127
Jurnal Syntax Transformation
Vol. 2 No. 1, Januari, 2021
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769
Sosial Sains
PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PENGELOLAAN HAJI MELALUI MODEL
MAKE A MATCH: STUDI TERHADAP SISWA KELAS X RPL2 SMKN 2
PURWAKARTA TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Tirwan
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Purwakarta, Indonesia
Email: ust.tirwanO4@gimil.com
INFO ARTIKEL
ABSTRACT
Diterima 2 Januari, 2021
Diterima dalam bentuk revisi
10 Januari, 2021
Diterima dalam bentuk revisi
15 Januari, 2021
The subjects of Religious Education and Ethics are still
viewed side by side by a large number of students so it is not
uncommon for students to have low learning motivation.
Therefore, certain efforts are needed from teachers of
Religious Education and Ethics to increase learning
motivation. This study aims to examine the increasing
motivation to learn Religious Education and Ethics through
make a match model on hajj management materials. This
research is a class action study that uses two-cycle models
and data collection techniques with tests and non-tests. The
research subjects of grade X RPL2 even semester SMKN 2
Purwakarta as many as 35 people. The results showed that the
make a match learning model was able to increase the
motivation to learn Religious Education and Ethics of students
in grade X RPL2 SMKN 2 Purwakarta in 2018/2019, This is
shown from the increase in motivation to learn Religious
Education and Ethics in each action siklua, namely from low,
as many as 50% of students (pre-action) to Good, as many as
74% of students (cycle1), and Very Good, as many as 84% of
students (cycle 2).
ABSTRAK
Mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti masih
dipandang sebelah mata oleh sejumlah besar siswa sehingga
tidak jarang para siswa memiliki motivasi belajar yang
rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya tertentu dari guru
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti untuk meningkatkan
motivasi belajar . Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
peningkatan motivasi belajar Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti melalui model make a match pada materi pengelolaan
haji. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang
menggunakan model dua siklus dan teknik pengumpulan data
dengan tes dan non tes. Subjek penelitian siswa kelas X RPL2
semester genap SMKN 2 Purwakarta sebanyak 35 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran
make a match mampu meningkatkan motivasi belajar
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti siswa kelas X RPL2
SMKN 2 Purwakarta tahun 2018/2019, Ini ditunjukkan dari
terjadinya peningkatan motivasi belajar Pendidikan Agama
dan Budi Pekerti pada setiap siklua tindakan yakni dari
Keywords:
Model Make a Match;
Learning religious education
and ethics; Class Action
Research
Kata kunci:
Model Make a Match;
Tirwan
128 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
Pembelajaran Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti;
Penelitian Tindakan Kelas
rendah, sebanyak 50% siswa (pra tindakan) menjadi Baik,
sebanyak 74% siswa (siklus1), dan Amat Baik,sebanyak 84%
siswa (siklus 2).
Pendahuluan
Menurut Undang-Undang No. 20 tahun
2003, fungsi pendidikan Nasional yaitu
mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, dan mandiri dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Pendidikan merupakan salah satu
prasyarat utama dalam meningkatkan
martabat dan kualitas bangsa, maka
pendidikan merupakan hal yang sangat
penting dan menjadi kebutuhan manusia yang
esensial. Pendidikan dapat mengembangkan
potensi yang ada pada diri manusia, baik
potensi jasmani maupun potensi rohani.
Untuk menjalankan fungsi dan tercapainya
tujuan, dalam pendidikan diperlukan peranan
guru atau pendidik secara maksimal dalam
menjalankan fungsinya secara efektif dan
efisien, di samping dukungan yang maksimal
juga dari orang tua dan masyarakat
lingkungan.
Untuk mewujudkan tujuan agar peserta
didik menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
berakhlak mulia, sangat erat sekali
hubungannya dengan pendidikan agama dan
moral, yang pada akhirnya tujuan
diciptakannya manusia di dunia ini juga akan
tercapai, yaitu mengabdi atau beribadah
kepada Allah SWT, dengan cara menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya.
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
mempunyai peran strategis dalam upaya
pencapaian tujuan pendidikan nasional,
karena pendidikan agama bersasaran
langsung membentuk manusia Indonesia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Karena itu pendidikan agama
Islam merupakan bagian yang integral yang
tidak terpisahkan dari sistem pendidikan
nasional di Indonesia, sebagaimana yang
tercantum dalam Undang-Undang No. 20
tahun 2003, pasal 12 ayat 1 butir a, setiap
siswa pada setiap satuan pendidikan berhak
mendapatkan Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti sesuai dengan agama yang dianutnya
dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.
