Jurnal Syntax Transformation | Vol. 3 No. 3, Maret 2022 |
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 | Sosial Sains |
Pascasarjana IAIN Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia Email: [email protected]
INFO ARTIKEL | ABSTRAK |
Diterima 21 Februari 2022 Direvisi 9 Maret 2022 Disetujui 23 Maret 2022 | Seiring dengan kemajuan zaman, persaingan hidup dalam berbagai aspek juga kian ketat, tantangan yang dihadapi pun sangat beragam, begitu pula yang terjadi dalam dunia pendidikan khususunya pada pendidikan Islam, namun berbagai tantangan harus dapat diantisipasi supaya pendidikan bisa dilaksanakan dan diimplementasikan sesuai dengan misi dan tujuannya. Jika suatu tantangan mampu diantisipasi dan dihadapi dengan baik, seringkali tantangan itu menjadi peluang yang sangat berdaya guna, sebaliknya jika tidak mampu dihadapi dengan baik, seringkali ia menjadi kendala yang sangat mengganggu upaya pelaksanaan dan implementasi misi dan tujuan pendidikan Islam. Oleh karena itu, menformat ulang teori dan praktik pendidikan harus segera dilakukan dan diseimbangkan, agar pendidikan Islam tidak hanya menuai tantangan, namun juga meraih peluang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan (library research). library research juga menjadi salah satu bagian dari metode penelitian kualitatif dengan sumber data sekunder yakni buku maupun jurnal terkait peluang pedidikan Agama Islam. Pada penelitian yang dilakukan telah disimpulkan bahwa menjawab tantangan yang dihadapi pendidikan Islam salah satunya yakni dengan cara memanfaatkan peluang global,kemajuan informasi, komunikasi serta ipteknya untuk memperkuat posisi pendidikan Islam. Namun, Pendidikan Islam wajib mempertahankan sikap selektif, kritis, dan terbuka terhadap munculnya arus globalisasi sehingga peluang pendidikan Islam selalu unggul dan perhitungkan.. |
Kata Kunci: Manajemen, Keuangan, Pandemi Keyword: Management, Finance, Pandemic | |
ABSTRACT Along with the times, the competition for life in various aspects is also getting tighter, the challenges faced are also very diverse, as is what happened in the world of education, especially in Islamic education, but various challenges must be anticipated so that education can be implemented and implemented according to its mission and objectives . If a challenge can be anticipated and faced properly, it often becomes a very efficient opportunity, on the contrary if it is not able to be faced properly, it often becomes an obstacle that greatly interferes with efforts to implement and implement the mission and goals of Islamic education. Therefore, reformatting educational theory and practice must be carried out and balanced immediately, so that Islamic education will not only reap challenges, but also seize opportunities. The method used in this research is library research. library research is also a part of qualitative research methods with secondary data sources, namely books and journals related to Islamic education opportunities. In the research conducted, it has |
How to cite:
E-ISSN:
Published by:
Selawati N. (2022). Peluang Pendidikan Islam Di Era Globalisasi : Menuai Tantangan, Meraih Peluang, Jurnal Syntax Transformation, 3(3).
https://doi.org/10.46799/jst.v3i3.535 2721-2769
Pengaruh Kepedulian Remaja Dalam Kegiatan Keagamaan Dengan Pengamalan Keagamaannya
been concluded that one of the challenges faced by Islamic education is by taking advantage of global opportunities, advances in information, communication and science and technology to strengthen the position of Islamic education. However, Islamic education is required to maintain a selective, critical, and open attitude towards the emergence of globalization so that the opportunities for Islamic education are always superior and taken into account.
Dalam kehidupan sekarang ini kita menyadari bahwa munculnya peradaban modern-industrial yang dipercepat oleh era globalisasi merupakan rangkaian dari kemajuan Barat pasca-renaissance yang membawa nilai antroposentrisme dan humanisme sekuler (Abdullah, 2022). Paham yang mendewakan kejayaan manusia dan dunia secara faktual ini mengakibatkan munculnya banyak persoalan kemanusiaan dalam bentuk krisis moral, krisis spiritual dan krisis kebudayaan dalam kehidupan manusia (Surawadi & Awad, 2021).
Pada Era Globalisasi, pendidikan Islam dihadapkan dengan berbagai tantangan baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial budaya (Dacholfany, 2015).
