63
Jurnal Syntax Transformation
Vol. 2 No. 1, Januari 2021
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769
Sosial Sains
STRATEGI PERTAHANAN TIONGKOK DALAM MENGOPTIMALKAN POSTUR
PERTAHANAN NEGARA
Fardhal Virgiawan Ramadhan
Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi Jawa Barat, Indonesia
Email: officialafdhal@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRACT
Diterima 05 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
10 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
15 Januari 2021
China is increasing its defense capabilities based on China's
National Defense in The New Era in 2019. China's increased
defense capabilities are not solely to optimize the country's
defense posture for its national security. But as one of the
measures to maintain regional stability in East Asia.
According to China's National Defense, there are threats in
the East Asia region that could lead to the stability of
surrounding countries such as the development of South
Korea's THAAD defense capabilities, changes in Japan's
defense policy, North Korea's ballistic missile capabilities and
external involvement in the East Asia Region, namely the
United States. The purpose of this study is to explain and
analyze defense strategies carried out by China based on
problems that occurred in China's National Defense in The
New Era 2019. This study uses realism, security dilemma,
national security, and defense strategy. The results in this
study showed that changes and improvements in the country's
defense capabilities in the East Asia region caused instability
in the Region. This makes countries in the East Asia region
distrust each other. For the distrust that occurred it is very
important for China to increase its defense capabilities to
optimize its country's defense posture to be stronger and
modern.
ABSTRAK
Tiongkok meningkatkan kemampuan pertahanannya
berdasarkan China’s National Defense in The New Era in
2019. Tiongkok melakukan peningkatan kemampuan
pertahanannya tidak semata-mata untuk mengoptimalksan
postur pertahanan negara untuk keamanan nasionalnya. Tetapi
sebagai salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas kawasan
di Asia Timur. Berdasarkan China’s National Defense bahwa
terdapat ancaman di kawasan Asia Timur yang dapat
menimbulkan stabilitas negara di sekitarnya seperti
perkembangan kemampuan pertahanan THAAD Korea
Selatan, perubahan kebijakan pertahanan Jepang, kemampuan
rudal balistik Korea Utara dan keterlibatan actor eksternal di
Kawasan Asia Timur yakni Amerika Serikat. Tujuan
penelitian ini untuk menjelaskan dan menganalisis strategi
pertahanan yang dilakukan oleh Tiongkok berdasarkan
Keywords:
defense strategy; national
security; threat; east asia
stability
Fardhal Virgiawan Ramadhan
64 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
Kata kunci:
strategi pertahanan; keamanan
nasional; ancaman; stabilitas
asia timur
permasalahan yang terjadi dalam China’s National Defense in
The New Era 2019. Penelitian ini menggunakan pendekatan
realisme, security dilemma, keamanan nasionnal, dan strategi
pertahanan. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan dengan
adanya perubahan dan peningkatan kemampuan pertahanan
negara di kawasan Asia Timur menimbulkan instabilitas di
Kawasan. Hal ini menjadikan negara di kawasan Asia Timur
menjadi distrust antara satu dengan yang lainnya. Atas distrust
yang terjadi sangat penting bagi Tiongkok melakukan
peningkatan kemampuan pertahanannya untuk
mengoptimalkan postur pertahanan negaranya menjadi lebih
kuat dan modern.
Pendahuluan
Postur pertahanan negara menjadi salah
satu instrumen penting dalam menjaga dan
mempertahankan kedaulatan dan keamanan
nasional. Keamanan nasional dapat
diterminologikan sebagai kepentingan
nasional negara dalam menghadapi segala
ancaman sehingga keamanan nasional
menjadi nilai penting bagi setiap negara.
Keamanan dapat diartikan sebagai salah satu
kemampuan suatu negara dalam melindungi
nilai-nilai yang bersifat internal dari ancaman
luar yang dapat mengganggu nilai tersebut
(Anggoro, 2003). Tiongkok meningkatkan
keamanan nasional negaranya untuk dapat
melindungi nilai-nilai internal negaranya atas
gangguan dan ancaman dari luar. Ancaman
dari luar ini dapat dilihat dari kapasitas dan
kapabilitas militer yang memadai di kawasan
tersebut sehingga menyebabkan
ketidakstabilan di kawasan tersebut.
Kawasan Asia Timur salah satu
kawasan yang terletak di bagian Timur Asia.
Negara di kawasan Asia Timur terdiri atas
Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Korea
Utara (Teuku May Rudi, 1997). Negara
tersebut memiliki hubungan yang tidak stabil
terutama dalam pertahanan. Kemampuan
pertahanan negara di kawasan tersebut
menyebabkan ketidakstabilan hubungan
diantara negara di kawasan tersebut.
Kemampuan pertahanan ini dapat
menyebabkan security dilemma bagi negara
disekitarnya atas respon kemampuan militer
yang dikembangkan oleh negara sekitarnya.
Ketidakstabilan ini sangat berkaitan dengan
sejarah masa lalu yang kelam negara di
kawasan ini dalam hubungan internasional.
