|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 1
No. 6, Agustus 2020 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL
PEMBELAJARAN EDUTAINMENT UNTUK MEMOTIVASI PESERTA DIDIK SELAMA PEMBELAJARAN
SECARA DARING DI MASA PANDEMI COVID-19
Dominggus Telupun
Universitas Kristen Indonesia� Jakarta Timur, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2020 |
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran
bermuatan edutainment selama pembelajarans secara daring di SMP-SMP Kec Kota
Tambolaka, Sumba Barat Daya; mendeskripsikan juga pelaksanaan pembelajaran
secara daring yang dilaksanakan MGMP dan MKKS Kabupaten; mengidentifikasikan
peran pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran sehinga dapat memotivasi
peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran. Penelitian ini merupakan
penelitan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui angket dalam bentuk
google form dan wawancara secara daring dengan 15 pendidik dan 20 peserta
didik. Analisis deskripsi data menghasilkan informasi tentang kendala dari
pembelajaran secara daring, peran dari MGMP, MKKS dan Orang tua dalam
pelaksanaan pembelajaran dan juga Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Secara
daring yang disusun untuk menciptakan pembelajaran yang memotivasi peserta
didik. Hasil Penelitian menujukan bahwa peserta didik dapat melakukan
pembelajaran dengan menyenangkan dan juga memperoleh prestasi yang baik. |
|
Kata kunci: Pembelajaran Edutainment; Covid-19 dan Pembelajaran
Daring. |
Pendahuluan
Pada akhir bulan Desember
2019, wabah penyakit
COVID-19 atau infeksi virus
SARS-Cov 2 pertama kali dideteksi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Dalam waktu 4 bulan,
hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia terdampak COVID-19 yang mengakibatkan
banyak orang terinfeksi dan
banyak korban jiwa. Pada 11
Maret 2020, COVID-19 ditetapkan
sebagai Pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Indonesia menjadi salah satu negara yang terkena dampak COVID-19. Untuk menanggapi hal ini, pemerintah
membuat berbagai kebijakan guna mencegah penyebaran virus
COVID-19. Salah satu kebijakan
yang dibuat oleh pemerintah
adalah merumahkan semua siswa dan siswa mulai dari
sekolah dasar sampai perguruan tinggi berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Pemerintah Nomor
36962/MPK.A/HK/2020. Sejak saat
itu, semua pembelajaran di dalam kelas diubah menjadi
pembelajaran secara daring dari rumah. Situasi ini menuntut guru untuk mengadakan pembelajaran secara daring (LPPKSPS Kemendikbud, 2020). �Guru ditantang untuk menjadi seseorang
yang profesional, yang mampu
menjadi administrator dan komunikator
pembelajaran secara daring meskipun dalam situasi yang serba terbatas. Mereka dituntut untuk menggunakan media pembelajaran
daring sehingga pembelajaran
dan interaksi dengan peserta didik tetap
berlangsung secara efisien dan efektif dan mencapai tujuan pembelajaran (Grafura
& Wijayanti, 2019). Pembelajaran
secara daring atau sering disebut pembelajaran jarak jauh bukan suatu
yang baru. Permendikbud No.
109 tahun 2013 mendefinisikan
pendidikan jarak jauh sebagai proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui
penggunaan berbagai media komunikasi (Gultom,
2019).
Model
pembelajaran direncanakan sebagai suatu inovasi
dalam metode pembelajaran abad ke 21, yang menyesuaikan dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi khususnya di era revolusi industri 4.0. Meskipun demikian, model pembelajaran ini belum secara menyeluruh
menjangkau setiap sekolah dan lapisan masyarakat di Indonesia. Letak geografis indonesia yang kepulauan, ketersediaan infrastruktur digital yang belum merata, status sosio-ekonomi yang
beragam dan tingkat kompetensi dan literasi masyarakat dalam menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mempengaruhi sulitnya menerapkan pembelajaran secara daring atau pembelajaran jarak-jauh.