Dalam standar kompetensi mata pelajaran
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti yang
berisi kemampuan minimal yang harus
dikuasai siswa selama menempuh Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti di SMK,
kemampuan ini berorientasi pada perilaku
afektif dan psikomotorik dengan dukungan
pengetahuan kognitif dalam rangka
memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada
Allah SWT. Kemampuan-kemampuan yang
tercantum dalam komponen kemampuan
dasar ini merupakan penjabaran dari
kemampuan dasar umum yang harus dicapai
di jenjang pendidikan tingkat menengah,
diantaranya yaitu mampu beribadah dengan
baik dan benar sesuai dengan tuntunan syariat
Islam baik ibadah sunah maupun muamalah.
Dalam standar kompetensi lulusan mata
pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
SMK diantaranya yaitu menjelaskan
ketentuan dan hal-hal yang berkaitan dengan
pengelolaan haji.
Di lingkungan sekolah, seorang guru
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
mempunyai peranan, pengaruh serta
kewajiban untuk mendidik, melatih, dan
membekali pengetahuan yang maksimal yang
dapat mengantarkan peserta didik kepada
Tirwan
130 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
tujuan seperti yang diharapkan. Dalam proses
belajar mengajar, seorang pendidik,
khususnya guru Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti mempunyai tanggung jawab yang
besar, tidak hanya tanggung jawab guru
terhadap anak didiknya, tapi juga tanggung
jawab sebagai seorang muslim terhadap
muslim lainnya, agar anak didiknya bisa lebih
mendekatkan diri kepada Allah SWT dan
rajin beribadah.
Idealnya, seperti yang tercantum dalam
standar kompetensi mata pelajaran
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti yang
berisi kemampuan minimal yang harus
dikuasai oleh siswa selama menempuh
Pendidikan Agama Islam di SMK diantaranya
adalah mampu beribadah dengan baik dan
benar sesuai dengan tuntutan syariat Islam,
dan di dalam sandar kompetensi lulusan mata
pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
SMK diantaranya dapat menjelaskan makna
hikmah ibadah haji dengan menerapkan
berbagai jenis cara pengelolaan, yang lebih
mengantarkan pada kreatifitas dan inovasi
pembelajaran.
. Selain itu, juga dengan melihat usia
anak/peserta didik setara SMK, lebih-lebih
yang sudah kelas X adalah usia telah
mencapai baligh, yang artinya dia sudah
dikenai hukum wajib. Anak akan dapat
mengetahui ketentuan dan hal-hal yang
berkaitan dengan pengelolaan haji. Dalam
kenyataannya banyak siswa di kelas X yang
kurang memahami ketentuan-ketentuan dan
hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan
haji. Meskipun guru di dalam pembelajaran
telah berupaya dengan menggunakan
berbagai metode misalnya metode diskusi,
resitasi dan juga demonstrasi, tapi motivasi
belajar siswa masih rendah, hal ini dapat
dilihat dalam pembelajaran, presentase siswa
yang memperhatikan penjelasan guru tidak
lebih dari 50%, siswa yang bertanya tentang
materi yang sedang diajarkan tidak lebih dari
40%, dan siswa yang menjawab pertanyaan-
pertanyaan guru hanya sekitar 54%. Lebih
jelasnya dapat dilihat data pada tabel berikut.
Tabel data motivasi siswa kelas X RPL2
SMKN 2 Purwakarta Tahun 2018/2019
dalam pembelajaran Pendidikan Agama dan
Budi Pekerti materi pengelolaan haji SMKN
2 Purwakarta sebagaimana ditunjukkan pada
tabel 1.
Tabel 1
Motivasi Belajar Siswa Pada Mapel
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
No
Prosentasi
1
98%
2
50%
40%
54%
80%
3
95%
40%
(Suprihatin, 2015) berpendapat bahwa
proses pembelajaran akan berhasil ketika
siswa memiliki motivasi dalam belajar.
Motivasi belajar merupakan dorongan kuat
seseorang untuk melakukan sesuatu (Latipah,
2017); Motivasi merupakan kondisi awal
yang harus dimiliki seseorang dalam
pengasuhan (parenting) pada orangtua
milenial (Nasution, 2020). Oleh karena itu,
guru perlu menumbuhkan motivasi belajar
siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang
optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan
motivasi belajar siswa. Motivasi dalam proses
pembelajaran memiliki dua fungsi
sebagaimana yang dikemukakan oleh
(Sanjaya, 2019) dan (Latipah, 2017) yaitu
pendorong siswa untuk beraktivitas, dan
sebagai pengarah.
