|
Jurnal Syntax Transformation |
Vol. 1 No. 6, Agustus 2020 |
|
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial Sains |
SURVEI KONDISI KEBUGARAN WASIT FUTSAL
SUKABUMI TAHUN 2019
Anra Wiono, Ahmad Alwi
Nurudin dan Firman Maulana
Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Indonesia
Email: [email protected], [email protected]
���������� dan f[email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2020 |
Tujuan penelitian ini yaitu untuk
mengetahui kondisi kebugaran wasit futsal sukabumi tahun 2019 yang menggunakan metode kuantitatif dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode survei terhadap kondisi kebugaran jasmani wasit futsal sukabumi tahun 2019. metode survei digunakan untuk mendapatkan dari tempat tertentu yang alamiah (bukan dibuat buat)� akan
tetapi penelitian ini melakukan pengumpulan data, misalkan mengedarkan keuesioner, melakukan test serta mewawancarai secara terstruksture (perlakuannya tidak sama dengan
eksperiment). Penelitian tersebut dilaksanakan untuk meninjau kondisi kebugaran jasmani wasit futsal sukabumi tahun 2019. Hasil analisa menunjukan bahwa wasit yang tingkat kesegaran kardiorespirasinya berada pada klasifikasi sangat kurang sejumlah 2 orang atau dengan presentase
sebesar (6,7 %) klasifikasi
kurang sejumlah 3 orang
(10%), klasifikasi cukup baik sejumlah 16 orang (53,3%),
klasifikasi baik 3 orang
(10%), dan klasifikasi sangat
baik sejumlah 6 orang
(20%). Dari data diatas dapat
ditarik kesimpulan bahwa tingkat kesegaran wasit Kota dan Kabupaten Sukabumi berada pada kategori cukup baik. |
|
Kata kunci: Kebugaran Jasmani; Wasit dan VO2max. �� |
Pendahuluan
Seiring perkembangan
zaman dan pesatnya teknologi
yang ada diindonesia sehingga olahraga banyak melakukan perubahan (Modifikasi) baik dalam hal
pembelajaran, perangkat pertandingan, lapangan, peralatan, permainan dan cara bermain sehingga
olahraga semakin hari semakin banyak
diminati serta semakin mudah untuk
dilakukan.
Kebugaran jasmani adalah ukuran kesehatan
untuk sesorang dalam mengukur sejauh mana tingkat aktivitas jasmani serta rohani seseorang,
kebugaran jasmani mempunyai banyak komponen yang berhubungan dengan keterampilan dan kesehatan seseorang pada jenis tes kebugaran
jasmani (Husdarta,
2011). Yang terbagi
menjadi dua bagian dari mulai
keterampilan yang mempunyai
7 item tes. 1. Kecekatan 2.
Kelincahan 3. Keseimbangan
4. Koordinasi 5. Daya ledak otot 6. Reaksi
7. Kecepatan. Adapun kesehatan
yang mempunyai 4 item tes yaitu tes 1. komposisi
tubuh, 2. Kekuatan otot, 3. Fleksibilitas atau kelenturan dan 4. Daya tahan jantung
paru atau bisa disebut tes
daya tahan atau lebih dikenal
tes VO2 maks (Darmawan
& Ridwan, 2018). VO2 maks
bisa diartikan dengan volume oksigen maksimal dengan norma satuan ml/kg/menit dengan panjang
lintasan 20 meter.
VO2max adalah salah satu
aktivitas fisik yang mempunyai tensi yang cukup tinggi dengan
membebankan pada daya tahan jantung yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana kebugaran seseorang serta sejauh mana kondisi daya tahan
seseorang (Jatmiko,
2015). sehingga
dengan adanya tes maka kita
bisa melihat serta berpendapat bahwa orang yang terlihat sehat itu belum
tentu dapat dikatakan bugar� namun
orang yang terlihat bugar itu sudah dipastikan
sehat jasmani serta rohani. VO2max mempunyai batasan norma untuk seseorang
dapat dikatakan bugar. Sehingga semakin bugar seseorang
maka akan semakin baik didalam
pertandingan futsal.
