Fardhal Virgiawan Ramadhan
66 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
oleh Korea Selatan yang bertujuan untuk
mempertahankan keamanan negaranya dari
serangan senjata nuklir Korea Utara
(Sebastien Roblin, 2019). Akan tetapi,
jangkauan radar THAAD ini ternyata dapat
mendeteksi pertahanan militer Tiongkok di
wilayah utara dan timur yang merupakan
bagian dari penempatan peralatan militer
Tiongkok (Sankaran, n.d.) sehingga hal ini
memperparah hubungan kedua negara dan
membuat security dilemma terjadi di kawasan
meningkat. Tiongkok menjelaskan
permasalahan penempatan ini menjadi salah
satu hal yang dapat memperparah distrust
antarnegara di kawasan Asia Timur.
Penempatan THAAD ini selain dapat
menjangkau wilayah pertahanan Tiongkok.
Penempatan dan pengalokasian tersebut
merupakan atas bantuan militer dengan
negara aliansinya yaitu Amerika Serikat.
Salah satu ancaman terbesar yang
dirasakn oleh negara di kawasan Asia Timur
yakni dengan pengembangan dan uji coba
senjata uklir yang dilakukan berulang kali
oleh Korea Utara. Hal ini tentu menyebabkan
instabilitas dan keamanan nasional di
kawasan Asia Timur. Diketahui pada tahun
2016, Korea Utara telah melakukan uji coba
senjata nuklir sebanyak lima kali yang
dilakukan secara terturut-turut setiap
bulannya (Ericssen, 2017). Kemudian,
dilanjutkan pad tahun 2017, Korea Utara
melakukan uji cobba senjata nuklir yang tidak
kalah fantastis yakni dengan melakukan uji
coba rudal bbalistik antar benua yang radar
nuklir tersebut dapat mencapai Hawaii
(Pascal, 2017). Uji coba dan peluncuran rudal
balistik tersebut merupakan salah satu
ancaman yang dapat mengganggu stabilitas
kawasan. Tentu dengan dilakukannya uji coba
senjata nuklir tersebut akan menimbulkan
ancaman baik secara militer dan non militer,
terutama bagi negara di kawasan Asia Timur
itu sendiri.
Dilema keamanan di kawasan Asia
Timur diperkuat ketika Jepang dan Korea
Selatan melakukan operasi militer bersama
dengan Amerika Serikat yang secara khusus
ditujukan untuk pertahanan angkatan laut
ketiga negara di kawasan Asia Timur yang
berarti bahwa Amerika Serikat melakukan
penguatan pertahanan militernya di kawasan
dengan negara aliansinya. Ketiga negara
tersebut melakukan latihan menembak,
operasi pencegahan serangan udara, perang
anti-kapal selam, dan pengisian ulang bahan
bakar di laut (CNN Indonesia, 2019). Dengan
demikian, ancaman yang terjadi tidak hanya
disebabkan oleh ancaman yang disebabkan
antarnegara di kawasan Asia Timur, tetapi
terdapat aktor eksternal yang berperan
sehingga turut memperparah security
dilemma yang terjadi. Kegiatan berupa
latihan, operasi, dan patroli militer yang
memiliki tujuan untuk memperkuat
pertahanan negara akan menimbulkan
kekhawatiran bagi negara lain sehingga
timbul sikap misperception antarnegara
disekitarnya. Hal inilah yang menyebabkan
security dilemma dan memperparah sikap
tidak saling percaya diantara negara muncul.
Berdasarkan penelitian yang ditulis
oleh (Wu, 2019), balancing yang dilakukan
oleh suatu negara dapat mempengaruhi
perilaku dan interaksi negara dalam
melakukan hubungannya. Jepang dan Korea
Selatan melakukan balancing dengan
Amerika Serikat sebagai negara aliansi yang
dianggap mampu untuk mengimbangi
Tiongkok di kawasan Asia Timur. Jepang dan
Korea Selatan menjamin keamanan negara
nya kepada Amerika Serikat. Akan tetapi, hal
ini dapat mempengaruhi hubungan dan pola
interaksi negara di kawasan tersebut. Hal ini
memperparah hubungan dan interaksi yang
terjadi di kawasan sehingga security dilemma
di kawasan Asia Timur kembali diperparah.
Amerika Serikat melakukan upaya berupa soft
balancing/ indirect balancing melalui negara
aliansinya yaitu Jepang dan Korea Selatan.
Masalah ini muncul sebagai salah satu akibat
dari pengaruh Amerika Serikat di kawasan
Asia Pasifik dengan kebijakan ‘Pivot to Asia’
yang dicanangkan sehingga memiliki
keterikatan dengan negara aliansinya dalam
memperkuat pertahanan yang terjalin dengan
membantu berupa bantuan militer,
penempatan pasukan militer dengan didukung
kapasitas dan kapabilitas militer.
Berdasarkan fenomena tersebut,
Tiongkok memperkuat postur pertahanan
negaranya atas permasalahan yang
mengganggu stabilitas dan perdamaian di
kawasan. Tiongkok melakukan strategi
pertahanan untuk dapat mengoptimalkan
postur pertahanan negaranya melalui China’s