How to cite:
Pribadi T. (2022). Pengaruh Jabatan Fungsional Auditor dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Auditor
Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan, Jurnal Syntax Transformation, 3 (3).
https://doi.org/10.46799/jst.v3i3.543
E-ISSN:
2721-2769
Published by:
Ridwan Institute
Jurnal Syntax Transformation
Vol. 3, No. 3, Maret 2022
p-ISSN : 2721-3854 e-ISSN : 2721-2769
Sosial Sains
PENGARUH JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN MOTIVASI KERJA
TERHADAP KINERJA AUDITOR INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN
PERHUBUNGAN
Teguh Pribadi
Politeknik Pelayaran Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Email : jeftaseptiano@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Diterima
23 Maret 2022
Direvisi
17 Maret 2022
Disetujui
23 Maret 2022
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Jabatan Fungsional
dan Motivasi Kerja mempengaruhi kinerja Auditor di Inspektorat
Jenderal Kementerian Perhubungan. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif untuk mendapatkan gambaran
yang jelas mengenai Jabatan Fungsional dan Motivasi Kerja terhadap
kerja Auditor melalui kuesioner yang diwakili suatu sampel yang
ditentukan sebanyak 40 orang. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah teknik pengumpulan data lapangan dengan cara
wawancara dan kuesioner. Kemudian data yang telah dikumpulkan
diolah dengan menggunakan analisis korelasi product moment dan
analisa regresi. Hasil dari analisa korelasi product moment
memperlihatkan bahwa jabatan fungsional mempengaruhi kinerja
auditor dalam kelompok yang sedang ( rx1y = 0,554) sedangkan
motivasi kerja pegawai dalam kelompok sedang dengan hasil ( rx2y =
0,445). Sedangkan hasil analisa regresinya memperlihatkan pengaruh
yang positif dan signifikan dan didapat t hitung 4,10 dan t table 2.021.
Dengan demikian jabatan fungsional mempunyai pengaruh yang kuat
terhadap kinerja auditor Inspektorat Jendral Kementerian Perhubungan
sedangkan hasil analisa regresi dapt diperlihatkan pengaruh yang
positif dan signifikan dengan t hitung 0,92 dan t table 2,021 dan dapat
dikatakan bahwa motivasi kerja mempunyai pengaruh yang sedang
terhadap kinerja auditor Inspektorat Jenderal Kementerian
Perhubungan.
ABSTRACT
The purpose of this study was to determine the functional position and
work motivation affect the performance of auditors at the Inspectorate
General of the Ministry of Transportation. The method used in this
study is a descriptive method to get a clear picture of the Functional
Position and Work Motivation on the Auditor's work through a
questionnaire represented by a specified sample of 40 people. Data
collection techniques used are field data collection techniques by
means of interviews and questionnaires. Then the data that has been
collected is processed using product moment correlation analysis and
regression analysis. The results of the product moment correlation
analysis show that functional positions affect the performance of
auditors in the medium group (rx1y = 0.554) while the work
motivation of employees in the medium group with results (rx2y =
Kata Kunci:
Jabatan Fungsional,
Auditor,
Motivasi Kerja
Keywords:
Functional,
Auditors,
Work motivation.
Teguh Pribadi
486 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
0.445). While the results of the regression analysis showed a positive
and significant effect and obtained t count 4.10 and t table 2.021. Thus,
functional positions have a strong influence on the performance of the
auditors of the Inspectorate General of the Ministry of Transportation,
while the results of the regression analysis can show a positive and
significant effect with t count 0.92 and t table 2.021 and it can be said
that work motivation has a moderate influence on the performance of
the inspectorate auditors. General of the Ministry of Transportation.
Pendahuluan
Tuntutan masyarakat kepada
pemerintah untuk segera mewujudkan
pemerintahan yang bersih dan berwibawa
menimbulkan munculnya berbagai macam
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang
bertujuan untuk melakukan pengawasan
terhadap aparatur negara yang melakukan
Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN), seperti
Indonesia Coruption Watch (ICW),
Government Watch (GOWA) (Adha et al.,
2021).
Untuk itu dalam penyelenggaraan
pemerintah, pengawasan merupakan salah
satu fungsi manajerial yang diperlukan agar
setiap kegiatan pemerintahan dilaksanakan
sesuai dengan kebijakan dan rencana yang
ditetapkan, sehingga tujuan kegiatan dapat
dicapai secara hemat, efisien dan efektif
(Arumsari, 2017).
Menghadapi tuntutan dari masyarakat
tersebut, maka Inspektorat Jenderal (Itjen)
sebagai institusi pengawasan internal di
lingkungan Kementerian Perhubungan yang
bertanggung jawab terhadap fungsi
pengawasan atau controlling suatu organisasi
menyadari pentingnya kualitas aparat
pengawas.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk
meningkatkan kualitas aparat pengawasan
antara lain: bekerja sama dengan Badan
Pengawas Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) menyelenggarakan diklat secara
berkala, melakukan in house training dengan
mengundang para pakar, mengikut sertakan
seminar yang terkait dengan bidang
pengawasan.
Dalam rangka melaksanakan tugas dan
fungsi Inspektorat Jenderal, maka kinerja
aparat harus dijadikan pertimbangan dalam
pengelolaan sumber daya manusia.