Perangkat pertandingan
yang biasa dikenal referee atau lebih akrab
disebut wasit merupakan perangkat pertandingan yang sah dalam memimpin jalannya pertandingan yang ada dilapangan. yang dibuktikan dengan adanya Sk-dari asosiasi provinsi serta sk-penugasan, perangkat pertandingan berada dibawah naungan asosiasi pssi baik tingkat
kota atau kabupaten hingga provinsi bahkan nasional, termasuk perangkat pertandingan futsal
yang berada disukabumi yang
terbagi menjadi dua. Baik itu
dikota atau dikabupaten dengan jumlah keseluruhan 65 orang yang terbagi menjadi dua yaitu kota
sukabumi dengan sumber daya manusia
yang berjumlah 22 orang perangkat
pertandingan yang aktif sedangkan kabupaten sukabumi dengan sumber daya manusia
berjumlah 43 orang perangkat
pertandingan. perangkat pertandingan mempunyai sekolah tersendiri yang sering disebut kursus wasit futsal yang didalamnya mempunyai empat tahapan yang terbagi dari regional, provinsi, nasional dan internasional. Semua dilakukan secara bertahap dan mempunyai tantangan serta kesulitan yang berbeda beda. Perangkat pertandingan dituntut untuk profesional tanpa ada yang dibeda bedakan baik itu tim
atau pemain, terlepas dari tim
atau pemain yang sudah profesional.
Dan ini terlihat pada
saat pertandingan sedang berlangsung, dimana sangat tidak
jarang wasit yang memimpin pertandingan mendapat masukan serta saran bahkan pujian baik dari
komisi wasit atau dari pelatih
tim yang sedang bertanding, terlepas dari adanya kesalahan
(human eror) pada saat pertandingan sedang berlangsung baik itu dari speed, daya tahan, mental, kordinasi dan keseriusan dalam memimpin pertandingan. dan ini sering kali terjadi berualang-ulang sehingga menjadi pelajaran serta evaluasi bersama untuk kedepan
menjadi lebih baik. Menurut survei
yang dilakukan oleh Ali Sadikin
selaku komisi wasit futsal kota sukabumi dalam ajang the best futsal yang digelar
kota sukabumi bahwasannya sesuai pengamatan dan data sekitar 50% kebugaran perangkat pertandingan yang berada dibawah rata rata.
Dan ini menjadi masalah mendasar bagi penulis untuk
mengetahui penyebab masalah yang terjadi pada wasit futsal sukabumi, mengingat dari tahun ketahun adanya� peningkatan kejuaraan futsal dikota sukabumi yang berkelanjutan seperti liga futsal sukabumi yang digelar dikota atau kabupaten
sukabumi, contohnya seperti bapora cup, futsal smandak competition dan masih banyak lagi ajang
pertandingan yang lainnya, mengingat potensi wasit futsal sukabumi yang semakin berkembang baik didalam atau
diluar.
1. Kebugaran Jasmani
Tingkat kebugaran jasmani seseorang akan mempengaruhi kesiapan fisik dan mentalnya, sehingga memungkinkan mereka untuk menerima
beban kerja. Kesehatan jasmani merupakan aspek kesehatan jasmani secara menyeluruh yang memungkinkan seseorang menjalani kehidupan yang produktif tanpa menimbulkan rasa lelah dan tetap dapat melakukan aktivitas olahraga lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh (Abdurrahim
& Hariadi, 2018) yang mengemukakan
bahwa :
�Kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh melakukan kegiatan sehari-hari tanpa merasa lelah. Kebugaran
jasmani dapat diukur dengan melaksanakan
berbagai macam tes kesegaran jasmani
yang telah dibakukan dan sesuai dengan tingkat
peserta usia didik.�
Pendapat lain mengatakan bahwa kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh untuk melakukan suatu pekerjaan fisik yang dikerjakan sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang sangat berarti (Wiarto,
2013). Lebih
lanjut (Wiarto,
2013) menjelaskan
kebugaran jasmani adalah derajat sehar dinamis sesorang
yang menjadi kemampuan jasmani dasar untuk
dapat melaksanakan tugas yang harus dilaksanakan.
2.