Tantangan yang dihadapi oleh masyarakat sesungguhnya secara tidak langsung jadi tantangan pendidikan Islam, beberapa tantangan dihadapi masyarakat di masa depan itu perkembangan kultur yang disebabkan oleh pengaruh kemajuan media massa yang tidak lagi bersifat lokal, melainkan nasional bahkan global kemudian kemajuan aspek industri yang mendorong manusia kepada hidup yang materialistik, semakin meningkatnya rasionalitas manusia yang menyebabkan semakin jauh manusia dari agama. Fenomena globalisasi memang tidak dapat terhindarkan (Syafriyani, 2019). Berbagai proses, dinamika dan pengaruhnya telah berhasil merenggut tradisi dan nilai-nilai luhur keagamaan umat Islam saat ini, nilai-nilai pendidikan Islam dewasa ini semakin larut dalam berbagai perubahan yang merupakan hasil dari pengaruh globalisasi yang merajai (Ashmarita & Hasniah, 2016).
Hal tersebut sangatlah menjadi tantangan tersendiri, khususunya dalam ranah pendidikan Islam. Karena tantangan pendidikan Islam di era globalisasi saat ini kian beragam, dan demikian pula respon dan kesanggupan masyarakat untuk menghadapi tantangan tersebut amat beragam pula. Tantangan yang dihadapi oleh pendidikan Islam harus diantisipasi agar pendidikan bisa dilaksanakan dan diimplementasikan sesuai dengan misi dan tujuannya. Karena seyogyanya, peluang pendidikan Islam seharusnya bisa ditangkap, diraih dan dimanfaatkan oleh para pemerhati pendidikan Islam dalam rangka pelaksanaan dan implementasi nilai dan tujuan untuk menyongsong masa depan yang penuh kompetisi. Sehingga lembaga pendidikan Islam harus dapat memainkan peran strategisnya sebab erat sekali hubungan antara pendidikan dan kehidupan sosial kemasyarakatan, karena dalam proses perkembangan keduanya sangatlah saling mempengaruhi. Mesin pendidikan tidak terlepas dari gerakan mesin sosial kemasyarakatan. Krisis pendidikan di mana pun selalu sepadan intensitasnya dengan krisis yang melanda masyarakat. Pendidikan Islam ditantang untuk dapat mempunyai kemampuan mengubah tantangan menjadi peluang membangun peradaban bangsa dan dunia unggul mempunyai daya saing serta tidak terperangkap dalam pengaruh negatif perubahan global. Hal ini menjadi tantangan para pemikir dan praktisi pendidikan Islam untuk menemukan formulasi pendidikan Islam yang efektif dan efisien guna menghadapi perubahan dinamika yang begitu cepat di masyarakat, agar pendidikan Islam tidak kalah cepat bahkan diharapkan bisa lebih maju mentransfer pengetahuan untuk dapat
439
mencerdaskan kehidupan bangsa di tengah ancama globalisasi.
Karena derasnya arus globalisasi juga menantang arus dalam nilai agama,adat budaya lokal, dan juga pendidikan. Betapa tidak, bangsa betapa tidak, di lingkungan sekolah saja misalnya berpengaruh pada sistem pendidikan, jika pendidik misalnya bisa kehilangan zuhud karena kebutuhan kian bertambah sedangkan gaji kecil, maka terpaksa berpikir mencari penghasilan tambahan yang pada akhirnya motivasi mengajar sebagai tugas mulia melemah dan kinerja menjadi turun. Demikian pula pelajar atau siswa, karena tergoda dengan kemajuan teknologi, maka akan bertambah tuntutan biayanya di samping untuk sekolah yang semula hanya pergi pulang pergi sekolah di samping kebutuhan SPP dan serta peralatan tulis lainnya bertambah menjawi wajib memiliki HP mewah yang kadang lebih mahal dari HP orang tuanya. Dan efeknya pun sangat dahsyat kalau penggunaan tidak tepat HP bisa mengganggu konsentrasi belajar siswa disamping gangguan teknologi media canggih lainnya seperti Facebook dan lain-lain.
Dengan memperhatikan berbagai tantangan yg dihadapi tersebut di atas, maka dapat kiranya di inventarisasi langkah-langkah bagaimana yang perlu diambil agar pendidikan Islam dapat memainkan peran penting dan strategis tengah-tengah tantangan era globalisasi dewasa ini.
Maka, menyimpulkan dari atas uraian di atas, maka kiranya untuk menghadapi suatu perubahan, diperlukan sebuah desain atau strategi pendidikan baru di dalam menghadapi tantangan kemajuan zaman dan mengahadang arus globalisasi. Dan tulisan ini berusaha untuk menguraikan tantangan dan peluang pendidikan Islam pada era globalisasi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan (library research). library research juga menjadi salah satu bagian dari metode penelitian kualitatif. Penelitian ini
memanfaatkan sumber perpustakaan sebagai data penelitiannya, dalam penelitian ini akan digali lebih jauh tentang Peluang Pendidikan Islam. Prosedur pengumpulan data adalah melalui analisis kajian literatur yang relevan dengan permasalahan yang dibahas (Sari & Asmendri, 2020).
Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian kualitatif yang menekankan bahwa setiap temuan dilandaskan pada data sehingga temuan itu semakin tershahihkan sebelum dinobatkan sebagai teori dengan kata lain penelitian kualitatif ini memusatkan perhatian pada prinsip-prinsip umum yang mendasarkan pada perwujudan dan gejala-gejala yang ada dalam kehidupan manusia.Penelitian kualitatif juga dipandang sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yaitu berupa kata-kata yang tertulis atau lisan orang-orang yang orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi yang dimaksudkan untuk mencari data mengenai hal-hal untuk variabel berupa catatan transkrip buku surat kabar majalah prasasti notulen rapat Lengger agenda dan sebagainya dan sebagainya yang dilakukan baik dari dari jurnal dan berbagai bahan bacaan terkait. Sehingga dapat dikategorikan sebagai sumber data sekunder. Data-data yang telah terkumpul berdasarkan teknik pengumpulan data di atas kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi secara ilmiah metode logis dan kritis (Sari & Asmendri, 2020). analisis isi adalah teknik penelitian untuk membuat intervensi inferensial inferensial untuk penarikan kesimpulan berdasarkan pertimbangan yang dibuat sebelumnya telah dipertimbangkan yang dapat ditiru dan data dengan memperhatikan konteksnya.
Menurut David held dan Anthony Mc. Crew kata globalisasi dapat diartikan dalam pemaknaan yang beragam seperti kedekatan
jarak, ruang dan waktu yang menyempit,pengaruh cepat,dan dunia yang menyempit.
Dengan demikian kata globalisasi secara sederhana dapat diartikan sebagai sesuatu yang menyempitkan kan dinding dan jarak antara satu bangsa dan bangsa lain antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain, atau dengan kata lain globalisasi ialah merubah dunia menjadi perkampungan dunia.
Globalisasi mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Dalam hal ini globalisasi telah merubah kehidupan sehari-hari terutama di negara-negara berkembang,seperti Indonesia (Surahman, 2016). Ketergantungan dalam aspek ekonomi politik dan budaya barat menjadi penemuan baru bagi generasi muda Islam kita,model dan cara berpakaian yang tidak islami, jenis makanan yang diinginkan,sudah jauh dari menu dan kekhasan lokal,pengaruh bebas dan pergaulan muda-mudi yang tidak mengenal tata krama dan jauh dari nilai-nilai keislaman sudah terlihat dimana-mana (Latifah, 2015). Semua ini merupakan sebagian dari pengaruh negatif globalisasi. Begitu juga dalam aspek pendidikan, globalisasi telah berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan baik terhadap tujuan,proses hubungan peserta didik dan pendidik, etika, metode ataupun yang lainnya (Suradarma, 2018). Dalam hal tujuan misalnya tujuan pendidikan terdapat kecenderungan yang mengarah pada material sehingga hal yang pertama yang mungkin ditanyakan oleh orang tua siswa atau siswa adalah lembaga pendidikan tempat ia belajar dapat menjamin masa depan kehidupannya, demikian juga dengan kurikulumnya dengan lebih mengarah pada hal-hal yang materialistik itu dapat dicapai dalam hal ini belajar lebih terfokus pada aspek penguasaan ilmu belaka ketimbang bagaimana seorang siswa memiliki sikap sikap sesuai dengan nilai-nilai
Islam.
Kemudian dalam hal pergaulan antara sesama siswa tidak sulit kita menemukan dari berbagai sumber, baik media elektronik, maupun
media cetak dan massa lainnya yang memperlihatkan kondisi memprihatinkan sebagai akibat dari pengaruh budaya barat yang mengumbar pergaulan bebas, pergaulan guru-murid sering kita dapatkan informasi mengenai hubungan bebas guru murid yang disebabkan oleh barter nilai, juga tak jarang kita dapatkan guru dan murid yang tak harmonis karena akhlak siswa terhadap guru yang kurang menempatkan guru pada posisi yang tepat dikarenakan kesenjangan ekonomi antara guru dengan orang tua murid yang sangat jauh berbeda.
Seiring dengan kemajuan zaman, persaingan hidup dalam berbagai aspek juga kian ketat, hingga tantangan yang dihadapi pun beragam, begitu pula yang terjadi dalam dunia pendidikan khususunya pada oleh pendidikan Islam kian beragam dan harus diantisipasi agar pendidikan bisa dilaksanakan dan diimplementasikan sesuai dengan misi dan tujuannya.
Tantangan yang dihadapi oleh pendidikan Islam harus diantisipasi agar pendidikan bisa dilaksanakan dan diimplementasikan sesuai dengan misi dan tujuannya. Jika suatu tantangan mampu diantisipasi atau dihadapi dengan baik, seringkali tantangan itu menjadi peluang yang sangat berdaya guna, sebaliknya jika tidak mampu dihadapi dengan baik, seringkali ia menjadi kendala yang sangat mengganggu upaya pelaksanaan dan implementasi misi dan tujuan pendidikan Islam (Malisi, 2017).
