Jurnal Syntax Transformation | Vol. 3 No. 3, Maret 2022 |
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769 | Sosial Sains |
Tadris Ilmu Pengetahuan Alam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga Jawa Tengah, Indonesia 1,2
Fakultas Tarbiyah Ilmu Kependidikan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia 3
Email: [email protected], [email protected], [email protected]
INFO ARTIKEL | ABSTRAK |
Diterima 12 Oktober 2021 Direvisi 19 Oktober 2021 Disetujui 28 November 2021
| Pisang merupakan tanaman holtikultura yang tersebar diseluruh wilayah indonesia. Produksi pisang di Indonesia tergolong tinggi dengan nilai 7.264.379 ton/tahun. Produksi pisang tersebut memiliki hasil samping cukup tinggi, salah satu hasil samping adalah pohon pisang. Pohon pisang sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi olahan pangan dan olahan ini telah diterapkan oleh home industry di kelurahan pulutan kota salatiga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha home industry cookies pohon pisang di kelurahan Pulutan Kota Salatiga. Metode penelitian menggunakan descriptif kuantitatif dengan teknik analisis berupa SWOT Analysis, BEP, dan R/C Ratio. Hasil dari analisis R/C Ratio > 1, artinya usaha tersebut layak dikembangkan. |
Kata Kunci: Pisang , home industry, teknik analisis | |
Keyword: Banana , home industry, engineering analysis | ABSTRACT Banana is a horticultural plant that is spread throughout Indonesia. Banana production in Indonesia is high with a value of 7,264,379 tons/year. Banana production has a fairly high by-product, one of the by-products is banana trees. Banana trees can actually be used as processed food and this has been applied by the home industry in the Pulutan Village, Salatiga City. This study aims to determine the feasibility of a banana tree cookie home industry in Pulutan Village, Salatiga City. The research method uses quantitative descriptive analysis techniques in the form of SWOT Analysis, BEP, and R/C Ratio. The results of the analysis of the R/C Ratio > 1, it means that the business is feasible to develop |
Studi kelayakan dirancang untuk menjawab pertanyaan menyeluruh: Bisakah itu berhasil? Tujuan utama kelayakan meliputi penilaian kemampuan rekrutmen dan karakteristik sampel yang dihasilkan, prosedur pengumpulan data dan ukuran hasil, penerimaan intervensi dan prosedur studi, sumber daya dan kemampuan untuk mengelola dan melaksanakan
studi dan intervensi, dan evaluasi awal tanggapan peserta terhadap intervensi (Orsmond & Cohn, 2015).
Dalam usaha, secara umum, ada dua pertanyaan berbeda sering kali membingungkan. Yang satu menyangkut keumuman prinsip dan yang lainnya keefektifan yang dapat diandalkan dari prosedur kelayakan dalam berusaha. Mengintegrasikan biaya dan manfaat sangat
How to cite:
E-ISSN:
Published by:
Prastyo Prastyo, H., AliyantI, H, N, S., Nopriadi, H., (2022). Analisis Kelayakan Usaha Home Industri Cookies Dari Pohon Pisang Di Kelurahan Pulutan Kota Salatiga, Jurnal Syntax Transformation, 3(3). https://doi.org/10.46799/jst.v3i3.536
penting untuk pengambilan keputusan yang optimal. Meskipun banyak yang diketahui tentang keputusan yang melibatkan biaya terkait hasil (misalnya, penundaan, risiko), banyak dari pilihan kita melekat pada tindakan dan memerlukan evaluasi biaya terkait (Klein-Flügge et al., 2016).
kelayakan suatu tindakan mungkin suatu alasan untuk melakukan itu (Pablo Gilabert dan Holly Lawford-Smith, 2012); ketidaklayakan mungkin menjadi alasan (untuk tidak melakukan apa yang seharusnya, atau apa yang dituntut keadilan, atau apa pun) (Southwood 2016); kelayakan beberapa tindakan lain mungkin relevan dengan apakah saya harus melakukan suatu tindakan (Jackson dan Pargetter 1986 ; Estlund 2011); kelayakan beberapa tanggapan terhadap suatu tindakan mungkin relevan dengan apakah kita harus melakukan tindakan tersebut; dan kelayakan terkadang berharga sehingga kita memiliki alasan (atau keadilan atau moralitas menuntut kita) untuk mengubah atau mempertahankan apa yang layak (Gilabert, 2017).