Yang menjadi permasalahan di
Inspektorat Jenderal adalah mengenai kinerja
auditor yang memiliki kemampuan
menemukan temuan yang bersifat strategis
atau menonjol sebagian auditor lain yang
mempunyai sedikit kemampuan menemukan
temuan strategis pada objek pemeriksaan.
Untuk itu pemberian motivasi untuk
meningkatkan kualitas auditor sangat
diperlukan, karena dengan pemberian
motivasi diharapkan setiap pegawai mau
bekerja dan mencapai kinerja yang baik
(Primasari, 2017). Motivasi sangat penting
artinya dalam mencapai tujuan organisasi atau
sasaran kerja, dan pendorong untuk
berprestasi serta melakukan sesuatu
(Indrawan, 2019). Tetapi harus diakui bahwa
tidak mudah untuk menumbuhkan motivasi
kerja bagi pegawai karena keinginan dan sifat
setiap orang sangat berbeda dan bervariasi.
Untuk itu maka pengembangan dan
pembinaan aparat pengawisan melalui jabatan
fungsional untuk menuju profesionalisme
Auditor menjadi hal yang sangat relevan
untuk terus menerus dikaji dalam berbagai
tulisan dan diskusi.
Kajian seperti ini sangat bermanfaat
bagi upaya meningkatkan kinerja aparat
pengawasan yang pada saat ini menjadi fokus
perhatian masyarakat dalam menjalankan
perannya sebagai pemberantasan korupsi,
kolusi dan nepotisme (Sudrajat, 2021).
Berdasarkan lalar belakang masalah yang
telah penulis paparkan di atas maka penulis
mencoba menuangkannya dalam bentuk
Pengaruh Jabatan Fungsional Auditor dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Auditor
Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 487
penulisan ini dengan judul "Pengaruh
Jabatan Fungsional Auditor dan Motivasi
Kerja terhadap Kinerja Auditor di
Inspektorat Jenderal Kementerian
Perhubungan" (AUDITOR, 2020).
Dalam penelitian ini penulis
mengidentifikasikan masalah kinerja pegawai
di lingkungan Inspektorat Jenderal
Kementerian Perhubungan. Karena semenjak
pemberlakuan Jabatan fungsional bagi para
auditor sesuai peraturan Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara No. 19
tahun 1996, terdapat kecendrungan untuk
sebagian Auditor yang memiliki
Dalam penelitian ini penulis
mengidentifikasikan masalah kinerja pegawai
di lingkungan Inspektorat Jenderal
Kementerian Perhubungan. Karena semenjak
pemberlakuan Jabatan fungsional bagi para
auditor sesuai peraturan Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara No. 19
tahun 1996, terdapat kecendrungan untuk
sebagian Auditor yang memiliki kemampuan
untuk menemukan temuan yang bersifat
menonjol/strategis, namun terdapat sebagian
Auditor yang belum mempunyai kemampuan
tersebut. Selain terdapat kurangnya motivasi
diantara beberapa auditor yang berpendidikan
SLTA/Diploma khususnya yang menpunyai
pangkat sudah "mentok" untuk melanjutkan
pendidikan strata satu. Sehingga ini
membawa dampak bagi kinerja instansi
Inspektorat Jenderal Kementerian
Perhubungan secara keseluruhan, maka dalam
penulisan ini penulis memfokuskan penelitian
pada faktor pengembangan dan pembinaan
aparat pengawasan melalui jabatan fungsional
dan motivasi,serta pengaruhnya rerhadap
kinerja auditor.
Berdasarkan latar belakang masalah di
atas maka penulis merumuskan pokok-pokok
permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah Jabatan Fungsional berpengaruh
terhadap kinerja Auditor di Inspektorat
Jenderal Kementerian Perhubungan.
2. Apakah Motivasi kerja berpengaruh
terhadap kinerja Auditor di Inspektorat
Jenderal Kementerian Perhubungan.
3. Apakah Jabatan Fungsional dan motivasi
kerja secara bersama-sama berpengaruh
terhadap kinerja Auditor di Inspektorat
Jenderal Kementerian Perhubungan.
Manfaat dari penelitian ini yang di harapkan
Secara akademis, dapat memberikan
sumbangan pemikiran dalam melihat
gambaran hubungan antara Pengaruh Jabatan
Fungsional dan Motivasi Kerja terhadap
Kinerja Auditor. Dapat memberikan masukan
secara ilmiah kepada pimpinan organisasi
dalani meningkatkan kinerja Inspektorat
Jenderal.
Untuk memberikan gambaran tentang
penelitian yang dilakukan, peneliti
menuangkan alur pikir ke dalam model
penelitian yang akan digunakan dalam
penelitian ini. Model penelitian yang dipakai
adalah dengan melihat hubungan antara
variabel bebas (X), yaitu Jabatan Fungsional
Auditor dan Motivasi Kerja dengan variable
terikat (Y) yaitu kinerja auditor yang dapat
digambarkan dalam kerangka berpikir sebagai
berikut:
Gambar 1
(Sumber: Soegijono; 2000 dan olahan sendiri
Metode Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pendekatan
penilaian yang bersifat deskriptif, yaitu
penelitian yang dilakukan terhadap variable
mandiri, tanpa membuat perbandingan atau
Teguh Pribadi
488 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
menghubungan dengan variable yang lain
(Sugiharto et al., 2018).
