Jurnal Syntax Transformation

Vol. 1 No. 7, September 2020

p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769

Sosial Sains

 

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN AKHLAK PERSPEKTIF AL-GHAZALI

(Kajian Kitab Ihya’ Ulumuddin Bab Riyadhah An-Nafs )

 

Fransiska Anggraini

Universitas Gajah Mada

Email: fransiscaanggraini89@gmail.com

INFO ARTIKEL

ABSTRAK

Diterima 2 September 2020

Diterima dalam bentuk revisi

15 September 2020

Diterima dalam bentuk revisi

20 September 2020

Istilah akhlak merupakan kata yang sudah menjadi warna dalam kehidupan sehari-hari terutama di kalangan umat Islam. Sebagian besar topik mengenai akhlak bersumber dari agama, namun belum ada satupun dari literature psikologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perkembangan akhlak dan tahapan perkembangan akhlak dalam perspektif Al-Ghazali. Upaya menggali dilakukan analisa teks dari literature agama yaitu dalam kitab Ihya’ Ulumuddin bab riyadhah an-nafs (pelatihan jiwa) karya Al-Ghazali yang merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik analisis isi (conten analysis). Sumber data dalam penelitian ini berupa naskah klasik dalam Bahasa Arab karya Al-Ghazali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan akhlak anak, yaitu pola asuh dan lingkungan sosial. Pola asuh yang didalamnya dijabarkan mengenai niat/motif pengasuhan, mengkonsumsi makanan yang halal, mendidik dan membiasakan anak dengan etika yang terpuji, mengawasi dan menasehati anak. Temuan ini memberikan wawasan bahwa manusia memiliki beberapa tahapan perkembangan akhlak sampai terbentuknya akhlak yang terpuji. Tahapan Pertama: Lahir sampai 7 tahun,  Tahapan Kedua: 7-15 tahun (tamyiz), dan Tahapan Ketiga: 15 tahun keatas (baligh).

Kata kunci:

Psikologi Akhlak; Tahapan perkembangan akhlak; Al-Ghazali dan Ihya Ulumuddin

 



Pendahuluan

          Apa yang dimaksud oleh psikolog ketika mereka berbicara tentang perkembangan individu? Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang progresif dan kontinu (berkesinambungan) dalam diri individu dari mulai lahir sampai meninggal, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah), Pola perubahan terjadi sepanjang rentan hidup (Santrock, 2007) yakni mulai dari usia kandungan, infancy, bayi, remaja, dewasa dan lansia sampai meninggal. Setiap rentang kehidupan manusia ada tugas perkembangan masing-masing yang harus dilalui oleh setiap manusia yang lahir kedunia. Dalam setiap tugas perkembangan (task development) harus berkembang sesuai dengan masa dan usianya tidak boleh terlewati, kalau terlewati akan terjadi missdevelopment yang sulit untuk dirubah dan dididik kembali (Jannah et al., 2017).

          Pembagian rentang kehidupan ke dalam sejumlah periode merupakan suatu konstruksi sosial (Papalia dkk, 2009), Artinya, pembagian tersebut dibuat oleh suatu budaya atau masyarakat tertentu. Hal itu dapat dilihat dari adanya berbagai pembagian rentang kehidupan dari waktu ke waktu dan dari budaya ke budaya. Sebagai contoh, pada jaman dahulu, anak-anak dilihat dan diperlakukan seperti orang dewasa mini Ariès dalam (Papalia dkk, 2009). Salah satu konsep yang dikaji secara luas dan mendalam dalam psikologi perkembangan adalah mengenai moral. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya literatur psikologi baik jurnal maupun artikel, diantaranya adalah penelitian (Hardy et al., 2015).

          Selain itu ada beberapa teori Barat yang mencetuskan teori psikologi yang membahas mengenai moral. Freud misalnya, membahas tentang moral dari sudut pandang psikoanalisis. Menurut pandangan ini moral merupakan hasil proses internalisasi norma, baik norma dari orang tua maupun norma kebudayaan. Teori lain yaitu Piaget membahas mengenai perkembangan moral melalui pendekatan kognitif, yang kemudian diikuti dan dilanjutkan oleh Kohlberg (Santrock, 2007).