Pertanian di Indonesia merupakan sektor paling strategis dalam suatu tatanan pembangunan perekonomian. Bukan tanpa alasan mengapa pertanian termasuk kedalam sektor strategis. Hal ini dikarenakan iklim yang ada di Indonesia merupakan iklim tropis yang mana memungkinkan beraneka ragam tumbuhan dapat hidup di Indonesia. Salah satu pertanian yang paling menjanjikan ialah pisang.
Pisang merupakan salah satu tanaman holikultura yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Produksi pisang di Indonesia mencapai 7.264.379 ton pada tahun 2018 dengan luas panen yang mencapai 81.289 hektar (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2019). Pemanfaatan pisang di Indonesia sangat beraneka ragam, mulai dari dikonsumsi secara langsung maupun dijadikan olahan. Pemanfaatan serta jumlah produksi yang tinggi menjadikan pisang memiliki prospek bisnis yang tinggi.
Produksi pisang yang tergolong tinggi juga memiliki hasil samping yang cukup tinggi juga. Hasil samping tersebut yakni pohon pisang. Pemanfaatan pohon pisang sangat berbanding terbalik dengan buahnya, dimana pohon pisang hanya dimanfaatkan seadanya bahkan tidak dimanfaatkan sehingga menjadi limbah. Mayoritas pemanfaatan pohon pisang adalah sebagai pupuk organik dan pakan ternak. Sangat disayangkan jika pohon pisang tidak dimanfaatkan secara maksimal, padahal kandungan gizi dari pohon pisang hampir menyamai buah pisang itu sendiri.
Hasil yang melimpah dengan pemanfaatan yang sangat sederhana bahkan kurang dimanfaatkan, menjadikan peluang usaha yang sangat tinggi. Salah satu home industri di Kota Salatiga mampu memanfaatkan pohon pisang untuk dijadikan suatu olahan makanan yakni cookies. Melihat hal tersebut, untuk mengetahui kelayakan usaha dari cookies pohon pisang tersebut dibutuhkan beberapa analisis diantaranya adalah SWOT Analysis, BEP, dan R/C Ratio.
Subjek pada penelitian ini adalah pelaku home industri cookies dari pohon pisang dan Objek penelitiannya adalah kelayakan usaha dari home industri cookies dari pohon pisang. Data dari penelitian ini menggunakan data sekunder dimana data tersebut didapatkan dari catatan, buku, laporan pemerintah, buku-buku, dan sebagainya (Tersiana, 2018). Teknik analisis data yang digunkaan untuk menguji hipotesis adalah SWOT analysis, BEP, dan R/C Ratio.
