|
Jurnal
Syntax Transformation |
Vol. 1
No. 6, Agustus 2020 |
|
p-ISSN :
2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 |
Sosial
Sains |
EFEKTIVITAS SIMULASI TERHADAP
PENGUATAN KOMPETENSI GURU DALAM KOMUNIKASI PEMBELAJARAN
Arsad
Kepala MTs Riyadul �Ulum Bandengan
Cirebon, Indonesia
Email: [email protected]
|
INFO ARTIKEL |
ABSTRAK |
|
Diterima 2 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 15 Agustus 2020 Diterima dalam bentuk revisi 20 Agustus 2020 |
Tugas pokok guru adalah melaksanakan perencanaan pembelajaran,
proses pembelajaran, dan penilaian
hasil belajar. Dalam pelaksanaan pembelajaran dibutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik agar pembelajaran di kelas menjadi efektif dan bermakna.� Dari hasil penilaian kinerja guru di
madrasah, kompetensi guru dalam
komunikasi dengan peserta didik masih kurang. Dari 10 guru yang
dinilai kinerjanya (berdasarkan instrumen PKG) diperoleh hasil 25% baik, 20% cukup baik, dan 55% kurang. Dari data
tersebut sebagai kepala madrasah akan melakukan perbaikan melalui kegiatan simulasi yang dikemas dalam penelitian tindakan sekolah. Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam berkomunikasi dapat ditempuh melalui pelatihan dan simulasi. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen.
Desain penelitian yang digunakan
adalah Pre-Experimental Design dengan
model desain One-Group Pretest-Posttest Design. Digunakan desain ini karena terdapat
pretest sebelum diberi perlakuan, hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat karena dapat dibandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Populasi dalam penelitian ini adalah guru yang telah bersertifikasi. Sampel menggunakan sampel jenuh.� Teknik pengambilan
data menggunakan lembar observasi unjuk kerja. Teknik analisis data
yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif. Berdasarkan
data pretest/PKG dan posttest (pasca simulasi) dapat disimpulkan sebagai berikut; 1) Kemampuan guru dalam komunuikasi pembelajaran sebelum dilaksanakan simulasi nilai minimum 6
dan maksimum 9, rata-rata skor
7,7 dengan standar deviasi 0,8; Kemampuan guru
dalam komunuikasi pembelajaran setelah dilaksanakan simulasi� menunjukkan skor minimum 7, skor maksimum 12,�
rata-rata skor 10 dengan
standar deviasi 1,3; dan Nilai probabilitas
atau sig (2-tailed) sebesar
0,000 <0,05, artinya terdapat
perbedaan yang siginifikan
kemampuan guru dalam komunikasi pembelajaran sebelum dan sesudah dilaksanakan kegiatan simulasi. |
|
Kata kunci: Kompetensi Guru; Komunikasi Pembelajaran dan Efektivitas Simulasi. |
Pendahuluan
��������� Public
speaking
dalam bidang apapun menempati posisi yang strategis. Seorang front liner, juru bicara, dan public relationship wajib menguasai dan
memahami komunikasi pubik, begitu juga guru. Dalam proses pembelajaran,
komunikasi akan menjadi penentu keberhasilan seorang guru dalam mengajar.
Dalam proses belajar-mengajar, komunikasi bukan sekedar penting
atau tidak, tetapi komunikasi yang bagaimana (how to) yang memberikan pengaruh baik, bukan hanya pada
efektifitas pengajaran, kemampuan anak didik untuk mengerti tetapi komunikasi
yang akan berdampak baik pada sikap, perilaku, mental dan cara berpikir di masa
depan anak-anak peserta didik.
��������� Komunikasi merupakan seni penyampaian informasi (pesan,
ide, sikap, atau gagasan) dari komunikator atau penyampaian berita, untuk
mengubah serta membentuk perilaku komunikasi atau penerima berita (pola, sikap,
pandangan, dan pemahamannya), kelola dan pemahaman yang dikehendaki bersama (Suprapto,
2018).