          Teori perkembangan yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan (Sunarto, 2013). Selain itu Kohlberg juga menyelidiki struktur proses berpikir yang mendasari perilaku moral (Moral Bahavior). Dalam perkembangannya Kohlberg juga menyatakan adanya tahapan-tahapan yang berlangsung sama pada setiap kebudayaan.Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang dari segi proses penalaran yang mendasarinya bukan dari sikap moral. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam stadium perkembangan dengan tiga tahapan yang teridentifikasi.

          Dari hasil penelitiannya ini, Kohlberg membagi perkembangan moral dalam 6 tahap. Berikut ini adalah tiga level perkembangan moral menurut Kohlberg (Cahyono & Suparyo, 1985), (1)Tahap Moral Pre-konvensional. Pada tingkat prekonvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu: tahap punishment and obedience orientation dan tahap instrumental-relativist orientation atau hedonistic orientation. (2) Tahap Tingkat Konvensional, pada tingkat konvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu: tahap interpersonal concordance atau good-boy/good-girl orientation dan tahap law and order orientation.(3)Tahap Tingkat Postkonvensional, pada tingkat ketiga ini, di dalamnya mencakup dua tahap perkembangan moral, yaitu: tahap social-contract, legalistic orientation dan tahap orientation of universal ethical principles.    

          Selain Kohlberg dan beberapa saintis dari Barat, tak terlewatkan pula menjadi fokus kajian yang dilakukan oleh ulama Islam terdahulu untuk merumuskan psikologi perkembangan moral, salah satu yang membahasnya adalah Al-Ghazali yang terangkum dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Dalam sudut pandang Islam moral disebut juga akhlak, meskipun menurut pandangan beberapa ahli akhlak sering disamakan dengan moral dikarenakan sama-sama berbicara mengenai perilaku baik dan buruk. Perbedaannya terletak pada parameter. Moral parameternya adalah adat istiadat suatu masyarakat, baik buruknya suatu tindakan hanya bersifat lokal, sedangkan akhlak menilai perbuatan manusia dengan tolak ukur Al-Quran dan hadits. Apabila ditelusuri secara mendalam, akhlak mempunyai jangkauan yang lebih luas yaitu secara vertikal dan horizontal (Mustaqim, 2013). Berkaitan dengan akhlak, Menurut (Anggraini, 2017) Al-Ghazali membagi akhlak menjadi dua kategori, yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela. Akhlak terpuji merupakan perbuatan baik dengan niat karena Allah yang bersifat ajeg dan spontan dikarenakan konsep diri sebagai hamba Allah. Akhlak tercela adalah perbuatan buruk yang bersifat ajeg dan spontan dikarenakan konsep diri bukan sebagai hamba Allah. Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin pada bab riyadhah an-nafs (pelatihan jiwa) juga menjelaskan proses yang berkaitan dengan perkembangan akhlak, mulai dari lahir sampai dewasa. Selain itu Al-Ghazali juga menjelaskan faktor yang mempengaruhi perkembangan akhlak anak sehingga seorang manusia bisa mempunyai akhlak yang terpuji.

Penulis menangkap inti persolan ketika melakukan studi literatur mengenai ilmuwan barat seperti Piaget, Kohlberg dan lainnya, begitu juga literatur mengenai tokoh ilmuwan Islam seperti Al-Ghazali. Perbedaannya adalah ilmuwan barat lebih menekankan psikologi perkembangan moral dengan membatasi penelitiannya pada objek material saja, maka melalui studi literatur keagamaan, psikologi perkembangan akhlak perspektif Al-Ghazali ini dapat memperluas ruang lingkup penelitiannya pada kehidupan yang bersifat transendental. Hal tersebut baru dalam wacana umum, sedangkan dalam khasanah keilmun psikologi, khususnya psikologi perkembangan akhlak belum pernah diteliti secara mendalam.

Berdasarkan uraian diatas maka permasalahan yang akan dirumuskan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan akhlak dan bagaimana tahapan perkembangan akhlak menurut Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya menambah khasanah pengembangan ilmu dalam bidang psikologi serta dapat memberikan kontribusi terhadap psikologi barat tentang konsep lain dari perkembangan moralitas.

 

Metode Penelitian

          Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam dan gambaran yang utuh, maka pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang dapat mengakomodasi tujuan tersebut. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terperinci dari pandangan responden dan melakukan studi pada situasi yang dialami (Cresswell, 1998).

          Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi (content analysis). (Fraenkel et al., 2007) menyatakan analisis isi adalah teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengkaji perilaku manusia secara tidak langsung melalui analisis terhadap komunikasi mereka seperti: buku teks, esay, koran, novel, artikel majalah, lagu, gambar iklan dan semua jenis komunikasi yang dapat dianalisis. Metode ini dianggap tepat oleh peneliti digunakan dalam upaya menggali faktor yang mempengaruhi perkembangan akhlak dan tahapan perkembangan akhlak yang terkandung dalam teks Ihya Ulumuddin pada jilid ketiga bab kitab riyadhah an-nafs (pelatihan jiwa). Dalam kitab aslinya terdiri dari 40 halaman yang terdiri dari 10 bab.

 

Hasil dan Pembahasan

1.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Akhlak Anak

Anak dalam perkembangan akhlaknya mempunyai tugas yang sama dengan usianya. Namun realita dan praktek perkembangan akhlak anak berbeda-beda antara anak satu dengan yang lain. Hal ini disebabkan perbedaan intelegensi, kepribadian, keadaan jasmani, keadaan sosial, bakat dan minat anak itu. Oleh karenanya Al-Ghazali memberikan penjelasan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan akhlak anak, penjelasannya sebagai berikut:

a.    Pola asuh

       Pola asuh orang tua memiliki peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan akhlak anak. Pola asuh yang di disarankan oleh Al-Ghazali adalah sebagai berikut:

1)      Niat/motif

Menurut Al-Ghazali, dalam mengasuh dan mendidik anak harus memiliki niat. Dengan adanya niat maka akan tercipta langkah-langkah yang tepat, misalnya dari awal penikahan, suami dan istri memiliki tujuan bahwasannya pengasuhan dan pendidikan anak adalah agar anak memiliki akhlak terpuji. Maka dengan berjalan seiringnya waktu, model pengasuhan dan pendidikan yang diberikan kepada anak berupa nilai-nilai kebaikan yang dapat membentuk anak memiliki akhlak terpuji.

Niat yang memiliki tendensi lebih tinggi merupakan tanggung jawab kedua orang tua terhadap Tuhan, seperti memelihara keluarga dari jilatan  api neraka. Artinya, kedua orang tua yang mengasuh dan mendidik anak dengan pola asuh yang benar dan baik, bukan hanya untuk kebaikan atau menyelamatkan anak dalam urusan dunia, namun juga urusan akhirat.

Konsep psikologis yang sangat dekat dengan tema ini yang menjadikan Allah sebagai ideal motif adalah teori anchor (Riyono, 2012).  Teori anchor menggambarkan secara detail mengenai perwujudan anchor manusia, yaitu Tuhan sebagai the ultimate anchor.

2)      Makanan Halal

Sudah seharusnya orang tua memperhatikan kehalalan atas apa yang dikonsumsi anak dan keluarganya. Makanan yang haram akan membuat anak memiliki tabiat yang tercela. Al-Ghazali menjelaskan bahwa seorang anak harus diasuh dan disusui oleh wanita yang shalih, beragama, serta mengkonsumsi hanya makanan halal. Karena susu/makanan yang dihasilkan dari barang haram maka tidak ada keberkahan buat anak. Analoginya seperti apabila pertumbuhan dan perkembangan anak dari susuan atau makanan yang haram maka cetakannya terdiri dari barang yang hina sehingga akhlak anak akan condong kepada hal yang keji dan hina.

Makanan halal merupakan yang diperbolehkan untuk dimakan dan tidak dilarang oleh hukum syara’, thayyib (baik), bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan. Dalam literature the psychology of eating, salah satu aspek makanan halal yang dikaji adalah makanan yang bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan memiliki dampak terhadap fisik dan psikis. Pengaruh psikologis terkait nutrisi berhubungan dengan proses mental dalam pemilihan makanan dan nutrisi yang akan dikonsumsi, dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, pola asuh masa dini, mood, dan stres. Contoh: saat sedang senang, seseorang akan cenderung makan lebih banyak bila dibandingkan saat sedih, atau sebaliknya (Ogden, 2010).

