22
Jurnal Syntax Transformation
Vol. 2 No. 1, Januari 2021
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769
Sosial Sains
GRATITUDE PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI USIA PRODUKTIF
Aniyatussaidah, Aulia Ilfana dan Supriadi Suaib
Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Indonesia
Email: anis.darmi03@gmail.com, ilfanaaulia@gmail.com, dan supriadisuaib13@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRACT
Diterima 02 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
10 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
15 Januari 2021
Gratitude is a tendency to realize and respond with gratitude
to yourself or others in a positive or negative experience
experienced. This study aims to find out gratitude picture
based on aspects and conducted among jakartans in
productive age. The research method uses descriptive
quantitative data collection techniques using The Gratitude
Questionnaires Six Item Form (GQ-6) scale. A sample of 110
people. The sample technique used is probability sampling.
Test the requirements of analysis that is normality test using
Kolmogorov-Smirnov and Lilliefors obtained K-S test 0.095
and K-S table 0.05 and Lhitung 0.17 and Ltabel 0.05
concluded K-S test > K-S table and Lhitung >Ltabel then
normal distributed data. Based on a sample of 110 Jakartans
there are 21% in very high categories, 51% in high categories,
20% in sufficient categories and 6% in low categories and 2%
in very low categories. Based on data processing in gratitude
aspect intensity result obtained 95% (very high), Frequency
aspect obtained 54% (very low), and Span aspect obtained
92% (very high), and Density aspect obtained 87% (High).
The highest overall percentage of 51% can be concluded that
the level of gratitude of productive age in Jakarta has a high
gratitude rate in the face of the covid 19 pandemic.
ABSTRAK
Gratitude merupakan suatu kecenderungan untuk menyadari
dan merespon dengan rasa terima kasih terhadap diri sendiri
atau orang lain dalam pengalaman positif atau negatif yang
dialami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
gratitude berdasarkan aspek-aspek dan dilakukan pada
kalangan masyarakat Jakarta di usia produktif. Metode
penelitian menggunakan kuantitatif deskriptif dengan teknik
pengumpulan data menggunakan skala The Gratitude
Questionnaires Six Item Form (GQ-6). Sampel sebanyak 110
orang. Teknik sampel yang digunakan adalah probability
sampling. Uji persyaratan analisis yaitu uji normalitas
menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan Lilliefors diperoleh
K-S test 0,095 dan K-S tabel 0,05 dan L
hitung
0,17 dan L
tabel
0,05 disimpulkan K-S test > K-S tabel dan L
hitung
>Lt
abel
maka
data berdistribusi normal. Berdasarkan sampel 110 masyarakat
Jakarta terdapat 21% dalam kategori sangat tinggi, 51% dalam
kategori tinggi, 20% dalam kategori cukup dan 6% pada
Keywords:
gratitude; productive age;
covid 19 pandemic; Jakarta
Gratitude pada Masa Pandemi Covid-19 di Usia Produktif
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 23
Kata kunci:
gratitude; usia produktif;
pandemi Covid 19; Jakarta
kategori rendah serta 2% pada kategori sangat rendah.
Berdasarkan pengolahan data pada aspek gratitude hasil aspek
Intensity diperoleh 95% (sangat tinggi), aspek Frequency
diperoleh 54% (sangat rendah), dan aspek Span diperoleh 92%
(sangat tinggi), serta aspek Density diperoleh 87% (Tinggi).
Persentase keseluruhan tertinggi yaitu 51% maka dapat
disimpulkan tingkat gratitude usia produktif di Jakarta
memiliki tingkat gratitude tinggi dalam menghadapi masa
pandemi covid 19.
Pendahuluan
Awal tahun 2020 dunia mulai
gempar dengan adanya fenomena Corona
Virus Disease atau COVID-19.
Berdasarkan data harian Covid-19 Kemkes
Pada Hari kamis, 23 Desember 2020,
diperoleh data sejumlah 685.639 yang
terinfeksi positif Covid-19, kemudian
558.703 telah dinyatakan sembuh, dan
20.408 meninggal dunia (Kemkes, 2020).
Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas)
Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito
mengungkapkan, kasus Covid-19 di
Indonesia didominasi oleh usia produktif,
yaitu rentang 19 hingga 45 tahun. "Jumlah
kasus positif di Indonesia didominasi usia
19 sampai 45 tahun atau sebesar 55 persen.