Pandemi COVID-19 menjadi faktor yang memaksa negara kita untuk secara
serentak menerapkan pembelajaran secara daring. Setiap sekolah, guru dan siswa yang berada dalam berbagai situasi yang telah disebutkan di atas terpaksa melakukan pembelajaran secara daring atau jarak jauh.
Hal ini menjadi tantangan dan permasalahan bersama untuk pendidikan
di Indonesia. Sekolah dan kampus
diminta untuk mempersiapkan dalam waktu singkat infrastruktur
dan sumber daya manusia untuk melakukan
pembelajaran daring. Pendidik
harus meluangkan waktu dan berkreasi dalam melakukan pengajaran. Demikian pula dengan, peserta didik dan orang tua diminta untuk menyesuaikan
diri dengan situasi ini
Masalah teknis menjadi kendala yang pertama-tama harus dihadapi. Kendala seperti jaringan dan kuota internet, signal, hingga pemilihan aplikasi online yang dipakai, menjadi permasalahan yang sering hadapi. Namun, seiring dengan waktu kendala ini
dapat diatasi karena semakin banyak aplikasi-aplikasi yang mempermudah untuk melakukan proses pembelajaran
daring (Aulia
et al., 2020). Selain itu, kegigihan dan semangat para guru yang siap untuk menembus batas dengan mengunjungi
murid untuk melakukan pembelajaran tatap muka menjadi suatu
yang dapat diapresiasi. Tetapi, model pembelajaran secara daring bukan semata-mata pada teknis pelaksanaan tetapi juga pada metode pelaksanaan belajar-mengajar yang terjadi saat�� pembelajaran secara daring.
Iras Aprilia menulis bahwa dalam pembelajaran
secara daring sering kali ditemukan materi yang disampaikan tidak sepenuhnya dipahami oleh siswa; banyak siswa
bingung dalam menerima materi yang disampaikan guru, walaupun kegiatan belajar-mengajar dilakukan menggunakan video call,
tetapi tetap saja tidak efektif (Aprilia,
2020)
Ia juga menulis terkadang siswa merasa bosan dengan
sistem belajar yang tidak efektif dan banyak guru hanya memberikan tugas kepada siswa untuk
dikerjakan di rumah (Aprilia,
2020). Nadiem Makarim, Menteri pendidikan dan Kebudayaan, dalam kesempatan peringatan hari pendidikan nasional 2 Mei 2020, memberikan saran kepada guru dan siswa untuk memaknai
kondisi ini dengan sikap yang adaptif, yang diwujudkan dengan sikap berani
keluar dari zona nyaman. Ia menekankan
bahwa selama pembelajaran secara daring guru dapat beradaptasi menemukan metode pembelajaran yang terbaik untuk pada siswa dan tidak lagi terpaku
pada metode yang selama ini digunakan di sekolah. Ia mengusulkan
juga bahwa�
guru sebaiknya membagi
kelas menjadi kelompok yang lebih kecil, menerapkan metode pembelajaran project
based learning, mengalokasikan lebih banyak waktu
bagi siswa yang tertinggal, fokus kepada yang terpenting dengan menguatkan konsep-konsep fundamental yang mendasari
kemampuan murid untuk bisa sukses dalam
pelajaran apapun, dan guru bisa bekerja sama
satu dengan yang lain dalam hal pengolahan
dan penyampain materi ada dapat lebih
cepat beradaptasi dengan teknologi (Kasih,
2020).
Hal utama dan esensial dari suatu pembelajaran
secara daring atau jarak jauh adalah
metode pembelajaran. Sekolah, Guru dan peserta didik harus menyadari
bahwa pembelajaran secara daring bukan sekedar memindahkan dari pembelajaran tata muka langsung dalam
kelas ke dalam portal digital. Diperlukan suatu perubahan dalam metode dan sistem pembelajaran. Metode yang sesuai akan membuat pembelajaran
secara daring menjadi lebih manarik dan menyenangkan.