��������� Komunikasi merupakan sarana
menampilkan pesan, mengekspresikan diri, serta mempengaruhi orang lain (Pratiwi
& Nasruddin, 2019) Secara sederhana komunikasi dapat
kita artikan sebagai proses seseorang menyampaikan sesuatu yang bermakna dan
menginginkan sipenerima mengerti dengan apa yang disampaikannya. (Said et
al., 2017) menyatakan bahwa proses
komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian fikiran atau perasaan oleh
seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).�
��������� Pada proses yang berlangsung biasanya komunikasi menjadi
bermasalah karena perbedaan dalam menginterpretasikan pesan
pada komunikasi yang terjadi. Proses inilah yang kemudian berdampak pada
efektif tidaknya komunikasi seseorang. Secara umum komunikasi yang efektif
adalah komunikasi yang mampu menyampaikan ide dan gagasan atau makna yang ingin
dikomunikasi dengan nilai yang sama antara si pemberi dan penerima pesan.
��������� Metode komunikasi digunakan agar komunikasi antar manusia
terjalin secara efektif. Pengertian metode adalah suatu cara yang digunakan
untuk melakukan sesuatu hal. Metode komunikasi sering kali dikenal dengan
teknik komunikasi, yaitu cara yang digunakan dalam menyampaikan informasi dari
komunikator ke komunikan dengan media tertentu (Wisman,
2017). Komunikasi yang efektif sangat penting bagi proses belajar
mengajar, karena sebagai proses dimana keberadaan anak didik dengan beragam
budaya, latarbelakang keluarga dan perbedaan cara pandang serta kestabilan diri
yang masih rentan akan menentukan keberhasilan komunikasi itu sendiri.
Keberhasilan komunikasi dalam proses belajar mengajar tidak hanya ditentukan
oleh pihak pengajar (guru) tetapi juga kondisi kesiapan mental anak dalam
proses komunikasi belajar-mengajar, disamping juga akan didukung oleh
pengkondisian lingkungan dan manajemen sekolah itu sendiri.
��������� Sementara itu, komunikasi yang baik adalah komunikasi yang
memiliki perencanaan yang matang pula. Misalnya kalau di lingkup pendidikan
yaitu dengan adanya aturan-aturan yang mengikat peserta didik. Aturan di sini
adalah berusaha memahamkan peserta didik terkait kedisiplinan. Disiplin yang
diidealkan pendidik dapat diwujudkan dengan penerapan aturan sehingga terjalin
komunikasi secara tidak langsung (Saidur et
al., 2017).
��������� Ada beberapa komponen-komponen penting yang menentukan
keberhasilan komunikasi dalam proses belajar mengajar, yaitu pertama guru
sebagai komunikan dan sumber yang menyampaikan informasi tertentu kepada
anak didik. Kedua pengkodean (Encoding) adalah pengirim
mengkodean informasi yang akan disampaikan ke dalam symbol atau isyarat. Ketiga
pesan (massage), pesan dapat dalam segala bentuk biasanya dapat dirasakan
atau dimengerti satu atau lebih dari indra penerima. Keempat saluran
(chanel) adalah cara mentrasmisikan pesan, misal kertas untuk surat, udara
untuk kata-kata yang diucapkan dan kelima adalah peserta didik sebagai penerima
(recaiver) yakni orang yang menafsirkan pesan penerima, jika pesan tidak
disampaikan kepada penerima maka komunikasi tidak akan terjadi. Penafsiran
kode (decoding) adalah proses dimana penerima menafsirkan pesan dan
menterjemahkan menjadi informasi yang berarti baginya. Jika semakin tepat
penafsiran penerima terhadap pesan yang dimaksudkan oleh penerima, Maka semakin
efektif komunikasi yang terjadi. Umpan balik
(feedback) adalah pembalikan dari proses komunikasi dimana
reaksi komunikasi pengirim dinyatakan.
��������� Proses sederhana di atas, menjadi tidak sederhana pada
prakteknya karena adanya gangguan pada massage dan chanel
yang terbentuk terkadang menimbulkan distorsi yang penyebabnya sangat beragam
dan sangat subjektif. Misalnya hanya karena seorang peserta didik tidak
suka pada cara gurunya tersenyum, mungkin saja kemudian berdampak pada semua
komunikasi yang terjadi antara si guru dan peserta didiknya menjadi hambar dan
distorsi makna kemana-mana.
��������� Ada banyak guru dalam aktifitas yang sama setiap saat,
yakni mengajar di depan kelas. Diantara sekian banyak guru mungkin hanya
beberapa dimata para peserta didik yang tergolong guru yang menyenangkan, guru
yang diidolakan dan senantiasa membuat sang peserta didik ingin diajarkan sang
guru tersebut. Kekuatan seorang guru dalam pengajaran sangat dipengaruhi
oleh komunikasi efektif yang dipraktikkan di kelas-kelas. Peserta didik
begitu asik dengan setiap kata dan cerita yang dikembangkan sang guru. Peserta
seperti tersirap dalam alunan melodi indah yang mengasikkan. Disaat seperti ini
maka pengajaran apapun yang disampaikan sang guru, peserta didik memiliki
kemudahan untuk menangkapnya.
��������� Komunikasi yang mampu menciptakan persamaan makna dan rasa
yang sama antara guru dan peserta didik yang mengantarkan situasi tersebut.
Problem utama komunikasi demikian tidak bisa dipelajari dengan ilmu dan logika,
kemampuan tersebut hasil olah dan kreasi mental dan keterampilan berkomunikasi
guru yang telah ditempa bertahun-tahun.
��������� Dari hasil penilaian kinerja guru di madrasah, kompetensi
guru dalam komunikasi dengan peserta didik masih kurang. Dari 10 guru yang
dinilai kinerjanya (berdasarkan instrumen PKG) diperoleh hasil 25% baik, 20%
cukup baik, dan 55% kurang. Dari data tersebut sebagai kepala madrasah� akan melakukan perbaikan melalui kegiatan
simulasi� yang dikemas dalam penelitian
tindakan sekolah .
��������� Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam berkomunikasi dapat
ditempuh melalui pelatihan dan simulasi. Pelatihan adalah sebuah proses untuk
meningkatkan kompetensi karyawan dan dapat melatih kemampuan, keterampilan,
keahlian dan pengetahuan karyawan guna melaksanakan pekerjaan secara
efektifitas dan efesien untuk mencapai tujuan disuatu perusahaan (Haryati,
2019).
��������� Pelatihan merupakan kegiatan yang menitikberatkan pada
peningkatan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan (Hasan,
2018) Salah satu model pelatihan
adalah simulasi. Model simulasi adalah salah satu model yang meminta siapa saja
yang terlibat dalam strategi tersebut untuk menganggap dirinya sebagai orang
lain yang tujuannya adalah untuk mempelajari bagaimana orang lain bertindak dan
merasakan (YO, 2016) Dalam artikel ini
dideskripsikan bagaimana simulasi sebagai sebuah tindakan dilakukan untuk
meningkatkan keterampilan guru dalam komunikasi pembelajaran.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan
pada penelitian ini adalah eksperimen. Menurut (Sugiyono,
2012) metode penelitian
eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa penelitian eksperimen selalu dilakukan dengan memberikan perlakuan terhadap subyek penelitian kemudian melihat pengaruh dari perlakuan
tersebut. Desain penelitian
yang digunakan adalah
Pre-Experimental Design dengan model desain One-Group Pretest-Posttest Design. Digunakan desain ini karena terdapat
pretest sebelum diberi perlakuan, hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat karena dapat
dibandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Riyadul �Ulum Bandengan Cirebon. Populasi dalam penelitian ini adalah guru yang telah bersertifikasi berjumlah 10
orang. Sampel menggunakan sampel jenuh.� Teknik pengambilan
data menggunakan lembar observasi unjuk kerja. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif. Aspek perbedaan hasil menggunakan analisis statistik uji t dengan memenuhi prasyarat uji normalitas dan homogenitas (Barnawi
dan Supardi, 2019).
Hasil dan Pembahasan
��������� Hasil penelitian ini ada dua
yakni hasil Penilaian Kinerja Guru dan hasil unjuk kerja guru setelah dilaksanakan kegiatan pelatihan model simulasi. Kemampuan guru dalam komunikasi pembelajaran sebelum dilakukan tindakan simulasi tentang komunikasi dalam pembelajaran diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 1
Hasil PKG sebelum
Simulasi
|
Responden |
Skor
Tiap Indikator |
Jum lah |
|||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
||
|
R1 |
1 |
2 |
1 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
R2 |
2 |
1 |
2 |
1 |
1 |
2 |
9 |
|
R3 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
1 |
8 |
|
R4 |
1 |
1 |
2 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
R5 |
1 |
1 |
1 |
1 |
2 |
2 |
8 |
|
R6 |
1 |
2 |
2 |
1 |
1 |
1 |
8 |
|
R7 |
1 |
2 |
1 |
1 |
1 |
1 |
7 |
|
R8 |
1 |
1 |
2 |
2 |
1 |
1 |
8 |
|
R9 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
2 |
7 |
|
R10 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
1 |
6 |
��������� Data tersebut kemudian
diolah dengan menggunakan SPSS sebagai berikut:
Tabel 2
Hasil Analisis
Data PKG sebelum Simulasi

��������� Tabel di atas menunjukkan
nilai minimum 6 dan maksimum
9, rata-rata skor 7,7 dengan
standar deviasi 0,8. �Setelah diketahui hasil pretest selanjutnya dilaksanakan kegiatan simulasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama 16 JP (10 dan
11 Agustus 2020) dengan materi teknik komunikasi
dalam pembelajaran. Kegiatan simulasi diisi oleh peneliti dan dua orang rekan kepala madrasah. Setelah dilaksanakan
kegiatan dihari berikutnya dilaksanakan posttest
dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 3
Hasil Post Test
|
Responden |
Skor
Tiap Indikator |
Jumlah |
|||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
||
|
R1 |
1 |
2 |
1 |
2 |
2 |
2 |
10 |
|
R2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
2 |
11 |
|
R3 |
1 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
10 |
|
R4 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
1 |
11 |
|
R5 |
2 |
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
10 |
|
R6 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
2 |
12 |
|
R7 |
1 |
2 |
2 |
1 |
2 |
2 |
10 |
|
R8 |
2 |
1 |
2 |
2 |
1 |
2 |
10 |
|
R9 |
1 |
2 |
1 |
1 |
2 |
2 |
9 |
|
R10 |
1 |
2 |
1 |
1 |
1 |
1 |
7 |
Data tersebut kemudian diolah
dengan menggunakan SPSS sebagai berikut:
Tabel 4
Analisis Data Post Test

Tabel di atas menunjukkan
skor minimum 7, skor maksimum 12, rata-rata skor 10 dengan standar deviasi 1,3. Untuk mengukur apakah terdapat perbedaan antara pretest (hasil PKG)
dan posttest (pasca simulasi)
maka dilakukan uji t yang didahului dengan uji normalitas dan uji homogenitas
data.
1.
Uji Normalitas
Tabel 5.
Uji Normalitas Data Pre Test dan Post Test

2.
Uji Homogenitas Data
Tabel 6.
Uji
Homogenitas Data
Siklus Pre Test dan Post Test

Tabel tersebut menyatakan sig sebesar 0,062 >
0,05 sehingga data homogen.
Selanjutnya dilakukan uju t, dengan bantuan
SPSS diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 7
Hasil t Test

Dari tabel
di atas nilai probabilitas atau sig (2-tailed) sebesar 0,000 <0,05, artinya terdapat perbedaan yang siginifikan kemampuan guru dalam komunikasi pembelajaran sebelum dan sesudah dilaksanakan kegiatan simulasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa setelah dilakukan
pelatihan model simulasi teknik komunikasi guru dalam pembelajaran semakin baik. Guru memiliki seni penyampaian
informasi (pesan, ide, sikap, atau gagasan)
yang lebih baik yang sangat berguna dalam berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan
teori (Suprapto,
2018). Kemampuan komunikasi
guru dalam pembelajaran
yang semakin baik juga menunjukkan bahwa fikiran dan ekspresi dalam menyampaikan pesan sudah berjalan
dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan teori (Anggraeni
et al., 2017) yang menyatakan
bahwa proses komunikasi
pada hakekatnya adalah
proses penyampaian fikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).
Kesimpulan
Berdasarkan data pretest/PKG dan posttest (pasca simulasi) dapat disimpulkan sebagai berikut; 1) Kemampuan guru dalam komunuikasi pembelajaran sebelum dilaksanakan simulasi nilai minimum 6 dan maksimum 9, rata-rata skor 7,7 dengan standar deviasi 0,8; Kemampuan guru dalam komunuikasi pembelajaran setelah dilaksanakan simulasi� menunjukkan skor minimum 7, skor maksimum 12,�
rata-rata skor 10 dengan
standar deviasi 1,3; dan Nilai probabilitas
atau sig (2-tailed) sebesar
0,000 <0,05, artinya terdapat
perbedaan yang siginifikan kemampuan guru dalam komunikasi pembelajaran sebelum dan sesudah dilaksanakan kegiatan simulasi.
Bibliografi
Anggraeni,
D. P., Herlina, H. N., & Astari, R. Y. (2017). Gambaran Penggunaan Kb Di
Desa Haurseah Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka Tahun 2017. Syntax
Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 2(12), 9�21.
Barnawi
dan Supardi. (2019). Cara Praktis Penyusunan Laporan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK). Pustaka Bunga Bangsa.
Haryati,
R. A. (2019). Analisis Pelaksanaan Program Pelatihan dan Pengembangan Karyawan:
Studi Kasus Pada PT Visi Sukses Bersama Jakarta. Widya Cipta: Jurnal
Sekretari Dan Manajemen, 3(1), 91�98.
Hasan,
N. A. H. N. A. (2018). Pendidikan dan Pelatihan Sebagai Upaya Peningkatan
Kinerja Pustakawan. LIBRIA, 10(1), 95�115.
Pratiwi,
N., & Nasruddin, H. (2019). Melatih Keterampilan Komunikasi Peserta Didik
Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Nht Berbasis Pendekatan Saintifik
Pada Materi Larutan Elektrolit Dan Nonelektrolit. UNESA Journal of Chemical
Education, 8(1).
Said,
M. I. N., Anggraini, M., Mubarok, M. Z., & Widana, K. S. (2017). Studi
Ekstraksi Bijih Thorit dengan Metode Digesti Asam dan Pemisahan Thorium dari
Logam Tanah Jarang dengan Metode Oksidasi-Presipitasi Selektif. Eksplorium:
Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir, 38(2), 109�120.
Saidur,
M. R., Aziz, A. R. A., & Basirun, W. J. (2017). Recent advances in
DNA-based electrochemical biosensors for heavy metal ion detection: a review. Biosensors
and Bioelectronics, 90, 125�139.
Sugiyono.
(2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed
Methods). Alfabeta.
Suprapto,
H. A. (2018). Pengaruh komunikasi efektif untuk meningkatkan hasil belajar
mahasiswa. Khazanah Pendidikan, 11(1).
Wisman,
Y. (2017). Komunikasi efektif dalam dunia pendidikan. Jurnal Nomosleca, 3(2).
YO,
R. R. (2016). Penerapan model pembelajaran simulasi untuk meningkatkan
keterampilan sosial anak sekolah dasar. JPsd (Jurnal Pendidikan Sekolah
Dasar), 2(1), 96�108.