Ini adalah usia produktif, karena memiliki
mobilitas dan aktivitas yang cukup tinggi di
luar rumah," kata Wiku dalam konferensi
pers yang disiarkan di Youtube Sekretariat
Presiden, Kamis (17/9/2020). (Ramadhan,
2020).
Kemudian, data pemantauan Covid-
19 di Jakarta pada 9 September 2020
memperlihatkan, rentang usia 20-29 tahun
dan 30-39 tahun sebagai dua kelompok usia
yang paling banyak terpapar virus corona.
Kategori usia 30-39 tahun menjadi yang
tertinggi dengan 11.707 orang, lalu rentang
usia 20-29 tahun di urutan kedua terbanyak
dengan 10.089 orang. Kemudian berturut-
turut diikuti kelompok usia 40-49 tahun
(8.943 orang); 50-59 tahun (7.824 orang);
di atas 60 tahun (5.544 orang); 6-19 tahun
(3.594 orang); dan usia 5 tahun ke bawah
(1.052 orang). Melihat data di atas,
sebagian besar pasien positif di Jakarta
berasal dari kelompok usia produktif. Tren
serupa juga terlihat dari data suspek dan
kontak erat, di mana rentang usia 20-29
tahun dan 30-39 tahun kembali menjadi dua
kelompok usia dengan jumlah kasus
terbanyak (Hanggara, 2020).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, usia
produktif 20 sampai 49 tahun menjadi
kelompok terbanyak yang terpapar Covid-
19. Berdasarkan data Dinkes DKI per
tanggal 23 Juni sampai 25 Juli 2020 yang
dipaparkan dalam diskusi virtual, tercatat
1.967 pasien positif Covid-19 berusia 20
sampai 29 tahun, lalu 2.212 pasien berusia
30 sampai 39 tahun, dan 1.750 pasien
berusia 40 sampai 49 tahun (Maullana,
2020). Data pada (Badan Pusat Statistik
(BPS), 2020) membagi 2 kategori usia
penduduk. Usia tidak produktif (di bawah
15 tahun dan 65 tahun ke atas) dengan usia
produktif (antara 15 sampai 64 tahun).
Penduduk yang berumur di bawah 15 tahun
disebut belum produktif, karena dianggap
belum mampu menghasilkan barang atau
jasa dalam aktifitas ketengakerjaan.
Penduduk dalam rentang usia antara 15-64
tahun disebut sebagai penduduk berusia
produktif karena dianggap mampu
menghasilkan barang dan jasa dalam
kegiatan yang dilakukan. Sedangkan
kategori terakhir adalah kelompok umur
lebih dari 64 tahun. Masyarakat yang
memasuki usia tersebut sudah tidak
mumpuni untuk memproduksi barang atau
jasa, sehingga kehidupannya dibantu oleh
penduduk yang berusia produktif.
Data yang didapatkan dari
International Association for public
partisipant (IAP 2, 2020) diketahui bahwa
Jumlah penduduk indonesia didominasi
oleh usia produktif (15-64 tahun) sebesar
185,34 juta jiwa. Sisanya adalah usia belum
produktif (0-14 tahun) sebanyak 66,07 juta
jiwa dan usia sudah tidak produktif (65+
tahun) 18,2 juta jiwa. Menurut (Santrock,
Gratitude pada Masa Pandemi Covid-19 di Usia Produktif
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 25
2012) Pada usia 20-40 tahun secara
perkembangan kognitif mereka menjadi
lebih sistematis dan terampil, selain itu
mereka juga lebih berpikir realistis dan
pragmatis, mereka juga tidak lagi
memandang dunia hanya pada 2 arah, hitam
atau putih, benar atau salah, baik atau
buruk, dsb. Namun mereka lebih reflektif
dan relativistik, penuh pertimbangan.
Dalam dunia kerja, usia produktif
memandang pekerjaan lebih serius, mereka
memulai dan meniti karirnya dengan
sungguh-sungguh menghadapi segala
kondisi atau tantangan, selain itu mereka
berusaha untuk menemukan jalan dan
tujuan hidup dengan penuh makna
(Santrock, 2012).