Jenis penelitian adalah penelitian
korelasi, yaitu untuk menentukan ada
tidaknya hubungan antara variabel dependen
dengan beberapa variabel independen dan bila
ada, seberapa kuat hubungannya dan
signifikan atau tidak hubungan itu .Kuat atau
tidak kuatnya hubungan kedua variabel yang
berkolerasi harus diuji terlebih dahulu melalui
uji Hipotesis Korelasi (Mayasari et al., 2019).
Hasil dan Pembahasan
Gambaran Umum Inspektorat Jenderal
Kementerian Perhubungan
Agar lebih jelasnya penulis menggambarkan
susunan organisasi Inspektorat Jenderal
Kementerian Perhubungan sebagaimana
gambar 2.1 sebagai berikut:
Gambar 2 Struktur Organisasi Inspektorat
Jenderal Departemen Perhubungan
Melalui jumlah sumber daya manusia
(SDM) yang potensial dan berkualaitas serta
mencukupi diharapkan mampu memperoleh
tingkat produktivitas yang baik sesuai dengan
harapan organisasi (Ekawati, 2018). Tetapi
melihat sumber daya yang terbatas apabiala
tidak segera disikapi secara bijaksana secara
langsung akan berpengaruh terhadap
keterbatasan menangani kondisi dan
permasalahan yang ada. Maka perlu strategi
penbgembangan sumber daya manusia mulai
dari pengadaan, pendayagunaan, pembinaan
sehingga terjamin sumber daya manusia yang
berkualitas (Utamy et al., 2020).Jumlah
pegawai pada Inspektorat Jenderal, baik
tingkat pimpinan maupun staf sejumlah 206
orang, terdiri dari.
Variabel
X1
RR
TS
STS
TOTAL
n
%
n
%
n
%
n
%
n
%
n
%
1
18
45
13
32.5
3
7.5
1
2.5
5
12.5
40
100
2
13
32.5
20
50
3
7.5
1
2.5
3
7.5
40
100
3
14
35
25
62.5
0
0
0
0
1
2.5
40
100
4
1
2.5
16
40
19
47.5
2
5
2
5
40
100
5
6
15
30
75
3
7.5
0
0
1
2.5
40
100
7
2
5
18
45
13
32.5
3
7.5
4
10
40
100
7
5
12.5
19
47.5
9
22.5
5
12.5
2
5
40
100
8
11
27.5
22
55
5
12.5
2
5
0
0
40
100
Pengaruh Jabatan Fungsional Auditor dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Auditor
Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 421
Komposisi Penyebaran Pegawai di
Inspektorat Jenderal Kementerian
Perhubungan
No.
Kategori
Jumlah
1
Sekretariat Itjen
102
2
Inspektorat I
23
3
Inspektorat II
26
4
Inspektorat III
27
5
Inspektorat IV
28
Jumlah
206
Hasil Penelitian
Tabel Distribusi Frekuensi untuk Mewakili
Variabel Jabatan Fungsional Auditor
Distribusi Frekuensi Variabel Jabatan
Fungsional Auditor
1. Setelah menjadi Auditor merasakan
adanya perubahan terhadap
peningkatan kemampuan kerja
Dari tabel tersebut diatas, mayoritas
responden yaitu 18 orang responden
(45%) menyatakan "sangat setuju"
setelah menjadi auditor merasakan
adanya perubahan terhadap meningkatan
kemampuan kerja, 13 orang responden
(32.5%) menyatakan "setuju", 5 orang
responden (12,5%) menyatakan "sangat
tidak setuju", 3 orang responden
(7,5%) menyatakan "ragu-ragu", sisanya
yaitu 1 orang responden (2.5%)
menyatakan "tidak setuju".
2. Motivasi kerja meningkat
Dari tabel tersebut diatas, mayoritas
responden yaitu 20 orang responden
(50%) menyatakan "setuju" motivasi
kerja meningkat 13 orang responden
(32.5%) menyatakan "sangat setuju", 3
orang responden (7.5%) menyatakan
"ragu-ragu", 3 orang responden (7.5%)
menyatakan "sangat tidak setuju" sisanya
yaitu 1 responden (2.5%) menyatakan
"tidak setuju".
3. Sarana dan fasilitas yang diberikan
telah memadai dengan ruang lingkup
pekerjaan yang dihadapi sekarang
Dari tabel tersebut di atas, mayoritas
responden yaitu 25 orang responden
(62.5%) menyatakan "setuju" sarana dan
fasilitas yang diberikan telah memadai
dengan ruang lingkup pekerjaan yang
dihadapi sckarang.14 orang responden
(35% menyatakan "sangat setuju", 1
orang responden (2,5%) menyatakan
"sangat tidak setuju", sedangkan untuk
pernyataan "ragu-ragu" dan "tidak
setuju" tidak ada pernyataan.