Berdasarkan China’s National Defense
in The New Era Tahun 2019. Tiongkok
menjelaskan berbagai permasalahan yang
terjadi di kawasan Asia Timur yang dapat
menyebabkan stabilitas dan perdamaian di
kawasan terganggu. Diantaranya pada tahun
2015, dalam National Defense Program
Guidelines Jepang melakukan perubahan
kebijakan pertahananya dari basic defense
force menjadi dynamic defense force, yang
berarti pertahanan Jepang semakin aktif
dalam melakukan kegiatan seperti operasi dan
patroli militer bersama meskipun dalam
kondisi stabil (The People’s Republic of
China, 2010). Perubahan kebijakan
pertahanan Jepang yang secara tiba-tiba
menjadikan keamanan di kawasan Asia Timur
semakin rentan akan dilema sehingga setiap
negara meningkatkan kemampuan
pertahanannya untuk mencapai keamanan
nasionalnya. Hal ini diperkuat bahwa setelah
perubahan kebijakan pertahanan tersebut
Jepang semakin aktif dalam meningkatkan
pertahanan negaranya. Kemudian, tahun 2018
Jepang diketahui membeli alutsista buatan
Amerika Serikat sebanyak 45 jet jenis F-35
(CNN Indonesia, 2018). Pembelian jet
tersebut untuk mempertegas kemitraan
dengan Amerika Serikat dan untuk
membangun dan memperkuat sistem
pertahanan negaranya termasuk
pengembangan pertahanan berbasis misil
balistik. Hal ini sesuai dengan perubahan
kebijakan Jepang dari self defense menjadi
collective self defense.
Pada tahun 2016, kawasan Asia Timur
dikejutkan dengan sistem pertahanan berbasis
misil balistik THAAD (Terminal High
Altitude Area Defense) yang dikembangkan
Fardhal Virgiawan Ramadhan
66 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
oleh Korea Selatan yang bertujuan untuk
mempertahankan keamanan negaranya dari
serangan senjata nuklir Korea Utara
(Sebastien Roblin, 2019). Akan tetapi,
jangkauan radar THAAD ini ternyata dapat
mendeteksi pertahanan militer Tiongkok di
wilayah utara dan timur yang merupakan
bagian dari penempatan peralatan militer
Tiongkok (Sankaran, n.d.) sehingga hal ini
memperparah hubungan kedua negara dan
membuat security dilemma terjadi di kawasan
meningkat. Tiongkok menjelaskan
permasalahan penempatan ini menjadi salah
satu hal yang dapat memperparah distrust
antarnegara di kawasan Asia Timur.
Penempatan THAAD ini selain dapat
menjangkau wilayah pertahanan Tiongkok.
Penempatan dan pengalokasian tersebut
merupakan atas bantuan militer dengan
negara aliansinya yaitu Amerika Serikat.
Salah satu ancaman terbesar yang
dirasakn oleh negara di kawasan Asia Timur
yakni dengan pengembangan dan uji coba
senjata uklir yang dilakukan berulang kali
oleh Korea Utara. Hal ini tentu menyebabkan
instabilitas dan keamanan nasional di
kawasan Asia Timur. Diketahui pada tahun
2016, Korea Utara telah melakukan uji coba
senjata nuklir sebanyak lima kali yang
dilakukan secara terturut-turut setiap
bulannya (Ericssen, 2017). Kemudian,
dilanjutkan pad tahun 2017, Korea Utara
melakukan uji cobba senjata nuklir yang tidak
kalah fantastis yakni dengan melakukan uji
coba rudal bbalistik antar benua yang radar
nuklir tersebut dapat mencapai Hawaii
(Pascal, 2017). Uji coba dan peluncuran rudal
balistik tersebut merupakan salah satu
ancaman yang dapat mengganggu stabilitas
kawasan. Tentu dengan dilakukannya uji coba
senjata nuklir tersebut akan menimbulkan
ancaman baik secara militer dan non militer,
terutama bagi negara di kawasan Asia Timur
itu sendiri.
Dilema keamanan di kawasan Asia
Timur diperkuat ketika Jepang dan Korea
Selatan melakukan operasi militer bersama
dengan Amerika Serikat yang secara khusus
ditujukan untuk pertahanan angkatan laut
ketiga negara di kawasan Asia Timur yang
berarti bahwa Amerika Serikat melakukan
penguatan pertahanan militernya di kawasan
dengan negara aliansinya. Ketiga negara
tersebut melakukan latihan menembak,
operasi pencegahan serangan udara, perang
anti-kapal selam, dan pengisian ulang bahan
bakar di laut (CNN Indonesia, 2019). Dengan
demikian, ancaman yang terjadi tidak hanya
disebabkan oleh ancaman yang disebabkan
antarnegara di kawasan Asia Timur, tetapi
terdapat aktor eksternal yang berperan
sehingga turut memperparah security
dilemma yang terjadi. Kegiatan berupa
latihan, operasi, dan patroli militer yang
memiliki tujuan untuk memperkuat
pertahanan negara akan menimbulkan
kekhawatiran bagi negara lain sehingga
timbul sikap misperception antarnegara
disekitarnya. Hal inilah yang menyebabkan
security dilemma dan memperparah sikap
tidak saling percaya diantara negara muncul.
Berdasarkan penelitian yang ditulis
oleh (Wu, 2019), balancing yang dilakukan
oleh suatu negara dapat mempengaruhi
perilaku dan interaksi negara dalam
melakukan hubungannya. Jepang dan Korea
Selatan melakukan balancing dengan
Amerika Serikat sebagai negara aliansi yang
dianggap mampu untuk mengimbangi
Tiongkok di kawasan Asia Timur. Jepang dan
Korea Selatan menjamin keamanan negara
nya kepada Amerika Serikat. Akan tetapi, hal
ini dapat mempengaruhi hubungan dan pola
interaksi negara di kawasan tersebut. Hal ini
memperparah hubungan dan interaksi yang
terjadi di kawasan sehingga security dilemma
di kawasan Asia Timur kembali diperparah.
Amerika Serikat melakukan upaya berupa soft
balancing/ indirect balancing melalui negara
aliansinya yaitu Jepang dan Korea Selatan.