Berbagai negara termasuk Indonesia
masih berjuang untuk mengatasi virus ini.
karena dampaknya bukan hanya terjadi
pada sektor kesehatan tetapi juga berbagai
sektor lainnya (multidimensional) seperti
perekonomian, pendidikan, sosial, bahkan
sampai berdampak pada menyebabkan
gangguan psikologis manusia. Wabah
COVID-19 perlu diakui merupakan sesuatu
hal yang baru dan berbagai pihak belum
siap menghadapinya.
Rasa syukur dapat membantu
meningkatkan ketahanan, membantu
mengurangi risiko ide bunuh diri dengan
meningkatkan makna dalam hidup
(Kleiman et al., 2013). Selain itu Rasa
syukur juga dapat disosialisasikan untuk
melindungi kesejahteraan subjektif
mahasiswa dan mengatasi kesulitan
pandemi dengan lebih baik (Bono, et al.,
2020). Robert Emmons, psikolog dan pakar
dunia tentang syukur menjelaskan bahwa
rasa syukur sebagai pengakuan atas
kebaikan dalam hidup kita (yang mungkin
kita anggap remeh), seringkali karena
tindakan orang lain (Emmonse &
Mccullough, 2003) Saat bersyukur,
individu mengidentifikasi dan menghargai
niat dan upaya yang terlibat dalam tindakan
(Emmonse & Mccullough, 2003).
Menurut (Emmonse & Mccullough,
2003) menyatakan bahwa kebersyukuran
adalah suatu kecenderungan untuk
menyadari dan merespon dengan rasa
terima kasih terhadap diri sendiri atau orang
lain dalam pengalaman positif/negatif yang
dialami. Terdapat 4 faktor yang membentuk
kebersyukuran yaitu 1) Intensity:
Mengucapkan terima kasih diharapkan
memiliki pengalaman positif dibandingkan
mereka yang kurang berterima kasih, 2)
Frequency: Memiliki sikap batin penuh
terima kasih sering merasa bersyukur setiap
harinya dan rasa berterima kasih bisa di
dapat karena kebaikan kecil atau
kesopanan, 3) Span: Mengacu pada
banyaknya hal-hal yang patut di syukuri
dalam kehidupan seperti keluarga,
pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan itu
sendiri, 4) Density: Mengacu pada jumlah
orang-orang yang kehadirannya telah
memberikan dampak positif dalam
kehidupan seseorang.
Mengucap syukur adalah salah satu
konsep tertua di masyarakat, dengan praktik
sebagai inti dari sebagian besar tradisi dan
kebijaksanaan agama. Setiap agama
memerintahkan kepada umatnya untuk
senantiasa bersyukur terhadap apapun yang
dialami, bahkan yang Maha Kuasa
menjanjikan akan menambah keuntungan
jika kita terus bersyukur. Pada agama Islam
terdapat perintah untuk bersyukur, agar
diberikan nikmat. Dalam Yudaisme,
persembahan ucapan syukur resmi
ditemukan pasal pertama dari Perjanjian
Lama (Torah), dan berkat diucapkan
berkali-kali setiap hari, termasuk sebelum
dan sesudah makan. Dalam agama Kristen,
Ekaristi artinya “ucapan syukur” dengan
roti dan anggur yang disajikan sebagai
simbol rasa syukur. Hari raya Thanksgiving
sekuler Amerika juga berpusat pada rasa
syukur (Fishman, 2020).
Bersyukur merupakan suatu emosi
atau perasaan positif dalam diri seseorang
sebagai respon terhadap pemberian,
sehingga mampu mengubah cara berpikir
orang dengan benar dan memotivasi
seseorang untuk berperilaku. (Fitri, 2020).
(Emmonse & Mccullough, 2003)
menggambarkan rasa syukur sebagai emosi
moral yang membantu kita mengenali
ketika orang lain dengan sengaja
mendukung kesejahteraan kita. Dalam
karya selanjutnya, McCullough dan rekan
menemukan dukungan untuk rasa syukur
sebagai adaptasi evolusioner yang tidak
hanya mengakui nilai ketika orang lain
Aniyatussaidah, Aulia Ilfana dan Supriadi Suaib
26 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
menguntungkan kesejahteraan kita, tetapi
juga memperkuat kebaikan orang lain
terhadap kita dan memacu hubungan yang
saling bekerja sama (Forster et al., 2017).