Wasit
Menurut� (Castagna
et al., 2012) mengungkapkan
bahwa Dalam perkumpulan yang besar ditemukan hubungan antara VO2 max dengan jarak total selama pertandingan dan hubungan terbalik ditunjukan antara VO2max dan rata-rata kapasitas
aerobic dianggagap sebagai sebuah bagian dari
detak jantung maksimal.
Hal ini penting karena
lamanya pertandingan resmi dalam permainan
ini adalah 2 x 20 menit dengan waktu
murni yang artinya permainan tersebut berlangsung minimal 40 menit. Selama ini, juri
harus bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Jika juri tidak memiliki daya tahan kardiopulmoner
yang baik, ia tidak akan dapat
mencapai posisi pengambilan keputusan (sinyal) maksimal. Menurut (Vembiarto,
2016) menjelaskan
bahwa :
Wasit harus dibina dan ditingkatkan daya tahan kardiorespiratori sebelum memimpin pertandingan yang sesungguhnya, sehingga wasit siap menghadapi tekanan-tekanan yang mungkin timbul dalam pertandingan
baik berupa tekanan mental maupun tekanan fisik.
Oleh karena itu daya
tahan kardiorespiratori seorang wasit harus
dalam Kondisi yang baik untuk kesuksesan
permainan. Ini membutuhkan wasit berlisensi dan kompeten untuk meningkatkan usia atau tingkat
pengalaman wasit. Tes digunakan untuk
menentukan apakah memenuhi karakteristik FIFA untuk memungkinkan wasit terbaik memimpin
permainan. Tes ini sama untuk
mengamati perbedaan antara kedua grup
(Persatuan
Sepak Bola Seluruh Indonesia, 2012).
Wasit harus berusaha keras untuk mencapai
prestasi yang tinggi, dan untuk mencapai prestasi tersebut diperlukan persiapan yang relatif lama, salah satunya adalah mempersiapkan daya tahan kardiorespirasi
(Vembiarto,
2016) Jika wasit
mampu melakukan aktivitas yang dibebankan padanya, atau jika
dia tidak terlalu lelah, dapat dikatakan bahwa dia dalam
kondisi fisik yang baik (Sulistiyono
et al., 2018).
Menurut penelitian yang dilakukan
oleh (Prastyo,
2018) Data yang diperoleh dari PSSI Jawa Timur adalah hasil tes kebugaran
jasmani lima lawan lima
yang dilakukan selama Kursus Wasit Berlisensi
Nasional, di antaranya 18 wasit
asal Jawa Timur yang kondisi fisik dan daya tahan tubuhnya
kurang baik. Di antara 18 orang tersebut, 12
orang gagal dengan tingkat 66.67%, sedangkan hanya 6 orang yang gagal dengan tingkat 33.33% rule of the
game yang berlaku.
Metode Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2020 dilaksanakan di Lapang Bojong Kopo
dan Futsal Garuda oleh 15 wasit Kota Sukabumi dan 15 wasit Kabupaten Sukabumi yang menjadi sampel penelitian. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan sumber referensi
(Sugiyono., 2017) �(Musfiqon, 2012) (Nazir, 2014) dan teknik pengumpulan
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan pengukuran. Pada saat pengambilan informasi data diawali dengan pemanasan untuk menghindari kejadian cedera yang tidak diingikan serta arahan terkait teknis prosedure pelaksanaan multistage fitness test atau
bisa disebut Bleep Test, untuk tes hanya
diberikan satu kali kesempatan untuk tes sesuai daya
tahan tubuh terbaik pada seseorang.
Hasil dan Pembahasan
1. Hasil
Penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2020
dilaksanakan di Lapang Bojong Kopo dan Futsal Garuda oleh 15 wasit Kota
Sukabumi dan 15 wasit Kabupaten Sukabumi yang menjadi sampel penelitian.
a.