Tantangan pendidikan Islam terus bergulir sejak masa Orde Lama hingga masa reformasi sekarang ini. Tantangan yang sekarang dihadapi adalah sejalan dengan peran yang harus dimanfaatkan oleh umat Islam untuk ikut serta terlibat dalam melakukan penataan ulang seluruh aspek kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan dan sebagainya menurut cara-cara yang lebih demokratis, transparan, berkeadilan, jujur, amanah, manusiawi dan modern melalui konsep masyarakat madani yang berbasis Al-Qur‘an dan Sunnah Nabi. Tantangan lainnya yang dihadapi
pendidikan islam adalah berkaitan dengan dampak yang ditimbulkan oleh globalisasi dunia yang didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi.
Abuddin Nata mengemukakan tantangan-tantangan yang dihadapi pendidikan Islam di era kekinian menghadapi pertarungan ideologi-ideologi besar dunia ditandai oleh lima kecenderungan sebagai berikut :
Kecenderungan integrasi ekonomi yang menyebabkan terjadinya persaingan bebas dalam dunia pendidikan. Munculnya konsep pendidikan yang berbasis pada sistem dan infra-struktur, manajemen berbasis mutu terpadu (TQM), interpreneur university dan lahirnya Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) tidak lain, karena menempatkan pendidikan sebagai komoditi yang diperdagangkan.
Kecenderungan fragmentasi politik yang menyebabkan terjadinya peningkatan tuntutan dan harapan dari masyarakat. Mereka semakin membutuhkan perlakuan yang adil, demokratis, egaliter, transparan, akuntabel, cepat, tepat dan profesional. Mereka ingin dilayani dengan baik dan memuaskan. Kecenderungan ini terlihat dari adanya pengelolaan manajemen pendidikan yang berbasis sekolah (shool based manajemen), pemberian peluang kepada komite atau majelis sekolah/madrasah untuk ikut dalam perumusan kebijakan dan program pendidikan, pelayanan proses belajar mengajar yang lebih memberikan peluang dan kebebasan kepada peserta didik, yaitu model belajar mengajar yang partisipatif, aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (Paikem).
Kecenderungan penggunaan teknologi tinggi (high technologie) khususnya teknologi komunikasi dan informasi (TKI) seperti komputer. Kehadiran TKI ini menyebabkan terjadinya tuntutan dari masyarakat untuk mendapatkan pelayanan
yang lebih cepat, transparan, tidak dibatasi waktu dan tempat.
Kecenderungan interdependensi (saling tergantungan), yaitu suatu keadaan di mana seseorang baru dapat memenuhi kebutuhannya apabila dibantu oleh orang lain.
Kecenderungan munculnya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan (new colonization in culture) yang mengakibatkan terjadinya pola pikir (mindset) masyarakat pengguna pendidikan, yaitu dari yang semula mereka belajar dalam rangka meningkatkan kemampuan intelektual, moral, fisik dan psikisnya, berubah menjadi belajar untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang besar. Saat ini sebelum seseorang belajar atau masuk kuliah misalnya, terlebih dahulu bertanya: nanti setelah lulus bisa jadi apa? Dan berapa gajinya? program-program studi yang tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan sendirinya akan terpinggirkan atau tidak diminati. Sedangkan program-program studi yang menawarkan pekerjaan dan penghasilan yang baik bagi lulusannya akan sangat diminati. Tidak hanya itu, kecenderungan penjajahan baru dalam bidang kebudayaan juga telah menyebabkan munculnya budaya pop atau budaya urban, yaitu budaya yang serba hedonistik, materialistik, rasional, ingin serba cepat, praktis, pragmatis dan instans. Kecenderungan budaya yang demikian itu menyebabkan ajaran agama yang bersifat normatif dan menjanjikan masa depan yang baik (di akhirat) kurang diminati. Mereka menuntut ajaran agama yang sesuai dengan budaya pop dan budaya urban. Dalam keadaan demikian, tidaklah mengherankan jika mata pelajaran agama yang disajikan secara normatif dan konvensional output menjadi tidak menarik dan ketinggalan zaman. Keadaan ini mengharuskan para guru atau ahli agama untuk melakukan reformulasi, reaktulisasi,
dan kontekstualisasi terhadap ajaran agama, sehingga ajaran agama tersebut akan terasa efektif dan transformatif.