Masalah ini muncul sebagai salah satu akibat
dari pengaruh Amerika Serikat di kawasan
Asia Pasifik dengan kebijakan ‘Pivot to Asia’
yang dicanangkan sehingga memiliki
keterikatan dengan negara aliansinya dalam
memperkuat pertahanan yang terjalin dengan
membantu berupa bantuan militer,
penempatan pasukan militer dengan didukung
kapasitas dan kapabilitas militer.
Berdasarkan fenomena tersebut,
Tiongkok memperkuat postur pertahanan
negaranya atas permasalahan yang
mengganggu stabilitas dan perdamaian di
kawasan. Tiongkok melakukan strategi
pertahanan untuk dapat mengoptimalkan
postur pertahanan negaranya melalui China’s
Strategi Pertahanan Tiongkok dalam Mengoptimalkan Postur Pertahanan Negara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 67
National Defense in The New Era. Fenomena
ini menjadikan pentingnya pengoptimalan
postur pertahanan negara didalam kondisi
yang anarki. Secara umum penelitian ini
dilakukan untuk menganalisis strategi
pertahanan Tiongkok dalam mengoptimalisasi
postur pertahanan negaranya berdasarkan
China’s National Defense in The New Era.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan luaran
penelitian deskriptif-analitik dengan
menggunakan pendekatan penelitian
kualitatif. Sumber data yang dikelola dalam
penelitian ini berasal dari data sekunder. Data
sekunder diperoleh dari berbagai literatur
berupa (buku, jurnal, portal berita dan sumber
pustaka lainnya) untuk dapat mendukung
penelitian ini. Teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan
model Miles, Huberman, dan Saldana (2014)
yang meliputi kondensasi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan. Peneliti tidak
hanya menyederhanakan keseluruhan data
tetapi akan menarik inti dari pernyataan
dalam penjelasan yang akan dilakukan terkait
dengan strategi pertahanan Tiongkok dalam
mengoptimalkan postur pertahanan
negaranya.
Hasil dan Pembahasan
A. Realisme: Sebagai Upaya dalam
Mencapai Keamanan Nasional
Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu Realisme. Realisme
memandang bahwa permasalahan utama
dalam hubungan internasional yaitu
kondisi anarki dan tidak adanya otoritas
yang mengatur dalam hubungan
antarnegara sehingga negara berhak
memutuskan setiap keputusannya (Jill
Steans and Lloyd Pettiford, 2009).
Pemikiran realisme dapat dilihat di
kawasan Asia Timur bahwa kondisi
anarki yang terjadi menyebabkan setiap
negara meningkatkan kemampuan
militernya untuk dapat mencapai
keamanan nasionalnya. Kondisi anarki
tersebut disebabkan tidak adanya otoritas
yang mengatur dalam hubungan
internasional sehingga negara di
kawasan Asia Timur satu sama lain
meningkatkan kemampuan militernya
meskipun dalam kondisi stabil sekalipun.
Meskipun tidak adanya otoritas yang
mengatur dalam hubungan internasional
tersebut, tetapi tetap peningkatan
kemampuan militer dapat menyebabkan
negara disekitarnya rentan akan security
dilemma.
Security dilemma terjadi ketika
suatu negara melakukan pengamanan
terhadap negaranya yang kemudian
disalah artikan oleh negara lain sehingga
peningkatan kemampuan militer
antarnegara terjadi (Jervis, 1978).
Perkembangan kemampuan militer
negara dapat menjadikan salah satu
penyebab terjadinya security dilemma.
Hal ini dapat dilihat di kawasan Asia
Timur yang memiliki perkembangan
kemampuan militer yang memadai.
Perkembangan kemampuan militer
negara di kawasan Asia Timur
menyebabkan negara sekitar merespon
akan kemampuan militer yang dilakukan
oleh negara lain sehingga rasa khawatir
dan sikap saling curiga diantara negara di
kawasan Asia Timur muncul sehingga
negara di kawasan Asia Timur tidak
dapat menutupi dilema keamanan yang
terjadi di kawasan tersebut.
Atas security dilemma yang terjadi
Tiongkok melakukan strategi
pertahanan atas permasalahan yang
terjadi. Menurut Colin S. Gray, bahwa
strategi merupakan sebuah penggunaan
kekuatan untuk dapat tercapainya tujuan
nasional (ends) (Gray, 1999). Colin S.
Gray mengungkapkan bahwa strategi
dibagi menjadi tiga instrumen yaitu
means, ways, dan ends. Ketiga instrumen
tersebut memiliki keselarasan antara satu
dengan yang lainnya. Instrumen ways
dapat dihubungkan dengan penggunaan
kekuatan militer suatu negara untuk
mencapai tujuan negara tersebut
sedangkan means bertujuan untuk
melakukan kegiatan yang bersifat
langsung seperti operasi dan taktik
militer yang dilakukan oleh negara dan
ends yang dapat diartikan sebagai tujuan
negara seperti kebijakan untuk dapat
mencapai kegiatan ways dan means.
Tentu dengan melakukan strategi
pertahanan ini Tiongkok ingin mencapai
Fardhal Virgiawan Ramadhan
68 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
keamanan nasional nya yang
merupakan bagian penting dalam
kepentingan nasional suatu negara
(Barry, 1991).
Peningkatan kemampuan militer
negara di kawasan Asia Timur dalam
mencapai keamanan nasional dapat
diterminologikan sebagai kepentingan
nasional setiap negara yang harus
dicapai. Salah satu instrumen yang dapat
melindungi dan mempertahankan
keamanan nasional adalah dengan
meningkatkan kekuatan militer yang
dimiliki suatu negara (Hopkins, 1979).