4. Peraturan yang digunakan sangat
mendukung profesi jabatan
Fungsional Auditor
Dari tabel tersebut di atas, mayoritas
responden yaitu 19 orang responden
(47,5%) menyatakan "ragu-ragu"
peraturan yang digunakan sangat
amendukung profesi jabatan fungsional
auditor, 16 orang responden (40%)
menyatakan "setuju", 2 orang responden
(5%) menyatakan "tidak setuju", 2 orang
responden (5%) menyatakan "sangat
tidak setuju", I orang responden (2,5%)
menyatakan "sangat setuju".
5. Sarana dan fasilitas dalam mengikuti
diklat di BPKP untuk menunjang
profesi jabatan fungsional auditor
sudah memadai
Dari tabel tersebut di atas, mayoritas
responden yaitu 30 orang responden
(759) menyatakan "setuju" saarana dan
Teguh Pribadi
490 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
fasilitas dalam mengikuti diklat di BPKP
untuk menunjang profesi jabatan
fungsional auditor sudah memadai, 6
orang responden (15%) menyatakan
"sangat setuju", 3 orang responden
(7,5%) menyatakan "ragu-ragu". 1 orang
responden (2.5%) menyatakan "sangat
tidak setuju", sedangkan untuk
pernyataan "tidak setuju" tidak ada
pernyataan (0%).
6. Jabatan Fungsional Auditor yang
dilaksanakan dapat memperbaiki
kinerja pegawai
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 18 orang (45%) menyatakan
"setuju" jabatan fungsional auditor yang
dilaksanakan dapat memperbaiki kinerja
pegawai, 13 orang responden (32.5%)
menyatakan "ragu-ragu", 4 orang
responden (10%) menyatakan "sangat
tidak setuju", 3 orang responden (7,5%)
"tidak setuju", 2 orang responden (5%)
menyatakan ''sangat setuju".
7. Kenaikan pangkat dengan
menggunakan angka kredit lebih
mudah dipahami dan dilaksanakan
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 19 orang responden (47.5%)
menyatakan "setuju" kenaikan pangkat
dengan menggunakan angka kredit lebih
mudah dipahami dan dilaksanakan, 9
orang responden (22,5%) menyatakan
"ragu-ragu", 5 orang responden (12,5%)
menyatakan "sangat setuju", 5 orang
responden (12,5%) menyatakan "tidak
setuju"', 2 orang responden (5%)
menyatakan "sangat tidak setuju"
8. Menjadi jabatan fungsional auditor
menguntungkan daripada sebelumnya
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 22 orang responden (55%)
menyatakan "setuju" menjadi jabatan
fungsional auditor akan lebih
menguntungkan daripada sebelumnya,
11 orang responden (27.5%) menyatakan
"sangat setuju", 5 orang responden
(12,5%) menyatakan "ragu-ragu",2 orang
responden (5%) menyatakan "tidak
setuju", sedangkan untuk pernyataan
"sangat
tidak setuju" tidak ada pernyataan (0%).
Distribusi Frekuensi Variabel Motivasi
1. Gaji dan tunjangan fungsional yang
diterima setiap bulan merupakan motivasi yang mendorong pegawai
mengerjakan tugasnya dengan baik
Variabel X2
SS
S
RR
STS
TOTAL
n
%
n
%
n
%
n
%
n
%
n
%
1
1
2.5
12
30
15
37.5
4
10
8
20
40
100
2
1
2.5
19
22.5
13
32.5
2
15
5
12.5
40
100
3
1
7.5
5
12.5
18
45
6
17.5
6
10
40
100
4
3
2.5
15
37.5
21
52.5
7
10
4
12.5
40
100
5
1
0
4
10
15
37.5
4
27.5
5
35
40
100
6
0
0
24
60
11
27.5
11
10
14
7.5
40
100
7
0
2.5
11
27.5
9
22.5
4
30
3
7.5
40
100
8
0
0
6
15
13
32.5
12
30
3
12.5
40
100
9
0
0
15
37.5
17
42.5
12
15
5
7.5
40
100
10
3
7.5
17
42.5
16
40
6
20
3
5
40
100
11
1
2.5
9
47.5
10
25
8
5
2
15
40
100
Pengaruh Jabatan Fungsional Auditor dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Auditor
Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 421
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu I5 orang responden (37,5%) menyatakan "ragu-ragu" gaji dan
tunjangan fungsional yang diterima setiap
bulan merupakan motivasi yang mendorong
pegawai mengerjakan tugasnya dengan baik,
12 orang responden (30%) menyatakan
"setuju'", 8 orang responden 20%)
menyatakan "sangat tidak setuju", 4 orang
responden (10%) menyatakan "tidak setuju",
1 orang responden (2,5%) menyatakan
"sangat setuju".
2. Promosi yang dilakukan selama ini
sudab dilakukan dengan adil
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 19 orang responden (47.5%)
menyatakan "setuju" promosi yang
dilakukan selama ini. dilakukan dengan
adil, 13 orang responden (32,5%)
menyatakan "ragu-ragu”, 5 orang
responden (12,5%) menyatakan "sangat
tidak setuju. 2 orang responden (5%)
menyatakan "tidak setuju", 1 orang
responden (2,5%) menyatakan "sangat
setuju".