3)      Pendidikan

Al-Ghazali menjelaskan bahwa setiap anak harus dididik dengan prilaku yang terpuji, seperti mengajari anak tentang etika makan dan minum yang baik dan benar, hidup dengan sederhana, etika berpakaian, belajar Al-Quran dan hadits serta riwayat orang-orang baik, tidak mengajari anak dengan syair-syair percintaan, memberikan penghargaan kepada anak apabila anak berperilaku terpuji, memiliki hubungan yang baik antara anak dan orang tua, membiasakan sikap berterus terang kepada orang tua agar anak selalu jujur dan terbuka kepada orang tua, gemar melakukan olah raga, kebiasaan bersikap tawadhu (rendah hati), menahan diri untuk tidak mengambil hak atau milik orang lain, mengajarkan tidak hedonisme dan materialisme, etika ketika duduk bersama orang lain, larangan mencaci maki, membiasakan anak agar tabah dan berani, memberikan kesempatan anak untuk bermain apabila anak sudah lelah belajar, mematuhi kedua orang tua, mengajari anak agar disiplin dalam tugas, dan terakhir melakukan pelatihan jiwa anak secara bertahap dengan ibadah sholat dan zikir.

Aspek pendidikan dalam penelitian ini didukung oleh (Tamuri et al., 2013) melalui artikelnya yang berjudul Religious Education and Ethical Attitude of Muslim Adolescents in Malaysia. Hasil penelitiannya adalah ada hubungan yang signifikan antara pembelajaran pendidikan Islam dan level akhlak.

4)      Pembiasaan

          Tata cara membiasakan anak-anak dengan pendidikan yang baik merupakan urusan yang sangat penting karena anak-anak merupakan tanggung jawab kedua orang tuanya. Kalbu mereka masih suci, artinya anak-anak mudah menerima dan dibentuk sesuai dengan pola asuh dan pendidikannya. Oleh karena itu dalam menanamkan pendidikan seyogyanya dibiasakan kepada pendidikan yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan, dengan harapan anak akan tumbuh memiliki akhlak yang terpuji. Sebaliknya, apabila anak dibiasakan dengan pendidikan yang penuh dengan nilai-nilai keburukan maka anak akan cenderung tumbuh memiliki akhlak yang tercela.

          Dalam literature psikologi, konsep yang dekat dengan tema pembiasaan adalah teori belajar conditioning. Menurut Watson yang mengembangkan teori cclassical conditioning Pavlov mempercayai bahwa seseorang akan menjadi sesuatu yang dikondisikannya. Teori Watson ini dapat disimpulkan bahwa segala tingkah laku manusia juga merupakan hasil contiditioining, yaitu hasil latihan atau kebiasaan bereaksi terhadap syarat tertentu yang dialami dalam kehidupannya (Hergenhahn & Olson, 2008). Pengawasan & Nasehat

Menurut Al-Ghazali, pengawasan orang tua terhadap anaknya meliputi tiga hal, pertama pengawasan terkait pola asuh yang mencakup makanan halal yang dikonsumsi, pengasuhan, pendidikan, pengawasan dan pemberian nasehat.

 Kedua pengawasan ketika anak sudah memiliki tanda-tanda tamyiz (perkembangan daya fikir untuk membedakan sesuatu) maka orang tua harus memperketat pengawasannya. Ketiga pengawasan terhadap pergaulan di lingkungan sosial. Orang tua hendaknya menjaga anak dari pergaulan teman-teman yang berperilaku buruk. Karena pengaruh lingkungan pergaulan yang buruk akan berdampak pada perilaku anak.

Sedangkan untuk nasehat, Orang tua juga seharusnya menasehati anak ketika anak melakukan kesalahan. Nasehat senantiasa dilakukan berulang-ulang dihadapan anak. Menurut Al-Ghazali, cara menasehati anak adalah, pertama apabila anak melakukan kesalahan untuk pertama kalinya maka jangan diberi hukuman atau kecaman, cukup dengan ajarkan yang benar. Kedua, ketika anak mengulangi lagi kesalahan yang sama maka tegur dengan bicara baik-baik, berbicara berdua dengan anak sambal dijelaskan kesalahannya dan dinasehati agar tidak mengulanginya lagi.