Dalam era globalisasi ini proses modernisasi terjadi dalam berbagai kehidupan manusia, karena berbagai pemenuhan tuntutan manusia dan perkembangan kemajuan bidang-bidang iptek, terutama dalam dunia informasi dan inovasi baru yang membawa perubahan drastis. Menghadapi keadaan yang demikian, pendidikan Islam pun mesti berupaya meletakkan posisinya kepada kedudukan yang strategis bukan saja dalam rangka membangun manusia yang utuh menyeluruh, melainkan juga menanamkan nilai-nilai yang ideal bagi kehidupan dan kemajuan masyarakat yang dinamis berkembang agar mampu memberikan pemecahan terhadap berbagai persoalan yang timbul sebagai akibat dari kemajuan iptek, modernisasi dan globalisasi.
Selain itu, pendidikan Islam juga diharapkan mampu membangun konstruksi corak keilmuan dan teknologi yang integrative (antara spritualisme dan realism) dalam kehidupan.
Pendidikan Islam sebagai wadah pengembangan akal dan pikiran, pengarah tata laku dan perasaan berdasarkan nilai ajaran Islam, agar nilai tersebut dapat diserap dalam kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan harus sesuai dengan alur pemikiran sehat dalam memandang dan membaca realitas kehidupan sehingga sisi kehidupan yang akan diraih dapat diupayakan.
Oemar Muhammad Al-Toumy al-Syaebany dalam Arifin menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah usaha mengubah tingkah laku individu yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam dalam kehidupan pribadinya atau dalam kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitar melalui proses kependidikan. Muhammad Fadil l-Djamaly, juga menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan mengangkat derajat kemanusiannya, sesuai dengan kemampuan dasar
(fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar).
Selanjutnya Fadjar yang mengutip pendapat Ahmad Pratiknya mengemukakan bahwa sumber daya manusia yang berkualitas menyangkut tiga dimensi: (1) dimensi ekonomi,
dimensi budaya, dan (3) dimensi spiritual (iman dan takwa). Upaya mengembangkan kualitas manusia lewat pendidikan perlu mengacu pada nilai tambah dari ketiga dimensi di atas, yakni nilai tambah ekonomis, nilai tambah budaya dan nilai tambah spiritual. Dalam kerangka inilah pendidikan Islam sebagai proses pengembangan manusia secara makro meliputi beberapa proses yaitu proses pembudayaan, proses pembinaan iman dan takwa (imtak) dan proses pembinaan iptek. Sejalan dengan inilah pendidikan Islam dalam pengembangan sumber daya manusia secara mikro merupakan proses transfer of knowledge, transfer of methodology, dan transfer of value. Selain itu, setiap muslim perlu menyadari dan meyakini sepenuhnya bahwa kebenaran Islam sebagai way of life, nilai-nilai dasarnya terkandung dalam kitab suci Al-Qur‘an sebagai wahyu Allah. Kemajuan modernisasi di sini harus dikembangkan atas dasar: (1) Allah menciptakan seluruh alam dengan haq bukan bathil (QS.16:3, 38:27; (2) Dia mengaturnya dengan segala peraturan Ilahi (Sunnatullah) yang menguasai dan pasti (QS. 7:54, 25:2), (3) sebagai ciptaan.
Peluang pendidikan Islam bisa meliputi: peningkatan fungsi dan peranan, peningkatan persaingan dan antisipasi agama, pengembangan kelembagaan, dan kerjasama. Tantangan pendidikan Islam yang sekarang dihadapi adalah aspek-aspek kehidupan yang meliputi faktor-faktor ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan dan sebagainya, yang dituntut untuk diimplementasikan menurut cara-cara yang lebih demokratis, transparan, berkeadilan, jujur, amanah, manusiawi dan modern sesuai dengan konsep masyarakat madani yang berbasis al-Qur‘an dan Sunnah Nabi.
Peluang pendidikan Islam seharusnya bisa ditangkap, diraih dan dimanfaatkan oleh para
pemerhati pendidikan dalam rangka pelaksanaan dan implementasi nilai dan tujuan untuk menyongsong masa depan yang penuh kompetisi. Adapun peluang pendidikan Islam era globalisasi ini bisa dideskripsikan sebagai berikut :
Gobalisasi yang bersifat kompetitif dapat mendorong umat Islam untuk memproses pembangunan manusia yang berkualitas, baik fisik, intelektual, maupun moral.
Kemajuan teknologi dan industri memberikan kemudahan kemudahan dalam menyelenggarakan ibadah, dan memberikan peluang besar dalam pendidikan untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar. “Informasi keagamaan yang dikemas dalam bentuk buku, video, kaset, seminar, meditasi, ideologi keagamaan dan semacamnya mudah kita jumpai di mana-mana.” Hal ini tentunya akan mengefesienkan proses pembelajaran Islam.
Era globalisasi yang ditandai dengan maraknya bisnis dan perdagangan memberi peluang pada umat untuk meningkatkan kemampuan manajerial dan bisnis.