Dalam penelitian
ini, peneliti berusaha mengkaji penerapan model pembelajaran edutainment
untuk pembelajaran secara daring atau jarak jauh yang memotivasi peserta didik untuk belajar
di masa pandemi. Mengingat bahwa internet, sosial media, teknologi komunikasi digital adalah bagian dari
entertainment, maka pendidikan
secara daring dapat juga memadukan antara pendidikan dan hiburan, atau yang dikenal dengan edutainment. Hal ini
diyakini dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi
peserta didik untuk mengikuti pembelajaran secara daring dan mencapai tujuan pembelajaran
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan kejadian atau fakta, keadaan,
fenomena, dan variabel yang
hadir selama proses penelitian berlangsung dengan menyuguhkan apa yang sebenarnya terjadi dalam proses pembelajaran secara daring yang menggunakan model pembelajaran edutainment.
Metode penelitian ini tidak dimaksudkan
untuk mengukur pengaruh yang ditimbulkan oleh
model ini tetapi melihat relevansi model pembelajaran edutainment dalam
memotivasi peserta didik selama mengikuti
pembelajaran secara daring.
Penelitian dilakukan dengan metode wawancara.
Peneliti mewawancarai secara daring peserta didik dan guru dari beberapa SMP di Kecamatan Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT.
Metode penarikan sampel yang digunakan adalah purposive, sampel dipilih sesuai dengan tujuan dari
pengumpulan data. Guru yang diwawancarai
berjumlah 15 orang dan siswa
40 orang.�
Hasil dan Pembahasan
Pandemi Covid-19 berdampak secara langsung pada proses pembelajaran di negara kita. Pembelajaran normal yang dilakukan
secara tatap muka secara drastis
diubah menjadi sistem pembelajaran secara daring atau jarak jauh. Kebijakan
penetapan tersebut adalah jawaban terhadap kebijakan dan himbauan pemerintah untuk melakukan social
distancing dan mengurangi penyebaran
wabah COVID-19. Kebijakan ini menjadi permasalahan
yang cukup rumit bagi sekolah-sekolah di daerah, khususnya dimana pelaksanaan pembelajaran secara daring dan
juga fasilitas penunjang untuk model pembelajaran ini masih belum
memadai.
Sebagai contoh sekolah-sekolah menengah pertama di daerah Sumba Barat Daya, khususnya Kecamatan Kota Tambolaka. Kecamatan Kota Tambolaka, karena fungsi administratif
yang dimilikinya, memiliki prioritas dalam hal pembangunan baik sarana publik
maupun sistem informasinya. Kota Tambolaka sudah memiliki jaringan internet 4G sejak tahun 2018 yang membuat komunikasi dan penggunaan
internet di daerah ini berjalan dengan baik. Namun kondisi
ekonomi dan sosial sekolah dan masyarakat membuat proses pembelajaran secara daring menjadi kendala. Melalui wawancara dengan
guru dan siswa dari beberapa sekolah menengah tingkat pertama di Kecamatan Kota Tambolaka, permasalahan yang timbul selama pembelajaran
secara daring adalah:
1.
Sekolah tidak memiliki jaringan internet. Permasalahan
yang mendasar adalah hampir seluruh SMP di Kecamatan Kota Tambolaka tidak memiliki jaringan internet. Penggunaan
internet selama ini dilakukan dengan menggunakan telepon seluler yang berperan sebagai hotspot.
2.
Materi Pembelajaran. Pembelajaran yang dilaksanakan di seluruh SMP di kota tambolaka masih menggunakan metode klasikal dan materi pembelajaran masih tergantung pada textbook atau rencana pembelajaran
yang dimiliki guru.
3.
Komputer Teknologi Literasi. Kemampaun baik pendidik dan peserta didik dalam melakukan
pembelajaran dengan mengunakan komputer masih sangat terbatas.
Selain itu tidak semua pendidik
dan peserta didik memiliki komputer.
4.
Lingkungan Tempat tinggal dan keluarga. pada umumnya rumah tempat tinggal
peserta didik tidak mendukung untuk melakukan pembelajaran secara daring atau jarak jauh.
Dari wawancara dengan peserta didik, pada umumnya mereka akan belajar di rumah teman mereka
atau saudara yang lebih mendukung untuk pembelajaran.
5.
