|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 1
No. 6, Agustus 2020 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
PENINGKATAN
HASIL BELAJAR SISWA PADA SISTEM KONTROL TERPROGRAM
DAN PENGARUHNYA DENGAN
MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN CONTECTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Andri Bayuaji
SMK Negeri 1 Jamblang Kab. Cirebon, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2020 |
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas
XI Teknik Otomasi Indistri SMK Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon pada mata
pelajaran Sistem Kontrol Terprogram (SKT) melalui model pembelajaran CTL.
Model pembelajaran CTL melalui penerapan metode Play Game ini akan memberikan
solusi terhadap masalah pengajaran dengan model yang menyenangkan, aktif, dan
terfokus pada daya pikir siswa, dengan tetap memperhatikan aspek psikologi
pembelajaran dan psikologi perkembangan siswa. Salah
satu indikator keberhasilan proses pembelajaran
di sekolah dapat dilihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa. Dalam pembelajaran standar kompetensi Sistem Kontrol Terprogram merupakan
bahan ajar yang digunakan
sebagai panduan teori dan praktikum siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk membentuk salah satu bagian dari
kompetensi bidang keahlian Teknik Ketenagalistrikan pada paket keahlian Teknik Otomasi Industri (TOI). Berdasarkan hasil
observasi tanggal 2 Agustus 2018 diperoleh hasil belajar siswa yang masih rendah yakni 40% siswa masih mendapat nilai di bawah KKM. Hal ini menjadi pertimbangan
akan pentingnya pemilihan metode pembelajaran yang tepat agar siswa lebih mudah
dalam memahami materi. Jenis penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas dengan menggunakan Model pembelajaran CTL melalui metode Play Games. Prosedur penelitian ini merupakan siklus kegiatan yang terdiri dari dua siklus,
di mana setiap
siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa
kelas XI TOI-1 SMK N 1
Jamblang tahun ajaran 2018/2019. Instrumen pengumpulan data terdiri dalam penelitian ini adalah soal
evaluasi di setiap akhir siklus dan lembar observasi aktivitas siswa pada pembelajaran Sistem Kontrol Terprogram. Dalam Penelitian data dikumpulkan
melalui observasi guru, siswa dan catatan penelitian. Hasil penelitian
menunjukkan nilai rata-rata sebelum tindakan penelitian 40%, dan rata-rata
sesudah tindakan sebesar 80%. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan
kemampuan siswa untuk mengemukakan pendapat, keberanian bertanya dan
kemampuan membuat kesimpulan pada siswa SMK N 1 jamblang sebesar 40%. |
|
Kata kunci: Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL); Peningkatan Hasil Belajar dan Sistem Kontrol
Terprogram |
Pendahuluan
Banyak faktor yang mendorong keberhasilan siswa
untuk membentuk semangat maupun prestasi belajar dalam proses belajar,
indikator keberhasilan ini� diantaranya
ditandai dengan bagaimana cara guru dalam menyampaikan materi pembelajaran
dengan menciptakan suatu suasana belajar yang dapat memberikan semangat, atau
antusias siswa yang baik. Sehingga dengan semangat tersebut diharapkan dapat
merubah kejenuhan yang seringkali terjadi didalam kelas. �Sutrisno & Siswanto ( 2016) menjelaskan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari persepsi penguasaan
metode mengajar praktik guru, persepsi media pembelajaran, dan motivasi belajar siswa secara
bersama-sama terhadap hasil belajar pembelajaran
praktik kelistrikan otomotif.
Menurut (Tae et al., 2019) keberhasilan dalam proses pembelajaran sains tergantung pada aspek-aspek yang ada di dalamnya meliputi kolaborasi yang baik antara siswa
dan guru, manajemen diri, metode yang digunakan dalam pembelajaran, strategi evaluasi yang diterapkan, juga faktor-faktor ekternal yang secara tidak langsung menjadi penentu keberhasilan pembelajaran seperti konteks budaya, sosial, dan lingkungan dimana individu tersebut tumbuh dan berkembang.