Penemuan-penemuan sains di era globalisasi, lebih memotivasi umat untuk memberikan dasar religius, dan menunjukkan bahwa Islam tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Globalisasi juga menggugah gaya hidup umat yang homogen agar menghargai tradisi dan nilai-nilai agama secara lebih mendalam. Individu maupun institusi agama yang secara sadar bergaya hidup homogen akan mampu menjadi penyagga tradisi dan nilai-nilai budaya bangsa tidak mudah terlindas oleh arus globalisasi.
Dari berbagai contoh peluang di atas, diharapkan pendidikan Islam dapat secara komprehensif menjalankan peran krusialnya dalam trasnmisi ilmu-ilmu keislaman, pemeliharaan tradisi Islam, dan reproduksi ulama. Di samping itu, pendidikan Islam juga harus melakukan dan memerankan diri sebagai
agent of change sembari memperkuat identitas Islam.
Hal ini bertujuan agar terciptanya Muslim yang tidak hanya menguasai pengetahuan umum (atau sebaliknya) tetapi juga unggul dalam ilmu agama, sehingga dapat melakukan mobilitas kehidupan dengan baik dan tertata. Karena kesadaran akan pengamalan nilai-nilai agama dalam suatu pembiasaan justru semakin dibutuhkan untuk mendorong trasnformasi pekerjaan yang memperkuat mekanisme respons terhadap berbagai tantangan yang semakin kompleks.
Dalam menghadapi dampak tantangan yang muncul pada era globalisasi, seyogyanya pendidikan Islam memiliki peranan yang penting dan strategis karena bagaimanapun terutama pendidikan Islam mempunyai sarana yang paling efektif dalam menghadapi globalisasi dunia.
Karena melalui pendidikan Islam dapat ditanamkan nilai-nilai dan moral peserta didik untuk mengetahui dimana posisi lembaga pendidikan Islam di era globalisasi ini maka mau tidak mau kita lebih terdahulu memetakan kekuatan dan kelemahan serta peluang dan tantangan bagaimana pendidikan Islam untuk mengetahui peluang dan tantangannya.
Pendidikan Islam dari perspektif esensi pengajaran mempunyai keunggulan, karena didalamnya terdapat pengajaran umum dan agama. Pendekatan keagamaan memberikan posisi strategis bagi pendidikan Islam untuk mendidik generasi muda Islam dan menumbuhkembangkan potensi diri agar sejalan dengan norma yang tumbuh kembang dan dipakai dalam masyarakat dan budaya. Lebih dari itu, pendidikan Islam merupakan proses bimbingan pengembangan jasmani dan rohani manusia dengan ajaran Islam dan fitrah manusia itu agar mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan tujuan hidup diciptakan oleh Tuhannya.
Pendidikan Islam ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk meraih peluang peluang cukup banyak dan besar di
lingkungan strategis Nasional Indonesia karena, pendidikan Islam mempunyai potensi yang besar, diantaranya :
akreditasi kelembagaan pendidikan standarisasi kelulusan
sertifikasi guru atau pendidik anggaran pendidikan besar
mendapat kedudukan yang sama dalam kebijakan nasional dalam bidang pendidikan
mempunyai masyarakat pendukung pendidikan Islam
umat Islam yang dominan dan fanatik terhadap pendidikan Islam
pengalaman besar dan sudah lama masa eksis secara mandiri
lembaga pendidikan Islam ragam bentuk dan jumlahnya banyak
SDM para pakar dan manajer pendidikan Islam banyak sudah
mempunyai sistem yang kuat ada departemen khusus yang memayungi yakni kementerian agama.
Dengan potensi pendidikan Islam yang ada kiranya dapat dimanfaatkan untuk dapat merebut peluang dan menghadapi tantangan atau merubah tantangan menjadi peluang di era global. Pendidikan Islam secara objektif mempunyai potensi besar untuk meraih peluang. Sehingga dalam kondisi apapun Pendidikan Islam wajib mempertahankan sikap selektif, kritis, namun tetap terbuka terbuka terhadap munculnya arus globalisasi sehingga peluang pendidikan Islam selalu unggul dan perhitungkan.
Arus global bukan hanya kawan ataupun lawan bagi dunia pendidikan Islam, melainkan merupakan sebuah “mesin” yang bila mengambil posisi anti global maka mesin tersebut akan macet (stationaire) dan pendidikan Islam akan mengalami intelectual shut down alias penutupan intelektual. Sebaliknya jika pendidikan Islam terseret ke dalam arus global, tak dapat dipungkiri lagi bahwa identitas keislaman akan
dilindas oleh “mesin” tadi. Oleh karena itu, berbagai upaya menformat ulang teori dan praktik pendidikan harus segera dilakukan dan diseimbangkan. Selanjutnya, harus disadari bahwa globalisasi sendiri memberikan peluang sekaligus tantangan dan bahkan ancaman terhadap siapapun, apapun, dan lembaga (pendidikan) manapun, termasuk pendidikan Islam. Globalisasi merupakan peluang, karena siapapun yang memiliki kualitas bisa menjadi pemenang, namun globalisasi bisa menjadi ancaman, karena globalisasi bisa menenggelamkan dan mempencundangi siapapun kalau pada kenyataannya dia tidak bisa bersaing. Bahkan, pada titik ekstrim persaingan pada era globalisasi bisa menamatkan riwayat sebuah institusi (pendidikan).