Hasil Penelitian
Kesegaran Jasmani Secara Keseluruhan
Analisis deskriptif
diketahui bahwa nilai maksimal keseluruhan kondisi kebugaran wasit Kota dan Kabupaten Sukabumi sebesar 56,8. Sedangkan untuk nilai minimal sebesar 29,8. Dari hasil deskripsi data yang sudah terkumpul kemudian dikonversikan ke dalam tabel penilaian
dan didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Klasifikasi
Tingkat Kondisi Kebugaran Wasit Kota dan Kabupaten Sukabumi
|
Interval Skor |
� Klasifikasi |
Frekuensi |
|
|
�Absolut |
Presentase (%) |
||
|
<35.0 |
Sangat kurang |
2 |
6,7 |
|
35.0 - 38.3 |
Kurang |
3 |
10 |
|
38.4 � 45.1 |
Cukup |
16 |
53,3 |
|
45.2 � 50.9 |
Baik |
3 |
10 |
|
51.0 � 55.9 |
Sangat baik |
6 |
20 |
|
Jumlah |
30 |
100 |
|
Dari hasil Tabel 1 distribusi
frekuensi klasifikasi tingkat kondisi kebugaran wasit Kota dan Kabupaten Sukabumi di atas dapat dilihat
bahwa dari tes yang telah dilakukan oleh 30 orang wasit menunjukan hasil sebagai berikut: wasit yang tingkat kebugaran berada pada klasifikasi sangat kurang sejumlah 2 orang atau dengan presentase
sebesar (6,7 %) klasifikasi
kurang sejumlah 3 orang
(10%), klasifikasi cukup baik sejumlah 16 orang (53,3%), klasifikasi baik 3 orang (10%),
dan klasifikasi sangat baik sejumlah 6 orang (20%).
Histogram distribusi frekuensi
tingkat kondisi kebugaran wasit Kota dan Kabupaten Sukabumi tersebut disajikan seperti Gambar 1 berikut ini:

Gambar 1
Histogram Distribusi Frekuensi tingkat kondisi kebugaran wasit Kota dan Kabupaten Sukabumi
1. Hasil Penelitian Kesegaran Jasmani Tingkat Kota
Analisis deskriptif diketahui
bahwa nilai maksimal kebugaran wasit Kota Sukabumi sebesar 56,8. Sedangkan untuk nilai minimal sebesar 38,2. Untuk rerata tingkat kesegaran wasit sebesar 44,93. Dari hasil deskripsi data yang sudah terkumpul kemudian dikonveksikan ke dalam tabel penilaian
dan didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Klasifikasi
Tingkat Kondisi Kebugaran Wasit Kota Sukabumi
|
Interval Skor |
Klasifikasi |
Frekuensi |
|
|
|
|
Absolut |
Presentase (%) |
|
<35.0 |
Sangat kurang |
- |
- |
|
35.0 - 38.3 |
Kurang |
1 |
6,7 |
|
38.4 � 45.1 |
Cukup |
9 |
60 |
|
45.2 � 50.9 |
Baik |
3 |
20 |
|
51.0 � 55.9 |
Sangat Baik |
2 |
13,3 |
|
Jumlah |
15 |
100 |
|
Dilihat dari hasil Tabel 2 distribusi frekuensi klasifikasi tingkat kondisi kebugaran wasit Kota Sukabumi di atas dapat dilihat dari
15 orang wasit yang mengikuti
tes lari multistage fitness test menunjukkan wasit yang tingkat kesegarannya berada pada klasifikasi tidak ada wasit
yang sangat kurang (0%), 1
orang (6,7 %) tingkat kesegaran
jasmaninya berada pada klasifikasi kurang, 9 orang (60%)
tingkat kesegarannya berada pada klasifikasi cukup baik, 3 orang (20%) yang tingkat kesegarannya berada pada klasifikasi baik, 2 orang (13,3%), dan tingkat
kesegarannya berada pada klasifikasi sangat baik.