SWOT analysis
SWOT analysis adalah alat yang digunakan untuk perencanaan strategis dan manajemen strategis dalam organisasi yang dapat digunakan secara efektif untuk membangun strategi organisasi dan strategi bersaing (Emet & Merba, 2017). Berikut langkah menyusun Matriks SWOT menurut :
Tentukan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan internal kunci
Tentukan faktor-faktor peluang dan ancaman eksternal
Tentukan faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman
Sesuaikan kekuatan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan SO Strategy
Sesuaikan kekuatan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan ST Strategy
Sesuaikan kelemahan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan WO Strategy
Sesuaikan kelemahan internal dengan peluang eksternal untuk mendapatkan WT Strategy
Break Event Point
Break Event Point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan (Asnidar & Asrida, 2017). Secara matematis BEP dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
FC = Biaya Tetap
V = Biaya Variabel Per Unit
P = Perkiraan Harga Jual Per Unit
R/C Ratio
Retrun Cost Ratio atau R/C Ratio merupakan imbangan antara penerimaan dengan biaya yang digunakan untuk usaha atau perbandingan antara penerimaan dan biaya (Siswoyo et al., 2020). Secara matematis R/C Ratio dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
Kriterian penilaian R/C Ratio:
R/C Ratio < 1 = usahaka mengalami kerugian
R/C Ratio > 1 = usahaka mengalami keuntungan
R/C Ratio = 1 = usahaka mencapai titik impas
SWOT analysis dilakukan dengan menerapkan teknik konversi dari faktor internal dan pencocokan faktor eksternal (Sarsby, 2016). Faktor internal terdiri dari Strength (Kekuatan) dan Weakness (Kelemahan) sedangkan Faktor eksternal terdiri dari Opportunity (Peluang) dan Threat (Ancaman) (Jatmiko et al., 2021). Berikut hasil SWOT analysis:
Tabel I
Faktor Internal | Faktor Eksternal | ||
Strengt h (S) | Weakness (W) | Opportun ity (O) | Threat (T) |
|
resonan si |
4. Dapat |
|
menar ik invest
or
Biaya produksi merupakan total biaya yang dikeluarkan suatu usaha untuk memproduksi suatu barang. Biaya produksi dari dari home industry cookies pohon pisang sebesar Rp.3.972.000. Biaya produksi terdiri dari biaya variable dan biaya tetap.
Biaya variabel merupakan biaya marjinal terhadap semua unit yang diproduksi (Merdekawati et al., 2021). Biaya variabel terdiri dari bahan baku pembuatan Cookies pohon pisang, biaya kemasan, biaya produksi, dan biaya tenaga kerja. Total biaya variabel sebesar Rp.3.610.000.
Biaya Variabel | ||
No. | Jenis Pengeluaran | Biaya |
1. | Bahan Baku | Rp. 1.120.000,- |
2. | Kemasan | Rp. 1.100.000,- |
3. | Biaya Produksi | Rp. 390.000,- |
4. | Biaya Tenaga Kerja | Rp. 1.000.000,- |
Jumlah | Rp. 3.610.000,- | |
Biaya Tetap | ||
No. | Jenis Pengeluaran | Biaya |
1. | Biaya tak habis pakai | Rp. 262.000,- |
2. | Biaya Overhead | Rp. 100.000,- |
Jumlah | Rp. 362.000,- | |
Total Biaya | Rp. 3.972.000,- | |
Biaya tetap merupakan biaya yang besarnya tidak berubah-ubah seiring dengan adanya perubahan hasil kelauran dari suatu usaha (Ritonga et al., 2015). Biaya tetap terdiri dari biaya tak habis pakai dan biaya overhead home industry. Biaya tak habis pakai terdiri dari biaya penyusutan alat dimana total biaya penyusutan sebsar Rp.262.000. Biaya overhead merupakan biaya tak terduga dari suatu usaha. Home industry cookies pohon pisang sebesar Rp100.000. Rincian biaya produksi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Biaya produksi pada tabel merupakan biaya yang dikeluarkan selama satu kali periode produksi dimana satu kali periode produksi selama satu bulan. Artinya home industri cookies pohon pisang harusa mengeluarkan dana sebesar Rp.3.972.000 selama satu bulan.
Break Event Point
Break Event Point atau titik impas dimana impas merupakan keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba atau tidak menderita rugi (Galingging, 2021). Analisis BEP digunakan untuk menentukan jumlah produk yang dihasilkan atau harga jual dari produk tersebut. Berikut perhitungan BEP:
Hasil perhitungan di atas menunjukan bahwa titik impas dari usaha Cookies pohon pisang adalah sebesar Rp.1.274.648. Artinya bahwa pendapatan minimal dari usaha tersebut tidak boleh di bawah perhitungan BEP, sehingga usaha tersebut tidak mengalami kerugian. Total item yang harus dijual untuk mencapai titik impas adalah 61 item.