Kebiasaan belajar secara mandiri. Pada umumnya peserta didik sulit
untuk membedakan antara libur dan belajar di rumah. Dari wawancara dengan para pendidik, hal yang selalu dikeluhkan adalah kelengkapan jumlah peserta didik yang mengikuti pembelajaran secara daring.
Banyak peserta didik tidak hadir secara
daring selama pembelajaran berlangsung.
6.
Media pembelajaran terbatas pada telepon seluler. Satu-satunya sarana yang mendukung pembelajaran secara daring bagi pendidik dan peserta didik SMP-SMP di Kecamatan Kota Tambolaka adalah telepon seluler. Hal ini memaksa setiap pendidik atau operator sekolah untuk menemukan
cara dan metode yang sesuai dengan perangkat
telepon seluler yang dimiliki peserta didik.
Kendala atau keterbatasan yang ditemukan di lapangan membuat pembelajaran secara daring tidak berjalan secara efektif jika dibandingkan
dengan pembelajaran dengan menggunakan tatap muka. Pembelajaran
secara daring sangat membatasi dan mempersulit proses pembelajaran di SMP, baik bagi pendidik maupun
peserta didik.
�� Pembelajaran yang secara daring selama masa pandemi adalah sesuatu yang dipaksakan atau tidak dipersiapkan
sebelumnya. Salah satu kekurangan dari pembelajaran secara daring adalah kehadiran suatu lembaga atau
instansi yang mengawasi dan
mewadahi pembelajaran secara daring. (Tampubolon, 2015) mangatakan bahwa
salah satu hal yang membedakan orang yang mengikuti PJJ dan orang yang belajar
sendiri adalah kehadiran lembaga yang mengelola PJJ. Lembaga atau instansi bertujuan
untum menyiapkan pendidik (sumber daya manusia) yang memiliki kapasitas untuk melakukan pembelajaran secara daring, metode pembelajaran dan juga materi pembelajaran. Sekolah berusaha untuk bertindak sebagai lembaga atau badan yang menyelenggarakan pembelajaran secara daring seperti halnya lembaga-lembaga layanan pembelajaran jarak jauh. Namun, karena
keterbatasan materi, fasilitas dan juga sumber daya manusia membuat
pembelajaran secara daring dilaksanakan seadanya sehingga pelaksanaannya tidak efektif.� Dari wawancara dengan para guru beberapa guru mengeluhkan ketidakmampuan sekolah dalam melaksanakan pembelajaran secara daring karena keterbatasan sarana, materi dan sumber daya manusia.
Untuk mengatasi hal ini maka,
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) memutuskan untuk melakukan kajian bersama untuk melaksanakan
pembelajaran secara bersama dan terpadu. Dalam hal ini,
setiap sekolah bergabung untuk menjadi pelaksanan pembelajaran secara daring. Kerja sama ini
berupa membuat panduan dan materi pembelajaran bersama, melakukan pelatihan bersama, dan juga membuat
helpdesk untuk mengatasi permasalahan bersama.
Dalam kerjasama ini, guru dapat men-sharing-kan materi pengajaran
yang telah dibuat ke dalam grup
sehingga dapat membantu guru lain yang belum memiliki materi pembelajaran secara daring. Guru
juga dibantu untuk menemukan cara yang efektif dan efisien dalam pembelajaran, mengingat permasalahan yang dihadapi sama sehingga
keberhasilan suatu sekolah dapat menjadi
contoh bagi sekolah yang lain. Kerjasama ini
juga membantu peserta didik karena tuntutan
dan model pengajaran yang diterima
mirip dan sesuai dengan situasi mereka.
Pembelajaran secara daring masih menjadi kendala
proses pembelajaran. Dari survei
yang dilakukan peneliti terhadap guru mata pelajaran di SMP di Kecamatan
Kota Tambolaka diperoleh
data sebagai berikut:
a.
Dari lima belas pendidik di tingkat SMP sebagian besar menggunakan aplikasi Whatsapp dalam melakukan pembelajaran dan beberapa juga menggunakan media seperti yang disediakan oleh
google: google classroom, meet, drive dan lain-lain, atau
menggunakan aplikasi video conference.
b.