Rasa syukur tidak hanya merupakan sifat
penting untuk memperkuat perilaku
altruistik secara individu dan kelompok,
tetapi juga menjelaskan pengurangan
depresi, kecemasan dan stress (Kendler et
al., 2003). Bersyukur juga terkait dengan
perasaan kesejahteraan subjektif dan dapat
membantu membangun ketahanan.
Satu studi tentang siswa usia sekolah
di Tiongkok menemukan rasa syukur
memiliki hubungan yang signifikan dengan
kesejahteraan subjektif (Tian et al., 2015).
Rasa syukur juga dapat meningkatkan
faktor kekuatan diri. Secara khusus, rasa
syukur tidak hanya tampaknya melindungi
remaja dari stres (Reckart et al., 2017),
tetapi lebih dari itu juga terkait dengan
membangun ketahanan pada individu
setelah trauma besar. Rasa syukur terbukti
berkontribusi untuk mengurangi gejala
PTSD melalui ketahanan (ZHENG Yu-
hong & Ting-chen, 2011) dan untuk
mengembangkan pertumbuhan pasca
trauma (PTG) setelah gempa bumi dahsyat
2008 di Wenchuan, Cina (Zhou & Wu,
2015). Rasa syukur dapat membantu,
terutama selama kesulitan. Lin dan Kim
(2017) menemukan bahwa kebersyukuran
berkontribusi pada kesejahteraan subjektif
pada dewasa muda dan kepuasan kebutuhan
dasar.
Selain itu rasa syukur juga dapat
diberikan dengan cara saling menguatkan
satu sama lain, memberikan semangat,
memberikan rizki, dengan kata lain
memberikan kesejahteraan orang-orang
disekitar kita, karena dengan kita
memberikan kesejahteraan untuk orang-
orang disekitar kita, khususnya yang sedang
terpapar covid maka secara tidak langsung
diri kita akan merasakan kebahagiaan.
Sebelum masa pandemi covid bentuk
syukur atau bentuk rasa terima kasih kita
yaitu dengan menawarkan jabat tangan,
tepukan di punggung, atau pelukan jika
sesuai secara sosial, selain bentuk
komunikasi langsung atau tertulis yang
lebih umum. Sekarang di era social-
distancing covid, ada berbagai cara untuk
mengungkapkan penghargaan: apresiasi
pada rapat kerja Zoom, emoji jempol atau
hati, emoji tepuk tangan, atau retweet, dsb.
Penelitian menunjukkan bahwa gerakan
kecil ini dapat menghasilkan dampak yang
luar biasa pada kesejahteraan (Emmonse &
Mccullough, 2003).
Dengan bersyukur kita dapat
meningkatkan kesejahteraan kita sendiri
dan orang lain. Baik ucapan syukur dalam
bentuk tertulis atau lisan, sehingga
memungkinkan kita untuk fokus pada saat
ini, pada apa yang kita hargai, maknai dan
memberi kita kegembiraan, kebahagiaan,
atau kepuasan di tengah pandemi covid 19
ini. Pada saat-saat krisis seperti pandemi
covid 19 perspektif bersyukur sangat
penting untuk mempertahankan sikap
positif kita untuk memberi energi,
menyembuhkan, dan membawa harapan.
Penelitian psikologi positif menunjukkan
bahwa emosi positif, termasuk rasa syukur,
bersimbiosis dengan kesehatan dan
kebugaran, sehingga emosi positif
meningkatkan kebahagiaan dan kesuksesan,
menciptakan spiral ke atas (Fishman, 2020).
Sebaliknya, emosi negatif adalah pengingat
penting akan bahaya atau ketidaknyamanan
(Gruber et al., 2011). Bersyukur adalah
praktik kesadaran penuh untuk membantu
kita mengatasi kecemasan dan
ketidakpastian dengan berfokus pada apa
yang kita hargai, apa yang ada dalam
kendali kita, dan apa yang dapat kita
berikan kembali (Emmons, 2013).
Penelitian awal tentang efek pandemi
menunjukkan bahwa banyak aspek
kesehatan mental telah terpengaruh (Van
Bavel et al., 2020). Dampak ini terjadi
bahkan di rumah yang tidak berisi anggota
keluarga yang terjangkit covid 19. Jadi,
pandemi adalah penyebab stres utama,
bahkan jika semua orang di rumah tetap
sehat. Stres juga dapat ditingkatkan dengan
isolasi pasca karantina (Van Bavel et al.,
2020). Dampak pandemi dapat
dikendalikan oleh pemikiran dan ketahanan
yang positif. Penelitian tentang mahasiswa
(N=384) di Wuhan, Cina menemukan
bahwa covid 19 berdampak negatif pada
kesehatan mental, tetapi efek tersebut
tampaknya sangat dimediasi oleh ketahanan
dan pemikiran positif (Yang et al., 2020).