R/C Ratio
R/C Ratio merupakan perbandingan antara penerimaan dan total produksi yang artinya tidak untung dan tidak rugi (Ferawati, 2021). Lebih sederhananya R/C Ratio digunakan untuk menbandingkan antara penerimaan dan biaya. Berikut perhitungan R/C Ratio:
7
Total pendapatan yang didapat oleh home insudty cookies pohon pisang sebesar Rp.5.040.000 dengan total biaya Rp.3.972.000. Hasil perhitungan R/C Ratio menunjukkan bahwa usaha Cookies pohon pisang layak untuk dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara total pendapatan dengan total biaya dengan nilai 1,27 > 1. R/C Ratio dengan nilai 1,27 > 1 artinya untuk setiap Rp.100 biaya yang dikeluarkan, maka pendapatan yang diperoleh home industry cookies pohon pisang adalah Rp.127 dan laba bersih yang diperoleh sebesar Rp27.
Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha home industri cookies dari pohon pisang, dapat disimpulkan bahwa usaha ini menguntungkan dan layak untuk dikembangkan karena SWOT analysis menunjukkan usaha tersebut memiliki banyak peluang dan keuntungan. Hasil perhitungan R/C Ratio yang diperoleh nilai sebesar 1,27 > 1 artinya usaha layak untuk dikembangkan.
Asnidar, & Asrida. (2017). Analisis Kelayakan Usaha Home Industry Kerupuk Opak Di Desa Paloh Meunasah Dayah Kecamatan Muara Satu Kabupaten Aceh Utara. Jurnal S. Pertanian, 1(1), 39–47.
Emet, G., & Merba, T. (2017). SWOT ANALYSIS: A THEORETICAL
REVIEW. Journal of International Social Research, 10(51), 994–1006.
Ferawati, A. (2021). Analisis Pendapatan dan Kelayakan Usaha Tani Kacang Tanah di Lahan Sawah Tadah Hujan di Desa Mesago Kecamatan Patimpeng Kabupaten Bone.
Journal AAOS: Accounting, Accountability
and Organization System, 2(2), 147–159.
Galingging, R. (2021). Kajian Dasar Perencanaan Laba berdasarkan Break Even Point Pekerjaan Cutting Sticker pada Pencetakan Stiker di PT. YXY. Magenta| Official Journal STMK Trisakti, 5(01), 675–689.
Merdekawati, D., Kurniawan, D., Istiqamah, N., & Harmko. (2021). ANALISIS KELAYAKAN USAHA EBI (Studi
Kasus : Desa Arung Medang Kecamatan Tangaran). Jurnal Nekton, 1(1), 18–27.
Orsmond, G. I., & Cohn, E. S. (2015). The distinctive features of a feasibility study: objectives and guiding questions. OTJR: Occupation, Participation and Health, 35(3), 169–177.
Ritonga, D., Timboeleng, J. A., & Kaseke, O. H. (2015). Analisis Biaya Transportasi Angkutan Umum Dalam Kota Manado Akibat Kemacetan Lalu Lintas. Jurnal Sipil Statik, 3(1), 58–67.
Siswoyo, P., Rusdhi, A., & Saputra, A. B. (2020). ANALISA USAHA PENGARUH PEMBERIAN SILASE DAUN UBI KAYU TERHADAP PERTUMBUHAN TERNAK KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) BETINA LEPAS SAPIH.
Seminar of Sosial Sciences Enginering & Humaniora, 92–97.
Tersiana, A. (2018). Metode Penelitian. Anak Hebat Indonesia.
Yanda, I. (2005). Kapita Selekta Akuntansi, Manajemen Strategik dan Riset Terapan Akuntansi.
Elan Nopriadi, Siti Nur Hamidah Aliyanti, Heru Prastyo (2022).
Jurnal Syntax Transformation