105
Jurnal Syntax Transformation
Vol. 2 No. 1, Januari 2021
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769
Sosial Sains
HARMONISASI PARIWISATA DENGAN KONSERVASI: SUATU UPAYA
MEMBANGUN PARIWISATA YANG BERKELANJUTAN DI KABUPATEN
KAYONG UTARA
Khairul Hidayati dan Audrey Tangkudung
Universitas Indonesia (UI) Depok Jawa Barat, Indonesia
INFO ARTIKEL
ABSTRACT
Diterima 2 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
15 Januari 2021
Diterima dalam bentuk revisi
20 Januari 2021
Keywords:
north kayong; ecotourism;
sustainable tourism; marine
nature reserves; mountain
national park trough
Kata kunci:
kayong utara; ecotourism;
pariwisata berkelanjutan;
suaka alam laut; taman
nasional gunung palung
North Kayong is a district in the western part of the province
of West Kalimantan, on the edge of the Malacca Strait. This
district has two conservation areas, namely karimata island
marine sanctuary on karimata island and gunung palung
national park in sukadana district. The existence of tourist
attractions located in the core zones in both conservation
areas, has suppressed the development of space utilization as
a tourism area. This study is carried out with a quantitative
approach, because this research aims to trace the application
of sustainable tourism concepts into aspects of the natural
environment, socio-cultural, and also regional economies and
also this study is an effort to apply the principles of
sustainable tourism so that the combination of conservation
areas with the development of tourism sector for the welfare
of the community and also regional development can be
achieved. Cette étude devrait être utile pour des efforts de
développement régional respectueux de l’environnement
grâce au concept de tourisme durable.
ABSTRAK
Kayong utara merupakan sebuah kabupaten di bagian barat
provinsi kalimantan barat, di tepi selat malaka. Kabupaten ini
memiliki dua kawasan konservasi yaitu suaka alam laut pulau
karimata di pulau karimata dan taman nasional gunung palung
di kecamatan sukadana. Keberadaan objek-objek wisata yang
terletak pada zona inti di kedua kawasan konservasi tersebut,
telah menekan berkembangnya pemanfaatan ruang sebagai
kawasan pariwisata. Kajian ini dilakukan dengan pendekatan
kuantitatif, karena penelitian ini bertujuan untuk melakukan
menelusuri penerapan konsep pariwisata yang berkelanjutan
kedalam aspek-aspek lingkungan alam, sosial budaya, dan
juga ekonomi daerah dan juga Kajian ini merupan upaya
menerapkan prinsip-prinsip pariwisata yang berkelanjutan
sehingga perpaduan antara kawasan konservasi dengan
pengembangan sektor pariwisata untuk kesejahteraan
masyarakat dan juga pembangunan daerah dapat dicapai.
Kajian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi upaya
pembangunan daerah yang berwawasan lingkungan melalui
konsep pariwisata berkelanjutan.
Khairul Hidayati dan Audrey Tangkudung
106 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
Pendahuluan
Dewasa ini pengembangan sektor
pariwisata memiliki arti yang sangat penting
dan strategis, karena sektor ini merupakan
salah satu sektor yang diharapkan mampu
mendukung pembangunan daerah melalui
penciptaan kontribusi ekonomi multisektor
dan pemberdayaan masyarakat yang
mensejahterakan. Pariwisata merupakan
industri terbesar abad ini. Pariwisata telah
menjadi sektor andalan di dalam
pembangunan ekonomi berbagai negara.
Berdasarkan berbagai indikator
perkembangan dunia, di tahun-tahun
mendatang peranan pariwisata diprediksi
akan semakin meningkat. Sebagai sektor yang
multisektoral, pariwisata berada dalam suatu
sistem yang besar, yang komponennya saling
terkait antara yang satu dengan yang lain.
Sejak beberapa dasawarsa terakhir, pariwisata
bahkan sudah menjadi salah satu prime-
mover di dalam perubahan sosial-budaya,
terutama di daerah-daerah tujuan wisata.
Buku ini membahas: - Sosiologi Pariwisata,
Kajian Sosiologis terhadap Kepariwisataan -
Aspek Sosiologis Wisatawan - Interaksi
antara Wisatawan dengan Masyarakat Lokal -
Struktur dan Fungsi Sistem Kepariwisataan -
Dampak Sosial Budaya Pariwisata (Pitana,
2005).Pariwisata sebagai Wahana Pelestarian,
Sektor pariwisata sendiri sudah selayaknya
didorong sebagai lokomotif baru
pertumbuhan ekonomi indonesia secara luas,
karena pariwisata indonesia telah
mendapatkan pengakuan dunia sebagai salah
satu destinasi terindah di dunia. Indonesia
juga mencatatkan diri sebagai negara dengan
pertumbuhan pariwisata tercepat peringkat 9
di dunia, peringkat 3 di asia, dan peringkat 1
di asia tenggara (Turner & Freiermuth, 2017).