3. Melaksanakan pekerjaan dengan baik
mendapatkan penghargaan yang
semestinya
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 18 orang responden (45%)
menyatakan "ragu-ragu" melaksanakan
pekerjaan dengan baik mendapaikan
penghargaan yang semestinya, 9 orang
responden (22,5%) menyatakan "setuju",
6 orang responden (15%) menyatakan
"tidak setuju”, 6 orang responden (15%)
menyatakan "sangat tidak setuju", 1
orang responden (2,5%) menyatakan
"sangat setuju".
4. Kenaikan golongan gaji sclama ini
sudah sesuai dengan beban kerja yang
ada
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 21 orang responden (52.5%)
menyalakan "ragu-ragu", kenaikan
golongan gaji selama ini sudah sesuai
dengan beban kerja yang ada, 7 orang
responden (17,5%) menyatakan "tidak
setuju", 5 orang responden(12,5%)
menyatakan "setuju", 4 orang responden
(10%) menyatakan “sangat tidak setuju",
3 orang responden (7,5%) menyatakan
"sangat setuju".
5. Merasa nyaman dengan posisijabatan
fungsional yang diemban selama ini
Dari tabel di atas mayoritas responden
yaitu 15 orang responden (37.5%)
menyatakan "setuju" merasa nyaman
posisi/jabatan fungsional yang diemban
selama ini, 15 orang responden (37.5%)
menyatakan "ragu-ragu",5 orang
responden (12.5%) menyatakan "sangat
tidak setuju", 4 orang responden (10%)
menyatakan "tidak setuju", dana sisanya
yaitu 1 orang responden (2.5%)
menyalakan "sangat setuju".
6. Diberi kesempatan untuk
menggunakan keterampilan dan
kemampuan dalam menjalankan
tugas
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 14 orang responden (35%)
menyatakan "sangat tidak setuju" diberi
kesempatan untuk menggunakan
keterampilan dan kemampuan dalam
menjalankan tugas 11 orang responden
(27,5%) menyatakan "tidak setuju", 11
orang responden (27,5%) menyatakan
"ragu-ragu", 4 orang responden (10%)
menyatakan "setuju", sedangkan untuk
pernyataan "sangat setuju" tidak ada
pernyataan (0%)
7. Atasan mau mendengar opini dan
pendapat bawahan
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 24 orang responden (60%)
menyatakan "setuju", atasan mau
mendengar opini dan pendapat bawah, 9
orang responden (22,5%) menyatakan
"ragu-ragu” 4 orang responden (10%)
menyatakan "tidak setuju” orang
Teguh Pribadi
492 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
responden (7,5%) menyatakan "sangat
tidak setuju", sedangkan untuk
pernyataan "sangat setuju".
8. Tugas yang diberikan dapat
dimengerti
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 13 orang responden (32.5%)
menyatakan "ragu-ragu", tugas yang
diberikan dapat dimengerti, 12 orang
responden (30%) menyatakan "tidak
setuju", 11 orang responden (27,5%)
menyatakan "setuju", 3 orang responden
(7.5%) menyatakan "sangat tidak setuju",
1 orang responden (2,5%) menyatakan
"sangat setuju"
9. Interaksi sosial di lingkungan kantor
berjalan dengan baik dan rekan-rekan
kerja saling menolong kepada pegawai
yang mengalami kesulitan dalam
bekerja
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 17 orang responden (2.5%)
menyatakan "ragu-ragu", interaksi sosial
di lingkungan kantor berjalan dengan
baik dan rekan-rekan kerja saling
menolong kepada pegawai yang
mengalamni kesulitan dalam bekerja, 12
orang responden (30%) menyatakan
"tidak setuju", 6 orang responden (15%)
menyatakan "setuju", 5 orang responden
(12,5%) menyatakan "sangat tidak
setuju", sedangkan untuk pernyataan
"sangat setuju" tidak ada pernyataan
(0%).
10. Kesempatan promosi jabatan dapat
menjadi motivasi lebih berprestasi
Dari tabel di atas, mayoritas responden
yaitu 16 orang responden menyatakan
"ragu-ragu" kesempatan promosi jabatan
menjadi motivasi untuk lebih berprestasi,
15 orang responden (37.5%) menyatakan
"setuju", 6 orang responden (15%)
menyatakan "tidak setuju”, 3 orang
responden (7,5%) menyatakan "sangat
tidak setuju", sedangkan untuk
pernyataan "'sangat setuju" tidak ada
pernyataan (0%).
11. Atasan dan rekan kerja jarang
memberikan umpan balik (komentar,
pujian) tentang hasil pekerjaan
Dari tabel di atas mayoritas responden,
yaitu 17 orang responden (42,5%)
menyatakan "setuju" atasan dan rekan
kerja jarang memberikan umpan balik
(komentar. pujian) tentang hasil
pekerjaan, 10 orang responden (25%)
menyatakan "kurang setuju", 8 orang
responden (20%) menyatakan "tidak
setuju", 3 orang responden (7.5%)
menyatakan "sangat setuju”, 2 orang
responden (5%) menyatakan "sangat
tidak setuju".
