|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 1
No. 5, Juli 2020 |
|
�p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
IDENTIFIKASI BORAKS MENGGUNAKAN EKSTRAK UBI JALAR
Rina Setyawati dan Ika Daryanti
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
(STIKes) Kesosi Jakarta
Email: [email protected] dan [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Juli 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Juli 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Juli 2020 |
Ubi jalar menjadi
salah satu bahan makanan dan memiliki beberapa varietas yang diantaranya
memiliki kandungan antisionin yang besar. Antosianin berfungsi sebagai
antioksidan serta dapat digunakan untuk identifikasi boraks. Antosianin
memiliki kemampuan untuk bereaksi pada suasana asam maupun basa. Pada suasana
asam antosianin berwarna merah dan berubah menjadi ungu dan biru pada suasana
basa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengartahui keefektifan ekstrak ubi
jalar putih,kuning dan ungu untuk identifikasi boraks. Penelitian ini
dilakukan degan menggunakan metode maserasi. Hasil penelitian yang diperoleh
bahwa ekstrak ubi jalar ungu lebih efektif�
untuk identifikasi boraks dibandingkan dengan ekstrak ubi jalar putih
dan ubi jalar kuning. |
|
Kata kunci: Ubi jalar; Boraks |
Pendahuluan
Ubi jalar merupakan
salah satu bahan pangan yang mempunyai nilia gizi dan banyak dikonsumsi masyarakat serta memiliki beberapa varietas antara lain ubi jalar putih,
ubi jalar kuning, ubi jalar
ungu dan masih banyak jenis lainnya.
Kulit ubi jalar ungu mengandung
antosianin, dimana antosianin merupakan zat pewarna yang dapat dikategorikan sebagai antioksidan. Kandungan antosianin pada bagian kulit ubi
jalar ungu lebih besar dibandingkan
pada bagian dagingnya. Ubi jalar kuning
memiliki pigmen yaitu antosianin yang memiliki senyawa antioksidan. Sedangkan pada ubi jalar ungu mengandung
zat antosianin paling besar diantara jenis ubi jalar
lainya dan pada kulit ubi jalar ungu
mengandung pigmen antosianin
yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna
alami. Selain digunakan sebagai zat pewarna pigmen antosianin bermanfaat bagi kesehatan tubuh karena berfungsi
sebagai antioksidan, anti hipertensi, pencegahan gangguan fungsi hati, jantung koroner,
kanker, jantung koroner dan kanker (Hambali, 2014). Secara kimia antosianin merupakan turunan struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil, metilasi dan glikosilasi (Harborne, 1987).
Antosianin secara umum
mempunyai stabilitas yang rendah. Pada pemanasan yang tinggi, kestabilan dan ketahanan zat warna
antosianin akan berubah dan mengakibatkan kerusakan. Selain mempengaruhi warna antosianin, pH juga mempengaruhi stabilitasnya, dimana dalam suasana asam
akan berwarna merah dan suasana basa berwarna biru.
Antosianin lebih stabil dalam suasana
asam dibandingkan dalam suasana alkalis ataupun netral. Zat warna ini
tidak stabil dengan adanya oksigen
dan asam askorbat. Asam askorbat kadang
melindungi antosianin tetapi ketika antosianin
menyerap oksigen, asam askorbat akan
menghalangi terjadinya oksidasi. Pada kasus lain, jika enzim
menyerang asam askorbat yang akan menghasilkan hidrogen peroksida yang mengoksidasi, sehingga antosianin mengalami perubahan warna (Francis, 1982).
Ekstraksi adalah pemisahan
satu atau beberapa bahan dari suatu padatan
atau cairan dengan bantuan Pelarut. Ekstraksi maserasi merupakan metode ekstraksi yang digunakan untuk mengisolasi suatu senyawa dari bahan
alam tergantung pada tekstur, kandungan senyawa, dan sifat senyawa yang diisolasi. Penekanan utama dalam metode maserasi
adalah tersedianya waktu kontak yang cukup antara pelarut
dengan jaringan yang diekstraksi (Guenther, 1987). Keuntungan
metode maserasi adalah dapat menghindari
pengaruh suhu karena suhu yang tinggi memungkinkan terdegradasinya senyawa-senyawa metabolit sekunder seperti suhu ekstraksi
maserasi antosianin sangat mempengaruhi hasil ekstraksi, suhu stabil ekstraksi
antosianin yaitu 50oC,� jika
suhu di atas kestabilan antosianin akan mengalami degradasi yang di sebabkan oleh hidrolisis pada ikatan glikosidik antosianin dan menghasilkan aglikon-aglikon yang
labil (Fennema, 1996). Pemilihan pelarut yang digunakan untuk proses maserasi juga akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan
kelarutan senyawa dalam pelarut tersebut.
Pelarut yang dapat digunakan untuk mengekstrak antosianin antara lain metanol, etanol, air atau campuran pelarut-pelarut tersebut.
Boraks adalah campuran
garam mineral konsentrasi tinggi
yang dipakai dalam pembuatan beberapa makanan tradisional, seperti karak dan gendar. Sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat,
natrium tetraborat. Dalam
dunia industri, boraks menjadi campuran detergen, glasir enamel gigi buatan, plastik,
antiseptik, pembasmi serangga, salep kulit, dan pengawet kayu. BPOM telah melarang penggunaan zat kimia ini
untuk ditambahkan pada makanan karena jika digunakan secara ilegal dengan
dosis yang berlebihan� akan
menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah
banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang
sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan
ginjal, pingsan, hingga kematian
Metode Penelitian
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Gelas
ukur, Cawan petri, Pisau, gunting, Erlenmeyer,
Spatula, Kertas Saring
no.41, Corong pemisah, Timbangan digital, blue tip, mikropipet.
Bahan yang digunakan adalah ubi jalar
putih, ubi jalar kuning, ubi
jalar ungu, Etanol 70%, Aquadest, Boraks. Teknik ekstraksi maserasi digunakan untuk mengisolasi suatu senyawa dari
bahan alam tergantung pada tekstur, kandungan senyawa, dan sifat senyawa yang diisolasi. Prosedur penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.������ Ubi jalar putih, kuning dan ungu direbus sampai
matang lalu dipotong kecil-kecil.
2.������ Timbang� sebanyak
50 gr untuk masing-masing varietas ubi dan rendam dalam 100 ml etanol 70% selama 45 - 60 menit sambil sesekali
diaduk. Kemudian saring larutan etanol tersebut.
3.������ Celupkan kertas
saring pada masing-masing larutan tersebut dan diamkan pada suhu 28�350C dalam ruangan tertutup
selama 2 � 3 hari agar campuran larutan terserap sempurna pada kertas saring.
4.������ Setelah kering langkah
terakhir adalah memotong kecil-kecil kertas saring tersebut
dengan ukuran 1cm x 2.5cm. Kertas tersebut digunakan sebagai Alat Uji Boraks.
5.������ Rendam alat
uji boraks ke dalam larutan sampel
yang mengandung boraks.
6.������ Pada larutan yang mengandung borak, alat uji akan merubah
warna larutan menjadi biru tua
kehitaman. (Rochyani, 2017)
Hasil dan Pembahasan
Pada penelitian ini menggunakan alat uji dari kertas saring yang direndam dalam larutan etanol yang mengandung ekstrak ubi jalar. Proses perendaman kertas saring ditunjukkan dalam Gambar 1.


Gambar
1. Proses Perendaman Kertas Saring Sebagai Alat Uji
Pengujian dilakukan dengan
cara merendam media penguji boraks kedalam boraks dan air. Kontrol negatif yang
digunakan dalam penelitian ini adalah air sedangkan kontrol positif adalah
lautan boraks. Boraks yang digunakan dalam penelitian ini adalah Natrium
Tetraborat (Na2B4O7.10H2O). Hasil
pengujian dapat dilihat pada gambar berikut ini:
![]()

Gambar 2. Hasil Identifikasi Sampel Air dengan
Alat Uji
![]()

Gambar
3. Hasil Identifikasi Sampel Boraks dengan Alat Uji
Ekstrak ubi jalar diambil menggunakan metode maserasi untuk mendapatkan zat antosianin. Rebusan ubi jalar yang telah dipotong kecil-kecil direndam dalam larutan etanol dan dibiarkan selama kurang lebih satu jam. Larutan etanol tersebut kemudian disaring dan digunakan sebagai larutan untuk merendam kertas saring yang digunakan sebagai alat uji identifikasi boraks. Kertas saring� direndam hingga larutan etanol menguap seluruhnya dan atosianin terserap seluruhnya ke dalam kertas saring. Semakin besar konsentrasi solven maka semakin tinggi rendemen yang diperoleh. Karena konsentrasi solven etanol dan asam asetat yang lebih besar, maka pelarutan senyawa organik dalam hal ini adalah antosianin akan berjalan lebih cepat sehingga akan semakin banyak komponen yang terekstrak dapat terlarut bersama dengan pelarutnya (Hambali, 2014) .
Ketiga variasi� ubi jalar yang digunakan pada penelitian ini mengandung zat antosianin. Kadar antosianin tertinggi terdapat dalam ubi jalar ungu dibandingkan dengan ubi jalar putih dan ubi jalar kuning. Ubi jalar kuning mengandung antosianin, terutama penidins dan sianidin, yang berfungsi sebagai antioksidan dan anti-inflamasi. Pada ubi jalar putih mengandung antosianin dalam jumlah sangat kecil. Ubi jalar ungu mengandung antosianin, senyawa fenolik dan β-karoten yang tinggi dibandingkan dengan ubi jalar putih maupun merah (Shih et al, 2009). Pengolahan ubi jalar yang kurang tepat dapat mengurangi jumlah kandungan antosianin di dalam produk olahan. Senyawa antosianin dipengaruhi oleh pH� atau tingkat keasaman, dan akan lebih stabil apabila dalam suasana asam atau pH yang rendah.
Pada pengujian yang telah
dilakukan hanya alat uji dari ekstrak ubi jalar ungu yang mampu mendeteksi
boraks yang terbukti dengan adaya perubahan warna menjadi biru kehitaman. Pada
ubi jalar kuning dan ubi jalar putih tidak efektif untuk mengidentifikasi boraks karena kandungan
antosianin yang rendah sehingga tidak terjadi perubahan warna. Perubahan warna
yang terjadi diakibatkan oleh sifat antosianin yang amfometer yaitu memiliki
kemampuan untuk bereaksi baik dengan asam maupun basa. Pada suasana asam
antosianin berwarna merah dan berubah menjadi ungu dan biru pada suasana
basa.� Pada penelitian ini menggunakan
boraks jenis Natrium tetraborat yang bersifat basa dan menyebakan perubahan
warna menjadi biru kehitaman.
Kesimpulan
��������� Berdasarkan hasil penelitian dari yang telah dilakukan dapat disimpulkan ekstrak ubi jalar ungu lebih
efektif� untuk identifikasi boraks dibandingkan dengan ekstrak ubi jalar putih
dan ubi jalar kuning
Bibliografi
Fennema. (1996).
Food Chemistry. New York: Marcel Dekker, Inc.
Francis, F. J.
(1982). Analysis of Anathocyanins. New York: Academi Press.
Guenther, E.
(1987). Minyak Atsiri Jilid I (Diterjemahkan Oleh Ketaren S.). Jakarta:
Universitas Negeri Jakarta.
Hambali, M. Mayasari, F., Noermansyah, F. (2014).
Ekstraksi Antosianin dari Ubi Jalar dengan Variasi Konsentrasi Solven dan Lama
Waktu Ekstraksi. Teknik Kimia No. 2, Vol. 20, April 2014, 11.
Harborne, J. B.
(1987). Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Bandung: ITB.
Rochyani, N. A.
(2017). Pembuatan media uji formalin dan boraks mengggunakan zat antosinin
dengan pelarut etanol 70%. Jurnal Redoks priode januari-juni 2017.