�Daftar distribusi frekuensi klasifikasi tingkat kondisi kebugaran wasit Kota Sukabumi tersebut kemudian disajikan dalam bentuk histogram yang dapat dilihat seperti
pada Gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2Histogram Distribusi
Frekuensi tingkat kondisi kebugaran wasit Kota Sukabumi
3. Hasil Penelitian Kesegaran Jasmani Tingkat Kabupaten
Analisis deskriptif diketahui
bahwa nilai maksimal kebugaran wasit Kabupaten Sukabumi sebesar 56,8. Sedangkan untuk nilai minimal sebesar 29,8. Untuk rerata tingkat
kesegaran wasit sebesar 41,79. Dari hasil deskripsi data yang sudah terkumpul kemudian dikonveksikan ke dalam tabel penilaian
dan didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Klasifikasi
Tingkat Kondisi Kebugaran Wasit Kabupaten Sukabumi
|
Interval Skor |
Klasifikasi |
Frekuensi |
|
|
|
|
Absolut |
Presentase (%) |
|
<35.0 |
Sangat kurang |
2 |
13,3 |
|
35.0 - 38.3 |
Kurang |
2 |
13,3 |
|
38.4 � 45.1 |
Cukup |
7 |
46,7 |
|
45.2 � 50.9 |
Baik |
- |
- |
|
51.0 � 55.9 |
Sangat baik |
4 |
26,7 |
|
Jumlah |
15 |
100 |
|
Dilihat dari hasil Tabel 3 distribusi klasifikasi tingkat kondisi kebugaran wasit Kabupaten Sukabumi di atas dapat dilihat dari
15 orang wasit yang mengikuti
tes lari multistage fitness test menunjukan wasit yang tingkat kesegaran kardiorespirasinya berada pada klasifikasi sangat kurang sejumlah 2 orang (13,3%),
2 orang (13,3%) tingkat kesegaran
jasmaninya berada pada klasifikasi kurang, 7 orang
(46,7%) tingkat kesegarannya
berada pada klasifikasi cukup baik, 0 orang (0%) yang tingkat kesegarannya berada pada klasifikasi baik, dan 4 orang (26,7%) yang tingkat
kesegarannya berada pada klasifikasi. Daftar distribusi klasifikasi tingkat kondisi kebugaran wasit Kabupaten Sukabumi tersebut kemudian disajikan dalam bentuk histogram yang dapat dilihat seperti
pada �Gambar 3
di bawah ini:

Gambar 3
Histogram Distribusi
Frekuensi tingkat kondisi
kebugaran wasit Kota Sukabum
2. Pembahasan
Data hasil penelitian tingkat kondisi kebugaran wasit Kota dan Kabupaten
Sukabumi yang menggunakan tes lari multistage fitness test diperoleh skor
maksimal yang berhasil dicapai yaitu sebesar 56,8. Sedangkan untuk nilai
minimal sebesar 29,8. Data hasil penelitian juga menunjukan bahwa tingkat
kesegaran antara satu wasit dengan wasit lainnya berbeda-beda. Data hasil
capaian wasit yang telah melakukan tes lari multistage fitness test kemudian
dikonversikan menurut norma pengklasifikasian tes lari multistage fitness test
pada Tabel 2 dan Tabel 3.
Hasil pengklasifikasian data tersebut adalah 15 orang wasit Kota dan 15
orang wasit Kabupaten Sukabumi yang mengikuti tes lari multistage fitness test
guna mengetahui tingkat kesegarannya. Hasil tersebut menunjukan wasit yang
tingkat kebugaran berada pada klasifikasi sangat kurang sejumlah 2 orang atau
dengan presentase sebesar (6,7 %) klasifikasi kurang sejumlah 3 orang (10%),
klasifikasi cukup baik sejumlah 16 orang (53,3%), klasifikasi baik 3 orang
(10%), dan klasifikasi sangat baik sejumlah 6 orang (20%). Sebagian besar wasit
berada pada klasifikasi cukup baik sebanyak 16 orang dengan persentase 53,3%.
Hasil pengklasifikasian data untuk wasit Kota Sukabumi menunjukan bahwa
wasit yang tingkat kesegarannya berada pada klasifikasi tidak ada wasit yang
sangat kurang (0%), 1 orang (6,7 %) tingkat kesegaran jasmaninya berada pada
klasifikasi kurang, 9 orang (60%) tingkat kesegarannya berada pada klasifikasi
cukup baik, 3 orang (20%) yang tingkat kesegarannya berada pada klasifikasi
baik, 2 orang (13,3%), dan tingkat kesegarannya berada pada klasifikasi sangat
baik. Sebagian besar wasit Kota Sukabumi berada pada klasifikasi cukup baik
sebanyak 9 orang dengan persentase 60%.