Analisis Korelasi
Setelah penulis atau peneliti
menganalisis data melalui tabel distribusi
frekuensi, maka selanjutnya penulis
menganalisis data dengan menggunakan
analisa korelasi untuk melihat hubungan
antara:
1. Variabel jabatan fungsional auditor dan
variabel kinerja pegawai
2. Variabel motivasi pegawai dengan
variabel kinerja pegawai.
Dalam hal ini penulis akan
menggunakan "analisis korelasi Product
Moment" dengan rumus
Analisis korelasi variabel jabatan
fungsional auditor dan variabel kinerja
pegawai.
Pengaruh Jabatan Fungsional Auditor dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Auditor
Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 493
Bila dikonsultasikan dengan pedoman untuk
memberikan interpretasi terhadap koefisien
korelasi, maka tingkat hubungan antara
jabatan fungsional auditor dengan kinerja
pegawai tergolong "sedang".
Pedoman untuk Memberikan Interpretasi
Koefisien Korelasi
(Sumber: Metode Penelitian Administrasi, Dr. Sugiono, 2002: 149)
Analisis korelasi variabel motivasi pegawai
dan variabel kinerja pegawai.
Bila dikonsultasikan dengan pedoman untuk
memberikan interpretasi terhadap koefisien
korelasi, maka tingkat hubungan antara
motivasi dengan kinerja pegawai tergolong
"sangat rendah".
Pedoman untuk Memberikan Interpretasi
Koefisien Korelasi
(Sumber: Metode Penelitian Administrasi, Dr. Sugiono, 2002: 149)
Analisis Pengaruh Jabatan Fungsional
Auditor dan Motivasi Bersama-sama
terhadap Kinerja
Analisis Korelasi
Untuk mengetahui pengaruh antara
jabatan fungsional auditor dan motivasi
bersama-sama terhadap Kinerja terlebih
dahulu harus diketahui: pengaruh korelasi
antara jabatan fungsional auditor (X1) dengan
Motivasi Kerja (X2), selain pengaruh korelasi
peranan masing-masing terhadap Kepuasan
Kerja seperti dihitung dimuka.
Interval
Tingkat Hubugan
0.00 - 0.199
Sangat rendah
0.20 - 0.399
Rendah
0.40 - 0.599
Sedang
0.60 - 0.799
Kuat
0.80 - 1.000
Sangat kuat
Interval
Tingkat Hubugan
0.00 - 0.199
Sangat rendah
0.20 - 0.399
Rendah
0.40 - 0.599
Sedang
0.60 - 0.799
Kuat
0.80 - 1.000
Sangat kuat
Teguh Pribadi
420 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
Dengan demikian, telah diketahui
; ;
.
Pedoman untuk Memberikan Interpretasi
Koefisien Korelasi
(Sumber: Metode Penelitian Administrasi, Dr. Sugiono, 2002: 149)
Pembahasan
Dari perhitungan analisis koefisien
korelasi antara variabel jabatan fungsional
auditor dengan variable jabatan fungsional
auditor dengan variabel kinerja auditor maka
didapat hasil r = 0.554 sehingga dapat
dikatakan bahwa tingkat hubungan "sedang"
sehingga hipotesis pertama yang mengatakan
Ha yaitu ada pengaruh yang positif/signifikan
antara jabatan fungsional auditor dan kinerja
auditor dapat diterima. Sedangkan dari
perhitungan analisis koefisien korelasi antara
variabel motivasi dengan variabel kinerja
pegawai, maka di dapat hasil r = 0.445
sehingga dapat dikatakan bahwa tingkal
hubungan tergolong sedang sehingga
hipotesis kedua yang mengatakan ada
pengruh yang positif/signifikan antar jabatan
fungsional auditor dan kinerja auditor
menjadi dapat diterima (Rachmasari, 2021).
Untuk perhitungan analisis koefisien korelasi
antara variable jabatan fungsional auditor dan
motivasi bersama-sama terhadap kinerja,
didapat hasil Rx1x2y = 0,286. Perhitungan
tersebut secara kualitatif dapat dikatakan
sebagai pengaruh yang rendah atau kecil
sehingga hipotesis ketiga yang mengatakan
ada pengaruh signifikan jabatan fungsional
auditor dan motivasi kerja sccara bersama-
sama terhadap kinerja auditor menjadi tidak
dapat diterima. Hal ini bisa dimengerti
mengingat terdapat 24 responden berpendapat
mereka mengalami kesulitan di dalam
kenaikan pangkat mengingat terlalu kecilnya
besaran angka kredit untuk setiap kegiatan
audit dibandingkan pada saat masih berstatus
struktural. Inilah yang menjadi kurang
termotivasinya responden tersebut di dalam
menghadapi jabatan fungsional auditor.
Selanjutnya kita akan membahas hasil
penelitian terhadap masing-masing variable
tersebut (Ariza, 2021).
Pengaruh Jabatan Fungsional terhadap
Kinerja Auditor
Dari hasil penelitian tersebut nampak
bahwa hasil korelasi jabatan fungsional
auditor berada pada tingkat "sedang"
sehingga dapat dikatakan ada hubungan yang
positif antara jabatan fungsional auditor
terhadap kinerja auditor (Saputra, 2014).