Dalam hal membawakan materi pembelajaran, banyak pendidikan menyampaikan pembelajaran dengan menggunakan materi yang disajikan dalam bentuk power point presentation. Beberapa
menggunakan video tutorial, PDF File, atau voice recording (podcast), Hanya
sedikit yang secara aktif menggunakan video
conference metode dalam membawakan materi pembelajaran mereka.
c.
Dalam hal metode pembelajaran, sebagai besar guru memberikan tugas untuk dikerjakan secara mandiri kepada peserta didik. Beberapa mengunakan metode metode kuis dan latihan dan metode ceramah yang bertujuan untuk memberikan penjelasan.
Dari data di atas menunjukan bahwa pembelajaran secara daring menjadi suatu yang rutinitas yang membosankan dan juga memberatkan peserta didik dengan
tugas-tugas yang diberikan.
Masalah ini bukan semata-mata karena ketidakmampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran secara daring namun keterbatasan dari pendidik dan juga peserta didik dalam
pelaksanaan pembelajaran secara daring. Sebagian besar
proses pembelajaran dilaksanakan
menggunakan jaringan
internet yang diperoleh dengan
menggunakan hotspot dari telepon seluler dan peserta didik mengikuti
pembelajaran menggunakan telepon seluler.
Tantangan utama dari para pendidik dan peserta didik selama
masa belajar dari rumah adalah keluar
dari zona nyaman yang selama ini melekat
pada proses pembelajaran konvensional.
Selama pembelajaran secara daring banyak pendidik terjebak pada permasalahan konten atau materi pembelajaran
yang akan diberikan kepada peserta didik (Wahyono
et al., 2020). Mereka banyak berkutat pada bagaimana siswa dapat menerima dan memahami materi yang disampaikan secara digital sehingga dapat dilakukan penilaian atau pengukuran prestasi belajar siswa. Selain itu,
kemampuan pendidik dan peserta didik dalam
menggunakan dan menguasai teknologi komputer sangatlah terbatas. Hal ini membuat pembelajaran
secara daring menjadi pembelajaran dalam kelas yang dipindahkan ke komputer atau
telepon seluler.
MGMP dan MKKS untuk Kabupaten Sumba Barat Daya memutuskan untuk melakukan diskusi bersama dan perencanaan bersama untuk menerapkan pembelajaran dengan menggunakan metode edutainment
yang menekankan prinsip-prinsip
pembelajaran yang berkualitas
namun menyenangkan atau entertaining bagi peserta didik (MASWINDAH,
2019). Metode pembelajaran
ini memuat diskusi, simulasi, game, penjelajahan, dan lain-lainnya
yang dapat membuat suasana lebih menyenangkan
dan mendorong peserta didik untuk turut
aktif.
Keberhasilan dengan menggunakan model pembelajaran edutainment
ditentukan oleh kemampuan
guru dalam merancang rencana pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan pembelajaran secara daring. Dalam diskusi bersama dengan MGMP dan MKKS diputuskan panduan atau guideline untuk melaksanakan pembelajaran secara daring dengan memperhatikan aspek edutainment. Langkah-langkah
tersebut dapat diurutkan sebagai berikut:
1.
Materi Pembelajaran dibuat dalam bentuk Power Point Presentasi yang menarik dan informatif yang kemudian diubah ke dalam
bentuk PDF (Portable Document Format) sehingga mudah bagi peserta didik
untuk mengakses dan menyimpan dalam telepon selular atau komputer mereka.
Materi juga disusun secara sistematis dan juga rencana pembelajaran haruslah dibuat terlebih dahulu.
2.
Guru membuat atau menggunakan video simulasi atau tutorial untuk menjelaskan materi yang telah disampaikan yang dibuat dengan program screen recording dengan
memperhatikan durasi dan penjelasan yang singkat dan padat.
3.
Rencana pelaksanaaan pembelajaran dan
juga manajemen kelas disusun menggunakan aplikasi Google Classroom, Edmodo, Schoology
atau yang lain sehingga memudahkan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran.