Gratitude pada Masa Pandemi Covid-19 di Usia Produktif
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 27
Oleh karena itu, ketabahan dan rasa syukur,
yang terbukti dapat mendukung pencapaian
akademik, hubungan yang mendukung dan
ketahanan (Duckworth et al., 2007) dapat
membantu melindungi individu dari
kesulitan seperti pandemi covid 19.
Berdasarkan paparan dan penelitian
terdahulu mengenai praktik gratitude dapat
diketahui bahwa Gratitude (bersyukur)
dalam menghadapi pandemi covid yaitu
memberikan makna terhadap baik buruknya
peristiwa yang dihadapi, dengan terus
berusaha melakukan sesuatu yang memiliki
kemungkinan untuk dapat bertahan dan
memperbaiki hidup dengan cara
mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan
yang maha esa, tetap berprasangka baik
terhadap masalah yang dihadapi, seperti
permasalahan kehilangan pekerjaan,
menurunya penghasilan, terbatasnya akses
untuk belajar, kekhawatiran dan kecemasan
ketika keluar rumah dikarenakan takut
terpapar covid, terbatasnya untuk bisa
bertemu muka dengan orangtua, anak,
saudara, dsb.
Permasalahannya adalah penelitian
kebersyukuran di Jakarta masih terbatas,
khususnya mengenai kebersyukuran
masyarakat Jakarta dalam menghadapi
pandemi Covid 19, sehingga belum
diketahui apakah tingkat kebersyukuran
masyarakat Jakarta di tengah pandemi ini
tinggi atau rendah. Dengan kita mengetahui
gambaran tingkat bersyukur masyarakat
Jakarta, maka dapat mendukung peneliti
selanjutnya untuk dikorelasikan dengan
permasalahan atau topik pandemi covid
yang berkaitan. Oleh karena itu, kami akan
mencoba melakukan penelitian tentang
gambaran tingkat kebersyukuran
masyarakat Jakarta dalam menghadapi
pandemi covid 19, pada individu usia 19-40
tahun (usia produktif), dengan
menggunakan metode deskriptif kuantitatif,
model survey menggunakan google form.
Instrumen Kebersyukuran (Gratitude)
diadaptasi dari Instrumen The Gratitude
Questionnaire-Six Item Form (GQ-6) yang
disusun oleh (Emmonse & Mccullough,
2003).
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan
adalah metode penelitian deskriptif dengan
pendekatan kuantitatif. (Sugiyono, 2012)
menjelaskan bahwa penelitian deskriptif
yaitu, penelitian yang dilakukan untuk
mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu
variabel atau lebih (independen) tanpa
membuat perbandingan, atau
menghubungkan dengan variabel yang lain.
Subjek penelitian ini adalah masyarakat
Jakarta. Subjek berjumlah 110 orang,
pengambilan sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah probability sampling.
Prosedur tersebut digunakan karena dalam
penelitian ini besar populasi diketahui
secara pasti dan seluruh anggota dari
populasi memiliki kesempatan yang sama
untuk menjadi sampel (Gravetter &
Forzano, 2009). Peneliti melakukan
pengambilan data dengan menggunakan
kuesioner. Kuesioner yang digunakan
dalam penelitian ini ialah alat ukur The
Gratitude Questionnaire-Six Item Form
(GQ-6) yang disusun oleh (Emmonse &
Mccullough, 2003). Untuk validitas dan
reliabilitasnya, peneliti menggunakan
software SPSS for windows Versi 25.
Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dimulai dengan
mempersiapkan instrumen. Instrumen dari
variabel penelitian ini seluruhnya diadaptasi
dari instrumen penelitian The Gratitude
Questionnaire-Six Item Form (GQ-6) yang
disusun oleh (Emmonse & Mccullough,
2003) berbahasa Inggris. Proses adaptasi
dimulai dengan menerjemahkan instrument
penelitian, Back-Translation, Review ahli
kemudian peneliti melakukan uji coba
instrumen. Selanjutnya peneliti
melaksanakan kegiatan penelitian. Proses
analisa data menggunakan teknik uji
validitas, uji reliabilitas, dan uji normalitas.
Proses ini menggunakan software
perhitungan statistik yaitu SPSS for
windows versi 25. Sebelum melakukan
analisis, terlebih dahulu peneliti melakukan
uji prasyarat yaitu uji normalitas data.
Validitas instrumen menunjukan
bahwa hasil dari suatu pengukuran
menggambarkan segi atau aspek yang
diukur (Sukmadinata, 2006). Uji Validitas
Aniyatussaidah, Aulia Ilfana dan Supriadi Suaib
28 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
dilakukan dengan menggunakan product
moment. Berdasarkan uji validitas semua
pernyataan dari 6 item pernyataan valid
untuk melihat gambaran kebersyukuran
masyarakat Jakarta di masa pandemi Covid
19.
Suatu instrumen penelitian dikatakan
memiliki nilai reliabilitas yang tinggi,
apabila tes yang dibuat mempunyai hasil
yang konsisten dalam mengukur yang
hendak diukur (Sukardi, 2009). Instrumen
dapat dikatakan reliabel apabila didapatkan
alpha >0.6. Rumus penghitungan
reliabilitas instrumen menggunakan SPSS,
berdasarkan perhitungan menggunakan
SPSS didapat reliabilitas instrumen sebagai
berikut.
Tabel 1
Reliability Statistics
Berdasarkan hasil pengujian
reliabilitas di atas, diperoleh nilai 0,848.
Jadi angka tersebut lebih besar dari nilai
minimal alpha cronbach 0,666. Dapat
disimpulkan bahwa instrumen tersebut
reliabel dan layak untuk digunakan sebagai
alat ukur instrumen.
Tabel 2
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Hasil uji normalitas dengan
menggunakan SPSS Microsoft for Windows
Versi 25 menggunakan Kolmogorov-
Smirnov dan Lilliefors. Hasil yang
didapatkan berdasarkan tabel diatas
menunjukkan bahwa nilai Kolmogorov-
Smirno Test Statistic 0,095 > 0,05 dan Sig.
Lilliefors 0,17 > 0,05 dapat disimpulkan
data tersebut berdistribusi normal. Pada
instrumen Gratitude tidak dijelaskan
bagaimana pengkategorian bersyukur
sehingga pada penelitian ini pengkategorian
menggunakan lima tingkatan menurut
(Nurkancana & Sumartana, 1986) yaitu:
Sangat Tinggi, Tinggi, Cukup, Rendah, dan
Sangat Rendah. Hasil penelitian ini
merupakan hasil dari penjumlahan skor
setiap item dan kemudian di hitung rata-rata
serta dipersentasekan untuk melihat
gambaran kebersyukuran masyarakat
Jakarta pada masa pandemi Covid 19
Tabel 3
Pedoman Kategori Menurut Wayan &
Sumartana (1986)
Tabel 4
Persentase Gratitude Masyarakat
Jakarta
Jika dibuat dalam bentuk diagram sebagai
berikut.
Cronbach's
Alpha
,848
N
110
Normal
Parameters
a,b
Mean
.0000000
Std.
Deviation
3.958973
03
Most Extreme
Differences
Absolute
.095
Positive
.076
Negative
-.095
Test Statistic
.095
Asymp. Sig. (2-tailed)
.017
c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Pedoman Menurut Wayan &
Sumartana (1986)
Nilai Akhir (%)
Kategori Konversi
90%-100%
Sangat Tinggi
80-89%
Tinggi
70-79%
Cukup
60-69%
Rendah
<60%
Sangat Rendah
Katego
ri
Jumlah
Masyarakat
Persentase
Sangat
Tinggi
23
21%
Tinggi
56
51%
Cukup
22
20%
Rendah
7
6%
Sangat
Rendah
2
2%
Total
110
100%
Gratitude pada Masa Pandemi Covid-19 di Usia Produktif
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 29
Gambar 1
Diagram Gratitude
Berdasarkan sampel 110 masyarakat
Jakarta terdapat 21% (23 masyarakat
Jakarta) memiliki Gratitude dalam kategori
sangat tinggi di masa pandemi Covid 19,
51% (56 masyarakat Jakarta) memiliki
Gratitude dalam kategori tinggi di masa
pandemi Covid 19, 20% (22 masyarakat
Jakarta) memiliki Gratitude dalam kategori
cukup di masa pandemi Covid 19 dan 6%
(7 masyarakat Jakarta) yang memiliki
Gratitude pada kategori rendah di masa
pandemi Covid-19 serta 2% (2 masyarakat
Jakarta) memiliki Gratitude pada kategori
sangat rendah di masa pandemi Covid 19.
Gambar 2
Grafik Persentase Aspek Gratitude
Berdasarkan tabel kategori menurut
(Nurkancana & Sumartana, 1986) dan
diagram diatas, dapat terlihat bahwa pada
aspek Intensity diperoleh 95% berada pada
kategori sangat tinggi, aspek Frequency
diperoleh 54% berada pada kategori sangat
rendah, dan aspek Span diperoleh 92%
berada pada kategori sangat tinggi, serta
aspek Density diperoleh 87% berada pada
kategori Tinggi. Gambaran dari Gratitude
masyarakat Jakarta pada masa pandemi
Covid 19 dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang dapat membentuk kebersyukuran
menurut (Emmonse & Mccullough, 2003)
ada beberapa faktor yang mempengaruhi
gratitude yaitu: Pertama, Emotionality yaitu
suatu kecenderungan dimana seseorang
merasa emosional dan menilai kepuasan
hidupnya. Kedua, Prosociality yaitu
kecenderungan seseorang untuk diterima di
lingkungan sosial. Ketiga, Religiousness
yaitu sesuatu yang berkaitan dengan nilai-
nilai transendental, keagamaan dan
keimanan seseorang.
Kemudian berdasarkan aspek
gratitude diperoleh bahwa masyarakat
Jakarta lebih tinggi melihat pada aspek 1)
Intensity dengan mengucapkan terimakasih
dan rasa syukur dengan memperoleh skor
95% , 2) Span dengan banyaknya hal-hal
yang patut di syukuri dalam kehidupan
dengan memperoleh skor 92%. Selain
faktor diatas Emotionality juga merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi
munculnya gratitude pada seorang individu
(Emmonse & Mccullough, 2003). Secara
konseptual, gratitude memang sebuah
keadaan individu dimana individu tersebut
merasa kagum, berterimakasih, dan
menghargai segala sesuatu yang diterima.
Oleh karena itu, maka dapat dikatakan
bahwa gratitude akan muncul ketika
seorang individu berada pada keadaan yang
positif terutama secara emosi sehingga
dapat memunculkan afek positif dalam diri
individu tersebut.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari penelitian
gratitude pada usia produktif di Jakarta
dalam menghadapi masa pandemi covid 19
diperoleh hasil 21% dalam kategori sangat
tinggi, 51% tinggi, 20% dalam kategori
cukup dan 6% dalam kategori rendah serta
2% dalam kategori sangat rendah.
Persentase tertinggi diperoleh pada kategori
tinggi yaitu 51%, sehingga dapat
disimpulkan bahwa tingkat gratitude usia
produktif di Jakarta memiliki tingkat
gratitude tinggi dalam menghadapi masa
Aniyatussaidah, Aulia Ilfana dan Supriadi Suaib
30 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
pandemi covid 19. Dilihat dari segi aspek
yang mempengaruhi gratitude, berdasarkan
hasil penelitian diperoleh bahwa aspek
Intensity dan Span berada pada kategori
sangat tinggi, sedangkan aspek Frequency
berada pada kategori sangat rendah, dan
aspek Density berada pada kategori Tinggi.
Bibliografi
Badan Pusat Statistik (BPS). (2020). Istilah
Terkait Angka Beban Tanggunga.
Duckworth, A. L., Peterson, C., Matthews,
M. D., & Kelly, D. R. (2007). Grit:
perseverance and passion for long-
term goals. Journal of Personality and
Social Psychology, 92(6), 1087.
Emmons, R. (2013). How gratitude can
help you through hard times. Greater
Good Science Center, May, 13.
Emmonse, R. A., & Mccullough, M. E.
(2003). Counting blessings versus
burdens: An experimental
investigation of gratitude and
subjective well-being in daily life.
Journal of Personality and Social
Psychology, 84(2), 377389.
Fishman, M. D. C. (2020). The Silver
Linings Journal: Gratitude During a
Pandemic. Journal of Radiology
Nursing.