Sehingga hasil penelitian tersebut
menguatkan pernyataan seperti di dalam
Peraturan Pemerintah (PP) No.16 tahun 1994
yang tercantum tentang jabatan fungsional
Bab I mengenai pengangkatan dalam jabatan
fungsional Pasal 2 menyebutkan: guna
Interval
Tingkat Hubugan
0.00 - 0.199
Sangat rendah
0.20 - 0.399
Rendah
0.40 - 0.599
Sedang
0.60 - 0.799
Kuat
0.80 - 1.000
Sangat kuat
Pengaruh Jabatan Fungsional Auditor dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Auditor
Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 495
meningkatkan mutu pegawai di instansi
pemerintah dan untuk mendorong kinerja
pegawai pemerintah maka dipandang perlu
menetapkan pegawai sesuai kebutuhan
menjadi tenaga fungsional, untuk
melaksanakan tugas di instansi pemerintah
secara profesional (Zuhdi, 2012).
Dari ketentuan itu, maka sebenarnya
hasil penelitian semakin menguatkan
pernyataan tersebut.
Lebih lanjut Keputusan Menteri
Keuangan No. 23/KEU/0-8/II/2001 tanggal
12 Februari tahun 2002 mengenai tunjangan
fungsional auditor. Pasal 1 menyatakan:
untuk menunjang peningkatan penghasilan
auditor perlu ditetapkan tunjangan yang
disesuaikan dengan jabatan.
Ditambah Keputusan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara No. 19
tahun 1996 tentang Jabatan Fungsional
Auditor menyatakan untuk menjamin
pembinaan profesi dan karier kepangkatan
dan jabatan perlu menetapkan Jabatan
fungsional bagi auditor dan angka kreditnya.
Demikian juga seperti yang diutarakan
oleh Nadler and Lawler dalam Mukaran
Maunsyah (1987:88) menyatakan pemberian
jabatan secara khusus merupakan salah satu
bentuk meningkatkan kinerja seorang
pegawai.
Jadi jelas menurut penulis bahwa
pengujian hasil penelitian membuktikan ada
hubungan yang positif antara jabatan
fungsional auditor terhadap kinerja auditor
dapat dikuatkan.
Pengaruh Motivasi Kerja terhadap
Kinerja Auditor
Dari hasil perhitungan nampak bahwa
hasil korelasi motivasi hubungan antara pada
tingkat "sedang" maka dapat dikatakan berada
ada motivasi terhadap kinerja auditor.
Sehingga hasil penelitian ini sejalan dengan
pendapat Gibson (Fatmawati, 2017)
(terjemahan Sadiman 1992:52) yang
mengatakan: Terdapat tiga perangkat variabel
yang mempengaruhi perilaku dan kinerja,
yaitu:
1. Variabel individu, terdiri dari:
1) Kemampuan dan ketrampilan (mental
dan fisik)
2) Latar belakang (keluarga, tingkat
sosial, pengalaman)
3) Demografis (umur, asal usul, jenis
kelamin)
2. Variabel organisasi, terdiri dari:
1) Sumber daya
2) Kepemimpinan
3) Imbalan
4) Struktur
5) Desain pekerjaan
3. Variabel motivasi, terdiri dari:
1) Persepsi
2) Sikap
3) Kepribadian
4) Belajar
Demikian juga pendapat Sutermeister
(1969:7-8) mengemukakan bahwa kinerja
seseorang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
1. Faktor kemampuan, terdiri dari:
1) Pengetahuan/knowledge (pendidikan,
pengalaman, latihan, dan minat)
2) Ketrampilan/skill (kecakapan dan
kepribadian)
2. Faktor motivasi, terdiri dari:
1) Kondisi sosial (organisasi formal,
organisasi informal. Kepemimpinan,
dan serikat kerja)
2) Kebutuhan individu (fisiologi, sosial,
dan egoistik)
3) Kondisi fisik (lingkungan kerja)
Setelah membaca pendapat dari para
pakar tersebut maka penulis dapat simpulkan
variabel motivasi, merupakan faktor yang
penting terhadap kinerja auditor.
Pengaruh Motivasi Kerja terhadap
Kinerja Auditor
Dari hasil penelitian, nampak bahwa
hasil korelasi jabatan fungsional auditor dan
motivasi kerja berada pada tingkat
“kecil/rendah” sehingga dapat dikatakan ada
Teguh Pribadi
496 Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022
tidak ada hubungan antara jabatan fungsional
auditor dan motivasi kerja terhadap kinerja
auditor.
Kesimpulan
Terdapat pengaruh positif jabatan
fungsional auditor terhadap kinerja pegawai
pada Inspektorat Jenderal Kementerian
Perhubungan, karena hasil analisis korelasi
menunjukkan koetisien hasil perhitungan
sebesar 0,554 termasuk kategori sedang. Jadi
terdapat pengaruh yang "sedang" jabatan
fungsional auditor terhadap kinerja pegawai
Inspektorat Jenderal Kementerian
Perhubungan.
Terdapat pengaruh yang positif
motivasi terhadap kinerja pegawai Inspektorat
Jenderal Kementerian Perhubungan karena
hasil analisis korelasi menunjukkan hasil
perhitungan sebesar 0,445 termasuk "sedang",
Jadi terdapat pengaruh motivasi terhadap
kinerja pegawai Inspektorat Jenderal
Kementerian Perhubungan.