4.
Materi pembelajaran yang telah disusun dalam satu
semester dapat disusun menjadi ebook yang lebih interaktif dalam bentuk PDF sehingga dapat menjadi panduan bagi peserta didik
untuk belajar secara mandiri.
5.
Guru dapat memaksimalkan penggunaan Whatsapp sebagai media untuk berinteraksi dan melaksanakan pembelajaran. Aplikasi Whatsapp adalah aplikasi yang banyak digunakan saat ini, baik
untuk menyampaikan informasi dan berinteraksi. Aplikasi Whatsapp sangat efektif dan efisien untuk menjadi
pilihan selama proses pembelajaran daring karena peserta didik dapat
dengan mudah mendapatkan pengajaran atau instruksi dari pendidik dan juga untuk memberikan jawaban.
6.
Guru membagi kelas menjadi kelompok
yang lebih kecil sehingga dapat mendampingi, melakukan pembelajaran dan memantau perkembangan peserta didik dengan mudah
peserta didik. Pembagian ini dapat
dengan mudah menjadi kelompok belajar.
7.
Sekolah memantau pembelajaran dengan menggunakan program yang telah ditentukan sehingga pengaturan waktu belajar dapat
berjalan dengan baik. Beberapa aplikasi seperti quipper, edmodo, atau moodle atau
yang lain memberikan kesempatan
bagi sekolah untuk mengorganisir pembelajaran secara daring.
8.
Kerjasama dengan orang tua menjadi hal
yang sangat penting karena mereka juga dapat memantau proses pembelajaran mereka dari rumah. Hal ini dapat diwujudkan
dengan membentuk grup Whatsapp orang tua murid dan memberikan informasi rencana pembelajaran harian.
9.
Tugas dan ujian dapat dibuat
lebih menarik sehingga mampu membuat peserta didik lebih aktif
dan antusias. Metode Pembelajaran yang digunakan selama pembelajaran secara daring adalah Project
Based Learning dan Discovery Learning. Project Based Learning
atau Pembelajaran berbasis proyek adalah metode pembelajaran
yang menggunakan proyek atau kegiatan sebagai
media (Wahyono
et al., 2020). Langkah awal dalam pembelajaran
berbasis proyek adalah peserta didik diberikan suatu masalah yang mendorong mereka untuk melakukan penyelidikan guna mengumpulkan dan mengintegrasikan
pengetahuan baru. Sedangkan, Discovery Learning merupakan
model pembelajaran yang menekankan
peserta didik untuk menemukan sendiri konsep pengetahuannya (Donald
R. Cruickshank, Debora Bainer Jenkins, 2014). Perpaduan kedua
model ini dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk dapat
belajar secara mandiri dan memanfaatkan dengan baik penggunaan
internet selama pembelajaran
secara daring.
10.
Guru juga bisa mengunjungi siswa secara individu atau kelompok sehingga
dapat mengikuti perkembangan siswa. Pembelajaran secara daring tidak bisa dilepaskan
aspek perjumpaan atau tatap muka
secara langsung. Hal ini memang sangat
sulit dilakukan pada saat ditetapkannya pembatasan berskala besar. Karena telah dibagi menjadi kelompok belajar yang lebih kecil jadi
guru bisa mengatur waktu untuk pertemuan
singkat dengan peserta didik.
11.
Dalam melaksanakan pembelajaran secara daring guru juga diminta untuk membuat laporan
pembelajaran secara daring.
Laporan ini berfungsi untuk menjadi rencana pelaksanaan pembelajaran secara daring. Dengan demikian proses pembelajaran dapat terpantau dengan baik dan juga berguna untuk mengevaluasi
pembelajaran secara daring.
Pembelajaran secara daring membutuhkan selain rencana pembelajaran dan pengajaran juga membutuhkan metode pengajaran atau pemberian tugas yang sesuai. (Gultom, 2019) memberikan contoh
model pengajaran yang dapat
membantu selama pembaljaran secara daring, yang telah diringkaskan sebagai berikut:
1. Model Drills - Model drills adalah model pengajaran
yang bertujuan untuk melatih (training) siswa mendalami bahan pembelajaran yang diberikan.