Namun, di samping itu pendidikan Islam juga harus menjalankan fungsinya, yaitu:
Mengembangkan pengetahuan teoritis, praktis, dan fungsional bagi peserta didik.
Menumbuhkembangkan kreatifitas, potensi-potensi atau fitrah peserta didik.
Meningkatkan kualitas akhlak dan kepribadian, atau nilai-nilai insani dan nilai-nilai Ilahi.
Menyiapkan tenaga kerja yang produktif.
Membangun peradaban yang berkualitas (sesuai dengan nilai-nilai Islam) di masa depan.
Mewariskan nilai-nilai Ilahi dan nilai-nilai insani kepada peserta didik
Seyogyanya, pendidikan Islam di era global ini menghadapi tantangan yang berat untuk mencetak manusia-manusia yang memiliki penguasaan pengetahuan agama tetapi sekaligus memiliki pengetahuan umum dan juga memiliki skill atau memiliki kompetensi yang bermanfaat bagi kehidupannya di masa ini. Apalagi di era global ini masyarakat ditandai oleh kemajuan sains dan teknologi, seperti canggihnya alat teknologi seperti Handphone dan computer, lulusan pendidikan Islam diharapkan hal itu bukan sesuatu yang asing.
Sehingga dengan penguasaan terhadap alat teknologi itu mereka dapat berkiprah secara
optimal di tengah masyarakat. Bahkan bukan saja dapat menggunakan, menguasai, tetapi dapat mengembangkannya. Selain itu, pendidikan Islam mulai usia dini, tingkat dasar diharapkan mulai memperhatikan peningkatan daya baca dan menulis sebagai embrio untuk melakukan penelitian keilmuan, dilanjutkan pada tingkat menengah hingga ke pendidikan tinggi. Membaca dan riset merupakan kunci berkembangnya ilmu pengetahun, seperti yang diisyaratkan dalam ayat Al-Qur'an dengan iqra‘nya dan ayat yang lain: Tidakkah mereka melihat kepada unta bagaimana diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan, gunung bagaimana ia ditancapkan serta bumi bagaimana ia dihamparkan (QS. al- Ghasyiyah: 17-20). Dalam ayat lain yang artinya: Tidakkah mereka melihat ke langit di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi serta Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah di pandang mata (QS. al-Qaf: 6-7).
Hal-hal itu itu sudah cukup untuk mendorong anak didik yang nantinya melakukan penyelidikan terhadap fenomena alam dan memiliki skill kehidupan. Aspek-aspek itu atau semangatnyatelah diambil oleh orang-orang non Muslim seperti Jepang, China, dan orang-orang Barat, mereka menjadi negara yang diisi orang-orang unggul, berjiwa entepreneurship dan memiliki kompetensi dan mereka hobi melakukan penemuan seperti yang dilakukan oleh Albert Einstein dengan teori relativitasnya, dan dilanjutkan oleh orang-orang Barat lainnya, yang menyebabkan sains dan teknologi mereka mengalami kemajuan. Hal-hal itu dapat dilakukan di pendidikan Islam.
Selanjutnya, untuk dapat bersaing di era globalisasi ini dan mendapatkan peluang yang besar. Solusi yang ditawarkan untuk Pendidikan Islam,diantaranya :
Memanfaatkan peluang global dengan kemajuan informasi, komunikasi serta
ipteknya untuk memperkuat posisi pendidikan Islam.
Pendidikan Islam berorientasi ke masa depan, bersikap progresif, mampu memilih dan memilah secara baik, dengan cara membuat perencanaan dengan baik. Memperhatikan arus modrenisasi dengan tetap mengedepankan asas-asas ke Islaman sebagai ciri khas Pendidikan Islam.
Pendidikan Islam harus terbuka dan bersedia menerima hal-hal baru hasil inovasi dan perubahan; berorientasi demokratis dan mampu memiliki pendapat yang tidak selalu sama dengan orang lain; berpijak pada kenyataan, menghargai waktu, konsisten dan sistematik dalam menyelesaikan masalah; selalu terlibat dalam perencanaan dan pengorganisasian; memiliki keyakinan bahwa segalanya dapat diperhitungkan; menghargai pendapat orang lain; nrasional dan percaya pada kemampuan Iptek; menjunjung tinggi keadilan berdasarkan prestasi, efektifitas dan efisiensi.