Prestasi belajar siswa, semangat, serta motivasi itu
sangat penting, karena hal tersebut syarat mutlak belajar, jangan sampai siswa
sering mengalami kejenuhan karena itu merupakan suatu hambatan. Tugas guru
dalam mengatasi rasa kejenuhan bagi siswa itu sangat penting. Adapun penyebab
kejenuhan tersebut antara lain pembelajaran yang disampaikan guru monoton dan
konvensional sehingga siswa merasa bosan dengan penyampaian tersebut. penelitian (Estiayuningtias, 2020) juga
menambahkan bahwa tingginya beban pembelajaran, aturan sekolah, ketidaksiapan dalam menerima pelajaran serta lingkungan yang tidak nyaman juga merupakan salah satu bagian pemicu
terjadinya stres pada siswa.
Berdasarkan�
banyak temuan bahwa selama ini proses belajar mengajar di hampir semua
sekolah kurang menumbuhkan keaktifan dan kesenangan siswa dalam belajar,
akibatnya materi yang disampaikan tidak dapat dipahami dengan baik. Penggunakan �model ceramah langsung dan juga rendahnya penggunaan media pembelajaran dapat menurunkan kualitas� proses pembelajaran. Selama proses pembelajaran guru hanya menggunakan Lembar Kerja Siswa dan buku mata pelajaran sebagai media yang digunakan dalam pembelajaran, sehingga siswa hanya tertuju pada guru serta buku yang mereka miliki. Untuk meningkatkan
hasil belajar peserta didik tidak
cukup hanya menggunakan model ceramah langsung saja, akan tetapi
perlu diadakan inovasi model pembelajaran dan
juga media untuk meningkatkan
hasil belajar peserta didik.
Berdasarkan�
uraian di atas, penulis merasa tertarik menerapkan Model
Pembelajaran Contextual Teaching And
Learning�� (CTL) untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa. Melalui model CTL ini akan memberikan
solusi terhadap masalah pengajaran dengan model yang menyenangkan, aktif, dan
terfokus pada daya pikir anak, dengan tetap memperhatikan aspek psikologi
pembelajaran dan psikologi perkembangan anak.
Menurut (Amalia & Rasiman, 2019) model pembelajaran CTL merupakan proses
pembelajaran yang bertujuan
untuk membantu siswa dalam berkarya,
mengaplikasikan pengetahuan
dengan menghubungkan pelajaran dalam konteks kehidupan nyata. Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan model pembelajaran yang
mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan siswa (Cahyani, 2019) Pembelajaran
CTL merupakan suatu proses belajar yang holistik, bertujuan membantu peserta
didik untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajari dengan mengkaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan peserta didik sehari-hari (konteks
pribadi, sosial dan kultural). Dengan demikian, mereka memiliki
pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer)
dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya.
Salah satu Model Pembelajaran CTL yang digunakan
adalah Metode Play Game dalam bentuk Permainan Bola Salju (Snowball Throwing).
Metode ini lebih variatif dan lebih menyenangkan siswa dibandingkan� metode ceramah� (konvensional). Pada metode ini guru perlu
mengkondisikan dan mempersiapkan materi pembelajaran sesuai dengan tujuan
pembelajaran, dan mengkaitkannya dengan realitas
dan kebenaran (konstruktivisme).
Snowball Throwing dapat
diartikan sebagai metode pembelajaran yang menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung bulat berbentuk bola kemudian dilemparkan secara bergiliran di antara sesama anggota kelompok. Snowball Throwing merupakan
salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Dalam Snowball Throwing, guru berusaha
memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan keterampilan menyimpulkan isi berita atau informasi
yang mereka peroleh. Guru
juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui
pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah baik sosial,
sains, hitungan, dan lingkungan pergaulan (Sudana, 2019).