Peningkatan Motivasi Belajar Pengelolaan Haji Melalui Model Make A Match
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 131
Mencermati permasalahan yang ada,
peneliti merasa perlu melakukan upaya baru
dalam kegiatan proses pembelajaran yang
lebih kreatif, kompetitif, menarik,
menyenangkan, dan melibatkan semua siswa
untuk aktif serta memotivasi belajar siswa.
Untuk itu peneliti merasa perlu umtuk
menerapkan model pembelajaran make a
match, dengan alasan bahwa model
pembelajaran make a match mempunyai
karakteristik melibatkan semua siswa untuk
aktif dalam proses pembelajaran, model ini
juga bersifat menyenangkan karena ada unsur
permainan. Harapannya dengan
menggunakan model pembelajaran ini, dapat
meningkatkan motvasi belajar siswa dalam
pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti.
Pada dasarnya tidak ada model
pembelajaran yang terbaik. Suatu model
pembelajaran cocok untuk materi dan tujuan
tertentu, tetapi belum tentu cocok untuk
materi dan tujuan lainnya. Pada penelitian ini,
penerapan model pembelajaran make a match
diharapkan dapat meningkatkan motivasi
siswa yang akhirnya dapat meningkatkan
prestasi hasil belajar dalam materi
pengelolaan haji pada siswa kaelas X RPL2
semester genap SMKN 2 Purwakarta, tahun
pelajaran 2018 2019.
Model make a match adalah model
pembelajaran aktif untuk mendalami atau
melatih materi yang telah dipelajari. Menurut
Djumiati (2010: 35) merupakan model
pembelajaran yang menuntut siswa aktif
dalam pembelajaran. Model make a match
dikenal sebagai model mencari pasangan
lewat kartu, siswa menerima kartu yang berisi
pertanyaan atau jawaban, kemudian mereka
mencari pasangan yang cocok sesuai kartu
yang dipegangnya. Model pembelajaran make
a match pertama kali dikembangkan oleh
Lorna Curran pada 1994 (Huda, 2013).
(Suyatno & Nurgiyantoro, 2009)
mengungkapkan bahwa model a match adalah
model pembelajaran di mana guru
menyiapkan kartu yang berisi soal atau
permasalahan dan menyiapkan kartu jawaban
kemudian siswa mencari pasangan kartunya.
Model pembelajaran make a match
merupakan bagian dari pembelajaran
kooperatif. Model make a match melatih
siswa untuk memiliki sikap sosial yang baik
dan melatih kemampuan siswa dalam bekerja
sama di samping melatih kecepatan berfikir
siswa. Model pembelajaran make and match
adalah salah satu model pembelajaran yang
berorientasi pada permainan.
Menurut (Rusman, 2011), model make
a match atau mencari pasangan merupakan
salah satu alternatif yang dapat diterapkan
kepada siswa. Penerapan metode ini dimulai
dari teknik yaitu siswa disuruh mencari
pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal
sebelum batas waktunya, siswa yang dapat
mencocokkan kartunya diberi poin. Teknik
metode pembelajaran make a match atau
mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna
Curran. Salah satu keunggulan tehnik ini
adalah siswa mencari pasangan sambil belajar
mengenai suatu konsep atau topik dalam
suasana yang menyenangkan.
Selain menggunakan model
pembelajaran yang menarik diperlukan juga
media pembelajaran yang juga menjadi faktor
pendukung keberhasilan dalam menerapkan
model pembelajaran sehingga mampu
meningkatkan gairah belajar dan
meningkatkan kemampuan visual peserta
didik jika media yang digunakan menarik
atau variatif. Sehingga dalam penelitian ini
penulis menggunakan bantuan media kartu
bergambar. Kartu bergambar dalam penelitian
ini adalah alat bantu berbentuk persegi
panjang, terbuat dari kertas berwarna, kartu
tersebut berisi gambar dan konsep-konsep
yang sesuai dengan materi yang akan
diimplementasikan dalam model
pembelajaran make a match (Aliputri, 2018).
Langkah-langkah penerapan metode
make a match adalah sebagai berikut
(Mariani, 2017):
Tirwan
132 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
1.Guru menyampaikan materi atau memberi
tugas kepada siswa mempelajari materi
lebih dahulu.