Berusaha menjadikan pendidikan Islam sebagai wadah kegemaran bagi masyarakat untuk menemukan kebenaran dan kebudayaan sebagai ladasan hidup. Dalam hal ini pendidikan Islam hendaknya mampu memberikan output yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan bisa menjadi rujukan pengontrol masyarakat ketika terjadi berbagai penyimpanganpenyimpangan. Hal ini dikarenakan pendidikan Islam adalah lembaga pendidikan yang sengaja diselenggarakan atau didirikan dengan niat untuk mentransfer ajaran-ajaran Islam melalui kegiatan pendidikannya
Lebih giat membenah diri dalam segala aspeknya sehingga diharapkan mampu menjadi wadah interaksi untuk mengembangkan potensi yang ditanamkan Tuhan pada manusia sebelum manusia lahir, bisa tumbuh dan berkembang di dalam lembaga-lembaga dan ditopang olehnya.
Pada beberapa referensi yang dilakukan coping adalah model transactional antara stress dan coping untuk mengelola tuntutan eksternal dan internal itu sendiri. Reaksi koping bersifat adaptif dan pada awalnya dapat mengurangi kesusahan dan mengkategorikan strategi ini sebagai sehat atau tidak sehat, tergantung pada kemungkinan konsekuensi yang merugikan. Strategi koping, termasuk upaya untuk mengatur emosi sebagai respons terhadap stres.
Dalam era globalisasi ini niscayanya proses modernisasi terjadi dalam kehidupan manusia, karena berbagai pemenuhan tuntutan manusia dan perkembangan kemajuan bidang-bidang iptek, terutama dalam dunia informasi dan inovasi baru yang membawa perubahan drastis. Menghadapi keadaan yang demikian, pendidikan Islam pun mesti berupaya meletakkan posisinya kepada kedudukan yang strategis bukan saja dalam rangka membangun manusia yang utuh menyeluruh, melainkan juga menanamkan nilai-nilai yang ideal bagi kehidupan dan kemajuan masyarakat yang dinamis berkembang agar mampu memberikan pemecahan terhadap berbagai persoalan yang timbul sebagai akibat dari kemajuan iptek, modernisasi dan globalisasi.
Pada penelitian yang dilakukan telah disimpulkan bahwa menjawab tantangan yang dihadapi pendidikan Islam salahsatunya yakni dengan manfaatkan peluang global dengan kemajuan informasi, komunikasi serta ipteknya untuk memperkuat posisi pendidikan Islam. Namun, Pendidikan Islam wajib mempertahankan sikap selektif, kritis, dan terbuka terhadap munculnya arus globalisasi sehingga peluang pendidikan Islam selalu unggul dan perhitungkan
Abdullah, A. R. (2022). PENGANTAR ILMU
PENDIDIKAN ISLAM. Literasi Nusantara. Google Scholar
Ashmarita, A., & Hasniah, H. (2016). Nilai-Nilai Kearifan Lokal Tradisi Katoba Dalam Budaya Masyarakat Muna Di Kota KENDARI. ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial Dan Budaya, 5(2), 121–128. Google Scholar
Dacholfany, M. I. (2015). Reformasi Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Era Globalisasi. AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam, 20(1), 173–194. Google Scholar
Latifah, N. (2015). Pendidikan Islam di Era Globalisasi. JIE (Journal of Islamic Education), 2(1). Google Scholar
Malisi, M. A. S. (2017). Tantangan dan peluang pendidikan Islam di era MEA. Jurnal Transformatif (Islamic Studies), 1(1), 1–15. Google Scholar
Sari, M., & Asmendri, A. (2020). Penelitian Kepustakaan (Library Research) dalam Penelitian Pendidikan IPA. Natural Science: Jurnal Penelitian Bidang IPA Dan Pendidikan IPA, 6(1), 41–53. Google Scholar
Suradarma, I. B. (2018). Revitalisasi nilai-nilai Moral Keagamaan di era globalisasi melalui pendidikan agama. Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama Dan Kebudayaan, 18(2), 50–58. Google Scholar
Surahman, S. (2016). Determinisme teknologi komunikasi dan globalisasi media terhadap seni budaya Indonesia. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi, 12(1), 31–42. Google Scholar
Surawadi, S., & Awad, A. (2021). Reaktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam: Paradigma Baru Di Era Masyarakat Ekonomi Asean (Mea) Dalam Peluang Dan Tantangan. Jurnal Terapung: Ilmu-Ilmu Sosial, 3(1). Google Scholar
Syafriyani, I. (2019). Implementasi E-
Government dalam Menjawab Tantangan Pelayanan Publik di Kabupaten Sumenep. Prosiding, 216–221. Google Scholar
Copyright holder : Nama penulis, nama penulis (2022). |
First publication right : Jurnal Syntax Transformation This article is licensed under: |