Model bola salju bergulir atau snowball throwing merupakan salah satu variasi atau tipe
dari pembelajaran kooperatif yang mengadopsi permainan fisik yaitu menggunakan kertas yang dibentuk menyerupai bola kemudian secara bergiliran dilemparkan kepada sesama anggota kelompok untuk menjawab pertanyaan (Mbudja et al., 2019).
Metode� Snowball� Throwing adalah
merupakan metode dengan cara bermain
namun tetap menekankan pada pemahaman� materi belajar siswa. Snowball Throwing adalah
salah satu metode pembelajaran�� kooperatif yang menyenangkan.
Model pembelajaran ini adalah dengan membagi
siswa di dalam kelas menjadi beberapa
kelompok dan menuntut siswa untuk aktif
dalam proses pembelajarannya.
Metode pembelajaran ini melatih siswa
untuk lebih tanggap menerima pesan dari siswa
lain dalam bentuk bola salju yang terbuat dari kertas, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Dalam model pembelajaran ini bermanfaat untuk meningkatkan hasil belajar siswa
karena lebih komunikatif, sistem belajar dua arah
yaitu guru dan siswa sama-sama aktif terlibat didalamnya dan juga pembelajaran ini lebih menyenangkan ketimbang model pembelajaran konvensional dimana model ini lebih melatih
kesiapan siswa, saling memberikan pengetahuan antar siswa. Dengan demikian seluruh siswa dapat berpartisipasi� dalam proses
belajar mengajar yang berlangsung. Siswa dituntut untuk mampu membuat dan memberikan pertanyaan, hal ini mampu
meningkatkan minat belajar dan kreativitas siswa yang mendukung pendalaman materi dari siswa.
Langkah awal yang dilakukan pada saat proses pembelajaran adalah penyampaian pokok materi pembelajaran. Langkah kedua adalah �guru kemudian menyuruh murid untuk membuat kelompokkelompok kecil yang beranggotakan 5-6 siswa. Setiap kelompok
harus memiliki ketua kelompok yang dipilih berdasarkan musyawarah anggota kelompoknya. Guru kemudian memanggil ketua kelompok dari masing-masing
kelompok yang telah dibentuk untuk memberikan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan. Semua ketua kelompok
kembali ke kelompoknya masing-masing dan menjelaskan apa yang telah disampaikan oleh guru kepada anggota kelompoknya. Pada langkah ini siswa dilatih
agar mampu memberikan informasi yang didapat kepada orang lain secara jelas. Guru kemudian memberikan satu lembar kertas kepada
setiap siswa dan menyuruh setiap siswa untuk membuat
satu buah pertanyaan yang berkaian dengan pokok materi
yang telah dijelaskan pada langkah pertama. Setelah siswa membuat satu
buah pertanyaan, siswa diwajibkan untuk membentuk bola salju dari kertas
yang tertulis sebuah pertanyaan tersebut. Disini siswa dituntut
untuk kreatif dalam membuat sebuah
pertanyaan. Guru kemudian menyuruh siswa untuk melempar bola salju tersebut ke anggota kelompok
lainnya. Langkah ini merupakan ciri khas model pembelajaran Snowball
Throwing dimana adanya kegiatan melempar bola salju. Dalam waktu
sekitar 3 menit, setiap siswa harus
mendapatkan satu buah bola salju yang berisi pertanyaan tersebut. Siswa kemudian diberi waktu untuk berdiskusi
bersama anggota kelompoknya untuk menjawab pertanyaan yang diperolehnya. Dalam waktu yang telah ditentukan guru menunjuk satu persatu siswa
untuk menjawab pertanyaan yang ada pada bola salju miliknya. Di akhir kegiatan pembelajaran guru serta siswa bersama- sama menyimpulkan materi pembelajaran (Gustomo, 2015).