2. Guru menyiapkan beberapa kartu yang
berisi pertanyaan pertanyaan dan
jawaban.
3. Setiap siswa mendapat satu kartu, dan
kemudian memikirkan jawaban atau soal
dari kartu yang dipegang.
4. Siswa mencari pasangan yang cocok
berdasarkan isi kartu yang dipegang.
5. Setelah waktu yang ditentukan habis,
semua pasangan mempresentasikannya.
6. Guru memberi konfirmasi, penghargaan,
ataupun hukuman sesuai dengan hasil
masing masing pasangan.
7. Diakhiri dengan memberi kesimpulan.
Pada hakikatnya, seperti dipahami
bahwa tidak ada metode pembelajaran dan
model pembelajaran yang terbaik atau
sempurna. Bisa jadi suatu metode atau model
pembelajaran cocok untuk materi dan tujuan
tertentu, tetapi belum tentu cocok untuk
materi dan tujuan lainnya. Demikian juga
model pembelajarn make a match. Namun
demikian secara umum dapat dilihat bahwa
model pembelajaran make a match dapat
melibatkan semua siswa aktif dalam proses
pembelajaran, dan juga menyenangkan.
Pembelajaran dengan model
pembelajaran make a match memiliki
kelebihan dan kelemahan. Menurut
(Mulyatiningsih & Nuryanto, 2014) kelebihan
tersebut diantaranya adalah, 1) Suasana
kegembiraan akan tumbuh dalam proses
pembelajaran; 2) Kerjasama antar sesama
siswa akan terwujud dengan dinamis; 3)
Munculnya dinamika gotong royong yang
merata di seluruh siswa. Sedangkan
kelemahannya adalah, 1) Diperlukan
bimbingan guru untuk melakukan
pembelajaran; 2) Suasana kelas menjadi
gaduh sehingga dapat mengganggu kelas lain;
3) Guru perlu persiapan bahan dan alat yang
memadai.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas X
RPL2 SMKN 2 Purwakarta. Peneliti
melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas di
kelas X RPL2 ini karena alasan sebagai
berikut:
1. Peneliti adalah satu satu guru yang
mengajar di kelas X RPL2 ini.
2. Peneliti mengamati bahwa dalam proses
pembelajaran siswa di kelas X RPL2 ini
kurang semangat / rendah motivasi
belajarnya dibandingkan dengan kelas
lainnya.
Subjek Penelitian dalam penelitian
tindakan kelas ini adalah kelas X RPL2
SMKN 2 Purwakarta Semester Genap Tahun
Pelajaran 2018/2019. Siswa kelas X SMKN 2
Purwakarta Tahun Pelajaran 2018 2019
secara keseluruhan berjumlah 71 siswa,
terbagi menjadi 2 kelas, yaitu X RPL1 , X
RPL2 ,
Keadaan sosial ekonomi orangtua
siswa rata-rata golongan menengah ke bawah.
Pada umumnya orangtua siswa
berpencaharian sebagai tani, sebagian
berdagang, dan ada pula yang merantau ke
Jakarta. Demikian pula latar belakang
pendidikan orangtua siswa sebagian besar
hanya sampai tamat SD, hanya sedikit yang
berpendidikan SMP/SMA apalagi Perguruan
Tinggi. Meskipun SMKN 2 Purwakarta ini
termasuk SMK yang favorit di daerah
Purwakarta, dan siswa yang masuk ke SMKN
2 Purwakarta ini adalah dari hasil
penyaringan, tetapi banyak juga tamatan
SMK 2 Purwakarta ini tidak melanjutkan
sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hal
inilah di antara yang menyebabkan motivasi
belajar siswa juga rendah.
Obyek penelitian ini adalah motivasi
belajar siswa yang berkaitan dengan
pembelajaran materi pengelolaan haji pada
mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti untuk siswa kelas X semester genap.
Sumber data dalam penelitian tindakan
kelas ini secara garis besar berasal dari dua
Peningkatan Motivasi Belajar Pengelolaan Haji Melalui Model Make A Match
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 133
sumber yaitu sumber data primer, berasal dari
subyek penelitian yaitu siswa kelas X RPL2
SMKN 2 Purwakarta tahun 2018/2019,
berupa hasil observasi motivasi belajar
ulangan harian siswa baik sebelum tindakan
kelas maupun setelah dilakukannya tindakan
kelas oleh peneliti; dan sumber data sekunder,
berasal dari guru Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti (teman sejawat dan kolaborator) yang
bertindak sebagai pengamat selama kegiatan
belajar mengajar berlangsung, juga dari wali
kelas X RPL2 dan guru BK yang telah
mengetahui keadaan subyek penelitian ini.
Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini ada dua yaitu teknik tes dan non
tes. Pengertian tes adalah serentetan
pertanyaan atau latihan atau alat lain yang
digunakan untuk mengukur keterampilan,
pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau
bakat yang dimiliki oleh individu atau
kelompok (Suharsimi, 2006). Tes yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes
prestasi (achievement test) yaitu tes yang
digunakan untuk mengukur pencapaian
seseorang setelah mempelajari sesuatu
(Suharsimi, 2006). Tes ini diberikan setelah
siswa mempelajari materi yang di teskan, dan
dilakukan dengan cara post test di akhir setiap
siklus melalui tes tertulis. Hal ini untuk
memperoleh data hasil belajar siswa (aspek
kognitif).
Hasil dan Pembahasan
A. Deskripsi Kondisi Awal/Pra Siklus
Pembelajaran yang dilakukan peneliti
sebelum menggunakan model
pembelajaran make a match adalah
model pembelajaran konvensional yang
didominasi metode ceramah, sehingga
kurang menarik minat siswa yang
berakibat pada hasil prestasi siswa pada
materi haji kurang maksimal. Nilai
prestasi hasil belajar siswa kelas X RPL2
SMKN 2 Purwakarta tahun 2018/2019
yang berjumlah 35 yang mencapai KKM
hanya 17 siswa dan 17 siswa lainnya
belum tuntas,dengan demikian pesentase
tingkat motivasi belajar siswa adalah
50,00%. Hal ini bisa dilihat pada tabel di
bawah ini.
Tabel 2
Tingkat Motivasi Belajar Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti (6 Aspek
Pengamatan)
N0
Kateg
ori
Renta
ng
Nilai
Fre
kue
nsi
Persent
asi
Σ
Skor
Rata-
rata
1
A
19-24
0
0%
0
420:3
4
=
12,35
Kateg
ori D
(Kura
ng) =
50,00
%
2
B
13-18
8
23,53%
144
3
C
06-12
20
58,82%
240
4
D
01-06
6
17,65%
36
Jumlah
34
100%
420
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa sebelum
siklus tingkat motivasi belajar siswa hanya
mencapai skor rata-rata 12,35 (50,00% ),
kategori D ( Kurang).
Deskripsi Siklus I
Perencanaan
1. Kegiatan yang peneliti lakukan pada
tahap ini adalah:
2. 1) Menyusun rencana pelaksanaan pem
belajaran (RPP) dengan model
pembelajaran seperti yang direncanakan
dalam PTK ini, (yaitu model
pembelajaran make a match).
3. 2) Mempersiapkan media pembelajaran.
4. 3) Menyusun lembar kerja siswa.
5. 4) Menyusun lembar observasi.
6. 5) Mendesain tempat duduk siswa (bila
ruang kelas memungkinkan).
7. 6) Memberikan penjelasan pada siswa
mengenai tehnik pelaksanaan model
pembelajaran yang akan dilaksanakan.
B. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti
melaksanakan kegiatan tindakan
pembelajaran sesuai dengan rencana
pembelajaran yang telah dibuat yaitu
dengan model pembelajaran make a
match, dengan langkahlangkah sesuai
Tirwan
134 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021
skenario pembelajaran sampai kegiatan
akhir / penutup.
C. Observasi
Peneliti mengamati kegiatan siswa
dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti pada materi
pengelolaan haji dengan model
pembelajaran make a match dengan
menggunakan lembar pengamatan yang
tersedia dan guru mengevaluasi hasil
belajar. Adapun hasil pengamatan
observer dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.
Tabel 3.
Motivasi Belajar Siswa Pada Siklus I ( 6
Aspek Pengamatan )
D. Refleksi
Peneliti berdiskusi mencari solusi
mencari kelemahan-kelemahan yang
terjadi pada pelaksanaan siklus I tabel dari
tersebut di atas satu (1) siswa yang
tingakat motivasi sangat rendah empat (4)
siswa tingkat motivasinya rendah. Untuk
itu peneliti pada pelaksanaan siklus
selajutnya lebih memperhatikan 5 siswa
tersebut, lebih-lebih pada 1 siswa yang
sanagat remdah perlu perhatian ekstra.