Berbagai capaian tersebut, sudah
sepastinya harus direalisasikan kedalam
gerakan ekonomi baru yang berpusat pada
pertumbuhan pariwisata. Karena memang
pada kenyataannya sektor pariwisata
merupakan penyumbang devisa ke-3 terbesar
bagi indonesia (2017). Sehingga tidak salah
jika pemerintah daerah harus menaruh
perhatian yang teramat besar bagi
pengembangan sektor pariwisata di
wilayahnya dalam rangka penciptaan kutub
tumbuh ekonomi yang berkelanjutan.
Kabupaten kayong utara di provinsi
kalimantan barat adalah sebuah wilayah
administratif kabupaten yang dikaruniai oleh
kawasan pesisir indah yang kaya akan pesona
bahari pulau-pulau kecil di selat karimata,
daya tarik budaya, kekayaan ragam
biodiversitas di suaka alam laut pulau
karimata serta taman nasional gunung palung
dan keunggulan geostrategis sebagai dampak
posisinya di selat karimata. Nilai-nilai
keunggulan pariwisata kayong utara ini begitu
berharga sehingga pada tahun 2016,
pemerintah pusat menjatuhkan kabupaten
kayong utara sebagai lokasi perhelatan sail
karimata yang mendatangkan ribuan
wisatawan dan juga perhatian yang teramat
besar terhadap potensi kayong utara.
Berikutnya (Van Beek et al., 2003),
mengungkapkan bahwa perkembangan
pariwisata pada dua komunitas
masyarakat (Kapsiki di Kamerun Utara,
dan Dogon di Mali) telah berimbas
kepada hadirnya kebanggaan
masyarakat setempat terhadap identitas dan
kebudayaan asli mereka. Dijelaskan bahwa
pariwisata tampaknya menekankan
sistem nilai sentral dalam budaya lokal,
merangsang reaksi yang meningkatkan dan
memperkuat jenis konstruksi identitas
yang dominan .Dengan potensi tersebut,
sepatutnya pengembangan wisata bahari
kayong utara sepatutnya telah berada dalam
jalur yang cukup cepat, namun status suaka
alam laut dan juga taman nasional gunung
palung sebagai kawasan konservasi di laut
dan di darat, menjadi suatu aturan yang juga
membatasi optimalisasi sektor pariwisata
dalam koridor perlindungan alam. Sehingga
pengembangan wisata bahari kayong utara
kembali dihadapkan kepada masalah klasik
Harmonisasi Pariwisata dengan Konservasi: Suatu Upaya Membangun Pariwisata yang
Berkelanjutan Di Kabupaten Kayong Utara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 107
pengembangan ekonomi dengan lingkungan
alam, sementara menjadi korban masyarakat
terombang-ambing dalam ketidakpastian arah
pembangunan yang terbatas disuatu kawasan
yang bernilai tinggi.
Dengan demikian kajian ini
dimaksudkan sebagai merupakan suatu upaya
untuk menemukan suatu jalan
menyeimbangkan pengembangan ekonomi
melalui pariwisata bahari, namun tetap dalam
koridor perlindungan konservasi sumber daya
alam, sehingga tujuan-tujuan peningkatan
kesejahteraan hidup masyarakat dapat
tercapai secara berkelanjutan.
Metode Penelitian
Kajian ini merupakan sebuah upaya
menerapkan prinsip-prinsip pariwisata
berkelanjutan di kabupaten kayong utara.
Prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan
tersebut adalah layak secara ekonomi
(economically feasible), berwawasan
lingkungan (environmentally feasible), dapat
diterima secara sosial (socially acceptable),
dan dapat diterapkan secara teknologi
(technologically appropriate). Penerapan
prinsip pariwisata berkelanjutan di kayong
utara menjadi penting karena kabupaten
kayong utara merupakan sebuah wilayah
administratif di provinsi kalimantan barat
dengan potensi pariwisata yang sangat besar,
namun juga diatur oleh aturan pemanfaatan
kawasan konservasi dengan keberadaan cagar
alam laut dan taman nasional gunung palung.