Metode Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini lokasinya dilaksanakan
di kelas XI TOI-1 SMK Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon semester tiga tahun
2018/2019 dengan jumlah siswa 34 orang di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1
Jamblang yang berlokasi di Jalan Nyi Mas Rara Kerta Desa Sitiwinangun Kecamatan
Jamblang Kabupaten Cirebon. Penelitian yang telah dilakukan ini merupakan
penelitian dengan rancangan control
group pre-test post-test dengan menggunakan 1 kelas yang terdari dua siklus. Siklus pertama dinamakan kelas�
kontrol�
dan siklus kedua
dinamakan kelas eksperimen.� Penelitian ini menggunakan tiga tahap dalam
pelaksanaannya, yaitu analisis kemampuan awal dengan memberikan
pre-test, perlakuan terhadap
kelas, dan post-test untuk kedua sampel. Pengumpulan data dalam penelitian
tindakan kelas ini dilakukan dengan cara Melakukan pre
test dan post
test pada seluruh
siswa untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep siswa. Data
dianalisis secara deskriptif dan dicari prosentase perbedaannya.
Hasil dan Pembahasan
Siklus�
pertama �adalah�
�memberikan� �perlakuan�
�kepada��
kelas kontrol menggunakan model
pembelajaran ceramah, tahapan penelitian dimulai� �dengan�
�pretest,� �perlakuan�
�dan� �posttest.� �Dengan demikian maka yang dilakukan siklus pertama adalah pretest��
berikut adalah
daftar nilai
pretest untuk kelas penelitian yaitu
kelas
control.
Tabel 1
Nilai Pretest Kelas Kontrol
|
Kode Siswa |
NamaSiswa |
Nilai |
Ket |
|
KT-01. |
ADHI SWASONO |
70 |
|
|
KT -02. |
AFINAS JULIYANTO |
75 |
|
|
KT -03. |
AGUNG PRANOTO |
65 |
|
|
KT -04. |
AGUS HARTONO |
55 |
|
|
KT -05. |
AGUS SUMARNA |
55 |
|
|
KT -06. |
AHMAD SUNARYO |
50 |
|
|
KT -07. |
AKHMAD KHUMAIDI |
55 |
|
|
KT -08. |
ALDI GUNAWAN |
60 |
|
|
KT -09. |
ANDHIKA YUMA
BROHIM |
50 |
|
|
KT -10. |
ANDRE JIHAD |
70 |
|
|
KT -11. |
ARYADI MELIYANTO |
60 |
|
|
KT -12. |
AZI KUSUMA |
50 |
|
|
KT -13. |
DHIMAS HADIE
WINATA |
75 |
|
|
KT -14. |
DIDI RUSMADI |
60 |
|
|
KT -15. |
EKA PUSPITA |
65 |
|
|
KT -16. |
FACHRI KOESNADI |
65 |
|
|
KT -17. |
FAJAR ISMA'I |
50 |
|
|
KT -18. |
FEBRI BAGUS
SUBASTIAN |
50 |
|
|
KT -19. |
FIRDAN FAUZI |
60 |
|
|
KT -20. |
GUS KHAKIM |
70 |
|
|
KT -21. |
KAERUL MUARIP |
60 |
|
|
KT -22. |
KURNIAWAN |
55 |
|
|
KT -23. |
MELINA NABILA
SARI |
50 |
|
|
KT -24. |
MOCHAMAD IKBAL |
55 |
|
|
KT -25. |
MOHAMAD ISRO
NURROJAB |
65 |
|
|
KT -26. |
MUHAMAD MUNIRUDIN |
55 |
|
|
KT -27. |
MUHAMMAD ALDI
AZIZ |
60 |
|
|
KT -28. |
MUSTOFA |
75 |
|
|
KT -29. |
NATA SUKMA |
65 |
|
|
KT -30. |
NUR KHOLIFAH |
60 |
|
|
KT- 31. |
REZA ANGGARA |
70 |
|
|
KT -32. |
SAFITRI |
65 |
|
|
KT -33. |
SAHRIL NABAWI |
60 |
|
|
KT -34. |
SHULHAN RASHIF
BAIHAQI |
55 |
|
Berikutnya� �adalah� �memberikan perlakuan� �kepada�� siklus �kedua yaitu yang dinamakan kelas eksperimen menggunakan metode play game. Setelah diadakan perlakuan maka diadakan posttest pada masing-masing kelas dengan soal posttest yang telah diuji sebelumnya. Berikut adalah hasil posttest dari perlakuan yang telah di dapat.
Tabel 2
Tabel Nilai Post-Test
Kelas Eksperimen
|
Kode Siswa |
Nama Siswa |
Nilai |
Ket |
|
EK-01. |
ADHI SWASONO |
90 |
|
|
EK-02. |
AFINAS JULIYANTO |
80 |
|
|
EK-03. |
AGUNG PRANOTO |
75 |
|
|
EK-04. |
AGUS HARTONO |
75 |
|
|
EK-05. |
AGUS SUMARNA |
85 |
|
|
EK-06. |
AHMAD SUNARYO |
75 |
|
|
EK-07. |
AKHMAD KHUMAIDI |
85 |
|
|
EK-08. |
ALDI GUNAWAN |
90 |
|
|
EK-09. |
ANDHIKA YUMA BROHIM |
75 |
|
|
EK-10. |
ANDRE JIHAD |
80 |
|
|
EK-11. |
ARYADI MELIYANTO |
75 |
|
|
EK-12. |
AZI KUSUMA |
85 |
|
|
EK-13. |
DHIMAS HADIE
WINATA |
75 |
|
|
EK-14. |
DIDI RUSMADI |
80 |
|
|
EK-15. |
EKA PUSPITA |
80 |
|
|
EK-16. |
FACHRI KOESNADI |
90 |
|
|
EK-17. |
FAJAR ISMA'I |
90 |
|
|
EK-18. |
FEBRI BAGUS
SUBASTIAN |
85 |
|
|
EK-19. |
FIRDAN FAUZI |
70 |
|
|
EK-20. |
GUS KHAKIM |
90 |
|
|
EK-21. |
KAERUL MUARIP |
85 |
|
|
EK-22. |
KURNIAWAN |
65 |
|
|
EK-23. |
MELINA NABILA
SARI |
95 |
|
|
EK-24. |
MOCHAMAD IKBAL |
95 |
|
|
EK-25. |
MOHAMAD ISRO
NURROJAB |
85 |
|
|
EK-26. |
MUHAMAD MUNIRUDIN |
85 |
|
|
EK-27. |
MUHAMMAD ALDI
AZIZ |
70 |
|
|
EK-28. |
MUSTOFA |
70 |
|
|
EK -29. |
NATA SUKMA |
95 |
|
|
EK -30. |
NUR KHOLIFAH |
65 |
|
|
EK -31. |
REZA ANGGARA |
80 |
|
|
EK -32. |
SAFITRI |
80 |
|
|
EK -33. |
SAHRIL NABAWI |
65 |
|
|
EK-34. |
SHULHAN RASHIF
BAIHAQI |
75 |
|
Tabel 1 dan tabel 2 adalah tabel hasil dari masing-masing
sampel baik sebelum perlakuan (siklus pertama) maupun sesudah perlakuan (siklus kedua). Berikut adalah tabel yang menyajikan
perbedaan sebelum perlakuan
dan
sesudah perlakuan:
Tabel 3
Tabel Perbandingan Pretest
Dan Posttest
|
Kelas |
perlakuan |
Jumlah siswa |
Nilai Minimum |
Nilai Maksimum |
Rata- Rata |
|
Kontrol |
Pretest |
34 |
45 |
70 |
60.44 |
|
Eksperimen |
Postest |
34 |
65 |
95 |
80.59 |
Adapun data tentang minat siswa, berdasarkan data yang diperoleh dari pretest dan �postetst maka peningkatan minat siswa dilihat dari kenaikan persentase dari�
pretest �ke� posttest.
�Berikut adalah tabel
peningkatan hasil untuk kelas kontrol
(Siklus pertama).
Tabel 4
Tabel Rekap
Kenaikan
Minat
Kelas Kontrol
|
No. |
kode siswa |
PRETEST |
POSTTES |
||
|
Skor% |
minat |
Skor% |
minat |
||
|
|
KT-01 |
45% |
Cukup minat |
53% |
minat |
|
|
KT-02 |
50% |
Cukup minat |
52% |
Minat |
|
|
KT-03 |
48% |
Cukup minat |
48% |
|
|
|
KT-04 |
45% |
Cukup minat |
47% |
|
|
|
KT-05 |
47% |
Cukup minat |
48% |
|
|
|
KT-06 |
48% |
Cukup minat |
48% |
|
|
|
KT-07 |
42 % |
Cukup minat |
42% |
|
|
|
KT-
08 |
48% |
Cukup minat |
48% |
|
|
|
KT-
09 |
50% |
Cukup minat |
53% |
|
|
|
KT-
10 |
48% |
Cukup minat |
48% |
|
|
|
KT-
11 |
50% |
Cukup minat |
50% |
|
|
|
KT-
12 |
48% |
Cukup minat |
47% |
|
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan�
pembahasan di atas, diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan Model
Pembelajaran CTL melalui Metode Play Game dalam Pembelajaran Sistem Kontrol
Terprogram� dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa. Hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya kenaikan rata-rata pada
siklus kedua (kelas eksperimen) sebelum perlakuan sebesar 50% dan setelah perlakuan 70% dimana kenaikannya mencapai 20%. Pada
Siklus pertama (Kelas control) �yang menggunakan �model �pembelajaran ceramah hanya mengalami
kenaikan sebesar 3% dimana sebelum perlakuan minat kelas berada �pada angka 47% �dan �setelah perlakuan 50%.��� Hasil
tersebut menunjukkan bahwa metode play game dapat meningkatkan� minat� lebih� tinggi� daripada� yang� menggunakan� model konvensional atau ceramah.
Bibliografi
Amalia,
Y., & Rasiman, R. (2019). Pengaruh Model CTL (Contextual Teaching Learning)
dengan Media Pohon Hitung terhadap Hasil Belajar Materi Operasi Hitung. International
Journal of Elementary Education, 3(2), 186�193.
Cahyani,
R. D. (2019). Efektivitas Contextual Teaching And Learning Terhadap Kemampuan
Komunikasi Matematis Dan Self-Confidence. Jurnal Pengembangan Pembelajaran
Matematika, 1(1).
Estiayuningtias,
E. (2020). Hubungan Stres Dengan Tingkat Kecanduan Game Online Pada Siswa
Smpn 5 Padang. Universitas Andalas.
Gustomo,
A. (2015). Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa pada Kompetensi Memperbaiki Unit Kopling dan
Komponen-komponen Sistem Pengoperasian. Jurnal Pendidikan Teknik Mesin, 15(2).
Mbudja,
A. P., Walujo, D. A., & Sugito, S. (2019). Efektivitas hasil belajar IPS
melalui penggunaan model pembelajaran snowball throwing pada siswa kelas IV SDN
Ende 5 dan SDI Ende 10. Premiere Educandum: Jurnal Pendidikan Dasar Dan
Pembelajaran, 9(2), 82�90.
Sudana,
I. M. (2019). Penggunaan Model Pembelajaran Snowball Throwing Sebagai Upaya
Meningkatkan Prestasi Belajar Agama Hindu. Jurnal Ilmiah Pendidikan Profesi
Guru, 2(1), 32�40.
Sutrisno,
V. L. P., & Siswanto, B. T. (2016). Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar siswa pada pembelajaran praktik kelistrikan otomotif SMK di Kota
Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Vokasi, 6(1), 111�120.
Tae,
L. F., Ramdani, Z., & Shidiq, G. A. (2019). Analisis tematik faktor-faktor
yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam pembelajaran sains. Indonesian
Journal of Educational Assesment, 2(1), 79.