Model ini berusaha menanamkan suatu kebiasaan tertentu dalam bentuk latihan
dan memberikan suasana pembelajaran yang konkret melalui rekayasa bentuk pengalam yang mendekati suasana yang sebenarnya. Metode penugasan adalah dengan latihan soal yang bertujuan untuk menguji performance
dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal latihan secara efektif dan sesuai dengan instruksi
dan pelatihan.
2. Model Tutorial � Pengajaran model
tutorial pada dasarnya adalah
program bimbingan yang bertujuan
untuk memberikan bantuan kepada peserta didik agar dapat mencapai hasil belajar optimal. Model ini sangat dibutuhkan
oleh siswa yang melaksanakan
pembelajaran mandiri yang bersumber dari modul-modul yang diberikan guru dalam bentuk PDF, PPT atau Word Document. Dalam pengajaran secara daring, guru dapat memberikan arahan, bantuan, petunjuk kepada siswa dalam bentuk
screen atau voice recoding
dalam melaksanakan tugas atau memahami
materi pengajaran.
3. Model Simulasi - Model simulasi adalah suatu strategi
pengajaran secara daring
yang memberikan peserta didik pengalaman belajar yang lebih konkret melalui penciptaan tiruan-tiruan bentuk pengalaman yang mendekati suasana sebenarnya (Gultom,
2019). Simulasi membuat
pembelajaran menjadi lebih nyata dan interaktif karena pembelajaran dikemas dalam bentuk animasi
yang menjelaskan konten secara menarik, hidup dan memadukan unsur teks, gambar,
audio, gerak dan paduan warna yang serasi dan harmonis.
4. Model Instruksional Games - Model pengajaran yang menerapkan Instructional
Game yang menyediakan pengalaman
belajar dalam bentuk permainan. Karakteristik dari model ini adalah peserta
didik ditantang untuk mengembangkan pengetahuan atau pemahamannya dalam bentuk permainan yang menarik dan menyenangkan. Keseluruhan permainan memiliki komponen dasar pembangkit motivasi dengan memunculkan cara berkompetisi untuk mencapai sesuatu yang diharapkan.
Pembelajaran secara daring membutuhkan materi yang menantang dan memotivasi peserta didik untuk dapat
melakukan pembelajaran secara mendiri. Selain itu, unsur
kegembiraan dan menarik menjadi hal yang mendasar karena pembelajaran secara daring tidak dapat mengantikan
kebersamaan dan keceriaan belajar bersama dalam kelas. (Hamid, 2014) mengatakan pembelajaran secara daring dan bermuatan edutainment dapat
mengubah perilaku dengan melahirkan perilaku-perilaku sosiokultural tertentu. Dari hasil wawancara dengan para peserta didik tentang
tentang hasil pembelajaran selama masa karantiana atau belajar dari rumah
87,5 % dari peseta didik memperoleh nilai di atas KKM dan dan hanya 12,5% yang memperoleh nilai di bahwa KKM. Hal ini menunjukan bahwa meskipun pembelajaran secara daring masih menjadi tantang
dan menemukan banyak kendala dalam hal
pelaksanaan, dari segi pencapaian tujuan pembelajaran dapat dikatakan bahwa pembelajaran secara daring dapat berjalan dengan baik.
Kesimpulan
��������� Maka dapat
disimpulkan, pembelajaran secara daring sejatinya adalah pilihan atau alternatif dari model pembelajaran yang ada dalam pendidikan
kita. Pembelajaran secara daring yang dilaksanakan secara serempak di sekolah-sekolah di negara kita menjadi tantangan yang paling berat karena pendidik
dan peserta didik dalam hal beradaptasi
secara cepat dan berusaha mengatasi berbagai kendala baik yang bersifat manusiawi atau sarana dan prasarana penunjangnya.