Kajian ini dilakukan dengan
pendekatan kuantitatif, karena penelitian ini
bertujuan untuk melakukan menelusuri
penerapan konsep pariwisata yang
berkelanjutan kedalam aspek-aspek
lingkungan alam, sosial budaya, dan juga
ekonomi daerah. Sebagai bentuk dari kajian
desk study, maka data yang digunakan berasal
dari kajian data sekunder berupa data statistik
dan literatur dari berbagai sumber, sedangkan
data primer diperoleh melalui diskusi dengan
beberapa narasumber.
Hasil dan Pembahasan
1.
Pengembangan Pariwisata Pada
Kawasan Konservasi
Kabupaten kayong utara merupakan
sebuah kabupaten di sebelah barat pulau
kalimantan, dengan ibukota di kecamatan
sukadana. Kabupaten kayong utara pada
bagian utara berbatasan dengan kabupaten
kubu raya, kabupaten ketapang dan selat
karimata, pada bagian timur berbatasan
dengan kabupaten ketapang, pada bagian
selatan berbatasan dengan kabupaten
ketapang dan selat karimata, dan pada
bagian barat berbatasan dengan selat
karimata. Kabupaten kayong utara terbagi
menjadi 6 wilayah kecamatan yang
seluruhnya berbatasan dengan perairan
laut, yaitu: kepulauan karimata, pulau
maya, seponti, simpang hilir, sukadana,
dan teluk batang.
Sebagai kabupaten dengan kondisi
alam yang masih terlindung berkat
keberadaan 2 kawasan konservasinya,
yaitu cagar alam laut di kecamatan
karimata pesisir dan juga taman
Nasional gunung palung di
kecamatan sukadana, kabupaten kayong
utara memiliki potensi wisata alam yang
begitu besar namun relatif belum
dimanfaatkan secara optimal. Sedikitnya
terdapat 12 potensi wisata yang sangat
menjanjikan untuk berkembang dalam
kerangka pembangunan pariwisata
berkelanjutan, yaitu: pantai pulau datok,
TN gunung palung, pantai pasir mayang,
lubuk baji, pulau karimata, taman wisata
mangrove sukadana, pulau kepayang,
pulau serutu, air terjun bidadari, gua
berlukis, makam tengku abdul, dan prasasti
batu cina. Secara lebih jelas, sebaran
potensi destinasi wisata tersebut dapat
terlihat pada gambar 1 berikut.
Khairul Hidayati dan Audrey Tangkudung
108 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
Gambar 1
Wilayah administratif kabupaten
kayong utara
Sebagaimana terlihat pada gambar 1,
hampir seluruh destinasi wisata di
kabupaten kayong utara terpusat pada
kecamatan sukadana, dan juga kecamatan
pulau karimata, yang mana keduanya juga
merupakan bagian areal yang ditetapkan
sebagai bagian dari kawasan konservasi
cagar alam laut dan juga TN gunung
palung. Irisan antara potensi wisata dengan
kawasan konservasi menghendaki sebuah
pengembangan sektor pariwisata yang
penuh kehati- hatian, karena telah terdapat
aturan pembatasan kegiatan pada sub-sub
zona kawasan konservasinya.
Sebagaimana terlihat pada
keterangan di gambar 1, seluruh areal
pulau karimata merupakan areal hutan
lindung sehingga tidak di perbolehkan
untuk melakukan pembangunan fisik
penunjang kegiatan pariwisata kecuali
yang sifatnya adalah penelitian dan
pendidikan. Sedangkan di kecamatan
sukadana, kecuali bagian pesisir yang
merupakan area penggunaan Lain (APL),
pada bagian timur kecamatan sukadana
merupakan hutan lindung yang menjadi
bagian dari taman nasional, sehingga
pembangunan fisik juga dibatasi atau
bahkan dilarang sama sekali.
Aturan konservasi secara umum
didesain sebagai upaya perlindungan
terhadap habitat asli dari flora dan fauna
yang dilindungi didalamnya. Pada cagar
alam laut pulau karimata, penetapannya
didasarkan kepada surat keputusan direktur
jenderal kehutanan No. 2240/DJ/I/1981
tanggal 15 Juni 1981 dengan luas 77.000
ha yang melindungi satwa endemik berupa
duyung (dugong-dugong), tuntong (batagur
baska) dan kura-kura gading (olitia
borneensis), serta terumbu karang, hutan
pantai, hutan mangrove, sampai pada
ekosistem perbukian tinggi. Sedangkan
pada taman nasional gunung palung
(TNGP), statusnya ditetapkan berdasarkan
keputusan menteri kehutanan nomor
448/Menhut-VI/1990 sebagai taman
nasional seluas 108.043,90 hektar, yang
terbentang di kecamatan hilir utara,
sukadana, simpang hilir, nanga tayap, dan
sandai. TNGP ini merupakan salah satu
ekosistem terlengkap di antara taman-
taman nasional di indonesia yang
melindungi orangutan, bekantan dan kijang
mini. Keberadaan TNGP juga mendapat
perhatian internasioal dengan salah satunya
adalah fauna & flora international, sebuah
lembaga konservasi yang berbasis di
inggris.