Hasil pengklasifikasian data untuk wasit Kabupaten Sukabumi menunjukan
bahwa wasit yang tingkat kesegaran kardiorespirasinya berada pada klasifikasi
sangat kurang sejumlah 2 orang (13,3%), 2 orang (13,3%) tingkat kesegaran
jasmaninya berada pada klasifikasi kurang, 7 orang (46,7%) tingkat kesegarannya
berada pada klasifikasi cukup baik, 0 orang (0%) yang tingkat kesegarannya berada
pada klasifikasi baik, dan 4 orang (26,7%) yang tingkat kesegarannya berada
pada klasifikasi. Sebagian besar wasit berada pada klasifikasi cukup baik
sebanyak 7 orang dengan persentase 46,7%.
Dari hasil keseluruhan pembahasan dan analisis data wasit Kota dan
Kabupaten Sukabumi, dominan pada kategori cukup baik. Hal tersebut di duga
disebabkan oleh faktor yang dipengaruhi berikut : Genetik, Usia, Jenis kelamin,
Makanan, Rokok dan Kegiatan Fisik.
Kesimpulan
Data hasil penelitian tingkat kesegaran yang diperoleh
dengan pengukuran menggunakan tes lari multistage
fitness test yang diikuti oleh 30 orang wasit kota dan kabupaten sukabumi,
setelah dianalisis maka diperoleh wasit yang tingkat kesegaran
kardiorespirasinya berada pada klasifikasi sangat kurang sejumlah 2 orang atau
dengan presentase sebesar (6,7 %) klasifikasi kurang sejumlah 3 orang (10%),
klasifikasi cukup baik sejumlah 16 orang (53,3%), klasifikasi baik 3 orang
(10%), dan klasifikasi sangat baik sejumlah 6 orang (20%). Dari data diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat kesegaran wasit Kota dan Kabupaten
Sukabumi berada pada kategori cukup baik.
Bibliografi
Abdurrahim,
F., & Hariadi, I. (2018). Tingkat Kebugaran Jasmani Siswa SDNTulungrejo 03 Daerah
Dataran Tinggi Kecamatan Bumiaji Kota Batu Tahun Pelajaran 2018/2019. Indonesia
Performance Journal, 2(2), 68�73.
Castagna,
C., Bendiksen, M., Impellizzeri, F. M., & Krustrup, P. (2012). Reliability,
sensitivity and validity of the assistant referee intermittent endurance test
(ARIET)�a modified Yo-Yo IE2 test for elite soccer assistant referees. Journal
of Sports Sciences, 30(8), 767�775.
Darmawan,
G., & Ridwan, M. (2018). Daya Tahan Cardiorespiratory Wasit Futsal Level
III. BRAVO�S (Jurnal Prodi Pendidikan Jasmani & Kesehatan), 6(4),
156�159.
Husdarta.
(2011). Manajemen Pendidikan Jasmani. Alfabeta.
Jatmiko,
A. K. (2015). Pengembangan Model Latihan Kecepatan dan Daya Tahan Anaerobik
untuk Wasit Futsal PSSI Kota Malang. SKRIPSI Jurusan Ilmu Keolahragaan-Fakultas
Ilmu Keolahragaan UM.
Musfiqon.
(2012). Metodologi Penelitian Pendidikan. PT. Prestasi Pustakaraya.
Nazir,
M. (2014). Metode Penelitian Edisi ke 9. Ghalia Indonesia. Bogor.
Persatuan
Sepak Bola Seluruh Indonesia. (2012). Peraturan Organisasi. PSSI.
Prastyo,
B. W. (2018). Pengaruh Pemberian Latihan Interval Training Terhadap Peningkatan
Kebugaran Jasmani Wasit Komunitas Futsal Malang (Kfm). Jurnal Sport Science,
5(1).
Sugiyono.
(2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Alfabeta.
Sulistiyono,
S., Arjuna, F., Primasoni, N., & Nurcahyo, F. (2018). Pengaruh Model
Latihan �Kid Tsu Chu Futbol Games" Pada Karakter Siswa Sekolah Sepakbola
Realmadrid Foundation Universitas Negeri Yogyakarta. Jurnal Pendidikan
Karakter, 8(1).
Vembiarto,
E. G. (2016). Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Daya Tahan Kardiorespirasi
Wasit Sepak Bola Di Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Wiarto,
G. (2013). Fisiologi dan olahraga. Yogyakarta: Graha Ilmu.