Terdapat pengaruh yang rendah jabatan
fungsional auditor danmotivasi secara
bersama-sama terhadap kinerja pegawai
Inspektorat Jenderal Kementerian
Perhubungan karena hasil analisis korelasi
menunjukkan hasil perhitungan sebesar 0,286
yang termasuk kategori "rendah". Jadi
terdapat pengaruh yang kecil jabatan
fungsional auditor dan motivasi secara
bersama-sama terhadap kinerja pegawai
Inspektorat Jenderal Kementerian
Perhubungan.
BIBLIOGRAFI
Adha, M. M., Parikesit, H., Perdana, D. R.,
Hartino, A. T., & Ulpa, E. P. (2021).
Pendidikan Karakter Melalui
Pembelajaran PKn di Masa Pandemi
Covid-19 demi Masyarakat Taat PSBB.
Google Scholar
Ariza, R. (2021). Penguatan Fungsi
Organisasi Melalui Jabatan Fungsional
Studi Kasus Sekretariat Daerah Provinsi
Kepulauan Riau. Jurnal Ilmu
Administrasi Ne gara (JUAN), 9(2),
125140. Google Scholar
Arumsari, N. R. (2017). Penerapan planning,
organizing, actuating, dan controlling di
UPTD DIKPORA Kecamatan Jepara.
Jurnal Ekonomi Dan Bisnis
Kontemporer, 3(2). Google Scholar
AUDITOR, E. U. H. P. D. (2020). Jurnal
Anggaran dan Keuangan Negara
Indonesia (AKURASI). Jurnal
Anggaran Dan Keuangan Negara
Indonesia (AKURASI) Vol, 2(1), 57.
Google Scholar
Ekawati, F. (2018). Manajemen Sumber Daya
Manusia dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan di SMPIT. Jurnal ISEMA:
Islamic Educational Management, 3(2),
118139. Google Scholar
Fatmawati, F. (2017). Analisis Pengaruh
Kompensasi, Beban Kerja, Dan Stres
Kerja Terhadap Komitmen
Organisasional (Studi Pada Tenaga
Pemasar Mikro Pt Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tbk, Cabang Praya).
Jmm Unram-Master of Management
Journal, 6(1). Google Scholar
Indrawan, M. I. (2019). Pengaruh Etika Kerja,
Pengalaman Kerja Dan Budaya Kerja
Terhadap Prestasi Kerja Pegawai
Kecamatan Binjai Selatan. Jurnal Abdi
Ilmu, 10(2), 18511857. Google Scholar
Mayasari, R., Hastarina, M., & Apriyani, E.
(2019). Analisis Turbidity Terhadap
Dosis Koagulan Dengan Metode
Regresi Linear (Studikasus Di Pdam
Tirta Musi Palembang). JISI: Jurnal
Integrasi Sistem Industri, 6(2), 117125.
Google Scholar
Primasari, N. H. (2017). Keterkaitan Antara
Profesi Akuntan Publik Dengan
Kecurangan Dan Regulasi (Studi
Literatur). Jurnal Akuntansi Dan
Keuangan, 3(1). Google Scholar
Pengaruh Jabatan Fungsional Auditor dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Auditor
Inspektorat Jenderal Kementerian Perhubungan
Jurnal Syntax Transformation, Vol. 3, No. 3, Maret 2022 497
Rachmasari, P. (2021). Pengaruh Kompensasi
Dan Motivasi Terhadap Kepuasan Kerja
Karyawan. Kinerja, 3(02), 213229.
Google Scholar
Saputra, K. A. K. (2014). Pengaruh Locus of
Control terhadap Kinerja dan Kepuasan
Kerja Internal Auditor dengan Kultur
Lokal Tri Hita Karana sebagai Variabel
Moderasi. Jurnal Akuntansi
Multiparadigma, 3(1), 86100. Google
Scholar
Sudrajat, A. R. (2021). Akuntabilitas dan
Transparansi Publik: Bagaimana
pengaruh Terhadap Kinerja Satuan
Perangkat Daerah di Kabupaten
Sumedang. Jurnal Education And
Development, 9(4), 395402. Google
Scholar
Sugiharto, S. A., Ramadhana, M. R., Psi, S.,
& Psi, M. (2018). Pengaruh kredibilitas
influencer terhadap sikap pada merek
(studi pada mahasiswa Fakultas
Komunikasi dan Bisnis Universitas
Telkom). Jurnal Ilmu Politik Dan
Komunikasi, 7(2). Google Scholar
Utamy, R., Ahmad, S., & Eddy, S. (2020).
Implementasi Manajemen Sumber Daya
Manusia. Journal of Education
Research, 1(3), 225236. Google
Scholar
Zuhdi, R. (2012). Dilema Etis dalam Satuan
Pengawasan Intern (SPI)(Studi Kasus
pada Universitas Trunojoyo Madura).
InFestasi, 8(2), 179194. Google
Scholar
Copyright holder :
Teguh Pribadi (2022)
First publication right :
Jurnal Syntax Transformation
This article is licensed under: