Aniyatussaidah, Aulia Ilfana dan Supriadi Suaib
26 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
menguntungkan kesejahteraan kita, tetapi
juga memperkuat kebaikan orang lain
terhadap kita dan memacu hubungan yang
saling bekerja sama (Forster et al., 2017).
Rasa syukur tidak hanya merupakan sifat
penting untuk memperkuat perilaku
altruistik secara individu dan kelompok,
tetapi juga menjelaskan pengurangan
depresi, kecemasan dan stress (Kendler et
al., 2003). Bersyukur juga terkait dengan
perasaan kesejahteraan subjektif dan dapat
membantu membangun ketahanan.
Satu studi tentang siswa usia sekolah
di Tiongkok menemukan rasa syukur
memiliki hubungan yang signifikan dengan
kesejahteraan subjektif (Tian et al., 2015).
Rasa syukur juga dapat meningkatkan
faktor kekuatan diri. Secara khusus, rasa
syukur tidak hanya tampaknya melindungi
remaja dari stres (Reckart et al., 2017),
tetapi lebih dari itu juga terkait dengan
membangun ketahanan pada individu
setelah trauma besar. Rasa syukur terbukti
berkontribusi untuk mengurangi gejala
PTSD melalui ketahanan (ZHENG Yu-
hong & Ting-chen, 2011) dan untuk
mengembangkan pertumbuhan pasca
trauma (PTG) setelah gempa bumi dahsyat
2008 di Wenchuan, Cina (Zhou & Wu,
2015). Rasa syukur dapat membantu,
terutama selama kesulitan. Lin dan Kim
(2017) menemukan bahwa kebersyukuran
berkontribusi pada kesejahteraan subjektif
pada dewasa muda dan kepuasan kebutuhan
dasar.
Selain itu rasa syukur juga dapat
diberikan dengan cara saling menguatkan
satu sama lain, memberikan semangat,
memberikan rizki, dengan kata lain
memberikan kesejahteraan orang-orang
disekitar kita, karena dengan kita
memberikan kesejahteraan untuk orang-
orang disekitar kita, khususnya yang sedang
terpapar covid maka secara tidak langsung
diri kita akan merasakan kebahagiaan.
Sebelum masa pandemi covid bentuk
syukur atau bentuk rasa terima kasih kita
yaitu dengan menawarkan jabat tangan,
tepukan di punggung, atau pelukan jika
sesuai secara sosial, selain bentuk
komunikasi langsung atau tertulis yang
lebih umum. Sekarang di era social-
distancing covid, ada berbagai cara untuk
mengungkapkan penghargaan: apresiasi
pada rapat kerja Zoom, emoji jempol atau
hati, emoji tepuk tangan, atau retweet, dsb.
Penelitian menunjukkan bahwa gerakan
kecil ini dapat menghasilkan dampak yang
luar biasa pada kesejahteraan (Emmonse &
Mccullough, 2003).
Dengan bersyukur kita dapat
meningkatkan kesejahteraan kita sendiri
dan orang lain. Baik ucapan syukur dalam
bentuk tertulis atau lisan, sehingga
memungkinkan kita untuk fokus pada saat
ini, pada apa yang kita hargai, maknai dan
memberi kita kegembiraan, kebahagiaan,
atau kepuasan di tengah pandemi covid 19
ini. Pada saat-saat krisis seperti pandemi
covid 19 perspektif bersyukur sangat
penting untuk mempertahankan sikap
positif kita untuk memberi energi,
menyembuhkan, dan membawa harapan.
Penelitian psikologi positif menunjukkan
bahwa emosi positif, termasuk rasa syukur,
bersimbiosis dengan kesehatan dan
kebugaran, sehingga emosi positif
meningkatkan kebahagiaan dan kesuksesan,
menciptakan spiral ke atas (Fishman, 2020).
Sebaliknya, emosi negatif adalah pengingat
penting akan bahaya atau ketidaknyamanan
(Gruber et al., 2011). Bersyukur adalah
praktik kesadaran penuh untuk membantu
kita mengatasi kecemasan dan
ketidakpastian dengan berfokus pada apa
yang kita hargai, apa yang ada dalam
kendali kita, dan apa yang dapat kita
berikan kembali (Emmons, 2013).
Penelitian awal tentang efek pandemi
menunjukkan bahwa banyak aspek
kesehatan mental telah terpengaruh (Van
Bavel et al., 2020). Dampak ini terjadi
bahkan di rumah yang tidak berisi anggota
keluarga yang terjangkit covid 19. Jadi,
pandemi adalah penyebab stres utama,
bahkan jika semua orang di rumah tetap
sehat. Stres juga dapat ditingkatkan dengan
isolasi pasca karantina (Van Bavel et al.,
2020). Dampak pandemi dapat
dikendalikan oleh pemikiran dan ketahanan
yang positif. Penelitian tentang mahasiswa
(N=384) di Wuhan, Cina menemukan
bahwa covid 19 berdampak negatif pada
kesehatan mental, tetapi efek tersebut
tampaknya sangat dimediasi oleh ketahanan
dan pemikiran positif (Yang et al., 2020).