (2010).
Kajian Strategis Pengembangan Potensi Ekowisata di Lembah Baliem sebagai Suatu
Alternatif Pengelolaan Pariwisata Berkelanjutan. Ecotrophic, 4(1),
386255.
Bawanti, A. (2016). Analisis City Branding dalam
pengembangan destinasi pariwisata kabupaten Jayapura. Media Wisata, 14(1).
Behabol, D. (2017). Strategi pariwisata dalam meningkatkan
kunjungan wisata di Kabupaten Jayapura, Propinsi Papua. Jurnal Pariwisata
Pesona, 2(1), 16.
Fauzi, A. (2019). Otonomi daerah dalam kerangka mewujudkan
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik. Spektrum Hukum, 16(1),
119�136.
Ismail, M. (2020). Strategi Pengembangan Pariwisata
Provinsi Papua. Matra Pembaruan: Jurnal Inovasi Kebijakan, 4(1),
59�69.
Ladia, F. H., Afifuddin, A., & Abidin, A. Z. (2020).
Peran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam pengembangan potensi wisata Teluk
Triton kabupaten Kaimana provinsi Papua Barat. Respon Publik, 14(1),
72�89.
Mangiri, D., Siregar, H., & Rustiadi, E. (2020). Dampak
ekonomi dan strategi pengembangan wisata Danau Sentani di Kabupaten Jayapura. Journal
of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan
Wilayah Dan Perdesaan), 4(1), 31�42.
Mebri, F. H., Suradinata, E., & Kusworo, K. (2022).
INTERNAL TOURISM DEVELOPMENT STRATEGY INCREASING REGIONAL ORIGINAL INCOME
(PAD) IN JAYAPURA CITY PAPUA PROVINCE. Jurnal Ilmiah Wahana Bhakti Praja,
12(1), 102�114.
Praja, J. I. W. B. (2022). STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA
DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DI KOTA JAYAPURA PROVINSI
PAPUA. Jurnal Ilmiah Wahana Bhakti Praja, 12(1).
Ristanti, Y. D., & Handoyo, E. (2017). Undang-undang
otonomi daerah dan pembangunan ekonomi daerah. Jurnal RAK (Riset Akuntansi
Keuangan), 2(1), 115�122.
Rontini, A. S., Prayitno, G., & Wijayanti, W. P.
(2021). PERSEPSI WISATAWAN OBJEK WISATA PANTAI BASE-G KOTA JAYAPURA. Planning
for Urban Region and Environment Journal (PURE), 10(2), 179�186.
Said, A. R. A. (2015). Pembagian kewenangan pemerintah
pusat-pemerintah daerah dalam otonomi seluas-luasnya menurut UUD 1945. Fiat
Justisia: Jurnal Ilmu Hukum, 9(4).
Wandikbo, J. O. A., Wiranegara, H. W., & Luru, M. N.
(2021). POTENSI PARIWISATA DANAU SENTANI DI KABUPATEN JAYAPURA, PROVINSI
PAPUA. JURNAL BHUWANA, 212�225.
|
Copyright holder: Indah Ekaristi, Muhadam Labolo, Faria Ruhana (2023) |
|
First publication right: |
|
This article is licensed under: |