Fitri, K. (2020). Hubungan Optimisme
Dengan Kebersyukuran Pada
Mahasiswa Fakultas Psikologi Uin
Ar-Raniry Banda Aceh Di Masa
Pandemi Covid-19. UIN Ar-Raniry
Banda Aceh.
Forster, D. E., Pedersen, E. J., Smith, A.,
McCullough, M. E., & Lieberman, D.
(2017). Benefit valuation predicts
gratitude. Evolution and Human
Behavior, 38(1), 1826.
Gravetter, F. J., & Forzano, L. A. (2009).
Research methods for the behavioral
science 3 rd edition. Canada:
Wadsworth.
Gruber, J., Mauss, I. B., & Tamir, M.
(2011). A dark side of happiness?
How, when, and why happiness is not
always good. Perspectives on
Psychological Science, 6(3), 222233.
Hanggara, G. . (2020). Mengulik Usia
Pasien Positif Covid 19 di Jakarta.
Jakarta.go.id.
https://corona.jakarta.go.id/id/artikel/
mengulik-usia-pasien-positif-covid-
19-di-jakarta
IAP 2. (2020). Partisipasi Publik Ala Anak
Muda di Masa Pandemi Covid 19.
https://iap2.or.id/partisipasi-publik-
ala-anak-muda-di-masa-pandemi-
covid-19
Kemkes. (2020). Situasi Covid 19.
https://www.kemkes.go.id/
Kendler, K. S., Liu, X.-Q., Gardner, C. O.,
McCullough, M. E., Larson, D., &
Prescott, C. A. (2003). Dimensions of
religiosity and their relationship to
lifetime psychiatric and substance use
disorders. American Journal of
Psychiatry, 160(3), 496503.
Kleiman, E. M., Adams, L. M., Kashdan, T.
B., & Riskind, J. H. (2013). Gratitude
and grit indirectly reduce risk of
suicidal ideations by enhancing
meaning in life: Evidence for a
mediated moderation model. Journal
of Research in Personality, 47(5),
539546.
Nurkancana, W., & Sumartana, P. P. N.
(1986). Evaluasi pendidikan.
Surabaya: Usaha Nasional.
Ramadhan, A. (2020). Kasus Positif Covid
Indonesia didominasi Usia Produktif.
Kompas.
Reckart, H., Huebner, E. S., Hills, K. J., &
Valois, R. F. (2017). A preliminary
study of the origins of early
Gratitude pada Masa Pandemi Covid-19 di Usia Produktif
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 31
adolescents’ gratitude differences.
Personality and Individual
Differences, 116, 4450.
Santrock, J. W. (2012). Life-Span
Development (Edisi 13 Jilid 1).
Jakarta: Erlangga.
Sugiyono, S. (2012). Metode penelitian
kuantitatif kualitatif dan r&b.
bandung. Indonesia: Alfabeta.
Sukardi. (2009). Metode Penelitian
Pendidikan Kompetensi dan
Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukmadinata, N. S. (2006). Pendidikan
Metode penelitian. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Tian, L., Du, M., & Huebner, E. S. (2015).
The effect of gratitude on elementary
school students’ subjective well-being
in schools: The mediating role of
prosocial behavior. Social Indicators
Research, 122(3), 887904.
Van Bavel, J. J., Baicker, K., Boggio, P. S.,
Capraro, V., Cichocka, A., Cikara, M.,
Crockett, M. J., Crum, A. J., Douglas,
K. M., & Druckman, J. N. (2020).
Using social and behavioural science
to support COVID-19 pandemic
response. Nature Human Behaviour,
112.
Yang, D., Tu, C.-C., & Dai, X. (2020). The
effect of the 2019 novel coronavirus
pandemic on college students in
Wuhan. Psychological Trauma:
Theory, Research, Practice, and
Policy, 12(S1), S6.
ZHENG Yu-hong, F. A. N., & Ting-chen,
C. L. U. O. (2011). Relationship
between gratitude and symptoms of
post-traumatic stress disorder among
adolescents: Mediation of social
support and resilience. Psychological
Development and Education, 5, 12.
Zhou, X., & Wu, X. (2015). Longitudinal
relationships between gratitude,
deliberate rumination, and
posttraumatic growth in adolescents
following the Wenchuan earthquake
in China. Scandinavian Journal of
Psychology, 56(5), 567572.