Kode Etik Pendidikan dalam Perspektif Islam
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 17
Metode Penelitian
Kajian ini menggunakan metode studi
pustaka (library research). Studi pustaka
adalah kegiatan membaca dan menulis untuk
mengumpulkan data, kemudian data tersebut
diolah sebagai bahan dalam penelitian (Zed,
2003). Lebih lanjut Zed menjelaskan bahwa
ada empat karakteristik dalam metode studi
pustaka, yaitu: Pertama, Peneliti mengambil
data bukan dari lapangan, tapi dari teks atau
tulisan. Kedua, Data kepustakaan bersifat
“siap pakai” karena peneliti mengambil data
dari teks, bukan dari lapangan. Ketiga, Data
pustaka bersifat sekunder, dengan artian data
diperoleh dari tangan kedua, bukan data dari
lapangan yang bersifat orisinil. Keempat,
Data pustaka dapat diperoleh kapan saja,
karena tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Adapun metode mengumpulkan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
membaca beberapa karya ilmiah, seperti
jurnal, text book, dan berbagai dokumen yang
dianggap relevan. Kemudian= data tersebut
ditelaah, dianalisis, bahkan dikomparasikan,
kemudian disimpulkan dan ditulis dalam
bentuk karya tulis ilmiah.
Hasil dan Pembahasan
A. Nilai Akhlak Dalam Islam
Pendekatan Islam dalam pendidikan
akhlak amat menekankan kepada
penanaman aqidah atau rohani. Ini karana,
aqidah merupakan teras Islam yang utama.
Kepentingan aqidah dalam Islam dapat
dilihat menerusi nas-nas al-Quran dan
Hadist yang banyak mengaitkan
pembentukan akhlak dengan aqidah atau
iman. Misalnya, “Orang mukmin yang
paling sempurna imannya ialah yang
paling baik akhlaknya” (Imam Ahmad,
Juz 3, no. 7406) dan “Tidak sempurna
iman seseorang itu sehingga dia mengasihi
saudaranya sebagaimana dia mengasihi
dirinya sendiri” (Sahih Bukhari, Jilid
1,Bil. 10). Dalam hal ini Tunku
SarahTunku Mohd. Jiwa menyebutkan
sebagaimana dijelaskan oleh (Suhid,
2007), penerapan nilai akhlak bermula
daripada intipati tauhid kepada Allah SWT
demi melahirkan insan soleh dan
berakhlak. Beliau membuat kesimpulan
bahawa pengajaran nilai akhlak yang
berkesan akan berlaku apabila dikaitkan
dengan kepercayaan kepada Tuhan. Begitu
juga, menurut Hasan (1987) kuat atau
lemahnya iman seseorang dapat diukur
dan diketahui dari pada perilaku
akhlaknya. Iman yang kuat akan
mewujudkan akhlak yang baik dan mulia,
sedangkan iman yang lemah melahirkan
akhlak yang buruk dan keji. Dengan kata
lain, agama merupakan asas dalam
pembentukan akhlak manusia. Tanpa
ikatan agama, suatu pendidikan akhlak itu
tidak akan mantap dan kekal malah hanya
bersifat sementara yang akhirnya
membawa kepada kegagalan pendidikan
akhlak. Tegasnya, pendidikan agama
dipercayai berupaya mempengaruhi cara
pemikiran anak-anak khususnya remaja
dan seterusnya tingkah laku mereka. Oleh
itu, orang yang berpendidikan agama lebih
terarah untuk mengamalkan nilai akhlak
Islam dan mengelakkan diri dari pada
perbuatan buruk, individu hendaklah
memiliki pegangan agama yang kukuh
dalam menghadapi cobaaran hidup (Suhid,
2007).
Dalam konteks dunia global yang
kompetitif ini, menerusi pendekatan Islam
yang dilakukan secara holistik dan efektif,
diyakini bahawa hasrat untuk
mempertingkatkan peradaban ummah dan
membangunkan modal insan bermindakan
kelas pertama dapat dilakukan.
Sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah
s.w.t dalam firmanNya yang bermaksud:
“Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri
itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah
dari langit dan bumi” (Surah al-A’raf, ayat
96). Amalan dan penghayatan nilai-nilai