Dalam ilmu parenting islami, yang disebut Holistic parenting (pengasuhan holistik) memiliki beberapa dimensi, salah satunya adalah dimensi pengawasan/monitoring dan nasehat (Rahmawati, 2015) Monitoring adalah mengawasi interaksi anak dengan lingkungan sosialnya. Nah, disini orang tua harus terus mengawasi anaknya yaitu pada interaksi anak dengan lingkungan sosialnya. Lingkungan sosial itu sangat penting bagi anak untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan apalagi lingkungan sosial, ini juga peran penting bagi orang tua untuk membimbing anaknya serta memberikan perhatian secara penuh dalam lingkungan sekitarnya.

Metode pendidikan dengan nasehat adalah memberikan nasehat atau petuah yang baik kepada anak sehingga anak meniru dan melaksanakan apa yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua. Metode nasehat akan berjalan baik pada seseorang jika seseorang yang menasehati juga melaksanakan apa yang dinasehatkan yaitu dibarengi dengan teladan atau uswah. Bila tersedia teladan yang baik maka nasehat akan berpengaruh terhadap jiwanya dan akan menjadi suatu yang sangat besar manfaatnya dalam pendidikan rohani (Harun, 1993). Fungsi metode nasehat adalah untuk menunjukkan kebaikan dan keburukan, karena tidak semua orang bisamenangkap nilai kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, anak memerlukan nasehat, nasehat yang lembut, halus, tetapi berbekas, yang bisa membuat anak menjadi baik dan tetap berakhlak mulia.

5)      Lingkungan Sosial

Selain dari pola asuh seperti tujuan pengasuhan, memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi oleh anak dan mendidik dengan kebiasaan, dan mengawasi serta menasehati. Faktor lain yang mempengaruhi perkembangan akhlak anak adalah lingkungan sosialnya. Anak mulai mengenal pergaulan ketika menginjak remaja, pengaruh pergaulan bisa mempengaruhi akhlak anak. Apabila anak bergaul dengan orang-orang yang memiliki akhlak terpuji maka perilaku anak akan mengikuti, begitu juga sebaliknya.

Tema ini sangat sesuai dengan konsep yang sudah cukup mapan dalam psikologi Barat, yaitu konsep reciprocal determinism, dimana (orang) person, (perilaku) behavior and (lingkungan) environment saling berinteraksi. Menurut Bandura lingkungan yang dominan pengaruhnya terhadap orang dan perilaku akan memberikan efek lebih besar ketimbang komponen lainnya pada waktu tertentu (Hergenhahn & Olson, 2008). Artinya lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku orang.

 

2.    Tahapan Perkembangan Anak

Pada dasarnya Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin tidak menyebutkan secara langsung tahapan perkembangan akhlak berdasarkan angka pada usia anak. Al-Ghazali hanya menyebutkan tahapan perkembangan akhlak berdasarkan konsep tamyiz (tahap anak sudah memiliki kemampuan membedakan yang baik dan benar) dan baligh (dewasa). Namun untuk memudahkan pemahaman mengenai tahapan perkembangan akhlak, peneliti membagi menjadi tiga tahapan berdasarkan usia anak. Pembagian tahapan ini sesuai dengan penjelasan Al-Ghazali secara tersirat dalam teks kitab Ihya Ulumuddin bab riyadhah an-nafs (pelatihan jiwa). Karena konsep tamyiz antara satu anak berbeda dengan anak yang lainnya, maka peneliti mengikuti referensi yang menjelaskan kisaran usia tamyiz dan baligh sesuai dengan jumhur ulama.

a. Tahapan Pertama: Lahir sampai 7 tahun

          Menurut Al-Ghazali, tahapan akhlak anak yang pertama bermula dari lahir sampai usia 7 tahun. Pada tahapan pertama ini sangat baik untuk mengajarkan etika kepada anak. Pada usia ini bentuk penerimaan anak masih berupa stimulus, imitasi dan respon karena kognitif anak belum sempurna perkembangannya. Stimulus yang diberikan oleh orang tua contohnya adalah pembiasaan perilaku-perilaku terpuji, misalnya cara makan. Stimulus diberikan orang tua berupa tata cara makan yang baik dan benar, makan pakai tangan kanan, sebelum makan membaca doa dan lain-lain, maka anak akan meniru dan menampilkan respon cara makan yang sama dengan kedua orang tuanya. Stimulus harus dilakukan secara berulang-ulang sehingga anak terbiasa makan dengan cara yang baik dan benar.

 

Description: convert pdf-page0001

   Fig. 1.  Perkembangan akhlak, lahir-7 tahun

          Dari penjelasan Al-Ghazali mengenai tahapan pertama perkembangan akhlak, penulis memahami bahwa gagasan Al-Ghazali memiliki keterkaitan yang erat dengan beberapa konsep psikologi Barat. Seperti konsep stimulus & respon  dalam teori Behaviorisme. Menurut (Schunk, 2012) menyatakan bahwa tipe pembelajaran yang paling fundamental adalah pembentukan koneksi antara pengalaman persepsi terhadap stimulus dan respon yang memberikan manifestasi dalam bentuk perilaku. Artinya dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respons. Stimulus adalah sesuatu yang diberikan orang tua kepada anak, sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh orang tua tersebut.

          Konsep teoritik yang lain adalah imitasi dalam teori Social Learning. Albert Bandura yakin bahwa manusia belajar dengan mengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Melalui belajar mengamati/imitasi, secara kognitif menampilkan perilaku orang lain. Melalui belajar mengamati/imitasi, secara kognitif menampilkan perilaku orang lain dan mengadopsi perilaku ke dalam diri sendiri (Santrock, 2007) Dengan demikian, imitasi adalah suatu bagian yang penting dari proses membimbing anak-anak untuk berperilaku baik kepada orang lain (Jense & Kingston, 1986).

 

b. Tahapan Kedua: 7-15 tahun

Ketika anak mencapai tahap tamyiz (yaitu, tahap anak sudah memiliki kemampuan membedakan yang baik dan benar), kisaran usia 7 tahun keatas maka pengawasan orang tua harus ditingkatkan.

Pada usia 7 tahun keatas, kira-kira sampai 15 tahun, kognitif anak sudah berkembang dengan lebih baik meskipun belum sempurna perkembangannya. Anak-anak sudah bisa berfikir secara konkret. Sudah bisa memahami ketika orang tua memberikan penjelasan mengenai alasan mengapa harus perilaku yang baik dan dilarang berperilaku yang buruk. Meskipun demikian, perkembangan akhlak pada tahap kedua masih terjadi proses imitasi, pendidikan dengan pengulangan serta pembiasaan tetap dijalankan secara terus menerus agar terbentuk akhlak terpuji.

Description: convert pdf-page0002

Fig. 2. Perkembangan akhlak pada usia 7-15 tahun

 

          Tahap ini anak harus diajarkan atas segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan dibiasakan untuk beribadah kepada Allah, seperti sholat, puasa Ramadhan,  yang merupakan kewajiban bagi manusia yang beragama Islam. Ditanamkan rasa takut dengan perbuatan tercela seperti mencuri, makan makanan yang haram, berhianat, berbohong, berbuat keji dan perbuatan tercela lainnya yang biasa dilakukan oleh anak-anak.

          Apabila pertumbuhan anak sejak dini disertai dengan pembiasaan berbagai adab dan akhlak yang terpuji,  maka ketika mendekati usia baligh (kira-kira 15 tahun ketas) anak sudah cukup siap untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi dibalik semua pengetahuan dan kebiasaan yang diajarkan oleh orang tuanya. Misalnya makan, makan itu hanyalah sebagai obat, artinya makanan itu memberikan kekuatan pada manusia supaya manusia bisa melaksanakan ketaatan kepada Allah.

          Menurut Al-Ghazali, jika pertumbuhan anak itu sehat maka penjelasan seperti itu ketika menginjak usia baligh (dewasa) pasti akan berpengaruh, merasuk dan menetap kuat dalam dirinya. Akan tetapi jika pertumbuhan anak tidak sehat, anak akan terbiasa menghabiskan waktunya untuk bermain-main, mengucapkan kata-kata yang kotor, berperilaku kurang ajar, rakus dalam makanan, hedonism, serta sombong dan tidak bisa menerima penjelasan diatas.

          Jelaslah bahwa sejak dini pola asuh, pendidikan, pengasuhan, pengawasan, pembiasaan dan lingkungan sosial harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua, Karena seorang anak tercipta dengan kemampuan untuk menerima kebaikan dan keburukan, orang tuanyalah yang membuatnya cenderung kearah satu dari keduanya.

          Konsep psikologis yang sangat dekat dengan perkembangan akhlak pada tahapan kedua adalah tahapan perkembangan moral autonomous Jean Piaget. Karena perkembangan akhlak tahap kedua, anak sudah memiliki kemampuan berfikir dan bernalar yang lebih berkembang, Al-Ghazali menyebutnya tahap tamyiz. Dalam konsep Piaget anak sadar bahwa aturan-aturan dan hukum diciptakan dan dalam menilai suatu tindakan, seseorang harus memperhatikan maksud-maksud pelaku dan juga akibatnya (Santrock, 2002) Selain itu perkembangan akhlak tahap kedua juga sangat dekat dengan tahapan perkembangan moral Kohlberg pada tahapan kedua yaitu penalaran konvensional. Menurut Kohlberg pada tingkat ini internalisasi individual ialah menengah (Santrock, 2002). Moralitas konvensional juga merupakan tahapn yang berhubungan dengan penilaian pada aturan yang terdapat di masyarakat, artinya anak menyadari kewajiban untuk melaksanakan norma-norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma.

 

c.  Tahapan Ketiga: 15 tahun ketas

          Pada usia 15 tahun ketas merupakan usia baligh (dewasa) seorang anak, artinya pada usia 15 tahun seharusnya anak sudah memiliki pengetahuan dan pemahaman serta kebiasaan perilaku yang terpuji. Karena perilaku terpuji tersebut selalu diulang-ulang dan dibiasakan maka perilaku terpuji tersebut sudah melekat sehingga anak memiliki respon yang spontan. Memiliki pemahaman dan pemikiran mengenai konsekuensi dari setiap perbuatan, bahwa apa yang dilakukan merupakan konsep diri sebagai hamba Allah sehingga setiap perilakunya disesuaikan dengan syariat Islam dan sudah menjadi tabiat (karakter), sehingga anak akan senantiasa memiliki akhlak yang terpuji.

 

Description: convert-pdf 3

Fig. 3. Perkembangan akhlak

pada anak usia 15 tahun keatas

 

          Tahapan perkembangan akhlak yang ketiga adalah hasil dari pembentukan akhlak pada tahap yang pertama dan kedua. Pada tahap ketiga ini peran penalaran mulai tersamar, bukan berarti tidak penting atau tidak berfungsi, tetapi lebih kepada ketika ada stimulus maka respon nya sudah berupa respon yang spontan dan ajeg dikarenakan pembiasaan sejak dini. Sehingga memiliki adap terpuji merupakan sudah menjadi karakter. Dalam literature Barat konsep yang dekat dengan tabiat/karakter dalam moral adalah pandangan Rest (Blasi, 1980), (James R Rest, 1994), yng diberi nama four component model of morality  (empat komponen teori moral). Aspek-aspek dalam teori Rest (J R Rest, 1983) adalah moral sensitivy, moral judgment, moral motivation dan moral character. Moral character tersebut nampaknya dekat dengan konsep tabiat/karakter dalam psikologi akhlak.

 

Kesimpulan

          Berdasarkan analisis yang telah penulis lakukan, maka terdapat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

          Psikologi perkembangan akhlak perspektif Al-Ghazali dalam kitab ihya ulumuddin merupakan psikologi perkembangan yang mengkaji perkembangan akhlak manusia dalam perspektif Islam. Dengan demikian psikologi perkembangan akhlak yang digagas oleh Al-Ghazali memiliki objek studi  yaitu proses pertumbuhan atau perubahan akhlak manusia dengan konsep penghambaan manusia kepada Tuhannya sehingga psikologi perkembangan akhlak bersifat transendental.

          Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan akhlak perspektif Al-Ghazali yaitu faktor pola asuh yang didalamnya dijabarkan mengenai tujuan pengasuhan, anak dan keluarga yang senantiasa mengkonsumsi makanan yang halal, mendidik dan membiasakan anak dengan etika yang terpuji, ketika anak menginjak dewasa orang tua harus meningkatkan pengawasan dalam pergaulannya dan menasehati anak apabila anak melakukan kesalahan, dan lingkungan sosial.

Psikologi perkembangan akhlak perspektif Al-Ghazali juga membahas tahapan perkembangan akhlak. Manusia memiliki beberapa tahapan perkembangan akhlak sampai memiliki akhlak yang terpuji.  (1) Tahapan Pertama: Lahir sampai 7 tahun, (2) Tahapan Kedua: 7-15 tahun (tamyiz), dan (3) Tahapan Ketiga: 15 tahun keatas (baligh).

Mengingat bahwa penelitian ini merupakan penelitian awal untuk menggali psikologi perkembangan akhlak perspektif Al-Ghazali dalam teks kitab Ihya Ulumuddin, maka temuan dari penelitian ini akan ditindak lanjuti dengan serangkaian penelitian berikutnya. Dengan mengacu pada metode yang digunakan oleh (Subandi, 2011) dalam mengembangkan sabar: sebuah konsep psikologi, maka tahap berikutnya yang disarankan adalah penelitian yang bersifat empiris untuk menggali psikologi perkembangan akhlak dari lapangan.

 

Bibliografi

 

Anggraini, F. (2017). Studi Pendahuluan Konsep Psikologi Akhlak (Kajian Hermeneutika atas Kitab Ihya Ulumuddin Karya Al-Ghazali. (Tesis Tidak Terpublikasi). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

Blasi, A. (1980). Bridging moral cognition and moral action: A critical review of the literature. Psychological Bulletin, 88(1), 1.

 

Cahyono, C. H., & Suparyo, W. (1985). Tahap-Tahap Perkembangan Moral. Malang: IKIP Malang.

 

Cresswell, J. W. (1998). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five traditions. Thousand Oaks, CA: Sage.

 

Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2007). How to design and evaluate research in education (Vol. 7). McGraw-Hill New York.

 

Hardy, S. A., Bean, D. S., & Olsen, J. A. (2015). Moral identity and adolescent prosocial and antisocial behaviors: Interactions with moral disengagement and self-regulation. Journal of Youth and Adolescence, 44(8), 1542–1554.

 

Harun, S. (1993). Sistem Pendidikan Islam. Bandung: Al Ma’arif.

Hergenhahn & Olson. (2008). Teaching and Learning at a Distance: Foundations of Distance Education 7th Edition. IAP.

 

Jannah, M., Yacob, F., & Julianto, J. (2017). Rentang Kehidupan Manusia (life span development) dalam islam. Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, 3(1), 97–114.

 

Jense & Kingston. (1986). Family system characteristics and parental behaviors as predictors of adolesc. Adolescence, 29(114), 114.

 

Mustaqim, A. (2013). Akhlak Tasawuf: Lelaku Suci Menuju Revolusi Hati. Yokyakarta: Kaukaba Dirgantara.

 

Ogden, J. (2010). Food choice. The psychology of eating: from healthy to disordered behavior. Oxford, UK: Blackwell publishing.

 

Papalia dkk. (2009). Theories of human development: Contemporary perspectives.

 

Rahmawati, S. W. (2015). Contribute islamic parenting to improve self efficacy. Proceeding of 1st Al Azhar International Seminar on Islamic Psychology.

 

Rest, J R. (1983). Pathogenesis of cerebral malaria in golden hamsters and inbred mice. Contributions to Microbiology and Immunology.

 

Rest, James R. (1994). Moral development in the professions: Psychology and applied ethics. Psychology Press.

 

Riyono, B. (2012). Motivasi dengan Perspektif Psikologi Islam. Edisi Pertama.

 

Santrock, J. W. (2002). Perkembangan Masa Hidup .(Chusairi, A, & Damanik, J. Trans.) Jakarta: Erlangga.

 

Santrock, J. W. (2007). Perkembangan Masa Hidup .(Chusairi, A, & Damanik, J. Trans.) Jakarta: Erlangga.

Schunk, D. H. (2012). Learning theories an educational perspective sixth edition. Pearson.

 

Subandi, M. A. (2011). Sabar: Sebuah konsep psikologi. Jurnal Psikologi, 38(2), 215–227.

 

Sunarto. (2013). Perkembangan Peserta Didik. Rineka cipta.

 

Tamuri, A. H., Othman, M. Y., Dakir, J., Ismail, A. M., & Stapa, Z. (2013). Religious education and ethical attitude of Muslim adolescents in Malaysia. Multicultural Education & Technology Journal.