Kesimpulan
Dari pemaparan di atas peneliti
menyimpulkan bahwa terjadi peningkatan
motivasi belajar Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti pada siswa kelas X RPL2 SMKN 2
Purwakarta Tahun 2018/2019 setelah
menggunakan model make a match, yang
ditunjukkan dari adanya peningkatan motivasi
dari pra tindakan, siklus 1, dan siklus 2.
Bagi para guru untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa dapat mengguanakan
model pembelajaran make a match. Para guru
agar lebih kreatif dan inovatif dalam
menggunan model pembelajaran make a
match untuk kualitas pembelajaran. Bagi
Kepala Sekolah sebagai pengambil kebijakan,
agar memberikan kebijakan bagi para guru
untuk mengadakan training model
pembelajaran terutama model make a match.
Dalam menggunakan model pembelajaran
make a match harus mempertimbangkan
materi dan waktu.
Bagi guru yang akan menggunakan model
pembelajran make a match dalam
pembelajaran persiapkan dengan sebaik-
baiknya.
Dalam rangka meningkatkan prestasi
belajar siswa, guru hendaknya labih sering
melatih siswa dengan berbagai metode
pengajaran yang sesuai, walau dalam taraf
yang sederhana, di mana siswa nantinya
dapat menemukan pengetahuan baru,
memperoleh konsep dan keterampilan,
sehingga siswa berhasil atau mampu
memecahkan masalah-masalah yang
dihadapinya.
Bibliografi
Gustomo, A. (2015). Penerapan Model
Pembelajaran Snowball Throwing
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa pada Kompetensi Memperbaiki
Unit Kopling dan Komponen-komponen
Sistem Pengoperasian. Jurnal
Pendidikan Teknik Mesin, 15(2).
Huda, M. (2013). Model-Model Pengajaran
dan Pembelajaran: pustaka pelajar.
Yogyakarta.
Latipah, E. (2017). Psikologi Dasar.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mariani, M. (2017). Penerapan Model
Pembelajaran Make a Match Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika
Tentang Pembagian Pada Siswa Kelas Ii
Sd Muhammadiyah 4 Batu. JINoP
(Jurnal Inovasi Pembelajaran), 3(2),
599.
N
o
Kateg
ori
Rentang
Nilai
Freku
ensi
Persent
ase
Σ Skor
Rata-rata
1
A
19-24
3
8,82%
72
594 : 34 =
17,47
Kategori B
(Baik)/
72,80%
2
B
13-18
26
76,47%
468
3
C
06-12
4
11,76%
48
4
D
01-06
1
2,95%
6
Jumlah
34
100
594
Peningkatan Motivasi Belajar Pengelolaan Haji Melalui Model Make A Match
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 2 No. 1, Januari 2021 135
Maskur, R., Nofrizal, N., & Syazali, M.
(2017). Pengembangan Media
Pembelajaran Matematika dengan
Macromedia Flash. Al-Jabar: Jurnal
Pendidikan Matematika, 8(2), 177186.
Mulyatiningsih, E., & Nuryanto, A. (2014).
Metode penelitian terapan bidang
pendidikan.
Nasution. (1993). Psikologi Pendidikan.
Rajawali Press.
Nasution, L. (2020). Hak Kesehatan
Masyarakat dan Hak Permintaan
Pertanggungjawaban Terhadap
Lambannya Penanganan Pandemi
Global. Jurnal Adalah : Buletin Hukum
Dan Keadilan, 4, 1928.
Rusman. (2011). Model-model pembelajaran:
Mengembangkan profesionalisme guru.
Rajawali Pers/PT Raja Grafindo
Persada.
Saepudin, A. (2018). Konsep Pendidikan
Karakter dalam Perspektif Psikologi dan
Islam. Syntax Literate; Jurnal Ilmiah
Indonesia, 3(1), 1120.
Samani, M., & Hariyanto, M. S. (2011).
Konsep dan model pendidikan karakter.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, W. (2019). Strategi pembelajaran
berorientasi standar proses pendidikan.
Suharsimi, A. (2006). Prosedur penelitian
suatu pendekatan praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Suprihatin, S. (2015). Upaya guru dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa.
Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro,
3(1), 7382.
Suyatno, W., & Nurgiyantoro, B. (2009).
Menjelajah pembelajaran inovatif.
Masmedia Buana Pustaka. Sidoarjo.
Uran, L. L. (2018). Evaluasi implementasi
KTSP dan Kurikulum 2013 pada SMK
se-Kabupaten Belu, Nusa Tenggara
Timur. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi
Pendidikan, 22(1), 111.