Keamanan nasional tidak terlepas dari
adanya penggunaan kekuatan militer
sebagai salah satu faktor keberhasilan
negara dalam menjaga dan
mempertahankan keamanan nasional
negaranya. Hal ini dapat dilihat dari
negara di kawasan Asia Timur yang
tidak terlepas dari pengembangan
kemampuan militer sehingga untuk
mencapai keamanan nasional tersebut,
negara di kawasan Asia Timur
melakukan pengembangan kemampuan
militer untuk mencapai keamanan
nasionalnya. Tiongkok selain memiliki
peran atas peningkatan kemampuan
militer yang terjadi. Hal ini bertujuan
untuk dapat menghadapi ancaman yang
terjadi di kawasan Asia Timur yang
dapat menyebabkan ketidakstabilan
antarnegara.
B. Pergeseran Keamanan Negara di
Kawasan Asia Timur
Keamanan di kawasan Asia Timur
dapat dilihat dari tiga kejadian penting di
kawasan tersebut diantaranya pasca
Perang Dunia II, Perang Dingin, dan
Abad ke-21. Pola keamanan di kawasan
Asia Timur mulai mengalami pergeseran
mulai dari kekalahan besar Jepang pada
Perang Dunia II, Perang Korea yang
terjadi dan merupakan puncak dari
pergeseran keamanan di kawasan Asia
Timur dan dampaknya dapat dirasakan
sampai saat ini. Kemudian, pada abad
ke-21 pola keamanan di kawasan Asia
Timur yang tidak adanya ikatan dan
sikap saling percaya antarnegara di
kawasan tersebut. Hal ini diperkuat
dengan kejadian yang terjadi di kawasan
tersebut dan turut dijelaskan didalam
China’s National Defense in The New
Era, diantaranya:
“The deployment of the Terminal
High Altitude Area Defense (THAAD)
system in the Republic of Korea (ROK)
by the US has severely undermined the
regional strategic balance and the
strategic security interests of regional
countries. In an attempt to circumvent
the post-war mechanism, Japan has
adjusted its military and security policies
and increased input accordingly, thus
becoming more outward-looking in its
military endeavors.” (The State Council
Information Office of the People’s
Republic of China, 2019: 5).
Permasalahan yang terjadi di
kawasan Asia Timur telah dijelaskan
dalam China’s National Defense in The
New Era, bahwa pengembangan
kemampuan militer negara dan
perubahan kebijakan Jepang di kawasan
Asia Timur dapat mempengaruhi
stabilitas kawasan. Selain, menjelaskan
aktor internal di kawasan Asia Timur.
Tiongkok juga menjelaskan bahwa
pengaruh aktor eksternal di dalam
kawasan dapat mempengaruhi stabilitas
kawasan tersebut. Pengaruh aktor
eksternal di kawasan Asia Timur
memiliki pengaruh yang sangat besar,
jika dilihat pola interaksinya aktor
eksternal di kawasan Asia Timur seperti
Amerika Serikat memiliki hubungan
yang baik dengan Jepang dan Korea
Selatan sehingga memungkinkan negara
tersebut akan memiliki keterikatan satu
dengan yang lainnya dan hal ini
diperkuat dengan adanya bantuan militer
yang dilakukan oleh Amerika Serikat di
kawasan Asia Pasifik.
Kebijakan Pertahanan Jepang pada
tahun 2010 dalam National Defense
Program Guidelines for FY2011
memiliki perubahan dan perluasan
konsep pertahanan. Sebelumnya, Jepang
menegaskan bahwa kebijakan pertahanan
yang berawal “Basic Defense Force
Concept menjadi Dynamic Defense
Force(The People’s Republic of China,
2010). Jepang semakin aktif dalam
melakukan berbagai kegiatan bahkan
Strategi Pertahanan Tiongkok dalam Mengoptimalkan Postur Pertahanan Negara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 69
operasi militer bagi pasukan SDF (Self-
Defense Force) yang merupakan pasukan
pertahanan negara Jepang. Jepang
meningkatkan kapabilitas pertahanannya
dengan melakukan berbagai aktivitas
seperti operasi militer maupun latihan
militer pada waktu damai sehingga
operasi militer tersebut dapat membuat
misperception negara lain atas reaksi
yang terjadi. Berikut ini merupakan hasil
perubahan kebijakan pertahanan yang
dilakukan oleh Jepang tahun 2012
2019.
Gambar 1
Hasil Perubahan Kebijakan Pertahanan
Jepang Tahun 2012-2019
Pada tahun 2016, Korea Selatan
mengembangkan C4ISR (Command,
Control, Communications, Computers,
Intelligence, Surveillance and
Reconnaissance) (Barnett, 2005) jenis
High Altitude berupa THAAD melalui
Status of Forces Agreement (SOFA)
dengan bantuan Amerika Serikat.
THAAD memiliki jangkauan lebih dari
200 kilometer dan mencapai ketinggian
150 kilometer. Sistem pertahanan
THAAD ini dapat mengidentifikasi dan
menjangkau ancaman rudal hingga 1.000
kilometer (Army Technology, 2019).
Pengembangan THAAD ini sesuai
dengan rencana Defense Reform 2020
sehingga Korea Selatan dapat mencapai
kemampuan militer berbasis teknologi
yang mutakhir. Kemampuan militer
tersebut dapat dikatakan sebagai salah
satu teknologi militer terbarukan dalam
menjangkau/ mendeteksi ancaman yang
ada disekitarnya. Jangkauan radar
THAAD Korea Selatan sebagai berikut.
Gambar 2
Jangkauan Radar THAAD Korea
Selatan
Jangkauan radar THAAD ini
selain dapat melacak keberadaan
peralatan pertahanan Tiongkok di bagian
timur dan selatan. Tetapi dapat
menjangkau seluruh negara di kawasan
Asia Timur. Pengembangan THAAD ini
merupakan salah satu SOFA Korea
Selatan dengan Amerika Serikat
sehingga dengan penerapan THAAD ini
dapat mengganggu dan menimbulkan
ancaman dan security dilemma terhadap
keamanan dan kepentingan nasional
negara lain, terutama Tiongkok sehingga
Tiongkok melakukan strategi pertahanan
dalam ancaman keamanan yang terjadi di
kawasan Asia Timur.
Perkembangan kemampuan militer
Korea Utara tidak hanya berupa senjata
konvensional seperti senjata nuklir.
Korea Utara turut melakukan
pengembangan rudal balistik yang
memiliki kemampuan jarak pendek-
menengah-jauh. Korea Utara melakukan
pengembangan rudal balistik karena
keputusan Amerika Serikat yang
mengembangkan dan menggunakan
Midcourse Defense System sebagai alat
pertahanan yang dapat menghadapi
ancaman Korea Utara (Missile Defense
Project, 2019). Atas keputusan tersebut,
Korea Utara melakukan langkah tegas
untuk menghadapi ancaman yang terjadi.
Meskipun Korea Utara melakukan
pengembangan rudal balistiknya atas
dasar kemampuan keamanan Amerika
Serikat, tetapi dengan pengembangan
rudal balistik tersebut mempengaruhi
keamanan di kawasan Asia Timur
yangmana negara di dalam kawasan
Fardhal Virgiawan Ramadhan
70 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
tersebut menerima dampak atas
kemampuan rudal balistik Korea Utara.
Kemampuan rudal balistik Korea Utara
akan menjadi ancaman keamanan bagi
kawasan Asia Timur.
Pada tahun 2019, Korea Utara
secara intensif melakukan uji coba rudal
jarak pendek. Pada 31 Oktober 2019,
Korea Utara menembakkan “unidentified
projectiles dari Sunchon di wilayah
barat Korea Utara (Masao Dahlgren,
2019). Kemudian, hal ini menimbulkan
reaksi dari Jepang dan Korea Selatan.
Meskipun rudal tersebut tidak jatuh dan
mendarat di kedua negara tersebut. Akan
tetapi dengan menembakkan rudal jarak
pendek tersebut dapat membuat security
dilemma dan menambah ketegangan
negara sekitarnya. Dengan demikian,
kemampuan rudal balistik yang
dikembangkan oleh Korea Utara
merupakan respon atas pengaruh internal
dan eksternal yaitu Amerika Serikat
dengan sekutunya. Uji coba rudal jarak
pendek yang terjadi di kawasan Asia
Timur menimbulkan berbagai persepsi
bagi negara lainnya sehingga hal ini
menambah ketegangan dan ketidak
percayaan antar negara di kawasan Asia
Timur.
C. Pengaruh Kebijakan ‘Pivot to Asia’
Amerika Serikat bagi Pertahanan
Tiongkok
Pada China’s National Defense in
The New Era telah disebutkan bahwa
keberadaan Amerika Serikat di kawasan
Asia Pasifik yang memperkuat militer
negara aliansinya sekaligus
pembangunan kekuatan militer bagi
negara aliansi menjadi salah satu langkah
yang tegas bagi Amerika Serikat untuk
dapat menyebarkan sekaligus
mempengaruhi negara aliansinya di
kawasan Asia Pasifik. Hal ini diperkuat
dalam China’s National Defense in The
New Era :
“The US is strengthening its Asia-
Pacific military alliances and
reinforcing military deployment and
intervention, adding complexity to
regional security.” (The State Council
Information Office of the People’s
Republic of China, 2019: 2).
Pada abad ke-21, kawasan Asia-
Pasifik menjadi kawasan yang memiliki
kepentingan bagi Amerika Serikat.
Kawasan Asia-Pasifik yang mencakup
kawasan Asia Timur merupakan
kawasan yang memiliki hubungan dan
interkasi negara berkembang dan negara
maju sehingga kawasan ini memiliki
kerentanan akan hubungan dan
interaksinya dalam hubungan
internasional (Agastya, 2018: 71). Hal
ini ditegaskan oleh Barack Obama,
bahwa kawasan Asia-Pasifik menjadi
kawasan yang penting bagi keamanan
dunia sehingga Amerika Serikat
memiliki peran dalam kawasan tersebut.
“I have directed my national
security team to make our presence and
mission in the Asia Pacific a top
priority.” (Jennings, 2013).
Kepentingan Amerika Serikat di
kawasan Asia-Pasifik merupakan agenda
dalam kebijakan pertahanannya.
Kawasan Asia-Pasifik selain memiliki
lokasi yang strategis dalam melakukan
kepentingan nasional suatu negara,
kawasan ini merupakan masa depan dari
pertahanan dunia. Hal ini menjadikan
Kawasan Asia-Pasifik menjadi salah satu
prioritas bagi Amerika Serikat
mengingat dalam kawasan Asia-Pasifik
memiliki peran penting dalam hubungan
internasional. Kawasan Asia-Pasifik
memiliki pengaruh kebijakan Amerika
Serikat terutama dalam Pivot to Asia.
Hal ini dapat dilihat dari gambar berikut:
Gambar 3
Pengaruh Kebijakan Pivot to Asia di
Kawasan Asia-Pasifik
Strategi Pertahanan Tiongkok dalam Mengoptimalkan Postur Pertahanan Negara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 71
Kebijakan Pivot to Asia ini
memiliki instrumen utama dalam
pengaplikasiannya. Pertama, Amerika
Serikat melakukan perluasan pasukan
termasuk penempatan dan peningkatan
kapabilitas pertahanan di kawasan Asia-
Pasifik dan melakukan penguatan
pertahanan dengan negara sekutunya di
kawasan Asia-Pasifik (Brown, 2015).
Kebijakan Pivot to Asia memiliki
pengaruh terhadap keamanan di kawasan
Asia-Pasifik sehingga hal ini
menyebabkan dan menjadikan Tiongkok
mengoptimalkan postur pertahanan
negaranya atas pengaruh aktor eksternal
di kawasan.
D. Strategi Pertahanan Tiongkok
Berdasarkan China’s National Defense
in The New Era Tahun 2019
Tiongkok memperkuat strategi
pertahanannya khususnya pada masa
pemerintahan Xi Jinping tidak terlepas
dari instrumen ends/ tujuan nasional dari
negara tersebut yang berdasarkan
China’s National Defense in The New
Era, karena melihat pengaruh Amerika
Serikat didalam kawasan Asia Timur
dengan melakukan ekspansi pertahanan
dan keamanan terhadap negara
aliansinya yakni Jepang dan Korea
Selatan dalam kebijakan ‘Pivot to Asia’.
Hal ini semakin memperkuat bahwa
Amerika Serikat terus berupaya
menegaskan kebijakannya atas kawasan
Asia Pasifik. Tiongkok mengeluarkan
China’s National Defense in The New
Era sebagai salah satu gagasan Tiongkok
untuk mempertegas kebijakan
pertahanan Tiongkok dan menjelaskan
praktik dan tujuan Tiongkok
membangun postur pertahanan negara
melalui kemampuan militer yang
dimilikinya. Transformasi yang terjadi
pada masa pemerintahan ini yaitu
Tiongkok mencanangkan bahwa sifat
kebijakan yang active-defense. Tiongkok
menegaskan dalam China’s National
Defense in the New Era bahwa:
It keeps to the stance that “we
will not attack unless we are attacked,
but we will surely counterattack if
attacked”. (The State Council
Information Office of the People’s
Republic of China, 2019: 9).
China will never follow the
beaten track of big powers in seeking
hegemony. No matter how it might
develop, China will never threaten any
other country or seek any sphere of
influence.” (The State Council
Information Office of the People’s
Republic of China, 2019: 9).
Tiongkok melalui strategi
pertahananya melakukan pembangunan
pertahanan negaranya melalui kebaruan
militer berbasis teknologi tinggi untuk
membangun kualitas postur pertahanan
negaranya. Sesuai dengan strategi
pertahanan Tiongkok bahwa pasukan
PLA (People Liberation Armys) to fully
transform the people’s armed forces into
world-class forces by the mid-21st
century. (The State Council Information
Office of the People’s Republic of
China, 2019: 11). Tiongkok melakukan
pengembangan terhadap pasukan
pertahanan untuk memperkuat postur
pertahanan dengan memprioritaskan
teknologi sebagai salah satu instrumen
untuk keamanan dan kepentingan
nasionalnya. Tiongkok akan
meningkatkan kemampuan teknologi
untuk dapat menghadapi keamanan dan
ancaman yang terjadi di kawasan Asia
Timur. Tiongkok mempertegas bahwa
pengembangan pasukan PLA untuk
mencapai keamanan negaranya dan
sebagai salah satu kontribusi dalam
melakukan perdamaian dunia.
Pada tahun 2015, Tiongkok
memfokuskan strategi pertahananya
melalui maritime military struggle
(Campbell et al., 2015). Hal ini sangat
penting dilakukan, karena Tiongkok
melihat sifat ancaman yang saat ini telah
berkembang dan tidak lagi melawati
daratan antar negara. Tiongkok
melakukan strategi pertahanan tersebut
sebagai antisipasi konflik yang terjadi di
perairan, khususnya di wilayah perairan
Tiongkok. Tiongkok melakukan strategi
pertahanannya melalui pasukan PLA
Navy sebagai salah satu angkatan senjata
yang memiliki peran secara global dalam
menghadapi ancaman yang ada. Hal ini
Fardhal Virgiawan Ramadhan
72 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
sejalan dengan pasukan PLA dalam
melakukan pendidikan dan latihan
militer. Pada tahun 2018, Tiongkok
melakukan pendidikan dan pelatihan
dengan regulasi militer baru yang
berbasis network information system
dalam implementasi pelatihan tersebut.
Hal ini bertujuan untuk dapat
memperkuat kapabilitas operasional
dalam force-on-force. Pendidikan dan
latihan militer menjadi salah satu
penghubung dengan menggunakan
kekuatan militer/ means dalam
pengimplementasiannya untuk dapat
mencapai tujuan nasionalnya.
Kemampuan militer negara tidak hanya
dilihat melalui teknologi, dan alat
persenjataan yang digunakan. Tetapi
kapabilitas personil memiliki keterkaitan
dengan kemampuan militer negara.
Pergeseran keamanan di kawasan Asia
Timur menjadikan setiap negara
meningkatkan kemampuan kapabilitas
personilnya.
Selain melakukan pendidikan
dan latihan militer, Tiongkok turut
melakukan reformasi militer untuk dapat
meningkatkan keamanan nasionalnya.
Reformasi militer ini berhubungan
dengan postur pertahanan Tiongkok.
Pada masa pemerintahan Xi Jinping,
pasukan pertahanan Tiongkok secara
resmi mengalami reformasi untuk
pertama kalinya, Reformasi militer yang
dilakukan oleh Xi Jinping dengan
mengurangi pasukan pertahanan PLA
sebesar 300.000 personil. (The State
Council Information Office of the
People’s Republic of China, 2019: 18).
Pengurangan pasukan tersebut memiliki
tujuan tersendiri bagi Tiongkok.
Tiongkok memiliki rencana dalam
mengurangi jumlah personil
pertahanannya, Tiongkok akan
melakukan peningkatan terhadap
kemampuan teknologi bagi pasukan
pertahanan/ PLA. Peningkatan
kemampuan bagi pasukan pertahanan/
PLA ini diikuti dengan kemampuan
teknologi agar pasukan pertahanan/ PLA
selain memiliki keterampilan yang
memadai disertai dengan kemampuan
teknologi yang baik agar dapat
menghadapi situasi dan kondisi yang
tidak stabil.
Gambar 4
Reformasi Militer Tiongkok Tahun 2015 -
2020
Pada masa pemerintahan Xi
Jinping, Tiongkok mengalami reformasi
militer yang sangat signifikan berubah,
mulai dari perubahan struktur dan postur
pertahanan Tiongkok, serta penempatan
pasukan pertahanan/ PLA yang didukung
oleh kemampuan pertahanan berbasis
alat dan teknologi yang digunakan. Xi
Jinping melakukan perubahan tersebut
dengan melihat perubahan keamanan dan
ancaman yang didapatkan oleh Tiongkok
saat ini sudah bukan lagi ancaman yang
bersifat konvensional. Tetapi sudah
kepada ancaman militer bersifat non
konvensional seperti penggunaan senjata
nuklir, kimia, biologis lainnya dan misil
balistik.
Tiongkok dalam mendukung
reformasi militer yang dilakukan turut
melakukan joint operation systems untuk
meningkatkan kapabilitas pasukan
militernya. Tiongkok membagi
wilayahnya atas ancaman yang dihadapi
dengan membentuk Eastern Theater,
Southern Theater, Western Theater,
Northern Theater, dan Central Theater.
Masing-masing wilayah tersebut
ditempati oleh PLAA, PKARF, People
Liberation Army Strategic Support Force
(PLASSF), dan Joint Logistics Support
Force (Japan Ministry of Defense,
2019). Penempatan pasukan pertahanan
tersebut merupakan salah satu strategi
pertahanan Tiongkok dalam menghadapi
ancaman baik secara internal dan
eksternal negaranya. Pembagian wilayah
Strategi Pertahanan Tiongkok dalam Mengoptimalkan Postur Pertahanan Negara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 73
tersebut menjadi strategi pertahanan
Tiongkok agar dapat memantau
perkembangan dan ancaman yang terjadi
di wilayah tersebut atas pergeseran
keamanan yang terjadi di kawasan Asia
Timur.
Pengoptimalisasian dalam
kemampuan militer negara tidak akan
terlepas dari anggaran pertahanan negara
tersebut. Anggaran pertahanan negara
menjadi salah satu hal terpenting dalam
mencapai keamanan dan kepentingan
nasional dan hal ini dapat
diterminologikan dalam insrumen ways
sebagai cara untuk dapat mencapai
tujuan nasional. Anggaran pertahanan
memiliki pengaruh terhadap kapasitas
dan kapabilitas militer suatu negara.
Anggaran pertahanan di Asia dan
Oceania mencapai 507 triliun dollar pada
tahun 2018 dengan persentase 28 persen
dari hasil pengeluaran militer global
Force (Japan Ministry of Defense,
2019). Pengeluaran anggaran pertahanan
di Asia dan Oceania ini di dominasi oleh
lima negara yang menduduki hasil
pengeluaran anggaran pertahanan
diantaranya: Tiongkok, India, Jepang,
Korea Selatan, dan Australia.
Peningkatan anggaran pertahanan
Tiongkok secara signifikan dilakukan
pada tahun 2009 hingga saat ini. Berikut
ini merupakan peningkatan anggaran
pertahanan Tiongkok.
Gambar 5
Peningkatan Anggaran Pertahanan
Tiongkok Tahun 1989-2019
Pada tahun 2009 dan 2018,
Tiongkok melakukan pengeluaran
anggaran pertahanan sebesar 49 persen
dari total pengeluaran anggaran
pertahanan kawasan ini Force (Japan
Ministry of Defense, 2019). Berdasarkan
China’s National Defense meningkatkan
anggaran pertahanan menjadi agenda
penting. Selain untuk meningkatkan
kemampuan militer PLA juga untuk
dapat menciptakan teknologi militer
berkemampuan tinggi. Peningkatan
anggaran tersebut menjadi salah satu
fungsi dalam mengoptimalkan postur
pertahanan Tiongkok. Peningkatan
anggaran pertahanan Tiongkok sesuai
dengan China’s National Defense in The
New Era pada tahun 2019, untuk
mentransformasikan pasukan PLA untuk
dapat mencapai pasukan pertahanan
kelas dunia pada abad ke-21.
Peningkatan anggaran pertahanan
Tiongkok yang sangat tinggi merupakan
salah satu strategi dalam
mentransformasikan pasukan
pertahanannya dengan kapasitas dan
kapabilitas baik pasukan PLAN,
PLAAF, PLAA, PLARF. Hal ini
berhubungan dengan reformasi militer
dan pengembangan sains dan teknologi
militer yang dilakukan oleh Tiongkok.
Kesimpulan
Tiongkok dalam mengoptimalkan
postur pertahanan negaranya berdasarkan
China’s National Defense in The New Era
dengan melakukan strategi pertahanan sesuai
dengan konsep yang dicanangkan oleh Colin
S. Gray yang meliputi instrumen ends, means,
dan ways. Tiongkok melakukan pertahanan
yang bersifat active-defense sebagai salah
satu strategi untuk dapat mengoptimalkan
postur pertahanan negaranya. Dengan melihat
berbagai ancaman yang dapat mengancam
stabilitas di kawasan Asia Timur baik dari
aktor internal hingga aktor eksternal.
Tiongkok melakukan berbagai strategi untuk
dapat mencapai keamanan nasionalnya seperti
melakukan maritime military struggle,
pendidikan dan pelatihan dengan regulasi
militer baru yang berbasis network
information system, sekaligus memperkuat
kapabilitas operasional dalam force-on-force
hingga melakukan peningkatan anggaran
pertahanan. Hal ini dilakukan atas distrust
yang terjadi di kawasan Asia Timur sekaligus
menjadi momentum untuk melakukan
reformasi militer yang terjadi pada tahun
Fardhal Virgiawan Ramadhan
74 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
2015 hingga 2020 sesuai dengan China’s
National Defense in The New Era. Dengan
demikian, Tiongkok melakukan strategi
pertahanan tersebut untuk dapat
mengoptimalkan postur pertahanan negaranya
secara khusus dalam mengatasi pergeseran
keamanan di kawasan Asia Timur.
Bibliografi
Anggoro, K. (2003). Keamanan Nasional,
Pertahanan Negara, dan Ketertiban
Umum. Seminar Pembangunan Hukum
Nasional VllI. Denpasar: Badan
Pembinaan Hukum Nasional,
Departemen Kehakiman Dan HAM RI.
Army Technology. (2019). “THAAD
Terminal High-Altitude Area Defence,
United States of America,” Army-
Technology, internet ( 22 November ).
http://www.army-
technology.com/projects/thaad/
Barnett, T. P. M. (2005). The Pentagon’s new
map: War and peace in the twenty-first
century. Penguin.
Barry, B. (1991). People, states and fear: An
agenda for international security studies
in the post-Cold War era. Dorchester:
Pearson-Longman.
Brown, S. (2015). Faces of power: constancy
and change in United States foreign
policy from Truman to Obama.
Columbia University Press.
Campbell, C., Economic, U.-C., &
Commission, S. R. (2015). Highlights
from China’s New Defense White
Paper,‘China’s Military Strategy.’ US-
China Economic and Security Review
Commission, Issue Brief, 1.
CNN Indonesia. (2018). “Bantu AS Lawan
China-Rusia, Jepang Tambah Jet dan
Rudal,” CNN Indonesia ( 18 Desember
) internet, 10 Oktober 2019,.
https://www.cnnindonesia.com/internasi
onal/20181218123522-113-
354520/bantu-as-lawan-china-rusia-
jepang-tambah-jet-dan-rudal
CNN Indonesia. (2019). “AS Latihan
Angkatan Laut bersama Jepang, Korea
Selatan, dan Australia,” CNN Indonesia
( 23 Mei ) internet, 30 September 2019,.
https://www.cnnindonesia.com/internasi
onal/20190523192934-113-397911/as-
latihan-angkatan-laut-bersama-jepang-
korsel-australia
Ericssen. (2017). “Sejarah Pengembangan
dan Uji Coba Senjata Nuklir Korea
Utara,” Kompas Internasional (04
September) internet, 15 Oktober 2019,.
Gray, C. S. (1999). Modern strategy (Vol.
42). Oxford University Press Oxford.
Hopkins, R. F. dan R. W. (1979). Mansbach,
Structure and Process in International
Politics, (New York: Harper and Row
Publisher).
Japan Ministry of Defense. (2019). ,“Defense
of Japan 2019.” Ministry of Defense (
2019 ), internet ( 20 November 2019 ),
15-16.
Jennings, P. (2013). The US Rebalance to the
Asia-Pacific: An Australian Perspective.
Asia Policy, 15, 3844.
Jervis, R. (1978). Cooperation under the
security dilemma. World Politics: A
Quarterly Journal of International
Relations, 167214.
Jill Steans and Lloyd Pettiford. (2009).
International Relations: Perspectives
and Themes, (England: Pearson
Educations Limited).
Masao Dahlgren. (2019). “North Korea
Launches Short-range Missiles.”
Missile Threat, Center for Strategic and
International Studies, ( 31 Oktober 2019
), internet ( 23 November 2019 ),.
Missile Defense Project. (2019). “Missiles of
North Korea.” Missile Threat, Center
for Strategic and International Studies, (
06 November 2019 ), internet ( 23
November 2019 ),.
Strategi Pertahanan Tiongkok dalam Mengoptimalkan Postur Pertahanan Negara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 75
Pascal. (2017). “Korut Kembali Bersiap
untuk Uji Coba Rudal Balistik
Antarbenua,” Kompas Internasional (
04 September 2017 ) internet, 15
Oktober 2019,.
https://internasional.kompas.com/read/2
017/09/04/19200821/korut-kembali-
bersiap-untuk-uji-coba-rudal-balistik-
antarbenua
Sankaran, J. (n.d.). Missile Defenses And
Strategic Stability In Asia: Evidence
From Simulations. Journal of East
Asian Studies, 124.
Sebastien Roblin. (2019). “Meet South
Korea’s Very Own Killer S-300 Air
Defense System,” The National Interest
( 24 Februari 2019 ) internet, 10
Oktober 2019,.
https://nationalinterest.org/blog/buzz/me
et-south-koreas-very-own-killer-s-300-
air-defense-system-45477
Teuku May Rudi. (1997). Studi Kawasan
Sejarah Diplomasi dan Perkembangan
Politik di Asia, (Bandung: Bina
Budhaya ).
The People’s Republic of China. (2010).
“National Defense Program Guidelines
for FY 2011 and beyond.” The Security
Council and the Cabinet ( 17 Desember
2010 ) internet, 10 November 2019,.
https://www.mod.go.jp/e/d_act/d_policy
/pdf/guidelinesFY2011.pdf
Wu, C. C.-H. (2019). Why Do States Hedge
in East Asia? An Empirical Study on
Hedging. Asian Perspective, 43(3), 557
584.