��������� Pelaksanaan pembelajaran
secara daring khususnya di daerah masih sangat
terbatas karena sarana dan prasarana seperti jaringan internet, listrik. Keterbatasan dalam segala
hal ini cenderung
membuat pendidik mengambil jalan singkat dengan jalan hanya memberikan
tugas kepada peserta didik yang mengakibatkan pembelajaran menjadi sangat membosankan.
��������� Salah satu
metode yang dapat membantu di tengah situasi ini adalah
penerapan pembelajaran yang
bermuatan edutainment. Metode
edutainment mengarahkan pendidik
dan peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran yang menarik dan sekaligus juga menghibur peserta didik sehingga
dapat memotivasi belajar peserta didik. Pembelajaran bermuatan edutainment secara
daring pada dasarnya adalah
melatih peserta didik untuk melakukan
pembelajaran secara mandiri dan memotivasi peserta didik untuk
belajar dan mengerjakan tugas.
��������� Model pembelajaran
edutainment mendorong pendidik
berkreasi dalam menyiapkan pembelajaran dan memaksimalkan penggunaan teknologi komputer untuk mengembangkan pembelajaran. Aplikasi komputer dan telepon seperti Whatsapp, google
classroom, Edmodo, Schoology, dan yang lainnya membuat belajar secara daring semakin mengasikkan dan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Inovasi ini menjadi
suatu keuntungan dan kekuatan yang seorang pendidik untuk dapat mengajar secara menarik dan mengasikan.
��������� Pembelajaran secara daring tidak
dapat serta merta menggantikan pembelajaran secara langsung dalam kelas. Pembelajaran secara daring pada dasarnya adalah alternatif atau pilihan yang menjadi keharusan di masa pandemi ini. Oleh sebab itu, metode pembelajaran
secara daring haruslah memperhatikan juga keterbatasan dari model pembelajaran ini. Literasi dalam hal teknologi
informasi dan komunikasi
dan juga model pembelajaran yang sesuai
dengan pembelajaran daring,
seperti model drill, tutorial, simulasi
atau permainan instruksional dapat membantu pendidik pembelajaran secara daring yang dapat mendorong peserta didik dapat
belajar secara mandiri. Selain iu, pembelajaran secara daring menjadi kesempatan bagi pendidik untuk menunjukan kompetensi profesionalisme seorang pendidik dalam hal menjadi instruktur
dan juga motivator dari keberhasilan
siswa.
Bibliografi
Aprilia,
D. (2020). Analisis Literasi Matematika Siswa Materi Aritmatika Sosial
Melalui Project Based Learning Di Smp. Universitas Muhammadiyah Malang.
Aulia,
N. N., Ummah, U. S., & Samawi, A. (2020). Urgensi Unit Layanan Disabilitas
di Perguruan Tinggi Negeri Inklusif. Jurnal ORTOPEDAGOGIA, 5(2),
68�73.
Donald
R. Cruickshank, Debora Bainer Jenkins,�
dan K. K. M. (2014). Perilaku Mengajar; The Art of Teaching Ed 2,
Buku 1. Penerbit Salemba Humanika.
Grafura,
L., & Wijayanti, A. (2019). Spirit Pedagogi di Era Disrupsi. LAKSANA
.
Gultom,
E. (2019). Guru Kristen Sebagai Penuntun Belajar Siswa Kelas XII Di Satu
Sekolah Kristen. Universitas Pelita Harapan.
Hamid,
M. S. (2014). Metode Edutainment. Diva Press.
Kasih,
A. P. (2020). Pengembangan Model Pembelajaran Adel (Active And Delightful
Learning) Pada Materi Organel Sel Kelas Vii Smp. Edusains, 12(1).
Maswindah,
A. Y. U. (2019). Pengembangan Media Kit Sifat Cahaya Berbasis Science
Edutainment pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru
Sekolah Dasar, 7(4).
Tampubolon,
M. (2015). Perencanaan dan Keuangan Pendidikan. Mitra Wacana Media.
Wahyono,
P., Husamah, H., & Budi, A. S. (2020). Guru profesional di masa pandemi
COVID-19: Review implementasi, tantangan, dan solusi pembelajaran daring. Jurnal
Pendidikan Profesi Guru, 1(1), 51�65.