Dengan perlindungan pada kedua
kawasan konservasi tersebut,
pengembangan kegiatan pariwisata
menjadi terbatas, namun tidak dilarang,
sebagaimana disyaratkan oleh peraturan
menteri lingkungan hidup dan kehutanan
nomor 8 tahun 2019 tentang pengusahaan
pariwisata alam. Bahwa penyelenggaraan
pariwisata alam diperbolehkan dengan
memperhatikan asas konservasi sumber
daya alam dan ekosistem guna mencegah
kerusakan dan atau kepunahan keunikan,
kekhasan, keindahan alam, keindahan dan
keanekaragaman jenis satwa liar, dan atau
jenis tumbuhan yang terdapat di suaka
alam dan taman nasional. Peraturan
tersebut bahkan mendorong terlaksananya
usaha pariwisata alam di suaka alam laut
dan taman nasional guna meningkatkan
perekonomian masyarakat dan juga daerah.
Yang penting usaha pariwisata alam
Harmonisasi Pariwisata dengan Konservasi: Suatu Upaya Membangun Pariwisata yang
Berkelanjutan Di Kabupaten Kayong Utara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 109
tersebut harus sesuai dengan rencana
pengelolaan kawasan dan areal usaha harus
sesuai dengan desain tapak pengelolaan
pariwisata alam.
2.
Keunggulan Geostrategis Kayong Utara
di Selat Karimata
Kabupaten kayong utara memiliki
sebuah keunggulan komparatis
geostrategis karena berada tepat
diperlintasan jalur alur laut kepulauan
indonesia (ALKI) 1 yang melintasi
disepanjang selat karimata, sebagaimana
terlihat pada Gambar 2. Keunggulan ini
harus menjadi salah satu dasar kebijakan
untuk mengangkat posisi kayong utara
secara regional dan global (Gray et al.,
1999), dengan memanfaatkan potensi
sumber daya yang dimiliki dalam rencana
pengembangan pariwisata yang
berkelanjutan. Konsep geostrategi kayong
utara dirumuskan dengan
memperhitungkan kondisi dan konstelasi
geografis sebagai faktor utamanya selain
memperhatikan kondisi sosial, budaya,
penduduk, SDA, dukungan regional
maupun internasional.
Keunggulan geostrategi kayong
utara memberi arahan kedalam rancangan
strategi pembangunan pariwisata bahari
dalam rangka mewujudkan masa depan
yang lebih baik, aman, dan sejahtera.
Sehingga geostrategi kayong utara bukan
sekedar kepentingan daya saing ekonomi,
namun juga kepentingan perlindungan
sumberdaya alam dan ekosistem.
Sebagai sektor unggulan, pariwisata
Indonesia menargetkan bisa meraup devisa
hingga 17,6 miliar dollar AS dan
menjaring 20 juta wisman hingga akhir
tahun 2019. Sebagai upaya dalam
merealisasikan target tersebut, yang
dilakukan pemerintah menetapkan 6
langkah strategis yang disepakati dalam
rapat koordinasi pemerintah pusat dan
daerah bersama Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) dan BI di Gedung BI, Jakarta
(Rahma, n.d.). Sektor pertanian juga masih
merupakan sektor dengan tingkat
kontribusi penerimaan terbesar bagi
perekonomian kabupaten, sementara
penerimaan dari sektor jasa masih sangat
rendah baik jumlah maupun angka
peningkatannya. Kabupaten kayong utara
juga masih sangat terkendala dari segi
aksesibilitas karena belum tersedianya
layanan transportasi udara dan buruknya
kualitas jaringan jalan yang
menghubungkan kabupaten kayong utara
dengan kabupaten ketapang. Akses dari
luar kayong utara justru mudah dicapai
melalui jalur laut, namun hal ini
menjadikan aksesibilitas kayong utara
begitu rendah dan daerah pedalamannya
menjadi terisolir.
Gambar 2 Posisi geostrategis kabupaten
kayong utara
Sehingga memang keunggulan
aksesibilitas kayong utara yang ada dari
arah pesisir harus dimanfaatkan.
Keberadaan jalur ALKI 1, program Jalur
sutra serta poros maritim juga harus
dimanfaatkan untuk menarik lintasan
pelayaran nasional dan internasional untuk
singgah di kayong utara, dan menciptakan
jasa-jasa pelayaran, pelabuhan, perikanan,
dan kepariwisataan yang belum ada
sebelumnya.
3.
Penentuan Target Wisatawan
Dengan didasarkan kepada data
kunjungan wisatawan pada Gambar 2
berikut, maka diketahui bahwa
perkembangan jumlah wisatawan
nusantara dan wisatawasan mancanegara di
Khairul Hidayati dan Audrey Tangkudung
110 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
kabupaten kayong utara selama 5 tahun
terakhir adalah sebagai berikut.
Gambar 3
Jumlah kunjungan wisatawan tahun 2016-
2018 dan prediksi tahun 2019-2030
Angka sasaran wisatawan kayong
utara, baik wisman maupun winus perlu
ditetapkan sebagai acuan dari rencana
pengembangan dukungan kepariwisataan,
yang dalam hal ini adalah dukungan
pembangunan infrastruktur, jaringan
telekomunikasi, hingga penyiapan SDM.
Dengan adanya diferensiasi
wisatawan mancanegara dan wisatawan
nusantara maka kunci keberhasilan
pengembangan wisata di kayong utara,
justru akan terletak pada bagaimana
pemerintah daerah mampu secara
sistematis menarik agar wisatawan baik
nusantara maupun mancanegara dapat
mengikuti paket-paket perjalanan wisata
yang harganya terjangkau namun dapat
menghidupkan ekonomi wisata kayong
utara.
Berdasarkan gambar 2 diketahui
bahwa jumlah wisatawan nusantara
(winus) pada tahun 2017 adalah sejumlah
65.850 orang, berbanding 1.000 orang
wisatawan mancanegara (0,0001%).
namun dibandingkan dengan wisman, yang
pasti menginap dan membelanjakan
uangnya untuk makan, transportasi, dan
suvenir, winus belum tentu menginap,
mengikuti paket wisata, menikmati kuliner
lokal, menonton pertunjukan seni atau
membeli suvenir. Sehingga penciptaan
nilai ekonomi pariwisata kayong utara
yang sebenarnya, akan terwujud melalui
keberhasilan dalam mendorong winus
untuk menginap dan membelanjakan
uangnya dalam rantai bisnis pariwisata
kayong utara.
Perbandingannya dalam pendapatan,
jika diasumsikan bahwa setiap wisman dan
winus menginap selama satu malam, maka
diperkirakan penerimaan dari penginapan
hotel pada tahun 2017 adalah 1 milyar
berbanding 32 milyar. Hal ini
menunjukkan bahwa mengembangkan
wisata mass tourism di kabupaten kayong
utara masih sangat menjanjikan, terutama
melalui penciptaan nilai tambah.
4.
Konsep Pengembangan Wisata Kayong
Utara yang berkelanjutan
Mengembangkan pariwisata kayong
utara sepatutnya mempertimbangkan
keberadaan kayong utara sebagai kawasan
konservasi darat dan laut. Eco-tourism
yang menjual daya tarik konservasi taman
nasional gunung palung dan juga wisata
bahari cagar alam laut pulau karimata,
dengan kekayaan sejarah budaya
masyarakat lokal kayong utara. Hal ini
menjadi penting ketika pemerintah kayong
utara mengenalkan pariwisatanya maka
tidak hanya sekedar daya tarik pantai pasir
mayang, pantai pulau datok dan pantai
sukadana, namun juga keberadaan
kawasan-kawasan konservasinya dengan
atraksi-atraksi petualangan darat dan laut
serta sejarah budaya masyarakat yang
tersaji pada keberadaan prasasti batu cina,
gua berlukis, dan makam tengku abdul
hamid.
Berdasarkan XXX (2000), prinsip-
prinsip pengembangan pariwisata
berkelanjutan adalah kelayakan secara
ekonomi (economically feasible),
berwawasan lingkungan (environmentally
feasible), dapat diterima secara sosial
(socially acceptable), dan dapat diterapkan
secara teknologi (technologically
appropriate). Pemenuhan kepada keempat
prinsip tersebut menjadi kunci untuk
mendorong keberhasilan perkembangan
Harmonisasi Pariwisata dengan Konservasi: Suatu Upaya Membangun Pariwisata yang
Berkelanjutan Di Kabupaten Kayong Utara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 111
pariwisata kayong utara.
1. Layak secara ekonomi
Badan keuangan daerah kayong
utara melaporkan bahwa penerimaan
pendapatan asli daerah dari sektor
pariwisata di kayong utara hanya
sekitar 200 juta rupiah per tahun, yang
didominasi dari penerimaan kunjungan
di pantai pulau datok di kecamatan
sukadana. Angka ini tentunya masih
sangat rendah jika dibandingkan dengan
potensi sumberdaya alam dan sejarah di
kayong utara, dan juga jika
dibandingkan dengan jumlah kunjungan
wisatawasan di tahun 2018 yang
mencapai 65.850 orang, berarti secara
kasar, dapat diperkirakan bahwa
penerimaan dari setiap wisatawan yang
berkunjung hanya sekitar 3.000 rupiah
per wisatawan.
Jumlah tersebut seharusnya dapat
ditingkatkan dengan mendorong
kunjungan wisatawan kepada destinasi-
destinasi wisata lainnya yang ada di
taman nasional, cagar alam laut dan
juga objek-objek wisata sejarah budaya
lain. Penerimaan secara resmi dapat
diwujudkan tidak hanya dengan
melakukan penertiban pungutan, pajak
tempat wisata, dan pajak perahu wisata,
namun juga dengan mendorong
wisatawan untuk mengikuti paket-paket
perjalanan wisata harian, dua harian,
dan lain sebagainya.
a) Paket wisata harian, dapat
dikembangkan dengan wisatawan
memilih kunjungan ke taman
nasional atau cagar alam laut atau
wisata sejarah budaya (batu bertulis,
prasasti cina, dan makam). Harga
per orang sekitar 300 ribu rupiah,
termasuk makan dan transportasi.
b) Paket wisata dua hari, dengan
wisatawan diarahkan untuk
mengikuti wisata ke taman nasional
pada hari pertama, lalu menginap
semalam di gunung, dan hari kedua
berwisata ke tempat sejarah budaya
(batu bertulis, prasasti cina, dan
makam). Harga per orang sekitar
500 ribu rupiah, termasuk makan,
transportasi dan menginap.
c) Paket wisata tiga hari, dengan
wisatawan diarahkan untuk
mengikuti wisata ke taman nasional
pada hari pertama, lalu menginap
semalam di gunung, dan hari kedua
menuju cagar alam laut dan
menginap semalam di pulau, dan
hari ketiga berwisata ke tempat
sejarah budaya (batu bertulis,
prasasti cina, dan makam). Harga
per orang sekitar 1,5 juta rupiah,
termasuk makan, transportasi dan
menginap.
Adanya peningkatan pemasukan
secara resmi tidak hanya dari pungutan
karcis masuk tentunya akan berdampak
secara signifikan terhadap penerimaan
daerah, sehingga pengembangan wisata
akan menjadi layak secara ekonomi.
2. Berwawasan Lingkungan
Sebagai konsep pengembangan
wisata yang berkelanjutan, sudah
seharusnya wisata kayong utara
dibangun dengan memperhatikan aspek
konservasi dari kedua kawasan
konservasinya. Sehingga tidak perlu
bertentangan dengan semangat
konservasi, namun juga perlu melihat
bahwa sebagai kawasan konservasi
maka keindahan, keasrian, dan
kebersihan kawasan wisatanya selalu
dijamin.
Dalam peraturan menteri
lingkungan hidup dan kehutanan nomor
8 tahun 2019 tentang pengusahaan
pariwisata alam, kawasan wisata dapat
berkembang pada areal taman nasional
atau suaka alam laut. Yang penting
dilaksanakan sesuai dengan asas
konservasi sumber daya alam dan
Khairul Hidayati dan Audrey Tangkudung
112 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
ekosistem. Dan sesuai dengan pasal 10
Ayat 2, fasilitas akomodasi seperti
ruang pertemuan, ruang makan dan
minum, fasilitas untuk bermain anak,
spa, dan gudang pun masih
diperbolehkan untuk dibangun didalam
areal kawasan (Suwanda, 2015).
Peraturan menteri tersebut telah
menjadi payung hukum yang
melindungi upaya-upaya pemanfaatan
kawasan konservasi sebagai kawasan
wisata, sehingga kawasan konservasi
yang sebelumnya terlihat tertutup bagi
kegiatan-kegiatan dengan motif
ekonomi, sekarang dapat terbuka
kepada peluang-peluang
pengembangan, selama aturan
konservasi diikuti dengan benar.
Sehingga pembangunan kawasan wisata
yang berwawasan lingkungan di kayong
utara dapat dibangun.
3. Dapat diterima secara sosial
Pengembangan kawasan
konservasi juga dimaksudkan untuk
meningkatkan perekonomian
masyarakat di sekitar kawasan
konservasi. Sehingga perlibatan dan
keterlibatan masyarakat harus dibuka
seluas-luasnya agar masyarakat
mendapatkan mata pencaharian dan
kegiatan wisata yang dikembangkan
juga dapat diterima secara sosial oleh
masyarakat. Masyarakat dapat ikut
menciptakan usaha penjualan
cinderamata, menyediakan makanan
dan minuman, atau menyediakan jasa
persewaan peralatan wisata alam seperti
peralatan snorkeling, diving, canoing,
kemah, perlengkapan pendakian, atau
perlengkapan wisata lainnya. Atau
masyarakat juga dapat mengajukan
IUPJWA (izin usaha penyediaan jasa
wisata alam) dan atau IUPSWA (izin
usaha penyediaan sarana wisata alam)
secara perorangan ataupun non
perorangan dalam bentuk koperasi
ataupun BUMDes.
Dengan adanya perlibatan secara
aktif dan langsung masyarakat setempat
dalam kegiatan pariwisata, maka akan
menumbuhkan sense of belongin
masyarakat setempat kepada kondisi
lingkungan dan juga keberhasilan usaha
pariwisata itu sendiri, sehingga usaha
wisata akan dapat diterima secara
sosial.
4. Dapat diterapkan secara teknologi
Terkait dengan teknologi,
pariwisata alam di kawasan konservasi
sudah seharusnya dikembangkan secara
alamiah, demikian juga di kawasan
wisata budaya sejarah. Sehingga
penerapan teknologi menjadi sangat
terbatas untuk menjaga kesan alami dan
asli. Penggunaan teknologi dapat
diperlukan justru untuk memastikan
tidak adanya sampah dan limbah yang
mencemari air dan tanah di kawasan
konservasi, terutama di pulau-pulau
kecil yang sangat terbatas luas
lahannya. Sehingga dibutuhkan
teknologi-teknologi yang sederhana dan
tidak terlalu modern untuk pengolahan
limbah dan sampah, teknologi untuk
mendukung jaringan telekomunikasi,
teknologi untuk mendukung
keselamatan dan keamanan perjalanan,
hingga teknologi untuk mendukung
peningkatan pengalaman wisata itu
sendiri, misalnya perahu katamaran
untuk melihat terumbu karang langsung
dari atas kapal laut dan lain sebagainya.
Sehingga dengan teknologi-
teknologi yang cukup sederhana dan
dikenal, penerapan teknologi di
kawasan wisata pariwisata dapat
berjalan dengan baik, tidak
membutuhkan keterampilah khusus
untuk operasi, perawatan, dan juga
perbaikan.
Melalui pembahasan keempat
prinsip pariwisata berkelanjutan diatas,
Harmonisasi Pariwisata dengan Konservasi: Suatu Upaya Membangun Pariwisata yang
Berkelanjutan Di Kabupaten Kayong Utara
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 113
dapat diketahui bahwa pengembangan
pariwisata kayong utara yang
berkelanjutan semestinya dapat dicapai,
yang penting adalah tetap mengingat
bahwa nilai jual dan daya saing kayong
utara justru terletak pada keberadaan
kawasan-kawasan konservasinya yang
menjanjikan keaslian alam, kebersihan,
kekayaan flora dan fauna, serta
kekayaan sejarah budaya asli kayong
utara.
Gambar 4. Konsep wisata berkelanjutan
kayong utara
Konsep pengembangan pariwisata
berkelanjutan kayong utara harus
didorong sebagai wisata ecotourism
dengan pertimbangan bahwa pariwisata
kayong utara juga merupakan zona inti
suaka alam laut dan taman nasional,
sehingga penekanannya didasarkan
kepada penerapan prinsip-prinsip dari
TIES (2015) yang dikaitkan dengan
konsep wisata berkelanjutan itu sendiri:
1)
Menawarkan pengalaman dengan
flora fauna endemik yang berkesan
sebagai jualan utama bagi para
wisatawan.
2)
Meminimalkan dampak sosial dan
perilaku wisatawan terhadap kondisi
sosial dan alam sekitar.
3)
Membangun atraksi dengan
didasarkan kepada kesadaran dan
sifat menghargai lingkungan alam,
4)
Menyiapkan skema manfaat
langsung bagi masyarakat sekitar
dan kalangan usaha.
5)
Mendesain, membangun, dan
mengoperasikan amenitas yang
berdampak minimal kepada
lingkungan.
Kesimpulan
Wisata ecotourism kayong utara
merupakan wisata yang berdaya saing tinggi,
karena menjual keaslian dan keindahan flora
dan fauna di suaka alam laut dan juga taman
nasional serta kekayaan sejarah budaya
kayong utara. Namun keberadaan flora dan
fauna juga merupakan suatu konservasi dunia
yang harus dijaga, sehingga eksploitasi
ekosistem sebagai atraksi hingga keberadaan
infrastruktur dan amenitas yang
dikembangkan dalam rangka konservasi
maupun ekowisata harus diminimalkan dalam
batas-batas yang terukur, namun dapat
dikembangkan secara prinsip-prinsip
pariwisata berkelanjutan agar tetap menjual
secara ekonomi sehingga masyarakat dapat
sejahtera melalui keterlibatan dalam
penciptaan mata pencaharian dan rantai bisnis
ekonomi yang menguntungkan.
Bibliografi
Al Hasan, F. A. (2017). Penyelenggaraan
Parawisata Halal di Indonesia (Analisis
Fatwa DSN-MUI tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pariwisata
Berdasarkan Prinsip Syariah). Al-Ahkam
Jurnal Ilmu Syari’ah Dan Hukum, 2(1).
Anom, I. P., Suryasih, I. A., Nugroho, S., &
Mahagangga, I. G. A. O. (2017).
Turismemorfosis: Tahapan selama
seratus tahun perkembangan dan
prediksi pariwisata Bali. Jurnal Kajian
Bali (Journal of Bali Studies), 7(2), 59–
80.
Awalia, H. (2017). Komodifikasi Pariwisata
Halal NTB dalam Promosi Destinasi
Wisata Islami di Indonesia. Jurnal Studi
Komunikasi, 1(1), 19–30.
Djakfar, M. (2017). Pariwisata Halal
Perspektif Multidimensi: Peta Jalan
Menuju Pengembangan Akademik &
Khairul Hidayati dan Audrey Tangkudung
114 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
Industri Halal di Indonesia. UIN-Maliki
Press.
Gray, C. S., Sloan, G., & Sloan, G. R. (1999).
Geopolitics, geography, and strategy.
Psychology Press.
Khotimah, K., & Wilopo, W. (2017). Strategi
pengembangan destinasi pariwisata
budaya (Studi kasus pada kawasan Situs
Trowulan sebagai Pariwisata Budaya
Unggulan di Kabupaten Mojokerto).
Jurnal Administrasi Bisnis, 42(1), 56–
65.
Kurniawati, W. D. N. (2017). Pemanfaatan
Instagram Oleh Komunitas Wisata
Grobogan dalam Mempromosikan
Potensi Pariwisata Daerah. Komuniti:
Jurnal Komunikasi Dan Teknologi
Informasi, 8(5), 127–143.
Pitana, I. (2005). Sosiologi pariwisata.
Rahma, A. A. (n.d.). Potensi Sumber Daya
Alam dalam Mengembangkan Sektor
Pariwisata Di Indonesia. Jurnal
Nasional Pariwisata, 12(1), 1–8.
Sedarmayanti. (2013). Pembangunan dan
Pengembangan Pariwisata dan
Manajemen Smberdaya Manusia.
(Cetakan ke). Bandung: Penerbit. Refika
aditama.
Setiawan, A. R., & Saputri, W. E. (2019).
Estimasi Dampak Sektor Pariwisata
Gunung Muria Terhadap Perekonomian
Masyarakat Desa Colo Berdasarkan
Multiplier Effect.
Sihotang, H. T. (2017). Pembuatan Aplikasi
E-Learning Pada SMK Swasta
Pariwisata Imelda. Jurnal Mantik
Penusa, 1(2).
Suwanda, D. (2015). Factors affecting quality
of local government financial statements
to get unqualified opinion (WTP) of
audit board of the Republic of Indonesia
(BPK). Research Journal of Finance
and Accounting, 6(4), 139–157.
Turner, R., & Freiermuth, E. (2017). Travel &
Tourism Economic Impact 2017:
Portugal. World Travel & Tourism
Council.
Van Beek, J., Elward, K., & Gasque, P.
(2003). Activation of complement in the
central nervous system: roles in
neurodegeneration and neuroprotection.
Annals of the New York Academy of
Sciences, 992(1), 56–71.